Roshi-dere Vol.3 Epilog Bahasa Indonesia

 Epilog — Melangkah Maju

 

“...  Ini akan jauh lebih keren jika aku bisa mencapai tujuanku.”

“Benar sekali.”

Suara Masachika dan Alisa saling bergema di koridor yang sepi.

Setelah upacara akhir semester selesai, mereka berdua menjadi pusat perhatian dan dipuji oleh banyak siswa, terutama dari teman sekelas, atas pidato cemerlang mereka. Masachika dan Alisa berhasil melewati semua itu dengan menggunakan kemampuan komunikasi mereka sepenuhnya, dan setelah jam wali kelas selesai, mereka juga menyelesaikan pertemuan terakhir dengan OSIS. Dan akhirnya, mereka datang untuk melihat pengumuman daftar peringkat terbaik yang dipajang di lorong sekolah.

Nama yang sangat mencolok tertulis di ujung paling kanan adalah nama Alisa. Dan di sebelahnya ada nama Yuki. Lalu dari sana, daftar nama-nama tiga puluh orang berbaris berurutan, tapi ... tidak ada nama Masachika di antara daftar tersebut.

“Peringkat 33, ya ... sungguh hasil yang tanggung sekali.”

Sembari menatap rapor di tangannya, Masachika menggumamkan itu dengan senyum masam.

Mengingat fakta bahwa Ia berada di peringkat 202 dari 254 siswa dalam ujian tengah semester terakhir, peringkat yang sekarang merupakan sebuah prestasi  besar. Namun, Masachika hanya kurang enam poin dari targetnya yang ingin menempati peringkat 30 besar.

“Yah, kurasa semuanya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.”

“... Kok, kamu tidak kelihatan terlalu kecewa?”

“Hm... yah begitulah.”

Masachika mengangguk setengah hati pada Alisa, yang mengangkat alisnya.

Memang benar kalau Ia tidak terlalu merasa kecewa. Sebaliknya, Ia bahkan merasa lega kalau dirinya tidak menempati peringkat 30 besar.

(Meski merasa enggan untuk mengatakan ini, tapi aku tidak bisa berani bilang kalau aku benar-benar fokus belajar untuk ujian ...)

Masachika sadar kalau dirinya benar-benar tidak bisa fokus belajar dengan kemampuan terbaiknya selama masa ujian. Selama waktu belajar, Ia terus kehilangan konsentrasinya berkali-kali dan efisiensi belajarnya menurun, dan bisa dibilang kalau Ia sudah merasa cukup dengan belajarnya.

Itu sebabnya, Ia merasa lega dengan hasil ini. Jika Ia entah bagaimana bisa mencapai tujuannya tanpa mengerahkan segalanya ... Masachika sekali lagi merasa kalau dirinya benar-benar mengejek kehidupan.

“Hmm, yah, bahkan si jenius ini juga memiliki batasnya ...”

“Apa kamu tidak malu mengatakan itu sendiri?”

Alisa menatap Masachika yang dengan narsis menyibakkan poninya. Di hadapan tatapan dingin Alisa, Masachika mengangkat bahunya dengan ekspresi yang sedikit serius.

“Yah, aku hanya kurang berusaha. Maafin ya, aku tidak bisa memberikan hasil yang akan membuatku bangga sebagai kandidat wakil ketua.”

“Itu sih, tidak masalah …”

“Tidak, anggap saja ini sebagai renunganku. Lain kali, aku akan berusaha …. lebih baik lagi.”

Masachika menyatakan itu sambil menatap daftar peringkat siswa dengan tatapan serius. Sebagai tanggapan, Alisa bertanya dengan suara rendah.

“Apa kamu menyesali hasil ini?”

“Tidak.”

“ Syukurlah, kalau memang begitu.”

Saat dia berbalik dan berkata begitu, Alisa mendesak Masachika untuk tidak terlalu merisaukan nilainya.

“Ayo pulang? Hari ini ada banyak hal yang terjadi, jadi aku sedikit lelah.”

“Ah, benar juga ...”

Saat berjalan berdampingan di sebelahnya, tatapan Masachika mengembara tidak menentu. Alasan kenapa Ia bertingkah begitu karena ...

“... Umm, Alya.

“Ada apa?”

“Bukan apa-apa, hanya saja ... bagaimana dengan taruhannya? Taruhan di mana yang kalah harus menuruti satu permintaan pemenang ...”

Ketika ditanya Masachika, Alisa menghentikan langkahnya sejenak ... dan segera lanjut berjalan lagi sambil mengalihkan pandangannya.

“... Aku akan memikirkannya nanti.”

“Bukannya kamu bilang kalau kamu sudah memikirkannya? Kalau tidak salah kamu mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia.”

“Waktu itu ... aku cuma asal-asalan bilang sesuatu yang acak.”

Alisa bergumam dan memalingkan muka. Kemudian dia menggerutu dalam bahasa Rusia.

Apaan ... kupikir, kamu ...

Sekilas, perkataannya terdengar sedikit tidak bisa dijelaskan, tetapi Masachika entah bagaimana bisa memahami situasinya.

(Aah ... orang ini tidak mengira kalau dia akan menang ...)

Masachika merasa canggung karena Alisa terlalu menaruh banyak harapan padanya, dan pada saat yang sama, Ia merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi harapan itu.

(Ah, umm ... kemarin dia bilan apaan, ya? Kalau tidak salah, dia bilang Nama , ‘kan?)

Dengan perasaan canggung, Masachika mengingat kembali ucapan Alisa. Saat Ia memikirkannya sejenak ... Ia membuat satu tebakan.

(Dengan kata lain ... memang begitu maksudnya? Tidak, tapi ... bukannya ini bakal sangat memalukan jika aku yang mengungkitnya? Aku nanti dikira cowok super narsis ...)

Ia sangat cemas sampai-sampai merasa kalau kepalanya pusing   ... tapi Masachika mengambil keputusan. Berpikir bahwa ini adalah cara lain untuk menghukum dirinya sendiri karena kalah taruhan, Ia memutuskan untuk membuang rasa malunya.

“Umm ... Alya?”

“?”

“Karena ... pidato di upacara penutupan akhir semester sudah selesai , dan kita secara resmi diakui sebagai sepasang kandidat pemilihan ketua OSIS .... Bagaimana kalau kita saling memanggil dengan nama panggilan untuk menunjukkan kedekatan kita berdua ...?”

Masachika berteriak sambil berjingkrak-jingkrak di dalam otaknya karena merasa malu saat Ia secara misterius mengusulkan hal itu dengan nada sopan. Karena tidak berani melihat Alisa, Ia hanya melihat lurus ke depan dan menunggu dengan sabar untuk jawaban. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, suara kecil Alisa mencapai telinganya.

“... Yah, aku sih tidak keberatan, kok?”

“Eh, oh, benarkah?”

“I-Iya?”

Walau mereka tidak saling memandang, tapi mereka tampak menyetujui satu sama lain. Namun, saat Alisa terbatuk dan berdeham, Masachika juga mengalihkan pandangannya ke arah Alisa.

“Baiklah, kalau begitu ...”

Alisa kemudian membuka mulutnya ragu-ragu, dan mengintip sedikit ke samping dengan ekspresi tersipu.

“Masachika ... kun?”

“Umm, ya...”

Sikapnya yang sedikit malu-malu seraya memanggil namanya membuat seluruh tubuh Masachika terasa geli.

“O-Oh ... yah, bukannya itu sudah bagus?”

“Be-Benarkah? Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan memanggilmu seperti itu ...”

Dan kemudian, pada saat yang sama, dia dengan cepat mengalihkan pandangannya dan berkata begitu. Karena tidak tahan dengan suasana canggung dan manis yang melayang di antara mereka, Masachika mengangkat suaranya dengan sia-sia ketika melihat pintu masuk yang sudah dekat.

“Ah, benar juga! Aku harus mengganti sepatuku!"

“Be-Betul sekali.”

Bila dipikir dengan tenang, reaksi yang wajar pasti membuat siapa pun bertanya, “Buat apa kamu repot-repot mengatakannya?”, Tapi Alisa menganggukkan kepalanya tanpa terlihat terganggu. Kemudian, saat mereka mengulurkan tangan ke kotak sepatu yang berjajar di atas dan di bawah secara bersamaan, mereka mulai jadi salah tingkah lagi.

Di tengah suasana yang manis dan asam, geli, dan meledak-ledak ini, Masachika dan Alisa menelusuri jalan pulang mereka sambil mengobrolkan masalah sepele. Selama waktu ini, mereka tidak pernah saling memandang, dan Alisa tidak pernah memanggil nama Masachika.

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di persimpangan dan entah bagaimana mereka berdua berhenti pada saat yang bersamaan.

“Kalau begitu ... aku pulang lewat sini.”

“Ya... lalu, sampai——” 

Ya, Ia berniat mengatakannya dengan santai. Tapi, Masachika tiba-tiba menyadarinya. Mulai besok sudah memasuki liburan musim panas. Salam “sampai jumpa lagi” akan lama datangnya. ... Jika ini terus berlanjut.

“Sampai ketemu lagi ...”

“O-Oh ...”

Tanpa memandang satu sama lain, Alisa menuju area penyeberangan. Dan tepat saat kakinya hendak melangkah ke jalan raya — saat itulah terjadi .

“Alya!”

Masachika setengah refleks memanggilnya. Kemudian, saat menyadari bahwa Alisa menatap balik dari sudut matanya, Ia cepat-cepat memalingkan mukanya.

“Begini ... Meski sekarang sudah memasuki liburan musim panas, tapi masih ada berbagai persiapan untuk kampanye pemilihan, ‘kan? Tidak seperti Yuki dan Ayano yang selalu bersama...”

Sambil menghadap ke arah yang salah, Masachika berbicara dengan tergagap-gagap.

“Jadi, umm ... bagaimana kalau kita kadang-kadang … bertemu selama liburan musim panas juga?”

Setelah mengatakan semua itu, rasa malu Masachika sudah mencapai batasnya. Ia bisa merasakan Alisa berdiri di depannya ketika menoleh kembali, tapi Ia tidak berani melihatnya. Ia sudah mati-matian untuk menahan diri agar tidak berteriak dan melarikan diri.

“Masachika-kun.”

Dari jarak dekat, Ia mendengar suara Alisa memanggila namanya. Masachika memalingkan wajahnya dan menjawab “Hmm?”. Ia bisa melihat dari sudut matanya kalau Alisa tersenyum kecil melihat caranya yang menyedihkan dalam menangani situasi ini.

“Непада ом!” (Lihatlah ke depan!)

Masachika menoleh ke depan secara refleks ketika mendengar kalimat yang diucapkan dalam bahasa Rusia. Kemudian, begitu Masachika melihat senyum polos yang ada di hadapannya, Alisa berkata—— 



 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi Selanjutnya=>>


close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama