Downer-kei Gyaru Chapter 1 Bahasa Indonesia

Chapter 1 — Aku mengenal Yukikawa Tsukino

 

Bagiku, anime dan manga adalah bahan bakar untuk bertahan hidup.

Karya-karya yang telah aku kumpulkan selama ini tidak terhitung jumlahnya. Di apartemen satu kamar yang aku tinggali sejak masuk SMA, terdapat tumpukan yang bisa dibilang sebagai kristalisasi dari kehidupanku.

Kamar tersebut merupakan tempat suciku.

Sebuah kastil khusus yang dikelilingi oleh dinding rak buku, tempat yang istimewa dan tidak bisa diganggu oleh siapa pun.

────Nee, tolong ambilkan manga di sana dong.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa seorang gyaru terpopuler di kelasku akan sering datang ke rumahku.

 

◇◆◇

 

────Aku ingin cepat-cepat pulang.

Sudah seminggu telah berlalu sejak aku masuk SMA. Kelas 1-A yang baru saja menyelesaikan jam wali kelas sore ini, masih terlihat sangat ramai dan riuh meskipun sudah waktunya pulang.

Demi menghindari kehidupan sekolah yang kesepian, semua orang berusaha membentuk kelompok.

Sementara aku bersiap untuk pulang, mereka saling mempererat ikatan dan berusaha menjalani kehidupan SMA yang lebih baik.

Aku, Nagai Kentaro, tidak bisa beradaptasi dengan kelompok mana pun.

Tidak, lebih tepatnya, aku bahkan tidak berusaha untuk beradaptasi.

Penyataanku mungkin terdengar menyedihkan, tetapi aku tidak pandai bergaul. Ketika berada di tengah-tengah sekelompok orang, aku merasa sangat lelah.

Daripada mengamati ekspresi orang lain, lebih baik aku menggunakan waktuku untuk merenungkan karya-karya.

Hari ini aku harus membeli manga baru dan menonton anime yang aku rekam semalam.

Menjadi otaku ternyata adalah kehidupan yang cukup sibuk.

Aku segera menggantungkan tas di bahuku untuk pulang.

────Saat itulah hal tersebut terjadi.

Hei, karaoke terdekat yang paling murah di mana ya?

“Bukannya ada Big Mike di depan stasiun? Kalau masuk gratis, sepertinya jauh lebih murah.

Begitu... kalau begitu kita ke sana saja hari ini.

Aku mendengar percakapan seperti itu dari kursi di belakangku. Hanya dari suaranya saja, aku bisa mengetahui siapa yang sedang berbicara. Mereka adalah kelompok yang sudah mendapatkan pusat perhatian di kelas ini.

Belakangan ini, keinginan untuk berkaraoke semakin tinggi, ya~

Suara perempuan ini, yang terdengar manja, adalah suara dari Momoki Haruru.

Gadis gyaru dengan atribut ceria yang menyemir rambutnya menjadi merah muda terang, memanfaatkan kenyataan bahwa sekolah ini memiliki seragam dan kebebasan dalam warna rambut. 

“Paham banget. Ada kalanya kita ingin bernyanyi seperti orang konyol iya ‘kan~. 

Orang yang menjawab perkataan Momoki adalah Kijima Koichi. Ia adalah atlet tampan yang konon sudah berlatih di gym tinju sejak SMP, dan merupakan pria dengan aura yang sulit didekati. 

Tentu saja, itu hanya pandangan pribadiku, dan sepertinya ia memiliki banyak teman.  

──── Dan satu orang lagi. 

Di antara anggota utama, selain Momoki dan Kijima, ada seorang gadis yang bisa dibilang adalah tokoh sentral. 

“Nee~Nee~, Tsukino juga tidak keberatan kalau di sana, ‘kan?

Uh...? Ya, tidak masalah di mana saja.

Suara gadis yang dipanggil Tsukino itu terdengar lesu seperti biasa.

 

──── Yukikawa Tsukino.

 

Dia adalah sosok pemimpin di kelompok utama dan memegang hak keputusan akhir atas tindakan kelompok.  Mengapa dia memiliki kekuasaan sebesar itu? Karena dia memiliki kecantikan yang jauh di atas rata-rata untuk seorang pelajar SMA. 

Dengan payudara besar yang seakan-akan menunjukkan eksistensnya, pinggang yang ramping.  Kaki panjang yang menjulur dari rok pendek dan rambut perak yang berkilau. Ditambah dengan kulit putih bersih dan mata biru yang jernih ── semua itu seolah-olah seperti karakter dari dunia dua dimensi. 

Meskipun aku tidak mendengarnya secara langsung, tampaknya Yukikawa adalah seorang anak blasteran dan juga seorang pelajar yang baru kembali dari luar negeri. 

Rupanya keluarganya juga konon kaya. 

Ketika dunia yang dia tinggali erasa begitu berbeda, aku mulai merasa tidak memedulikannya lagi

Aku memandang Yukikawa dengan kesan yang sama seperti selebriti dan artis yang beraksi di layar. 

Baiklah! Kalau gitu kita sepakat untuk pergi ke Big Mike! 

Sepertinya pembicaraan mereka sudah mencapai kesepakatan. Entah bagaimana, aku mendengarkan sampai akhir dan bangkit dari kursi. 

Bohong rasanya jika aku bilang kalau aku tidak merasa iri pada mereka. Manusia pasti lebih baik jika memiliki teman untuk bergaul. Sendirian memang nyaman, tetapi aku tidak suka kesepian. 

Eh, kamu juga mau ikut? Kalau tidak salah, namamu Nagai, ‘kan? 

He?

Momoki tiba-tiba memanggilku, dan suara aneh keluar dari mulutku. 

He? Katanya, lucu banget. 

Aku sama sekali tidak mengerti apanya yang lucu, tetapi Momoki tampaknya tertawa.  Sepertinya aku sekarang diundang untuk bergabung dengan permainan kelompok utama. 

Tatapan anggota kelompok tertuju padaku. 

Namun, di antara mereka ada tatapan Mengapa dia mengajak bicara orang ini sih? yang jelas menunjukkan bahwa suasana tidak terlalu menyambut. 

Tatapan itu cukup menenangkanku, dan setelah sejenak, aku menenangkan hatiku yang hampir melambung. 

Maaf, aku ada urusan setelah ini ──

Ah, bagaimana kalau kita pergi bersama seluruh orang di kelas? Seperti acara pertemuan. Aku memang pintar!

……

Tidak ada jarak yang cukup dekat antara aku dan Momoki untuk bisa melakukan interupsi seperti itu. 

Ketika dia menyebut semua orang di kelas, bahu orang-orang di seluruh kelas tersentak sebagai tanggapan

Semua pasti ikut, kan?

Saat Momoki bertanya lagi ke seluruh orang di kelas, teman-teman sekelas mulai berkumpul. Aku yang berada di dekat anggota utama, terjebak dalam kerumunan tersebut dan tidak bisa bergerak. 

Kita juga boleh ikutan!?

Eh! Kami juga ingin ikut! 

Baiklah, sekitar tiga puluh orang, ya. Kira-kira apa aku bisa memesan tempatnya dulu? Ya sudah, aku akan mencoba menelepon dulu. 

Setelah berkata demikian, Momoki mulai menelepon dari ponselnya. 

Gawat nih, sepertinya semua orang sudah sepakat untuk pergi. Aku tidak menyangka kalau mereka ingin pergi karaoke dengan begitu banyak orang. 

──── Semua orang tampaknya berusaha keras untuk bergabung dengan kelompok utama... 

Meskipun aku memanggil mereka kelompok utama atas kehendakku sendiri, teman-teman sekelas yang lain juga memahami bahwa mereka berada di kasta yang lebih tinggi. 

Dalam hal penampilan dan hak suara, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. 

Semua orang pasti bermimpi untuk masuk ke kelompok utama. 

Setidaknya, tatapan mereka yang berkumpul karena panggilan Momoki sangat berusaha untuk mendekati mereka. 

Ah, aku berhasil memesan ruangan yang besar. Jadi, kita langsung menuju depan stasiun, ya?

Teman-teman sekelasku membawa barang-barang mereka dan berbondong-bondong keluar dari kelas. 

Suasana yang tidak memungkinkan untuk menolak ajakannya

Nee, Nagai. 

Eh?

Ketika aku berusaha mengikuti teman-teman sekelas, aku dipanggil dari belakang dan berbalik. Di sana berdiri pemimpin kelompok utama, Yukikawa Tsukino. 

Aku terdiam karena kejadian yang tidak terduga ini,. 

Kamu, jangan-jangan sebenarnya kamu tidak ingin ikut?

…Eh?

Kalau tidak, tidak apa-apa, tapi… aku hanya merasa begitu.

Yukikawa berkata demikian sambil menatap mataku

Kira-kira jawaban apa yang harus kukatakan padanya

Seandainya aku bisa memberikan jawaban yang lebih cerdas dalam situasi seperti ini. 

Haruru... ah, maksudku Momoki. Dia memang cukup memaksa. Kalau tidak suka, kamu harusnya bilang dengan tegas.

Yukikawa menunjukkan perhatian padaku. 

Meskipun dia terlihat dingin, mungkin dia memiliki sisi lembut yang lebih dari yang kuduga

…Tidak apa-apa, bukannya berarti aku tidak mau.

Begitu? Kalau begitu tidak masalah. 

Yukikawa memiringkan kepalanya dan berkata demikian sebelum meninggalkan kelas. 

Memang, sebelumnya aku berpikir untuk menolak ajakan ini. 

Namun, setelah melihat sisi Yukikawa yang tidak terduga, aku merasa sedikit tertarik padanya. 

Aku tidak mempunyai pemikiran lancang untuk ingin lebih dekat dengannya. Namun berkat dirinya, aku merasa bisa mencoba melakukan sesuatu yang berbeda untuk satu hari. 

Hanya itu saja.

 

◇◆◇

 

Tak lama kemudian keinginanku berubah menjadi penyesalan. 

Setelah kami tiba di karaoke, mikrofon diputar dari satu orang ke orang lainnya. 

Sekarang, aku yakin ── ya, Oda-kun sedang bernyanyi. 

Momoki dan yang lainnya yang mengatur acara ini pada awalnya bernyanyi dengan penuh semangat, tapi sekarang mereka sedang asyik ngobrol sambil bermain ponsel. Dari perilakunya, mereka sudah bosan dengan situasi ini. 

Beberapa orang mungkin ingin disukai oleh kelompok utama, jadi mereka memilih lagu-lagu yang menghibur. Namun, semua itu tidak berhasil. 

Mereka yang menyerah mulai membentuk kelompok dan menerima kenyataan sebagai kelompok dua atau tiga. 

Meskipun perkataanku tersebut cukup aneh karena aku sendiri belum melakukan tindakan apapun, tapi kupikir itu adalah keputusan yang bijak. 

Menghindari harapan yang terlalu tinggi yang sudah jelas menyakitkan adalah pilihan yang lebih aman. 

──── Kalau dipikir-pikir... Yukikawa juga tidak menyanyikan apa pun. 

Aku mengarahkan pandanganku ke arah Yukikawa yang sedang bermain ponsel. Pandanganku nyaris tertarik ke pahanya yang terekspos dan disilangkan, tapi aku paksakan diri untuk menahannya. 

Ekspresi Yukikawa tampak tidak terlalu bahagia. Mungkin alasan kenapa Yukikawa mendekatiku di kelas karena dia juga tidak ingin ikutan

──── Tidak, itu tidak mungkin. 

Sebagai pemimpin kelompok utama, dia tidak perlu terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. 

Dengan satu kalimat “Rasanya terlalu merepotkan, lebih baik tidak usah, dia bisa mengubah pendapat kelompok. 

…Eh, Nagai, selanjutnya giliranmu, ‘kan? 

“He?

Aku terkejut saat seseorang tiba-tiba memanggilku, dan aku mengalihkan perhatianku dari Yukikawa. 

Tanpa kusadari, Momoki sudah berdiri di depanku. Di tangannya ada perangkat untuk memasukkan lagu. 

“He? Katanya. Kamu ini beneran menarik, ya. 

“Menarik apanya...?

“Menarik ya menarik. Ayo, karena sekarang giliranmu, ayo cepat masukkan lagunya.

……

Aku menerima perangkat itu untuk sementara. Aku tidak tahu mengapa Momoki membawakan perangkat itu untukku, tetapi setelah menerimanya, aku tidak memiliki pilihan lain selain memasukkan lagu. 

Baiklah sekarang, kira-kira sebaiknya bagaimana, ya

Ketika Momoki menyerahkan perangkat itu kepadaku, perhatian anggota kelompok utama tertuju padaku. Rasanya seperti aku diminta untuk menunjukkan aksi komedi lucu. 

Namun, aku sudah memutuskan. Hari ini aku akan mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Jika tidak ada yang berubah, setidaknya aku bisa menerima kenyataan. 

“Hei, ayo cepatlah.”

Karena desakan Momoki, aku mencari lagu dengan terburu-buru

Sebenarnya, mengapa dia melihatku saat aku memasukkan lagu? 

Tak peduli seberapa sedang bosannya dia, kurasa tidak ada yang menarik untuk mengganggu orang yang introvert seperti diriku. 

──── Apa ini sudah cukup...? 

Setelah menemukan lagu yang kucari, aku mengirimkannya ke perangkat. 

“Bukannya itu lagu 'Abso'?!

Eh, kamu mengetahuinya? 

“Di zaman sekarang, mana mungkin ada orang yang tidak mengetahui Abso. ...Tapi, aku tidak tahu lagu yang dimasukkan Nagai sih.

'Absolut', disingkat Abso. 

Mereka adalah band rock Jepang yang sangat populer, bahkan tampil di acara musik akhir tahun, mereka benar-benar selebriti. Belakangan ini, mereka juga menyanyikan lagu tema untuk film blockbuster, semakin meningkatkan popularitas mereka. 

Aku memasukkan lagu mereka, tetapi mungkin tidak ada yang tahu lagu ini di sini. Lagu ini dianggap sebagai sejarah kelam Abso, lagu dalam anime 'Twenty Nights'. 

Sekilas, Anime ini mungkin tampak berat karena bercerita tentang dua puluh kesatria yang saling membunuh hingga tersisa satu. 

Namun, beratnya hanya di luar, sebenarnya karakter-karakter di dalamnya tidak memiliki kedalaman emosional dan mati tanpa makna, anime dengan ulasan yang jelek

Kemungkinan orang biasa tahu tentangnya sangat rendah karena tidak mendapat penilaian dari masyarakat. 

Sepertinya Abso juga menganggap memberikan lagu untuk anime ini sebagai sejarah kelam, sehingga lagu ini tidak pernah dinyanyikan dalam konser dan tidak dimasukkan dalam album. 

──── Sebaliknya, cuma ini satu-satunya lagu Abso yang aku tahu... 

Seperti layaknya seorang otaku, daftar lagu-laguku dipenuhi dengan lagu anime. 

Namun, menyanyikan lagu yang benar-benar lagu anime membuatku merasa ragu, dan akhirnya tersisa lagu ini. 

──── Jika aku menyelesaikan lagu ini, target tercapai... jika aku menyelesaikan lagu ini, target tercapai...! 

Aku terus mengingatkan diriku sendiri. 

Aku mengosongkan pikiran dan menyanyikan lagu itu dengan tenang

Suara nyanyianku mungkin tidak terlalu baik, tetapi entah kenapa, hanya Yukikawa dan Momoki yang mendengarkan hingga akhir tanpa bermain ponsel.

 

◇◆◇

 

──── Hm, lagu yang bagus.

Setelah mengucapkan itu, Momoki mengambil perangkat dariku dan kembali ke tempat duduknya. 

Entah bagaimana aku berhasil melewati giliranku, tetapi jujur saja, hal itu justru membuatku semakin tidak nyaman.  Karena aku terlibat dengan gadis-gadis kelompok utama, aku mendapat tatapan curiga dari kelompok dua dan tiga.

Ada orang yang jelas-jelas lebih tidak menarik daripada kami, tetapi mendapat perhatian dari anggota utama. 

Bagi mereka, hal itu pasti tidak menyenangkan. 

──── Mendingan pulang saja kali ya

Aku mencoba melakukan sesuatu yang tidak biasa, tetapi kenyataannya tidak ada yang berubah. Aku berharap bisa mendapatkan sedikit keberanian untuk berbicara, tetapi kenyataannya tidak demikian. 

Ini memang tidak bisa dihindari. Harapanku dari awal memang sudah tipis. 

Aku berdiri dari tempat dudukku dan menuju ke arah Momoki. 

Maaf, aku ada urusan, jadi aku mau pulang duluan. 

Ah, serius?

Ketika aku memanggil Momoki yang sedang mengobrol dengan anggota utama, dia mengalihkan pandangannya ke arah Kijima. 

“Kijima, berapa biaya per orang hari ini?

Ah, untuk waktu bebas, biayanya seribu dua ratus yen per orang.

Baiklah. Nagai, maaf, bisakah kamu meninggalkan seribu dua ratus yen?

Aku mengangguk dan meletakkan seribu dua ratus yen yang aku ambil dari dompet di atas meja. 

Terima kasih. Sampai jumpa di sekolah.

Ya, sampai jumpa di sekolah.

Setelah mengucapkan itu, aku buru-buru keluar dari karaoke. 

Aku berjalan cepat menuju stasiun dan menunggu kereta di peron. Entah mengapa, aku merasa sangat lelah. Apa sebenarnya tujuan Momoki begitu mempedulikanku

Jika dia ingin bermain-main dengan orang introvert, mungkin aku bisa memahami. 

──── Pada akhirnya, orang tidak bisa berubah dengan mudah, huh... 

Padahal aku berpikir bahwa ini merupakan kesempatan baik, tetapi aku justru melarikan diri dari ketidaknyamanan dan berencana pulang sendirian. 

Sungguh menyedihkan. Jika ditanya apa aku ingin memiliki teman meskipun harus melewati penderitaan ini, jawabannya adalah tidak. 

Haah...

Aku duduk di bangku peron dan menengadah ke langit. Seandainya aku bisa hidup tanpa mengandalkan kekuatan siapa pun dan tanpa bergantung pada siapa pun, aku tidak akan menderita seperti ini. 

Aku semakin merasa tidak suka pada diriku sendiri yang berpikir demikian. 

Dalam suasana hati yang murung, aku teringat sebuah kalimat dari 'Twenty nights'. 

Semoga saja besok tidak pernah datang. 

──── Itu kalimat yang bagus. 

Ah, cuma itu satu-satunya kalimat yang benar-benar bagus... eh?

Aku mendengar suara yang seharusnya tidak terdengar, dan tanpa sadar berdiri dari bangku. 

Di sana, ada Yukikawa Tsukino dengan napas terengah-engah dan pipi yang memerah.  

Haah... akhirnya aku berhasil mengejarmu. Kamu berjalan terlalu cepat. 

“Ka-Kamu mengejarku...? Apa aku meninggalkan sesuatu...?

Bukan itu. Aku hanya ingin berbicara denganmu, jadi aku mengejarmu.

Berbicara denganku...?

Apa-apaan dengan ekspresi wajahmu yang tidak percaya itu?

Tidak, karena aku dan Yukikawa tidak punya hubungan sama sekali.

Tapi kita baru saja membuat hubungan.

…?

Kamu mengetahui tentang 'Twenty nights', kan? 

Ketika mendengar kata-kata itu, aku terkejut dan membuka mata lebar-lebar. 

Aku terkejut. Karena aku tidak pernah menyangka kalau nama itu keluar dari mulut Yukikawa. 

Seperti yang sudah kubilang berkali-kali, 'Twenty nights' adalah anime yang sangat tidak populer

Ini adalah anime yang cukup tua, dan kemungkinan siswa SMA mengetahuinya hampir tidak ada. Apalagi, aku tidak pernah membayangkan seorang gyaru seperti Yukikawa bisa mengetahui tentang hal itu

Aku menyukai 'Twentynights'. Jadi... aku ingin berbicara denganmu yang sepertinya tahu tentang itu.

…Serius?”

“Maukah kamu berbicara denganku sebentar saja?

Aku terlalu terkejut dengan kejadian ini hingga tanpa sadar mengangguk. 

Sejak hari itu... kehidupanku perlahan-lahan bergerak ke arah yang tak terduga────.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama