
KATA PENUTUP
Lama tak
berjumpa! Bersama denganku, Addict.
Terima
kasih banyak atas pembelian volume keduanya.
Aku merasa bingung harus menulis apa, dan aku
menerima beberapa masukan untuk kata penutup di X, tapi kurasa berbicara
tentang volume kedua adalah yang terbaik.
Pertama-tama,
aku ingin mewakili suara pembaca saat volume kedua dirilis, meskipun aku merasa
sedikit tidak pantas.
“Eh?
Ada volume keduanya?”
……Ya. Ada.
Tapi aku
ingin meluruskan satu kesalahpahaman: aku tidak memaksakan untuk melanjutkannya.
Sebenarnya,
konsep untuk volume kedua sudah ada sejak awal.
Namun,
selama serialisasi web berlangsung,
sebuah wahyu ilahi datang dari editor, dan hasilnya menjadi seperti itu.
Jadi, aku
tidak bersalah.
Iya, beneran.
Sekalian,
izinkan aku menegaskan hal ini.
Shibo End
adalah novel komedi romantis.
Dengarkan baik-baik oke? Komedi romantis.
Ada banyak
yang mengatakan itu adalah SF, suspense, horor, dan berbagai hal lainnya!
Ko-me-di
ro-man-tis.
Percayalah!
Aku ingin
mengembangkan keempat karakter itu!
……Meskipun
pada kenyataannya, aku juga memperkenalkan karakter kelima, Hibise, kita akan menyisihkan kenyataan
yang tidak menguntungkan ini untuk saat ini.
Bukannya Hibise itu imut?
Saat aku meminta Heiro-sensei untuk mendesain karakter tersebut,
“Tolong beri
dia headphone!”
Aku ingat
mengatakan hal itu kepadanya
dengan semangat yang tinggi.
Ada
karakter bernama Chelsea dari “Akame
ga Kill!” yang menjadi asal mula kekecewaanku
sebagai penulis, dan aku selalu memiliki keinginan untuk menulis karakter
dengan headphone.
Hibise yang diekspresikan dengan
sempurna melebihi imajinasiku dan itu luar biasa.
Terima
kasih banyak, Heiro-sensei!
Sekarang,
mari kita bahas sedikit tentang proses pembuatannya.
Masa
penulisan volume kedua adalah maraton penuh yang mengerikan. Aku harus mengorbakan preferensi dan hal-hal yang kuhargai demi
karya.
Setiap
kali, aku merasa diriku semakin tergerus, seolah menjadi pengganti yang kosong. Ini sebenarnya adalah bagian yang
paling sulit. Aku merasa malu mengakuinya kalau
aku pernah mengeluh kepada editor, “Aku
tidak bisa menulis lagi.”
Aku
benar-benar minta maaf jika atas
ketidaknyamanan yang kubuat waktu itu.
Namun, harta yang paling berharga adalah aku
bisa merasakan "kesenangan membuat karya bersama seseorang.”
Dalam
menulis volume kedua, aku sering melakukan pertemuan dengan editor Tsukui-san. Kami bahkan berdiskusi hingga
pukul empat pagi.
Ketika
aku bangun dan membaca ulang, selalu ada kontradiksi yang muncul. Ketika aku menyelesaikan plot dan
menulis naskah, aku merasa ‘ada
yang kurang tepat’.
Menulis
ulang plot dan naskah, hasilnya masih tidak memuaskan......
Seolah
melangkah sepuluh langkah maju dan sembilan langkah mundur, begitulah enam
bulan terakhir ini.
Saat aku
mengingatnya, hanya kesulitan yang terbayang di pikiranku. Namun, pada saat yang sama, aku
sangat berterima kasih kepada Tsukui-san
yang dengan semangat lebih besar dariku mendorong karya ini.
Dan yang
terpenting──inilah pengalaman paling menyenangkan dalam hidupku!
Mari kita
lalui neraka bersama lagi di volume ketiga, ya?
Sekarang,
aku akan menyampaikan rasa terima kasih.
Kepada
editor Tsukui-san.
Tanpamu, volume kedua ini tidak
akan selesai. Sekali lagi, terima kasih banyak.
Kepada
ilustrator Heiro-sensei.
Terima kasih banyak atas ilustrasi yang luar biasa!
Adegan
kamera pengawas Reine, Shuna, dan Shino benar-benar mendebarkan!
Kepada
editor yang bertanggung jawab. Terima kasih banyak atas perhatianmu terhadap
tulisanku yang masih kurang ini dan banyak masukan yang telah diberikan. Aku
banyak belajar.
Dan
kepada semua pihak yang terlibat dalam karya ini, aku ingin mengucapkan terima
kasih yang mendalam.
Dan
kepada para pembaca. Terima kasih telah membacanya
sejauh ini.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya