The Result when I Time Leaped Chapter 32 Bahasa Indonesia


Hayo tebak, Sekarang Hari Apa?

"Hayo coba tebak, sekarang hari apa?", Hiiragi-chan bertanya dengan suasana hati yang ceria.
Minggu pagi tadi, aku diundang Hiiragi-chan ke tempatnya. Lalu, aku diberi makan siang dan sekarang sedang bermasalas-malasan sambil menonton acara televisi akhir pekan. Hiiragi-chan yang duduk di sampingku, melihat wajahku dengan penuh semangat.
"Hari apa…? Apa maksudmu? Hari pencegaahan unggas, mungkin? ”
“Itu Juni 4, jawabanmu salah!”
Bahkan setelah membalas sekali, semangatnya masih tinggi.
Apa…? Hari ini? Hari apa?
"Coba kasih petunjuk?"
"Petunjuk? Hmmm, jika aku kasih tahu petunjuknya, kamu pasti akan menyadarinya ... ayo coba tebak lagi ... ”
"Hari celana dalam?"
"Itu mah 2 Agustus!"
Kok, dia bisa tahu hal yang begituan!
“Pikirkan sesuatu yang sederhana.… ”
Iiih, kamu sudah tahu, ‘kan?”, Ucap Hiiragi-chan, saat dia menyodok pipiku dengan jarinya.
"Hanya untuk hari ini, tadi malam, aku membuat persiapan."
“Eh….!? Persiapan yang dibuat kemarin ... Ah, aaaah! ”
"Yup! Kamu tahu, kan!? ”
"Ulang tahun Haruka-san!"
"Gubraakkk, itu juga salaaaaaahhhhhhhhhh!"
Suaranya cukup keras sampai-sampai membuatku melompat kaget.
“Eh. Tunggu ... Seiji-kun. Beneran…? Kamu benar-benar tidak tahu ...? ”
Suasana hatinya yang bersemangat tadi segera berubah saat dia menatapku dengan curiga.
"Oke, Oke, aku paham, aku paham. Aku akan menjawabnya sekarang. Beri aku waktu untuk berpikir sebentar. ”
Layaknya karakter dalam film asing, aku mengangkat tanganku untuk membuat Hiiragi-chan menunggu. Meski dia bilang begitu, sebenarnya sekarang hari apa sih? Ini bukan ulang tahunku atau ulang tahun dirinya …... Hiiragi-chan mengangkat salah satu jarinya.
"Jika kamu salah sekali lagi ..."
"Kalau salah lagi ...?"
"Aku akan membuat tanda bekas ciuman di lehermu ." (TN: Nikmat mana lagi yang kau dusatakan, Seiji-kun?!!! Bikin iri aja njirrr :v)
“Jangaaaaaaaaaaaaannn! Besok masih ada sekolah! ”
"Tidak apa-apa, kamu hanya tinggal jawab saja dengan benar ♪."
Aku sama sekali tidak tahu ... Sebaliknya, sepertinya Hiiragi-chan benar-benar niat ingin memberi bekas tanda ciuman pada leherku. Melakukan persiapan dari kemarin? Aku langsung berdiri dan berjalan menuju dapur. Saat aku mengunjungi rumahnya hari ini, aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Jika ada yg berbeda, maka satu-satunya tempat hanyalah di dapur. Tempat di mana biasanya takkan aku masuki. Saat aku melirik Hiiragi-chan, dia pura-pura bersiul.
Dia gampang sekali dibaca. Ada semacam petunjuk di sini.
"Kira-kira di mana ya?"
Gumamku sambil terus memeriksa ekspresi Hiiragi-chan.
"..."
Yeah. Ada reaksi di wajahnya. Ada di kulkas. Ketika aku membuka pintu, ada kue tart utuh di atas piring besar. Ada berbagai buah berwarna yang ditempatkan di atasnya dan terlihat sangat bagus.
"Kue…?"
Apa yang dia siapkan adalah kue ini ...? Ini terlihat bukan kue yang dibeli dari toko, malah terlihat seperti buatan sendiri. Meski bukan hari ulang tahun kita berdua, tapi kenapa ada kue?
"Itu berarti, ini semacam perayaan?"
Saat aku menggaruk kepalaku, Hiiragi-chan memelukku dari belakang.
"Benar sekali ~"
Chuu, dia mencium pipiku.
“Kemarin aku berusaha keras untuk membuatnya. Bagaiaman pendapatmu? Kelihatan bagus, kan? ”
Sambil berbisik lembut di telingaku, dia mengeluarkan piring kue itu dari kulkas dan membawanya ke meja.
"Jika ada sesuatu yang tertulis diatasnya, mungkin aku akan tahu hari apa ini ..."
"Kenapa, kenapa kamu masih tidak tahu?!"
Dengan matanya yang sedikit kosong, tangan Hiiragi-chan membawa pisau. (TN : Yandere Mode On)
“Hi-Hiiiiiiiiiiiii !? A-aku minta maaf! ”
Aku cepat-cepat melarikan diri ke sofa, tapi dia akhirnya menggunakan pisau itu untuk memotong kue. Syu-Syukurlah. Sepertinya dia tidak berniat menusukku.
"Ngga mau duduk? Ayo makan bareng. ”
"O-Oke ..."
Setelah dia memotong kue itu menjadi bagian kecil, HIiragi-chan memberikannya padaku. Atau lebih tepatnya, ada aura intimidasi di sekelilingnya yang membuatku untuk memakan kuenya.
"Bagaimana?"
"Ya. Ini enak."
"Baguslah."
Hiiragi-chan tersenyum lebar dan berdiri dari kursinya saat dia bilang kalau dia akan menyiapkan teh. Uuu ... Aku tidak suka dia dalam mode marahnya, rasanya seram sekali. Tapi ketika dia tersenyum bahagia begitu, entah bagaimana aku merasa bersalah.
Melirik kalender di atas meja, aku melihat tanggal hari ini diberi lingkaran beberapa kali. Tampaknya memang benar kalau wanita selalu mengingat perayaan yang sepele. Sekarang sudah bulan Mei, dan itu memang sudah jelas tapi bulan sebelumnya adalah April ...
Ah.
Aaaaaaaaaaaaahh!
"Kalau kopi, ngga apa-apa, ‘kan?"
"Ya terima kasih."
Mungkin ... tidak diragukan lagi.
"Satu bulan…"
"Ya! Ya, ya! Hari apa!? Hari apa yang membuatmu berpikir kalau ini satu bulan !? ”
Hiiragi-chan menunjukkan senyum paling cerahnya hari ini. Nampaknya aku mendapatkan jawaban yang benar, ekspresi Hiiragi-chan saat ini berkilauan. Tapi, jika itu benar, maka apa yang kujawab tidak akan salah.
"Sudah satu bulan sejak kau menunjukkan celana dalammu."
"Salaaaaahhhhhh juggaaaaaaaaaaa!!"
Eh, yang bener. Itu juga salah ya? Fushii, fushii, Hiiragi-chan mengambil nafas dalam-dalam, seperti gas emisi dari robot besar saat baru menyala.
“Jika kamu bilang hari itu, maka itu terjadi nanti saat hari libur. Bukan hari ini! ”
"Sebulan sejak pertama kali kamu memakai celana dalam warna pink ..."
“Itu juga salaaaaaaahhh! Kalau itu nanti besok! ”
Mumumu, dia terus mengerutkan alisnya sampai terlihat saling mendekat. Hari pertama aku melihat celana dalamnya ... sehari sebelumnya?
"Oh. Iya! Satu bulan sejak kita berpacaran! ”
"Benaaaaaaaarrrrrrrrr!"
Dia menunjukkan jarinya padaku.
“Astaga, ingat baik-baik, oke? Ini hari yang penting untuk diingat. ”
"Maaf, maaf"
Kue yang dibuat Hiiragi-chan adalah rasa manis yang tepat sehingga aku bisa terus memakannya tanpa terlalu lelah. Dengan cangkir di tangannya, dia menyembunyikan wajahnya sedikit.
“Karena ini baru pertama kali ... aku ingin mencoba ini. Aku minta maaf jika itu terlihat sedikit berlebihan. ”
"Tidak apa-apa, kok."
Setelah menikmati kue dan kopinya, sebelum terlalu malam, aku meninggalkan tempat Hiiragi-chan. Sesampainya di rumah, aku duduk di ruang tamu, melamuni kejadian hari ini,
“Nii-san… kenapa kamu nyengir-nyengir begitu?”
Sana menatapku dengan jijik.
"Sembarangan aja, siapa juga yang nyengir."
"Ah. Lehermu! Nii-san, apa kamu baik-baik saja !? Sepertinya ada sesuatu yang menggigitmu !! ”
Ah. Sudah pasti ini ulah Hiiragi-chan.
"Lehermu memar!"
“E-eehh ini… yang ini baik-baik saja. ”
"Y-Ya ampun, apa boleh buat, Sana akan membantumu melakukan disinfeksi itu ... Nii-san tidak sadar kalau lehernya digigit ..."
Sana pergi mengambil obat P3K.
Setelah itu, memar dileher sudah diobati, tapi tanda ciuman yang merayakan perayaan kencan kita tidak hilang.





Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya



Previous
Next Post »
3 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat