The Result when I Time Leaped Chapter 87



Keuntungan bagi yang Mengambil Sudut

Awalnya, ini dimulai cuma untuk menghabiskan waktu.
“Baiklah, dengan begini, tiga kemenangan berturut-turut bagiku.”
“Haruka-san, apa kau yakin tidak salah hitung?”
“Tidak, aku yakin aku tidak salah menghitung. Selain itu, bukannya sudah jelas siapa yang menang jika kita melihat papan?”
Aku melirik papan dengan takjub, bidak hitamku benar-benar kalah jumlah dengan bidak putihnya.
“Sudah lama aku tidak bermain Othello.”
Haah, itu menyenangkan, ucap Hiiragi-chan sambil meregangkan tangannya.
Namun, aku masih belum puas dengan ini. Aku bertaruh dengan tekad dan harga diriku, apa pun yang terjadi, aku ingin menang setidaknya sekali ...!
“Se-Sekali lagi.”
“Eeeh? Bukannya kamu mengatakan hal yang sama sebelumnya, Seiji-kun?”
“Tapi, tetap saja, ayo kita lakukan sekali lagi ...”
“Fufu, apa kalah melawanku membuatmu frustrasi sampai segitunya?”
Sambil tersenyum, Hiiragi-chan melirik ke arahku.
Benar, aku frustrasi. Dengan harga diri sebagai cowok, aku setidaknya ingin menang sekali.
“Aku memikirkan sesuatu yang menyenangkan! Karena sekedar bermain saja agak membosankan, bagaimana kalau yang kalah mendapatkan hukuman?”
“Engga masalah. Jangan ditarik lagi, oke? Itu tidak bisa diubah.”
“Baiklah sudah diputuskan. Bagaimana kalau kita melakukan ini, yang kalah harus mengatakan sepuluh hal yang kamu sukai mengenai orang yang menang! Astaga ... ini hebat!”
Maaf saja kalau kau mulai bersemangat tentang hal tersebut, tetapi orang yang akan mendominasi papan berikutnya adalah diriku. Aku tahu sedikit trik.
——Orang yang mengambil sudut memiliki keuntungan! Atau, aku baru menyadarinya tadi.
Mengambil kembali bidak-bidak itu ke tanganku, kami memulai putaran keempat permainan.
Kau bisa memenangkan permainan 3 kali berturut-turut karena aku tidak tahu, tapi sekarang aku mengerti segalanya, apa kau masih bisa tetap menang melawanku?
Pata, aku membalikkan bidak putih ke arah sisi hitam.
“Sepuluh hal yang kamu sukai dari orang lain. Bukannya itu kebanyakan?”
“Tidak terlalu banyak kok. Bagiku jumlah hal yang aku sukai tentang Seiji-kun, mungkin sama dengan jumlah sel di dalam tubuhmu.”
“Itu terlalu banyak, ‘kan?”
“Aku mencintaimu sampai ke selmu
“Pernyataan itu, sedikit menakutkan ...” (TN : Waduh yandere nih :v)
Pata pata, Hiiragi-chan membalikkan bidak hitamku menjadi putih.
... Ah, uhhh. Su-Sudutnya sudah diambil tanpa aku sadari. Bidak hitamku masih kalah jumlah.
“... Ha-Haruka-san, maukah kau membuatkanku kopi?”
“Ya. Tunggu sebentar.”
Hiiragi-chan berdiri dari kursinya dan menuju ke arah dapur. Ketika dia berbelok, aku sedikit mengotak-atik papan.
“Seiji-kun, kamu benar-benar menyukai kopi ya. Aku sih tipe orang suka teh hitam, aku tidak mengerti apa enaknya kopi — Ini kopimu. ”
“Ah, ya, terima kasih.”
Sambil memegang cangkir kopi, aku dengan santai mengamati gerak-gerik Hiiragi-chan.
“Ummmm, sekarang giliranku, ‘kan ...?”
Pata, dia meletakkan bidak putih dan membalikkan bidakku.
Apa!? Bidak yang diam-diam aku pasang sebelumnya tiba-tiba berubah menjadi putih !? Aku berusaha keras untuk memindahkan bidak-bidak itu tanpa diketahui!
“Haruka-san, kau barusan memindahkan bidak itu, ‘kan?”
“Itu karena Seiji-kun yang melakukannya lebih dulu, kan?”
Pasti akan menjadi seperti itu, jadi aku tidak bisa menunjukkannya.
Kapan itu terjadi…? Dia terlalu cepat, sampai aku tidak menyadarinya.
“Haruka-san, aku pikir aku mau susu hari ini ...”
“Ah maaf. Aku berpikir kalau kamu biasanya menginginkan kopi hitam.”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jangan khawatir tentang itu.”
Hiiragi-chan sekali lagi berdiri dari kursinya. Menunggu momen saat dia berbalik, aku memindahkan bidak-bidak othelo di papan untuk keuntunganku.Dengan begini, aku bisa membuat comeback dengan langkah selanjutnya.
“Masukkan sebanyak yang kamu mau,” kata Hiiragi-chan sambil membawa tiga bungkus creamer dan meletakkannya di atas meja.
“Ya, terima kasih.”
Membuka penutupnya, aku menuangkannya ke dalam cangkir.
“Giliranku sudah selesai, sekarang giliranmu.”
Nah, sekarang saatnya epic comeback ... tunggu ...? A-apa !? Sudah terbalik !? Aku tidak ingat lupa melihatnya ...! 
Saat aku melirik Hiiragi-chan, dia tersenyum. Namun, rasanya aneh. Jika dia memang menyadarinya, kenapa dia tidak menunjukkan kalau aku curang. Dia biasanya membeberkannya.
Di bawah meja, Hiiragi-chan menjerat celana ketatnya yang tertutupi dengan milikku.
“…Apa ada yang salah?”
“Ti-Tidak ... tidak ada apa-apa.”
Papan permainannya telah kembali ke keadaan semula. Apa dia sudah menghafalnya sepenuhnya?
Suri suri, dia diam-diam mulai menggosok kakinya ke kakiku. Dia melakukan itu ketika dia ingin dimanjakan, tapi sekarang adalah waktu untuk menahan diri.
Kami berduda sedang di apartemen Hiiragi-chan.
Seharusnya tidak ada masalah, kenapa aku harus menahan diri? Apa karena kita berada di tengah-tengah permainan?
Sambil gelisah, aku mengulurkan tangan, dan meletakkan bidakku. Pada saat itu, aku membalikkan bidak putih di bawah telapak tanganku dan memutarnya menjadi hitam.
Baik. Enggak ketahuan.
“... Itu tadi yang ketiga kalinya.”
“!?”
Tanpa berbicara dengan siapa pun secara khusus, Hiiragi-chan berbicara pelan seakan sedang bergumam, dan kemudian meletakkan bidak putih sembari membalikkan bidak hitam di dekatnya.
Dia tahu tentang kecuranganku tetapi tidak menunjukkannya ... !? Kenapa? Apa ada untungnya tidak membongkar kecuranganku?
Sekarang giliranku, tapi aku tidak bisa membalikkan keunggulannya dan malah berakhir dengan kekalahan keempatku.
“Seiji-kun, tiga hukuman.”
Aku mengangkat tangan menyerah.
“Maaf. Aku minta maaf karena merusak giliran.”
“Fufun ... karena ini 3 kali hukuman, 10 kali 10 kali 10, hasilnya jadi 1000 hal yang kamu sukai tentangku”
“Terlalu banyak! Jika cuma 3, bukannya seharusnya hanya 10 kali 3?”
Apa kau benar-benar ingin aku mengatakan 1000 hal yang aku sukai tentang dirimu?
“Seiji-kun, apa kamu punya hak buat ngeluh? Kamu sendiri yang lakuin kecurangan. ”
“Ku…”
“Kecurangan pertama ketika aku pergi untuk membuat kopi, kamu membalik 5 bidak di dekat sudut supaya terlihat wajar.”
Di-Dia benar ...
“Sensei, tapi tetap saja, bukannya 1000 hal masih kebanyakan?”
Hiiragi-chan, dengan kakinya yang tertutupi dengan celana ketat yang masih terjerat dengan kakiku, mulai menggosok.
“Kamu tidak mau mengatakannya?”
“Setidaknya dikurangi jadi 100 ...”
“Yang kedua adalah empat bidak di kiri atas, dan yang ketiga adalah ketika kamu meletakkan bagianmu sendiri, kamu membalik bagian bidak putih.”
“…”
Dia menunjukkan semuanya dengan sempurna. Sepertinya dia bisa melihat kecuranganku dengan mudah.
Meski dia biasanya agak bego dan terkadang tidak berdaya, berhentilah jadi pintar di bidang yang sepele ...
Dia berdiri dan datang ke sampingku, lalu berbaring di pahaku.
“Beri aku gendongan ala putri seperti ini.”
“Eh. Seperti ini?”
“Bagaimana, masih negluh?”
“Tidak, bukan apa-apa.”
Jadi, dia bertujuan untuk ini ketika dia tidak membongkar kecuranganku. Karena mau tak mau, aku berusaha dan mengangkat Hiiragi-chan.
“Seiji-kun, kamu sangat kuat.”
Dengan kedua tanganku terisi, Hiiragi-chan bisa menciumku sebanyak yang dia inginkan. Mennggigit terlingaku, menciumku, mengecup leherku, dia diizinkan melakukan apa pun yang dia inginkan padaku. Pasti akan ada banyak bekas ciuman yang tersisa ...
“Bagian mana dari diriku yang kamu suka?”
Dengan enggan, aku menjawab pertanyannya.
“Bagian dirimu yang agak bego.”
“Apa aku benar-benar seperti itu ...? Te-Terus apa lagi? ”
“Bagian dirimu yang tak berdaya.”
“Aku tidak berdaya, kok.”
“Bagian dirimu yang terlalu banyak memikirkanku dan berlebihan.”
“Uuu ... maaf ...”
“Juga…”
“Sudah cukup.”
“Termasuk semua itu, aku mencintaimu.”
“Ya ampun, Seiji-kun!”
Biarpun aku harus berhenti memberinya gendongan ala putri, Hiiragi-chan sepertinya tidak mau berhenti berpegangan padaku.
“Menjatuhkanku lalu mengangkatku lagi. Seiji-kun, kamu sangat menggoda ...
Aku tidak dibuat mengatakan seribu hal, tapi aku tidak diberi hak untuk menolak ciumannya. Dalam hatiku, aku bersumpah kalau aku takkan pernah lagi curang dalam bermain Othello.


Ini contoh permainan Othelo :


close

3 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama