Epilog — Tahun Kedua Perkuliahan, Bulan Juni, Asamura Yuuta
Langit
bulan Juni terasa lebih
tinggi dari yang kubayangkan.
Dalam
perjalanan menuju rumah sakit, pepohonan di
sepanjang di depan stasiun dipenuhi dedaunan
muda yang lembut. Setiap kali angin bertiup, suara gesekan daun terdengar, dan
suara itu anehnya terngiang
di telingaku.
Aku dan
Saki berjalan berdampingan.
Kami
menerima kabar di pagi hari bahwa baik ibu maupun bayinya selamat. Hanya ayahku yang menemani Ibu tiri saat persalinan, jadi kami tidak
berada di sana pada saat itu. Namun, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja,
hatiku sedikit lega.
“Apa
kamu merasa tegang?”
Aku
bertanya kepada Saki yang berjalan di sampingku, dan setelah berpikir sejenak,
dia menjawab singkat, “Iya.”
“Kalau kamu,
Yuuta?”
“Aku
juga sama.”
Itulah
akhir dari percakapan kami.
Hal-hal
seperti ini tidak pernah berubah. Terkadang lebih mudah jika tidak
berpura-pura.
Setelah
menyelesaikan pendaftaran di rumah sakit, kami naik lift. Aroma antiseptik menyentuh
hidungku. Dinding putih, lantai putih, langkah kaki yang tenang. Kebersihan
khas tempat rumah sakit justru membuat ketegangan kami semakin meningkat.
Di depan
ruang perawatan yang ditentukan, kami bertukar pandang sekali, lalu mengetuk
pintu.
“Silakan
masuk.”
Itu suara
ibu tiriku.
Aku lalu membuka pintu.
Hal
pertama yang kulihat adalah
wajah Akiko-san yang
duduk di tempat tidur dengan tubuh bagian atasnya terangkat. Dia terlihat
sedikit lelah, tetapi tersenyum dengan tenang. Di pelukannya, ada sebuah
gumpalan kecil.
Itu
adalah bayi.
Mungkin karena sudah menangis keras hingga
kelelahan, dia tampak tertidur nyenyak dengan jari telunjuk di mulutnya, seolah
merasa aman. Di
samping ibu tiriku, ada ayahku dengan wajah yang
terlihat sangat Bahagia daripada
yang pernah kulihat.
“Akhirnya
kalian datang.”
Ayahku
berkata dengan semangat seolah ingin berdiri.
“Selamat.”
Saki
lebih dulu mengucapkan selamat. Aku segera mengikutinya.
“Selamat.
…Dan terima kasih atas kerja kerasnya.”
“Terima
kasih.”
Ibu tiriku
membalas, lalu menatap ke arah bayi yang ada di pelukannya.
Tatapannya terlihat sangat lembut, sorot mata
yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Lihatlah.”
Ternyata
jenis kelamin bayinya perempuan, seperti yang diharapkan. Beberapa
waktu lalu, dokter memberitahu kami
tentang prediksi ini, tetapi saat melihatnya secara langsung, aku merasa seolah
baru menyadari, “Ah, ini seorang gadis”. Rasanya
seperti pengalaman yang aneh. Mungkin karena aku mendengar bahwa itu belum pasti,
tetapi bukan hanya alasan logis, mungkin perasaan dan naluri telah bereaksi
lebih kuat sebelum aku bisa memahaminya secara rasional.
Aku
terkejut mengetahui bahwa masih ada bagian emosional dan sentimental dalam diriku. Aku dan Saki mendekati sisi
tempat tidur. Ketika mengintip dari dekat,
kami melihat makhluk kecil yang sangat polos dan baru saja
datang ke dunia ini.
Dirinya
begitu kecil. Putih. Rapuh.
Terlihat lembut dan lemah, seolah-olah bisa patah
kapan saja.
Matanya
tertutup. Hidung kecil. Mulut kecil. Jari-jarinya sangat tipis, hingga aku
berpikir jika sedikit ditekan, bisa saja patah.
“Imutnya...”
Saki
mengeluarkan suara pelan.
Jika aku
bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, mungkin aku akan merasakan hal yang
sama.
Imut.
Itu sudah
pasti.
Tapi pada
saat yang sama, aku merasakan sensasi sesak
di bagian dadaku yang lain.
Aku
merasa harus melindunginya.
Ketika
dihadapkan pada makhluk semungil
ini, mungkin ada sesuatu yang secara alami terpicu dalam diri manusia. Mungkin
itu adalah naluri keibuan atau kebapakan, istilah yang sering digunakan.
Tiba-tiba,
aku melirik ke sampingku.
Saki juga
menatap bayi itu. Wajahnya tampak lembut.
Namun, aku bisa merasakan bahwa ada perasaan yang sama melintas di kedalaman matanya seperti yang kurasakan.
Rasanya
sangat meyakinkan.
Di hadapan bayi ini, kami mungkin
memikirkan hal yang sama.
── Batas
waktu telah ditentukan.
Di
hadapan makhluk tak berdosa ini, kami tidak bisa terus berada dalam keadaan
ambigu selamanya.
Bagi bayi
ini, kami akan menjadi kakak laki-laki dan
perempuannya.
Dan kakak
laki-laki dan perempuan itu akan tetap menjadi sepasang kekasih,
merahasiakannya dari keluarga. Kami tidak bisa terus berada dalam keadaan
ambigu seperti itu lagi.
Setidaknya,
kami harus menyelesaikan semuanya sebelum
bayi ini mulai memahami hubungan dan hal-hal di sekitarnya.
Kami
harus menghadapi ayahku dan Ibu tiriku, Akiko-san.
Tidak──kami
harus menghadapi [keluarga] yang mencakup bayi ini dengan
cara yang jujur dan apa adanya.
“Mau coba
menggendongnya?”
Ibu tiri
bertanya, dan aku serta Saki secara bersamaan mengangkat wajah.
“Eh?”
“Eh, memangnya boleh?”
Kami
hampir mengucapkan hal yang sama, dan ayahku tertawa.
“Kalian
berdua sangat mirip. Kalian benar-benar seperti kakak
beradik.”
Meskipun
ia mengatakan itu, aku tidak memiliki keberanian untuk membalas tawanya. Keringat mengucur di telapak
tanganku karena gugup. Saki
dan aku mungkin memiliki ekspresi yang sama di wajah kami. Kami takut menyakitinya, namun kami
ingin menyentuhnya. Kami
ingin menggendongnya, namun kami merasa belum pantas melakukannya.
Perasaan
campur aduk antara kebahagiaan dan kebingungan itu tercermin di wajah
kami.
“Kalau
begitu, dari Saki dulu” ucap ibu tiriku dengan lembut.
“Eh,
aku?”
“Ya.
Kamu ingin merasakan menjadi Onee-chan untuk
pertama kalinya, ‘kan?”
Saki
terkejut sejenak dan
kemudian melihatku dengan bingung. Aku
merasa seolah-olah dia
meminta bantuanku, tetapi sejujurnya, aku juga ingin dibantu. Namun, aku merasa tidak tepat jika mengalihkan pandanganku di sini,
jadi aku mengangguk kecil.
“Semuanya
akan baik-baik saja. Mungkin.”
“Itu
dukungan yang tidak meyakinkan...”
Bahkan saat
dia mengatakan itu, Saki perlahan mengulurkan tangannya.
Ibu tiri Akiko dengan gerakan terampil
menggendong bayi itu, lalu dengan hati-hati memindahkannya ke pelukan Saki,
seolah-olah menyerahkan sesuatu yang rapuh.
Bahu Saki
langsung menegang.
Aku bisa
melihat napasnya yang semakin dangkal dari samping.
“Jangan
terlalu tegang begitu, santai saja.”
Ibu tiriku
tersenyum.
“Hati-hati
dengan lehernya.”
“I-Iya.”
jawab Saki.
Saki
menggendong bayi itu dengan gerakan canggung, tetapi wajahnya menunjukkan tekad bahwa dia tidak akan
menjatuhkannya.
Pada saat
itulah.
Mata
kecil yang seharusnya tertutup itu sedikit bergetar, dan mulutnya bergerak
lembut.
“Ah...”
Saki
mengeluarkan suara yang tidak berbunyi. Aku pikir dia akan menangis,
tetapi ternyata tidak. Bayi itu hanya mengubah posisi di pelukan Saki dan
kembali tidur dengan tenang.
Serangkaian gerakan itu mungkin telah melunakkan sesuatu dalam diri Saki. Wajahnya yang sebelumnya tegang mulai melunak sedikit demi sedikit. Itu adalah wajah yang sangat tenang dan hangat, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“…Ringannya.”
Saki
berkata pelan.
“Tapi
luar biasa.”
“Luar
biasa?”
Ayahku
bertanya.
“Aku
tidak tahu, tetapi... dia benar-benar hidup.”
Meskipun itu seharusnya hal yang biasa, tapi entah mengapa kata-kata
itu terasa menggema di
hatiku.
Dia benar-benar
hidup.
Benar.
Bayi ini bukan hanya makhluk kecil.
Mulai
sekarang dia akan menangis, tertawa, belajar berbicara, bisa
berjalan, melihat berbagai hal, menyukai sesuatu, dan membenci sesuatu.
Dengan cara begitulah dia akan
tumbuh menjadi seorang manusia.
Kami
juga masuk bagian dari masa itu.
“Yuuta-kun, mau mencoba
menggendongnya juga?”
Kali ini Ibu tiri bertanya padaku.
“…Tidak,
aku...”
“Melarikan
diri.”
Saki
berkata pelan.
“Aku
tidak melarikan diri.”
“Aku
tidak akan membiarkanmu kabur.”
“Bagaimana
kalau kita berhenti menggunakan kata-kata yang menakutkan?”
Tawa
kecil menyebar di ruang perawatan. Seolah
didorong oleh suasana itu, aku akhirnya menyerah dan mengulurkan tanganku.
Ketika
aku menerima bayi itu, beratnya terasa
jauh lebih ringan daripada yang kubayangkan. Namun, anhenya ada sesuatu yang terasa berat.
Dan yang
kumaksud berat bukanlah berat fisik. Sesuatu yang sulit diungkapkan
dengan kata-kata. Aku
menatap wajah kecil itu. Bayi
yang tidur di pelukanku ini, sudah pasti, masih belum tahu apa-apa.
Tentang
keluarga.
Tentang
dunia.
Dan
tentang kami.
Itulah
sebabnya aku berpikir.
Ketika
bayi ini suatu saat nanti
melihat kembali tempatnya berada, aku berharap kalau
tempat itu menjadi tempat yang aman.
Bukan tempat
yang dibangun dengan ketidakpastian dan penipuan, tetapi tempat di mana dia bisa dengan bangga mengatakan “ini keluargaku.”
Aku sudah
tahu apa yang diperlukan untuk itu.
Aku terus
menatap bayi itu dan perlahan menghela napas.
Di sampingku,
Saki juga melihat bayi ini dengan cara yang sama.
Mungkin,
kami tidak bisa menundanya lagi.
Tidak,
daripada mengatakan tidak
bisa, kurasa kami tidak
ingin menundanya lagi.
Kelahiran
bayi ini membawa awal dari sesuatu.
Namun
pada saat yang sama, ada sesuatu
yang harus diakhiri—hal yang harus diselesaikan.
Keputusan
hidup yang menentukan yang bisa mengubah bentuk keluarga. Kami harus mengambil keputusan itu
secara bertanggung jawab.
Sebagai
kakak laki-laki.
Sebagai kakak
perempuan.
Dan—hal tersebut belum berakhir hanya di
situ saja, sebagai diri kami sendiri.
Kami
harus menghadapinya,
mengungkapkan dengan kata-kata, dan memilih kembali.
Kami
sudah tahu bagaimana cara melakukannya.
