Gimai Seikatsu Volume 17 Chapter 8

 Chapter 8 — Tahun Kedua Pekuliahan, Bulan April, Ayase Saki

 

Aku menggambar satu garis. Hal yang sepele ini terkadang membuatku merasa jengkel karena saking sulitnya

Aku menggeser ujung pena di atas kertas. Garis yang kupikir telah kugambar dengan rapi ternyata sedikit goyah dan lebih lemah dari yang kuharapkan ketika kulihat lebih dekat. Jika aku menekan lebih keras, garisnya menjadi kaku. Aku ingin terlihat lembut, tetapi hasilnya justru menjadi garis yang tegang. Semakin aku berusaha untuk menggambar garis tanpa keraguan, keraguan tersebut justru semakin muncul dengan jelas

“Tanganmu berhenti. 

Secara naluriah aku mendongak ke arah suara yang datang dari atas. 

Di dalam kantor [Lucca Design. Studio], ruangan yang didesain dengan nuansa putih yang seolah mengedepankan ruang kosong, semakin malam semakin terasa tenang, seperti latar belakang. Suara halaman kertas yang dibalik. Suara seseorang mengetik di keyboard. Suara printer mengeluarkan kertas dengan bunyi yang teratur dari kejauhan. Sunyi. Namun, ketenangan itu bukanlah kesunyian yang mati, melainkan ketenangan yang padat, khas ketika banyak pikiran berjalan bersamaan. Suara itu larut dalam angin dari pendingin udara, dibawa bersama aroma tinta, kertas, dan kopi yang baru diseduh. 

Yume-san, atau lebih tepatnya Higashide Yume-san, sedang mengintip tanganku. Mungkin dia sedang beristirahat, berdiri di belakang kursiku dengan cangkir di tangannya. Di balik kacamata dengan bingkai tipis, matanya yang tenang memandang kertas yang ada di depanku. 

Maaf.

“Kamu tidak perlu meminta maaf segala. Berhenti bukanlah hal yang buruk. 

Sambil berkata demikian, Yume-san mengambil pena yang ada di tanganku. Dia menarik selembar kertas lain dan dengan cepat menggambar beberapa garis. Gerakannya cepat. Namun, tidak terlihat sembarangan. 

Saki-chan, kamu seharusnya jangan terlalu banyak berpikir sebelum menggambar.

Kalau tidak berpikir, garisnya akan aneh.

Bahkan jika kamu berpikir, garisnya bisa jadi aneh juga.

Dia mengatakannya dengan begitu santai sehingga aku jadi terdiam

Di atas meja terdapat buku sketsa, sampel warna, dan tumpukan materi yang dibawa Yume-san. Dan sebutir telur putih. Setelah menyelesaikan sketsa bentuk-bentuk seperti balok, kubus, bola, dan silinder, sekarang aku memilih motif untuk memahami cahaya dan bayangan. 

Sejak pertengahan Januari, aku mulai belajar di bawah bimbingan Yume-san, dan aku telah disuruh mengerjakan banyak tugas desain yang ketat, berulang kali mengumpulkannya, dan menanamkan pengetahuan serta keterampilan tentang desain ke dalam otakku yang awam. Namun, menjelang akhir Maret, Ruka-san tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada Yume-san

“Ngomong-ngomong, aku melihat kalau kamu kebanyakan mengajarkan teknik desain tingkat lanjutan, tapi kapan kamu mengajarkan dasar-dasarnya?

Eh, aku perlu mengajarinya dari situ dulu?

—Ya, jenius. 

Ternyata, Yume-san benar-benar lupa bahwa aku sama sekali tidak pernah mendaftar sekolah seni, atau bahkan masuk dalam klub seni, dan bahwa aku hanya belajar menggambar secara mandiri. Jadi, semua dasar seperti komposisi dan warna telah dilewatkan, dan dia mengajarkanku hal-hal yang diperlukan untuk pekerjaan seorang desainer. 

Maaf ya, Aku hampir tidak menggunakan pengetahuan seniku sama sekali sejak aku mulai bekerja.

Karena kamu sudah membangun otot. Tapi, kamu pasti menggunakan keterampilan menggambar tanpa sadar saat bekerja, kan? Dalam hal komposisi dan warna.

Oh iya, benar juga.

Oleh karena itu, sejak bulan April, aku harus berhenti sejenak dari desain tingkat lanjut dan meningkatkan waktu untuk mempelajari dasar-dasar. Cara menggambar garis. Komposisi. Ruang kosong. Panduan pandangan. Dasar-dasar warna. Komposisi dua dimensi. 

Semakin aku mempelajarinya, rasanya jadi semakin menarik. Tetapi pada saat yang sama, semakin aku mengetahuinya, semakin menakutkan jadinya

Sekali lagi.

Setelah dia berkata begitu, aku menata kertas baru di depanku. 

Aku menggambar garis. Kali ini, aku tidak ingin berhenti. Dengan imajinasi untuk menempatkan apa yang kulihat dan rasakan ke dalam pena tanpa berpikir terlalu banyak. Persis seperti yang sudah diajarkan padaku. Aku merasa sudah lebih baik daripada sebelumnya. Namun, rasanya masih saja canggung. 

Ya. Lebih baik daripada sebelumnya.” ucap Yume-san, “Tapi, menggambar garis yang rapi dan menggambar garis yang bisa digunakan itu berbeda.”

“Garis yang bisa digunakan...”

“Yaitu garis yang memiliki makna saat diletakkan di sana.”

Aku menatap kertas itu. Garis yang memiliki makna. Aku memahami kata-katanya. Namun, sulit untuk langsung memahaminya. 

Yume-san lalu melanjutkan, 

“Gambar dan desain terlihat bebas, bukan?”

“Ya.”

“Tapi, karena kebebasan, bukan berarti kamu bisa melakukan apa saja. Jika ada sesuatu yang ingin ditampilkan, kamu harus merelakan beberapa hal. Pilihlah. Buanglah.” 

Kata-katanya dengan sempurna menggambarkan apa yang akhir-akhir ini kurasakan. Dulu, aku berpikir bahwa imajinasi dan kreativitas itu jauh lebih bebas. Aku berpikir bahwa dengan menggabungkan berbagai warna dan bentuk yang terlintas dalam pikiran, aku bisa menciptakan sesuatu yang baru tanpa batas. 

Tapi, rupanya aku salah. 

Semakin banyak pengetahuan yang kudapatkan, semakin luas dunia yang kulihat. Namun, pada saat yang sama, jalan yang bisa dipilih justru semakin sempit. 

Ketika aku meletakkan kedua warna ini berdampingan membuat keduanya tampak lebih kontras secara visual daripada yang kubayangkan. Visibilitas menurun. Suasana yang ingin disampaikan menjadi tidak sesuai.  Sebaliknya, ada aturan yang telah ditetapkan di mana warna-warna tertentu umumnya cocok dipadukan. 

Rasanya memang praktis. Praktis, tetapi semakin aku mengandalkan kemudahan itu, semakin aku mendekati sesuatu yang sudah pernah kulihat sebelumnya. 

Misalnya, jika aku mencoba mengambil tema [musim semi], aku akan cenderung memilih warna yang lembut, dan jika aku ingin menciptakan suasana [perkotaan], aku akan lebih memilih ruang kosong dan kesan yang tidak organik. Begitu aku memilih satu kata, rasanya seperti jalan yang sudah dilalui oleh orang lain di masa lalu muncul di bawah kakiku, dan itu membuatku merinding. 

Beberapa waktu lalu, berita tentang plagiarisme desainer sedang ramai dibicarakan. Pada saat itu, aku berpikir bahwa itu tindakan yang begitu bodoh. Namun, setelah mulai mengerjakan tugas sendiri, pandanganku jadi sedikit berubah. 

Suatu ketika, Yume-san memintaku untuk membuat proposal visual sederhana dengan tema [kota setelah hujan]. Aku sangat bingung, tetapi aku mencoba berpikir dengan caraku sendiri dan menggambar dengan dasar warna biru dan putih yang transparan. Namun, salah satu karya lamanya yang kemudian dia tunjukkan kepadaku sebagai bahan referensi ternyata sangat mirip. 

Tentu saja, aku tidak menjiplaknya. Aku bahkan belum melihatnya sebelumnya. 

Namun, tetap saja, itu mirip. 

Saat itu, sensasi dingin menjalari punggungku. 

Ada kalanya kamu menciptakan sesuatu yang serupa tanpa mencurinya. Pengetahuan dan asosiasi yang terakumulasi dapat secara alami membawa seseorang ke tempat yang sama. Jika memang demikian, betapa sulitnya untuk tetap bebas meskipun sudah belajar? 

Kreativitas itu menakutkan. 

Aku mungkin baru merasakannya untuk pertama kalinya. 

“Wajahmu terlihat menakutkan.” ucap Yume-san, dan aku terkejut. 

“Apa sampai segitunya?”

“Ya. Kamu mungkin takut dengan garis-garis, kan? Jika kau terus seperti itu, garis-garis itu akan membencimu.” 

Yume-san tertawa. 

“Tidak apa-apa. Semua orang pasti pernah mengalaminya setidaknya sekali.”

“Bahkan Yume-san juga?” 

“Ya.”

Tanggapannya begitu lugas sehingga aku merasa sedikit lega. 

“Kenyataan bahwa kamu merasa takut untuk terlihat mirip adalah tanda bahwa kamu benar-benar menghadapi seni. Orang yang tidak menghadapi seni takkan merasa takut. …Jika kamu berhenti di situ, maka semuanya akan berakhir.”

Komentar terakhirnya benar-benar terdengar pedas. Namun, justru karena itu, aku merasa bisa mempercayainya. 

“Aku tidak ingin berhenti.”

“Kalau begitu, mari kita buat lebih banyak. Mari kita pikirkan. Mari kita bandingkan. Selain itu, ada bagusnya jika kamu tetap merasa takut saat membuatnya.”

“Merasa takut saat membuatnya...”

“Ya. Kamu tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Kamu bisa melangkah maju meskipun merasa takut.” 

Saat dia mengatakan itu, aku merasa sedikit terselamatkan. Rasa takut itu bukan karena aku tidak mampu. Sebaliknya, aku menyadari bahwa penting untuk melangkah maju meskipun sudah mengetahui rasa takut itu. 

 

◇◇◇◇

 

Setelah memasuki bulan April, persiapan untuk [Pameran Horor] mulai bergerak secara serius. Pada awalnya, aku memang tidak terbiasa melihat hal-hal yang menakutkan, dan setiap beberapa menit, aku mengeluarkan teriakan kecil seperti “hiya!” atau “hii!” yang merusak keheningan di lokasi. Aku merasa seperti telah menerima pekerjaan yang paling tidak cocok untukku, tetapi aku juga berkonflik karena tidak bisa mundur sekarang. 

Namun, anehnya, semakin aku terlibat, aku tidak hanya merasa takut. 

Aku mulai memperhatikan di mana orang-orang merasa takut. Di mana mereka mulai bernapas lebih dangkal. Dalam kegelapan seperti apa mereka merasa tidak nyaman. Apa suara yang tiba-tiba lebih mengejutkan, atau suara yang mendekat perlahan lebih efektif. Cara alur gerak bisa mengubah ketegangan. Jika terlalu banyak ditampilkan, rasa takut akan menghilang, tetapi jika terlalu disembunyikan, itu akan menjadi tidak jelas. 

Kegelapan. Jeda. Suara. Ruang kosong. Alur gerak. 

Aku mulai menyadari bahwa rasa takut tidak hanya muncul dari satu persepsi, tetapi dibentuk oleh struktur. Aku tidak ingin membiarkan hal-hal yang menakutkan tetap hanya sebagai hal yang menakutkan. 

Bagaimana caranya agar ketakutan itu bisa disajikan dengan baik? Bagaimana agar orang-orang yang datang dapat menikmati ketakutan itu di tempat yang aman? 

Saat memikirkan itu, aku merasa sedikit lebih kuat. Bukan hanya bergetar di hadapan hal-hal yang tidak dikenal, tetapi kini aku bisa memberikan bentuk pada ketakutan itu. 

…Meski demikian. 

“Hiii!”

Aku tanpa sadar menyentakkan bahuku. Kejadiannya di sudut kantor. Saat aku sedang memeriksa video demo untuk pameran di ruang pertemuan yang gelap, aku sudah tahu. Aku memahami struktur dan tahu suara mengganggu berikutnya akan datang. Namun, suara bising dan bayangan manusia yang tiba-tiba muncul di dalam video itu membuatku terkejut dengan cara yang sangat segar. 

Melihat reaksiku yang begitu, Ruka-san tertawa terbahak-bahak. 

“Sudah kuduga Saki, kamu sangat cocok.”

“Bukannya seharusnya aku tidak cocok?”

“Justru sebaliknya.”

Ruka-san tertawa sambil meneguk kopi dari cangkir kertasnya. 

“Ada penulis horor yang berkolaborasi dengan pameran ini, kan? Dia juga, katanya, sangat penakut.”

Eh?”

“Meski dia seorang profesional horor?”

“Benar. Jadi, dia tidak akan datang berkali-kali kecuali pada hari undangan untuk orang-orang terkait. Dia tertawa dan bilang, karena dia sangat penakut, dia bisa menulis horor.”

Aku tanpa sadar menatap layar video demo yang terhenti. 

Karena dia penakut. 

Kata-kata itu meninggalkan kesan yang aneh di hatiku. 

“…Sejujurnya, aku merasa apa yang kulakukan sekarang adalah peran yang bisa diemban siapa saja yang sedikit penakut.” 

“Jika sangat penakut, mungkin bisa. Sedikit saja tidak cukup. Karena orang yang penakut rata-rata tidak akan terus merasa takut dengan materi yang sama di dua atau tiga kali penayangan. Sebenarnya, jika seseorang sangat penakut, justru tidak banyak yang ada seperti itu.”

“Haa...”

Apa aku sedang dipuji? …Untuk saat ini, biarkanlah aku berpikir begitu. 

“Karena ini bagian dari pekerjaan, tentu saja kamu akan melihatnya berkali-kali. Tidak ada gunanya jika sudah terbiasa dalam dua atau tiga kali penayangan. Saki selalu merasa takut setiap kali. Kamu jelas-jelas tahu bagian mana yang tidak disukai, dan di bagian mana kamu ingin melarikan diri.”

“Meski tahu itu akan datang, aku masih bereaksi...”

“Benar. Justru itulah yang bagus.” 

Ruka-san menjawab dengan cepat. 

“Semua penonton adalah orang yang melihat untuk pertama kali. Semakin dekat perasaan dengan pengalaman pertama, semakin baik. Hal yang paling menakutkan bagi seorang kreator adalah terlalu jauh dari perasaan penonton. …Berkat Saki, para pengurus dapat fokus pada kreativitas mereka dengan tenang.”

Aku mengangguk merasa paham. Mungkin mengatasi kelemahan sepenuhnya bukanlah satu-satunya ukuran kekuatan. Jika kita bisa memperlakukan ketidaknyamanan kita sebagai sesuatu yang berguna, mungkin kita tidak perlu lagi menyebutnya kelemahan. 

Aku selalu menganggap “ketakutan” dalam diriku sebagai kekurangan. Aku penakut, berhati-hati, gampang cemas, dan tidak bisa bersikap tenang. Aku selalu berharap bisa lebih percaya diri dan lebih kuat. 

Namun, ada tempat di mana “ketakutan” itu bisa berguna. Mengetahui hal itu sangat memberiku semangat.

 

◇◇◇◇

 

Menjelang pertengahan April, Yuuta mulai menghabiskan setengah dari seminggu di rumah. Ia belum sepenuhnya kembali, tetapi jelas waktu yang dihabiskan di rumahnya meningkat dibandingkan sebelumnya. 

Karena itulah, percakapan di rumah juga semakin bertambah. 

Saat makan malam, kami membicarakan tentang universitas, pekerjaan paruh waktu, dan magang. Sebelum keluar rumah, setelah mandi, atau saat bertemu di dapur. Rasanya seperti kembali ke interaksi sehari-hari yang biasa. 

Hal itu membuatku senang. 

Meskipun aku merasa senang, pada saat yang sama, aku semakin sibuk. 

Intern. Belajar dengan Yume-san. Urusan rumah. Mengenai ibuku. 

Aku ingin melakukan semuanya dengan baik. Aku tidak ingin mengabaikan apa pun. Aku ingin mempertahankan semuanya di tingkat yang tinggi. Semakin aku berpikir seperti itu, semakin aku merasa seolah-olah aku sedang mencekik leherku sendiri. 

Selain itu, di tengah semua itu, Yuuta tetap pergi ke universitas, bekerja paruh waktu, kembali ke rumah, dan secara alami membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan ibuku saat diperlukan. 

Ketika melihatnya, jujur saja aku merasa kagum dan sekaligus, dengan sedikit rasa malu, aku merasa sedikit cemburu. 

Kenapa aku selalu berada di ambang batas? 

Kenapa aku tidak bisa mengatur semuanya seperti Yuta? 

Apalagi, akulah yang membuatnya merawat ibuku. Di tambah lagi, Yuuta bahkan membantuku yang sudah kehilangan kendali. 

Misalnya saja kejadian beberapa hari yang lalu. 

Saat aku melepas pakaian di kamar mandi, aku menyadari bahwa aku lupa membawa baju ganti dan meminta Yuuta untuk mengambilkannya. Pada hari itu, aku sedang tidak berpikir jernih, dan aku tidak sadar telah meminta bantuan Yuuta. Setelah itu, Yuuta memberitahuku bahwa seharusnya aku memakai handuk dan pergi ke kamarku sendiri. Aku baru menyadari betapa mudahnya hal itu, tapi hal segampang itu tidak terlintas di benakku. 

Aku merasa kewalahan. 

Kenyataan itu, perlahan-lahan, mulai mempengaruhi diriku. 

 

◇◇◇◇

 

Menjelang akhir April. Saat aku pulang dan baru saja mengucapkan “Aku pulang.” 

“Selamat datang kembali.”

Aku merasa lega ketika mendengar suara ibuku dari ruang tamu, tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang terputus dalam diriku. 

Aku berdiri di sana, tidak bisa berkata apa-apa. 

Rasa lelah itu lebih terasa seperti kekosongan yang tiba-tiba. Seolah-olah di dalam tubuhku, benang yang tegang putus tanpa suara. 

“Saki?”

Aku merasakan ibuku berdiri. Aku berusaha menjawab. Aku ingin menjawabnya, tetapi suaraku tidak keluar dengan baik. Aku tidak bermaksud menangis. 

Namun, sebelum aku menyadarinya, air mata mengalir di pipiku, meskipun ekspresiku tetap sama. Rasanya aneh. Wajahku tidak berkerut seperti saat aku sedih. Hanya air mata yang mengalir. 

Ara, ara...”

Ibu menghampiriku, wajahnya menunjukkan ekspresi yang lebih lembut dan khawatir daripada terkejut. 

“Ada apa?”

“…Aku tidak tahu.” 

Suara yang akhirnya keluar terdengar sangat kecil. 

Ibuku memelukku tanpa berkata apa-apa. Meskipun lengannya kurus, aku merasa sangat tenang saat dia memelukku.

“Maafkan ibu karena terlalu membebanimu.”

Mendengar kata-kata itu, aku ingin menggelengkan kepalaku. 

“Bukan...”

“Ya. Mendengar itu juga membuatku merasa menyedihkan, iya ‘kan.”

Dia mengatakannya seolah-olah membaca pikiranku, dan aku  membelalakkan mataku. 

Ya, itu benar. 

Ketika ibu meminta maaf karena sudah membuatku memaksakan diri, itu juga menyakitkan. 

Seolah-olah aku hanya memaksakan diriku sendiri. Seolah-olah aku tidak mampu. Ada bagian dari diriku yang menerima hal itu dengan cara seperti itu. 

“Karena ini pengalaman pertama bagi Saki, jadi rasanya wajar saja jika kamu merasa tegang.” 

Ibuku berkata sambil mengusap punggungku dengan lembut.

“Aku baik-baik saja.”

“Tapi...”

Aku berkata sambil menyembunyikan wajahku di bahunya. 

“Bu, ibu baik dan perhatian. Mungkin aku memaksakan diri agar tidak membuatmu khawatir.”

“Itu tidak benar.” 

Suara ibuku terdengar agak lambat, tetapi sangat tegas. 

“Jika aku merasa kesulitan, aku akan segera menghubungimu.” 

“…Benarkah?”

“Benar.”

Ibu sedikit menjauh dan menatap wajahku. 

“Karena waktu Saki lahir, aku juga melakukan hal yang sama.”

“Eh?”

Aku tanpa sadar melupakan air mataku sejenak dan melihat ibuku. Tentu saja aku tidak tahu apa-apa tentang masa sebelum aku cukup dewasa untuk mengingatnya. 

“Setiap kali aku merasa lesakitan, cemas, atau lelah. Pada saat-saat seperti itu, aku segera meminta bantuan Fumiya-san.” 

Perkataannya terlalu mengejutkan sampai-sampai aku tidak bisa berbicara untuk sementara waktu. 

Kepada ayah itu. Tidak, sebelum aku mengenalnya, pada saat itu dia bahkan belum menjadi orangtuaku. Aku tidak bisa membayangkan ibuku meminta bantuan dengan cara seperti itu. 

“Aku baik-baik saja.”

Ibuku tersenyum. 

“Menariknya, ketika seseorang diminta bantuan, mereka justru merasa senang.”

Kata-kata itu diam-diam meresap di hatiku. Jauh di lubuk hatiku, aku selalu berpikir mengandalkan seseorang berarti menimbulkan masalah. Tapi, mungkin itu tidak benar.  Mengandalkan seseorang mungkin merupakan salah satu bentuk hasil yang termasuk dalam mempercayai mereka. 

Malam itu, aku bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan apa pun untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. 

 

◇◇◇◇

 

Dan keesokan paginya. 

Hari ini Yuuta tidak bisa kembali ke rumah. Hari ini adalah hari kerjanya di perusahaan produksi penyuntingan, Veil Factory. Jadi, aku memutuskan untuk mengurus semua hal tentang ibuku, menyiapkan makanan, dan melakukan pekerjaan berat dengan baik. 

Aku sudah memutuskannya, tapi.... 

Sejak aku bangun pagi, tubuhku terasa aneh. 

Perutku sakit. Aku juga merasakan sakit kepala yang tumpul. Aku tidak merasa demam dan tenggorokanku juga baik-baik saja. Jadi, aku rasa ini bukan flu. Namun, jelas sekali kalau aku merasa tidak enak badan. 

Ah, aku tahu, pikirku dalam selimut. 

Mungkin ini karena sistem saraf otonomku. Kelelahan dan ketegangan mungkin datang secara bersamaan. 

Ini sangat buruk, pikirku. 

Dari semua hari, aku justru merasa tidak enak badan. 

Hari di mana Yuuta berencana pergi dari rumah. 

Walaupun begitu, aku entah bagaimana berusaha bangkit, berganti pakaian, dan dengan langkah goyah mencuci muka di wastafel. Wajahku terlihat pucat di cermin. Dengan kondisi seperti ini, alasan “aku baik-baik saja” mungkin takkan terdengar meyakinkan. 

Aku terhenti saat melihat Yuuta yang sedang mengenakan sepatu di pintu masuk. 

“Aku mungkin akan kembali lagi lusa. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulua ya.” 

Suaranya masih sama seperti biasanya. Aku menggigit bibirku erat-erat sambil memperhatikan punggungnya. Jika aku tidak mengatakannya di sini, mungkin aku akan memaksakan diri lagi. Aku mungkin akan lebih menyusahkan ibuku dan Yuuta. Aku menyadarinya. 

Namun, aku merasa takut. 

Apa dirinya akan merasa tidak nyaman karena ini terlalu mendesak? Apa ia akan berpikir, “Apa kamu tidak bisa melakukannya dengan benar hari ini”? Pikiran-pikiran semacam itu melintas di kepalaku. 

Tapi kemudian, aku mengingat kembali kata-kata ibuku semalam. 

── Menariknya, ketika seseorang diminta bantuan, mereka merasa senang

Aku menarik napas. 

“Yuuta.”

Yuuta menoleh ke arahku. 

“Maaf—hari ini, aku mungkin tidak bisa.”

Ada keheningan sesaat. 

Momen itu terasa sangat lama. 

Keheningan yang terasa selamanya itu akhirnya dipatahkan oleh suara Yuuta. Mungkin dalam kenyataannya tidak sampai dua detik, hampir tanpa jeda, dia langsung menjawab. 

“Oke. Aku akan menyesuaikan jadwalku.”

Hanya itu saja. 

Tanpa menyalahkan atau bingung, ia langsung menyetujuinya. Aku terkejut dan membuka mataku lebar-lebar. 

“Eh...”

“Wajahmu kelihatan pucat. Tentu saja kamu tidak baik-baik saja.” 

Sambil melepas sepatu, ia sudah mengeluarkan ponsel. Mungkin ia sedang merencanakan ulang jadwal universitas dan pekerjaannya di kepalanya. 

“Maaf, ini mendadak sekali.” 

“Kondisi kesehatan buruk selalu datang secara tiba-tiba, jadi apa boleh buat.” 

Jawaban santainya membuatku merasakan kehangatan di dadaku. 

Ah, begini rupanya, pikirku. 

Mungkin inilah arti sebenarnya dari saling mendukung. 

Bukan tentang membagi semuanya menjadi dua atau bersikap adil sepenuhnya. Ketika satu pihak mengatakan bahwa mereka tidak bisa, pihak yang lebih mampu harus menerima. Sebagai gantinya, jika posisi terbalik, mereka akan melakukan hal yang sebaliknya. 

Saling mengandalkan. Dapat diandalkan. 

Mampu melakukannya tanpa bersikap keras kepala maupun egois. 

Mungkin dengan secara bertahap mengumpulkan hal-hal kecil inilah struktur keluarga kami akan terbentuk. 

Dan pada akhirnya. 

Bahkan jika suatu hari nanti aku menjadi seseorang yang mengandung anak, mungkin aku bisa menjadi orang yang bisa bergantung dengan tenang seperti ini. 

Di pagi itu, aku merasa seperti melihat sekilas harapan yang masih samar-samar.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama