Chapter 9 — Mengakhiri Ratapan Masa Lalu
Pada suatu
hari, saat liburan musim semi hampir berakhir.
Setelah
menyelesaikan pekerjaan rumah setelah makan malam, Amane kembali ke ruang tamu
dan disambut oleh Mahiru yang tampak tegang, memanggilnya dengan nada serius, “Amane-kun.”
Tidak ada
yang aneh dengan Mahiru yang memanggil
namanya, tapi nada suaranya yang terkesan tegang dan ragu membuat Amane merasa
ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
(Apa aku melakukan sesuatu yang salah?)
Setahun
yang lalu mungkin berbeda, tapi sekarang Amane sudah bisa mengurus pekerjaan
rumah dan menjaga kebersihan dengan baik. Hal yang bisa membuat Mahiru
memperingatkannya mungkin hanya makan telur terlalu banyak, dan dirinya tidak ingat telah
mengonsumsinya secara berlebihan baru-baru ini.
Jadi, Amane
tidak merasa telah melakukan kesalahan, dan ia tidak bisa merasakan emosi semacam itu dari Mahiru.
“Ya,
ada apa?”
“Besok
tidak ada kerja paruh waktu, ‘kan?”
Saat
Mahiru bertanya seperti itu, biasanya dia ingin mengajak pergi. Namun, melihat cara bicara dan
ekspresi Mahiru, sepertinya bukan itu yang ingin dia
lakukan.
“Besok aku
memang senggang. Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat atau
ada urusan yang ingin kamu lakukan?”
“Aku
sangat menghargainya karena langsung
membahasnya. Sebenarnya, jika kamu memiliki waktu dan tidak keberatan sih.”
“Memangnya
ada sesuatu yang tidak kutururi jika diajak Mahiru?”
“Jika
ada janji sebelumnya sih, ya.”
“Oh,
itu sih di luar soal
keberatan atau tidak. Selain itu, aku akan pergi ke mana pun jika kamu yang mengajakku, Mahiru.”
Tidak peduli
seberapa besar Amane memprioritaskan Mahiru, jika ada janji
sebelumnya, sudah sewajarnya ia akan menepati janji
tersebut. Tidak adil jika mengubah rencana hanya untuk
kepentingan pribadi.
Sebaliknya,
jika tidak ada janji sebelumnya, Amane biasanya akan memprioritaskan ajakan
Mahiru.
“Fufu,
baiklah, aku ingin mempercayai ucapan ajakan
'ke mana saja' dan pergi keluar bersamamu, bolehkan?”
“Tentu
saja.”
Meskipun sedang liburan musim semi, Amane sering melakukan pekerjaan paruh waktu,
jadi jarang sekali ada hari
yang benar-benar kosong. Memang benar bahwa dirinya
telah membuat Mahiru merasa kesepian, jadi jika Mahiru memiliki harapan untuk
pergi ke suatu tempat, Amane akan menurutinya.
“Kamu ingin pergi ke mana?”
“Ada sebuah tempat yang ingin kukunjungi. Sulit untuk dijelaskan, dan mungkin agak jauh, apa kamu baik-baik saja dengan itu?”
“Tentu saja.”
“Kamu
kelihatan sangat santai.”
“Tentu saja aku merasa senang, karena aku
akan pergi denganmu, Mahiru.”
“Mou!”
Tentu
saja, Amane senang jika diundang, Atau lebih tepatnya, Amane senang apa yang ingin dilakukan Mahiru. Dia
biasanya senang ke mana saja mereka pergi
dan cenderung gadis yang jarang keluar,
jadi mendengar harapannya dengan jelas seperti ini cukup berharga.
“Itu
mungkin bukan tempat yang terlalu menarik, atau lebih
tepatnya, mungkin tempat yang tidak
terlalu menyenangkan bagiku.”
“…Kamu
berniat ke mana?”
Permintaan Mahiru
tampak kontradiktif: meskipun dia mengatakan ingin
pergi, dia tampak tidak terlalu antusias dan tidak terlihat bersemangat, jadi Amane
hanya bisa mengernyitkan dahi, tetapi Mahiru hanya tersenyum samar.
“Itu
rahasia. Tapi, aku merasa ingin pergi ke sana.”
“Baiklah,
aku mengerti.”
Amane
tidak bisa membayangkan tujuan yang dimaksud, tapi dirinya yakin Mahiru memiliki alasannya
sendiri, jadi ia tidak bertanya lebih jauh dan hanya mengangguk. Mahiru pun tampak
lega dan tersenyum.
•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•
Pada hari
yang direncanakan, Mahiru mengunjungi rumah Amane dengan pakaian yang
biasa saja, bukan pakaian khusus untuk pergi. Dari sini, Amane bisa
menyimpulkan bahwa mereka takkan pergi ke tempat yang terlalu modis atau
ramai.
Ekspresinya
hanya menunjukkan sedikit rasa gugup. Walaupun Amane tidak tahu ke mana tujuan mereka,
tapi mungkin itu adalah tempat yang membutuhkan keberanian bagi Mahiru.
Ekspresinya
seketika melunak begitu dia menatap wajah Amane,
menunjukkan bahwa itu bukanlah masalah yang terlalu mengganggu.
“Jadi aku
hanya perlu mengikuti Mahiru, ya?”
“Ya,
benar. Serahkan saja padaku. ...Tapi, karena kita akan berjalan cukup jauh dari
stasiun, mohon maaf jika kita tersesat, ya?”
“Yah,
jika itu yang terjadi, kita bisa berjalan-jalan dengan santai.”
“Hehe.
Itu benar.”
Amane
tidak tahu tujuan dan maksud dari perjalanan ini, dan sepertinya Mahiru tidak
berniat untuk memberitahunya sampai mereka tiba. Ia
berusaha untuk mengurangi ketegangan Mahiru dengan bersikap santai, dan
tampaknya Mahiru menyadari niatnya dan ikut berperan.
Amane merasa
lega karena sepertinya dia tidak dalam keadaan sangat tegang
dan mengikuti Mahiru keluar dari rumah.
Tempat
yang ingin dikunjungi Mahiru tampaknya cukup jauh dari daerah tempat tinggal Amane,
dan memakan waktu lebih dari satu jam dengan kereta.
Karena Amane
tidak terlalu familiar dengan geografi di luar sekitar apartemennya dan tidak tahu ke mana mereka
akan pergi, jadi dirinya patuh
mengikuti Mahiru.
Amane
menganggap kalau perjalanan dengan kereta itu tidak terlalu buruk, dan menyadari bahwa melihat pemandangan baru merupakan salah satu kesenangan, meskipun
Mahiru tetap menunjukkan sedikit ketegangan di wajahnya. Sambil berbincang santai dan
menikmati pemandangan dari jendela kereta, mereka turun di stasiun yang sama
sekali tidak dikenal.
Jika itu stasiun yang dekat pusat perbelanjaan kota, Amane akan berpikir bahwa
mereka sedang bersenang-senang, tapi stasiun yang mereka turuni lebih dekat
dengan daerah perumahan.
Stasiun
itu tidak terlalu besar, dan pusat perbelanjaan berada beberapa stasiun lagi,
tetapi daerah itu cukup tenang dan nyaman untuk ditinggali. Meskipun Mahiru mengatakan dia
mungkin tersesat, tapi dia mulai
berjalan lurus ke depan menuju tujuan yang jelas tanpa melihat peta.
Amane
mengikuti di belakangnya, dan dirinya memperhatikan
kalau di sekitar stasiun ada banyak toko seperti
supermarket, toko barang, dan toko roti, tetapi perlahan-lahan mereka memasuki
daerah yang dipenuhi rumah-rumah dan apartemen.
Mahiru
menuju ke suatu tempat. Setelah
berjalan beberapa saat, Mahiru berhenti di depan sebuah apartemen.
Apartemen
itu memiliki tampilan yang lebih bersih dibandingkan yang lain dan tidak
terlalu tinggi, tapi terlihat mewah dengan area bundaran
dan pintu masuk yang besar, jadi sepertinya ini adalah tempat yang dihuni oleh
keluarga yang cukup kaya.
Di depan
dinding luar yang mengelilingi area tersebut, Mahiru berhenti.
“Kita
sudah sampai.”
“Sudah sampai?”
“Ya.”
Mahiru balas
mengangguk dengan ringan, tetapi jelas ini hanya sebuah apartemen.
Amane
berpikir mungkin dia ingin memperkenalkan seseorang, tetapi satu-satunya orang
yang terlintas di pikirannya, Koyuki, bukanlah alamat di sekitar sini saat
mereka mengirim barang. Bahkan, dari provinsinya saja sudah berbeda, jadi itu
bukan tempat tingal Koyuki.
Sebenarnya,
jika tujuan mereka adalah tempat tinggal
Koyuki, suasana hati Mahiru yang kelihatan tegang
tak bisa dijelaskan.
Lalu,
untuk apa dia datang jauh-jauh dari tempat yang jauh?
“Ini gedung apartemen, ‘kan?”
“Ya.”
“Apa
ini tujuan kita?”
“Benar.
Atau lebih tepatnya, kita akan ke penthouse
yang ada di sini.”
Sepertinya
Mahiru bisa membaca kebingungan Amane mengenai
apa itu penthouse dan mulai menjelaskannya, “Itu adalah rumah kecil yang
biasanya ada di atap, seperti yang sering muncul di drama-drama,”.
Walau Amane mengangguk, tapi dirinya masih
tetap tidak mengerti.
Mungkin hal itu tampak jelas di wajahnya,
karena Mahiru tersenyum kecut dan
melihat ke atas ke arah puncak gedung apartemen.
“Di sinilah
tempat di mana aku pernah tinggal.”
“Eh,” balas Amane tanpa sadar, dan dirinya
pun menengadah mengikuti tatapan Mahiru ke arah apartemen.
Jika
Mahiru pernah tinggal di sini, berarti gedung apartemen
ini sudah berusia sekitar sepuluh tahun, tapi tampilannya
masih tetap terlihat baru dan terawat dengan baik. Dari
keberadaan petugas keamanan di luar, Amane bisa menyimpulkan bahwa ini adalah
properti yang cukup baik.
“Penthouse
di lantai paling atas ini adalah rumahku.
Meskipun sebenarnya kami tidak terlalu menggunakannya.”
Dia
mengatakan sesuatu yang mengejutkan, tapi berdasarkan pertemuan sebelumnya, Amane
merasa bahwa Sayo dan Asahi mungkin memiliki kekuatan finansial yang cukup
untuk itu, jadi itu bukan hal yang aneh.
Tampaknya
wajar jika seseorang terkadang ingin melihat tempat di mana mereka pernah
tinggal, jadi jika memang begitulah
tujuan kunjungan kali ini,
Amane bisa sedikit memahaminya. Namun, mengapa Mahiru tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi
tempat ini?
Sebelum Amane
bisa bertanya, Mahiru tersenyum canggung padanya dan menarik tangannya untuk
melewati gerbang.
Amane
merasa mungkin tidak baik untuk masuk tanpa izin, tapi Mahiru seolah-olah bisa
membaca pikirannya, “Ini bukan
pelanggaran, kok. Aku punya
hak untuk masuk,” katanya
sambil menggerakkan kunci yang sudah dia pegang.
Sambil
mengabaikan kebingungan Amane, Mahiru membuka kunci pintu
otomatis di pintu masuk dan dengan mudah melewati pemeriksaan di jendela ruang
pengelola, lalu membuka kunci pintu yang tampaknya adalah pintu menuju
apartemen, tapi yang menyambut mereka berdua
adalah lorong.
Di ujung lorong tersebut terdapat lift
yang berdiri megah.
Itu bukan lift biasa yang digunakan
oleh penghuni biasa, tapi jelas-jelas
lift khusus. Dengan menggunakan kunci kartu non-kontak yang berbeda dari kunci
pertama, Mahiru tampaknya sangat familiar dengan keamanan di sini.
Tanpa
ragu, Mahiru membuka kunci dan mengundang Amane untuk masuk. Tampaknya dia sudah terbiasa
dengan semua ini, mungkin karena dia tinggal di sini sampai dia menjadi seorang
pelajar SMA.
Petugas
pengelola tidak menunjukkan tanda-tanda curiga sama
sekali, mungkin mereka sudah saling mengenal.
Lift yang
hanya memiliki tombol untuk lantai satu dan lantai tertinggi itu tanpa berhenti
langsung menuju lantai atas. Ketika
pintu lift terbuka, mereka disambut oleh sebuah pintu masuk yang luas.
Tempat tersebut tampak sangat bersih, tidak ada
debu atau bangkai serangga, dan sepertinya sudah lama tidak dihuni, jadi tidak
ada bau khas yang biasanya ada di properti yang kosong. Ini benar-benar rumah
yang terawat dengan baik, seolah-olah ada orang yang tinggal di dalamnya.
“Senang
melihat bahwa tempat ini dikelola dengan baik. Yah,
meskipun mungkin itu hal yang wajar, karena orang-orang di sini
tidak akan membiarkan hal-hal yang sembarangan terjadi.”
Sambil
bergumam demikian, Mahiru mengeluarkan sandal dari
lemari sepatu dan meletakkannya dengan lembut di atas karpet pintu masuk. Itu
berarti mereka diizinkan untuk masuk.
Amane dengan
hati-hati mengenakan
sandalnya dan mengikuti Mahiru, dan seperti yang diharapkan, ruang yang luas terbentang di
depan mereka. Meskipun Mahiru tidak tinggal di sini lagi, tidak ada perabotan
yang dihilangkan, dan tempat ini benar-benar dalam kondisi siap huni.
“Tempat ini
adalah salah satu properti orang-orang itu. Mereka memberi kunci dan mengatakan
untuk digunakan sesuka hati, dan sekarang hanya dikelola dan dibersihkan agar
tetap bersih.”
“Meski
mungkin saja orang-orang itu masih datang sesekali,” kata
Mahiru sambil menyebutkan alasan mengapa tempat ini dikelola, sambil
menyipitkan matanya dengan nostalgia dan menyentuh meja makan dengan jarinya.
Memang, tidak ada jejak debu di sana.
“Inilah
tempat di mana aku tinggal cukup lama. Meskipun, aku tidak memiliki banyak
kenangan besar di sini.”
“…Di
rumah seluas ini, sendirian?”
“Rumah ini memang
luas, ya ‘kan? Aku merasa
kagum Koyuki-san bisa merawatnya. Yah, meski
dibilang luas, aku hanya menggunakan sebagian kecil dari rumah ini. Aku hanya
masuk ke ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan kamar tidurku. Ruangan lainnya
hanya digunakan oleh orang-orang itu yang jarang datang untuk tidur atau
bekerja.”
Mahiru
mengalihkan pandangannya ke arah lorong dan melihat pintu-pintu di dinding dari
kejauhan, tetapi tidak ada yang tampak familiar.
Kemudian,
dia mengarahkan kembali pandangannya ke dapur yang terletak di dekat meja makan
yang terlihat bersih meskipun sedikit tua, dan dia menyipitkan matanya dengan
penuh kasih saat mengelusnya kembali.
“Dulu, aku sering menunggu Koyuki-san memasak
sambil belajar di sini. Selama
dia membersihkan, aku sering berada di ruang tamu, jadi ingatanku kebanyakan
tentang ruang tamu.”
“…Jadi kenangan bersama Koyuki-san tumbuh
di sini, ya.”
“Benar.
…Kenangan bersama Koyuki-san hanya di sini. Dia adalah orang yang sebisa
mungkin menghindari campur tangan dalam kehidupan pribadiku karena
pekerjaannya.”
Namun,
Koyuki pasti sangat menyayangi
Mahiru layaknya putrinya sendiri. Jika tidak, Mahiru tidak akan
begitu mengagumi Koyuki, dan dia juga tidak akan tersenyum dengan nostalgia
seperti ini sekarang.
Amane
tidak tahu seberapa banyak waktu yang dihabiskan
Koyuki bersama Mahiru,
tapi pasti kasih sayang Koyuki
yang tulus telah menghangatkan hati Mahiru yang dingin. Baik sebelum maupun
setelah bertemu Amane, kehangatan itu masih
tetap ada.
Amane
merasa bersyukur bahwa Koyuki ada di samping Mahiru saat dia masih kecil,
sambil mengamati wajah Mahiru yang mengenang masa lalu.
“Apa
yang membuatmu ingin datang ke sini?”
Menyelami
kenangan adalah hal yang wajar dan bukan hal yang aneh, tetapi yang menjadi
pertanyaan Amane adalah mengapa Mahiru berpikir untuk datang ke sini.
Jika
Koyuki melakukan sesuatu, dia biasanya
akan berbagi informasi dengan Amane karena itu
menyangkut Mahiru, tetapi kali ini dirinya tidak mendengar apa pun. Tanpa
adanya pemicu tertentu, Mahiru takkan datang jauh-jauh ke tempat ini.
“Jika
kamu bertanya seperti itu, aku merasa sedikit kesulitan. …Baru-baru ini, kamu
berbicara dengan orang-orang itu ‘kan, Amane-kun?”
“…Iya.”
“Pada saat
itu, aku kembali berpikir bahwa terus-menerus menghindari masa lalu dan melarikan
diri tidak baik untuk hatiku.”
Mahiru
mengungkapkan itu dengan ketenangan yang jauh lebih baik dibandingkan hari itu,
setelah melihat sekeliling dengan pandangan ragu, dia menundukkan kepala.
“Saat
itu, aku menyerahkan semuanya kepadamu, Amane-kun.”
“Itu
karena hati Mahiru belum cukup tenang untuk
menghadapi semuanya.”
“Mungkin memang
begitu, tapi kenyataan bahwa aku tidak bisa menghadapi itu tetap ada dalam diriku.”
Mahiru
dengan tenang menanggapi perkataan Amane yang
tidak bisa dikatakan sebagai penolakan atau persetujuan, sambil menarik kursi
di meja makan dengan lembut.
Dia tidak
duduk di kursi tersebut, melainkan menatap kursi itu seolah-olah ada seseorang di sana tanpa adanya rasa takut atau panik. Hanya ada ketenangan di sorot matanya.
“Saat
itu, mungkin itu pilihan
yang terbaik. Namun, kenyataannya, hal itu tidak bisa terus berlanjut.”
Mahiru
yang pada hari itu tampak goyah karena kejadian dengan Satoshi sehari
sebelumnya berusaha untuk tidak menunjukkan kontak dengan Sayo di depan umum,
tetapi dia tetap menunjukkan reaksi penolakan.
Jika Amane
tidak ada bersamanya, Mahiru
pasti akan pingsan tak berdaya,
dia tampak begitu rapuh.
“Tidak
ada yang bisa menjamin kami tidak
akan pernah bertemu lagi. Saat melanjutkan pendidikan
atau mencari pekerjaan, keberadaan orang tua kadang diperlukan, dan mungkin ada
saat-saat tertentu ketika kami
harus bertemu. Tidak ada jaminan bahwa kami
takkan bertemu. Sama halnya seperti Satoshi-kun
yang tidak akan pernah kita temui jika tidak ada kejadian tertentu, kami mungkin akan bertemu karena
suatu alasan.”
Awalnya,
Satoshi dan Mahiru seharusnya tidak pernah ditakdirkan
untuk bertemu.
Mahiru bisa melanjutkan kehidupan sehari-harinya seraya mengabaikan
keberadaan Satoshi dan hanya menyimpan informasi bahwa Sayo memiliki anak dari
selingkuhannya, sementara Satoshi menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bahagia tanpa mengetahui
tentang keberadaan Mahiru.
Pertemuan
mereka berdua terjadi karena takdir yang kejam, tetapi tidak ada jaminan bahwa
takdir tidak akan mempermainkan mereka lagi di masa depan. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa
mereka tidak akan terjerat dalam hubungan yang tidak perlu.
Sayo sepertinya tidak berniat
mengganggu kehidupan Mahiru
dengan cara yang jelas, tetapi bagi Mahiru, dia tidak tahu kapan dirinya akan bertemu Sayo atau apa
yang akan dilakukannya, hanya ada ketakutan
yang terukir di benaknya. Itu pasti sangat menyiksa.
Jika
terus-menerus menjalani kehidupan sambil diliputi
ketakutan, tidak ada salahnya untuk menghadapi kenyataan.
Namun, Amane juga tidak menyangka bahwa Mahiru akan membuat keputusan secepat
ini.
“Jika
aku tidak menghadapinya, aku akan selalu tetap lemah. Hanya menunggu badai
berlalu saat situasi tidak menguntungkan, bersikap pasif dan negatif, menjadi
pengecut. ...Apa yang dia katakan juga
benar.”
“…Kurasa cara orang itu
mengatakannya bisa dipertanyakan.”
“Hehe,
itu benar, tapi memang begitulah kepribadiannya.”
Mahiru
tampaknya menyadari bahwa cara bicara
Sayo terlalu kasar, dan dia tersenyum masam, tapi tidak ada tanda-tanda ketakutan di raut wajahnya.
“Dia selalu
mengatakan sesuatu yang menyakitkan. ...Tapi, dia tidak pernah
mengatakan sesuatu yang tidak dia maksudkan. Dan matanya selalu tajam.”
Mahiru
menyipitkan matanya seolah mengingat sesuatu yang jauh, bukan dalam arti fisik, melainkan seolah-olah mengingat waktu yang
tidak terukur. Amane tahu
bahwa ada banyak interaksi antara Mahiru dan Sayo yang tidak diketahuinya.
Sayo
memiliki kepribadian yang
sangat keras, tapi dia bukan tipe orang yang suka menyakiti orang lain.
Meskipun tidak diragukan lagi kalau dia sudah
menyebabkan banyak luka pada Mahiru di masa lalu, tapi
dia berbicara dengan jujur dan kadang-kadang menyisipkan cara yang lebih dewasa
dalam percakapannya.
Amane juga
mengakui bahwa cara Sayo berinteraksi dengan Mahiru memang tidak wajar, tapi Sayo mengatakan
dia takkan mengganggu Mahiru lagi dan akan mengawasinya dengan kata-kata yang
sedikit menyimpang, jadi Amane hanya berniat untuk mengamati perubahan perasaan
Mahiru terhadap Sayo.
“Pada
akhirnya, aku adalah orang yang pengecut dan lemah.
Orang licik yang berpura-pura lemah untuk mendapatkan perlindungan. Dan orang
bodoh yang tanpa sadar mencoba menyembunyikan rasa pengecut itu dengan
berpura-pura tidak melihatnya. Kurasa dia juga menyadari itu.”
“…Bukannya itu terlalu menghina dirimu sendiri?”
“Tapi begitulah kenyataannya. Aku tidak sekuat dirinya, dan aku tidak bisa menjadi
kuat. ...Aku merasa bahwa aku adalah wanita yang menyebalkan.”
“Aku....”
“Aku
tahu bahwa Amane-kun
tidak menganggapku wanita yang jahat, dan bahkan jika aku memang begitu, aku
tahu kamu masih mencintaiku.”
“Aku
berharap kamu tidak mencuri kata-kataku.”
“Fufu,
aku telah menghabiskan banyak waktu bersamamu, Amane-kun, jadi aku
bisa mengerti hal-hal seperti ini. ...sungguh, kamu
harus menyadari bahwa kamu adalah orang yang sangat berharga bagiku, oke?”
Mahiru
tampaknya sangat memahami cara berpikir Amane dan mengambil langkah lebih dulu,
sehingga ketika Amane menutup bibirnya dengan cemberut, Mahiru tertawa melihat reaksi Amane yang tampak lucu.
“Selain
itu, aku tidak sesedih yang
kamu kira, Aman-kun. Aku
datang ke sini untuk merampungkan perasaan dan
pikiranku.”
Sambil
mengatakan itu, Mahiru menatap ruang makan yang memiliki satu ruang kecil yang
cukup untuk seorang anak duduk.
“Sebelum
bertemu Amane-kun, rumah
ini yang tanpa Koyuki-san terasa menyesakkan dan
sangat sepi, tetapi sekarang, aku menyadari bahwa aku tidak merasa seperti itu
lagi.”
Koyuki
tidak selalu berada di
rumah ini selama masa SMP, tampaknya dia berhenti bekerja karena masalah
punggungnya, meninggalkan Mahiru
sendirian di rumah ini.
Dia
berbicara tentang kenangan yang mungkin tidak menyenangkan itu seolah-olah itu
hal yang biasa.
“Aku
ingin bisa berpikir bahwa hal-hal menyakitkan yang terjadi di rumah ini sudah menjadi masa lalu, dan
tidak akan membayangi kehidupanku
saat ini.”
“…Bagaimana
dengan sekarang?”
“Aku
baik-baik saja. Bahkan ketika aku mengingatnya, tidak ada rasa sakit di hatiku.
Meskipun ada sedikit kesedihan. Tetapi aku juga menyadari bahwa kenanganku bersama Koyuki-san jauh lebih kuat.”
Bagi
Mahiru, waktu yang dia habiskan bersama Koyuki telah menjaga kehangatan di
dalam dirinya dari kesepian yang menumpuk.
“Aku
sedikit takut untuk datang ke sini, tetapi…aku ingin bisa menghadapi semuanya ketika aku bertemu dengannya lagi,
jadi aku ingin menetapkan batasan. Lagipula, tempat
ini adalah simbol dari rasa sakitku. …Selain itu, kupikir dengan datang bersama Amane-kun ke tempat
di mana aku dulu sendirian, aku mungkin bisa menemukan sedikit penghiburan
untuk diriku di masa lalu.”
“…Apa menurutmu sendiri, apa kamu sudah mendapat penghiburan?”
“Aku
sangat yakin bahwa apa yang dikatakan
Koyuki-san saat itu benar sekali. Bahwa suatu hari nanti akan ada
seseorang yang melihatku apa adanya. ...Lihat, itulah sebabnya aku membawanya ke sini. Untuk
menunjukkannya kepada diriku yang lebih muda.”
Meskipun
tidak ada siapapun di sana,
Mahiru mendorong Amane ke arah tempat yang dulunya ada seseorang. Tempat yang
dingin dan tidak ada kehangatan, tetapi anehnya tidak terasa kosong.
“Aku penasaran, apa dia merasa bahagia?”
“Setidaknya,
aku sangat gembira sekarang.”
Mahiru
menunjukkan kepada Amane seolah-olah dia memperkenalkan pacar yang luar biasa
kepada orang tuanya, dan Amane pun tersenyum kecil sambil menggenggam tangan
Mahiru.
Tangan
Mahiru yang sedikit dingin segera kembali hangat saat Amane menggenggamnya.
“…Sungguh,
semua usaha ini memang sepadan,
ya? Aku berusaha keras agar kamu mau menoleh padaku.”
“Maaf
telah merepotkanmu saat itu…”
“Memang
benar, hehe.”
Amane
menyadari kelemahannya sendiri dan
merasa yakin kalau dirinya tidak
pantas untuk Mahiru, dirinya ingin
terus menikmati hubungan yang nyaman ini, sehingga ia berpura-pura tidak menyadarinya.
Akibatnya,
upaya menggemaskan Mahiru untuk menarik perhatiannya semakin intensif, yang
tampaknya menyebabkan kecemasan yang cukup besar baginya.
“Yah,
kurasa berkat usaha Mahiru, kamu tidak hanya merebut perutku
tetapi juga hatiku. Aku juga bekerja keras untuk menjadi layak bagi Mahiru.”
“Hehe,
hebat, hebat.”
“Mahiru
juga hebat.”
“Jangan
mengacak-acak rambutku, ya. Ei, ei.”
Mahiru
tampak tidak senang karena gaya rambutnya berantakan setelah kepalanya dielus,
dan dia meraih kepala Amane sebagai balasannya.
Secara
fisik, Amane bisa dengan mudah menghentikannya, tapi ia memutuskan untuk
menyerahkan kepalanya kepada Mahiru dan membiarkannya berbuat sesuka hatinya.
Mahiru
tampak puas dengan sikap Amane yang membiarkan dirinya
mengacak-acak rambutnya, tetapi
wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi sedikit tidak senang.
“…Entah
kenapa, penampilan yang begini malah
terlihat pas, dan itu
membuatku kesal.”
“Apa
aku berubah menjadi
pria yang lebih tampan?”
“Kamu selalu
menjadi pria yang tampan, Amane-kun.”
Mahiru
mengatakan hal yang sangat menyenangkan, sehingga Amane
berusaha menyembunyikan rasa geli di wajahnya sambil
mengelus kepala Mahiru sekali lagi.
“Kalau
begitu, aku akan berusaha menjadi pria yang lebih baik agar kamu lebih senang.”
“Kalau
begitu, aku juga harus berusaha menjadi wanita yang baik.”
“Bagian
mana lagi yang ingin kamu perbaiki?”
“Pertama-tama,
aku ingin tahu definisi 'wanita baik' menurut Amane-kun. Kurasa aku sudah cukup menjadi
wanita baik secara umum, tapi aku ingin tahu wanita terbaik menurut Amane-kun.”
“Padahal menurutku
wanita yang terbaik adalah Mahiru…”
“Kamu
memang jago ngerayu.”
“Bukan
masalah jago atau semacamnya, tapi
sebenarnya tidak ada yang lebih baik dari Mahiru.”
Setidaknya,
di antara orang-orang yang dikenal Amane,
Mahiru adalah gadis paling cantik dan ideal. Tentu saja, dari segi kecerdasan,
kemampuan, dan penampilan, Mahiru telah mempertahankan apa yang dia anggap baik
berkat usahanya, tapi bagi Amane, dia sangat menyukai kepribadiannya.
Dia tidak
harus menjadi ideal, karena Amane akan tetap
menyukainya apa adanya, dan ia juga menyukai sikap Mahiru yang berusaha untuk
menjadi lebih baik, yang menurutnya patut dicontoh.
“Selain
itu, aku menyukai bagian
di mana Mahiru berusaha, dan juga sisi lucu yang kadang terlihat ceroboh, serta
saat-saat ketika kamu terlihat
lemah.”
Selama
bersama Amane, Mahiru belajar untuk menjadi dirinya sendiri, dan meskipun
terkadang dia melontarkan kata-kata yang tajam atau melakukan kesalahan, Amane
tetap merasa bahwa semua itu menggemaskan.
Mahiru
mungkin merasa malu, tapi sisi lemahnya menunjukkan bagian dari dirinya yang
biasanya tidak terlihat, dan itu membuat Amane merasa ingin melindunginya.
Karena
Mahiru memilih untuk menghadapi semuanya, Amane hanya akan mendukungnya.
“Kurasa
bagian ‘ceroboh’ itu tidak perlu.”
“Tapi aku
menyukai semua sisi dirimu, Mahiru.”
“…Ah,
ayolah. Itu curang. Aku juga menyukai semua sisi dirimu, Amane-kun. Aku tidak akan kalah.”
“Aku
juga menyukai sifatmu yang tidak suka kalah itu.”
“Mouu.”
Ketika
dia mengatakan bahwa dia menyukai semuanya, Amane mengangguk tanpa ragu, tapi
dia juga mengakui bahwa ada sisi kekurangannya. Meskipun kekurangannya itu pun terasa
menggemaskan, itu juga merupakan bukti bahwa Amane jatuh cinta pada Mahiru,
jadi ia tidak berniat untuk mengubahnya sama sekali.
Amane
tersenyum dengan penuh kasih sayang,
dan Mahiru tampaknya kehilangan semangat untuk melawan, lalu mengalihkan
pandangannya dengan malu-malu sebelum mengembalikan kursinya.
Sepertinya
laporan dan dukungan untuk dirinya yang dulu sudah selesai.
“…Mari
kita pulang.”
“Ya,
benar.”
Mahiru
tampaknya tidak memiliki rasa penyesalan, dan jika mereka tinggal lebih lama, waktu kepulangan mereka akan menjadi terlambat.
Apartemen ini berada cukup jauh dari rumah, jadi perjalanan pulang juga akan
panjang. Jadi lebih baik
pergi lebih awal.
Setelah
mengangguk, Mahiru keluar dari rumah yang sepi namun tetap bersih, dan saat
mereka berada di luar area apartemen, Mahiru berhenti sejenak untuk melihat ke
atas gedung seperti saat mereka datang. Ekspresinya kini tidak menunjukkan suasana murung maupun negatif sama sekali.
“Jika
aku kembali ke sini, mungkin itu setelah aku sudah
dewasa. Semoga orang-orang itu
masih menjaga tempat ini sampai saat itu.”
“Sepertinya
mereka akan melakukannya.”
Meskipun
hanya perkiraan, Amane merasa bahwa Sayo dan Asahi yang berkata bahwa Mahiru boleh menggunakan rumah ini
sesuka hati, jadi kemungkinan mereka akan memberi rumah ini
kepada Mahiru. Jika tidak, mereka pasti akan melepaskannya atau menyewakannya
ketika Mahiru pindah.
Mereka
menghabiskan uang untuk biaya pemeliharaan dan memperketat keamanan untuk
menjaga rumah ini, yang hampir tidak mereka gunakan.
Sayo
mungkin tidak pernah berpikir bahwa Mahiru akan kembali, tapi mereka tetap
mengeluarkan uang untuk pemeliharaan yang mungkin sia-sia.
Sayo dan
Asahi yang tampaknya memiliki sedikit rasa
bersalah, mereka tidak segan-segan memberikan dukungan finansial kepada Mahiru.
Dengan kata lain, Amane berpikir bahwa hal yang sama berlaku untuk rumah
ini.
“Apa memang
kelihatan seperti itu?”
“Entah
kenapa, sepertinya mereka akan menyimpannya. Mungkin mereka merasa tidak
membutuhkannya dan malah akan memberikannya kepadamu, Mahiru.”
“Aku
harap mereka tidak membebankan proses pengalihan hak atau masalah keuangan
kepada seorang pelajar. Karena itu akan
melibatkan notaris.”
Mendapatkan
reaksi yang sangat realistis dari Mahiru, yang tidak menunjukkan harapan atau
impian khas seorang pelajar, membuat Amane tertawa tanpa sengaja, tetapi Mahiru
tampak tidak terhibur dan mengerucutkan bibirnya
dengan cemberut.
“ Lagipula,
orang-orang itu mungkin tidak ingin merepotkanku, dan mereka tidak akan
melakukannya."
“Tapi
mereka tahu tempat ini penuh kenangan bagimu, Mahiru.”
“…Apa
yang mereka tahu hanyalah catatan, bukan kenangan.”
Mahiru
berbicara dengan tegas, menunjukkan bahwa dia tidak mempercayai Sayo dan Asahi,
tapi Amane menganggap itu akibat dari tindakan mereka sendiri, dan mereka juga mungkin tidak mempedulikannya, jadi Amane hanya menerima kata-kata Mahiru
dengan diam.
“Yah,
aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya… tapi tempat aku bukan di sini
lagi. Jadi, tidak apa-apa. Selama itu ada dalam ingatanku, itu sudah cukup.”
“Begitu
ya.”
Jika
tempat Mahiru sudah berganti, maka itu
tidak masalah. Yang terpenting adalah Mahiru memiliki lingkungan yang
membuatnya merasa aman, dan jika dia tidak lagi membutuhkan perlindungan dari
tempat ini, itu adalah yang terbaik. Bahkan Koyuki
yang mungkin pernah melindungi Mahiru, pasti juga akan mengangguk setuju.
“Mari
kita pulang ke rumah kita.”
“Ya,
ayo pulang. …Boleh kita mampir dulu di toko roti yang membuatku penasaran tadi?”
“Mou,
apa boleh buat deh.”
Karena
mereka sudah menempuh perjalanan sejauh ini,
Amane ingin mampir ke toko yang
biasanya tidak mereka kunjungi, selama waktu memungkinkan. Amane pun meminta
dengan nada menggoda, dan Mahiru tertawa sambil menunjukkan sikap ragu sebelum
mengangguk.
Seraya
menggenggam tangan Amane, Mahiru kini tidak menunjukkan ketegangan atau
kecemasan yang terlihat sebelumnya, dia
memperlihatkan senyuman yang tenang dan cerah.
“Ngomong-ngomong,
apa rumah yang kamu maksud adalah rumahku atau rumahmu, Mahiru?”
“Jangan
membuatku mengatakan hal-hal seperti
itu!”


