Chapter 6 — Tahun Pertama Perkuliahan, Bulan Januari ~ Maret, Ayase Saki
Jangan
panggil aku Suhu. Aku selalu mengatakan itu kepada
teman kampusku, Kagami Kyouka, tetapi aku tidak
menyangka bahwa aku akan berada dalam posisi untuk mengatakannya sendiri.
Aku mendapatkan seorang Suhu.
Dia
adalah Akihiro Ruka-san, presiden tempatku intern yang membuatku tertarik pada
desain. Meskipun dia seperti guru, ada senior yang lebih langsung menunjukkan
teknik dan pengetahuan serta mengajarkanku secara dekat.
Entah
bagaimana, dia telah ditunjuk sebagai mentorku.
Peristiwa
tersebut terjadi pada akhir minggu setelah pertengahan
Januari. Karena
universitas sedang libur musim dingin, aku sudah pergi ke [Lucca Design Studio] sejak pagi.
Sebagai sekretaris
Ruka-san, aku mengerjakan berbagai tugas
dan mencari bahan untuk peran monitor di [Pameran
Horor]. Meskipun aku merasa takut.
Kenapa ada poster besar yang menampilkan kepala terpenggal?
Waktu
istirahat siang pun tiba.
Setelah
membereskan bahan materi,
aku membuka kotak makan siang di atas meja. Sambil mencari tahu tren fashion
musim panas ini melalui
ponsel, aku dengan rajin menggunakan sumpit untuk mengisi energi, kemudian Ruka datang dan mengintip kotak
makan siangku.
Saat itu,
hanya aku dan Ruka yang tersisa di kantor. Yang lainnya pergi untuk makan di
luar.
“Kinpira
gobo, ya? Cukup menarik. Tapi warnanya cantik. Buatan ibumu?”
“Tidak.
Aku sendiri yang membuatnya.”
“Oh.
Bagus. Kotak makan siang itu seperti alam semesta kecil. Latihan yang tepat
untuk mendesain ruang.”
...Aku
tidak pernah memikirkan hal itu.
Yah, kurasa itu lebih baik daripada hanya
dikatakan bahwa aku hebat karena membuatnya. Aku tidak membuatnya karena aku
hebat. Tapi iya, setiap kali aku memikirkan warna, jika dilihat dari sudut
pandang itu, mengisi sayuran seperti ini juga merupakan desain.
“Apa
Ruka-san selalu berpikir seperti itu?”
“Eh?”
Oh,
tidak. Reaksi ini menunjukkan bahwa dia tidak menyadarinya.
“Pembudidayaan
memang tidak bisa mengalahkan yang alami, iya ‘kan...”
Dia menatapku
dengan tatapan yang seolah berkata, ‘Apa
yang dibicarakan gadis ini?’.
Maaf.
Namun,
bagi seseorang sepertiku yang belum bisa
membayangkan masa depan tertentu dan tidak belajar keterampilan tertentu secara
khusus, aku merasa minder dibandingkan dengan Ruka-san
yang belajar seni dengan serius.
Kinpira
gobo terasa pahit. Menyakitkan. Ruka-san melihat bergantian antara kotak
makan siang dan wajahku.
“Hmm,
begitu rupanya. Jadi Saki, apa kamu tertarik untuk menjadi seorang desainer?”
Dia tiba-tiba
bertanya demikian padaku. Intuisi memberitahuku bahwa ini adalah
pertanyaan yang penting dan mendasar.
Sebentar,
aku merasa bingung bagaimana harus menjawabnya. Persimpangan dalam kehidupan selalu muncul tiba-tiba. Apakah
memilih kanan atau kiri, tidak ada waktu untuk ragu, dan tidak ada tanda yang
menunjukkan arah. Meskipun begitu, orang harus memilih. Tidak, mungkin tidak.
Tidak memilih juga merupakan pilihan.
Kita
dipaksa naik ke kendaraan waktu sejak lahir, dan meskipun tidak memilih
apa-apa, kita akan maju ke masa depan yang entah di mana.
Apa yang
harus kulakukan, karena sebenarnya tidak ada waktu untuk
ragu, jadi aku memutuskan untuk memperpanjang jawabanku.
“Meskipun
aku merasa tertarik, tapi aku
merasa masih kekurangan dalam segalanya saat ini.”
“Mm.
Kamu memahaminya sendiri.”
“Ugh.
Ya, memang begitu. Sebelumnya, ketika aku mengatakan, 'Aku belum pernah
belajar desain', Satozaki-san
mengatakan padaku, 'Dalam desain, pemikiran logis, kemampuan memecahkan
masalah, dan kemampuan abstraksi juga penting, jadi yang diharapkan Ruka-san adalah bagian-bagian itu'.”
Tapi, aku
melanjutkan.
“Jika
terus begini, aku merasa yang bisa kulakukan hanyalah melanjutkan tugas
sekretaris untuk membantu Ruka-san.”
“Ya,
benar.”
Ugh. Dia tidak perlu setuju dengan mudah
seperti itu. Sebagai senior di jalur ini, aku berharap dia bisa memberikan satu
saran yang berguna dan bagus. Sebenarnya, aku berharap untuk mendapatkan itu
sebagai alasan untuk memperpanjang jawabanku.
Ruka-san tersenyum sambil mengangkat
sudut mulutnya.
“Yah,
jika kamu benar-benar ingin melakukannya, belajar dari awal itu
penting juga. Tapi yang paling penting sekarang adalah menemukan mentor.”
“Mentor...
seperti seorang pengrajin, ya?”
Tidak,
memangnya bisa disamakan dengan pengrajin?
“Pelajaran
teori bisa kamu lakukan sendiri, Saki. Jadi, yang tersisa adalah bergerak dan
melatih mata, ‘kan? Yang
perlu dilakukan adalah menemukan mentor.
Bukan berarti kamu tidak bisa
menemukan mentor tanpa
pergi ke sekolah.”
“Itu...
mungkin benar, tapi di mana aku bisa menemukannya?”
“Di
kantor ini ada banyak orang yang bisa berperan sebagai mentor. Ya, meskipun ada yang cocok
untuk mengajar dan ada yang tidak. Oh, kebetulan. Mereka datang.”
Pintu
kantor terbuka, dan orang-orang dari [Lucca
Design Studio] yang
keluar untuk makan siang masuk ke dalam. Sambil
melambaikan tangannya, Ruka-san memanggil salah satu dari
mereka.
“Yume,
ke sini, sini.”
“Ada
apa, Ruka-shachou?”
Dengan
nada lembut dan sedikit mengantuk, dia
adalah Higashide Yume-san. Dia duduk tepat di depan
mejaku. Semua orang memanggilnya “Yume-chan”. Dia berbadan mungil dan selalu tersenyum
ramah. Dia adalah orang yang membuat sampul buku bergambar karakter “Shimi-chan” dari buku “Kertas Ikan”. Seingatku, dia sekitar enam
tahun lebih tua dariku.
“Mulai
hari ini, maukah kamu menjadi mentor
Saki?”
Dia
mengatakannya dengan santai.
“Hah?
...Aku?”
“Yume, kamu lulusan dari fakultas seni rupa. Itu berarti kamu juga
bisa teori, ‘kan?”
“Tapi aku
tidak pandai dalam teori, loh?”
“Kamu
bisa lebih baik daripada orang awam.”
“Benarkah?
Yah, kalau disuruh, aku akan melakukannya. Tapi, aku tidak tahu cara mengajar.
Aku tidak begitu terampil, apa itu tidak masalah?”
“Jangan
khawatir, itu baik-baik saja. Cukup beri pendapat tentang apa
yang dibuat Saki.”
“Kalau
cuma itu saja yang perlu kulakukan sih,
ya sudah.”
Dengan
begitu, sambil berkata seperti itu, Ruka-san
melihatku.
“Jadikan
Yume sebagai mentormu. Yume
akan memberikan tugas, dan kamu mengerjakan
itu di sela-sela pekerjaanmu dan menyerahkannya.”
“Ba-Baik, aku mengerti.”
Aku
berbalik menghadap Yume dan berdiri dari kursi, lalu menundukkan kepala dengan
sopan.
“Terima
kasih banyak.”
“Mm.
Baiklah. Tapi, aku tidak pandai mengajar.”
“Oh,
ya.”
“…Itu, itu. Di situ, meskipun itu bohong, katakanlah
tidak seperti itu… Kamu, orang yang jujur, ya.”
Dia
melirikku dan aku segera meminta maaf.
“Aku
tidak bermaksud──”
“Cuma
bercanda.”
“Hah?”
“Sebenarnya,
aku memang payah dalam
mengajar. Atau lebih tepatnya, aku tidak pandai memuji.”
“Ah, begitu.”
“Yah,
begitulah. Saki, Yume lebih cenderung tipe yang memiliki jawaban di dalam
dirinya. Kamu harus mengingatnya.
Dia adalah tipe yang hanya bisa
mengatakan 'kalau aku, aku akan melakukan ini'. Jadi tidak ada gunanya
berharap pada nasihat yang berarti.”
“Tipe
yang memiliki jawaban di dalam dirinya...”
Kalau
diingat-ingat kembali, bahkan
saat membuat sampul buku, dia selalu
mengangkat sampel yang sudah
jadi dan memperlihatkan kepada
orang-orang di sekitarnya, tetapi ketika dipuji, dia biasanya memberikan respon
yang cukup datar. Itu
berarti, dia mencoba melihat
reaksi orang-orang di sekitarnya tetapi tidak mencari pendapat, kan?
“Menurutku
Saki juga tipe yang sama. Mentor
yang memberi tahu harus melakukan ini dan itu tidak cocok denganmu. Anggaplah Yume sebagai tembok penghalang, dan
cobalah berlatih melawannya.”
“Baiklah... Aku mengerti.”
Sejujurnya,
meskipun disuruh menggunakan mentor sendiri sebagai
pengganti tembok penghalang, aku
hanya merasa bingung.
“Aku
akan mencoba melampai dinding tersebut.”
“Baik.
Semangat ya.”
“Ya.”
Aku
membungkuk dalam-dalam sekali lagi. Dengan demikian, aku mulai memanggil
Yume-san sebagai mentorku. Dan sejak hari itu, aku mulai mendapatkan
tugas desain di sela-sela pekerjaan.
Ketika
aku selesai dengan pekerjaan sekretaris dan hendak pulang, aku langsung
ditangkap.
“Saki-chan,
bulan depan adalah Februari, lho.”
“Eh...
iya.”
Setelah
Januari, pasti Februari. Mungkin, itu berlaku di seluruh dunia.
“Bulan Februari
biasanya identik dengan apa?”
“...Setsubun.”
“Bukan
itu.”
“Risshun.”
“Bukan
itu juga... maksudku, Saki-chan, memangnya kamu merayakan Risshun?”
Seperti
halnya memakan kacang pada Setsubun, ada makanan yang dianggap membawa
keberuntungan pada Risshun (Hari
sebelum awal musim semi).
Ada “Risshun Namagashi” yang dibuat pada pagi Risshun
dan dimakan pada hari itu yang dianggap membawa keberuntungan. Seingatku, Maaya pernah
mengatakan itu. Mari kita makan bersama, katanya. Tapi
aku belum pernah mencobanya.
“Aku
tidak pernah merayakannya secara khusus. Hmm, jadi, Valentine?”
“Kurasa biasanya
itu akan langsung muncul di pikiran, tau.
Tapi, tidak apa-apa. Coba buat beberapa ide desain untuk kotak cokelat. Aku beri waktu seminggu untuk minimal tiga desain.
Sketasa kasar saja tidak apa-apa.”
“Ah,
eh? ...Iya.”
“Mm.
Nah, hari ini cukup sampai di sini.”
“Iya.
Terima kasih atas kerja kerasmu.”
Aku
melihat Yume yang sedikit menundukkan kepala dan menggantungkan tasnya di bahu
saat hendak pergi. ...Yume berhenti. Dia berbalik dan menatapku.
“Jadi,
hari ini cukup sampai di sini.”
“Ah,
iya. Terima kasih, ya?”
“...Mm.”
Oh,
rasanya tidak baik. Jika
dibiarkan terus, rasanya akan menjadi masalah.
“Eh,
um.”
“Mm?”
“Maaf
mengganggu saat ingin pulang...”
“Mm.”
Apa ini?
Aku tidak tahu jawaban yang tepat. Hmm, aku sekarang mendapatkan tugas desain.
Tugasnya adalah mendesain kotak cokelat Valentine,
kan? Karena bisa dibuat kasar, berarti tidak perlu pekerjaan nyata, hanya ide
saja.
Karena
ini kotak untuk diberikan kepada pasangan kekasih, kurasa yang paling umum mungkin berwarna
merah dengan hiasan hati yang tersebar di atasnya,
seperti itu. Itu memalukan, jadi jika ada hiasan hati, minat beliku malah
berkurang... tapi tunggu.
Ada
sesuatu yang menarik perhatianku. Jika itu aku,
aku lebih suka yang sederhana, misalnya saja warna putih
dengan motif bunga sebagai aksen. Jika itu aku?
Hmm... maksudnya.
“Umm...
mengenai tugas yang tadi.”
“Mm.”
“Apa syaratnya....Cuma sebatas
kotak cokelat Valentine?”
“Di
pusat kota, di department store bawah tanah. Toko
khusus cokelat mewah. Satu kotak sekitar 600 yen atau
sekitarnya. Targetnya adalah pelanggan yang datang ke Ginza dan sekitarnya.
Ukuran kotaknya harus seukuran telapak tangan.”
“Ugh.”
“U...gh?”
“Ah,
tidak. Itu hanya keluar begitu saja...”
Aku tidak
pernah mengantisipasi pelanggan seperti
itu, dan aku tidak berpikir ukuran kotaknya seperti itu. Bahaya. Aku
membayangkan kotak yang sedikit lebih besar yang biasa dibeli oleh siswi SMA.
Jika memang spesifikasinya seperti itu,
ceritanya akan sangat berbeda.
“Umm...
apa yang akan terjadi jika aku
tidak bertanya tentang pertanyaan itu?”
“Desain
tidak ada artinya jika tidak memperhitungkan target. Jadi, jika desainnya tidak
sesuai dengan target pelanggan, tentu saja akan ditolak.”
“Kamu
belum memberitahuku tentang target pelanggan, ‘kan?”
Dia
mengangguk.
“Tentu
saja. Kamu tidak selalu bisa mengharapkan
untuk diberitahu. Jadi, hal yang tidak jelas harus ditanyakan sampai jelas.
Namun, kenyataannya tidak selalu ramah... bahkan klien sering kali tidak
memahami permintaan atau tujuan mereka sendiri. Jadi
setidaknya, sebagai
desainer, kita harus selalu ingat untuk siapa
dan dengan tujuan apa. Ini merupakan hal yang
dasar.”
“Untuk
siapa dan dengan tujuan apa...”
“Hari
ini cukup sampai di sini. Jika ada yang ingin kamu tanyakan lebih lanjut,
catatlah. Sampai jumpa.”
Kali ini,
dia membuka pintu dan pergi tanpa berhenti atau berbalik. Aku merasa sangat lelah dan duduk
di kursi.
Tatsumi-san yang duduk di meja seberang
berkata dengan nada santai, “Wah,
ini sangat ketat, ya.” Satozaki-san yang duduk di sampingku juga
menambahkan, “Yume-chan,
ternyata cukup ketat, ya."
Perkataan Satozaki-san benar-benar tepat. Dan
sepertinya Yume sendiri tidak terlalu pandai mengajar. Jika Yuuta yang mengajar, dia mungkin
akan lebih mendukung dan
membimbing pemikiranku. Tapi aku tidak ingin seperti itu. Jika Yuuta yang mengajar, aku mungkin
akan menjadi manja dan terlalu bergantung
padanya.
Rasanya sangat
menyakitkan, tetapi... Ruka-san
memiliki kemampuan untuk menilai orang dengan tepat. Mungkin Yume-san adalah mentor yang paling cocok untukku. Apa yang terakhir kali dikatakan
Yume-san tetap terngiang di kepalaku.
Klien
yang meminta desain sendiri tidak selalu memahami apa yang mereka inginkan.
Jika demikian, kita harus menggali lebih dalam dari pihak kita...
setidaknya, itulah yang mungkin dipikirkan Yume-san.
Ruka-san mengatakan bahwa Yume-san adalah tipe yang menemukan
jawaban yang ada di dalam hatinya. Mungkin, dia melakukan hal yang sama
terhadap klien.
Menggali
bagian dalam yang tidak disadari ya...
hmm.
◇◇◇◇
Pelajaran
dari Mentor Yume sangat berat. Tugas yang diberikan selalu satu tgas per minggu. Diperintahkan
untuk membuat sekitar tiga ide desain. Peraturan
tersebut tidak berubah. Hanya saja, temanya selalu, dan tidak ada yang sama.
Selain
itu (menurutku, inilah yang membuatnya cukup
menantang), target
audiens untuk desain tersebut juga berubah setiap kali. Bahkan, ada tugas di
mana aku diberikan satu poster yang sudah ada dan satu desain kemasan, lalu
diminta untuk berpikir tentang apa yang ingin disampaikan kepada siapa, dan
membuat tiga versi dengan target yang berbeda.
Saat
memberikan tugas, tampaknya Yume-san
membuat pengaturan yang jelas untuk penerima desain, sehingga ketika menerima
tema yang diberikan, aku terbiasa bertanya, “Ini
untuk siapa dan apa yang ingin disampaikan?”
Selain
itu, pengaturannya sangat detail. Oleh karena itu, wawancara menjadi penting.
“Setiap
kali kamu memikirkan tema, kamu bisa menentukan sampai sejauh itu, ya.”
Meskipun terlihat
seolah-olah dia hanya mengarangnya langsung
di tempat...
“Eh?”
“Misalnnya
yang ini, untuk kemasan lain yang harus dipikirkan,
meskipun ini adalah makanan ringan, target pembelinya adalah remaja perempuan
berusia 14 tahun hingga pelajar SMP. Kemungkinan besar tidak ada siswa SMA.
Utamanya adalah penduduk kota di sekitar Shibuya. Uang saku bulanan sekitar
3000 yen, mungkin.”
“Apa aku
memang detail sekali, ya?”
...Oh,
tidak. Ini juga sesuatu yang tidak disadari.
Aku
teringat kembali.
Ketika
Yume-san mendesain sampul buku, dia
beberapa kali pergi ke toko yang memintanya dan memeriksa pelanggan yang datang
ke sana.
Jadi,
bagi Yume-san, desain
dan orang yang berinteraksi dengan desain itu adalah satu kesatuan. Dia tidak
pernah memikirkan untuk memisahkan keduanya. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Atau mungkin dia memang
memiliki cara berpikir seperti itu dari awal.
“Jadi,
ada yang ingin ditanyakan lagi? Kalau
tidak, kerjakan tema itu sampai akhir pekan, ya.”
“...Dan
jika kamu sengaja mengonfirmasinya dengan sengaja, berarti masih
ada sesuatu, ‘kan?”
“Jangan
membaca secara tersirat begitu.” Sambil berkata demikian, dia tersenyum puas.
Sepertinya dia senang aku menyadarinya.
“Tunggu.
Tunggu sebentar. Mungkin...”
Aku
menatap kotak makanan yang ada di dokumen. Cokelat. Warna cokelat tua.
Menyebarkan cahaya putih yang hangat...
“Apa
ini produk musiman yang terbatas?”
“Ah,
aku belum pernah mencobanya. Padahal rasanya enak. Tapi mereka hanya dijual di musim dingin.”
“Ugh.
Aku tidak terlalu banyak ngemil...”
Selain
itu, sebagian kotak telah dicat ulang, dan mungkin di situ tertulis “edisi musiman”. Artinya, jika desainnya terkesan
musim panas atau bahkan musim semi, itu pasti salah. Jadi, inilah mengapa
desain kotak ini terasa hangat dan tenang.
──Hampir saja.
Rasanya
seperti itu. Tugas-tugas
seperti ini yang seolah-olah memiliki jebakan terus berlanjut.
Terkadang
aku diminta untuk membuat kotak kosmetik yang stylish dengan pola geometris,
dan kadang juga diminta untuk membuat tiga jenis tampilan untuk produk baru di
dalam toko. Desain yang mengisi bidang datar dan desain yang mengisi ruang
tampaknya membutuhkan cara berpikir yang berbeda, sehingga sulit untuk beralih
karena masih teringat dengan tugas sebelumnya.
Dan yang
paling sulit adalah... Yume-san
tidak pernah marah.
Tidak
marah berarti aku harus menemukan sendiri di mana letak kesalahanku. Jika aku mengajukan tugas, dia
akan memberikan umpan balik.
Namun, persis seperti yang dikatakan Ruka-san, itu hanyalah solusi “Jika itu Higashide Yume, dia akan
melakukannya dengan cara ini.” Mungkin
itu benar bagi Yume, tetapi jika aku hanya menerima begitu saja, maka tidak ada
artinya bagiku.
Dia tidak
marah dengan apa pun yang kuajukan.
Hanya umpan balik tentang apa yang diajukan yang akan diterima. Dan pada minggu berikutnya, tugas
yang sangat berbeda akan diberikan. Pengetahuan yang dipikirkan minggu lalu
sama sekali tidak berguna. Aku merasa dunia dipenuhi dengan desain.
Desain
industri mempertimbangkan kemudahan penggunaan dan penampilan produk seperti
gunting atau pisau yang diproduksi dalam jumlah besar, serta pengalaman yang
didapat saat menggunakannya. Desain grafis mempertimbangkan penampilan dan efek
poster. Desain antarmuka pengguna memikirkan kemudahan dan kejelasan aplikasi smartphone
dan panel sentuh...
Tepat di
pertengahan Februari, sebulan
setelah memulai.
Hanya
pada pertemuan keempat, aku merasa seperti mengikuti kelas intensif yang padat.
Aku tidak
yakin jika perbandingannya tepat, tetapi mungkin seperti pengalaman Yuuta yang mengikuti pelatihan
intensif ujian pada musim panas saat dia kelas 3 SMA. Sepertinya ini mirip.
Meskipun
pekerjaan itu hanya meminta ide dan
tidak ada kelelahan fisik, tetapi otakku terasa sangat
lelah.
Selama
waktu itu, salju turun dua kali.
Terutama
salju pada tanggal 10 Februari yang memicu peringatan salju berat. Jadwal
transportasi di pusat kota kacau, dan hari itu sangat sulit untuk pergi ke
universitas atau ke kantor desain. Tetapi karena itu adalah hari Jumat, jadi aku harus menyerahkan tugas.
Sambil
menggigil kedinginan, ketika akhirnya tiba, aku menerima kabar bahwa Yume-san tidak bisa sampai karena
kemacetan. Aku menyerahkan tugas melalui internet.
Di tengah
pelajaran ketat dari Mentor
Yume, ada satu proyek lain yang menggangguku
juga mulai terbentuk secara bertahap. Itu adalah
proyek sebagai pengawas
untuk [Pameran Horor].
Pameran
ini akan diadakan di ruang acara khusus di dalam kota. Walaupun pameran seni biasanya
diadakan di tempat acara di department store, tetapi untuk acara kali ini yang
mungkin memiliki lukisan yang sedikit mengerikan, tidak mungkin diadakan di
department store yang ingin dikunjungi semua orang. Mungkin mustahil juga.
Oleh
karena itu, pameran akan diadakan di museum di dalam kota atau ruang acara
lainnya. Ruangan besar akan dipisahkan dengan partisi dan pengunjung akan
berjalan melalui lorong sempit untuk melihat berbagai pameran yang menakutkan.
Aku pergi
bersama Ruka-san untuk
melihat lokasi acara. Saat itu, sedang diadakan pameran mainan untuk anak-anak.
Dengan melihat berbagai mainan yang berwarna-warni dan ceria yang menggunakan
warna-warna cerah, yang merupakan kebalikan dari acara yang kami kerjakan, Ruka-san sesekali bergumam, “Di sini kita bisa menampilkan
satu atau dua mayat...” dan aku
berpikir, mungkin itu sudah termasuk unsur horor.
Sambil
merangkum semua karya yang diajukan oleh para kreator yang berpartisipasi, Ruka-san memikirkan di mana dan bagaimana
cara mengatur semuanya. Ruka-san
menambahkan elemen untuk membuat lukisan, foto, video, dan objek tiga dimensi
yang sudah menakutkan itu menjadi lebih menakutkan lagi. Sambil mendengarkan
setiap niat penyajian Ruka-san,
aku sebagai sekretarisnya harus
merangkum semuanya ke dalam dokumen. Dalam proses itu, Ruka-san mengajariku tentang “apa itu perasaan takut”.
“Perasaan
takut itu seperti apa, ya...”
“Benar. Saki, menurutmu, mengapa ada
perasaan takut?”
Pertanyaan
itu terdengar aneh bagiku pada awalnya. Sampai saat itu, aku tidak pernah
memikirkan ‘kebutuhan’ dari
perasaan ‘takut’. Habisnya,
hal yang menakutkan ya menakutkan, kan?
Namun,
Ruka-san tidak berpikir demikian.
“Banyak yang
bilang kalau kehidupan berasal dari sel-sel kecil, ‘kan?”
“Ah.”
Aku tidak
terlalu paham biologi. Aku tahu bahwa tubuh manusia adalah kumpulan berbagai
sel hingga pendidikan dasar di SMA, tetapi aku tidak tahu apa asal mula
kehidupan itu adalah sel itu sendiri.
Setelah
itu, Ruka-san mulai
memberikan kuliah dadakan.
“Seingatku,
sekitar 4 miliar tahun yang lalu, organisme bersel tunggal lahir di lautan dan
menjadi dasar dari semua kehidupan.”
“Organisme
bersel tunggal... berarti satu sel, ‘kan?
Oh, ya, sepertinya aku pernah mendengar tentang itu.”
“Betul.
Dari sana, kehidupan menjadi semakin kompleks. Tapi, apa menurutmu organisme yang hanya
memiliki satu sel bisa merasakan 'ketakutan'? Maksudku, apakah amoeba bisa merasakan ketakutan?”
“...Ketakutan
itu adalah perasaan, ‘kan?
Jadi, rasanya tidak mungkin tanpa perasaan...”
“Ya.
Kamu menyimpulkan poin
yang bagus. Tapi, misalnya, 'ketakutan' seperti itu, kurasa itu juga
diperlukan oleh amoeba yang
tampak tidak berperasaan. Misalnya, jika makhluk itu membutuhkan air, ketika
kadar air di sekitarnya berkurang, ia harus bergerak ke tempat arah yang lebih banyak air, iya ‘kan?”
Untuk
itu, pertama-tama, ia perlu tidak mendekati objek yang menakutkan, artinya ia
harus berhenti.
Begitu
rupanya. Meskipun diragukan apakah amoeba bisa merasakan perasaan ‘takut’, kemampuan untuk merasakan bahwa
lingkungan di sekitarnya memburuk adalah hal yang diperlukan.
“Begitulah.
Dan menurutku perasaan 'takut' yang ada
pada manusia itu muncul
dari kebutuhan untuk terhenti menghadapi bahaya.”
“Jadi,
ada makna dalam merasa takut dan tidak bisa bergerak? Tapi, jika begitu, kita tidak bisa melarikan diri, ‘kan?”
“Itu
tidak masalah. Dengan tidak bisa bergerak, kita bisa memilih untuk tidak
mendekat.”
“Untuk'tidak mendekat', ya.”
Ini
adalah ungkapan yang aneh lagi.
“Kita
menarik tangan kita ke belakang karena kita takut api. Kita menghindari tempat
gelap karena kita takut gelap.”
“Ah…”
Aku
mengerti. Ternyata tidak bisa bergerak juga penting.
“Melarikan
diri atau melawan adalah keputusan yang lebih kompleks. ‘Ketakutan’
adalah perasaan yang pertama kali diperoleh makhluk hidup untuk bertahan hidup.
Dan ‘ketakutan’ yang berkembang adalah ‘horor’
yang lebih dalam, bukan?”
“Perasaan
primitif yang diperoleh untuk bertahan hidup adalah ketakutan…”
“Oleh karena, makhluk hidup takut akan
situasi yang mengancam keberlangsungan hidup. Bisa
dikatakan bahwa itu sebagai
perubahan lingkungan yang tiba-tiba.”
“Misalnya seperti menguras air dari makhluk hidup yang
berada di tepi air?”
“Tepat sekali. Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya terjadi. Itu berarti perubahan yang
tidak terduga. Sebenarnya, ada beberapa pola dalam penyajian yang menakutkan,
tetapi yang paling mudah dipahami adalah penyajian jump scare.”
Jump
scare?
“Aku
menyebutnya penyajian efek kejutan.
Oh, istilah ini mungkin tidak umum, jadi anggap saja itu istilah Ruka. Dalam
film horor atau permainan, tiba-tiba ada suara keras atau gambar mengejutkan
yang muncul tiba-tiba, atau tangan monster tampak melompat keluar dari layar.”
Aku
membayangkannya dan sedikit merinding.
“Ya, memang ada juga
yang seperti itu…”
“Aku
pernah melihat efek di mana
tiba-tiba ada suara ketukan keras di jendela kaca, dan jejak tangan merah yang
lengket muncul. Itu sangat menakutkan.”
Ugh. Jangan
buat aku membayangkannya.
“Perubahan
lingkungan yang tiba-tiba dan tidak terduga itu menakutkan. Itulah perasaan
yang diwariskan dari nenek moyang makhluk hidup purba yang diperoleh selama
evolusi. Ketidaktahuan dan kejadian yang tidak terduga itu menakutkan. Kita
harus memanfaatkan ini.”
Seperti
tiba-tiba muncul di sudut yang tidak terlihat. Atau merasakan angin dingin yang
tiba-tiba menyentuh tengkuk dengan suara yang tidak dikenal.
Dari
kepala Ruka-san muncul
ide-ide untuk menakut-nakuti orang yang
tidak kalah menarik dari pameran itu. Namun...
mengapa kita memiliki emosi yang
disebut ketakutan? Apakah seorang desainer harus memikirkan hal-hal seperti
itu?
“Kurasa penulis horor Loveraft pernah mengatakan bahwa ketidaktahuan
adalah ketakutan yang paling kuno dan kuat,
jadi kita butuh serangan yang datang dari sudut yang tidak terduga.”
Ruka-san bergumam seperti itu saat
meninggalkan 'Pameran Mainan Terbaru'. Ya. Sebagai seseorang yang menemanunya, aku
merasa tidak nyaman melihat anak-anak yang lewat memandang Ruka-san dengan tatapan curiga saat dia
berjalan sambil bergumam.
Namun,
saat itu aku mengerti.
‘Ketidaktahuan’
adalah ketakutan yang paling mendasar,
sehingga wajar saja untuk merasa takut ketika hal
yang tidak diketahui terjadi. Dalam arti tertentu, itu adalah sesuatu yang
diperlukan bagi makhluk hidup.
Dan pada
saat yang sama, ada satu hal yang kurasakan dengan mendalam.
Meskipun
aku diajari tentang mekanisme munculnya perasaan ketakutan, aku tidak bisa
menahan diri untuk tetap merasa
takut dan merinding setiap kali melihat sampel pameran. Demo video dari 'Pameran
Horor'
itu benar-benar terlalu menakutkan... Dan aku tidak bisa berhenti merasa takut.
Mengapa?
Karena
aku tidak benar-benar mengalaminya sendiri.
Aku sudah terbiasa dengan adegan-adegan
mengejutkan setelah diulang beberapa kali, tetapi gambar atau foto yang
menyakitkan seperti yang terjadi di video demo adalah pengalaman yang jarang
terjadi, dan otakku belum bisa mengenali bahwa itu hanyalah “hasil dibuat-buat.”
Saat itu, aku menyadari. Bukannya kehamilan ibuku juga sama? Karena aku tidak bisa mengalaminya, jadi aku tidak bisa terbiasa. Itulah mengapa aku merasa takut dengan situasi saat ini.
Tanpa bisa terbiasa, bulan Maret pun tiba.

