Chapter 2 — Pembicaraan Otaku dengan gyaru
────Aku tidak pernah menyangka kalau aku
akan pulang bersama Yukikawa...
Aku sekilas
melirik ke samping, dan melihat
Yukikawa Tsukino duduk di sana.
Karena
jika kami terus berbicara seperti itu, kami khawatir akan ditemukan oleh teman
sekelas lainnya, jadi kami
memutuskan untuk berpindah dengan kereta.
Sebenarnya,
kami tidak membicarakan hal yang memalukan, dan tidak masalah jika dilihat oleh
siapa pun, tetapi setidaknya kami merasa kesulitan untuk membicarakan anime di depan publik.
“Terus, kamu tahu adegan di 'Twenty
Nights', ‘kan? Kalimat
yang diucapkan protagonis kepada kesatria ketujuh di episode enam...”
“Perkataan 'Lebih semangatlah!', ‘kan?
Situasi dan kalimatnya kelihatan tidak begitu cocok, jadi aku sampai
tertawa.”
“Aku juga. Apalagi di bagian itu
animasinya sangat bagus, yang mana itu menjadi
semakin lucu.”
“Mungkin itu kelihatan lucu karena
mereka sendiri serius tentang itu.”
Kami berdua
pun tertawa mengingat adegan itu.
Yukikawa
ternyata penggemar berat 'Twenty Nights' lebih daripada yang aku bayangkan. Aku pikir dia adalah orang yang aneh hanya
dengan mengetahui anime jelek itu, tapi sepertinya dia sudah menontonnya
berkali-kali.
Jarang
sekali aku bisa menemui orang yang seaneh ini.
“Nagai, apa kamu suka nonton anime?”
“Ah, iya, karena itu hobiku.”
“Hmm...
jadi kita samaan, ya.”
“Eh?”
“Kenapa
wajahmu terlihat tidak percaya begitu?”
“Tidak...
yah, itu wajar saja.”
Aku akan
terus mengatakannya, Yukikawa adalah sosok gadis
yang sangat populer di kelas, dia bahkan
seperti pusat pemimpin di dalam kelas. Tidak peduli apapun yang dikatakan orang lain,
begitulah cara pandangku, dan aku yakin teman-teman sekelasku juga berpikiran
sama.
Sepulang sekolah atau di hari libur, dia
berkumpul dan bermain dengan teman-temannya. Hobinya adalah mengunggah foto
yang menarik di media sosial────itulah kesan yang aku miliki padanya.
“Aku tidak terlalu tertarik dengan foto menarik.
Justru aku tipe orang yang lebih
suka membagikan 'cuitan' orang lain.”
“Eh, ah... maafkan aku, karena
aku berbicara dengan prasangka.”
“Tidak
apa-apa sih... tapi kenapa kamu punya kesan
seperti itu?”
“Karena
kamu berkumpul dengan orang-orang gaul
seperti Momoki dan Kijima, jadi terasa seperti teman-teman datang kepadamu...
jadi kupikir kamu pasti hobi bermain dengan teman-teman.”
Saat aku
mengatakan itu, Yukikawa mengembungkan pipinya dengan ekspresi tidak puas. Rupanya dia juga bisa membuat wajah
seperti ini. Dengan
perbedaan dari sikap dinginnya sehari-hari, dia terlihat sangat imut.
“...Bukan
berarti aku hobi nongkrong bareng teman-teman.
Sebenarnya, aku ingin pulang dan membaca manga hari ini, dan juga ingin
menonton anime... tapi, Papa bilang hubungan antar manusia itu penting.”
Sambil
menghela napas, Yukikawa menunjukkan wajah gelisah.
“Bermain
dengan Haruru dan
Kijima itu menyenangkan, tapi... sepertinya mereka semua tidak tertarik dengan
anime atau manga? Tidak bisa berbicara tentang hal yang disukai itu cukup membuatku terasa sesak...”
“...Aku
mengerti perasaanmu.”
Aku
selalu mengira dia dikelilingi teman-teman dan menikmati kehidupan SMA-nya, tetapi sepertinya kenyataannya
tidak seideal itu.
“...Tapi, kamu itu hebat ya, Yukikawa.”
“Eh?”
“Mungkin ini kedengarannya aneh
jika aku yang seorang penyendiri mengatakannya, tapi aku benar-benar berpikir
hubungan antar manusia itu penting, dan memprioritaskan bergaul meskipun
mengorbankan waktu hobi itu luar biasa.”
Itu
adalah sesuatu yang tidak bisa kulakukan. Aku melarikan diri dari hubungan
sosial, terus melarikan diri, dan menjadikan pelarian itu sebagai konten otaku.
Aku juga
berpikir, jika aku bisa menjalani kehidupan seperti Yukikawa, mungkin
kehidupan SMA yang sedikit berbeda akan
menantiku.
“Baru pertama kalinya.... ada seseorang yang mengatakan
hal seperti itu padaku.”
“...Apa
kamu malu?”
“Ha? Siapa juga yang merasa
malu.”
Sambil
mengatakan itu, Yukikawa memalingkan
wajahnya dariku.
Aku
mengira dia adalah orang dari dunia yang berbeda, tetapi saat melihat reaksinya seperti ini, dia
memang terlihat seperti siswa SMA sepertiku. Prasangka memang bisa membuat
seseorang buta.
Aku benar-benar merenungkan bahwa aku memiliki pandangan yang salah
selama ini.
“...Jadi,
setelah ini mau kemana? Sebentar lagi kita akan sampai
di stasiun terdekat rumahku.”
“Apa di
dekat rumahmu ada kafe? Aku ingin berbicara sedikit lebih lama, jika ada, kita
bisa ke sana.”
“Kalau
restoran keluarga sih ada.”
“Kalau
begitu, di sana saja.”
Apa-apaan
dengan perasaan ini?
Hanya
dengan dia mengatakan ingin berbicara lebih lama, dadaku tiba-tiba langsung berdebar-debar.
────Jangan
salah paham, diriku.
Dalam hati,
aku memukul kepalaku yang melamuni hal
aneh.
Jangan
berpikir bahwa kamu diinginkan.
Hati yang
sombong seperti itu membuat seseorang terbawa suasana.
“Yukikawa,
anime apa lagi yang sudah
kamu tonton?”
Setelah
menenangkan diri, aku melemparkan pertanyaan yang sudah lama ingin aku
ajukan.
“Hmm...
sebenarnya aku tidak terlalu banyak mennonton anime terbaru. Aku lebih
banyak menonton anime yang agak tua.”
“Apa kamu lebih menyukai anime jadul?”
“Bukan
berarti begitu... tapi, lihatlah, anime terbaru itu sangat banyak, jadi aku
tidak tahu harus mulai dari mana. Tanpa sadar, aku jadi menghindarinya.”
“Aku setuju bahwa jumlahnya terlalu banyak, tapi itu sedikit
disayangkan.”
“Benar sekali. ...Nee, bisakah kamu merekomendasikan
beberapa anime nanti?”
“Aku tidak keberatan sih...”
Rekomendasi, ya.
Selama
ini aku tidak punya teman untuk berbicara tentang hobiku, jadi sejujurnya aku tidak bisa langsung
memikirkan. Mungkin dalam situasi seperti ini, seharusnya
aku mencari tahu selera Yukikawa.
“Apa ada anime terbaru yang menarik
perhatianmu?”
“...Aku
hanya tahu namanya, tapi 'Layanan Paket yang Melintasi Waktu'
menarik perhatianku.”
“Ah...”
'Layanan paket yang
Melintasi Waktu' adalah karya sci-fi di mana protagonis yang
menjadi pengirim barang pergi ke dunia masa lalu untuk mengantarkan paket.
Protagonis
tersebut menerima permintaan pengiriman dari orang-orang yang hidup di zaman
modern dan bekerja di 'Pengiriman Melintasi Waktu' untuk mengantarkan
barang ke orang-orang di era tertentu.
Daya
tarik karya ini terletak pada kehangatan dan keburukan manusia yang digambarkan
selama proses pengiriman, serta interaksi komedi dengan karakter yang
beragam.
Meskipun anime ini tidak terlalu menonjol, tapi ini adalah karya yang sangat
direkomendasikan bagi mereka yang ingin menonton cerita yang menghangatkan
hati.
“Kalau
begitu, aku punya versi aslinya, mau dipinjamkan saat pulang? Jika kamu suka, kamu bisa nonton animenya juga.”
“Eh, kamu
punya versi aslinya?”
“Ya, aku
sudah mengumpulkan semua volume. Mengumpulkan manga juga hobiku.”
“...Kalau
begitu, boleh aku meminta
satu permintaan yang sedikit egois?”
“Hmm?”
“Bagaimana
kalau kita pergi ke rumahmu dan mengobrol
di sana?”
“Hmm, itu
sedikit────”
Upss, gawat, aku hampir
saja berteriak di dalam kereta.
Meskipun
begitu, mana mungkin dia datang ke rumahku.
Itu tidak mungkin.
Aku
bahkan tidak pernah mempertimbangkan untuk mengundang siapa pun ke dalam kamar apartemenku.
“...Itu sih mustahil. Karena aku tinggal sendirian.”
“Tinggal
sendirian? Walaupun kamu masih siswa
SMA?”
“Yah, karena ada sedikit masalah di
rumah.”
“Kalau
begitu, bukannya jadi semakin mudah untuk pergi
ke sana?”
“Kenapa
bisa begitu...?”
“Jangan-jangan,
kamu tidak mau aku pergi ke sana?”
“Bukannya aku tidak mau... justru Yukikawa lah yang seharusnya merasa lebih
khawatir, kan?”
Biasanya,
situasi di mana seorang gadis pergi ke rumah seorang pria yang tinggal
sendirian adalah hal yang patut diwaspadai.
“Aku sih
tidak masalah, malah lebih baik menghemat uang ketimbang
makan di restoran keluarga.”
“...Ada benarnya juga sih.”
Dengan
uang yang bisa dibelanjakan di restoran
keluarga, aku bisa membeli satu buku manga.
Bagi
seorang siswa SMA, jumlah itu bukanlah angka yang kecil.
“Selain
itu, aku sedikit canggung meminjam barang. Jika sampai kotor, aku jadi merasa tidak enakan.”
“Guh...”
Aku
mengerti. Aku juga sangat keberatan meminjam barang dari orang lain.
“...Baiklah,
kalau begitu, ayo datang ke rumahku hari ini.”
“Nah begitu dong!”
────Aku penasaran, apa aku
sudah merapikan semuanya?
Tiba-tiba
aku mulai merasa cemas.
◇◆◇
“Wah...
ini sangat luas!”
Setelah
berjalan sepuluh menit dari stasiun terdekat, Yukikawa yang datang ke
apartemenku langsung bersemangat
saat masuk ke dalam ruangan.
Memang, menurutku ukuran kamarku cukup luas untuk setingkat anak SMA yang tinggal sendirian.
Apartemen
1LDK dengan ruang tamu berukuran 10
tatami dan kamar 6 tatami. Ruangan
enam tatami itu adalah kamar tidur, dan ruang tamunya memiliki TV besar dan
sofa tiga dudukan.
Sisa
ruang lainnya hampir semuanya dipenuhi rak buku.
“Kebetulan tempat ini adalah
properti yang dimiliki ayahku... ah, kurasa
tidak perlu membahas
yang rumit-rumit.”
Aku
melepas dasi kemeja dan menyarankan Yukikawa untuk duduk di sofa.
“Sebentar,
aku akan menyiapkan
minuman. Hmm... apa kopi instan saja tidak
masalah?”
“Ya,
terima kasih.”
Aku
merebus air di dapur dan menyeduh kopi instan. Sementara itu, ketika aku melihat
ke ruang tamu, aku melihat Yukikawa bersandar di sofa dan mulai bersantai.
Meskipun dia sedang berduaan di rumah
pria, dia tampak sangat santai.
────Yah,
aku juga sebenarnya berterima kasih untuk itu...
Jika dia merasa gugup atau tegang,
aku juga akan merasa aneh. Justru
dengan sikapnya yang santai seperti ini, aku jadi
merasa lebih nyaman.
“...Ini
dia, kopi. Gula dan susu silakan ditambahkan sendiri.”
“Terima
kasih. Maaf, aku jadi santai begini.”
“Itu
tidak masalah sih.”
“Entah
kenapa, ruangan ini terasa sangat menenangkan... entah
kenapa, rasanya ada aroma yang sangat harum.”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa mulai berusaha
mengendus-ngendus sesuatu.
Sejujurnya, itu cukup memalukan.
“Ehmm...
baiklah, mau kita putar ‘Twenty Nights’?”
“Ya, itu
bagus.”
Aku
membuka aplikasi streaming di TV dan memutar ‘Twenty Nights’ dari
episode pertama.
“Setiap
kali aku menontonnya, aku selalu berpikir, ‘tokoh-tokohnya terlalu banyak’, ya.”
“Ah, aku
juga berpikir begitu.”
Sejak
awal, mencoba menggambarkan latar belakang dua puluh karakter dari episode
pertama saja sudah salah besar.
Meskipun
ceritanya tentang para kesatria
yang saling membunuh demi tujuan mereka, jumlah episode yang hanya berjumlah dua belas membuat segalanya
terasa terlalu padat.
Adegan
pertarungan yang serius pun, mungkin karena kekurangan waktu, terasa sangat
cepat dan berubah menjadi adegan komedi yang canggih.
“...Sebagai
lelucon absurd, tingkat penyelesaiannya lumayan
tinggi, ya.”
“Sepertinya
sutradara marah karena ia tidak
bermaksud membuatnya seperti itu.”
“Eh...
jadi kamu nonton wawancaranya
juga? Aku sih tidak tertarik sama sekali.”
“Setiap
kali aku menonton sebuah karya anime,
aku selalu ingin mencari informasi lebih
mendalam.”
Jika aku menemukan kata-kata tidak
aku ketahui atau sesuatu yang membuatku
penasaran, aku akan
segera mencarinya. Jika ditanya mengapa aku
melakukannya, aku tidak punya jawaban yang jelas.
Bagiku,
itu sudah menjadi kebiasaan.
Namun,
aku tidak membenci perasaan mengumpulkan pengetahuan atau informasi yang jarang
digunakan.
“Kalau
begitu... apa anime ‘Twenty
Nights’ jadi seperti ini karena sutradaranya?”
“...Yah, entahlah. Karya sutradara yang
sama, ‘Marionette Harem’, dibuat
dengan sangat bagus.”
“Eh, jadi
sutradaranya sama, ya... itu
memang hasilnya luar biasa.”
“Meskipun
itu karya yang agak lama, karakter-karakternya tidak terasa ketinggalan zaman,
dan itu menarik.”
‘Marionette
Harem’, disingkat ‘Marihare’, adalah karya komedi romantis anak sekolahan di mana protagonis adalah seorang siswa SMA biasa
berinteraksi dengan empat boneka yang memiliki kesadaran, yang ditinggalkan
oleh kakeknya yang seorang pengrajin boneka.
Boneka-boneka
itu memiliki penampilan yang sangat mirip dengan manusia, tetapi tetap ada
bagian yang berbeda, dan dilema itu terasa menyedihkan. Dalam komedi romantis
yang penuh kekacauan, terdapat momen-momen yang benar-benar mengharukan.
Bagian-bagian
seperti itu sangat dihargai, sehingga masih sering dibicarakan di internet
sebagai karya yang terkenal.
“...Ngomong-ngomong,
aku belum pernah membaca versi aslinya. ‘Marihare’ itu manga, ya? Atau
light novel?”
“Sumber aslinya dari manga.
Tunggu dulu sebentar.”
Aku
berdiri dari sofa dan mengambil manga ‘Marihare’ dari rak buku
terdekat.
Manga ini
terdiri dari lima belas volume. Tanpa
perpanjangan yang tidak perlu, volume terakhir berakhir dengan indah. Kualitas anime-nya memang
bergantung pada kualitas sumbernya. Sampai
sekarang masih ada banyak penggemar setia, dan itu bisa
dimengerti.
“Eh, aku boleh membacanya?”
“Kalau
kamu penasaran, baca saja. Ada
bagian yang dipotong karena keterbatasan waktu di anime, jadi meskipun kamu
sudah tahu ceritanya, kurasa kamu masih bisa
mennikmati.”
“...Kalau
sudah dibilang begitu, aku jadi
semakin penasaran, deh.”
Sambil
berkata demikian, Yukikawa menerima ‘Marihare’ dariku.
“...”
Untuk
beberapa saat kemudian, satu-satunya suara yang
terdengar di ruangan itu hanyalah
suara anime dan suara Yukikawa membalik halaman.
Sambil
menatap layar dengan kosong, aku tiba-tiba merasa penasaran dan mengalihkan
pandanganku ke arah Yukikawa.
“...!
...!”
────Ekspresinya
sangat beragam.
Ekspresi
Yukikawa selalu berubah-ubah
setiap kali dia membalik halaman. Kadang-kadang dia
tersenyum, atau terlihat
sedih, dan berwajah kesakitan.
Baru
seminggu sejak kami mulai berada di kelas yang sama, tetapi dia jelas-jelas sangat berbeda dengan penampilannya
yang kulihat di kelas. Ketika
orang-orang di sekitar bersenang-senang, dia hanya terlihat dingin dan
acuh.
“Sisinya yang begini jauh lebih
mudah didekati... setidaknya bagiku.”
“Hmm... apa kamu bilang sesuatu?”
“Tidak
ada. Jika butuh kopi lagi, bilang saja. Meskipun itu hanya kopi instan, sih.”
Sambil
berkata begitu, aku berdiri dari sofa untuk menyiapkan kopi.
◇◆◇
“────Ceritanya sangat bagus.”
Yukikawa
menutup volume terakhir ‘Marihare’ dengan
pujian seperti itu.
Setelah
meletakkan manga yang telah dibacanya sedikit menjauh, dia menggunakan tisu
yang ada di atas meja untuk menghapus hidungnya. Sepertinya dia menangis terharu
di bab terakhir, karena suara isak
tangisnya terdengar di bagian akhir.
“Walaupun
sudah tahu ceritanya, aku tetap menangis di akhir... memang bagus, ‘Marihare’.”
“Aku paham banget. Setiap kali membacanya,
aku selalu menangis.”
Ketika
aku mengatakan itu, entah kenapa Yukikawa terlihat terkejut.
“...Oh,
jadi Nagai tipe yang menangis saat membaca suatu karya, ya. Kupikir
kamu tipe yang membaca dengan tenang.”
“Seolah-olah
aku tidak punya perasaan... tentu saja aku menangis dengan normal, tau.”
“Hmm...
jadi, kamu sama sepertiku, ya.”
Wajah
Yukikawa yang tersenyum nakal membuatku terkejut. Kontras mencolok antara suasana dingin dan sulit
didekati biasanya membuat hatiku bergetar.
“...Ngomong-ngomong,
maaf. Padahal aku tidak datang ke sini untuk membaca ‘Marihare’, tetapi
waktunya sudah larut malam begini.”
“Ah...
yah, kurasa itu tidak bisa dihindari.”
Jam di
ponselku menunjukkan kalau sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam. Sekarang bukan waktu yang pantas bagi
seorang siswa SMA untuk pulang ke rumah.
“Aku juga
minta maaf karena tidak menyadarinya. Manga lainnya, kita bisa membahasnya di lain kesempatan────”
“Nee, Nagai, boleh aku meminta satu hal lagi?”
“Hmm?”
Yukikawa
menunjukkan sedikit keraguan, lalu dengan wajah menyesal, dia menatapku.
“Jadi,
um... boleh aku menginap di sini hari
ini?”
“────Hah?”
Aku
mengerutkan dahi, tidak memahami arti kata-katanya.
Menginap?
Yukikawa? Di rumahku?
“...Jika
tidak mau, ya tidak apa-apa sih.”
Sambil
berkata demikian, Yukikawa tampak sedih.
“Aku
tidak… maksudku bukannya tidak
mau.”
“Jadi,
itu berarti kamu setuju?”
“Ugh...”
Sial,
pertanyaan yang merepotkan.
Melihat
wajahnya seperti itu, rasanya sulit untuk menolak.
“...Baiklah,
aku setuju.”
“! Terima
kasih, Nagai!”
Aku hampir
saja mengerang karena Yukikawa tampak tidak merasa terancam sama sekali.
Apa itu
berarti dia tidak melihatku sebagai seorang pria? Jika iya, ya sudah,
setidaknya itu membuatku merasa sedikit lebih nyaman.
◇◆◇
“...”
Bunyi
pancuran air bisa terdengar jelas dari arah kamar mandi.
Aku yang
duduk di sofa, memegangi kepalaku dengan kedua tanganku ketika suara yang
meresahkan itu terdengar.
────Kalau
menginap, sudah pasti
dia akan mandi di sini...
Tanpa
sadar, aku menerima keputusan Yukikawa untuk menginap, tetapi saat aku berusaha menenangkan diri, aku
menyadari kalau detak
jantungku berdetak semakin
cepat.
Aku
mengerti. Aku tahu.
Aku tahu
betul bahwa tidak akan terjadi apa-apa antara aku dan Yukikawa. Namun, aku tetap seorang pria. Mustahil rasanya untuk tidak merasakan
apa-apa dalam situasi seperti ini.
“...”
Suara
shower pun berhenti.
Setelah
beberapa saat kemudian,
Yukikawa kembali ke ruang tamu.
“Terima
kasih untuk mandinya. Aku merasa segar.”
“Ah, itu
tidak masalah────buh!”
Ketika aku melihat
penampilan Yukikawa yang baru saja
kembali, aku tidak bisa menahan kekagetanku.
Aku memberinya
kaos dan celana olahraga untuk pakaian
gantinya. Seharusnya
dia mengenakan itu...
“Kenapa
kamu tidak memakai celana olahraga?!”
Entah
mengapa, Yukikawa, tidak mengenakan celana olahraga yang sudah kutinggalkan padanya.
Untungnya,
ukuran kaosnya cukup besar sehingga sedikit menutupi bagian bawahnya.
Namun,
tetap saja, penampilannya cukup beresiko.
Sebelum
aku mengalihkan sempat pandanganku, aku melihat sepasang kaki
telanjang yang halus terlihat dari bawah kaosnya. Itu benar-benar hanya sekilas,
tetapi pemandangan itu terlanjur terbayang di
benakku dan tidak bisa hilang.
“Ah,
maaf. Kurasa ukuran pinggang dan
panjangnya tidak pas.”
“Ah, begitu
ya... Maaf, aku kurang memperhatikan.”
Memang benar
kalau celana olahragaku sedikit kebesaran untuk Yukikawa. Sepertinya aku juga kurang
perhatian.
“Eh? Apa jangan-jangan kamu merasa malu?”
“Kamu ini... apa itu balasan untuk saat di kereta tadi?”
“Siapa
tahu. Aku akan mengembalikan kaosnya.
Aku sih baik-baik saja dengan ini.”
“Walaupun kamu merasa baik-baik saja, aku tidak merasa
baik-baik saja... tunggu sebentar.”
Aku ingat
ada pakaian olahraga dari masa SMP yang tersisa di dalam lemari. Aku baru saja menggunakannya beberapa
hari lalu, jadi seharusnya tidak ada yang dimakan serangga.
Aku segera
menemukannya dan menyerahkannya kepada Yukikawa.
“Pakai
ini. Aku sudah mencucinya, jadi seharusnya bersih.”
“Terima
kasih.”
“Yukikawa,
kamu... kelihatannya cukup terbiasa ya?
Maksudku, menginap di rumah orang seperti ini.”
Karena
dia terlihat sangat percaya diri
sampai-sampai membuatku terkesan, jadi aku merasa penasaran. Hampir tanpa
sadar, aku bertanya padanya.
“Tidak,
ini yang pertama kali.”
“Begitu, sudah kuduga—— ini yang pertama!?”
“Ya. Aku
tidak punya banyak teman.”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa menghela napas dengan sedih.
“Aku tinggal di luar negeri sampai masa SMP, jadi aku tidak punya teman di sini... dan
di luar negeri pun tidak banyak teman.”
“...Ternyata
kamu cukup introvert, ya, Yukikawa.”
“Tunggu, jangan panggil aku
introvert.”
“Maaf,
itu salah. Jadi... kamu punya kepribadian yang rendah hati?”
“Itu
tidak terlalu berbeda maknanya.”
Saat kami
berbincang seperti itu, tanpa sadar kami berdua tersenyum. Rasanya sudah lama sekali aku
bisa berbicara lepas dengan
orang lain.
“Sepertinya
ini pertama kalinya aku berbicara sebanyak ini dengan orang lain selain keluarga.”
“...Ngomong-ngomong,
bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka
tidak masalah kalau kamu
menginap?”
“Hal-hal
seperti itu terserah padaku, jadi tidak masalah. Keduanya bekerja dengan bebas,
jadi mereka berdua jarang pulang.”
“Pekerjaan macam apa itu?”
“Papa
seorang fotografer dan sering bepergian ke seluruh dunia. Mama biasanya ikut menemaninya. Jadi mereka hanya pulang
beberapa kali dalam sebulan, dan biasanya hanya aku yang ada di rumah.”
“Hee...!”
Seorang fotografer, ya? Sungguh pekerjaan yang jarang didengar,
dan sedikit menarik bagiku.
“Tapi... aku
benar-benar mendambakan tempat seperti ini, di mana kamu merasa seperti
memiliki istanamu sendiri? Meskipun
aku tidak jauh berbeda, tetap saja, semuanya tidak sepenuhnya bebas.”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa kembali melihat sekeliling.
“Nee, Nagai, kamu sudah tinggal di
kamar ini sejak kapan?”
“Hmm...
sekitar satu bulan yang lalu.”
“Apa kamu membawa buku-buku
ini dari rumah? Semuanya terlihat
sudah cukup tua.”
“Ah, iya.
Aku sudah mengumpulkannya sejak lama. Selain itu, sebagian besar furniturnya
juga barang pemberian, jadi rasanya agak tua.”
“Menurutku itu ada nilai seninya. Seperti
ada pesona tersendiri?”
Yukikawa
menepuk-nepuk sofa dan tertawa bahagia. Ekspresi wajahnya yang begitu beragam dan berbeda dari biasanya
benar-benar menarik hatiku.
Aku ingin
melihat lebih banyak ekspresi darinya──── rasanya ada daya tarik yang
kuat.
Ketika
aku berpikir bahwa orang-orang di sekitarnya belum mengetahui sisi-sisi seperti
ini, aku merasakan sedikit rasa superioritas.
────Aku
tahu. Ini hanya sementara.
Aku tidak berada dalam posisi untuk menginginkan
banyak hal. Aku tidak
berpikir ingin menguasai Yukikawa, dan aku juga tidak ingin mengembangkan
hubungan ini lebih lanjut.
Dia yang
menarik perhatian orang lain dengan pesonanya yang melimpah seharusnya
dikelilingi oleh lebih banyak orang.
Dengan
kecantikan seperti itu... suatu hari dia mungkin menjadi model atau selebriti. Jika aku bisa berharap satu hal,
aku ingin menjadi teman yang bisa berbagi hobi otaku dan berdiskusi tentang
karya favorit seperti hari ini.
Untuk
pertama kalinya dalam kehidupanku, aku ingin memiliki “teman
otaku.”
Aku
berdiri dan mengambil manga dari rak buku.
Judulnya
adalah, “Pelayanan paket
yang Melintasi Waktu.”
“Lihat,
kamu datang ke sini untuk membaca ini, ‘kan?”
“Ah,
benar juga.”
“Aku juga
mau mandi, jadi kamu bebas membacanya
sesukamu. Jika ingin meminum teh,
aku sudah menyiapkannya di dalam kulkas, ambil saja jika kamu
haus.”
“Terima
kasih. Wah, kamu sangat baik sekali.”
“Karena kamu tamu pertamaku di rumah
ini.”
“Umu, kamu tidak perlu merasa
tertekan.”
“Memangnya kamu ini seorang putri kerajaan atau semacamnya?”
“Putri kerajaan? Memangnya
aku seimut itu?”
“Bu-Bukan begitu maksudku...!”
Melihatku
bereaksi dengan panik, Yukikawa tertawa
terbahak-bahak. Sama seperti Yukikawa, aku
juga jarang berbicara dengan orang lain seperti ini.
Tanpa
sadar, aku merasa sangat senang. Merasa
sedikit malu dengan perasaanku itu, aku menuju kamar mandi.
────Oh,
ngomong-ngomong, bagaimana dengan tempat tidurnya?
Kasur di
rumahku berukuran double, jadi sebenarnya kami bisa tidur berdua,
tetapi────.
...tunggu,
itu sih tidak mungkin.
Aku
berusaha mengembalikan pikiranku yang sempat
beralih ke mode romansa komedi sejenak. Aku bisa tidur di sofa, dan
Yukikawa bisa tidur di tempat tidur.
Demi
menjadi teman otaku yang tak tergantikan, pikiranku harus selalu bersih.
──── Bersihkan hati... sucikan jiwa.
Sambil terus mengulangi mantra itu dalam
pikiranku, aku kembali menuju kamar mandi.
◇◆◇
(Sudut
Pandang Yukikawa)
Aku
menghela napas lega saat melihat Nagai pergi dan menuju kamar mandi.
──── Ruangan terasa begitu menenangkan.
Aku duduk
dalam-dalam di sofa sambil melihat sekeliling ruangan.
Di dalam rak buku yang mengelilingi
ruangan, ada banyak
sekali buku yang tersimpan rapi. Tidak hanya manga, tetapi juga novel ringan
dan sastra umum, jenisnya sangat beragam.
Di sudut
ruangan, ada tumpukan DVD anime. Selain itu, ada aroma kopi instan yang samar
dan bau kertas────.
Aku sudah
terpesona dengan ruangan ini.
“...Ditambah lagi, Nagai juga rupanya orang yang cukup
baik.”
Aku tidak
terlalu mengenal pemilik ruangan ini. Namun,
anehnya, berbicara dengannya terasa nyaman. Mungkin karena aku bisa menjadi
diriku yang sebenarnya.
────
Terlepas dari Haruru
dan Kijima,
sepertinya teman-teman lain benar-benar tidak suka anime...
Aku
menyembunyikan hobiku karena aku tidak ingin dianggap rendah. Akibatnya, aku tidak bisa
mendalami hubungan dengan mereka.
Di sini,
aku bisa mengakui “kesukaanku.” Jadi, aku merasa tenang.
Hanya
saja... mungkin aku sudah terlalu berlebihan dengan tiba-tiba datang ke
rumahnya. Aku belum pernah punya pacar, dan ini juga pertama kalinya aku datang
ke kamar seorang laki-laki.
Bukan
berarti aku tidak menyadarinya sama sekali.
Mungkin,
Nagai juga tidak memperhatikanku.
“...Tapi
itu juga sedikit menjengkelkan.”
Meskipun
begitu, aku termasuk orang yang cukup populer.
Soal penampilanku────
yah, kurasa aku cukup oke.
Meskipun aku merasa risih jika diperhatikan,
tidak diperhatikan juga membuatku kesal.
...Apa-apaan sih dengan perasaan
yang rumit ini?
“Ah...
sudahlah, lebih baik aku membaca
manga saja.”
Aku
tidak suka memikirkan hal-hal yang rumit karena itu
terlalu melelahkan.
Sekarang,
aku akan berleha-leha dan bersantai di
ruangan ini.
