Mea-san, Kocchi Muiteyo! Chapter 09 Bahasa Indonesia

Chapter 9 — Mea-san, Ayo Pulang Bersamaku!

 

“Di sinilah tempatnya, Ku-kun...”

Renjou-san menuntunku ke sudut area perumahan, di seberang rel kereta api dari rumahku dan unit apartemen yang sedang kutinggali sekarang, belokan ke arah kiri di jalan menuju sekolah SMP….

Itu adalah rumah bergaya Jepang yang sangat besar.

“Ru-Rumahnya besar sekali ... itu sangat berbeda dengan milik keluargaku.”

“Lagipula, Me-chan adalah seorang Ojou-sama .... meski dia selalu bilang kalau itu ‘rahasia’, sih.”

Ahaha, ucap Renjou-san sambil tersenyum kecut.

...... Ya, bagaimana pun juga “rahasia” tersebut tidak bisa menyembunyikan semuanya. Begitulah jadinya.

Itu sebabnya aku harus membawa kembali Mea-san dari sini dulu.

“Fu-chan dan Sumitaro sepertinya tidak ikutan, ya.”

“Ahh …. Kalau Sumitaro memang tidak bisa ikut.”

Setelah menyuruhku untuk ‘Tunjukkan kejantananmu’, Ia takkan repot-repot mengikutiku.

Di sisi lain, aku merasa kalau Fuuga akan lebih tertarik dengan permasalahan ini dan mau mengikutiku.....

“Kalau Fuuga … aku merasa kalau dia merasa malu, dan menyadari kalau dirinya habis berpura-pura menjadi Onee-san.”

Kecemburuan itu mungkin tentang itu. Aku tahu kalau itu bukan perasaan romantis.

“Hmm, itu ... firasat wanita, ‘kan?”

“Ah, ya.”

“…………”

“... Renjou-san?”

“Rahasia ♪”

Dia langsung menghindarinya. Yah, aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang. Daripada itu…..

Aku menegakkan punggungku lagi dan menatap papan nama yang bertuliskan “Chitose” di atasnya.

“... Mea-san, dia seharusnya sudah pulang, ‘kan.”

“Ya, kalau dilihat dari cara dia lari tadi.”

“Baiklah..., kalau begitu aku pergi dulu sebentar.”

“Ya... meski aku tidak pantas mengatakannya, lakukanlah yang terbaik, Ku-kun!”

“Ah, terima kasih banyak. Jadi….”

Untuk saat ini, aku perlu menekan intercom dulu.

“── Kuuya-kun, ya?”

Balasannya segera datang. Sepertinya orang yang menjawab ternyata Ayah mertua.

“Terima kasih banyak atas bantuan anda tempo hari. Jadi Ayah mertua, mengenai Mea-san….”

“...Putriku bilang dia ingin berpura-pura kalau cerita ini tidak pernah terjadi.”

“Itu……”

“Oleh karena itu, aku ingin memintamu untuk segera meninggalkan tempat ini. Biar aku yang akan menjelaskannya kepada Touya nanti.”

tutututtt

“Lah, malah dimatiin!”

Cuma bisa berhenti di depan gerbang. Sa-Sampai segitunya Mea-san...!

…… Tidak, mungkin ini ukah Ayah mertua? Sejak awal, Ia sendiri yang tampaknya menentang cerita pernikahan ini, dan tidak mau melepaskan putrinya yang sudah pulang kembali …….

“…………”

“Gi-Gimana nih Ku-kun, apa yang akan kamu lakukan?”

“... Aku takkan mundur sampai berbicara langsung dengan Mea-san!”

Kalau sudah begini, aku harus menggunakan cara kasar! Aku membuka pintu gerbang depan dan melangkah masuk ke dalam halaman rumah.

Segera setelah itu.

Gerudukgerudukgeruduk!

“……He?”

Entah kenapa, terdengar sesuatu yang bordering di seluruh manison. Bukan hanya itu saja.

Bishushushushu!

“Uwaaaaaa!?”

Aku nyaris tersayat oleh shuriken yang terbang ke arahku. Tapi aku tidak bisa melihat orang yang melemparnya. Dengan kata lain, ini adalah jebakan untuk penyusup.....!?

Oh iya, aku hampir melupakan tentang itu—— Mea-san adalah putri dari keluarga Ninja. Dengan kata lain, rumah orang tuanya merupakan rumah ninja!

“E-Ehhhh, Apa!? Apa-apaan tadi itu!? Eh, shuriken!?”

“Kalau itu sih rahasia! Pokoknya, kalau begitu masalahnya….”

Aku mati-matian berusaha mengingat ajaran yang sudah kupelajari dari ayahku.

——Hampir mustahil untuk bisa menyusup ke dalam secara langsung dari depan.

Jika memang demikian, aku akan memutar dari area belakang, di mana keamanannya tampak lemah!

“Kalau begitu Renjou-san, sampai jumpa lagi! Mohon doakan keselamatan kami.”

“Eh, I-Iya ...”

Aku meninggalkan Renjou-san dan pergi ke pagar dari belakang!

“Ad-Aduh!?”

Pagar itu ternyata dilapisi dengan tonjolan-tonjolan berduri. Tentu saja, jika itu adalah rute masuk, mereka juga akan memasang jebakan di belakang! Daerah ini merupakan rumah ninja juga!

Namun, jika pihak lawan adalah ninja, maka aku adalah agen rahasia (bercita-cita). Masalah nyusup-menyusup adalah keahlianku dan menerobos jebakan pun cuma masalah sepele—— 

…. Atau itulah yang ingin kupamerkan, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya.

Aku memang putra agen rahasia, tapi ... bukannya berarti aku mempunyai alat khusus, dan sedari awal aku tidak dilatih secara resmi sebagai agen rahasia. Pada akhirnya, aku hanyalah anak kecil yang sesekali mendapat ajaran dari ayahku dan berpura-pura menjadi agen rahasia.

“...”

Meski begitu! Aku tetap tidak menyerah!

“Mea-saan!”

Aku sekali lagi menempelkan diri ke pagar dan memanggil nama istriku.

Duri di pagar terus menusuk sekujur tubuhku … tapi emangnya kenapa! Aku tidak peduli!

Aku dengan paksa mengangkat tubuhku dan memanjat ke atas pagar. Aku kemudian meneriaki namanya lagi.

“Mea-san! Ini aku! Aku datang untuk menjemputmu!”

Kemudian, ada sosok yang melintas dengan cepat di sudut jendela lanyai dua.

Ah, Mea-san—— Aku secara naluriah menebaknya dan meninggikan suaraku lebih jauh.

“Mea-san tidak gagal menjadi seorang istri! Justru sebaliknya... Aku berpikir kalau Mea-san terlihat imut saat kamu merasa malu-malu seperti sebelumnya!”

Wajahku terasa panas. Tapi aku harus mengatakannya. Jika aku ingin membawa kembali Mea-san!

“Oleh karena itu, Mea-san... Ayo pulang bersamaku!”

Hyurururu…….

“…Eh?”

Boomm!

“Uowaaaa!?”

Kemudian, bola asap terbang dan meledak di bawah kakiku. Sensasi sakit terbakar ringan hampir membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Kuhh...!”

——Jika mau jatuh, aku mending jatuh ke dalam halaman rumah!

Brugggg!

Aku memutar tubuhku dengan paksa dan jatuh dari pagar ke dalam taman bergaya Jepang.

“Sakit bangetttttt ... tapi harus tahan! Karena aku adalah laki-laki!”

Aku mengeratkan gigi dan berdiri. Kepulan asap masih mengelilingi sekitar tubuhku.

Tapi, kemudian….

“Eh.....?”

Salah satu pintu geser yang menghadap ke taman terbuka dengan cepat.

“────!”

Aku tidak yakin kenapa, tapi aku punya firasat kalau lebih baik cepat menyingkir daripada terus berdiam diri di halaman!

Dengan pemikiran itu, aku segera melompat sebelum asapnya menghilang. Namun, aku justru terjebak di tempat sempit tannpa ada jalan keluar.

“Ehh... ap-apa-apaan ini ...hal semacam ini….”

— Ini bukan bangunan rumah biasa.

— Dengan kata lain!

Aku mencoba mendorong dinding di ketiga sisi kecuali pintu geser kertas.

Lalu, sudutnya! Segera setelah aku mendorongnya, dindingnya berbalik dan terbuka.

Pintu tersembunyi !

Di balik pintu tersebut ada tangga.

Sekarang, karena sudah sampai sejauh ini, tidak ada waktu untuk ragu-ragu. Aku berlari menaiki tangga dengan momentum yang sama saat mendorong pintu tersembunyi.

Kemudian….

“Apaaaaaaa!?”

Gakun! Tiba-tiba terdengar suara, dan tangga itu berubah bentuk menjadi lereng.

Aku kehilangan pijakanku dan hampir terpeleset ke bwaah.

“Funu... Uwwwwooooo!”

Siapa takut kalau itu berubah jadi lereng! Jika itu mengarah ke lantai dua, aku bisa memanjatnya!

Aku menggunakan tangan dan kakiku untuk menahan badanku untuk tidak jatuh, dan memanjat lereng dengan paksa.

Aku yakin kalau Mea-san ada di atas sana! Oleh karena itu …. Mana sudi aku jatuh di sini!!

“Mea-saaaaaaaannnnnnnn!”

— Aku berhasil memanjatnya!

Di luar itu ada lorong pendek dan pintu geser! Tanpa ragu, aku bergegas masuk dan membuka pintu geser dengan sekuat tenaga.

“Mea-san!”

“……”

Sudah kuduga. Mea-san ada di sana.

Kamar bergaya jepang yang tenang, sesuai dengan eksterior dengan rumah besar ini.

Mea-san dengan cepat memalingkan wajahnya dariku seolah bersandar pada laci  yang diletakkan di sana.

“Haaa….haa.. Mea-san...kamu mendengarnya, ‘kan...?”

“…………”

“Jangan-jangan... orang yang membuka pintu gesernya juga adalah Mea-san...?”

“…………………”

“Ngomong-ngomong...  Aku datang untuk menjemputmu, Mea-san.”

“…………………………”

Napasku ngos-ngosan. Aku bahkan tidak memedulikan bagian badanku yang sakit.

“Ayo pulang!”

Aku memberitahunya dengan begitu jelas dan lantang.

“Aku mengerti kalau Mea-san merasa malu, tapi menurutku Mea-san yang begitu terlihat imut dan menggemaskan!”

“~~…..”

“Memang benar kalau hari ini, Mea-san mungkin tidak bisa melakukan sesuatu seperti Renjou-san dan Fuuga! Tapi, meski begitu, istriku adalah tetap Mea-san!”

Mea-san tidak menanggapi. Da tetap memalingkan wajahnya dariku.

Tapi—— Bukan berarti aku yang sudah susah payah datang kemari akan pulang dengan tangan kosong!

“Aku ingin terus hidup bersama Mea-san! Aku ingin lebih memahami dan mengenal Mea-san!”

“Ku... Kuuya, San...”

Akhirnya, ada tanggapan darinya meski dengan suara berbisik.

Hanya dengan mendapatkan respon kecil saja, seluruh tubuhku seakan dipenuhi dengan tenaga.

— Ini adalah kekuatan seorang pria dalam keadaan darurat.

— Aku bukanlah tipe pria yang suka berpura-pura. Bukanlah pria keren sama sekali ...

— Tapi, sekarang ini saja sudah cukup!

“Itulah sebabnya, Mea-san, lihatlah kemari!”

“...!!”

“Sekarang, yang harus kamu lakukan ialah melihatku dari dekat! Sedikit demi sedikit saja tidak masalah ... Ayo pergi bersama, Mea-san!!”

“──────”

Celinguk.

Mea-san melihat ke arahku saat dia berdiri, rambutnya berkibar-kibar di udara.

Wajahnya terlihat merah padam layaknya tomat matang.

Tapi seperti yang sudah kupinta, dia menatap lurus ke arahku──

“Me… memalukan, memalukan sekali… Kuuya-san…”

Aku balas mengangguk. Sambil menyadari wajahku yang memanas.

“Benar, aku juga merasa malu, tau!”

“……………… Fufufu”

“Haha……”

“... Kuuya-san!”

Gedebug!

“Ups ...”

Mea-san mendadak melompat ke dadaku. Aku mengerahkan semua kekuatan  ke dalam kakiku dan menangkapnya sebaik mungkin.

Aroma harum nan wangi yang menyebar. Sentuhan lembut yang kurasakan. Suhu hangat yang menjalar….

“Aku minta maaf ...!”

Dan kata-kata tersebut——aku menerima semuanya dengan benar.

“Menakjubkan sekali.”

Lalu, tiba-tiba…..

“…Eh?”

Tanpa kusadari, ada wanita aneh yang berdiri tepat di samping kami. Seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan Mea-san …….

Aku pernah melihatnya di upacara masuk ... dia adalah ibu Mea-san, kan?

“Menantu kita sudah menunjukkan perjuangannya sampai sejauh ini. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk melepaskan putrimu juga?”

“………………”

Dengan ekspresi getir di wajahnya, ayah mertua juga memasuki ruangan.

“Sudah kuduga, bola asap tadi adalah ulahmu ya, Nia. Berkat benda itu, aku tidak bisa mencegatnya lagi.”

“Bukannya kamu juga membuat jebakan dengan mengubah tangga tadi? Meski tampaknya hal itu tidak berhasil pada menantu kita.”

….walau aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ... apa Ibu mertua berusaha menggagalkan upaya Ayah mertua yang berusaha menghalangiku?

“Senang bertemu denganmu, Kuuya-san. Aku ibu Mea.”

“Se-Se-Se-Senang bertemu dengan anda juga, nama saya Nonomiya Kuuya…!”

“Sejak putriku memutuskan untuk menikahi seseorang ... aku takkan mengijinkan dia untuk memasuki gerbang pintu rumah ini lagi meski dia merengek ataupun menangis. Itulah harga diriku sebagai putri ninja dan seorang Ibu.”

“Ta-Tapi Nia...”

“Kamu juga harus diam. Bukannya kamu sudah berjanji dengan Touya-san? Dan sekarang kamu ingin mengingkarinya karena putrimu mengeluh tentang hal itu…. apa kamu masih pantas disebut kepala keluarga Chitose? Sungguh menyedihkan sekali.”

“…………………”

“Dan juga, Mea.”

“I... Iya, bu...”

“Seperti inilah yang namanya pernikahan. Kamu harus bahu-membahu dengan pria yang sudah kamu pilih. Tidak peduli seberapa malunya kamu ….”

Ibu mertua lalu menoleh ke arahku dan tersenyum.

“... Kuuya-san pasti akan berusaha menggapaimu dengan cara ini. Aku sendiri bahkan mengetahui hal itu, jadi jangan bilang kalau kamu belum mengetahuinya, oke?”

“... Ya. Iya, bu.”

Hiks, dan Mea-san membalas dengan sedikit sesenggukan.

“... Kuuya-san.”

Dia lalu menoleh ke arahku yang sedang mendekap Mea-san.

— Aku kembali tersadar. Aku mulai menyadarinya.

Selama ini, aku selalu berpikir kalau Mea-san jauh lebih dewasa daripada diriku …….

Aku masih berpikir kalau sebenarnya aku itu masih anak-anak …….

Cuma sedikit. Cuma beda 2 sentimeter.

…… ternyata aku jauh lebih tinggi dari Mea-san.

Aku merasa kalau seluruh tubuhku dipenuhi dengan kekuatan panas lagi.

“Um... Mea-san.”

“Maaf, Mea... memang gadis seperti ini...”

“Um …. um……”

“Meski begitu, apa kamu tetap mau menerimanya … sebagai istrimu?”

“Tentu saja!”

Aku langsung menjawabnya.

Tidak hanya itu saja …. Aku memeluknya erat-erat dengan tenaga yang memenuhi seluruh tubuhku.

Untuk petama kalinya. Atas inisiatifku sendiri.

“Ahh......”

Mea-san mengerang panas….

Dengan lembut dia melilitkan jari-jemarinya dengan tanganku.

Tidak...  itu salah.

Kami melilitkan jari-jari kami satu sama lain dan saling meremasnya.

— Gandengan tangan ala kekasih.

“..... Berhasil, aku bisa melakukannya.”

“Mea-san...”

“Fufufu...”

“…………… Hahahahahaha”

Wajah istriku masih terlihat merah cerah. Tapi dia menatap mataku, tersenyum lebar dan memanggilku.

“Danna-sama!” (TN : Danna-sama adalah panggilan tersopan seorang istri kepada suaminya)

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama