Roshi-dere Vol.3 Chapter 05 Bahasa Indonesia

Chapter 05 — Dalam Banyak Artian, Itu Sangat Mempesona

 

“Tidak kusangka kalau semuanya akan berkumpul di sini ...”

Chisaki melihat sekeliling ruangan OSIS sambil tersenyum masam. Bila dilihat dari pintu masuk, ada Touya selaku Ketua OSIS yang duduk di bagian paling ujung meja panjang. Dari sebelah kanan ada Maria, Alisa, dan Masachika. Sedangkan di sebelah kiri meja panjang ada Chisaki, Yuki, serta Ayano. Semua anggota OSIS tahun ini berkumpul dalam satu ruangan.

Apa yang mereka lakukan di ruang OSIS sepulang sekolah, tentu saja bukan untuk kegiatan OSIS ... melainkan sedang menunggu giliran untuk pertemuan orang tua-guru. Setelah mendapatkan kembali lembar ujian di pagi hari, mereka sekarang menunggu dimulainya pertemuan orang tua-guru di kelas masing-masing.

Pertemuan diadakan di setiap kelas secara bertahap selama 30 menit, dan tergantung pada jumlah siswa, pertemuan bisa dimulai tepat setelah istirahat makan siang atau bahkan di sore hari. Oleh karena itu, ada banyak siswa yang menggunakan ruang klub atau perpustakaan untuk menghabiskan waktu hingga giliran mereka tiba. Tapi ... tampaknya semua anggota OSIS tahun ini berkumpul di ruangan OSIS, meskipun mereka tidak merencanakannya.

“Yah, kalau dipikir-pikir lagi, anggota OSIS tahun ini secara kebetulan mempunyai nama keluarga yang hampir mirip … Dimulai dari ‘Ki’ mishima, ‘Ku’jou, ‘Ku’ze, ‘Ke’nzaki, ‘Sa’rashina, dan ‘Su’ou ... Tak disangka anggota dengan nama berawalan kata ‘Ki’ sampai ‘Su’  berkumpul semua.”

“Benar sekali. Ini memang kebetulan yang bagus.”

Yuki menimpali perkataan Touya yang sama-sama tersenyum masam seperti Chisaki.

“Tapi yah ... Ayano sudah menyelesaikan pertemuannya kemarin, sih.”

Saat mendengar itu, Chisaki tiba-tiba berkedip dan melihat ke arah Ayano yang duduk di sebelahnya.

“Eh? Masa? Kalau begitu Ayano-chan bisa langsung pulang cepat dong.”

“Aku sudah bilang begitu padanya, kok? Yah, karena ini tentang Ayano...”

“Di mana pun Yuki-sama berada, di situlah seharusnya tempat saya berada.”

Sembari tersenyum tipis pada Ayano, yang mengatakannya seolah-olah itu hal yang sangat wajar, Yuki mengangkat bahunya seakan menyiratkan, “Itulah yang terjadi”. Sementara yang lain ikutan tersenyum dengan cara yang sama, Maria menepukkan kedua tangannya dan mengangkat suaranya.

“Kalau begitu, mumpung semuanya ada di sini, haruskah aku menyeduh teh untuk kalian?”

“Ya, tolong ya~”

Chisaki memohon dengan gembira pada Maria yang berdiri. Maria membalikkan badannya saat melihat senyum Chisaki dan berkata tanpa melihat Ayano.

“Ah, Ayano-chan boleh duduk saja, oke?”

“!?”

Mendengar kata-kata tersebut, Ayano yang baru saja akan berdiri tanpa menimbulkan suara atau hawa kehadiran, melebarkan matanya dengan terkejut. Ayano menatap Maria dengan tatapan kaget “Ap-Apa ...!?” dengan pinggulnya terangkat ringan, dan Yuki yang duduk di sebelahnya, menarik lengannya dengan ringan untuk duduk.

“Ayano, mari menuruti kata-kata Masha-senpai.”

“Yuki-sama ... Ya, saya mengerti.”

Setelah melihat Ayano duduk di kursinya, Maria menuju ke lemari penyimpanan cangkir teh.

“Kuze-kun? Ada apa?”

“... Tidak, bukan apa-apa.”

Ketika Masachika menatap punggung Maria, Alisa yang duduk di sebelahnya, bertanya sambil memiringkan kepalanya. Namun, Masachika menggelengkan kepalanya dan berbalik menghadap ke depan, lalu tiba-tiba teringat pertanyaan yang ingin Ia tanyakan kepada Touya.

“Omong-omong, Ketua, aku baru membahasnya sedikit dengan Alya kemarin, tapi bagaimana pembicaraan tentang mengganti seragam musim panas? Apa mungkin bisa direalisasikan tahun depan?”

Masachika dengan santai bertanya padanya, tapi reaksi Touya lebih dari yang diharapkan saat Ia mendengar pertanyaan Masachika. Dengan senyum menyeringai dan tanpa rasa takut, Ia membuka mulutnya dengan ekspresi seolah-olah menyiratkan “Aku senang kamu bertanya begitu”.

“Oh, mengenai itu ... Ini masih menjadi rahasia, tapi kurasa kita bisa memperkenalkan seragam baru paling cepat setelah liburan musim panas.”

“Eh! Benarkah!?”

“Ya, aku berencana membuat pengumuman kejutan pada upacara penutupan nanti ... Yah, itu hampir sudah pasti.”

“Wah, itu sungguh berita yang bagus sekali. Aku juga suka seragam ini, tapi memakainya di musim ini membuatku terasa gerah.”

Yuki menepuk kedua tangannya dengan gembira saat menanggapi kata-kata Touya. Setelah tersenyum senang pada reaksi juniornya, Touya menurunkan alisnya dengan sedikit meminta maaf.

“Tapi yah, masih ada banyak tugas yang harus dikerjakan ... mungkin aku membutuhkan kalian semua untuk membantu sedikit selama liburan musim panas.”

“Cuma segitu saja tidak masalah. Ketua sudah mengurus bagian-bagian pentingnya, jadi kami akan membantumu sebisa mungkin.”

“Terima kasih ... tapi yah, alasan kenapa rencana ini bisa berhasil itu berkat Chisaki, tau?”

Perhatian semua orang tertuju pada Chisaki saat mendengar pengakuan Touya. Namun, Chisaki justru menatap Touya dengan senyum masam di wajahnya.

“Itu tidak benar. Semuanya berkat negosiasi gigih dari Touya.”

“Itu karena Chisaki selalu membantuku. Aku merasa sangat senang kalau kamu adalah partnerku.”

“Touya ...”

“Chisaki ...”

“Betapa alaminya mereka menciptakan dunia mereka sendiri.”

Masachika menatap sepasang kekasih yang mulai saling menatap dengan tatapan lembut. Kemudian, Ia menoleh ke arah Yuki dan mengangkat bahunya seolah mengatakan “Mereka mulai lagi.” ..., tapi Yuki justru menoleh ke arah Ayano dan mulai menatapnya dengan tatapan penuh gairah.

“Ayano ...”

“Yuki, sama...”

“Eh, apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Masachika mengedipkan matanya saat suasana yuri tiba-tiba terbangun di antara mereka. Tapi ketika Yuki melirik-liriknya untuk memberi kode, Masachika memutuskan untuk mengikuti suasana.

Setelah menggaruk kepala dan menghembuskan napas untuk menenangkan diri, Ia menoleh ke Alisa dalam suasana termanis yang bisa Ia kerahkan.

“Alya ...”

“Apa? Aku takkan melakukannya.”

“Jutek banget !!”

Begitu menoleh ke arah Alisa dengan ekspresi lembut, Alisa langsung menolaknya dan Masachika terkena serangan mental, lalu roboh di atas meja dengan teriakan “Guha!”. Kemudian, Yuki menoleh ke Alisa dengan senyum yang sedikit provokatif.

“Ara, ara, sepertinya ikatan di antara pasangan di sana tidak begitu kuat, ya.”

“Muu—”

“Kerja sama antar pasangan adalah hal terpenting dalam kampanye pemilihan ... dengan keadaan seperti itu, apa kamu benar-benar bisa mengalahkan kita? Ya ‘kan, Ayano?”

Saat mengatakan itu, Yuki tersenyum misterius sembari mengusapkan jarinya ke pipi Ayano. Mungkin karena merasa geli, Ayano memejamkan satu matanya dan sedikit menggigil. Bunga lily bermekaran di belakang mereka berdua, dan Masachika tanpa sadar sedikit bersemangat.

“Kuze-kun ...”

“Kamu ini memang gampang sekali terprovokasi, ya”

Masachika memasang ekspresi terkejut kepada Alisa, yang menatapnya dengan tatapan menantang tanpa ada sedikit pun suasana yang manis. Namun, Alisa tidak memalingkan wajahnya, dan entah bagaimana~ mereka akhirnya saling memandang.

Lalu, saat melihat wajah Alisa dari dekat di tempat yang terang ... Masachika sekali lagi dibuat kagum dengan wajah cantiknya.

(Saat melihatnya lagi dari jarak sedekat ini ...  dia benar-benar tidak mirip seperti manusia. Aku masih tidak mempercayai kalau kami adalah ras yang sama... Maksudku, bulu matanya panjang banget! Tatapan matanya benar-benar membuatku tersedot ... Kulitnya juga luar biasa halus dan inilah yang dimaksud memiliki kulit bersih tanpa noda sedikitpun. Maksudnya pori-porinya di mana? Dia beneran tidak memakai riasan?... Hmm? Entah kenapa kulitnya agak memerah ...Eh, bukannya dia semakin mendekat?)

Saat merasakan sedikit ketidaknyamanan di otaknya yang sedikit lumpuh, Masachika dengan cepat dibuat tersadar oleh suara Maria.

“Oke~, maaf sudah membuat kalian menunggu~ ... Eh, ada apa ini? Perlombaan saling menatap?”

Ketika mendengar suara Maria yang memiringkan kepalanya dan mengatakan sesuatu yang melenceng, Alisa buru-buru memalingkan wajahnya. Pada saat yang sama, Masachika juga berkedip dan menoleh ke Maria. Dia membeku sejenak saat melihat tatapan Masachika, dan kemudian segera mulai menyajikan teh kepada semua orang seolah-olah tidak ada yang terjadi.

“Aku menghabiskan cemilan pendamping teh tempo hari, jadi hari ini cuma ada tehnya saja.”

“Eh, benarkah?”

“Ya. Karena sebentar lagi liburan musim panas, jadi aku menggabiskan semuanya~”

“Oh, begitu ya ... karena kita tidak bisa menyimpannya terus selama liburan musim panas, sih. Tapi yah, karena teh buatan Masha terasa enak, jadi ini saja sudah cukup.”

“Fufu, terima kasih~”

Sambil tersenyum saat mendengar kata-kata Chisaki, Maria juga menyajikan teh di hadapan Alisa dan Masachika.

“Ini, silahkan”

“Makasih”

“Te-Terima kasih banyak”

Namun, saat melakukan itu, Maria terlihat sedikit menghindari tatapan Masachika. Ketika melihat Maria pergi untuk menyajikan teh kepada Yuki dan Ayano, Masachika semakin yakin kalau itu bukan imajinasinya saja.

(Sudah kuduga, dia sedikit menghindariku ... Apa kejadian hipnosis terakhir kali masih mempengaruhinya?)

Setelah kejadian hipnosis seminggu sebelumnya, Masachika segera meminta maaf kepada Alisa lagi keesokan harinya dan langsung dimaafkan. Alisa memiliki banyak hal untuk dikatakan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena penyebab awalnya adalah kakaknya sendiri. Sebaliknya, Masachika diberitahu untuk melupakan apa yang sudah Ia lihat dari ingatannya sesegera mungkin, tapi tentu saja, mana mungkin Masachika bisa melupakan sesuatu yang menggairahkan seperti itu.

Sementara Ia bisa mendapatkan pengampunan Alisa keesokan harinya, hari ini adalah pertama kalinya Masachika melihat Maria sejak kejadian itu. Dan rupanya, Maria masih memedulikan kejadian itu.

(Yah ... Lebih baik kalau aku meminta maaf padanya sekali lagi)

Masachika merasa tidak enakan untuk memasuki liburan musim panas bila keadaannya masih begini terus, jadi Masachika memutuskan untuk berbicara dengan Maria di suatu tempat.

Ketika Masachika diam-diam mengambil keputusan, Touya yang melihat Maria sudah duduk di kursinya lagi, mulai membuka mulutnya.

“Ah~ ngomong-ngomong, apa rencana kalian untuk liburan musim panas nanti? Jika kalian tidak keberatan, aku ingin membuat kamp pelatihan untuk memperdalam ikatan antara anggota OSIS.”

“Kamp pelatihan?”

Selain kegiatan klub, Masachika belum pernah mendengar tentang kamp pelatihan di OSIS dan belum pernah mengalaminya saat di SMP dulu. Seolah-olah merasakan suasana para anak kelas satu yang kurang begitu paham, Touya menambahkan sambil tertawa, seakan menyiratkan kalau mereka tidak perlu khawatir.

“Meski aku bilang kamp pelatihan, itu sebenarnya mirip seperti jalan-jalan. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, mungkin aku perlu memanggil kalian untuk tugas OSIS selama liburan musim panas. Rasanya seperti hadiah hiburan? Sesuatu yang mirip seperti itu.”

“Bagus sekali! Sepertinya itu menyenangkan!”

“Hmm ~ aku pikir itu bagus, kok?”

Saat Chisaki dan Maria menunjukkan ketertarikannya, siswa kelas satu juga mulai menanggapinya dengan positif.

“Benar juga ... Kurasa aku bisa mengosongkan jadwal jika aku bisa memutuskan jadwal lebih awal. Fufufu~ Aku belum pernah melakukan kamp pelatihan dengan sesama anggota OSIS lainnya, jadi aku sangat menantikannya.”

“Bila Yuki-sama berkata begitu, saya pun tidak keberatan.”

“Kalau begitu aku juga ...”

“Yah, karena aku tidak punya rencana, jadi aku juga setuju-setuju saja. Paling lama sekitar dua malam tiga hari, ‘kan? Bagaimana dengan tempatnya?”

“Kita harus mendiskusikan tanggalnya dulu karena perlu menyesuaikan jadwal semua orang juga. Untuk tempatnya, kalau kalian tidak keberatan, aku berpikiran untuk mengusulkan vila keluargaku ...”

“Eh? Vila?”

Ketika anggota OSIS lain di ruangan itu, termasuk Masachika, mengedipkan mata pada kata yang tidak terduga, Touya menyeringai sedikit.

“Iya, vila yang berada di tempat wisata tepi laut ... dengan pantai pribadi, loh? Selain itu, ada festival tahunan yang diadakan di dekat vila.”

“Seriusan!? Um, eh? Apa keluarga Ketua sekaya itu? Maaf kalau ucapanku sedikit kasar, tapi Ketua tidak mempunyai citra seperti itu ...”

“Oh ... memang benar orang tuaku bukan CEO perusahaan, tapi kakekku sepertinya investor yang sangat sukses ... dan keluargaku mempunyai banyak aset.”

“Hahaa, jadi begitu rupanya ...”

“Yah, itu cuma salah satu pilihannya. Jika ada yang ingin pergi ke tempat lain, aku juga tidak keberatan.”

Saat Touya mengatakan itu dan melihat sekeliling ke semua orang, Chisaki membuka mulutnya sambil berpikir.

“Meski ini bukan vila ... Yah, karena kerabatku punya gunung, jadi kalau ada banyak orang yang lebih suka ke gunung daripada laut, kurasa aku bisa membantu, kok?”

“Kerabat Sarashina-senpai punya gunung!! Itu sih luar biasa sekali!”

Dalam pengakuan yang mengejutkan, Masachika dalam hati berteriak  “Sudah kuduga, murid sekolah ini memang berada di level yang berbeda!”  tapi ... perkataan Chisaki setelah itu membuat ekspresi wajahnya menjadi kaku.

“Yah, bangunannya sendiri lebih mirip seperti vila ... Atau lebih seperti gedung kamp pelatihan? Atau mungkin dojo? Meski tidak ada pantai, tapi ada kuburan di dekatnya jadi kamu bisa melakukan uji nyali dan ada festival yang diadakan setiap tahun juga, loh? Walaupun itu festival bela diri, sih.”

“Perbedaan kontras antara surga dan neraka. Tidak ada pantai, tapi yang ada malah kuburan. Hmm, tunggu dulu? Di kuburan itu ... jangan bilang kalau itu kuburan orang-orang yang meninggal di festival bela diri, ‘kan?”

“Ahaha, mana ada~.”

“Be-Benar, iya ‘kan”

“Beberapa mungkin begitu, tapi kebanyakan kuburan itu berasal dari mereka yang gugur saat sedang berlatih.”

“Ketua! Aku lebih suka pergi ke vila keluarga Ketua!”

“Aku juga lebih suka pergi ke laut.”

“Bila Yuki-sama mengatakan demikian, saya pun sependapat dengannya.”

Mengikuti Masachika yang mengangkat tangannya dengan senyum cerah yang luar biasa, Yuki dan Ayano juga ingin pergi ke laut, dan Alisa dan Maria juga menatap Touya tanpa adanya keberatan. Touya mengangguk sembari tersenyum kecut pada tatapan yang tertuju padanya dan berkata pada Chisaki.

“Yah, aku juga sedikit tertarik dengan dojo yang Chisaki sebutkan, tapi ... sepertinya itu tidak terlalu cocok untuk kegiatan OSIS kali ini, jadi mari kita lakukan itu lain kali.”

“Benarkah? Lalu ... kalau bukan kegiatan OSIS, mau pergi? Maksudku, hanya kita berdua.”

“Eh?”

Ekspresi Touya langsung membeku saat Chisaki mengatakan itu dengan wajah yang sedikit tersipu. Namun, saat pacarnya meliriknya dengan malu-malu, Touya memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Ah~ ... benar juga. Ya ... Jika Chisaki ingin pergi ke sana, mungkin aku juga ingin pergi?”

“Horee! Nanti akan kuperkenalkan dengan Masterku yang ada di sana!”

“Master ...”

Usai mendengar kata-kata yang begitu polos, otak Touya secara alami membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. [Diperkenalkan oleh Master yang melatih Chisaki] [Ia akan langsung memeriksanya sendiri pria yang sudah berani menipu murid kesayangannya!] [Kematian].

Tatapan Touya menjadi sedikit hampa di masa depan yang mudah dibayangkan. Namun, Chisaki tampaknya tidak menyadari hal ini dan terus melanjutkan dengan gembira.

“Benar juga, mumpung ada di sana, kenapa tidak sekalian ikut berpartisipasi dalam festival bela diri?”

“Eh ~”

[Berpartisipasi dalam festival bela diri] [Kematian]. Cahaya hilang dari tatapan mata Touya saat kekasihnya terus menerus memicu death flag tanpa ada niatan buruk.

“Jangan khawatir! Bahkan ada juga divisi amatir! Selain itu ... aku ingin melihat sisi keren dari Touya, kok?”

“Uhh …”

Namun, penampilan menggemaskan Chisaki membuat Touya ...

“Serahkan saja padaku. Aku akan melakukan apapun sebisaku!”

“Benarkah!? Aku senang banget! Uwaahh~ aku jadi sangat menantikannya!”

“Haha, ha ...”

Ia mengangguk paksa dan tertawa kering. Melihat sosok Touya yang seperti itu, Masachika dalam hati mengaguminya seraya berkata “Benar-benar panutan lelaki sejati ...” dan menyatukan kedua tangannya dengan kagum. Untuk saat ini, Masachika bertekad untuk menerimanya apa adanya, meskipun bakal ada bentuk kedua dari Touya setelah liburan musim panas.

Setelah itu, obrolan terus berlanjut untuk sementara waktu. Dengan secangkir teh yang diseduh oleh Maria, mereka berbicara tentang OSIS, sekolah, dan liburan musim panas. Sekitar 30 menit kemudian, Touya tiba-tiba mengeluarkan smartphone-nya, memeriksa layar, dan kemudian berdiri.

“Hmm ... waktu berlalu dengan cepat. Oh, sepertinya orang tuaku sudah datang, jadi aku akan pergi dulu.”

“Ah, selamat jalan~”

“Lakukan yang terbaik~ ... eh, tapi aneh untuk mengatakan itu, ya.”

Touya meninggalkan ruangan OSIS sambil tersenyum masam pada sorakan Chisaki. Segera setelah itu, Maria berdiri dan mulai membersihkan cangkir serta piring kecil semua orang.

“Kalau begitu, karena giliranku sudah dekat, jadi aku akan membersihkannya dulu.”

“Ah, biar aku bantu.”

Sekarang! Dengan pemikiran itu, Masachika segera berdiri dan mengambil cangkir Ayano yang ada di depannya dan cangkir Alisa di sebelahnya. Sambil memberi isyarat kepada Ayano dan Yuki dengan tatapannya, Masachika menumpuk piring kecil di tangannya. Kemudian, saat menoleh ke arah Maria dengan tumpukan piring, Maria yang memegang nampan di tangannya, memalingkan tatapannya sejenak dan kemudian tersenyum.

“Ya? Kalau begitu, tolong ya?”

“Ya, serahkan padaku.”

Masachika meletakkan piring di atas nampan yang dipegang Maria dan mengambil nampan itu darinya. Kemudian, mereka berdua meninggalkan ruang OSIS bersama-sama.

Ruang OSIS memliki ketel listrik dan kulkas kecil, tapi sayangnya tidak ada wastafel di sana. Oleh karena itu, saat ingin mencuci piring, mereka harus meminjam wastafel dari ruang klub lain, meskipun hal tersebut sedikit merepotkan. Biasanya mereka meminjamnya di ruang klub tata boga, tapi kadang-kadang juga meminjam dari ruang klub sains dalam beberapa kasus. Namun, karena wastafel di ruangan klub sains kurang higienis, jadi itu adakah pilihan terakhir. Untungnya, ruang klub tata boga sedang kosong hari ini, jadi mereka memutuskan untuk meminjam wastafel di sana.

Saat mereka berdua mencuci piring berdampingan, Masachika diam-diam melirik Maria. Sekilas Maria masih bertingkah seperti biasa, tapi kalau dilihat lebih dekat, dia terlihat agak canggung.

(Jadi ... memang begitu yang terjadi)

Masachika menghela nafas kecil dalam hatinya, dan saat hendak berbalik darinya, tangannya tak sengaja menyenggol tangan Maria.

“!!!”

Maria cepat-cepat menarik tangannya seolah-olah itu ditepak, dan piring yang dia pegang mengeluarkan suara gemerincing.

“Ah, maaf.”

“U, Umm? Tidak apa-apa, kok. Maaf ya? Apa tadi itu karena ... listrik statis?”

Kurasa mana mungkin listrik statis bisa terjadi saat mencuci piring di musim panas … tapi Masachika tidak membantahnya dan berkata, “Bisa jadi” seraya mengangguk. Lalu, saat Ia diam-diam melihat Maria lagi ... Telinga Maria sedikit memerah, dan memasang senyum di wajahnya, seolah-olah dia sedang berusaha menutupi sesuatu.

“... Masha-san.”

“Hmm? Apa?”

“...  Cangkir itu, aku sudah mencucinya, loh?”

“Ara? Benarkah?”

Kemudian Maria melihat cangkir di tangannya. Saat melakukan tsukkomi dalam hati, “Tidak, kamu takkan mengetahui meski kamu melihatnya ...”, Masachika memiringkan kepalanya dan terheran-heran apa ini reaksi wajarnya atau dia merasa gugup.

Namun, menilai dari fakta bahwa insiden itu tampaknya telah berlangsung selama beberapa waktu, Masachika memutuskan untuk berbicara dengan Maria saat mereka berdua selesai mencuci piring dan mengelap tangan mereka.

“Um, Masha-san.”

“Ya?”

“Umm ... sekali lagi, aku sungguh minta maaf mengenai kejadian hipnotis tempo hari ...”

“Ah, hmm.  Tidak apa-apa, oke? Lagian, akulah yang memulainya duluan ...”

Ketika Masachika menundukkan kepalanya, Maria terlihat sedikit panik dan menyuruhnya untuk mengangkat kepalanya. Namun, begitu tatapan matanya bertemu dengan Masachika, pipinya mulai merah merona dan dia buru-buru mengalihkan pandangannya.

“Ah, itu ... yah, aku tidak sempat bertanya pada saat itu, tapi kira-kira ... apa yang sudah aku lakukan … pada Kuze-kun saat aku dihipnotis?”

Dia kemudian bertanya sambil melirik malu-malu ke wajah Masachika. Masachika secara tidak sadar tergerak oleh sikap Maria yang tidak biasa ini, karena hal itu berbanding terbalik dengan tingkahnya yang selalu memancarkan aura kedewasaan. Ia tanpa sadar menelan ludah dan segera mengalihkan perhatiannya. Dan saat mengingat kembali kejadian pada waktu itu ... Masachika hampir menggeliat karena rasa malu yang kembali menghapirinya, tapi Ia berhasil menahannya dan berkata dengan jujur.

“Umm, aku dan Alya dipeluk ... lalu Masha-san mulai mengelus-elus kepalaku.”

Masachika menggertakan giginya karena merasa malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun, Maria mengedipkan matanya secara perlahan dan bertanya dengan ekspresi lega.

“Eh ... hanya itu saja?”

“Ya, hanya itu saja.”

Pada kenyataannya, wajahnya setengah terkubur di payudara montok Maria. Tapi itu hanya bagian dari “dipeluk”. Lebih tepatnya, Ia menyentuh paha mulus Maria yang tersembunyi di balik roknya ... tapi setelah dipikir-pikir lagi, Ia merasa kalau jari-jarinya menyentuh tempat yang cukup canggung, tapi itu cuma sebatas “apa yang Masachika lakukan pada Maria”,  dan bukan “apa yang Maria lakukan pada Masachika”. Oleh karena itu, Ia tidak perlu repot-repot berkata jujur padanya. Kejantanan? Kata tersebut tidak ada dalam kamus kehidupan Masachika.

“Begitu ya ... syukurlah kalau begitu.”

Maria menepuk dadanya dengan ekspresi lega, tanpa menyadari pikiran licik Masachika. Ekspresi polos di wajahnya membuat perasaan bersalah Masachika semakin meningkat.

“Umm, apa itu baik-baik saja?”

“Ya, kalau hanya sebatas itu saja tidak masalah. Ah ...”

Dan kemudian, Maria sepertinya kepikiran sesuatu dan dengan cepat mendekap tubuhnya sendiri seakan-akan melindungi diri dari sesuatu.


“Umm, apa kamu … melihatnya?”

“Ehhh, itu sih ...”

Mau tak mau Masachika mengalihkan pandangannya pada ekspresi agak marah Maria dan tatapan yang menuduhnya.

Jika harus mengatakan apakah Ia melihatnya atau tidak, Ia memang melihatnya. Tidak, Masachika justru memalingkan wajahnya saat Maria mulai menanggalkan seragamnya, tapi apa yang dilakukan Chisaki terlalu mengejutkan sampai-sampai Ia secara tidak sengaja mengikuti gerakannya dengan tatapan matanya. Akibatnya ... yah, semuanya jadi terlihat jelas di depan matanya. Penampilan Maria yang sangat seksi, dengan roknya yang terlepas dan dua kancing terbuka. Namun, karena sosok Alisa yang di sebelahnya hampir telanjang, jadi Ia lebih mengingat bagian itu ketimbang dirinya ...  tapi yah, Ia juga mengingat betul kalau Maria juga berkulit putih.

Masachika bertanya-tanya bagaimana caranya menjelaskan fakta tersebut, tapi Maria bakalan tahu kalau Ia tidak segera menyangkalnya. Bibir Maria berkedut sedikit marah dan menatap Masachika dengan cemberut.

“Kuze-kun no ecchi.”

“Eh, ya ... aku sungguh minta maaf. Aku tidak sengaja melihatnya.”

Masachika membungkukkan badannya dengan patuh, sambil terkejut di dalam hati, “Ternyata Masha-san juga bisa marah pada hal semacam ini ...”. Tidak, sebenarnya, Ia sempat berpikir  kalau Maria akan memafkannya sambil tersenyum lembut dan berkata “Hanya segitu saja~ tidak apa-apa~”. Jadi, rasanya sedikit mengejutkan melihatnya bereaksi seperti gadis normal, dan pada saat yang sama ada sedikit kesenangan tidak bermoral karena telah melakukan sesuatu yang menyinggung Madonna sekolah ...

“Ku . Ze . Ku . N?”

“Eh, ah, iya?”                        

“Mou, apa kamu yakin sudah menyesali perbuatanmu?”

“Iya sudah, aku sudah menyesalinya.”

Muu~ Maria memelototinya dengan alis terangkat. Namun, tatapan marah Maria yang berwajah mungil sama sekali tidak membuatnya takut. Yang ada justru ...

(Terima kasih banyak atas ekspresinya yang langka, itu sungguh imut sekali. Masha-san yang biasanya memiliki aura Onee-san sekarang justru bertingkah kekanak-kanakan , sejujurnya itu ​​​​adalah gap moe terbaik yang pernah ada. Jika dia mengangkat jari telunjuknya dan memberi peringatan Enggak boleh, aku merasa yakin kalau aku bakalan dogeza sambil meneriakan Terima kasih banyak!! )

“Mouu! Kamu pasti belum menyesalinya!”

Saat Masachika terus memikirkan hal-hal bodoh, Maria menggembungkan pipinya dan dengan cepat mengulurkan kedua tangannya di pipi Masachika.

Dia kemudian mencubit kedua pipi Masachika dengan jari-jarinya dan mulai menarik-nariknya ke samping.

“Apha yhang sedhang kamyu lakyukhan?”

“Hukuman!”

Maria menatap Masachika sambil mengerutkan alisnya dan menarik pipi Masachika ke berbagai arah. Tapi itu tidak terlalu menyakitkan. Dibandingkan dengan tamparan tanpa henti Alisa, hukumannya ini sangat lucu dalam banyak artian. Yang ada justru ini lebih seperti hadiah.

Mungkin karena sudah merasa puas, Maria melepaskan jari-jarinya dari pipi Masachika dan memegangi pipi Masachika dengan kedua tangannya lagi. Maria memalingkan wajah Masachika ke arahnya dan memberitahunya dari jarak yang sangat dekat dengan ekspresi serius.

“Dengarkan baik-baik, oke? Jangan membuat seorang gadis merasa malu, oke? Lalu, saat orang lain marah, kamu harus merenungkannya baik-baik.”

Meski diberitahu begitu, Masachika merasa kalau dia tidak benar-benar marah. Apalagi, posisi mereka terlihat seperti lima detik sebelum ciuman jika mereka melakukan kesalahan. Wajah cantik Onee-san yang dilihat dari dekat terlalu merangsang bagi remaja laki-laki yang sehat, tapi apakah orangnya sendiri menyadarinya atau tidak.

(Jika aku membantahnya di sini, apa dia akan terus menceramahiku dalam posisi ini?)

Pemikiran seacam itu terlintas di benaknya, tapi Ia merasa kalau sampai melangkah sejauh itu, Ia akan beneran menyinggung Senpai yang baik hati ini, jadi Masachika memutuskan untuk menganggukkan kepalanya dengan jujur.

“ … ya, aku mengerti.”

“Hmm bagus.”

Mengangguk puas pada jawaban Masachika, Maria menjauhkan tangannya dari pipi Masachika dan menepuk kepalanya dengan ringan seakan-akan mengatakan “syukurlah kalau kamu mengerti,” dan kemudian berbalik ke wastafel.

Namun, saat Maria mengulurkan tangan untuk menyeka piring yang sudah dicuci dengan kain, suara dengungan samar terdengar dari dalam sakunya.

“Ah... sepertinya ibuku sudah datang.”

“Oh, kalau begitu silahkan duluan. Biar aku saja yang membereskannya.”

“Hmm~... maaf banget ya? Kalau begitu sisanya boleh kuserahkan padamu?”

“Ya, selamat jalan.”

Masachika melihat Maria yang meninggalkan ruang tata boga dengan ekspresi sedikit menyesal, dan mulai menyeka piring. Setelah selesai mengelapnya, Ia meletakkan piring di atas nampan dan kembali ke ruang OSIS.

Setelah itu, lima orang yang tersisa mengobrol satu sama lain selama sekitar 30 menit, dan kali ini giliran Chisaki meninggalkan ruang OSIS untuk menemui ibunya. Alisa kebetulan mendapat giliran setelah pertemuan Maria selesai, jadi dia berdiri segera setelah Chisaki pergi.

“Kalau begitu, aku pergi duluan.”

“Oh, selamat jalan~.”

“Selamat jalan.”

“Hati-hati di jalan.”

Beberapa detik setelah mereka bertiga mengawasi kepergian Alisa dan pintu ruang OSIS ditutup. Yuki yang sudah mengganti mode Ojou-sama nya, menoleh ke arah Masachika dan berkata suara kecil dan bernada nakal.

“Akhirnya cuma ada kita berdua, ya.”

“Kalau begitu, kurasa sudah waktunya untuk menjemput Jii-chan.”

“Tunggu! Kenapa kamu malah mengabaikanku~!”

“Kamu sendiri justru mengabaikan keberadaan Ayano!”

Yuki menjatuhkan dirinya ke atas meja dan merentangkan tangannya untuk meraih lengan Masachika erat-erat. Mau tak mau Masachika memandang adiknya dengan tatapan jijik pada tingkah lakunya yang tidak mencerminkan seperti murid teladan.

“Kenapa kamu menatapku dengan tatapan seperti itu! Karena belakangan ini lumayan sibuk, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu sebagai saudara seperti ini!”

“Ah … kalau dipikir-pikir, memang benar sih?”

Usai mendengar kata-kata Yuki, Masachika merasa kalau perkataannya ada benarnya juga. Dan saat memikirkannya lagi, Ia merasa sangat tumben sekali kalau mereka berdua tidak menghabiskan waktu sebagai saudara selama lebih dari sepuluh hari.

“Yah, karena Onii-chan selalu menghabiskan waktu bersama Alya-san, jadi kamu mungkin tidak memedulikan tentang itu ~?”

“Itu ... tidak benar, kok?”

Yuki menatapnya dengan tatapan mengejek dan Masachika mengalihkan pandangannya dengan canggung. Kemudian, Yuki membalikan tubuhnya di atas meja, meletakkan kedua tangan untuk menutupi matanya dan mulai berpura-pura menangis.

“Hiks, hiks, aku merasa kecepian~.”

“Begitu ya, begitu ya, jadi kamu merasa kesepian, ya. Aku mengerti, sudah mengerti, jadi tolong turun dari atas meja? Oke?”

Saat Masachika berkata begitu, Yuki langsung turun dari meja. Rambut hitam panjang yang telah menyebar di atas meja menghilang ke tepi meja, dan tersibak ke belakang seperti sayap. Setelah membiarkan rambutnya yang berantakan tergerai di belakangnya, Yuki kembali duduk di kursinya dengan bunyi gedebuk. Dia lalu menyilangkan kakinya sambil bersender di kursi dan mengangkat dagunya dengan sombong.

“Itu sebabnya, manjakan aku.”

“Tidak, apa-apaan dengan perubahan mendadak emosimu itu ...?”

Masachika terkejut dengan perubahan drastis dalam karakter adiknya, tapi Yuki tampaknya tidak keberatan dan mengangkat alisnya secara dramatis.

“Ada apa? Ayo cepat lakukan.”

Masachika tidak punya pilihan selain menuruti sikap bos kejam ini yang memberikan tuntutan tidak masuk akal pada bawahannya. Ia merasa seperti seorang karyawan bank yang diminta untuk meminta maaf di depan umum. Masachika lalu meletakkan tangannya di atas meja, mengerutkan bibirnya, dan mengajukan pertanyaan dengan suara yang terguncang karena kebingungan dan keputusasaan.

“Di sini ...?”

“Itu benar.Tepat di sini, aku menyuruhmu untuk memanjakanku sekarang, Masachika-kun.”

“Tapi, di sini itu … !”

“Apa? Apa kamu tidak bisa melakukannya?”

“ … !”

Mendengar kata-kata Yuki, Masachika berbalik dengan tangannya gemetar dan mengeluarkan suara yang penuh dengan kesedihan dari bagian belakang tenggorokannya.

“Aku … mengerti ...!”

Kemudian, saat perlahan duduk di kursinya, Masachika tiba-tiba mendongak dan  meletakkan tangannya di sandaran kursi di sebelahnya. Ia lalu mengucapkan beberapa patah kata sambil berusaha membuat wajahnya setampan mungkin.

“Ayo, datang kemari.”

“Pfft—”

“Oke, ayo hentikan ini.”

“Ahhh, bercanda, bercanda. Onii-chan keren banget, kok~.”

Begitu Masachika meninggalkan tempat duduknya, Yuki bergegas mendekatinya dengan suara manja. Dia duduk di sebelah Masachika, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yuki bisa bermanja-manja dengan kakaknya sebanyak yang dia mau. Masachika juga memanjakan Yuki sambil tersenyum pada adiknya yang seperti itu. Ayano sudah lama membaur jadi udara.

Kemudian, sekitar lima belas menit upaya Masachika untuk membuat Yuki dalam suasana hati yang baik. Smartphone Masachikan bergetar, mengumumkan kedatangan kakeknya.

“Oh, sepertinya Jii-chan sudah datang.”

“Baiklah~ selamat jalan~.”

“Iya, aku pergi dulu ... ngomong-ngomong, Ayano pergi kemana?”

Masachika melihat sekeliling ruang OSIS untuk mencari sosok teman masa kecilnya yang sudah menghilang tanpa Ia sadari. Namun, keberadaan Ayano tidak bisa ditemukan.

“Eh? Mungkin karena peka terhadap suasana, dia lalu membaur jadi udara dan sedang mengawasi di luar ruangan?”

“Kamu ... tidak, kurasa aku tidak berhak bilang apa-apa karena aku sendiri tidak menyadarinya ...”

Masachika menggelengkan kepalanya dan dengan lembut membuka pintu ruang OSIS, lalu seperti yang dikatakan Yuki, Ayano sedang menunggu di luar seolah-olah sedang menjaga ruang OSIS. Tidak, sebenarnya, dia berjaga untuk melindungi sifat asli Yuki, jadi mungkin pengawalan adalah kata yang tepat.

“... Entah kenapa, maaf ya.”

“? Apa yang anda maksud?”

Masachika sangat menyesal karena sudah melupakan keberadaannya, padahal Ia sendiri yang mengatakan “Jangan mengabaikan keberadaan Ayano!” kepada Yuki. Tapi Ayano sepertinya tidak memahami perasaan Masachika dan memiringkan kepalanya dengan ekspresi datar.

Saat Masachika menepuk-nepuk kepala Ayano sebagai tanda penghargaan dan permintaan maaf, dia memejamkan satu matanya seolah-olah merasa geli.

“Yah kalau begitu ... aku pergi dulu.”

“Selamat jalan~”

“Hati-hati di jalan, Masachika-sama.”

Dalam suasana hati yang tak terlukiskan, Masachika mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, mengambil barang bawaannya, dan mulai berjalan menuju gerbang utama tempat kakeknya menunggu. Ia berjalan melewati gedung sekolah, mengganti sepatunya di loker sepatu, dan melangkah menuju gerbang utama ... tapi Masachika merasakan dorongan kuat untuk berbalik arah. Namun, sebelum bisa melakukan itu, Ia sudah dipanggil dari sisi lain, jadi mau tak mau Ia harus menanggapinya.

“Oh Masachika, akhirnya kamu datang juga!”

“Jii-chan ...”                                                     

Di sana, berdiri seorang kakek tua ceria dengan kepala botak yang plontos. Ia adalah kakek dari pihak keluarga ayah Masachika dan orang yang menunjukkan buku dan film Rusia kepada Masachika saat masih kecil dulu. Beliau adalah Kuze Tomohisa. Berbeda dari kakek dari pihak ibunya, Suou Gensei, Tomohisa memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Masachika. Ia datang sebagai wali pertemuan orang tua-guru menggantikan ayah Masachika yang sibuk dengan pekerjaannya.

Ia berdiri tegak, mengangkat topi putih lembutnya dengan ringan, dan tersenyum bahagia saat melihat kedatangan cucunya. Ia tampak seperti kakek yang baik hati ... tapi masalahnya justru terletak pada cara berpakaiannya.

“Kenapa pakai baju setelan putih semua!?”

“Eh? Bukannya ini keren?”

“Cuma orang narsis atau mafia asing saja yang memakai baju semacam itu!”

“Muu… Ah begitu, mungkin karena aku tidak memakai ini, ya.”

Masachika berteriak dengan prasangka, tetapi Tomohisa mengenakan topinya lagi seolah-olah tidak memahami maksudnya, dan saat Ia merogoh saku dalamnya, Tomohisa mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya.

“Lihat, bukannya sekarang jauh lebih keren?”

“Level mafianya malah meningkat! Jii-chan jelas-jelas terlihat seperti pensiunan bos mafia! Sekarang, jika kamu mengenakan mantel atau kain seperti syal di lehermu, semuanya akan jadi lebih sempurna!”

“Syal? Ada, kok.”

“Kenapa bisa ada!”

Kali ini, Tomohisa mengeluarkan kain putih terlipat dari saku dalam di sisi lain. Masachika menghentikannya dan dengan cepat membawanya ke sekolah sebelum terlihat lebih menonjol lagi.

“Astaga, kenapa Jii-chan datang ke sini dengan baju memalukan seperti itu, sih ...!”

“Aku pikir karena ini lebih modis ...”

“Palingan juga dipengaruhi oleh semacam film lagi, ‘kan? Maksudku, bagaimana bisa Jii-chan punya barang seperti itu.”

“Aku sengaja membelinya dengan uang pensiunan hanya untuk hari ini, kok?”

“Baa-chan akan marah, tau.”

Masachika bergegas menuju ke gedung sekolah sambil melakukan tsukkomi dengan suara yang sepertinya telah membunuh kemarahan dan rasa malunya. Sejujurnya, Ia tidak ingin orang lain melihatnya bersama kakeknya.

Setelah mengganti sepatu di loker sepatu dan kakeknya mengenakan sandal untuk pengunjung, Masachika langsung menuju ruang kelasnya.

“Masachika, sepertinya masih ada lebih banyak waktu, dan aku ingin melihat-lihat sekitar sekolah ...”

“Ditolak dengan tegas.”

“Kenapa? Apa bersama Jii-chan sangat memalukan bagimu?”

“Iya, memalukan.”

“Mu… kalau begitu biar aku sendiri…”

“Aku punya firasat kalau Jii-chan akan ditangkap sebagai orang yang mencurigakan, jadi tolong hentikan.”

Masachika mencoba menenangkan kakeknya, yang begitu gelisah meski umurnya sudah 71 tahun, dan berhasil membuatnya duduk di kursi yang disiapkan di luar kelas. Kemudian, topik pembicaraannya beralih mengenai ayah Masachika.

“Fumu ... tapi, apa Kyoutarou masih sibuk saja?”

“Yah, aku mendengar kalau Ia akan bekerja di Kedutaan Inggris mulai tahun ini ... jadi, aku yakin kalau Ia sangat sibuk sekarang.”

Ayah Masachika, Kuze Kyoutarou, merupakan seorang diplomat yang bekerja di Kementerian Luar Negeri hingga tahun lalu, tapi mulai tahun ini, Ia ditugaskan dalam misi diplomatik di luar negeri. Dari dulu Ayahnya memang sering tidak ada di rumah, tapi setelah bekerja di luar negeri, Ia jadi jarang pulang ke rumah. Bahkan dalam pertemuan orang tua-guru, Masachika sampai meminta Tomohisa untuk datang sebagai walinya. Tomohisa mengangkat alisnya sedikit pada pernyataan cucunya.

“Begitu ya ... tapi setidaknya, Ia bisa meluangkan waktu buat pertemuan orang tua-guru, ‘kan?”

“Apa boleh buat. Butuh lebih dari setengah hari hanya untuk sampai ke sini.”

“Begitukah? Masachika memang anak yang baik, ya.”

“Hentikan.”

Masachika dengan malu-malu mendorong jauh tangan Tomohisa yang mencoba mengelus kepalanya. Mereka berdua akhirnya menunjukkan hubungan kakek-cucu yang sangat umum di dunia, tapi … suasana itu dengan cepat terhempas ketika pintu ruang kelas terbuka.

“Saya permisi dulu.”

“Terima kasih banyak, Sensei.”

Alisa dan wanita yang tampaknya adalah ibunya, keluar dari ruang kelas. Saat melihat mereka berdua... atau lebih tepatnya, saat menatap Alisa, mata Tomohisa langsung terbuka lebar.

(Sialan! Karena ada banyak hal yang terjadi sehingga aku lupa memberitahunya !!)

Masachika merasa menyesal karena seharusnya Ia memberi tahu Tomohisa tentang hal ini sebelumnya, tetapi semuanya sudah terlambat.

“Ah, Kuze——” 

“Keajaiban Eropa Timur!!”

“Astaga, tolong hentikan itu, Jii-chan!”

Saat Tomohisa berdiri dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seakan berterima kasih kepada Tuhan, Masachika mati-matian mencoba membuatnya duduk kembali di kursi.

Ia lalu buru-buru meminta maaf kepada Alisa, yang melangkah mundur karena merasa kaget.

“Serius, tolong maafkan aku, Alya. Ini adalah kakekku, tapi kekagumannya pada Rusia agak terlalu kuat ...”

“Eh, Ah, benarkah ...”

“Nona muda, siapa namamu?”

“Ya ampun, seriusan tolong hentikan itu!?”

Tomohisa mencoba mendekati Alisa dengan ekspresi dan kalimat yang sangat mirip seperti cowok perayu, tapi Masachika menahannya dan berusaha menundukkan kepalanya.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Seriusan, kamu tidak perlu meladeninya.”

“Su-Sunggguh kakek  ... yang ceria, ya?”

Kata-kata penuh perhatian Alisa justru menusuk hati Masachika. Masachika meraih kerah Tomohisa dengan tangan kirinya dan mengarahkan tangan kanannya ke pihak lain “silahkan duluan” mendesaknya cepat pergi sebelum kakeknya memperlihatkan sisi buruknya lagi. Tapi kemudian seseorang yang sepertinya adalah ibu Alisa melangkah maju dan memanggil Masachika.

“Umm, permisi. Apa kamu yang namanya... Kuze-kun?”

“Eh, ahh, ya. Senang bertemu dengan anda, nama saya Kuze Masachika. Apa anda ibu dari Alisa-san?”

Saat wanita yang lebih tua berbicara kepadanya, Masachika dengan cepat melepaskan tangannya dari Tomohisa dan menyapanya sesuai dengan etika yang sudah ditanamkan padanya sejak kecil.

Tatapan mata Alisa melebar karena terkejut dan wanita di depan Masachika juga menutup mulutnya dengan tangan seolah-olah dia terkesan dengan sapaan tenangnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kegugupan sama sekali.

“Ara, Ara, kamu sungguh sopan sekali ... Senang bertemu denganmu. Aku ibu Alisa, Kujou Akemi. Aku sering mendengar cerita Kuze-kun dari putriku.”

“Itu ... haha, semoga saja anda tidak mendengar cerita yang buruk tentang saya.”

“Fufufu, dia menceritakannya dengan penuh gembira, loh?”

“… begitu ya.”

Mengesampingkan isi ceritanya, Ia merasa yakin kalau dia berbicara dengan gembira. Hal itu saja sudah cukup untuk memberi Masachika gambaran umum tentang situasinya.

Kemudian, Ia mengamati wanita yang ada di depannya sekali lagi. Dia memiliki rambut hitam sebahu yang bergelombang lembut, serta penampilan lembut dan terawat yang membuatnya gampang sekali membayangkan kalau dia pasti sangat populer di masa lalu. Tubuhnya penuh dengan aura keibuan dan seksi, yang dengan jelas menunjukkan bahwa Alisa dan Maria lahir dari wanita ini. Wajahnya sendiri … mungkin lebih mirip dengan Maria?

(Jika menghilangkan aspek orang luar negri dari wajah Masha-san, dia mungkin … akan terlihat seperti ini? Tidak, itu bukan wajahnya, tapi  suasananya yang lebih mirip.)

Dia memancarkan suasana tenang yang penuh dengan aura keibuan dan perhatian layaknya Madonna. Jika dia adalah seorang selebriti, dia akan menjadi wanita dewasa cantik yang akan sangat populer di kalangan orang paruh baya dan yang lebih tua.

Namun meski begitu, tatapan matanya memiliki kecerdasan tertentu, dan bisa disimpulkan kalau dia bukan hanya wanita yang baik.

(Apa? Apa dia sedang menilaiku? Apa pun itu, kurasa sebaiknya aku harus berhati-hati dalam menjawab ...)

Setelah mengamati sambil tersenyum dan berpikir sejauh itu hanya dalam dua detik, Masachika mulai mewaspadai Akemi. Seolah-olah menyadari kewaspadaan Masachika, senyum Akemi semakin melebar. Masachika juga merasakan kalau sikap waspadanya sudah diketahui dan meningkatkan kewaspadaannya lebih tinggi lagi. Kemudian, di tengah ketegangan tersebut, Akemi perlahan-lahan membuka mulutnya, dan Masachika bersiaga di balik senyumannya ...

“Ngomong-ngomong, apa Kuze-kun pandai melakukan dansa sosial?”

Akemi menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak terduga dan membuat Masachika tertegun selama beberapa saat. Ia berkedip dan mengajukan pertanyaan kembali.

“Dansa sosial ...?”

“Ya.”

Masachika semakin kebingungan saat Akemi menegaskannya dengan cara yang sangat alami.

(Dansa sosial ... Eh, apa maksudnya? Apa ada semacam implikasi? Apa maksud pertanyaannya? Percuma, aku sama sekali tidak tahu!)

Apa aku perlu menjawab jujur dengan “Kurasa lumayan …?”​​. Tidak, aku tidak tahu apa aku boleh memberikan jawaban yang asal-asalan begitu. Sebelum Masachika yang merasa risau bisa memberikan jawaban, Alisa memanggil Akemi dengan kesal.

“Bu, apa-apaan pertanyaan itu? Lihat, Kuze-kun tampak bermasalah.”

“Ehh?”

“Kenapa Ibu menanyakan dansa sosial?”

“Eh~? Karena bahunya sedikit miring?”

Akemi meletakkan tangannya di pipinya sambil melirik ke atas secara diagonal, dan mengatakan sesuatu yang dia tidak mengerti. Ternyata bukan apa-apa. Itu hanya komentar alami. Lagipula, dia adalah ibu Maria.

Masachika merasa idiot karena bersikap waspada, tapi kemudian Tomohisa dengan cepat mendekati Alisa dan menggenggam tangan Alisa dengan gerakan yang sangat alami.

“Nona muda, Apa kamu mau menjadi cucuku?”

“E-Ehh?”

“Oii, Jii-chan!”

Masachika melewatkan semua tingkah kesopanan dan meneriaki kakeknya, yang mengatakan sesuatu yang keterlaluan seolah-olah Ia sedang melamar.

“Bagaimana? Apa kamu bersedia menjadi istri Masachika——” 

“Seriusan, tolong tutup mulutmu!!”

Ia menutupi mulut kakeknya dengan tangannya dari belakang, memaksa Tomohisa untuk diam, dan menariknya untuk menjauh dari Alisa dengan seluruh kekuatannya.

“Kalau begitu, karena giliran saya sudah tiba, saya mohon pamit undur diri dulu!”

“Ah, ya.”

“Baiklah. Sampai jumpa lagi.”

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan paksa, Masachika berpamitan pada Alisa dan Akemi. Masachika akhirnya melepaskan tangan Tomohisa saat mereka berdua pergi menjauh.

“Jadi? Bagaimana menurutmu, Masachika? Apa kamu ada niatan ingin menikahinya?”

“Sudah kubilang diamlah.”

“Lalu? Apa Alya-chan mau menjadi istri Kuze-kun?”

“Bu, tolong diam.”

Pada saat yang sama Masachika sedang melihat kakeknya, Ia mendengar percakapan antara seorang ibu dan putrinya dari jarak yang cukup dekat, dan Masachika dalam hati menunjukkan simpatinya kepada Alisa seraya mengatakan, “Kita sama-sama mengalami kesulitan, ya …”.

Kemudian, saat mendapatkan kembali ketenangannya dan mengalihkan pandangannya ke dalam kelas ... Ia melihat wali kelasnya tersenyum kaku, dan Masachika mendongak dengan pasrah, “Tentu saja keributan itu bakal kedengaran ...”.

 

◇◇◇◇

 

“Kalau begitu, saya permisi dulu...”

“Permisi.”

Setelah itu,  entah bagaimana Masachika dan Tomohisa berhasil menyelesaikan pertemuan orang tua-guru dan meninggalkan ruang kelas. Mungkin karena jadwalnya sedikit terlambat, tetapi orang tua dan murid berikutnya belum tiba di luar kelas, lalu Masachika dan Tomohisa langsung menuju tangga.

“Jadi, mengenai gadis yang bernama Alisa-san tadi ...”

“Jangan bahas cerita itu lagi.”

Masachika merrasa lega karena sudah berhasil menyelesaikan pertemuan orang tua-guru sembari mengabaikan ocehan Tomohisa. … Dan ternyata, itu adalah kesalahan. Awalnya, Masachika seharusnya lebih berhati-hati. Namun, pikiran Masachika benar-benar kacau setelah meladeni kegaduhan kakeknya. ... Akibatnya, mereka akhirnya bertemu satu sama lain di lorong di depan pintu masuk.

“!!!”

Saat melihat sosok itu, Masachika merasakan kalau darah di seluruh tubuhnya seolah-olah terkuras. Pihak lain juga melihat Masachika, melebarkan matanya sejenak, dan kemudian cepat-cepat membuang muka.

“Oh, Yumi-san. Sudah lama tidak bertemu.”

“Iya, sudah lama tidak bertemu juga ... Ayah mertua.”

Entah karena sudah bercerai dan ragu-ragu untuk memanggilnya ayah mertuanya, atau mungkin dia khawatir dengan hubungan di antara mereka, yang seharusnya menjadi orang asing bagi dunia luar, atau mungkin karena keduanya?

Bagaimanapun juga, Tomohisa mendekatinya tanpa khawatir dan berbicara pada Yumi dengan ramah.

“Aku senang melihatmu baik-baik saja. Yuki juga kelihatannya baik-baik saja, ya?”

“Ya, Ojii-sama. Ojii-sama sendiri ... entah kenapa memakai sesuatu yang luar biasa sekali, ya?”

“Hmm? Keren sekali, iya ‘kan?”

“Fufu, benar sekali.”

“Betul sekali, iya ‘kan! Tapi entah bagaimana Masachika justru tidak menyukai baju ini.”

Ia tertawa riang karena mendengar pujian tinggi dari cucunya, kemudian Tomohisa berkata sambil menatap Yuki dan Yumi secara bergantian.

“Bagaimana, apa kamu berhubungan baik dengan ibumu?”

“Ya, tentu saja, Iya ‘kan? Okaa-sama.”

“I, Iya ...”

Yumi tersenyum sedikit kaku pada putrinya yang tersenyum anggun namun polos padanya. Masachika menatap sosoknya itu dengan mata dingin.

(Dasar pembohong, senyummu terlihat sangat palsu. Jika kalian benar-benar berhubungan akrab, harusnya kamu lebih memamerkan Yuki.)

Dia bahkan tidak bisa menunjukkan ekspresi sebenarnya kepada putrinya sendiri, ibu macam apa itu? Kenapa demi orang ini, Yuki harus ...

“… !”

Sambil menggertakkan giginya, Masachika mati-matian berusaha menekan rasa jijik yang seolah-olah ingin membakar paru-parunya. Namun, hanya melihat ibunya saja sudah membuatnya mengingat kembali kenangan masa lalu yang sudah terkunci di bawah alam sadarnya, dan kekacauan emosi yang memuakkan muncul dari dasar perutnya. Setiap kali Ia menarik napas untuk menenangkan diri, Ia merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, dan di sisi lain, Ia merasakan panas yang basah oleh keringat di permukaan kulitnya.

Meski begitu, Masachika tidak berpaling dari Yumi, seolah-olah membuang muka akan menjadi kekalahannya. Namun, Yumi dengan keras kepala tidak mau melihat Masachika. Dia tidak mengatakan sepatah kata maupun melihat wajah putranya yang sudah lama tidak dia temui.

(...  sudah kuduga.)

Pada saat itu, api yang telah bersemayam di dalam Masachika dan panas yang membelai permukaan kulitnya langsung menghilang dalam sekejap. Entah itu kekecewaan atau kepasrahan yang menyelimutinya... Bagaimanapun juga, hal itu sudah tidak ada lagi hubungannya dengan Masachika. Semuanya sudah tidak penting lagi.

“Jii-chan, sudah waktunya kita harus pergi. Tidak baik juga berhenti di tengah jalan begini.”

Ketika Ia mengatakan ini dengan suara tanpa emosi, Tomohisa menunjukkan perhatian pada sekelilingnya dan mengangguk ringan.

“Oh, begitu ya... kalau begitu sampai jumpa lagi, kalian berdua.”

“Ya, liburan musim panas nanti saya akan datang berkunjung.”

“...P… Permisi.”

Untuk sesaat, Yumi membuka mulutnya dan mencoba mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Yumi menundukkan kepalanya sedikit dan berjalan menuju tangga bersama Yuki. Tanpa melihat dari balik bahunya, Masachika dengan cepat mengganti sepatunya. Tomohisa juga berganti dari sandal ke sepatu tanpa mengatakan apa-apa lagi.

 

◇◇◇◇

 

“Hmm~ rasanya panas lagi saat berada di luar.”

Saat mereka berjalan keluar dari pintu depan, wajah Tomohisa berkedut di bawah sinar matahari yang cerah dan Masachika menatapnya dengan tercengang.

“Itu karena Jii-chan memakai baju seperti itu.”

“Tapi yaa, aku tidak bisa begitu saja datang memakai kaos polo, iya ‘kan.”

“Aku justru lebih suka memilih yang itu ...”

“Kenapa? Padahal Yuki bilang kalau ini keren, loh?”

“Tidak, jelas-jelas tadi itu cuma basa-basi.”

Ia memasang ekspresi tidak puas saat Masachika mengatakan itu dengan tertawa kering, lalu Tomohisa menatap langit dan berkata.

“Tapi, Yuki semakin lama semakin mirip seperti Yumi-san ... Meski dia kurang tinggi, sih.”

“… Ah.”

Tomohisa bertanya dengan senyum masam saat Masachika memberikan jawaban linglung.

“Apa? Apa kamu masih membenci Yumi-san?”

“...”

Masachika menanggapi pertanyaan blak-blakan Tomohisa dengan diam. Tomohisa mengelus dagunya dengan serius melihat respon jelas dari cucunya.

“Aneh sekali. Padahal kupikir Yumi-san dan Masachika sangat mirip.”

“Mirip? Haa!”

Masachika dengan ringan menertawakannya sebagai lelucon yang tidak lucu, tetapi Tomohisa mengangguk tanpa terlihat kesal.

“Memang mirip. Wajahmu terlihat seperti Kyoutarou ketika Ia masih muda, tapi di dalammu sangat mirip dengan Yumi-san. Sebaliknya, meski Yuki terlihat seperti Yumi-san, tetapi isinya lebih mirip seperti Kyoutarou.”

“...”

“Yah, baik kamu dan Yuki, cuma bagian mata saja yang tidak terlihat seperti orang tua kalian ... entah mewarisi dari siapa mata kalian itu?”

“Entahlah.”

Masachika mengangkat bahu sambil menyentuh matanya, satu-satunya bagian tubuh yang terlihat sama persis, serta menunjukkan kalau Masachika dan Yuki adalah kakak beradik.

Tomohisa juga mengangkat bahunya dengan ringan saat Masachika mempertahankan reaksi keras kepalanya, dan meninggikan suaranya untuk mengubah suasana hatinya.

“Ah~ tapi suhunya benar-benar  panas sekali~ ... Bagaimana? Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat untuk makan es serut?”

“Es serut ... itu bukan sesuatu yang bisa ditemukan dengan mudah.”

“Begitukah? Jika melakukan pencarian cepat ...”

Saat Tomohisa mengeluarkan ponselnya dan mulai benar-benar memeriksanya, Masachika mengomentari, “Jii-chan masih muda dalam banyak artian,” dengan nada setengah kagum dan setengah lelah.

“Tidak, aku tidak ikut makan di luar... aku mau pulang saja.”

“Kenapa? Apa kamu merasa lelah? Ngomong-ngomong, wajahmu juga terlihat sedikit pucat ...”

Masachika menjauhkan diri dari Tomohisa yang menatapnya dengan cemas, dan memalingkan wajahnya ke depan.

“Ini pasti karena sinar mataharinya yang terlalu terik jadi kelihatannya begitu, kan? Aku cuma ingin pulang dan mandi secepat mungkin.”

“Apaan? Dasar cucu yang tidak bisa diajak asyik.”

“Jika Jii-chan berpakaian sedikit lebih normal, aku mungkin akan ikut menemani.”

Masachika menoleh ke arah Tomohisa yang mengipasi wajahnya dengan kipas, yang entah dari mana Ia mendapatkannya. Sepintas, Masachika terlihat bertingkah seperti biasa ... tapi juga Ia terlihat agak tidak bisa diandalkan, layaknya anak kecil yang lelah menangis.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama