Prolog — Dansa Pertama Bersama Partner
Pesta
Natal pertama yang diselenggarakan dan diprakarsai
oleh Suou Yuki, seorang anggota OSIS dan aula olahraga menjadi lokasi
acaranya. Saat ini, dua pasang kandidat menampilkan tarian pertama
mereka.
“Wah…”
“Haa…”
Di tengah
alunan musik lembut yang mengalun dari speaker yang dipasang di
panggung, tarian menakjubkan yang diperagakan oleh dua pasangan tersebut
membuat siswa-siswa yang berdiri di dekat dinding berdecak kagum.
Dan orang yang
paling menarik perhatian mereka adalah Alisa. Dengan rambut perak yang menjadi
ciri khasnya diikat rapi, wajah cantik yang misterius dan gaya yang luar biasa
dibalut gaun elegan, penampilannya benar-benar seperti
putri dari negeri asing.
Setiap
kali dia berputar dengan anggun, rambut peraknya yang melambai, kulit putihnya
yang sempurna tampak berkilau karena terkena cahaya. Pemandangan yang
seperti mimpi ini membuat banyak siswa, tanpa memandang jenis kelamin, terpesona
seolah-olah jiwa mereka dicuri.
Namun
seiring berjalannya waktu, beberapa siswa yang memiliki pengetahuan mendalam
tentang tari mulai memperhatikan hal lain.
“Nee,
bukannya tarian Kujou-san cukup khas ya?”
“Ya…
bagaimana ya. Kecepatan langkah awalnya cepat… bisa dibilang begitu? Jika
dibilang ringan, memang begitu…”
Agar
tidak mengalihkan perhatian dari acara dansa yang diprakarsai oleh Yuki, Alisa
secara sukarela menyimpan tarian megah yang ditunjukkan pada festival sekolah
tahun lalu. Namun, jika ditanya apa dia bisa sepenuhnya menyimpannya,
sebenarnya tidak bisa… Kebiasaan tari balet yang sudah melekat sejak kecil
tidak bisa dihindari saat dia menari. Hal yang
paling mencolok adalah langkah ke sampingnya yang cenderung besar dan tajam.
Gerakan
tubuh dan kaki Alisa yang unik ini biasanya lebih
mencolok. Dalam situasi di mana ada pasangan Yuki dan Ayano yang menari dengan sempurna, hal
ini semakin terasa. Namun, secara keseluruhan, tarian tersebut tetap terlihat
indah dan megah berkat keterampilan partnernya,
Masachika.
“...
Melihat ini, Kujou-san tampaknya menari dengan cukup bebas ya.”
“Pasangannya juga luar biasa. Dia bisa menjaga
ritme dengan baik.”
“Dia
terlihat santai, tapi… tidak semua orang bisa terlihat seperti itu. Dia luar
biasa.”
Satu per
satu, siswa mulai mengalihkan pandangan mereka ke
arah Masachika.
“Kuze-kun tuh bukan berasal dari kalangan
atas, ‘kan? Tapi ia sangat… tidak, dirinya sangat pandai menari, ya?”
“Maksudku, meskipun dirinya sangat pandai menari, dia tidak
menunjukkan itu dan lebih menyesuaikan diri dengan pasangannya, bukannya itu luar biasa?”
“Setuju.
Biasanya, cowok yang pandai menari cenderung egois. Parahnya lagi malah bisa
menjadi pengganggu.”
“Kalau
dengannya, mungkin aku ingin mencoba
menari sedikit bersamanya…”
Sebagian
siswa dengan tulus mengagumi keterampilan menari Masachika, sementara sebagian
lainnya mulai mengarahkan tatapan penuh semangat kepada mereka. Alisa dan
Masachika yang menarik perhatian dengan tatapan campuran antara kekaguman dan
rasa ingin tahu. Yuki, sambil menari, juga mengamati mereka dari samping.
(Onii-chan memang hebat…
kualitas tariannya melampaaui sekedar
menggunakan keterampilan lamanya. Mungkin
dia sudah berlatih sebelumnya… wah, luar biasa sekali.)
Yuki dan
pasangannya, Ayano, menarik perhatian dengan cara yang berbeda dibandingkan
pasangan Alisa dan Masachika. Tentu saja, yang paling menarik perhatian adalah
Yuki sebagai penyelenggara pesta ini… bukan, melainkan Ayano. Alasannya jelas
terlihat dari penampilan keduanya saat ini.
“Wah, menakjubkan sekali…!”
“Apa ini
yang disebut perasaan mulia…?”
Desahan
yang penuh semangat, berbeda dari yang ditujukan kepada Alisa dan Masachika,
terdengar dari sekeliling.
“Pasangan
pelayan tanpa ekspresi dan si Ojou-sama,
sangat menggemaskan…!!”
Ya, pada
pesta kali ini, Ayano mengenakan pakaian ala butler,
bukan gaun atau kostum lainnya, dan menari sebagai pria. Dengan rambut hitam
panjang yang dikepang, Ayano menambah tinggi badannya dengan sepatu bot rahasia
untuk menyesuaikannya dengan tinggi
Yuki, menciptakan suasana seperti pelayan pria yang tenang dan terhormat. Yuki,
yang dengan lembut diiringi oleh Ayano, tampak sebagai nyonya muda yang berusaha keras dengan beban
tekanan dari keluarga terhormat. Perasaan mendalam yang diungkapkan Ayano pada
upacara penutupan sebelumnya semakin memperkuat kesan itu.
“Siapa
itu, menggemaskan banget…”
“Entahlah.
Melihat mereka berdua membuat hati ini bergetar.”
“Ah, hatiku serasa dimurnikan…”
“Ugh, rasanya terlalu menyilaukan bagiku…”
Jika
tatapan yang diarahkan kepada pasangan Alisa dan Masachika merupakan perasaan kagum yang mungkin dimiliki seseorang
kepada idola, maka tatapan kepada pasangan Yuki dan Ayano adalah rasa dukungan
yang lebih dekat, dengan sedikit rasa melindungi. Menyadari hal itu, Yuki
tersenyum dalam hati dengan percaya diri.
(Fufufu~, bagaimana? Mereka pasti
bisa mendukung,
kan? Sangat menggemaskan, bukan? Bukannya
pasangan yang terikat dengan ikatan yang kuat seperti ini seharusnya
terpilih…?)
Isi
pidato Ayano di upacara penutupan adalah sesuatu yang tidak terduga bagi Yuki.
Namun, sekarang, yang bisa dia katakan sekarang justru “kerja bagus.”
Sebelumnya,
Yuki memiliki dukungan yang bersifat pasif, berasal dari kepercayaan pada
prestasi yang tak tergoyahkan sebagai “Putri
Sempurna” dan “mantan
ketua dewan siswa yang sangat stabil”.
Namun, pengakuan tulus Ayano sebagai teman masa kecil dan pengabdian yang tulus
ternyata membuka celah dalam kesempurnaan Yuki, menarik dukungan aktif dari
penonton yang merasa “harus
mendukung!”.
Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Yuki yang selalu
mempertahankan mode “Putri Ningrat yang Polos”
di sekolah.
(Orang
lebih tertarik pada cerita daripada fakta atau prestasi… sama seperti siswa
yang tertarik pada kisah sukses yang jelas di mana seorang siswa gemuk dan
pemurung meraih bunga yang tak terjangkau—dan bagaimana ia memenangkan
pemilihan.)
Sambil
berputar dengan anggun, Yuki melirik ke arah Masachika dan Alisa. Alisa dan
Masachika, jika dilihat secara objektif, tampak sebagai pasangan cantik dan
biasa saja, namun anehnya terasa sangat cocok. Namun,
(Pasangan
pria dan wanita bekerja sama dalam pemilihan. Itu memang indah… tetapi, tentu
saja ada kecemburuan dan prasangka yang menyertainya. Jika dibandingkan dengan
dua teman masa kecil yang saling mendukung, mana yang lebih murni untuk
didukung?)
Dalam bidang pandangannya, Alisa
terlihat lebih tenang dari biasanya, tersenyum ceria sambil menari dengan
Masachika. Melihat sosoknya yang tak berdaya dan ceria itu, Yuki mendengus
dalam hati.
(Oya~Oya Dia tampak begitu santai
dan menikmatinya…
apa itu baik-baik saja? Jika Alya-san
bersikap seperti itu, aku akan dengan mudah menarik perhatian para pendukung di
pesta ini, lho?)
Ya, jangan lupa. Pesta Natal ini merupakan acara yang direncanakan dan
diadakan oleh Yuki sendiri. Tentu saja, ada banyak
strategi yang disiapkan untuk memastikan keunggulannya dalam pemilihan.
(Ampun deh, kamu sepertinya tidak pernah belajar dari
sifat cerobohmu
itu, ya Alya-san?)
Melihat
wajah bahagia Alisa yang tidak menunjukkan sedikit pun kewaspadaan, Yuki
merasa… Yuki merasa…
(...Kesal☆)
Entah
kenapa, dia merasa sangat marah.
(Hoo? Apa-apaan dengan wajahmu itu? Menghadapi Onii-chansama orang
lain dengan wajah feminin… Akan kugrepe
oppaimu!!)
Tergerak
oleh dorongan untuk segera beralih ke mode adik perempuan
dan memberikan tendangan cinta di punggung kakaknya, Yuki
tanpa sadar menekan tangan yang terhubung dengan Ayano.
“(Yuki-sama…?)”
Kemudian,
Ayano memanggilnya dengan suara kecil yang penuh rasa curiga, dan Yuki
tersadar.
“(Bukan apa-apa.)”
Sambil
mengalihkan pandangan ke depan dan menjawab dengan suara pelan, Yuki menyadari
bahwa rasa frustrasinya belum juga mereda. Dan alasannya pun dia ketahui dengan
baik.
(Dia ingin menciptakan sistem di mana
semua orang bisa bekerja sama di OSIS
dan bersama-sama berusaha untuk bergabung dengan Raikoukai, bilangnya? )
Janji
yang diungkapkan Alisa di upacara penutupan sebelumnya mengguncang hati Yuki. Janji yang begitu berani dan terlalu ambisius hingga membuatnya ingin tertawa,
dan gambaran masa depan yang terasa seperti mimpi.
(...Hah)
Dia tidak
menyukainya. Ah, dia sangat
tidak menyukainyauka.
Dia
semakin menyadarinya. Rasa
cemburu ini bukanlah perasaan yang seharusnya dia miliki terhadap lawan yang
lebih rendah.
(Ah… harus kuakui, Alya-san. Alya-san memang, pantas menjadi
lawan yang sepadan dalam persaingan kursi ketua OSIS.)
Dia
mengakui Alisa. Bukan hanya sebagai partnernya
Masachika, tetapi sebagai lawan yang harus dia kalahkan dengan segenap tenaga.
Ya, karena dia mengakui…
(Setelah mengeluarkan janji-janji
yang terlalu berlebihan, aku harus membuat
gadis naif yang sudah dibuat terpesona dan terbawa suasana itu merasakan
kekalahannya
di pesta ini~…)
Sementara
Yuki tersenyum penuh percaya diri, lagu pun berakhir, menandakan akhir dari
dansa pertama… dan acara utama pesta pun dimulai.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
