Chapter 1 — Heroine Kelima
Bersamaan
dengan bunyi lonceng yang mendadak berakhirnya jam pelajaran kelima, suasana tenang menyebar di
ruang kuliah. Aku ──Iriya
Satoshi ──juga bangkit sambil menyimpan
pena ke dalam tempatnya. Saat melihat papan tulis, sinar matahari yang
dipantulkan di permukaan putih menyilaukan mataku, dan aku tidak bisa menahan
untuk menyipitkan mata.
“Sepertinya
aku sudah membuat mereka menunggu lama.”
Setelah
melewati koridor Gedung Barat 2, aku memeriksa ponselku saat menuju eskalator.
Di layar menampilkan pesan
dari Satsuki.
'Masih belum selesai~?'
dengan akhir kalimat yang diperpanjang dan stiker ceria.
Begitu
aku melangkah keluar dari pintu otomatis, angin dingin menyapu pipiku. Meskipun
musim semi hampir berakhir, kadang-kadang
cuaca mengingatkan kita pada dinginnya musim dingin dengan cara yang
menyebalkan.
“Satoshi-san!”
“Whoa!?”
Suaranya yang jernih dan merdu seperti
lonceng terdengar dari belakangku.
Sebelum aku sempat berbalik, dorongan lembut sudah menghantam punggungku.
Lengan ramping melingkari pinggangku, dan aroma segar dari sampo menggelitik
hidungku.
Saat
menoleh, aku mendapati ada seorang
gadis cantik dengan rambut hitam yang bergetar memelukku dari belakang.
“Terima
kasih atas kerja kerasmu!”
“Daripada
melalui punggungku, aku akan merasa lebih senang jika kamu menunjukkan wajahmu.”
“Maaf.
Seharusnya aku tidak begitu.”
Dia
membersihkan tenggorokannya dan akhirnya menjauh dari punggungku. Mata merah delimanya bersinar cerah
menatapku.
Shinonome
Shino, putri dari keluarga Shinonome yang terkenal di Jepang. Rambut hitamnya yang seolah-olah perwujudan langit malam dan postur tubuh
yang sempurna.
Dia
tampak anggun dan berkelas, namun senyumnya memberikan rasa kedekatan. Tidak ada wanita lain yang begitu cocok dengan istilah [Yamato Nadeshiko].
“Sekali
lagi, terima kasih atas kerja kerasmu."
“Shino
juga sudah bekerja keras. Maaf telah membuatmu menunggu sampai sekarang.”
“Tidak
apa-apa, ayo kita pergi.”
Shino
tersenyum lembut dan perlahan meraih tanganku. Tapi
pada saat itu, udara terasa sedikit lebih dingin.
“──Ungkapan 'kucing garong'
sepertinya memang ditujukan
untukmu, Shino."
Suara
yang tajam seperti bilah es terdengar dari belakangku.
Udara dingin yang menyentuh telinga membuatku tanpa sadar
mengencangkan bahu.
“Ara,
bukannya kamu menyerahakan penjemputan
Satoshi-san kepadaku dan pulang lebih
dulu?”
“Fufu,
sangat tidak tulus ya.”
Percikan
api yang tak terlihat muncul di antara
senyuman mereka. Aku
hanya bisa tersenyum pahit melihat pemandangan yang biasa ini.
“Reine
juga datang menjemputku, ya?”
“Tentu
saja lah. Karena
kamu adalah pa-pacarku.”
Jika itu
memalukan, seharusnya kamu tidak
perlu mengatakannya...
Aku
bertukar pandangan dengan Shino dan tak bisa menahan tawa.
“Terima
kasih, Reine.”
“Mm...”
Aku
mengulurkan tangan kiriku dan
dengan lembut mengelus kepala Reine. Rambut
peraknya yang terlihat dingin sebenarnya sangat lembut dan hangat. Reine menutup matanya sesaat dengan nyaman, pipinya tampak memerah dan dia mengeluarkan napas kecil.
Kitagawa
Reine.
Mata
birunya yang dalam seolah-olah menyimpan lapisan es
abadi, dan kecantikannya membuatku ragu untuk
menyentuhnya.
“Aku
juga ada di sini~”
“Whoa!?”
Kali ini,
sebuah dorongan lembut menghantam lengan kananku.
Karena terkejut, aku berbalik dan melihat senyuman lembutnya.
“Terima
kasih atas kerja kerasmu, Satoshi-kun~. Peace~, peace~♪”
Dia mengucapkan itu dengan suara manis serta kedipan mata. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak
tertarik oleh tanda peace santai
yang dia tunjukkan. Keceriaan
dan kelembutannya yang
membuatku merasa nyaman,
secara tidak sadar senyumku muncul.
Nanjou
Shuna.
Dia memiliki
rambut cokelat yang sedikit bergelombang dan mata oranye
seperti sinar matahari yang meleleh bersinar. Sikapnya yang ramah dan suara
lembutnya. Tak seorang pun bisa
mempertahankan permusuhan saat berhadapan dengan senyumannya. Dia benar-benar seperti “Sang Bunda”.
“Ahh!
Kalian bertiga lagi-lagi nyelonong duluan!”
──Lucu
juga kalau ketiga orang berkumpul dan satu orang terakhir tidak ada...
Suara
cerianya menggema di dalam koridor kampus saat senja. Saat itu, mereka bertiga secara serentak menjaga
jarak seolah-olah sudah merencanakannya.
Dan kemudian──.
“Ups...”
Aku kehilangan keseimbangan karena tiba-tiba mendapat dorongan dari
depan dengan kuat Aku
merasakan benturan di dadaku dan jatuh ke tanah.
Senyuman
cerianya terpancar jelas di hadapanku.
“Selamat
datang kembali, Satoshi-kun!”
“...Aku pulang, Satsuki.”
Aku tidak
bisa menahan untuk menghela napas.
“Sebisa
mungkin, aku berharap
kamu tidak selalu menerobos seperti ini..."
“Tidak
bisa!”
Satsuki langsung segera membantah.
Saionji Satsuki.
Dengan
rambut berwarna merah muda yang mengingatkan siapa
saja pada musim semi yang telah berlalu, dia adalah
gadis yang sangat ceria. Jika
senyuman Shuna dapat menyembuhkan siapa pun, senyuman Satsuki dapat memikat semua orang.
Aku sudah
berulang kali kesulitan menghadapi sifatnya yang bebas, namun pada akhirnya,
aku tidak pernah bisa mengalahkannya.
“Semuanya sudah berkumpul, jadi mari kita
pulang.”
“Aku
sudah lapar, nih~”
“Kira-kira makanan
hari ini apa?”
“Sesekali
biarkan Reine yang memasak.”
Suara
keempat gadis itu yang mengobrol dengan riang memudar di dalam
kampus saat senja.
Pemandangan
mereka yang tertawa bersama tampak seperti salah satu adegan dalam film. Setiap langkah, suara langkah kaki mereka saling
bersautan, dan angin menggerakkan rambut
mereka. Sinar
matahari terbenam memancarkan garis-garis keemasan pada rambut
mereka.
“──Sudah
lebih dari dua tahun sejak 【LoD】 berakhir, ya...”
──Sekarang kami semua sudah
menjadi mahasiswa
tahun ketiga.
Aku
mengusap lengan kananku, dan aku benar-benar bisa merasakan sentuhannya. Tidak
ada lagi kesulitan menggerakkannya. Meski tidak
bisa dibilang sepenuhnya pulih, tetapi sudah lebih dari cukup untuk menjalani
kehidupan sehari-hari.
Tiba-tiba,
saat aku melihat ke depan, aku mendapati Shino sedang tersenyum kecil, dan Reine
mengalihkan pandangannya seolah-olah malu. Shuna menyela dan memperluas topik
pembicaraan, sementara Satsuki tertawa
dengan ceria.
──Aku
berharap waktu ini bisa terus berlanjut selamanya.
Kehangatan
yang tenang namun tak terbantahkan menyebar di dadaku. Keputusan saat itu tidaklah
salah──aku merasa begitu dari lubuk hatiku.
Satsuki yang berjalan di depan tiba-tiba
menoleh. Dengan latar belakang matahari terbenam, rambut merah mudanya bergetar
dalam cahaya keemasan.
Dengan
senyuman, dia melambaikan tangannya
dan memanggilku.
“Satoshi-kun,
ayo cepatlah!”
“Maaf,
maaf. Aku segera datang.”
Tanpa
sadar, tawa kecil keluar
dari mulutku, dan aku mulai berlari.
◇◇◇◇
Kami
tidak bisa pulang dengan satu jalur
kereta, jadi kami harus berganti di stasiun penghubung. Arus orang yang berlalu-lalang dari gerbang tiket tidak
pernah berhenti mengalir, dan di dalam stasiun terdengar campuran pengumuman
dan keramaian.
Para
pekerja kantoran yang baru pulang, siswa SMP dan SMA yang masih mengenakan
seragam olahraga setelah kegiatan klub. Semua orang terburu-buru menuju
jalan pulang mereka
masing-masing.
“Ada
apa?”
Satsuki melihatku dengan tatapan penasaran.
“Maaf,
aku sedang melamun.”
“Seharian
dari pagi sampai malam ada jam perkuliahan sih.
Tentu saja, itu melelahkan.”
Satsuki dan yang lainnya yang berjalan
di depan tampak asyik berbincang-bincang. Sambil memperhatikan mereka yang
tampak ceria, tiba-tiba aku mengalihkan pandanganku
ke sisi peron yang berlawanan.
‘──”
“──”
Di tengah
kerumunan orang, di
jalur seberang, seorang wanita berambut pirang sedang
menatapku dengan tajam.
Dia siapa──?
Hanya
keberadaannya yang tampak asing, seolah
keberadaannya terputus dari segala sesuatu di sekitarnya.
Pertanyaan
itu meledak di dalam dadaku.
Mata
wanita itu berwarna biru pucat,
seolah menampung langit biru tanpa awan.
Dengan senyuman lembut, dia menatapku dengan tajam.
Pengumuman
di dalam stasiun bergema di telingaku.
Bunyi
rel yang berdecit.
Angin
yang berhembus.
Lampu
kereta yang menyebar dari kejauhan, menerangi rambut pirangnya dengan cahaya
putih. Dalam
cahaya itu, dia bergerak perlahan. Dia mengangkat
ponsel ke samping wajahnya dan mengetuk layar dengan jari
telunjuknya.
Kemudian,
dia tersenyum lembut.
──Lihat saja nanti ya.
Bibirnya
jelas membentuk kata-kata itu.
Pada saat
itu, kereta meluncur memasuki peron, diikuti suara gemuruh dan angin menyapu
semua suara yang ada.
“──Kelihatannya kamu cukup terpesona dengan
wanita di seberang peron, ya?”
“Eh!?”
Suara bisikan di dekat telingaku membuat jantungku berdebar kencang Dengan hati-hati, aku melihat ke
arah suara itu dan melihat Satsuki
yang menggembungkan
pipinya.
Di
sampingnya, Shino dan Reine juga mengarahkan tatapan dingin yang sama. Hanya Shuna yang tersenyum lebar
dengan senyum penuh arti, dan reaksinya yang begitu
justru menakutkan.
“Sudah
pasti ada hukuman.”
"Tidak,
itu...”
“Tak
ada alasan.”
“...Baiklah.”
Besok
pagi aku harus bangun pagi juga...
Setidaknya,
biarkanlah sampai besok... tidak, itu bohong! Aku akan merenungkannya dengan sepenuh hati!
Saat aku
menahan jeritan batin itu, ponselku
bergetar pelan di dalam saku.
“Hmm?”
Saat aku melihat
layar, aku tanpa sengaja
mengernyitkan dahi. Ada satu email di
kotak masuk yang biasanya tidak kugunakan. Karena aku biasanya berkomunikasi melalui Line, jadi mendapatkan
notifikasi seperti ini terasa aneh.
“...Eh?”
Begitu aku melihat subjek yang tertera di
layar, jantungku seketika berdegup
kencang.
“Ada
apa?”
“Ah...
tidak, bukan apa-apa.”
Dengan
senyuman samar, aku menundukkan pandangan dan menyelipkan ponselku ke dalam saku agar tidak
terlihat oleh keempat orang itu.
“...? Dasar Satoshi-kun
aneh.”
Satsuki mengamatiku dengan curiga,
tetapi dia tidak mendesak lebih jauh dan segera kembali berbincang dengan
tiga orang lainnya.
──Hampir saja...
Saat aku
menghela napas, aku merasakan keringat dingin mengalir di punggungku. Aku membuka ponselku dengan hati-hati dan
memeriksanya
lagi.
[Senang bertemu denganmu. Aku adalah heroine kelima dari 【LoD】.]
──Ini
pasti bercandaan,
kan...?
Aku
merasa seperti ada sesuatu yang menyelinap masuk ke
dalam celah-celah kehidupan sehari-hariku yang bahagia.
◇◇◇◇
“Satoshi-kun,
maaf kalau merepotkanmu, boleh aku
meminta tolong padamu untuk membelikan
sesuatu?”
Malam itu
terasa membosankan dan tak ada yang bisa dilakukan. Langit di luar mendung, dan
tak jelas apakah akan hujan atau tidak. Satsuki
mendekatiku saat aku sedang
bersantai di sofa. Rambutnya yang berwarna merah
muda menyentuh bahuku dan mengusap pipiku, terasa lembap dan sedikit
menggelitik.
“Karena aku
harus menyiapkan makan malam sekarang.”
“Ah,
begitu.”
Aku
berdiri dari sofa, meregangkan tubuh, dan tulang punggungku berbunyi
kecil.
“Baiklah.
Apa yang harus kubeli?”
“Mm.”
Satsuki menggigit ikat rambut dengan
mulutnya, lalu mengumpulkan rambutnya dengan tangan kanan. Lalu, dia
mengulurkan selembar kertas catatan yang dipegangnya di tangan kiri
kepadaku.
──Seperti biasanya,
persiapannya sangat cepat.
“Apa,
belanja?”
Reine
yang terbaring di lantai merespons dengan suara lesu. Meski
sudah menjelang akhir bulan Juni, di tengah ruang tamu
masih ada kotatsu yang duduk dengan tenang. Tanpa ada yang menggerakkannya,
hanya rasa kantuk yang tidak sesuai musim yang tersisa di ruangan itu. Reine menggenggam selimut kotatsu
dan perlahan-lahan mengangkat tubuhnya.
“Kalau
begitu, aku juga ikut pergi~”
“Tentu
saja, aku juga.”
Shuna dan
Shino juga mengangkat wajah dari ponsel mereka dan secara bersamaan mengarahkan
pandangannya ke arah
kami.
Mata
ketiga orang yang merasa bosan itu bersinar bersamaan.
Kalau
begitu, mari kita pergi bersama──tapi saat aku hendak
mengatakannya,
“Tentu
saja tidak boleh, kan?”
Suara
rendah dan jelas dari Satsuki memecah
keheningan di ruangan. Dengan satu kalimat itu, suasana langsung menjadi
sunyi.
“Minggu
lalu, ada kejadian serupa, iya kan?”
Satsuki perlahan-lahan memiringkan
kepalanya, dan sehelai poni yang jatuh dari kuncir kudanya menyentuh bibirnya.
Walaupun
wajahnya kelihatan tersenyum, tapi senyumannya itu tidak terlihat lembut.
Kemudian,
Satsuki mengoperasikan ponselnya dengan
jarinya, mengarahkan layar ke arah kami──dan menekan tombol play.
Volume
suara diatur maksimum, tawa ceria terdengar menggema dari speaker ruangan.
'Yeyyy~☆ Satsuki-san,
apa kamu sedang menonton~?'
'Apa kamu
menonton~?'
'Y-Yeyy!'
Di dalam layer tersebut menunjukkan video dari sebuah kamar suite mewah yang didominasi warna
merah. Dindingnya
dihiasi dengan pola beludru merah tua, dan pencahayaan lembut menerangi ruangan
dengan misterius.
Lampu
kaca yang digantung dari langit-langit bersinar lembut, menciptakan bayangan
yang berkilau di seluruh ruangan. Gambaran
itu seolah-olah mengeluarkan aroma parfum, dan jelas-jelas bukan hotel biasa.
Dan ada tiga orang berdiri di depan kamera──masing-masing
memancarkan suasana yang berbeda.
Shino
mengenakan pakaian dewasa yang didominasi warna hitam, dengan senyum penuh arti
di balik lensa kamera.
Shuna
tampil cerah dengan gaun warna
oranye yang mencolok, membuat tanda peace
yang provokatif dengan kedua tangannya.
Reine
dibalut kostum putih bersih, dia
mengangkat dagunya dengan
ekspresi penuh kemenangan.
Mereka bertiga
dengan sengaja mendekatiku dan mencondongkan tubuh mereka di depan kamera.
‘Kita
akan merebut pacar Satsuki yang berharga sekarang!☆'
'Maaf ya,
Satsuki-chan~. Kelihatannya Satoshi-kun lebih menyukai kami~'
'Hehe, jadi begitulah. Lupakan
mantan pacarmu itu
dan mari kita bersenang-senang.'
Di layar,
aku terlihat terikat di atas tempat tidur dengan penutup mata.
'Nah...
ini benar-benar hanya untuk perekaman
doang, ‘kan?'
'Tentu
saja.'
'Jangan sampai menunjukkan ini pada Satsuki, oke!?'
'Aku bersumpah demi keluarga
Shinonome, aku tidak akan membocorkannya.'
'Setelah ini selesai, kita akan segera pulang, oke? Ini pasti, kan!?'
'Aku takkan mengingkari
janjiku.'
Tiga
menit kemudian...
'♡♡♡♡♡♡!!!!’
Kamera
itu terguling karena getaran, dan layarnya menjadi hitam, tetapi desahan misterius dan menggoda bergema
dari pengeras suara.
“...”
“...”
Keheningan.
Tidak ada yang bergerak. Ponsel di tangan Satsuki
memantulkan kegelapan dan hanya mengeluarkan desahan dan erangan menggoda yang terdengar.
Saat aku
melihat Shino tanpa bicara apa-apa,
dia langsung mengalihkan pandangannya.
──Sepertinya
nama keluarga Shinonome sudah semakin murahan, ya?
Reine dan
Shuna memberikan reaksi yang sama ketika aku melihat mereka.
“Padahal aku
sedang menyiapkan makan malam, tetapi sepertinya kalian sangat
bersenang-senang, ya?”
Suaranya yang terlalu lembut itu justru terdengar menakutkan. Aku
langsung membuka mulut.
“Aku
tidak melakukan kesalahan apapun! Aku pingsan dalam perjalanan pulang dari
berbelanja, dan ketika aku bangun, aku sudah ada di sana!”
“Ya,
ya. Aku juga tidak pernah
berpikiran kalau Satoshi-kun
melakukan kesalahan apapun!”
“Satsuki...!”
Satsuki tetap tersenyum lembut.
Namun, sesaat kemudian, dia menoleh ke arah
mereka bertiga dengan sudut yang mustahil. Matanya tersenyum, tetapi cahaya
di dalamnya sedingin es.
“Jadi,
kira-kira siapa yang ingin mengikuti
Satoshi-kun, ya?”
Senyuman yang seharusnya menjadi ciri
khas Satsuki sekarang berfungsi seperti alat
penyiksaan. Hanya dengan senyumannya, Reine, Shuna, dan Shino
semuanya berhenti bergerak.
Tidak ada
yang menarik napas. Tidak ada yang mengangkat pandangan.
“Fyuh...”
Satsuki perlahan menutup matanya dan
menghela napas.
“Sebenarnya
akulah yang harus menemanimu,
tetapi──”
“Itu
tidak akan pernah diizinkan.”
“Cihh.”
Satsuki mendecakkan lidahnya dengan
kesal.
Sebenarnya,
aku pergi berlibur dua hari satu malam dengan Satsuki
minggu lalu.
Karena ketahuan oleh ketiganya, Satsuki sekarang dilarang berkencan selama seminggu dan dipaksa menyiapkan makan malam.
Yah,
keduanya sama-sama salah sih...
Satsuki kembali tersenyum lembut seperti
biasanya seolah-olah
tidak terjadi apa-apa.
“Kalau
begitu, Satoshi-kun. Tolong belikan ya?”
“Baiklah...”
Aku merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama semua
orang, tapi terkadang aku juga
ingin waktu sendirian, jadi ini bisa jadi kesempatan
yang sempurna. Aku
berdiri dan memeriksa catatan lagi.
“Baiklah
biar kulihat~, beli lima botol minuman beralkohol ringan. Ikan
kering dan kalpas. Apaan maksudnya dengan
cemilan ini?”
“Kamu
bisa memilih apa saja yang kamu suka, Satoshi-kun!
Tapi, jangan beli terlalu banyak, ya?”
Senyumnya
yang begitu alami membuatku terpesona. Senyuman Satsuki memang yang
terbaik. Sepertinya
suasana hatinya sudah membaik, jadi aku bisa
bertanya tentang hal yang paling aku khawatirkan.
“Yang ini, apa
maksudmu dengan 'semua alat kontrasepsi
yang tersedia'?”
“Persis
seperti yang tertulis, belikan semua yang tersedia di sana!”
Dia
mengatakannya dengan nada yang sama seperti memesan susu. Sama sekali tidak ada
keraguan atau kebimbangan dalam suaranya.
“Persediaan
kita sudah kehabisan, kan? Jadi kita harus segera membelinya lagi.”
... Jika aku membeli semuanya sekaligus, orang kasir pasti akan salah paham kalau aku memiliki hasrat seksual yang sangat kuat...
Rasa malu
di depan umum terasa lebih nyata dan menakutkan daripada perintah Satsuki.
“Memangnya
kita tidak bisa memesannya secara online? Memang butuh waktu untuk
sampai, tapi asalkan kita bisa menahannya sampai saat
itu...”
“Kalau
Satoshi-kun setuju sih, itu
juga tidak masalah.”
“Oh,
begitu.”
Satsuki mengangguk dengan sangat ringan,
seolah-olah tidak ada beban. Namun pada saat
itu, suasana di ruangan terasa lebih cerah.
Reine,
Shuna, dan Shino tersenyum lembut seolah-olah
telah sepakat.
──Eh,
kenapa?
“Hehe,
jadi, Satoshi juga sudah siap, ya?”
“Eh?”
Reine
tersenyum. Ada cahaya aneh di matanya.
“Begitu
rupanya, jadi maksudnya seperti
itu, ya~”
Shuna
berpura-pura terkesan dengan menyilangkan tangan dan mengangguk.
“Jadi,
sebenarnya kamilah yang kurang siap ya...”
Shino
berkata dengan senyum bermakna yang
seolah-olah mengerti.
“Eh,
maaf. Aku benar-benar tidak mengerti maksud
kalian...”
Mengabaikan
kecemasanku yang semakin meningkat, Satsuki tersenyum perlahan untuk terakhil kalinya.
“Jadi maksudnya──itu berarti kamu sudah siap
untuk memiliki anak, ‘kan!”
“Maaf,
aku benar-benar tidak mengerti!?”
Suaraku
tiba-tiba melengking.
“Karena cuma itu satu-satunya yang tersisa,
kan? Jadi setelah itu──ya, ‘kan?”
Satsuki tersenyum lembut sambil menyatukan kedua tangan di depan dadanya. Reine, Shuna, dan Shino juga
menunjukkan ekspresi yang sama, dan keringat dingin mengalir di
punggungku.
“Aku
akan segera pergi membelinya! Semua!
Semuanya, ‘kan!?”
Aku tidak
peduli jika lidahku tergigit.
Sekarang yang terpenting adalah melarikan diri.
“Ya,
ya! Selamat jalan~~!”
Aku
mengambil dompet dan ponselku,
membuka lemari untuk mengenakan cardigan, dan menyelipkan catatan ke dalam saku
sebelum keluar dari ruangan.
Saat
itu.
“Ah,
Satoshi-kun, tunggu sebentar.”
“Hmm?
Ada yang kelupaan?”
Begitu
aku memegang gagang pintu, Satsuki
memanggilku dari belakang. Pipinya kelihatan
sedikit memerah dan dia
menatapku dengan tatapan manja.
“Kalau
kamu ingin menjadi
papa, kamu tidak memerlukannya, ‘kan?”
Aku
membuka pintu tanpa berkata apa-apa dan melangkah keluar dengan terburu-buru,
menyeret sepatu. Udara
di luar terasa hangat dan lembap. Namun, itu masih jauh lebih baik daripada
berada di dalam ruangan itu.
“Aku masih belum
siap untuk menjadi ayahhh...!”
◇◇◇◇
“Capeknya...”
Sambil
meremas struk belanjaanku dengan tangan, aku
menggantungkan kantong plastik di jari yang berlawanan dan menghela napas. Begitu melangkah keluar dari toko
yang diterangi lampu neon, dunia seketika menjadi abu-abu.
“Eh?
Hujan?”
Saat
menengadah ke langit, awan abu-abu tampak berkilau samar. Seharusnya cuacanya cuma berawan
sampai saat ini menurut ramalan, tetapi tetesan dingin mulai jatuh di
pipiku.
“Kalau
aku berlari, apa aku bisa sampai
tepat waktu...?”
Apartemenku hanya berjarak sepuluh menit dengan berjalan kaki. Hujan gerimis ini
sepertinya masih bisa pulang tanpa payung. Saat aku hendak melangkah,
tiba-tiba aku merasakan sensasi seolah ada jari dingin yang menyelip di antara
pikiranku.
“Halo.”
Saat
menoleh, aku melihat ada seorang wanita yang
tidak kukenal berdiri di sana.
“Eh,
um. Halo.”
Setelah
memastikan dia bukan kenalan, aku menjawab dengan hati-hati. Payung hitamnya menangkis tetesan
hujan, dan ritme itu terasa menyakitkan di telinga. Pipinya sedikit memerah, dan dia
tampak ceria di tengah hujan.
Saat aku
bersiap untuk mendengar apa yang akan dia katakan──.
“Cuaca yang bagus, ya?”
“Bukannya
sekarang hujan deras?”
“──”
“──”
Tanpa
sadar, aku menjawab secara refleks. Guyuran hujan
semakin deras, dan riak air mulai terbentuk di aspal. Namun, dia melanjutkan tanpa
memperhatikan kenyataan itu sama sekali.
“──Ada
ungkapan tentang hujan yang cerah dan lupa payung. Aku cukup menyukainya.”
“Kalau
begitu, seharusnya 'hujan cerah dan lupa topi', kan? Apa kamu mengerti maksudnya?”
“…………Hujan
itu memiliki bunyi yang indah, kan? Rasanya seperti
samidare.”
“Sekarang
memang sedang musim hujan, loh? Samidare itu hujan yang turun
di bulan Mei.”
“Eh,
itu...”
“Ngomong-ngomong,
bulan Mei dalam kalender lama bertepatan dengan
musim hujan sekarang.”
“──”
“──”
...Eh?
Apa aku melakukan kesalahan?
Suasana seketika
membeku. Meski aku tidak ada niat jahat atau
ingin mengungguli, tapi sepertinya aku justru terjebak dalam argumen. Wanita itu sedikit bergetar, menggenggam gagang
payung dengan erat.
Bibirnya
bergetar, dan tatapannya tidak menentu. Gerakannya terlihat aneh dan
kekanak-kanakan, membuat rasa canggung semakin meningkat.
“Maafkan
aku...”
“Jangan
meminta maaf! Itu membuatku merasa
lebih menyedihkan!”
Tanpa
diduga, dia meninggikan suaranya, dan dia melemparkan
payung ke tanah, lalu menggenggam bajuku.
──Dia terlalu dekat.
Aroma harum dari parfum dan sampo bercampur
dengan hujan, menggelitik hidungku. Suasana
misterius yang ada sebelumnya (wkwk)
sepenuhnya menghilang, dan wajahnya yang penuh kemarahan, air mata, dan rasa
malu terlihat jelas.
──Mungkin
inilah dirinya yang sebenarnya.
Namun,
aku tidak bisa tenang akibat alasan
yang berbeda.
“Eh,
maaf...”
“Ah,
maafkan aku. Aku tiba-tiba──”
Aku
menatap dengan mata jernih dan berkata langsung.
“Tidak,
tidak apa-apa. Sudah dipastikan bahwa aku akan dibunuh oleh mereka.”
“Oh,
begitu ya!—Hah, apa
maksudnya dibunuh!?”
“Haha...”
“Berikan
alasannya dengan benar! Jika aku sampai terlibat dalam pembunuhan,
aku tidak bisa tidur nyenyak di
malam hari!"
“Sepertinya
kamu kelihatan santai saja.”
Ngomong-ngomong,
bagian tentang terbunuh itu tentang mati saat berhubungan badan di atas ranjang. Satsuki
dan yang lainnya sangat cemburu hanya karena aku berinteraksi dengan wanita lain selain mereka. Dengan sangat menyesal, nasibku telah ditentukan
saat aroma wanita ini menempel di pakaianku.
Tanpa
menyadari gejolak batinku, dia tampak terkejut dan tiba-tiba
melebarkan matanya.
“Hampir
sajaaa! Kamu mencoba merayuku
dengan kata-katamu? Itu masih
terlalu dini!”
“...Itu sih tindakan menggali lubang kuburanmu sendiri.”
Dengan
senyuman masam, aku
mengamatinya
lagi.
Rambut
pirangnya yang panjang berkilau di tengah hujan. Dia mengenakan pita besar di
kepala dan headphone di lehernya. Matanya tetap biru dan jernih meskipun di
bawah langit mendung. Dia mengenakan kaus berwarna putih dengan kerah tinggi
dan jaket berwarna pink muda di bahunya. Rok mini berlipitnya tampak mengkilap
saat terkena hujan.
Dia
memiliki aura bersih dan ceria yang sangat khas seorang mahasiswa.
...Gadis ini, cantik sekali.
Seandainya
saja tidak ada kesan mengecewakan dari
dirinya, mungkin aku akan lebih gugup.
“Tapi,
aku tidak suka hanya dipandang sebelah mata.”
Ketika dia
menggumamkan hal itu, suasana gadis
itu seketika berubah. Sikap santai sebelumnya
tiba-tiba menghilang, dan senyumnya menjadi sangat dramatis.
“Neh,
Senpai. Mau melakukan sesuatu yang menyenangkan
denganku?”
Dia
membungkukkan badannya dengan
berlebihan, meletakkan jari di bibirnya, lalu mengedipkan mata. Dengan
sudut mulut yang terangkat, dia bahkan memberikan ciuman ringan.
Aku
hampir membeku, berdiri di luar toko dengan tas belanjaanku masih tergantung di
bahuku.
Sesaat
berikutnya, bayangan Satsuki dan lainnya yang tidak
tersenyum terlintas di benakku.
“Kalau
kamu mau membunuhku, silakan saja...!”
“Tanggapanmu
sama sekali tidak terduga!” teriak
gadis itu.
“Walaupun
kamu sangat cantik secara keseluruhan, jika aku ketahuan
bahwa aku terpesona dengan dirimu yang penuh kekurangan, aku akan dibunuh oleh pacarku!”
“Pacarmu terlalu
menakutkan! ...Eh? Jadi, apa itu berarti rayuanku
berhasil?”
“Tidak.
Kamu tidak memiliki daya tarik sama sekali. Aku hanya berpikir kalau kamu itu bodoh yang menggemaskan.”
“Jangan
menambahkan kata-kata yang tidak perlu pada
‘menggemaskan’. Lebih baik katakan saja
dengan jujur bahwa kamu terpikat
padaku, itu akan meningkatkan kesan baikmu!”
“Melihat
kebodohanmu dari awal, aku merasa sangat kecewa."
“Ap-Apa yang kamu katakan~!?”
Dia
mengangkat alisnya.
Gawat,
apa aku sudah keterlaluan mengatakannya...?
Dia
sangat mengecewakan sehingga aku mengatakannya begitu saja. Jika dia mulai
menangis sekarang, itu akan meninggalkan rasa pahit di mulutku.
“Aku
berharap kamu berhasil dalam merayu seseorang.
Wajahmu saja sudah bagus, jadi aku yakin kamu akan
berhasil jika mencobanya beberapa kali.”
“Aku
bukan sedang merayumu!
Dan, kenapa aku seolah-olah sudah ditolak! Aku tidak
ada niatan seperti itu!”
Aku
terjebak dengan orang yang merepotkan. Kalau
bukan ingin merayu, apa ini bentuk ajakan
agama baru? Atau mungkin skema bisnis MLM?
Pokoknya,
ini adalah jenis situasi yang seharusnya dihindari. Aku ingin menjauh darinya
sejauh mungkin dari lingkunganku.
“Haah...
Sudah kuduga, yang begini sama sekali bukan
caraku.”
Saat dia
menghela napas kecil, suasananya
berubah. Senyum
isengnya menghilang, dia memperbaiki posturnya, dan matanya yang menatapku
menjadi serius.
“Senang
bertemu denganmu, Iriya Satoshi-senpai.
Ini adalah pertama kalinya kita berbicara, ‘kan?”
“Hah?”
Pikiranku
terhenti sejenak ketika dia memanggil namaku. Aku belum memperkenalkan diri,
kan?
Dia terus
menempel padaku sampai sekarang. Namun,
dia tersenyum percaya diri.
Keringat
dingin mengalir di tengkukku, dan aku menengadah ke langit. Memang benar, saat
ingin melarikan diri dari kenyataan, manusia cenderung melihat ke atas.
“Kupikir kamu cuma mencoba merayuku, tapi ternyata jadi penguntit...
Serius, tolong berhenti...”
“Itu
tidak benar! Kenapa kamu menganggapku
sebagai penjahat!?”
“Umm,
aku akan memberimu uang, jadi maukah kamu
menyerah saja.....?”
“Kenapa kamu
tampak begitu percaya diri!? Sejak tadi, kamulah yang lebih bertingkah aneh, Senpai!"
Sebuah
komentar tajam. Sedihnya aku tidak bisa menyangkalnya. Aku menjadi sangat populer. Ini
bukan sekadar debut di kampus, melainkan hasil dari pelatihan yang diberikan
oleh Satsuki dan yang lainnya.
Jika ada
yang berusaha mendekatiku, itu pasti akan berujung pada
pertengkaran dengan para heroine
yang cemburu. Aku hanya
mencintai kalian, jadi kenapa
ini terjadi!?
“Lagipula,
mana mungkin ketertarikanku pada Senpai bisa memudar hanya dengan uang!”
“Sudah
kubilang, tolong berhenti merayuku...!”
“Itulah
sebabnya! Aku tidak sedang
merayumu! Ada sesuatu
yang ingin kutanyakan pada Senpai!”
Begitu
dia mengatakannya dengan tegas, matanya bersinar tajam. Ada tekanan tanpa kata
yang tidak mengizinkan permainan. Suasananya
menjadi tegang hanya karena tatapannya.
“Ini
berkaitan tentang Sano Yuuto.”
“...Eh?”
Begitu
nama itu disebut, guntur bergemuruh menggelegar di langit. Detik berikutnya, kilat menyambar, dan pandanganku menjadi
putih.
“...Akhirnya,
kamu mulai menunjukkan minat, ya.”
Dia
tersenyum tenang.
“Namaku
Harusora Hibise──Aku adalah heroine
kelima dari 【LoD】.”

