Roshidere Jilid 12 Prolog Bahasa Indonesia


Prolog — Dansa Pertama Bersama Partner

 

Pesta Natal pertama yang diselenggarakan dan diprakarsai oleh Suou Yuki, seorang anggota OSIS dan aula olahraga menjadi lokasi acaranya. Saat ini, dua pasang kandidat menampilkan tarian pertama mereka.

“Wah…”

“Haa…”

Di tengah alunan musik lembut yang mengalun dari speaker yang dipasang di panggung, tarian menakjubkan yang diperagakan oleh dua pasangan tersebut membuat siswa-siswa yang berdiri di dekat dinding berdecak kagum.

Dan orang yang paling menarik perhatian mereka adalah Alisa. Dengan rambut perak yang menjadi ciri khasnya diikat rapi, wajah cantik yang misterius dan gaya yang luar biasa dibalut gaun elegan, penampilannya benar-benar seperti putri dari negeri asing.

Setiap kali dia berputar dengan anggun, rambut peraknya yang melambai, kulit putihnya yang sempurna tampak berkilau karena terkena cahaya. Pemandangan yang seperti mimpi ini membuat banyak siswa, tanpa memandang jenis kelamin, terpesona seolah-olah jiwa mereka dicuri.

Namun seiring berjalannya waktu, beberapa siswa yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tari mulai memperhatikan hal lain.

“Nee, bukannya tarian Kujou-san cukup khas ya?”

“Ya… bagaimana ya. Kecepatan langkah awalnya cepat… bisa dibilang begitu? Jika dibilang ringan, memang begitu…”

Agar tidak mengalihkan perhatian dari acara dansa yang diprakarsai oleh Yuki, Alisa secara sukarela menyimpan tarian megah yang ditunjukkan pada festival sekolah tahun lalu. Namun, jika ditanya apa dia bisa sepenuhnya menyimpannya, sebenarnya tidak bisa… Kebiasaan tari balet yang sudah melekat sejak kecil tidak bisa dihindari saat dia menari. Hal yang paling mencolok adalah langkah ke sampingnya yang cenderung besar dan tajam.

Gerakan tubuh dan kaki Alisa yang unik ini biasanya lebih mencolok. Dalam situasi di mana ada pasangan Yuki dan Ayano yang menari dengan sempurna, hal ini semakin terasa. Namun, secara keseluruhan, tarian tersebut tetap terlihat indah dan megah berkat keterampilan partnernya, Masachika.

“... Melihat ini, Kujou-san tampaknya menari dengan cukup bebas ya.”

“Pasangannya juga luar biasa. Dia bisa menjaga ritme dengan baik.”

“Dia terlihat santai, tapi… tidak semua orang bisa terlihat seperti itu. Dia luar biasa.”

Satu per satu, siswa mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah Masachika.

“Kuze-kun tuh bukan berasal dari kalangan atas, ‘kan? Tapi ia sangat… tidak, dirinya sangat pandai menari, ya?”

“Maksudku, meskipun dirinya sangat pandai menari, dia tidak menunjukkan itu dan lebih menyesuaikan diri dengan pasangannya, bukannya itu luar biasa?”

“Setuju. Biasanya, cowok yang pandai menari cenderung egois. Parahnya lagi malah bisa menjadi pengganggu.”

“Kalau dengannya, mungkin aku ingin mencoba menari sedikit bersamanya…”

Sebagian siswa dengan tulus mengagumi keterampilan menari Masachika, sementara sebagian lainnya mulai mengarahkan tatapan penuh semangat kepada mereka. Alisa dan Masachika yang menarik perhatian dengan tatapan campuran antara kekaguman dan rasa ingin tahu. Yuki, sambil menari, juga mengamati mereka dari samping.

(Onii-chan memang hebat… kualitas tariannya melampaaui sekedar menggunakan keterampilan lamanya. Mungkin dia sudah berlatih sebelumnya… wah, luar biasa sekali.)

Yuki dan pasangannya, Ayano, menarik perhatian dengan cara yang berbeda dibandingkan pasangan Alisa dan Masachika. Tentu saja, yang paling menarik perhatian adalah Yuki sebagai penyelenggara pesta ini… bukan, melainkan Ayano. Alasannya jelas terlihat dari penampilan keduanya saat ini.

“Wah, menakjubkan sekali…!”

“Apa ini yang disebut perasaan mulia…?”

Desahan yang penuh semangat, berbeda dari yang ditujukan kepada Alisa dan Masachika, terdengar dari sekeliling.

“Pasangan pelayan tanpa ekspresi dan si Ojou-sama, sangat menggemaskan…!!”

Ya, pada pesta kali ini, Ayano mengenakan pakaian ala butler, bukan gaun atau kostum lainnya, dan menari sebagai pria. Dengan rambut hitam panjang yang dikepang, Ayano menambah tinggi badannya dengan sepatu bot rahasia untuk menyesuaikannya dengan tinggi Yuki, menciptakan suasana seperti pelayan pria yang tenang dan terhormat. Yuki, yang dengan lembut diiringi oleh Ayano, tampak sebagai nyonya muda yang berusaha keras dengan beban tekanan dari keluarga terhormat. Perasaan mendalam yang diungkapkan Ayano pada upacara penutupan sebelumnya semakin memperkuat kesan itu.

“Siapa itu, menggemaskan banget…”

“Entahlah. Melihat mereka berdua membuat hati ini bergetar.”

“Ah, hatiku serasa dimurnikan…”

“Ugh, rasanya terlalu menyilaukan bagiku…”

Jika tatapan yang diarahkan kepada pasangan Alisa dan Masachika merupakan perasaan kagum yang mungkin dimiliki seseorang kepada idola, maka tatapan kepada pasangan Yuki dan Ayano adalah rasa dukungan yang lebih dekat, dengan sedikit rasa melindungi. Menyadari hal itu, Yuki tersenyum dalam hati dengan percaya diri.

(Fufufu~, bagaimana? Mereka pasti bisa mendukung, kan? Sangat menggemaskan, bukan? Bukannya pasangan yang terikat dengan ikatan yang kuat seperti ini seharusnya terpilih…?)

Isi pidato Ayano di upacara penutupan adalah sesuatu yang tidak terduga bagi Yuki. Namun, sekarang, yang bisa dia katakan sekarang justru “kerja bagus.”

Sebelumnya, Yuki memiliki dukungan yang bersifat pasif, berasal dari kepercayaan pada prestasi yang tak tergoyahkan sebagai “Putri Sempurna” dan “mantan ketua dewan siswa yang sangat stabil”. Namun, pengakuan tulus Ayano sebagai teman masa kecil dan pengabdian yang tulus ternyata membuka celah dalam kesempurnaan Yuki, menarik dukungan aktif dari penonton yang merasa “harus mendukung!”. Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Yuki yang selalu mempertahankan mode “Putri Ningrat yang Polos” di sekolah.

(Orang lebih tertarik pada cerita daripada fakta atau prestasi… sama seperti siswa yang tertarik pada kisah sukses yang jelas di mana seorang siswa gemuk dan pemurung meraih bunga yang tak terjangkau—dan bagaimana ia memenangkan pemilihan.)

Sambil berputar dengan anggun, Yuki melirik ke arah Masachika dan Alisa. Alisa dan Masachika, jika dilihat secara objektif, tampak sebagai pasangan cantik dan biasa saja, namun anehnya terasa sangat cocok. Namun,

(Pasangan pria dan wanita bekerja sama dalam pemilihan. Itu memang indah… tetapi, tentu saja ada kecemburuan dan prasangka yang menyertainya. Jika dibandingkan dengan dua teman masa kecil yang saling mendukung, mana yang lebih murni untuk didukung?)

Dalam bidang pandangannya, Alisa terlihat lebih tenang dari biasanya, tersenyum ceria sambil menari dengan Masachika. Melihat sosoknya yang tak berdaya dan ceria itu, Yuki mendengus dalam hati.

(Oya~Oya Dia tampak begitu santai dan menikmatinya… apa itu baik-baik saja? Jika Alya-san bersikap seperti itu, aku akan dengan mudah menarik perhatian para pendukung di pesta ini, lho?)

Ya, jangan lupa. Pesta Natal ini merupakan acara yang direncanakan dan diadakan oleh Yuki sendiri. Tentu saja, ada banyak strategi yang disiapkan untuk memastikan keunggulannya dalam pemilihan.

(Ampun deh, kamu sepertinya tidak pernah belajar dari sifat cerobohmu itu, ya Alya-san?)

Melihat wajah bahagia Alisa yang tidak menunjukkan sedikit pun kewaspadaan, Yuki merasa… Yuki merasa…

(...Kesal☆)

Entah kenapa, dia merasa sangat marah.

(Hoo? Apa-apaan dengan wajahmu itu? Menghadapi Onii-chansama orang lain dengan wajah feminin… Akan kugrepe oppaimu!!)

Tergerak oleh dorongan untuk segera beralih ke mode adik perempuan dan memberikan tendangan cinta di punggung kakaknya, Yuki tanpa sadar menekan tangan yang terhubung dengan Ayano.

“(Yuki-sama…?)”

Kemudian, Ayano memanggilnya dengan suara kecil yang penuh rasa curiga, dan Yuki tersadar.

“(Bukan apa-apa.)”

Sambil mengalihkan pandangan ke depan dan menjawab dengan suara pelan, Yuki menyadari bahwa rasa frustrasinya belum juga mereda. Dan alasannya pun dia ketahui dengan baik.

(Dia ingin menciptakan sistem di mana semua orang bisa bekerja sama di OSIS dan bersama-sama berusaha untuk bergabung dengan Raikoukai, bilangnya? )

Janji yang diungkapkan Alisa di upacara penutupan sebelumnya mengguncang hati Yuki. Janji yang begitu berani dan terlalu ambisius hingga membuatnya ingin tertawa, dan gambaran masa depan yang terasa seperti mimpi.

(...Hah)

Dia tidak menyukainya. Ah, dia sangat tidak menyukainyauka.

Dia semakin menyadarinya. Rasa cemburu ini bukanlah perasaan yang seharusnya dia miliki terhadap lawan yang lebih rendah.

(Ah… harus kuakui, Alya-san. Alya-san memang, pantas menjadi lawan yang sepadan dalam persaingan kursi ketua OSIS.)

Dia mengakui Alisa. Bukan hanya sebagai partnernya Masachika, tetapi sebagai lawan yang harus dia kalahkan dengan segenap tenaga. Ya, karena dia mengakui…

(Setelah mengeluarkan janji-janji yang terlalu berlebihan, aku harus membuat gadis naif yang sudah dibuat terpesona dan terbawa suasana itu merasakan kekalahannya di pesta ini~…)

Sementara Yuki tersenyum penuh percaya diri, lagu pun berakhir, menandakan akhir dari dansa pertama… dan acara utama pesta pun dimulai.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama