Tenshi-sama Volume 12 Chapter 9 Bahasa Indonesia

Chapter 9 Mengakhiri Ratapan Masa Lalu

 

Pada suatu hari, saat liburan musim semi hampir berakhir. 

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah setelah makan malam, Amane kembali ke ruang tamu dan disambut oleh Mahiru yang tampak tegang, memanggilnya dengan nada serius, Amane-kun.

Tidak ada yang aneh dengan Mahiru yang memanggil namanya, tapi nada suaranya yang terkesan tegang dan ragu membuat Amane merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan. 

(Apa aku melakukan sesuatu yang salah?) 

Setahun yang lalu mungkin berbeda, tapi sekarang Amane sudah bisa mengurus pekerjaan rumah dan menjaga kebersihan dengan baik. Hal yang bisa membuat Mahiru memperingatkannya mungkin hanya makan telur terlalu banyak, dan dirinya tidak ingat telah mengonsumsinya secara berlebihan baru-baru ini. 

Jadi, Amane tidak merasa telah melakukan kesalahan, dan ia tidak bisa merasakan emosi semacam itu dari Mahiru. 

Ya, ada apa?

Besok tidak ada kerja paruh waktu, kan? 

Saat Mahiru bertanya seperti itu, biasanya dia ingin mengajak pergi. Namun, melihat cara bicara dan ekspresi Mahiru, sepertinya bukan itu yang ingin dia lakukan

“Besok aku memang senggang. Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat atau ada urusan yang ingin kamu lakukan?

Aku sangat menghargainya karena langsung membahasnya. Sebenarnya, jika kamu memiliki waktu dan tidak keberatan sih. 

“Memangnya ada sesuatu yang tidak kutururi jika diajak Mahiru?

Jika ada janji sebelumnya sih, ya.

Oh, itu sih di luar soal keberatan atau tidak. Selain itu, aku akan pergi ke mana pun jika kamu yang mengajakku, Mahiru.

Tidak peduli seberapa besar Amane memprioritaskan Mahiru, jika ada janji sebelumnya, sudah sewajarnya ia akan menepati janji tersebut. Tidak adil jika mengubah rencana hanya untuk kepentingan pribadi. 

Sebaliknya, jika tidak ada janji sebelumnya,  Amane biasanya akan memprioritaskan ajakan Mahiru. 

“Fufu, baiklah, aku ingin mempercayai ucapan ajakan 'ke mana saja' dan pergi keluar bersamamu, bolehkan? 

Tentu saja.

Meskipun sedang liburan musim semi, Amane sering melakukan pekerjaan paruh waktu, jadi jarang sekali ada hari yang benar-benar kosong. Memang benar bahwa dirinya telah membuat Mahiru merasa kesepian, jadi jika Mahiru memiliki harapan untuk pergi ke suatu tempat, Amane akan menurutinya

Kamu ingin pergi ke mana? 

Ada sebuah tempat yang ingin kukunjungi. Sulit untuk dijelaskan, dan mungkin agak jauh, apa kamu baik-baik saja dengan itu? 

“Tentu saja. 

Kamu kelihatan sangat santai.

“Tentu saja aku merasa senang, karena aku akan pergi denganmu, Mahiru.” 

“Mou!

Tentu saja, Amane senang jika diundang, Atau lebih tepatnya, Amane senang apa yang ingin dilakukan Mahiru. Dia biasanya senang ke mana saja mereka pergi dan cenderung gadis yang jarang keluar, jadi mendengar harapannya dengan jelas seperti ini cukup berharga. 

Itu mungkin bukan tempat yang terlalu menarik, atau lebih tepatnya, mungkin tempat yang tidak terlalu menyenangkan bagiku.

…Kamu berniat ke mana?

Permintaan Mahiru tampak kontradiktif: meskipun dia mengatakan ingin pergi, dia tampak tidak terlalu antusias dan tidak terlihat bersemangat, jadi Amane hanya bisa mengernyitkan dahi, tetapi Mahiru hanya tersenyum samar. 

Itu rahasia. Tapi, aku merasa ingin pergi ke sana.

Baiklah, aku mengerti.

Amane tidak bisa membayangkan tujuan yang dimaksud, tapi dirinya yakin Mahiru memiliki alasannya sendiri, jadi ia tidak bertanya lebih jauh dan hanya mengangguk. Mahiru pun tampak lega dan tersenyum. 

 

──────✧❅✦❅✧──────

 

Pada hari yang direncanakan, Mahiru mengunjungi rumah Amane dengan pakaian yang biasa saja, bukan pakaian khusus untuk pergi. Dari sini, Amane bisa menyimpulkan bahwa mereka takkan pergi ke tempat yang terlalu modis atau ramai. 

Ekspresinya hanya menunjukkan sedikit rasa gugup. Walaupun Amane tidak tahu ke mana tujuan mereka, tapi mungkin itu adalah tempat yang membutuhkan keberanian bagi Mahiru.

Ekspresinya seketika melunak begitu dia menatap wajah Amane, menunjukkan bahwa itu bukanlah masalah yang terlalu mengganggu. 

“Jadi aku hanya perlu mengikuti Mahiru, ya?

Ya, benar. Serahkan saja padaku. ...Tapi, karena kita akan berjalan cukup jauh dari stasiun, mohon maaf jika kita tersesat, ya? 

Yah, jika itu yang terjadi, kita bisa berjalan-jalan dengan santai. 

Hehe. Itu benar.

Amane tidak tahu tujuan dan maksud dari perjalanan ini, dan sepertinya Mahiru tidak berniat untuk memberitahunya sampai mereka tiba. Ia berusaha untuk mengurangi ketegangan Mahiru dengan bersikap santai, dan tampaknya Mahiru menyadari niatnya dan ikut berperan. 

Amane merasa lega karena sepertinya dia tidak dalam keadaan sangat tegang dan mengikuti Mahiru keluar dari rumah. 

Tempat yang ingin dikunjungi Mahiru tampaknya cukup jauh dari daerah tempat tinggal Amane, dan memakan waktu lebih dari satu jam dengan kereta. 

Karena Amane tidak terlalu familiar dengan geografi di luar sekitar apartemennya dan tidak tahu ke mana mereka akan pergi, jadi dirinya patuh mengikuti Mahiru. 

Amane menganggap kalau perjalanan dengan kereta itu tidak terlalu buruk, dan menyadari bahwa melihat pemandangan baru merupakan salah satu kesenangan, meskipun Mahiru tetap menunjukkan sedikit ketegangan di wajahnya. Sambil berbincang santai dan menikmati pemandangan dari jendela kereta, mereka turun di stasiun yang sama sekali tidak dikenal. 

Jika itu stasiun yang dekat pusat perbelanjaan kota, Amane akan berpikir bahwa mereka sedang bersenang-senang, tapi stasiun yang mereka turuni lebih dekat dengan daerah perumahan. 

Stasiun itu tidak terlalu besar, dan pusat perbelanjaan berada beberapa stasiun lagi, tetapi daerah itu cukup tenang dan nyaman untuk ditinggali. Meskipun Mahiru mengatakan dia mungkin tersesat, tapi dia mulai berjalan lurus ke depan menuju tujuan yang jelas tanpa melihat peta. 

Amane mengikuti di belakangnya, dan dirinya memperhatikan kalau di sekitar stasiun ada banyak toko seperti supermarket, toko barang, dan toko roti, tetapi perlahan-lahan mereka memasuki daerah yang dipenuhi rumah-rumah dan apartemen. 

Mahiru menuju ke suatu tempat.   Setelah berjalan beberapa saat, Mahiru berhenti di depan sebuah apartemen. 

Apartemen itu memiliki tampilan yang lebih bersih dibandingkan yang lain dan tidak terlalu tinggi, tapi terlihat mewah dengan area bundaran dan pintu masuk yang besar, jadi sepertinya ini adalah tempat yang dihuni oleh keluarga yang cukup kaya. 

Di depan dinding luar yang mengelilingi area tersebut, Mahiru berhenti. 

Kita sudah sampai.

Sudah sampai?

Ya.

Mahiru balas mengangguk dengan ringan, tetapi jelas ini hanya sebuah apartemen. 

Amane berpikir mungkin dia ingin memperkenalkan seseorang, tetapi satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya, Koyuki, bukanlah alamat di sekitar sini saat mereka mengirim barang. Bahkan, dari provinsinya saja sudah berbeda, jadi itu bukan tempat tingal Koyuki.

Sebenarnya, jika tujuan mereka adalah tempat tinggal Koyuki, suasana hati Mahiru yang kelihatan tegang tak bisa dijelaskan

Lalu, untuk apa dia datang jauh-jauh dari tempat yang jauh? 

Ini gedung apartemen, kan? 

Ya.

Apa ini tujuan kita?

Benar. Atau lebih tepatnya, kita akan ke penthouse yang ada di sini.

Sepertinya Mahiru bisa membaca kebingungan Amane mengenai apa itu penthouse dan mulai menjelaskannya, Itu adalah rumah kecil yang biasanya ada di atap, seperti yang sering muncul di drama-drama,. Walau Amane mengangguk, tapi dirinya masih tetap tidak mengerti. 

Mungkin hal itu tampak jelas di wajahnya, karena Mahiru tersenyum kecut dan melihat ke atas ke arah puncak gedung apartemen. 

“Di sinilah tempat di mana aku pernah tinggal. 

Eh, balas Amane tanpa sadar, dan dirinya pun menengadah mengikuti tatapan Mahiru ke arah apartemen.  

Jika Mahiru pernah tinggal di sini, berarti gedung apartemen ini sudah berusia sekitar sepuluh tahun, tapi tampilannya masih tetap terlihat baru dan terawat dengan baik. Dari keberadaan petugas keamanan di luar, Amane bisa menyimpulkan bahwa ini adalah properti yang cukup baik. 

Penthouse di lantai paling atas ini adalah rumahku. Meskipun sebenarnya kami tidak terlalu menggunakannya.

Dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan, tapi berdasarkan pertemuan sebelumnya, Amane merasa bahwa Sayo dan Asahi mungkin memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk itu, jadi itu bukan hal yang aneh. 

Tampaknya wajar jika seseorang terkadang ingin melihat tempat di mana mereka pernah tinggal, jadi jika memang begitulah tujuan kunjungan kali ini, Amane bisa sedikit memahaminya. Namun, mengapa Mahiru tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi tempat ini? 

Sebelum Amane bisa bertanya, Mahiru tersenyum canggung padanya dan menarik tangannya untuk melewati gerbang. 

Amane merasa mungkin tidak baik untuk masuk tanpa izin, tapi Mahiru seolah-olah bisa membaca pikirannya, Ini bukan pelanggaran, kok. Aku punya hak untuk masuk, katanya sambil menggerakkan kunci yang sudah dia pegang. 

Sambil mengabaikan kebingungan Amane, Mahiru membuka kunci pintu otomatis di pintu masuk dan dengan mudah melewati pemeriksaan di jendela ruang pengelola, lalu membuka kunci pintu yang tampaknya adalah pintu menuju apartemen, tapi yang menyambut mereka berdua adalah lorong. 

Di ujung lorong tersebut terdapat lift yang berdiri megah. 

Itu bukan lift biasa yang digunakan oleh penghuni biasa, tapi jelas-jelas lift khusus. Dengan menggunakan kunci kartu non-kontak yang berbeda dari kunci pertama, Mahiru tampaknya sangat familiar dengan keamanan di sini. 

Tanpa ragu, Mahiru membuka kunci dan mengundang Amane untuk masuk. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan semua ini, mungkin karena dia tinggal di sini sampai dia menjadi seorang pelajar SMA. 

Petugas pengelola tidak menunjukkan tanda-tanda curiga sama sekali, mungkin mereka sudah saling mengenal. 

Lift yang hanya memiliki tombol untuk lantai satu dan lantai tertinggi itu tanpa berhenti langsung menuju lantai atas. Ketika pintu lift terbuka, mereka disambut oleh sebuah pintu masuk yang luas. 

Tempat tersebut tampak sangat bersih, tidak ada debu atau bangkai serangga, dan sepertinya sudah lama tidak dihuni, jadi tidak ada bau khas yang biasanya ada di properti yang kosong. Ini benar-benar rumah yang terawat dengan baik, seolah-olah ada orang yang tinggal di dalamnya. 

Senang melihat bahwa tempat ini dikelola dengan baik. Yah, meskipun mungkin itu hal yang wajar, karena orang-orang di sini tidak akan membiarkan hal-hal yang sembarangan terjadi. 

Sambil bergumam demikian, Mahiru mengeluarkan sandal dari lemari sepatu dan meletakkannya dengan lembut di atas karpet pintu masuk. Itu berarti mereka diizinkan untuk masuk. 

Amane dengan hati-hati mengenakan sandalnya dan mengikuti Mahiru, dan seperti yang diharapkan, ruang yang luas terbentang di depan mereka. Meskipun Mahiru tidak tinggal di sini lagi, tidak ada perabotan yang dihilangkan, dan tempat ini benar-benar dalam kondisi siap huni. 

“Tempat ini adalah salah satu properti orang-orang itu. Mereka memberi kunci dan mengatakan untuk digunakan sesuka hati, dan sekarang hanya dikelola dan dibersihkan agar tetap bersih.

Meski mungkin saja orang-orang itu masih datang sesekali, kata Mahiru sambil menyebutkan alasan mengapa tempat ini dikelola, sambil menyipitkan matanya dengan nostalgia dan menyentuh meja makan dengan jarinya. Memang, tidak ada jejak debu di sana. 

Inilah tempat di mana aku tinggal cukup lama. Meskipun, aku tidak memiliki banyak kenangan besar di sini.

…Di rumah seluas ini, sendirian?

“Rumah ini memang luas, ya ‘kan? Aku merasa kagum Koyuki-san bisa merawatnya. Yah, meski dibilang luas, aku hanya menggunakan sebagian kecil dari rumah ini. Aku hanya masuk ke ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan kamar tidurku. Ruangan lainnya hanya digunakan oleh orang-orang itu yang jarang datang untuk tidur atau bekerja.

Mahiru mengalihkan pandangannya ke arah lorong dan melihat pintu-pintu di dinding dari kejauhan, tetapi tidak ada yang tampak familiar. 

Kemudian, dia mengarahkan kembali pandangannya ke dapur yang terletak di dekat meja makan yang terlihat bersih meskipun sedikit tua, dan dia menyipitkan matanya dengan penuh kasih saat mengelusnya kembali.

Dulu, aku sering menunggu Koyuki-san memasak sambil belajar di sini. Selama dia membersihkan, aku sering berada di ruang tamu, jadi ingatanku kebanyakan tentang ruang tamu.

Jadi kenangan bersama Koyuki-san tumbuh di sini, ya. 

Benar. …Kenangan bersama Koyuki-san hanya di sini. Dia adalah orang yang sebisa mungkin menghindari campur tangan dalam kehidupan pribadiku karena pekerjaannya.

Namun, Koyuki pasti sangat menyayangi Mahiru layaknya putrinya sendiri. Jika tidak, Mahiru tidak akan begitu mengagumi Koyuki, dan dia juga tidak akan tersenyum dengan nostalgia seperti ini sekarang. 

Amane tidak tahu seberapa banyak waktu yang dihabiskan Koyuki bersama Mahiru, tapi pasti kasih sayang Koyuki yang tulus telah menghangatkan hati Mahiru yang dingin. Baik sebelum maupun setelah bertemu Amane, kehangatan itu masih tetap ada. 

Amane merasa bersyukur bahwa Koyuki ada di samping Mahiru saat dia masih kecil, sambil mengamati wajah Mahiru yang mengenang masa lalu. 

Apa yang membuatmu ingin datang ke sini?

Menyelami kenangan adalah hal yang wajar dan bukan hal yang aneh, tetapi yang menjadi pertanyaan Amane adalah mengapa Mahiru berpikir untuk datang ke sini. 

Jika Koyuki melakukan sesuatu, dia biasanya akan berbagi informasi dengan Amane karena itu menyangkut Mahiru, tetapi kali ini dirinya tidak mendengar apa pun. Tanpa adanya pemicu tertentu, Mahiru takkan datang jauh-jauh ke tempat ini. 

Jika kamu bertanya seperti itu, aku merasa sedikit kesulitan. …Baru-baru ini, kamu berbicara dengan orang-orang itu kan, Amane-kun?

Iya.

“Pada saat itu, aku kembali berpikir bahwa terus-menerus menghindari masa lalu dan melarikan diri tidak baik untuk hatiku.

Mahiru mengungkapkan itu dengan ketenangan yang jauh lebih baik dibandingkan hari itu, setelah melihat sekeliling dengan pandangan ragu, dia menundukkan kepala. 

Saat itu, aku menyerahkan semuanya kepadamu, Amane-kun.

Itu karena hati Mahiru belum cukup tenang untuk menghadapi semuanya.

“Mungkin memang begitu, tapi kenyataan bahwa aku tidak bisa menghadapi itu tetap ada dalam diriku.

Mahiru dengan tenang menanggapi perkataan Amane yang tidak bisa dikatakan sebagai penolakan atau persetujuan, sambil menarik kursi di meja makan dengan lembut. 

Dia tidak duduk di kursi tersebut, melainkan menatap kursi itu seolah-olah ada seseorang di sana tanpa adanya rasa takut atau panik. Hanya ada ketenangan di sorot matanya

Saat itu, mungkin itu pilihan yang terbaik. Namun, kenyataannya, hal itu tidak bisa terus berlanjut.

Mahiru yang pada hari itu tampak goyah karena kejadian dengan Satoshi sehari sebelumnya berusaha untuk tidak menunjukkan kontak dengan Sayo di depan umum, tetapi dia tetap menunjukkan reaksi penolakan.

Jika Amane tidak ada bersamanya, Mahiru pasti akan pingsan tak berdaya, dia tampak begitu rapuh

“Tidak ada yang bisa menjamin kami tidak akan pernah bertemu lagi. Saat melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan, keberadaan orang tua kadang diperlukan, dan mungkin ada saat-saat tertentu ketika kami harus bertemu. Tidak ada jaminan bahwa kami takkan bertemu. Sama halnya seperti Satoshi-kun yang tidak akan pernah kita temui jika tidak ada kejadian tertentu, kami mungkin akan bertemu karena suatu alasan.

Awalnya, Satoshi dan Mahiru seharusnya tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu. 

Mahiru bisa melanjutkan kehidupan sehari-harinya seraya mengabaikan keberadaan Satoshi dan hanya menyimpan informasi bahwa Sayo memiliki anak dari selingkuhannya, sementara Satoshi menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bahagia tanpa mengetahui tentang keberadaan Mahiru. 

Pertemuan mereka berdua terjadi karena takdir yang kejam, tetapi tidak ada jaminan bahwa takdir tidak akan mempermainkan mereka lagi di masa depan. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa mereka tidak akan terjerat dalam hubungan yang tidak perlu. 

Sayo sepertinya tidak berniat mengganggu kehidupan Mahiru dengan cara yang jelas, tetapi bagi Mahiru, dia tidak tahu kapan dirinya akan bertemu Sayo atau apa yang akan dilakukannya, hanya ada ketakutan yang terukir di benaknya. Itu pasti sangat menyiksa. 

Jika terus-menerus menjalani kehidupan sambil diliputi ketakutan, tidak ada salahnya untuk menghadapi kenyataan. Namun, Amane juga tidak menyangka bahwa Mahiru akan membuat keputusan secepat ini. 

Jika aku tidak menghadapinya, aku akan selalu tetap lemah. Hanya menunggu badai berlalu saat situasi tidak menguntungkan, bersikap pasif dan negatif, menjadi pengecut. ...Apa yang dia katakan juga benar. 

Kurasa cara orang itu mengatakannya bisa dipertanyakan. 

Hehe, itu benar, tapi memang begitulah kepribadiannya. 

Mahiru tampaknya menyadari bahwa cara bicara Sayo terlalu kasar, dan dia tersenyum masam, tapi tidak ada tanda-tanda ketakutan di raut wajahnya. 

“Dia selalu mengatakan sesuatu yang menyakitkan. ...Tapi, dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak dia maksudkan. Dan matanya selalu tajam. 

Mahiru menyipitkan matanya seolah mengingat sesuatu yang jauh, bukan dalam arti fisik, melainkan seolah-olah mengingat waktu yang tidak terukur. Amane tahu bahwa ada banyak interaksi antara Mahiru dan Sayo yang tidak diketahuinya

Sayo memiliki kepribadian yang sangat keras, tapi dia bukan tipe orang yang suka menyakiti orang lain. 

Meskipun tidak diragukan lagi kalau dia sudah menyebabkan banyak luka pada Mahiru di masa lalu, tapi dia berbicara dengan jujur dan kadang-kadang menyisipkan cara yang lebih dewasa dalam percakapannya. 

Amane juga mengakui bahwa cara Sayo berinteraksi dengan Mahiru memang tidak wajar, tapi Sayo mengatakan dia takkan mengganggu Mahiru lagi dan akan mengawasinya dengan kata-kata yang sedikit menyimpang, jadi Amane hanya berniat untuk mengamati perubahan perasaan Mahiru terhadap Sayo. 

Pada akhirnya, aku adalah orang yang pengecut dan lemah. Orang licik yang berpura-pura lemah untuk mendapatkan perlindungan. Dan orang bodoh yang tanpa sadar mencoba menyembunyikan rasa pengecut itu dengan berpura-pura tidak melihatnya. Kurasa dia juga menyadari itu. 

Bukannya itu terlalu menghina dirimu sendiri? 

Tapi begitulah kenyataannya. Aku tidak sekuat dirinya, dan aku tidak bisa menjadi kuat. ...Aku merasa bahwa aku adalah wanita yang menyebalkan.

Aku....”

Aku tahu bahwa Amane-kun tidak menganggapku wanita yang jahat, dan bahkan jika aku memang begitu, aku tahu kamu masih mencintaiku. 

Aku berharap kamu tidak mencuri kata-kataku. 

“Fufu, aku telah menghabiskan banyak waktu bersamamu, Amane-kun, jadi aku bisa mengerti hal-hal seperti ini. ...sungguh, kamu harus menyadari bahwa kamu adalah orang yang sangat berharga bagiku, oke?

Mahiru tampaknya sangat memahami cara berpikir Amane dan mengambil langkah lebih dulu, sehingga ketika Amane menutup bibirnya dengan cemberut, Mahiru tertawa melihat reaksi Amane yang tampak lucu

Selain itu, aku tidak sesedih yang kamu kira, Aman-kun. Aku datang ke sini untuk merampungkan perasaan dan pikiranku. 

Sambil mengatakan itu, Mahiru menatap ruang makan yang memiliki satu ruang kecil yang cukup untuk seorang anak duduk. 

Sebelum bertemu Amane-kun, rumah ini yang tanpa Koyuki-san terasa menyesakkan dan sangat sepi, tetapi sekarang, aku menyadari bahwa aku tidak merasa seperti itu lagi.

Koyuki tidak selalu berada di rumah ini selama masa SMP, tampaknya dia berhenti bekerja karena masalah punggungnya, meninggalkan Mahiru sendirian di rumah ini. 

Dia berbicara tentang kenangan yang mungkin tidak menyenangkan itu seolah-olah itu hal yang biasa. 

Aku ingin bisa berpikir bahwa hal-hal menyakitkan yang terjadi di rumah ini sudah menjadi masa lalu, dan tidak akan membayangi kehidupanku saat ini.

…Bagaimana dengan sekarang?

Aku baik-baik saja. Bahkan ketika aku mengingatnya, tidak ada rasa sakit di hatiku. Meskipun ada sedikit kesedihan. Tetapi aku juga menyadari bahwa kenanganku bersama Koyuki-san jauh lebih kuat. 

Bagi Mahiru, waktu yang dia habiskan bersama Koyuki telah menjaga kehangatan di dalam dirinya dari kesepian yang menumpuk. 

Aku sedikit takut untuk datang ke sini, tetapi…aku ingin bisa menghadapi semuanya ketika aku bertemu dengannya lagi, jadi aku ingin menetapkan batasan. Lagipula, tempat ini adalah simbol dari rasa sakitku. …Selain itu, kupikir dengan datang bersama Amane-kun ke tempat di mana aku dulu sendirian, aku mungkin bisa menemukan sedikit penghiburan untuk diriku di masa lalu. 

…Apa menurutmu sendiri, apa kamu sudah mendapat penghiburan?

Aku sangat yakin bahwa apa yang dikatakan Koyuki-san saat itu benar sekali. Bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang melihatku apa adanya. ...Lihat, itulah sebabnya aku membawanya ke sini. Untuk menunjukkannya kepada diriku yang lebih muda. 

Meskipun tidak ada siapapun di sana, Mahiru mendorong Amane ke arah tempat yang dulunya ada seseorang. Tempat yang dingin dan tidak ada kehangatan, tetapi anehnya tidak terasa kosong. 

Aku penasaran, apa dia merasa bahagia? 

Setidaknya, aku sangat gembira sekarang.”

Mahiru menunjukkan kepada Amane seolah-olah dia memperkenalkan pacar yang luar biasa kepada orang tuanya, dan Amane pun tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Mahiru. 

Tangan Mahiru yang sedikit dingin segera kembali hangat saat Amane menggenggamnya. 

…Sungguh, semua usaha ini memang sepadan, ya? Aku berusaha keras agar kamu mau menoleh padaku.

Maaf telah merepotkanmu saat itu…  

“Memang benar, hehe.

Amane menyadari kelemahannya sendiri dan merasa yakin kalau dirinya tidak pantas untuk Mahiru, dirinya ingin terus menikmati hubungan yang nyaman ini, sehingga ia berpura-pura tidak menyadarinya

Akibatnya, upaya menggemaskan Mahiru untuk menarik perhatiannya semakin intensif, yang tampaknya menyebabkan kecemasan yang cukup besar baginya. 

Yah, kurasa berkat usaha Mahiru, kamu tidak hanya merebut perutku tetapi juga hatiku. Aku juga bekerja keras untuk menjadi layak bagi Mahiru.

Hehe, hebat, hebat.

Mahiru juga hebat.

Jangan mengacak-acak rambutku, ya. Ei, ei.” 

Mahiru tampak tidak senang karena gaya rambutnya berantakan setelah kepalanya dielus, dan dia meraih kepala Amane sebagai balasannya

Secara fisik, Amane bisa dengan mudah menghentikannya, tapi ia memutuskan untuk menyerahkan kepalanya kepada Mahiru dan membiarkannya berbuat sesuka hatinya

Mahiru tampak puas dengan sikap Amane yang membiarkan dirinya mengacak-acak rambutnya, tetapi wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi sedikit tidak senang. 

…Entah kenapa, penampilan yang begini malah terlihat pas, dan itu membuatku kesal.

Apa aku berubah menjadi pria yang lebih tampan?” 

“Kamu selalu menjadi pria yang tampan, Amane-kun.

Mahiru mengatakan hal yang sangat menyenangkan, sehingga Amane berusaha menyembunyikan rasa geli di wajahnya sambil mengelus kepala Mahiru sekali lagi. 

Kalau begitu, aku akan berusaha menjadi pria yang lebih baik agar kamu lebih senang.

Kalau begitu, aku juga harus berusaha menjadi wanita yang baik.

Bagian mana lagi yang ingin kamu perbaiki?

Pertama-tama, aku ingin tahu definisi 'wanita baik' menurut Amane-kun. Kurasa aku sudah cukup menjadi wanita baik secara umum, tapi aku ingin tahu wanita terbaik menurut Amane-kun.

“Padahal menurutku wanita yang terbaik adalah Mahiru…

“Kamu memang jago ngerayu.

Bukan masalah jago atau semacamnya, tapi sebenarnya tidak ada yang lebih baik dari Mahiru.

Setidaknya, di antara orang-orang yang dikenal Amane, Mahiru adalah gadis paling cantik dan ideal. Tentu saja, dari segi kecerdasan, kemampuan, dan penampilan, Mahiru telah mempertahankan apa yang dia anggap baik berkat usahanya, tapi bagi Amane, dia sangat menyukai kepribadiannya. 

Dia tidak harus menjadi ideal, karena Amane akan tetap menyukainya apa adanya, dan ia juga menyukai sikap Mahiru yang berusaha untuk menjadi lebih baik, yang menurutnya patut dicontoh. 

Selain itu, aku menyukai bagian di mana Mahiru berusaha, dan juga sisi lucu yang kadang terlihat ceroboh, serta saat-saat ketika kamu terlihat lemah. 

Selama bersama Amane, Mahiru belajar untuk menjadi dirinya sendiri, dan meskipun terkadang dia melontarkan kata-kata yang tajam atau melakukan kesalahan, Amane tetap merasa bahwa semua itu menggemaskan. 

Mahiru mungkin merasa malu, tapi sisi lemahnya menunjukkan bagian dari dirinya yang biasanya tidak terlihat, dan itu membuat Amane merasa ingin melindunginya. 

Karena Mahiru memilih untuk menghadapi semuanya, Amane hanya akan mendukungnya. 

“Kurasa bagian ‘ceroboh’ itu tidak perlu. 

“Tapi aku menyukai semua sisi dirimu, Mahiru.

…Ah, ayolah. Itu curang. Aku juga menyukai semua sisi dirimu, Amane-kun. Aku tidak akan kalah.

Aku juga menyukai sifatmu yang tidak suka kalah itu.”

Mouu.” 

Ketika dia mengatakan bahwa dia menyukai semuanya, Amane mengangguk tanpa ragu, tapi dia juga mengakui bahwa ada sisi kekurangannya. Meskipun kekurangannya itu pun terasa menggemaskan, itu juga merupakan bukti bahwa Amane jatuh cinta pada Mahiru, jadi ia tidak berniat untuk mengubahnya sama sekali. 

Amane tersenyum dengan penuh kasih sayang, dan Mahiru tampaknya kehilangan semangat untuk melawan, lalu mengalihkan pandangannya dengan malu-malu sebelum mengembalikan kursinya. 

Sepertinya laporan dan dukungan untuk dirinya yang dulu sudah selesai. 

…Mari kita pulang.

Ya, benar.”

Mahiru tampaknya tidak memiliki rasa penyesalan, dan jika mereka tinggal lebih lama, waktu kepulangan mereka akan menjadi terlambat. Apartemen ini berada cukup jauh dari rumah, jadi perjalanan pulang juga akan panjang. Jadi lebih baik pergi lebih awal. 

Setelah mengangguk, Mahiru keluar dari rumah yang sepi namun tetap bersih, dan saat mereka berada di luar area apartemen, Mahiru berhenti sejenak untuk melihat ke atas gedung seperti saat mereka datang. Ekspresinya kini tidak menunjukkan suasana murung maupun negatif sama sekali

Jika aku kembali ke sini, mungkin itu setelah aku sudah dewasa. Semoga orang-orang itu masih menjaga tempat ini sampai saat itu.

Sepertinya mereka akan melakukannya.

Meskipun hanya perkiraan, Amane merasa bahwa Sayo dan Asahi yang berkata bahwa Mahiru boleh menggunakan rumah ini sesuka hati, jadi kemungkinan mereka akan memberi rumah ini kepada Mahiru. Jika tidak, mereka pasti akan melepaskannya atau menyewakannya ketika Mahiru pindah

Mereka menghabiskan uang untuk biaya pemeliharaan dan memperketat keamanan untuk menjaga rumah ini, yang hampir tidak mereka gunakan. 

Sayo mungkin tidak pernah berpikir bahwa Mahiru akan kembali, tapi mereka tetap mengeluarkan uang untuk pemeliharaan yang mungkin sia-sia. 

Sayo dan Asahi yang tampaknya memiliki sedikit rasa bersalah, mereka tidak segan-segan memberikan dukungan finansial kepada Mahiru. Dengan kata lain, Amane berpikir bahwa hal yang sama berlaku untuk rumah ini. 

“Apa memang kelihatan seperti itu?

Entah kenapa, sepertinya mereka akan menyimpannya. Mungkin mereka merasa tidak membutuhkannya dan malah akan memberikannya kepadamu, Mahiru.

Aku harap mereka tidak membebankan proses pengalihan hak atau masalah keuangan kepada seorang pelajar. Karena itu akan melibatkan notaris. 

Mendapatkan reaksi yang sangat realistis dari Mahiru, yang tidak menunjukkan harapan atau impian khas seorang pelajar, membuat Amane tertawa tanpa sengaja, tetapi Mahiru tampak tidak terhibur dan mengerucutkan bibirnya dengan cemberut

Lagipula, orang-orang itu mungkin tidak ingin merepotkanku, dan mereka tidak akan melakukannya."

Tapi mereka tahu tempat ini penuh kenangan bagimu, Mahiru. 

…Apa yang mereka tahu hanyalah catatan, bukan kenangan. 

Mahiru berbicara dengan tegas, menunjukkan bahwa dia tidak mempercayai Sayo dan Asahi, tapi Amane menganggap itu akibat dari tindakan mereka sendiri, dan mereka juga mungkin tidak mempedulikannya, jadi Amane hanya menerima kata-kata Mahiru dengan diam. 

Yah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya… tapi tempat aku bukan di sini lagi. Jadi, tidak apa-apa. Selama itu ada dalam ingatanku, itu sudah cukup. 

Begitu ya. 

Jika tempat Mahiru sudah berganti, maka itu tidak masalah. Yang terpenting adalah Mahiru memiliki lingkungan yang membuatnya merasa aman, dan jika dia tidak lagi membutuhkan perlindungan dari tempat ini, itu adalah yang terbaik. Bahkan Koyuki yang mungkin pernah melindungi Mahiru, pasti juga akan mengangguk setuju. 

Mari kita pulang ke rumah kita.

Ya, ayo pulang. …Boleh kita mampir dulu di toko roti yang membuatku penasaran tadi?”

“Mou, apa boleh buat deh.

Karena mereka sudah menempuh perjalanan sejauh ini, Amane ingin mampir ke toko yang biasanya tidak mereka kunjungi, selama waktu memungkinkan. Amane pun meminta dengan nada menggoda, dan Mahiru tertawa sambil menunjukkan sikap ragu sebelum mengangguk. 

Seraya menggenggam tangan Amane, Mahiru kini tidak menunjukkan ketegangan atau kecemasan yang terlihat sebelumnya, dia memperlihatkan senyuman yang tenang dan cerah. 

Ngomong-ngomong, apa rumah yang kamu maksud adalah rumahku atau rumahmu, Mahiru?

Jangan membuatku mengatakan hal-hal seperti itu!

 


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama