The World Made By Love, So Love is Root of Life

Friday, 15 March 2019

Seishun Haisha Bocchi Prolog Bahasa Indonesia




 Prolog - Pelanggaran Disiplin Seragam Sekolah

Biar aku perjelas, ini sama sekali bukan berkah untukku.

Di dalam perpustakaan sepulang sekolah. Sinar matahari oranye bersinar dari samping dan memantul dari meja dan rak buku. Sekarang sudah musim semi dan angin sejuk yang datang dari jendela yang sedikit terbuka membuatku merasa agak dingin.
Ini adalah tempat yang menenangkan. Dulunya ini adalah tempat yang bagus. Jika tak ada ujian, hampir tidak ada orang yang keluar masuk. Untuk siswa yang suram seperti diriku, yang mengistirahatkan jiwa lelahnya dengan belajar, tempat ini adalah tanah suci. Namun…
“Ngomong-ngomong, bukannya ini lucu? Seorang Kutu buku tak disangka orangnya baik juga, lol
Gadis yang duduk di kursi sebelahku dan melihat catatanku - Tachibana Karen. Dia berada di kelas yang sama dan ... apa ya namanya? Oh ya, Gyaru. Ini bukan pengenalan yang baik, tapi aku tidak punya kata lain untuk menggambarkannya. Sejak awal, kami belum berbicara selama seminggu, jadi aku tidak tahu apa-apa selain penampilan dirinya.
“Sejujurnya, dia adalah orang baik yang dengan ramah membantu mengerjakan PR. Aku harus menyebarkannya  informasi ini di kelas, apa kamu setuju, kutu buku?”
“ ... Kau bisa diam tidak, sih? Lihat baik-baik, cepat hafalkan metode penyelesaiannya. Aku ingin melanjutkan belajarku sendiri.”
“OK, OK. Aku mengerti ♪”
Jadi, mengenai penampilannya, sangat merepotkan karena dia begitu cantik. Singkatnya, dia imut dan mempesona, tapi dalam kasus gadis ini, dia itu tipe yang cukup mencolok, dan glamor. Wajahnya yang terawatt baik, rambutnya pirang kemerahan dan cukup cerah. Jika kau menambahkan dengan penampilan seragamnya yang acak-acakan, bisa disimpulkan sebagai Pelanggaran disiplin seragam sekolahan. Di atas semua itu, kelihatannya dia memakai parfum, ada bau harum darinya.
Singkatnya, untuk penyendiri seperti diriku, yang lebih baik digambarkan sebagai " udara berjalan ", dia adalah tipe orang yang paling sulit dihadapi. Memang benar. Jika aku berpapasan dengannya di koridor, bahkan sebelum aku sempat melihatnya, sensor bahayaku sudah mulai bekerja, tidak pernah membiarkan diriku melakukan kontak mata dengannya. Bahkan sekarang, jika mata kita bertemu, aku segera berpaling.
Yah, dia memang imut, sih, tapi ... Meski begitu, apa yang bisa aku lakukan?
Jauh dari pasif, pihak lain malah datang ke sini untuk menggodaku.
Awalnya, aku datang ke sini untuk menghabiskan waktu untuk belajar sendiri.
Namun, beberapa hari terakhir aku harus membantu gadis ini dengan belajarnya seusai pulang sekolah. Pada hari pertama, aku hanya sedikit membantu PRnya. Aku tidak terlalu memikirkannya dan percaya kalau itu cuma sehari. Tapi, pada hari berikutnya pun  sama, dan tanpa aku sadari, hari berikutnya lagi ...
“Ini, aku akan menulis ringkasannya di sini. Kau akan bisa melakukan faktorisasi dengan cara itu.”
“Eeeh, mana mungkin aku bisa memperhatikan ringkasan itu.”
“Memangnya aku peduli ……. Buatlah supaya kau bisa. Ngomong-ngomong, kau terlalu dekat, kau masih bisa melihatnya meski kau agak jauh dariku.” 
“Fu-u-un?” 
“Apa-apaan dengan "fu-un" itu, apanya yang "fu-u-n"! Ayo, menjauh dikit, jangan nempel-nempel terus dan jangan ganggu aku ...”
Tachibana menyeringai senang. Atau lebih tepatnya, aku punya firasat kalau dia menatapku seperti orang idiot. Pada saat itu dan masih menempel denganku, dia menyandarkankan bahunya dengan jeritan ei dan mengejutkanku.
“Hahaha ... Semua reaksimu terlihat sangat lucu. Bertingkah begitu tertekan dan aneh, jadi kamu ini benar-benar perjaka, ya?”
“Kau bilang begitu sekali lagi dan aku akan mulai memanggilmu lacur ...”
Benar, gadis yang bernama Tachibana Karen ini memiliki reputasi buruk di kelas kita, semua anak cowok percaya kalau dia adalah lacur yang akan “memakan” cowok mana pun yang dia sukai. Informasi ini cukup banyak yang tau, mengingat bahkan seorang penyendiri seperti diriku pun tahu.
―― Kabar burung yang beredar, dia berjalan dengan pria tampan di distrik lampu merah. [TN: Bagi yang kurang tau maksud dari distrik lampu merah, itu adalah area prostitusi di jepang] 
―― Kabar burung yang beredar, dia sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya yang terlihat kaya di kursi belakang mobil mewah. 
Yah, mereka memang rumor yang tidak berdasar, tapi karena dipanggil perjaka, kurasa rasanya adil untuk memanggilnya lacur.
Namun, Tachibana sepertinya tidak benci dipanggil seperti itu. Sebaliknya, dia meletakkan tangannya ke dagunya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu tahu, aku sih tak keberatan dipanggil lacur, tapi …...”
Mulutnya menyeringai secara provokatif.
“Jika kita berdua mulai memanggil satu sama lain seperti itu, bukannya nanti semua orang akan berpikir kalau kita berdua ini sangat akrab ...?”
……
…………
“Kau ini!”
“Jangan malu-malu gitu. Wajahmu merah banget, tuh. Ayo lihat ke sini!”
“Berhenti ... Jangan colek-colek! Siapa juga yang malu-malu. Dan, kita juga tidak akrab sama sekali.”
“Hahaha…”
Tachibana tertawa terbahak-bahak.
Ada apa denganmu ... Apa kau ingin belajar atau mengejekku? Bilang yang jelas, coba?
Aku tidak bisa mengeluarkan kartu andalan "Ini perpustakaan, jangan ribut" dalam situasi ini. Itu karena, di perpustakaan ini tidak ada orang lain lagi. Sebenarnya masih ada staf di meja resepsionis. Apa dia sedang merokok, sering sekali keluar tanpa kembali? Dengan kata lain, saat ini, di ruangan berdebu ini. hanya ada kita berdua.
“Aaaahaahaha, lucu banget. Ini mungkin bisa menjadi kebiasaan, hahaha ...”
Mana mungkin dia pandai belajar - dia memiliki kesan seperti itu.
Pertama, mengapa dia ketawa-ketawa gitu? Aku hanya tidak mengerti ......namun, rasanya mengherankan tenatang bagaimana dia mengingat semua yang aku ajarkan padanya pada hari berikutnya. Mengapa kau perlu belajar?
Aku ingin bertanya kepadanya, tapi aku mengurungkan niatku. Aku kesal karena jika aku bertanya, itu sama saja artinya kalau aku tertarik padanya.
Aku tidak lebih dari mainan untuk orang lain. Paling-paling dia akan bosan denganku tak lama lagi. 
Dengan pemikiran seperti itu, aku memutuskan untuk membiarkannya berlalu.
“Haa ... aku sudah puas tertawa. Nah, ajari aku hal selanjutnya?” 
“O, Oke ...”
Aku akan mengulanginya sekali lagi, ini bukan berkah untuk diriku. Sebaliknya, ini adalah malapetaka, sebuah cobaan. Tidak, ini adalah azab.
Tak diragukan lagi, fakta kalau aku membolos saat persiapan untuk festival sekolah tahun lalu membuat Dewa Masa Muda marah atau semacamnya. Tidak, jika aku benar, itu belum semuanya. Pertama-tama, di dalam dunia Masa Muda, aku adalah pendosa besar karena menjadi penyendiri. Takkan aneh jika kemalangan akan menimpaku.
Kutu buku penyendiri yang tidak disukai siapa pun adalah diriku.
Dan seorang gadis yang mencolok, yang selalu tertawa di tengah-tengah kelas.

Ini adalah cerita tentang seorang anak cowok seperti NPC dan seorang gadis cantik jelita.




No comments:

Post a Comment

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat