true became fiction when fiction's true

Saturday, 23 November 2019

Monday, 18 November 2019

November 18, 2019

Mafura o Kashitara Sachiusukei Bishojo ni Kore demo ka to suka reta kudan Bahasa Indonesia


Head Over Heels from the Scarf I Lent Her
マフラーを貸したら幸薄系美少女にこれでもかと好かれた

Drama, Romance, School Life, Seinen, Slice of Life

Author : Buchinuki Udon
Illustrator : -
Sinopsis :
Usai menyelesaikan UTS-nya di hari bersalju, Yamanaka Tooru bertemu Miyamoto Satsuki — seorang gadis yang dikatakan paling imut sekota — di gerbang depan sekolahnya.
Satsuki berdiri di sana sendirian tanpa mengenakan syal maupun mantel.
Tooru ingin mengabaikannya begitu saja, tetapi karena tak tega, Ia melilitkan syal di sekeliling leher Satsuki.
Waktu pun terus berlalu setelah kejadian itu.
Sampai ketika Satsuki memasuki SMA Tooru dan mengunjungi rumahnya tanpa diundang.
“Aku harus membalas budi atas apa yang sudah kamu lakukan padaku.”
“Aku sama sekali tidak berbuat banyak ...”

Ini adalah kisah antara Tooru yang canggung dan Satsuki yang malang serta suka ikut campur.
Daftar isi :
Chapter 01
Chapter 02
Chapter 03
Chapter 04
Chapter 05
Chapter 06
Chapter 07
Chapter 08
Chapter 09
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23 [TAMAT!]

Friday, 15 November 2019

Friday, 8 November 2019

November 08, 2019

Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 03


Chapter 03 – Mana yang kau pilih, jawaban yang jujur atau jawaban yang sesuai kenginanmu?

uSudut Pandang si Senpai u
Senpai!!
Liburan akhir pekan selama tiga hari tanpa terasa sudah berakhir.
Yup. Aku tak bisa bilang kalau itu sangat berarti, sih. Aku sudah menyelesaikan semua PR-ku, tapi yang bisa kuingat hanyalah menembak, menyerang, dan menebas musuh dengan tinta cumi. Byte itu menyenangkan!
Hei, Senpai? Kamu mendengarku, ‘kan?”
Waktu pagi yang biasanya kubilang Jangan datang tiba-tiba berubah menjadi Jangan pergi! di minggu ini. Sebagai gantinya, aku mati-matian menolak hari Selasa dan tidur sambil memikirkan hal itu, dan tanpa aku sadari, waktu pagi sudah tiba.
Meski aku adalah tipe orang yang mudah tertidur, aku pernah membaca sebuah jurnal bahwa ketika manusia bertambah usia, akan semakin sulit bagi mereka untuk tidur nyenyak. Dengan kata lain, kualitas tidurku akan menurun, meningkatkan kemungkinan untuk bangun di tengah malam, dan menyulitkanku untuk tidur nyenyak.
Singkatnya, aku cuma bisa tidur nyenyak saat masih muda. Dengan alasan itu, aku tidak bisa meninggalkan tempat tidur ketika alarm mulai berdering pagi ini. Perasaan tidak ingin pergi sangat kuat pada saat itu.
Tolong menengoklah ke belakang, Senpai. Kouhai-mu yang manis sedang menunggu, tau?”
Tapi, aku adalah salah satu manusia yang membentuk tatanan masyarakat. Setidaknya, aku bisa memahami konsep batas waktu. Pada bunyi alarm kelima, aku akhirnya memotivasi diriku dan bersiap-siap dengan cepat, aku menuangkan secangkir kopi ke tenggorokanku, dan tiba di stasiun terdekat.
Mungkin, bersama dengan harapan kalau Kouhai-chan sudah kehilangan minat padaku setelah liburan tiga hari.
Senpai!
Yah, walau harapan itu langsung hancur berkeping-keping.
Apa boleh buat. Aku berbalik, dan menyapanya balik.
Yeah, pagi.
Wajah Kouhai-chan yang belum pernah kulihat untuk sementara waktu tampak terkejut karena suatu alasan.
“……Selamat pagi?”
Kenapa malah jadi kata tanya?
Bersamaan dengan menjawab begitu, aku pergi ke peron kereta.

uSudut Pandang si Kouhai u
Liburan tiga hari berturut-turut sudah berakhir.
Ada hari dimana aku tidak bisa pergi kemana-mana karena ada badai, tapi jika aku melihatnya secara komprehensif, kupikir itu adalah liburan yang memuaskan.
Aku sudah mengejar Senpai selama hari-hari pertama, tetapi saat aku datang ke stasiun hari ini, Senpai tiba di stasiun sambil menggosok matanya yang mengantuk. Aku ingin tahu apakah Ia sudah menyerah melarikan diri dariku.
... Tentu saja, aku juga sadar kalau aku terlalu ngotot mengejarnya. Tapi jika aku tidak melakukannya, aku yakin kalau aku takkan melakukan kontak dengan Senpai semacam ini selamanya.
Yah, siapa juga yang peduli.
Ketimbang memikirkan hal itu, ada sesuatu yang lebih menyenangkan untuk dirayakan.
Siapa sangka kalau senpai akan membalas salamku. Di pagi hari, di stasiun. Ini baru pertama kalinya.
Sesaat, aku cukup terkejut  karena aku tidak pernah menduga Senpai yang memiliki keterampilan komunikasi yang buruk akan menyapaku sendiri.
Ehehe ~ Apa yang terjadi, Senpai? Apa kamu mulai tertarik padaku?”
Ha?
Hari ini, aku juga berdiri di sisi pintu sambil bersandar di ujung kursi. Senpai juga pergi ke ujung kursi, dan segera meraih pegangan.
Aku penasaran apa Ia punya perubahan hati untuk datang ke posisi tersebut tanpa perlu mengatakan apa pun.
Tidak, aku sama sekali tidak tertarik denganmu, oke?
Ia langsung menjawab dengan wajah serius. Walau ujung bibirnya agak mengkisut, tatapan matanya terlihat tak fokus. Ia sepertinya tidak terbiasa dengan topik semacam ini, ya.
Aku tersenyum simpul melihat reaksinya, dan terus melanjutkan.
Lantas, kenapa kamu melakukan itu?
“Melakukan apa?”
Bukannya Senpai lebih dulu mendekatiku bahkan sebelum aku melakukan sesuatu, dan menatapku dengan ekspresi yang menuntutku untuk segera berbicara?
Ia juga tidak mengeluarkan bukunya. Seriusan, apa yang sedang terjadi padanya?
Setelah aku menyelesaikan pertanyaanku, Senpai menghela nafas panjang.
Aku memikirkannya pada liburan akhir pekan, saat bermain gim.
Berpikir sambil bermain gim, bukannya itu terlalu hardcore? Pertama-tama, jenis permainan apa yang dimainkan orang ini? Ayo kita masukkan ke “Daftar pertanyaan”.
Meski aku melarikan diri, Kau pasti akan terus-terusan mengejarku sampai aku tertangkap. Jadi, daripada bersembunyi dan melarikan diri, lebih baik untuk segera berurusan denganmu.”
“Jadi begitu. Bagus sekali. Lalu itu artinya Senpai ingin mengobrol denganku, ‘kan!”
Tidak, kau salah ……
Tentu saja, aku akan berpura-pura salah memahami kata-katanya.
Jika kamu sudah memutuskan begitu, lalu ayo kita mengobrol tanpa terburu-buru, Senpai!
Itu sebabnya aku bilang ……
Lalu, sekarang untuk pertanyaan hari ini. Uhm, tolong beri tahu aku cara berkomunikasi yang sering Senpai gunakan, atau sederhananya, informasi kontak Senpai yang pasti bisa dihubungi secara pribadi!”

uSudut Pandang si Senpai u
Kouhai-chan tertawa gembira, dan mengajukan pertanyaan itu (?) dengan sungguh-sungguh.
Yah, apa yang dia inginkan 100% akun LINE-ku , ‘kan? Ketika membahas cara berkomunikasi  menggunakan smartphone, itu adalah aplikasi yang paling dikenal luas. Alasan dia tidak secara langsung mengatakan kata LINE pasti sebagai tindakan pencegahan jika aku tidak punya LINE.
Karena aku harus bergabung dengan grup kelasku, grup OSIS, dan grup seluruh anggota komite perpustakaan, mana mungkin aku belum punya akun LINE.
Uhn. Jika aku memberi tahu dia akun LINE-ku, dia bahkan mungkin menjajah waktu istirahat terakhirku, waktu akhir pekan.
Setidaknya, aku ingin bertarung sengit dalam hal ini …... tapi mungkin ini tidak ada gunanya.
Akan tetapi, aku tidak ingin memberikannya begitu saja.
Ah, benar juga...
Yosh
Mungkin kali ini aku bisa menang darinya.
“Hei. boleh aku mengajukan pertanyaan dulu?”
Karena aku akan memberinya kontakku, aku tidak perlu meminta informasi akunnya. Aku akan menggunakan hak mengajukan “pertanyaan hari ini” dengan cara yang menarik.

uSudut Pandang si Kouhai u
Senpai terus diam selama beberapa detik. Aku merasa itu agak lama, tapi itu tidak terlalu penting.
Ia bertanya, apakah Ia boleh mengajukan pertanyaan lebih dulu sebelum menjawab pertanyaanku. Tentu saja, sesuatu seperti urutan pertanyaan dan urutan percakapan masih belum dibahas secara rinci, tapi aku tidak terlalu peduli dengan aturan itu.
Ketika aku mengizinkannya, Senpai langsung menyeringai.
Apa kau ingin aku menjawab dengan jujur, atau menjawabnya dengan sesuatu yang kau inginkan?
Apa?
Yang kuinginkan cuma informasi akun LINE-nya. Aku mengajukan pertanyaan dengan niat seperti itu, dan aku yakin Senpai juga menyadarinya.
Tapi kelihatannya ada perbedaan antara jawaban jujur ​​dan niatku?
Aku ingin tahu apa yang dia maksud dengan itu.
“Coba lihat ini.”
Senpai menunjukkan layar pengaturan smartphone-nya kepadaku.
Di bagian atas layar, aku bisa melihat menu “Penggunaan Baterai”.

uSudut Pandang si Senpai u
Ohho, dia terlihat kebingungan.
Akhirnya aku berhasil mengecoh kouhai ini, rasanya agak memuaskan.
Kau bisa melihat berapa jam yang aku habiskan untuk aplikasiku dalam tujuh hari terakhir di layar.
Huruf-huruf mengkilap di layar smartphone-ku membuktikan kalau waktu penggunaan LINE-ku adalah sepersepuluh dari waktu Twitter.
Aku jarang sekali menggunakan LINE, tahu.
Itu benar. Aku jarang menggunakan LINE untuk waktu yang lama di smartphone-ku. Setidaknya, itulah yang terjadi padaku.
Aku jarang memiliki percakapan yang sangat mendesak (meski jika ada sesuatu yang sangat mendesak, mereka akan langsung menelponku, dan jika itu tidak mendesak, aku akan menggunakan komputerku.) dan karena aku cuma menjawab seperlunya, waktu penggunaan aplikasi di smartphone-ku tidak bertambah.
Di sisi lain, Twitter adalah SNS yang akan membuat orang melihat beranda dalam waktu yang lama. Jadi dalam waktu penggunaan, tak mungkin kalah dari LINE.
Aku tak tahu seberapa sering aku menggunakannya di komputer rumahku, aku tidak bisa memberi tahu rincian sebenarnya, tapi untuk sekarang, aku hanya perlu mengungguli gadis ini.
Sekarang, yang mana yang akan kau pilih?

uSudut Pandang si Kouhai u
Memang, ini di luar ekspetasiku.
Tak pernah terpikir kalau ada murid SMA yang tidak memakai LINE sebagai aplikasi yang paling sering digunakan selain permainan ... Dunia ini memang sangat luas.
Tidak, mungkin rasanya lebih sempit? Lagipula, murid unik semacam ini ada di stasiun yang sama denganku.
Apakah Senpai mau memberitahuku dengan jujur ​​apapun yang aku pilih?
Nn? Ya. Aku akan memberitahumu dengan jujur.”
Astaga. Ia tiba-tiba menjadi baik.
Kalau begitu, aku pilih LINE.
“Cepat sekali kau memutuskannya. Lalu, ini dia.”
Usai mengatakan itu, pada saat yang sama, Ia menyodorkan kode QR-nya kepadaku. Meskipun aku berpikir kalau Ia masih harus mengoperasikan aplikasi, sepertinya dia sudah menyiapkannya ……
Senpai, tolong buat layarnya lebih terang. Pemindaiku tidak bisa membacanya.”
Nn? Ahh, benarkah? Maaf.”
Meskipun Ia sudah melakukan persiapan dengan hati-hati, sepertinya Ia masih kurang perhatian, ya. Sungguh, senpai masih sama seperti biasa.





Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor
Gambar profil LINE-nya adalah gambar gerhana bulan purnama.



November 08, 2019

Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 02


Chapter 02 – Apa Senpai Punya Kegiatan Ekskul?

u Sudut Pandang si Senpai u
“Fwahhh……
Ngantuk banget…
Walau normal-normal saja untuk merasa ngantuk di pagi hari, tapi hari ini aku bangun sepuluh menit dari biasanya, jadi aku merasa kalau aku lebih mengantuk daripada biasanya.
Aku sudah meminum secangkir kopi di rumah, tapi kepalaku masih terasa pusing.
Alasanku bangun sepuluh menit lebih awal adalah untuk naik kereta lain yang berbeda dari biasa aku tumpangi untuk pergi ke sekolah.
Kemarin, Kouhai yang mendadak berbicara denganku sepertinya ingin terus berinteraksi denganku. Sungguh misterius.
Tanpa ada tanda-tanda, kami berdua membuat janji satu pertanyaan sehari, kami berdua harus menjawab jujur tak peduli apapun yang terjadi”, atau sesuatu seperti itu ….... Tidak, aku samar-samar ingat kalau itu bukan lagi janji, melainkan lebih seperti kontrak iblis. Kalau tidak salah namanya ... Yoneyama Maharu, ‘kan?
Kami berdua, Senpai Kouhai, sayangnya berbagi stasiun yang sama, yang mana dekat dengan rumahku. Selain itu, aku cuma mengenalinya sebagai seseorang yang naik kereta yang sama denganku, tanpa ada hubungan istimewa selain menjadi Senpai-nya. Sebenarnya, empat bulan sudah berlalu sejak kami pertama kali bertemu jika aku mengabaikan periode liburan musim panas. Kami bertemu sekitar bulan April, dan sekarang sudah bulan September.
Jika dalam situasi ini aku menggunakan kereta yang biasa aku tumpangi, disaat dia menangkapku, dia pasti akan menginterogasiku mengenai berbagai hal terlepas itu fakta atau fiksi. Waktu perjalananku didedikasikan untuk membaca buku dengan damai, dan aku tidak mau mengakhiri masa-masa itu.
Setelah memeras otakku semalam suntuk, aku punya beberapa ide untuk solusi masalah ini.
Solusi pertama. Mengubah posisi di mana aku akan naik kereta. Dengan kata lain, jika aku meninggalkan keuntungan dekat gerbang tiket setiap kali aku turun dari kereta, ditambah dengan kerugian tambahan kalau aku harus menemukan tempat naik lain yang perlu jauh dari tempatku semula, ada kemungkinan kalau aku bisa melarikan diri darinya.
Aku langsung menolak solusi ini setelah melakukan beberapa simulasi di otakku.
Walau para pekerja kantoran mengenakan jaket jas dengan hampir tibanya musim dingin, kebanyakan murid SMA masih mengenakan kemeja lengan pendek ketika pergi ke sekolah. Penglihatan si Kouhai tak mungkin seburuk itu sampai-sampai dia tidak bisa menemukan satu-satunya orang berkemeja putih di tengah-tengah kawanan domba hitam pada jam-jam sibuk.
Solusi kedua. Naik kereta lain dengan jadwal yang berbeda.
Jika aku datang agak siangan dari biasanya, risiko terlambat bakal meningkat, dan dia bahkan mungkin menungguku di stasiun jika dia tidak bisa menemukanku. Jika aku harus mengubah waktu, lebih baik naik kereta lebih awal dari biasanya.
Aku bisa membayangkan sosok menyedihkan dari Kouhai-chan yang mencariku sampai detik-detik terakhir tanpa mengetahui kalau aku sudah berangkat duluan. Tentu saja musik BGM-nya ialah ketika pemain berhasil memenangkan pertempuran.
Jadi……….tak ada pilihan lain.
Dengan pertimbangan seperti itu, aku tiba di stasiun sepuluh menit lebih awal dari biasanya, sambil menunggu kereta datang.
Kejadian kemarin cuma sedikit pertemuan yang aneh. Sekarang, setelah aku mengusir Kouhai semacam itu dari hidupku, masa-masa sekolahku yang damai akan kembali mulai sekarang. Tidak, itu bahkan belum, hilang sama sekali.
Karena ada kejadian semacam itu kemarin, aku memilih kembali buku-buku yang ada di dalam tasku. Aku membawa buku edisi terbitan web-novel yang agak lebih besar daripada buku biasa, dengan plot sederhana  menyenangkan yang bisa dibaca dengan kepala kosong. Jika seperti ini, aku mungkin bisa menyelesaikannya pada saat aku kembali ke rumah. Berpikir tentang kinerja biaya, kecepatan membacaku sebenarnya cukup mengecewakan.
Saat aku mengeluarkan buku itu, dan hendak membuka halaman pertama ...
Ada seseorang yang menghembuskan nafas di sebelah telinga kananku, yang mana hal itu membuatku hampir menjatuhkan buku karena sensasi geli.
Senpai~♪
Suara yang kupikir takkan kudengar hari ini memanggilku dari belakang.

u Sudut Pandang si Kouhai u
Fufufu.
Kamu seharusnya jangan coba-coba melarikan diri dariku, Senpai.
“Uwah!?”
Meski suaraku datang dari sisi kanan di belakangnya, Senpai secara khusus berbalik ke arah berlawanan untuk menghadapku.
Cih. Padahal aku ingin menyolekkan jariku di pipinya saat Ia memalingkan mukanya ... 
Selamat pagi, Senpai.
Kenapa ... dia ada di sini ...
Wajahnya seakan-akan sedang menghadapi kiamat. Bahkan mata di balik kacamatanya tengah terbuka lebar-lebar.
Senpai, Kamu jangan berbicara kejam terhadap Kouhai-mu yang lucu ini, loh.
“Bukan itu masalahnya.
Meski kamu bertanya mengapa ... Itu karena aku ingin berbicara dengan Senpai, kan??”
Melihat kalau pendekatanku terlalu memaksa, aku memperkirakan kalau Senpai kemungkinan besar akan mengubah jadwal keretanya.
Sialan ... Upayaku...
Ya ampun…. Orang ini dilanda kesedihan lagi, ya.
Kereta akan segera tiba di Jalur 3. Karena berbahaya, tolong jangan berdiri di garis kuning.
Lihat, Senpai. Keretanya sudah datang. Ayo masuk.”

u Sudut Pandang si Senpai u
Aku kalah lagi.
Kouhai di depanku ―― ngomong-ngomong, dia menempati posisi di samping pintu dengan wajah yang sangat alami. Padahal tempat itu adalah posisi tetapku untuk membaca! ―― menang melawanku lagi. Sebenarnya, dia yang memojokkanku dalam argumen.
Aku sudah memiliki metode yang membekas sejak aku masih SD untuk berbalik sebelah kiri ketika seseorang memanggilku dari sisi kanan. Tapi, sekarang masih menang satu, kalah dua. Dan satu kemenangan itu juga merupakan kemenangan yang sangat kecil.
Kenapa kau bahkan memprediksi rencanaku? Rasanya sangat menakutkan.
Apa kau ini seorang penguntit?
Aku nyeletuk tanpa sadar mengenai apa yang ada di dalam pikiranku.
Senpai, aku ini bukan penguntit, dan juga bukan yandere. Tolong jangan terlalu cemas begitu.”
Orang yang tidak menyadari kecenderungannya sendiri cukup berbahaya tahu.
Sudah kubilang kalau tidak usah cemas. Baru pertama kalinya aku melakukan hal semacam ini juga, jadi Senpai adalah orang yang pertama. Kamu harus bertanggung jawab, oke?”
Ha?”
Tidak, tidak, aku cuma bercanda saja, oke? Tolong jangan menganggapnya serius.”
Kouhai-chan mengalihkan pandangannya dariku, dan berdehem sekali lagi.
Nn. Percakapan kita agak menyimpang.”
Kau sendiri yang menyimpangkannya.
Memangnya salah siapa coba?
Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi, jadi aku akan bertanya langsung. Pertanyaan pertamaku untuk hari ini adalah…………….Senpai, apa kamu memiliki kegiatan ekstrakurikuler?
Aku memilih untuk tetap diam!
Gawat, gawat. Pertanyaan ini sama sekali tidak bagus.
Jika aku menjawab pertanyaan ini. Tidak hanya menggangguku ketika berangkat ke sekolah, teapi dia pasti bakal menggangguku ketika pulang sekolah juga.
Tapi karena lawanku adalah gadis ini, walaupun aku terus diam, dia akan ngotot mencari tahu. Tapi aku masih tidak mau memberitahunya.
Akan tetapi, sepertinya Kouhai-chan ini (tidak, dia adalah iblis!)  tahu kalau aku takkan menjawab ini.
Dia memberiku serangan terakhirnya dengan senyuman.
“Asal kamu tahu, Senpai. Aturannya adalah menjawab pertanyaan sehari dengan jujur, apa pun yang terjadi, iya ‘kan?”
Seperti yang aku harapkan, janji itu bukan hanya mimpi atau khayalanku ...
Aku tidak suka itu. Aku takkan mengakui keberadaannya. Itu cuma kontrak lisan, jadi itu tidak valid!
“Apa yang kau katakan? Aku tidak begitu mengingatnya ketika kami membuat janji semacam itu.
Jadi, Senpai ingin makan ikan buntal, ya. Tolong jawab secepat mungkin ya ~ Aku mendengar mereka menyebutnya 'landak laut' di Okinawa, dan menjadikannya sebagai sup miso. Aku pikir tidak apa-apa untuk memakannya juga sebagai sushi. Ah, aku juga dengar kalau Senpai harus makan lebih banyak ikan, karena mereka akan merangsang sel sarafmu dan sesuatu yang disebut EPA untuk meningkatkan daya ingatmu. Ayo kita pergi ke pasar ikan habis pulang sekolah nanti untuk membelinya hari ini, oke? [TN : Cara halus menyindir orang yang sedang berbohong]
Membuat candaan Aku akan menelan ikan buntal (berkeringat) dalam implementasi kehidupan nyata terlalu menakutkan, sudah cukup, hentikan!
Anggota komite perpustakaan, dan ... ketua OSIS.
Eh? Apa? Aku tidak bisa mendengarmu.”
Itu adalah pertama kalinya ada sedikit kebingungan di wajah gadis ini.
Anggota komite perpustakaan, dan ketua OSIS. Aku tidak bergabung dengan klub mana pun. Apa kau sudah puas sekarang?”
Aku bisa memahami bagian anggota komite perpustakaan, tapi Senpai sebenarnya adalah ketua OSIS? Orang yang mengabaikanku setiap hari tanpa pernah mengucapkan salam atau bertegur sapa meski cuma aku satu-satunya orang yang memakai stasiun yang sama? Bukannya ada orang lain yang lebih bertanggung jawab? Apa SMA kita bakal baik-baik saja dengan dirimu sebagai Ketua OSIS?”
Oi oi, barusan dia mengatakan sesuatu yang sangat kejam kepadaku, ‘kan?
“Kalau begitu, Yoneyama Maharu-kun.”
Ketika aku memanggil nama lengkapnya yang entah bagaimana masih aku ingat, dia memasang ekspresi terkejut.
Apa kau tahu kegiatan yang dilakukan oleh ketua OSIS?
Bukannya Ketua OSIS adalah orang yang punya pengaruh luar biasa yang memiliki kendali penuh atas sekolah dari belakang layar, dan bisa mengontrol semua murid hanya dengan sepatah kata saja?
Nah, apa yang kau bilang tadi cuma bisa terjadi di dunia fiksi.
Maaf, aku sama sekali tidak tahu.
Untuk pertama kalinya, aku merasa menang dari Kouhai yang satu ini. Tapi, meski aku merasa menang, aku masih harus menjelaskannya, ya.
Sederhananya, “Ketua OSIS” hanyalah posisi pajangan.
Mungkin pekerjaan terbesar untuk posisi ini adalah pidato perpisahan dalam upacara kelulusan. Berinteraksi dengan sekolah lain? Rapat siswa? Aku belum pernah melakukan itu sebelumnya. Semua anggota OSIS hanya akan melakukan apa yang diperlukan. Ketua OSIS hanyalah puncak dari pajangan.
Dengan kata lain, senpai hanya orang dengan derajat seperti itu, ya.
“Diam. Aku cuma sedikit peduli dengan orang lain ...”
Sebenarnya, setelah melihat sebagian besar teman sekelasku di klub olahraga berkeringat setiap hari, aku akan berbohong jika aku tidak merasa cemas. Mereka adalah murid SMA yang “sehat” dan biasa, sedangkan aku hanya otaku yang “sedikit aneh”.
Terkadang, aku berpikir akan lebih baik jika aku bergabung dengan mereka dan menjadi salah satu anggota klub olahraga, menghabiskan masa mudaku secara normal. Pada saat yang sama, aku juga berharap kalau Aku tidak ingin dipengaruhi oleh mereka, jadi aku sering berkata pada diriku sendiri kalau lebih baik untuk tetap seperti ini.
Lagipula, tidak ada yang namanya jawaban pasti dalam kehidupan. Jalan yang aku pilih adalah segalanya yang akan menentukan hidupku sendiri. Baru-baru ini, aku memikirkan hal itu.
Senpai?
Suara Kouhai-chan terdengar khawatir, dan dia memanggilku dengan nada sedikit cemas.
Nn? Ah, maaf, aku hanya memikirkan sesuatu.”
Senpai punya keberanian untuk melamun di depan Kouhai-mu yang lucu ini. Apa kamu benar-benar merasa terganggu olehku? Bagaimanapun, Senpai tadi berbicara dengan penuh semangat. Ke mana perginya sosok Senpai yang tidak ingin berhubungan denganku kemarin?
Aku tidak pernah ingat berbicara dengan penuh semangat.

u Sudut Pandang si Kouhai u
Mungkin aku terlalu berlebihan menggodanya?
Rasanya agak susah untuk mendekatkan diri. Tapi, yah ... karena sepertinya Senpai tidak marah, aku merasa lega.
Ayo, kita mengobrol lagi, Senpai. Apa kamu tidak punya sesuatu yang ingin ditanyakan kepadaku juga?”
Bukannya kamu sudah mengambil setengah dari waktu perjalananku yang berharga ......…”
Ketika aku melihat jam digital di atas pintu kereta, memang benar apa yang dikatakan Senpai.
Jika kau saking segitunya memaksaku untuk bertanya, kalau begitu aku punya satu pertanyaan untukmu. Apa Kouhai-chan juga punya kegiatan klub atau semacamnya?”
Ehh, memangnya aku wajib memberi tahu Senpai?”
Bukankah kau sendiri yang memulai pembicaraan ini? Dan juga, bukannya kita punya janji itu atau apalah? Atau, apa kau mau memakan rebusan blowfish bersama-sama?”
Yeah, yeah.
Aku masuk klub seni.
“Apa kau bisa menggambar?
“Kemampuanku sih biasa-biasa saja. Aku tidak terlalu jago juga.”
Selain itu, aku jarang menghadiri kegiatan klub belakangan ini, aku menambahkannya di dalam pikiranku.
Awalnya, aku tidak berniat memasuki klub dengan waktu yang lama. Rasanya tidak terlalu menarik untuk terus berinteraksi dengan anggota klub tertentu untuk waktu yang lama.
Itu sebabnya, kupikir rasanya lebih menyenangkan untuk memasuki klub yang memungkinkanku bisa menjadi anggota hantu, sehingga aku bisa bersantai dan berinteraksi dengan banyak orang.
“Lain kali, coba tunjukkan padaku. Gambar ikan buntal pun tak masalah. Ah, bukan orangnya, tapi ikannya, oke?”
...... Aku akan mempertimbangkannya.”
Aku ingin tahu apakah aku bisa menggambar hal seperti itu?
Lain kali, mungkin aku harus pergi ke akuarium untuk melihat ikan buntal.
Suara berderak kereta terus berlanjut.
Ketika percakapan kami terhenti, suara kereta, yang tidak pernah kusukai sejak awal, tiba-tiba memasuki telingaku.
Uhn. Senpai masih bukan pembicara yang baik, ya. Yah, ini masih hari kedua sejak kami mulai berbicara.
Semuanya masih oke ketika aku mengendalikan percakapan, tetapi semuanya akan berakhir ketika Senpai mengalihkan topik atau berada dalam mode serangan-pertahanan. Ini akan menjadi tantangan di masa depan, ya.
Ketika aku berpikir secara mendalam tentang hal itu, Senpai mengeluarkan bukunya, dan mulai membaca.
Ia seolah-olah berusaha menyampaikan 'Aku tidak mau melanjutkan ini. Aku menolak untuk berpartisipasi dalam percakapan lagi! '
Nah, pertanyaan hari ini sudah selesai, jadi kita biarkan saja seperti ini untuk sekarang.
“Besok, tolong jaga aku juga ya, Senpai ♪
Kata-kata yang aku bisikkan mungkin tidak sampai ke telinga Senpai, karena dihanyutkan oleh suara kereta yang berjalan di jalurnya.




Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor
Sepertinya, Ia adalah Ketua OSIS.