Roshi-dere Vol 4.5 SS Bahasa Indonesia

SS Melonbooks — Sensei~ Ketua Dan Wakil Ketua Masih Terus Bermesraan Di Arena ~

 

(Serius, bagaimana ini bisa terjadi?)

Berdiri di area datar dengan tank top dan celana pendek, Touya berpikir dengan kepala pening. Apakah alasan kenapa kesadarannya terasa linglung karena Ia tidak bisa merasakan sensasi kenyataan dalam situasi ini atau cuma karena Ia ingin melarikan diri dari situasi yang dialaminya sekarang? Touya sendiri tidak tahu. Tapi wajar-wajar saja Ia bereaksi begitu.

“Uwooooooooo! Habisi diaaaaaa!!!!”

“Jangan pernah memaafkan bajingan yang sudah menipu Chisaki-chan!”

“Mukanya! Ayo pukul bonyok mukanya!”

Kerumunan di sekitar arena Touya tampak mengamuk dan berteriak. Niat membunuh yang mengerikan terkandung di dalam teriakan tersebut. Apa mereka serius ingin menghabisi nyawanya?

(Ah~ sudah kuduga kalau itu bukan sekedar provokasi murahan~)

Karena tidak bisa menolak ajakan kekasih tercintanya, Touya pun mengunjungi dojo milik keluarga Sarashina. Bertentangan dengan kecemasanya, pertemuan dengan Masternya Chisaki berjalan dengan damai dan lancar. Sejauh itu masih terlihat bagus, tapi sayangnya Ia menurunkan kewaspadaannya.

[Karena kamu sudah jauh-jauh datang ke sini, bagaimana kalau kamu ikut berpartisipasi dalam festival seni bela diri juga?]

Touya membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa saran santai dari Chisaki akan menjadi pertunjukan seperti acara gulat profesional.

Ketika memasuki arena pertandingan, para penonton di sekitarnya tidak bersorak sorai untuknya, melainkan hawa membunuh yang kuat. Di depannya ada seorang pria berotot setinggi hampir dua meter yang memancarkan niat membunuh yang bahkan lebih mematikan. Touya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena Ia melepas kacamatanya, tapi Ia bisa memahami kalau lawannya itu sedang memelotot tajam ke arahnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa dirinya dipelototi dengan penuh kebencian seperti itu ...

(Ketika disuruh untuk melepas kacamataku, aku sempat kaget ‘Eh, seriusan nih?’ …. Tapi untung saja aku melepas kacamataku. Jika aku melihat lawanku, aku pasti akan bergidik ketakutan)

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Touya yang masih suka minder hendak menunjukkan wajahnya, ketika seorang pria berjaket dojo putih mendekatinya.

“Untuk kedua peserta, apa kalian sudah siap?”

Rupanya, pria tersebut merupakan wasit pertandingan. Tidak, jika ditanya apakah Ia sudah siap atau tidak, Touya ingin menjawab kalau dirinnya tidak siap sama sekali.

“Touya~ berjuanglah~!”

Kemudian pada saat itu, sorakan dukungan pacarnya dari bangku penonton terdengar keras dan menyemangati Touya yang sudah setengah menyerah.

(Betul sekali, aku sudah bukan pria penakut maupun lemah lagi!)

Seraya memotivasi dirinya sendiri, Touya mengangkat tangan kanannya ke arah Chisaki dan mengangguk pada wasit. Dan kemudian, ketika Touya mencoba menyapa sebentar kepada pria yang menjadi lawannya dengan senyum ramah.

“Ummmm, ayo bertanding dengan aman dan adil?”

Menanggapi salam ramah Touya, lawannya justru menjawab …..

“Akan, kuhabisi, kau.”

Balasan yang diterima justru dipenuhi dengan hawa membunuh dan suara gagap.

(...Apa-apaan dengan 'pria yang dimodifikasi' ini yang mengorbankan kecerdasannya demi bisa mendapatkan kekuatan ototnya?)

Kira-kira apakah dirinya bisa keluar dengan selamat setelah pertandingan ini? Touya sempat berpikiran seperti itu. Sang wasit lalu memberi beberapa instruksi lanjutan pada kedua peserta.

“Dilarang mengincar titik lemah yang mengakibatkan luka fatal atau cacat permanen. Lalu, dilarang membunuh lawan yang sudah tak berdaya”

Apa telinganya salah dengar? Touya merasa kalau Ia baru saja mendengar kalimat ‘membunuh’ dari mulut wasit

“Baiklah, apa kedua peserta sudah siap? Kalau begitu, mulai!!!”

“Uwoooooooooo~~!!!!”

“Hurghp”

Touya segera menghindari serangan lawan yang mengincar badannya. Tekanan tinju yang dirasakan kulitanya membuatnya berkeringat dingin.

"Wooooo!"

Begitu keringat dingin yang keluar mulai bercucuran, pukulan bertubi-tubi dari lawan terus menyerangnya tanpa ampun.

(Tidak, tidak, ini beneran gawat! Jika aku terkena salah satu dari pukulan dari ini, aku pasti bakalan dirawat di rumah sakit!)

Alasan kenapa Touya bisa berhasil menghindar serangan mematikan sambil berpikir seperti itu karena Ia oernah mengalami serangan yang lebih cepat dan tanpa henti dari serangan lawannya.

(Dibandingkan dengan pedang bambu milik Chisaki dan Empat Musim Bersaudari, serangan ini cukup lambat)

Touya, yang bahkan tidak melakukan perlawanan dan terus menghindari serangan hanya dengan menggerakkan tubuh bagian atas dan gerak kakinya, membuat para penonton gempar.

(Aku berhasil menghindarinya, tetapi apa yang harus kulakukan dari sini?)

Lagipula, Touya tidak pernah memukul siapa pun. Satu-satunya pengalaman seni bela diri yang dimilikinya hanyalah judo yang pernah Ia ikuti di sekolah. Untungnya, lawannya mengenakan seragam dojo, jadi sepertinya teknik judo bisa digunakan, tapi .....

(Tidak ada celah untuk serangan balik, dan jika aku menggunakan teknik kaki sekarang ….)

Pada saat itu, situasi yang Touya takutkan terjadi.

“Urgh?!”

Paha kanan Touya mengalami dampak pukulan, dan keseimbangannya goyah tak terkendali.. Ya, kemampuan mengelak Touya, yang dilatih di dalam klub kendo wanita, hanya terbatas pada bagian atas tubuhnya saja. Bagian bawah tubuhnya yang tidak pernah terlatih seni bela diri tentu saja tidak bisa dibilang sebagai teknik kaki.

“Oh?”

Pria itu sedikit bingung ketika tendangan riangannya berhasil mengenai lawan. Dengan sedikit tercengang, Ia mengayunkan lengan kanannya untuk menyerang Touya, yang telah mendapatkan kembali keseimbangannya …. Lalu Touya berhasil melihat satu-satunya kesempatannya untuk menang.

(Sekarang!!)

Ketika Ia memutar tubuhnya untuk menghindari serangan lawan, Touya menyeruduk dada lawan dan meraih lengan lawan yang hendak diayunkan, Ia lalu meletakkannya di bahunya dan menggunakan momentum tersebut untuk membanting lawannya ….

“Oryaaaaaaaaa——”

Touya berusaha membanting lawannya dengan kekuatan penuh... tapi Ia tidak bisa mengangkatnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan cuma butuh beberapa langkah untuk mengembalikannya.

(Ah, gawat, apa yang harus kulakukan dari sini——)

Sementara Touya memikirkan itu, lawannya langsung menepis lengannya dengan paksa. Sesaat kemudian, bidang penglihatannya dipenuhi dengan tinju— —— dan pada akhirnya, Touya kehilangan kesadaran.

 

◇◇◇◇

 

“Uwooooooooooooooo!!”

Di hadapan Touya yang tergeletak pingsan, lawannya berteriak penuh kemenangan. Para penonton juga langsung bersorak sorai pada kemenangan pria tersebut, sampai …ada satu bayangan yang mendarat di arena.

“Wasit, aku ingin mengajukan pembalasan.”

Usai mengatakan itu, Chisaki berjalan menuju area tengah arena dengan tatapan mata yang cerah dan senyum tipis di wajahnya.

“Di-Diizinkan.”

Wasit sedikit kehilangan kata-kata karena kekuatan yang terkandung dalam perkataan Chisaki, dan memberitahunya demikian. Chisaki kemudian bertanya pada pria itu, yang menatapnya dengan tatapan bingung, sambil meregangkan jari-jarinya satu per satu.

“Apa kamu suka bunga?”

Dua menit kemudian, pria itu dengan lihainya ditanam di sudut arena. Meskipun itu tidak mekar dengan sangat baik, sih.

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama