Kaito Novel

The World Made By Love, So Love is Root of Life

Saturday, 20 April 2019

April 20, 2019

Tsundere Akuyaku Reijou Chapter 02 Bahasa Indonesia



Sampai sejauh mana dia tersipu ...?

Mengabaikan Liselotte, yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku menariknya ke dekatku dan ...
... Menciumnya…..
…….di pipi.
"... Bagaimana? apa itu sudah memuaskan Engkau, Coebyashayshan?"
Tentu saja, aku menahan diri untuk tidak mencuri ciuman dari bibirnya.
Karena aku tidak diberitahu secara spesifik bagian mana, kurasa mencium pipi pun tak masalah.
ITU………..!!!
Setelah hening sesaat, ketika aku merenungkan betapa lembutnya pipi Liselotte, suara Cobeyasheshan menembus keheningan.
Di bawah telapak tanganku, pipi Liselotte perlahan-lahan semakin panas. Melihat kembali wajahnya, pipinya sudah berwarna merah padam. Air mata mengalir di sudut matanya. Seluruh tubuhnya tampak bergetar.

Siapa makhluk imut ini?
ITUDIAITUDIAITUDIA! ITU! DIAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Tiba-tiba, suara Cobeyasheshan berubah menjadi teriakan histeris.
Te-Tenanglah, Kobayashi-san!
"Bagaimana!? Mungkin!? Aku!? Bisa!? Tenang!?!? Karena! Sieg dan Rize-tan baru saja ... !! Berciuman! Meski cuma di pipi! Mereka berciuman! !! Rize-tan imut bangetttttttt !! Ya ampun, setelah melihat ini, mati hari ini pun aku ikhlas ...!
Tolong jangan! Aku tidak yakin apa alasannya, tapi sepertinya Ia memang bisa mendengar suara kita, ‘kan? Kalau begitu, kenapa kita tidak melakukan yang terbaik untuk membantu Sieg menghindari bos terakhir, penyihir jahat dan yang lainnya? Ayo lakukan yang terbaik, oke !? Jadi berhentilah menepak punggungku, oke !?
…Itu dia!
Ketika Cobeyasheshan berteriak, kedua Dewa dan Dewi yang terhormat mulai mengadakan pembicaraan yang hampir tidak bisa kupahami.
Tidak ingin mengganggu pembicaraan para Dewa, aku menunggu dengan tenang. Saat mereka berbicara tentang Liselotte yang 'imut', aku mengangguk setuju.
Biasanya, Liselotte memiliki sifat keras kepala dan angkuh.
"Aku adalah tunangan Putra Mahkota, Siegward." Tak peduli seberapa banyak orang yang mendekatinya dan memuji kecantikannya di acara-acara sosial, dia akan mengatakan kalimat itu kepada mereka dan dengan dingin menyisihkan mereka dengan tatapan, jadi sulit dipercaya bahwa gadis yang seperti itu akan tersipu malu dan tak bisa berkata-kata karena dicium bagian pipi.
Apa yang terjadi dengan sikapnya yang kasar dulu? Padahal, aku siap diomeli atas perbuatan yang sudah  aku lakukan.
Tapi kenyataannya malah, seluruh wajahnya ... Tidak, bahkan leher dan telinganya benar-benar merah padam. Wajahnya bak apel merah.
Ahem.
Saat aku berdiri, terpesona oleh wajah Liselotte, sang Dewi terbatuk dengan keras.
Oh, apa mereka sudah selesai bicara?
Aku melepaskan tanganku dari pipi Liselotte dan berusaha menegakkan posisi badanku.
Umm, well, untuk sekarang, kami sendiri masih belum memahami tentang siatuasi yang terjadi, apalagi dipanggil Dewa dan semacamnya, kami hanya membiarkan masalah rumit itu.
Begitulah pernyataaan dari Cobeyashayshan.
Menatap langit di mana dia tinggal, aku mengangguk sebagai jawaban.
Karena itu adalah kehendak para Dewa.
Aku tahu skenario yang ... Um, artinya, apa yang akan menimpa negara nanti, berpusat pada akademi ini.
Seperti yang diharapkan dari seorang Dewi.
Ummm, tapi itu akan jadi spoiler jika aku tiba-tiba mengatakan semuanya, dan walupun aku mengatakan semuanya padamu sekarang, kamu pasti tidak memahaminya ... Lagipula, aku masih ingin latihan klub terus berjalan, jadi dengan kata lain, mulai sekarang, kami akan terus memberikan komentar dan bermain !!
Yang bisa aku lakukan hanyalah berdiri diam saat Coebayashayshan memberikan perintah yang sepenuhnya tidak bisa kupahami.
Memainkan permainan dan ... Komentar ...?
Umm, aku, uh, namaku Endo, aku yang menangani permainan.
Namaku Kobayashi, bertugas menjadi komentator.
Para Dewa secara resmi menamakan diri mereka Endow of the Play-by-Play dan Coebayashay of the Color Commentary.
Mungkin mereka hanya menggunakan Kuhn dan Shan ketika berbicara satu sama lain? Aku pasti sudah bertindak sangat kasar.
Bagaimanapun, aku mengukirkan nama mereka di hatiku.
Ah, aku harus menuliskannya juga. Aku butuh pulpen dan kertas ... Apa ada yang punya ...? Ah, aku bisa menggunakan punya Finne. Dia masih punya, ‘kan? Aku akan meminjam buku catatannya ... Tunggu, sejak kapan dia duduk di bangku?
Kami akan mengomentari peristiwa yang akan datang, dan yang paling penting tentang Rize-tan ... Err, maksudku, perasaan Liselotte. Aku akan memberikan komentar rinci tentangnya. Ah ya ampun, aku merasa jadi orang gila dengan berbicara seperti ini, tapi bagaimanapun ... Sieg, tolong dengar dan pikirkan baik-baik, dan ini semua harus berhasil. Rasanya aneh berbicara dengan seseorang di dunia yang berbeda juga. Terlebih lagi, Sieg, Kamu sudah agak keluar dari karakter untuk sementara waktu sekarang, jadi tak masalah bila kamu tidak berbicara dengan kami. Sebagai gantinya, Kamu bisa mendengarkan apa yang kami katakan. Apa kamu mengerti?"
Di luar karakter…?
Ketika aku melihat kembali pada Liselotte dan Finne seraya mendengarkan kata-kata sang Dewi, aku bisa melihat kalau mereka berdua menatapku dengan rasa khawatir.
Ahh, benar, meski secara teknis aku berbicara dengan para Dewa, Liselotte dan Finne hanya bisa mendengar suaraku. Aku pasti terlihat seperti orang gila. Bagi orang lain yang lihat, aku terlihat bertransformasi dari cowok berkarisma menjadi cowok gila.
Bukan hanya mereka berdua; tak seorang pun di luar keluarga kerajaan bisa mendengar Suara para Dewa. Berbicara dengan Dewa di depan umum bisa menyebabkan kesalahpahaman yang merepotkan.
Tinggal dengarkan saja ... Aku merasa ragu tentang betapa tidak sopannya mengabaikan para Dewa, tapi saran Mereka sangat memudahkan bagiku.
"... Terima kasih banyak atas kebaikan Engkau."
Dengan ucapan terakhir, aku membungkuk sekali lagi dan kembali ke Liselotte dan Finne.
Itu benar, aku seharusnya sedang dalam perbincangan dengan mereka berdua.
Lakukan yang terbaik, Sieg! Jangan menyerah, Sieg! Saat Sieg kembali ke situasi yang tegang ini, apakah Ia bisa mengatasi Event yang sulit ini ... !?
Karena Liselotte sudah menjadi agak dewasa setelah apa yang baru saja terjadi, apa itu mungkin? Alangkah baiknya jika mereka bertiga bisa belajar bersama secara damai.
Rasanya pasti akan menyenangkan.
Aku setuju dengan pernyataan Coebayashan, tapi aku menahan diri untuk tidak menyuarakannya.
Dengan wajahnya yang masih memerah sama seperti waktu aku mencium pipinya, Liselotte tanpa sadar bermain-main dengan rambutnya yang pirang. Amarah yang dia rasakan saat baru datang ke halaman, sekarang benar-benar hilang.
Aku tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Eventoleh Dewa Endow, tapi yang jelas situasi ini akan sangat berbeda jika bukan karena campur tangan para Dewa.
“Aku sudah selesai menerima perintah para Dewa. Sekarang, bagaimana kalau kita bertiga belajar bersama? Liselotte, kamu juga harus bergabung dengan kami. ”
Sebagai upaya menyadarkan dua gadis yang sedang kebingungan, aku memberi isyarat ke arah bangku, lalu meraih tangan Liselotte yang kebingungan untuk duduk di bangku.
Kami duduk dengan posisi Liselotte di tengah, Finne di sebelah kirinya, dan aku di sebelah kanannya.
Tampaknya, Liselotte tidak punya tenaga lagi untuk memarahi Finne seperti sebelumnya. Namun, walau pada awalnya, dia duduk dengan canggun, tidak butuh waktu lama bagi Liselotte untuk mendapatkan kembali postur elegannya sementara Finne tersenyum malu-malu ke arahnya.
Lalu, kurasa posisi tempat duduk ini baik-baik saja?
Jika aku duduk di sebelah Finne, itu mungkin akan memantik api cemburu Liselotte lagi. Terlebih lagi, hal tersebut bisa menyebabkan beberapa penonton jahat menyebarkan gosip-gosip yang aneh.
"Nah, Finne, bagian mana yang tidak kau pahami?"
Finne tampak lega karena diskusi tentang para Dewa sudah berakhir, tapi sekarang dia membolak-balik buku teks dengan tergesa-gesa, ekspresinya sedikit bingung.
Sepertinya bagian yang tidak dia pahami adalah dasar sihir.
Sebagian besar siswa di akademi sudah mempelajarinya sebelum bersekolah.
Tapi, sebagai orang biasa tanpa gelar kebangsawanan, mereka hampir tidak mengetahinya.
"Oh, Astaga, kamu bahkan tidak tahu hal segampang ini?"
Liselotte mengatakan itu seolah-olah dia memandang rendah Finne. Meski dia bilang begitu, dia mendekat ke arahnya, seakan-akan bermaksud untuk mulai mengajar.
"Mau bagaimana lagi, dia tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk mempelajari hal ini."
Tapi, demi bisa membantu Finne belajar dari tempatku duduk, aku tak punya pilihan selain menempel ke Liselotte untuk menunjukkan beberapa materi di dalam buku.
"Saat sudah sampai pada bagian ini ..."
Ketika aku mulai berbicara dengan Finne tentang isi buku itu, aku sadar bahwa ketika aku mencondongkan tubuh melewati Liselotte, aku hanya berjarak kecil dari menyentuh punggungnya.
Glek .
Dia pasti menyadarinya juga, ketika punggungnya menegang, leher, telinga, dan tak diragukan lagi wajah yang tidak bisa kulihat bersinar dalam warna merah padam yang hanya bisa aku deskripsikan sebagai “imut”.
Aku sadar kalau ada beberapa hal yang bisa aku lakukan dan berpura-pura mengganggapnya sebagai kecelakaan yang tak disengaja.
Haruskah aku membiarkan sedikit nafasku menggelitik telinga yang memerah itu?
Atau haruskah aku menyolek pundaknya ke belakang dengan jariku?
Sebenarnya, bahkan jika aku mendadak memeluknya dari belakang, itu tak masalah, ‘kan ...?
Melihat dengan kedua mataku sendiri mengenai kebijaksanaan yang diberikan oleh para Dewa kalau “Liselotte adalah Soon d'Rey dan sebenarnya dia menyukaimu.” adalah sabda ilahi yang mengisi diriku dengan sukacita yang dalam dan tak terlukiskan.
Ketika aku terus mengajar dalam suasana hati yang bahagia, Liselotte tampak bingung dan resah dengan sikapku yang mendadak berubah. Sementara itu, Finne hampir tidak bisa menahan senyumnya saat dia memandang kami. Sepertinya Dewi Coebayashan lupa untuk memberikan komentar, ketika Dewa Endow berteriak Aduh aduh aduh, He-hentikan itu, Kobayashi-san ...!』
... Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di kerajaan surgawi mereka?


<< Sebelumnya | Daftar IsiSelanjutnya >>

Wednesday, 17 April 2019