Roshi-dere Vol.3 Chapter 08 Bahasa Indonesia

Chapter 08 — Pidato Perkenalan

 

Keesokan harinya, sepulang sekolah, setiap anggota OSIS melakukan berbagai persiapan untuk upacara akhir semester dan pertemuan dengan pihak terkait. Dengan bagan kemajuan upacara akhir semester di tangan, dua atau tiga pasang siswa berjalan mondar-mandir di sekitar gedung sekolah.

Sementara itu, Masachika dan Alisa yang sudah menyelesaikan tugas mereka, sedang berlatih di atas panggung gimnasium untuk penampilan besok.

“Sekian dari saya, terima kasih banyak atas perhatiannya.”

Masachika yang mendengarkan di bawah panggung, bertepuk tangan pada Alisa yang baru saja selesai berpidato tanpa mikrofon.

“Oke, jika kamu bisa melakukan ini di hari pelaksanaan, sepertinya kamu akan baik-baik saja.”

Saat Ia menaiki tangga menuju panggung, ekspresi Alisa diliputi sedikit kecemasan.

“Benar juga ... bahkan di hari pelaksanaan ...”

“Kamu masih merasa cemas? Padahal selama debat kemarin, kamu bisa berbicara dengan lancar.”

“Waktu itu ... aku bisa berbicara lancar karena aku berkonsentrasi pada batinku sendiri. Selain itu, besok akan ada lebih banyak orang daripada waktu itu, ‘kan?”

“Yah, semua siswa di sekolah akan ada di sini besok. Gimnasium ini akan penuh, lo?”

Tidak ada gunanya menipunya, jadi Masachika mengangkat bahunya dan berkata dengan jujur, lalu berbalik dan memberitahunya dengan nada santai.

“Tapi, apa yang harus kamu lakukan tidak berubah, bukan? Tidak peduli seberapa banyak penontonnya, selama kamu fokus pada apa yang ingin kamu katakan...”

“Tapi kupikir itu saja masih belum cukup.”

“Hmm?”

“Pada debat terakhir ... aku melihat apa yang kamu bicarakan, dan aku tahu persis apa yang kamu maksud. Ada perbedaan besar antara berbicara kepada diri sendiri dan berbicara dengan audiens. Terutama saat ‘berpidato’, kupikir aku harus harus menatap mata dan wajah para penonton.”

Alisa berkata dengan ekspresi serius saat melihat ke bawah panggung, dan kemudian mengalihkan tatapannya yang kuat ke arah Masachika.

“Nee, bagaimana caranya supaya aku bisa berbicara dengan penonton seperti kamu?”

Menanggapi pertanyaan Alisa, Masachika menggaruk kepalanya sembari dalam hati mengagumi betapa ambisiusnya dia.

“Meski kamu bertanya bagaimana caranya, aku sendiri tidak tau harus menjawab apa ... karena ini semua tentang membiasakan diri. Setidaknya, kamu harus bisa berbicara dengan sempurna tanpa melihat naskah, dan kemudian mengubah nada suara dan mengambil jeda sambil melihat reaksi penonton …. lalu membuat beberapa lelucon untuk menjaga fokus penonton ...”

“...”

Alisa langsung terdiam dengan ekspresi sulit saat mendengar saran Masachika. Masachika sendiri sadar bahwa Ia menuntut sesuatu yang cukup sulit, jadi Ia menambahkan dengan senyum masam.

“Yah, mana mungkin bisa melakukannya dengan sempurna dari awal. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, ini semua tentang membiasakan diri ... Untuk kali ini, kamu cukup menghadap ke depan dan berbicara secara terbuka saja.”

“... Apa itu saja sudah cukup?”

“Ya, anggap saja ini sebagai latihan untuk kampanye pemilihan yang akan datang. Aku sudah memberitahumu kemarin, ‘kan? Kalau kamu terlalu bersaing dengan Yuki, dia akan membuatmu mengguncang tempomu.”

“!!”

Begitu mendengar perkataan Masachika, mata Alisa melebar saat menyadari kalau dia secara tidak sadar merasa tergesa-gesa untuk menghindari kekalahan dari Yuki. Masachika lalu menepuk bahu Alisa dengan ringan untuk menenangkannya, dan mulai sedikit mengecilkan suaranya.

“Kalau begitu ... bagaimana kalau aku memberitahumu satu trik rahasia yang bisa membantu meredakan keteganganmu sekaligus menarik perhatian penonton?”

“Trik rahasia??”

“Iya.”

Ketika Alisa mengangkat alisnya, Masachika diam-diam memberitahunya. Alisa tampak terkejut sejenak pada isi trik yang tak terduga, dan kemudian mengangkat alisnya ketika merenungkan isi dari trik rahasia yang dimaksud.

“Jadi itu trik rahasianya …?”

“Gimana? Gampang, ‘kan? Tapi tetap efektif.”

“... Ya. Aku akan mencobanya.”

Alisa mengangguk dengan ekspresi serius, dan Masachika balas tersenyum padanya. Kemudian, mereka mendengar suara memanggil dari luar area panggung.

“Apa kamu sedang latihan untuk besok?”

Mereka berbalik pada saat bersamaan ketika mendengar suara itu, dan melihat Yuki dengan senyumnya yang biasa. Di belakangnya ada Ayano yang memberikan anggukan tanpa ekspresi kepada Masachika dan Alisa.

“Oh, apa kamu sudah menyelesaikan tugas bagianmu?”

“Ya, semuanya berjalan lancar.”

Mereka berdua saling bertukar kata dengan ramah, tapi ada ketegangan tidak biasa di sana. Saat dia berjalan perlahan menuju Masachika, Yuki meletakkan tangannya di depan mulutnya dan memiringkan kepalanya.

“Fufufu, ada apa? Masachika-kun. Wajahmu terlihat sedikit menakutkan, tau?”

“Berani-beraninya kamu mengatakan itu dengan blak-blakan ... Bukankah kedok Ojou-sama-mu sudah mulai luntur?”

“Ara ara, fufufu.”

Yuki membuka matanya sedikit sembari memasang senyum ala Ojou-sama yang sempurna. Mata yang mengintip dari balik tatapan matanya yang menyipit memiliki cahaya dingin, tanpa ada jejak senyum keramahan sedikit pun.

Di hadapan tatapan yang akan membuat kebanyakan orang merasa merinding, Masachika mengangkat bahunya dan melihat kembali ke Alisa yang ada di belakangnya.

“Kamu bisa melihatnya sendiri, ‘kan? Beginilah sifat dia yang sebenarnya. Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, jangan tertipu oleh wajah anggunnya.”

“I-Iya...”

“Ara, Alya-san. Apa aku membuatmu kecewa?”

Saat Yuki memiringkan kepalanya, Alisa perlahan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku memang sedikit terkejut, tapi aku tidak merasa kecewa.”

“Ara …”

“Kita belum terlalu mengenal satu sama lain. Wajar saja jika keadaan berubah, kamu akan menunjukkan sisi barumu.”

“...”

“Selain itu ... apa benar kalau kamu ingin berteman denganku?”

“... Ya, tentu saja.”

“Kalau begitu, tidak apa-apa.”

Yuki melebarkan matanya karena terkejut, karena tidak menduga kalau Alisa mengangguk dengan begitu mudah.

“Apalagi ... berkat Yuki-san, aku bisa melihat kembali diriku dengan pandangan baru.”

“… dan, apa itu?”

Dengan tatapan lurus ke arah Yuki yang menarik kembali senyum palsunya dan memiringkan kepalanya, Alisa pun menyatakan.

“Yuki-san, waktu itu kamu bertanya kenapa aku ingin menjadi ketua OSIS ..., aku akan menunjukkan jawaban dari pertanyaan itu besok. Selain itu, aku akan mendapat lebih banyak dukungan daripada dirimu.”

Mendengar pernyataan Alisa yang mengesankan, Yuki mengedipkan matanya dengan wajah datar dan kemudian terkikih-kikih.

“Fufu, Alya-san benar-benar mempunyai sifat lugas ... dan orang yang baik, ya.”

“Ap-Apa-apaan itu.”

Tatapan Alisa ke sana kemari dalam kebingungan pada pujian yang datang tiba-tiba. Namun, Yuki terus melanjutkan tanpa merasa malu sama sekali.

“Itu perasaanku yang sebenarnya, lo? Aku merasa sangat senang bisa berteman dengan Alya-san.”

“.....”

Ketika Alisa memalingkan wajahnya seolah-olah dia tidak tahan lagi, Yuki berkata dengan senyum yang lebih lebar.

“Untuk Alya-san yang begitu luar biasa ... aku ingin memberitahumu tentang satu hal.”

“… Apa?”

“Mengenai pembicaraan kepergian kakakku ... itu maksudnya, bukan berarti Ia sudah meninggal, tau?”

“Hah?”

Ketika Alisa berbalik dengan ekspresi kebingungan, Yuki tersenyum jahat dan nakal.

“Ia cuma meninggalkan rumah. Walaupun Ia memutuskan semua hubungan dengan keluarga Suou, Ia masih sehat-sehat saja, lo?”

“Ap-Ap...!”

Alisa tiba-tiba tersipu karena merasa salah paham dan memelototi Yuki. Masachika yang tersenyum lalu berdiri di depan Yuki, yang menepis tatapan tajam Alisa dengan senyum dingin.

“Syukurlah, aku senang persahabatanmu dengan Alya tidak terputus.”

Senyum ceria yang tidak wajar tersebut membuat Yuki meningkatkan kewaspadaannya dan dia memasang senyum ala Ojou-sama-nya lagi.

“Ara ara, dari cara bicaramu ... Seolah-olah persahabatanku dengan Masachika sudah retak, ya?”

“Enggak juga, kok? Tapi aku cuma berpikir kalau kamu sudah berani melakukan taktik semacam itu.”

Masachika berjalan ke arah Yuki dan Ayano sambil mengatakannya dengan nada cerah serta senyum yang ceria. Alisa menatap punggungnya dengan sedikit cemas, tapi Yuki tetap tersenyum meskipun kakaknya tepat di depannya.

“Ara, apa jangan-jangan ... kamu marah karena aku sengaja mengincarnya saat kamu sedang jatuh sakit?”

“Bukan itu masalahnya. Itu adalah taktik alami untuk menargetkan orang ketika mereka dalam keadaan lemah. Faktanya, aku pikir kamu sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan memberiku obat yang mempunyai efek samping tanpa membuatku menyadarinya sama sekali.”

“Aku merasa tersanjung.”

Walau dia bilang begitu, Yuki merasa bulu kuduknya berdiri saat melihat senyum kakaknya. Hal yang sama berlaku untuk Ayano, yang dilirik sekilas oleh Masachika. Mereka berdua merasakan keringat mengalir di punggung mereka saat Masachika memberi mereka tatapan yang luar biasa kuat.

Namun, terlepas dari suasana yang menakutkan, Masachika melanjutkan dengan nada ceria.

“Yaah~, kira-kira perasaan apa yang sedang kurasakan ini, ya? Aku sendiri tidak begitu memahaminya ... Jika diberi perumpamaan, setengahnya aku merasa tergoda ingin mengelus-ngelus kepala anjing lucu yang sudah berani menggigitku, dan setengahnya lagi, aku merasakan dorongan untuk mendisiplinkannya supaya dia tidak menggigit lagi, mungkin perasaan semacam itu?”

Itu adalah hal yang cukup menakutkan untuk diberitahu, tapi Yuki tidak meremehkannya. Setelah melihat keseriusan kakaknya, yang sudah lama tidak dia lihat, Yuki melepas kedok wajah anggunnya.

Apa yang ada di dalam diri Yuki sekarang adalah sedikit ketakutan, tetapi lebih dari itu, rasa kegembiraan. Hal itu diekspresikan dalam bentuk sorot mata yang bersinar dan senyuman yang ganas. Senyum Masachika juga berubah menjadi ganas pada tatapan yang ditunjukkan adiknya.

“Tapi yah, jika ada satu hal yang ingin kukatakan ...”

Kemudian ... Ia terus melanjutkan sambil menatap Yuki dengan tatapan yang tidak menunjukkan senyuman sama sekali.

“Jika kamu berani menggigit, kamu harus mengeritkan gigimu, oke?[1]

Dari tatapan matanya, ada rasa superior yang menunjukkan kalau Ia tidak merasa terpojok sedikit pun. Yuki dan Ayano menyadari bahwa mereka telah menginjak ekor singa yang sedang tertidur.

(Ahaha ...  Kupikir aku bisa membuatnya sedikit tidak sabaran, tapi ... ternyata aku masih terlalu naif, ya ....)

Itu adalah pernyataan perang yang paling jelas dari kakaknya. Namun, itu juga hal yang kebetulan bagi Yuki. Jika mereka bisa melakukan pertarungan langsung, Yuki pasti menginginkannya. Yuki menggigil dan Ayano juga gemetar pada kewaspadaan dan kegembiraan yang ditujukan padanya… meskipun tidak tahu kegembiaraan mana yang ditujukan Ayano.

Ketegangan luar biasa memenuhi sekitar panggung, seolah-olah itu adalah hari sebelum pertunjukan. Namun, suasana tegang tersebut langsung lenyap oleh suara yang menyela dari luar panggung.

“Umm, boleh minta perhatian kalian sebentar? Aku ingin melakukan pemeriksaan terakhir untuk besok ...”

Ketika mereka menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara, mereka melihat ada tiga siswa kelas dua dari OSIS.. Masachika dan Yuki menarik semangat juang mereka dan menuju ke Touya yang memasang wajah sedikit kaku, untuk berkumpul. Alisa dan Ayano juga merasa santai dan mengikuti mereka.

Meskipun Ia tampak sedikit gelisah dengan suasana tegang dari empat siswa kelas 1, Touya terus melanjutkan untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebagai persiapan upacara penutupan akhir semester besok.

Dan topik mereka akhirnya beralih pada pidato dari semua anggota OSIS.

“Sekarang, tentang bagian penting, pidato salam dari para anggota OSIS … Urutannya berawal dari aku dulu sebagai Ketua, kemudian Chisaki yang menjabat wakil ketua, lalu Kakak Kujou, dan kemudian anggota yang dari kelas satu. Karena tahun ini anggota OSIS-nya tidak terlalu banyak, jadi tidak ada batasan waktu, tapi tolong sebisa mungkin untuk melakukannya di bawah tiga menit. Apa kalian punya pertanyaan lain?”

Alisa sudah diberi pengarahan singkat sebelumnya, jadi tidak ada orang yang mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan. Setelah memastikan bahwa mereka semua mengangguk ringan, Touya mengalihkan perhatiannya ke empat siswa kelas satu dengan sedikit enggan.

“Kalau begitu, urutan salam buat yang kelas satu ... Kalian maunya gimana? Tahun lalu sih, para kandidat ketua saling melakukan suit batu-kertas-gunting.”

Mendengar kata-kata Touya, Yuki dan Alisa saling bertukar pandang, dan Yuki memiringkan kepalanya sambil tersenyum.

“Aku sih tidak keberatan dengan suit batu-kertas-gunting?”

Alisa mencoba juga menyetujui kata-kata Yuki ... Tapi sebelum itu, Masachika angkat bicara duluan.

“Tidak, itu tidak bagus. Suit batu-gunting-kertas hanyalah permainan peluang.”

“Yah, memang benar, sih.”

Alisa dan Touya mengangkat alis mereka dengan “Hmm?” kepada Yuki yang mengangkat bahunya, Chisaki mengangguk, “Paham banget” dan Maria hanya tersenyum masam “Eehh~?” . Ayano sudah membaur jadi udara.

Tapi, kedua kakak beradik ini sama sekali tidak bercanda.

Sebagai otaku garis keras, mereka selalu siap untuk terlibat dalam permainan otak yang mempertaruhkan hidup mereka, jadi permainan batu-gunting-kertas adalah langkah pertama yang alami. Sekali lagi, permainan itu bukan sekedar permainan biasa.

“Kalau begitu, bagaimana dengan lemparan koin?”

“Hmm, kalau yang itu mungkin akan adil.”

“Baiklah. Bagaimana kalau Ayano melempar koin dan Alya-san yang menebak sisi sebaliknya?”

“Tidak, lebih baik minta orang lain untuk melempar koin.”

“Fufu, kamu selalu curigaan.”

Tentu saja, Masachika dan Yuki tidak melakukan lempar koin karena ada kemungkinan melakukan kecurangan, dan Ayano mana mungkin mempunyai keterampilan seperti itu.

Tapi bukan berarti Masachika tidak punya alasan untuk mewaspadai Ayano, karena dia punya catatan mencoba mencekoki orang dengan obat tanpa ragu sama sekali.

Tentu saja, fakta bahwa Masachika dan Yuki tidak memainkan peran menebak sisi lain dari koin, karena itu hanyalah permainan pengalih perhatian.

“Etto, bagaimana kalau aku saja yang melakukannya ~?”

Ketika Masachika menoleh ke kelompok murid kelas 2, Maria berkata begitu dan mengeluarkan koin 100 yen. Masachika menatap Yuki untuk memastikan, dan Yuki mengangkat bahunya dengan santai. Masachika mengangguk ke arah Maria, setelah menilai bahwa Yuki sudah setuju dengannya.

“Kalau begitu, mohon bantuannya. Masha-san akan melempar koin,  dan Alya akan menebak sisi mana. Jika tebakannya benar, Alya bebas memilih mau giliran yang pertama atau kedua, dan jika tebakannya meleset, Yuki yang memilih.”

“Baiklah, aku mengerti. Lalu sisi koin yang bermotif adalah bagian kepala, dan yang bertulis angka 100 adalah bagian ekor, ya~.”

Maria kemudian meletakkan koin 100 yen di kukunya, tapi Alisa yang dari tadi mengawasinya, membuka mulutnya dengan tatapan curiga.

“Masha ... apa kamu bisa melakukannya dengan benar?”

“Ahh~ kamu meremehkan Onee-chan~. Tentu saja aku bisa kok, coba lihat baik-baik, ya~? Eii~~!”

Dia menggembungkan pipinya saat melihat tatapan Alisa, dan untuk beberapa alasan, Maria memantulkan tubuhnya ke atas dan ke bawah saat melemparkan koin 100 yen.

Sementara semua orang menatapnya dengan tatapan lembut, Maria menggoyangkan tubuhnya karena suatu alasan dan mengikuti perputaran koin dengan matanya. Dia lalu menangkap koin itu dengan kedua tangannya seolah-olah sedang menepak nyamuk.

“Kena! Lihat, aku bisa menangkapnya, Alya-chan!”

Dengan tangannya yang terkatup, Maria tersenyum gembira. Namun, tatapan mata Alisa berubah menjadi dingin.

“Jadi? Mana yang bagian atasnya?”

“Ehh …?”

Alisa menyuruhnya untuk melihat ke bawah ke tangannya, dan Maria akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa membedakan antara bagian atas dan bawah.

“Ettoo~, kalau begitu ... apa ini yang bagian atas?”

Kemudian, saat Maria meletakkan tangan kirinya ke bawah dan tangan kanannya ke atas, Alisa menjawab dengan acuh tak acuh.

“Bagian kepala.”

“Ehh~ kamu boleh memilihnya sedikit lebih lama lagi, kok~ ...”

“Jangan bercanda terus.”

“Muu ... kalau begitu, ini dia.”

Di tangan Maria yang terbuka ... koin bertuliskan angka 100 muncul. Alisa mengerutkan alisnya sejenak, dan Yuki memperhatikan ekspresinya dengan cermat.

“Sayang sekali, tebakan Alya-chan meleset. Kalau begitu... Yuki-chan, kamu mau giliran pertama atau kedua?”

“Biar kupikir-pikir dulu …”

Saat Maria bertanya padanya, Yuki meletakkan tangannya di dagu. Masachika menatap Yuki yang sedang seperti itu.

(Aku berharap kalau Alisa bisa memenangkan lemparan koin tadi, tapi ... sekarang, seberapa jauh kamu bisa melihat strategiku?)

Saat kakaknya sedang menatapnya, Yuki berkonsentrasi pada pikirannya sendiri.

(Kalau dipikir-pikir secara normal, giliran kedua yang meninggalkan kesan di akhir jauh lebih menguntungkan .... Tapi, jika aku bisa menciptakan suasana Suou-san sangat hebat, jadi ayo jangan bertepuk tangan buat Kujou-san pada giliran pertama, aku bisa meraih kemenangan yang telak. Di sisi lain,  giliran pertama bisa memberinya jumlah tepuk tangan minimum, jadi sulit untuk memenangkan kemenangan telak kalau Alya-san yang mendapat giliran pertama … Apalagi aku jadi tidak bisa beralasan Apa boleh buat karena dia mendapat giliran pertama  ... apa aku harus memilih giliran pertama? Dari awal, aku memang berencana begitu….)

Tapi..., pikir Yuki.

(Itu pun kalau aku mengincar kemenangan yang telak, tapi karena Onii-chan sudah mulai bersikap serius, mungkin aku harus mengincar kemenangan yang aman di sini ... Jika memang begitu, apa lebih baik memilih giliran kedua yang lebih menguntungkan? Kurasa lebih baik menunggu dan melihat apa yang akan Onii-chan lakukan ...)

Kemudian, Yuki tiba-tiba merasa tidak nyaman tentang sikap kakaknya yang tadi. Intimidasi blak-blakan yang dilakukan oleh Masachika.

(Omong-omong ... mengapa Ia mengintimidasiku begitu terang-terangan? Ini tidak seperti sifat Onii-chan yang biasanya melakukan sesuatu di balik layar ... apa jangan-jangan, cuma akting?)

Begitu kemunginan itu muncul di benaknya, Yuki secara insting merasa kalau dugaannya itu benar. Yuki menoleh sambil mengalihkan pandangannya ke arah Masachika.

(Kalau tadi itu cuma akting... apa tujuan yang sebenarnya? Demi membuatku berpikir kalau Ia merasa marah dan mengira akan bertarung secara langsung...? Tapi sebenarnya, Ia tidak berniat melakukan itu? Selain itu... huh! Apa itu demi mengalihkan perhatian dari Alya-san!)

Dengan kilasan pencerahan, Yuki melakukan kontak mata dengan Masachika. Meskipun dia tidak bisa membaca apa pun dari ekspresi wajah poker kakaknya, tapi Yuki meyakini kalau perkiraannya mendekati jawaban yang benar.

(Benar juga ...  Tanpa disadari aku terkecoh oleh Onii-chan, tapi dari awal, targetku adalah Alya-san... Dan, sejauh yang kulihat, mental Alya-san tidak sekuat yang kuduga.

Di tambah lagi, dia masih mengalami trauma karena tidak bisa berbicara dengan baik di siaran sekolah kemarin. Aku awalnya berencana melakukan serangan pada Alya-san saat tekanan tersebut muncul.)

Mengingat strategi awalnya, Yuki menyadari kalau dia sedang digiring ke dalam jebakan. Namun, dia sudah menyadarinya.

(Tujuan Onii-chan yang sebenarnya adalah mengincar hasil imbang dengan pembicara giliran pertama bisa mendapatkan tepuk tangan minimum tanpa ada tekanan! Kalau begitu, aku harus mengincar kemenangan telak seperti yang direncanakan seperti semula!)

Selama waktu tersebut,  5 detik telah berlalu. Yuki, yang mencapai kesimpulan dengan kecepatan berpikir yang melampaui kemampuan orang biasa, memberitahu Touya dengan senyum di wajahnya.

“Kalau begitu, aku minta giliran pertama dulu.”

“Baiklah. Lalu, giliran pertama adalah pasangan Suou dan Kimishima. Sedangkan giliran keduanya adalah pasangan adik Kujou dan Kuze.”

Alisa mengangguk diam-diam pada pengumuman Touya, dan Masachika tersenyum penuh arti.

 

◇◇◇◇

 

Kemudian, pada hari berikutnya. Upacara akhir semester berjalan lancar tanpa ada kendala apapun, berkat persiapan yang matang sehari sebelumnya. Pidato kepala sekolah, pengumuman komite kesehatan masyarakat, dan acara lainnya berjalan lancar sesuai jadwal. Para anggota OSIS terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama yang berada di sisi bawah panggung ada Touya, Maria. Alisa dan Masachika. Sedangkan Chisaki, Yuki, dan Ayano sedang menonton di sisi atas panggung.

“Kalau begitu acara selanjutnya, salam perkenalan dari para anggota OSIS tahun ini. Untuk waktu dan tempatnya, dipersilahkan.”

Akhirnya, waktunya telah tiba. Anggota OSIS yang kelas 2, saling menyapa secara bergantian saat moderator yang merupakan seorang anggota klub penyiaran, memanggil nama mereka. Touya memberikan pidato karismatik dengan sikap yang mengesankan, dan mendapat sorakan saat mengumumkan keputusan sekolah yang menyetujui untuk mengganti seragam musim panas.

Chisaki memberikan pidato yang agak umum sambil terkadang mengundang tawa dalam suasana yang ceria. Sedangkan Maria, dengan senyum lembutnya yang biasa, memberikan pidato tegas meskipun suasana dan nada suaranya terdengar bersahabat.

Kelompok kelas 2 menyapa para siswa dengan tiga cara berbeda, tapi masing-masing dari mereka menarik perhatian orang-orang. Sementara para siswa semakin bersemangat seolah-olah mereka sedang menonton idola, akhirnya giliran kelompok kelas 1.

“Selanjutnya, angggota OSIS yang menjabat bagian humas, Suou Yuki, akan memberikan pidato.”

Suasana di aula seketika berubah saat kandidat ketua OSIS berikutnya muncul. Beberapa dari para penonton menantikan pertempuran yang tenang antara para kandidat. Ada juga yang memperhatikan dengan gembira.

Ada pula orang-orang yang mencoba menilai situasi dengan tenang. Yuki berdiri di atas panggung dengan segala macam tatapan tertuju padanya. Penampilan Yuki ditampilkan di layar di atas panggung, dan penonton mulai sedikit bersemangat.

“Terima kasih atas perkenalannya. Nama saya adalah Suou Yuki, dan saya menjabat sebagai humas OSIS sekaligus mantan ketua OSIS pada divisi SMP Seirei Gakuen. Saya berencana untuk mencalonkan diri menjadi ketua OSIS tahun depan. Oleh karena itu, saya berharap bisa mendapat dukungan anda semua.”

Ketika Yuki membungkuk ringan dengan senyum anggun menghias wajahnya, sorak-sorai dari para siswa datang segala penjuru aula. Dia menanggapi dengan mengangguk ringan dan sedikit menurunkan nada suaranya.

“Sekarang, saya ingin menceritakan sedikit tentang visi saya. Bila saya berhasil menjadi ketua OSIS nanti, saya mempunyai tujuan, yaitu ... membuat sekolah yang mencerminkan pendapat para siswa. Ara? Pasti banyak yang berpikir kalau itu lebih normal dari yang kalian kira, ‘kan?”

Yuki tiba-tiba bertanya dengan nada sedikit jahil, membuat penonton tertawa ringan dan membuat suasana menjadi lebih santai. Setelah itu, Yuki mengeluarkan sebuah kotak besar dari bawah podium dan menunjukkannya kepada penonton.

“Secara khususnya ... seperti kotak saran ini. Benda ini sudah terpasang di sekolah selama bertahun-tahun ... Saya yakin, hanya sedikit orang yang pernah menggunakan layanan ini sekali. Sebenarnya, saya sudah mengungkitnya berkali-kali dalam siaran laporan aktivitas makan siang, namun saya merasa bahwa tidak ada banyak masalah atau permintaan nyata di dalamnya. Saya pikir itu karena banyak yang berpikir, “Tidak ada gunanya menulis ke kotak saran karena itu takkan pernah direalisasikan”, bukan?”

Ketika Yuki mengajukan pertanyaan spesifik, para siswa merenungi hal itu dan mengangguk setuju. Setelah melihat para siswa merasa yakin, Yuki mulai menyebutkan alasannya.

“Namun, ini bukannya tidak masuk akal. Lagi pula, kebanyakan dari anggota, baru pertama kalinya melakukan tugas OSIS. Bahkan, seorang karyawan perusahaan perlu menghabiskan tahun pertama mereka untuk mempelajari pekerjaan mereka, tetapi anggota OSIS hanya menjabat selama satu tahun sementara masa jabatan mereka berakhir. Oleh karena itu, rasanya akan sulit untuk mendengarkan permintaan siswa dan mewujudkannya. Terlebih lagi, entah kenapa tahun ini… ya, entah kenapa! Kami kekurangan anggota OSIS yang dari kelas 1, tahu?”

Cara Yuki yang sengaja mengatakan hal itu membuat para siswa tertawa, “Memangnya salah siapa coba?”. Setelah tertawa terbahak-bahak saat menindaklanjuti dengan para senpai yang juga anggota OSIS, Yuki memotong inti masalah.

“Namun, ketika saya menjadi ketua OSIS nanti, saya akan berusaha memenuhi permintaan yang dibuat di kotak saran ini.”

Yuki menegaskan hal tersebut dengan sangat jelas dan melanjutkan.

“Lebih tepatnya, saya akan berusaha memenuhi setidaknya satu permintaan dari seorang siswa per bulan. Dan dengan hasil tersebut, saya akan mulai mewujudkan permintaan yang lebih besar. Misalnya saja seperti, mengubah acara festival olahraga. Atau menambahkan banyak acara dan waktu untuk festival sekolah. Atau juga memperpanjang waktu luang untuk karyawisata sekolah. Mungkin rasanya menarik juga bisa membuat acara baru pada hari Halloween dan Natal, ya?”

Bagi kebanyakan siswa, janji manis yang ditawarkan menimbulkan kegembiraan yang tak tertahankan, di antara mereka bahkan ada yang bergumam “Apa benar-benar bisa diwujudkan?” karena meragukannya.

Namun, Yuki sendiri yang menjawab dengan tegas. Usai melihat sekeliling area penonton dengan senyum yang kuat, Yuki pun menyatakan.

“Saya yakin bahwa hanya saya yang mampu melakukan ini, setelah bertugas menjadi OSIS selama dua tahun di SMP dan masih melayani di SMA. Selain itu, saya bermaksud untuk membuktikannya melalui pekerjaan saya di masa depan. Untuk perhatiannya, saya haturkan banyak-banyak terima kasih.”

Ketika Yuki menundukkan kepalanya, ada banyak tepuk tangan dan sorakan yang bergema di seluruh gimnasium. Yuki merespon dengan mengangkat tangannya dan kembali ke sisi atas panggung. Masachika melihat pemandangan itu dengan senyum masam.

“Licik sekali. Dia hanya mempermainkan kata-kata dan mengecoh dengan gambaran yang lebih besar, dia bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang akan dia lakukan di tahun ini. Di tambah, dia sampai membuat alasan yang terlihat seperti tindak lanjut dari senpai, “Kami tidak memiliki banyak anggota OSIS tahun ini, jadi kami tidak dapat mewujudkan isi kotak saran.” ... dan yang terpenting, itu masih agak meyakinkan.”

Mendengar kata-kata Masachika, Touya pun mengangguk dengan senyum masam yang bercampur kekaguman.

“Suou memang pandai berbicara dan membual. Bukannya dia jauh lebih baik dariku?”

“Ahaha, itu sih masalah pengalaman ... apa itu berarti membuat Yuki menjadi sedikit pembohong, kali ya ?”

“Kamu ini memang tak kenal ampun.”

Di sisi lain saat mereka tertawa, Maria sedang berbicara dengan Alisa.

“Alya-chan, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu merasa gugup?”

“Aku baik-baik saja ... tinggalkan aku sendiri untuk saat ini.”

“Ya ampun, Alya-chan selalu saja bersikap judes.”

Maria menggembungkan pipinya pada adiknya, yang selalu bersikap judes seperti biasanya. Saat dia tersenyum lagi, moderator acara memanggil Ayano ke podium.

Kemunculannya yang diproyeksikan di layar menimbulkan sedikit keributan. Namun, wajar saja kalau ada keributan di antara penonton. Itu karena, Ayano yang berdiri di podium... meski mengenakan seragam, tapi gaya rambutnya disanggul dengan rapi layaknya seorang maid.

Poninya yang selalu acak-acakan, terlihat rapi, dan keningnya yang indah terekspos.  Meski terlihat tanpa ekspresi seperti biasanya, tapi wajahnya tampak bersemangat. ... Tidak, mungkin itu cuma imajinasi Masachika saja.

Bagaimanapun juga, Ayano, yang biasanya tidak menonjolkan diri, berdiri di podium dengan poni terbuka, menyebabkan banyak murid laki-laki berkata, “Siapa gadis cantik itu?” dan bahkan beberapa gadis berteriak, “Kyaa~! Ayano-chan manis sekali~!”. Faktanya, terlepas dari penampilannya, Ayano cukup populer sebagai maskot di antara beberapa gadis yang mengenalnya.

“Nama saya Kimishima Ayano, menjabat sebagai urusan umum di dalam OSIS. Dalam kehidupan pribadi saya, saya adalah pelayan keluarga Suou dan melayani Yuki-sama sebagai pelayan pribadinya.”

Suasana di gimnasium pada saat itu secara sederhana bisa digambarkan sebagai “?!!” karena keterkejutan penonton. Seorang gadis cantik misterius tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai pelayan pribadi Yuki. Bagi kebanyakan orang, mereka akan melakukan tsukkomi, “Eh, tunggu sebentar, ada banyak informasi yang perlu dicerna dulu.”

Namun, Ayano terus melanjutkan tanpa menghiraukan keributan penonton.

“Tahun depan, saya berencana untuk mencalonkan diri dalam pemilihan bersama Yuki-sama. Saya akan menggunakan pengalaman saya sebagai pelayan Yuki-sama sejak kecil, dan mendukungnya. Yuki-sama adalah orang yang luar biasa yang pantas disebut berperilaku baik dan berbakat. Saya yakin bahwa dia akan memimpin sekolah dengan baik sebagai ketua OSIS.”

Ayano terus berbicara tanpa ragu seolah-olah dia sedang membaca naskah.

Tapi, caranya berbicara yang tanpa sedikit pun terlihat seperti akting atau dilebih-lebihkan, serta tatapan matanya yang begitu lugas, memberikan kesan kebenaran yang aneh pada apa yang dia ucapkan.

Entah bagaimana, penonton bisa mengetahui bahwa dia hanya mengatakan yang sebenarnya. Dan faktanya, Ayano hanya menceritakan apa yang benar untuknya.

“Yuki-sama selalu menjadi siswa berprestasi di sekolah, dan kemampuan bahasa Inggris sudah mencapai tingkat penutur asli. Baru-baru ini, dia belajar bahasa Cina dan telah mencapai tingkat yang memungkinkan untuk percakapan sehari-hari. Selanjutnya, piano dan merangkai bunga. Dia juga menunjukkan bakat hebat dalam piano, merangkai bunga, karate, dan lain-lainnya. Dia benar-benar orang yang penuh dengan banyak bakat. Meski begitu, Yuki-sama tidak pernah sombong atau arogan, dan selalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Bahkan untuk pelayan seperti saya, dia selalu memberi hadiah yang berharga setiap tahun di hari ulang tahun saya.”

Kemudian Ayano memejamkan matanya, mengangkat dagunya sedikit dan menutup erat bibirnya. ...... Rupanya, dia berniat memasang wajah puas ... tapi ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Melihat wajah puas Ayano (?) beberapa gadis berteriak dengan nada cempreng. Seolah terbawa suasaa, tawa mulai menyebar di sekitaran penonton dengan berkata, “Gadis itu agak menarik juga, ya.”

Sambil mengedipkan matanya sedikit pada reaksi yang tak terduga, Ayano kemudian dengan bangga ... mungkin dengan bangga dan antusias membicarakan Yuki. Penonton pun turut menyimak cerita Ayano, karena suasana unik yang dibawakannya.

“Yah, pasti jadinya akan begini.”

Masachika bergumam pada dirinya sendiri saat mendengarkan pidato Ayano dari sisi panggung.

“Pidato persuasif Yuki didukung oleh prestasinya saat SMP dulu. Dan Ayano semakin mempertegasnya dari sudut pandang seorang pelayan yang sudah melayaninya sejak kecil…”

Masachika memberikan penilaian yang tinggi setelah melakukan analisis objektif terhadap kedua rivalnya tersebut. Kemudian, Ia menoleh kembali ke arah Alisa dan berkata.

“Ini adalah pidato yang sempurna. Dia berusaha keras untuk menyerang lebih dulu dan mencoba meraih kemenangan telak.”

Masachika dengan tenang mengakui bahwa situasinya cukup sulit, tetapi Alisa bertanya dengan tatapan yang tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan.

“... Tapi, kita bisa memenangkannya, ‘kan?”

“Ya, semua itu berkat usahamu.”

Masachika mengangguk pada kepercayaan tak tergoyahkan yang diarahkan padanya. Ia kemudian tersenyum puas karena Alisa tidak terganggu oleh pidato saingannya, dan dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Alisa.

“Oleh karena itu, kamu tidak perlu melakukan pidato aneh yang terlalu berlebihan untuk bersaing dengannya.”

Sejak awal, Masachika tahu bahwa Alisa tidak punya kesempatan melawan Yuki jika mereka bertarung di medan yang sama. Pihak lain pun mengetahui hal tersebut, dan mereka mungkin mencoba membangkitkan rivalitas Alisa untuk membuatnya masuk ke medan yang sama.

“Aku tahu ... kepalaku sudah menjadi dingin berkat apa yang kamu katakan padaku.”

Tapi sekarang dia sudah tenang setelah mendengar kata-kata Masachika, Alisa tidak punya keinginan untuk bersaing dengan Yuki.

“Syukurlah kalau begitu. Kamu masih mengingat nama dari acara ini, ‘kan?”

Pertanyaan Masachika dijawab oleh Alisa dengan senyum tipis di wajahnya.

“Tentu saja. “Pidato salam” dari para anggota OSIS, bukan?”

“Benar, pidato salam. Ini sudah menjadi kebiasaan untuk berpidato, tapi awalnya bukan itu niat aslinya. Pertama-tama ...”

Masachika lalu mengalihkan perhatiannya ke murid-murid yang berkumpul di gimnasium.

“Mari kita mulai dengan mengenalmu.”

Pada saat yang sama, Ayano menyelesaikan pidatonya tepat tiga menit, membungkuk, dan turun dari podium. Dia kemudian bergabung dengan Yuki, yang keluar dari sisi atas panggung, dan bersama-sama membungkuk kepada penonton. Segera, ada tepuk tangan meriah dan sorak-sorai yang sepertinya akan mengguncang gimnasium.

Deruan tepuk tangan dan sorak-sorai berlanjut selama lebih dari sepuluh detik saat moderator merasa ragu-ragu untuk melanjutkan, dan akhirnya mulai tenang ketika Yuki dan Ayano pergi ke belakang panggung.

“Umm kalau begitu, selanjutnya adalah pidato dari Kujou Alisa sebagai bendahara OSIS.”

Di hadapan para siswa yang masih heboh , Alisa naik ke podium. Para siswa akhirnya mulai memperhatikan gadis berambut perak yang muncul di layar.

Suasana di antara penonton adalah 50% menunjukkan ketertarikan, 30% acuh tak acuh, dan 20% merasa kasihan. Sebagian besar siswa terpesona oleh pidato dari pasangan Yuki-Ayano, dan beberapa dari mereka tampak bersorak atau mengharapkan sesuatu dari Alisa. Dengan suasana yang seperti itu, Alisa diam-diam membuka mulutnya dan berkata …

「Спасибо за представление. Я казначей ученического совета Кудзё Алиса. На будущий год я планирую выдвинуться кандидатом на выборах председателя совета. Прошу вас поддержать меня.」

Dia mulai berbicara dalam bahasa Rusia dengan kecepatan tinggi. Sebagian besar siswa terperangah melihatnya. Ketika semua siswa yang masih heboh dengan pidato Yuki dan Ayano mengalihkan perhatian ke Alisa, dia tiba-tiba menutup mulutnya dan berkedip perlahan.

“... Maaf, saya terlalu gugup sampai-sampai saya keceplosan berbicara bahasa Rusia.”

Para siswa menertawakan kalimat yang diucapkan Alisa dengan ekspresi serius. Fakta bahwa Putri Alya mengatakan sesuatu yang tampak seperti lelucon dengan ekspresi wajah yang sulit mengira kalau dia sedang bercanda membuat para penonton saling membalas, “Tidak, mana mungkin bisa begitu ‘kan”, “Eh? Tadi itu lelucon?” dan seterusnya.

Alisa menghela nafas lega pada respon yang diharapkan. Momen menarik perhatian ini adalah trik rahasia yang Masachika berikan kepada Alisa kemarin.

Dengarkan baik-baik, dari awal, langsung berbicaralah dengan bahasa Rusia. Karena Yuki dan Ayano adalah orang yang pertama pergi lebih dulu, pada saat giliranmu berbicara, suasana di aula pasti masih meriah karena pidato Yuki dan Ayano. Kemudian, kamu perlu meredakan suasana aula dengan bahasa asli Rusiamu. Hal ini juga bisa membantu meredakan keteganganmu juga. Kamu mungkin akan sangat gugup saat di atas panggung, dan bahkan jika kamu tidak menyadarinya, kamu mungkin masih memiliki trauma karena tidak bisa berbicara dengan baik di siaran sekolah. Jadi, berbicaralah dalam bahasa Rusia sampai kamu merasa nyaman. Kamu tidak perlu risau~, kalau itu dalam bahasa Rusia, tidak ada yang menyadarinya meskipun kamu sedikit mengacaukannya.

Alisa diam-diam tersenyum saat mengingat apa yang dikatakan Masachika. Dia kemudian mengambil napas dalam-dalam, dan berbalik ke arah mikrofon lagi.

“Sekali lagi perkenalkan, nama saya Kujou Alisa selaku bendahara OSIS. Tahun depan nanti, saya berencana mencalonkan diri sebagai ketua OSIS.”

Namun, bahkan setelah menarik napas dalam-dalam, butuh banyak keberanian untuk mengucapkan kata-kata berikutnya. Masih ada sedikit keraguan di hatinya. Alisa masih bimbang apa hanya sebatas ini saja sudah cukup. Tapi ... ini adalah “Pidato salam”. Ini adalah salam untuk memberi tahu semua orang tentang siapa gadis yang bernama Alisa Mikhailovna Kujou ini.

Lalu... Aku harus bicara jujur. Aku tidak bisa memalsukannya. Aku harus berterus teras tentang diriku sendiri!

Menginspirasi dirinya sendiri, Alisa berbalik ke depan dan mulai berbicara.

“Saya baru saja pindah ke sekolah ini tahun lalu dan belum memiliki prestasi yang bisa dibanggakan. Saya baru saja mulai bekerja sebagai anggota OSIS dan saya tidak berani mengatakan bahwa saya sepenuhnya memahami kerja keras dan tanggung jawab menjadi seorang pemimpin. Saya yakin ada banyak kekurangan yang saya miliki untuk menjadi ketua OSIS di sekolah ini.”

Alisa merasa takut dengan reaksi para penonton. Dia merasa tidak pantas untuk menunjukkan dirinya yang masih tidak sempurna.

Tapi Masachika mengakuinya. Partner-nya, yang lebih dapat diandalkan daripada siapa pun, mengatakan bahwa Ia ingin mendukung Alisa apa adanya. Seraya mempercayai kata-katanya, Alisa berusaha terus melanjutkan.

“Tapi, jika ada satu hal yang bisa saya banggakan...”

Lalu, Alisa meletakkan tangannya di dadanya dan melihat sekeliling ke arah penonton, dan menyatakan dengan jelas.

“Hal itu adalah saya merupakan tipe orang yang bisa bekerja lebih keras daripada orang lain.”

Ya, hanya ini yang bisa dia katakan. Dia bisa meyakinkan kalau itu bukanlah suatu kebohongan.

“Saya selalu berusaha untuk mencapai hasil yang saya inginkan. Hal ini bisa anda lihat dari fakta bahwa saya telah menempati peringkat teratas dalam ujian  sejak saya masuk ke sekolah ini.”

Namun, tiba-tiba, Alisa merasa kalau dirinya kesulitan bernapas. Pada saat itulah dia baru menyadari bahwa napasnya tersengal-sengal. Tapi, tidak ada waktu untuk mencemaskan hal itu sekarang. Dia harus melanjutkan pidatonya tanpa terputus ...!

“Selain itu, saya terpilih sebagai atlet MVP untuk kategori perempuan di festival olahraga tahun lalu, dan stan kelas saya memenangkan hadiah utama dalam festival sekolah. Tentu saja, saya tidak melakukannya sendirian, tapi ada …”

Aku tidak bisa bernafas...!

Kakiku gemetaran.

Aku bahkan tidak bisa mendengar dengan baik.

Tidak, apa aku menolak untuk mendengarkan diriku sendiri?

“Memang benar, kalau saya masih kekurangan sesuatu, sebagai ketua OSIS sekarang, tapi ...”

Kata-kata yang ditujukan kepada penonton selama debat itu kembali terngiang di benak Alisa, begitu pula dengan ucapannya sendiri selama siaran sekolah. Dia merasa kalau tenggorokanya terasa sesak saat memikirkan bagaimana harus berbicara dengan benar supaya kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Ahh, sudah kuduga ini mustahil. Mana mungkin aku bisa menatap mata penonton dan berbicara langsung dengan mereka. Aku selalu berlari sendirian sepanjang hidupku, dan belum pernah mengakui siapa pun.

Alisa merasa bidang penglihatannya menjadi kabur. Paru-parunya terasa sesak, dan dia tidak bisa bernapas dengan baik——

Не вешай нос!” (Lihatlah ke depan!)



Tiba-tiba, suara orang mengatakan bahasa Rusia terdengar di telinganya. Alisa merasakan panca indranya mendadak menjadi jernih. Dia menyadari bahwa tatapannya sudah menunduk ke bawah.

(Mengapa, pakai bahasa Rusia ... jangan-jangan, kamu sengaja berlatih untuk saat ini?)

Pada saat yang sama pemikiran tersebut muncul di benaknya, Alisa bisa merasakan tatapan kuat yang mengawasinya dari sisi luar panggung. Seketika, Alisa merasa sedikit aneh. Dia tidak bisa menahan senyum pada partner-nya yang terlalu overprotektif.

Saat mengangkat wajahnya, dia bisa melihat wajah para siswa yang sedikit bingung. Dia bisa mendengar … suaranya. Pada saat yang sama, Alisa mengingat tujuannya dan melihat ke depan, dengan bangga membusungkan dadanya.

“Maaf atas jeda sedikit tadi. Saya yakin masih banyak kekurangan saya sebagai ketua OSIS saat ini. Hal yang sama berlaku untuk pengalaman saya berbicara di depan umum. Saya menyadari ini pada tempo hari saat saya membuat kesalahan kecil dalam siaran sekolah.”

Sebenarnya, bahkan sekarang pun masih sama. Bahkan sekarang, tanpa bantuan partner-nya, dia mungkin akan gagal lagi. Tapi …

“Tapi, saya bisa berbicara seperti ini sekarang. Dengan mulut saya sendiri, dengan kata-kata saya sendiri, dan mulai sekarang, saya akan terus mengisi kekurangan saya, satu per satu.”

Sambil berbicara seperti itu, Alisa merasa bahwa kata-kata tersebut meresap ke dalam hatinya.

(Ah, begitu rupanya ya ... aku sama sekali tidak sempurna ...)

Betapa sombongnya dia sampai sekarang. Dia memandang rendah orang-orang di sekitarnya, meyakini kalau dirinya lebih baik daripada orang lain berdasarkan penilaiannya sendiri.

Tapi sebenarnya, ada banyak hal yang tidak bisa dia lakukan namun bisa dilakukan dengan mudah oleh orang lain. Tidak hanya Yuki, orang pertama yang dia akui sebagai rival dari kelompok sebaya, maupun Masachika, orang pertama yang dia hormati. Entah itu Sayaka, Nonoa, Ayano dan orang lainnya ... dia yakin kalau mereka memiliki sesuatu yang lebih baik dari dirinya sendiri.

Sampai sekarang, dia tidak memahami hal itu. Meski dia mengakuinya melalui kata-kata, tapi dia tidak mengakuinya dalam hati. Tapi sekarang ... dia akhirnya mulai memahaminya.

(Aku tidak menyangka kalau aku sudah dibuat terpojok sejauh ini dan akhirnya menyadari hal itu ...)

Alisa menertawakan dirinya sendiri dalam hati, tetapi dia pikir kalau memang begitulah dirinya. Dia tidak pandai berinteraksi dengan orang lain, dan enggan mengakui kekurangannya karena harga dirinya yang tinggi. Tapi, karena harga dirinya itulah dia berusaha mati-matian untuk mengatasinya. Itulah sifat dari gadis yang bernama Kujou Alisa.

Pada titik tertentu, rasa takut untuk menunjukkan dirinya yang tidak sempurna telah hilang. Tidak lagi memusingkan naskahnya, Alisa berbicara langsung kepada penonton dengan ekspresi agak segar.

“Saya dapat berjanji bahwa saya akan terus berusaha untuk menjadi ketua OSIS yang ideal. Jika pada kampanye pemilihan tahun depan saya tidak yakin apakah saya cocok untuk menjadi ketua OSIS… Pada saat itu, saya akan langsung mengundurkan diri dari kampanye pemilihan ketua OSIS.”

Kemudian, Alisa menundukkan kepalanya dengan cepat.

“Maka dari itu, tolong awasi saya mulai sekarang, dan jangan ragu untuk menunjukkan kekurangan saya sebagai ketua OSIS. Saya akan berusaha menggunakan semua saran tersebut untuk menjadi ketua OSIS yang Anda inginkan. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih banyak.”

Saat Alisa turun dari podium, ada tepuk tangan meriah yang mengiringnya. Itu bukan tepuk tangan antusias, melainkan ... tepuk tangan hangat seolah-olah memuji pertarungan yang bagus. Alisa membungkuk dalam-dalam lagi dan meninggalkan podium.

Setelah mengkonfirmasi situasi dari sisi panggung, Masachika merasa lega.

(Secara umum, ini adalah evaluasi yang tinggi ... mempertimbangkan suasana tadi yang sudah dibangun oleh pihak lawan, dia sudah melakukan pekerjaan yang bagus. Tampaknya pidato Alisa mengarah ke arah yang berbeda dari yang dilakukan Yuki.)

Setelah Ia dengan tenang menganalisis seperti itu, Alisa kembali ke sisi luar panggung.

“Yoo~~, kerja bagus untuk pidato tadi. Aku senang semuanya berjalan lancar.”

“… benarkah?”

“Ya, tadi itu bagus sekali. Kamu kelihatan keren, kok.”

Masachika menepuk pundak Alisa dengan ringan dan menatap matanya dengan penasaran.

“... Entah kenapa, matamu terlihat lebih lega, ya?”

“Ya ... aku merasa bisa sedikit melangkah maju.”

“Begitu ya ...?”

Masachika tidak bisa sepenuhnya memahami arti kata-kata Alisa. Namun, pada saat itu, moderator memanggil nama Masachika, dan Ia mengangkat wajahnya.

“Sepertinya sudah giliranku ... kalau begitu, aku pergi dulu.”

“Ya ... berjuanglah.”

“Serahkan saja padaku. Lalu ...”

Saat menuju ke podium, Masachika menyeringai pada Alisa … dan dua orang yang ada di belakang Alisa.

“Kalau begitu, aku akan memenangkan ini dulu.”

Saat Masachika berjalan ke atas panggung, perhatian para siswa tertuju pada anggota OSIS terakhir. Sembari berjalan dengan nyaman di antara kerumunan, Masachika melihat sekeliling ke arah penonton dengan seringai begitu menaiki podium.

“Halo, saya Kuze Masachika yang menjabat urusan umum di OSIS. Tahun depan nanti, saya berencana mencalonkan diri dalam pemilihan ketua OSIS bersama dengan Kujou Alisa. Dan ...”

Saat melakukan jeda, Masachika tidak menyia-nyiakan waktu dengan mengayunkan tangannya dan langsung mengambil pose. Lengan kirinya menempel di bawah dadanya, tangan kirinya menopang siku lengan kanannya, dan tangan kanannya, terangkat lurus ke atas, menutupi sebagian wajahnya dengan mata terpejam layaknya seorang pengidap chunibyou[2]. Itu adalah pose narsis dengan tatapan tajam. Faktanya, Masachika memasang senyum nihilistik dan melirik ke arah penonton. 

“Orang yang pernah mendukung Suou Yuki menjadi ketua OSIS sebagai wakil ketua bayangan adalah diri saya ini ...”

Pengakuan itu dibuat dengan banyak jeda dan pementasan yang berlebihan, dan reaksi para penonton ...

“Pfftt.”

“...”

“Hmm.”

Beberapa penonton ada yang menanggapinya dengan tertawa, ada juga yang bereaksi “apa sih yang sedang Ia lakukan?”, dan sebagian besar bergumam “Hee~ jadi begitu ya”. Masachika mengedipkan mata dan memiringkan kepalanya pada respon dingin penonton yang melebihi dugaannya.

“... Eh? Apa perkenalan tadi itu terlalu garing dari yang kukira?”

Persentase orang yang menertawakan komentar Masachika yang terlalu jujur meningkat. Di tengah semua ini, Masachika terbatuk untuk membersihkan tenggorokannya dan berkata untuk mengubah suasana.

“Dan yah, saya adalah wakil ketua OSIS SMP, di balik bayangan Suou Yuki. saya yakin, ada banyak dari kalian yang bertanya-tanya, ‘Hah? Lantas, kenapa kamu tidak mencalonkan diri bersama Suou-san? Apa kamu selingkuh? Apa kamu selingkuh darinya?’  iya ‘kan~?”

Tawa menyebar seperti riakan dengan cara yang aneh dan konyol saat Masachika mengatakan hal itu.

“Oleh karena itu, saya ingin mengatakannya dengan jelas!”

Tawa penonton mereda saat Masachika membanting tangannya ke podium dengan keras. Masachika melihat sekeliling dengan tatapan tajam ke arah penonton, yang matanya melebar tanpa meninggikan suara mereka, dan menyatakan dengan wajah serius.

“Saya sudah memutuskan hubungan dengan Yuki! Jadi ini namanya bukan selingkuh!”

Di tengah suasana tegang, kata-katanya disambut dengan gelak tawa, dan beberapa murid laki-laki dengan bercanda membuat komentar ringan seperti, “Dasar cowok keparat!” atau “Kamu terlalu cepat ganti pasangan oiii”. Masachika menanggapi mereka dengan mengangkat tangannya sebentar, dan kemudian mulai berbicara dengan suara tenang.

“Lalu, kenapa saya memutuskan untuk tidak mencalonkan diri bersama Yuki dan justru memilih Alya … Sebelum membicarakan hal itu, izinkan saya memberitahu sesuatu yang serius … Menurut kalian semua, orang seperti apa yang layak untuk menjadi ketua OSIS? Orang yang hebat? Saya pikir tidak. Saya pikir orang yang layak untuk menjadi ketua OSIS adalah … seseorang yang menarik orang-orang di sekitarnya. ... Oh ya, saya tahu apa yang kalian maksud. “Bukannya maksudmu itu Yuki?” Saya paham hal itu, tapi saya ingin kalian mendengarkan sampai akhir dulu.”

Usai menimbulkan tawa lagi dengan pidatonya yang terputus-putus, Masachika terus melanjutkan setelah menghancurkan pertanyaan penonton terlebih dahulu.

“Kalau begitu, saya ingin membicarakan secara khusus tentang seseorang yang menarik orang-orang di sekitarnya ... Bagaimanapun juga, menurut saya, orang yang dimaksud adalah orang yang lugas. Seseorang yang dapat mendengarkan pendapat orang lain dengan baik. Dan juga, harus orang yang pekerja keras. Seseorang yang bisa membuat orang-orang disekitarnya berpikir, “Dia sudah bekerja keras, jadi aku juga harus bekerja keras!” saat melihat orang tersebut. Dan yang terpenting ... seseorang dengan hati yang indah. Seseorang yang tidak ingin menyakiti orang lain, dan dapat menjangkau orang lain dengan menghancurkan keegoisannya sendiri. Orang-orang akan berkumpul di sekitar orang yang seperti itu, dan saya percaya bahwa sosok yang bisa membuat banyak sekutu dengan cara begitu lebih cocok untuk menjadi ketua OSIS.”

Setelah berbicara dengan teratur dan logis, Masachika mengubah nada suaranya sedikit dan mengajukan pertanyaan.

“Berdasarkan hal tersebut … apa yang kalian semua pikirkan ketika mendengar pidato Alya tadi? Saya tidak mau membahas tentang isi dari pidatonya … Ah, tapi kalimat awal yang memakai bahasa Rusia itu pengecualian, oke? Kalau boleh blak-blakan sih, itu ide saya untuk membuatnya lebih menarik.”

Pada pengakuan tak terduga Masachika, ada banyak suara terkejut para penonton yang dibarengi dengan tawa, seperti “Kamu baru mengatakan itu sekarang!” atau “Jadi tadi itu ulahmu!”. Sebagai tanggapan, Masachika melambaikan tangannya ke samping seolah-olah menyiratkan “Kagak, kagak”.

“Lagian, mana mungkin Alya melakukannya sesuatu seperti itu atas niatnya sendiri ... Sepertinya pembicaraan jadi melenceng, mari kembali ke topik pembahasan tadi. Sejujurnya, saat mendengarkan pidato Alya dari luar panggung, saya berpikir kalau dia benar-benar sangat canggung.”

Dengan senyum masam di wajahnya, Masachika memberikan komentar negatif tentang pidato rekannya, yang mana hal itu menyebabkan sedikit kehebohan di antara penonton.

“Tapi pada saat yang sama, saya merasa bahwa itu adalah pidato yang sangat lugas dan jujur. Saya yakin kalian semua merasakan hal yang sama, ‘kan?”

Sejumlah besar siswa mengangguk sebagai tanggapan atas pertanyaannya. Masachika balas mengangguk dengan puas, dan berkata.

“Alya adalah orang yang jujur. Dia tidak mencoba membuat dirinya terlihat sok hebat atau mencoba untuk mendapatkan popularitas dengan membuat pernyataan besar yang tidak bisa dia wujudkan. Dia hanya seseorang yang pekerja keras, seperti yang sudah dia katakan dalam pidatonya tadi. Selain itu, dia orang yang polos. Saking polosnya sampai mau menerima ide saya untuk membuat lelucon konyol.”

Setelah mengatakannya dengan nada bercanda, Masachika mengubah sedikit ekspresinya untuk terlihat lebih serius dan melanjutkan.

“Saya tertarik pada sisi Alya yang seperti itu dan ingin mendukungnya. Itulah alasan mengapa saya memutuskan untuk mendukung Alya daripada Yuki. Dan saya berharap semua orang akan mendukung Alya juga.”

Setelah mengatakan itu, Masachika melihat ke sekeliling penonton. Kemudian dia segera berteriak, “Yah.”

“Meski begitu, kalian tidak bisa mempercayainya menurut pendapat saya sendiri. ... jika ada yang bilang “Bukannya itu cuma masalah seleramu doang~” percuma saja jadinya, ‘kan?”

Sembari mengangkat bahunya, Masachika mengangguk seolah berkata, “Mungkin itu ada benarnya,” dan kemudian mengacungkan jari telunjuknya.

“Kalau begitu, izinkan saya memberi tahu kalian satu fakta.”

Kemudian, setelah melakukan yang terbaik untuk menarik perhatian penonton hingga batasnya——— Masachika mulai memainkan kartu andalannya.

“Saat Alya menjadi ketua OSIS, ... Taniyama Sayaka dan Miyamae Nonoa akan bergabung dengannya sebagai anggota OSIS.”

Isinya terlalu sulit dipercaya. Setelah jeda sejenak, keributan bisa terdengar.

“Saya sudah mendapat janji dari mereka tentang ini. Apa kalian bisa mempercayainya? Orang-orang yang bersaing satu sama lain dalam debat tempo hari, sekarang mengatakan kalau mereka akan bekerja sama di OSIS baru. Ini merupakan hal yang mustahil bahkan untuk saya dan Yuki yang dulu.”

Di hadapan para penonton yang kebingungan dan memandangnya dengan curiga, Masachika melirik Yuki yang berada di luar sisi panggung.

“Sebelumnya, Yuki mengatakan bahwa hanya dia, orang yang memiliki pengalaman panjang sebagai anggota OSIS, yang dapat mengubah sekolah. Tapi, apa memang benar demikian? Selain Alya, ada aku, yang memiliki pengalaman sama seperti Yuki, serta Taniyama dan Miyamae, yang pernah menjadi kandidat paling menjanjikan untuk menjadi ketua OSIS. Apa kalian semua masih berpikir begitu setelah mendengarkan para anggota ini?”

Pertanyaan Masachika menciptakan suasana di antara para siswa yang berkata, “Memang, kalau anggota itu, ....”. Kemudian, Masachika menekan lebih jauh.

“Apalagi, Yuki juga sempat bilang kalau tahun ini hanya ada sedikit anggota kelas satu di OSIS, jadi tidak banyak yang bisa kami lakukan. Lantas, mengapa anggota kelas satu yang memasuki OSIS hanya ada sedikit? Jawabannya sederhana. Karena mereka semua meninggalkan OSIS setelah kalah dalam kampanye pemilihan di kelas 2. Dan ini berlaku juga pada OSIS dari generasi sebelumnya. Hanya ada sepasang orang berbakat yang mampu menjadi ketua OSIS, dan siswa kelas 1, yang akan menjadi generasi berikutnya dari OSIS, akan pergi satu demi satu setelah saling bertanding dalam perdebatan. Oleh karena itu, OSIS selalu kekurangan staf.”

Itulah fakta yang diketahui semua orang. Namun, itu adalah kenyataan yang terlalu jelas sehingga banyak yang tidak terlalu memikirkannya

“Tapi, kalau dilihat dari sudut pandang sebaliknya... Jika ada anggota kelas 2 yang lebih berpengalaman, bukankah kalian berpikir kalau OSIS bisa beroperasi dengan stabil tanpa dipengaruhi oleh ketidakpastian anggota kelas 1? Dan hanya OSIS dengan Alya sebagai pusatnya yang bisa melakukan itu. Bila Alya terpilih sebagai ketua OSIS, dia dikelilingi oleh tim impian mantan kandidat ketua dan wakil ketua. Ini adalah OSIS terbaik yang bisa saya bayangkan.”

Ada banyak siswa yang senang dengan gagasan yang telah dikemukakan Masachika. Mantan lawan akan bergandengan tangan dan menjalankan OSIS bersama. Banyak mata siswa berbinar pada konsep seperti impian yang belum pernah terlihat sebelumnya. Masachika kemudian melanjutkan dengan gebrakan yang lebih ampuh.

“Tentu saja, ini tidak terkecuali untuk Yuki dan Ayano. Ketika Alya menjadi ketua OSIS, saya ingin mereka bergabung dengan OSIS juga. Apalagi~ Yuki telah menunjukkan antusiasmenya untuk bisa mengubah sekolah. Bahkan jika dia kalah dalam pemilihan, aku yakin dia akan dengan senang hati memberikan dukungannya!”

Dengan cara bercanda yang mengundang tawa, Masachika bahkan berhasil menarik simpatisan Yuki dengan menyatakan bahwa Ia akan menjadikan Yuki sekutu di masa depan. Kemudian, Ia membungkuk dengan gerakan teatrikal kepada penonton yang tertawa.

“Tak terasa pidato yang saya berikan menjadi terlalu panjang, hanya itu saja dari saya. Demi mewujudkan OSIS terbaik yang pernah ada, saya mohon dukungan dari kalian semua. Terima kasih banyak atas perhatiannya.”

Ketika Masachika meninggalkan podium, kejutan terakhir terjadi.

Begitu Masachika mulai berjalan ke bagian bawah panggung, Alisa pun keluar dari sisi luar panggung. Dan di belakangnya, ...tak disangka-sangka, Sayaka dan Nonoa ikutan muncul.

“Hmm? Tiga orang... huh, ehhhh?!?”

“Eh, mustahil!?”

“Hei, lihat itu!”

“Uwahhh, seriusan tuh!?”

Pemandangan yang langsung membuktikan perkataan Masachika menyebabkan kegemparan terbesar hari ini..

Kemudian, ketika empat orang yang bergabung bersama-sama menundukkan kepala, ada ledakan tepuk tangan dan sorak-sorai. Para siswa tidak tahu interaksi macam apa yang terjadi di antara mereka berempat. Tapi itu tidak masalah. Dua pasang calon yang seharusnya tidak mungkin menjalin hubungan, kini mulai bergandengan tangan. Fakta itu saja sudah cukup bagi mereka untuk mengangkat suaranya.

“Alya, ini adalah tepuk tangan yang kamu menangkan dengan kekuatanmu sendiri.”

“.... !”

Dengan kepala masih tertunduk, Masachika berkata seperti itu kepada Alisa yang ada di sebelahnya, dan bisa melihat kalau dia terkesiap. Mengetahui hal ini, Masachika tidak berani melihat ekspresi Alisa.

Kemudian, di tengah tepuk tangan yang tidak kalah kerasnya dengan Yuki dan Ayano, mereka berempat kembali ke sisi luar panggung.

“Yuhuu~, kerja bagus.” (Nonoa)

“… kerja bagus.” (Alya)

“Sama-sama~” (Masachika)

“...”

Mereka sudah bekerja keras untuk satu sama lain, tapi hanya Sayaka yang memalingkan muka dengan ekspresi rumit. Dia diam-diam mendorong kacamatanya dan berkata dengan nada datar.

“... Dengan begini, aku sudah mengembalikan hutangku, ‘kan?”

“... Ya, terima kasih. Aku merasa terbantu sekali.”

Tatapan Sayaka mengembara dengan tidak nyaman pada Alisa yang berterima kasih padanya dengan jujur dan menundukkan kepalanya.

“Seperti yang sudah pernah aku bilang sebelumnya ... aku tidak mendukung kalian. Aku akan menepati janjiku untuk bergabung dengan OSIS jika kalian terpilih, tapi aku takkan membantu dengan kampanye pemilihanmu.”

“Aku tahu hal itu. Aku akan berusaha mencoba … untuk membuatmu ikut mendukungku.”

“… begitu ya.”

Sayaka berbalik dan menuju pintu masuk keluar darurat yang ada di belakang gedung. Kemudian dia berhenti sejenak dan melontarkan beberapa kata dari balik bahunya.

“... Aku akan menantikannya.”

Setelah mengatakan itu, Sayaka keluar dari pintu. Dengan senyum kecut di wajahnya, Nonoa pun mengikutinya.

“Kalau begitu, berusahalah yang terbaik, ya ~. Aku juga tidak bisa mengatakan dengan pasti kalau aku akan mendukung kalian, tapi jika Alissa berhasil menjadi ketua OSIS, aku akan bekerja sama dengan kalian, kok~”

“Oh~ makasih banyak, ya~”

“A-Alissa...?”

Setelah melihat punggung Nonoa dengan perasaan bingung, Alisa melihat kembali ke sisi lain panggung. Dia menyampaikan niatnya kepada Yuki yang berdiri di sana dengan tatapan yang kuat. Inilah alasan mengapa dia ingin menjadi ketua OSIS.

(Awalnya, itu mungkin satu-satunya tujuanku ... tapi sekarang, aku mengemban harapan Kuze-kun,Taniyama-san dan Miyamae-san. Maka dari itu, aku takkan kalah. Aku takkan merasa kewalahan oleh tekadmu lagi)

Menanggapi tatapannya yang kuat ... Yuki tersenyum santai. Aku juga tidak mau kalah. Tekad yang bagus, kalau kamu sudah siap, ayo maju dan lawan aku.

Mereka berdua saling bertukar pandang selama beberapa detik, tapi hal itu terganggu saat Alisa didekati Maria. Saat melihat Alisa mulai berbicara dengan Maria dan Masachika berbicara dengan Touya, Yuki bergumam dengan senyum masam.

“Pihak kita benar-benar kalah telak, ya.”

Harusnya ini adalah permainan yang bisa dimenangkan. Tidak, ini hanya perbedaan dalam pencapaian dan pengakuan nama mereka. Setelah kemenangan pendahuluan yang luar biasa dalam siaran sekolah, seharusnya ini adalah permainan yang bisa dimenangkan dengan selisih besar.

Namun, hasil yang didapat justru imbang. Tidak, walaupun jumlah tepuk tangan mereka hampir sama, tetapi dalam kehebohan dan dampak terhadap penonton, pihak mereka mungkin kalah. Hasilnya memang seri, tapi jika mempertimbangkan prosesnya, mereka mengalami kekalahan telak.

“Yah~ aku tak menyangka kalau dia berhasil menarik kedua orang itu menjadi sekutunya ...aku benar-benar terkejut.”

Yuki mengangguk pada Chisaki yang mengatakan hal itu dengan nada terkesan.

“... Ya, benar sekali. Ini benar-benar di luar dugaan.”

Ya, itu benar-benar situasi yang tidak terduga. Dan ini mungkin ... situasi yang disebabkan oleh Yuki sendiri.

Pertempuran di siaran sekolah, yang dibuat untuk menghancurkan hati Alisa dan membuatnya depresi. Mungkin peristiwa tersebut yang menjadi pemicu bagi kedua orang itu untuk memihak Alisa.

(Sepertinya aku terlalu banyak membuat skema ... dan akhirnya justru menyoroti kepolosan Alya.)

Di tambah lagi, dia sampai membuat kakaknya bersikap serius. Jadi ini yang dimaksud seorang ahli strategi yang tertipu dalam skemanya sendiri, saat Yuki menggertakkan giginya dalam hati, Ayano menundukkan kepalanya.

“Tolong maafkan saya, Yuki-sama. Seandainya saja saya bisa berbicara sedikit lebih baik lagi——”

“Ini bukan salah Ayano. Ini adalah kegagalanku karena salah menilai strategi Masachika-kun setelah tertipu oleh dugaanku sendiri.”

Yuki menggelengkan kepalanya untuk menyela perkataan Ayano.

Benar sekali. Seandainya saja dia tidak terlalu terkecoh dengan dugaannya sendiri, dia pasti akan memilih untuk berpidato di giliran terakhir. Dia menebak kalau pihak lawan mengincar hasil yang imbang  ... Tidak, di suatu sudut lubuk hatinya, dia berpikir hanya itu satu-satunya cara pihak lawan. Yuki berpikir bahwa jika dia bertarung secara langsung ... dia pasti takkan kalah, meskipun lawannya adalah kakaknya sendiri. Dia dengan sombongnya berpikir begitu, dan mengabaikan ancaman kakaknya sebagai gertakan belaka, serta mencoba untuk meraih kemenangan yang telak.

(Aku yakin kalau ini semua sudah diprediksi oleh Onii-chan juga ...)

Kakaknya pasti merasa yakin kalau dirinya sudah sepenuhnya menduga pikiran Yuki dan tahu bagaima reaksinya, dan kemudian Ia melakukan ancaman yang begitu blak-blakan. Jika bukan karena itu,, Yuki akan mewaspadainya dengan “Aneh sekali, Ia terlalu tenang untuk masalah ini. Apa Ia sedang merencanakan sesuatu?”

(Onii-chan memang lebih pandai dariku dalam segala hal ... Ahahaha, Onii-chan memang luar biasa)

Meski kalah … Yuki memiliki perasaan aneh dan lega di hatinya.

Memang benar kalau dia ingin mengalahkan kakaknya. Tapi pada saat yang sama, dia tidak ingin ... kakaknya itu kalah. Dia berpikir bahwa kakaknya, yang pernah dia kagumi dan hormati, masih luar biasa. Pemikiran yang membuatnya ingin mempercayai hal itu memang masih ada.

(Ah~ gawat. Jalan pemikiran seperti ini tidak baik buatku...)

Baik keinginannya untuk mengalahkan kakaknya dan keinginannya untuk tidak ingin kakaknya kalah adalah benar semua. Tapi jika dia merasa lega karena dikalahkan, dia takkan pernah bisa menang melawan kakaknya di masa depan nanti.

Oleh karena itu, Yuki menekan emosinya dan tersenyum tanpa rasa takut.

“Yah, mari mengakui kekalahan kita kali ini. Hanya kali ini saja, oke ...”

Yuki bergumam, dan tersenyum ganas sembari dipenuhi tekad untuk menang di waktu berikutnya. Chisaki langsung memalingkan pandangannya, seolah-olah dia telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia lihat.

Setelah melihatnya dengan lirikan samping, Ayano diam-diam berbicara dengan Yuki.

“Yuki-sama.”

“Ya?”

“... jadi itu penggambaran dari sifat karakter yang kuat, ya.”

Dengan mata berbinar-binar, Ayano menyatukan kedua tangannya di depan dadanya seolah mengatakan, “Saya jadi mulai memahaminya!”…

“Enggak, aku enggak bertujuan untuk itu, tau .”

Yuki menghela nafas dan tanpa sadar melakukan tsukkomi padanya.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>


[1] Kayaknya ini kalimat peribahasa, tapi mimin gak bisa nemu artinya
[2] Susah bayanginnya? Coba bayangkan Masachika lagi berdiri di atas panggung dengan pose begini 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama