true became fiction when fiction's true

Saturday, 30 June 2018

June 30, 2018

Omae wo Onii-chan Vol.1 Kata penutup Bahasa Indonesia

Penutup

Senang berjumpa dengan Anda untuk pertama kalinya!
Saya Sugiyama Ryuu. Kali ini aku diizinkan untuk debut di MF Bunko. Yoroshiku onegaisimasu.
Karena aku anak tunggal, aku selalu ingin memiliki saudara laki-laki atau perempuan.
Jika saya hanya punya adik perempuan yang lucu dari kakak yang bisa diandalkan ... dan delusi tersebut telah melahirkan cerita ini.
Karakter utama - Yoichi-kun tiba-tiba diberi lima adik perempuan, dan dari awal sampai akhir ia bingung tentang apa yang harus dilakukan. Dia diseret di antara  adik-adiknya yang unik, dan belum bisa menyebut dirinya seorang kakak yang dapat diandalkan.
Benar saja, orang-orang yang memegang kunci memutuskan apakah Yoichi-kun bisa menjadi kakak yang layak adalah para calon adiknya.
Yang pertama harus dilihat adalah gadis NEET Selene-chan. Dia tidak bisa bersih-bersih dan NEET yang suka bermalas-malasan di rumah! Jika saya menulis hanya ini banyak, itu akan tampak seperti dia jenis terburuk dari manusia, tetapi sebenarnya dia memiliki bakat besar untuk membuat pakaian. Untuk mengukur ukuran untuk pakaian dia melemparkan lengannya di adik kandidat kecil lainnya. Benar-benar gadis keterlaluan.
Yang kedua adalah gamer gadis Tomomi-chan yang mencintai kompetisi. Dia seorang adik tapi juga dia seorang mahasiswa sekolah tinggi seperti Yoichi-kun. Ini adalah pengaturan yang misterius untuk memiliki adik di kelas yang sama. Dia ingin bersaing dengan Yoichi kun tetapi juga dia juga jujur mengungkapkan "Saya ingin dimanjakan oleh Onii-chan!" jenis perasaan. "Jaga saya! Bermain dengan saya! Lihat di sini!", Gadis anjing-seperti.
Yang ketiga adalah siswa teladan pengguna gadis Sayuri-chan. Ortodoks adik karakter yang akan memasak untuknya Onii-chan ... adalah apa yang saya pikir, tapi ketika tidak ada panduan untuk mengikuti masker siswa teladan lepas dan dia sangat cemas. kelemahannya adalah kata 'nasib' dan cenderung menyerah sering. Setelah bertemu dengan Yoichi-kun topengnya jatuh dan seharusnya untuk menemukan 'kualitas menjadi dirinya sendiri' ... tetapi tampaknya seperti situasi menjadi lebih rumit.
Yang keempat adalah sangat menyegarkan gadis tomboy Yuuki-chan. Meskipun dia seorang adik dia cross-gaun. Bahkan karena satu anak laki-laki kembali sekolah dasar ia mulai memoles penampilannya sudah dingin dan suasana, yang menyebabkan dia menjadi sangat populer di kalangan gadis-gadis. Sebelum saya menjadi adik saya ingin menjadi seorang gadis penuh! Dan untuk memenuhi itu keinginan Yuuki-chan, Yoichi-kun kontribusi untuk peningkatan daya gadis itu.
Kelima adalah gadis kecil yang mandiri Mika-chan. Dia di kelas enam SD tapi dia baik terlihat dan bertindak lebih muda dari usia yang sebenarnya dan teman-teman sekelasnya. Seorang gadis yang ingin buru-buru dan menjadi seorang wanita dewasa untuk membantu Onii-chan dan Onee-channya ... Namun, melihat dia kelucuan saat ini dan keindahan Anda ingin mengawasinya lebih dan lebih, hati kakaknya dipenuhi tiba-tiba dengan orangtua cinta. Dia bisa disebut sebuah eksistensi yang ada di cheat level ketika datang ke kelucuan.
Dan sang karakter utama menghabiskan dua minggu dengan para adik yang memiliki sifat yang unik, calon adik perempuan yang bermasalah.
Saya akan sangat senang jika Anda menikmatinya.
Dan terakhir, bagi mereka yang dengan sabar berinteraksi dengan saya sebagai buku ini ditulis, S-sama yang bertanggung jawab atas saya. Orang yang menggambar adik perempuan yang menawan, kakao-sama. Dan Anda semua yang telah menemani saya sampai baris terakhir ini teks. Terima kasih.



Sugiyama Ryu



June 30, 2018

Omae wo Onii-chan Vol.1 Epilog Bahasa Indonesia

Epilog

Dua minggu yang dijanjikan telah berakhir.

Pada hari Minggu pagi, kami menyambut Murasaki-san di ruang tamu.

"Apa calon adik perempuan sudah diputuskan?"

Para calon adik berbaris di belakangku. Hanya satu dari lima, aku tidak bisa memilih satu pun. Saat aku mencoba untuk berbalik——

"Tunggu sebentar!"

Tomomi menaikkan suaranya, itu suara yang tak biasa baginya.

"Dengar, ada sesuatu yang harus kita katakan kepada Nii-chan. Ah! Tetap seperti itu saat kau mendengarkan. Entah kenapa rasanya aku merasa malu jika kau melihat ke arah sini dan tekadku akan pergi."

Dan, dimulai dengan Tomomi, para calon adik perempuan menyatakan satu demi satu.

"Aku juga memiliki sesuatu untuk dikatakan pada Onii-sama. Aku takkan membiarkan hanya Tomomi-san yang melakukannya."

"Dapatkah aku melakukannya juga Nii-san? Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dikatakan di sini dan sekarang."

"Mii-chan juga punya sesuatu untuk dikatakan kepada Nii-chama dan Nee-chama."

"... ayo kita lakukan secara berurutan, aku dulul yang pertama sebagai wakil di hari Senin."

Selene perlahan menarik napas beberapa kali. Aku mengangguk untuk mempersilahkannya.

"Apa melihat ke belakang tidak boleh?"

"... ya. Aku tidak ingin kau melihat masa lalu tapi melihat ke masa depan."

Dia melanjutkan dengan suara yang jelas.

"... Aku hanya mengandalkan Onii-chan setiap kali aku di sisinya, karena itu aku tidak bisa menjadi adik perempuanmu."

Bukannya dia ingin menjadi adikku? Mengapa tiba-tiba dia berkata seperti itu. Tak ada salahnya untuk mengandalkan aku, bukan?

Mengikuti Selene, Tomomi pun  tertawa.

"Apa ini, lalu untuk tidak mengulang apa yang sudah Selene katakan. Umm ... aku juga Nii-chan, aku menyerah untuk menjadi adikmu. Aku pikir menggunakan Nii-chan untuk membuat orang-orang mengakuiku ... untuk menggunakan nama Taishido , aku salah. Dan, juga umurku hampir sama dengan Nii-chan, dengan kata lain …... aku ini Onee-chan dari semuanya."

Dia mengatakan itu dengan nada suara yang ceria, aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang Tomomi miliki. Namun, ekspresi Murasaki-san tidak berubah sedikit pun.

Sayuri menghembuskan nafas ringan dan mengatakan.

"A-aku juga, aku memutuskan tadi malam saat aku berbagi tempat tidur dengan Onii-sama. Kali ini adalah terakhir kalinya Aku akan memanggilmu seperti ini ... Onii-sama, Kau telah mengajarkanku cara yang hidup yang berbeda. Daripada mengikuti takdir yang diberikan padaku, aku memutuskan untuk memilih takdirku sendiri. aku ... menolak untuk menjadi adikmu."

Dan tiba-tiba, aku merasakan bahwa dia menghembuskan napas di samping telingaku. Saat ia tiba-tiba mendekat, keringat dingin mengalir di punggungku.

"Karena seorang Imouto tidak bisa menjadi seorang kekasih."

Apakah itu diizinkan atau tidak oleh hukum, etika atau akal sehat, tapi itu semua dilarang . Apa itu jawaban yang Sayuri pikirkan?!

Melihat Sayuri berbisik padaku, Tomomi mulai memprotes.

"Ahh! Apa yang kau bicarakan diam-diam! Tidak adil!"

"Fufufufu ... bukan apa-apa. Tidak ada aturan yang menyatakan kalau aku tidak boleh berbisik."

"UMMMM! Apa sekarang giliranku?"

Teriakan Yuuki menyela pertengkaran Tomomi dan Sayuri. Tidak mungkin  Yuuki juga akan memberitahuku kalau dia tidak ingin menjadi adikku.

"Aku sudah melakukan tantangan untuk menjadi seorang gadis. Namun, Aku masih belum bisa menjadi lebih feminin. Jadi mulai dari sekarang, aku akan menunjukkan kepada Nii-san bahwa aku bisa memoles diriku sendiri dan menjadi seorang gadis yang cantik. Tanpa mengandalkan Nii-san, aku akan melakukannya sendiri. Itu sebabnya, gadis tomboy seperti diriku tidak cocok menjadi adik perempuan Nii-san."

Meskipun aku baik-baik saja untuk diandalkan ... apa aku mengganggu jalan Yuuki? 
Tidak, Yuuki pasti berpikir tentang Mika. Dia ingin aku memilih Mika ...

Itu sebabnya, hanya Mika yang takkan mengatakan hal seperti itu.

"Jika hanya Mii-chan yang akan menjadi adik perempuan Nii-chama, Nee-chama pasti akan kesepian. Itu sebabnya ... jika semua orang menghilang, Mii-chan tidak ingin menjadi adik perempuan Nii-chama!"

Meski dia adalah orang yang paling kesepian, ia sudah mebayangkan hasilnya setelah aku membuat pilihanku ... jika aku memilih Mika, semua orang akan berpisah.

"Ini bermasalah sekali."

Murasaki-san bergumam dengan nada suara apatis.

"U-umm ... karena aku sembarangan bertindak sebagai kakak mereka, akhirnya jadi begini."

"Aku ingin mengkonfirmasi sekali lagi ... jika adik perempuan tidak dipilih, Yoichi-san akan kehilangan hak untuk warisan."

"Siapa pun tak masalah, jadi pilihlah siapapun yang kau mau ...itulah yang ingin anda katakan?"

"Calon adik perempuan tidak diperbolehkan menolak. Tidak ada hak veto. Orang yang akan dipilih Yoichi-san secara resmi akan menjadi adiknya."

Dia mengatakan itu dengan ekspresi dingin. Bahkan jika orang yang dipilih akan membenciku, dia akan menjadi adik perempuanku jika aku memilihnya.
Apa yang sudah aku lakukan selama dua minggu ini. Aku menyeret keluar Selene. Aku membantu Tomomi untuk menjadi lebih kooperatif. Aku membuat Sayuri untuk menjadi lebih jujur. Aku memberi Yuuki rasa percaya diri. Aku tidak ingin Mika menjadi kesepian.

Aku ingin membantu mereka semua meski hanya sedikit, dan hasilnya hanya  tindakan setengah hati dari mereka. Lalu, Aku menoleh ke belakang.

Mereka semua ... menangis. air mata mereka membuatku merasa ingin menangis juga. Tapi sebagai kakak mereka, aku tidak boleh membiarkan diriku menangis.

"Dengarkan.  Aku ……. kalian semua ..."

Aku tidak bisa memutuskan. Aku tidak bisa memilih hanya satu orang. Kita semua keluarga. Sebuah suara dingin datang dari belakangku. Itu dari Murasaki-san.

"Kalau situasinya sudah seperti ini, apa boleh buat. Aku akan bertanya lagi minggu depan."

Dengan kata-kata ini, semua calon adik perempuan membuka mata mereka lebar-lebar.

"Tu-tunggu Murasaki-san! Hari ini ‘kan batas waktunya ..."

"Aku mohon pamit ."

Ketika aku berbalik lagi, Murasaki-san sudah berjalan menuju pintu depan dengan cepat.

Semua tenaga meninggalkan tubuhku.

Apa yang sedang terjadi? Seolah-olah langit dan bumi dijungkir balikkan. Tidak ada yang terselesaikan, dan tidak ada yang menjadi adikku ...

"Hei Nii-chan? Apa yang kita lakukan?"

Saat aku mendengar suara Tomomi, aku berpaling ke arah para calon adik perempuan lagi.

"Apa yang kita lakukan ... Ma-masih ada satu minggu lagi untuk memutuskan, bukan?"

"Ehh! Seperti aku katakan tadi,  aku tidak punya niat untuk menjadi adikmu."

Para calon adik lainnya mengangguk setelah dia mengatakan itu.

"A-apa itu baik-baik saja?

Meski mereka bisa mengambil warisan besar Taishido group. Warisan itu cukup bagi mereka untuk hidup bersenang-senang.

Selene maju setengah langkah ke depan.

" ... apa yang ingin Onii-chan lakukan? 'Itu adalah jalan yang kau pilih sendiri, kau harus mengambil selangkah ke depan !' itulah yang Onii-chan katakan padaku, ‘kan."

Dia mengembalikan kata-kataku pada diriku yang tidak berubah. Jika itu diberitahu oleh seseorang yang bahkan tidak bisa memilih jalan yang harus dipilih, bujukan yang sudah kukatakan padanya akan menghilang.

"Jika Nii-chan merasa tersesat maka aku memiliki nasihat. Aku tidak tahu apa itu akan menjadi kekuatanmu, tetapi 'Putra sulung dan putri sulung dianggap sama tidak terdengar buruk, bukan?'. Untuk berbagi kebahagiaan dengan semua orang , aku akan mengambil setengah dari masalah yang ada dipikiran Nii-chan."

Tomomi tersenyum, meski tadi dia baru saja menangis, dia tampak memaksakan dirinya sendiri. Jika kau terlalu memaksakan dirimu sendiri seperti itu dan sangat mempedulikan diriku ...

"Atau mungkin Onii-sama merasa gelisah tentang fakta karena seseorang tidak memutuskan arahnya untukmu? 'Dalam hidup, ada saat-saat di mana kau keluar dari jalur. Namun, dari titik kau keluar dari jalur, mengapa tidak menemukan jalur baru untuk dirimu sendiri?' Bukankah itu yang Onii-sama katakan padaku."

Sayuri menatap lurus ke arahku. Hanya satu yang bisa dipilih. Itulah aturannya.

"Ini mungkin sulit tapi 'Kau melakukan yang terbaik untuk menjadi apa yang kau inginkan. Kupikir, orang-orang ambisius  seperti dirimu terlihat menarik' Nii-san bilang begitu, ‘kan? Aku akan menghibur Nii-san yang terus menatap ke depan. Aku senang bisa memiliki seorang kakak yang luar biasa."

Aku ingin tahu apakah aku lelaki yang layak untuk dihibur oleh Yuuki.
"Bahkan jika tidak ada uang, Mii-chan 'bangga memiliki keluarga seperti ini'. Jika itu tidak sendirian, maka Mii-chan ingin menjadi adik perempuan Nii-chama."

Aku benar-benar terpojok. Dengan kata-kata mereka semua, dan kelemahanku sendiri.

Tomomi bergerak selangkah lebih maju, mendekat ke arahku.

"Apa yang akan kau lakukan, Nii-chan?"

"Aku ... tidak bisa memilih."

Mereka begitu ceria dan menyenangkan, aku tidak ingin kehilangan adik perempuanku yang tak tergantikan ini.

"Apa kau benar-benar ingin kita menjadi adikmu? Kami ingin menjadi kekuatan Nii-chan, tahu? Itu sebabnya kami akan selalu mengatakan…."

Para adik perempuan mengangguk satu sama lain dengan senyuman dan mengatakan secara bersamaan.

"" "" "Omae wo Onii-chan ni Shiteyarouka?" "" "" (TN: Haruskah aku membuatmu menjadi kakaku?)








Thursday, 28 June 2018

June 28, 2018

Kimitsuki Chapter 1.6 Bahasa Indonesia



Kota Aimi, sebuah kota yang terletak di prefektur sebelah dan memiliki populasi kurang dari setengah juta orang, serta tidak memiliki ciri khas yang khusus.

Jalan- jalan di kota ini diaspal merata dengan beton dan pinggirannya dikuasai oleh toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan. Para siswa dari SMA-ku takkan pernah datang ke sini untuk bersenang-senang. Karena kota ini terlalu jauh, dan juga tidak ada yang menarik dari kota ini.

Tentu saja, ada alasan kenapa aku jauh-jauh datang menggunakan kereta selama 3 jam penuh untuk sampai ke sini.

Itu karena, Ayah Mamizu tinggal di kota ini.

Alasan kenapa ayahnya tinggal di tempat yang jauh ini, karena, seperti yang Kayama katakan, orang tua Mamizu sudah bercerai.

Ternyata, melalui diskusi antara ayah Mamizu, yang mengelola sebuah perusahaan, dan ibunya, Ritsu-san, telah memutuskan bahwa Mamizu akan hidup dengan Ritsu-san. Tapi Mamizu tidak pernah mendengar alasan langsung perceraian dari Ritsu-san. Bahkan ketika dia bertanya, jawabannya selalu menghindar.

“Aku ingin bertanya pada ayahku mengapa ia dan ibuku bercerai.”

Kali ini adalah permintan Mamizu dari daftar “hal yang dia ingin lakukan sebelum dia meninggal”.

Bukankah itu sedikit terlalu berat untuk meminta orang lain yang melakukannya? Pikirku.

"Tolong. Aku benar-benar serius; Aku ingin mengetahuinya sebelum aku meninggal,. Tapi aku tidak diberitahu nomor telepon atau alamat e-mail ayahku. Jadi, Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

Memang, Mamizu meminta ini padaku dengan sangat serius. Bersamaan dengan nada serius yang berbeda dari nada yang biasa  dia digunakan sebelumnya.

“Mungkinkah ...?” Sebuah pemikiran terlintas dibenakku. “Apa kau mengujiku sampai sekarang supaya kau bisa memintaku untuk melakukan hal ini?”

Ketika aku memecahkan bola salju, Mamizu memberitahuku bahwa dia ingin aku untuk melakukan “hal yang dia ingin lakukan sebelum dia meninggal” menggantikan dirinya. Bola salju itu adalah sebuah harta berharga yang diberikan kepadanya oleh ayahnya.

Bola salju itu mungkin adalan pemandangan di imajinasi Mamizu.

Sebuah dunia di dalam bola kaca di mana salju terus turun, seakan waktu di dalamnya telah berhenti.

Mungkin bagi Mamizu, rumah yang ada di dalam bola itu telah menjadi pengingat rumah tangga bahagia yang pernah dia miliki.

Itu berarti dia ingin berbicara dengan ayahnya? Tapi, dia tidak bisa bertemu ayahnya. Jadi itu sebabnya dia mendapatkan ide untuk membuatku melakukan itu untuk menggantikan tempatnya?

Bukankah semua hal yang sudah kulakukan sampai sekarang menjadi tes untuk tugas ini? Karena dia tidak ragu-ragu untuk membuat suatu permintaan yang berat ini. Itulah yang kupikirkan.

... Mana mungkin itu benar. Aku hanya bermain-main dengan membuatmu melakukan hal-hal gila, Takuya-kun.”

"Baiklah."

Pada akhirnya, aku mulai merasa seperti aku tidak bisa menolak permintaan Mamizu sesudah aku mendengarnya.

Aku akan melakukan apa yang aku bisa,” kataku sambil meninggalkan kamar rumah 
sakit.


****

Satu-satunya petunjuk yang aku punya hanyalah alamatnya. Ayah Mamizu telah meninggalkan rumah tempat dimana mereka pernah tinggal, dan  nampaknya dia tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang berada di kota Aimi. Mengandalkan aplikasi peta di smartphone, aku menemukan rumah itu.

Papan kayu yang terletak di depan pintu tertulis, “Fukami.”

Aku sedikit gugup, tapi aku memberanikan diri membunyikan interkom.

“Siapa itu?” Kata suara seorang pria melalui interkom.

Apa ia ayah Mamizu?

"Apa Fukami Makoto-san ada di sini?" Tanyaku.

“Tak ada orang yang memiliki nama itu di sini.”

Ada sesuatu yang sangat suram dalam suara pria itu. Dan ada sesuatu seperti kecemasan di dalamnya juga. Tapi aku pasti mendengar bahwa ayah Mamizu tinggal di sini. Apa maksud di balik mengatakan bahwa ia tidak di sini?

“Apa urusanmu?” Tanya pria itu.

“Umm, namaku Okada Takuya. Sebenarnya, aku kenalan dari Mamizu..... Mamizu-san. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan anda, jika anda boleh mengizinkan diriku.”

“Apa sesuatu terjadi  pada Mamizu?” Nada suaranya tiba-tiba berubah; terdengar seperti terdesak.

Dan suara itu terputus. Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya buru-buru keluar dari rumah.

Dia memiliki rambut yang agak panjang, pria berotot dengan kulit kecokelatan, dan pakaiannya hanya dapat digambarkan sebagai piyama. Aku tidak benar-benar memiliki kesan yang jelas tentang dirinya.

"Aku Fukami Makoto. Aku ayah Mamizu," kata dia.

Jujur saja, ia jauh dari bayangan direktur yang mengelola sebuah perusahaan. Itulah kesan pertamaku dari ayah Mamizu.


****

"Begitu ya. Aku mengerti."

Aku diizinkan masuk ke dalam rumah Makoto-san, dan menjelaskan kepadanya mengapa aku datang ke sini di meja ruang tamunya. Menceritakan padanya bahwa Mamizu ingin mengetahui mengapa ia dan Ritsu-san bercerai.

“Mamizu-san ... bagaimana aku menjelaskannya ya? Tampaknya dia berpikir kalau penyakitnya, fakta bahwa dia memiliki penyakit luminesensi, adalah penyebab perceraian orang tuanya,”kataku. “Dia berpikir bahwa mungkin dia dibuang karena muak.”

“Tidak ... Aku berpikir bahwa kesalahannya terletak pada diriku karena tidak mengatakan yang sebenarnya,” kata Makoto-san, menatapku langsung dengan matanya. “Omong-omong, apa kau pacar Mamizu, Takuya-kun?”

Tanpa sengaja aku hampir menyemburkan teh yang sedang kuminum. “Ti-tidak! Aku, bagaimana bilangnya ... hanya kenalannya saja,” kataku.

“Tapi, terlihat bahwa setidaknya, Mamizu mempercayaimu. Dia takkan meminta seorang kenalan untuk melakukan sesuatu seperti ini untuknya.”

Itu …... Aku juga penasaran, pikirku. Apa yang Mamizu pikirkan tentang diriku? Ini seperti aku sudah mengerti, tapi ternyata tidak.

“Omong-omong, Takuya-kun, apa yang kau pikirkan tentang diriku?” Tanya Makoto-san.

"Hah?"

Aku merasa bahwa ini adalah pertama kalinya aku bertemu orang dewasa yang akan mengajukan pertanyaan ini. Untuk berpikir bahwa Makoto-san akan mengkhawatirkan penampilannya di mata seorang siswa SMA – pertanyaannya terasa sedikit tidak biasa bagiku.

“Kupikir kau benar-benar liar,” kataku dengan jujur.

Makoto-san tertawa hampa. Cara dia tertawa sedikit mirip dengan Mamizu.

“Aku tidak terlihat seperti seorang direktur dari sebuah perusahaan, bukan?” Kata Makoto-san, masih tertawa namun tatapan yang tajam tiba-tiba muncul di matanya. Bagian dari dirinya itu juga sedikit mirip dengan Mamizu.

“Tidak, itu ...” Aku bingung harus berkata apa.

“Jadi, kau ini tipe yang tidak bisa berbohong ... kau akan menderita saat berurusan dengan perempuan.” Dengan perkataan yang mirip petunjuk, Makoto-san menenggak semua air teh di cangkir yang digenggam tangannya. “Sejujurnya, aku bukan direktur perusahaan lagi.”

Dan kemudian Makoto-san mulai menceritakan kebenaran di balik perceraiannya.

****

Makoto-san awalnya mengelola produksi komponen skala kecil di kota kami.

Perusahaan itu, yang cukup mumpuni walau sebagai pabrik kecil di kota, berhasil membuat sejumlah kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan besar dan tumbuh dengan cepat. Tapi saat investasi modal besar-besaran dibuat, klien yang bermulut besar rupanya menjadi bangkrut, dan hasilnya, bisnis tersebut gagal.

Makoto-san yang sudah terpojok karena hampir bangkrut, dan setelah berpikir dalam-dalam, memutuskan untuk menceraikan Ritsu-san sebelum dia menyatakan kebangkrutan. Setelah ia menyatakan kebangkrutannya, aset pribadinya seperti rumah dan dana di rekening bank-nya akan disita.

Perawatan Mamizu, yang menderita penyakit luminesensi, membutuhkan biaya yang cukup besar. Itu adalah penyakit yang menumpuk tagihan medis. Ini takkan bisa disembuhkan, dan metode pengobatan masih belum ditetapkan. Biasanya, pasien dengan penyakit itu akan dirawat di rumah sakit dan mendapat perawatan terus menerus. Makoto-san berpikir bahwa melalui perceraian, dia bisa meninggalkan uang untuk membayar perawatan Mamizu.

Akan menjadi bermasalah bagi Makoto-san jika ia bertemu dengan Mamizu dan ibunya di depan kreditor dan kolektor utangnya. Karena itulah, dia bahkan tidak memberitahu nomor kontaknya pada Mamizu. Sekarang, ia kembali ke rumahnya sendiri dan tinggal dengan orang tuanya, kakek dan nenek Mamizu, serta melakukan pekerjaan fisik yang berbahaya di lokasi konstruksi. Dan dia mengirim uang ke Ritsu-san secara rahasia.

Mereka berdua memutuskan untuk merahasiakan ini dari Mamizu. Mereka tidak ingin menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu untuk anak mereka yang sakit dan dirawat di rumah sakit dimana dia hanya mengenal kehidupan yang kaya.
Mereka mengira bahwa jika mereka mengungkapkan semuanya, Mamizu akan berhenti di SMA, di mana dia akan memiliki masa depan yang buruk. Tapi Makoto-san tidak ingin dia berhenti SMA semisal ada keajaiban kalau penyakitnya bisa sembuh.

“Bukan hanya itu, tapi mungkin saat itu, harga diriku terlalu tinggi untuk mengungkapkan segalanya untuk putriku,” kata Makoto-san.

Itulah kebenaran di balik perceraian orang tua Mamizu.

Masalah ini begitu berat sampai aku tidak bisa memberikan tanggapan apapun; Aku hanya duduk di sana dan mendengarkan.

“Apa kau akan memberitahu semua ini pada putriku?” Tanya Makoto-san saat ia selesai bercerita.Tampaknya ia masih memiliki keraguan.

“Ini mungkin sikap yang kurang sopan dari diriku untuk mengatakan ini, tapi ... Kupikir, itu sangat kejam untuk menyembunyikan kebaikan atau perhatian. Rasanya tak tertahankan untuk satu hal yang terus disembunyikan,”kataku.

“Kau cukup pintar dalam mengutarakan sesuatu, bukan?” Makoto-san mendengarkanku berbicara dengan senyum pahit di wajahnya.

Meski begitu, aku terus melanjutkan. “Mamizu-san ingin tahu kebenarannya sebelum dia meninggal.”

“Meninggal, ya. kau memiliki cara yang sangat jelas dalam berbicara, Takuya-kun” 
Kata Makoto-san, wajahnya tiba-tiba menjadi serius. Untuk sesaat, aku pikir dia marah. Tapi aku salah. “Ini mungkin seperti yang kau katakan, Takuya-kun. Mungkin aku harus memberitahu masalah ini dengan benar pada Mamizu.”

Dan kemudian Makoto-san memberikan senyum yang dipaksakan. Aku menutupi wajahku, merasa sedikit malu karena sudah terlalu banyak berbicara.

“Sebenarnya, aku memiliki sesuatu untuk meminta maaf pada anda, Makoto-san,” kataku, dan mengambil objek tertentu dari tasku. Itu adalah bola salju yang dirusak olehku . “Aku menjatuhkannya dan pecah. Maafkan aku."

Isi dari bola salju, rumah kayu yang sekarang tanpa salju, telah runtuh.

“Kau tidak berbohong, ‘kan?” Kata Makoto-san, tampak terkejut. "Tidak apa-apa. Segala sesuatu yang memiliki bentuk akhirnya akan rusak.” Dia mengucapkan kata-kata yang sama persis seperti Mamizu. “Tapi Mamizu ...” Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Aku yakin dia sangat sedih.” Aku berhasil menyelesaikan kalimatnya.

"Baiklah, aku akan melakukan sesuatu tentang benda ini. Jangan mengkhawatirkan tentang hal itu,” kata Makoto-san.

“Umm, paling tidak, apa anda bisa  memberitahu Mamizu-san rincian kontak anda?” Tanyaku pada Makoto-san saat aku hendak pergi.

Makoto-san merenung cukup lama. “Jika dia berjanji untuk tidak memintaku untuk bertemu dengannya,” katanya, sambil menyerahkan memo dengan alamat e-mail tertulis di atasnya. “Takuya-kun, pastikan kau berteman baik dengan Mamizu,” katanya padaku di akhir.

Aku hanya menjawab, “Iya, pak.”

****

Saat aku pergi ke kamar rumah sakit, Watarase Mamizu tengah menghabiskan waktunya dengan membaca buku juga. Kalau diperhatikan dengan cermat, itu adalah buku kecil yang selalu dia baca. Aku terkejut karena dia bisa terus membaca buku yang sama tanpa bosan.

“Bagaimana hasilnya?” Tanya Mamizu, tidak memalingkan matanya dari halaman buku. “Apa Ayah setidaknya menemukan wanita baru?”

Aku samar-samar merasakan bahwa kata-kata ini bukan cerminan dari perasaan dia yang sebenarnya. Dia merasa gugup mendengar laporanku. Dia hanya mengatakan kalimat itu untuk menyembunyikan kegugupannya dan bertindak sok kuat. Meski begitu, aku tidak ingin dia mendengarkan cerita Makoto-san saat dia berbicara dengan sikap dan nada yang seperti itu.

“Makoto-san sudah menceritakan semuanya.” Aku duduk di kursi bulat di samping tempat tidur Mamizu dan menatapnya dengan serius. Dan kemudian aku menghentikan tangannya yang sedang membolik-balik halaman bukunya. “Jadi, kau perlu mendengarkan dengan baik juga, Mamizu.”

... Baiklah,” kata Mamizu dengan patuh.

Dan begitu, aku menceritakan padanya kisah yang aku dengar dari Makoto-san, dari awal sampai akhir.

Aku mengatakan kepadanya bahwa Makoto-san tidak meninggalkannya, tapi malah kebalikannya, dan bahwa ia sekarang menempatkan semua upaya ke dalam pekerjaan demi putrinya. Alasan kenapa ia terus merahasiakan penyebab perceraiannya karena ia tidak ingin membuat putrinya khawatir tentang gaya hidupnya sementara dia berada di rumah sakit. Bahwa ia tidak ingin Mamizu mencemaskan apapun setelah mengetahui semua ini, dan bahwa dia harus merasakan hal yang sama terhadap dirinya seperti yang dia lakukan sampai sekarang.

Butuh beberapa waktu untuk menceritakan semua ini demi menyampaikan perasaan Makoto-san seakurat mungkin. Dan pada akhirnya, aku menyerahkan memo dengan rincian kontak yang telah diberikan oleh Makoto-san.

“Jadi, Ayah dan Ibu tidak bercerai karena hubungan mereka menjadi buruk.” Itu adalah hal pertama yang Mamizu katakan setelah mendengarkan apa yang aku ceritakan.

"Ya. Makoto-san bilang kalau ibumu masih pasangan yang penting baginya,” kataku.

“Katakanlah Takuya-kun. Jika aku tidak menderita penyakit ini, mereka berdua tidak akan terpisahkan, bukan?” kata Mamizu mengucapkan kata-kata tersebut.

“Itu salah, Mamizu,” kataku.

“Ini lebih baik jika aku tidak pernah lahir, kan?” Kata Mamizu dengan ekspresi kelam.

"Itu tidak benar. Makoto-san, ayahmu, sama sekali tidak berpikiran seperti itu,”kataku dengan refleks, dengan hampir tidak ada pemikiran di balik kata-kataku. Aku bahkan terkejut pada diriku sendiri karena bisa mengatakan kata-kata ini seolah-olah mereka datang secara alami.

“Tapi itu benar, bukan? Aku menjadi sakit dan semua yang aku lakukan hanya membuat orang-orang di sekitarku menderita. Dan bila penyakitku bisa disembuhkan dan aku bisa hidup, itu sendiri tidak menjadi masalah. Tapi aku pasti akan mati. Jadi ini sama sekali tidak ada artinya, bukan?”

Suara Mamizu terdengar begitu putus asa sampai membuatku bergidik. Apa yang harus kukatakan pada saat seperti ini? Aku mencoba mengatakan sesuatu. Semua jenis kalimat melayang ke dalam pikiranku, seperti “Bergembiralah,” atau “Tidak apa-apa,” namun tidak satupun dari mereka yang sesuai dengan situasi ini.

“Ini bahkan mengganggumu, bukan? Bertemu dengan gadis yang sakit-sakitan dan merepotkan seperti diriku. Melakukan apa yang dikatakannya. Aku akan berhenti dimanjakan olehmu sekarang, Takuya-kun.”

Pada saat itu, aku tidak bisa memberikan kata-kata yang positif. Aku berpikir bahwa perasaan tulusnya tidak bisa disembuhkan dengan perkataan dangkal. Aku pikir bahwa aku sebagai manusia, terlalu tak berarti untuk mengatakan kalimat positif seperti itu padanya.

Dan yang paling penting, aku sendiri tidak bisa percaya pada kata-kata semacam itu. Aku berpikir bahwa jika aku mengucapkan kalimat yang aku sendiri tidak percaya, mereka akan terdengar hampa dan tidak jujur.

“Kau masih memiliki banyak hal pada 'hal yang ingin kau lakukan sebelum meninggal', ‘kan? Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” Tanyaku.

Mamizu menatapku dengan ekspresi terkejut. “Tapi bukannya kau tidak menyukainya?”

“Yah ... bukannya aku tidak suka sih,” kataku setelah sedikit berpikir.

Itu agak sulit bagiku untuk menjadi lebih jujur dari itu.

“Takuya-kun, mungkinkah kau ini benar-benar seorang pria yang baik?” Mamizu menatapku dengan penasaran.

“Ya mungkin begitu,” jawabku, merasa jengkel.





June 28, 2018

Kimi wa Tsukiyo ni Hikari Kagayaku Bahasa Indonesia


君は月夜に光り輝
Drama, Romance, School Life. Tragedy

Author:
Tetsuya Sano, 佐野徹夜

Art:
Loundraw

Saus dari baratnya sebelah Sini

Sinopsis :
Sejak kematian seseorang yang penting bagiku, aku terus menjalani kehidupan dengan ceroboh. Setelah menginjak bangku SMA,  ada seorang gadis sekelasku yang dirawat karena “Penyakit luminesensi”. Penyakit ini dinamakan begitu karena berdasarkan fakta tubuh penderita akan bersinar redup apabila terpapar cahaya rembulan, dan sinar tersebut akan menjadi lebih kuat  seiring dengan waktu kematian mereka yang semakin dekat. Nama gadis tersebut ialah Watarase Mamizu.
Setelah mengetahui bahwa dia tidak mempunyai banyak waktu untuk hidup serta ada sesuatu yang ingin dia lakukan sebelum meninggal……
“Apa kau ingin aku membantumu dengan itu?”
“Benarkah?”
Sebagaimana janji itu dibuat, waktu yang membeku bagiku mulai bergerak kembali…..

(Project kolaborasi antara Kaito Novel dengan Curimchan)

Daftar Isi : [PDF]
Chapter 01  -  Short Season, Cold Feeling
   Part 1
   Part 2
   Part 3
   Part 4
   Part 5 
Chapter 02  -  Musim panas yang pertama dan terakhir
   Part 1
   Part 2
   Part 3
   Part 4
   Part 6
Chapter 03  -  Engkau adalah juliet
   Part 1
   Part 2
   Part 3
   Part 4
   Part 5
   Part 6
   Part 7
Chapter 04  -  Endless Season [END]
Kata Penutup