The World Made By Love, So Love is Root of Life

Monday, 5 November 2018

Kimitsuki Chapter 1.1 Bahasa Indonesia



Chapter 1 : Short Season, Cold feeling

Bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan di atas bukit. Saat aku selesai mendakinya, logo rumah sakit baru bisa terlihat dalam pandanganku. Itu adalah bangunan baru dan relatif bersih, dan entah bagaimana tidak terasa  seperti ada orang tinggal di sini. Meski ini adalah rumah sakit, namun memiliki nuansa yang mirip seperti bangunan kantor. Hal tersebut membuatku merasa sedikit lebih nyaman. Aku memberitahu resepsionis tentang keperluanku di sini dan segera diberitahu kamar mana yang di tuju.
Berpikir tentang bagaimana aku akan segera bertemu orang asing, Aku merasa sedikit gugup. Belum lagi fakta bahwa orang tersebut adalah seorang gadis yang telah dirawat di rumah sakit karena penyakitnya.
Aku merasa sedikit gelisah saat menunggu lift datang.
“Kudengar dia sangat cantik,” Seseorang mengatakannya padaku.
Nama gadis tersebut adalah Watarase Mamizu.

****

Selama jam pelajaran pertama di kelasku, Yoshie-sensei, guru wali kelas kami, berbicara dengan suara yang lantang.
“Watarase Mamizu-san telah dirawat di rumah sakit sejak SMP karena penyakit serius,” katanya. “Aku berharap bahwa dia bisa keluar dari rumah sakit secepat mungkin dan menikmati kehidupan sekolahnya dengan semua orang.”
Ada satu kursi kosong di kelas. Sekolah kami merupakan gabungan dari sekolah SMP dan SMA, sehingga murid yang hadir  tidak banyak berubah sejak dari SMP. Meski begitu, kelihatannya banyak yang tidak mengetahui siapa Watarase Mamizu.
“Aku dengar kalau itu penyakit luminesensi.”
“Jadi, dia mungkin takkan bisa datang ke sekolah, ya.”
"Siapa dia?"
“Rupanya dia belum pernah ke sekolah sejak Mei kelas 1 SMP.”
“Aku tidak ingat sama sekali.”
“Apa tidak ada yang punya fotonya ?”
Semua murid di kelas mulai sedikit bergosip tentang dia, tapi karena kurangnya informasi mengenainya, sehingga itu cepat berhenti.
Jika itu penyakit luminesensi, mungkin akan sulit baginya untuk kembali ke sekolah. Ini dikenal sebagai penyakit yang tak bisa disembuhkan.
Penyebabnya masih belum diketahui, metode pengobatannya pun belum ada.
Sangat mustahil untuk menyembuhkan penyakit ini. Itu sebabnya, kebanyakan orang yang menderita penyakit seperti ini akan menghabiskan seluruh hidupnya di rumah sakit.
Penyakit tersebut akan berkembang seiring  pasien tumbuh dewasa, dan gejalanya tiba-tiba muncul. Dikatakan bahwa kebanyakan pasien mengembangkan gejala-gejala di masa remaja mereka atau di usia dua puluhan. Setelah gejala muncul, tingkat kematiannya akan sangat tinggi; kebanyakan pasien meninggal sebelum menjadi dewasa. Ada banyak gejala yang berbeda, tapi ada satu karakteristik yang khas, yaitu fenomena aneh yang terjadi pada kulit pasien.
Kulit mereka bersinar.
Dikatakan bahwa pada malam hari, ketika cahaya bulan menyinari tubuh seseorang dengan kondisi tersebut, akan memancarkan cahaya samar-samar. Rupanya,  cahaya yang dipancarkan akan menjadi kuat seiring kondisi berlangsung. Itulah mengapa penyakit ini disebut penyakit luminesensi.
... Bagaimanapun juga,  tidak mungkin kalau gadis yang bernama Watarase Mamizu ini bisa kembali ke sekolah, pikirku, dan memutuskan untuk segera melupakan semua ini.

uuu

Beberapa hari kemdian, selama waktu istirahat, ada sebuah  kertas berwarna yang disodorkan di hadapanku.
“Okada, tulis sesuatu di sini,” kata orang yang  memberi kertas padaku.
“Apa ini?” Tanyaku.
“Kau tahu, apa lagi itu? Seseorang-san, orang yang menderita penyakit luminesensi. Semua orang harus menulisnya dan kemudian itu akan diberikan kepadanya.”
Tidak tertarik , pikirku sembari menggerakkan pulpenku di atas kertas berwarna.
Aku harap penyakitmu segera membaik. Okada Takuya.
Aku menulis kata-kata tersebut dengan lancar dalam waktu tiga detik dan kemudian melihat sekeliling untuk memberikan kertas tanda tangan untuk orang yang selanjutnya.
“Wow, Okada, itu polos sekali.”
“Selanjutnya, harus kuberikan pada siapa?”
“Semua orang di sini sudah mengisinya. Ah, kurasa Kayama masih belum. Pergi dan berikan padanya. Kau dan Kayama cukup dekat, bukan?”
“Kami tidak sedekat yang kau kira,” jawabku sebelum mendekati kursi Kayama.
Kayama Akira selalu berantakan seperti biasanya. Baju seragamnya keluar dari celananya, dan ia sedang berbaring di atas mejanya, terlelap seperti kayu. Dia memiliki tubuh yang tinggi serta rambut yang panjang. Namun Ia tidak memberikan suasana yang mirip seperti anak berandalan dan tidak memiliki kecenderungan terhadap kekerasan, tapi Ia bisa digambarkan sebagai orang yang  “tidak serius.”
Dia masih populer dengan kalangan gadis karena dia memiliki wajah yang cukup tampan, tapi Ia biasa menanggapi orang dengan sikap yang agak arogan. Oleh karena itu, sebagian besar dari siswa laki-laki sedikit menghindarinya.
“Kayama, bangunlah,” kataku.
“Tak kusangka kalau aku terpilih sebagai manajer asrama perempuan yang dipenuhi dengan gadis-gadis cantik ...”
Kayama mengigau dalam tidurnya. Sepertinya, dia sedang mengalami mimpi yang sangat indah, Namun aku terus mengguncangnya, mengembalikannya pada kenyataan.
"Hah? Okada? Ada apa?” Tanya Kayama.
Jika aku mempunyai pilihan, aku benar-benar tidak ingin mendekatinya. Tapi itu bukan karena ada hubungannya dengan diriku yang tidak bisa berurusan kepribadian menyimpangnya.
Di masa lalu, Kayama melakukan sesuatu yang membuatku berhutang budi padanya. Itu sebabnya, hal itu kurang benar untuk mengatakan bahwa kita ini adalah teman. Kata “penyelamat” adalah yang paling tepat untuk mendeskripsikan Kayama bagiku.
Ada sesuatu yang aneh tentangku saat aku berinteraksi dengan Kayama – entah kenapa aku merasa gugup di dalam diriku, bahkan ketika kami hanya sekedar mengobrol.
“Ini surat bersama,” kataku. “Kau tahu, untuk seseorang dengan penyakit luminesensi.”
“Ah.” Kayama mengambil kertas berwarna, dan kemudian menatap dengan pandangan agak linglung. “Watarase Mamizu, ya.”
Ekspresi dan suaranya tampak seperti sedang mengingat sesuatu di masa lalu.
“Apa kau mengenalnya?” Tanyaku, merasa terkejut.
“Tidak ......yah  sedikit, di masa lalu. Jadi, dia bermarga Watarase sekarang,” kata Kayama, seakan berbicara pada dirinya sendiri. “Yah, aku akan menulisnya.”
Setelah dia berkata begitu, aku kembali ke tempat dudukku sendiri.
“Okada, bagaimana akhir-akhir ini?” Tanya Kayama padaku.
“Bagaimana apanya?”
"Apa kau baik baik saja?"
“Aku baik-baik saja,” jawabku, sambil menekan rasa jengkelku.
“Kau selau menderita dari waktu ke waktu,” kata Kayama dengan nada yang terdengar seolah-olah dia bisa melihat apa yang kurasakan.
“Aku normal,” kataku. Ini bukan urusanmu, pikirku, namun aku tidak bisa mengatakan ini dengan keras.

*****
“Surat bersama yang ditulis oleh semua orang akhirnya telah selesai, jadi aku berpikir untuk meminta seseorang untuk membawa surat ini kepada Watarase-san di hari libur nanti. Aku yakin Watarase-san akan jauh lebih senang jika siswa yang mengantarnya dibandingkan diriku. Apa ada yang ingin pergi?” Tanya Yoshie-sensei.
Yoshie-sensei adalah wanita yang cukup cantik yang berusia awal dua puluhan, tapi mungkin karena dia belum lama menjabat menjadi seorang guru, cara dia melakukan homeroom masih agak kaku.
Bahkan setelah diberitahu semua ini, tidak ada seorang pun yang mengajukan diri dan hanya berpikiran, “merepotkan sekali.”
Tidak ada satu murid pun yang mengangkat tangan. Semua orang sudah menduga ini. Jika terus seperti ini, Yoshie-sensei pasti akan menunjuk seseorang untuk melakukan tugas tersebut. Semua orang menutupi wajah mereka,  tidak mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka berharap tidak akan terpilih.
Dan kemudian, tiba-tiba, Kayama mengangkat tangannya. Semua orang terkejut dan menatap ke arahnya secara bersamaan.
“Aku akan pergi,” katanya.
“Ah, kalau begitu, maaf tentang ini, tapi kurasa aku bisa mengandalkan hal ini padamu,” kata Yoshie-sensei.
Pada saat itu, ada sesuatu jejak misterius di dalam ekspresi Kayama. Sesuatu yang menyerupai keberanian suram. Sulit untuk membayangkan bahwa dia rela menjadi sukarelawan.
... Jika memang tidak menyukainya, seharusnya Ia tidak mengatakan apapun. Mengapa Kayama mengatakan bahwa ia akan pergi? Pikirku, merasa sedikit penasaran.

*****

Akhir pekan pun tiba, dan pada hari Minggu, Kayama tiba-tiba meneleponku dan memintaku untuk menemuinya.
“Aku ingin minta bantuanmu,” katanya.
Kami tidak terlalu dekat untuk membuat kebiasaan bertemu satu sama lain pada hari libur, jadi ini bisa dianggap sebagai kejadian yang langka.
Merepotkan sekali, tapi aku menuju ke rumahnya karena aku sudah diberitahu.
“Aku terkena demam,” kata Kayama, yang datang ke pintu depan dengan menggunakan piyama, dan memakai masker. “Kau bisa lihat sendiri.”
Tapi Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang menderita demam. Seolah-olah dia hanya menunjukkan cosplay orang sakit padaku.
“Jadi, bantuan apa?” Tanyaku, sedikit kesal.
"Ah, jadi ... aku tidak bisa pergi mengunjungi Watarase Mamizu," kata Kayama.
“Dan kau memintaku untuk pergi menggantikanmu?” Tanyaku, memastikan situasi.
“Yeah,” Jawab Kayama.
Dia kembali ke dalam rumahnya, dan setelah beberapa saat, dia kembali dengan tumpukan kertas dan barang-barang yang harus diberikan kepada Watarase-san.
“Aku mengandalkanmu,” katanya sambil memberikannya padaku.
Seakan tidak ingin memperpanjang percakapan lebih lanjut, Kayama masuk kembali ke dalam rumahnya. Sejujurnya, aku tidak bisa mempercayai semua ini.




No comments:

Post a Comment

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat