Chapter 1 — Festival Budaya, Dimulai!!
“‘Saat
itu—— aku
akan menunjukkan contohnya
lagi padamu.’”
Cahaya mentari pagi menerobos masuk ke
dalam ruangan.
Seberkas cahaya yang menyinari dari celah
tirai, menerangi seorang gadis yang
berdiri di tengah ruangan―― Konohana Hinako, seolah-olah menjadi
sorotan lampu.
Kata-kata
yang diucapkannya berbeda dari biasanya yang sedikit cadel.
Suara
yang mengandung kesedihan dan kekuatan itu mengencangkan dada pendengar, dan
seketika mengubah suasana ruangan menjadi dunia dalam drama.
Setelah
mendengar kalimat penutup, aku mengangguk dalam-dalam.
“Sempurna.”
“Hmm…
syukurlah.”
Hinako
melepaskan perannya yang selama ini dibalut
lembut dan menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
“Meski
begitu, aku belum sepenuhnya meninjau
naskahnya dengan seksama, jadi
aku tidak bisa menyadari kesalahan dialog dan sebagainya.”
“…… Mau bagaimana lagi. Aku
ingin kamu menikmati drama dengan murni sepenuhnya, Itsuki.”
Perhatiannya itu sangat menyenangkan bagiku. Setelah naskahnya selesai, Hinako tidak ingin
menunjukkannya padaku.
Sepertinya dia ingin aku menikmati
pertunjukkan drama tanpa spoiler.
Aku sudah
beberapa kali menemani
Hinako berlatih, dan dia
dengan sengaja menghilangkan adegan penting, berusaha agar aku tidak memahami
keseluruhan cerita. Adegan yang tidak ditunjukkannya sepertinya dia latih
dengan siswa lain di akademi.
“Tapi,
aku tidak menyangka Hinako berlatih pagi-pagi
begini.”
“Hmm…
meski aku merasa ngantuk, kali ini banyak orang
yang berharap padaku.”
Sepertinya
dia memang tidak terlalu menyukai latihan. Namun, apa yang mendorong Hinako
saat ini bukan hanya rasa tanggung jawab. Ada perasaan positif yang ingin
memenuhi harapan semua orang.
Dua kata “masa
muda” melintas di pikiranku. Sebagai anggota OSIS,
aku ingin mendukung festival budaya untuk orang-orang seperti mereka.
“Akhinya,
hari ini dimulai ya.”
“…… Hmm.”
Dalam
beberapa jam lagi,
festival budaya Akademi Kekaisaran
akan dimulai.
Sejujurnya,
aku tidak tidur nyenyak semalam. Tapi, ketika
berpikir bahwa itu karena aku memikul tanggung jawab terbesar yang pernah
kumiliki,, aku bisa merasakan suasana yang tidak buruk.
Hidupku
sedang bergerak maju. Itulah yang
kurasakan.
Kemudian, kami mendengar suara ketukan
ringan.
“Ojou-sama, Kagen-sama ada di sini.”
Setelah
mendengar suara Shizune-san, pintu
terbuka, dan Kagen-san yang
mengenakan jas masuk ke dalam ruangan. Melihat
sosok Kagen-san yang
rapi sejak pagi, aku segera memperbaiki posisiku, sementara Hinako tampak melamun seperti biasanya.
“Selamat pagi, Kagen-san.”
“Ah,
selamat pagi.”
Kagen-san menjawab salamku dengan singkat,
lalu melihat gadis yang bersantai itu dan mengerutkan alisnya.
“Hmm…”
“……
Setidaknya katakan salam di pagi hari dengan baik.”
Kagen-san menghela napas dan memandang ke
arahku.
“Itsuki-kun.
Sekarang aku akan pergi menjemput kepala keluarga Konohana, Dozen-sama.
Sesuai rencana, kami akan
tiba di Akademi Kekaisaran
sekitar siang hari.”
Aku
mengangguk.
“Setelah
itu, aku hanya perlu mengantarkan Anda,
‘kan?”
“Ah,
iya.”
Ternyata
urusannya ada padaku.
Kagen-san lalu berbalik. Namun, saat meletakkan
tangan di gagang pintu, ia tiba-tiba berhenti. Sambil membelakangi kami, Kagen-san memanggil nama putrinya.
“Hinako.”
Hinako
yang dipanggil mengangkat wajahnya perlahan.
“Aku menantikan penampilan yang bagus.”
Setelah
berkata demikian, Kagen-san keluar
dari ruangan. Suara
pintu yang tertutup terdengar di ruangan yang hening. Hinako dan aku saling memandang.
“…… Apa
maksudnya itu?”
“……
Entahlah.”
Apa dirinya mengharapkan akting Hinako sebagai seorang gadis
sempurna?
Atau, dirinya mengharapkan aktingnya sebagai pemeran utama dalam
drama?
Jika yang
pertama, maka itu mungkin pernyataan yang memperhatikan martabat keluarga
Konohana. Namun jika yang kedua…… itu
pasti adalah pernyataan seorang ayah yang mendukung putrinya.
Menurutku……
mungkin itu yang kedua.
“……
Itsuki, kapan Hirano-san dan yang lainnya akan datang?”
“Maksudmu Yuri? Mereka bilang akan datang
pagi-pagi sekali.”
Aku
mengeluarkan smartphone dan memeriksa pesan yang dikirimkan Yuri semalam.
Yuri: Aku terlalu bersemangat sampai-sampai tidak bisa tidur!! Aku
akan pergi dengan kereta pertama!! Tunggu kami di
depan gerbang ya!!
Pesan itu
membuatku ingin berkomentar, “Emangnya kamu pergi
ke negeri mimpi”.
Setelah aku memberitahunya bahwa dia akan dimarahi oleh petugas keamanan, dia
sepertinya mengubah rencananya untuk tiba bersamaan dengan dimulainya festival
budaya…… tapi, dia benar-benar mengubahnya, kan? Aku bisa mempercayainya, ‘kan?
“Berapa
banyak teman dari sekolah lamamu yang akan datang……?”
“Sepertinya
ada empat orang, termasuk Yuri.…… Meskipun kami bertemu sebentar selama liburan musim panas kemarin, hari ini aku yang harus menjamu
mereka, jadi aku sedikit tegang.”
“Kurasa kamu akan baik-baik saja, Itsuki……”
Ketika
Hinako yang selalu melihatku dari dekat mengatakan itu, rasa percaya diriku
mulai muncul.
“Terima
kasih sudah mau menemaniku latihan.…… Hari ini kamu pasti
sibuk, ‘kan?”
“Eh? Ah,
ya. Ada pekerjaan OSIS yang harus kulakukan,
dan aku juga harus melayani tamu selain Kagen-san dan Yuri……”
“Jangan terlalu memaksakan diri, ya……? Hari ini,
tidak apa-apa jika kamu tidak selalu ada di sampingku.”
Hinako
menatap wajahku dengan serius.
“Itsuki, berusaha lah yang terbaik dalam apa yang
harus kamu lakukan.”
“…… Ah.
Terima kasih.”
Kebaikan
Hinako menyentuh hatiku.
Hinako
yang telah mengatasi kelelahan akibat aktingnya, kini――――
meski dia masih suka bermalas-malasan sih. Meskipun dia telah mengatasi
kelemahannya, bukan berarti
dia akan menyukainya. Kurasa itu
hal yang wajar.
Jadi,
meskipun Hinako pasti ingin menjalani kehidupannya dengan nyaman, dia tetap bisa
memberi perhatian seperti ini, menunjukkan
bahwa dia memiliki cukup ruang di hatinya.
“――Tapi.”
Hinako
perlahan berkedip.
Dengan
satu gerakan itu, suasana ruangan terasa berubah.
Hinako
yang seharusnya ada di sana sebelumnya menghilang, dan di hadapanku berdiri
seorang gadis sempurna yang memerintah di puncak akademi. Gadis yang penuh
dengan keanggunan itu, tanpa suara mendekatiku, meletakkan tangannya di dadaku
seolah-olah menyekat jalan pelarian.
“Ketika pertunjukkan drama dimulai, tolong
hanya lihat aku saja,
oke?”
Sebuah
bisikan manis dan menggoda yang menggelitik telinga. Tatapan mata ambernya yang menatapku dari jarak dekat
itu tampak nakal, tetapi memancarkan daya
tarik yang tak terhindarkan dan menusuk jantungku.
“……!!
O-oke, aku mengerti.”
Jantungku
berdetak kencang karena pendekatannya yang tiba-tiba.
Aku
berusaha mengalihkan pandanganku supaya dia tidak bisa melihat wajahku yang
memerah, dan Hinako tersenyum puas.
Ketika
Hinako berubah menjadi mode gadis sempurnanya, terkadang dia menguji
rasionalitasku seperti ini.
Seperti
yang pernah kukatakan pada Hinako
sebelumnya... Aku selalu gugup seperti ini bahkan di sekitar Hinako yang
sebenarnya. Satu-satunya alasan dia tidak menyadarinya adalah karena aku sudah
terbiasa menyembunyikan kegugupanku…….
Ketika
dia menggoda dengan cara yang seperti, memanfaatkan
perbedaan dirinya yang semmpurna dan dirinya yang
biasa, sepertinya aku takkan pernah terbiasa dengan hal
itu.
Jika
dibiarkan seperti ini, sepertinya aku akan terjebak dalam temponya…….
Ada
bagian dari diriku yang merasa bahwa jika Hinako
merasa senang, itu sudah cukup.
Aku
menghembuskan napas panjang, menampar
pipiku yang memerah untuk mengalihkan perhatian.
Hari ini
akan menjadi hari yang panjang. Tidak ada
waktu untuk bersantai.
Aku
mempunyai dua misi hari ini.
Membuat
kenangan terbaik untuk teman-teman lamaku.
Dan
memberikan panduan yang sempurna tanpa cela kepada kepala keluarga Konohana,
Konohana Dozen-san.
(…… Aku
akan melakukannya)
Aku
merapikan kerah seragamku dan mengepalkan
tinjuku dengan kuat. Bukan
salah satu saja. Aku akan menyelesaikan keduanya dengan sempurna.
“Mari kita berdua berusaha yang terbaik hari ini.”
“Hmm.……
Aku akan berusaha dan bersenang-senang.”
Itu
benar. Hari ini adalah hari bagi kita
untuk bersenang-senang. Sebuah
festival kegembiraan, terbebas dari kelas-kelas yang ketat dan persaingan yang
sengit. Dengan ketegangan
dan kegembiraan di dalam dada, kami menuju akademi.
Festival
budaya akan segera dimulai, tetapi――sebelum itu, aku harus pergi ke ruang OSIS.
Karena ada pertemuan terakhir sebelum festival budaya dimulai.
◆◆◆◆
Begitu
aku melewati gerbang utama Akademi Kekaisaran, suasana yang tidak biasa sudah
menyelimuti tempat itu.
Sebuah
lengkungan gapura putih
yang megah, mengingatkan pada kastil putih. Suara klasik yang indah terdengar
dari entah dari mana. Aroma manis dan elegan dari kue kering dan teh. Ekspresi
siswa yang lewat semuanya bersinar, penuh harapan untuk festival yang akan
segera dimulai.
“……
Suasana yang bagus.”
“Aku juga
berpikir begitu.”
Hinako menggumamkan kata-kata itu di sampingku.
“…… Aku
tidak menyangka akan merasakan perasaan seperti ini.”
“Apa
maksudmu?”
“Festival
budaya tahun lalu…… dari awal hingga akhir, aku hanya merasa repot.”
Sekarang
kalau dipikir-pikir lagi, saat pertama kali ditentukan
bahwa dia akan menjadi pemeran utama dalam
drama, Hinako tampak sangat tidak menyukainya…….
Sekarang,
itu terasa nostalgia.
“Ketika
kabar bahwa kepala keluarga akan datang, Hinako juga mulai bersemangat, tapi
pada akhirnya dia bisa merasa positif.”
“Itu
tidak benar.”
Hinako
menjawab dengan berperan sebagai gadis sempurna.
“Aku bisa merasa bersenang-senang karena tahun
ini ada Tomonari-kun.”
Ucap Hinako
dengan senyuman lembut. Namun, pipinya terlihat sedikit
memerah.
“Se-Sepertinya belakangan ini, kamu selalu bertingkah menjadi Ojou-sama yang sempurna di depanku……?”
“Uh…… ha-habisnya……”
Hinako
mengalihkan pandangannya.
“Habisnya, jika aku berakting…… aku bisa
mengatakan apa yang kupikirkan dengan jelas……”
Saat dia
mengatakan itu, Hinako tampaknya tidak bisa menahan rasa malunya dan segera
membalikkan wajahnya. Aku
bisa melihat bahwa telinganya juga sampai
ikutan memerah.
“Ka-Kalau begitu, aku akan pergi ke
kelas.”
“…… Apa
kamu yakin jika aku perlu tidak mengantarmu?”
“Ti-Tidak masalah. Karena aku adalah Ojou-sama sempurna.”
Hinako
berusaha terlihat tenang dengan jelas.
…… Namun,
sepertinya kesempurnaan itu akan segera terlepas. Apa dia baik-baik saja?
Setelah
berpisah dengan Hinako, aku menuju ruang OSIS. Ketika aku membuka pintu, suasana
di dalamnya penuh dengan semangat seperti “menara komando festival.”
“――Rute
panduan untuk para tamu sudah sempurna! Jika terjadi
sesuatu, silakan hubungi kami. Pasti ada seseorang yang
menunggu di ruang OSIS!”
Di tengah
ruangan, suara ceria milik ketua OSIS,
Tennouji Mirei, menggema.
Dengan
rambut pirang ikalnya yang
terurai, dia memberikan instruksi dengan cepat sambil berbicara di telepon, dia terlihat sangat senang dan
membuatku merasa lebih bersemangat.
Ketika
dia menyadari kehadiranku yang memasuki ruangan,
wajahnya bersinar seperti bunga yang mekar.
“Ara, Tomonari-san! Selamat pagi desuwa!”
“Selamat……
pagi, Tennouji-san.”
Aku
hampir kembali menggunakan bahasa formal sejenak, tetapi aku berusaha
mempertahankan nada asliku.
Aku baru
saja mengubah cara bicaraku belakangan ini. Sepertinya kebiasaanku belum
sepenuhnya hilang. Mungkin karena bisa melihat suasana hatiku, Tennouji-san tersenyum lembut.…… Itu sedikit memalukan.
“Apa itu
interaksi dengan petugas keamanan?”
“Ya. Kali
ini ada banyak orang yang membantu, jadi
komunikasi menjadi sulit.”
“Walaupun
kamu bilang sulit, sepertinya kamu terlihat senang.”
“Pastinya!”
Tennouji-san membusungkan dadanya dan mengumumkan dengan
suara keras layaknya penyanyi opera.
“Festival
budaya adalah waktu paling meriah di Akademi Kekaisaran!! Rugi rasanya jika kita tidak bersenang-senang!!”
Dengan
semangat yang ceria, Tennouji-san
mendekat ke arahku dan berbisik dengan nada nakal.
“Aku juga
sudah menyisihkan waktu untukmu berdansa dengan Tomonari-san, lho? ...Aku
sangat bersemangat sampai-sampai
tidak bisa berhenti memikirkannya.”
Mendapatkan
tekanan (dan perhatian) yang menyenangkan di pagi hari, aku menuju tempat
dudukku.
Di
sepanjang jalan, aku bertemu dengan Narika yang mengenakan kimono. Narika juga terlihat anggun namun
ceria…….
“Narika,
selamat pagi. Pakaian itu……?”
“Selamat
pagi, Itsuki. Aku akan bekerja di ruang OSIS untuk sementara waktu setelah
festival budaya dimulai. Jadi aku berganti pakaian untuk pertunjukan yang akan
kubantu nanti.”
Narika
akan membantu kelas yang memperkenalkan seni
tradisional Jepang setelah festival dimulai. Aku juga berencana untuk
membantunya, tetapi setelah festival dimulai, aku harus keluar dan bekerja
terlebih dahulu, jadi lebih baik aku tetap mengenakan seragam sampai semuanya
selesai.
Meski begitu,
aku mengamati penampilan kimono Narika.
Aku
pernah melihatnya berpenampilan seperti itu
saat menginap di rumah Narika selama periode manajemen permainan…….
“Narika memang kelihatan sangat
cocok dengan kimono.”
“Y-Ya, kan!? Fu-Fufufu……
Karena Itsuki bilang aku cocok. Ka-Kamu
boleh melihatnya lebih
dekat jika mau!! Ayo dekati aku!!”
“Tidak, yah, karena…… aku juga sibuk
sekarang.”
Narika
berdiri dan dengan senang hati merentangkan
kedua tangannya. Aku
sangat ingin melihatnya, tetapi
jika dia mendekat seperti itu, aku merasa canggung.
“Jadi, kamu
memutuskan untuk membantu upacara minum teh?”
“Ya.
Meskipun aku bisa saja membantu dengan pertunjukkan musik atau tarian,
setelah mempertimbangkan jadwal, kurasa
upacara minum teh sudha
menjadi pilihan yang tepat.”
Aku sudah
tahu, tetapi dia sebenarnya adalah gadis yang sangat berbakat…….
Tennouji-san mengeluarkan suara kesal,
“Kuh!!” Narika biasanya sangat rendah hati, jadi kadang-kadang dia membuat
pernyataan seperti ini yang mengejutkan orang di sekitarnya.
“Jika ada
instruksi rinci, aku ingin mendengarnya sekarang……”
“Tidak,
tidak masalah. Sama seperti
olahraga, upacara minum memiliki
kedalaman yang dalam, tetapi yang terpenting adalah membuat para tamu senang.
Kali ini kita akan bersikap santai.”
“Itu ide yang bagus. Akademi Kekaisaran ini
bergaya barat, dan pasti banyak orang yang tidak tahu banyak tentang upacara minum teh Jepang.”
Narika
mengangguk dengan senang. Dengan semangat seperti ini, dia pasti akan berhasil.
Dan aku
sudah cukup mengerti. Bagi mereka, “santai” berarti konten yang sempurna bagi
orang biasa.…… Jadi, aku tidak akan menangkap arti harfiahnya, dan akan mencari
kesempatan untuk mempelajari teh sebelumnya.
Di bagian
belakang ruang OSIS,
Abeno-san yang bertanggung jawab atas keuangan dan sekretaris Yodogawa sedang memeriksa perlengkapan
terakhir sambil mengemil kue.
“Selamat
pagi, kalian berdua. Apa yang kalian makan?”
“Selamat
pagi, Wakil Ketua! Ini adalah muffin dari acara kelas
satu! Setelah membantu banyak persiapan, aku
menerimanya sebagai ucapan terima kasih!”
Yodogawa buru-buru menelan isi
mulutnya yang sedang dikunyah dan dengan bangga mengangkat kertas pembungkus
yang dipegangnya.
Wah, saat
aku terkesan dengan kebaikan Yodogawa,
Abeno-san membawa muffin dan cangkir teh yang mengepul di atas nampan, lalu
dengan tenang menyodorkannya.
“Selamat
pagi, Wakil Ketua. Silakan dicoba.”
“Abeno-san……
maaf sampai harus menyiapkan
minumannya segala.”
“Wakil
Ketua hari ini adalah orang yang populer. Hadi sudah
sewajarnya aku melakukan ini.”
Ekspresinya
tampak tenang, tetapi dari tindakannya, aku merasakan semangat perhatian.……
Mungkin kebaikan yang tidak terlihat ini mirip dengan kepribadian Shizune-san.
“Aku tidak sepopuler itu……”
“Apa kamu
ingin aku memeriksa jadwalmu?”
Abeno-san
mengoperasikan komputernya dan menampilkan jadwal para anggota OSIS. Di sana, jadwal yang padat
tertulis rapi hingga menit-menitnya, tersusun seperti puzzle.
“…… Uwahh.”
Saat
melihatnya lagi, aku tidak bisa menahan tawa karena kepadatannya.
Pertama
di pagi hari.
Segera setelah acara pembukaan, aku harus berurusan dengan para tamu
VIP. Ini adalah kesempatan berharga untuk berbicara dengan orang-orang yang
biasanya tidak bisa ditemui, tetapi kali ini sepertinya tidak ada waktu untuk
belajar.
Di
sela-sela itu, selanjutnya adalah menyambut teman-teman lamaku――Yuri dan yang lainnya. Aku
sangat menantikan reaksi mereka saat melihat gedung sekolah yang megah ini.
Setelah
itu, aku akan mendukung acara Narika. Narika sudah berganti pakaian, tetapi aku
hanya bisa berganti pakaian tepat sebelum acara dimulai. Sepertinya lebih baik
jika aku bergerak lebih awal untuk mengantisipasi.
Setelah
itu, ada tarian dengan Tennouji-san.
Kami sudah memeriksa koreografi kemarin, jadi kurasa kami bisa langsung tampil,
tetapi aku perlu memperhatikan kelelahan tubuhku.
Dan di
sore hari, ada acara terbesar――menjadi
pemandu untuk kepala keluarga Konohana,
Dozen-san.
Aku tidak
tahu seberapa lama interaksiku dengan Dozen-san akan berlangsung. Namun,
aku tidak ingin mengabaikan hal ini, jadi aku telah mengalokasikan waktu sepanjang
sore.
Setelah
itu, aku akan menonton drama kelas A yang dibintangi Hinako. Tujuan Dozen-san datang ke festival budaya
juga demi bisa menonton drama
ini, jadi mungkin setelah drama selesai, jadwalku juga akan kosong.
Ada
banyak rencana untuk berkeliling festival bersama. Tentu saja dengan Yuri, dan
juga Narika serta Tennouji-san.
Pekerjaan patroli juga bisa dilakukan bersamaan. Selain itu, aku juga ingin
berkeliling bersama Hinako.
(Okee~ hari ini aku akan berjuang keras~!!)
Aku sudah
memantapkan hati.
Festival
budaya Akademi Kekaisaran berlangsung
selama tiga hari. Dari semua itu, hanya hari pertama, yaitu hari ini, satu-satunya
hari di mana kita mengundang tamu dari luar.
Setelah melewati hari ini, kupikir sisanya akan lebih mudah, tetapi tampaknya kelelahan
anggota OSIS pada hari pertama sangat luar
biasa, sehingga kehilangan ingatan pada hari kedua dan ketiga telah menjadi
tradisi.
Melihat
jadwal yang terpampang di layar, memang
benar jika setelah hari ini berakhir, perasaanku akan melonggar seperti tali
yang terputus. Rasanya tidak enak berkeliling dengan keadaan yang kelelahan
seperti itu, jadi aku memutuskan untuk menghabiskan hari ini bersama semua
orang.
Aku tidak
akan memikirkan tentang hari esok.
Hari ini,
aku akan bergerak dengan membakar semua energi yang ada.
“Ah, kamu kelihatan sedikit melamun…… apa
ada yang bisa kubantu?”
“……
Tidak, tidak apa-apa. Abeno-san juga pasti ingin menikmati festival, ‘kan?”
Aku
menyesap teh yang diberikan kepadaku dan berkata
demikian.
“Aku
memang sibuk, tapi sejujurnya, jika hanya fokus pada
pekerjaan, masih ada waktu. Hanya saja, karena ini acara spesial, aku juga
ingin menikmati festival sekolah... Jika itu berarti harus sibuk untuk
menikmatinya, maka aku lebih suka melakukannya.”
“Itulah yang disebut masalah yang
menyenangkan, ‘kan?
...Tolong andalkan aku sebelum itu berubah menjadi masalah yang sebenarnya.”
Dia
adalah teman yang bisa diandalkan. Aku
menepuk pipi kanan dan kiriku untuk mengumpulkan
semangat.
Setelah
menangani para tamu,
aku akan menjadi pemandu untuk Yuri dan yang lainnya.
Ini
adalah pertemuan kembali dengan teman-teman lamaku
setelah sekian lama. Aku merasa lebih
bersemangat sekarang dibandingkan
saat liburan musim panas... mungkin karena aku telah mendapatkan sedikit
kepercayaan diri.
◆◆◆◆
Festival
Budaya Akademi Kekaisaran――dimulai.
Setelah
melewati gapura yang megah,
rombongan SMA Ryugu――Yuri, Sumida, Itabashi, dan
Toshima, segera merasakan perbedaan dunia yang mereka tinggali.
“In-Ini…… benar-benar festival budaya sekolah,
‘kan?”
Itabashi
ternganga dengan mulut terbuka lebar.
Karpet
merah membentang di jalanan utama,
dan deretan stan serta gedung pameran memiliki desain yang sangat elegan. Bagi
Yuri dan yang lainnya yang membayangkan stan makanan atau kios-kios, mereka seolah-olah sedang berada di dunia yang berbeda.
Terdapat
bangunan-bangunan tinggi yang tampaknya setinggi tiga hingga lima lantai
berdiri berjejer di lapangan.
Jelas-jelas itu
bukan fasilitas yang biasa ada. Bangunan-bangunan itu dibangun khusus untuk
hari ini, momen ini. Selain skala dan kemewahannya yang mengejutkan, papan namanya menunjukkan bahwa ada akuarium
dan kebun botani. Apa ini proyek nasional?
“Apa-apaan itu? Mereka menyajikan daging
panggang loh... Apa ini prasmanan hotel……”
“Melon
mas dengan coupe…… apa itu coupe? Apa mereka salah
ketik dari sup……?”
Itabashi
dan Sumida bergumam
dengan kebingungan.
Sebagai
catatan, keempatnya juga memperhatikan penampilan mereka. Meskipun tidak
mengenakan jas, semua orang berpakaian cukup formal. Itabashi dan Sumida
mengenakan jaket, sementara Yuri dan Toshima mengenakan gaun yang bisa dipakai
sehari-hari.
Meski
demikian, perasaan tidak sesuai tempat tetap tidak bisa dihindari. Sementara para pria terlihat
bingung…… para wanita tampak tangguh.
“Ahahaha!!
Luar biasa!! Benar-benar ada dunia yang seperti
ini~!!”
Toshima
menikmati dengan semangat ceria seperti biasanya.
“Umm, Toshima. Mungkin tidak perlu
berteriak terlalu keras……”
“Kurasa itu tidak masalah.”
Yuri
menjawab dengan tenang kepada Itabashi yang tampak cemas.
“Aku
pernah berbicara dengan berbagai Ojou-sama
dari kalangan atas melalui Itsuki…… orang-orang di Akademi Kekaisaran tidak
merendahkan rakyat biasa. Mereka hanya dibesarkan dengan cara yang anggun, dan
orang-orang seperti kita juga diterima dengan baik.”
“Ben-Beneran? Aku boleh mempercayaimu, ‘kan?”
Itabashi
berbicara dengan nada setengah ragu.
“Lagipula, orang-orang dari kalangan atas
yang sebenarnya itu sangat baik…… jika kita bersikap aneh, kita justru bisa
terluka lebih dalam. Seolah-olah kita diperlihatkan betapa baiknya mereka……”
“……
Hirano-san, kamu pasti mengalami banyak kesulitan, ya.”
Yuri
tertawa sedikit sinis, dan Toshima menepuk punggungnya untuk menghibur.
Sekarang
terasa seperti kenangan yang jauh, tetapi…… sebenarnya Yuri juga awalnya
berhubungan dengan Hinako dan yang lainnya dengan hati-hati. Karena ada Itsuki,
dia berusaha bersikap dewasa, tetapi tentu saja, dia tidak mungkin tidak
terguncang saat berhubungan dengan gadis-gadis dari kaliber seperti itu.
Apa aku
pantas bergaul dengan mereka? …… Ketidakpastian itu berarti
meragukan kapasitas mereka.
Yuri telah
mengetahui karakter mereka melalui Itsuki.
“Sumida-kun,
kamu tidak perlu merasa tertekan.”
“Hah!? Ak-Aku tidak merasa tertekan……!!”
“Benarkah?
Kalau begitu bagus. Hari ini aku juga sangat menantikannya, jadi mari kita
lihat berbagai hal bersama?”
Duk!!
Pernyataan Yuri menusuk hati Sumida.
Sumida
juga menantikan festival budaya hari ini. Akademi Kekaisaran dan Itsuki tidak
terlalu penting, yang terpenting baginya adalah bisa berkeliling bersama Yuri.
Ah,
Hirano-san…… betapa baik dan dapat diandalkannya dia. Aku ingin melihat wajahnya seumur
hidup.
“Ta-Tapi, kamu tahu... Bukannya
Tomonari pasti akan merasa
terasing di sekolah seperti ini?”
Demi mengalihkan kegugupannya, Sumida mengubah topik pembicaraan.
Faktanya,
Sumida tidak bisa membayangkan Tomonari Itsuki yang dikenalnya bisa bertahan di
dunia yang berkilau ini. Sepertinya
semua orang merasakan hal yang sama, Itabashi dan Toshima juga balas mengangguk.
“Pastinya……
semoga saja ia tidak dipaksa jadi kacung atau semacamnya.”
“Tomonari-kun,
dia terlihat sedikit lemah, ya~”
Kemungkinan
terburuk…… jangan-jangan ia sedang dibuli?
Melihat
ketiga orang itu membayangkan hal semacam itu, Yuri tersenyum kecil.
“Hirano-san?
Kenapa kamu tersenyum bangga……”
“Eh!? Bu-Bukan
berarti aku merasa bangga atau semacamnya……”
Yuri
menjawab dengan gugup atas pernyataan Itabashi.
“…… Jika
kalian melihat Itsuki yang
sekarang, kalian pasti akan terkejut.”
Mereka
bertiga memiringkan kepala mereka dengan bingung melihat
senyum puas Yuri. Mengikuti
arus orang, mereka berempat melanjutkan perjalanan melintasi halaman sekolah.
Mereka rencananya akan bertemu Itsuki di depan
gedung sekolah. Ketika Yuri dan yang lainnya mulai melihat-lihat sekitar,
mereka…….
“Eh?”
“Apa
itu……”
Itabashi
dan Toshima mengeluarkan suara terkejut.
Kerumunan
orang telah berkumpul di sekitar ruang santai yang bersebelahan dengan gedung
sekolah. Orang-orang yang berkumpul adalah pria-pria dengan setelan jas yang
rapi. Dari penampilan mereka, terlihat bahwa mereka memiliki posisi yang lebih
tinggi di antara para tamu.
Sumida
dan yang lainnya terkejut melihat seorang siswa laki-laki yang melayani mereka. Seorang pemuda berdiri tegak
dengan punggung yang lurus, membungkuk dengan gerakan yang anggun.
Meskipun
tubuhnya tampak lembut, ia tidak tertekan bahkan ketika berhadapan dengan orang
dewasa yang mengenakan jas. Ia
berdiri dengan percaya diri. Di
lengan kirinya terdapat lencana yang bertuliskan [Wakil
Ketua OSIS] yang bersinar.
“……
Tomonari?”
“Eh~, mustahil!! Ia
terlihat sangat keren~!!”
Itabashi
dan Toshima membuka mata mereka
lebar-lebar.
“Fufun.”
Yuri
tersenyum bahagia.
Sumida
terdiam, ia tidak bisa mengeluarkan sepatah
kata pun karena terkejut.
Orang
yang ada di sana bukanlah Tomonari Itsuki yang dikenal Sumida. Seolah-olah dia
sudah menjadi bagian dari dunia yang berkilau ini sejak awal…….
Tak lama
kemudian, ketika para pria berjas memasuki ruang santai dengan ekspresi puas,
Itsuki menghela napas kecil dan merapikan dasinya.
Kemudian,
ia tiba-tiba mendongak――dan
tatapan matanya bertemu dengan tatapan Sumida dan yang lainnya.
“Kalian
sudah datang, ya.”
Dengan
senyum nostalgia yang terukir di wajahnya,
Itsuki menyapa teman-teman lamanya yang berdiri
tercengang.
“Selamat
datang di Akademi Kekaisaran.”
◆◆◆◆
Pada awalnya,
aku sempat berpikir bahwa rasanya akan
sedikit kesulitan untuk bergabung dengan
mereka di tengah kerumunan orang, tetapi aku berhasil menemukan
sosok Yuri dan yang lainnya.
Ketika aku mendekati teman-teman lama yang
sudah lama tidak bertemu, Yuri menatapku dengan tatapan tajam.
“Hmm~.”
“Apa,
Yuri?”
“Bukan apa-apa kok~.
Sepertinya kamu terlihat lebih keren~.”
“Kalau
mau memujiku, jangan
menatapku seperti itu napa.…… Tadi
aku baru saja menangani VIP. Sekarang setelah semua selesai, akhirnya aku bisa
bersantai.”
Aku
meregangkan tubuhku sedikit
dan melepaskan ketegangan di bahu. Kemudian, aku melihat wajah teman-teman
lamaku lagi.
“Rasanya
sudah lama tidak bertemu ya, semuanya.
Meskipun sepertinya kita sempat berbicara sedikit selama liburan musim panas……”
“Tidak, tidak, tidak!! Jika
dibandingkan saat itu, kamu terlihat seperti orang yang berbeda!!”
Itabashi
berkata dengan nada
terkejut.
“Ah……
saat itu aku juga memiliki banyak masalah yang harus dipikirkan……”
Pada saat
itu, aku sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit dari Hinako.
Apa aku
akan kembali ke kehidupan sebelumnya atau tidak.…… Untuk bisa merenungkannya
dengan baik, aku sengaja menghabiskan waktu bersama teman-teman dari SMA Ryugu. Meskipun ada rasa enggan
meninggalkan Hinako yang demam, aku merasa bisa pulang dengan tekad yang lebih
kuat.
Sepertinya
Yuri juga ingat tentang masa itu dan bergumam,
“Hal itu memang pernah terjadi……”
“Sejujurnya, aku sempat khawatir, tetapi setelah melihat
Tomonari sekarang, aku merasa tenang. Kamu melakukannya dengan baik, ya.”
“Aku akan
senang jika bisa mendengar pendapat yang sama setelah melihatmu sepanjang hari
ini.”
Kami
saling tersenyum. Itabashi
adalah anggota klub bisbol.…… Aku tentu saja
tidak
mengingatnya karena penampilannya saja.
Para
anggota klub bisbol dari SA
Ryugu biasanya cukup berani…… banyak dari mereka memiliki kepribadian yang
kuat, dalam artian positif maupun negatif,
tetapi Itabashi adalah salah satu yang lebih tenang, dan aku ingat dia selalu
bersikap ramah kepada siapa pun. Ia
memberi kesan sebagai pekerja keras dan orang
yang perhatian kepada orang-orang di
sekelilingnya.
“Tomonari-kun,
sudah lama tidak bertemu~!! Kamu kelihatan
berubah banget!! Apa kamu berusaha memperbaiki
diri!?”
“Toshima-san,
sudah lama tidak bertemu.…… Yah, mungkin aku berusaha sedikit.”
Tentu
saja, aku sudah berusaha keras dalam banyak hal.…… Aku tidak akan menjelaskan
panjang lebar saat ini.
Toshima-san adalah siswi perempuan yang posisinya mirip
dengan Asahi-san di Akademi Kekaisaran. Dia adalah penggembira suasana kelas
dan tipe yang aktif dalam menjalankan tugas sebagai ketua kelas.
Jika
dipikir-pikir kembali,
Asahi-san juga mungkin akan menjadi ketua di sekolah biasa. Di Akademi Kekaisaran,
tidak ada posisi ketua kelas, dan bahkan jika ada, dia mungkin akan
menghindarinya karena status keluarganya.
“Sumida,
sudah lama kita tidak
bertemu.”
“Ah, ya, memang sudah lama.”
Sumida membalas sembari tampak
gugup saat melihatku,
“Ku……
jangan berpikir kamu sudah menang……!!”
Apa
maksudnya?
Aku tidak
tahu alasan di balik tatapan tajamnya padaku,
tetapi dalam ingatanku, Sumida adalah salah satu teman lama yang cukup
berkesan. Meskipun
tampak pendiam, Sumida adalah orang yang sangat dapat diandalkan.
Tahun
lalu, aku seharusnya menjabat sebagai ketua kelas. Tidak ada yang mau
melakukannya, dan ketika kami berpikir untuk memutuskan dengan permainan
batu-gunting-kertas, Sumida mengangkat tangan. “Apa
boleh buat,” kata Sumida, tetapi aku menghormatinya yang dengan mudah bersedia
membantu.
“……
Terima kasih telah menjadi ketua kelas saat kelas satu.”
“Eh? ……
Oh, itu memang terjadi.”
“Saat
itu, aku sangat sibuk dengan pekerjaan paruh waktu. Jika aku yang terpilih
sebagai ketua kelas, itu akan jadi masalah.”
“…… Yah, syukurlah kalau begitu.”
Sumida
berkata dengan tampak sedikit terkejut. Saat itu, aku cukup tegang, jadi itu
adalah episode yang terukir kuat dalam ingatanku, tetapi sepertinya bagi
Sumida, itu tidak terlalu berkesan.
Seringkali,
orang yang membantu lebih mudah melupakan daripada yang dibantu. Setelah menyelesaikan salam
pertemuan kembali, aku melihat Yuri.
“Kamu kelihatannya sangat tenang, Yuri.”
“Yah, aku
sudah terbiasa di rumah Konohana.”
“…… Maaf
jika aku mengecewakanmu, tapi
kamu bilang akan pergi dengan kereta pertama sampai kemarin, ‘kan?”
“Ah, itu
karena suasana saat itu!!”
Sebenarnya, dia tidak perlu menyembunyikannya segala…….
Sebagai
penyelenggara, akan lebih baik jika mereka menunjukkan kegembiraan dengan
jelas.
“Tomonari.”
Tiba-tiba,
Itabashi membisikkan padaku.
“Aku
ingin berkonsultasi tentang sesuatu setelah ini. …… Apa kamu ada waktu?”
“Ah,
tidak masalah. Tapi kenapa kamu berbicara
dengan suara kecil seperti itu――”
“Tidak,
tidak!! Itu, aku tidak ingin orang lain mendengar hal ini……!!”
Ketika
dia mencoba berbicara dengan volume normal, Itabashi terpaksa berteriak. Aku tidak tahu apa isi
konsultasinya, tetapi aku mengangguk untuk mengiyakan. Konsultasi yang ingin dia
bicarakan tanpa ingin didengar semua orang…… kira-kira
apa ya?
“――Permisi.”
Saat itu,
Shizune-san yang mengenakan seragam pelayan, diam-diam
muncul di belakangku. Tangannya
tampak menggenggam empat binder map.
“Kalian semua adalah teman-teman lama
Tomonari-sama, ya. …… Senang bertemu dengan
kalian. Aku adalah pelayan keluarga Konohana,
Tsurumi Shizune.”
“Wow~!!
Pelayan sungguhan~!!”
“Hebat!! Mengesankan banget!!”
Pandangan
mata Toshima-san
dan Itabashi terlihat berkilau.
Entah
kenapa, rasanya, seperti…… menyenangkan, ya…….
Ketika
aku pertama kali bertemu Shizune-san, aku baru saja terlibat dalam insiden
penculikan, dan kedua orang tuaku juga melarikan diri di malam hari, jadi aku
tidak memiliki ketenangan hati.
Reaksi yang segar dan polos itu…… sebenarnya aku juga ingin
merasakannya.
“Langsung saja ke intinya…… aku ingin kalian semua menandatangani
dokumen ini.”
Shizune-san
menyerahkan dokumen dan pena kepada mereka berempat dengan gerakan yang luwes.
—Perjanjian Kerahasiaan.
Itulah
yang tertulis di bagian atas dokumen..
Posisiku
cukup rumit. Teman-teman lamaku, kecuali Yuri, berpikir bahwa aku diterima di
Akademi Kekaisaran sebagai anak angkat presiden perusahaan IT yang terkemuka. Kenyataan itu sendiri adalah kebohongan,
tetapi status sebagai anak angkat mungkin menimbulkan kebingungan dan
ketidakpercayaan di Akademi Kekaisaran, jadi aku harus meminta mereka untuk
tidak membicarakan masa laluku.
“Kurasa Hirano-sama sudah menjelaskannya, tetapi Tomonari-sama
menyembunyikan latar belakangnya karena beberapa alasan. Oleh karena itu, kami
meminta kalian untuk menjaga informasi dengan ketat――”
“Ah, ini.
Jadi inilah yang dikatakan Hirano, kan?”
“Wow, aku
terkejut~. Aku tidak tahu apa yang dimaksud~.”
“Jika aku
menulis namaku di sini, itu sudah cukup, ‘kan……?”
Masing-masing
dari mereka dengan santai
menandatangani dokumen tersebut. Karena mereka menandatangani
dengan sangat alami, aku dan Shizune-san juga terkejut.
Yah……
memang benar.
Orang-orang
ini tidak memiliki pikiran untuk membongkar rahasia orang lain…….
“Hirano-sama.”
Shizune-san
melihat Yuri dengan tampak terkesan.
“…… Mereka adalah teman yang bisa dipercaya, ya.”
“Itulah
sebabnya aku memilih mereka.”
Yuri
berkata sambil membusungkan dada dengan bangga, dan dia juga menandatangani. Setelah memastikan tanda tangan
semua orang, Shizune-san menutup binder-nya.
“Terima
kasih atas kerjasamanya. …… Sekarang, aku
mohon pamit.”
Shizune-san
membungkuk dan pergi. Setelah
mengantar pemandangan anggun di belakangnya, aku kembali menghadapi
teman-temanku.
“Baiklah.
Mulai sekarang, aku yang akan memandu, tapi…… ada seseuatu yang ingin kalian lihat?”
Karena
tidak ada permintaan khusus, aku bertanya untuk memastikan.
“Sejujurnya,
karena ada terlalu banyak hal, jadi aku
tidak bisa memutuskan.”
“Aku menyerahkan pada Tomonari-kun yang
paling tahu!”
“Aku
sih…… jika Hirano-san suka, aku tidak keberatan di mana saja……”
Ketiga
orang itu tampak tidak keberatan ke mana pun. Sekali lagi, aku melihat ke arah
Yuri……
“Aku belum terbiasa dengan suasana festival akademi ini, jadi
aku ingin merasa tenang sambil melihat wajahmu.”
“Apa
maksudmu?”
Maafkan
aku jika aku terlihat seperti orang biasa……
Tapi jika
itu yang diinginkan, itu menguntungkan. Aku memiliki satu pertunjukan yang bisa
kurekomendasikan dengan percaya diri.
“Maaf jika kalian merasa tidak nyaman, tapi
sekarang aku harus pergi membantu satu kelas. Aku bisa merekomendasikannya
kepada kalian juga, mau ikutan?”
“Tidak masalah sih, tapi kelas itu akan melakukan apa?”
“Kelas
yang memperkenalkan seni tradisional Jepang. Aku ditugaskan untuk membantu
dalam upacara minum teh.”
“Hee~. …… Jadi itu artinya, Miyakojima-san?”
“Ya.”
Aku
mengangguk pada insting tajam Yuri. Kemudian
Yuri membuka matanya lebar dan berkata kepada ketiga orang lainnya.
“Ayo pergi, semuanya!! Kita bisa melihat yang asli di
antara yang asli!!”
“Aku
tidak tahu mana yang asli, tapi kalau begitu, ayo pergi!!”
“Aku
tidak sabar!!”
Semua
siswa di akademi ini adalah yang asli, tetapi…… memang benar, Narika bisa
dianggap sebagai salah satu yang luar biasa di antara mereka. Baik dalam hal
latar belakang maupun keterampilan upacara
minum tehnya.
Aku
berjalan melewati akademi bersama teman-teman lamaku yang bersemangat.
◆◆◆◆
Setelah
mengantar Yuri dan yang lainnya ke aula, alunan musik
Gagaku sudah dimainkan di atas panggung.
Gagaku. Ini merupakan salah satu seni tradisional
musik kuno Jepang. Di tengah suara yang megah, kami menemukan tempat duduk
kosong dan duduk.
“Ini,
dimainkan oleh siswa, ‘kan……?”
“Suara yang begitu indah dan merdu, ya~”
Itabashi
dan Toshima masing-masing terkesan.
“Siswa yang bermain di tengah adalah Pewaris Hayama Musical Instrument. Sedangkan siswa yang baru
saja memukul alat seperti taiko adalah pewaris
Laurend.”
“Bukannya Hayama Musical Instrument tuh terkenal dengan pianonya!?”
“Aku juga
pernah mendengar tentang Laurend……
bukankah itu alat musik elektronik?”
Aku
mengangguk mendengar reaksi Itabashi dan Sumida. Karena mereka adalah pewaris dari produsen alat musik besar,
sepertinya mereka menerima pendidikan musik yang baik dan bisa memainkan
berbagai alat musik. Keduanya mengaku paling ahli dalam alat musik keyboard,
tetapi saat ini mereka memainkan gagaku sesuai dengan pertunjukan kelas.
Mungkin
aku seharusnya tidak terlalu santai menjelaskan informasi pribadi mereka, tetapi…… bagi orang-orang biasa
seperti kami, informasi semacam ini paling mudah dipahami dan menyenangkan
untuk didengar. Jika diminta penjelasan tentang gagaku, aku bisa melakukannya,
tetapi mungkin sekarang bukan
waktunya.
Tentu
saja, informasi yang dibagikan telah mendapatkan izin dari mereka. Aku sudah
memperkirakan bahwa tamu akan meminta informasi tentang para pemain, jadi aku
meminta mereka untuk mengisi informasi yang bisa dibagikan dalam survei sebelumnya.
Hal tersebut juga berlaku untuk kelas
lain. Pikiranku dipenuhi dengan informasi tentang para siswa yang memimpin
setiap pertunjukan dan informasi yang bisa dibagikan tentang mereka.
“Itsuki…… sepertinya kamu kelihatan
lelah.”
“Yah……
aku berpikir ini sangat sulit.”
Sambil
menunggu waktu untuk memandu
Dozen-san, memandu Yuri dan yang lainnya mungkin
bisa menjadi latihan yang bagus.
“Baiklah,
aku akan bekerja, jadi kalian bisa menonton di sini.”
“Jika
kamu gagal, aku akan menertawakan kalian.”
Itu
mungkin adalah pernyataan untuk mengurangi ketegangan. Namun, aku tersenyum dengan
percaya diri kepada Yuri.
“Jangan khawatir, aku akan
berhasil.”
Melihat
ekspresi terkejut di wajah Yuri, aku menuju ke bagian belakang aula. Ketika aku sampai di sisi
panggung yang agak gelap, Narika sudah ada di sana.
“Narika,
maaf sudah membuatmu menunggu――”
“――Itsuki!!”
Ssst, aku meletakkan jari
telunjukku ke bibirku untuk menenangkannya. Meskipun aku merasa senang, tapi tolong jangan panggil namaku
dengan suara keras setiap kali melihatku.
“Ma-Maaf…… apa kamu sudah memandu Hirano-san dan yang
lainnya?”
“Ya.
Mereka akan mengawasi kita dari sana.”
“Ugh…… aku jadi gugup membayangkan
dilihat oleh orang-orang yang kukenal.”
Saat aku hendak tersenyum masam pada Narika
meletakkan tangan di dadanya, panitia pelaksana kelas yang menyelenggarakan
pertunjukan seni tradisional datang menghampiri kami.
“Terima
kasih atas kerja sama kalian berdua hari ini.”
Panitia
pelaksana siswa laki-laki mulai memeriksa persiapan.
“Setelah pertunjukkan gagaku saat ini selesai, kita akan ada jeda sepuluh menit.
Selama waktu itu, kami akan melakukan penggantian set panggung dan tata letaknya. Selama
jeda itu, kami ingin kalian berdua memperagakan
upacara minum teh untuk mengisi
waktu.”
Siswa
laki-laki panitia berbicara dengan penuh semangat sambil memegang jadwal di
tangannya.
“Pertunjukan
berikutnya adalah pertunjukkan Kabuki.
Silakan ciptakan suasana yang tenang tanpa mengganggu konsentrasi penonton. ……
Tapi, untuk kalian berdua, itu pasti mudah!”
Aku
dan Narika tiba-tiba
merasakan kepercayaan diri yang besar dan saling memandang.
“Kurasa kami tidak pantas mendapatkan
kepercayaan sebesar itu..."
“Apa
yang kamu bicarakan! Aura anggun dan bermartabat yang dimiliki
Miyakojima-san, dan Wakil Ketua Osis Tomonari
yang bisa mendukungnya dengan mulus……
Keserasian kalian berdua sudah terbukti selama masa pemilihan! Hari ini, kami sebagai
teman sekelas juga sangat menantikan penampilan kalian!!”
Siswa-siswa
di sekitar yang mendengarkan juga mengangguk setuju. Siswa laki-laki itu membungkuk
dalam-dalam dan pergi sambil mengatakan “Mohon
kerja samanya, ya”.
Sekarang hanya ada aku dan Narika saja, membuat kami menghela
napas lega.
“Rasanya agak aneh, ya.”
“Eh?”
Narika bereaksi, dan aku mengungkapkan perasaan yang mendalam.
“Dulu,
aku yang jelas-jelas hanyalah rakyat biasa,
dan Narika yang ditakuti karena salah paham…… Sekarang, kita berdua adalah anggota OSIS, dan diharapkan oleh semua
orang.”
“……
Benar. Sungguh perjalanan yang cukup panjang.”
Hanya
beberapa waktu yang lalu, kami hanya dianggap sebagai orang asing di akademi
ini. Sekarang,
kami menerima tatapan penuh kekaguman seperti ini.
Sekarang
tidak ada lagi bayangan kesepian di mata
Narika. Dia kini memiliki kepemimpinan yang kuat dan
baik, dikelilingi oleh teman-teman yang dapat dipercaya.
“Benar.
Boleh aku minta bantuanmu untuk berganti pakaian?”
“Ya,
serahkan padaku!”
Narika
sudah mengenakan kimono, tetapi aku harus berganti pakaian sekarang. Aku mengambil pakaian yang sudah
disiapkan. Pakaian yang kupakai mirip
semacam haori hitam.
“Jutoku……
ya? Rasanya
berbeda dengan hakama.”
“Memakai hakama juga tidak salah sih, tetapi
jika ingin merasakan upacara minum teh
dengan lebih formal, lebih baik pakai jutoku. Meskipun kurang meriah,
suasananya akan lebih serius dan khidmat.”
Juttoku memang sangat cocok untuk menjaga
suasana yang anggun yang menjadi tujuan kali ini.
“Kainnya sedikit transparan, ya?”
“Mungkin karena agak dingin di musim ini. ……
Itsuki, bagaimana kalau kita diam-diam menyelipkan pemanas?”
“Hmm……
tidak, karena kita sudah bersusah payah menciptakan suasana otentik ini, aku
tidak ingin merusaknya.”
“Pemikiran
yang luar biasa.”
Narika
dengan terampil menyesuaikan jutoku di punggungku. Tangannya yang cekatan benar-benar mencerminkan kalau dirinya memang putri
ningrat dari keluarga Miyakojima.
“Dalam
situasi seperti ini, Narika benar-benar dapat diandalkan, ya.”
“Fufufu……
Ketika masih kecil dulu, aku
tidak mengerti untuk apa aku belajar, tetapi mendengarmu mengatakan itu membuat
semuanya berharga.”
Aura tegas
Narika yang dulunya ditakuti
oleh orang-orang sekitar kini dihargai sebagai sikap yang anggun oleh siswa-siswa.
…… Jika begini terus,
sepertinya pendidikan unggulan yang diberikan kepada Narika berjalan dengan
baik.
Ayah
Narika…… Musashi juga pernah mengatakan hal yang
sama. Meskipun pada awalnya ada kesalahpahaman, jika
terus menghasilkan hasil, kesalahpahaman itu akan teratasi dengan sendirinya.
Dan pada akhirnya, hanya penilaian yang benar yang akan tersisa.
Narika
mungkin sudah mencapai tingkat itu sekarang.
“…… Ini
sebenarnya bukan sesuatu yang boleh dipakai oleh pemula dalam teh, ‘kan?”
“Secara
umum, memang begitu, tetapi kamu tidak
perlu khawatir. Ini adalah pengakuan untuk mengenakan sesuatu yang penting, dan
jika dilihat dari sudut pandang itu, saat inilah momen yang sangat
penting.”
“Memang
benar……”
Narika
dengan cepat merapikan kerahku dan mengikat tali dengan kencang.
Aku
memeriksa penampilanku setelah selesai memasukkan lengan. Pakaian sederhana
serba hitam ini memang tidak mencolok, tetapi memberikan rasa tegang yang
membuat punggungku tegak.
“Apa rasanya tidak terlalu sempit?”
“Tidak, rasanya nyaman dan pas.”
Narika
berkeliling di sekelilingku dan terakhir mengangguk puas. Kemudian, dia tiba-tiba tersenyum
lembut.
“Fufufu.”
“Ada
apa?”
“Eh, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir bahwa
aku pernah melihat pemandangan ini beberapa kali. …… Ibuku pernah membantu mengganti
pakaian ayah.”
Aku bisa
membayangkannya.
Orang tua
Narika tidak terlihat seperti pasangan yang dominan, tetapi…… Aku bisa
membayangkan Otsuko-san dengan
tenang dan lembut menyampirkan jaketnya di bahu Musashi-san saat dirinya hendak pergi.
“Orang
tuamu sepertinya akur sekali.”
“Ya. Aku berharap bahwa suatu hari nanti aku juga bisa seperti itu.”
Ucapan
Narika membuatku terdiam sejenak.
Ingin
seperti itu……
Karena
saat ini, Narika menyukaiku……
Jadi, apa
itu berarti dia ingin memiliki hubungan seperti itu denganku di masa
depan……?
“…… Itu,
rasanya sulit untuk diungkapkan……”
“Eh? ……
Ah, ahh!? Tidak, tidak!? Bukan begitu
maksudku……!?”
Wajah Narika
seketika memerah dan dia berusaha menjelaskan.
“Tentu
saja…… jika itu beneran terjadi,
itu akan menjadi ideal……!!”
“Kamu tidak perlu mengatakannya segala……”
Wajahku
juga mulai memerah. Aku
tidak bisa menatap Narika untuk sementara waktu, dan sambil mengalihkan
pandangan, aku mengambil napas dalam-dalam.
Suara musik gagaku berhenti. Sudah
saatnya kami tampil.
“Bagaimana
dengan keteganganmu?”
“Aku
merasa tegang, tetapi…… mungkin aku merasakan hal yang sama dengan
Itsuki.”
Kalau
begitu, seharusnya tidak masalah. Ada
ketegangan yang membuat jantungku berdebar. Tapi, ada kekuatan lain yang
muncul.
“Menjadi
bertanggung jawab juga tidak seburuk itu.”
Hal
yang kami berdua rasakan
bersama adalah rasa tanggung jawab. Tanggung
jawab sebagai OSIS untuk membuat festival
budaya ini sukses. Dan
juga, tanggung jawab karena kami dipercayakan untuk acara ini.
Dulu, aku
mungkin akan merasa cemas tentang hal-hal seperti ini, tetapi…… sekarang
berbeda. Daripada
merasa tegang, perasaanku lebih kuat untuk memenuhi tanggung jawab yang
diberikan.
“Ayo pergi?”
“Ya.”
Sesuai
isyarat dari staf, kami melangkah ke panggung.
◆◆◆◆
Di atas
panggung aula yang sunyi, terbentang
tatami berukuran empat tatami. Di
atasnya, dua orang, seorang pria dan seorang wanita, duduk bersila.
Keduanya melakukan
penghormatan yang indah dan anggun,
menunjukkan gerakan yang luwes dalam
suasana yang tegang. Di bawah tatapan tak terhitung dan cahaya sorot, mereka
memperagakan tata cara upacara minum
teh.
Mereka
berdua tidak saling bertukar kata. Meski begitu, keduanya saling
memahami dengan sempurna.
Tata cara upacara minum teh mewujudkan prinsip-prinsip
harmoni, rasa hormat, kemurnian, dan ketenangan.
Harmoni
berarti saling membuka hati satu sama lain.
Rasa hormat
berarti saling menghormati satu
sama lain.
Kemurnian
berarti bersih dalam penampilan dan hati.
Ktenangan
berarti tetap tenang dalam situasi apa pun.
Mereka
berdua benar-benar mewujudkan nilai-nilai harmoni, rasa
hormat, kemurnian, dan ketenangan. Ada hubungan saling percaya yang terlihat jelas di antara suasana yang serius.
Dan dari situlah tercipta
gerakan-gerakan yang indah dan menenangkan.
Ruangan
seluas empat setengah tikar itu diubah menjadi tontonan artistik yang megah. Yuri dan yang lainnya yang
melihat pemandangan itu dari kursi penonton dibuat ternganga.
“…… Hebat sekali~”
“Tomonari
juga, tapi wanita itu juga terlihat sangat anggun.”
Toshima
dan Itabashi mengamati panggung dengan penuh kekaguman. Kedua orang di atas panggung
bersinar di bawah sorotan lampu. Serangkaian gerakan yang serius
berlangsung dalam suasana yang tegang. Hal tersebut
bisa membuat penonton merasa tegang, tetapi entah kenapa, mereka merasa tenang dan bisa
menyaksikannya sampai akhir.
Mereka bisa
merasakan konsentrasi dua orang tersebut. Sepertinya mereka tidak akan
gagal.
“………………
Aku jadi penasaran dengan rasanya.”
Sementara semua orang terfokus pada penampilan mereka berdua, hanya Yuri yang mengeluarkan
komentar yang tidak pada tempatnya.
Itabashi
dan Toshima cuma bisa tersenyum
kecut. …… Namun, Yuri mengamati panggung dengan tatapan yang sangat serius,
jadi tidak ada yang bisa mereka katakan. Wanita ini, baik atau buruk, terlalu
fokus pada masakan.
Dan ada
seorang pemuda yang tergerak oleh ketekunannya.
“Hi-Hirano-san lebih suka orang yang
bisa melakukan hal seperti itu?”
Sumida
bertanya dengan suara pelan agar tidak mengganggu penonton di sekitar.
“Apa
maksudmu dengan hal seperti itu?”
“Maksudku……
semacam hobi yang unik.”
Saat
mengatakannya, Sumida merasa ungkapannya tidak tepat. Hobi yang unik.…… Apa yang
dimaksud dengan unik? Unik
dalam hal apa?
“Hmm……
ya. Tidak semua yang unik itu baik, tetapi……”
Yuri
tampaknya memahami nuansanya dan menjawab sambil berpikir.
“Maksudku, aku juga memiliki rencana hidup
yang sedikit tidak biasa, jadi
aku mengerti…… tetapi tetap saja, ada daya tarik yang normal. Jika semua orang
melihat ke kanan, apa aku juga harus melihat ke kanan, ya……?”
Sumida
tentu saja tahu tentang rencana hidup Yuri. Mengejar impian untuk menjadikan
restoran keluarganya menjadi
jaringan ritel nasional—Itulah jalan yang dipilih Yuri.
Berbeda dengan siswa lainnya, Yuri tidak bergabung dalam klub, dan sepulang sekolah, dia tidak menghabiskan
waktu di kelas dengan teman-temannya,
tetapi langsung pulang untuk membantu usaha keluarganya.
Namun,
Sumida tahu. Bahwa Yuri kadang-kadang
menunjukkan wajahnya yang kesepian. Daya
tarik yang normal. Apa itu bisa dibayangkan oleh orang biasa?
“Jadi,
ketika melihat orang-orang yang melawan hal seperti itu, aku merasa sedikit
terinspirasi. Seolah-olah, aku merasa bisa melihat ke kiri juga……”
“…… Apa Tomonari seseorang yang melihat ke kiri?”
“Dia
memang ada sisi itu sejak lahir.”
Yuri menjawab sambil tertawa.
Sumida
juga mengetahui sedikit tentang situasi tersebut.
Itsuki berasal dari keluarga yang miskin, dan dirinya
tidak bisa pergi ke sekolah jika tidak bekerja setiap hari.
Bukan
dalam arti baik, tetapi dalam arti buruk, ia tidak bisa menjadi orang biasa
sejak awal.
“Sepertinya
Itsuki…… sebenarnya selalu ingin melihat ke kanan. Tetapi hal itu tidak mungkin, dan ia hanya bisa
berjuang untuk hidup…… kemudian, dirinya
mendapat uluran tangan
dari orang-orang yang melihat ke kiri.”
Ketika melihat
wajah Yuri saat dia berbicara, Sumida menyadari
sesuatu.
Sebenarnya……
dia ingin menjadi orang yang mengulurkan
tangan.
Yuri
seharusnya bisa melakukannya. Jika Itsuki juga bisa mengulurkan tangan kepada
Yuri, dia pasti tidak akan ragu untuk meraihnya. Tetapi kenyataannya tidak
demikian. Karena kesalahan kecil, orang yang tidak terduga justru mengulurkan
tangan kepada Itsuki.
Hasil
dari situasi ini adalah pemandangan yang ada sekarang――.
Seharusnya,
di panggung seharusnya cuma ada
Itsuki dan Yuri saja.
“Yah,
saat ini kami memang menjadi minoritas di tempat
ini!”
Sumida
sangat menghormati Yuri dari lubuk hatinya karena
mengatakan itu dengan begitu ceria. Yuri
tidak menyangkal pertemuan ini. Dia juga
tidak merasa iri. Alasannya
mungkin…… karena saat ini Itsuki terlihat bahagia.
Perasaan tulus Yuri menyentuh hati Sumida.
“H-Hirano-san!!”
Sumida
mendekatkan wajahnya kepada Yuri.
“Di pihak
kanan juga ada orang-orang yang luar biasa!!”
Yuri
tampak sedikit terkejut dan membuka matanya lebar.
Suasananya menjadi hening sejenak.
Dengan
jantung yang berdebar, Sumida mendengar suara Toshima dari samping.
“Ada apa, Sumida-kun~? Kamu sedang membicarakan politik~?”
“Tidak,
tidak, tidak, tidak……!!”
Kesalahpahaman
itu cukup berbahaya, jadi Sumida menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga. Tepat pada saat itu, pertunjukan upacara minum teh pun berakhir. Suara
tepuk tangan bergema, dan Itsuki serta Narika membungkuk sebelum bergerak ke
sisi panggung.
Apa dirinya diselamatkan atau melewatkan kesempatan? Dalam
keadaan Sumida yang tidak sepenuhnya percaya diri, Yuri tersenyum lembut.
“Terima
kasih.”
“――!”
Senyuman
lembutnya itu
membuat Sumida kembali jatuh cinta padanya.
Sumida
menyukai sisi-sisi seperti itu
dari Yuri.…… Penuh semangat, perhatian, dan tidak menunjukkan kelemahan. Namun
sebenarnya, dia sedang berjuang dengan masalah yang tidak diketahui orang
lain.
Meskipun
tubuhnya mungil, dia
sangat dewasa. Sumida merasa hal-hal seperti itulah yang membuatnya luar
biasa.
“Baiklah!!
Sepertinya Itsuki ada urusan sebentar, jadi kita harus pergi ke suatu
tempat!!”
“Ya, ya,
ya!! Hirano-san!! Aku ingin makan!!”
“Aku juga
ingin makan~!! Apa
ada parfait yang penuh dengan serbuk emas enggak ya~!?”
“Itu
mungkin lebih baik dimakan di Kanazawa…… tetapi kita harus menikmati kuliner.”
“Ah,
sial, aku telah memicu semangat koki dalam diri Hirano-san.”
Melihat
Yuri yang tampak seperti binatang buas dengan mata yang tajam, Itabashi dan
Toshima merasa menyesal. Meskipun pernyataan Yuri setengahnya mungkin hanya
untuk meramaikan suasana, Sumida merasa setengah lainnya mungkin serius.
Yuri
sudah terbiasa untuk bertingkah
kuat. Dia mungkin ingin seperti itu juga. Tapi dia mungkin perlu melampiaskan
emosinya di suatu tempat.
Saat ini,
mungkin Itsuki yang memikul beban itu.
Seandainya
aku bisa melakukannya. Sumida berpikir demikian.
◆◆◆◆
(Sudut
Pandang Itsuki)
Penampilan
kami berakhir dengan sambutan meriah, dan kami beristirahat sejenak.
“Bagus.
Sepertinya mereka menikmatinya.”
“Ya. Ini
sangat memuaskan.”
Aku melakukan
tos ringan dengan Narika.
Aku
melihat ke arah Yuri dan yang lainnya dari sisi panggung. Saat itu, para staf sedang membagikan teh dan
kue, dan Yuri sedang minum teh dengan tatapan tajam seperti seorang
kritikus.
Pertunjukan
kabuki selanjutnya pasti juga akan menarik, tetapi…… dengan kepribadian mereka,
mungkin saatnya mereka ingin menikmati sesuatu yang berbeda.
“Narika,
apa kita harus berbicara dengan Yuri dan yang lainnya?”
“……
Tidak, kali ini sebaiknya tidak. Aku tidak ingin
terlalu mengganggu mereka.”
“Oh, tak disangka Narika bisa membaca
suasana.”
“Apa
maksudmu?”
Sambil
tertawa, kami berkeliling ke belakang panggung dan keluar ke aula. Pada saat itu, pandangan mataku bertemu dengan tatapan Yuri.
Yuri
memberi acungan jempol tanpa kata, jadi aku juga
membalas dengan jempol. Yuri
tersenyum lebar.
Walaupun aku
sudah terbiasa dengan hal ini, tetapi Narika adalah seorang Ojou-sama sejati. Meskipun Yuri baik-baik
saja, aku tidak tahu apa ketiga orang lainnya akan merasa gentar ketika melihat Narika.
Sepertinya
tidak ada masalah, tetapi…… melihat betapa senangnya teman-teman lamaku saat
ini, aku merasa mungkin aku juga bisa bersenang-senang seperti ini.
Apalagi
orang-orang di sekitar kami adalah orang-orang dari kalangan atas. Aku tidak
ingin mereka merasa terlalu berbeda…… jadi mungkin hari ini kami bisa menikmati
acara dalam hubungan yang akrab.
“Oke,
jadi sekarang giliran kita, ya?”
Melihat
Narika memiringkan kepalanya, aku melanjutkan.
“Setelah
ini, kita berdua seharusnya
berkeliling di akademi untuk berpatroli,
‘kan? ...Dengan alasan itu, kita
juga bisa menikmati festival budaya sedikit.”
“...Rasanya
agak aneh. Biasanya, aku tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu keluar
dari mulut Itsuki yang serius.”
“Ada
hal-hal yang tidak bisa dilindungi hanya dengan bersikap serius.”
Keseriusanku
mungkin setengahnya berasal dari keinginan untuk berkembang, tetapi setengahnya
lagi berasal dari rasa minder.
Namun, setelah merenungkan bahwa aku tidak bisa terus-menerus bersikap negatif
dalam pemilihan OSIS, aku merasa sedikit demi sedikit mulai memiliki
kepercayaan diri yang benar. Mengubah cara berbicara juga merupakan bagian dari
proses itu.
Sebagai
panitia pelaksana, penting untuk membuat semua
orang menikmati festival budaya, tetapi... saat ini, yang ingin kujaga adalah
kesempatan untuk menikmati festival budaya bersama Narika.
“Jadi,
kita akan pergi kemana?”
“Hmm,” Narika tampak berpikir
keras.
Dua orang
yang mengenakan lencana OSIS mungkin
akan mendapat reputasi buruk jika terlalu banyak bermain, jadi aku ingin
menjaga nama baik patroli kami.
Kalau
begitu, sepertinya lebih baik menikmati pertunjukan yang sulit terlihat dari
luar. Saat aku
memikirkan beberapa pilihan, Narika dengan mata berbinar berkata,
“Itsuki!!
Aku ingin pergi ke akuarium!!”
Itu bukan
kata-kata yang biasanya muncul di festival budaya,
pikirku, sambil mengangguk dan berkata, “Baiklah.”
◆◆◆◆
Akuarium
Digital Laut Dalam. Sebuah
fasilitas besar yang dibangun di sudut lapangan. Setelah
melihat papan namanya, kami masuk ke dalam.
“…… Luar
biasa. Rasanya benar-benar seperti
berada di dalam laut.”
“Ya!! Rasanya seru sekali,
Itsuki!!”
Aku
terpesona oleh pemandangan di sekeliling. Tempat itu adalah laut dalam yang
dipenuhi cahaya dan suara. Dari
dinding, langit-langit, hingga lantai, seluruh ruangan dilapisi layar hitam
mengkilap. Dalam kegelapan, kumpulan ubur-ubur bercahaya, ikan raja yang besar,
dan ikan laut dalam yang belum pernah kulihat sebelumnya, berenang dengan
anggun seolah menyambut kami.
Dengan
teknologi pemetaan proyeksi dan suara 3D yang canggih, kami merasa seolah-olah
dapat merasakan arus air saat ikan-ikan berenang melewati kami.
Meskipun
ini poyek pertunjukan dari kelas,…… generasi yang mengerikan benar-benar
muncul.
Sembari diterangi
oleh cahaya kebiruan, kami menikmati perjalanan fantasi di bawah laut.
“Teknologi
visual saat ini sudah maju sejauh ini, ya……”
“Berbeda
dengan tulisan, gambar dapat mendukung banyak bahasa. Karena ada dampak dari kepariwisataan juga, banyak
perusahaan yang berpartisipasi dalam bidang ini.”
Penjelasan
yang lebih rinci dari yang kuduga membuatku terkejut dan aku melihat Narika. Menyadari tatapanku, Narika
membusungkan dadanya.
“Kamu
tahu banyak juga. Kamu mempelajari tentang
ini?”
“Ya.
Sedikit karena pekerjaan. …… Tapi, aku takkan
bisa memahami keindahan
tanpa mengalaminya secara langsung. Aku sangat senang datang ke
sini……!”
Pandangan
mata Narika tampak
berkilau ketika mengikuti ikan-ikan yang
berenang. Keluarga
Narika memiliki toko peralatan olahraga, tetapi…… mungkin mereka juga mulai
terlibat dengan teknologi visual baru-baru ini.
“Ngomong-ngomong,
Narika, apa orang tuamu tidak datang?”
“Ayahanda dan ibunda? Mereka datang, tetapi……”
Narika
mengucapkan kata-kata dengan ragu.
“…… Umm, ketika mereka mendengar tentang
hubungan kita, mereka memutuskan untuk tidak bertemu kita supaya tidak mengganggu……”
“……
Tunggu, tunggu, tunggu.”
Wajah
Narika yang diterangi cahaya biru tiba-tiba memerah. Aku merasakan keringat dingin
mengalir.
“Hubungan
kita…… jangan-jangan, orang tuamu tahu? Bahwa…… Narika mengungkapkan
perasaannya padaku……”
“…………”
Dengan
wajah merah, Narika mengangguk kecil.
“Y-Yang
benar……!!”
“K-Karena Ibundaku
bertanya, ‘Kamu terlihat senang belakangan ini?’ Ah, tidak, tidak. Jika
dia menatapku dengan mata itu, aku tidak bisa menyimpan rahasia apapun darinya……!!”
Narika memeganig kepalanya dan seketika berjongkok. Staf yang berada di dekat situ bertanya,
“Ada apa?” jadi aku menggelengkan kepala untuk memberi tahu bahwa semuanya
baik-baik saja.
Sembari
berusaha menyembunyikan rasa canggung dan malu, kami
melanjutkan perjalanan. Saat
kami berbelok di sudut―― seekor
ikan pari besar melintas di depan kami.
“Uwah!?!”
“Wah!?!”
Narika
terkejut oleh ikan pari, dan aku terkejut oleh Narika.Aku merasakan suhu
tubuhnya saat dia berpegangan padaku.
Aroma
jeruk yang samar-samar tercium. Mungkin body cream atau parfum…… Aku tiba-tiba
merasakan sisi feminin Narika yang biasanya kucoba untuk tidak perhatikan, dan
jantungku berdebar lebih cepat.
“N-Narika,
kamu terlalu dekat……!!”
“Ma-Maaf!! Aku tidak sengaja……!!”
Narika
buru-buru menjauh. Kami
berdua tidak dalam keadaan tenang, jadi kami terkejut berlebihan. Wajah Narika kelihatan sangat merah sampai ke telinga,
tetapi…… aku pun hanya bisa berusaha mempertahankan ketenangan.
“Pe-Pertunjukkan yang sangat
realistis, ya……”
“Ah, ya.
Aku hampir saja mau meninju.”
Tolong
jangan.
Jangan membangkitkan darah petarungmu di tempat seperti ini.
“Eh,
Itsuki, itu apaan
ya?”
Saat kami
berjalan dengan berdebar-debar, Narika melihat ke depan dan berkata demikian. Ada
layar display yang dipasang pada dinding
yang lebih dalam, dan makhluk
bulat berenang dengan santai di layar.
“Sepertinya
itu ubur-ubur?”
“Bukan
itu, lihat di bawah, lantainya
bersinar.”
Saat aku
melihat ke arah yang ditunjuk, memang ada lantai yang bersinar putih samar di
bawah display ubur-ubur yang berenang. Lampu yang menggantung di langit-langit
menerangi titik itu seolah-olah berkata, “Silakan berdiri di sini.”
“Bagaimana
kalau kita menginjaknya?”
Aku pikir
itu pasti semacam mekanisme, jadi aku berjalan ke lantai bersama Narika. Begitu kami menginjak lantai,
bukan hanya display di depan saja,
tetapi dinding di kiri dan kanan juga mulai berkilau dengan proyeksi mapping.
Semuanya
berjalan sesuai rencana, tetapi――.
“Eh?”
“Ah!”
Proyeksi peta membentuk bingkai hati yang
membungkusku dan Narika sepenuhnya. Dalam
suasana yang redup dan misterius, akuarium di sekitar kami bersinar dengan
warna merah muda. Berkat itu, kami menarik perhatian semua pengunjung lain.
Ini……
adalah semacam atraksi yang cocok untuk sepasang
kekasih……
Saat
diperhatikan lebih dekat, aku menyadari bahwa bingkai
layar yang menampilkan ubur-ubur juga berbentuk hati. Aku tidak menyadari hal
ini karena terkejut dengan ikan pari yang besar.
“Y-Ya ampun…… ini
benar-benar membuatku dilema.”
Narika
berkata sambil tersenyum lebar, seolah tidak merasa bingung sama sekali.
“Ah…… ta-tapi, Itsuki, sepertinya kita bisa
mengambil foto di sini! Sayang sekali jika tidak diabadikan!”
“…… Kamu berpura-pura bermasalah, tetapi sebenarnya sangat
antusias, kan?”
“……………………
Apa maksudmu?”
Narika
memalingkan wajahnya.
Dasar gadis
ini……!!
Narika
sebenarnya sangat senang dengan situasi ini. Dan kenyataan itu semakin
membuatku gelisah.
Meskipun ini ditujukan untuk pasangan, pengaturannya tetaplah indah, dan aku
merasa sangat tidak sopan jika menolak untuk berfoto di sini, jadi aku
mengeluarkan smartphone. Aku menempatkan smartphone secara horizontal di stand
yang ditunjuk Narika, mengatur timer, dan kami berdua berfoto.
“W-Woahhhh……! Itsuki, segera kirimkan
padaku!”
“……
Ah.”
Kami
berhasil mendapatkan foto yang sangat bagus……
Ini akan
menjadi kenangan yang bagus,
dan aku tidak merasa menyesal……
“Fu-Fufufu……
terima kasih, Itsuki. Aku akan menjadikan ini sebagai
harta karun.”
Setelah
mengirim foto, Narika memeluk smartphone-nya dengan penuh hati-hati di dadanya. Tanpa sadar, aku mengusap
dahiku.
(…… Dia imut sekali.)
Aku tidak
ingin dia menjadi terlalu agresif setelah merasakan respons yang aneh, jadi aku
tidak berniat mengatakannya. Namun, sejak tadi
aku sudah merasakannya.
Aku sudah
mengetahuinya dengan betul bahwa
Narika adalah wanita yang menarik. Ada
banyak hal yang ingin kucoba, jadi aku menunda hal-hal tersebut…… tetapi ada
suara lain di dalam hatiku yang berbisik.
――Ayo,
jadian saja.
Rasanya lebih
menyenangkan dan seru jika kalian jadian tau~.
Kamu juga ingin melakukan hal-hal
seperti itu dengan Narika, kan~?
…… aku menghadapi suara-suara seperti itu
setiap hari.
Narika
tidak pernah tahu. Dia tidak tahu seberapa keras aku
berusaha untuk tetap rasional……!!
“Ngomong-ngomong!!
Mari kita beralih topik!!”
“Y-ya!!”
Demi
mengalihkan perhatianku, aku
ingin berbicara serius. Keseriusanku
berasal dari sepertiga dorongan untuk berkembang, sepertiga dari rendahnya
penilaian diri, dan sepertiga sisanya adalah konsentrasi mental.
“Apa di
perusahaan Narika juga ada pekerjaan di bidang visual? Kamu tadi bilang ada yang kamu pelajari karena pekerjaan, ‘kan?”
“Ah, ya.
Itulah yang ingin kubahas.”
Narika
berdeham dengan sengaja sebelum membuat ekspresi serius.
“Sejujurnya, itu bukan pekerjaan yang
dilakukan oleh keluargaku. Ini adalah rencana bisnis yang kupikirkan secara
mandiri.”
“Secara
mandiri……?”
“Ini
mirip dengan apa yang pernah kita lakukan
di permainan manajemen. Bisnis penjualan barang elektronik yang sedang
dijalankan oleh Taishou-kun
dan Asahi-san. …… Aku
juga ingin melakukan hal seperti itu.”
Meskipun
masih menjadi siswa, tapi dia
berusaha untuk menciptakan bisnisnya sendiri. Aku mengerti apa yang dilakukan Narika, tetapi…… yang membuatku
bertanya adalah, mengapa dia melakukannya.
“……
Karena aku tidak bisa menjadi ketua OSIS.”
Narika
mengucapkan itu dengan pelan.
“Bukan
tidak bisa, tetapi tidak mau, iya ‘kan?”
“……
Benar. Jika aku melihatnya secara negatif, itu akan tidak sopan kepada Itsuki
yang menyemangatiku, dan kepada Nishi-san yang
menyerahkan posisinya
kepadaku.”
Narika
menatap ubur-ubur yang berenang dengan tatapan serius.
“Aku tidak sepenuhnya yakin bahwa penyebabnya karena aku
tidak bisa menjadi ketua atau karena alasan lain. Namun,
ketika melihat Tennouji-san
yang bekerja dengan baik sebagai ketua OSIS
dan Itsuki yang membantunya, entah bagaimana, aku merasa…… aku juga tidak boleh
kalah. Aku ingin mempersiapkan diri sekarang agar di masa depan kita bisa
berjalan berdampingan seperti ini.”
Cahaya
biru menyinari wajah Narika.
Dia ingin
berjuang lebih keras agar bisa berdiri sejajar dengan orang lain. Aku sangat memahami perasaan itu lebih dair siapapun.
Memiliki seseorang dengan semangat yang sama di dekatku adalah sebuah
keberuntungan.
“Aku juga
merasakan semangat untuk tidak kalah.”
“Kalau
begitu, aku tidak akan kalah lebih dari itu!!”
“Kalau
begitu aku juga…… eh, ini bisa menjadi lingkaran tanpa akhir.”
Jika kami
terus berputar dalam lingkaran ini, pada akhirnya kami hanya akan merusak tubuh
kami sendiri. Aku
merasa sudah berusaha cukup keras. Namun, akhir-akhir ini, aku merasakan ada
tembok yang tidak bisa dilalui hanya dengan usaha saja. Kemampuan untuk melihat masa
depan. Itu juga penting.
“……
Persiapan untuk masa depan, ya. Aku juga selalu
memikirkannya, tetapi aku belum memiliki visi yang jelas.”
“Kamu ingin menjadi apa,
Itsuki?”
“Aku
ingin menjadi konsultan, tetapi……”
Saat
mengatakannya, aku berpikir mungkin dengan menyebutkan jabatan spesifik, aku
malah mempersempit pandanganku. Aku
hanya ingin menjadi orang yang bisa mendukung Hinako, Tennouji-san,
Narika, dan Yuri.
Jika aku
bisa mencapai tujuan itu, mungkin gelar bukanlah yang terpenting.
Misalnya
saja…… seperti menjadi sekretaris Narika.
“……
Sebagai referensi, apa Narika memiliki gambaran tentang apa yang ingin kamu lihat dariku?”
Ketika aku bertanya demikian, Narika dengan malu-malu
mengalihkan pandangannya.
“Y-Ya, tentu saja…… aku ingin kamu
menjadi suamiku.”
“…… Bukan
dalam artian begitu,
aku ingin berbicara serius sekarang.”
“Ak-Aku juga sedang melakukan
pembicaraan serius tau!”
“Memang
benar! Tapi, maksudku……”
Tolong
jangan!!
Jangan membuat otakku semakin pusing!!
“Pekerjaan! Batasi pada pembicaraan kerja
saja!”
“Ugh…… padahal aku menemukan jalan keluar yang
baik……”
Jangan
tampak begitu enggan.
“Kalau
tentang pekerjaan, aku akan senang jika kamu berada di posisi yang bisa
kuandalkan. Menjadi konsultan terdengar jelas dan baik, tetapi…… apa kamu
sedang bingung?”
“Ketimbang bingung, lebih tepatnya aku belum
sepenuhnya memutuskan.”
“Begitu
ya. Namun, aku percaya kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan loh, Itsuki!!”
“Kepercayaanmu kepadaku terlalu
kuat sehingga terasa dangkal.”
“Benarkah!?”
Narika
membulatkan matanya seolah merasa tidak percaya, dan aku tidak bisa menahan
tawa.
“Kita sudah memasuki paruh kedua masa kelas dua…… mungkin aku harus
memikirkan masa depan dengan lebih konkret.”
“Bagaimana
dengan teman-teman lamamu, Itsuki? Pendapat mereka juga bisa menjadi
referensi.”
Memang
benar. Mendengar pendapat dari tempat lama juga tidak buruk. Jika ada sesuatu yang berharga
dari masa lalu yang tanpa sadar kubuang, mereka pasti bisa memberitahuku.
……
Ngomong-ngomong.
Aku ingat bahwa Itabashi bilang, “Aku punya
sesuatu untuk dibicarakan.”
Meski pada akhirnya,
aku tidak sempat mendengar isi pembicaraannya…… tapi aku akan bertanya lagi
nanti.
Kami
emalngkah keluar setelah pameran terakhir di akuarium selesai. Merasakan
sinar matahari yang menyilaukan, aku dan Narika menyipitkan mata. Meskipun
hanya melihat satu pameran, kami merasakan resonansi seperti setelah
menjelajahi taman hiburan.
“Tadi itu rasanya menyenangkan.”
“Ya.
Festival budaya yang bagus.” ucap Narika
dengan tulus.
Pameran
akuarium digital laut dalam ini memiliki perjalanan yang panjang sebelum
mencapai penyelesaian. Awalnya, sepertinya mereka ingin menggunakan ikan asli,
tetapi karena masalah bau, mereka memutuskan itu sulit, lalu muncul ide untuk
menggunakan robot, tetapi karena keterbatasan waktu, itu juga dianggap
sulit.
Sebagai
hasilnya, mereka memutuskan untuk fokus pada proyeksi layar dan suara, serta
menyempitkan tema besar akuarium menjadi laut dalam untuk menciptakan
kesatuan.
Di sepanjang
jalan, aku melihat siswa lain dan pengunjung, dan semuanya tampak
bersenang-senang. Persiapan
festival budaya memang sangat sulit, tetapi sekarang kami sedang menerima
imbalan dari usaha tersebut.
“Setelah
ini, aku akan membantu Tennouji-san……”
“Aku ada pekerjaan di ruang OSIS……”
Kami
saling tersenyum. Kami
berdua sama-sama sangat sibuk. Sebelum aku membuka mulut, Narika
sudah berkata.
“Kita
harus saling semangat.”
Dia sudah
mengatakannya lebih dulu. Aku
menatap punggung Narika yang berbalik dan menuju ruang OSIS. Dulu, sepertinya aku yang selalu
berkata padanya, “Ayo, semangat!”
Bersama
Narika, aku bisa merasakan bahwa orang bisa berubah.
Narika
seperti…… matahari yang terlihat setelah keluar dari kegelapan.
(…… Ini
terlalu puitis.)
Mungkin
aku terpengaruh oleh suasana romantis di akuarium. Aku lalu
menuju ke gymnasium tempat Tennouji-san
menunggu.



