true became fiction when fiction's true

Sunday, 30 December 2018

December 30, 2018

The Result When I Time Leaped Chapter 35 Bahasa Indonesia


Ketakutan Hiiragi-chan

Sudut Pandang Hiiragi Haruka
[Selamat pagi, Seiji-kun ♪]
Hal pertama yang harus dilakukan usai bangun pagi ialah mengirim pesan selamat pagi pada Seiji-kun. Sembari mempersiapkan diri untuk bekerja dan menunggu balasan, pesan balasan pun datang.
[Yeah.]
Hmm. Itu saja? Nampaknya kurang bersemangat dari biasanya ... Seharusnya kan membalas selamat pagi juga , atau aku akan melakukan yang terbaik hari ini , atau mungkin bahkan aku mencintaimu ?? Rasanya agak sedih, jadi aku mengirim [Ayo lakukan yang terbaik di sekolah, oke!], Tapi tidak ada balasan sama sekali.
Muuuu ... Mungkinkah ini, masa di saat Ia sudah merasa bosan denganku ... !? Karena sudah berpacaran, dan ketika sensasi jantungmu berdetak lebih cepat sudah menghilang, status pasanganmu mulai berantakan. Mungkinkah sudah memasuki masa seperti itu!?
"Mungkin, Seiji-kun, sudah tidak tertarik lagi padaku ...?"
Ma-Mana mungkin…. Baru sebulan lebih kami berpacaran ...
Aku menggelengkan kepala.
Seiji-kun adalah siswa SMA yang sensitif. Dibandingkan dengan guru yang harus melakukan pekerjaan yang sama setiap hari, pasti ada banyak hal menarik lainnya yang harus ia lakukan. Seiji-kun, orangnya sangat baik dan keren, jadi Ia mungkin sangat populer ... Mungkin. Jika aku berusaha keras, anak cewek SMA tidak mungkin bisa menarik perhatian Seiji-kun. Aku harus bisa mempertahankannya.
"Hiiragi, akan melakukan yang terbaik!"
Meski aku bilang begitu, tapi apa yang harus aku lakukan ...? Di sampul depan majalah kencan yang terletak di atas meja, terdapat kata-kata "Mengubah Kesan" tertulis di atasnya.
"Baiklah. Sudah diputuskan! ”
Rambutku yang biasanya dikuncir, khusus hari ini, aku sampirkan ke sisi pundak kiriku. Ya ya, tak disangka ternyata bagus juga! Aku terlihat lebih dewasa dari biasanya. (TN : Hair Style of the Death :v wkwkwkwk)
"Seiji-kun, aku penasaran apa yang akan Ia katakan nanti…... Gufufu."
Kau terlihat lebih dewasa hari ini, Haruka-san. Aku menyukaimu! Aku cinta kau! Apakah Ia akan mengatakan sesuatu seperti itu?
"Gufu ... Gufufufufufufufu."
Aku masuk ke mobil dan mulai pergi ke sekolah.

uuuu

Di ruang guru, aku mempersiapkan barang-barang untuk pelajaran di kelas, dan sembari melakukan hal yang lain, aku menunggu pertemuan.
Seiji-kun, apa Ia akan datang?
Setiap guru wali kelas sudah pergi ke kelas masing-masing, dan setelah periode homeroom berakhir mereka pun kembali.
Seiji-kun, apa Ia akan datang?
Jam pelajaran pertama pun berakhir, dan sekarang istirahat 10 menit.
Apa Ia akan datang? Seiji-kun. Ia masih belum datang juga?
Masih belum ada tanda-tanda Ia akan memasuki ruang guru. Aneh sekali. Padahal hari ini, Ia berangkat sekolah ...
"Ah! Sensei, tumben sekali hari ini rambut anda ngga dikuncir! ”
"Benar! Anda juga terlihat imut dengan gaya rambut begitu! ”
Gadis-gadis kelas tiga menyadari perubahan gaya rambutku dan memujiku.
"Ahaha, terima kasih."
Hiiragi dengan rambut tergerainya,  Bagus!! Aku sudah mengkonfirmasinya !! Gufufu. Itu sebabnya Seiji-kun, kamu harus cepat ... Apa Ia akan datang? Apa Ia akan datang? Sowa sowa ...
...
Ia tidak datang sama sekali!!! Mouuuuu, aku marah. Jika itu masalahnya, aku akan pergi dan menemuinya. Zun zun, dengan suara langkah kakiku yang berdering, aku menuju ke lantai 2, ke tempat kelas B, tempat di mana Seiji-kun berada.
"Sei .. Sanada-kun, apa Ia ada di sini ...?"
Diam-diam aku mengintip melalui kaca pintu. Lalu, aku membuka pintunya, tapi, sama sekali  tidak ada siswa di dalamnya.
“Ah, Sensei. Apa Anda memiliki urusan dengan Kelas B? Kelas A dan Kelas B sudah ganti jam ke jam pelajaran olahraga, ”
Seorang siswa yang kebetulan lewat mengatakan itu padaku.
“Ah, begitu ya. Terima kasih ….. Sayang sekali ... ”
Aku menurunkan bahuku dengan kecewa. Seiji-kun! Hiiragi-sensei, tidak selalu punya waktu luang tahu!
“Di mana mereka melakukan jam olahraganya? Apa di lapangan?"
"Bukannya mereka di gedung olahraga?"
"Oke terima kasih!"
Jika sudah begini, meski sedikit keras kepala, aku akan memaksanya untuk bilang. Bahwa, Haruka-san sepertinya sedikit berbeda dari biasanya.
"Fuuu"
Aku bernapas lega melalui hidungku, dan berlari menuju gedung olahraga. Lonceng berbunyi, dan jam pelajaran pun dimulai. Dengan sedikit membuka pintu besi gedung olahraga yang berat, aku mengintip ke dalam. Ah, itu dia. Seiji-kun memiliki ekspresi mengantuk di wajahnya dan lumayan imut. Siswa lain menyadari keberadaanku, dan melambaikan tangan mereka sambil memanggilku, jadi aku melambaikan tangan sebagai balasan.
Namun, orang yang sedang aku cari, Seiji-kun, malah tidak melihat ke arah diriku sama sekali.
"Yeah, ohon, gohon! Ooohon !! " (TN: Hiiragi-chan lagi pura-pura batuk :v)
Setelah aku membuka pintu sedikit lebih lebar supaya lebih mudah untuk melihat wajahku, Seiji-kun akhirnya menyadarinya.
"..."
Ba-Bagaimana? Bagaimana pendapatmu dengan diriku yang versi upgrade ini!? Pui, tanpa reaksi apa pun, Ia langsung membuang muka. Ap-Apa-apaan itu ...! Haruka-san kesayanganmu datang jauh-jauh ke sini, tahu!! Aku mau memamerkan gaya baruku pada Seiji-kun. Ap-apa ini gagal ... !?
"Kenapa Ia cuek begitu ... rasanya sedikit menyedihkan ..."
Gogogo, dengan efek suara aneh, ada sebuah bayangan yang menutupi wajahku.
"... Hiiragi-sensei."
"... Y-Ya?"
Mendongak dengan suara kecil, guru olahraga, Komada-sensei, memandangku dengan badannya yang tinggi. Seiji-kun pernah bilang kalau kau sembarangan memanggilnya sebagai clean-up hitter*, ia akan menjadi gila. Namun aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. (TN: Ngga nemu terjemahan yg pas, jadi saya biarin aja)
... Di-Dia sangat menakutkan ...
"Apa anda sedang mengawasi pelajaran ini?"
"... Ti-tidak ... Daripada mengawasi ... Aku ingin tahu apa Anda akan membiarkan saya untuk melihat-lihat ... sesuatu seperti itu ..."
Keringat dingin terus bercucuran…… ...
Eh. Apa mungkin Ia marah padaku !? Apa dia marah kalau aku ingin melihat para siswa meski aku ini guru sejarah dunia !? Di belakangnya, Seiji-kun membuat ekspresi yang seolang ingin  mengatakan "Jangan katakan apa-apa lagi."
Se-Seiji-kun ... apa kamu bisa mengatakan sesuatu untuk membantku ... to-tolong ...
"Sekarang adalah jam pelajaran olahraga."
"Y-ya"
"Meski anda bilang kalau anda sedang tidak mengajar, tolong jangan keluyuran sembarangan."
"Ma-Maaf."
Aku membuatnya marah ... tentu saja Ia akan bersikap begitu... Sebagai seorang guru, aku dimarahi oleh Senpai-ku.
Fuguuuuu ...
“Jika anda punya waktu luang, kenapa tidak mengawasi pelajaran sejarah dunia di kelas lain, dan melihat bagaimana mereka memahami pelajaran.”
Dia cukup kaku ... Sebagai orang yang bekerja, aku dimarahi ...
"Sa-Saya tidak benar-benar luang ..."
"Lalu mengapa anda datang jauh-jauh ke sini?"
Ekspresi Komada-sensei seolah memiliki maksud, "Enak ya bisa punya waktu luang,".
Ugugugugu. Ini sangat menyebalkan ... Tapi berbicara tentang beban kerja kita, cleanup hitter ini mungkin punya lima kali lipat lebih berat ketimbang milikku, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa tentang itu ...
"Aku hanya kebetulan lewat ..."
"Hiiragi-sensei, apa ini mungkin tentang pelajaran selanjutnya?"
Tatata, Seiji-kun datang dengan berlari. Seiji-kunnnnnnnnnnn. Aku sudah hampir menangiisssssssssssssss.
“... Apa maksudmu tentang pelajaran selanjutnya? Apa itu?"
Seiji-kun langsung berbalik.
Apa? Apa yang Ia bicarakan? Seiji-kun, yang sudah mendapatkan ketenangannya kembali mulai menjelaskan kepada Komada-sensei.
“Sensei, aku bertugas hari ini. Selama pelajaran sejarah dunia, kita akan menonton DVD, jadi ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan untuk itu. "
... Tapi ‘kan kita takkan menonton DVD hari ini? Terkadang, kita memang menonton sesuatu dari Penem— Miste — Dunia! (TN: Semacam badan Geografi Nasional di Jepang, makanya sedikit di sensor.)
Garis pandang cleanup hitter ini langsung beralih ke arahku.
“U-umm, itu benar. Ha-Hanya sedikit, beneran hanya sedikit, kami perlu waktu bicara. ”
"Begitu ... Mulai sekarang, tolong lakukan hal seperti itu saat istirahat."
Komada-sensei langsung pergi menjauh.
Seiji-kun keluar dari gedung olahrag dan dengan cepat menarik tanganku.
“Sei — Sanada-kun, hari ini bukan hari DVD, loh? Selain itu, Kamu tidak bertugas hari ini. "
"Itu hanya dibuat-buat. Jika aku tidak segera membantu, Sensei, kau terlihat seperti akan menangis kapan saja. ”
Setelah melihat-lihat ke sekeliling sebentar, Seiji-kun membawaku ke ruang ganti.
"Kesampingkan hal itu dulu, bukannya kamu tidak perlu bersikap begitu….sampai-sampai tidak menunjukkan reaksi sama sekali ... Jika kamu terus bersikap cuek, aku merasa khawatir."
"Ah, jika aku bereaksi, mungkin akan ketahuan kalau kamu datang untuk menemuiku, ‘kan?"
Uu. alasan yang tepat juga ...
"Ta-Tapi ... pagi ini, pesan yang kamu kirim tidak terlalu bersemangat ... aku penasaran apakah kamu sudah bosan denganku, dan menjadi khawatir ..."
“Pagi ini aku sangat sibuk, dan ada banyak hal yang aku pikirkan, tapi aku pasti merenungkannya. Tapi, yang pasti bukan karena aku sudah bosan atau semacamnya. ”
Ahh, syukurlah. Itu sangat melegakan. Kurasa aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. I-itu benar. Sowa sowa, aku menyentuh rambutku yang aku tidak aku kuncir hari ini.
"Seiji-kun, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?"
"Eh? Ah ... Kenapa kau bisa tahu kalau aku tidak bertugas hari ini? "
"Fufun. Seiji-kun, aku tahu jadwal pergantian tugas kelasmu seperti punggung tanganku sendiri! Sebaliknya, bukan itu maksudku! Da-Dan juga ... terima kasih sudah membantuku tadi di sana. "
"Ya. Sama-sama. Kalau begitu, aku harus segera kembali. "
Tanpa ada kesempatan untuk memanggil dan menghentikannya, Seiji-kun meninggalkan ruang ganti.
Kemudian, Ia dengan cepat berbalik.
“Rambutmu yang tergerai seperti itu sangat cocok untukmu, Sensei. Itu membuatmu terlihat lebih dewasa. ”
Dia kemudian melambaikan tangannya, dan kembali ke dalam gedung olahraga.
"Mo-Mou ... Ji-Jika Ia tau, bilang dari dulu dong ... mouu ... aku mencintainya ..."
Saat makan siang tiba, aku akan memanjakannya. Nampaknya ketakutanku hanya sia-sia belaka, dan aku bisa memastikan sekali lagi betapa aku mencintai Seiji-kun.





Friday, 28 December 2018

Tuesday, 18 December 2018

Friday, 23 November 2018

November 23, 2018

Kata Penutup


Kata Penutup

Halo semuanya. Ini adalah karya debutku.
Terima kasih banyak telah membacanya.


Karakter dalam novel ini terlihat lumayan aneh.
Cara hidupp si MC Takuya lumayan sembrono, dan Kayama nampaknya hidup dengan cara yang sederhana dan hedonistik, jadi keduanya sangat kacau. Karakter lainnya juga sedikit aneh.
Tapi di mataku, hal itu sepertinya tidak aneh sama sekali. Bukannya mereka sengaja menjalani hidup mereka dengan cara yang aneh. Mereka menjalani hidup semaksimal mungkin dengan cara mereka sendiri, dan akibatnya, mereka menanggung beban hidup.

Di masa remajaku, aku juga pernah merasakan beban hidup seperti mereka.
Saya merasa tidak punya tempat untuk pergi, tapi saya diselamatkan oleh novel. Karena itulah, tanpa saya sadari, saya mulai menulis novel sendiri. Saya pikir ingin menjadi novelis, tapi pada saat bersamaan, rasanya mustahil.
Pada akhirnya, saya lulus universitas dan mendapat pekerjaan. Terbebani dengan pekerjaan saya, motivasi saya untuk menulis novel secara bertahap menghilang.
"Mana mungkin saya bisa menjadi novelis."
Itu ungkapan favorit saya.
Namun, salah seorang teman mengatakan kepada saya, "Kamu pasti bisa. Semangatlah. "Mereka membaca hal-hal yang saya tulis dengan penuh minat. Saya bekerja di perusahaan pada malam hari saat teman tersebut melakukan bunuh diri.
Sejak saat itu, seperti protagonis novel ini, saya merasa bersalah karena hidup. Dan sejujurnya, untuk waktu yang lama, saya tidak pernah bisa mengerti apa yang telah dipikirkan oleh teman saya yang meninggal.
Karena tidak bisa tidur, saya sering pergi jalan-jalan di malam hari. Saya terus berjalan berjam-jam, dan pada satu jalan seperti itu, saat pagi hari, saya memutuskan untuk menulis novel.
Jadi, saya keluar dari pekerjaan saya dan mulai menulis novel.

Dunia ini penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal, menyakitkan, dan kejam.
Saya pikir itu adalah hal yang sangat wajar untuk ingin mati di dunia yang gila ini.
Saya ingin menulis sebuah novel yang akan membuat para pembacanya ingin hidup terus meski merasakan kekejaman dunia.
Jika pekerjaan saya membuat seseorang merasa seperti ini, walaupun sedikit, itu akan membuat saya sangat bahagia.

Sekarang setelah saya menjadi novelis, ketika saya mengingatingat kembali masa lalu, saya menyadari bahwa kata-kata almarhum teman saya benar. Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan Takuya sejak saat ini, tapi saya menginginkan dia dan setiap orang di dunia ini yang menanggung semua kesulitan yang harus dihadapi kehidupan untuk melakukan yang terbaik.
Ya, benar. Kamu pasti bisa melakukannya.

Saya menerima bantuan banyak orang untuk merilis buku ini. Loundraw-sama, yang menggambar gambar yang jauh melampaui apa yang saya bayangkan. Saat pertama kali melihat ilustrasi, saya berbisik, "Wow," merasa tergerak. Juga, Yamaguchi Kouzaburou-sama, Ayasaki Shun-sama, Aoi Blue-sama, yang memberi saya rekomendasi dan komentar yang bagus. Dari semua orang yang saya kagumi, saya menerima kata-kata yang saya rasa hampir terbuang pada diri saya. Editor yang bertanggung jawab, Yuzawa-sama dan Endou-sama. Mereka mengidentifikasi petunjuk yang sesuai untuk seorang penulis yang tidak terampil dan pekerjaannya yang tidak terampil. Saya benar-benar berterima kasih kepada semua orang, termasuk mereka yang namanya saya tidak disebutkan di sini. Di masa remajaku, saya takkan pernah membayangkan bahwa sebuah karya yang mulai saya tulis sendiri akan mendapat bantuan dari begitu banyak orang dan berhasil mencapai dunia.
Mungkin ada beberapa bagian yang ditulis dengan buruk, tapi saya berusaha semaksimal sampai sekarang ke dalam novel ini.
'Saya akan menulis semua yang bisa saya tulis sekarang ke pekerjaan di depan saya.' Saya selalu memikirkan ini, dan dalam tiga hari setelah menyelesaikan penulisan, saya mulai ingin menulis lagi. Saya selalu merasa ada hal-hal yang belum saya tulis.
Itulah sebabnya saya akan terus menulis novel sampai saya mati.
Saya berharap bisa bertemu lagi dengan novel saya yang selanjutnya.

 
Tetsuya Sano

Sunday, 11 November 2018

November 11, 2018

The Result when I Time Leaped Chapter 30 Bahasa Indonesia


Darmawisata Sekolah - Bagian 5

Malam kedua.
Fujimoto dan yang lainnya kurang energik dibandingkan hari pertama, dan karena kelelahan, mereka cepat tertidur. Padahal, aku berharap ada semacam perang bantal ...
Melihat semuanya tertidur nyenyak. Aku juga berniat untuk tidur saat ponselku mulai bergetar.
"..."
Supaya tidak mengganggu orang lain karena cahaya ponselku, aku menutupi diriku dengan selimut.
“Apa kamu masih bangun? Aku ingin melihatmu, Seiji-kun. ”
Guu ... Hiiragi-chan langsung membuat undangan yang tak terduga.
"Tapi, Sensei, bukannya ini waktunya untuk tidur?"
"Mou, dasar pelit ~!"
Ah Imutnya…
Kalau begitu, kita ketemuan di tempat lain saja.
Karena semuanya sudah tertidur pulas, kalau aku pergi sekarang, mungkin tidak ada yang tahu. Yah, aku bilang tak ada masalah karena lampunya sudah dimatikan, jadi ayo kita lihat dewi yang terlalu imut ini. Setelah mengatur yukataku, aku memeriksa penampilanku di cermin dan meninggalkan ruangan.
"Ah, akhirnya kamu keluar juga!"
"Uwah!?"
Aku ditangkap oleh Hiiragi-chan yang sudah menunggu.
"Tunggu, ini masih di lorong!"
Aku berusaha keras melepasnya saat dia mencoba yang terbaik untuk mendekapku. Aku sangat terkejut ... Yah, kurasa dia berpikir kalau aku pasti akan keluar?
Sial, instingnya bagus juga.
"Sensei, apa yang sedang anda lakukan di sini?"
"Hiiragi-senseei, saat ini ... sedang berpatroli!"
Funya, Hiiragi-chan memberi hormat*. Dia mabuk lagi ... Dia mengenakan yukata, dan rambutnya tergerai lurus, tidak dikuncir seperti biasanya.
(TN : Hormat ala polisi atau pas upacara)
"Karena sudah masuk jam tidur, sebagai guru, aku harus memeriksa apakah ada murid nakal yang masih keluyuran."
"Benarkah?"
“Aku menangkap satu murid yang nakal, get it.”
Funi funi, dia bermain-main dengan pipiku. Astaga dia ini ...
"Tapi, kau memanggilku—"
"Kamu mencuri hati Hiiragi-sensei, dasar murid nakal."
Dia cengengesan. Uugh, dia benar-benar dalam mode mabuknya. Ayolah, dadamu itu, aku bisa melihatnya dengan jelas! Kau tidak memakai bra lagi, ya?
... Yah, kurasa itu karena cara berpakaian yukata ...?
“Seiji-kun, kamu selalu menatap dadaku. Dasar cabul
"Di-Diam. Si-Siapa juga yang melihatnya. Bukannya kau sedang bekerja? ”
"Ya."
"Karena kau selalu seperti ini, saat kau sadar, kamu akhirnya akan menyesali itu, ‘kan?"
"... Baiklah, aku minta maaf ..."
"Bar kesenangan" Hiiragi-chan terlihat berkurang pada saat itu. Ah, sekarang akulah yang merasa buruk padanya.
“Karena hanya aku guru yang lebih muda, aku dipaksa untuk melakukan tugas berpatroli, tahu? Mou. "
Sambil menyuarakan keluhannya, Hiiragi-chan cemberut. Dia merapikan yukatanya yang berantakan, dan berjalan tanpa tujuan. Jika kami ketahuan berjalan berdua seperti ini setelah lampu padam, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Hiiragi-chan yang dalam mode mabuk dan tak berdaya, mana mungkin aku membiarkannya sendirian, jadi aku mengikutinya.
"Karena aku merasa cemas, aku akan menemanimu."
"Siswa nakal akan ditahan."
Ucapnya, sembari meraih tanganku.
“Aku juga, aku menemukan seorang guru yang tak berdaya, erotis, dan imut.”
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja, menangkapnya."
Aku juga, menggenggam tangannya yang lembut sebagai balasan.
"Kurasa, kita berdua saling menangkap."
Ayolah, jangan mengatakan sesuatu yang manis begitu. Aku nanti lebih mencintaimu, loh.
Sambil berbincang dan berpatroli, Hiiragi-chan berjalan menjauh dari tanda-tanda orang lain. Tidak ada siswa menempati kamar area ini. Kami berdua terus menyusuri lorong , lalu melewati jembatan, menuju gedung yang tidak terpakai.
Di dekat gedung itu, ada ruang istirahat kecil, dan di seberang penghalang kaca besar, ada halaman yang diatur dengan indah. Untuk bisa menikmati pemandangan itu, kami duduk di sofa dan saling berpegangan tangan dengan damai. Hiiragi-chan kemudian menyandarkan kepalanya ke pundakku.
Meski belum sepenuhnya sadar, aku bisa merasakan kehangatan telinga dan pipinya melalui yukataku. Semua lampu sudah padam, dengan disinari cahaya bulan perak yang menggantung di langit. Nnnnnnn ... mesin penjual otomatis di belakang sedang membuat suara rintihan kecil.
"... Kamu tahu, tempat ini benar-benar bagus, dan aku selalu berpikir untuk datang kesini denganmu Seiji-kun."
Aku tidak tahu bagus atau jeleknya kebun ini. Namun, sekarang aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Tampaknya, cara pandangmu itu tergantung pada orang yang bersamamu. Kemudian, kami berbicara satu sama lain dengan tenang. Kejadian apa saja yang terjadi hari ini. Aku pikir itu, oh, aku pikir... Ini percakapan yang tidak berarti sama sekali.
"Satu tahun dan sepuluh bulan lagi."
"Sampai aku lulus?"
"Ya. Dan, entah kenapa membuatku sedikit sedih. Diam-diam menyelinap di ruang staf, saling menyuapi, atau saling berciuman di ruang persiapan. Itu takkan terjadi lagi. ”
Terakhir kali saat aku lulus, yang bisa kulakukan hanyalah melihat Hiiragi-chan dari kejauhan, tanpa meminta nomor ponselnya dan tanpa mengungkapkan perasaanku padanya. Aku menyadari bahwa jika terus berusaha keras dan berjuang, hidupmu bisa berubah.
"Itu benar, tapi kalau di akhir pekan, kita bisa saling bertemu, kan?"
“Ini dan itu adalah hal yang berbeda. Jika Hiiragi-sensei tidak melihat Seiji-kun di sekolah, dia tidak bisa bersemangat lagi ... ”
"Aku menyukai Haruka-san yang bekerja keras."
"Aku akan melakukan yang terbaik!"
Oi,Oi apa tidak masalah kalau hanya begitu saja …... Maksudku, itu juga bagian lucu darinya.
Ayo kita beritahu dia sesuatu yang sudah lama aku pikirkan. Ini percakapan yang lumayan serius. Jadi, aku harus bisa mengatakannya sekarang.
“Haruka-san, kau pernah bilang kalau aku sudah lulus, aku tidak perlu bekerja, atau melanjutkan sekolah, ‘kan?”
"Ya. Aku akan merawatmu.”
"Tentang itu, emmm…. kupikir aku akan bekerja."
“Eh, kenapa? Kamu tidak perlu memaksakan diri. ”
Aku sama sekali tidak memaksakan diri. Itulah yang aku coba utarakan saat aku menjelaskan lebih lanjut.
“Kau terus melakukan yang terbaik sebagai guru meski itu pekerjaan yang keras, kan? Aku juga sama, aku ingin mencoba yang terbaik dalam sesuatu demi dirimu. ”
"Dan itu menjadi pekerjaan?"
"Ya itu benar."
"Pernyataan yang begitu dewasa…... meski kamu hanya kelas 2 SMA ..."
Mungkin karena terkejut, Hiiragi-chan berkedip beberapa kali. Karena di dalam diriku sudah bermental dewasa, aku sangat memahami apa artinya bekerja.
“Kurasa itu tidak baik untuk mendorong semua hal yang merepotkan pada Haruka-san. Selain itu, jika aku memperkenalkan diri kepada orang tuamu, bukannya nanti akan berakibat buruk kalau aku dicap sebagai pengangguran?. ”
Uuuuu, kamu ini masih SMA, banyak pilihan masa depan yang bisa kamu pilih ...”
Merengek sedikit, Hiiragi-chan hampir menangis.
"Jangan menangis."
"Tapi aku sangat senang …….. kamu sudah memikirkan masa depan kita bersama ..."
Fumiii, dan dengan cara yang aneh, air matanya jatuh mengalir di pipinya. Namun, jika aku tidak mengatakan ini dengan benar, hidupku akan berakhir seperti kehidupan benalu. Aku pikir bahwa jika itu untuk orang yang aku cintai, maka aku harus melakukan yang terbaik sambil melakukan pekerjaan yang membosankan.
Gusu gusu, setelah membersihkan hidungnya, HIiragi-chan mengusap air matanya.
“Itu adalah sesuatu yang aku harapkan ... tapi jika Seiji-kun mengatakan sesuatu seperti itu, aku akan menyerah. Lagian, itu hanya keinginan egoisku sendiri ... ”
"Apa?"
"Ya ... Jika kamu akan bekerja, bagaimana kalau kita bekerja bersama-sama?"
"Hmmm? Bersama?"
"Betul. Jika Kamu lulus dan kuliah, Kamu bisa menjadi guru. Dan kemudian Seiji-kun bisa menjadi guru di sekolah ini. ”
"Haa ... guru ... Haa!?"
"Maksudku, Kamu ‘kan pintar ... dan aku pikir kalau kamu mau bekerja, lebih baik kalau kita bekerja di tempat yang sama ... Kemudian, itu bisa seperti perkawinan di tempat kerja."
"Jika aku melakukan itu, apa kau mau menunggu sampai saat itu ...?"
Saat aku lulus SMA, dengan kesabaran yang dia miliki sampai sekarang, batas kesabarannya akan meledak pada saat itu.
“A-A-Aku bisa menunggu kok. ... Ah, tapi, menikah saat kamu masih kuliah, juga sesuatu yang mungkin ... mungkin ... ”
Dia langsung terguncang !?
“Yah, terlepas dari apa aku akan menjadi guru atau tidak, ayo sama-sama pikirkan itu nanti."
"Ya. Bersama."
Dug, dahi kami saling menempel dan kami pun berciuman. Saat aku membuka mataku, Hiiragi-chan sedang menatapku, dan entah kenapa itu membuatku tersipu malu dan kami berdua tertawa satu sama lain. Sampai fajar menyingsing, kami berdua terus bermain mata seperti ini.

Beberapa hari kemudian.
Cangkir yang dibuat di bengkel keramik sudah sampai di sekolah. Sentuhan akhir yang dibuat untuk kali ini ternyata cukup baik. Aku meminjam pita dari ruangan klub dan mendekorasinya seperti hadiah. Saat istirahat makan siang, aku menaruhnya di kantong kertas, dan membawanya ke ruang persiapan sejarah dunia.
“... Sensei. Aku punya sesuatu yang ingin aku berikan kepada anda. ”
"Ya. Aku juga sama, ada sesuatu yang ingin kuberikan pada Sanada-kun. ”
Seperti yang direncanakan, ini adalah pertukaran hadiah yang harmonis. Tapi, dia masih merasa senang.
"Terima kasih. Aku akan menghargainya!"
Ucapnya dengan senyum cerah seraya memeluk kantong kertas pemberianku.




Monday, 5 November 2018

November 05, 2018

Kimitsuki Chapter 1.1 Bahasa Indonesia



Chapter 1 : Short Season, Cold feeling

Bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan di atas bukit. Saat aku selesai mendakinya, logo rumah sakit baru bisa terlihat dalam pandanganku. Itu adalah bangunan baru dan relatif bersih, dan entah bagaimana tidak terasa  seperti ada orang tinggal di sini. Meski ini adalah rumah sakit, namun memiliki nuansa yang mirip seperti bangunan kantor. Hal tersebut membuatku merasa sedikit lebih nyaman. Aku memberitahu resepsionis tentang keperluanku di sini dan segera diberitahu kamar mana yang di tuju.
Berpikir tentang bagaimana aku akan segera bertemu orang asing, Aku merasa sedikit gugup. Belum lagi fakta bahwa orang tersebut adalah seorang gadis yang telah dirawat di rumah sakit karena penyakitnya.
Aku merasa sedikit gelisah saat menunggu lift datang.
“Kudengar dia sangat cantik,” Seseorang mengatakannya padaku.
Nama gadis tersebut adalah Watarase Mamizu.

****

Selama jam pelajaran pertama di kelasku, Yoshie-sensei, guru wali kelas kami, berbicara dengan suara yang lantang.
“Watarase Mamizu-san telah dirawat di rumah sakit sejak SMP karena penyakit serius,” katanya. “Aku berharap bahwa dia bisa keluar dari rumah sakit secepat mungkin dan menikmati kehidupan sekolahnya dengan semua orang.”
Ada satu kursi kosong di kelas. Sekolah kami merupakan gabungan dari sekolah SMP dan SMA, sehingga murid yang hadir  tidak banyak berubah sejak dari SMP. Meski begitu, kelihatannya banyak yang tidak mengetahui siapa Watarase Mamizu.
“Aku dengar kalau itu penyakit luminesensi.”
“Jadi, dia mungkin takkan bisa datang ke sekolah, ya.”
"Siapa dia?"
“Rupanya dia belum pernah ke sekolah sejak Mei kelas 1 SMP.”
“Aku tidak ingat sama sekali.”
“Apa tidak ada yang punya fotonya ?”
Semua murid di kelas mulai sedikit bergosip tentang dia, tapi karena kurangnya informasi mengenainya, sehingga itu cepat berhenti.
Jika itu penyakit luminesensi, mungkin akan sulit baginya untuk kembali ke sekolah. Ini dikenal sebagai penyakit yang tak bisa disembuhkan.
Penyebabnya masih belum diketahui, metode pengobatannya pun belum ada.
Sangat mustahil untuk menyembuhkan penyakit ini. Itu sebabnya, kebanyakan orang yang menderita penyakit seperti ini akan menghabiskan seluruh hidupnya di rumah sakit.
Penyakit tersebut akan berkembang seiring  pasien tumbuh dewasa, dan gejalanya tiba-tiba muncul. Dikatakan bahwa kebanyakan pasien mengembangkan gejala-gejala di masa remaja mereka atau di usia dua puluhan. Setelah gejala muncul, tingkat kematiannya akan sangat tinggi; kebanyakan pasien meninggal sebelum menjadi dewasa. Ada banyak gejala yang berbeda, tapi ada satu karakteristik yang khas, yaitu fenomena aneh yang terjadi pada kulit pasien.
Kulit mereka bersinar.
Dikatakan bahwa pada malam hari, ketika cahaya bulan menyinari tubuh seseorang dengan kondisi tersebut, akan memancarkan cahaya samar-samar. Rupanya,  cahaya yang dipancarkan akan menjadi kuat seiring kondisi berlangsung. Itulah mengapa penyakit ini disebut penyakit luminesensi.
... Bagaimanapun juga,  tidak mungkin kalau gadis yang bernama Watarase Mamizu ini bisa kembali ke sekolah, pikirku, dan memutuskan untuk segera melupakan semua ini.

uuu

Beberapa hari kemdian, selama waktu istirahat, ada sebuah  kertas berwarna yang disodorkan di hadapanku.
“Okada, tulis sesuatu di sini,” kata orang yang  memberi kertas padaku.
“Apa ini?” Tanyaku.
“Kau tahu, apa lagi itu? Seseorang-san, orang yang menderita penyakit luminesensi. Semua orang harus menulisnya dan kemudian itu akan diberikan kepadanya.”
Tidak tertarik , pikirku sembari menggerakkan pulpenku di atas kertas berwarna.
Aku harap penyakitmu segera membaik. Okada Takuya.
Aku menulis kata-kata tersebut dengan lancar dalam waktu tiga detik dan kemudian melihat sekeliling untuk memberikan kertas tanda tangan untuk orang yang selanjutnya.
“Wow, Okada, itu polos sekali.”
“Selanjutnya, harus kuberikan pada siapa?”
“Semua orang di sini sudah mengisinya. Ah, kurasa Kayama masih belum. Pergi dan berikan padanya. Kau dan Kayama cukup dekat, bukan?”
“Kami tidak sedekat yang kau kira,” jawabku sebelum mendekati kursi Kayama.
Kayama Akira selalu berantakan seperti biasanya. Baju seragamnya keluar dari celananya, dan ia sedang berbaring di atas mejanya, terlelap seperti kayu. Dia memiliki tubuh yang tinggi serta rambut yang panjang. Namun Ia tidak memberikan suasana yang mirip seperti anak berandalan dan tidak memiliki kecenderungan terhadap kekerasan, tapi Ia bisa digambarkan sebagai orang yang  “tidak serius.”
Dia masih populer dengan kalangan gadis karena dia memiliki wajah yang cukup tampan, tapi Ia biasa menanggapi orang dengan sikap yang agak arogan. Oleh karena itu, sebagian besar dari siswa laki-laki sedikit menghindarinya.
“Kayama, bangunlah,” kataku.
“Tak kusangka kalau aku terpilih sebagai manajer asrama perempuan yang dipenuhi dengan gadis-gadis cantik ...”
Kayama mengigau dalam tidurnya. Sepertinya, dia sedang mengalami mimpi yang sangat indah, Namun aku terus mengguncangnya, mengembalikannya pada kenyataan.
"Hah? Okada? Ada apa?” Tanya Kayama.
Jika aku mempunyai pilihan, aku benar-benar tidak ingin mendekatinya. Tapi itu bukan karena ada hubungannya dengan diriku yang tidak bisa berurusan kepribadian menyimpangnya.
Di masa lalu, Kayama melakukan sesuatu yang membuatku berhutang budi padanya. Itu sebabnya, hal itu kurang benar untuk mengatakan bahwa kita ini adalah teman. Kata “penyelamat” adalah yang paling tepat untuk mendeskripsikan Kayama bagiku.
Ada sesuatu yang aneh tentangku saat aku berinteraksi dengan Kayama – entah kenapa aku merasa gugup di dalam diriku, bahkan ketika kami hanya sekedar mengobrol.
“Ini surat bersama,” kataku. “Kau tahu, untuk seseorang dengan penyakit luminesensi.”
“Ah.” Kayama mengambil kertas berwarna, dan kemudian menatap dengan pandangan agak linglung. “Watarase Mamizu, ya.”
Ekspresi dan suaranya tampak seperti sedang mengingat sesuatu di masa lalu.
“Apa kau mengenalnya?” Tanyaku, merasa terkejut.
“Tidak ......yah  sedikit, di masa lalu. Jadi, dia bermarga Watarase sekarang,” kata Kayama, seakan berbicara pada dirinya sendiri. “Yah, aku akan menulisnya.”
Setelah dia berkata begitu, aku kembali ke tempat dudukku sendiri.
“Okada, bagaimana akhir-akhir ini?” Tanya Kayama padaku.
“Bagaimana apanya?”
"Apa kau baik baik saja?"
“Aku baik-baik saja,” jawabku, sambil menekan rasa jengkelku.
“Kau selau menderita dari waktu ke waktu,” kata Kayama dengan nada yang terdengar seolah-olah dia bisa melihat apa yang kurasakan.
“Aku normal,” kataku. Ini bukan urusanmu, pikirku, namun aku tidak bisa mengatakan ini dengan keras.

*****
“Surat bersama yang ditulis oleh semua orang akhirnya telah selesai, jadi aku berpikir untuk meminta seseorang untuk membawa surat ini kepada Watarase-san di hari libur nanti. Aku yakin Watarase-san akan jauh lebih senang jika siswa yang mengantarnya dibandingkan diriku. Apa ada yang ingin pergi?” Tanya Yoshie-sensei.
Yoshie-sensei adalah wanita yang cukup cantik yang berusia awal dua puluhan, tapi mungkin karena dia belum lama menjabat menjadi seorang guru, cara dia melakukan homeroom masih agak kaku.
Bahkan setelah diberitahu semua ini, tidak ada seorang pun yang mengajukan diri dan hanya berpikiran, “merepotkan sekali.”
Tidak ada satu murid pun yang mengangkat tangan. Semua orang sudah menduga ini. Jika terus seperti ini, Yoshie-sensei pasti akan menunjuk seseorang untuk melakukan tugas tersebut. Semua orang menutupi wajah mereka,  tidak mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka berharap tidak akan terpilih.
Dan kemudian, tiba-tiba, Kayama mengangkat tangannya. Semua orang terkejut dan menatap ke arahnya secara bersamaan.
“Aku akan pergi,” katanya.
“Ah, kalau begitu, maaf tentang ini, tapi kurasa aku bisa mengandalkan hal ini padamu,” kata Yoshie-sensei.
Pada saat itu, ada sesuatu jejak misterius di dalam ekspresi Kayama. Sesuatu yang menyerupai keberanian suram. Sulit untuk membayangkan bahwa dia rela menjadi sukarelawan.
... Jika memang tidak menyukainya, seharusnya Ia tidak mengatakan apapun. Mengapa Kayama mengatakan bahwa ia akan pergi? Pikirku, merasa sedikit penasaran.

*****

Akhir pekan pun tiba, dan pada hari Minggu, Kayama tiba-tiba meneleponku dan memintaku untuk menemuinya.
“Aku ingin minta bantuanmu,” katanya.
Kami tidak terlalu dekat untuk membuat kebiasaan bertemu satu sama lain pada hari libur, jadi ini bisa dianggap sebagai kejadian yang langka.
Merepotkan sekali, tapi aku menuju ke rumahnya karena aku sudah diberitahu.
“Aku terkena demam,” kata Kayama, yang datang ke pintu depan dengan menggunakan piyama, dan memakai masker. “Kau bisa lihat sendiri.”
Tapi Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang menderita demam. Seolah-olah dia hanya menunjukkan cosplay orang sakit padaku.
“Jadi, bantuan apa?” Tanyaku, sedikit kesal.
"Ah, jadi ... aku tidak bisa pergi mengunjungi Watarase Mamizu," kata Kayama.
“Dan kau memintaku untuk pergi menggantikanmu?” Tanyaku, memastikan situasi.
“Yeah,” Jawab Kayama.
Dia kembali ke dalam rumahnya, dan setelah beberapa saat, dia kembali dengan tumpukan kertas dan barang-barang yang harus diberikan kepada Watarase-san.
“Aku mengandalkanmu,” katanya sambil memberikannya padaku.
Seakan tidak ingin memperpanjang percakapan lebih lanjut, Kayama masuk kembali ke dalam rumahnya. Sejujurnya, aku tidak bisa mempercayai semua ini.