The World Made By Love, So Love is Root of Life

Saturday, 30 December 2017

December 30, 2017

Three Days Happiness Afterword

Afterword

Banyak yang bilang orang bodoh tidak akan bisa disembuhkan hingga mati.
Tapi aku ingin mengambil pandangan yang lebih optimistis dari sini. Lebih ke “orang bodoh bisa disembuhkan saat dia mati.”
Meskipun kita menyebut mereka semua bodoh (atau sinonimnya), sebenarnya ada banyak jenis berbeda dari kebodohan. Kebodohan yang kubicarakan disini adalah orang bodoh yang membuat nerakanya sendiri.
Apa karakteristik dari orang bodoh ini, pertama, dia benar-benar percaya dia tidak akan pernah bahagia. Dan yang membuatnya lebih parah, keyakinanya melebar dan menjadi “Aku tidak bisa bahagia,: dan akhirnya sampai di titik “Aku tidak ingin bahagia,”, suatu kesalahpahaman yang benar-benar berbahaya.
Saat sampai di titik ini, tidak ada yang perlu ditakuti. Orang-orang bodoh seperti mereka menjadi terbiasa dengan ketidakpuasan, dan tidak peduli betapa menyenangkan lingkungan mereka, mereka akan menemukan jalan keluar untuk menghindari kebahagiaan.
Karena semua ini tidak disadari, mereka percaya kalau dunia ini adalah neraka – dimana sebenarnya, mereka membuat neraka itu sendiri dengan setiap langkah yang mereka buat.
Aku sendiri adalah salah satu pembuat neraka itu, dan itulah kenapa aku percaya itu, tapi orang bodoh seperti ini tidak bisa disembuhkan dengan mudah. Untuk seseorang yang sudah mengubah bagian rasa sengsara/tidak bahagia/menderita sebagai bagian dari identitas mereka, mereka akan merasa jika mereka bahagia itu berarti mereka kehilangan diri mereka. Rasa mengasihani diri sendiri yang biasa mereka gunakan untuk menahan ketidakbahagiaan mereka pada akhirnya akan menjadi satu-satunya  yang mereka nikmati, dan mereka akan selalu mencari ketidakbahagiaan untuk itu.
Tapi, seperti yang kusebutkan sebelumnya, aku percaya mereka yang seperti itu bisa disembuhkan saat mereka mati. Lebih tepatnya, pikiranku adalah “Sebelum mereka mati, aku yakin mereka akan sembuh.” Mereka yang beruntung mungkin mendapatkan kesempatan untuk sembuh sebelum itu terjadi, tapi yang tidak beruntung akan menyadari ketika maut sudah mendekat dan mereka dibebaskan dari belenggu “harus hidup di dunia ini” – dan saat itu, akhirnya, apa mereka juga tidak dibebaskan dari kebodohan mereka sendiri?
Aku menyebut pandangan ini optimistis, tapi melihatnya dengan seksama, pandangan ini bisa dibilang juga pesimistis.
Saat pertama dia mencintai dunia ini adalah saat kematianya sudah pasti.
Tapi, aku mempertimbangkan melalui mata dari “si bodoh yang sudah sembuh, tapi terlambat,” semuanya benar-benar sangat indah.
Rasa kecewa yang lebih dalam dan penyesalan seperti “Ternyata aku hidup di dunia seindah ini,” atau “Sekarang aku sudah bisa menerima semua dan hidup,” dunia akan semakin menjadi begitu kejam indahya sebagai gantinya.
Aku selalu berpikir ingin menulis keindahan seperti itu.
Dan setidaknya disini di “Three Days Happiness,” meskipun sepertinya aku menggunakan cerita untuk mengungkapkan nilai hidup, kekuatan cinta dan sejenisnya… sebenarnya, itu bukan maksudku menulis ini.


– Sugaru Miaki




Sedikit Ocehan Admin:
Akhirnya project terjemahan ini selesai juga, walaupun banyak kendala, tapi selesai juga. sedikit curhatan aja, mimin ngga tahu kalau project ini udah ada yang garap, soalnya pernah nyari tapi ngga ada, jadi mikirnya ngga ada yang nge-translate ini, tapi pas upload chapter 1 ada yang ngingetin klo ini project udah diambil orang, yah apalah dayaku -,- maju kena mundur kena. jadi, mimin putuskan saja deh project nya. 
Versi PDF bisa di cek ke Daftar isinya~
See you next Time

Cupio Omnia
Admin_Kai

Sebelumnya   Daftar Isi                       
December 30, 2017

Three Days Happiness Chapter 15 Bahasa Indonesia [END]



Chapter  15  -  The Gift of The Magi


Ini adalah hari pertama dari sisa tiga hariku.
Tidak ada mata pengawas yang mengawasiku.
Jadi, Miyagi sudah pergi.
Aku memutuskan bagaimana aku akan menghabiskan tiga hariku beberapa waktu yang lalu. Di pagi, aku akan mengisi buku catatanku. Setelah aku selesai menuliskan semuanya hingga kemarin, aku meletakkan bullpen dan tidur selama beberapa hari. Saat aku terbangun, aku pergi keluar untuk merokok, kemudian membeli jus buah apel dari mesin penjual otomatis untuk rasa hausku.
Aku melihat kembali ranjangku. Seratus delapan puluh tujuh yen. Hanya itu. Dan enam puluh yen dalam pecahan 1-yen koin. Sudah tiga kali aku menghitungnya. Seratus delapan puluh tujuh yen.
Menyadari kebetulan yang aneh ini, pipiku terbakar. Menghabiskan tiga hari mungkin tampak tidak pasti, tapi sekarang aku menikmati kebetulan itu. Melihat kembali cacatanku dan menambahkan beberapa detil penting, aku pergi naik motor dan memutari tempat yang pernah kukunjungi bersama Miyagi, tapi kali ini aku benar-benar sendiri.
Aku berkendara dibawah langit biru seolah ingin mencari aroma Miyagi yang tersisa.
Aku ingin tahu apakah Miyagi sekarang mengamati orang lain.
Aku berdoa mereka tidak akan menyerang Miyagi karena putus asa.
Aku berdoa Miyagi bisa terus bekerja hingga dia membayar hutangnya, dan menjalani hidup bahagia hingga dia melupakanku.
Aku berharap seseorang akan muncul dan membuat Miyagi lebih mementingkannya dibandingkan diriku, dan menemukan Miyagi lebih penting dari pada yang kurasakan.
Saat berjalan di taman, anak-anak melambai padaku. Muncul ide tiba-tiba, aku berpura-pura Miyagi ada disana.
Aku menjulurkan tanganku, dan mengatakan “Lihat, Miyagi!”, dan memegang tangan imajinasi Miyagi.
Itu terlihat sama untuk orang lain. “Ah, si Kusunoki idiot sedang berjalan dengan kekasih bayangannya lagi.”
Tapi terasa sangat berbeda untukku. Malah, itu tidak terasa sama sekali.
Karena aku melakukannya sendiri, aku diserang oleh kesedihan hingga hampir tidak bisa berdiri. Aku merasakan kehilangan Miyagi lebih dari sebelumnya.






Aku berpikir.
Bagaimana kalau semua ini adalah ilusiku sejak awal?

Aku yakin hidupku akan berakhir dalam tiga hari. Aku tahu hanya sedikit hidupku yang tersisa. Sensasi itu jelas nyata. Tapi apa gadis bernama Miyagi benar-benar ada? Apakah bukan hanya keberadaanya, tapi keberadaan toko yang membeli sisa hidup, adalah fantasiku saat aku menyadari kematianku yang mendekat? Aku tidak mengetahuinya.
Aku duduk di ujung air mancur dengan menundukkan kepala, dan dipanggil oleh sepasang anak laki-laki dan perempuan yang masih SMP.
Si bocah laki bertanya dengan polos, “Kusunoki-san, bagaimana keadaan Miyagi-san?”
“Miyagi sudah tidak disini lagi,” kataku.
Si gadis menaruh tangannya di mulut, terkejut.
“Huh? Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar?”
“Seperti itulah. Kalian berdua, jangan bertengkar.”

Mereka berdua melihat satu sama lain dan menggelengkan kepala bersamaan.
“Sebenarnya, aku tidak tahu… karena, bahkan Kusunoki-san dan Miyagi-san bisa bertengkar?”
“Kalau kalian berdua yang begitu akur masih bisa bertengkar, tidak mungkin kami tidak akan bertengkar.”
Aku ingin mengatakan “Kalian tahu, itu benar.” Tapi kata-kata itu tidak bisa keluar.
Sebelum aku tahu, aku menangis seperti bendungan yang bocor. Semakin aku mencoba membayangkan Miyagi ada disampingku untuk menenangkanku, semakin banyak air mata yang keluar. Mereka berdua duduk disampingku melihatku seperti itu dan mencoba menenangkanku.
Kemudian, secara mengejutkan, aku menemukan ada lebih banyak orang yang mengenalku daripada yang kupikirkan. Orang dari semua usia mengerumuniku, seolah ingin mengatakan “Kusunoki melakukan sesuatu yang baru.”
Teman Shinbashi Suzumi dan Asakura ada disana. Suzumi menanyakan apa yang terjadi padaku. Aku tidak yakin harus menjawab apa, jadi aku mengatakan pada mereka kalau Miyagi dan diriku bertengkar dan berpisah. Aku membuat cerita bagaimana dia berpaling dariku dan meninggalkanku.
“Miyagi tidak menyukai apa dari Kusunoki?”, seorang gadis SMA dengan mata tajam bicara dengan marah. Dia berbicara seolah percaya Miyagi itu ada.
“Kenapa, apa sesuatu terjadi?”, kata pria disampingnya aku mengingat wajahnya.
Benar – itu adalah pemilik studio foto. Orang pertama yang mengakui keberadaan Miyagi.
“Dia tidak seperti orang yang akan melakukan sesuatu yang kejam.”
“Tapi apa itu berarti dia pergi?” Tanya Suzuimi.
Pria muda yang memakai tank-top juga mengatakan sesuatu kepadaku, “Miyagi itu gadis tidak baik, meninggalkan pria baik sepertimu dan membuatmu seperti ini!”, sembari menepuk punggungku.
Aku menolehkan kepalaku untuk mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


… … Saat itu, ada suara dari belakangku.
“Memang. Kok bisa, padahal dia pria yang baik.”
Tentu saja, aku mengenal suaranya. Aku tidak akan melupakanya dalam satu atau dua hari.
Aku perlu tiga puluh – tiga ratus – tiga ribu tahun untuk melupakannya.
Aku berbalik ke suara itu.
Aku harus yakin.
Aku tidak mungkin salah mendengar.
Tapi sebelum aku melihatnya sendiri, aku tidak akan mempercayainya.

Dia menertawai dirinya sendiri.
“Gadis bernama Miyagi itu benar-benar tidak tahu diuntung.”
Miyagi melingkarkan tangannya di leherku dan memelukku.
“Aku kembali, Kusunoki-san. … aku sedang mencarimu.”
Aku langusng memeluknya kembali, mencium aroma rambutnya. Bau yang menjadi satu dengan “Miyagi.”
Ini memang dirinya.
Aku bukan satu-satunya yang bingung dengan situasi itu.  Banyak orang disekitarku juga bingung dan terkejut. Mereka mungkin berpikir, “bukankah seharusnya gadis bernama Miyagi ini tidak ada?” aku tertegun hingga terdiam saat melihat reaksi semua orang. Semua orang bisa melihat Miyagi.
“Mungkinkah kamu Miyagi-san?”, Tanya seorang pria yang mengenakan jersey dengan takut.
“Ya, aku Miyagi yang tidak tahu diuntung,” jawabnya, dan pria itu menepuk pundakku. “Syukurlah!”, dia tertawa. “Apa yang kalian tahu, dia benar-benar ada. Dan kau benar-benar cantik, Miyagi-san! Aku cemburu!”
Tapi aku masih tidak mengerti apa yang terjadi.
Kenapa Miyagi disini? Kenapa orang lain bisa melihat Miyagi?
“Jadi Miyagi-san… benar-benar Miyagi-san,” gadis SMA itu bergumam, matanya melebar. “… Yep, entah kenapa, kamu sama seperti yang ada dibayanganku.”
Asakura, dari belakang kerumunan, menyarankan agar mereka meninggalkan kami sendiri. Jadi orang-orang bersenda gurau dan memberi selamat lalu pergi satu persatu.
Aku berterima kasih pada Asakura.
“Kurasa Miyagi benar-benar tipeku,” kata Asakura sambil tertawa. “Bahagialah, kalian berdua.”
Dan kami akhirnya sendiri.
Miyagi memegang tanganku dan menjelaskan.
“Aneh bukan? Bagaimana aku bisa disini? Bagaimana yang lain bisa melihatku? … itu sederhana. Aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan.”
“Hal yang sama…?”
Beberapa detik kemudian, aku sadar apa yang dimaksud Miyagi.
“Berapa banyak… yang kau jual?”
“Juga sama, aku menjual semuanya. Dan hanya menyisakan tiga hari.”
Wajahku pucat.
“Setelah kamu menjual sisa hidupmu, pengawas lain menghubungiku. Dia mengatakan bahwa kamu menjual hidupmu untuk membayar hampir seluruh hutangku. Segera setelah aku mendengarnya… aku sudah bulat. Dia yang mengurusnya.”
Aku yakin aku seharusnya bersedih.
Seseorang yang sudah kukorbankan segalanya untuk melindunginya mengkhianati keinginanku dan membuang hidupnya – aku seharusnya bersedih.
Tapi, aku bahagia.
Pengkhianatannya, kebodohannya, itu lebih berharga untukku dibanding segalanya.
Miyagi duduk disampingku dan bersandar ke tubuhku.
“Cukup mengejutkan, Kusunoki-san. Membeli hampir seluruh hidupku hanya dengan tiga puluh hari. … Dan maaf. Aku membuang hidup yang kamu dapatkan dengan sulit. Aku memang bodoh.”
“Bodoh?”, kataku. “Aku yang bodoh. Aku tidak bisa hidup tanpamu selama tiga hari, Miyagi. Aku tidak tahu harus melakukan apa.”
Miyagi tertawa dengan bahagia dan menekan dagunya ke pundakku.
“Karenamu, nilai dari hidupku juga naik sedikit. Jadi bukan hanya hutangnya terbayar, masih ada banyak sisa uang. Lebih banyak daripada yang bisa kita habiskan dalam tiga hari.”
“Jadi kita kaya,” kataku dengan membesar-besarkan, memeluk Miyagi dan menggoyang tubuhnya.
“Ya, kita kaya,” jawab Miyagi, melakukan hal yang sama sepertiku.
Air mata menetes lagi, tapi begitu juga dengan Miyagi jadi aku tidak begitu memperhatikannya.
Aku akan mati tanpa meninggalkan apapun.
Mungkin orang yang penasaran akan mengingatku – sebagai orang bodoh, mungkin – tapi kemungkina mereka semua akan melupakanku.
Tapi itu tidak masalah.
Aku tidak perlu keabadian yang dulu kuimpikan.
Tidak masalah jika tidak ada yang mengingatku.

Karena Miyagi ada bersamaku, tersenyum disampingku.
Hanya karena itu, aku bisa memaafkan semuanya.
“Baiklah, Kusunoki-san.”
Miyagi tersenyum kearahku.
“Bagaimana kamu ingin menghabiskan tiga hari ini?”
Aku percaya pada tiga hari itu.
Dibandingkan dengan tiga puluh tahun tragis yang harus kulewati.
Dibandingkan dengan tiga puluh hari yang akan aku jalani.
Jauh lebih, lebih, dan lebih berharga.

=xX[ END ]Xx=

December 30, 2017

Three Days Happiness Chapter 14 Bahasa Indonesia



Chapter  14  -  Periode Kegelisahan

Perubahan yang jelas terlihat saat sisa hidupku tinggal 55 hari.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, Ada yang banyak orang yang tersinggung dengan tingkahku, yang mana terkenal dan tidak disukai. Ada banyak orang yang melihatku dengan senang hati bicara pada orang yang tidak terlihat, dan mengatakan hal-hal yang kejam dengan keras hingga terdengar olehku dan orang-orang yang lewat. Tentu saja, aku tak punya hak untuk mengeluh. Aku adalah orang yang membuat mereka merasa tidak nyaman sejak awal.
Suatu hari, di sebuah bar, aku bertikai dengan tiga orang. Mereka lantang, bermata tajam, dan selalu mengambil kesempatan untuk membuat diri mereka tampak tangguh, dan dari jumlah dan tubuh mereka aku tahu aku harus berhati-hati dan tidak menyinggung mereka. Mungkin karena bosan, saat mereka melihatku minum sendiri dan bicara pada kursi kosong, mereka dengan sengaja duduk di sampingku dan mengajakku bicara, mencoba untuk memprovokasiku. Mungkin saat itu aku mencoba berdiri dan mengatakan sesuatu, tapi aku tidak punya tenaga untuk melakukanya, jadi aku menunggu hingga mereka bosan,
Tapi mereka tidak bosan – karena sadar aku tidak mengatakan apapun, mereka mengambil kesempatan untuk bertingkah lebih lanjut. Aku ingin pergi dari bar itu, tapi setelah melihat berapa banyak waktu yang mereka miliki, kupikir mereka akan mengikutiku.
“Ini benar-benar merepotkan,” kata Miyagi dengan wajah yang khawatir.
Saat aku bingung mau melakukan apa, aku mendengar suara dari belakang yang mengatakan “Huh? Apa itu kau, Kusunoki-san?”
Itu adalah suara pria. Aku tidak bisa mengenali siapapun yang bicara seperti itu, jadi aku terkejut mendengarnya, tapi dia melanjutkan dengan sesuatu yang membuat Miyagi dan diriku terlalu terkejut untuk bicara.
“Kau bersama Nona Miyagi lagi hari ini?”
Aku berbalik. Aku mengenal pria ini.
Dia adalah pria yang tinggal di sebelah apartemenku. Pria yang selalu memberiku wajah yang terganggu saat melihatku keluar dan masuk apartemen sembari bicara dengan Miyagi.
Aku ingat namanya adalah Shinbashi.
Shinbashi berjalan kearahku, menoleh ke salah satu pria yang mengangguku, dan mengatakan “Aku minta maaf, tapi apa kaMu bisa minggir dari kuris ini?”
Kata-katanya terdengar sopan, tapi nadanya benar-benar menekan. Shinbashi setinggi enam kaki dan terlihat sering sekali mengancam orang, jadi pria yang mengoceh itu langsung mengubah sikapnya dengan cepat.
Setelah Shinbashi duduk di sampingku, dia menghadap ke Miyagi. “Aku selalu mendengarmu dari Kusunoki-SAN, tapi aku tidak pernah bicara padamu sendiri. Senang bertemu dengnamu. Namaku Shinbashi.”
Wajah Miyagi tertegun karena terkejut, tapi Shinbashi mengangguk seolah dia sudah menjawab. “Ya, benar. Aku senang kaMu mengingatku. Kita sering bertemu di apartemen.”
Itu bukan percakapan. Jadi jelas Shinbashi tidak bisa benar-benar melihat Miyagi.
Mungkin pria ini hanya “berpura-pura” bisa melihat Miyagi, pikirku.
Pria yang mengangguku tampaknya menyerah dengan munuclnya Shinbashi dan pergi. Setelah mereka pergi, Shinbashi menghela lega dan melepas senyum sopannya, menggantinya dengan wajah cemberutnya seperti biasa.
“Biar kukatakan sebelumnya,” jelas Shinbashi, “Aku tidak begitu percaya gadis bernama “Miyagi” ini benar-benar ada.”
“Aku mengerti. Kamu hanya membantuku, kan?”, kataku. “Terima kasih, aku senang.”
Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan seperti itu.”
“Lalu bagaimana?”
“Kamu mungkin tidak mengakui ini tapi… setidaknya, ini yang kupikirkan. Aku melihat kamu melakukan suatu pertunjukan, mencoba membodohi sebanyak mungkin orang untuk mempercayai kalau “Miyagi” ini memang benar-benar ada. Kamu mencoba membuktikan melalui pantomim yang sempurna kalau akal sehat manusia bisa digoyahkan. … dan percobaan itu sudah berhasil padaku entah bagaimana.”
“Maksudmu kau merasakan keberadaan Miyagi?”
“Aku tidak ingin mengakuinya, tapi kurasa begitu,” kata Shinbashi, mengangkat bahunya. “Dan sementara itu, aku merasa tertarik pada perubahan yang terjadi dalam diriku. Aku ingin tahu jika aku benar-benar menerima keberadaan “Miyagi-san” seperti yang kamu inginkan, apa aku akhrinya bisa meliahtnya dengan nyata.”
“Miyagi,” aku mulai bicara, “tidak begitu tinggi. Dia memiliki kulit putih, dan kurasa dia lebih lembut. Dia biasanya memiliki mata yang tenang, tapi terkadang menunjukkan senyum ramah. Matanya sedikit memiliki  kekurangan, tapi saat dia perlu  menulis, dia menggunakan kacamata rangka tipis, dan itu benar-benar cocok untuknya. Rambutnya sebahu, dan ujungnya cecnderung melingkar.”
“… aku heran,” kata Shinbashi, memiringkan kepalanya. “Setiap karakteristik itu cocok dengan bagaimana diriku membayangkan Miyagi.”
“Miyagi ada di depanmu sekarang. Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Shinbashi menutup matanya dan berpikir. “Aku tidak yakin.”
“Miyagi ingin bersalaman,” kataku. “Bisakah kamu menjulurkan tangan kananmu?”
Dia melakukannya, wajahnya setengah ragu, setengah percaya. Miyagi melihat tangannya dan dengan senang hati menggenggamnya dengan kedua tangannya. Melihat tangannya sendiri bergerak naik turun, Shinbashi berkata, “Apa aku harus percaya kalau Nona Miyagi menjabat tanganku?”
“Ya. Kau berpikir kamu menggerakkannya sendiri, tapi sebenarnya, Miyagi menjabatnya. Dia terlihat senang berjabat tangan denganmu..”
“Apa kamu bisa memberi tahu Shinbashi-san kalau aku “berterima kasih”?, pinta Miyagi.
“Miyagi bilang padaku “terima kasih banyak,” kataku menyampaikannya.
“Aku entah bagaimana merasa dia benar-benar mengatakannya,” kata Shinbashi dengan kagum. “Bukan masalah.”
Denganku sebagai perantara, Miyagi dan Shinbashi bertukar beberpa kata lagi.
Sebelum kembali ke meja tempatnya berada, Shinbashi berbalik dan memberitahuku ini.
“Aku entah kenapa ragu kalau hanya kamu sendiri yang bisa merasakan keberadaanMiyagi-san disampingmu. Kurasa semua orang merasakannya beberapa saat, tapi menghiraukannya seolah itu hanya ilusi bekala. Tapi jika ada kesempatan – seperti mengerti kalau mereka bukan satu-satunya yang merasakan ilusi itu – aku ingin tahu apakah eksistensi Miyagi-san akan dengan cepat diterima oleh semua orang. … Tentu saja, aku mengatakan ini tanpa dasar. Tapi aku berharap itu terjadi.”
Shinbashi benar.
Memang sulit dipercaya, tapi setelah itu, orang-orang disekitar kita mulai menerima keberadaan Miyagi. Tentu saja, orang-orang tidak benar-benar percaya dengan adanya orang tidak terlihat ini. Lebih seperti orang-orang menerima omong kosongku, seperti persetujuan bersama, dan bermain bersamaku. Eksistensi Miyagi tidak sampai ke tingkat “seharusnya ada,” tapi tetap saja, itu adalah perubahan yang besar.
Karena kami sering muncul di tempat-tempat hiburan kota, festival budaya SMA, dan festival local lainnya, aku menjadi agak terkenal.
Karena semua orang menikmati kebahagiaan jenakaku, aku dianggap menyedihkan, tapi juga menghibur. Banyak orang datang untuk melihatku, berpegangan tangan dengan pacar fiktifku, dengan hangat.
Suatu malam, Miyagi dan aku diundang ke tempat Shinbashi.
“Aku punya sisa alkohol di apartemenku, dan harus meminum semuanya sebelum pergi pualng. …Kusunoki-san, Miyagi-san, apa kalian mau minum denganku?”
Kami pergi ke kamar tetangga dan menemukan tiga temannya sudah minum. Satu pria dan dua perempuan. Mereka yang minum sudah mendengar tentangku dari Shinbashi, dan mereka menanyakan pertanyaan tentang Miyagi. Aku menjawab semuanya.
Seorang yang cerdas bernama Asakura bertanya beberapa kali padaku tentang Miyagi, mencoba menangkap basah ketidakkonsitenanku. Tapi dia menemukan semuanya cocok, dan mulai melakukan sesuatu seperti meletakkan bantal yang dia gunakan ke tempat dimana Miyagi berada, dan memberinya segelas alkohol.
“Aku suka gadis sepertinya,” kata miyagi. “Untung aku tidak bisa melihat Miyagi-san, kalau tidak aku akan jatuh cinta kepadanya.”
“Tidak masalah. Miyagi menyukaiku.”
“Jangan mengatakan hal seperti itu,” kata Miyagi, memukulku dengan bantal.
Riko, perempuan pendek dengan wajah tertata yang hampir mabuk, menengadah keatas melihatku selagi berbaring di lantai.
“Kusunoki-san, Kusunoki-san, tunjukkan pada kami seberapa besar kau menyukai Miyagi-san!”, katanya dengan mata yang mengantuk.
“Aku juga ingin melihatnya,” kata Suzumi setuju. Shinbashi dan Asakura memberiku tatapan menunggu.
“Miyagi,” panggilku.
“Iya?”
Aku mencium Miyagi saat wajahnya agak memerah. Mereka yang mabuk memberiku sorak sorai.
Aku terkejut sendiri dengan hal aneh yang kulakukan. Tidak ada orang disini yang benar-benar percaya pada keberadaan Miyagi. Mereka pasti berpikir aku adalah orang bodoh yang gila, dan bahagia.
Tapi apa salahnya itu?
musim panas itu, aku menjadi badut terbaik di kota. Sepertinya.
Beberapa hari berlalu setelahnya, hingga suatu sore yang cerah.
Bel berbunyi, dan aku mendengar suara Shinashi. Saat aku membuka pintunya, dia melemparkan sesuatu padaku. Aku menangkapnya dengan telapak tanganku – itu adalah kunci mobil.
“Aku akan pergi pulang,” kata Shinbashi. “Jadi aku tidak membutuhkannya untuk beberapa saat. Kau bisa meminjamnya jika mau. Bagaimana dengan pergi ke pantai atau gunung dengan Miyagi-san?”
Aku berkali-kali berterima kasih kepadanya.
Saat dia pergi, Shinbashi mengatakan ini.
“Kamu tahu, aku tidak bisa melihatmu sebagai pembohong. Aku tidak percaya kalau Miyagi-san hanyalah buatan untuk pantomime. … Mungkin itu memang dunia yang hanya bisa kamu lihat. Mungkin dunia tempat kami berada hanyalah bagian kecil dari apa yang ada, dan kami hanya bisa melihat hal yang boleh kami lihat.”
Setelah melihatnya naik bis dan pergi, aku menatap langit.
Seperti biasa, cahaya matahari begitu memusingkan. Tapi aku mencium jejak musim gugur di udara.
Tsukutsuku-boushi muncul secara bersamaan, membawa akhir pada musim panas.
Malam itu, aku tidur di ranjang bersama Miyagi. Batas diantara sisi pada suatu waktu sudah hilang, Miyagi tidur menghadap kepadaku. Dia tidur  dengan nyenyak, setenang anak kecil. Aku mengagumi wajah tidurnya, tidak pernah terbiasa, dan tidak pernah bosan melihatnya.
Aku meninggalkan tempat tidur, hati-hati agar tidak membangunkannya. Aku meminum air dari dapur, dan kemudian kembali ke ruanganku. Aku melihat buku sketsa di lantai di depan kamar ganti. Mengambilnya, aku menyalakan lampu di dekat wastafel, dan perlahan membuka halaman pertamanya.
Ada lebih banyak yang tergambar didalamnya dari yang kukira.
Ruang tunggu di stasiun kereta. Restoran diman aku bertemu Naruse. Tempat di SD dimana kapsul waktu dikubur. Markas  rahasiaku dan Himeno. Kamar yang dipenuhi ribuan bangau kertas. Perpustakaan tua. Gerobak di festival musim panas. Pinggir sungai yang kita lewati sehari sebelum bertemu Himeno. Tempat melihat pemandangan. Gedung rekreasi tempat kami menginap. Cub milikku. Toko permen. Sebuah mesin penjual otomatis. Telepon umum. Danau Berbintang. Toko buku tua. Perabu angsa. Kincir ria.
Dan diriku yang sedang tidur.
Aku membalik ke halaman baru dan mulai menggambar Miyagi yang sedang tidur. Mungkin karena rasa kantukku, aku tidak sadar sudah bertahun-tahun aku tidak menggambar apapun hingga selesai.
Seni, dulu selalu kurasakan sebagai hal yang menjengkelkan.
Saat aku melihat lukisan jadinya, aku merasakan kepuasan tersendiri. Tapi juga merasa ada sesuatu yang aneh. Itu adalah hal yang mudah dihiraukan. Begitu kecil hingga jika aku memikirkan suatu hal yang lain sejenak, itu akan menghilang.
Aku bisa saja menghiraukannya, menutup sketsanya, dan meletakkannya di ranjang dekat Miyagi, dan tidur dengan bahagia menunggu reaksinya besok pagi.
Tapi aku yakin itu sesuatu. Aku mulai berkonsentrasi penuh. Aku mengerahkan inderaku untuk mencari sumber kesalahannya. Aku menggapainya seperti surat yang sedang mengambang di laut penuh badai dan gelap, tanganku tergelincir saat mencoba mengambilnya.
Setelah beberapa menit, aku menarik kembalitanganku dalam kekalahan, benda itu berada di telapakku. Aku dengan sangat sangat hati-hati mengambilnya dari air. Dan tiba-tiba, aku mengerti.
Setelah itu, seolah terasuki, aku dengan serius menggerakkan pensil di buku sketsa itu. Aku melanjutkannya semalaman.
Beberapa hari setelahya, aku membawa Miyagi untuk melihat kembang api. Berjalan mengikuti jejak matahari terbenam, melintasi rel kereta api, melewati distrik belanja, kami tiba di sebuah SD. Itu adalah acara pentas kembang api lokal yang terkenal, dan itu adalah acara yang jauh lebih besar dari yang kuduga, ada banyak gerobak, ada banyak pengunjung yang membuatku heran apakah kota ini punya ruangan untuk semua orang yang datang.
Saat anak-anak melihatku berjalan dan memegang tangan Miyagi, mereka tertawa “Itu Kusunoki-san!”. Mereka tertawa setuju. Orang aneh juga terkenal di kalangan anak-anak. Aku mengangkat tangan yang memegang tangan Miyagi untuk menjawab ejekan mereka.
Saat mengantri membeli ayam bakar, sekelompok anak SMA laki-laki mendekat dan menggoda “kamu punya gadis yang cantik!”
“Dia luar biasa bukan? Sayangnya kamu tidak bisa memilikinya,” kataku, sambil memegang pundak Miyagi, dan mereka tertawa terbahak-bahak.
Itu membuatku senang. Meskipun mereka tidak mempercayainya, semua orang menikmati omong kosong “Miyagi itu disana!”-ku. Itu lebih baik jika mereka membayangkan aku memiliki pacar fiktif dibanding jika aku benar-benar sendiri.
Pengumuman datang jika pertunjukan akan segera di mulai, dan beberapa detik kemudian, kembang api pertama naik. Warna oranye memenuhi langit, orang-orang bersorak, dan suara yang tertunda menguncang udara.
Sudah lama sekali sejak aku melihat kembang api dari dekat. Dibandingkan bayanganku, kembang apinya jauh lebih besar, lebih berwarna, dan hilang lebih cepat.
Aku juga lupa kalau kembang api besar memerlukan beberapa detik untuk menyebar, dan tidak pernah membayangkan betapa kerasnya suara yang dihasilkan hingga membuat perut ikut bergetar.
Puluhan kembang api naik. Kami berbaring di belakang bangunan dimana kami bisa sendiri, memandanginya. Tiba-tiba, aku ingin melihat wajahnya, dan saat aku menatapnya di waktu langit dipenuhi cahaya, tampaknya dia juga berpikiran sama, dan mata kami bertemu.
“Kita benar-benar cocok,” kataku sambil tertawa. “Ini juga terjadi sebelumnya. Di ranjang.”
“Memang,” kata Miyagi tersenyum malu. “Tapi kau bisa melihatku kapapun, Kusunoki-san. Jadi, kamu bisa melihat kembang apinya.”
“Sebenarnya, itu tidak benar.”
Mungkin waktuku bisa lebih tepat. Aku akan membaringkan diriku di hadapan kembang api.
“Sebenarnya, kaMu benar karena besok aku libur, tapi aku akan kembali keesokan harinya. Tidak seperti kemarin, aku hanya pergi sehari.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa masalahnya?”
“… Hey, Miyagi. Aku sepertinya terkenal di kota. Sebagian senyum yang kudapatkan adalah ejekan, tapi sebagian lagi benar-benar murni dari hati. Apapun senyum mereka, aku bangga. Aku yakin sesuatu sebaik ini tidak akan pernah terjadi.”
Aku mulai berdiri dan melihat Miyagi dibawah dengan tangan yang bertumpu di tanah.
“Sejak SD, ada seorang anak yang kubenci. Dia sebenarnya sangat pintar, tapi dia menyembunyikannya dan bertingkah seperti orang bodoh agar orang-orang menyukainya. … Tapi baru-baru ini, aku sadar.. aku iri kepadanya. Kurasa aku ingin melakukan apa yang dia lakukan sejak awal. Dan karenamu, Miyagi, aku bisa melakukannya, aku berhasil berteman dengan dunia.”
“Bukankah itu hal yang bagus?” Miyagi juga berhenti berbaring dan mengambil posisi yang sama denganku.
“… Jadi apa yang ingin kamu katakan?”
“Terima kasih untuk semuanya, kurasa,” kataku. “Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.”
“Dan karena semua yang akan terjadi, bukan?” Tanya Miyagi. “Kamu masih punya sebulan lebih. Sepertinya terlalu dini untuk mengucapkan “terima kasih untuk semuanya.””
“Hey, Miyagi? Kamu bilang ingin tahu keinginanku, dan aku berjanji akan memberitahunya kepadamu setelah memikirkannya.”
Ada beberapa detik jeda.
“Ya. Aku akan melakukan apapun selama aku mampu.”
“Oke, kalau begitu aku akan jujur. Miyagi, saat aku mati, lupakan semua tentangku. Itu adalah keinginan kecilku.”
“Tidak.”
Setelah jawaban cepatnya, Miyagi sepertinya sudah menebak niatku.
Dia tahu apa yang akan kulakukan besok.
“… Um, Kusunoki-san. Aku yakin kamu tidak akan melakukannya, tapi tolong jangan lakukan hal yang bodoh. Kumohon.”
Aku menggelengkan kepala.
“Pikirkan saja. Siapa yang menyangka aku yang senilai 30-yen akan menjalani hari-hari akhir dengan luar biasa? Mungkin tidak ada. Bahkan kamu sendiri tidak akan menduganya setelah membaca evaluasi atau penilaianku. Aku seharusnya menjalani hidup terburuk yang bisa dibayangkan, tapi aku benar-benar mendapatkan kebahagiaan. Jadi masa depanmu belum pasti. Miyagi. Mungkin seseorang yang bisa diandalkan akan muncul dan membuatmu jauh lebih bahagia.”
“Tidak akan ada.”
“Tapi kamu muncul dihadapanku juga, Miyagi. Karenanya –“
“Tidak akan ada!”
Tanpa memberiku waktu untuk menjawab, Miyagi mendorongku ke tanah.
Setelah aku berbaring, dia mengubur wajahnya ke tanganku
“… Kusunoki-san, kumohon.”
Itu adalah kali pertama aku mendengar dia berbicara sambil menangis.
“Kumohon, tetap bersamaku setidaknya di bulan terakhir ini. Aku bisa menerima semuanya. Fakta bahwa kamu akan segera meninggal, kalau aku tidak bisa melihatmu lagi nanti, dan kalau orang lain tidak bisa melihat kita bergandeng tangan, juga kalau aku harus hidup tiga puluh tahun lagi dalam kesendirian, semuanya. Jadi setidaknya sekarang – setidaknya ketika kamu masih bersamaku, jangan menjauhkan dirimu. Kumohon padamu,”
Aku mengelus kepala Miyagi saat dia sesenggukan.
Kembali ke apartemen, Miyagi dan diriku tidur memeluk satu sama lain.
Air matanya masih belum berhenti hingga tertidur.
Miyagi meninggalkan apartemen di tengah malam. Kami berpelukan lagi di pintu depan, dan dia berpisah dariku dengan agak menyesal, memberiku senyum kesepiannya.
“Selamat tinggal. Kamu membuatku bahagia.”
Dengan itu, dia menundukkan kepalanya dan berbalik.
Dia berjalan perlahan dibawah cahaya bulan.

*****

Esok paginya, aku pergi ke bangunan tua dengan pengawas penggantiku.
Tempat dimana Miyagi dan diriku pertam akali bertemu.
Dan disana, aku menjual tiga puluh hari sisa hidupku.
Sebenarnya, aku ingin menjual semuanya. Tapi mereka tidak membolehkan menjual tiga hari terkahir.
Pengawasku melihat hasilnya dan terkejut.
“Apa kamu datang kesini karena kau tahu ini akan terjadi?”
“Yap,” jawabku.
Perempuan berumur 30-an di konter yang menilaiku tampak bingung.
“…Aku benar-benar tidak bisa merekomendasikan ini. Saat ini, bukankah uang tidak begitu penting? Bagaimanapun… selama tiga puluh hari kedepan, kamu akan menggambar lukisan yang akan masuk ke dalam buku pelajaran selama bertahun-tahun kemudian.”
Dia melihat buku sketsa yang kupegang disisiku.
“Dengar baik-baik. Kalau kamu pergi tanpa melakukan ini, kamu masih punya tiga puluh tiga hari untuk menggambar dengan semangat. Diwaktu itu, pengawasmu akan ada disana, memberimu semangat. Dia jelas tidak akan menyalahkanmu karena pilihanmu. Dan setelah meninggal, namamu akan selalu diingat dalam sejarah seni selamanya. Kamu tahu itu bukan? … apa yang membuatmu tidak puas dengan dirimu? Aku tidak mengerti.”
“Sama seperti uang yang tidak berguna ketika aku meninggal, begitu juga dengan ketenaran.”
“Tidakkah kamu ingin abadi?”
“Meskipun aku abadi di dunia tanpa diriku, itu bukan sesuatu yang pantas disyukuri,” kataku.
“Lukisan paling sederhana di dunia.”
Itu adalah julukan lukisanku, dan meskipun banyak terjadi perdebatan, lukisan itu terjual dengan harga yang sangat mahal.
Tapi tentu saja, karena aku menjual tiga puluh hariku, itu sekarang menjadi “tidak mungkin, suatu hal yang tidak mungkin terjadi.”
Ini yang kupikirkan. Mungkin di duniaku sebelumnya, dalam waktu yang lama, kemampuanku mengambar lukisan seperti itu pada akhirnya akan muncul. Dan sebelum itu terjadi, aku ditakdirkan kehilangan kesempatan karena kecelakaan motor. Tapi dengan menjual sisa hidupku, dan dengan adanya Miyagi disampingku, waktu sebanyak itu yang sebenarnya tidak kumiliki dipendekkan dengan begitu ekstrim. Karenanya, bakatku bisa berkembang sebelum hidupku berakhir. Itu yang ada di benakku.
Aku dulu sangat handal dalam seni. Aku bisa menyalin pemandangan dihadapanku seperti foto dengan mudah, dan menggunakan pemahamman itu untuk dengan alami mengubahnya dalam bentuk lain tanpa ada yang mengajariku. Di galeri, aku bisa melihat gambar dan memahaminya, dalam tempat yang jauh dari bahasa, kenapa “sesuatu yang seharusnya tidak begitu dilukis begitu” adalah “sesuatu yang harus dilukis seperti itu.” Caraku melihat sesuatu tidak sepenuhnya benar. Tapi fakta kalau aku memiliki bakat luar biasa adalah sesuatu yang semua orang harus akui.
Di musim dingin ketika aku berumur 17, aku menyerah dalam seni. Aku merasa jika melanjutkan jalanku ini, aku tidak akan menjadi terkenal seperti yang kujanjikan pada Himeno. Paling baik, aku hanya bisa menjadi seniman “serba bisa”. Meskipun itu bisa menghasilkan sukses dimata kebanyakan orang, untuk menjaga janjiku pada Himeno, aku harus menjadi sangat special. Aku perlu revolusi. Jadi aku tidak membiarkan diriku terus menggambar dalam momentum tertentu. Lain kali aku memegang kuas adalah saat dimana semuanya sudah merasuk di dalamku. Hingga aku bisa menangkap dunia dalam pandangan yang tidak seperti orang lain lihat, aku tidak akan membiarkan diriku melukis. Itu yang kuputuskan.
Mungkin itu bukan keputusan yang salah. Tapi di musim panas ketika aku berumur 19, aku masih belum memperkuat pandanganku pada semua hal, jadi dengan tergesa-gesa, aku mengambil kuas. Dan tidak lama kemudian aku sadar kalau kali ini aku tidak boleh melukis. Sebagai hasilnya, aku kehilangan kemampuan melukisku. Aku bahkan tidak bisa melukis apel dengan benar. Sesaat setelah aku berpikir untuk menggambar sesuatu, aku dipenuhi dengan kebingungan luar biasa. Seolah aku ingin berteriak. Aku diserang oleh kekhawatiran yang muncul begitu saja. Aku tak lagi memiliki perasa untuk garis atau warna apa yang kuperlukan.
Aku sadar diriku sudah kehilangan bakat. Terlebih lagi, aku tidak punya keinginan untuk berusaha dan mengambilnya kembali. Sudah terlambat untuk memulai dari awal. Aku meletakkan kuasku, lari dari kompetisi, dan sembunyi di dalam. Pada suatu titik, aku menjadi begitu putus asa agar seniku diterima oleh semua orang. Kurasa itu adalah alasan utama kebingunganku. Kesalahan mencoba melukis untuk semua orang benar-benar fatal. Saat kesalahan itu berada di puncak, itu akan membuat situasi dimana pelukis tidak bisa melukis. Universalitas bukan sesuatu yang akan disukai orang-orang. Kalian bisa masuk ke dalam sumur sendiri, mengambil sesuatu kembali, dan menghasilkan sesuatu yang benar-benar individual sekilas.
Untuk menyadarinya aku perlu menghilangkan semua rasa khawatirku, dan hanya untuk kesenangan, menggambar untuk diriku sendiri. Dan Miyagi-lah yang memberi kesempatan itu. Dengan dia sebagai subjekku, aku “bisa” menggambar di dunia yang benar-benar berbeda dari apa yang kuanggap “melukis sebelumnya.”
setelah itu, aku menghabiskan sepanjang malam melukis pemandangan, pemandangan yang kubayangkan setiap kali sebelum aku tidur sejak berumur 5. Dunia tempatku ingin tinggal, ingatan yang tidak pernah kumiliki, tempat yang tidak pernah kukunjungi, dan suatu hari yang bisa saja ada di masa lalu atau masa depan.
Aku bahkan tidak menyadarinya, tapi sudah lama ingatan itu menumpuk. Dan melukis Miyagi membuatku mengerti cara untuk menggambarkan mereka.
Mungkin aku sudah menunggu momen itu. Meskipun baru setelah aku hampir mati, bakatku akhirnya disempurnakan.
Menurut perempuan yang memberiku penilaian, lukisan yang kubuat di tiga puluh hari terakhir adalah “lukisan yang bahkan membuat de Chirico menganggapnya terlalu sentimental.”
Itu adalah satu-satunya penjelasan yang dikatakan kepadaku, tapi kurasa, yah, itu seperti sesuatu yang akan kubuat.
Menjual bagian hidupku dimana aku menggambar itu dan menyusupkan namaku di sudut kecil sejarah menghasilkan jumlah yang luar biasa hingga membuatku meragukan mataku.
Dengan hanya tiga puluh hari, aku hampir membayar penuh hutang Miyagi. Tetap saja, dia baru bisa bebas setelah tiga tahun lagi bekerja.
“Tiga puluh hari lebih berharga daripada tiga puluh tahun, huh?”, pengawas itu tertawa saat kami berpisah.
Dan karenanya aku juga menyangkal keabadian.
Musim panas yang diprediksi Himeno sudah mendekat.
Prediksinya setengah salah.
Karena pada akhirnya aku tidak pernah kaya, tidak pernah terkenal.
Tapi prediksinya setengah benar.
“Sesuatu yang sangat baik” terjadi, Benar. Dan seperti katanya, di dalam hati, aku rasa “aku bersyukur telah hidup.”