The World Made By Love, So Love is Root of Life

Saturday, 28 July 2018

July 28, 2018

Nee-chan wa Chuunibyou Vol. 1 Chapter 05 Bahasa Indonesia


Penerjemah : Kaito
Editor : Nero
Chapter 5 - Pertarungan Melawan Pembunuh Berantai II
"Hei! Kenapa kita kabur?"
"Karena Ia mengejar kita, lah!"
"Kenapa Ia mengejar kita?"
"Mana aku tahu ?!" Yuichi menyeret Aiko dengan tangannya sampai mereka tiba di ujung koridor.
Untungnya, Pembunuh Berantai II sepertinya tidak terburu-buru. Mereka memiliki jarak yang jauh dengan dirinya.
Semua anak kelas satu, ruangan kelas mereka berada di lantai empat. Kelas dua bertempat di lantai tiga, dan kelas tiga di lantai dua. Lantai pertama berisi ruang musik, ruang seni, dan ruang guru.
Jam pelajaran untuk hari ini sudah berakhir. Setidaknya, tidak ada tanda-tanda satu pun murid di lantai empat. Tapi tetap saja masih ada murid dan guru di lantai pertama yang sedang melakukan kegiatan klub.
Yuichi merasa gundah. Haruskah Ia meminta bantuan? Atau haruskah Ia mencoba menghadapi pembunuh berantai itu sendiri?
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanyanya pada Aiko, karena tidak ada orang lain. Tapi Aiko tampak kurang yakin pada dirinya.
"Oh! Um ... Pertama, apa yang dia inginkan? Apa dia mengejarmu?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah dia menyerang tanpa pandang bulu, atau mengejarku secara khusus."
"Jika dia menerobos ke sekolah secara ilegal, kita harus memberi tahu guru, bukan?"
"Biasanya sih begitu, tapi dia seorang pembunuh. Untuk saat ini, kita harus lari. Menuju ke atas akan membawa kita ke atap, jadi kurasa kita harus turun ke bawah! "
Keluar dari sekolah merupakan prioritas utama mereka. Yuichi baru saja memikirkannya dan mengalihkan pandangannya ke arah tangga, hanya untuk melihat anak laki-laki bertopi bisbol berdiri di sana.
"Hei. Apa kau Sakaki?" Tanyanya dengan santai.
"Aku tidak menyangka serangan pertamaku bisa gagal. Kudengar kau hanyalah orang biasa."
Saat mereka berdua tidak memperhatikannya, Ia pasti sudah turun ke lantai tiga untuk bertemu mereka. Ia cukup cepat.
"Maaf, Noro!" Yuichi menggendong Aiko di pelukannya dan berlari secepat mungkin. Aiko tampak bingung saat mendadak diangkat begitu saja.
"Ayolah, kita perlu bicara sebentar!" Teriak anak laki-laki itu, mengejar mereka berdua.
Tidak bagus! Ia mengejar kita! Tidak mungkin Yuichi bisa pergi saat membawa Aiko.
Ada benda terbang melewatinya dari belakang.
Hah?!
Kemungkinan besar, Kunai. Yuichi terus waspada terhadap arah belakangnya. Anak laki-laki terus melempar beberapa lusin kunai ke arah mereka, berusaha menekan mereka.

Tidak ada tempat untuk lari. Yuichi terus menggerakkan kaki, membanting ke jendela kelas dengan kecepatan penuh.
"Kyaaa!" Teriak Aiko, tapi Yuichi mengabaikannya, menendang meja saat dia sampai di dalam kelas.
Pada saat yang hampir bersamaan, pintu berterbangan, ditendang oleh si pembunuh.
Yuichi lari ke jendela yang menghadap ke area luar.
Aku tidak bisa melakukan ini dengan tangan yang sudah kerepotan begini! Yuichi merubah posisi Aiko dan membawanya hanya dengan tangan kirinya.
"Hei! Hah? Apa- "
Yuichi menancapkan tangannya di bingkai jendela yang terbuka dan melompat ke luar. Sesaat, Ia merasa seperti sedang melayang.
"Waaaah!" Teriak Aiko.
Di saat berikutnya, tangan kanannya menemukan bingkai jendela bagian bawah kelas sebelah. Dia menguatkan genggamannya, meregangkan lengan dan menendang dinding untuk mendorong dirinya ke atas lagi.
Meraih bingkai atas jendela hanya dengan ujung jarinya, dia menendang kaca dan meluncur ke kelas di sebelahnya dengan satu gerakan halus. Lalu ia berlari menuju pintu keluar, membanting pintu sampai lari ke lorong.
Bagus! Itu bisa memberi kita sedikit waktu!
Yuichi tidak berhenti sedetik pun. Ia terus berlari sampai ke ujung lorong. Ada tangga yang bisa membawa mereka ke atap, atau turun ke lantai tiga.
Yuichi melihat ke belakang. Bocah pembunuh itu tidak menunjukkan dirinya sendiri. Dia mungkin masih berada di dalam ruangan kelas.
Apa yang harus kulakukan? Pikir Yuichi.
Sebelumnya, dia mempertimbangkan untuk melarikan diri dari sekolah. Tapi sekarang dia tahu itu takkan berhasil. Anak laki-laki itu pasti seorang Pembunuh. Dia tidak akan ragu untuk membunuh siapapun yang Ia temui. Jika Yuichi turun sekarang, itu hanya akan menambah korban.
Namun, jika mereka pergi ke atap, mereka akan terpojok ...
"Hei! Apa kau bisa menurunkanku? "Aiko merengut padanya.
Yuichi menurunkannya ke lantai.
"Apa –apaan itu tadi?" Teriak Aiko. "Aku pikir kita sudah mati! Jantungku masih berdebar kencang!" "
"Apa lagi yang bisa aku lakukan? Jika kita terus berlari lurus ke lorong, Ia pasti sudah melempar lebih banyak shuriken pada kita."
Tidak ada waktu untuk cemas saat ini. Yuichi menguatkan tekadnya. "Aku akan menunggu di sini dan memancingnya ke atap. Kau melarikan diri ke bawah."
Jika sendirian, dia mungkin bisa menahan anak itu.
"Aku tidak mau!"
"Hah?" Yuichi tidak percaya apa yang Ia dengar. Jika mereka berpisah, ada kemungkinan besar kalau Aiko bisa tetap aman. Karena, Yuichi lah yang diincar oleh anak laki-laki itu.
"Aku bilang tidak mau! Aku tidak bisa pergi sendiri! Lebih baik jika kita tetap bersama! La-Lagi pula, bagaimana kalau aku berlari ke bawah, dan pembunuh itu mengejarku ...? "Aiko mencengkeram lengan baju Yuichi. Dia gemetaran, takut membayangkan ditinggalkan sendirian dalam situasi seperti ini.
Dia ada benarnya. Yuichi menduga pembunuh itu mengejarnya, tapi Ia sendiri tidak yakin. Lagi pula, jika mereka berpisah dan anak laki-laki itu menyandera Aiko, dia akan kehilangan harapan untuk keluar dari situasi ini.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Kita akan keluar dari sini bersama-sama." Kata-kata itu meyakinkan Aiko, dan membuatnya sedikit tersenyum. "Jadi? Apa yang akan kita lakukan di atap?"
"Aku bermaksud menahannya di atap, dan kau bisa menghubungi kakak perempuanku dan membawanya kemari."
"Hah? Kenapa kau ingin kakak perempuanmu kemari? "Aiko menatapnya dengan bingung.
Mungkin itu wajar. Tapi kakak Yuichi selalu memikirkan skenario seperti, "Bagaimana jika teroris menyerang sekolah?" Dia mungkin tahu apa yang harus dilakukan tentang pembunuh berantai yang mengamuk.
Anak laki-laki itu keluar dari kelas dan mulai berjalan perlahan menuju mereka berdua.
"Sudahlah, kita ke atap sekarang," kata Yuichi. "Aku punya ide." Dia menyeret tangan Aiko dan menaiki tangga.
Pintu atap segera terlihat, tapi di samping pintu itu ada sesuatu yang menarik perhatian Yuichi. Disana ada setumpuk meja yang rusak. Meja-meja tersebut pasti sudah disimpan di sana untuk selanjutnya dibuang.
Yuichi menarik keluar meja dan menariknya ke puncak tangga.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aiko.
"Seperti yang kau lihat, Jika dia mengejarmu, aku akan menjatuhkan ini padanya! "
"Um, Sakaki, itu ... berani ..."
"Setelah itu ... Noro, apa kau punya uang? Pinjamkan aku — maksudku, beri aku beberapa uang! "Kata Yuichi.
"Apa ini benar-benar waktu yang tepat untuk melakukan itu?!"
"Ya! Berapa banyak uang yang kau punya? "
"Um, sekitar 100.000 yen? "
"Anjayyyy! Kenapa seorang siswi SMA punya uang saku sebanyak itu? "
"Bukan urusanmu! Kenapa kau butuh uang?"
"Ada koin 500 yen?"
"Ya kenapa?"
"Berikan saja!"
Yuichi sadar bahwa tindakannya nyeleneh. Tapi kenekatannya ini mungkin berhasil tersampaikan pada Aiko, karena dia langsung mengeluarkan sepuluh koin lima ratus yen dari tas sekolah yang terus dipegangnya sepanjang waktu.
Yuichi mendengar langkah kaki menaiki tangga.
Begitu melihat sesosok bayangan di tangga, Yuichi langsung melempar meja. Meja-meja jatuh menuruni tangga dengan suara keras, seolah siap untuk memukul mati pengejar mereka ...
Anak laki-laki itu menggerakan tangannya ke samping. Itu adalah tindakan santai, seperti gerakan mengusir lalat, tapi hasilnya sangat dramatis. Tumpukan meja dipukul ke samping membentur dinding. Perangkap yang Yuichi pasang tidak bisa memperlambatnya.
Topi bisbol anak laki-laki itu terjatuh, memperlihatkan kepala dengan rambut emas pendek. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Yuichi.
Itu tanduknya.
Ada tanduk biru serta tembus pandang yang tumbuh dari dahinya, kira-kira panjangnya satu kepalan tangan. Tidak mungkin dia bisa memasukkan barang seperti itu di bawah topi bisbol.


Dengan tampilan tembus pandangnya, mungkin itu adalah hologram.
"Astaga, dia lebih kuat dari yang kupikirkan ..." gumam Yuichi.
Anak laki-laki itu perlahan menaiki tangga. Sepertinya dia sama sekali tidak terburu-buru.
Ia ... mempermainkan kita... Yuichi berasumsi anak itu datang untuk membunuh mereka berdua, tapi anak itu sepertinya tidak terburu-buru sama sekali. Yuichi tidak bisa memahami apa yang dipikirkannya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Aiko.
"Kita tidak bisa terus berlari tanpa berpikir. Kita perlu menemukan rute tercepat ke ruangan klub kakakku ... ah!"
"Apa?!"
"... Mereka mungkin sedang melakukan perjalanan wisata ..." Perkataan kakaknya melintas kembali ke pikirannya.
Yuichi menarik Aiko ke atap. Ada pagar rantai di sekelilingnya. Sepintas, tidak ada tempat tersisa untuk berlari. Yuichi membawa Aiko ke tengah atap dan berbicara dengannya.
"Noro! Berpeganganlah padaku dari depan seperti koala! Aku butuh kedua tanganku kalau kita mau keluar dari sini! "
"Apa sih maksudmu? Aku tidak bisa melakukan itu! "
"Tidak apa-apa, kamu ‘kan kecil!"
"Jangan panggil aku kecil! Dan itu bukan masalahnya! "
"Lakukan saja! "Yuichi menarik Aiko ke arahnya. "Hah?! Tu-Tunggu sebentar!"
"Lingkarkan kedua lenganmu di pundakku, dan kakimu di pinggangku!" Bentakan suara Yuichi pasti mengejutkannya, karena dia melakukan seperti yang Ia minta.
Pemandangan tubuhnya yang menempel di bagian depan badan Yuichi pasti terlihat menggelikan bagi orang yang melihatnya.
"Mungkin ini sedikit sulit untuk bergerak, tapi kupikir ini akan berhasil," katanya.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Anak laki-laki pembunuh itu berdiri di pintu masuk atap, terbata-bata karena keadaan mereka saat ini.
"Kami siap melakukan sesuatu untukmu!"
"Oh, ya?" Anak itu sama sekali tidak terancam. Dia pasti sudah percaya diri pada mangsanya yang tidak mampu melarikan diri.
Yuichi mengepalkan tangan sampai berbentuk pukulan. Ada dua koin 500 yen di antara masing-masing jarinya: total delapan.
"Ambil ini!" Dari posturnya yang sedikit terbatasi, Ia mengangkat lengan kanannya, membawanya kembali ke belakang sejauh yang dia bisa, lalu meluncurkannya ke depan. Sambil menggenggam pergelangan tangannya, ia melepaskan koinnya.
Cakram logam yang berat menghujani anak itu.
Kesombongan anak laki-laki itu lenyap dalam sekejap, dan dengan tergesa-gesa ia menyilangkan lengannya untuk menahan diri dari serangan tersebut.
Segera setelah lemparan itu, Yuichi berbalik, berlari ke pagar, dan memanjatnya, dengan Aiko yang masih menempel di depannya.
"Hah?" Aiko merasa bingung, tapi bisa ia lakukan hanya menempel erat padanya.
Yuichi mulai berlari sepanjang bagian atas pagar dengan kecepatan penuh.
"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?"
"Melompat. Pegang erat-erat!"
"Hah?" Mereka berada di atap sebuah gedung berlantai empat. Jatuh dari sini akan mencederai mereka, jika tidak itu akan membunuh mereka secara langsung. Keragu-raguan Aiko bisa dimengerti, tapi Yuichi memiliki kesempatan untuk sukses.
Merasakan ada banyak kunai yang melewatinya, Yuichi menambah kecepatan. Itu adalah penumpukan kekuatan untuk lompat jauh.
Saat dia mendekati tepi pagar, dia menguatkan dirinya sendiri, mempersiapkan kakinya ...
... dan melompat dari atap.
Kejatuhannya singkat. Hanya butuh beberapa detik sebelum mereka menyentuh tanah.
"Hah? Hah? Hah?" Aiko berteriak bingung.
Yuichi membiarkan tubuhnya lemas saat ia menabrak tanah, dimulai dengan ujung jari kakinya. Dia menekuk lututnya dan memutar untuk mengurangi kekuatan benturan saat punggungnya menabrak tanah, berguling, dan kemudian bangkit kembali.
"Uhhh?" Sebuah rintihan bingung keluar dari bibir Aiko.
Yuichi menunduk untuk memeriksanya. Dia tampak linglung, tapi dia tidak terluka sama sekali.
"Aku tidak pernah berpikir aku akan memiliki kesempatan untuk menggunakan roll lima poin di sekolah ..." Ucap Yuichi dengan lega dan sedikit terpesona.
Nama yang tepat untuk teknik ini adalah Parachute Landing Fall. Biasanya digunakan oleh penerjun payung. Tentu saja, kakaknya yang dengan senang hati mendorongnya untuk mempelajarinya, setelah membacanya sekali di manga aksi.
Yuichi mendongak ke atap. Dia merasa pembunuh berantai itu menunduk dan menertawakannya.

✽✽✽✽✽

Aiko begitu tegang, sampai-sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Setelah menyadari hal ini, Yuichi menurunkannya dengan lembut ke tanah.
Dia masih pusing, dan pijakan kakinya masih belum stabil. Dia terhuyung, tapi sebelum dia bisa jatuh, Yuichi mengulurkan tangan untuk menyokongnya.
Jantungnya berdegup kencang seperti ketel. Aiko kehabisan napas, dan tenggorokannya kering karena cemas.
"A-A-A-A-A-A-A-Aku-Aku ..."
"Kau...?"
"Kupikir kita akan mati! Apa-apaan itu ?! "Aiko tidak dalam kondisi untuk bisa menjerit saat ini, tapi dia tidak bisa menahan diri.
"Ya, itu memang sedikit ceroboh. Maafkan aku."
"Sedikit?! Kamu bilang itu sedikit ?!" Dalam satu menit, Ia sudah berlari di sepanjang pagar. Selanjutnya, dia langsung melompat dari situ. Dia masih belum bisa mempercayainya.
Dia mulai merasa pusing, dan pasti sudah pingsan dari tadi jika Yuichi tidak terus menahannya. Nafasnya sudah ngos-ngosan.
"Hei, tenanglah. Pelan-pelan, ambil nafas dalam-dalam. "Yuichi berkata dengan tenang.
Kata-katanya membantu menenangkannya, tapi saat itulah Aiko menyadari kalau dia sedang berpegangan tangan dengannya. Wajahnya menjadi merah padam, dan jantungnya mulai berdetak kencang.
Tidak ada yang melihat kita, ‘kan? Aiko menatapnya dengan sungguh-sungguh. Dia begitu tidak beres, dia bahkan tidak mempertimbangkan bahwa terlihat melompat dari atap akan jauh lebih buruk daripada terlihat di pelukan anak laki-laki.
"Apakah kau baik-baik saja? Aku tahu kau mungkin letih, tapi kita tidak bisa berdiri diam terus, "kata Yuichi meraih tangan Aiko dan mulai berlari.
Bangunan sekolah tua tempat klub bertahan hidup masih agak jauh. Ia benar: Tidak ada waktu untuk berdiam diri.
"Hei ... kita tetap pergi ... untuk menemui kakakmu, ‘kan?" Tanya Aiko sambil terengah-engah. "Meski aku ragu ... dia bisa melakukan sesuatu ..."
"Aku tidak tahu caranya, tapi mungkin dia bisa menolong kita menghadapi situasi seperti ini!" Kata-katanya yang tanpa bukti tidak membuat Aiko yakin.
*****
Anak laki-laki itu tertawa, Ia melihat ke permukaan tanah melalui celah pagar dan tertawa lagi. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Itu sama sekali tidak masuk akal. Ini menentang semua logika.
Serangan awalnya bisa dihindari. Ia melemparkan kunainya tanpa berkata-kata, saat pintu terbuka. Namun Yuichi masih bisa mengelaknya. Itu tidak mungkin. Yuichi seharusnya sudah mati di tempat sebelum dia tahu apa yang sedang terjadi.
Kemudian, rentetan serangan kunai-nya dihindari dengan mudah. Sambil melontarkan lusinan proyektil yang dilemparkannya, Yuichi memecahkan kaca di jendela kelas untuk melompat, dan kemudian, tanpa kehilangan momentum, Ia menerbangkan diri menuju jendela luar ke ruang kelas berikutnya.
Tapi pencapaian yang paling briliannya adalah cara dia melarikan diri. Mendaki pagar, berlari pada bagian atas pagar yang goyah dengan kecepatan penuh - sambil menghindari kunai lagi - dan kemudian melompat dari atap ...
"Maksudku, apa nggak salah tuh? Apa dia masih manusia? "Dia bahkan tidak pernah mempertimbangkan bahwa Yuichi akan melompat dari atap. Tidak hanya itu, Yuichi sudah bangun lagi, terlihat tidak terluka, dan kembali berlari.
Itu sangat mustahil. Jadi, apa yang bisa dia lakukan selain tertawa?
Begitu tawanya mereda, anak itu mengingat prioritasnya. Yuichi sudah pergi saat dia sedang tertawa. Dia tidak bisa membiarkannya lolos.
Dia melompati pagar dengan satu tali. Terdengar suara mengerikan saat tubuhnya menabrak tanah.
"Ow!"
Dia perlahan mengangkat tubuhnya. Ini sangat menyakitkan, tapi kerusakannya kecil ...masih sesuai harapan.
Tapi mencoba sendiri untuk melompat dari pagar hanya menegaskan kepadanya betapa sulitnya mengendalikan postur tubuhmu di udara. Mengatur pendaratan yang lembut, kaki dulu, yang mendekati mustahil. Pelatihan macam apa yang harus dilakukan Yuichi untuk bisa bertahan dari ketinggian itu?
"Aku tahu apa yang mereka pikirkan. "Dan mereka berhasil lolos dari pembunuhan itu dengan sukses, dan semuanya hidup bahagia selamanya." Tapi, itu tidak akan terlalu mendebarkan, bukan? "Ia mulai berlari ke arah kedua orang itu.
✽✽✽✽✽
Dalam perjalanan menuju tujuan mereka, Yuichi dan Aiko berlari di belakang gedung olahraga, sehingga bahkan jika si pembunuh menyerang mereka lagi, itu akan mengurangi kerusakan yang tidak perlu.
Setelah melewati gedung olahraga, gedung sekolah tua bisa terlihat dan hanya sedikit lebih jauh. "Jika terlalu sulit untuk terus berlari, aku bisa membawamu, oke?" kata Yuichi dengan cemas, saat menyadari bahwa Aiko kehabisan napas.
"A-aku baik-baik saja, oke!" Wajah Aiko memerah saat dia menanggapinya. "Hei, apa kamu tahu nomor ponsel Takeuchi?" Sebuah pertanyaan yang mendadak muncul dipikiran Yuichi saat mereka berlari.
"Apa?" Aiko terengah. "Ya, kami saling bertukar nomor. Memangnya kenapa?"
"Jika dia dipanggil sebagai Pembunuh Berantai II, mereka mungkin berhubungan. Yang berarti mungkin dia bisa membantu kita ... "
Natsuki pernah mengatakan kalau dia tidak akan membunuh di sekolah, yang berarti dia mungkin tidak bertanggung jawab atas kejadian ini. Jika seperti itu, ini adalah masalah yang menjadi kepentingan bersama: Natsuki tidak ingin pembunuhan terjadi di sekolah, dan Yuichi tidak mau terbunuh.
Aiko mengeluarkan ponsel dari saku blazer-nya. Yuichi menyambarnya dan membuka daftar kontaknya, bersiap untuk menelepon.
"Tunggu! Kamu hanya akan meneleponnya dengan ponselku? "
" Hah? Oh, benar ... Itu akan menjadi masalah, ya? "
Natsuki mengancam akan membunuh semua orang jika Ia memberi tahu siapa pun. Ia tidak bisa membiarkannya tahu kalau Aiko sudah tahu rahasianya. Jadi, Yuichi memanggilnya dengan ponselnya sendiri.
Dia langsung menjawab.
"Ini Sakaki," katanya. "Apa yang terjadi di sini?"
"Sakaki? Aku tidak pernah ingat saling bertukar nomor denganmu. Dan aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan. "
"Jangan main-main denganku," Teriak Yuichi. "Seorang pembunuh berantai sedang mengejarku! Jangan mencoba berpura-pura tidak tahu apapun tentang itu! "
"Di mana kau sekarang, Sakaki?" Tanyanya.
"Sekolah."
"Orang tolol itu ..." Dia mendecakkan lidahnya dengan jengkel.
"Jadi kamu ada hubungannya dengan orang itu!"
"Ya. Dia ingin menggunakan tempat berburuku, jadi aku menawarinya kondisi jika dia akan menghabisi seseorang yang mengetahui identitasku. "
"Hei!"
"Aku pikir tidak apa-apa asalkan aku memiliki alibi. Aku tidak percaya dia akan mengejarmu di sekolah."
"Apa-apaan dengan tanggapan itu? Cepat hentikan Iah! "
"Hmm. Tapi aku tidak bisa. Ia adalah jenis orang yang terus memburu mangsanya sampai ke ujung dunia . "
"Oh, Astaga!" Hanya itu respon yang dia bisa keluarkan.
Tidak ada yang lebih efektif yang datang kepadanya.
"Aku sedang menuju ke sana sekarang. Aku tidak mau ada pembunuhan di sekolahku. Jangan mati, oke? Teruslah berlari. "Lalu dia menutup telepon.
"Takeuchi bilang dia akan datang ... tapi kurasa dia juga akan melawan kita ..."
"Ap-Apa yang harus kita lakukan ?!"
"Yah, aku yakin kakakkku bisa mengatasinya ... setidaknya, kuharap dia bisa ..." Yuichi mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
Mereka terus berlari sembari Ia di telepon. Sekarang mereka sampai di pintu masuk gedung sekolah tua.
Mereka berlari menaiki tangga pertama yang mereka lihat di dalam, menuju ke ruangan klub survival yang berada di ujung lorong di lantai dua.
Yuichi berlari ke arah situ dengan segenap kekuatannya. Tepat saat Ia sampai di pintu, pintu itu terbuka.
Mutsuko melangkah keluar, tampak sedikit terkejut saat melihat Yuichi. "Yu? Ada apa? Sudah kubilang kamu tidak perlu datang hari ini. Kamu benar-benar ingin naik di bawah eskalator, ya? "
"Tentu saja, tidak!" Teriaknya.
Mengunci pintu ruang klub di belakangnya, pasti hanya ada dia di ruangan klub itu. Mungkin yang lain sudah pergi dalam perjalanan lapangan mereka.
"Bagaimana denganmu, Noro? Kau benar-benar ingin pergi latihan bertahan hidup dengan kami, ya? Aku akan memberimu formulir pengiriman ..." Mutsuko mulai mengaduk-aduk di tasnya.
"Kita tidak punya waktu untuk itu! Ada pembunuh berantai yang mengejarku! "
"Hah ?! "Wajah Mutsuko menyala dengan gembira.
"Tidak mungkin! Itu luar biasa!"
"Tentu, itu kata yang cocok... "
"Hmm, tapi munculnya si pembunuh setelah sepulang sekolah bukan yang paling keren. Dia pasti muncul di tengah-tengah kelas, seperti Shorty Alien, atau Shimada yang berlumuran asam! "
"Itu akan menjadi bencana! Bencana yang traumatis untuk seumur hidup! "
"Jadi, apa masalahnya? Tinggal kalahkan saja," kata Mutsuko seenak jidat.
"Mengalahkannya?! Aku bahkan berpikir kalau Ia itu bukan manusia! Tidak mungkin aku bisa mengalahkannya! "
"Tunggu! Apa kau baru saja bilang kalau Ia bukan manusia ?! "Mutsuko menyambar bahu Yuichi dan mengguncangnya.
"Jangan bersemangat begitu! Dia memiliki tanduk, dan menyingkirkan tumpukan meja dengan satu tangan. Itu saja sudah menjadi bukti kalau Ia bukan manusia! "
"Tanduk ... berapa banyak?"
"Hanya satu."
"Oh, Kau akan baik-baik saja!"
"Bagaimana ,mungkin aku akan baik-baik saja?!"
"Kalau hanya satu tanduk itu berarti dia mungkin lemah!"
Dia tidak bisa membayangkan atas dasar apa kakaknya mengatakan itu. Rasa dingin mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Teriaknya.
"Kurasa kau harus mengalahkannya," kata Mutsuko.
Itulah yang Ia takutkan. Ia akan dipaksa bertempur. "Lihat, ‘kan? Kita sudah menemukan kakakmu, tapi itu tidak mengubah apapun! "Kata Aiko dengan sangat keras Tapi di balik dugaannya, ekspresinya sangat gugup. "Jangan terlalu di ambil hati ... aku hanya berpikir sendiri ..."
"Hei! Apa itu pembunuh berantainya?" Mutsuko menunjuk ke ujung lorong, dimana seorang anak laki-laki berdiri, berambut pirang, dan mengenakan seragam berkerah tinggi.
Mereka sudah terpojok. Yuichi melihat area sekitar dengan panik.
Tangga yang didekat mereka ditutup karena sudah rusak. Akan berbahaya untuk menggunakannya.
Anak laki-laki itu melangkah ke arah mereka dengan santai. Ia tersenyum, seolah-olah dia menantikan apa pun yang Yuichi tunjukkan padanya selanjutnya.
"Hmm, kalau aku harus bilang sih ..." Mutsuko mengintip si bocah pembunuh berantai, tatapannya sangat terfokus. "Ada sesuatu yang tidak jelas tentang caranya berjalan. Kurasa dia tidak tahu pusat gravitasinya. Tipe orang yang mengandalkan otot dan bukan otaknya. Dan dia mengalami kerusakan di sisi kanannya. Aku tidak berpikir Ia menyadarinya, tapi caranya itu menunjukkan ada kerusakan pada organ dalam. Dengan kata lain, pukulan yang baik mungkin bisa menyebabkan banyak kerusakan. Mengapa kau berpikir kalau kau tidak bisa mengalahkannya?"
"Apa kau bercanda?!"
"Yu, kamu harus mulai mengukur kekuatan lawanmu sendiri."
"Aku tidak punya waktu untuk itu! Dia langsung menyergapku!" Teriaknya.
Tapi kakaknya benar. Sekarang, setelah menenangkan diri, Ia bisa menebak kurang lebih kekuatan si pembunuh. Jika tanpa tingkat kecermatan kakaknya ...
"Baiklah! Yu, sudah waktunya untuk meluluskan keperjakaanmu! "Serunya.
"Ke-Keperjakaanku?" Yuichi tergagap.
Rujukan yang tiba-tiba itu sontak saja menyebabkan wajah Aiko menjadi merah padam.
"Aku tidak ingin membunuh orang!" Tambahnya.
"Jangan khawatir, Ia itu bukan manusia! Hanya sebuah alat yang berguna bagimu untuk meluluskan keperjakaanmu, "Mutsuko menegaskan, mengulangi metafora yang memalukan itu. Kalimat itu mengacu pada tindakan membunuh seseorang, sebuah istilah yang biasa digunakan oleh tentara untuk menyebut pembunuhan pertama mereka. Tentu saja, pengetahuan Mutsuko tentang itu berasal dari manga.
"Oh, lupakan saja! Yang penting, aku bisa mengalahkannya, ‘kan? Jadi aku serahkan sisanya padamu! "
"Oke! Jika kau berakhir sebagai seonggok daging berkedut di tanah, aku akan membawamu pulang dengan bahuku! "
"Tidak di atas bahu, tolong. Itu akan sedikit terlalu menyedihkan. "Yuichi berpaling kepada si pembunuh berantai dan mulai berjalan. Si pembunuh menyadari bahwa Yuichi akan menghadapinya, namun pembunuh itu tidak mengubah langkahnya.
Mereka berada tepat di ambang jarak dekat saat mereka berdua berhenti.
"Apa? Aku sudah tak sabar untuk melihat bagaimana kau bisa lolos kali ini. Mungkin Kau akan melompat lagi melalui jendela "
"Maaf sudah mengecewakanmu, tapi aku sudah lelah melarikan diri. Sudah waktunya menghentikanmu."
Tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukan melawan si pembunuh, Yuichi baru saja melarikan diri. Lagi pula, ini bukanlah perkelahian biasa. Untuk melawan pembunuh berantai, kau harus bersiap menghadapi hal-hal tertentu. Kau takkan menang jika kau menahan diri. Ini adalah saat dimana kau membunuh atau dibunuh.
Dia belum bisa melakukan itu sebelumnya, tapi sekarang, kakak perempuannya sudah mengatakan bahwa Ia bisa mengalahkannya.
Itu berarti Ia bisa mengalahkannya. Kakaknya juga mengatakan bahwa dia akan menangani akibatnya, jadi apa pun yang terjadi, mereka akan baik-baik saja.
Yuichi mengambil keputusan.
"Furukami," bisiknya.
Dia memulai dengan kaki kirinya, menegangi otot-otot kaki itu melewati batasnya. Kaki kirinya sekarang tidak ada gunanya.
Dia mendepak tembok kanan dari si pembunuh, terbang lebih tinggi ke udara, lalu langsung mengarahkan dirinya ke jarak dekat untuk menghadapi si pembunuh dan menurunkan tumitnya.
Untuk si pembunuh, Yuichi seolah-olah telah lenyap dalam sekejap, sebelum muncul kembali saat tumit menabraknya dari udara.
Si pembunuh nyaris tidak bisa bereaksi. Ia hanya berhasil menghindari tumit kiri yang menghampirinya. Tapi dia tidak bisa menghindari tumit kanan yang datang bersamaan. Ini membuat celah di atas kepalanya, dan memang begitu.
Yuichi mendarat, melangkah lebih jauh ke dalam ruang pribadi sang pembunuh, dan memukul punggung si pembunuh dengan tinjunya. Suara retak yang rendah bergema di lorong.
Dalam sekejap, pertarungan sudah usai.

✽✽✽✽✽

"Gwuh?" Aiko menyalak.
Yuichi memulai dengan kaki kirinya, dan hal berikutnya yang dia tahu, si pembunuh itu sudah terkapar di atas lantai. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
"Itu furukami! Ini adalah teknik yang sering kau lihat dalam seni bela diri kuno! Ini memungkinkanmu melampaui batas manusia dalam waktu sementara! Sekresi Dopamin, penghambatan persepsi rasa sakit, pelepasan batas, dan lain-lain. Yu mendorong otot-otot kaki kirinya melewati batas mereka, mendorongnya lebih cepat dari yang bisa dilihat lawannya. Lalu dia menggunakan tendangan kampak ganda! Jika yang kiri sudah memukul, itu hanya akan menyebabkannya sakit, jadi Ia menggunakannya sebagai umpan untuk tendangan sebenarnya! "
"A-Ah. "Aiko tidak bisa menanggapi sepatah kata pun. Tapi Mutsuko sepertinya tidak meyadarinya, terus melanjutkan.
"Bagian selanjutnya bahkan lebih sederhana. Dia memusatkan semua kekuatan di tubuhnya ke dalam tinjunya, lalu melepaskannya! Ini mirip - meski tidak begitu- dengan konsep bela diri Cina fa jin! Aku menyuruh Yu berlatih sampai dia bisa memasukkan satu inci ke futon saat keluar dari jalur pengeringan! Oh, cara dia biasa menangis waktu! Sangat lucu sekali!"
"U-Um ... apa yang sudah kamu lakukan pada Sakaki?"
"Melatihnya! Seorang pria harus menjadi kuat! "Mutsuko tersenyum bangga.
Aiko merasa sangat kasihan pada Yuichi.




Wednesday, 25 July 2018

July 25, 2018

The Result when I Time Leaped Chapter 10 Bahasa Indonesia


Sana

"Permisi…"
Orang yang datang ke ruang UKS bukanlah perawat sekolah, tapi melainkan seorang siswi.
"Bagus, sepertinya itu bukan Watanabe-sensei."
Hiiragi-chan merangkak keluar dari bawah tempat tidur. Watanabe-sensei adalah perawat sekolah di sini, dia adalah seorang wanita tua yang mendekati  60-an. Gadis yang masuk tadi kemungkinan besar akan segera pergi. Namun, suara itu terdengar akrab.
"Nii-san ...?"
Ugeh !? Nii-san ... itu berarti, siswi itu adalah Sana!
“Seiji-kun, kamu punya adik perempuan?”
“Ini bukan waktunya untuk mengatakan itu dengan santai. Cepat sembunyi lagi!"
Aku seharusnya pingsan pas pelajaran olahraga dan sekarang tengah tertidur di kasur. Jika Hiiragi-chan bilang kalau dia datang untuk mengunjungiku karena itu, itu mungkin bisa diterima, tapi tetap saja akan menimbulkan kecurigaan.
Jika guru olahraga yang datang untuk memeriksaku, rasanya tidak akan aneh. Tapi jika  guru yang mengajar pelajaran sejarah dunia datang berkunjung, itu hanya akan membuat orang mencurigai ada sesuatu yang mendasarinya. Untuk terus melanjutkan hubungan kita, kita perlu menghindari semua kecurigaan tersebut.
Setelah aku melihat Hiiragi-chan sudah bersembunyi di bawah kasur, aku berseru.
"Sana?"

Aku membuka tirai yang tertutup dan  melihat wajah adik perempuanku yang sering aku lihat setiap hari sampai sampai aku merasa bosan melihatnya.
Dia bertubuh tinggi dibandingkan kebanyakan gadis lain, dan bisa dibilang kalau dia mirip dengan seorang model atau itulah yang dikatakan oleh kerabat kami saat kami sedang berlibur ke rumah kerabat. Menjadi siswi kelas satu SMA, dia memiliki sedikit aura kedewasaan, dan tampaknya  ada senior yang sudah mengungkapkan perasaan padanya.
"Apa-apaan ini, bukannya kau terlihat baik-baik saja?"
"Yeah begitulah ... Apa kamu butuh sesuatu? ”
"Tidak juga, aku tidak memiliki urusan apapun darimu ... hanya saja guru wali kelasku bilang kalau Nii-san terjatuh pingsan dan sekarang dalam keadaan koma di ruang UKS."
Anak ini. Dia benar-benar mengkhawatirkanku. Lebih penting lagi, guru wali kelas Sana terlalu berlebihan. Jika aku benar-benar dalam keadaan koma, aku pasti sudah dikirim ke rumah sakit.
"Aku datang menjengukmu, mau iseng menggambar sesuatu di wajahmu."
"Berjuanglah di kesempatan berikutnya."
“Dan... ini untukmu."
Dia memberiku sebotol minuman olahraga.
“Jika kau sudah bangun, kenapa kau tidak pergi ke kelas? Yah, lagian kita sedang membicarakan Nii-san, kau pasti berencana membolos pelajaran dan menggunakan kejadian  ini sebagai alasannya. ”
"Aku baru saja bangun. Karena itulah, aku akan pergi ke kelas berikutnya. ”
"Baguslah, kalau begitu."
Kemudian, mata Sana tertuju pada seragamku yang terlipat rapi.
"Apa kamu yang melipatnya, Nii-san?"
"Nggak ..."
Mungkin, itu ulah Hiiragi-chan. karena dia dengan ringan memukul bawah kasur, seolah mencoba menyampaikan sesuatu.
"Bukan  perawat sekolah yang melakukannya?"
"Bukannya dia sedang dalam perjalanan atau semacamnya, apa kau tidak diberi tahu saat di kelasmu?"
Dag-dig-dug.
Be-Benarkah? Aku tidak tahu apa pun tentang itu, jadi aku mencoba membuat alasan lain.
“Lalu, bukankah itu orang yang membawaku? La-Lagian, aku baru saja bangun. Dan saat aku tersadar, kau sudah muncul di depanku. Aku tidak tahu apa-apa. ”
Aku berkeringat dingin saat Sana terus menatap seragamku, jadi aku mengambilnya dari atas selimut dan mulai berganti baju.
“... Nii-san, tak disangka kamu memiliki tubuh yang sangat bagus, bukan?”
Bajuku menghalangi pandanganku saat aku melepasnya, tapi aku bisa merasakan Sana menusuk perutku.
"Idiot, jangan asal sentuh."
Hayo hayo hayo!
Guru sejarah dunia yang bersembunyi di bawah kasur seperti buku porno mulai memukul tempat tidur. Berhenti menyentuh Seiji-kun, mungkin begitu yang dia maksud.
"Aku akan menyentuhmu, oke?"
Dosun! Dosun! Dosun!
Setiap sentuhannya menjadi lebih berat dan berat.
“Idiot, dasar cabul. ... Namun, aku sendiri tidak tahu, aku sudah berlatih baru-baru ini, jadi aku sudah terbiasa melihat tubuh seperti ini. ”
Ah, aku mengerti, kataku sambil memegang tanganku melalui lengan bajuku. Dengan ditutupi  selimut, aku mengganti celanaku, dan membereskan baju yang aku lepas.
"Kelas selanjutnya akan dimulai, tau?"
"Iya, iya aku tahu kok."
Jika kau sudah tahu, bukannya seharusnya kau pergi, Sana?
"Nii-san, apa yang akan kamu lakukan untuk makan siang?"
“I-Istirahat makan siang? Aku tidak memiliki sesuatu yang direncanakan. "
“Kenapa kau tiba-tiba gugup? Aku akan mengatakan ini karena hal itu adalah mustahil  ... tapi ibu penasaran apakah kau sudah punya pacar karena kau bilang tidak membutuhkan bentou lagi untuk makan siang. Ini sangat aneh. ”
Tontontontontontontontonton.
Di bawah tempat tidur, pacarku sedang memukul tempat tidur secara berirama. Sepertinya semakin memburuk dan lebih buruk.
“Karena itu, aku ingin tahu apa yang kamu lakukan untuk makan siang ... ka-kamu tidak memiliki pacar, ‘kan? Sei-kun tak pernah bisa mendapatkan pacar. ”
Nada Sana menjadi lebih kekanak-kanakan. Apa dia merajuk ...?
“Jangan sembarang panggil aku Sei-kun. Hanya saja aku punya teman yang memasak, dan membiarkanku memakannya untuk mencoba rasanya. ”
Sekitar 80% adalah bohong, tapi sisanya adalah benar.
Dosu dosu, dosu dosu!
Buku porno di bawah ini sangat berisik ... Dia mungkin mencoba mengatakan sesuatu seperti, "Kita ini bukan teemaaaannnnn!"
Kalau begitu, baguslah, kata Sana, saat wajah dinginnya berganti menjadi senyuman.
“Membuat temanmu melakukan itu setiap hari mungkin sulit, bukan? Pada akhirnya, Sei-kun mungkin tidak memiliki orang lain untuk membuatkannya untukmu, jadi bagaimana kalau aku memberimu juga? ”
Dosu!
Ada sedikit makna tersembunyi dibalik  perkataannya. Tentu saja, aku juga memiringkan kepalaku dalam kebingungan.
“Hah? Mengapa? Itulah yang disebut dengan bantuan yang tidak diinginkan, tau? ”
“Di-diam! Jika itu pacarmu, aku tidak akan melakukannya. Aku tahu harus memberi kalian berdua kebebasan. Aku bukanlah gadis yang tidak peka. ”
Dodododo, dosun.
Itu adalah rentetan pukulan. Mungkin karena dari perspektif Hiiragi-chan, situasi saat ini adalah Sana tidak bisa membaca suasana dengan benar. Lebih penting lagi, bisakah kau menghentikannya dengan reaksi semacam itu, Sensei?
"Sa-chan, itu sedikit mendadak, bukan?"
"Jangan panggil aku, Sa-chan."
Ada apa sih dengannya? Kenapa dia tiba-tiba mengatakan sesuatu seperti ini?
Ah.
Apakah ini pola di mana Sana tidak bisa berteman ...? Itu mungkin saja.
"..."
"A-apa itu?"
Sana adalah orang yang pemalu, dan tidak benar-benar memiliki karakter yang ceria. Dia sepertinya mencoba untuk membuatnya tenang, karena itu cukup sulit untuk dibicarakan.
"Kamu tidak bisa berteman dan menjadi penyendiri, bukan?"
“Itu salah! Aku punya seratus dari mereka. ”
"Pembohong."
Adikku, duduk di kelas, makan bentou yang dibuat ibu kita sendirian ...
Hanya membayangkan itu saja sudah membuat dadaku sakit. Sekarang sudah sekitar sebulan sejak dia masuk sekolah, kelompok teman mungkin sudah terbentuk sekarang. Orang-orang di kelas yang berbeda tetapi dari sekolah menengah yang sama, mungkin ada teman-teman baru juga ... orang-orang dari klub yang sama juga ... Sana berada di klub langsung capcus (langsung ke ruumah) sama seperti aku.
“Ngomong-ngomong, Nii-san seharusnya makan siang denganku.”
"Tentang hal itu, Ayo kita bicarakan baik-baik di rumah dengan orang tua kita."
"Hentikan! Jika ketahuan kalau aku ini seorang penyendiri! Itu akan membuat mereka khawatir! ”
Memag seperti begitulah Adik perempuanku, sangat memikirkan tentang orang tua kita.
"Waktu habis. Kami akan melanjutkan ini melalui teks. "
"Jangan mengatakannya seperti, " Ini akan berlanjut di web " ."
"Bel pelajaran sudah berbunyi. Jika kau tidak segera pergi, kau akan terlambat. Selain itu, persiapan hari ini sudah dibuat, jika kau ingin makan bersama, kita harus mulai dari besok. ”
"… Mengerti."
Aku bisa memuaskan Sana saat dia berjalan pergi sambil memegangi roknya.
"Sensei, seharusnya baik-baik saja sekarang."
Mengulurkan tanganku, aku menarik keluar Hiiragi-chan dari posisi buku ero.
"Sana-chan, dia anak yang baik."
"Dia masih anak-anak."
“Seiji-kun, kamu juga masih anak kecil. Ulang tahunmu masih jauh, jadi kamu masih 16 tahun, ‘kan? ”
Hiiragi-chan menggodaku dengan menusuk-nusuk pipiku.