true became fiction when fiction's true

Tuesday, 31 December 2019

December 31, 2019

Hello, Hello, and Hello Kata Penutup


Kata Penutup

Senang bertemu dengan Anda.
Dalam sebuah kalimat, saya akan mengatakan pekerjaan ini adalah 'Halo' pertama dari saya untuk Anda. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda melalui kisah yang berat ini. Saya Aya Hazuki.
Mulai sekarang, tolong jaga saya.
Nah, sebelum saya mulai menulis, saya merasa bingung mengenai apa yang harus saya tulis untuk kata penutup. Karena halaman yang terbatas, jadi saya akan menulis episode kecil yang melibatkan saya dan pekerjaan ini.
Saat itu adalah akhir Maret 2017, pada waktu itu cuaca masih dingin. Pada hari itu, saya mengirim naskah saya melalui internet, dan memimpikan diri saya debut sebagai penulis, mengedit karya ini. Hari itu, saya berniat mengubah nama pemeran wanita menjadi kanji, dan tangan saya menulis terlalu cepat, lantas mengubahnya.
Akhirnya, layar memperlihatkan kanji yang saya pelajari di sekolah dasar. Itu bukan Yuki ( ), juga bukan salju (). Ketika saya melihat itu, ahh, pikir saya, dan hanya bisa tersenyum sendiri.
Rasanya sungguh memalukan, akhirnya saya menyadari sifat cerita yang saya tulis. Saat ini, saya menyadari bahwa kata-kata terakhir yang ditinggalkan Yuki benar-benar tulus. Kami tidak pernah bertemu, tetapi saya benar-benar yakin bahwa dia memang ada.
Itu sebabnya dia berkata dengan senyum secerah mungkin.
Ini adalah kisah cinta yang bahagia (, Yuki).
Nah, untuk ucapan terima kasih.
Mulai dari, para peguji yang menilai karya ini dengan 'penghargaan emas' yang langka, dan melimpahi banyak gairah ke dalamnya. Buuta-san, yang memberikan ilustrasi menakjubkan Yuki dan Haruyoshi. Desainer Kamabe-san yang melegenda bagiku. Semua orang yang membantu saya, ini semua berkat bantuan Anda bahwa buku ini adalah yang paling istimewa di dunia. Bagi seseorang yang menyukai buku, ini adalah sesuatu yang paling saya sukai.
Terima kasih banyak.
Tentu saja, rasa terima kasih saya  yang tulus untuk Anda  yang membaca karya ini.
Andai, di pertengahan musim panas terpanas, festival budaya musim gugur tertentu, atau malam bersalju, Anda dapat mencium aroma pagi musim semi, dan mengingat sedikit ceritanya.
Ini akan menjadi sukacita terbesar untuk pekerjaan ini, dan bagi saya sendiri.
“Maaf kalo rasanya mendadak, tapi apa saya boleh meminta sesuatu darimu?”
Jika suatu hari, jika Anda bisa mendengar suara ini bersama aroma sakura.
Tolong pikirkanlah gadis cantik layaknya salju yang sedang tersenyum bahagia–
Desember 2017. Hari dimana Ia dan dia bertemu. Aya Hazuki.
December 31, 2019

Hello, Hello, and Hello Bonus 2 Bahasa Indonesia


“Hei, Haru-kun, ini untukmu——”
Orang yang memberikan sesuatu padaku dengan senyuman adalah adik perempuanku, Natsuna.
Dia memegang sangkar hijau di tangan kecilnya, dengan kumbang di dalamnya.
Ini terjadi saat aku di kelas tiga SD.
Saat itu, hal yang populer bukanlah permainan video atau permainan kartu kolektif, tapi menangkap serangga.
Saat itu, siapa pun yang punya kumbang besar yang terlihat keren akan langsung populer, tetapi selalu teman-temanku yang menangkapnya. Aku bisa mengingat dengan baik bahwa aku tidak bisa menangkap satu pun.
“Bagaimana dengan itu?”
“Aku pikir kamu mungkin menyukainya, Haru-kun, jadi aku menangkapnya.”
Balas Natsuna dengan sangat gembira. Lengan rampingnya mengalami lecet dimana-mana.
Dia lebih ceria ketimbang kebanyakan anak laki-laki, dan sering suka bermain sepak bola dan bola basket dengan mereka, tapi dia hampir tak pernah terluka, terutama karena dia memahami konsep-konsep olahraga. Dan, dia sangat baik kepada ibu karena ibu selalu khawatir kalau dia, seorang gadis, mudah terluka.
Hari ini terlihat berbeda. Jarang-jarang melihat Natsuna terluka.
Dia terluka karena diriku, dan karena itu, hidungku sedikit gatal.
“Rasanya sakit, ‘kan?”
Dengan lembut aku menyentuh luka di wajah Natsuna. Dia secara naluriah menutup matanya, tetapi dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa. Ini tidak sakit, kok. ”
“Baru terasa saat basah pas mandi.”
“Aku akan menahannya.”
“Hey, Natsuna.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Aku berterima kasih pada Natsuna, menyentuh kepalanya. Suara rambutnya halus dan lembut, dengan sedikit wangi. Kami menggunakan sampo yang sama, tetapi mengapa baunya bisa berbeda?
Jadi aku membelai rambutnya dengan lembut, menyebabkan suara yang lembut dan gemerisik. Dia menunjukkan senyum pusing.
“Ehehe. Aku suka saat kamu mengelus kepalaku seperti ini, Haru-kun. ”
“Sungguh?”
“Bisakah kamu terus menggosok kepalaku di masa depan nanti?”
Melihat adik perempuanku mengajukan pertanyaan ini dengan sangat polos, aku mengangguk sambil meringis.
“Tentu, jika kau jadi anak baik, Natsuna.”
Bahkan sejak itu, apa pun yang terjadi, Natsuna akan menjulurkan kepalanya, dan aku akan mengelus kepalanya. Ini berakhir jadi kebiasaan burukku. Setiap kali aku melamun, aku akan mengelus kepala siapa saja, bukan hanya Natsuna. Seperti misalnya, temanku Akane.
Dan sekarang juga——
“Ini, Yoshi-kun, untukmu. Kamu sudah bekerja keras hari ini. Inilah hasilnya.”
Yuki memberiku jus.
Kata-katanya yang dibuat dengan cermat tampak megah, tapi aku tidak membencinya. Dia tampak senang ketika mengatakan ini, wajahnya sedikit gembira, agak mirip dengan wajah yang dibuat Natsuna muda.
Tentunya inilah alasannya.
Aku benar-benar tidak punya pikiran yang aneh-aneh di pikiranku, tetapi tubuhku tidak menuruti ketika aku mengulurkan tanganku ke arah Yuki. Tangan itu berhenti di udara, tidak menyentuh rambutnya. Perasaan ingin menyentuh Yuki bertentangan dengan perasaan yang seharusnya tidak kulakukan, membuat kesalahan.
Ini adalah pertama kalinya ini terjadi padaku, dan aku terkejut, terganggu oleh perasaanku sendiri.
“Ada apa, Yoshi-kun?”
Yuki memiringkan kepalanya, menatapku. Pada saat ini, dorongan untuk menyentuh Yuki membuatku kewalahan, tetapi aku melakukan yang terbaik untuk menahannya. Kami baru saja bertemu satu sama lain beberapa hari yang lalu.
“Tidak apa-apa. Maaf. Aku pikir di rambutmu ada daun atau sesuatu, tapi tampaknya aku salah lihat.”
Aku membuat alasan, dan menerima jus dari Yuki. Aku bisa merasakan dingin, perasaan tanpa cinta, sementara hatiku berpikir, ini bukan.
Apakah suatu hari telapak tanganku akan menemukan tempat yang seharusnya?
Dalam waktu dekat (dekat masa lalu), aku akan menemukan jawaban itu.
December 31, 2019

Hello, Hello, and Hello Epilog Bahasa Indonesia


Epilog – Aroma Yuki

Pagi hari, aku bangun seperti biasa, sarapan, dan mencuci muka, hanya untuk menyadari sesuatu. Tidak, aku sudah tahu tentang itu, hanya saja hatiku dikelabui kenyataan.
Lengan seragam sekolah yang aku kenakan selama tiga tahun sudah tidak lagi cocok untukku.
Pada akhir Februari, aku mengikuti ujian kedua. Bahkan belum seminggu berlalu, dan hari ini adalah upacara kelulusan. Kemarin hasil pengumumannya keluar.
Selama beberapa hari terakhir, aku terus berjuang keras.
Aku berniat memeriksa nomorku di komputer, untuk melihat apa aku berhasil lulus atau tidak, tapi ayah sudah mengintip sebelumnya. Selamat, ujarnya melalui telepon, suaranya bergetar. Terima kasih. Itu adalah percakapan singkat yang kami lakukan. Begitu aku menutup telepon, kegembiraan bangkit dari hatiku.
Aku segera jatuh ke tempat tidur, tanganku meraih cahaya oranye. Telapak tanganku merasakan kehangatan, jadi aku mengepalkannya. Aku merasa sedang mengambil sesuatu. Kemudian, aku membuka tangan. Tak ada apa-apa di sana, tapi ...
Aku mengambil sesuatu.
Aku berganti ke baju dan celana jins, dan mengenakan kardigan, lalu menuju jalan ke sekolahku yang sering kulalui selama tiga tahun. Selama pertengahan Februari, ada banyak salju yang menumpuk, tapi pada titik ini, musim semi sudah tiba.
Dengan matahari yang hangat menyinari, salju lenyap tanpa jejak.
Aku memandangi langit biru ketika terus berjalan, dan melihat sebuah wajah yang familiar.
Sudah seminggu sejak kita bertemu, ‘kan? Sebelum itu, kami akan bertemu setiap hari. Ini aneh. Masalah hubungan manusia ini dapat dengan mudah putus seperti ini jika kita berdua tidak mempertahankannya. Hal-hal yang tidak ingin kupasrahi, aku harus terus mengulurkan tangan untuk mereka.
“Yaa, pagi Akane.”
Aku mengangkat tangan untuk menyambutnya, dan dia balas melambai,
“Pagi. Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini?”
“Pergi lapor ke sekolah kalau aku lulus. Hasilnya baru keluar kemarin.”
“Kamu terlalu serius. Aku menyelesaikannya melalui telepon.”
“Yah, ada banyak guru yang membantuku, jadi aku ingin memberi tahu mereka kabar baik secara langsung. Jika kau punya waktu, apa kau mau ikut denganku, Akane?”
“Tentu. Akane-san ini cukup baik untuk ikut denganmu. ”
“Terima kasih.”
Ada beberapa pejalan kaki di hari kerja ini, dan ada bayangan kecil di depan kami, tidak ada orang lain yang terlihat. Ketika kami mendekatinya, sepertinya siluet itu mendekati kami, menjadi sedikit lebih besar. Meskip begitu, kami sangat jauh sehingga kami tidak dapat menentukan jenis kelamin satu sama lain. Akankah siluet itu mendekati kami, melewati kami, atau berbalik arah?
Tanpa berpikir terlalu banyak, aku mulai bertanya-tanya tentang hal yang tidak berguna ini, dan itu sebabnya aku akhirnya mengatakan sisanya,
“Akane. Aku ingin bertanya sesuatu padamu, jadi berjanjilah, jangan marah, oke? ”
"Nggak. Bahkan jika aku bilang tidak, kamu akan bertanya. Kamu punya kepribadian bagus ya, Haru. ”
“Terima kasih untuk itu.”
“Tidak, aku sedang tidak memujimu. Tadi itu sarkastik, tau.”
“Tentu saja aku tahu itu.”
Kataku dengan ekspresi bangga, dan Akane menghela nafas, sepertinya sudah menyerah pada sesuatu.
“Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Hari itu, 14 Februari. Apa kau memberiku cokelat atau sesuatu ...? "
Untuk setiap kata yang aku katakan, ekspresi Akane jelas tampak semakin jengkel. Hanya dengan melihat suasana hatinya saja, aku sudah tahu jawabannya. Ahh, dia benar-benar marah. Tidak, dia hanya merajuk.
“Itu tidak pernah terjadi, kan?”
Setelah aku mengatakan itu, Akane mencubit wajahku. Bagaimanapun, itu menyakitkan.
“Kau bertanya pada gadis yang kau tolak?”
“Itu sebabnya aku memintamu untuk tidak marah.”
“Dalam mimpimu.”
Akane mencubit pipiku yang lain dengan tangannya yang lain. Yay, yay, dia bercanda sambil memainkan kedua pipik. Serius, apa ini? Ini sangat menyakitkan.
Puhahaha, dia tidak bisa menahan tawa. Kamu benar-benar jelek, ujarnya.
“Haa, puas banget ketawanya. Karena aku orang yang pengampun, aku akan menjelaskan ini. Jadi, apa yang kamu katakan? Ah, aku ingat. Kamu menerima cokelat dari seseorang pada tanggal 14, ‘kan, Haru? ”
“Iyha.”
Pipiku ditarik lebar-lebar, aku tidak bisa membuka mulut, jadi aku belum bisa menjawab dengan benar. Tampaknya Akane juga tahu ketika akhirnya dia melepaskannya. Begitu aku merasa lega, aku ditamparnya dengan kedua tangan. Rasanya lebih menyakitkan lima kali lipat dari sebelumnya.
“Kamu tidak tahu dari mana kamu mendapatkannya, jadi itu artinya, kamu tidak menerimanya dari tangan orang itu, kan?”
Aku mengusap pipiku, mengangguk.
“Itu ada di kotak surat rumahku. Aku menemukannya saat mengambil koran pagi. Tidak ada nama pengirim di dalamnya, tapi aku rasa itu mungkin dari seseorang yang tahu kebiasaanku yang mengumpulkan koran setiap pagi.”
Itu hanya cokelat biasa. Ya, yang biasa dijual di toko terdekat, dan tidak memiliki kemasan. Aku sering makan cokelat seperti itu pas SMP dulu, tetapi rasanya berbeda dari apa yang aku makan saat itu. Rasanya sangat manis.
“Aku tidak tahu kalau kamu punya kebiasaan mengambil koran, Haru.”
“Fumu. Jika bukan kau, Akane, lalu siapa? ”
“Kamu bertanya siapa, tapi sekarang sudah tidak masalah, ‘kan? Orang itu mungkin mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengirimkan cokelat itu padamu. Saat ini, cokelatnya ada di tanganmu. Ya, benar. Cintanya mungkin sudah terbayar. Lagipula cinta seperti itu memang ada. Dengar, secara pribadi, aku tak berpikir cinta yang bertepuk sebelah tangan itu selalu kejam.”
Setelah aku diberitahu tentang itu, aku tidak melanjutkan masalah ini.
Aku tak bisa menanggapi keberanian dan kekaguman Akane. Tapi itu sudah diduga. Selain itu,
“Mumpung kau masih marah, aku ingin bertanya sesuatu, oke?”
“…Silahkan saja.”
“Bagaimana rasanya menyukai sesuatu?”
Akane menatapku.
“Aku belum pernah jatuh cinta.”
Selama 18 tahun terakhir, aku tidak pernah memiliki hubungan asmara dengan siapapun.
Sepanjang hidupku, aku tak pernah tahu tentang hasrat yang tak kenal takut untuk menganggap dunia sebagai musuh, dan aku tahu bahwa ada rasa sakit yang membakar di hatiku.
Tenang, kamu tahu cinta dengan sangat baik. Balas Akane membantah apa yang aku katakan.
“Saat itu, Haru, ketika kamu menolak pengakuanku, kamu sudah jatuh cinta pada seseorang. Tidak. Mungkin itu bukan cinta, tapi saat itu, hatimu pasti merasakan sesuatu yang sangat menyala seperti cinta. Saat itu, hatimu pasti mengandung keberadaan yang lebih penting daripada diriku. Karena itulah kamu menolak pengakuanku, Haru. ”
Akane, berjalan mundur sepanjang waktu, berbalik, dan melanjutkan dengan punggungnya yang menghadapku.
“Gadis itu cukup kuat tau, sekaligus lemah, makhluk bodoh, kurasa. Laki-laki mungkin takkan mengerti ini, kurasa. Ini seperti menaruh permata di laci, dan membawanya keluar untuk melihat dan memuaskan perasaannya. Jika ada permata atau sesuatu yang serupa di hati, maka tidak peduli keputusasaan, seorang gadis dapat terus hidup. Aku pikir gairahmu menjadi permata orang itu, Haru. ”
“Kau terlalu melebih-lebihkannya. Tak ada bukti untuk apa yang kau katakan.”
“Ya. Tapi aku memiliki sesuatu yang lebih meyakinkan.”
“Apa itu?”
“Naluri seorang gadis.”
Usai mengatakan itu, Akane berhenti berbicara. Punggungnya jelas bertuliskan kata 'jangan tanya lagi'.
Saat itu, aku akhirnya memperhatikan sesuatu. Siluet yang seharusnya jauh dari kami perlahan melewati kami. Kami mengobrol lama, ya? Sepertinya itu perempuan. Kunci rambut panjang memasuki sudut mataku sejenak, sebelum akhirnya pergi. Aku tidak bisa melihatnya. Namun aroma wangi musim semi adalah bukti bahwa dia pernah ada, berlama-lama di udara.
Tiba-tiba, hembusan bertiup, mendorong punggungku.
Sebuah suara datang bersamanya.
Hanya satu kalimat.
Yoshi-kun.
Aku merasa bahwa aku dipanggil dengan namaku yang terakhir.
Setelah mendengar ini untuk pertama kalinya, aku buru-buru berbalik, tetapi tidak ada seorang pun di belakang. Akane menyadari aku berhenti, dan berbalik untuk melihat ke arahku.
Saat berikutnya, kami berdua terkejut dan dibuat takjub.
Di hadapan kami, ada pemandangan yang sangat indah.
Karena hembusan angin musim semi, sesuatu yang mirip dengan partikel cahaya putih berkilauan, seolah memberkati dunia.
Dan tersebar.
Seperti butiran salju.
– kumpulan kelopak sakura tengah menari.
Aku membuka telapak tanganku, dengan lembut menggenggamnya, dan membukanya untuk melihat kelopak putih tergeletak di atasnya. Kelopak itu tidak meleleh karena telapak tanganku, dan tertiup angin sekali lagi, terbang ke tempat yang tidak dikenal.
Ke tempat yang tidak bisa aku jangkau.
Aku merasa sedikit sedih. Kenapa aku merasa begitu?
Aku menghela nafas, dan menghirup udara segar musim semi ini.
“Rasanya seperti salju.”
“Eh, mana mungkin. Sekarang ‘kan tidak ada salju. Ini aroma sakura.”
Aku ingat pernah bermain bola salju melawan anak-anak SD musim dingin kemarin.
Untuk membagi tim, kami menggunakan parfum sakura. Salju dengan wewangian itu menghantam wajah u, membawa banyak rasa sakit dan dingin. Hal tersebut, bersamaan dengan aroma sakura yang mengikutinya, sudah tertanam kuat di benakku.
Salju mengeluarkan aroma sakura. Dua hal yang pasti tidak bisa hidup berdampingan pasti disatukan. Bukannya itu menarik? Tidak ada yang aneh tentang itu.
Ini seperti dunia berusaha menyembunyikan rahasia–
Kemungkinan besar, itu disebut keajaiban.
Pikirku sambil tersenyum, menyangkal kata-kata Akane,
“Tidak, ini aroma Yuki (salju).”
Aku percaya bahwa di masa depan, setiap musim semi, aku akan mengingat salju yang mencair.
Untuk beberapa alasan, itu saja sudah cukup bagiku untuk merasa bahagia.


Monday, 30 December 2019

December 30, 2019

Hello, Hello, and Hello Prolog Bahasa Indonesia


Prolog - Perjumpaanku dengan dirinya

Ini adalah kisah cinta diriku (boku) yang hilang 214 kali.
Dan-
Ini adalah kisah cinta diriku (watashi) yang diperoleh dari jarak yang terbentang empat tahun.
“Hei, Yoshi-kun. Aku-"
Seorang gadis yang tidak kukenal memanggilku.
Suaranya sehangat matahari musim semi, dan selembut angin yang mengangkat bunga.
Jika kuingat kembali, suara itulah yang menarik perhatianku.

❀❀❀

Jarum jam menunjukkan pukul 11 malam.
Tasku terasa berat karena dipenuhi buku-buku pelajaran, dan berat tersebut membuat bahuku terasa sakit. Perutku keruyukan. Biasanya, jam segini aku sudah kembali ke rumah.
Tetapi pada hari itu, aku berjalan tanpa tujuan di kota.
Apa yang terjadi beberapa jam yang lalu masih terngiang dipikiranku.
Aku melarikan diri dari mata yang dipenuhi tekad.
Serta, emosi yang kuat.
Kembali ke ruang kelas yang redup sepulang sekolah, teman sekelasku, Akane Rindou, mengatakan sesuatu padaku,
"Aku menyukaimu, Haru. Tolong jadilah pacarku. "
Wajahnya benar-benar merah padam, dan bahunya gemetaran di hadapanku. Namun suaranya yang nyaring sama sekali tidak goyah.
Dia terlihat cantik dan mempesona seperti biasanya.
Benar-benar sangat cantik.
Jadi, rasanya akan sangat menakjubkan bila aku menjawab kalau aku menyukainya.
Sebenarnya, aku sedikit mengagumi Akane. Namun, perasaan yang aku miliki sangat berbeda dari perasaan yang dimilikinya. Tak masalah apa itu warnanya, bentuknya, beratnya, atau bahkan jenisnya.
Perasaan yang kami sembunyikan satu sama lain sama sekali tidak sama.
Fakta itu saja sudah cukup untuk mencegah perasaan kami terbalas.
"Maaf."
Aku menelan air liur demi membasahi tenggorokanku yang kering, dan mengucapkan kata-kata tersebut.
Kepala Akane menunduk perlahan, dan tertunduk lesu. Rambut panjang yang menutupi bahunya menutupi ekspresinya. Meski begitu, Akane mencoba berbicara beberapa kali, tapi hanya bisa membuka dan menutup mulutnya, tanpa bisa mengucapkan sepatah kata.
Aku juga hanya bisa diam seribu bahasa sembari menundukkan kepala, lalu melarikan diri dari ruang kelas yang kosong.
Aku lupa apa yang terjadi setelah itu. Sebagian ingatanku sedikit samar. Aku tidak langsung pulang, dan hanya keluyuran di jalan.
Sekarang adalah musim dingin, namun punggungku basah karena keringat. Pandanganku sedikit kabur karena kurang fokus. Kakiku sepertinya sudah lupa bagaimana harus berhenti ketika aku terus berjalan maju.
Kemudian, aku akhirnya berhenti setelah berjalan ke tempat yang tidak asing bagiku.
Jika bukan karena papan reklame, yang lumayan sedikit berubah, mungkin aku tidak menyadarinya.
Tempat ini sudah terbengkalai selama bertahun-tahun, tapi tampaknya sebuah bangunan akan dibangun mulai musim depan. Begitu ya. Jadi tempat ini akan hilang? Aku tidak tahu apa aku harus menganggapnya sebagai kenangan atau bukan, tapi yang jelas tempat ini memiliki beberapa kenangan yang aku ingat.
Disinilah tempat aku mengubur seekor kucing.
Seekor kucing yang cantik dengan bulu putih.
Kucing putih tersebut menutup matanya, seolah-olah tengah tertidur ketika aku menyentuh tubuh kecilnya dengan ujung jari. Pada saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memahami konsep itu. Ya, tidak ada kehidupan di dalamnya. Apa yang aku sentuh hanyalah kulit kosong. Kaku, berat, dan lebih dingin dari apapun.
Fenomena yang terjadi dihadapan diriku yang SMP adalah 'kematian'.
Aku merasa tidak berdaya.
Dan seperti kebanyakan orang di dunia ini, aku mengubur jasad kucing putih tersebut untuk membuat hatiku rileks, dan menepuk tangan demi mendoakan arwah kucing tersebut. Itu adalah kejadian yang terjadi sekitar empat tahun lalu.
Tanpa aku sadari, kakiku sudah sampai ke gundukan, tempat aku mengubur kucing putih itu. Mungkin aku harus menepuk tangan untuk berdoa lagi. Ini akan menjadi kesempatan sempurna untuk mengakhiri pelarian yang tak pernah berakhir ini, pikirku.
Dan di sanalah aku berjumpa dengannya.
Seorang gadis cantik seputih kucing. Kulitnya seputih salju, pipinya semerah apel yang ranum. Ada serpihan salju yang menempel pada rambut panjangnya.
Kepingan salju menyentuh wajah gadis ini, yang namanya tidak aku kenal, dan meleleh. Dia tersenyum bahagia, namun karena kepingan salju itu, dia terlihat tengah menangis.
Bibirnya yang halus mulai bergerak, dan mengucapkan kata-kata putih tulus.

–Hei, Yoshi-kun. Aku menyukaimu.
Kenapa?
Kenapa kata-kata Akane tidak bisa menggerakkan hatiku sama sekali, namun gadis asing dihadapanku ini dengan mudahnya menggerakkan hatiku? Aspek-aspek seperti ketenangan dan rasionalitas menjadi terpisah pada saat itu.
Dihadapan emosi-emosi itu, aku sama sekali tidak berdaya.
Setelah mendengar jawabanku, dia pun tersenyum.
Dia terlihat sangat senang.
Dan juga, sedikit sedih.
Saat itu musim dingin, Kelas 3 SMA.
Begitulah aku bertemu Yuki Shiina.
Ini adalah pertemuanku dengan Yuki.
Karena itu,
Ya, oleh karena itu, aku tidak tahu apa-apa.
Sama sekali tidak tahu, bagaimana perasaan Yuki saat dia melakukan pengakuan cintanya padaku saat itu.
Sama sekali tidak tahu, tekad Yuki ketika dia memutuskan untuk tersenyum di hadapanku.
Sama sekali tidak tahu, apa yang Yuki berikan padaku, sesuatu yang meleleh dan lenyap dari tanganku.
Aku benar-benar tidak tahu apa-apa.



December 30, 2019

Hello, Hello, and Hello Bahasa Indonesia


Romance Tragedy

Author : 
Hazuki Fumi

Ilustrator : 
Boot

Sinopsis:

Ini adalah kisah tentang bagaimana diriku menemukan dan kehilangan cinta setiap minggu selama 214 minggu berturut-turut.

Dan kisah tentang bagaimana, selama rentang empat tahun, Aku jatuh cinta pada gadis yang sama.

"Hei, Yoshi-kun. Aku pikir kamu——"

Mendengar suara tersebut membuatku menghentikan langkah. Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Di lapangan SMP, dan di toko buku di depan stasiun. Dan kemudian di tempat kosong dimana tempat kucing putih tertidur. Shiina Yuki, gadis aneh yang entah bagaimana sangat mengenal tentang diriku, selalu mencoba mendekatiku.

Kami saling tertawa, menangis, marah, berpegangan tangan. Lagi dan lagi, kami mengulangi ingatan yang hilang dan janji-janji sesaat tersebut. Itu sebabnya, aku tidak pernah tahu. Tidak pernah tahu nilai senyum atau makna dibalik air matanya. Bahkan tak mengerti sedikit pun dibalik ucapan 'Senang bertemu denganmu' darinya.

Ini adalah kisah pertemuan dan perpisahan yang kejam namun memikat hati.

Daftar isi :
Ilustrasi

Saturday, 28 December 2019

Sunday, 22 December 2019

Sunday, 8 December 2019

December 08, 2019

Nee-chan wa Chuunibyou Vol.2 Chapter 02 Bahasa Indonesia


Penerjemah : Nero
Editor : Nero
Chapter 02 - Penjamuan di Kediaman Noro

Keluarga Noro secara teratur mengadakan penjamuan di rumah mereka.
Ini adalah acara besar dimana semua klan Noro berkumpul bersama-sama di aula besar, namun Aiko tidak menyukai mereka, karena tujuan penjamuan ini adalah untuk meminum darah.
Tanpa meminum darah manusia, vampir akan semakin lemah dan akhirnya mati. Aiko mengetahuinya dengan baik setelah menyaksikan ibunya yang sakit dan memerlukan darah manusia untuk bertahan hidup.
Dia diberitahu bahwa mereka umumnya memakai darah yang dibuat dari produk transfusi, dan konsumsinya dibatasi hanya pada malam penjamuan, karena mungkin kepala keluarga menyadari bahwa membiarkan mereka memiliki darah-darah itu sendiri tanpa pengawasan akan cepat berakhir dengan kekacauan.
Aiko pulang ke rumah setelah hari terakhir ujiannya, dan menghabiskan beberapa waktu untuk merenungkan diri di kamarnya. Namun ketika waktu penjamuan kian mendekat, dia mengenakan gaunnya dan pergi menuju ruang makan, membiarkan helaan napas keluar saat ia sampai. Ini cara yang mengecewakan untuk mengakhiri hari yang menyenangkan.
Para partisipan–semua anggota klan Noro, semua vampir–sudah tertata rapi duduk di meja makan.
Tempat duduk anggota keluarga dekat lebih menjurus ke dalam, sedangkan kerabat jauh lebih dekat dengan pintu masuk.
Sang ketua klan, ayah Aiko, Kazuya, duduk di ujung terjauh meja. Dia adalah pria berbadan besar dengan fisik berotot yang bahkan terlihat dibalik setelan pakaiannya. Sebagai direktur dari Rumah Sakit Umum Noro, dia mempunyai jadwal yang sangat sibuk, namun sepertinya ia masih bisa menyempatkan waktu untuk pelatihan di sela-sela kesibukannya.
Duduk bersebrangan dari Kazuya adalah kakek Aiko, Genzo, seorang pria tua berkumis yang nampak ramah. Dia kelahiran Prancis, namun telah dinaturalisasi dan mengubah namanya setelah datang ke Jepang. Dia juga fasih berbahasa Jepang dan tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi.
Normalnya, tempat duduk di sebelah Kazuya disediakan untuk ibu Aiko, Mariko, namun ia telah berdiam diri di kamarnya selama bertahun-tahun, dan tidak berpartisipasi dalam penjamuan.
Duduk di sebelah kanan Kazuya adalah kakak laki-laki Aiko, Kyoya. Dia saat ini kelas tiga di SMA Seishin, sekolah yang sama dengan Aiko. Darah Perancis dalam dirinya lebih menonjol secara penampilan, dengan fitur yang kental dibandingkan sebagian besar anak-anak Jepang. Rambutnya yang perak berkilauan tergerai sampai bahu.
Huh? Perak?
Rambutnya berwarna hitam beberapa saat lalu…apakah kondisinya semakin memburuk?
“Kondisi” Kyoya adalah chunibyounya. Versi miliknya jauh lebih delusional dibandingkan kakak perempuan Yuichi. Menjadi sekedar vampir saja tidak cukup baginya, karena dia masih tidak memiliki terlalu banyak kekuatan. Dia selalu membual tentang menjadi bangsawan dan “ras murni” yang sangat mengganggu Aiko.
Saat ini, ia dengan tenang bermain-main dengan gelas winenya. Perangainya mungkin terlihat kurang aktraktif bagi pengamat luar, namun ketika ia sudah bicara, Aiko tahu bahwa semua ilusi itu akan lenyap seketika.
Aiko juga memiliki kakak perempuan yang bernama Namiko, namun dia sudah menikah dan tidak duduk bersama keluarga Noro. Tempat duduknya agak lebih jauh bersama bayinya yang baru lahir.
Sisa para hadirin adalah kerabat jauh dari keluarga cabang. Aiko hanya mengenal setengah dari mereka.
Ada sekitar dua puluh orang, mereka mengenakan gaun dan setelan mewah sambil berbincang-bincang riang. Suasananya mengingatkan pada era berabad-abad lalu.
Aiko duduk bersebelahan dengan Kyoya, dan akhirnya seluruh anggota keluarga pun sudah hadir.
Meja berisi berbagai hidangan mewah yang dipilih, alternatif bagi orang-orang seperti Aiko yang ragu meminum darah secara langsung. Meski begitu, semua itu tidak menggugah seleranya, karena Aiko tahu bahwa ada darah manusia yang tercampur disana.
“Aku dengar kamu baru saja masuk SMA, Aiko. Sekarang kamu berubah menjadi gadis cantik.” Seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna merah, duduk di sebelah kiri Aiko, menyapanya.
“Kamu juga terlihat cantik seperti biasanya, bibi.” Balas Aiko.
Eriko Kamiya adalah saudara perempuan ibunya. Dia mengenakan gaun potongan rendah yang sangat cocok dengannya, serta mengeluarkan aura memikat yang bahkan membuat jantung Aiko berdegup kencang. Usianya lebih dari empat puluh tahun, Aiko tahu, namun penampilannya seperti gadis usia dua puluhan.
Aiko merasakan sedikit kecurigaan. Bibinya selalu terlihat muda, namun apakah dia selalu semuda ini?
“Aiko, kamu harus mendapatkan darah yang cukup,” bibinya bicara. “Kamu diberkati dengan tubuh yang sangat indah. Jangan sampai menyia-nyiakannya.” Eriko meneguk cairan merah di gelas wine-nya. “Ini sangat lezat. Kuharap aku bisa meminumnya setiap hari,” lanjutnya, dengan penuh kebahagiaan, memain-mainkan lidahnya yang semerah darah.
Melihatnya saja sudah membuat Aiko mual; tidak mungkin dia bisa menikmatinya seperti yang bibinya lakukan.
Dia melihat sekeliling ruangan dan mendapati bahwa yang lainnya juga tengah meneguk darah dari gelas mereka. Mereka yang melakukan itu penampilannya tampak sangat awet muda, sementara yang menyantap darah yang dicampur makanan penampilannya terlihat agak lebih tua.
“Aiko, kamu berada di usia yang tepat untuk memulainya. Tidaklah kamu ingin mempertahankan kecantikan yang kamu miliki?” Eriko bertanya.
“Aku cuma tidak menyukai rasanya…” Aiko bergumam. Dia tidak benar-benar tahu rasanya darah segar, namun sepertinya itu cara termudah untuk mengakhiri pembicaraan.
“Eriko, setiap orang boleh membuat pilihan. Jangan memaksanya.” Kazuya mengingatkan dengan suara rendah.
“Aku tidak memaksanya. Aku cuma tidak mengerti kenapa dia tidak menyukai rasanya. Ini manis lho,” Tanggap Eriko. Dia sepertinya tidak terima.
“Aiko, hari ini kamu baru menyelesaikan ujian akhir, kan? Apa kamu mengalami kesulitan?” Tanya Kazuya, mengubah topik.
“Hmmm, hampir sama dengan ujian tengah semester, kupikir..”
Dengan kata lain, tidak begitu bagus. Nilai Aiko cenderung lebih rendah dari rata-rata. Dia selalu melakukan yang terbaik, namun tidak pernah membuahkan hasil.
“Itu tidak bagus. Bagaimana kalau ayah mengajarimu?” Kazuya bertanya antusias. Sebagai seorang “dokter super” yang terkenal, akan mudah baginya mengajari seorang anak SMA.
“Tidak perlu. Ayah sangat sibuk kan? Aku akan meminta seorang teman untuk mengajariku. Nilainya sangat bagus,” ujar Aiko, teringat Yuichi. Meskipun Yuichi tidak tampak seperti anak yang rajin atau aktif di kelas, dia mendapat nilai yang bagus. Aiko tidak terlalu berpikir akan mendapat nilai bagus dalam ujian akhirnya, jadi secepatnya dia mungkin harus meminta bantuannya.
“Jadi begitu. Mungkin belajar dengan teman akan lebih baik. Omong-omong, kamu sebelumnya bilang bergabung dengan klub bertahan hidup di sekolah, kan? Apakah itu berbahaya?”
“Tidak berbahaya sama sekali. Kebanyakan kami hanya duduk di ruang klub dan mengobrol.” Dia memilih untuk tidak menyebutkan hal-hal berbahaya yang mereka obrolkan. Bagaimana bisa dia menjelaskan kepada ayahnya bahwa “cara membuat bom dan stun guns” adalah salah satu dari kegiatan mingguan mereka?
“Begitu. Yah, atletik tidak pernah cocok untukmu. Mungkin itu klub terbaik untuk-” Kyoya menyelanya, yang tiba-tiba berdiri.
“Aku sudah cukup dengan lelucon ini!” Dia berteriak.
Seluruh aula menjadi sunyi.
“Ada apa, Kyoya?” Tanya Kazuya. Dia merasa heran dengan perubahan sikap Kyoya yang tiba-tiba.
“Aku muak dengan “produk darah” sampah ini! Ini Konyol! Dimana kebanggaan kita sebagai klan bangsawan? Tidak bolehkah kita menancapkan taring kita ke leher mereka dan meminum darah secara langsung?”
“Apa yang kau bicarakan?” Kazuya bertanya heran.
Aiko juga tidak tahu apa yang memicu kemarahan kakak laki-lakinya itu.
Semua mata tertuju pada Kyouya. Karena merasa tidak nyaman semua orang menatapnya, Kyoya tiba-tiba begegas keluar aula.
“Kakak..” Kata Aiko.
“Aku penasaran apakah dia menumbuhkan taringnya…” Dia bisa mendengar Eriko bergumam di sebelahnya.
Itu adalah saran yang menggelikan. Sejauh yang Aiko tahu, vampir, termasuk kakak laki-lakinya, tidak mempunyai taring. Jadi tidak mungkin mereka bisa menggigit leher seseorang dan menghisap darahnya.
Ayah Aiko memecah keheningan di dalam aula.
“Yah, dia sedang dalam masa pubertas. Bukankah kita juga sama sewaktu masih muda?”
Pernyataan itu nampaknya untuk memecah ketegangan, mengingatkan semua orang saat masa-masa muda mereka. Kecanggungan yang memenuhi ruangan akhirnya bisa diredakan.
“Aku sedikit khawatir. Mungkin aku harus memeriksa keadaannya.” Kata Eriko, beranjak dari tempat duduknya.
Aiko sekilas melihat bibinya menatapnya. Dia merasa tidak nyaman tentang ini.
Eriko tersenyum.

✽✽✽✽✽

Kamar Kyouya tidak dikunci, jadi Eriko membukanya tanpa mengetuk, dan masuk ke dalam.
Kamar sederhana dengan sedikit barang-barang di dalamnya. Kyouya melemparkan dirinya ke tempat tidur dan berbaring disana, sambil menatap langit-langit.
“Saat ini, apa yang membuatmu murung?” tanya bibinya.
“Apa maumu?” Kyouya dengan ketus balik bertanya, namun ia tidak mengusirnya. Mungkin ia teringat betapa sering bibinya menggodanya sewaktu kecil.
“Aku cuma sedikit penasaran. Ohh…” Eriko mendesah saat ia hendak duduk di tempat tidur.
Dia tidak melawan saat bibinya mendekati wajahnya lalu menempelkan jarinya di bibir Kyouya. “Aku tahu itu. Taringmu tumbuh kan?”
Taring Kyouya lebih panjang dan lebih runcing dari kebanyakan orang, tanda bahwa dia telah menghisap darah manusia. Tentu saja, meminum yang palsu akan membuatnya tidak nyaman setelah meminum yang asli untuk pertama kalinya.
“Berapa kali kamu melakukan itu?” Tanya Eriko.
Itu juga menjelaskan sikap anehnya di aula penjamuan. Menghisap darah meningkatkan perubahan sikap yang tidak menentu, membuatnya semakin sulit untuk menahannya.
“Apa maksudmu?” Kyouya bertanya, sambil menatap Eriko.
Eriko membuka mulutnya untuk menunjukan taring miliknya. Kyouya melihatnya memanjang, yang pada akhirnya tumbuh dua kali lebih panjang dari taring orang normal.
Mata Kyouya terbelalak terkejut.
“Kurasa aku sudah sepuluh kali,” ujar Eriko setelah ia mengembalikan taringya ke bentuk normal. Dalam keadaan masih panjang tentu akan sulit baginya untuk berbicara.
“Kau bisa melakukan itu?” tanya Kyouya, makin mendekat ke arahnya.
“Ya, dan hal-hal lainnya juga. Contohnya…” Eriko menarik bahu Kyouya.
Mungkin karena dikejutkan oleh sikapnya yang tiba-tiba, Kyouya berusaha berontak, namun tidak bisa. Menghisap darah membuat Eriko menjadi jauh lebih kuat.
Dia bersandar pada leher Kyouya dan menancapkan taringnya, menghasilkan dua lubang kecil di lehernya dan mulai menghisap darah dari sana.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Tenanglah. Vampir yang berada di klan yang sama tidak akan saling mendominasi karena menghisap darah,” katanya. Luka di leher Kyouya pulih dengan cepat. “Namun ini adalah salah satu hal yang bisa kulakukan.”
Eriko bisa melihat dirinya sendiri menjilat bibirnya melalui mata Kyouya. Kyouya sepertinya juga bisa melihat dirinya melalui penglihatan bibinya.
Ini adalah salah satu kemampuan yang dimiliki Eriko: Saling berbagi penglihatan dan perasaan dengan mereka yang ia hisap darahnya.
“Apa ini benar-benar nyata?” Kyouya gemetar penuh emosi. Dia pastinya merasakan bahwa kekuatan ini bahkan lebih hebat dari sekedar memanjangkan taring.
“Kekuatan ini hanya berpengaruh kepada orang yang kau minum darahnya, dan akan kehilangan keefektifannya jika targetmu terlalu jauh.” Meskipun efek samping itu terbilang kecil jika dibandingkan tujuan asli Eriko.
“Aku cuma pernah mengsisap darah seseorang,” Kyouya menjawab, tidak yakin, seperti dia sedang
memikirkan sesuatu.
“Siapa itu? Aku harap orang itu tidak akan menyebabkan masalah untukmu nantinya.”
“Seorang gadis dari sekolahku. Dia menyukaiku, jadi kurasa dia tidak akan menyebabkan masalah.”
“Pria tampan memang hebat. Tapi kupikir menghisap darah tidak cukup untuk menjadikannya budak, jadi kau tetap harus hati-hati.”
“Apa yang harus kulakukan? Bisakah aku terus menghisap darahnya?” Kyoya bertanya, matanya berbinar penuh harapan.
Eriko melihat itu sangat menarik.
“Ya. Tapi kau tidak akan dewasa jika menghisap darah dari orang yang sama. Kau harus menghisap darah dari banyak orang. Banyak….kau paham?”
Dia lebih mudah dipengaruhi daripada yang Eriko bayangkan.

✽✽✽✽✽

Suasana di dalam kelas benar-benar penuh kegembiraan.
Hari ini adalah jum’at, sehari setelah ujian berakhir, tidak mengherankan jika semua orang malas mengikuti pelajaran mereka, Yuichi tidak terkecuali, yang dia lakukan seharian ini cuma melamun di kelas.
Setelah kelas berakhir, dia mengamati sekitar.
Natsuki, yang sepertinya kebagian piket hari ini, sedang membersihkan papan tulis. Dia masih perlu mengisi buku harian kelas dan mengantarkannya.
Aiko sedang berbincang-bincang dengan Tomoya. Saat Yuichi melihat ke arahnya, Aiko berbalik dan dengan ringan mengatupkan tangannya seolah bilang, “Kau bisa pergi duluan.”
Mereka akan bertemu lagi nanti, jadi mungkin tidak perlu baginya untuk menunggu. Yuichi perlahan bangkit.
“Yu! Mari pergi ke ruang klub sama-sama!” Pintu kelas dibuka dengan keras yang sebenarnya tidak perlu, diikuti teriakan Mutsuko yang cetar membahana.
Seisi kelas mulai berbisik-bisik.
Yuichi merasa malu. Mutsuko sudah terkenal di seantero sekolah, jadi tidak ada gunanya menyembunyikannya lagi. Tapi bukan berarti juga dia sudi kakaknya berbuat konyol seperti itu di depan teman-teman sekelasnya.
“Hey, ada apa?” Mutsuko bertanya, menerobos masuk ke kelas dan berjalan ke arah Yuichi.
Semua mata tertuju padanya. Bagaimanapun juga seorang gadis cantik telah datang.
“Baikah!” Karena waktu dan tempatnya tidak tepat, Yuchi dengan cepat menarik tangan Mutsuko dan bergegas ke keluar kelas.
“Jangan menjemputku ke kelas! Itu memalukan!” Bentaknya setelah mereka berada di luar bangunan.
“Oh? Yu, kalimat itu biasanya dikatakan seorang siscon tsundere kepada saudara perempuannya! Sekarang jiwa deremu telah bangkit! Coba katakan ‘Tapi aku sangat senang karena kau datang untukku!'” kata Mutsuko menirukan adegan di anime.
“Aku tidak punya perasaan seperti itu terhadapmu. Aku tidak begitu, kau paham?”
“Oh, kamu,” kata Mutsuko melambaikan tangannya ringan. “Kakak perempuanmu ini tidak keberatan jika memanjakanmu sekali-kali lho!” Dia sepertinya tidak mendengarkannya sama sekali.
Teringat kejadian sehari sebelumnya, Yuichi memeriksa pakaian Mutsuko. Dia mengenakan kaos lengan panjang lagi.
“Kau membawa belati itu lagi kan?” Yuichi mulai menyesal tidak memeriksanya saat pagi. Akan mengakibatkan bencana jika belati itu terbang saat mereka di tengah-tengah kota.
“Oh itu! Perangkat pendorongnya tidak berfungsi, jadi aku memodifikasinya! Nantikan ya!”
“Lagipula, bagaimana caramu menggunakan itu?” Belati itu mencuat di sepanjang lengannya. Awalnya Yuichi menduga cara penggunaanya seperti sebuah tonfa1 , namun itu dipatenkan ke lengan, jadi Mutsuko mana mungkin memutarnya.
“Aku tidak tahu. Mungkin aku akan menggunakannya seperti sebuah roost knife2.”
“Apa itu?’
“Senjata yang digunakan dalam Baguazhang3. Bukankah aku sudah megajarkanmu itu?”
“Kau hanya mengajariku pisau bebek Mandarin.” Pisau bebek Mandarin adalah senjata yang digunakan dalam Baguazhang membentuk seperti sebuah sabit. Meski begitu benda tersebut tidak menyerupai belati milik kakaknya, jadi Yuichi tidak bisa melihat bagaimana kedua hal itu berhubungan.
“Senjata ini dipasang ke lengan. Pendiri Baguazhang, Dong Haichun, mengembangkan itu dan dia bilang dia menyukainya! Belati milikku sedikit lebih sederhana, namun digunakan dengan cara yang sama, kupikir! Setelah aku menyelesaikannya, aku akan mengajarimu bagaimana menggunakannya, Yu!”
“Gak, makasih.”
“Huh? Tapi itu keren lho! Sangat Guvyer! Sangat Baoh!”
“Jadi itu cuma cosplay huh?” Tanya Yuichi.
Dia mengabaikan Mutsuko saat ia mencibir di belakangnya.
Mereka melewati lapangan sepakbola menuju bangunan sekolah tua. Karena ini baru awal musim panas, jadi cuacanya tidak begitu terik. Yuichi bisa melihat para pemain berlari dengan enerjik di sisi lain pagar.
“Yo! Hey, Sakaki! Lago dalam perjalanan ke klub?”
Shota, yang mengenakan seragam timnya, memanggil Yuichi dari sisi lain pagar. Yuichi ingat kalau dia tadi terburu-buru meninggalkan kelas setelah pelajaran berakhir. Ternyata dia ikut latihan sepakbola.
“Kak, apa kalian berdua sudah kenalan?” Tanyanya. “Ini adalah Shota Saeki. Dia seorang pemain sepakbola, dia teman sekelasku.”
“Hai! Aku kakak perempuannya Yu, Mutsuko. Senang berkenalan denganmu!”
“Oh, aku sudah mendengar tentangmu…” Shota menanggapi dengan beberapa keraguan. Dia pasti teringat rumor tentang kepribadiannya yang bermasalah.
“Ah maaf, aku tidak tahu banyak soal sepakbola. Aku hampir tidak pernah membaca manga tentang itu!” Teriak Mutsuko. Semua pengetahuan Mutsuko bersumber dari manga. Dia suka menyelidiki dan meneliti hal-hal yang dia anggap menarik. “Tapi aku tahu sedikit! Aku sudah memperagakan Skylab Hurricane4 dengan Yu!”
“Dan mereka memarahi kita karena itu benar-benar melawan peraturan!” Yuichi dengan ketus menimpali.
Dalam Skylab Hurricane, satu orang berbaring di atas tanah sebagai pelontar agar menerbangkan yang satunya lagi ke udara, lalu mereka bisa menyundulkan bola ke gawang. Tentu saja, itu melawan peraturan dan sangat-sangat berbahaya.
“Huh? Kesampingkan dulu soal peraturan, apa itu bisa dilakukan?’ Shota memiringkan kepalanya.
“Huh? Oh…uh, tidak, tentu tidak mungkin. Bayangan Mutsuko yang terbang dengan ringan ke udara mengisi kepalanya sehingga Yuichi berusaha mengalihkan topik.
“Kalau begitu, apa ya… kami juga sudah mencoba membuktikan apakah kami bisa melakukan Explosive Dissapearing Ball, tapi kami gagal!”
“Ya, karena secara fisik itu mustahil!” Teriak Yuichi.
Itu adalah tembakan goal aneh dimana pemain memantik ledakan kedalam bola tepat di depan penjaga gawang untuk membuatnya seolah bola tersebut telah menghilang.
Yuichi sudah mencapai poin dimana ia mampu menendang bola yang tidak berputar menggunakan tendangan salto, namun tidak peduli seberapa keras ia berusaha, dia tidak mampu melakukan bagian yang paling penting, yakni bola terlihat seolah meledak dan menghilang di depan mata penjaga gawang. Namun itu tidak aneh. Lagipula itu gerakan yang tidak masuk akal.
Yuichi memutuskan menghentikan Mutsuko sebelum dia semakin jauh membawa-bawa True Soccer Warrior, Real Mannism, yang menggunakan sepakbola untuk melawan organisisasi kejahatan di dunia dimana sepakbola adalah segalanya. “Cukup soal sepakbolanya, kak. Ayo pergi.”
Ruangan klub penuh sesak seperti biasanya.
Sebagai ruang kelas bekas bangunan sekolah tua, dalamnya cukup luas sebenarnya, namun karena deretan lemari mirip perpustakaan dan banyaknya barang yang berserakan membuatnya tampak seolah kecil dan sempit.
Dinding dipenuhi wall climbing countour5 berwarna-warni, yang menambah kesan semrawut. Yuichi tampaknya satu-satunya orang yang menggunakan benda itu.
Lalu, pada tengah ruangan terdapat whiteboard dan sebuah meja panjang, dimana Kanako tengah duduk, dengan elegan menyesap tehnya. Dirinya menyerupai gambaran seorang Ojou-sama muda, meskipun keluarganya tidak terlalu kaya.
Yuichi mengambil tempat duduknya saat Mutsuko bergerak beridiri di depan whiteboard. Aiko dan Natsuki muncul taklama kemudian.
“Sekarang, kita harus semangat, atau liburan musim panas akan dimulai sebelum kita menyadarinya! Kita akan membahas mengenai kamp pelatihan kita!” Kata Mutsuko dengan ceria.
Yuichi ingat percakapan mereka sehari sebelumnya di restoran Cina. Dia mengira awalnya itu cuma obrolan kedai kopi, namun sepertinya Mutsuko serius tentang itu.
“Jika kita jadi pergi, aku ingin ke tempat yang menyenangkan!” Katanya. “Baiklah! Berikan ide-ide kalian!”
Yuichi benar-benar tidak ingin pergi, ia tahu itu tidak akan menyenangkan, namun mengatakan itu tidak akan ada gunanya.
“Kita kemping di sekolah saja. Di ruang klub ini,” Kata Yuichi dengan nada malas.
“…. Baiklah. Kita dapat satu.” Mutsuko sedikit tidak senang, namun ia masih mencatat saran tersebut di whiteboard.
Dengan cekatan, Aiko, yang duduk disebelahnya, mulai menuliskan itu di buku catatannya. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tulis-menulis seperti ini.
“Bagaimana denganmu, Noro?” Tanya Mutsuko.
“Coba kupikir. Ini musim panas, jadi kupikir pantai adalah pilihan terbaik. Bukankah lebih baik jika kita pergi ke tempat yang jauh?”
“Saran yang bagus. Ada kolam renang umum di sekitar sini, tapi kita tidak bisa menggunakannya jika malam….Yah, kita akan memikirkan tempatnya nanti. Baik pantai. Selanjutnya, Takeuchi.” Mutsuko menuliskan saran lainnya di whiteboard.
“Noro. Kau sadar kita sedang mendiskusikan kamp pelatihan untuk klub bertahan hidup, kan?” Tanya Natsuki pada Aiko dengan dingin.
“Huh? Kurasa aku tidak memikirkan itu… Yah, Takeuchi, apa kau punya saran?” Aiko sedikit tersinggung saat ia menjawabnya. Dia sepertinya tidak mengira akan ditanyai seperti itu.
“Ya. Aku merekomendasikan TPA sebagai lokasi pelatihan,” kata Natsuki tak tahu malu.
“Apaan itu?” Tanya Yuichi, merasakan firasat buruk. Nama itu darimanapun terdengar bukan tempat yang layak dikunjungi.
“Itu tempat “pembuangan sampah”. Suatu tempat yang tidak bisa ditemukan di peta manapun. Aku pernah menggunakannya sebagai tempat berburu. Bagaimana menurutmu? Ini cocok sebagai tempat bertahan hidup kan?” Kata Yuichi kepada Aiko dengan nada penuh kemenangan.
“Tidak mungkin! Aku tidak mau kesana!” Kata Yuichi sangat lantang.
Yuichi penasaran apa yang dia maksud “sampah”, namun memutuskan untuk tidak bertanya. Sudah pasti itu bukan sesuatu yang ingin dia dengar.
“Bagus! Kedengarannya menyenangkan, Takeuchi!” Tanggap Mutsuko.
Mungkin Natsuki dan Mitsuki memiliki selera yang sama; bagaimanapun juga Mutsuko menyukai misteri dan reruntuhan.
“Well, Orihara? Ada saran?” Tanya Mutsuko saat menuliskan “tempat pembuangan sampah” di whiteboard.
“Apakah mungkin kita bisa bepergian ke isekai?” Tanya Kanako. Itu permintaan yang aneh – untuk bepergian ke dunia lain atau periode waktu tertentu.
“Tentu tidak!” Potong Yuichi dengan cepat. “Dan meskipun mungkin, kita tidak boleh melakukannya!”
“Apa kau punya petunjuk?” Tanya Natsuki.
“Um, yah. Aku dengar kita bisa pergi ke isekai melalui elevator!” Balas Kanako. Dia sepertinya bener-benar menikmati cerita isekai.
“Bukankah itu cuma legenda perkotaan?” Tanya Yuichi. Bahkan dirinya sudah mendengar cerita tersebut. Jika kita menekan tombol lantai di dalam elevator dalam urutan yang benar, itu akan membawa kita ke dunia lain.
“Mencari isekai elevator…” Mutsuko menambahkannya di whiteboard.
“Apa kau punya saran, kak?” Tanya Yuichi.
“Tentu saja!” Serunya. “Kurasa kita harus pergi ke luar negri!”
“Tunggu sebentar! Itu terlalu gila!” Keberatan yang tak terhitung jumlahnya meletus di dalam kepala Yuichi dalam sekali waktu. “Sebenarnya, aku baru menyadari hal yang paling penting. Kita bahkan tidak mempunyai izin untuk melakukan kamp pelatihan, kan? Apakah klub ini memiliki pembina?”
Aktifitas klub resmi memerlukan seorang pembina, tapi Yuichi tidak pernah bertemu orang semacam itu di klub ini.
“Itu Bu Nodayama, guru bahasa! Dia bilang aku boleh melakukan apapun yang kusuka, jadi aku melakukannya!”
“Dan kau sepertinya tidak melihat masalah dengan penafsiran mu tentang ‘lakukan sesukamu’?” Yuichi tidak bisa membayangkan guru itu menguzinkannya menempelkan wall climbing contour di dinding dan meletakan puluhan lemari buku disana.
Pada saat yang sama, dia tahu bahwa guru bahasa, Ibu Nodayama – dengan kata lain, Hanako – adalah pembina mereka, maka itu tidak jadi masalah. Hanako benci diganggu. Dia tidak akan pernah datang ke ruang klub untuk membimbing mereka.
“Kemana tepatnya, kau ingin ke kuat negri?” Tanya Natsuki, dengan penuh gairah.
“Bagaimana kalau Taiwan?” Tanya Mutsuko. “Itu adalah rumahnya seni bela diri! Seni bela diri ditekan selama rovolusi budaya Cina, jadi sebagian besar pendekar seni beladiri melarikan diri ke Taiwan. Itu juga alasan kenapa Taiwan dipenuhi master seni bela diri!”
“Kupikir hanya kau yang akan menikmatinya, kak,” Balas Yuichi ketus. Meskipun rasa keberatannya itu datang sedikit terlambat. Aktivitas klub mereka cenderung pada apapun yang disukai Mutsuko.
“Ataukah kita harus ke India umtuk belajar Kalaripayattu? Ah! Atau mungkin belajar Muay Thai kuno! Apa kalian tahu bahwa Muay Thai berasal dari Indian Kalariapayattu? Atau mungkin..oh! Bagaimana dengan Inggris? Quarterstaff! Yang kukaksud bukan PC game jadul; tapi senjata!”
“Dengar, kita tidak akan pergi ke luar negri! Ada banyak kendalanya, dan yang paling utamanya adalah biayanya yang mahal!” Teriak Yuichi.
Mutsuko telah menggabungkan banyak seni bela diri yang berbeda untuk menciptakan sesuatu yang Yuichi praktekan, menghasilkan suatu teknik yang rumit dan membingungkan. Jadi meskipun dia bilang tidak menampik suka seni bela diri, dia juga tidak terlalu menggebu-gebu sampai mau pergi ke luar negri untuk mempelajarinya.
“Um, jika uang adalah masalahnya, aku mungkin bisa sedikit membantu,” kata Aiko dengan ragu-ragu.
Keluarganya menjalankan sebuah rumah sakit, dan mereka kaya. Sepertinya Aiko juga mempunyai dana penting dalam kendalinya.
“Tidak,” Yuichi keberatan. “Tidak peduli berapa banyak uang yang kau punya, itu terasa tidak benar.” Dia tidak menyukai gagasan membebankan keuangan klub mereka pada salah satu anggota.
“Ah, aku lupa bilang sesuatu di awal, tidak ada masalah dalam keuangan klub, jadi jangan khawatir! Kalian bebas menyerukan ide semahal apapun!” Kata Mutsuko.
“Berapa banyak uang yang kita punya di klub untuk membiayai kamp pelatihan ke luar negeri?!”
Kalau dipikir-pikir, dengan banyaknya barang-barang aneh baik di kamarnya maupun di ruang klub mereka, maka tidak mengherankan jika dia mempunyai sumber dana misterius. Yuichi memutuskan untuk tidak bertanya, karena dia cukup yakin tidak ingin mendengar jawabannya.
Pada akhirnya, mereka memikirkan kembali ide-ide mereka setelah diberi tahu bahwa uang bukanlah masalah.






Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

Catatan Penerjemah:
1. Tonfa bentuknya seperti ini:


2. Roost knife

3. Baguazhang adalah seni bela diri Cina yang mengambil prinsip dasar dari buku kuno I Ching. Baguazhang adalah salah satu dari tiga ilmu bela diri Cina yang melatih organ dalam dahulu dengan melatih kekuatan kuda-kuda dan tidak melatih diri dengan kekerasan yang juga disebut Neijia (dua lainnya adalah Xingyi dan Taijiquan) Orang Cina mengenal Taijiquan dengan kekuatan pinggangnya. Xingyi kekuatan tinjunya dan Baguazhang mahsyur dengan langkah kakinya. (sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Baguazhang)
4. Skylab Hurricane Shoot alias tendangan akrobatik ini bagai adegan film silat. Kalau yang ini merupakan jurus andalan si kembar Tachibana. Untuk melakukannya, kedua pemain harus melakukan serangkaian gerakan akrobatik seperti menerbangkan rekannya ke udara. Lihat di https://www.youtube.com/watch?v=GbOp5aWD8YY