Tada, Sore Dake de Yokattan Desu Chapter 07 Bahasa Indonesia




Penerjemah : Kaito
Editor : Utsugi
Chapter 07 – Kepingan Puzzle Terakhir

Ini adalah kenyataannya, tidak ada yang bisa dibanggakan, tapi aku mengumpulkan keberanianku dan memberikan jawaban kepada Kotomi Ishikawa.
Tentu saja, aku takut mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, dan takut pada si Penyerang. Meski begitu, aku mempunyai alasan untuk tidak menyerah. Ini menakutkan, tetapi aku memutuskan untuk memulai penyelidikan.
Dia adalah pacar pertama Masaya saat Ia masih hidup.
Apa yang dia lihat di kelas waktu itu? Kenapa dia terjatuh dari tangga?

uuu

Kotomi dan aku sepakat untuk bertemu.
Aku menghubungi Dia melalui SNS, tapi sepertinya dia sangat ingin bertemu denganku, jadi kami mengatur waktu untuk bertemu dengannya di rumah sakit, dan aku mengunjunginya di salah satu kamar rumah sakit.
Kamarnya adalah kamar tidur tunggal yang terawat dengan baik. Dia duduk di tempat tidur, dan seluruh ruangan benar-benar berwarna putih, seperti sakit putih; ada perasaan yang tidak mengenakkan, malahan itu membuat kecantikannya lebih menonjol. Anehnya, rambut hitam panjang dan wajahnya yang kelihatan tegang masih sama seperti sebelumnya.
Namun, tubuhnya terlihat kekurangan nutrisi, mungkin karena dia pingsan selama berhari-hari, dan tidak memiliki banyak daging,  tapi hasilnya memberikan hawa keberadaan yang suci. Getaran masa muda yang cocok dengan usianya ketika aku bertemu dengannya telah lenyap, dan dia tampak sangat dewasa.
Dia duduk di sofa, memegang bunga Narcissus besar.
Aku memasuki ruangan, dan dia menatapku, tersenyum dengan damai.
"Halo, Sanae."
Nada suaranya dipenuhi dengan rasa iba dan belas kasihan. Ini tak seperti seorang anak berumur 14 tahun.
Tentunya dia tahu bahwa Masaya bunuh diri.
"Sejujurnya ..." dia menunjuk ke kursi, mungkin berniat mempersilahkanku untuk duduk, "Aku sudah pulih sejak lama, tapi aku tak di izinkan untuk di besuk. Bukannya itu terlalu berlebihan, menurutmu? ”
“... Kamu menerima pukulan keras, jadi itu sudah bisa diduga, bukan? Masih ada beberapa bagian yang belum bisa disembuhkan didalam otakmu ketika dilakukan pengecekan medis. ”
Setelah mendengar jawabanku, dia menjawab, "Aku mengerti, itu adalah titik buta!" Dia tertawa kecil, dan melihat tangannya dengan tatapan serius,
"Jadi ... aku mempunyai waktu yang cukup untuk duduk di sini, untuk memikirkan apa yang terjadi sampai saat ini."
Dia memegang sesuatu di tangannya. Setelah melihat lebih dekat, aku menemukan bahwa itu adalah ponsel.
Dengan wajah yang menggemaskan, dia membelai ponselnya, dan berkata,
“Tentang kelas, Masaya, Sugawara, Tes Kekuatan Manusia, dan diriku sendiri. Seperti orang bodoh, aku hanya memikirkan teman. Aku terus bertanya-tanya, apa yang akan aku lakukan saat aku dijauhi oleh mereka? Jika aku tidak bisa mengikuti topik atau nilai, dan jika aku dibully, apa yang harus aku lakukan? Tidak mengherankan jika Sugawara mengejekku, Apa yang kau pikirkan hanyalah orang lain.”
"Apa kamu akrab dengannya?"
“Tidak, tapi sebelum insiden itu terjadi, kami sempat mengobrol beberapa kali, sedikit mendalam. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti perkataan Sugawara, untuk mengabaikan orang lain, dan menghabiskan waktu untuk memikirkannya. Setelah memikirkannya untuk sementara waktu, aku menyadari bahwa Sugawara sangat peduli padaku dengan caranya sendiri. ”
"Apa lagi yang kamu pikirkan?"
“Seperti, mengapa Masaya mendorongku hingga terjatuh dari tangga.”
Dia meletakkan ponsel di dadanya.
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya, siapa sebenarnya yang membunuh Masaya. Dosa yang telah dilakukan Ninomiya, Watabe, Komuro, dan Diriku. ”
Tak diragukan lagi Kotomi adalah salah satu kelompok sentral di kelas; dia menduduki peringkat ketiga dalam Tes Kekuatan Manusia, dan popularitasnya
tidak dapat diragukan lagi (untuk catatan, dari jumlah 35 siswa di kelas, Masaya yang pertama, sementara Taku Sugawara berada di peringkat 34). Kepribadiannya yang ceria akan membuatmu merasa nyaman ketika bersamanya; setiap kali ada orang yang bersamanya, tidak akan ada yang mengeluh.
Namun, ketika dia menyatakan bahwa setahun yang lalu, dia diganggu oleh beberapa gadis. Dia secara tidak sengaja menunjukkan pada teman-temannya Kartu Tes Kekuatan Manusia, dan karena peringkatnya tinggi, teman-temannya merasa iri. Sebelum teman-teman yang lain membencinya, seseorang yang terkenal populer di kelas mengatakan sesuatu dan dengan mudah menyelesaikan masalah.
Orang populer itu adalah Masaya. Keduanya memiliki hubungan yang baik dan, dua bulan kemudian, mereka mulai berpacaran.
Aku pernah bertanya tentang pacar Masaya, dan Ia tampak sangat jengkel, tapi dia memperkenalkan pacarnya kepadaku. “Dia pandai meringankan suasana, jadi kurasa dia juga akrab denganmu. Dia terlihat konyol, tapi dia benar-benar peduli pada orang lain. ”
Namun, aku secara pribadi bisa merasakan bahwa cara dia memperlakukan orang lain adalah karena ketakutannya di masa lalu.
“Jadi ketika Masaya mulai menyembunyikan sesuatu dariku, aku benar-benar sakit hati. Aku takut ditinggalkan oleh Masaya, bahwa aku harus menghadapi kebencianku sendiri. ”
Perlahan-lahan, Dia mulai bercerita,
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan aku melampiaskan rasa frustrasiku pada boneka lumba-lumba yang diberikan Masaya kepadaku… aku idiot. Itu adalah boneka berharga yang diberikan Masaya pada kencan pertama kami ... tapi itu benar-benar mengejutkanku. Masaya, tidak, Ia, dan semua orang, termasuk Ninomiya, Watabe, dan Komuro, semuanya menyembunyikan sesuatu dariku, mengasingkanku. ”
"Kapan itu terjadi?"
"Sekitar dua minggu sebelum Sugawara memicu insiden itu."
"Apa kamu tahu apa yang mereka sembunyikan darimu?"
"Ya." Dia mengangguk kembali pada pertanyaanku.
“Aku pikir Ninomiya, Watabe, dan Komuro membully Masaya. Atau lebih tepatnya, mereka membully Masaya dan Sugawara. "
Dia dengan perlahan mulai menjelaskan, dan kemudian, secara tiba-tiba, dia mempercepat perkataannya,
“Mereka membully Masaya dan Sugawara di belakang orang lain, tanpa ada yang menyadarinya. Ini lebih terlihat meyakinkan bahwa Sugawara sendiri yang melakukan pembullyan terhadap empat orang, setidaknya. Pakaian olah raga Masaya jelas dirobek oleh mereka. Aku tahu ada yang salah, jadi mereka merencanakan sesuatu. ”
"... Mereka membuat Sugawara untuk menyerang Masaya, dan membiarkan Sugawara menjadi kambing hitam."
"Ya, kamu benar."
Dia sependapat dengan perkataanku, dan kemudan mulai melanjutkannya penjelasannya,
“Pernyataan di internet dipalsukan oleh mereka. Setelah insiden itu, Sugawara dan Masaya kehilangan kontak. Masaya mulai bertingkah aneh. Apa karena pembullyan dari ketiganya di luar kendali? Atau apa karena Sugawara, orang yang dibully, di isolasi dari semua orang? ”
"Teman baik ..." gumamku.
“Setelah Sugawara memukuli Masaya, aku melihat Masaya menemui  Toguchi-sensei. Sensei tidak memiliki antusiasme apapun, dan hanya peduli pada dirinya sendiri, jadi tentu saja dia mengabaikan Masaya. Tetapi Masaya meminta bantuan orang lain. Dia mengunjungi Sugawara sekali, merahasiakannya dari orang tuanya. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi itu cukup untuk membuktikan bahwa dirinya dan Sugawara pernah berteman.”
"Hei, kalau begitu, dosa apa yang sudah kamu lakukan?"
Aku bertanya, dan dia menutup matanya, menyatakan kebenaran dengan rasa sakit,
“Setelah insiden yang dilakukan Sugawara, aku membully Sugawara bersama seluruh temas sekelas ... semua orang melemparkan kotak pensilnya, dan mengolok-ngolok tepat di depannya. Mereka menambahkan sisa-sisa permen karet pada makanannya, dan menyembunyikan PR yang akan Ia serahkan. ”
Dengan air mata yang berlinang di sudut matanya, Kotomi memeluk selimut putih itu, dan menggigil.
Dia terus mengakui dosanya,
“Saat itu, aku tidak tahu harus berbuat apa ... Aku tidak tahu harus percaya apa. Untuk Masaya, tidak, Sugawara mungkin akan marah jika Ia mendengar ini. Pikiranku hanya memikirkan bagaimana meningkatkan peringkatku dalam Tes Kekuatan Manusia, bagaimana agar tidak menurun, jadi aku menghukum Sugawara, dirinya, yang dulunya adalah teman Masaya— ”
"..."
“Dan itulah mengapa Masaya mendorongku dari tangga, mungkin karena aku membully satu-satunya orang yang bisa menjadi dukungan emosional Masaya.”
Akhirnya, dia menangis dan berseru,
“Itu sebabnya aku merasa bahwa aku menyebabkan kematian Masaya. Aku tak pernah menyadari kebenaran ini, dan mendorongnya ke dalam jurang keputusasaan. Ninomiya, Watabe, dan Komuro semuanya membully Masaya, dan aku membully teman Masayaitulah kebenaran dari insiden ini.”
Dalam pikiranku, aku merenungkan pengakuannya yang penuh penderitaan.
Tiba-tiba, aku memikirkan sesuatu. Benar, sebuah pemikiran. Tak peduli seberapa bertentangannya itu, bagaimana mengejutkannya itu, ada sesuatu yang tidak mengherankan namun tidak penting.
Aku menatapnya.
Dan kemudian, berkata, "Kau memiliki keberanian untuk mengakui dosamu."
Dia menghapus air matanya, merasa bingung.
“Eh? Apa maksudmu?"
“Ah, tidak, aku merasa kalau kamu berbeda dari orang lain. Ada Kepala Sekolah yang memulai sistem pendidikan aneh ini, ibu Masaya yang selalu ada di sampingku, dan teman-teman sekelasnya yang seharusnya menyadari adanya pembullyan; tidak ada yang mau mengakui tanggung jawab mereka dalam masalah ini. Eh, apakah mereka punya tanggung jawab atau tidak, aku sendiri merasa tidak yakin. ”
Mereka semua menyerahkan tanggung jawab mereka kepada Taku Sugawara dan menyatakan ketidak bersalahan mereka dengan mengatakan "Aku tidak tahu." Tapi gadis ini tidak bersikap seperti itu.
Dengan kemauan yang kuat, dia membuka matanya, dan memegang tanganku dengan erat, menyatakan kebenaran.
Dia tidak mencoba untuk menjadi orang yang baik hati di hadapanku, tapi sebaliknya, dia menganalisis situasi dengan cara yang tidak biasa.
Setelah mendengar perkataanku, Kotomi tertawa.
“Seseorang memberitahuku untuk tidak melarikan diri.” Ini pertama kalinya dia menunjukkan senyuman indah seperti itu, “Jangan pedulikan bagaimana orang lain memandangmu dan melupakan hal yang penting. Jadi aku memutuskan untuk tidak lari. Aku tidak bisa lari dari kenyataan lagi; Aku takkan lari dari kenyataan bahwa aku dikutuk Masaya. "
"Siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Masterku."
"Apa maksudmu?"
Kotomi tampak bingung, dan tersenyum.
"Sugawara."
Dengan wajah memerah, dia berkata,
"Tentunya Sugawara ingin memberitahuku sesuatu yang penting."
Dia kembali memegang ponselnya, dan melemparkannya ke langit-langit. Itu berputar di udara, dan mendarat di tempat tidur.
Aku membayangkan gambaran Sugawara di dalam pikiranku. Pria yang tidak populer menurut Kepala Sekola, kata Ibu, Ia si anak iblis, siswa yang tidak mengesankan menurut perkataan teman-teman sekelasnya, dan eksistensi bijak dari apa yang dia katakan. Yang manaSebenarnya dia orang seperti apa?
"Jangan melarikan diri." Sugawara pernah mengatakan hal ini.
Ah, itu masalahnya. Aku tidak bisa begitu saja melarikan diri dari masalah. Bahkan gadis yang lebih muda tujuh tahun dariku telah menemukan kebenaran yang kejam melalui hipotesisnya sendiri, bahwa "Aku adalah si pembunuh."
Jadi aku-
“Hei, Kotomi, biarkan aku mencari tahu kebenarannya dulu. Apa yang baru saja kau sebutkan, seperti guru yang tidak antusias, Masaya mendiskusikannya dengan guru, setelah kejadian itu, Masaya mengunjungi Sugawara di rumahnya, bahwa setelah kejadian itu, kalian semua membully Sugawara. Dan Masaya yang mendorongmu saat di tangga. Itu semua faktanya, ‘kan? ”
Aku mengurutkan fakta-fakta yang aku tahu untuk pertama kalinya, setelah mendapatkan penjelasan dari Kotomi, dan mencatatnya di buku catatanku, membandingkannya dengan apa yang aku dengar.
"E-Erm." Dengan tatapan khawatir, Kotomi bertanya, "Apa kesimpulanku ada yang salah?"
“Aku tidak tahu. Tapi aku memutuskan untuk tidak melarikan diri, dan terus berjuang. Biarkan aku terus menyelidiki ini sedikit lagi; ada sesuatu yang sangat mencurigakan dalam kesimpulanmu, Kotomi, tentang bagaimana 'Masaya dibully'. Hei, bagaimana mungkin mengendalikan si jenius itu? Aku tidak membual, tetapi Masaya bisa berkelahi dan cerdas. Agak sulit bagi orang lain untuk tidak menyadari. ”
"Itu adalah kelemahannya... biarkan aku berpikir."
“Ayo kita pikirkan cara yang lain, mungkin Ia diancam. Ada riwayat pencarian 'mencegah penyadapan' di komputer Masaya, jadi Ia pasti takut pada sesuatu. Apa kamu punya petunjuk? ”
"Eh, aku ingat dia memiliki sesuatu yang Ia sembunyikan dariku, tapi aku tidak yakin apa itu ..."
Setelah mengatakannya, Kotomi menundukkan kepala.
“Maaf, aku tidak punya bukti yang pasti. Aku tidak bisa menjadi detektif terkenal. "
"Tidak, aku tidak benar-benar memiliki harapan untuk adanya bukti ... ini berbeda dari pembunuhan atau pencurian, biasanya tidak akan ada jejak atau senjata dari si pembunuhan yang tertinggal."
“Aku mengerti, itu masuk akal. Itu adalah kelemahannya. "
"Apa itu mantramu?"
Aku tertawa kecil. Apa yang Kotomi katakan membuatku penasaran.
‘Kelemahan’? Kemungkinan dikucilkan?
Bu-bukan hanya satu? Kelemahan yang tak terpikirkan oleh orang lain?
Aku membolak-balik buku catatanku di depan Kotomi, dan memeriksa semua informasi yang aku miliki.
Bahkan jika tidak ada bukti yang meyakinkan, itu tak terlalu masalah. Aku bisa menyimpulkan situasi saat ini melalui imajinasi dan logika.
Nilai, orang yang populer, kondisi keluarga Taku Sugawara, mencegah penyadapan, guru kelas yang tidak antusias, tidak ada tanda-tanda pembullyan, wakil presiden PTA yang terkenal karena menjadi monster, persahabatan—
Aku mulai perlahan memahami lingkungan Taku Sugawara dan Masaya.
Semua jenis plot yang rumit menjadi sebuah kebenaran, mengambang ke permukaan.
(E/N : mengambang ke permukaan bisa di artikan : mulai menemukank titik temu, pokok masalah mulai terlihat, menemukan titik terang )
"!" Aku menjerit.
Itu adalah kebenaran yang menakutkan, kebenaran yang sangat jahat.
Aku tak berpikir itu suatu kebetulan. Itu adalah kekuasaan yang sepenuhnya sempurna.
"Sanae, ponselmu berbunyi."
Tepat ketika aku memikirkan hipotesis,
Aku bisa mendengar nada dering yang familiar dari tasku. Aku tidak menyadarinnya sama sekali.
“Kamu bisa melakukan telepon di sini. Mereka memperbolehkan orang menggunakan ponsel di sini. ”
Aku berterima kasih pada Kotomi karena memberitahuku, dan mengangkat teleponku. Ini dari Sayo.
“Ada taman di dekat rumahmu, kan? Cepat ke sana. ”
Katanya dengan nada tegas.
"Taku Sugawara ada di sana sekarang."
"Aku akan segera ke sana." Jawabku, dan menutup telepon.
Di sampingku, Kotomi menunjukkan tatapan ingin tahu, jadi aku berkata padanya, “Aku akan bertemu Sugawara.”
Dia mungkin menyadari keseriusan dari perkataanku, dan mengangguk, menunjuk Narcissus di samping tempat tidurnya. Bunga putih bermekaran dengan cerah, dan ruang pasien yang memiliki aroa harum yang terasa samar.
“Itu dari Sugawara. Dia meminta perawat untuk memberikannya kepadaku. ”
Dan kemudian, dia memegang tanganku.
“Tolong ungkap semua misteri ini. Aku juga ingin tahu mengapa Masaya meninggal. Mengapa Sugawara memukuli Masaya? Setelah semuanya jelas, tolong bimbing mereka, biarkan Masaya mati dalam damai, dan Sugawara menjadi bahagia.”
Aku tak perlu diingatkan untuk itu.
Aku memegang tangannya kembali, dan meninggalkan ruang pasien.
Ada kesalahan dalam kesimpulan Kotomi.
Jadi, sudah waktunya untuk membereskan semua ini.
Aku harus bertemu pembunuh Masaya, dan secara pribadi berbicara dengannya.
Karena revolusi belum berakhir, aku akan mengakhirinya di sana.
Taku Sugawara kebetulan sedang duduk di bangku yang biasa Masaya dan aku duduki.
Ini adalah taman yang luas dengan area rerumputan yang besar, dan selama liburan, anak-anak akan datang untuk bermain bisbol. Ada taman bermain besar di tempat yang lebih tinggi, dan di belakang, aku bisa melihat pohon Sakura yang layu. beberapa sampah dibuang ke danau, dan botol plastik mengambang di permukaan seperti perahu.
Pemandangan di depanku benar-benar berwarna oranye.
Ini benar-benar nuansa petang yang indah.
Cahaya oranye itu dengan lembut mengelilingiku, menyelimuti dunia ini. Ini adalah taman yang sangat aku kenal, tapi sepertinya tidak cocok.
Untuk Taku Sugawara muncul tepat di depan mataku.
Bagaimana aku bisa menggambarkan kesan pertamaku tentang Taku Sugawara?
Ini berbeda dari kesan yang digambarkan orang lain.
Tentu saja, seperti yang mereka katakan, penampilannya tidak mengesankan, dan dia tidak tinggi. Dia tampak lemah, jauh lebih suram dari perkiraanku. Ia memiliki penampilan seorang siswa SMP biasa; deskripsi sederhana ini sangat cocok dengannya.
Namun demikian, ada suasana menekan darinya, tidak seperti penampilannya. Ia datang ke sini dengan keteguhan hati, atau mungkin itu karena aku merasa tegang.
Setidaknya, aku tidak bisa tidak menahan nafas.
Itu adalah perasaan yang aku miliki ketika bertemu Taku Sugawara.
Taku Sugawara duduk di bangku dekat taman, menatapku.
“Kau kakak Masaya, ‘kan? Kalian berdua terlihat sama. "
Ucapnya sebelum aku dapat berbicara.
"Ya," jadi aku hanya bisa menjawab itu.
Dia mengalihkan pandangannya dariku, tubuh bagian atasnya mencondong ke depan saat dia mulai berbicara. Suaranya sedikit dalam; mungkin suaranya pecah.
“Aku tidak punya hal lain untuk dikatakan. Aku membullyinya dan mendorongnya untuk bunuh diri. Sepertinya kau sedang menyelidiki kebenaran untuk insiden ini, tapi sayang sekali, inilah kebenarannya. Aku merasa kasihan padamu, kakak perempuannya, tapi punya cara lain untuk menolong diriku, jadi itu untuk hari ini, ‘kan? ”
"Tapi Sayo memberitahuku, “Kamu akan menceritakan semuanya padaku”.”
“Sayo? Oh, gadis yang tinggi itu? Maaf, aku berubah pikiran. Tak banyak yang bisa untuk dikatakan. ”
"Katakan padaku. Aku takkan melarikan diri dari kebenaran."
"Apa peduliku."
Dia arogan, berbicara dengan angkuh. Tidak heran ibu tidak menyukainya sama sekali.
"..."
Tapi ini semua cuma akting. Ia tak terdengar seperti apa yang dikatakan teman-teman sekelasnya tentang dirinyaa, dan dilihat dari dekat, Ia tampak sangat kaku. Ia hanya seorang anak SMP biasa yang sedang berakting.
Jadi aku bilang; untuk memancing kebenaran darinya, aku bilang padanya jawaban yang sudah aku dapat,
“Kamu yang dibully, kan? Oleh Masaya Kishitani, Shunsuke Ninomiya, Kouji Watabe, dan Takayoshi Komuro, mereka berempat. ”
Aku menghubungkan semua petunjuk itu bersama, dan itulah satu-satunya jawaban yang aku miliki.
“Dan itu bukan hanya pembullyan. Itu sempurna. Empat vs satu, jangan bicara tentang itu. Tak ada yang menyadarinya, tak ada catatan di email, mereka berhati-hati untuk tidak ketahuan, dan tindakanmu berada dalam pengawasan waktu itu. Meski kamu mencoba melaporkan pembullyan, orang tuamu tidak tertarik pada anak mereka, dan guru wali kelasmu tidak memiliki motivasi. Jika laporan itu berhasil, Kamu akan menghadapi orang tua monster, wakil presiden PTA, dan kemudian orang yang paling populer di kelas, tidak ada orang lain yang akan berdiri di sisimu. Kamu sendirian, jadi semuanya menunjuk ke padamu. Ini perencanaan berlapis yang sempurna ... tidak, sangat sempurna sehingga pada dasarnya sudah dihitung. ”
Ucapku dengan tegas.
Kekuatan aneh yang dapat melakukan apa pun yang dilakukannya dari belakang, identitas sebenarnya adalah—
"Sang Iblis adalah — Masaya Kishitani."
"..."
“Katakan padaku, bagaimana kamu melawan iblis? Apa yang terjadi antara dirimu dan Masaya? ”
Aku menyatakan hipotesisku, dan untuk pertama kalinya, ekspresi Sugawara menunjukkan perubahan. Wajah merendahkan itu menghilang, dan dia menatapku dengan kaget.
Mulutnya tergagap dua sampai tiga kali, menjadi teriakan yang tak terdengar. Ia tiba-tiba mulai menutup mulutnya, dan terbatuk, Seluruh tubuhnya gemetaran layaknya sebuah jam. Ia kemudian terjatuh dari bangku, dan terengah-engah.
Ia akhirnya tersenyum gembira. "Kau telah lulus," katanya.
Namun, Ia tak pernah mengatakan padaku betapa pentingnya perkataan itu.
Setelah napasnya mulai teratur, ia berkata,
“Tolong beri aku waktu untuk membeli beberapa coklat. Aku akan memberitahumu sisanya nanti. "
Tak diragukan lagi wajahnya tersenyum.
Tapi ada sesuatu yang salah. Senyum itu jauh berbeda dari 'anak SMP biasa'. Ekspresi itu hanya bisa digambarkan sebagai 'jahat'.

Dan ini adalah bagian terakhir.



Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya



Previous
Next Post »
0 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat