The World Made By Love, So Love is Root of Life

Friday, 23 November 2018

Tada, Sore Dake de Yokattan Desu Chapter 09




Penerjemah : Kaito
Editor : Utsugi
Chapter 09 – Awal Revolusi

Setelah sekitar lima menit, Sugawara kembali dengan dua kaleng cokelat di tangannya. Aku takut kalau Ia akan melarikan diri, tetapi sepertinya dia tidak memiliki pemikiran seperti itu. Ia bertanya apakah aku lebih suka yang pahit atau yang manis, jadi aku memilih yang manis, aku berniat mengganti uangnya, tapi Ia menggelengkan kepalanya. Rasanya sangat aneh bagi seorang mahasiswa ditraktir oleh seorang bocah SMP.
Ia duduk di sebelahku, dan menarik penutup kaleng. Ia tidak berbicara; pasti dia sedang memikirkan sesuatu.
Kami berdua duduk di sudut taman yang luas, masih tetap terdiam; tampaknya sangat aneh, jadi aku memutuskan untuk mengambil inisiatif dan berbicara.
"Apa Masaya benar-benar membullyimu?"
"Ya," jawab Taku Sugawara segera. “Meski tak ada bukti. Tapi, Masaya takkan sebodoh itu untuk meninggalkan bukti.”
"Mengapa dia melakukan itu ... apa kau membuatnya marah atau semacamnya?"
"Yah, siapa yang tahu?"
Sugawara menjawab dengan dingin. Aku kemudian menyadari bahwa aku menanyakan pertanyaan yang salah; mungkin karena aku terlalu antusias untuk mencari tahu kebenaran, atau bahwa aku memberinya sedikit masalah karena aku mengajukan pertanyaan yang tidak mengenakkan.
Tidak ada alasan tersendiri untuk para pembully.
"... Apa tidak apa-apa membiarkanku menjelaskan tentang diriku sendiri menurut yang aku suka?"
Setelah keheningan singkat, Ia berkata,
“Aku akan menjelaskan hubunganku dengan Masaya, dan mengapa dia bunuh diri. Mungkin butuh beberapa waktu, tapi tidak apa-apa. ”
Aku mengangguk.
Aku harus tahu tidak peduli apa pun, tidak peduli apa kebenarannya.

Sekali lagi, dia mengulangi
perkataannya kepadaku,
"Aku tak tahu apakah aku bisa menjelaskan ini dengan baik."
"Aku tidak pandai menjelaskan hal seperti ini kepada orang lain."
"Aku ini seorang idiot, orang yang benar-benar bodoh."
"Jadi aku takkan repot-repot dengan honorifik."
"Dan kemudian aku berharap kau akan menyadari bahwa aku ini benar-benar bodoh."
“Aku akan senang dengan itu. Itu akan seperti yang aku pikirkan. ”
"Kau bisa menganggapku teman dekat."
(E/N : become one bisa diartikan sebagai menjadi satu, tapi kefdengaran nggak enak kalau di baca, jadi bisa juga di artikan sahabat, keluarga, kekasih. Jadi pilihlah salah satu,... :v)
"Jadi, sambil menjelaskan hal ini dengan sedikit berbohong dan sedikit merekayasanya"
"Aku akan menjelaskan mengapa Masaya bunuh diri."
“Pada bulan Mei, Kami selama kelas dua, saat Masaya mulai membullyiku. Pada awalnya, pembullyan itu tidak terlalu berlebihan; Ia mengambil uangku, dan memukulku di perut. Ia kemudian bersekongkol dengan Ninomiya, Watabe, dan Komuro, mereka menyerangku saat aku sedang dalam perjalanan pulang, dan memukuliku. Aku menganggap dirinya sebagai teman, dan aku dikhianati. ”
Tampaknya Masaya memang mengatakan bahwa Ia adalah teman baik?
“Ya, kami saling memandang sebagai teman baik. Aku pernah berbicara hati ke hati  dengan Masaya sebelumnya. Kami bukan tipe pertemanan yang akan nongkrong bersama selama liburan, dan kami takkan bersama selama istirahat siang, kami takkan mengirim pesan satu sama lain, atau bermain game bersama. Tapi jika kami bertemu saat dalam perjalanan pulang, kami akan mengobrol. Itu mungkin berlangsung dari Musim Gugur saat kelas satu sampai Musim Semi kelas dua. ”
“Aku hanya membalasnya dengan beberapa kata, dan Masaya yang terus berbicara. Ia bicara banyak padaku, mungkin karena aku bukan anggota kelompok mana pun. Ia tidak bisa menggerutu saat Tes Kekuatan Manusia sedang dilaksanakan di kelas, dan kupikir Ia hanya ingin menenangkan dirinya sendiri dengan melampiaskan rasa frustrasinya padaku. Secara pribadi, aku senang bisa berbicara dengan si jenius Masaya. ”
“Dalam perjalanan pulang, kami akan berbagi segala macam hal, seperti mimpi masa depan kami, yang kami benci dan sukai di kelas, mengeluh tentang orang tua kami yang tidak masuk akal, tidak senang pada guru yang terlalu lemah, dan kegelisahan yang mulai terbentuk.”
"Terkadang kami akan membolos di taman, dan mengobrol sampai larut malam."
"Itu benar-benar hari yang menyenangkan."
“Setiap sudut pandangnya sangat berkebalikan dariku. Apa pun yang aku katakan, Ia akan berkata, "Ini sangat tipikal olehmu."
"Kami dulu adalah teman baik."
“Tapi kemudian, selama bulan Mei saat kelas dua, aku tiba-tiba ditonjok. Ia mengaturku tanpa diketahui orang lain. "
“ “Maaf Taku, kamu mengerti ini, ‘kan? "Ia membawa tiga teman dan membisikkan ini padaku."
“Sampai aku dipukuli, aku tidak mengerti sama sekali. Tidak, bahkan setelah aku dipukul, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. ”
“Bagi para korban, pembullyian adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Aku tidak tahu alasan dan motifnya, dan aku dirampok, diperas. Aku merasa terkejut, bukan karena aku terluka, bukan karena uang, tapi aku terkejut karena Masaya memukulku. Aku pikir ada kesalahpahaman. ”
“Aku pernah menghormati Masaya Kishitani.”
“Aku juga menghormati Ninomiya, Watabe, dan Komuro. Aku tahu betul bahwa mereka jauh lebih baik dibandingkan diriku. ”
“Tetapi mereka terus membullyku, menyiksaku di tempat-tempat yang tidak diketahui orang. Mereka menusukkan pensil ke perutku, memukul perutku, mengambil uang jajanku, dan memaksaku melakukan masturbasi; semua itu tidak ada yang mengetahuinya. ”
“Baru kemudian aku menemukan bahwa seseorang dari ketiga orang itu bilang pada yang lainnya untuk membully Masaya. Mereka membuat keributan atas fakta bahwa Masaya pernah berbicara kepadaku, orang yang tidak mengesankan ini, dan mengejekku. Masaya takut ditinggalkan, dan Ia memukulku. Aku kira mereka bilang, “Sangat tidak keren. Jangan berteman dengan orang yang menjijikkan seperti itu, ” dan “ Pukul Ia. Siapa temanmu? Kami atau dirinya?” Atau hal-hal semacam itu. Ketika pembullyan dimulai, itulah yang mereka katakan. ”
“Sepertinya Masaya berpikir untuk menolak pada awalnya. Itulah perasaan yang aku miliki pada awalnya, tetapi Ia harus menyerah pada mereka. Segera setelah itu, aku segera menyerah untuk memikirkannya. Aku tahu. ”
"Untuk anak jenius, tidak mungkin Ia bisa menolak setelah hal buruk yang pertamakali ia terima."
"Ia hancur."
"Ia pernah mengalami sukacita membully dan mendominasi orang lain."
"Bakatnya sedemikian rupa sehingga tak satu pun dari ketiga lainnya bisa dibandingkan."
“Pemimpin pembullyan menjadi Masaya. Ia selalu terlihat tenang. Masalahku tidak pernah terungkap. Ia selalu bisa menghindari situasi dengan mudah, tidak pernah meninggalkan jejak. Apa kau  bertanya-tanya apakah ada yang bisa melakukan hal-hal seperti itu? Masaya bisa. Ia seorang jenius, bersama dengan tiga orang yang luar biasa. ”
“Satu-satunya orang yang menemukan sesuatu yang salah adalah pacar Masaya, Kotomi Ishikawa. Meski begitu, dia baru mengetahuinya di bulan Oktober, dan dia tidak tahu detailnya. Metode mereka benar-benar sempurna. ”
"Ia mengendalikan segalanya dengan sempurna, tidak membiarkan satu kesalahan pun terjadi."
“Saat aku berniat membicarakan hal ini dengan guruku pada bulan Juli, Masaya mengetahuinya tiga kali, dan memukuliku begitu parah sampai aku muntah-muntah. Keempat kalinya, Ia berhasil mencegahnya, tapi Toguchi-sensei tidak pernah memikirkannya. "Kamu terlalu banyak berpikir." Jadi Ia terkekeh, dan tidak mau memperhatikan. Guru bajingan itu juga takut pada ibu Masaya, dan mengabaikan permohonanku. Dan juga, aku tidak punya bukti; dua perekam yang aku miliki rusak. ”
Jadi saat kau terus menantang, apa Masaya tidak merasakan bahaya saat Ia membullyimu?
"Dia berbeda dari orang biasa. Sepertinya Ia berpikir 'ini akan menyebabkan tekanan psikologis yang lebih besar, dan itu lebih efektif daripada mencari target baru' setiap kali Ia menemukan perekam baru."
“Apa kau tahu tentang latar belakang keluargaku? Aku bahkan tidak bisa bergantung pada orang tuaku. Aku meminta orang tuaku untuk 'pindah sekolah', tetapi aku malah diabaikan. Masaya tahu bahwa orang tuaku tidak peduli dengan putra mereka. ”
“Dan kemudian, Masaya tahu bahwa aku tidak punya teman.”
"Ini adalah metode pembullyan yang sangat menakutkan."
“Tidak ada bukti tentang adanya pembullyan, aku tahu bahwa guruku tidak terlalu peduli, dan lawanku adalah orang populer dengan pemikiran jenius, serta orang tuanya adalah orang tua monster dari wakil presiden PTA. Aku hanya bisa tunduk kepada Masaya. ”
"Semua orang adalah musuhku."
Bahkan sebenarnya, Katou dan Kotomi pernah berkata, "Tidak mungkin Masaya bisa menjadi korban.
"Kurasa begitu. Aku hanya bisa merasakan keputusasaan, bahwa tidak peduli apapun rencana yang aku buat, Masaya mempunnyai teman-teman yang mendukungnya, kepercayaan para wali murid, dan tidak ada bukti pembullyan; sejak saat itu, aku tidak punya peluang untuk menang. Orang tua dan guruku takkan membantu, aku tidak punya teman, dan aku diberhentikan karena berbicara tentang omong kosong. ”
"Tak peduli apa yang aku lakukan, aku selalu dibully."
"Kau tahu? Mereka tidak bisa mempercayai pada seseorang yang berperingkat rendah dalam Tes Kekuatan Manusia. Tidak seperti tes akademik, ini adalah bukti popularitas. ”
"Jadi aku dipaksa menelan siput, menjilat sepatu mereka, mencuri arloji orangtuaku, disiram dengan air panas dan dingin."
"Tak ada yang mengulurkan tangan padaku."
"Aku tidak tahu siapa lagi yang bisa aku mintai bantuan."

Sampai saat ini dia terus berbicara, Sugawara berhenti dan meminum cokelatnya, lalu mendesah, dan terdiam. Untuk beberapa alasan, tubuhnya tampak lebih kecil dan lebih lemah dari sebelumnya; Nada suaranya menimbulkan kesedihan karena alasan yang aneh.
Apa yang dikatakannya tadi kemungkinan adalah kebenaran. Bisa dibilang kalau itu benar-benar konyol untuk Taku Sugawara sendiri untuk mendominasi empat orang. Adik laki-lakiku membully teman sekelas lainnya tanpa ampun, merencanakan segalanya dengan persiapan yang sangat sempurna. Aku mengingat gambaran Masaya yang aku lihat di musim panas waktu itu, dan tak tahan untuk menggigit bibirku.
Angin musim dingin bertiup pada bulan Desember, dan posisi Masaya akan melindungiku, tetapi kakiku sedingin es. Aku segera mulai menyesal dengan rok panjang dan bukannya celana. Mengapa Sugawara memilih lokasi ini?
“Eh, aku tidak punya bukti sama sekali. Aku memiliki kwitansi dari perekam kedua, tapi ini mungkin terlihat mencurigakan,” kata Sugawara dengan sikap merendahkan diri.
"Setidaknya, itu lebih meyakinkan daripada dirimu sendiri yang membully empat orang."Kataku.
"Terima kasih."
“Tapi aku masih tidak mengerti alasan sebenarnya mengapa Masaya tiba-tiba membullyimu. Tentu saja, aku tahu itu kejam bagiku untuk menanyakan hal ini padamu.”
“Alasan untuk memilihku sebagai target itu sederhana. Aku selalu sendirian, dan mudah untuk tidak diketahui bahkan jika aku dibully. Faktanya, tidak ada yang tahu.”
Sugawara menepuk dada mantelnya, sedikit menggerakkan tubuhnya, dan bergumam.
Aku tidak bisa membantu tetapi malahan melanjutkan bertanya,
“Tapi kamu bisa membayangkannya? Dalam artian tertentu, kau lebih dekat dengan Masaya daripada orang lain, Sugawara. ”
Aku pikir itu mungkin hiperbola untuk mengatakan ini, tapi aku tidak punya niat untuk memperbaiki diri. Sebagai teman baik Masaya, tentunya Ia memandang Masaya dengan cara yang berbeda dari orang lain.
Dengan wajah ragu-ragu, Sugawara menggosokkan jari-jarinya di tepi kaleng, dan berkata,
"Tekanan teman ..."
Dengan suara serak, Ia mulai berkata,
“Apa Ishikawa menyebutkan ini? Kelas telah sadar akan potensi tentang Tes Kekuatan Manusia, dan mereka dengan peringkat rendah pada dasarnya adalah mereka yang diberitahu 'Aku tidak ingin terlibat denganmu.' ”
"Ya, dia menderita karena ini, kan?"
"... Bukan hanya Ishikawa yang menderita karena ini."
"Eh?"
“Aku sudah mengatakan ini sebelumnya kan? Masaya dibully oleh ketiga temannya, tidak bisa menolak, dan hanya bisa mematuhinya. Bahkan dirinya, seorang jenius semacam itu, tidak bisa melawan balik tekanan teman sebaya. ”
"Atau aku harus bilang," Sugawara melanjutkan,
“Semua orang di kelas merasa tertekan karena hubungan manusia. Tentu saja, aku masih anak SMP, dan bahkan tanpa Tes Kekuatan Manusia, aku akan merasa tertekan. Namun Tes Kekuatan Manusia meningkatkan bebannya, dan menghancurkan kepribadian orang-orang. Dengan nilai buruk dalam hal itu, keberadaannya sendiri pada dasarnya ditolak. Itu memaksa kami untuk belajar mengamati, bergaul dengan orang lain adalah suatu keharusan, dan temanya bukan untuk menghancurkan harmoni. Semua orang hidup dalam neraka dimana mereka diawasi, dan ada suasana tegang dari permainan pertemanan, pedang yang dihunuskan dan saling beradu. ”
Taku Sugawara terus melanjutkan.
“Jadi Shunsuke Ninomiya, Kouji Watabe, Takayoshi Komuro, dan Masaya Kishitani harus menemukan sebuah hiburan yang belum pernah mereka temukan. Kotomi Ishikawa merasa sakit hati karena pacarnya menyembunyikan sesuatu darinya, dan dia mulai membullyku bersama dengan murid-murid sekelas yang lainnya. Kouta Katou sendiri mulai melecehkan Masaya Kishitani— ”
"Jadi Masaya Kishitani bunuh diri," kataku.
"Dan Taku Sugawara melakukan sebuah revolusi," kata Sugawara.
Pada momen ini, percakapan kami berhenti sebentar.
Anak SMP yang duduk di sebelahku menelan semua minuman cokelatnya.
“Maaf, ada sedikit kekacauan dalam jangka waktu tersebut, dan aku menggambarkan Kouta sebagai penjahat. Itu tidak benar. Ia hanya salah satu dari alasannya, Masaya jelas punya berbagai alasan untuk bunuh diri. Beberapa orang menyakitinya karena berbagai alasan. Tentu saja, ini termasuk diriku. ”
Ia tersenyum dengan tenang.
"Aku akan melanjutkannya."

“Setelah liburan musim panas, barang-barang berhargaku
dirampok beberapa kali, dan disiksa berulang kali. Pada bulan Oktober, tidak ada yang membaik, tidak ada yang berubah. Memasuki semester kedua, waktu pemutusan hubungan diantara kami semakin mendekat, dan waktu ku untuk dibully semakin panjang. ”
"Aku melewati hari-hari penuh keputusasaan."
"Itu adalah neraka yang mana aku tidak bisa melarikan diri."
"Dan kemudian, pada saat itu, aku, ya, waktu itu."
"Aku jatuh cinta pada Kotomi Ishikawa."
"Karena dia tersenyum padaku."
“Aku tidak punya teman, nilai ku jauh lebih rendah daripada semua orang, dan nilai Tes Kekuatan Manusia milikku rendah. Aku diberi label sampah, dikhianati oleh teman baikku, disiksa berulang kali, dan kemudian, dia dengan ramah berbicara padaku.”
“Aku sangat senang. Dia bahkan mengatakan, “Aku iri padamu.” Itu berlawanan dengan kenyataan, tetapi aku benar-benar merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Orang yang  menyedihkan seperti diriku benar-benar merasa iri. Seseorang benar-benar mengakuiku. "
"Malam itu, aku menangis seorang diri."
“Setelah itu, aku beberapa kali bertemu dengannya. Dia mengatakan kepadaku hal-hal yang tidak aku ketahui, tekanan dari teman sekelas, dan tentang dirinya yang di kucilkan. ”
“Jadi aku akhirnya menyadari bahwa Masaya dan yang lainnya memiliki kesulitan yang sama. Mereka membullyiku untuk tetap tinggal di dalam kelas yang tidak nyaman. Ishikawa dan Masaya sedang menderita, dan terus berjuang. ”
“Di depan tempat pembuangan sampah, aku melihat Ishikawa menangis karena tekanan yang di lakukan oleh teman-temannya. Hatiku merasa hancur. ”
"Aku merasa emosi, merasa marah."
"Jadi aku memutuskan untuk memulai revolusi."
“Berada di peringkat terendah pada Tes Kekuatan Manusia membuatku senang. Tak peduli bagaimana orang lain memandang rendah diriku, aku memutuskan untuk menjadi sampah yang dapat melindungi apa yang aku percayai, tanpa harus tahu bagaimana memperhatikan orang lain. ”
“Aku memutuskan untuk melawan Masaya, dan mengakhiri pembullyan. Aku menginginkan kebahagiaanku sendiri, agar semua orang bahagia. Aku memutuskan untuk mengakhiri pembullyan tanpa akhir yang dilakukan Masaya seorang diri. ”
"Tentu saja, itu pikiran yang benar-benar bodoh."
"Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan."
"Tentu saja, aku tak punya peluang untuk menang dengan akal sehat dalam menghadapi pembullyan Masaya yang direncanakan secara menyeluruh."
“Seperti yang aku katakan, metode pembullyannya sangat sempurna. Pertama, aku tidak mendapat bantuan dari guru serta orang tuaku, dan bahkan jika aku meminta bantuan guru lain, dapat di pastikan, aku kalah dengan Masaya dan yang lainnya. Juga, Masaya sangat waspada terhadap diriku yang berbicara dengan para guru, atau menguping tentang adegan pembullyan. ”
“Dan bahkan jika aku berhasil melapor, aku harus menghadapi ibu yang galak itu. Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa aku dibully, dan keempat orang itu semua dipuja oleh teman-teman sekelasku. Perkataanku hanya akan menjadi angin lalu. Bahkan jika aku mengeluh melalui internet atau MEXT dan membuat keributan, tak seorang pun di sekolah akan mengakui adanya pembullyan, dan itu semua akan sia-sia. ”
"Tapi meski begitu, aku harus terus bertarung."
"Aku harus memulai revolusiku."
“'Hanya ada satu rencana yang kupikirkan.”
"Itu akan menggunakan rencananya secara menyeluruh untuk melawannya."
“Jadi aku melakukan tindakan yang berlawanan. Pertama, aku memposting sesuatu yang mengejutkan di internet tentang pembullyan, seperti “Di SMP 2 Kuzegawa, ada seorang siswa yang membully keempat siswa lainnya,” dan aku menulisnya secara rinci. ”
“Ada banyak orang di internet yang menikmati tentang peristiwa pembullyan, dan tidak akan ada kesenangan jika tidak ada yang bunuh diri. Tapi kemudian, ada beberapa orang yang segera mendatangi sekolah untuk protes, "Ada insiden pembullyan di sekolah, dan sekolah anda tidak melakukan apa-apa?" Atau "Siapa yang mengizinkan anak-anak mereka belajar di sekolah semacam itu? "
“Tentu saja, sepertinya ada juga beberapa orang yang menduga“ Empat orang yang membully satu siswa, ”atau Ia menggunakan internet untuk melanjutkan pembullyan.” Itu semua tidak penting. Setelah berita menyebar di sekolah, aku menggunakan botol air untuk memukul Masaya. ”
“Masaya mungkin memprediksi kalau aku akan kehilangan kontrol secara emosional. Setelah periode pelecehan yang begitu kejam terjadi berkepanjangan, suatu hari aku akan sampai pada batas kesabaranku. Dalam situasi seperti itu, ibunya yang berapi-api akan datang ke sekolah, menginterogasi guru lesu yang bersikeras bahwa tidak ada saksi mata pada pembullyan, Ia berkelit kalau itu hanya seorang siswa dengan masalah psikologis yang melakukan aksinya seorang diri, untuk menenangkan semuanya. ”
“Rencanaku berjalan dengan sukses, sangat sukses bahkan aku sendiri merasa aneh. Aku pura-pura bertindak arogan, dan semua orang memiliki kesan yang sangat buruk tentangku. Sekolah mulai menerima banyak seruan protes terkait dengan pembullyan, dan efek sampingnya terus merambat. Aku dijuluki dengan sebutan iblis. "
“Dan seperti yang ibu Masaya harapkan, aku dihukum dengan berat. Mereka sangat melebihi harapan awalku, dan membuatku disiksa oleh orang lain. ”
Jadi hukuman itu disarankan oleh ibu?
“Aku adalah orang yang tertawa, “ Kau ingin menghukumku dengan membuatku berlutut di sekolah? ” Dan aku menambahkan, “ Pembullyan adalah sebuah penemuan yang melintasi peradaban,” tapi ini hanya meniru apa yang dilakukan Masaya. Bagaimanapun, yang aku lakukan hanyalah ejekan kecil, dan dia terpancing karena ejekan itu. Masaya dan yang lainnya ingin terus menyiksaku, jadi aku terus membimbing mereka. Takayoshi bahkan berpura-pura menangis. Semua yang aku lakukan hanyalah untuk mengurangi kekuatan ibu Masaya, dan mereka mudah sekali terpancing. Kemudian, aku akhirnya dipaksa untuk berkeliling dan berlutut. "
“Saat itu sangatlah kacau, tetapi Masaya dan yang lainnya tidak senang dengan apa yang terjadi sampai waktu itu. Beberapa bagian ada yang sedikit berbeda, tapi berlanjut seperti yang aku rencanakan. Setelah insiden itu, Taku Sugawara dipandang sebagai pelaku pembullyan yang tak layak dikasihani, dan identitas sebenarnya dari para pembully yang asli tak pernah diungkapkan. Setelah itu, Taku Sugawara dihukum berat. ”
"Tapi semuanya berjalan dengan baik."
“Aku memilih untuk menjadi orang jahat. Tindakan ini jauh melampaui harapan mereka, dan itu tak terkendali. ”
“Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ditulis pada postingan di internet, “ Aku menulisnya, ” aku baru saja mengakuinya.”
"Keputusan yang awalnya adalah 'Taku Sugawara menderita gangguan mental' berakhir menjadi 'Taku Sugawara adalah pembully' karena postingan itu dan kesaksianku."
"Itu ada dalam rencanaku juga."
“Mungkin satu-satunya yang mengetahui hal ini hanyalah Masaya, tetapi pada saat ini, tidak ada jalan untuk kembali. Ia tidak bisa mendiskusikan ini dengan ketiga temannya, dan mereka dipaksa untuk mengakui bahwa mereka dibully di depan orang tua dan guru mereka. ”
"Dan begitulah, akhir dari perlawananku."
“Secara perlahan-lahan, aku menggiring Masaya dan yang lainnya menjadi putus asa.”
“Untuk anak SMP, 'orang yang dibully' memiliki kesan yang negatif. Bukankah beberapa orang tidak mau mengakui bahwa mereka itu dibully? Bukan hanya karena mereka takut akan hukuman yang lebih lanjut dari para pembully; tapi yang paling penting, "Aku dibully, dan meminta bantuan pada guru dan orang tuaku," dengan mengakui itu, mereka membuat diri mereka terlihat lebih menyedihkan. Itu sendiri bukan hal yang membanggakan. ”
"Tapi saat aku berlutut di hadapan semua orang, aku membuat seluruh sekolah untuk mengetahuinya."
"Mereka mengatakan hal-hal seperti 'satu siswa vs empat siswa, dan mereka didominasi oleh siswa yang tidak menarik di kelas, dan gemetar di hadapannya,' atau 'mereka begitu aktif dan luar biasa di klub, namun mereka hanya orang-orang yang memalukan yang gampang dibully. '"
“Sebuah kebanggaan yang bodoh? Mungkin. Tapi anak SMP memang seperti ini, mencoba untuk bertindak keren. Tak peduli apa yang orang lain katakan, menurut mereka, dibully tidak diragukan lagi merupakan penghinaan, dan terlebih lagi, itu adalah orang yang mereka bully. ”
“Dengan berlutut, aku menyatakan kepada semua orang tentang kesulitan Masaya dan yang lainnya. Mereka hanya bisa meminta bantuan guru dan orang tua. ”
“Tentunya semua orang akan terkejut karena mengetahui bahwa senior dan teman-teman yang mereka hormati, sebenarnya  diam-diam dibully.”
“Tapi Masaya dan yang lain tidak bisa lagi mengatakan “ Kamilah orang yang membullinya ” . Jika mereka mengatakannya, keributan yang dipicu di sekolah akan berakhir menjadi kesalahan mereka, dan dosa-dosa mereka akan terungkap kepada semua orang. Mereka menghukumku dengan hukuman yang sangat kejam, dan mereka tidak pernah membayangkan hukuman yang dijatuhkan pada mereka. ”
“Ketika mereka sedang merasa frustrasi, aku mengunjungi rumah mereka beberapa kali, berpura-pura meminta maaf atas tindakanku, dan terus mengejek mereka. Aku membuat orang tua mereka marah, menciptakan masalah untuk kedepannya, dan membuat mereka putus asa. ”
"Kupikir aku akan pingsan."
“Tapi aku terus berlutut di depan semua orang. Aku hampir hancur, tetapi aku terus bertahan. Meski aku dipukuli oleh orang tua mereka dan ditendang oleh teman sekelasku, aku takkan pernah menyerah. ”
"Aku terus menyebarkan kebenaran yang dipalsukan ini, sementara menjadi musuh bagi seluruh sekolah, dan menahan penghinaan yang kualami."
Jadi, semua orang mempercayaimu? Rasanya takkan aneh kalau ada orang lain yang meragukanmu, ‘kan?
“Mungkin, tapi itu tidak penting. Bagi mereka yang merasa curiga, "Masaya dan yang lain adalah makhluk kejam yang menindasku, dan mengalihkan kesalahannya pada si korban." Hukuman berlutut di hadapan semua orang memiliki pengaruh yang sangat besar, tapi hanya sedikit orang yang merasa curiga. ”
Kenapa? Hanya orang dewasa yang melihat keangkuhanmu dan mereka berempat merengek. Secara logis, siswa lain harusnya merasa curiga.
"Karena ada bukti yang sah."
Bukti?
“Memar itu. Ada memar yang parah di wajah Masaya. Itu sebabnya banyak yang percaya. Aku memukulnya dengan botol air. Tentunya Ia terlihat seperti korban di sana. ”
“Jadi aku akhirnya menjadi sampah berhati dingin yang mendominasi keempat teman sekelasku, dan mereka akhirnya menjadi bocah-bocah memalukan yang didominasi oleh satu anak laki-laki.”
"Tekanan dari teman sebaya."
“Berkat Tes Kekuatan Manusia, pengakuan dari orang lain menjadi semakin berharga, dan teman sekelas akan mulai menilai satu sama lain.”
“Mereka pasti tak bisa menerimanya. Disakiti oleh orang tua, teman sekelas, dan pacar mereka, “itu menyakitkan, bukan? Maaf karena tidak menyadarinya.” Dan mereka akan terhibur. Mereka adalah orang yang populer di sekolah, tapi kebanggaan mereka pasti akan rusak. Begitu mereka melihat betapa kejamnya hukuman yang aku terima, mereka tidak bisa mengatakan "Kami adalah pembully." ”
“Untuk senior dan junior, mereka dibully oleh seorang pria yang jelek dan tidak berkarisma meski itu empat lawan satu, dipaksa untuk makan siput, meminta maaf pada orang tua mereka, dan diperlakukan dengan baik oleh teman-teman mereka.”
“Peringkat mereka dalam Tes Kekuatan Manusia pasti akan turun, mungkin dengan beberapa suara simpati di mana-mana. Namun, korban intimidasi tidak memiliki keterampilan kepemimpinan dan karisma. Mungkin kedengarannya menyedihkan, tapi itulah aturan kejam di antara kita. Pujian dari sebelumnya telah lenyap, peringkat mereka menurun, dan harga diri mereka akan turun. ”
"Mereka adalah pembully yang sesungguhnya, tapi untuk beberapa alasan, sekolah menganggap Taku Sugawara sebagai korban."
"Sama seperti itu, aku membuat mereka menjadi putus asa."
“Dua hari setelah insiden itu, Masaya pernah datang untuk berdamai, tapi aku tidak punya niat untuk memaafkannya. Aku masih memiliki kebencian terhadap mereka, dan jika aku dengan mudah memaafkan mereka, mereka mungkin melakukan peristiwa yang sama sekali lagi. ”
“Selama waktu itu, aku hampir tidak mendapati pembullyan dari Masaya dan yang lainnya. Untungnya, karena keadilan yang salah dimiliki orang lain, aku bisa menjauh dari mereka. Masaya dan yang lain dianggap sebagai korban, dan tentu saja, mana mungkin mereka mencariku, karena itu akan terasa mencurigakan. ”
Tampaknya Masaya memang pergi menemui seorang guru untuk membicarakannya.
"Aku tahu. Aku tidak tahu tentang apa itu, tapi Toguchi-sensei adalah bajingan tak berdaya, dan dengan santai mengancamku, “Jika ini tidak berakhir dengan baik, ibu Kishitani akan benar-benar menakutkan.” Toguchi-sensei pasti mengabaikan perkataan Masaya, dan baginya, cara terbaik untuk mengakhiri ini adalah menganggapku sebagai penjahat. ”
“Aku mengejek orang tua mereka setiap hari, membuat mereka marah, dan tidak memberi mereka ruang untuk bersantai di rumah. Mana mungkin mereka akan mengatakan kepada orang tua mereka, “sebenarnya, kami adalah pembullyinya,” saat orang tua mereka sudah berada di pihak mereka. ”
"Situasinya benar-benar terbalik."
“Guru yang tidak berdaya mengabaikan diriku, dan orang-orang populer di kelas tiba-tiba dikasihani oleh orang tua mereka yang sombong seperti anak kecil dan tidak ada bukti pembullyan, jadi mereka tidak bisa mendapatkan kembali kebanggaan mereka.”
"Namun."
"Kupikir aku terlalu berlebihan."
"Karena aku adalah sampah, mengabaikan suasana di ruang kelas."
"Dan aku mengabaikan perasaan Masaya."
"Aku tidak tahu bagaimana menahannya, dan tidak bisa menentukan tindakan mereka."
"Itu sebabnya Masaya bunuh diri."
“Aku tak tahu apakah kau mau mempercayaiku, tetapi saat itu, aku bingung apakah aku harus memaafkan mereka atau tidak. Aku berpikir jika aku harus berpura-pura bahwa hukuman berlutut tidak pernah terjadi, dan aku bisa terus bergaul dengan Masaya dan yang lain seperti teman normal lagi, berkumpul di berbagai tempat untuk bermain video game, mampir di sebuah restoran cepat saji ketika pulang, mengobrol tentang gadis-gadis yang kita sukai. ”
"Kau mungkin berpikir kalau aku ini bodoh."
"Tapi aku serius."
“Atau lebih tepatnya, Cuma itu kesepakatan yang hanya bisa dilakukan Masaya. Jika Ia terus melakukannya, bahkan jika hukuman berlutut itu berakhir, kesan bahwa Ia yang dibully tak akan lenyap, dan fakta bahwa Ia ketakutan sampai menangis pada lelaki yang tidak mengesankan yang disebut Taku Sugawara tak akan lenyap. Namun, Ia tidak bisa membully-ku secara terbuka, karena pasti ada seseorang yang akan mengetahui bahwa kesaksianku adalah sebuah kebohongan. Itu sudah mencurigakan untuk memulainya. ”
“Satu-satunya hal yang bisa Ia lakukan adalah semuanya bertingkah seolah-olah akrab denganku di depan umum dan mengubah citranya; untuk meninggalkan segala sesuatu yang sudah berlalu dan menjadi teman baik denganku."
"Setidaknya, itulah yang aku pikirkan."
“Agar mereka tidak membullyiku lagi, begitu Masaya dan yang lainnya merasakan pelajarannya, aku bermaksud mengusulkan ini.”
"Misalnya, " jika kau mengolok-olok aku di kelas, aku akan mengolok-olok Kau di kelas, dan semua orang tertawa, melupakan itu, dan berpikir bahwa kita sudah selesai. " ”
"Masaya adalah orang populer, dan aku adalah orang yang ditakuti semua orang di kelas."
“Selama kami bekerja sama, pastinya kami akan berhasil.”
“Bahwa kita akan membuat kelas di mana yang populer dan yang tidak populer bisa tertawa bersama.”
"Itu mungkin keinginan yang dangkal, tapi itulah revolusi idealku."
"Bahkan jika itu tidak berhasil, selama aku tidak dibully, aku akan bahagia."
"Aku menginginkan kebahagiaanku sendiri."
"Aku tidak ingin dibully lagi."
"Aku ingin pulang bersama Masaya, sama seperti sebelumnya."
"Bahkan jika aku tidak bisa menjadi pacar Ishikawa, itu akan baik-baik saja selama aku bisa meringankan bebannya."
“Aku kira ada sesuatu yang salah terjadi setelah kejadian itu. Hanya dua atau tiga minggu kemudian aku baru menyadarinya, mungkin saat ketika aku berhenti berlutut di depan semua orang dan pergi mengunjungi rumah Masaya dan lainnya. ”
“Saat itu, aku dibully di kelas. Orang-orang itu takut padaku, dan mereka tidak membully-ku, tapi sekelompok gadis yang dipimpin oleh Tsuda bermaksud membalas dendam padaku. Sejujurnya, aku pikir itu adalah bagian tersulit yang harus dihadapi. Benar-benar bodoh. ”
Kotomi berkata itu hukuman. Tentu saja, sebagian alasan dia melakukannya adalah untuk mendapatkan persetujuan Masaya.
“Jadi Ishikawa tidak bisa mengabaikan pandangan orang lain, tapi setidaknya, dia sadar diri. Gadis-gadis lain membanggakan diri mereka sebagai pahlawan, atau bersama dengan anak-anak kelas yang lain, dan melemparkan barang-barangku ke tempat sampah. "
“Tapi ini adalah alasan lain yang membuat Masaya putus asa. Itu belum matang, tapi para lelaki benci karena perempuan melindungi mereka. Tindakan ini mengarah ke situasi lain. Beberapa anak laki-laki akhirnya memandang rendah Masaya, bahwa Ia dibully dan dipukuli oleh seseorang seperti Taku Sugawara, dilindungi oleh orang tua monster dan gadis-gadis di kelas. ”
Apakah Masaya menjadi target pusat lagi?
“Eh, Ia yang paling populer di antara empat orang itu, jadi beberapa orang merasa iri, karena gadis-gadis itu hanya peduli pada Masaya. Yang paling terlibat adalah Kouta Katou, kurasa. Ia merasa sangat iri pada Masaya. "
“Tentu saja, Ia tidak melakukan sesuatu yang terlalu jelas. Setelah kejadian itu, yang dia lakukan adalah menumpahkan tinta ke buku catatan Masaya. Benar, Ia melakukan itu. Aku akan memberitahumu alamatnya nanti, jadi kau dapat mengunjunginya nanti. Ia pikir aku punya bukti di tanganku, jadi Ia pasti akan mengakuinya. Selain itu, dia tidak melakukan sesuatu yang jelas. Pihak Sekolah merasa sensitif terhadap pembullyan pada saat itu. ”
“Tapi aku merasakan atmosfer seperti ini. Trik-trik kecil itu kejam, sulit dideteksi, tapi memang ada. Mereka menertawakan Masaya di belakangnya, karena ditindas oleh orang seperti diriku. ”
“Dan itu sebabnya Katou memberitahukan pada media bahwa, ‘Aku tidak tahu apa-apa,’ ‘Taku Sugawara adalah orang aneh.’ Ia takut akan menerima hukuman, dan itu sebabnya ia menyebarkan berita seperti itu.”
“Tentu saja, bukan hanya Katou saja yang menyebabkan ini. Orang lain juga terlibat. Jun Niwa dan Konoha Harada sama-sama membenci Masaya, sementara Nanoe Hada, Yuki Kunimoto, dan Kana Mori mengasihani Masaya.
"Aku terlalu bodoh."
"Aku tidak memikirkannya."
“Jadi bagaimanapun juga, ada banyak orang yang menyakiti kebanggaan Masaya, lebih dari yang aku harapkan. Masaya dihancurkan oleh tekanan dari teman-temannya. Lalu kemudian, aku menyadari bahwa Masaya bertingkah aneh, tapi itu sudah terlambat. ”
"Aku di jauhkan darinya, tidak bisa berbuat apa-apa."
"Ia sudah terluka secara mental melebihi batas untuk bisa diperbaiki."
“Pria yang populer di kelas dengan nilai luar biasa, tenggelam karena sikap superioritasnya saat Ia membully-ku tanpa ada yang mengetahui. Ia kemudian dikasihani oleh orang-orang di sekitarnya, menjadi orang yang dilindungi oleh gadis-gadis, dipandang rendah oleh siswa lain, melihatku menyeringai saat aku yang dibully, dan diabaikan oleh para guru. Maka, tak heran kalau peringkatnya dalam Tes Kekuatan Manusia jatuh. ”
“Juga, Ia memiliki kekhawatiran yang berlebihan dari ibunya, selalu ditanyakan tentang situasinya di sekolah seperti anak kecil yang baru memasuki taman kanak-kanak, dan ini merusak kebanggaan yang harus dimiliki oleh seorang pelajar SMP. Dengan orang tua yang muncul setiap hari di sekolah untuk 'mengawasinya jika ada pembullyan di sekolah', itu pada dasarnya mempermalukannya, dan bahkan pacarnya, orang yang bisa menghiburnya, malah mengasihani dan mengkhawatirkannya. ”
“Tapi pada titik ini, Ia tidak bisa mengatakan bahwa dia adalah si pembully, dan itu berarti harus menanggung rasa kasihan dan diskriminasi di sekolah dan di rumah. “Aku melihat orang yang berlutut. Tidak terlihat mengesankan,” Para senior mengejeknya seperti itu, “Serahkan hukuman Sugawara pada kami, ”sementara para juniornya semuanya arogan.”
"Kebanggaannya yang kuat tidak bisa membiarkan semua itu, tapi tidak ada yang bisa Ia bahas tentang masalah ini."
"Dari kesimpulanku, itu keluar dari impuls."
(E/N : impuls : bias diartikan sebagai tindakan diluar nalar seseorang yang sudah mencapai pada tingkatan setress tertentu(dalam konteks psikologis) terkurung dalam suatu keadaan yang membuatnya putus asa. Atau juga bias diartikan sebagai nilai norma,… :v maaf bahasanya agak tinggi,…)
“Masaya tidak punya tempat untuk pergi, dan merasa frustrasi karena pacarnya yang terlalu khawatir dan protektif, jadi Ia mendorongnya secara impulsif. Ia tidak berniat menyakitinya, tapi dia kebetulan berada di dekat tangga. Ia merasakan rasa benci yang tak tertahankan, dan takut akan pembalasan dari pacarnya ketika sembuh.”
(E/N : Impulsif merupakan istilah psikologi yang menunjukkan bahwa individu yang terlibat dan melibatkan diri dalam bentuk reaksi perilaku yangdilakukan tanpa berpikir (tanpa merefleksi secara cukup) sehingga orang itu tidak mampu  menahan untuk merespon balik!)
"Dan itu sebabnya, mengapa dia akhirnya membuat keputusan itu."
"Untuk membalas dendam padaku."
"Untuk melakukan satu gerakan terakhir."
"Untuk bunuh diri."
“Dia membungkam tiga lainnya, dan memilih untuk bunuh diri. Pada saat yang sama, aku menjadi musuh satu-satunya di seluruh Jepang. ”
" “Taku Sugawara adalah iblis. Tak ada yang harus mempercayai perkataanya.” "
“Bahkan wasiat itu terencana dengan baik, dan setelah meninggalkan kalimat itu, Ia bunuh diri. Tentu saja, aku tidak bisa membela diri. ”
"Bom terbesar yang ditinggalkan oleh jenius itu adalah membiarkan mereka yang membacanya akan takut padaku."
"Ia menciptakan dunia ini, aku berusaha membelokkannya, dan Ia membatalkannya lagi."
"Ia menyerahkan nyawanya."
“Tentu saja, aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi setelah itu. Aku menjadi orang rendahan yang membuat teman sekelasku putus asa karena pembullyan. ”
"Gagasan ini adalah imajinasiku, tapi hanya ini yang aku tahu."
“Masaya dan yang lain membully-ku dengan keras melalui perencanaan yang matang. Untuk mengakhiri intimidasi dan menghancurkan Tes Kekuatan Manusia, aku meluncurkan revolusi. Ini berjalan dengan baik, tapi hal itu malah merusak kebanggaan Masaya, dan mendorongnya menjadi putus asa. ”
"Untuk merangkum semuanya, hanya ada satu kesimpulan."
"Aku tidak bisa tertawa bersamanya lagi."
"Aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan."
"Masaya sudah meninggal."

Setelah itu, kami berdua terdiam, duduk di bangku tak bergerak.
Aku menatap taman yang dulunya tempatku bermain bersama Masaya, dan merenungkan hubungan antara Taku Sugawara dan Masaya.
Dosa apa yang sudah Ia lakukan? Dia adalah alasan mengapa Masaya bunuh diri. Atas nama revolusi, Ia terus menyiksa Masaya. Namun, mengingat apa yang Masaya dan yang lainnya lakukan padanya, itu mungkin kelihatan tidak seberapa. Dari sudut pandangnya, Ia hanya membela diri dari para pembully. Apa tak ada cara lain? Di dunia yang Masaya ciptakan, ada cara untuk melawan Masaya. Itu adalah rencana untuk menghancurkan rencana setan.
Seorang kritikus tertentu pernah berkata, "Berita eksklusif yang muncul di internet sangat tidak nyata."
Alasannya sangat sederhana. Sugawara pada dasarnya menulis apa yang Masaya dan yang lainnya lakukan padanya.
Ia mungkin dipaksa untuk memakan pensil, dipukuli, uang sakunya dicuri, dan disiram dengan air panas dan dingin.
Ketiga orang lainnya, Ninomiya, Komuro, dan Watabe bersikeras untuk tidak mengungkapkan rinciannya, karena mereka takut tergelincir, dan tindakan mereka akan ditemukan. Meski mereka telah memperindah hal ini sebagai 'persahabatan'
Salah satu dari mereka pasti orang yang menyerangku.
Ia menyerangku karena panggilan Sayo.
(Jadi Masaya layak menerima kematiannya?)
Apa ini kesimpulannya? Bagaimana itu mungkin?
Namun, tidak ada celah yang ditemukan dalam perkataan Sugawara. Ini jauh lebih meyakinkan daripada perkataan tidak logis dimana seseorang mendominasi empat orang.
"Ini cocok ... dengan sebagian besar informasi yang aku kumpulkan."
Aku mencoba yang terbaik untuk mempelajari cerita ini.
Sugawara menggelengkan kepalanya.
“Kau bisa percaya apa pun yang kau inginkan, Sanae. Aku tidak punya bukti yang mengatakan kalau aku dibully, tapi tak ada bukti yang mengatakan bahwa Masaya dan yang lain dibully. ”
"Ishikawa mengatakan kesimpulannya padaku. Dia bilang Ninomiya, Watabe, dan Komuro membully Masaya dan Sugawara."
"Itu bodoh. Jika memang begitu, surat wasiat Masaya takkan memiliki namaku di dalamnya. Dunia pria itu selalu penuh dengan titik buta. ”
"Jadi, apa yang kau katakan itu kebenarannya, Sugawara?"
Dengan pandangan kosong, Sugawara mengabaikan perkataanku, dan mengalihkan topik ke arah yang sama sekali berbeda.
"... Bagaimana kesan Masaya bagimu, Sanae?"
Ia tiba-tiba memulai dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya.
Aku tidak tahu maksud dibalik pertanyaan itu, tapi dia memberiku tatapan tajam, dan aku merasakan tekanan tak terlihat membebani diriku.
"Adik laki-laki yang luar biasa," jawabku. “Itulah yang semua orang katakan tentang Ia selama kejadian ini, tapi Ia memang benar-benar pintar, pasti tak terlihat seperti Ia tujuh tahun lebih muda dariku. Ibu takkan meninggalkan Masaya sendirian sama sekali. "
"..."
“Dia bahkan berakhir menjadi orang tua monster. Tentu saja, ini tidak benar, tapi itu memang karena Masaya benar-benar luar biasa. Ia tidak terlalu menonjol selama sekolah dasar, tapi begitu Ia menginjak masa SMP, bakatnya mulai terlihat. Ia meraih peringkat teratas dalam akademis, dipilih sebagai starter untuk klub olahraga, dan baru kemudian aku menyadari bahwa Ia adalah seorang jenius sesungguhnya. Bahkan ketika aku mulai mempersiapkan ujian kuliahku, Ibu terus menyemangati dirinya. ”
“Dan saat itulah kau merobek pakaian olahraga Masaya?”
Sugawara menyelaku.
Aku berbalik dan Ia memelototiku, matanya melebar, ekspresi suramnya memancarkan kehadiran yang menakutkan.
Pada saat itu, aku tidak bisa bernafas seperti biasa; Aku mencoba meminum coklat untuk menenangkan diri, tapi aku menyadari kaleng itu sudah jatuh ke tanah.
“Hei, aku sudah pernah bilang ini sebelumnya, kan? Sebelum Masaya membully-ku, aku mendengarnya menyuarakan banyak frustrasi. Kau tahu apa yang Ia katakan? Sebagian besar tentang keluarganya, bahwa kakak perempuannya yang pulang ke rumah akan bersikap kasar padanya, bahwa ibunya terlalu menaruh harapan padanya, semua tentang itu. ”
Anak SMP di sebelahku berdiri dihadapanku. Aku ingin mundur, tapi bagian belakang bangku yang keras ada di belakangku, dan aku tidak punya tempat untuk pergi.
Tatapan tajam itu mengarah langsung padaku.
“Alasan untuk pembullyan? Apa aku masih harus mengatakannya? Tekanan teman  di sekolah, dan harapan yang terlalu tinggi dan kecemburuan di rumah. Tak ada tempat bagi Masaya untuk melarikan diri, jadi Ia membully-ku; hanya dengan intimidasi, Ia bisa merasakan terhibur. Kau bilang kalau ini hanya dugaanku? Pikirkan tentang itu! Apa Masaya pernah membicarakan ini denganmu sebelumnya? Apa Ia meminta bantuanmu? Apa Ia meninggalkan wasiat untukmu? ”
"Tidak…"
“Tak ada seorang pun di kelas kami yang bisa merobek pakaian olahraganya tanpa sepengetahuannya! Aku bisa mengatakan kalau keluargamu sendiri yang mengutuk Masaya, perempuan tua! Kau menjinakkan tanduk Masaya dan memberinya begitu banyak harapan; apa kau mau menjadikannya hewan peliharaan !? Berbicara tentang perguruan tinggi setiap hari !? Itu hanya akan meningkatkan tekanan pada Masaya! ”
Mengatakan itu, Sugawara mengeluarkan smartphone dari dadanya. Itu bersinar, di tengah-tengah panggilan. Orang di sisi lain telepon pasti ibu.
Sugawara menyuruh Ibu mendengarkan semuanya!
Ia mungkin melakukannya saat Ia pergi untuk membeli minuman coklat.
Aku bermaksud membela diri, tetapi aku tak bisa mengatakan apa-apa.
“Ibu yang sampah, Kakak yang sampah. Apakah tindakanmu hanya untuk kepuasan diri !? Apa kau merasa bersalah atas kematian Masaya? Apa kau mencoba untuk menebus kesalahanmu sendiri? Atau apa kau mencoba untuk mendapatkan cinta ibumu !? Itulah yang Masaya paling benci darimu! "Kau menyebalkan!" Itulah yang selalu Ia katakan! "
"Aku bilang bukan itu ..."
“Berhenti berbohong! Ini adalah 'kebenaran' yang kau takutkan, kan !? Berhenti berpura-pura bodoh! Kau hanya peduli tentang dirimu sendiri! Aku akan memberitahumu hal ini, orang yang membuat Masaya paling menderita adalah kalian berdua! Tes Kekuatan Manusia memang menyebabkan Ia banyak tekanan, tapi pada dasarnya Ia hanya mengeluh tentang keluargamu! Itu sebabnya Ia memilih untuk membully-ku! Dan bunuh diri! Akar penyebabnya adalah keluargamu yang busuk itu! "
Tidak, bukan itu.
Aku memiliki dorongan untuk menyanggah dengan segera, “Bagaimana Ia bisa tahu?” Tapi pada saat yang sama, aku memiliki pemikiran yang bertentangan , dan akhirnya mengerti mengapa Kotomi tertarik pada Sugawara. Kata-kata yang Ia ucapkan akan menimbulkan rasa takut, dorongan untuk menolak, namun keinginan untuk mengakui segalanya.
Motifku untuk menyelidiki masalah ini adalah dua poin ini. Salah satunya adalah menebus diriku yang tidak berguna, dan yang lainnya adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan Ibu.
Ini pasti adalah kebenaran yang aku takuti, karena aku memiliki perasaan samar bahwa orang-orang yang membuat Masaya putus asa adalah kami—
Aku tidak bisa membela diri. Pada saat ini, Ia membawa ponsel ke bibirnya; itu mungkin dalam mode speaker sebelumnya, dan dengan nada kasar, Ia berkata kepada Ibu,
“Hai, ibu Masaya, apa yang ingin anda lakukan? Dasar bodoh, Kau mengambil umpan karena ejekkanku, dan membuati beberapa kelompok aneh,’ kan? Apa anda  akan mengabaikan kesaksianku, dan terus berpura-pura bahwa anda tidak terlibat? Aku berniat bertarung sampai akhir. Aku berterima kasih pada putri anda karena telah mengumpulkan kesaksian di mana-mana. Atau apa anda akan menarik kembali perkataan anda? “Aku pikir Taku Sugawara yang jahat, tapi Masaya adalah pembully yang sebenarnya. Maafkan aku, "Coba katakan itu!"
Dengan suara yang dalam, Ia mendesis,
“Jika anda tidak mau melakukan apa-apa, lalu bunuh diri saja. Tenang. anda menerima tali di pagi hari, ‘kan? Aku mengikatnya untuk anda. Anda bisa gantung diri di langit-langit rumah, sama seperti putramu. ”
Sugawara melepas earphone dari teleponnya.
Teriakan Ibu bisa segera terdengar. Aku belum pernah mendengar jeritan gila seperti itu sebelumnya. Dia tampak berusaha mengatakan sesuatu, tetapi itu bukan perkataan lagi, melainkan hanya orang gila yang mengoceh.
Ibu mungkin merasa heran bagaimana Sugawara bisa mendorong Masaya ke dalam keadaan putus asa.
Dia mungkin tak pernah menduga bahwa itu adalah dirinya sendirilah yang menyebabkan Masaya berubah menjadi seperti ini, salah satu alasan mengapa Masaya bunuh diri.
Dan dengan nada yang tenang, Taku Sugawara berucap di telepon,
“Jika tidak — anda bisa melihat tali itu dan memikirkan apa yang harus dilakukan.”
Ia menunjukkan seringai iblis seperti sebelumnya, ekspresinya tak seperti anak SMP.
Masaya mungkin iblis, tapi Taku Sugawara sendiri—
"Kau merencanakan segalanya, bukan?" Teriakku. Dengan tekad yang kuat, aku berusaha untuk tidak menyerah pada penyelidikan ini. “Ibu mengatur organisasi untuk memusnahkanmu, sampai tidak ada jalan kembali. Kau menyembunyikan kebenaran dari kami, ‘kan? Kau bahkan mengirimi kami bangkai kucing untuk mengejek kami, bukan? ”
Aku mendorongnya ke samping dan berdiri, menggeram dari lubuk hatiku. Namun, Sugawara tak peduli, hanya melihat pemandangan di kejauhan saat Ia memandangku dengan suram. Kemudian, Ia hanya mengatakan,
“Kau masih belum pulang? Lalu, apa kau akan membiarkan ibumu mati? ”
Kemudian, aku meninggalkannya.
Ibu!
Air mata mengaburkan pandanganku tanpa aku ketahui saat aku berlari pulang dengan kecepatan penuh.
Apa yang aku lakukan salah?
Aku melakukan yang terbaik untuk bertindak sebaik mungkin! Meski kurang dalam cinta, aku masih menggertakkan gigiku untuk menahan perasaanku; Aku ingin menjadi kakak yang baik hati!
Aku merobek pakaian olahraga Masaya. Aku memukuli adik laki-laki yang tujuh tahun lebih muda dariku. Aku sangat iri dan dengki terhadapnya. Tidak ada yang mengharapkanku, dan melampiaskan rasa frustrasiku pada adik laki-lakiku, yang memiliki  banyak harapan terhadapnya. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan fakta bahwa aku adalah 'kakak perempuan yang tercela.'
Ibu! Ibu! Ibu!
Aku memanggil seseorang yang paling penting bagiku di dunia ini.




No comments:

Post a Comment

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat