true became fiction when fiction's true

Monday, 27 November 2017

November 27, 2017

Three Days Happiness Bahasa Indonesia Chapter 3


Chapter 3 - Pengawas Dengan Kedua Lututnya.

Dengan perasaan yang cukup buruk serta suhu yang panas, kulewati malam itu dengan keadaan yang penuh gelisah.  Terima kasih untuk itu, aku bisa melihat mimpi dengan jelas.
Bahkan setelah bangun, aku masih mengingat kembali keseluruhan mimpi itu. Ini bukanlah mimpi buruk. Bahkan bisa dibilang, ini bisa disebut mimpi yang indah. Tapi tidak ada hal yang lebih kejam dibandingkan dengan sebuah mimpi yang indah.

Di dalam mimpi tersebut, aku adalah seorang siswa SMA yang sedang berada di sebuah taman. Tidak, seingatku itu bukan sebuah taman, tapi entah kenapa teman sekelasku semasa  SD dulu berada disana. Situasi dalam mimpi tersebut nampaknya seperti reuni kelas. setiap orang bersenang senang dengan bermain kembang api. Aku hanya berdiri diluar taman hanya memandangi mereka.

"Bagaimana kehidupan sekolah SMA?"
Mendadak aku memperhatikan Himeno yang berada disampingku ketika dia menanyakan hal itu.
Aku memandangnya dari samping, tapi wajahnya terlihat buram. Aku tidak mengetahui apapun mengenainya kecuali saat umur 10 tahun dulu, jadi aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia terlihat sekarang.
Tetapi di dalam mimpiku, wajahnya terlihat sangat cantik. aku merasa bangga bisa terus mengenalnya untuk waktu yang lama.

“Tidak bisa dikatakan aku menikmatinya”,  jawabku secara jujur.” Tapi ini sedikit lebih baik dari yang terburuk.”
“Kupikir aku juga tidak jauh berbeda”, angguk Himeno.
Aku diam diam merasa gembira bahwa dia melalui masa muda yang menyedihkan sama sepertiku.

“Kau tau, berpikir tentang itu sekarang,” lanjutnya, “ Sebelumnya terasa sangat menyenangkan.”
“Apa yang kau maksud dengan ‘sebelumnya’?”, tanyaku kembali.
Himeno tidak menjawab. Dia pun berjongkok ke bawah, melihat ke arahku dan berkata.
“Kusunoki, apa kamu masih sendiri?”

“Aku kira, iya. jawabku, sambil terus memperhatikan ekspresinya. Memeriksa reaksinya.
“Begitu ya”, katanya dengan sebuah senyuman yang mengagumkan di bibirnya. “Well, kau tau, aku juga sama.”
Kemudian wajah mulai tersipu, bagus. Itu sempurna.
Yeah, ini hebat, sungguh hebat.

Itulah yang terjadi dimimpiku.

Ini bukanlah jenis mimpi yang harus dialami oleh seseorang yang sudah menjalani hidupnya selama 20 tahun. Aku mencela diriku sendiri karena bermimpi kekanakan-kanakan seperti itu. Tapi diwaktu yang sama, aku ingin menyimpannya dalam ingatanku. Aku akan merasa menyesal bila melupakan itu.
Aku yakin pada umur 10 tahun dulu, aku tidak terlalu menaruh kasih sayang terhadap Himeno. Mungkin ada, tapi hanya sedikit.
Masalahnya adalah aku tidak bisa merasakan bahkan "secuil kasih sayang" untuk orang lain. Mungkin bahwa jumlah kasih sayang yang sedikit itu adalah suatu hal yang besar dalam hidupku - hal itu baru aku sadari sekian lama ketika dia pergi.

Menyimpan semua rincian mimpi Himeno dalam ingatanku, aku berbaring sambil berpikir mengenai kejadian kemarin.di gedung yang buruk itu. Aku menjual semua masa hidupku dan hanya 3 bulan yang tersisa.
Ketika aku memikirkannya kembali, aku tidak berpikir, oh, itu mungkin hanya mimpi di siang bolong. aku menganggap kejadian itu pasti sebuah kenyataan.

Aku tidak mengatakan menyesali menjual hampir semua masa hidupku. aku tidak mengatakan menyadari hal yang terpenting yang kupunya sekarang sudah menghilang. aku lebih merasa seperti bebanku diangkat dari pundakku.

Apa yang membuatku terus menjalani kehidupan sejauh ini ialah sebuah harapan yang dangkal bahwa suatu hari nanti sesuatu yang baik mungkin akan terjadi.
Ini mungkin harapan yang tak berdasar, tapi membuangnya merupakan tugas yang sulit. Tidak peduli seberapapun tidak bergunanya seseorang, tidak ada bukti bahwa  keberuntungan yang baik tidak akan jatuh menghampiri mereka dan mebiarkan mereka menghapus semua kejadian yang ada seperti tidak pernah terjadi.
Itu adalah penyelamatku, tapi itu juga sebuah jebakan. Itulah mengapa sekarang aku bisa mengatakannya dengan jelas " sesuatu yang baik tidak akan pernah terjadi dalam hidupmu," aku melihatnya sebagai sebuah berkah.
Sekarang, aku bisa meninggal dengan damai.

Biar kukatakan, jika ini adalah situasi terparahku, maka aku akan menikmati sebaik mungkin waktu 3 bulan yang tersisa. Aku ingin menghabiskan waktuku sebanyak mungkin apa yang bisa kupikirkan," ini mungkin kehidupan yang kaku, tapi setidaknya aku  menerima kematianku, aku mempunyai alasan untuk bahagia selama 3 bulan terkahir."
Pertama-tama, kuputuskan untuk pergi ke toko buku. membaca beberapa majalah, kemudian memikirkan lagi apa yang kulakukan selanjutnya - tapi kemudian, bel pintu berdering.

Aku tidak mengharapkan adanya seorang pengunjung. Aku tidak mempunyainya selama tahun ini, dan pastinya pada bulan lalu juga.
Apakah dia salah ruangan? Seorang debt collector? sales pintu-ke-pintu? apapun itu nampaknya bukan sesuatu yang baik akan terjadi.
Bel pintu pun berdering kembali. aku bangkit dari tempat tidur dan langsung terserang dengan rasa mual malam kemarin. tetapi, kupaksakan langkahku menuju pintu, dan menemukan seorang gadis tidak kuketahui berdiri disana. disampinya terdapat tas bawaan yang nampaknya berisi barang-barangnya.



"...Boleh aku tahu siapa anda?" tanyaku.
Setelah memberiku tatapan tertegun. dia mengambil kacamata dari tasnya dengan menghela napas.
Memakai kaca mata itu, dan seolah - olah berkata "bagaimana kalau sekarang?"
akhirnya aku menyadarinya." Kau adalah orang yang mengevaluasi.."
"Benar" katanya.

Gambaran seorang wanita berpakaian kerja terlintas dalam pikiranku. jadi dalam pakaian biasa dia terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda.
Dia mengenakan blus berbahan katun dan rok berwarna biru. aku tidak terlalu memperhatikannya kemarin, karena itu terikat dibelakangnya, tapi rambut hitam panjangnya cenderung melengkung sedikit ke dalam.
Melihat kedua matanya setelah dia melepas kacamata yang dia ambil, mereka terlihat seperti membawa suatu kesedihan.
Melirik kebawah kakinya yang ramping, aku melihat perban besar di lututnya. itu pasti luka yang dalam.
Hanya itu yang bias aku katakan setelah melihat perbannya.
Saat pertama kali melihatnya, aku menebak umurnya antara sekitar 18 sampai 24, tapi melihat penampilannya pada hari ini, kubuang pemikiran tersebut. Mungkin dia  seumuran denganku sekitar 19 atau 20.

Tapi kesampingkan itu semua, mengapa dia ada disini? apa yang pertama terpikirkan dipikiranku
adalah bahwa dia disini untuk memberitahu bahwa ada kesalahan dalam evaluasinya.
Mereka melakukan kesalahan satu atau dua digit angka dalam evaluasiku, atau mungkin sebenarnya tercampur dengan milik orang lain. Aku tidak berharap bahwa dia datang hanya untuk meminta maaf akan kesalahan tersebut.

Gadis itu meletakkan kembali kacamatanya ke dalam tas, dan melihat kembali padaku dengan dengan mata tanpa ekspresi.
"Perkenalkan nama saya adalah Miyagi. Mulai hari ini dan seterusnya saya adalah pengawas anda."
gadis tersebut, Miyagi, membungkuk kepadaku dengan sopan.

Pengawas...aku melupakannya. Yeah, dia mengatakan sesuatu seperti itu saat mengevaluasiku.

Ketika aku mencoba mengingat percakapanku dengan miyagi kemarin, aku tidak bias menahan lagi rasa mual didalam perutku, dan langsung berlari menuju ke toilet untuk memuntahkannya lagi.

Meninggalkan kamar mandi dengan perut kosongku, aku tersandung dan jatuh ke Miyagi yang berdiri di pintu.
Aku berterima kasih padanya, "tidak, ini sudah menjadi tugasku" katanya, tapi dia pastinya bukan seorang gadis pemalu.
Aku mencoba menggesernya ke samping, dan menuju ke bak cuci. Membasuh mukaku, berkumur, dan mengambil tegukan air dari gelas, kemudian berbaring kembali ke tempat tidurku. Kepalaku sangat sakit dan panas yang menambah rasa sakit dikepalaku ini.

"Saya sudah menjelaskan ini kemarin," kata Miyagi, mendadak berdiri disampingku.
"Sejak masa hidup anda dikurangi menjadi kurang dari satu tahun, mulai hari ini saya akan mengawasi anda. oleh karena itu,...."
"Bisakah ini menunggu sampai nanti?" aku sela dengan jengkel.
"Mengerti," katanya. Miyagi mengambil bawaannya ke sudut ruangan, dan duduk dia duduk  berlutut serta punggungnya menghadap ke dinding.
Setelah itu, dia hanya melihatku. apakah dia bermaksud mengawasiku kapanpun saat aku berada di apartemenku?

"Lebih baik anda berpura-pura seperti saya tidak ada disini" kata Miyagi dari sudut ruangan "Silahkan lakukan seperti biasanya"
Tetapi, apa yang dia katakan tidak merubah realita bahwa aku terus diawasi oleh seorang gadis yang umurnya tidak berbeda jauh denganku.
Aku tidak bisa tidak merasa gelisah, dan terus melirik sekilas pandangan Miyagi. Dia terlihat sedang menulis sesuatu dalam buku catatan. mungkin itu semacam catatan observasi.
Pengawasan satu sisi itu tidak menyenangkan. setengah bagian diriku yang dilihatnya serasa terbakar oleh tatapannya.


Memang, aku menerima penjelasan secara rinci mengenai sistem pengawasan ini kemarin.
Menurut penjelasan Miyagi,  beberapa orang yang menjual masa hidup mereka menjadi putus asa saat umur mereka berada di bawah satu tahun lagi, dan mulai menimbulkan masalah jika mereka dibiarkan sendiri. Aku tidak meminta penjelasan tentang masalah seperti apa, tapi aku bisa membayangkannya.
Karena salah satu kunci terbesar yang dimiliki orang mengikuti peraturan adalahvkeyakinan mereka bahwa mereka akan terus hidup. Tapi jika kamu memiliki konfirmasi bahwa hidupmu akan segera berakhir, semua itu akan berubah. Kamu tidak dapat membawa keyakinan itu setelah kematian.

Sistem observasi/sistem pengawasan adalah sebuah sistem untuk mencegah orang-orang yang putus asa ini membuat kerugian pada orang lain.
Pada dasarnya, orang-orang dengan masa hidupnya kurang dari satu tahun untuk pergi diawasi, dan jika mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas, pengawas akan segera menghubungi kantor pusat untuk menghentikan hidup mereka di tempat, terlepas dari umur mereka yang biasa.
Yang berarti gadis yang duduk di sudut kamarku adalah panggilan telepon satu sisi untuk mengakhiri hidupku.  

Bagaimanapun - dan ini nampaknya didukung oleh statistik - beberapa hari sebelum kematian, orang orang tampaknya kehilangan hasrat untuk mengganggu orang lan. Jadi ketika tersisa tiga hari lagi sebelum masa hidup habis, si pengawas akan pergi.
Hanya untuk tiga hari terakhir, kau bisa sendirian.

 *****

Sepertinya aku berakhir ketiduran. Sakit kepala dan rasa mualku menghilang saat aku bangun. jam menunjukkan pukul 7 sore. Aku hanya bisa bilang bahwa ini merupakan cara yang menyedihkan untuk menghabiskan hari pertama dalam tiga bulan paling penting dalam hidupku.
Miyagi masih mengawasi dari sudut ruangan sama seperti sebelumnya. Aku menegaskan untuk
melakukan hal seperti biasanya, mencoba menghiraukan keberadaannya.
Kubasuh mukaku dengan air dingin, melepas baju di kamarku, menggantinya menjadi jeans yang sudah pudar warnanya dan kaos yang lusuh, dan pergi keluar untuk makan malam.
pengawasku Miyagi mengikuti sekitar lima langkah dibelakangku.

Saat aku berjalan, sinar matahari yang tenggelam dari barat membuatku pusing. Sinar hari ini berwarna kuning transparan.
Aku mendengar suara jangkrik yang nyaring dari semak belukar yang jauh. Kereta api belari dengan lesu menyusuri jalurnya di samping jalan.

Aku tiba di restotan otomatis sepanjang bekas jalan besar nasional. sebuah gedung yang lebar, dan pepohonan yang tumbuh dibelakangnya seolah seolah membayanginya.
Petunjuk jalan, atap, dinding - ini sangat sulit untuk menemukan sebuah tempat yang belum sepenuhnya menghilang. Di dalamnya terdapat deretan mesin penjual, dan di depan mereka ada dua meja tipis dengan tempat beberapa bubuk cabe rawit dan asbak.
Di sudut terdapat mesin permainan yang umurnya melebihi satu dekade, yang mana  background musiknya sedikit mencerahkan tempat dengan suasana yang sepi.

Kumasukkan uang 300 yen kedalam mesin penjual mie, lalu ku ambil sebatang rokok saat menunggu prosesnya selesai. Miyagi duduk diatas bangku, melihat sebuah cahaya yang berkelap kelip di atas. saat dia mengawasiku, bagaimana dia berniat untuk makan?
Aku tidak mengira bahwa dia tidak butuh makan atau minum, tapi dia memiliki sebuah aura mistis padanya sehingga aku bisa menerimanya bila dia memberitahuku.
Dia seperti sebuah mesin yang tidak biasa, bisa dibilang, dia tidak seperti manusia seutuhnya.



Setelah melahap soba tempura dengan semua panas dan rasa yang murahan, aku membeli sekaleng kopi dari mesin penjual yang lain. Rasa manis es kopi menyebar secara menyeluruh ke dalam tubuhku yang kering.
Bahkan meski hidpku hanya tersisa 3 bulan lagi, aku masih pergi membeli  makanan yang tidak menggugah selera dari mesin penjual karena hanya itu yang aku tahu.
Hingga sampai saat ini, menghabiskan uang dan makan di restoran spesial bukanlah pilihanku. aku terus hidup dalam kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir, dan aku kehilangan banyak imajinasi pada waktu itu juga.

Sehabis menyelesaikan makan malam dan kembali ke apartemen, kuambil sebuah pulpen, membuka buku tulis, dan menulis sebuah daftar apa yang kulakukan selanjutnya.
Walaupun hal pertama yang lebih mudah terpikirkan sesuatu yang aku tidak ingin lakukan, semakin banyak kugerakkan tanganku, semakin banyak pula sesuatu yang ingin kulakukan sebelum meninggal datang ke kepalaku. 

Hal-hal yang kulakukan sebelum meninggal

- Tidak pergi sekolah
- Tidak melakukan pekerjaan
- Jangan menahan keinginan
- Makan sesuatu yang enak
- Melihat sesuatu yang indah
- Menulis surat wasiat
- Bertemu dan berbicara dengan naruse
- Memberitahu perasaanku kepada Himeno

"Aku sarankan tidak melakukan itu"
Aku menengok dan Miyagi tidak berada di sudut, melainkan dia berdiri di belakangku sambil melihat apa yang kutulis.
Dia secara khusus menunjuk pada tulisan terakhir, "memberitahu perasaanku kepada Himeno"
"Apa pengawas mempunyai hak untuk memeriksa dan mencampuri mengenai ini?", tanyaku.
Miyagi tidak menjawab pertanyaanku.sebagai gantinya, dia menceritakanku hal ini.

"...Tentang Himeno-san. Keadaan menuntunnya untuk melahirkan seorang anak pada umur 17 tahun. Kemudian dia keluar dari sekolah SMA dan menikan saat 18 tahun, tapi satu tahun kemudian dia bercerai. pada 20 tahun, dia sekarang sedang  membesarkan anaknya seorang diri. dalam waktu dua tahun, dia akan lompat untuk kematiannya, meninggalkan sebuah catatan bunuh diri...Jika anda pergi menemuinya sekarang, tidak ada hal baik yang akan datang. Bagaimanapun, Himeno-san hampir
tidak mengenali anda sepenuhnya. Tentu, itu termasuk janji yang anda buat saat umur 10 tahun dulu."

Aku kesulitan untuk memaksa keluar suara dari tenggorokanku, aku merasa seperti udara dengan cepat meninggalkan paru-paruku.
"...Kau mengetahui banyak tentang aku?" aku akhirnya mengeluarkan napas, mencoba menyembunyikan kekagetanku.
"Dilihat dari apa yang kau bicakan...apa kau mengetahui semua itu akan terjadi?"lanjutku.
Miyagi berkedip sekejap, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Semua yang kutahu hanya kemungkinan yang mungkin terjadi di dalam dan sekitar hidup anda Kusunoki-san. tentu saja, ini semua informasi yang tidak berarti saat ini, sebagaimana masa depan anda berubah drastis ketika anda menjual masa hidup anda, Apalagi, kemungkinan masa depan yang aku tahu hanyalah hal – hal  pentingnya saja."

Masih melihat ke dalam buku catatannya, Miyagi secara perlahan menaikkan tangan kanannya dan
melipat rambut di belakang telinganya.
"Kelihatannya Himeno-san adalah orang yang sangat berarti dalam hidup anda, Kusunoki-san.
Ringkasan hidup anda dipenuhi mengenai dia."
"Itu hanya spekulasimu," bantahku."Itu semua juga hampir tidak berarti untukku, bukan?"
"Memang benar" kata Miyagi. "Bagaimanapun, bila anda ingin pendapatku, menemui  Himeno-san hanya membuang-buang waktu.itu hanya merusak ingatan anda mengenainya."
"Terima kasih untuk perhatianmu, tetapi itu sudah rusak dari dulu."
"Tetapi anda harus masih menggunakan waktu anda dengan bijak,kan?"
"Yeah, mungkin. bisakah kamu berbicara kepadaku mengenai masa depanku. apa akan berakhir seperi itu?"
Miyagi memiringkan kepalanya." izinkan aku bertanya. mengapa anda berpikir aku tidak bisa membicarakannya?"

Aku tidak bisa memikirkan jawaban untuk itu. Bahkan jika aku entah bagaimana menggunakan pengetahuan dari masa depan untuk menyebabkan masalah, Miyagi akan menghubungi kantor pusat dan hidupku akan berakhir pada saat itu juga.
"Pada dasarnya kami menginginkan anda memiliki akhir yang damai untuk hidup anda," kata Miyagi.
"Untuk akhir itu, aku mungkin bisa memprediksi masa depan anda dan memberikan peringatan."
Aku menggaruk kepalaku. aku ingin mengatakan sesuatu pada gadis ini.

"Lihat, mungkin kau akan memberitahuku ini 'karena kau khawatir aku akan tersakiti dan kehilangan harapan. tapi tidak bisa memberitahuku karena mempertimbangkan alasan aku akan tersakiti dan kehilangan harapan?’ Yeah... Seperti, aku yakin kamu berpikir jika aku tidak mendengar situasi langsung darimu, melainkan dari mulut Himeno, itu akan lebih menyakitkan. Dan Itu pasti cukup mengganggu Anda. "
Miyagi mendesah lelah. "Apakah begitu. Yah, saya hanya memiliki niat baik. Tapi kalau memang begitu,
 mungkin aku memang terlalu mudah tersinggung. Saya harus meminta maaf."
Dia segera menunduk.

"... Tapi aku akan mengatakan satu hal. Anda seharusnya tidak berharap akan adanya ketidakberpihakan atau konsistensi sehubungan dengan kejadian yang akan datang. Anda telah menjual umur Anda. Ini menandakan sebuah lompatan ke dunia irasional yang tidak mengikuti akal. Dan kehendak bebas dan pilihannya tidak berarti, karena Anda melakukannya dengan kemauan Anda sendiri. "
Dengan itu, Miyagi kembali ke sudut ruangan dan mengatur posisi lututnya.

"Katakanlah, dalam hal ini, setelah mengatakan, ’alasan untuk terluka dan kehilangan harapan,’ saya akan menahan diri untuk tidak mencampuri item lain dalam daftar Anda. Lakukan sesukamu, asalkan Tidak mengganggu orang lain, saya tidak akan menghentikan Anda. "
Tidak perlu memberitahuku itu, pikirku.

Aku tidak mengabaikan fakta bahwa Miyagi memiliki tampilan yang agak muram.

Tapi aku tidak memikirkan apa arti ekspresi itu.        


   
November 27, 2017

Three Days Happiness Bahasa Indonesia Chapter 2

Chapter 2 - Awal Dari Akhir


"Aku minta maaf".

Berkali-kali aku tundukkan kepalaku dan mengucapkan kalimat tersebut. Setelah ke-19 kalinya, kepalaku mulai terasa pusing, akupun pingsan seketika. Ini terjadi pada saat aku bekerja part time di "beer garden". Penyebabnya jelas, makanku sedikit sekali hari itu, ditambah berada di bawah terik matahari yang sangat panas.

Kupaksa diriku untuk pulang ke apartemen. Tiba-tiba, kedua mataku terasa sakit, seperti ada yang mencoba mendorong kedua mataku dari belakang. Akhirnya, kuputuskan untuk berobat ke rumah sakit. Dompetku serasa tersiksa dengan penggunaan taksi sebagai alat transportasiku untuk menuju UGD rumah sakit tersebut. Untungnya, atasanku di tempat kerja menyarankanku untuk beristirahat hari ini.

Aku tahu kalau aku harus berhemat. Masalahnya, apalagi yang bisa kuhemat? entah apa makanan terakhir yang kumakan, rambutku saja sudah tidak kuurus selama 4 bulan ini, malahan mantel pemberian yang kuterima musim dingin tahun lalu ini adalah pakaian terbaruku. Sejak bangku kuliah, Aku jarang bergaul dengan teman sebaya. Aku lebih suka hidup secara mandiri dan tidak melibatkan keluargaku secara ekonomi.

Kalau kamu bertanya bagaimana tempat tinggalku, kukatakan saja kalau aku tidak punya TV ataupun komputer. Yang kupunya hanyalah koleksi CD dan buku. Memikirkan untuk menjual mereka demi mendapatkan uang ekstra hanya membuatku bertambah sedih saja.  Namun perlahan, keputusan untuk melakukan hal itu sudah tiba.

Sebelum menjual mereka kuputuskan setidaknya mendengarkan beberapa CD dulu. Dengan mengenakan headphones, kubaringkan tubuhku di atas lantai sambil mendengarkan beberapa lagu dari CD koleksiku. Kunyalakan kipas angin yang kubeli dari toko bekas dan sesekali pergi ke dapur untuk melepaskan dahaga.

Mungkin ini pertama kalinya aku tidak berangkat kuliah. tapi kupikir mana ada orang yang memikirkan kehadiranku, bahkan mungkin mereka tidak terlalu memperhatikannya.
Satu demi satu tumpukan album CD yang ada di sebelah kananku beralih ke sebelah kiriku.

Ini adalah musim panas ke-20 bagiku, tapi seperti Paul Nizan[1], aku akan melarang seseorang untuk berkata bahwa ini merupakan tahun terbaik dalam hidupmu.

 " Sesuatu yang baik akan menghampiri kita  pada 10 tahun ke depan, dan kemudian kita akan merasa sangat beryukur dalam menjalani hidup ini."

Perkataan Himeno waktu itu terlintas dalam pikiranku, tapi ternyata dia salah.  Faktanya, sesuatu yang baik tidak pernah terjadi, dan sesuatu yang baik itu tidak akan pernah datang menghampiriku. Aku penasaran bagaimana dia sekarang. Kami tidak pernah bertemu sejak dia pindah sekolah di kelas 4.

Seharunya ini tidak terjadi dengan cara seperti ini. Tapi kurasa, ini adalah jalan yang terbaik. Karena dengan dia tidak bersamaku dari SMP sampai Universitas, dia tidak akan pernah melihatku menjadi  orang yang sangat membosankan. Mungkin bisa dibilang seperti ini : jika teman masa kecilku pergi ke sekolah yang sama denganku, Aku pasti tidak berakhir menjadi seperti ini.

Ketika dia berada di dekatku, itu seperti ada suatu sensasi yang tejadi padaku. Jika aku melakukan sesuatu yang memalukan, dia pasti akan menertawakanku, sebaliknya bila aku melakukan sesuatu yang hebat, dia malah mengejekku. Mungkin karena perilakunya itulah yang membuatku merasa mencoba melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi.

Selama beberapa tahun ini Aku menyesali dampaknya. Apa yang dipikirkan oleh diriku sepuluh tahun yang lalu dengan keadaanku sekarang ya?

Setelah menghabiskan tiga hari untuk mendengarkan CD, kumasukkan beberapa CD dan buku ke dalam bungkus kertas, dan membawa mereka ke kota untuk di jual. Telingaku mulai berdengung saat kulangkahkan kakiku keluar dari apartemen. Kukira itu suara dari beberapa jangkrik di lingkunganku, tapi rasanya suara tersebut tepat berada di sampingku.

****

Pertama kalinya aku mengunjungi toko buku ini adalah musim panas yang lalu. Waktu itu, setelah beberapa bulan aku memasuki masa kuliah. Aku masih tidak terlalu ingat dengan denah kota ini, jadi aku tersesat dan terus memeriksa tempat dimana aku sedang berjalan. Setelah melalui jalan kecil dan mendaki beberapa tangga, Aku menemukan toko buku ini.

Setelah itu, kucoba untuk mengunjunginya beberapa kali, tapi Aku tidak bisa mengingat tempatnya dimana.  Meskipun  Aku mencoba mengingat nama tokonya, Aku selalu melupakannya. Jadi, kapanpun Aku tersesat di jalan ini, Aku selalu berakhir di tempat ini.  Hampir seperti jalan ini berubah dengan kemauannya sendiri untuk memandu ke toko buku ini. Tapi sekarang, aku mampu mengunjungi toko buku ini tanpa tersesat.
Di depan toko tersebut, terdapat bunga moorning-glory yang sedang bermekaran. Tidak seperti biasanya, aku memeriksa buku bekasku hanya untuk meyakinkan tidak ada yang ketinggalan, setelah tidak ada yang berbeda, Aku memasuki toko tersebut.

Ruangan tersebut sangat gelap, dengan bau kertas tua yang meliputi seluruh ruangan.Aku mendengar suara radio yang diputar di belakang.

Dengan berjalan ke samping, kulewati jalan sempit yang ada di dalam toko, kemudian aku memanggil pemilik toko.  seorang Pria tua dengan wajah yang terlihat keriput, wajah kelelahannya bisa dilihat di antara tumpukan buku yang ada di depannya.
Pria tua itu tidak pernah menunjukkan senyumannya kepada siapapun. Dia selalu menundukkan kepalanya ke bawah, membunyikan beberapa benda dengan tenang.

Tapi hari ini berbeda. Ketika aku membawa banyak buku untuk di jual. dia mengangkat kepalanya dan menatapku langsung. Wajahnya terlihat terkejut dengan sesuatu. yah, Aku bisa mengerti itu.
Buku yang kujual merupakan buku yang nilai kualitasnya sudah menurun, alias sudah tidak layak untuk dibaca. Memberi mereka untuk para pecinta buku sangatlah sulit.

"Apa kamu pindah atau ada sesuatu?" Tanyanya kepadaku, suaranya terdengar sedikit terkejut.
"Tidak, bukan sesuatu seperti itu." 
"Lalu..." ucapnya, sambil melihat ke bawah tumpukan buku,"Mengapa melakukan sesuatu yang sia-sia?"
"Kertas tidak bisa dibuat jadi makanan, serta tidak bernutrisi." Jawabku.
Sepertinya Dia mengerti candaanku,"Kalau begitu.." mulutnya bergumam. Kuanggukan kepalaku, dan dia menyilangkan tangannya seolah-olah memikirkannya dengan serius. Menyerah dengan pemikirannya, dia lalu menghela napas, "tunggu 30 menit untuk mengevaluasinya" katanya dan membawa tumpukan buku ke belakang.

Aku keluar dari toko dan melihat sebuah papan iklan yang ada di samping toko. Di sana terdapat beberapa poster mengenai festival musim panas, melihat kunang-kunang, mengamati bintang, dan sebuah klub buku. Dari sisi lain di pagar, Aku mencium aroma dupa dan tatami, bercampur dengan aroma pepohonan -  secara keseluruhan aromanya serasa nostalgia. Dari kejauhan bisa terdengar suara lonceng angin yang berdering dari rumah yang jauh.

Setelah evaluasi selesai, Aku dibayar dua pertiga dari harga yang kuharapkan. Ketika Aku hendak berbalik, Pria tua itu mulai mengatakan sesuatu.

"Hey, Aku ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Maaf?"
"Kamu sedang kesulitan uang,kan?"
"Ini bukan pertama kalinya Aku seperti ini," Aku menjawab secara ambigu, dan Dia menganggukan kepalanya, seakan mengerti sesuatu.
" Aku tidak peduli seberapa miskinnya dirimu, atau seberapa malangnya hidupmu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." 

Dia pun berhenti sejenak.
"Apa kamu ingin menjual beberapa masa hidupmu?"


Dilempari pertanyaan yang tidak wajar, Aku menjawab dengan lambat.
"Masa hidup?" Aku menanyai kembali, menegaskan apa yang Aku dengar darinya.
"Yeah, masa hidup. tapi bukan Aku yang membelinya. Aku tahu itu bisa dijual cukup banyak."
Kelihatannya bukan seperti panas matahari membuat telingaku mempermainkan diriku.

Aku berpikir sejenak. Mungkin ketakutan pada umur tua yang membawa Pria tua ini menanyakan sesuatu yang gila - itulah kesimpulan pertama yang Aku dapatkan.

Melihat ekspresiku, Pria tua itu mulai berbicara kembali.
" Jangan berpikir untuk mengejekku bahwa Aku bercanda. Atau berpikir bahwa Aku sudah mulai gila. Tapi kalau kamu ingin menertawakan kegilaanku, pergilah untuk melihat sendiri, akan kuberi tahu tempatnya. kamu akan melihat bahwa Aku tidak berbohong."

Jangan menarik kesimpulan dengan cepat, itulah yang dia maksudkan kepadaku. Setelah itu, Aku mendengar beberapa penjelasannya. Rupanya, di lantai 4 di sebuah gedung yang tidak jauh dari sini, terdapat sebuah toko yang akan membeli masa hidupmu. Berapa banyak harga yang di dapat itu tergantung dengan orangnya. Lebih banyak harga yang didapatkan bila kehidupan yang terbentang di hadapanmu lebih memuaskan.

"Aku tidak tahu berapa banyak, tapi kamu tidak terlihat seperti orang jahat, dan kukira kamu penggemar buku. Pasti punya beberapa harga,kan?"
Merasa akrab dengan kalimat tersebut, Aku bernostalgia kembali dengan pelajaran moral yang kudengar semasa SD dulu.

Menurutnya, selain masa hidup, kamu juga bisa menjual waktumu dan kesehatanmu di toko tersebut.
"Apa bedanya antara masa hidup dengan waktu?" tanyaku." meskipun Aku juga tidak terlalu yakin dengan perbedaan antara masa hidup dengan kesehatan."
"Aku tidak tahu bagaimana rinciannya, karena Aku tidak pernah menjualnya. Tapi orang yang sakit parah dapat hidup beberapa dekade, dan orang yang sehat dapat meninggal tiba tiba, pasti ada perbedaannya di sana,kan? Aku tidak bisa membayangkan apa yang di jual dengan waktu." ucapnya.

Kemudian Pria tua tersebut menggambar denah toko di kertas kecil dan menulis nomor telepon untukku. Aku berterima kasih kepadanya dan meninggalkan toko.

Tapi Aku yakin bahwa "toko yang bisa membeli masa hidup" hanyalah imajinasi dari Pria tua itu untuk membuat dirinya merasa lebih baik.
Dia pasti takut dengan kematian yang sudah mendekatinya dan datang dengan gagasan yang gila ini. Karena, maksudku, bukankah itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan,kan?

Harapanku yang setengah benar, itu pasti terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Sisanya, di sana pasti ada toko yang membeli masa hidupmu.

****

Setelah mengunjungi toko buku, kulangkahkan kakiku menuju toko CD. Pantulan sinar matahari di atas aspal membuat jalanan menjadi panas, dan butiran keringat mulai muncul di sekitar wajahku. Tenggorokanku terasa kering, tapi Aku tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli minuman dari mesin penjual minuman. Yang kubisa hanyalah menahan rasa haus ini sampai Aku kembali ke apartemen.

Tidak seperti toko buku tadi, toko CD mempunyai sirkulasi udara yang baik. Saat pintu otomatis terbuka, Aku merasa tubuhku merasa segar kembali. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan membiarkan udara segar ini meresap ke dalam tubuhku.

Di dalam toko CD, terdengar lagu khas musim panas yang populer, yang mana lagu tersebut sudah populer ketika masa SMP ku dulu. Aku pergi ke meja kasir, tempat di mana si penjaga toko bekerja. kupanggil dia dan langsung menunjukkan bungkus kertas yang ada di tangan kananku. Dia menatapku dengan ragu. Wajahnya secara perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyiratkan bahwa Aku mengkhianatinya. Sebuah wajah yang mengatakan " Bagaimana bisa kamu rela membiarkan pergi semua CD ini?" sebuah reaksi yang sama persis dengan Pria tua dari toko buku itu.

"Bagaimana bisa terjadi semacam ini?" tanya dia. Dia adalah seorang pria yang berumur hampir 30 tahun dengan pandangan mata yang sayu. dia mengenakan sebuah kaos band rock dan gelang kain di tangannya, dan jari tangannya selalu bergerak dengan gugup.
Hampir sama dengan yang terjadi di toko buku, Aku menjelaskan alasan-alasanku yang ingin menjual koleksi CD yang kupunya.
Setelah mendengar penjelasanku, dia kemudian menepukkan kedua tangannya dengan berkata "kalau begitu..."

" Aku mendapatkan sesuatu yang baik untukmu. Mungkin seharusnya Aku tidak memberitahumu mengenai hal ini, tapi karena selera musik kita sama. Maka ini hanya ada diantara kita saja,oke?"
Aku merasa itu terdengar seperti seorang penipu yang sedang menjalankan aksinya.

"Di kota ini terdapat toko yang bisa membeli masa hidupmu!" katanya dengan suara yang terdengar gembira.
"Masa hidup?" Aku menanyainya kembali. tentu, Aku menyadari ini akan mengulangi pembicaraan yang baru saja Aku alami tadi.
"Yeah, masa hidup" dia menegaskannya dengan serius. Mungkinkah ini jenis pembulian baru yang hanya untuk mengejek orang - orang malang? 

Ketika Aku sedang bingung bagaimana meresponnya, dia terus menjelaskannya dengan cepat. Itu sebagian besar sama dengan apa yang dibicarakan oleh Pria tua itu kepadaku. Tapi dalam kasus si penjaga toko ini, ternyata dia pernah menjual beberapa masa hidupnya. 

Saat kutanya berapa harga yang dia dapatkan, dia hanya menjawab " Aku tidak bisa memberitahumu". kemudian dia mulai menggambar denah dan menulis nomor telepon, mungkin ini juga sama apa yang diberikan pak tua itu kepadaku.
Aku berterima kasih kepadanya dan meninggalkan toko tersebut.

****

Udara panas langsung menerpa kulitku saat Aku berjalan keluar dari toko CD. 'Hanya hari ini', Aku mengatakannya pada diriku sendiri. kumasukkan sebuah uang koin ke dalam mesin penjual terdekat, dan memilih minuman jus apel.

Saat kedua tanganku menggenggam minuman jus ini, perasaan dingin langsung mengalir dari kedua tanganku. kubuka penutupnya dan langsung menikmati minuman ini. Segera, rasa manis dan segar minuman ini menyebar keseluruh mulutku.

Karena tenggorokanku terasa sangat kering, hanya beberapa tetes dari minuman ini membuatku tenggorokanku merasa senang. Setelah menghabiskan beberapa saat untuk melepaskan dahaga, kubuang bekas minuman ini ke tempat sampah.

Aku mengambil denah lokasi yang digambar dua orang tadi dari kantongku dan melihatnya. Hanya dengan berjalan kaki saja itu pasti terasa jauh.

Hanya berpikir seperti itu saja membuatku merasa idiot, karena ini terlihat seperti Aku ingin pergi ke gedung itu dan menjual masa hidup, waktu, atau, kesehatanku. Karena itu, ku gulung kertas denah tadi dan langsung membuangnya.

Tapi anehnya, kutemukan diriku berada di depan gedung tersebut. gedung yang tua, dengan dinding yang sangat gelap sehingga tidak mungkin melihat bagaimana warna aslinya. Kemungkinan bila kamu bertanya pada gedungnya sendiri, gedung itu tidak bisa mengingat apapun.  Gedung ini sangat kecil sehingga Aku merasa itu bisa dihancurkan oleh gedung yang ada disekitarnya.  liftnya tidak berfungsi, jadi Aku memakai tangga untuk menuju ke lantai 4.  
Dengan diterangi bola lampu yang berwarna redup dan udara yang pengap, kulalui tangga ini satu persatu sambil menyeka keringatku.

Aku tidak percaya mengenai cerita menjual masa hidup.

Aku lebih percaya bahwa kedua orang itu menggunakan metafora[2] untuk menyebutkan pekerjaan menguntungkan yang membuat mereka tidak bisa berbicara secara langsung, "Pekerjaan dengan resiko yang memendekkan masa hidupmu" semacam seperti itu.

Tidak ada tanda tertulis di pintu yang kutemukan di lantai empat ini. Tapi entah kenapa, Aku yakin bahwa tempat ini yang mereka berdua bicarakan. Kupandangi gagang pintu untuk beberapa saat, lalu dengan membulatkan tekad kupegang gagang pintu tersebut dan memasuki ruangan.

Tidak seperti yang dibayangkan, ruangan tersebut terlihat bersih dibandingkan dengan eksterior gedung. Di tengah ruangan terdapat barisan lemari kaca yang kosong, dan sepanjang dinding terdapat pula rak yang kososng, walaupun sedikit ganjil, tapi itu terasa alami bagiku.

Dari pandangan umum, ruangan ini sangatlah aneh. seperti toko emas tetapi tidak ada emasnya, atau toko buku tetapi tidak ada bukunya. itulah perbandingan yang kubuat dari ruangan ini.
Aku tidak memperhatikan disampingku ada seseorang sampai dia berbicara.

"Selamat datang"



Kualihkan pandanganku ke arah suara tersebut dan kulihat seorang wanita yang sedak duduk, mengenakan setelan seorang pekerja kantor. dia melihatku dari kacamatanya yang tipis seolah-olah sedang mengevaluasi.

Aku hendak mengatakan "Apa-apaan dengan toko ini?", tetapi wanita tersebut berbicara kembali, "Waktu? kesehatan? atau masa hidup anda?"

Aku sudah muak memikirkanya. Jika kamu ingin mengejekku, lakukan saja secara  langsung.
"Masa hidup" kujawab dengan segera. kupikir untuk sekarang, kubiarkan saja. Apa aku kalah dalam poin ini?

Ini mungkin cuman tebakanku saja, tapi Aku berasumsi bahwa masih tersisa 60 tahun yang tersisa dalam hidupku. dan menurut perhitunganku itu cukup sekitar 600 juta yen. 
Aku tidak sesombong semasa SD dulu, tapi Aku masih percaya bahwa Aku lebih baik dari kebanyakan orang, jadi kupikir Aku bisa mendapatkan 10 juta yen pertahun dari masa hidupku. Bahkan setelah menginjak masa yang ke-20, Aku tidak bisa menyingkirkan pemikiran bahwa Aku adalah "orang yang spesial". Kepercayaan semacam itu tidak didukung oleh apapun, Aku hanya mencoba mengaitkannya dengan masa kejayaanku dulu.

Aku tenggelam dalam pemikiranku, tanpa tanda mencoba kembali ke realitas, dan memberitahu diriku sendiri bahwa suatu hari nanti. Aku pasti menjadi orang yang sangat sukses, sehingga Aku bisa menghapus kesia-siaan dalam hidupku seperti tidak pernah terjadi.

Semakin banyak waktu yang kulalui, semakin besar pula harapan untuk sukses itu tumbuh. semakin lama kamu terpojok, maka semakin sakit pula yang kamu rasakan ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Tetapi seperti yang diharapkan. bila sepuluh poin yang kamu miliki turun di bawah sembilan, sebuah pengorbanan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. meskipun kamu tahu bila kamu menyukai untuk menyerang, tetapi kamu tidak punya pilihan lain selain mengayunkan secara penuh dan menyerang tujuan yang jauh.

Aku datang untuk mimpi yang abadi. kecuali Aku mendapatkan kesuksesan yang melegenda sehingga namaku akan tersebar dan diketahui oleh semua orang dan tidak akan pernah terlupakan sepanjang masa. Ahahaha sudah cukup. kupikir Aku sudah tidak bisa ditolong lagi.

Mungkin ini sudah menjadi takdirku untuk dibenarkan, Aku butuh seseorang.Hanya sekali, yang bisa membantahku sepenuhnya, yang bisa memukul diriku sampai Aku tersungkur.
Berpikir dengan cara seperti ini, menjual masa hidupku adalah jawaban yang sangat tepat. Tidak hanya masa laluku, tetapi juga seluruh hidupku akan sepenuhnya ditolak.

Melihat lebih dekat padanya, ternyata wanita tersebut masih sangat muda. Dari penampilannya, kukira dia berumur sekitar 18 sampai 24 tahun.
"Penilaian anda akan mengambil waktu selama 3 jam," katanya, sambil tangannya mengetik di atas keyboard.

Aku kira penilaiannya akan melalui proses yang sangat membosankan, tapi  kelihatannya itu tidak dilakukan, bahkan namaku saja tidak dia tanyakan. Entah bagaimana mereka bisa mengetahui nilai kehidupan manusia yang berharga hanya dengan waktu 3 jam. Tentu.penilaian secara ketat akan diputuskan oleh mereka, tidak secara universal. Tapi menurut standar mereka.

Aku pergi meninggalkan gedung dan berjalan-jalan di sekitarnya tanpa tujuan. Langit mulai menunjukan warna gelapnya. Aku merasakan kakiku mulai terasa letih dan Aku juga sangat lapar. Aku ingin menuju ke sebuah restoran.  tapi aku ingat, dompetku hanya tinggal beberapa yen yang tidak mungkin untuk dihabiskan untuk makan di sebuah restoran.

Beruntungnya, Aku menemukan sebuah bungkus rokok dengan korek apinya di bangku di sekitar distrik perbelanjaan.Aku melihat lingkungan sekitar, tapi sepertinya tidak ada seseorang yang terlihat sebagai pemilik bungkus rokok tersebut.

Kemudian, Aku duduk di bangku itu, secara diam - diam memasukkan mereka ke dalam kantongku, lalu pergi ke dalam gang. Aku berdiri di tumpukkan potongan kayu, menyalakan sepuntung rokok dan mulai menghisapnya.ini sudah sangat lama sejak terakhir Aku merokok, jadi ini menyakiti tenggorokanku.

Setelah beberapa saat, kuinjak puntung rokok dan mulali menuju ke stasiun. tenggorokanku mulai terasa kering lagi. Aku duduk di bangku taman dan melihat sekumpulan burung merpati. Seorang wanita paruh baya duduk di seberangku sedang memberi makan mereka. Cara berpakaiannya terlalu muda untuk sekitar usianya, serta caranya memberi makan terlihat gelisah; melihatnya membuatku merasakan sebuah perasaan yang tidak yakin apa perasaan tersebut. Ditambah, melihat para burung mematuk roti, Aku merasa benci karena itu menghasut rasa laparku.

....Kuharap masa hidupku bisa dijual banyak.

Sepeti kebanyakan orang saat menjual sesuatu, Aku mencoba menebak harga terendah yang kudapat sampai Aku melihat hasil yang sebenarnya. Aku bermula-mula itu sekitar 600 juta, tapi seolah-olah untuk menghindari penawaran lebih jauh, Aku mulai membayangkan skenario terburuk.
Memikirkan skenario itu, Aku mulai berpikir mungkin mendapatkan 300 juta. Saat Aku kecil dulu, Aku berpikir bahwa Aku layak untuk harga 3 miliar, jadi dibandingkan dengan itu, bisa dibilang taksiran ini lebih rendah.

Tapi tetap saja Aku masih terlalu melebihkan nilai hidupku. Aku ingat pernyataan Himeno bahwa pengeluaran karyawan biasa bisa mencapai 200 atau 300 juta yen. Meskipun, ketika pertama kali memikirkan nilai kehidupan saat semasa Sekolah Dasar dulu, dan  mendengar perkataan dari seorang anak perempuan dengan masa depan yang suram, Aku berpikir "kamu tidak bisa menempatkan harga yang sama dengan harga hidupmu, Aku mungkin diminta untuk biaya pembuangan!" Hal itu aku sudah lupakan.

Aku kembali ke toko lebih cepat dan merasa mengantuk di atas sofa, kemudian dibangunkan oleh wanita yang memanggil namaku. Nampaknya evaluasiku sudah selesai.

"Kusunoki-san" kata wanita itu - dia pasti mengatakan itu. Aku tidak ingat memberikan namaku padanya, atau apapun mengenai identitasku. Tapi dia mengetahuinya. Memang, tempat ini beroperasi melebihi akal sehat yang ada.

Ini sangat aneh, saat aku kembali ke gedung ini, aku mempercayai cerita tentang menjual masa hidup. Aku memikirkan banyak alasan mengapa hal ini bisa terjadi, tapi aku tidak bisa menemukannya satupun, sampai wanita itu berdiri di hadapanku.

Mungkin ini terasa aneh untuk mendapatkan kesan mendalam dari seseorang yang baru pertama kali kita temui. Tapi... Aku merasa semua hal mengenainya tidak dipenuhi kebohongan.
Tanpa peduli tentang rasa keadilan, logika, atau kualitas mereka, seseorang yang hanya benci kesalahan. Dan kesan seperti itulah yang kurasakan darinya. Tapi melihat kembali sebelumnya, Aku menyadari bahwa naluriku tidak pernah benar.

....Mari kita kembali ke evaluasi.

Segera saat Aku mendengar kata "tiga" dari mulutnya, Sejumlah harapan tumbuh di dalam hatiku, Aku berpikir untuk sekilas bahwa wajahku bercahaya dengan ekspetasi. Naluriku mengatakan bahwa taksiranku saat kecil dulu yang sekitar 3 miliar itu benar.


Melihat wajahku, wanita itu terlihat canggung dan menggaruk pipinya dengan jari. Tampak terasa bahwa dia tidak bisa memberitahuku secara langsung. Dia melihat ke layar komputer, mengetik sesuatu secara cepat, dan meletakkan kertas printout di atas konter.
"Ini adalah hasil dari evaluasi anda. Apa yang anda ingin lakukan?"

Kukira awalnya angka 300.000 itu harga dari pertahun. dengan perkiraan  80 tahun masa hidup, itu cukup sekitar 24 jutaan. kuulangi terus menerus angka "24 juta" dalam kepalaku. Aku merasa semua energi dalam tubuhku mulai menghilang. Tentu saja itu terlalu murah bukan?

Aku mulai meragukan toko ini untuk sesaat. mungkin ini adalah pengaturan dari pertunjukkan TV, atau sebuah percobaan psikologi. tidak, mungkin ini hanya gurauan yang buruk...

Tapi semakin banyak Aku mencoba membuat alasan, hasilnya percuma. Satu satunya hal yang sulit adalah akal sehatku. akal sehatku yang lain mengatakan bahwa “Dia benar”. Dan ini adalah sesuatu yang kupercayai ketika berhadapan dengan sesuatu yang irrasional,itulah satu satunya yang kamu yakini. Bagaimanapun, Aku sudah menerima angka 24 juta ini. Itu hanya membutuhkan sedikit keberanian.


Tetapi, wanita dihadapanku mengatakan kenyataan yang kejam.

"Sebagaimana hasilnya keluar, harga masa hidup anda ialah 10.000 yen pertahun, yang mana kriteria minimum diambil untuk masa hidup. karena anda mempunyai waktu 30 tahun dan 3 bulan yang tersisa. anda akan mendapatkan harga 300.000 yen."

Mendengar hal itu Aku mulai tertawa, ini bukan karena Aku menanggapi perkataannya sebagai candaan, tapi karena Aku tidak bisa tidak tertawa mengenai diriku ketika menghadapi kenyataan yang menyedihkan. dan untuk hasil evaluasinya, sebagian besar di bawah dugaanku.    
     
"Tentu saja, ini bukan menandakan harga secara universal. hasil evaluasi secara ketat ini berdasarkan kesepakatan standar kami," kata wanita itu, seolah – olah membenarkan dirinya sendiri.
"Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang standar tersebut" kataku, dan dia menunjukkan ekspresi yang terganggu. Dia pasti sudah ditanyai hal yang sama ribuan kali.

" Evaluasi yang tepat dilakukan secara terpisah. Jadi saya tidak tau pasti. Tapi saya dibertahu bahwa faktor dari kebahagiaan, tindakan, dan kontribusi bisa berdampak besar pada harga...sederhananya, harga diputuskan dari bagaimana anda bahagia menjalani kehidupan, bagaimana anda membuat orang disekitar anda merasa bahagia, berapa mimpi yang dapat anda raih, berapa banyak kontribusi anda pada masyarakat, dan hal yang lainnya."

mendengar hal tersebut, seperti ada sesuatu yang menusuk hatiku lagi.
Jika saja Aku tidak bahagia, atau tidak bisa membuat orang lain bahagia, atau tidak mencapai impian satupun, atau tidak bisa membuat kontribusi untuk masyarakat, jika Aku tidak bisa menggapai salah satu diantaranya maka itu baik-baik saja. Tetapi, bila Aku tidak bisa melakukan semuanya....Aku tidak tau harus kemana lagi untuk meminta pertolongan.

Di atas itu, waktu 30 tahun tersisa terlalu sedikit dari yang sudah menjalani hidup selama 20 tahun. Aku pasti terkena penyakit yag berat,kan? atau terlibat dalam suatu insiden?
"Mengapa masa hidupku terlalu singkat?" tanyaku, berpikir bahwa ini percobaan terakhir.
"Saya sangat minta maaf, tapi.." katanya, sambil menundukkan kepalanya sedikit,
"Saya tidak memberikan informasi lebih jauh kecuali untuk konsumen yang menjual semua waktu, kesehatan, dan masa hidupnya."

Aku berpikir secara mendalam sampai sampai dahiku berkerut.
"Biarkan Aku berpikir sebentar"
"Silahkan luangkan waktu anda" jawabnya, tapi dari nada suaranya terlihat bahwa dia ingin Aku untuk berpikir secepatnya.

****

Pada akhirnya, Aku menjual semua 30 tahun masa hidupku dan hanya tersisa 3 bulan. hidupku melompat diantara pekerjaan part-time dan kejadian di toko buku serta toko CD yang membuat toleransi kepadaku untuk mendapatkan beberapa transaksi. Saat wanita itu membiarkanku untuk mengkonfirmasi setiap rincian kontrak, kebanyakan Aku hanya menganggukan kepalaku tanpa berpikir. bahkan ketika menanyaiku apa ada hal yang ingin ditanyakan, kujawab tidak ada. Aku hanya ingin hal ini segera berakhir dan keluar dari sini. keluar dari toko ini. Keluar dari hidup ini.

"Anda dapat melakukan transaksi sampai 3 kali," kata wanita itu "Oleh karena itu,anda bisa menjual masa hidup, kesehatan, atau waktu anda dua kali lagi."
Aku meninggalkan toko dengan sebuah amplop yang berisi uang 300.000 yen.

Meskipun Aku tidak mempunyai indikasi yang jelas atau suatu ide bagaimana ini berakhir. Aku merasa seperti kehilangan masa hidupku. Aku merasa sebanyak 90 persen sesuatu dalam inti tubuhku hilang meninggalkanku.

Ada yang bilang seekor ayam masih bisa berlari sedikit ketika kepalanya terpotong - dan Aku membayangkan bahwa Aku merasa seperti itu. mungkin bisa dibilang Aku ini sudah menjadi mayat.
Aku merasa semua yang ada di dalam tubuhku mennjadi lebih tidak sabar karena dijamin meninggal tanpa menginjak usia 21 dari yang kuharapkan bisa bertahan sampai 80. Bobot satu detik terasa lebih berat dari sebelumnya.

Aku juga secara tidak sadar berpikir bahwa "Hei, aku masih punya sisa enam puluh tahun". Tapi dengan tiga bulan yang tersisa. Sekarang, aku diserang dengan kegelisahan - seperti aku harus melkukan sesuatu. Namun untuk hari ini, aku hanya ingin pulang dan tidur. Aku sudah lelah berjalan-jalan. Aku  akan memikirkan apa yang kulakukan berikutnya setelah aku beristirahat dengan nyaman dan bisa terbangun dengan perasaan segar.

Dalam perjalanan pulang, aku melewati seorang pria aneh. Dia tampak berusia awal dua puluhan, dan berjalan sendiri dengan senyuman yang hampir seperti menutupi seluruh wajahnya, sepertinya dia tidak bisa menahan diri untuk bersenang-senang.

Ini sangat memberatkanku.

Aku mampir ke toko minuman alkohol di distrik perbelanjaan dan membeli empat kaleng bir, lalu lima potong ayam bakar dari toko yang aku temukan, dan memakannya bergantian sambil  berjalan pulang.

Tiga bulan yang tersisa. Nampaknya Tidak ada gunanya mengkhawatirkan masalah uang.
Sudah lama sekali Aku tidak minum alkohol. Ini sangat menenangkanku, tapi mungkin itu bukan ide bagus. Karena dalam waktu singkata aku merasa mual, dan menghabiskan tiga puluh menit muntah begitu sampai di rumah.

Begitulah caraku memulai tiga bulan terakhirku.
Dengan cara yang paling buruk.      







Catatan Penerjemah:
  1.        Paul Nizan adalah seorang penulis terkenal berasal dari Perancis, selebihnya cek ke Wikipedia
  2.        Metafora adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia, dan juga berbagai bahasa lainnya.  Majas ini mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.