Chapter 8 — Tahun Kedua Pekuliahan, Bulan April, Ayase Saki
Aku
menggambar satu garis. Hal
yang sepele ini terkadang membuatku merasa jengkel
karena saking sulitnya.
Aku
menggeser ujung pena di atas kertas. Garis yang kupikir telah kugambar dengan
rapi ternyata sedikit goyah dan lebih lemah dari yang kuharapkan ketika kulihat
lebih dekat. Jika aku menekan lebih keras, garisnya menjadi kaku. Aku ingin
terlihat lembut, tetapi hasilnya justru menjadi garis yang tegang. Semakin aku
berusaha untuk menggambar garis tanpa keraguan, keraguan tersebut justru semakin muncul dengan jelas.
“Tanganmu berhenti.”
Secara
naluriah aku mendongak ke arah suara yang datang dari atas.
Di dalam
kantor [Lucca Design. Studio], ruangan yang didesain dengan nuansa
putih yang seolah mengedepankan ruang kosong, semakin malam semakin terasa
tenang, seperti latar belakang. Suara halaman kertas
yang dibalik. Suara seseorang mengetik di keyboard. Suara printer mengeluarkan kertas
dengan bunyi yang teratur dari kejauhan.
Sunyi. Namun, ketenangan itu bukanlah kesunyian yang mati, melainkan ketenangan
yang padat, khas ketika banyak pikiran berjalan bersamaan. Suara itu larut
dalam angin dari pendingin udara, dibawa bersama aroma tinta, kertas, dan kopi
yang baru diseduh.
Yume-san, atau lebih tepatnya Higashide Yume-san, sedang mengintip tanganku.
Mungkin dia sedang beristirahat, berdiri di belakang kursiku dengan cangkir di
tangannya. Di balik kacamata dengan bingkai tipis, matanya yang tenang
memandang kertas yang ada di depanku.
“Maaf.”
“Kamu tidak
perlu meminta maaf segala. Berhenti bukanlah hal yang
buruk.”
Sambil
berkata demikian, Yume-san
mengambil pena yang ada di tanganku. Dia menarik selembar kertas lain dan
dengan cepat menggambar beberapa garis. Gerakannya cepat.
Namun, tidak terlihat sembarangan.
“Saki-chan,
kamu seharusnya jangan terlalu banyak
berpikir sebelum menggambar.”
“Kalau
tidak berpikir, garisnya akan aneh.”
“Bahkan
jika kamu berpikir, garisnya bisa jadi aneh juga.”
Dia
mengatakannya dengan begitu santai sehingga aku jadi terdiam.
Di atas
meja terdapat buku sketsa,
sampel warna, dan tumpukan materi yang dibawa Yume-san. Dan sebutir telur putih. Setelah
menyelesaikan sketsa bentuk-bentuk seperti balok, kubus, bola, dan silinder,
sekarang aku memilih motif untuk memahami cahaya dan bayangan.
Sejak
pertengahan Januari, aku mulai belajar di bawah
bimbingan Yume-san,
dan aku telah disuruh mengerjakan banyak tugas desain yang ketat, berulang kali
mengumpulkannya, dan menanamkan pengetahuan serta keterampilan tentang desain
ke dalam otakku yang awam. Namun, menjelang akhir Maret, Ruka-san tiba-tiba mengatakan sesuatu
kepada Yume-san.
“Ngomong-ngomong,
aku melihat kalau kamu kebanyakan
mengajarkan teknik desain tingkat
lanjutan, tapi kapan kamu mengajarkan dasar-dasarnya?”
“Eh,
aku perlu mengajarinya dari situ dulu?”
—Ya,
jenius.
Ternyata,
Yume-san benar-benar lupa bahwa aku sama
sekali tidak pernah mendaftar sekolah
seni, atau bahkan masuk dalam klub seni, dan bahwa aku
hanya belajar menggambar secara
mandiri. Jadi, semua dasar seperti komposisi dan warna telah dilewatkan, dan
dia mengajarkanku hal-hal yang diperlukan untuk pekerjaan seorang
desainer.
“Maaf ya, Aku hampir tidak menggunakan
pengetahuan seniku
sama sekali sejak aku mulai bekerja.”
“Karena
kamu sudah membangun otot. Tapi, kamu pasti menggunakan keterampilan menggambar
tanpa sadar saat bekerja, kan? Dalam hal komposisi dan warna.”
“Oh iya, benar juga.”
Oleh
karena itu, sejak bulan April, aku harus berhenti sejenak dari desain tingkat lanjut dan
meningkatkan waktu untuk mempelajari
dasar-dasar. Cara
menggambar garis. Komposisi. Ruang kosong. Panduan pandangan. Dasar-dasar
warna. Komposisi dua dimensi.
Semakin
aku mempelajarinya, rasanya jadi semakin menarik. Tetapi pada saat yang sama,
semakin aku mengetahuinya, semakin menakutkan jadinya.
“Sekali lagi.”
Setelah
dia berkata begitu, aku menata kertas baru di depanku.
Aku
menggambar garis. Kali ini, aku tidak ingin berhenti. Dengan imajinasi untuk
menempatkan apa yang kulihat dan rasakan ke dalam pena tanpa berpikir terlalu
banyak. Persis seperti yang sudah diajarkan padaku. Aku merasa sudah lebih baik
daripada sebelumnya. Namun, rasanya masih
saja canggung.
“Ya.
Lebih baik daripada sebelumnya.” ucap Yume-san, “Tapi,
menggambar garis yang rapi dan menggambar garis yang bisa digunakan itu
berbeda.”
“Garis yang
bisa digunakan...”
“Yaitu garis
yang memiliki makna saat diletakkan di sana.”
Aku menatap
kertas itu. Garis yang memiliki makna. Aku memahami kata-katanya. Namun, sulit
untuk langsung memahaminya.
Yume-san
lalu melanjutkan,
“Gambar dan
desain terlihat bebas, bukan?”
“Ya.”
“Tapi,
karena kebebasan, bukan berarti kamu bisa melakukan apa saja. Jika ada sesuatu
yang ingin ditampilkan, kamu harus merelakan beberapa hal. Pilihlah. Buanglah.”
Kata-katanya
dengan sempurna menggambarkan apa yang akhir-akhir ini kurasakan. Dulu, aku
berpikir bahwa imajinasi dan kreativitas itu jauh lebih bebas. Aku berpikir
bahwa dengan menggabungkan berbagai warna dan bentuk yang terlintas dalam
pikiran, aku bisa menciptakan sesuatu yang baru tanpa batas.
Tapi, rupanya
aku salah.
Semakin
banyak pengetahuan yang kudapatkan, semakin luas dunia yang kulihat. Namun,
pada saat yang sama, jalan yang bisa dipilih justru semakin sempit.
Ketika aku meletakkan
kedua warna ini berdampingan membuat keduanya tampak lebih kontras secara
visual daripada yang kubayangkan. Visibilitas menurun. Suasana yang ingin
disampaikan menjadi tidak sesuai. Sebaliknya,
ada aturan yang telah ditetapkan di mana warna-warna tertentu umumnya cocok
dipadukan.
Rasanya
memang praktis. Praktis, tetapi semakin aku mengandalkan kemudahan itu, semakin
aku mendekati sesuatu yang sudah pernah kulihat sebelumnya.
Misalnya,
jika aku mencoba mengambil tema [musim semi], aku akan cenderung memilih
warna yang lembut, dan jika aku ingin menciptakan suasana [perkotaan],
aku akan lebih memilih ruang kosong dan kesan yang tidak organik. Begitu aku
memilih satu kata, rasanya seperti jalan yang sudah dilalui oleh orang lain di
masa lalu muncul di bawah kakiku, dan itu membuatku merinding.
Beberapa
waktu lalu, berita tentang plagiarisme desainer sedang ramai dibicarakan. Pada
saat itu, aku berpikir bahwa itu tindakan yang begitu bodoh. Namun, setelah
mulai mengerjakan tugas sendiri, pandanganku jadi sedikit berubah.
Suatu
ketika, Yume-san memintaku untuk membuat proposal visual sederhana dengan tema [kota
setelah hujan]. Aku sangat bingung, tetapi aku mencoba berpikir dengan
caraku sendiri dan menggambar dengan dasar warna biru dan putih yang
transparan. Namun, salah satu karya lamanya yang kemudian dia tunjukkan
kepadaku sebagai bahan referensi ternyata sangat mirip.
Tentu saja,
aku tidak menjiplaknya. Aku bahkan belum melihatnya sebelumnya.
Namun, tetap
saja, itu mirip.
Saat itu, sensasi
dingin menjalari punggungku.
Ada kalanya
kamu menciptakan sesuatu yang serupa tanpa mencurinya. Pengetahuan dan asosiasi
yang terakumulasi dapat secara alami membawa seseorang ke tempat yang sama.
Jika memang demikian, betapa sulitnya untuk tetap bebas meskipun sudah belajar?
Kreativitas
itu menakutkan.
Aku mungkin
baru merasakannya untuk pertama kalinya.
“Wajahmu
terlihat menakutkan.” ucap Yume-san, dan aku terkejut.
“Apa sampai
segitunya?”
“Ya. Kamu mungkin
takut dengan garis-garis, kan? Jika kau terus seperti itu, garis-garis itu akan
membencimu.”
Yume-san
tertawa.
“Tidak
apa-apa. Semua orang pasti pernah mengalaminya setidaknya sekali.”
“Bahkan Yume-san
juga?”
“Ya.”
Tanggapannya
begitu lugas sehingga aku merasa sedikit lega.
“Kenyataan
bahwa kamu merasa takut untuk terlihat mirip adalah tanda bahwa kamu
benar-benar menghadapi seni. Orang yang tidak menghadapi seni takkan merasa
takut. …Jika kamu berhenti di situ, maka semuanya akan berakhir.”
Komentar
terakhirnya benar-benar terdengar pedas. Namun, justru karena itu, aku merasa
bisa mempercayainya.
“Aku tidak
ingin berhenti.”
“Kalau
begitu, mari kita buat lebih banyak. Mari kita pikirkan. Mari kita bandingkan.
Selain itu, ada bagusnya jika kamu tetap merasa takut saat membuatnya.”
“Merasa
takut saat membuatnya...”
“Ya. Kamu tidak
perlu berpura-pura baik-baik saja. Kamu bisa melangkah maju meskipun merasa
takut.”
Saat dia
mengatakan itu, aku merasa sedikit terselamatkan. Rasa takut itu bukan karena
aku tidak mampu. Sebaliknya, aku menyadari bahwa penting untuk melangkah maju
meskipun sudah mengetahui rasa takut itu.
◇◇◇◇
Setelah
memasuki bulan April, persiapan untuk [Pameran Horor] mulai bergerak
secara serius. Pada awalnya, aku memang tidak terbiasa melihat hal-hal yang
menakutkan, dan setiap beberapa menit, aku mengeluarkan teriakan kecil seperti “hiya!”
atau “hii!” yang merusak keheningan di lokasi. Aku merasa seperti telah
menerima pekerjaan yang paling tidak cocok untukku, tetapi aku juga berkonflik
karena tidak bisa mundur sekarang.
Namun,
anehnya, semakin aku terlibat, aku tidak hanya merasa takut.
Aku mulai
memperhatikan di mana orang-orang merasa takut. Di mana mereka mulai bernapas
lebih dangkal. Dalam kegelapan seperti apa mereka merasa tidak nyaman. Apa
suara yang tiba-tiba lebih mengejutkan, atau suara yang mendekat perlahan lebih
efektif. Cara alur gerak bisa mengubah ketegangan. Jika terlalu banyak
ditampilkan, rasa takut akan menghilang, tetapi jika terlalu disembunyikan, itu
akan menjadi tidak jelas.
Kegelapan.
Jeda. Suara. Ruang kosong. Alur gerak.
Aku mulai
menyadari bahwa rasa takut tidak hanya muncul dari satu persepsi, tetapi
dibentuk oleh struktur. Aku tidak ingin membiarkan hal-hal yang menakutkan
tetap hanya sebagai hal yang menakutkan.
Bagaimana
caranya agar ketakutan itu bisa disajikan dengan baik? Bagaimana agar
orang-orang yang datang dapat menikmati ketakutan itu di tempat yang aman?
Saat
memikirkan itu, aku merasa sedikit lebih kuat. Bukan hanya bergetar di hadapan
hal-hal yang tidak dikenal, tetapi kini aku bisa memberikan bentuk pada
ketakutan itu.
…Meski
demikian.
“Hiii!”
Aku tanpa
sadar menyentakkan bahuku. Kejadiannya di sudut kantor. Saat aku sedang memeriksa
video demo untuk pameran di ruang pertemuan yang gelap, aku sudah tahu. Aku
memahami struktur dan tahu suara mengganggu berikutnya akan datang. Namun,
suara bising dan bayangan manusia yang tiba-tiba muncul di dalam video itu
membuatku terkejut dengan cara yang sangat segar.
Melihat reaksiku
yang begitu, Ruka-san tertawa terbahak-bahak.
“Sudah
kuduga Saki, kamu sangat cocok.”
“Bukannya
seharusnya aku tidak cocok?”
“Justru
sebaliknya.”
Ruka-san
tertawa sambil meneguk kopi dari cangkir kertasnya.
“Ada penulis
horor yang berkolaborasi dengan pameran ini, kan? Dia juga, katanya, sangat
penakut.”
Eh?”
“Meski dia seorang
profesional horor?”
“Benar.
Jadi, dia tidak akan datang berkali-kali kecuali pada hari undangan untuk
orang-orang terkait. Dia tertawa dan bilang, karena dia sangat penakut, dia
bisa menulis horor.”
Aku tanpa
sadar menatap layar video demo yang terhenti.
Karena dia
penakut.
Kata-kata
itu meninggalkan kesan yang aneh di hatiku.
“…Sejujurnya,
aku merasa apa yang kulakukan sekarang adalah peran yang bisa diemban siapa
saja yang sedikit penakut.”
“Jika sangat
penakut, mungkin bisa. Sedikit saja tidak cukup. Karena orang yang penakut
rata-rata tidak akan terus merasa takut dengan materi yang sama di dua atau
tiga kali penayangan. Sebenarnya, jika seseorang sangat penakut, justru tidak
banyak yang ada seperti itu.”
“Haa...”
Apa aku sedang
dipuji? …Untuk saat ini, biarkanlah aku berpikir begitu.
“Karena ini bagian
dari pekerjaan, tentu saja kamu akan melihatnya berkali-kali. Tidak ada gunanya
jika sudah terbiasa dalam dua atau tiga kali penayangan. Saki selalu merasa
takut setiap kali. Kamu jelas-jelas tahu bagian mana yang tidak disukai, dan di
bagian mana kamu ingin melarikan diri.”
“Meski tahu
itu akan datang, aku masih bereaksi...”
“Benar. Justru
itulah yang bagus.”
Ruka-san
menjawab dengan cepat.
“Semua
penonton adalah orang yang melihat untuk pertama kali. Semakin dekat perasaan
dengan pengalaman pertama, semakin baik. Hal yang paling menakutkan bagi
seorang kreator adalah terlalu jauh dari perasaan penonton. …Berkat Saki, para
pengurus dapat fokus pada kreativitas mereka dengan tenang.”
Aku
mengangguk merasa paham. Mungkin mengatasi kelemahan sepenuhnya bukanlah
satu-satunya ukuran kekuatan. Jika kita bisa memperlakukan ketidaknyamanan kita
sebagai sesuatu yang berguna, mungkin kita tidak perlu lagi menyebutnya
kelemahan.
Aku selalu
menganggap “ketakutan” dalam diriku sebagai kekurangan. Aku penakut,
berhati-hati, gampang cemas, dan tidak bisa bersikap tenang. Aku selalu
berharap bisa lebih percaya diri dan lebih kuat.
Namun, ada
tempat di mana “ketakutan” itu bisa berguna. Mengetahui hal itu sangat
memberiku semangat.
◇◇◇◇
Menjelang
pertengahan April, Yuuta mulai menghabiskan setengah dari seminggu di rumah. Ia
belum sepenuhnya kembali, tetapi jelas waktu yang dihabiskan di rumahnya
meningkat dibandingkan sebelumnya.
Karena itulah,
percakapan di rumah juga semakin bertambah.
Saat makan
malam, kami membicarakan tentang universitas, pekerjaan paruh waktu, dan
magang. Sebelum keluar rumah, setelah mandi, atau saat bertemu di dapur.
Rasanya seperti kembali ke interaksi sehari-hari yang biasa.
Hal itu
membuatku senang.
Meskipun aku
merasa senang, pada saat yang sama, aku semakin sibuk.
Intern.
Belajar dengan Yume-san. Urusan rumah. Mengenai ibuku.
Aku ingin
melakukan semuanya dengan baik. Aku tidak ingin mengabaikan apa pun. Aku ingin
mempertahankan semuanya di tingkat yang tinggi. Semakin aku berpikir seperti
itu, semakin aku merasa seolah-olah aku sedang mencekik leherku sendiri.
Selain itu,
di tengah semua itu, Yuuta tetap pergi ke universitas, bekerja paruh waktu,
kembali ke rumah, dan secara alami membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan
ibuku saat diperlukan.
Ketika melihatnya,
jujur saja aku merasa kagum dan sekaligus, dengan sedikit rasa malu, aku merasa
sedikit cemburu.
Kenapa aku selalu
berada di ambang batas?
Kenapa aku
tidak bisa mengatur semuanya seperti Yuta?
Apalagi, akulah
yang membuatnya merawat ibuku. Di tambah lagi, Yuuta bahkan membantuku yang
sudah kehilangan kendali.
Misalnya
saja kejadian beberapa hari yang lalu.
Saat aku
melepas pakaian di kamar mandi, aku menyadari bahwa aku lupa membawa baju ganti
dan meminta Yuuta untuk mengambilkannya. Pada hari itu, aku sedang tidak
berpikir jernih, dan aku tidak sadar telah meminta bantuan Yuuta. Setelah itu,
Yuuta memberitahuku bahwa seharusnya aku memakai handuk dan pergi ke kamarku sendiri.
Aku baru menyadari betapa mudahnya hal itu, tapi hal segampang itu tidak
terlintas di benakku.
Aku merasa
kewalahan.
Kenyataan
itu, perlahan-lahan, mulai mempengaruhi diriku.
◇◇◇◇
Menjelang
akhir April. Saat aku pulang dan baru saja mengucapkan “Aku pulang.”
“Selamat
datang kembali.”
Aku merasa
lega ketika mendengar suara ibuku dari ruang tamu, tetapi tiba-tiba ada sesuatu
yang terputus dalam diriku.
Aku berdiri
di sana, tidak bisa berkata apa-apa.
Rasa lelah
itu lebih terasa seperti kekosongan yang tiba-tiba. Seolah-olah di dalam
tubuhku, benang yang tegang putus tanpa suara.
“Saki?”
Aku
merasakan ibuku berdiri. Aku berusaha menjawab. Aku ingin menjawabnya, tetapi
suaraku tidak keluar dengan baik. Aku tidak bermaksud menangis.
Namun,
sebelum aku menyadarinya, air mata mengalir di pipiku, meskipun ekspresiku
tetap sama. Rasanya aneh. Wajahku tidak berkerut seperti saat aku sedih. Hanya
air mata yang mengalir.
“Ara, ara...”
Ibu
menghampiriku, wajahnya menunjukkan ekspresi yang lebih lembut dan khawatir
daripada terkejut.
“Ada apa?”
“…Aku tidak
tahu.”
Suara yang
akhirnya keluar terdengar sangat kecil.
Ibuku
memelukku tanpa berkata apa-apa. Meskipun lengannya kurus, aku merasa sangat
tenang saat dia memelukku.
“Maafkan ibu
karena terlalu membebanimu.”
Mendengar
kata-kata itu, aku ingin menggelengkan kepalaku.
“Bukan...”
“Ya.
Mendengar itu juga membuatku merasa menyedihkan, iya ‘kan.”
Dia
mengatakannya seolah-olah membaca pikiranku, dan aku membelalakkan mataku.
Ya, itu
benar.
Ketika ibu
meminta maaf karena sudah membuatku memaksakan diri, itu juga menyakitkan.
Seolah-olah
aku hanya memaksakan diriku sendiri. Seolah-olah aku tidak mampu. Ada bagian
dari diriku yang menerima hal itu dengan cara seperti itu.
“Karena ini
pengalaman pertama bagi Saki, jadi rasanya wajar saja jika kamu merasa tegang.”
Ibuku
berkata sambil mengusap punggungku dengan lembut.
“Aku
baik-baik saja.”
“Tapi...”
Aku berkata
sambil menyembunyikan wajahku di bahunya.
“Bu, ibu
baik dan perhatian. Mungkin aku memaksakan diri agar tidak membuatmu khawatir.”
“Itu tidak
benar.”
Suara ibuku
terdengar agak lambat, tetapi sangat tegas.
“Jika aku merasa
kesulitan, aku akan segera menghubungimu.”
“…Benarkah?”
“Benar.”
Ibu sedikit
menjauh dan menatap wajahku.
“Karena waktu
Saki lahir, aku juga melakukan hal yang sama.”
“Eh?”
Aku tanpa
sadar melupakan air mataku sejenak dan melihat ibuku. Tentu saja aku tidak tahu
apa-apa tentang masa sebelum aku cukup dewasa untuk mengingatnya.
“Setiap kali
aku merasa lesakitan, cemas, atau lelah. Pada saat-saat seperti itu, aku segera
meminta bantuan Fumiya-san.”
Perkataannya
terlalu mengejutkan sampai-sampai aku tidak bisa berbicara untuk sementara
waktu.
Kepada ayah
itu. Tidak, sebelum aku mengenalnya, pada saat itu dia bahkan belum menjadi
orangtuaku. Aku tidak bisa membayangkan ibuku meminta bantuan dengan cara
seperti itu.
“Aku
baik-baik saja.”
Ibuku
tersenyum.
“Menariknya,
ketika seseorang diminta bantuan, mereka justru merasa senang.”
Kata-kata
itu diam-diam meresap di hatiku. Jauh di lubuk hatiku, aku selalu berpikir
mengandalkan seseorang berarti menimbulkan masalah. Tapi, mungkin itu tidak
benar. Mengandalkan seseorang mungkin
merupakan salah satu bentuk hasil yang termasuk dalam mempercayai mereka.
Malam itu,
aku bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan apa pun untuk pertama kalinya dalam
waktu yang lama.
◇◇◇◇
Dan keesokan
paginya.
Hari ini Yuuta
tidak bisa kembali ke rumah. Hari ini adalah hari kerjanya di perusahaan
produksi penyuntingan, Veil Factory. Jadi, aku memutuskan untuk mengurus semua
hal tentang ibuku, menyiapkan makanan, dan melakukan pekerjaan berat dengan
baik.
Aku sudah
memutuskannya, tapi....
Sejak aku
bangun pagi, tubuhku terasa aneh.
Perutku
sakit. Aku juga merasakan sakit kepala yang tumpul. Aku tidak merasa demam dan
tenggorokanku juga baik-baik saja. Jadi, aku rasa ini bukan flu. Namun, jelas
sekali kalau aku merasa tidak enak badan.
Ah, aku tahu, pikirku dalam selimut.
Mungkin ini
karena sistem saraf otonomku. Kelelahan dan ketegangan mungkin datang secara
bersamaan.
Ini sangat
buruk, pikirku.
Dari semua
hari, aku justru merasa tidak enak badan.
Hari di mana
Yuuta berencana pergi dari rumah.
Walaupun
begitu, aku entah bagaimana berusaha bangkit, berganti pakaian, dan dengan
langkah goyah mencuci muka di wastafel. Wajahku terlihat pucat di cermin.
Dengan kondisi seperti ini, alasan “aku baik-baik saja” mungkin takkan
terdengar meyakinkan.
Aku terhenti
saat melihat Yuuta yang sedang mengenakan sepatu di pintu masuk.
“Aku mungkin
akan kembali lagi lusa. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulua ya.”
Suaranya
masih sama seperti biasanya. Aku menggigit bibirku erat-erat sambil
memperhatikan punggungnya. Jika aku tidak mengatakannya di sini, mungkin aku
akan memaksakan diri lagi. Aku mungkin akan lebih menyusahkan ibuku dan Yuuta.
Aku menyadarinya.
Namun, aku
merasa takut.
Apa dirinya
akan merasa tidak nyaman karena ini terlalu mendesak? Apa ia akan berpikir, “Apa
kamu tidak bisa melakukannya dengan benar hari ini”? Pikiran-pikiran semacam
itu melintas di kepalaku.
Tapi
kemudian, aku mengingat kembali kata-kata ibuku semalam.
── Menariknya,
ketika seseorang diminta bantuan, mereka merasa senang.
Aku menarik
napas.
“Yuuta.”
Yuuta
menoleh ke arahku.
“Maaf—hari
ini, aku mungkin tidak bisa.”
Ada
keheningan sesaat.
Momen itu
terasa sangat lama.
Keheningan
yang terasa selamanya itu akhirnya dipatahkan oleh suara Yuuta. Mungkin dalam
kenyataannya tidak sampai dua detik, hampir tanpa jeda, dia langsung
menjawab.
“Oke. Aku
akan menyesuaikan jadwalku.”
Hanya itu
saja.
Tanpa
menyalahkan atau bingung, ia langsung menyetujuinya. Aku terkejut dan membuka
mataku lebar-lebar.
“Eh...”
“Wajahmu kelihatan
pucat. Tentu saja kamu tidak baik-baik saja.”
Sambil
melepas sepatu, ia sudah mengeluarkan ponsel. Mungkin ia sedang merencanakan
ulang jadwal universitas dan pekerjaannya di kepalanya.
“Maaf, ini
mendadak sekali.”
“Kondisi
kesehatan buruk selalu datang secara tiba-tiba, jadi apa boleh buat.”
Jawaban
santainya membuatku merasakan kehangatan di dadaku.
Ah, begini rupanya, pikirku.
Mungkin
inilah arti sebenarnya dari saling mendukung.
Bukan
tentang membagi semuanya menjadi dua atau bersikap adil sepenuhnya. Ketika satu
pihak mengatakan bahwa mereka tidak bisa, pihak yang lebih mampu harus
menerima. Sebagai gantinya, jika posisi terbalik, mereka akan melakukan hal
yang sebaliknya.
Saling
mengandalkan. Dapat diandalkan.
Mampu
melakukannya tanpa bersikap keras kepala maupun egois.
Mungkin
dengan secara bertahap mengumpulkan hal-hal kecil inilah struktur keluarga kami
akan terbentuk.
Dan pada
akhirnya.
Bahkan jika
suatu hari nanti aku menjadi seseorang yang mengandung anak, mungkin aku bisa
menjadi orang yang bisa bergantung dengan tenang seperti ini.
Di pagi itu,
aku merasa seperti melihat sekilas harapan yang masih samar-samar.
