Chapter 7 — Tahun Kedua Perkuliahan, Bulan April, Asamura Yuuta
Suasana
tahun ajaran baru itu memang tidak
terlihat, tapi anehnya
terasa menempel di kulit. Minggu
kedua bulan April. Di berbagai sudut kampus Universitas Ichinose, sekelompok mahasiswa
baru tampak berhenti sambil melihat ponsel mereka, dan di depan papan
pengumuman, para mahasiswa senior membagikan brosur untuk acara penyambutan.
Ketika aku mengingat bahwa setahun yang lalu aku juga berada di posisi itu,
rasanya aneh dan sedikit jauh, padahal baru satu tahun berlalu.
Tahun
kedua universitas.
Hanya
dengan naik satu tingkat, hal itu
tidak serta merta ada yang berubah secara dramatis. Posisi gedung kuliah, harga
makanan di kantin, dan kepadatan kafetaria sebelum siang tetap sama, tidak ada
yang berubah. Namun, di
antara hal-hal yang tampak tidak berubah, pasti ada sesuatu yang berbeda
dibandingkan tahun lalu.
Salah
satunya adalah seminar semester pertama.
Di
Fakultas Ilmu Data Sosial Universitas Ichinose, mahasiswa tahun kedua dapat
berpartisipasi dalam pembelajaran kelompok kecil yang disebut seminar semester
pertama. Dibandingkan dengan seminar spesialis yang lebih formal di tahun
ketiga, seminar ini lebih dianggap sebagai pintu masuk dan semacam pemanasan
untuk membiasakan diri. Tidak sampai pada penulisan makalah dengan tema yang
terfokus atau melakukan penelitian besar-besaran.
Meski
begitu, itu adalah peristiwa yang cukup besar bagiku. Aku merasa akhirnya bisa
menyentuh dengan langsung apa yang menarik minatku dan pertanyaan apa yang
membuat hatiku bergerak.
Ketika
aku tahu bahwa aku diterima di seminar yang diajarkan oleh Profesor Mori yang
kuharapkan, aku diam-diam menggenggam tangan dengan penuh semangat.
Profesor
Mori, sama seperti saat perkuliahan, bukanlah orang yang berbicara
dengan mencolok. Suaranya tenang, penjelasannya teratur, dan tampak sederhana.
Video kuliah yang ada di situs resmi universitas pun, jika dilihat dari jumlah
tayangnya, sangat sedikit. Aku bahkan sempat berpikir mungkin aku salah melihat
angka. Namun, aku menyukai cara berpikirnya yang tenang dan gigih di balik
kesederhanaan itu.
Dirinya tidak membiarkan hal-hal yang
tidak dipahami berlalu begitu saja tanpa penjelasan.
Sesi
pertama seminar itu diadakan hari ini.
Kelas
yang ditunjuk bukanlah ruang kuliah besar seperti biasa, melainkan ruang
seminar yang lebih kecil. Begitu aku membuka
pintu, pikiran pertama yang terlintas adalah betapa sunyinya ruangan itu. Bukan
berarti tidak ada obrolan. Suara kursi yang digeser dan suara pena yang
dimainkan dengan gelisah terdengar. Namun, suasana di sini berbeda dari
keramaian di ruang kuliah besar. Semua orang tampak sedikit tegang.
Aku juga
termasuk di antara mereka.
“Oh,
Asamu.”
Ketika
aku menoleh mendengar suara itu, Kikuchi muncul dari belakang dengan mengangkat
satu tangan.
“Kikuchi.
Eh, kita di seminar yang sama?”
“Sepertinya
begitu. Baiklah, senang bertemu.”
“Aku
terkejut. Aku tidak tahu bahwa kamu ingin
bergabung dengan seminar Profesor Mori.”
“Aku
juga tidak bilang sebelumnya.”
Sambil
berkata demikian, Kikuchi duduk di sebelahku.
Kikuchi
Yuma. Dia adalah salah satu temanku yang kukenal sejak masuk universitas, dan
meskipun tidak seceroboh Nakamura, ia memiliki gaya hidup yang
santai dengan rentang aktivitas yang luas. Ketika berbicara tentang permainan,
ia sangat cerewet, tetapi ketika membahas hal-hal yang tidak menarik baginya,
dirinya bisa sangat datar.
“Kikuchi,
mengapa kamu memilih seminar Profesor Mori?”
“Karena videonya.”
“Videonya?”
“Video
resmi universitas. Ada video ringkasan kuliah Profesor Mori, ‘kan?”
“Oh,
yang itu.”
Memang
ada. Meskipun untuk promosi, video itu terasa aneh karena tampak tidak
berlebihan, seolah-olah hanya memotong sebagian dari kuliah dan mempostingnya.
“Aku
kebetulan melihatnya. Rasanya lumayan
menarik.”
“Hee,
begitu.”
“Aku
selalu berpikir bahwa perilaku manusia itu lebih
ditentukan oleh emosi atau suasana. Tentu saja, sebagian
ada yang begitu, tetapi membawa angka dan data ke dalamnya
untuk melihat pola itu seperti menggugah jiwa gamer.”
“Begitu.”
“Aku
cukup terkejut dan berpikir,
'Oh, ternyata kita
bisa melakukan hal seperti itu.'”
Kikuchi
hanya mengatakan itu dan kemudian menghentikan pembicaraan. Dirinya
tidak berbicara lebih banyak, tetapi aku merasa bisa memahaminya sedikit.
Di dunia
ini, ada orang-orang yang merasa perlu menjaga jarak dari pengakuan akan nilai
emosi dan dari anggapan bahwa mempertimbangkan emosi adalah hal yang paling
utama. Begitulah pikiranku. Bagi orang-orang seperti itu, angka adalah alat
yang dingin sekaligus menjadi penyelamat.
Setidaknya,
itu jauh lebih menenangkan daripada sekadar menyelesaikannya dengan “semua orang juga begitu”.
Ketika
waktu yang ditentukan tiba, Profesor Mori masuk. Meskipun berdiri di depan kelas,
ia tidak mengangkat suaranya seperti biasa. Namun, anehnya, semua orang secara
alami menjadi tenang.
“Baiklah,
mari kita mulai."
Dengan demikian, 105 menit pertama seminar
dimulai. Isi
pertemuan pertama adalah pengarahan. Namun,
itu bukan sekadar pengumuman administrative saja.
Pertama-tama,
dirinya menjelaskan tentang tempat
seminar ini. Berbeda dengan kuliah umum,
di sini para mahasiswa tidak hanya cukup dengan
mendengarkan. Kita harus mengajukan pertanyaan, menyelidiki, berpikir, dan
berlatih mengungkapkan dalam kata-kata yang dapat dipahami orang lain. Ini
adalah periode untuk membangun otot sebelum memasuki penelitian yang lebih
serius di tahun ketiga.
“Penelitian
bukanlah tentang memberikan jawaban besar secara tiba-tiba.”
Profesor
Mori berkata demikian.
“Pertama-tama,
kita harus mengajukan pertanyaan yang baik. Dan kita harus bisa menjelaskan
mengapa pertanyaan itu dapat dianggap sebagai pertanyaan dalam diri kita. Kita
akan berlatih untuk itu.”
Meskipun
cara bicaranya tenang, aku merasa punggungku tegak. Setelah itu, ada penjelasan
tentang tata cara di seminar.
Cara
membuat selebaran. Cara mengutip sumber buku. Cara membaca penelitian
sebelumnya. Hal-hal minimal yang harus diperhatikan saat presentasi. Apa
artinya mengatur ide menjadi hipotesis alih-alih hanya menyatakannya.
Sebelum
berurusan dengan data, kita harus mengungkapkan apa yang ingin kita lihat.
“Ilmu
sosial tidak sebersih ilmu alam.”
Profesor
Mori menulis perlahan di papan tulis.
“Ilmu
alam memiliki hukum universal sebagai prinsip. Jika kondisinya sama, hasilnya
akan sama. Namun, masyarakat tidak bekerja
dengan cara seperti itu.”
Ia
meletakkan kapur.
“Karena objek
penelitian kita adalah
masyarakat itu sendiri, yang merupakan kumpulan dari banyak manusia. Lingkungan
berubah. Sistem berubah. Teknologi berubah. Nilai-nilai juga berubah. Argumen
yang meyakinkan hingga kemarin mungkin tidak berlaku lima tahun lagi.”
Kemudian,
setelah melihat suasana di dalam kelas, beliau
melanjutkan.
"Oleh
karena itu, apa kita harus menyerah untuk memahami kebenaran? Menurutku, tidak.
Kita tidak bisa hanya menganggapnya sebagai pendapat pribadi yang sembarangan
hanya karena sulit. Justru, karena sulit, kita dituntut untuk bertanya sejauh
mana kita bisa berpegang pada kebenaran.”
Aku
sedikit tertegun mendengar kata-kata tersebut. Hal yang kurasakan sejak tahun lalu
ketika mendengarkan pembicaraan Profesor Mori sepertinya kini terucap dengan
jelas.
Orang ini
tidak suka menganggap dirinya memahami masyarakat dan manusia secara
sembarangan. Dirinya juga tidak suka menyerah hanya
karena ketidakpahaman.
“Selain
itu, yang lebih merepotkan, hal-hal yang dapat kita amati telah berubah dengan
cepat dalam beberapa tahun terakhir.”
Profesor
Mori melanjutkan pembicaraannya dengan tenang.
“Penelitian
AI, teknik analisis, dan lingkungan pengambilan data telah berubah besar dalam
sepuluh tahun terakhir. Hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat kini mulai
terlihat. Akibatnya, prinsip pasar yang disebut-sebut, cara pemasaran
perusahaan, pemahaman perilaku konsumen, dan cara kita memahami masyarakat akan
terus diperbarui.”
Beberapa
orang di kelas berhenti menulis dan mengangkat wajah mereka.
“Bahkan sebagian
dari apa yang diajarkan
di perkuliahan sekarang akan dianggap
ketinggalan zaman dalam beberapa tahun nanti.
Ituah zaman yang kita alami. Oleh karena itu, bukan
hanya menghafal pengetahuan, tetapi kita perlu memiliki sikap untuk
mengidentifikasi apa yang menjadi premis dan apa yang bisa berubah.”
Meskipun beliau sedang berbicara tentang masa
depan, tapi rasanya
sangat nyata.
Sejak
akhir tahun lalu, aku merasa frekuensi melihat kata AI di masyarakat meningkat
dengan cepat. Tentu saja, penelitian mungkin sudah berlangsung sebelum itu,
tetapi setelah mulai terlihat di permukaan, sepertinya kecepatan
perkembangannya meningkat. Rasanya seakan-akan teknologi
melangkah ke tahap berikutnya sebelum kita sepenuhnya memahaminya.
Dalam
zaman seperti itu, apa yang seharusnya kita pelajari?
Seminar
ini mungkin menjadi pintu masuk untuk itu.
Bagian
pertama berakhir dengan pembicaraan seperti itu, dan di bagian kedua yang
disebut ‘Inventarisasi Area Ketertarikan’, diberikan waktu bagi setiap
orang untuk menuliskan tema yang menarik bagi mereka saat ini.
Kertas
dibagikan, dan di sana ada beberapa item yang terdaftar.
Fenomena
sosial yang menarik. Hal-hal yang baru-baru ini membuat kita merasa tidak
nyaman. Hal-hal yang ingin kita lihat dalam angka. Sesuatu yang terasa
menyimpang dari narasi dan kenyataan. Mengapa kita tertarik pada hal itu.
Ketika
diminta untuk menulis, rasanya jadi itu
tidak semudah yang dibayangkan.
Ada rasa
ketertarikan, tetapi untuk mengubahnya menjadi bentuk pertanyaan, diperlukan
satu langkah lagi, yaitu kata-kata.
Aku
berpikir sambil membiarkan ujung pulpen
mengambang di atas kertas.
Iklan dan
perilaku konsumen.
SNS dan
presentasi diri.
Rak buku
dan alur pergerakan orang.
Urutan
dalam menerima informasi, seberapa jauh itu memengaruhi penilaian.
Ada banyak
hal yang muncul di kepalaku, tetapi ketika
aku mencoba untuk menulisnya,
semuanya menjadi kabur.
“Asamura-kun.”
Tiba-tiba,
ada suara lembut yang memanggilku, dan ketika aku
mengangkat wajah, Profesor Mori sudah berada di samping mejaku.
“Apa
kamu sedang kebingungan?”
“Ya.
…Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya, tapi saya tidak yakin apa itu bisa disebut pertanyaan.”
“Rasa
khawatir semacam itu cukup wajar.”
Profesor
Mori sedikit tersenyum.
“Sebaliknya,
jarang sekali ada orang
yang langsung bisa mengeluarkan pertanyaan yang baik dari awal. Pada awalnya,
tidak apa-apa jika kamu hanya menuliskan apa yang menarik perhatianmu. Baik itu
ketidaknyamanan atau hal-hal yang mengganggu. Kamu bisa perlahan-lahan
mengasahnya dari sana.”
“Baik.”
“Jika
aku boleh memberi saran,”
“Ya.”
“Jangan
berusaha menulis tema yang tampaknya benar. Hal-hal yang benar-benar menarik
perhatianmu akan lebih mudah untuk digali hingga akhir.”
Setelah
mengatakan itu, Profesor Mori pindah ke meja berikutnya. Tema yang tampaknya benar. Memang, mungkin aku telah
memikirkan hal itu di suatu tempat. Hal-hal
yang terlihat akademis. Hal-hal yang tidak akan memalukan jika diajukan di
seminar. Namun,
yang benar-benar penting mungkin bukan itu.
Aku
menarik napas dalam-dalam sebelum kembali menatap kertas. Akhirnya, hal yang kutulis ialah tentang cara penyajian informasi
dan perbedaan penilaian penerima.
Meski kelihatannya masih
kasar. Mungkin, jika dibiarkan seperti ini, hasilnya akan sangat buruk. Namun, itu masih jauh lebih baik
daripada berakhir dengan kertas putih kosong.
Setelah
105 menit berlalu, suasana di ruang seminar mulai mengendur. Tidak semua orang berdiri
serentak, tetapi ada sedikit perubahan pada ekspresi wajah mereka dibandingkan
saat datang. Mungkin
ada rasa lelah karena terus-menerus tegang, tetapi itu bukan satu-satunya
alasan. Ada rasa lelah yang mencakup
peningkatan hal-hal yang harus dipikirkan dan harapan untuk masa depan.
“Bagaimana?”
Tanya
Kikuchi di sebelahku.
“Rasanya seru.”
“Iya, ‘kan?”
Kikuchi juga tersenyum lebar dan langsung menjawab.
Kemudian,
dia mengucapkan sesuatu yang terdengar sinis, sesuai dengan karakternya.
“Lebih
terasa seperti seminar daripada yang kubayangkan.”
“Seminar
yang tidak terasa seminar itu memangnya seperti
apa?”
“Yah,
aku membayangkan lebih banyak pertemuan sosial dan obrolan santai yang berakhir
begitu saja.”
“Bagi
mahasiswa yang serius belajar, itu pasti sangat mengecewakan...”
“Kalau
Hiro pasti senang. Karena anak itu
suka hal-hal seperti itu.”
“Memang.”
Aku bisa
dengan mudah membayangkan Nakamura
dengan jari jempolnya terangkat dan senyum lebar, “Yesss, hoki banget, bisa bolos!” dan aku tidak bisa menahan
tawa.
Saat
keluar dari kelas dan berjalan di koridor, aku merasakan semangat yang aneh. Rasanya mirip seperti kepuasan. Aku tidak mencapai sesuatu yang
besar. Hanya berdiri di pintu masuk. Namun, aku merasa senang mengetahui bahwa
ada hal-hal yang bisa dipelajari dari sini.
◇◇◇◇
Dan dalam perjalanan pulang hari itu, aku
tidak menuju apartemen seperti biasa, melainkan menuju rumah yang ada di Shibuya.
Mulai
hari ini, aku akan secara teratur kembali ke rumah. Penyebabnya tentu saja adalah
kehamilan ibu tiriku, Akiko-san.
Perutnya
sudah cukup besar. Aku mendengar bahwa keadaannya baik-baik saja, dan ibu tiriku sendiri mengatakan tidak perlu
terlalu berlebihan. Sebenarnya, aku percaya bahwa kata-katanya tidak ada yang
salah.
Namun,
itu berbeda dengan tidak melakukan apa-apa. Terutama ketika melihat keadaan
Saki, aku merasa tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Dia
mungkin terlihat baik-baik saja dan memiliki kekuatan untuk menyelesaikan apa
yang ada di depannya. Namun, ketika dia mulai kehilangan ketenangan, ada
kemungkinan dia akan mengorbankan dirinya. Baru-baru ini, dia tidak menunjukkan
kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri seperti sebelumnya, tetapi kurasa
bagian dari dirinya yang itu belum sepenuhnya hilang, dan jika kondisinya
memburuk, pasti sisi lemahnya akan muncul.
Oleh karena
itu, aku memutuskan untuk kembali.
Tidak
setiap hari.
Namun,
pada hari-hari ketika aku bisa pulang, aku akan berusaha untuk kembali.
Ketika
Saki harus berada di luar sampai larut karena pekerjaan
intern atau urusan universitas, aku ingin ada satu orang
lagi di rumah yang bisa membantu.
Pemandangan
Shibuya yang familiar mendekat di jendela kereta saat sore beralih ke malam.
Dengan kepadatan yang berbeda dari suasana
di dekat universitas, beban di bahuku terasa sedikit
lebih ringan.
Aku tiba
di rumah sekitar pukul 19:30. Ketika
membuka pintu depan, aroma
yang biasa menyambutku. Aroma
deterjen, sisa masakan, dan aroma rumah itu sendiri yang sulit dijelaskan.
“Aku
pulang,” seruku.
Dari arah
ruang tamu, suara lembut menjawab, “Selamat
datang kembali, Yuuta-kun.”
Aku
menjulurkan kepala dan melihat ibu tiriku, Akiko0san,
duduk di sofa, tersenyum padaku. Dan
ketika melihat perutnya, aku menahan napas sejenak.
Perutnya
sudah membesar hingga jelas terlihat bahwa dia adalah seorang ibu hamil. Tentu
saja, aku sudah merasa perutnya lebih besar ketika terakhir kali melihatnya.
Namun, hari ini, aku merasakannya dengan jelas. Bahwa di dalam tubuh itu, sudah
ada satu orang lagi.
“…Rasanya
seperti aku mengganggu, ya?” aku tiba-tiba mengucapkan itu, dan ibu tiriku tertawa kecil.
“Ini
kan rumahmu sendiri.”
“Yah, maksudku…”
“Aku
mengerti. Penampilanku memang
sangat berbeda.”
Dia
berkata sambil lembut mengelus perutnya.
“Aku
akan menyiapkan makan malam.”
Saat dia
berusaha berdiri, aku buru-buru menghentikannya dengan tangan.
“Tidak
apa-apa. Aku yang akan melakukannya.”
“Aku cuma
memanaskannya saja, loh?”
“Sebenarnya,
itulah keahlianku.”
“Hehe.
Kenapa kamu begitu percaya diri?”
“Belakangan
ini, aku juga memasak sendiri. Tapi untuk memanaskan, aku sudah melakukannya
sejak aku tinggal bersama ayah. Aku sudah berpengalaman bertahun-tahun.”
“Baiklah, kalau
begitu, aku serahkan padamu,”
suara ibu tiriku
bercampur tawa saat aku menuju dapur.
Ada
beberapa masakan yang sudah disiapkan di dalam
kulkas, dan di dalam panci, ada sup yang juga sudah
siap. Aku mengerti mengapa ibu tiriku
mengatakan kalau dia “hanya memanaskan saja.”
Tapi, aku
pulang untuk melakukan hal-hal kecil seperti itu.
Aku
menyalakan kompor, mengeluarkan piring, dan memeriksa waktu di microwave ketika
aku mendengar suara kecil di belakangku.
“Aduduh.”
Aku
menoleh. Ibu tiriku, Akiko-san, yang sedang berpindah dari sofa
ke kursi makan, berhenti sambil menyokong perutnya dengan satu tangan.
“Apa
Ibu baik-baik saja?”
Aku
secara naluriah bergegas menghampirinya dan menopang lengannya. Ibu tiriku segera berkata, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” sambil tersenyum.
“Aku hanya mengalami sedikit kontraksi. Itu bukan sesuatu yang serius.”
“Tapi…”
“Aku benar-benar
baik-baik saja. Lihat, aku bisa duduk.”
Setelah
duduk di kursi, dia menghela napas kecil. Aku tidak tahu harus berbuat apa
dan hanya berdiri di situ.
“Jangan
memasang wajah seperti itu.”
“Yah, tapi…”
“Itu
bukan benar-benar nyeri persalinan. Mungkin disebut kontraksi awal. Hal-hal
seperti ini sering terjadi.”
Kontraksi
awal. Aku mengetahuinya sebagai pengetahuan. Atau
lebih tepatnya, aku mencari tahu setelah mengetahui tentang kehamilan Ibu tiri. Itu adalah ketegangan yang tidak
teratur yang terjadi sebelum kontraksi sebenarnya.
Namun,
mengetahui itu sebagai pengetahuan dan mendengar “aduduh”
di depan mataku merupakan dua
hal yang sangat berbeda.
“Mau
minum air hangat?”
“Terima
kasih. Aku akan dengan senang hati
menerimanya.”
Sambil
mendidihkan air dengan ketel listrik, aku memeriksa api di panci. Ibu tiriku tetap di meja makan, dengan
ekspresi nostalgia saat berkata,
“Karena
ini bukan yang pertama kalinya, jadi aku sama sekali tidak khawatir.”
“Tidak
peduli berapa kali aku mendengarnya, itu selalu meyakinkan sekaligus tidak
meyakinkan.”
“Memang
benar. Percayalah pada apa yang dikatakan seseorang yang berpengalaman.”
Aku
menuangkan air panas ke dalam cangkir dan menyerahkannya. Ibu tiriku menerimanya dan memegangnya dengan kedua tangan
seolah-olah membungkusnya, lalu perlahan-lahan menyentuh bibirnya ke cangkir.
“Ketika
berbicara tentang wanita hamil, semua orang cenderung berpikir bahwa selalu ada
seseorang yang harus menemani, jika tidak, itu berbahaya. Padahal, sebenarnya
tidak selalu begitu.”
“Begitu,
ya?”
“Tentu
saja, kita perlu bersiap-siap jika terjadi sesuatu, dan setelah masuk bulan
terakhir, ceritanya akan begitu berbeda. Namun, bukan berarti kita harus merasa cemas
jika tidak ada keluarga yang selalu menemani.
Saat aku mengandung Saki,
Fumiya tidak selalu berada di
sampingku.”
Mendengar
nama itu, aku merasa sedikit terkejut.
Ito
Fumiya.
Dia
adalah ayah kandung Saki, dan sekarang sudah berada di posisi yang cukup jauh
dalam hidup Saki. Saki
lahir dari hubungan mereka.
“Dia
orang yang sibuk,” kata Ibu
tiriku sambil mengelus perutnya. “Dia tidak selalu ada di
sampingku. Namun, bukannya
berarti aku tidak dicintai. Itu berbeda.”
Cara dia
mengatakannya terdengar seperti pesan untukku.
“Ketika
waktu kelahiran semakin dekat, ia memang sangat
memperhatikanku. Dirinya juga
datang bersamaku ke rumah sakit. Dia benar-benar menantikan kelahiran anaknya.”
Kemudian,
dia tersenyum sedikit.
“Yah,
setelah itu ada banyak
hal terjadi, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.”
“…Tapi,
pada awalnya…”
“Ya. Dia memang diharapkan.”
Aku
mengangguk kecil. Mungkin
aneh jika aku merasa terselamatkan dengan mendengar fakta itu. Namun, aku merasa sedikit lega. Saki lahir dengan penuh
cinta.
Meskipun
itu mungkin hancur di kemudian hari, tidak
meniadakan awal mulanya.
Suara
mendidih dari panci terdengar. Sambil
mengecilkan api, aku lalu berkata,
“Kita
memang merepotkan Ibu, ya?”
“Apa
maksudnya?”
“Aku
dan Saki. Aku berpikir mungkin kita terlalu khawatir. Kenapa aku pulang seperti
ini, ya, karena aku peduli.”
“Aku
merasa sangat diperhatikan.”
Ibu tiriku mengatakannya dengan jujur.
“Aku
merasa bersyukur dan senang. Tapi…”
Dia
meletakkan cangkir teh dan mengubah ekspresinya menjadi sedikit lebih
serius.
“Aku sungguh baik-baik saja. Jadi jangan memaksakan diri.”
Dia menginginkan kami menjalani hidup sama seperti biasanya. Dia akan meminta bantuan saat
diperlukan, tetapi pada dasarnya, dia ingin segalanya tetap normal. Aku yakin itulah perasaan tulus ibu tiriku.
Baginya, lebih menyakitkan membuat
orang-orang di sekitarnya merasa terbebani daripada dikhawatirkan.
“Aku
tidak memaksakan diri kok.” Aku menjawab sambil sedikit
menggeser tutup panci. “Aku tidak
pulang dengan memaksakan diri. …Dan, untuk tidak membuat Saki merasa terbebani,
aku ingin berada di sini.”
Tatapan mata
Akiko-san melebar, lalu dia
tersenyum lembut.
“Kamu
sepertinya akan menjadi
suami yang baik.”
“Tolong
hentikan.”
“Ara,
aku sedang memujimu, loh?”
Aku tidak
begitu yakin apakah dia sedang bercanda
atau memahami maksud dari perkataanku. Tapi, aku tidak merasa buruk
tentang itu.
◇◇◇◇
Sekitar
20 menit kemudian, ayahku pulang.
Dengan
mengenakan jas dan melonggarkan dasinya, dia masuk ke ruang tamu dan langsung
melihatku, “Oh, kamu
sudah pulang.” Meskipun
sudah lama tidak bertemu, wajah dan sikapnya terasa sangat alami, seolah-olah
kami bertemu setiap hari. Hal-hal seperti ini memang tidak pernah berubah.
“Bagaimana
kuliahmu?”
“Aku baru
saja mengikuti seminar.”
“Eh,
kamu masih tahun kedua, ‘kan?
Rasanya masih terlalu dini.”
“Ada
yang namanya 'seminar semester pertama'... itu belum seminar sebenarnya,
semacam kursus pengantar di mana mereka memberikan kuliah tentang cara berpikir
sebelum seminar sebenarnya dimulai.”
“Wah,
kedengarannya menarik, ya.”
“Memang
menarik kok.”
“Syukurlah.”
Setiap kali
ayahku berbicara seperti ini, ia tidak
bertanya terlalu mendalam, tetapi dia menunjukkan wajah yang senang. Selama
masa SMA, aku merasa dirinya
terlihat tidak dapat diandalkan dan agak ceroboh, tetapi seiring bertambahnya
usia, aku mulai menyadari cara hidupnya, ketenangan hatinya, dan kebesarannya,
sampai saat ini aku merasa tidak ada yang bisa menandinginya.
Kami
bertiga kemudian makan malam bersama. Saki
masih belum pulang. Karena urusan universitas dan pekerjaannya, dia sering pulang larut. Oleh karena itu, aku rasa ada alasan
untuk aku berada di sini lebih awal.
Setelah
makan malam, aku masuk ke dalam kamarku. Aku membuka laptop di atas meja
dan mulai mengerjakan data input dan pengoreksian
naskah yang kubawa pulang dari tempat kerja. Kamar di rumahku tentu saja lebih
besar daripada apartemen. Namun, setelah sekian lama tidak duduk di sini, aku
merasa sedikit tidak nyaman.
Ternyata,
orang bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Meskipun aku telah
tinggal di rumah ini selama bertahun-tahun, tinggal di kamar ini terasa aneh
karena kehidupan sendirian sudah sangat membekas dalam diriku.
◇◇◇◇
Sekitar
pukul 12 malam, aku mendengar suara samar dari arah pintu masuk. Dia sudah pulang. Aku menarik kursi dan berdiri,
lalu keluar ke koridor.
“Selamat
datang kembali.”
“…Aku pulang.”
Suara
Saki yang kembali terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya. Aku sudah bisa mengenali suara
itu ketika dia merasa lelah.
Melihat Saki di bawah cahaya lorong, seperti yang kuduga, dia jelas kehilangan
ketenangannya.
Rambutnya
sedikit berantakan, dan tas yang disandangkan di bahunya tampak berat. Jejak kelelahan
samar terlihat di bawah matanya. Meskipun begitu, ketika melihat
wajahku, dia berusaha untuk tersenyum.
Namun,
senyumnya justru terlihat menyakitkan, dan aku menghela napas dalam hati.
Namun,
sesaat setelah dia berkata “Aku
pulang”, dia
mulai menuju bukan ke ruang tamu, tetapi ke dapur.
“Eh,
tunggu sebentar.”
“Aku
hanya ingin menyiapkan sarapan untuk besok.”
“Tidak,
tidak, tidak.”
Aku
buru-buru menghentikannya.
“Hari
ini adalah giliranku untuk
mengurusnya.”
“Ah.”
Dia
benar-benar terlihat seperti baru ingat.
“…Benar
juga.”
“Jangan
bilang ‘benar juga’ begitu?!”
“Maaf.
Aku agak linglung.”
“Aku bisa
melihatnya dengan jelas.”
Aku merasa kalau perkataanku sudah keterlaluan,
tetapi Saki tidak membantah, dia hanya
menghela napas pelan.
“Pergilah
mandi. Aku juga akan menyiapkan makan malam.”
“…Maaf,
sudah merepotkanmu atas semuanya.”
“Aku
pulang untuk hari-hari seperti ini. Percayalah dan serahkan semuanya padaku.”
Setelah
aku berkata begitu, Saki terdiam sejenak. Kemudian, dia mengangguk seolah
menyerah.
“…Terima
kasih.”
“Ya.
Silakan nikmati waktumu.”
Sembari melihat punggungnya yang menuju kamar mandi, aku kembali
berpikir dalam hati.
Mungkin,
memutuskan untuk pulang seperti ini mungkin adalah keputusan yang tepat. Saki tampak jauh lebih stabil
akhir-akhir ini daripada sebelumnya. Dia
tidak lagi bersikap begitu kentara, menghukum dirinya sendiri seperti dulu. Namun, bukan berarti dia telah menjadi
orang yang selalu stabil.
Setiap
orang memiliki saat-saat ketika mereka merasa tenang dan saat-saat ketika
mereka tidak. Kelebihan
dan kelemahan masing-masing orang muncul dan menghilang tergantung pada kondisi
saat itu.
Tidak ada
orang yang sempurna kuat maupun
sempurna baik. Saat ini,
Saki sedang menjangkau hal-hal baru di tempat kerja dan kampusnya, serta
dia juga memperhatikan urusan rumah. Tentu
saja, dia tidak seharusnya terlihat baik-baik saja dengan semua itu.
Itulah sebabnya,
aku ingin mendukungnya. Namun,
terlalu mencampuri urusannya
juga tidak benar. Ini sedikit mirip
dengan bagaimana aku memperlakukan ibu tiriku yang sedang hamil.
Pada
dasarnya, dia bisa melakukannya sendiri. Rasanya
wajar-wajar saja karena dia adalah orang dewasa yang mandiri. Oleh karena itu, mungkin tidak
tepat untuk selalu mendahului dan mengambil alih segalanya.
Tapi aku
akan siap bertindak segera jika ada SOS. Aku akan berada di posisi di mana
aku bisa menghubunginya saat dia memanggil. Kurasa itulah sikap yang bisa
kuambil saat ini.
Pada saat
itu, sebuah suara ragu-ragu terdengar dari kamar mandi.
“Hei,
Yuuta──Nii-san. Bisa tolong ambilkan sesuatu untukku? Boleh?”
Nii-san.
Kami
baru-baru ini mulai menggunakan cara yang berbeda untuk saling menyapa.
Begitulah cara kami memanggil satu sama lain di rumah. Terkadang, dalam jeda
singkat itu, rasanya hubungan kami saat ini terkompresi ke dalam ruang kecil,
yang menurutku anehnya lucu.
“Oh,
ya. Tentu. Apa yang kamu butuhkan?”
Aku berjalan keluar dari dapur menuju koridor
dan menuju ke kamar mandi. Pintu
kamar mandi sedikit terbuka, dan Saki mengintip hanya dengan wajahnya. Tentu saja, aku tidak bisa
melihat, tetapi mungkin dia sedang telanjang.
“Maaf.
Aku masuk ke kamar mandi dengan pikiran linglung...”
“Ya.”
“Jadi aku
lupa membawa baju ganti."
“…Ah.”
Itu pasti
merepotkan.
“Rak paling
atas lemari di kamarku. Tolong ambilkan pakaian dalam
dan piyama.”
Setelah
mendengar itu, aku secara refleks menoleh ke belakang. Tentu saja, ayahku dan ibu tiriku
sudah tidur. Tidak ada suara sama sekali. Namun, dalam situasi seperti ini,
rasanya sudah menjadi kebiasaanku untuk memeriksa.
“Uhmm… boleh aku membawanya?”
“Kamu
sudah terbiasa, kan?”
Dia mengatakannya
dengan santai, dan aku terdiam.
Memang
benar.
Setelah
tinggal bersama karena pernikahan ulang orang tua kami,
awalnya aku merasa bingung, tetapi setelah dua tahun, aku sering melihat
pakaian dalam yang sudah dicuci, dan meskipun ada saat-saat di mana aku tidak
sengaja melihatnya, aku tidak lagi merasa terkejut.
Ditambah
lagi, seiring kami berdua semakin dewasa setelah
lulus SMA, aku telah melihatnya hanya mengenakan pakaian dalam, atau bahkan
telanjang sepenuhnya meskipun dalam kegelapan dengan lampu mati. Ketika dia
menginap di apartemenku, akulah
yang mencuci dan menjemur pakaian dalamnya
di mesin cuci rumahku, jadi aku sudah cukup terbiasa.
Tetapi
itu karena aku berada dalam lingkungan di mana aku bisa berperilaku “100% sebagai pacar”. Saat ini, Asamura Yuuta yang ada di rumah ini adalah “100% kakak tiri,” dan mengambil pakaian dalam dari
kamar adikku sendiri adalah
tindakan yang jauh lebih sulit secara psikologis dibandingkan mencuci pakaian
dalam pacar.
Meskipun
begitu, aku tidak bisa mengabaikan Saki yang meminta bantuan.
“…Baiklah.”
Aku
mengucapkannya dengan susah payah, lalu menuju ke dalam kamar Saki. Aku mencari di lemari
bagian atas seperti yang dia katakan. Sambil
berusaha untuk tidak melihat terlalu lama, aku berusaha fokus dan mencari
dengan pikiran kosong.
Setelah
berhasil mendapatkan satu set pakaian, aku kembali dan mengulurkan tangan
melalui celah pintu.
“Terima
kasih.”
“Ya.”
Seharusnya
semuanya berakhir di situ, tetapi tiba-tiba aku menyadari
sesuatu.
“…Lah?”
“Apa?”
“Seharusnya
kamu tinggal memakai handuk dan mengambilnya
sendiri, ‘kan?”
Di balik
pintu, ada sedikit keheningan. Kemudian,
setelah jeda sejenak, Saki berkata,
“…Ada cara yang begitu juga, ya.”
“Ada,
kan?”
“Memang.”
Di situ,
aku merasakan sedikit napasnya.
“Kurasa aku
harus cepat-cepat tidur.”
“Aku
juga berpikir begitu.”
Percakapan
itu anehnya lucu, tetapi kami berdua menahan tawa karena tertawa akan
membangunkan keluarga.
Dan
begitulah malam di bulan April pun berlalu.
Tahun
kedua di universitas ini mungkin akan menjadi tahun yang penuh dengan pengalaman baru.
Ada bagian diriku yang
menantikannya.
Namun, di
dalam rumah, waktu yang berbeda pasti terus berjalan.
Aku tidak
ingin melewatkan keduanya.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
