The Result when I Time Leaped Chapter 91



Memainkan Adegan yang ada di Manga

“... Haruka-san, apa yang kau beli tadi?”
Kami sedang dalam perjalanan pulang dari toko buku. Saat aku memberitahunya kalau aku mau pergi membeli volume baru manga dari toko buku, Hiiragi-chan bersikeras untuk ikut.
“Eh? Aku tidak beli apa-apa, kok? ”
Hmm? Padahal, aku melihat dia mengantri di kasir, apa dia tidak jadi membelinya ...?
Setelah kami kembali ke apartemen Hiiragi-chan, aku langsung mulai membaca volume baru, dan Hiiragi-chan juga mengeluarkan sesuatu untuk dibaca. Biasanya, dia menempel didekatku. Tapi, saat aku duduk di sofa hari ini, Hiiragi-chan akhirnya malah duduk di meja makan.
…Rasanya mencurigakan.
Ketika aku diam-diam mengintip, aku melihat kalau dia sedang membaca buku memasak. Apa-apaan itu? Seharusnya dia tak perlu menyembunyikan sesuatu seperti itu.
“Ah. Udah jam segini? Aku akan memasak makan malam, oke? Apa kamu punya permintaan?”
“Mungkin masakan Cina?”
“Roger ♪”
Hiiragi-chan memakai celemek dan menuju ke dapur.
Patan, ketika menutup buku, aku melihat sesuatu yang aneh. Buku masak itu sedikit melebar. ... Seolah-olah ada sesuatu yang terjepit di dalamnya ... Ah. Dia menggunakan buku masak untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dia baca ...?
Sambil menghindari perhatian  Hiiragi-chan, aku pergi ke meja, merentangkan lenganku, dan meraih buku masak tersebut. Seperti yang kuduga, ketebalan buku masak ini aneh. Ketika aku membukanya, bruk, buku lain terjatuh.
Buku tersebut bersampul cokelat yang bisa didapatkan dari toko buku, jadi aku tidak bisa melihat sampulnya. Yah, tidak masalah. Aku tinggal membacanya saja, pasti nanti akan tahu.
Ketika aku membuka dan melihat isinya, aku menyadari kalau itu adalah volume kelima dari manga shouj. Ini bukan sesuatu yang membuatnya malu ... lalu kenapa ...?
Saat aku dibuat bingung dan membolak-balik halaman, aku akhirnya mengerti mengapa dia ingin menyembunyikannya.
Meski ini manga shoujo, kurasa target pembacanya ditujukan kepada remaja akhir? Ada beberapa adegan cabul. Jadi begitu ya. Haruka-ojousama adalah  wanita yang seharusnya tidak membaca manga cabul seperti ini.
Tapi tunggu? Di kamarnya, bukannya ada beberapa buku lain dengan sampul yang sama? Apa mungkin…
Mengendap-endap agar tidak diperhatikan, aku pergi ke kamarnya. Aku menemukan rak berisi buku untuk bekerja dan 2 atau 3 buku pengembangan diri. Selain itu, aku menemukan empat buku, dengan sampul buku yang tidak terhapus.
“... Ini dia.”
Aku berpikir kalau ini mungkin  semacam novel, tetapi tak kusangka di dalamnya ada manga shoujo yang ditujukan untuk mereka yang berusia awal 20-an. Ketika aku membolak-baliknya, buku ini sama seperti yang aku temukan tadi. Tapi, ada beberapa penanda di dalamnya.
Satu, dua, tiga, empat …... totalnya ada tujuh penanda.
“Menandai manga ... ini ‘kan bukan buku referensi ...”
Sambil tersenyum masam, aku membuka ke halaman yang ditandai. Ternyata, halaman yang ditandai ada adegan yang cukup erotis.
[Doki Doki ]
Ada komentarnya juga.
“Ah. Jadi, dia menandai adegan yang dia suka, dan kemudian menuliskan pendapatnya tentang itu? ”
Nah, setiap orang punya cara tersendiri dalam menikmati sesuatu.
Tanda berikutnya memiliki komentar, [Aku mungkin mati jika Seiji-kun melakukan ini padaku ]
…Apa ini yang itu? Apa yang kau sebut kabedon di zaman modern?
Aku membuka ke halaman dan itu adalah adegan erotis.
“... Jangan bilang.”
Aku memeriksa halaman yang ditandai dalam volume lain, semuanya ada adegan yang sangat erotis.
Dia benar-benar tertarik! Dia mirip seperti anak SMP yang akan mencari kata seks di kamus dan menandainya!
Komentar yang ada hanya seperti [Haaauuu], atau [Kyuun ].
Jadi dia sudah mempelajari dengan membaca hal-hal seperti ini.
“Seiji-kun? Tahu Mapo atau terong, yang ...”
Ah. Aku ketahuan.
Sambil berulang kali melihat manga di tanganku, Hiiragi-chan menjatuhkan sendok sayur di tangannya.
“In-Ini Bukan ... Seiji-kun, bu-bukan itu ...”
“Eh? Apanya yang bukan?”
Sambil menyeringai, aku membuka halaman yang ditandai dan mendekati Hiiragi-chan sambil menunjukkan padanya. Sensasi aneh di dalam diriku mulai bangkit.
“Adegan ini, apa-apaan dengan 'Kyuun ' ini? Heeeh, jadi ini yang kau suka, Haruka-san?
“Ak-Aku bilang, bukan itu!”
Sambil panik dan memerah, Hiiragi-chan perlahan mundur.
“Na-Na-Natsumi bilang kalau itu menarik, jadi aku membelinya untuk mencobanya ...”
“Apakah Natsumi-chan juga memberitahumu untuk menandai semua adegan erotis?”
“Dia berkata, Haru-chan juga harus mempelajarinya! Itu sebabnya ... tanda ... “
“Kamu benar-benar tertarik dengan ini ‘kan, Haruka-san.”
Ugugugu ... ketika bibirnya bergetar,  mata sudah berkaca-kaca.
Ah, ini buruk. Aku kelewatan menjahilinya.
“Tepat sekali! Aku tertarik! Tapi, karena melakukan hal seperti itu dilarang dalam kenyataan, jadi aku membaca manga untuk belajar! ”
“Di-Dia berbalik menantang!”
Sambil menarik napas dalam-dalam, Hiiragi-chan memohon dengan mata berkaca-kaca.
“Sambil memikirkan bagaimana aku akan mati jika Seiji-kun melakukan ini padaku, aku menyeringai sambil menyembunyikan diriku di dalam selimut! Aku tahu itu tidak pantas! ”
“Bu-Bukan berarti aku bilang itu buruk ….”
Itu adalah salah satu situasi dimana 'tikus yang terpojok akan menggigit kucing'.
“Lalu, bagaimana kalau kita mencoba melakukannya?”
“Hoeeeh?”
“Adegan yang kau sukai, Haruka-san dan aku ...”
“Ayo lakukan! Ayo lakukan!”
Hiiragi-chan langsung menyambar manga dari tanganku.
“Bufufu, bufu, gufu ... ap-apa yang harus aku lakukan? Adegan mana yang harus kita lakukan ... “
Sembari mengeluakan tawa yang menakutkan, dia membolak-balik halaman.
“Baiklah, aku sudah memutuskannya! Aku akan ganti baju dulu, jadi Seiji-kun harus keluar.”
“Eh !? Kau sampai segitunya cuma karena hal ini?”
Sambil menunjuk adegan yang ingin dia lakukan, dia menyerahkan manga itu padaku.
“Sebelah sini. Yang ini! Ingat baik-baik dialogmu, oke !? ”
Dia serius ... Padahal aku cuma iseng untuk sedikit meniru itu.
Adegan ini adalah si cowok bergegas menuju protagonis utama yang depresi, memeluknya dari belakang dan membisikkan kata cinta ke telinganya.
… Syukurlah. Ini bukan adegan erotis.
“Aku sudah siap sekarang!” Setelah Hiiragi-chan memanggil, aku membuka pintu.
Tampaknya adegan itu sudah dimulai, ketika Hiiragi-chan ada di tempat tidur, sembari memeluk berlutut.
Dia melirikku, dan karena dia sudah tahu bagaimana adegan ini akan terungkap, dia menyeringai lebar. Hei, adegan ini seharusnya dimana kau mengalami depresi.
Setelah berdehem ringan, aku mulai bertindak sebagai si cowok.
“... Jadi kau berada di tempat seperti ini? Aku dari tadi mencarimu. ”
“Kenapa kamu datang mencariku? Tidak perlu bagimu untuk peduli padaku. ”
Dengan pintu masih terbuka, aku menghela napas.
"Haaah ... Tentu saja, aku akan mencarimu. Apalagi jika kau melarikan diri dengan wajah seperti itu. "
“Jangan mengejarku. Seiji-kun, kamu mungkin menyukai Sana-chan, ‘kan !? ”
Buu!?
Kenapa dia menggunakan nama asli?
“Aku tahu tentang itu ... fakta kalau Seiji dan Sana-chan sudah berhubungan seks.”
Buhah !? Secara teknis itu sudah benar, tapi tolong jangan masukkan nama asli!
“Haruka, bukannya kau salah paham tentang sesuatu? Itu cuma sesuatu yang Sana katakan dengan egois. Itu tidak benar sama sekali.”
“Ha-Haruka ...”
Sepertinya jantungnya berpacu kencang, Hiiragi-chan memegangi dadanya.
Kau menunjukkan sosok dirimu yang sebenarnya, Kau tahu?
“O-oh ... Benarkah?”
“Benarkah.”
Aku mendekati Hiiragi-chan dari belakang dan memeluknya.
Dan, sisanya kalimat pamungkas.
“Hanya Haruka yang satu-satunya aku cintai."
Kalimat ini agak memalukan ...
Kalimat berikutnya seharusnya diucapkan oleh protagonis utama, tetapi Hiiragi-chan masih terdiam. Kelihatannya hatinya telah melampaui titik kritis, dan seluruh tubuhnya terhuyung-huyung dengan telinganya yang memerah.
“Kalimat berikutnya, kalimat berikutnya.”
Aku berbisik ke telinganya.
“I ... itu benar ... Ohon .... Aku masih tidak bisa percaya itu ... Aku ingin percaya, tapi aku tidak bisa dibuat untuk mempercayainya.”
“Lalu, bagaimana dengan ini?”
Aku mengangkat dagunya dengan lembut, dan menciumnya.
Dengan begini, adegan di manga itu berakhir.
“Ap-Apa kamu bisa memanggilku Haruka sekali lagi ...?”
“Kamu suka tipe orang yang sangat percaya diri itu?”
“Fuguu ... bu-bukan begitu, tapi ... aku ingin Seiji-kun mengatakan sesuatu seperti, 'Kamu adalah milikku, Haruka' .”
“Jangan gampang membuat permintaan seperti itu?"
Sepertinya dia takkan menggubrisnya sama sekali, jadi aku hanya bisa membalas permintaannya, dan berbisik ke telinganya.
“Kau adalah milikku, Haruka.”
“Ya ... Aku milikmu ...”
Aku tak tahu apakah itu karena dia memerankan peran atau sesuatu, tapi limiter Hiiragi-chan langsung lepas kendali. Tanpa menyalakan lampu, kami pun bermesra-mesraan dalam gelap.
Tak perlu ditanya lagi, makan malam yang seharusnya makanan cina, malah jadi makanan asal buat.


close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama