[LN] Saijou no Osewa Jilid 12 Bab 1

Chapter 1 Festival Budaya, Dimulai!!

 

“‘Saat itu—— aku akan menunjukkan contohnya lagi padamu.’”

Cahaya mentari pagi menerobos masuk ke dalam ruangan.

Seberkas cahaya yang menyinari dari celah tirai, menerangi seorang gadis yang berdiri di tengah ruangan―― Konohana Hinako, seolah-olah menjadi sorotan lampu.

Kata-kata yang diucapkannya berbeda dari biasanya yang sedikit cadel.

Suara yang mengandung kesedihan dan kekuatan itu mengencangkan dada pendengar, dan seketika mengubah suasana ruangan menjadi dunia dalam drama.

Setelah mendengar kalimat penutup, aku mengangguk dalam-dalam.

Sempurna.”

“Hmm… syukurlah.”

Hinako melepaskan perannya yang selama ini dibalut lembut dan menghela napas panjang untuk menenangkan diri.

“Meski begitu, aku belum sepenuhnya meninjau naskahnya dengan seksama, jadi aku tidak bisa menyadari kesalahan dialog dan sebagainya.”

“…… Mau bagaimana lagi. Aku ingin kamu menikmati drama dengan murni sepenuhnya, Itsuki.”

Perhatiannya itu sangat menyenangkan bagiku. Setelah naskahnya selesai, Hinako tidak ingin menunjukkannya padaku. Sepertinya dia ingin aku menikmati pertunjukkan drama tanpa spoiler.

Aku sudah beberapa kali  menemani Hinako berlatih, dan dia dengan sengaja menghilangkan adegan penting, berusaha agar aku tidak memahami keseluruhan cerita. Adegan yang tidak ditunjukkannya sepertinya dia latih dengan siswa lain di akademi.

“Tapi, aku tidak menyangka Hinako berlatih pagi-pagi begini.”

“Hmm… meski aku merasa ngantuk, kali ini banyak orang yang berharap padaku.”

Sepertinya dia memang tidak terlalu menyukai latihan. Namun, apa yang mendorong Hinako saat ini bukan hanya rasa tanggung jawab. Ada perasaan positif yang ingin memenuhi harapan semua orang.

Dua kata “masa muda” melintas di pikiranku. Sebagai anggota OSIS, aku ingin mendukung festival budaya untuk orang-orang seperti mereka.

“Akhinya, hari ini dimulai ya.”

“…… Hmm.”

Dalam beberapa jam lagi, festival budaya Akademi Kekaisaran akan dimulai.

Sejujurnya, aku tidak tidur nyenyak semalam. Tapi, ketika berpikir bahwa itu karena aku memikul tanggung jawab terbesar yang pernah kumiliki,, aku bisa merasakan suasana yang tidak buruk.

Hidupku sedang bergerak maju. Itulah yang kurasakan.

Kemudian, kami mendengar suara ketukan ringan.

Ojou-sama, Kagen-sama ada di sini.”

Setelah mendengar suara Shizune-san, pintu terbuka, dan Kagen-san yang mengenakan jas masuk ke dalam ruangan. Melihat sosok Kagen-san yang rapi sejak pagi, aku segera memperbaiki posisiku, sementara Hinako tampak melamun seperti biasanya.

Selamat pagi, Kagen-san.”

“Ah, selamat pagi.”

Kagen-san menjawab salamku dengan singkat, lalu melihat gadis yang bersantai itu dan mengerutkan alisnya.

“Hmm…”

“…… Setidaknya katakan salam di pagi hari dengan baik.”

Kagen-san menghela napas dan memandang ke arahku.

“Itsuki-kun. Sekarang aku akan pergi menjemput kepala keluarga Konohana, Dozen-sama. Sesuai rencana, kami akan tiba di Akademi Kekaisaran sekitar siang hari.”

Aku mengangguk.

“Setelah itu, aku hanya perlu mengantarkan Anda, kan?”

“Ah, iya.”

Ternyata urusannya ada padaku.

Kagen-san lalu berbalik. Namun, saat meletakkan tangan di gagang pintu, ia tiba-tiba berhenti. Sambil membelakangi kami, Kagen-san memanggil nama putrinya.

“Hinako.”

Hinako yang dipanggil mengangkat wajahnya perlahan.

“Aku menantikan penampilan yang bagus.”

Setelah berkata demikian, Kagen-san keluar dari ruangan. Suara pintu yang tertutup terdengar di ruangan yang hening. Hinako dan aku saling memandang.

“…… Apa maksudnya itu?”

“…… Entahlah.”

Apa dirinya mengharapkan akting Hinako sebagai seorang gadis sempurna?

Atau, dirinya mengharapkan aktingnya sebagai pemeran utama dalam drama?

Jika yang pertama, maka itu mungkin pernyataan yang memperhatikan martabat keluarga Konohana. Namun jika yang kedua…… itu pasti adalah pernyataan seorang ayah yang mendukung putrinya.

Menurutku…… mungkin itu yang kedua.

“…… Itsuki, kapan Hirano-san dan yang lainnya akan datang?”

Maksudmu Yuri? Mereka bilang akan datang pagi-pagi sekali.”

Aku mengeluarkan smartphone dan memeriksa pesan yang dikirimkan Yuri semalam.

 

Yuri: Aku terlalu bersemangat sampai-sampai tidak bisa tidur!! Aku akan pergi dengan kereta pertama!! Tunggu kami di depan gerbang ya!!

 

Pesan itu membuatku ingin berkomentar, Emangnya kamu pergi ke negeri mimpi. Setelah aku memberitahunya bahwa dia akan dimarahi oleh petugas keamanan, dia sepertinya mengubah rencananya untuk tiba bersamaan dengan dimulainya festival budaya…… tapi, dia benar-benar mengubahnya, kan? Aku bisa mempercayainya, ‘kan?

“Berapa banyak teman dari sekolah lamamu yang akan datang……?”

“Sepertinya ada empat orang, termasuk Yuri.…… Meskipun kami bertemu sebentar selama liburan musim panas kemarin, hari ini aku yang harus menjamu mereka, jadi aku sedikit tegang.”

Kurasa kamu akan baik-baik saja, Itsuki……”

Ketika Hinako yang selalu melihatku dari dekat mengatakan itu, rasa percaya diriku mulai muncul.

“Terima kasih sudah mau menemaniku latihan.…… Hari ini kamu pasti sibuk, kan?”

“Eh? Ah, ya. Ada pekerjaan OSIS yang harus kulakukan, dan aku juga harus melayani tamu selain Kagen-san dan Yuri……”

“Jangan terlalu memaksakan diri, ya……? Hari ini, tidak apa-apa jika kamu tidak selalu ada di sampingku.”

Hinako menatap wajahku dengan serius.

“Itsuki, berusaha lah yang terbaik dalam apa yang harus kamu lakukan.”

“…… Ah. Terima kasih.”

Kebaikan Hinako menyentuh hatiku.

Hinako yang telah mengatasi kelelahan akibat aktingnya, kini―――― meski dia masih suka bermalas-malasan sih. Meskipun dia telah mengatasi kelemahannya, bukan berarti dia akan menyukainya. Kurasa itu hal yang wajar.

Jadi, meskipun Hinako pasti ingin menjalani kehidupannya dengan nyaman, dia tetap bisa memberi perhatian seperti ini, menunjukkan bahwa dia memiliki cukup ruang di hatinya.

“――Tapi.”

Hinako perlahan berkedip.

Dengan satu gerakan itu, suasana ruangan terasa berubah.

Hinako yang seharusnya ada di sana sebelumnya menghilang, dan di hadapanku berdiri seorang gadis sempurna yang memerintah di puncak akademi. Gadis yang penuh dengan keanggunan itu, tanpa suara mendekatiku, meletakkan tangannya di dadaku seolah-olah menyekat jalan pelarian.

“Ketika pertunjukkan drama dimulai, tolong hanya lihat aku saja, oke?”

Sebuah bisikan manis dan menggoda yang menggelitik telinga. Tatapan mata ambernya yang menatapku dari jarak dekat itu tampak nakal, tetapi memancarkan daya tarik yang tak terhindarkan dan menusuk jantungku.

“……!! O-oke, aku mengerti.”

Jantungku berdetak kencang karena pendekatannya yang tiba-tiba.

Aku berusaha mengalihkan pandanganku supaya dia tidak bisa melihat wajahku yang memerah, dan Hinako tersenyum puas.

Ketika Hinako berubah menjadi mode gadis sempurnanya, terkadang dia menguji rasionalitasku seperti ini.

Seperti yang pernah kukatakan pada Hinako sebelumnya... Aku selalu gugup seperti ini bahkan di sekitar Hinako yang sebenarnya. Satu-satunya alasan dia tidak menyadarinya adalah karena aku sudah terbiasa menyembunyikan kegugupanku…….

Ketika dia menggoda dengan cara yang seperti, memanfaatkan perbedaan dirinya yang semmpurna dan dirinya yang biasa, sepertinya aku takkan pernah terbiasa dengan hal itu.

Jika dibiarkan seperti ini, sepertinya aku akan terjebak dalam temponya…….

Ada bagian dari diriku yang merasa bahwa jika Hinako merasa senang, itu sudah cukup.

Aku menghembuskan napas panjang, menampar pipiku yang memerah untuk mengalihkan perhatian.

Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Tidak ada waktu untuk bersantai.

Aku mempunyai dua misi hari ini.

Membuat kenangan terbaik untuk teman-teman lamaku.

Dan memberikan panduan yang sempurna tanpa cela kepada kepala keluarga Konohana, Konohana Dozen-san.

(…… Aku akan melakukannya)

Aku merapikan kerah seragamku dan mengepalkan tinjuku dengan kuat. Bukan salah satu saja. Aku akan menyelesaikan keduanya dengan sempurna.

Mari kita berdua berusaha yang terbaik hari ini.”

“Hmm.…… Aku akan berusaha dan bersenang-senang.”

Itu benar. Hari ini adalah hari bagi kita untuk bersenang-senang. Sebuah festival kegembiraan, terbebas dari kelas-kelas yang ketat dan persaingan yang sengit. Dengan ketegangan dan kegembiraan di dalam dada, kami menuju akademi.

Festival budaya akan segera dimulai, tetapi――sebelum itu, aku harus pergi ke ruang OSIS. Karena ada pertemuan terakhir sebelum festival budaya dimulai.

 

◆◆◆◆

 

Begitu aku melewati gerbang utama Akademi Kekaisaran, suasana yang tidak biasa sudah menyelimuti tempat itu.

Sebuah lengkungan gapura putih yang megah, mengingatkan pada kastil putih. Suara klasik yang indah terdengar dari entah dari mana. Aroma manis dan elegan dari kue kering dan teh. Ekspresi siswa yang lewat semuanya bersinar, penuh harapan untuk festival yang akan segera dimulai.

“…… Suasana yang bagus.”

“Aku juga berpikir begitu.”

Hinako menggumamkan kata-kata itu di sampingku.

“…… Aku tidak menyangka akan merasakan perasaan seperti ini.”

“Apa maksudmu?”

“Festival budaya tahun lalu…… dari awal hingga akhir, aku hanya merasa repot.”

Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, saat pertama kali ditentukan bahwa dia akan menjadi pemeran utama dalam drama, Hinako tampak sangat tidak menyukainya…….

Sekarang, itu terasa nostalgia.

“Ketika kabar bahwa kepala keluarga akan datang, Hinako juga mulai bersemangat, tapi pada akhirnya dia bisa merasa positif.”

“Itu tidak benar.”

Hinako menjawab dengan berperan sebagai gadis sempurna.

Aku bisa merasa bersenang-senang karena tahun ini ada Tomonari-kun.”

Ucap Hinako dengan senyuman lembut. Namun, pipinya terlihat sedikit memerah.

“Se-Sepertinya belakangan ini, kamu selalu bertingkah menjadi Ojou-sama yang sempurna di depanku……?”

“Uh…… ha-habisnya……”

Hinako mengalihkan pandangannya.

Habisnya, jika aku berakting…… aku bisa mengatakan apa yang kupikirkan dengan jelas……”

Saat dia mengatakan itu, Hinako tampaknya tidak bisa menahan rasa malunya dan segera membalikkan wajahnya. Aku bisa melihat bahwa telinganya juga sampai ikutan memerah.

Ka-Kalau begitu, aku akan pergi ke kelas.”

“…… Apa kamu yakin jika aku perlu tidak mengantarmu?”

“Ti-Tidak masalah. Karena aku adalah Ojou-sama sempurna.”

Hinako berusaha terlihat tenang dengan jelas.

…… Namun, sepertinya kesempurnaan itu akan segera terlepas. Apa dia baik-baik saja?

Setelah berpisah dengan Hinako, aku menuju ruang OSIS. Ketika aku membuka pintu, suasana di dalamnya penuh dengan semangat seperti “menara komando festival.”

――Rute panduan untuk para tamu sudah sempurna! Jika terjadi sesuatu, silakan hubungi kami. Pasti ada seseorang yang menunggu di ruang OSIS!”

Di tengah ruangan, suara ceria milik ketua OSIS, Tennouji Mirei, menggema.

Dengan rambut pirang ikalnya yang terurai, dia memberikan instruksi dengan cepat sambil berbicara di telepon, dia terlihat sangat senang dan membuatku merasa lebih bersemangat.

Ketika dia menyadari kehadiranku yang memasuki ruangan, wajahnya bersinar seperti bunga yang mekar.

Ara, Tomonari-san! Selamat pagi desuwa!”

“Selamat…… pagi, Tennouji-san.”

Aku hampir kembali menggunakan bahasa formal sejenak, tetapi aku berusaha mempertahankan nada asliku.

Aku baru saja mengubah cara bicaraku belakangan ini. Sepertinya kebiasaanku belum sepenuhnya hilang. Mungkin karena bisa melihat suasana hatiku, Tennouji-san tersenyum lembut.…… Itu sedikit memalukan.

“Apa itu interaksi dengan petugas keamanan?”

“Ya. Kali ini ada banyak orang yang membantu, jadi komunikasi menjadi sulit.”

“Walaupun kamu bilang sulit, sepertinya kamu terlihat senang.”

“Pastinya!”

Tennouji-san membusungkan dadanya dan mengumumkan dengan suara keras layaknya penyanyi opera.

“Festival budaya adalah waktu paling meriah di Akademi Kekaisaran!! Rugi rasanya jika kita tidak bersenang-senang!!”

Dengan semangat yang ceria, Tennouji-san mendekat ke arahku dan berbisik dengan nada nakal.

“Aku juga sudah menyisihkan waktu untukmu berdansa dengan Tomonari-san, lho? ...Aku sangat bersemangat sampai-sampai tidak bisa berhenti memikirkannya.”

Mendapatkan tekanan (dan perhatian) yang menyenangkan di pagi hari, aku menuju tempat dudukku.

Di sepanjang jalan, aku bertemu dengan Narika yang mengenakan kimono. Narika juga terlihat anggun namun ceria…….

“Narika, selamat pagi. Pakaian itu……?”

“Selamat pagi, Itsuki. Aku akan bekerja di ruang OSIS untuk sementara waktu setelah festival budaya dimulai. Jadi aku berganti pakaian untuk pertunjukan yang akan kubantu nanti.”

Narika akan membantu kelas yang memperkenalkan seni tradisional Jepang setelah festival dimulai. Aku juga berencana untuk membantunya, tetapi setelah festival dimulai, aku harus keluar dan bekerja terlebih dahulu, jadi lebih baik aku tetap mengenakan seragam sampai semuanya selesai.

Meski begitu, aku mengamati penampilan kimono Narika.

Aku pernah melihatnya berpenampilan seperti itu saat menginap di rumah Narika selama periode manajemen permainan…….

“Narika memang kelihatan sangat cocok dengan kimono.”

“Y-Ya, kan!? Fu-Fufufu…… Karena Itsuki bilang aku cocok. Ka-Kamu boleh melihatnya lebih dekat jika mau!! Ayo dekati aku!!”

“Tidak, yah, karena…… aku juga sibuk sekarang.”

Narika berdiri dan dengan senang hati merentangkan kedua tangannya. Aku sangat ingin melihatnya, tetapi jika dia mendekat seperti itu, aku merasa canggung.

Jadi, kamu memutuskan untuk membantu upacara minum teh?”

“Ya. Meskipun aku bisa saja membantu dengan pertunjukkan musik atau tarian, setelah mempertimbangkan jadwal, kurasa upacara minum teh sudha menjadi pilihan yang tepat.”

Aku sudah tahu, tetapi dia sebenarnya adalah gadis yang sangat berbakat…….

Tennouji-san mengeluarkan suara kesal, “Kuh!!” Narika biasanya sangat rendah hati, jadi kadang-kadang dia membuat pernyataan seperti ini yang mengejutkan orang di sekitarnya.

“Jika ada instruksi rinci, aku ingin mendengarnya sekarang……”

“Tidak, tidak masalah. Sama seperti olahraga, upacara minum memiliki kedalaman yang dalam, tetapi yang terpenting adalah membuat para tamu senang. Kali ini kita akan bersikap santai.”

“Itu ide yang bagus. Akademi Kekaisaran ini bergaya barat, dan pasti banyak orang yang tidak tahu banyak tentang upacara minum teh Jepang.”

Narika mengangguk dengan senang. Dengan semangat seperti ini, dia pasti akan berhasil.

Dan aku sudah cukup mengerti. Bagi mereka, “santai” berarti konten yang sempurna bagi orang biasa.…… Jadi, aku tidak akan menangkap arti harfiahnya, dan akan mencari kesempatan untuk mempelajari teh sebelumnya.

Di bagian belakang ruang OSIS, Abeno-san yang bertanggung jawab atas keuangan dan sekretaris Yodogawa sedang memeriksa perlengkapan terakhir sambil mengemil kue.

“Selamat pagi, kalian berdua. Apa yang kalian makan?”

“Selamat pagi, Wakil Ketua! Ini adalah muffin dari acara kelas satu! Setelah membantu banyak persiapan, aku menerimanya sebagai ucapan terima kasih!”

Yodogawa buru-buru menelan isi mulutnya yang sedang dikunyah dan dengan bangga mengangkat kertas pembungkus yang dipegangnya.

Wah, saat aku terkesan dengan kebaikan Yodogawa, Abeno-san membawa muffin dan cangkir teh yang mengepul di atas nampan, lalu dengan tenang menyodorkannya.

“Selamat pagi, Wakil Ketua. Silakan dicoba.”

“Abeno-san…… maaf sampai harus menyiapkan minumannya segala.”

“Wakil Ketua hari ini adalah orang yang populer. Hadi sudah sewajarnya aku melakukan ini.”

Ekspresinya tampak tenang, tetapi dari tindakannya, aku merasakan semangat perhatian.…… Mungkin kebaikan yang tidak terlihat ini mirip dengan kepribadian Shizune-san.

Aku tidak sepopuler itu……”

“Apa kamu ingin aku memeriksa jadwalmu?”

Abeno-san mengoperasikan komputernya dan menampilkan jadwal para anggota OSIS. Di sana, jadwal yang padat tertulis rapi hingga menit-menitnya, tersusun seperti puzzle.

“…… Uwahh.”

Saat melihatnya lagi, aku tidak bisa menahan tawa karena kepadatannya.

Pertama di pagi hari.

Segera setelah acara pembukaan, aku harus berurusan dengan para tamu VIP. Ini adalah kesempatan berharga untuk berbicara dengan orang-orang yang biasanya tidak bisa ditemui, tetapi kali ini sepertinya tidak ada waktu untuk belajar.

Di sela-sela itu, selanjutnya adalah menyambut teman-teman lamaku――Yuri dan yang lainnya. Aku sangat menantikan reaksi mereka saat melihat gedung sekolah yang megah ini.

Setelah itu, aku akan mendukung acara Narika. Narika sudah berganti pakaian, tetapi aku hanya bisa berganti pakaian tepat sebelum acara dimulai. Sepertinya lebih baik jika aku bergerak lebih awal untuk mengantisipasi.

Setelah itu, ada tarian dengan Tennouji-san. Kami sudah memeriksa koreografi kemarin, jadi kurasa kami bisa langsung tampil, tetapi aku perlu memperhatikan kelelahan tubuhku.

Dan di sore hari, ada acara terbesar――menjadi pemandu untuk kepala keluarga Konohana, Dozen-san.

Aku tidak tahu seberapa lama interaksiku dengan Dozen-san akan berlangsung. Namun, aku tidak ingin mengabaikan hal ini, jadi aku telah mengalokasikan waktu sepanjang sore.

Setelah itu, aku akan menonton drama kelas A yang dibintangi Hinako. Tujuan Dozen-san datang ke festival budaya juga demi bisa menonton drama ini, jadi mungkin setelah drama selesai, jadwalku juga akan kosong.

Ada banyak rencana untuk berkeliling festival bersama. Tentu saja dengan Yuri, dan juga Narika serta Tennouji-san. Pekerjaan patroli juga bisa dilakukan bersamaan. Selain itu, aku juga ingin berkeliling bersama Hinako.

(Okee~ hari ini aku akan berjuang keras~!!)

Aku sudah memantapkan hati.

Festival budaya Akademi Kekaisaran berlangsung selama tiga hari. Dari semua itu, hanya hari pertama, yaitu hari ini, satu-satunya hari di mana kita mengundang tamu dari luar. Setelah melewati hari ini, kupikir sisanya akan lebih mudah, tetapi tampaknya kelelahan anggota OSIS pada hari pertama sangat luar biasa, sehingga kehilangan ingatan pada hari kedua dan ketiga telah menjadi tradisi.

Melihat jadwal yang terpampang di layar, memang benar jika setelah hari ini berakhir, perasaanku akan melonggar seperti tali yang terputus. Rasanya tidak enak berkeliling dengan keadaan yang kelelahan seperti itu, jadi aku memutuskan untuk menghabiskan hari ini bersama semua orang.

Aku tidak akan memikirkan tentang hari esok.

Hari ini, aku akan bergerak dengan membakar semua energi yang ada.

Ah, kamu kelihatan sedikit melamun…… apa ada yang bisa kubantu?”

“…… Tidak, tidak apa-apa. Abeno-san juga pasti ingin menikmati festival, kan?”

Aku menyesap teh yang diberikan kepadaku dan berkata demikian.

“Aku memang sibuk, tapi sejujurnya, jika hanya fokus pada pekerjaan, masih ada waktu. Hanya saja, karena ini acara spesial, aku juga ingin menikmati festival sekolah... Jika itu berarti harus sibuk untuk menikmatinya, maka aku lebih suka melakukannya.

“Itulah yang disebut masalah yang menyenangkan, kan? ...Tolong andalkan aku sebelum itu berubah menjadi masalah yang sebenarnya.”

Dia adalah teman yang bisa diandalkan. Aku menepuk pipi kanan dan kiriku untuk mengumpulkan semangat.

Setelah menangani para tamu, aku akan menjadi pemandu untuk Yuri dan yang lainnya.

Ini adalah pertemuan kembali dengan teman-teman lamaku setelah sekian lama. Aku merasa lebih bersemangat sekarang dibandingkan saat liburan musim panas... mungkin karena aku telah mendapatkan sedikit kepercayaan diri.

 

◆◆◆◆

 

Festival Budaya Akademi Kekaisaran――dimulai.

Setelah melewati gapura yang megah, rombongan SMA Ryugu――Yuri, Sumida, Itabashi, dan Toshima, segera merasakan perbedaan dunia yang mereka tinggali.

In-Ini…… benar-benar festival budaya sekolah, ‘kan?”

Itabashi ternganga dengan mulut terbuka lebar.

Karpet merah membentang di jalanan utama, dan deretan stan serta gedung pameran memiliki desain yang sangat elegan. Bagi Yuri dan yang lainnya yang membayangkan stan makanan atau kios-kios, mereka seolah-olah sedang berada di dunia yang berbeda.

Terdapat bangunan-bangunan tinggi yang tampaknya setinggi tiga hingga lima lantai berdiri berjejer di lapangan. Jelas-jelas itu bukan fasilitas yang biasa ada. Bangunan-bangunan itu dibangun khusus untuk hari ini, momen ini. Selain skala dan kemewahannya yang mengejutkan, papan namanya menunjukkan bahwa ada akuarium dan kebun botani. Apa ini proyek nasional?

“Apa-apaan itu? Mereka menyajikan daging panggang loh... Apa ini prasmanan hotel……”

“Melon mas dengan coupe…… apa itu coupe? Apa mereka salah ketik dari sup……?”

Itabashi dan Sumida bergumam dengan kebingungan.

Sebagai catatan, keempatnya juga memperhatikan penampilan mereka. Meskipun tidak mengenakan jas, semua orang berpakaian cukup formal. Itabashi dan Sumida mengenakan jaket, sementara Yuri dan Toshima mengenakan gaun yang bisa dipakai sehari-hari.

Meski demikian, perasaan tidak sesuai tempat tetap tidak bisa dihindari. Sementara para pria terlihat bingung…… para wanita tampak tangguh.

“Ahahaha!! Luar biasa!! Benar-benar ada dunia yang seperti ini~!!”

Toshima menikmati dengan semangat ceria seperti biasanya.

Umm, Toshima. Mungkin tidak perlu berteriak terlalu keras……”

Kurasa itu tidak masalah.”

Yuri menjawab dengan tenang kepada Itabashi yang tampak cemas.

“Aku pernah berbicara dengan berbagai Ojou-sama dari kalangan atas melalui Itsuki…… orang-orang di Akademi Kekaisaran tidak merendahkan rakyat biasa. Mereka hanya dibesarkan dengan cara yang anggun, dan orang-orang seperti kita juga diterima dengan baik.”

“Ben-Beneran? Aku boleh mempercayaimu, ‘kan?”

Itabashi berbicara dengan nada setengah ragu.

Lagipula, orang-orang dari kalangan atas yang sebenarnya itu sangat baik…… jika kita bersikap aneh, kita justru bisa terluka lebih dalam. Seolah-olah kita diperlihatkan betapa baiknya mereka……”

“…… Hirano-san, kamu pasti mengalami banyak kesulitan, ya.”

Yuri tertawa sedikit sinis, dan Toshima menepuk punggungnya untuk menghibur.

Sekarang terasa seperti kenangan yang jauh, tetapi…… sebenarnya Yuri juga awalnya berhubungan dengan Hinako dan yang lainnya dengan hati-hati. Karena ada Itsuki, dia berusaha bersikap dewasa, tetapi tentu saja, dia tidak mungkin tidak terguncang saat berhubungan dengan gadis-gadis dari kaliber seperti itu.

Apa aku pantas bergaul dengan mereka? …… Ketidakpastian itu berarti meragukan kapasitas mereka.

Yuri telah mengetahui karakter mereka melalui Itsuki.

“Sumida-kun, kamu tidak perlu merasa tertekan.”

Hah!? Ak-Aku tidak merasa tertekan……!!”

“Benarkah? Kalau begitu bagus. Hari ini aku juga sangat menantikannya, jadi mari kita lihat berbagai hal bersama?”

Duk!! Pernyataan Yuri menusuk hati Sumida.

Sumida juga menantikan festival budaya hari ini. Akademi Kekaisaran dan Itsuki tidak terlalu penting, yang terpenting baginya adalah bisa berkeliling bersama Yuri.

Ah, Hirano-san…… betapa baik dan dapat diandalkannya dia. Aku ingin melihat wajahnya seumur hidup.

“Ta-Tapi, kamu tahu... Bukannya Tomonari pasti akan merasa terasing di sekolah seperti ini?”

Demi mengalihkan kegugupannya, Sumida mengubah topik pembicaraan.

Faktanya, Sumida tidak bisa membayangkan Tomonari Itsuki yang dikenalnya bisa bertahan di dunia yang berkilau ini. Sepertinya semua orang merasakan hal yang sama, Itabashi dan Toshima juga balas mengangguk.

“Pastinya…… semoga saja ia tidak dipaksa jadi kacung atau semacamnya.”

“Tomonari-kun, dia terlihat sedikit lemah, ya~”

Kemungkinan terburuk…… jangan-jangan ia sedang dibuli?

Melihat ketiga orang itu membayangkan hal semacam itu, Yuri tersenyum kecil.

“Hirano-san? Kenapa kamu tersenyum bangga……”

“Eh!? Bu-Bukan berarti aku merasa bangga atau semacamnya……”

Yuri menjawab dengan gugup atas pernyataan Itabashi.

“…… Jika kalian melihat Itsuki yang sekarang, kalian pasti akan terkejut.”

Mereka bertiga memiringkan kepala mereka dengan bingung melihat senyum puas Yuri. Mengikuti arus orang, mereka berempat melanjutkan perjalanan melintasi halaman sekolah.

Mereka rencananya akan bertemu Itsuki di depan gedung sekolah. Ketika Yuri dan yang lainnya mulai melihat-lihat sekitar, mereka…….

Eh?”

“Apa itu……”

Itabashi dan Toshima mengeluarkan suara terkejut.

Kerumunan orang telah berkumpul di sekitar ruang santai yang bersebelahan dengan gedung sekolah. Orang-orang yang berkumpul adalah pria-pria dengan setelan jas yang rapi. Dari penampilan mereka, terlihat bahwa mereka memiliki posisi yang lebih tinggi di antara para tamu.

Sumida dan yang lainnya terkejut melihat seorang siswa laki-laki yang melayani mereka. Seorang pemuda berdiri tegak dengan punggung yang lurus, membungkuk dengan gerakan yang anggun.

Meskipun tubuhnya tampak lembut, ia tidak tertekan bahkan ketika berhadapan dengan orang dewasa yang mengenakan jas. Ia berdiri dengan percaya diri. Di lengan kirinya terdapat lencana yang bertuliskan [Wakil Ketua OSIS] yang bersinar.

“…… Tomonari?”

“Eh~, mustahil!! Ia terlihat sangat keren~!!”

Itabashi dan Toshima membuka mata mereka lebar-lebar.

“Fufun.”

Yuri tersenyum bahagia.

Sumida terdiam, ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena terkejut.

Orang yang ada di sana bukanlah Tomonari Itsuki yang dikenal Sumida. Seolah-olah dia sudah menjadi bagian dari dunia yang berkilau ini sejak awal…….

Tak lama kemudian, ketika para pria berjas memasuki ruang santai dengan ekspresi puas, Itsuki menghela napas kecil dan merapikan dasinya.

Kemudian, ia tiba-tiba mendongak――dan tatapan matanya bertemu dengan tatapan Sumida dan yang lainnya.

“Kalian sudah datang, ya.”

Dengan senyum nostalgia yang terukir di wajahnya, Itsuki menyapa teman-teman lamanya yang berdiri tercengang.

“Selamat datang di Akademi Kekaisaran.”

 

◆◆◆◆

 

Pada awalnya, aku sempat berpikir bahwa rasanya akan sedikit kesulitan untuk bergabung dengan mereka di tengah kerumunan orang, tetapi aku berhasil menemukan sosok Yuri dan yang lainnya.

Ketika aku mendekati teman-teman lama yang sudah lama tidak bertemu, Yuri menatapku dengan tatapan tajam.

“Hmm~.”

“Apa, Yuri?”

Bukan apa-apa kok~. Sepertinya kamu terlihat lebih keren~.”

“Kalau mau memujiku, jangan menatapku seperti itu napa.…… Tadi aku baru saja menangani VIP. Sekarang setelah semua selesai, akhirnya aku bisa bersantai.”

Aku meregangkan tubuhku sedikit dan melepaskan ketegangan di bahu. Kemudian, aku melihat wajah teman-teman lamaku lagi.

“Rasanya sudah lama tidak bertemu ya, semuanya. Meskipun sepertinya kita sempat berbicara sedikit selama liburan musim panas……”

Tidak, tidak, tidak!! Jika dibandingkan saat itu, kamu terlihat seperti orang yang berbeda!!”

Itabashi berkata dengan nada terkejut.

“Ah…… saat itu aku juga memiliki banyak masalah yang harus dipikirkan……”

Pada saat itu, aku sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit dari Hinako.

Apa aku akan kembali ke kehidupan sebelumnya atau tidak.…… Untuk bisa merenungkannya dengan baik, aku sengaja menghabiskan waktu bersama teman-teman dari SMA Ryugu. Meskipun ada rasa enggan meninggalkan Hinako yang demam, aku merasa bisa pulang dengan tekad yang lebih kuat.

Sepertinya Yuri juga ingat tentang masa itu dan bergumam, “Hal itu memang pernah terjadi……”

Sejujurnya, aku sempat khawatir, tetapi setelah melihat Tomonari sekarang, aku merasa tenang. Kamu melakukannya dengan baik, ya.”

“Aku akan senang jika bisa mendengar pendapat yang sama setelah melihatmu sepanjang hari ini.”

Kami saling tersenyum. Itabashi adalah anggota klub bisbol.…… Aku tentu saja tidak mengingatnya karena penampilannya saja.

Para anggota klub bisbol dari SA Ryugu biasanya cukup berani…… banyak dari mereka memiliki kepribadian yang kuat, dalam artian positif maupun negatif, tetapi Itabashi adalah salah satu yang lebih tenang, dan aku ingat dia selalu bersikap ramah kepada siapa pun. Ia memberi kesan sebagai pekerja keras dan orang yang perhatian kepada orang-orang di sekelilingnya.

“Tomonari-kun, sudah lama tidak bertemu~!! Kamu kelihatan berubah banget!! Apa kamu berusaha memperbaiki diri!?”

“Toshima-san, sudah lama tidak bertemu.…… Yah, mungkin aku berusaha sedikit.”

Tentu saja, aku sudah berusaha keras dalam banyak hal.…… Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar saat ini.

Toshima-san adalah siswi perempuan yang posisinya mirip dengan Asahi-san di Akademi Kekaisaran. Dia adalah penggembira suasana kelas dan tipe yang aktif dalam menjalankan tugas sebagai ketua kelas.

Jika dipikir-pikir kembali, Asahi-san juga mungkin akan menjadi ketua di sekolah biasa. Di Akademi Kekaisaran, tidak ada posisi ketua kelas, dan bahkan jika ada, dia mungkin akan menghindarinya karena status keluarganya.

“Sumida, sudah lama kita tidak bertemu.”

“Ah, ya, memang sudah lama.”

Sumida membalas sembari tampak gugup saat melihatku,

“Ku…… jangan berpikir kamu sudah menang……!!”

Apa maksudnya?

Aku tidak tahu alasan di balik tatapan tajamnya padaku, tetapi dalam ingatanku, Sumida adalah salah satu teman lama yang cukup berkesan. Meskipun tampak pendiam, Sumida adalah orang yang sangat dapat diandalkan.

Tahun lalu, aku seharusnya menjabat sebagai ketua kelas. Tidak ada yang mau melakukannya, dan ketika kami berpikir untuk memutuskan dengan permainan batu-gunting-kertas, Sumida mengangkat tangan. “Apa boleh buat,” kata Sumida, tetapi aku menghormatinya yang dengan mudah bersedia membantu.

“…… Terima kasih telah menjadi ketua kelas saat kelas satu.”

“Eh? …… Oh, itu memang terjadi.”

“Saat itu, aku sangat sibuk dengan pekerjaan paruh waktu. Jika aku yang terpilih sebagai ketua kelas, itu akan jadi masalah.”

“…… Yah, syukurlah kalau begitu.”

Sumida berkata dengan tampak sedikit terkejut. Saat itu, aku cukup tegang, jadi itu adalah episode yang terukir kuat dalam ingatanku, tetapi sepertinya bagi Sumida, itu tidak terlalu berkesan.

Seringkali, orang yang membantu lebih mudah melupakan daripada yang dibantu. Setelah menyelesaikan salam pertemuan kembali, aku melihat Yuri.

Kamu kelihatannya sangat tenang, Yuri.”

“Yah, aku sudah terbiasa di rumah Konohana.”

“…… Maaf jika aku mengecewakanmu, tapi kamu bilang akan pergi dengan kereta pertama sampai kemarin, kan?”

“Ah, itu karena suasana saat itu!!”

Sebenarnya, dia tidak perlu menyembunyikannya segala…….

Sebagai penyelenggara, akan lebih baik jika mereka menunjukkan kegembiraan dengan jelas.

“Tomonari.”

Tiba-tiba, Itabashi membisikkan padaku.

“Aku ingin berkonsultasi tentang sesuatu setelah ini. …… Apa kamu ada waktu?”

“Ah, tidak masalah. Tapi kenapa kamu berbicara dengan suara kecil seperti itu――

“Tidak, tidak!! Itu, aku tidak ingin orang lain mendengar hal ini……!!”

Ketika dia mencoba berbicara dengan volume normal, Itabashi terpaksa berteriak. Aku tidak tahu apa isi konsultasinya, tetapi aku mengangguk untuk mengiyakan. Konsultasi yang ingin dia bicarakan tanpa ingin didengar semua orang…… kira-kira apa ya?

“――Permisi.”

Saat itu, Shizune-san yang mengenakan seragam pelayan, diam-diam muncul di belakangku. Tangannya tampak menggenggam empat binder map.

Kalian semua adalah teman-teman lama Tomonari-sama, ya. …… Senang bertemu dengan kalian. Aku adalah pelayan keluarga Konohana, Tsurumi Shizune.”

“Wow~!! Pelayan sungguhan~!!”

“Hebat!! Mengesankan banget!!”

Pandangan mata Toshima-san dan Itabashi terlihat berkilau.

Entah kenapa, rasanya, seperti…… menyenangkan, ya…….

Ketika aku pertama kali bertemu Shizune-san, aku baru saja terlibat dalam insiden penculikan, dan kedua orang tuaku juga melarikan diri di malam hari, jadi aku tidak memiliki ketenangan hati.

Reaksi yang segar dan polos itu…… sebenarnya aku juga ingin merasakannya.

Langsung saja ke intinya…… aku ingin kalian semua menandatangani dokumen ini.”

Shizune-san menyerahkan dokumen dan pena kepada mereka berempat dengan gerakan yang luwes.

Perjanjian Kerahasiaan.

Itulah yang tertulis di bagian atas dokumen..

Posisiku cukup rumit. Teman-teman lamaku, kecuali Yuri, berpikir bahwa aku diterima di Akademi Kekaisaran sebagai anak angkat presiden perusahaan IT yang terkemuka. Kenyataan itu sendiri adalah kebohongan, tetapi status sebagai anak angkat mungkin menimbulkan kebingungan dan ketidakpercayaan di Akademi Kekaisaran, jadi aku harus meminta mereka untuk tidak membicarakan masa laluku.

Kurasa Hirano-sama sudah menjelaskannya, tetapi Tomonari-sama menyembunyikan latar belakangnya karena beberapa alasan. Oleh karena itu, kami meminta kalian untuk menjaga informasi dengan ketat――

“Ah, ini. Jadi inilah yang dikatakan Hirano, kan?”

“Wow, aku terkejut~. Aku tidak tahu apa yang dimaksud~.”

“Jika aku menulis namaku di sini, itu sudah cukup, kan……?”

Masing-masing dari mereka dengan santai menandatangani dokumen tersebut. Karena mereka menandatangani dengan sangat alami, aku dan Shizune-san juga terkejut.

Yah…… memang benar.

Orang-orang ini tidak memiliki pikiran untuk membongkar rahasia orang lain…….

“Hirano-sama.”

Shizune-san melihat Yuri dengan tampak terkesan.

“…… Mereka adalah teman yang bisa dipercaya, ya.”

“Itulah sebabnya aku memilih mereka.”

Yuri berkata sambil membusungkan dada dengan bangga, dan dia juga menandatangani. Setelah memastikan tanda tangan semua orang, Shizune-san menutup binder-nya. 

“Terima kasih atas kerjasamanya. …… Sekarang, aku mohon pamit.” 

Shizune-san membungkuk dan pergi. Setelah mengantar pemandangan anggun di belakangnya, aku kembali menghadapi teman-temanku. 

“Baiklah. Mulai sekarang, aku yang akan memandu, tapi…… ada seseuatu yang ingin kalian lihat?” 

Karena tidak ada permintaan khusus, aku bertanya untuk memastikan. 

Sejujurnya, karena ada terlalu banyak hal, jadi aku tidak bisa memutuskan.” 

“Aku menyerahkan pada Tomonari-kun yang paling tahu!” 

“Aku sih…… jika Hirano-san suka, aku tidak keberatan di mana saja……” 

Ketiga orang itu tampak tidak keberatan ke mana pun. Sekali lagi, aku melihat ke arah Yuri…… 

Aku belum terbiasa dengan suasana festival akademi ini, jadi aku ingin merasa tenang sambil melihat wajahmu.” 

“Apa maksudmu?” 

Maafkan aku jika aku terlihat seperti orang biasa…… 

Tapi jika itu yang diinginkan, itu menguntungkan. Aku memiliki satu pertunjukan yang bisa kurekomendasikan dengan percaya diri. 

“Maaf jika kalian merasa tidak nyaman, tapi sekarang aku harus pergi membantu satu kelas. Aku bisa merekomendasikannya kepada kalian juga, mau ikutan?” 

Tidak masalah sih, tapi kelas itu akan melakukan apa?” 

“Kelas yang memperkenalkan seni tradisional Jepang. Aku ditugaskan untuk membantu dalam upacara minum teh.” 

Hee~. …… Jadi itu artinya, Miyakojima-san?” 

“Ya.” 

Aku mengangguk pada insting tajam Yuri. Kemudian Yuri membuka matanya lebar dan berkata kepada ketiga orang lainnya. 

Ayo pergi, semuanya!! Kita bisa melihat yang asli di antara yang asli!!” 

“Aku tidak tahu mana yang asli, tapi kalau begitu, ayo pergi!!” 

“Aku tidak sabar!!” 

Semua siswa di akademi ini adalah yang asli, tetapi…… memang benar, Narika bisa dianggap sebagai salah satu yang luar biasa di antara mereka. Baik dalam hal latar belakang maupun keterampilan upacara minum tehnya

Aku berjalan melewati akademi bersama teman-teman lamaku yang bersemangat.

 

◆◆◆◆

 

Setelah mengantar Yuri dan yang lainnya ke aula, alunan musik Gagaku sudah dimainkan di atas panggung. 

Gagaku. Ini merupakan salah satu seni tradisional musik kuno Jepang. Di tengah suara yang megah, kami menemukan tempat duduk kosong dan duduk. 

“Ini, dimainkan oleh siswa, kan……?” 

“Suara yang begitu indah dan merdu, ya~” 

Itabashi dan Toshima masing-masing terkesan. 

Siswa yang bermain di tengah adalah Pewaris Hayama Musical Instrument. Sedangkan siswa yang baru saja memukul alat seperti taiko adalah pewaris Laurend.” 

Bukannya Hayama Musical Instrument tuh terkenal dengan pianonya!?” 

“Aku juga pernah mendengar tentang Laurend…… bukankah itu alat musik elektronik?” 

Aku mengangguk mendengar reaksi Itabashi dan Sumida. Karena mereka adalah pewaris dari produsen alat musik besar, sepertinya mereka menerima pendidikan musik yang baik dan bisa memainkan berbagai alat musik. Keduanya mengaku paling ahli dalam alat musik keyboard, tetapi saat ini mereka memainkan gagaku sesuai dengan pertunjukan kelas. 

Mungkin aku seharusnya tidak terlalu santai menjelaskan informasi pribadi mereka, tetapi…… bagi orang-orang biasa seperti kami, informasi semacam ini paling mudah dipahami dan menyenangkan untuk didengar. Jika diminta penjelasan tentang gagaku, aku bisa melakukannya, tetapi mungkin sekarang bukan waktunya

Tentu saja, informasi yang dibagikan telah mendapatkan izin dari mereka. Aku sudah memperkirakan bahwa tamu akan meminta informasi tentang para pemain, jadi aku meminta mereka untuk mengisi informasi yang bisa dibagikan dalam survei sebelumnya. Hal tersebut juga berlaku untuk kelas lain. Pikiranku dipenuhi dengan informasi tentang para siswa yang memimpin setiap pertunjukan dan informasi yang bisa dibagikan tentang mereka. 

Itsuki…… sepertinya kamu kelihatan lelah.” 

“Yah…… aku berpikir ini sangat sulit.” 

Sambil menunggu waktu untuk memandu Dozen-san, memandu Yuri dan yang lainnya mungkin bisa menjadi latihan yang bagus. 

“Baiklah, aku akan bekerja, jadi kalian bisa menonton di sini.” 

“Jika kamu gagal, aku akan menertawakan kalian.” 

Itu mungkin adalah pernyataan untuk mengurangi ketegangan. Namun, aku tersenyum dengan percaya diri kepada Yuri. 

Jangan khawatir, aku akan berhasil.” 

Melihat ekspresi terkejut di wajah Yuri, aku menuju ke bagian belakang aula. Ketika aku sampai di sisi panggung yang agak gelap, Narika sudah ada di sana. 

“Narika, maaf sudah membuatmu menunggu――” 

“――Itsuki!!” 

Ssst, aku meletakkan jari telunjukku ke bibirku untuk menenangkannya. Meskipun aku merasa senang, tapi tolong jangan panggil namaku dengan suara keras setiap kali melihatku. 

“Ma-Maaf…… apa kamu sudah memandu Hirano-san dan yang lainnya?” 

“Ya. Mereka akan mengawasi kita dari sana.” 

“Ugh…… aku jadi gugup membayangkan dilihat oleh orang-orang yang kukenal.” 

Saat aku hendak tersenyum masam pada Narika meletakkan tangan di dadanya, panitia pelaksana kelas yang menyelenggarakan pertunjukan seni tradisional datang menghampiri kami. 

“Terima kasih atas kerja sama kalian berdua hari ini.”

Panitia pelaksana siswa laki-laki mulai memeriksa persiapan. 

“Setelah pertunjukkan gagaku saat ini selesai, kita akan ada jeda sepuluh menit. Selama waktu itu, kami akan melakukan penggantian set panggung dan tata letaknya. Selama jeda itu, kami ingin kalian berdua memperagakan upacara minum teh untuk mengisi waktu.” 

Siswa laki-laki panitia berbicara dengan penuh semangat sambil memegang jadwal di tangannya. 

“Pertunjukan berikutnya adalah pertunjukkan Kabuki. Silakan ciptakan suasana yang tenang tanpa mengganggu konsentrasi penonton. …… Tapi, untuk kalian berdua, itu pasti mudah!” 

Aku dan Narika tiba-tiba merasakan kepercayaan diri yang besar dan saling memandang. 

“Kurasa kami tidak pantas mendapatkan kepercayaan sebesar itu..."

Apa yang kamu bicarakan! Aura anggun dan bermartabat yang dimiliki Miyakojima-san, dan Wakil Ketua Osis Tomonari yang bisa mendukungnya dengan mulus…… Keserasian kalian berdua sudah terbukti selama masa pemilihan! Hari ini, kami sebagai teman sekelas juga sangat menantikan penampilan kalian!!” 

Siswa-siswa di sekitar yang mendengarkan juga mengangguk setuju. Siswa laki-laki itu membungkuk dalam-dalam dan pergi sambil mengatakan “Mohon kerja samanya, ya”

Sekarang hanya ada aku dan Narika saja, membuat kami menghela napas lega. 

“Rasanya agak aneh, ya.” 

“Eh?” Narika bereaksi, dan aku mengungkapkan perasaan yang mendalam. 

“Dulu, aku yang jelas-jelas hanyalah rakyat biasa, dan Narika yang ditakuti karena salah paham…… Sekarang, kita berdua adalah anggota OSIS, dan diharapkan oleh semua orang.” 

“…… Benar. Sungguh perjalanan yang cukup panjang.” 

Hanya beberapa waktu yang lalu, kami hanya dianggap sebagai orang asing di akademi ini. Sekarang, kami menerima tatapan penuh kekaguman seperti ini. 

Sekarang tidak ada lagi bayangan kesepian di mata Narika. Dia kini memiliki kepemimpinan yang kuat dan baik, dikelilingi oleh teman-teman yang dapat dipercaya. 

“Benar. Boleh aku minta bantuanmu untuk berganti pakaian?” 

“Ya, serahkan padaku!” 

Narika sudah mengenakan kimono, tetapi aku harus berganti pakaian sekarang. Aku mengambil pakaian yang sudah disiapkan. Pakaian yang kupakai mirip semacam haori hitam. 

“Jutoku…… ya? Rasanya berbeda dengan hakama.” 

Memakai hakama juga tidak salah sih, tetapi jika ingin merasakan upacara minum teh dengan lebih formal, lebih baik pakai jutoku. Meskipun kurang meriah, suasananya akan lebih serius dan khidmat.” 

Juttoku memang sangat cocok untuk menjaga suasana yang anggun yang menjadi tujuan kali ini. 

Kainnya sedikit transparan, ya?” 

“Mungkin karena agak dingin di musim ini. …… Itsuki, bagaimana kalau kita diam-diam menyelipkan pemanas?” 

“Hmm…… tidak, karena kita sudah bersusah payah menciptakan suasana otentik ini, aku tidak ingin merusaknya.” 

“Pemikiran yang luar biasa.” 

Narika dengan terampil menyesuaikan jutoku di punggungku. Tangannya yang cekatan benar-benar mencerminkan kalau dirinya memang putri ningrat dari keluarga Miyakojima. 

“Dalam situasi seperti ini, Narika benar-benar dapat diandalkan, ya.” 

“Fufufu…… Ketika masih kecil dulu, aku tidak mengerti untuk apa aku belajar, tetapi mendengarmu mengatakan itu membuat semuanya berharga.” 

Aura tegas Narika yang dulunya ditakuti oleh orang-orang sekitar kini dihargai sebagai sikap yang anggun oleh siswa-siswa. …… Jika begini terus, sepertinya pendidikan unggulan yang diberikan kepada Narika berjalan dengan baik. 

Ayah Narika…… Musashi juga pernah mengatakan hal yang sama. Meskipun pada awalnya ada kesalahpahaman, jika terus menghasilkan hasil, kesalahpahaman itu akan teratasi dengan sendirinya. Dan pada akhirnya, hanya penilaian yang benar yang akan tersisa. 

Narika mungkin sudah mencapai tingkat itu sekarang. 

“…… Ini sebenarnya bukan sesuatu yang boleh dipakai oleh pemula dalam teh, kan?” 

“Secara umum, memang begitu, tetapi kamu tidak perlu khawatir. Ini adalah pengakuan untuk mengenakan sesuatu yang penting, dan jika dilihat dari sudut pandang itu, saat inilah momen yang sangat penting.” 

“Memang benar……” 

Narika dengan cepat merapikan kerahku dan mengikat tali dengan kencang. 

Aku memeriksa penampilanku setelah selesai memasukkan lengan. Pakaian sederhana serba hitam ini memang tidak mencolok, tetapi memberikan rasa tegang yang membuat punggungku tegak. 

“Apa rasanya tidak terlalu sempit?” 

“Tidak, rasanya nyaman dan pas.” 

Narika berkeliling di sekelilingku dan terakhir mengangguk puas. Kemudian, dia tiba-tiba tersenyum lembut. 

“Fufufu.” 

“Ada apa?” 

“Eh, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir bahwa aku pernah melihat pemandangan ini beberapa kali. …… Ibuku pernah membantu mengganti pakaian ayah.

Aku bisa membayangkannya

Orang tua Narika tidak terlihat seperti pasangan yang dominan, tetapi…… Aku bisa membayangkan Otsuko-san dengan tenang dan lembut menyampirkan jaketnya di bahu Musashi-san saat dirinya hendak pergi

“Orang tuamu sepertinya akur sekali.” 

“Ya. Aku berharap bahwa suatu hari nanti aku juga bisa seperti itu.” 

Ucapan Narika membuatku terdiam sejenak. 

Ingin seperti itu…… 

Karena saat ini, Narika menyukaiku…… 

Jadi, apa itu berarti dia ingin memiliki hubungan seperti itu denganku di masa depan……? 

“…… Itu, rasanya sulit untuk diungkapkan……” 

“Eh? …… Ah, ahh!? Tidak, tidak!? Bukan begitu maksudku……!?” 

Wajah Narika seketika memerah dan dia berusaha menjelaskan. 

“Tentu saja…… jika itu beneran terjadi, itu akan menjadi ideal……!!” 

Kamu tidak perlu mengatakannya segala……” 

Wajahku juga mulai memerah. Aku tidak bisa menatap Narika untuk sementara waktu, dan sambil mengalihkan pandangan, aku mengambil napas dalam-dalam. 

Suara musik gagaku berhenti. Sudah saatnya kami tampil. 

“Bagaimana dengan keteganganmu?” 

“Aku merasa tegang, tetapi…… mungkin aku merasakan hal yang sama dengan Itsuki.” 

Kalau begitu, seharusnya tidak masalah. Ada ketegangan yang membuat jantungku berdebar. Tapi, ada kekuatan lain yang muncul. 

“Menjadi bertanggung jawab juga tidak seburuk itu.”

Hal yang kami berdua rasakan bersama adalah rasa tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai OSIS untuk membuat festival budaya ini sukses. Dan juga, tanggung jawab karena kami dipercayakan untuk acara ini

Dulu, aku mungkin akan merasa cemas tentang hal-hal seperti ini, tetapi…… sekarang berbeda. Daripada merasa tegang, perasaanku lebih kuat untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan. 

“Ayo pergi?” 

“Ya.” 

Sesuai isyarat dari staf, kami melangkah ke panggung.

 

◆◆◆◆

 

Di atas panggung aula yang sunyi, terbentang tatami berukuran empat tatami. Di atasnya, dua orang, seorang pria dan seorang wanita, duduk bersila. 

Keduanya melakukan penghormatan yang indah dan anggun, menunjukkan gerakan yang luwes dalam suasana yang tegang. Di bawah tatapan tak terhitung dan cahaya sorot, mereka memperagakan tata cara upacara minum teh. 

Mereka berdua tidak saling bertukar kata. Meski begitu, keduanya saling memahami dengan sempurna. 

Tata cara upacara minum teh mewujudkan prinsip-prinsip harmoni, rasa hormat, kemurnian, dan ketenangan. 

Harmoni berarti saling membuka hati satu sama lain. 

Rasa hormat berarti saling menghormati satu sama lain

Kemurnian berarti bersih dalam penampilan dan hati. 

Ktenangan berarti tetap tenang dalam situasi apa pun. 

Mereka berdua benar-benar mewujudkan nilai-nilai harmoni, rasa hormat, kemurnian, dan ketenangan. Ada hubungan saling percaya yang terlihat jelas di antara suasana yang serius. Dan dari situlah tercipta gerakan-gerakan yang indah dan menenangkan. 

Ruangan seluas empat setengah tikar itu diubah menjadi tontonan artistik yang megah. Yuri dan yang lainnya yang melihat pemandangan itu dari kursi penonton dibuat ternganga. 

“…… Hebat sekali~” 

“Tomonari juga, tapi wanita itu juga terlihat sangat anggun.” 

Toshima dan Itabashi mengamati panggung dengan penuh kekaguman. Kedua orang di atas panggung bersinar di bawah sorotan lampu. Serangkaian gerakan yang serius berlangsung dalam suasana yang tegang. Hal tersebut bisa membuat penonton merasa tegang, tetapi entah kenapa, mereka merasa tenang dan bisa menyaksikannya sampai akhir. 

Mereka bisa merasakan konsentrasi dua orang tersebut. Sepertinya mereka tidak akan gagal. 

……………… Aku jadi penasaran dengan rasanya.” 

Sementara semua orang terfokus pada penampilan mereka berdua, hanya Yuri yang mengeluarkan komentar yang tidak pada tempatnya. 

Itabashi dan Toshima cuma bisa tersenyum kecut. …… Namun, Yuri mengamati panggung dengan tatapan yang sangat serius, jadi tidak ada yang bisa mereka katakan. Wanita ini, baik atau buruk, terlalu fokus pada masakan. 

Dan ada seorang pemuda yang tergerak oleh ketekunannya

Hi-Hirano-san lebih suka orang yang bisa melakukan hal seperti itu?” 

Sumida bertanya dengan suara pelan agar tidak mengganggu penonton di sekitar. 

“Apa maksudmu dengan hal seperti itu?” 

“Maksudku…… semacam hobi yang unik.” 

Saat mengatakannya, Sumida merasa ungkapannya tidak tepat. Hobi yang unik.…… Apa yang dimaksud dengan unik? Unik dalam hal apa? 

“Hmm…… ya. Tidak semua yang unik itu baik, tetapi……” 

Yuri tampaknya memahami nuansanya dan menjawab sambil berpikir. 

Maksudku, aku juga memiliki rencana hidup yang sedikit tidak biasa, jadi aku mengerti…… tetapi tetap saja, ada daya tarik yang normal. Jika semua orang melihat ke kanan, apa aku juga harus melihat ke kanan, ya……?” 

Sumida tentu saja tahu tentang rencana hidup Yuri. Mengejar impian untuk menjadikan restoran keluarganya menjadi jaringan ritel nasionalItulah jalan yang dipilih Yuri. Berbeda dengan siswa lainnya, Yuri tidak bergabung dalam klub, dan sepulang sekolah, dia tidak menghabiskan waktu di kelas dengan teman-temannya, tetapi langsung pulang untuk membantu usaha keluarganya. 

Namun, Sumida tahu. Bahwa Yuri kadang-kadang menunjukkan wajahnya yang kesepian. Daya tarik yang normal. Apa itu bisa dibayangkan oleh orang biasa? 

“Jadi, ketika melihat orang-orang yang melawan hal seperti itu, aku merasa sedikit terinspirasi. Seolah-olah, aku merasa bisa melihat ke kiri juga……” 

“…… Apa Tomonari seseorang yang melihat ke kiri?” 

“Dia memang ada sisi itu sejak lahir.” 

Yuri menjawab sambil tertawa. 

Sumida juga mengetahui sedikit tentang situasi tersebut. Itsuki berasal dari keluarga yang miskin, dan dirinya tidak bisa pergi ke sekolah jika tidak bekerja setiap hari. 

Bukan dalam arti baik, tetapi dalam arti buruk, ia tidak bisa menjadi orang biasa sejak awal. 

“Sepertinya Itsuki…… sebenarnya selalu ingin melihat ke kanan. Tetapi hal itu tidak mungkin, dan ia hanya bisa berjuang untuk hidup…… kemudian, dirinya mendapat uluran tangan dari orang-orang yang melihat ke kiri.” 

Ketika melihat wajah Yuri saat dia berbicara, Sumida menyadari sesuatu

Sebenarnya…… dia ingin menjadi orang yang mengulurkan tangan.

Yuri seharusnya bisa melakukannya. Jika Itsuki juga bisa mengulurkan tangan kepada Yuri, dia pasti tidak akan ragu untuk meraihnya. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Karena kesalahan kecil, orang yang tidak terduga justru mengulurkan tangan kepada Itsuki. 

Hasil dari situasi ini adalah pemandangan yang ada sekarang――

Seharusnya, di panggung seharusnya cuma ada Itsuki dan Yuri saja

“Yah, saat ini kami memang menjadi minoritas di tempat ini!” 

Sumida sangat menghormati Yuri dari lubuk hatinya karena mengatakan itu dengan begitu ceria. Yuri tidak menyangkal pertemuan ini. Dia juga tidak merasa iri. Alasannya mungkin…… karena saat ini Itsuki terlihat bahagia. 

Perasaan tulus Yuri menyentuh hati Sumida. 

“H-Hirano-san!!” 

Sumida mendekatkan wajahnya kepada Yuri. 

“Di pihak kanan juga ada orang-orang yang luar biasa!!” 

Yuri tampak sedikit terkejut dan membuka matanya lebar. 

Suasananya menjadi hening sejenak

Dengan jantung yang berdebar, Sumida mendengar suara Toshima dari samping. 

“Ada apa, Sumida-kun~? Kamu sedang membicarakan politik~?” 

“Tidak, tidak, tidak, tidak……!!” 

Kesalahpahaman itu cukup berbahaya, jadi Sumida menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga. Tepat pada saat itu, pertunjukan upacara minum teh pun berakhir. Suara tepuk tangan bergema, dan Itsuki serta Narika membungkuk sebelum bergerak ke sisi panggung. 

Apa dirinya diselamatkan atau melewatkan kesempatan? Dalam keadaan Sumida yang tidak sepenuhnya percaya diri, Yuri tersenyum lembut. 

“Terima kasih.” 

――!” 

Senyuman lembutnya itu membuat Sumida kembali jatuh cinta padanya

Sumida menyukai sisi-sisi seperti itu dari Yuri.…… Penuh semangat, perhatian, dan tidak menunjukkan kelemahan. Namun sebenarnya, dia sedang berjuang dengan masalah yang tidak diketahui orang lain. 

Meskipun tubuhnya mungil, dia sangat dewasa. Sumida merasa hal-hal seperti itulah yang membuatnya luar biasa. 

“Baiklah!! Sepertinya Itsuki ada urusan sebentar, jadi kita harus pergi ke suatu tempat!!” 

“Ya, ya, ya!! Hirano-san!! Aku ingin makan!!” 

“Aku juga ingin makan~!! Apa ada parfait yang penuh dengan serbuk emas enggak ya~!?” 

“Itu mungkin lebih baik dimakan di Kanazawa…… tetapi kita harus menikmati kuliner.”  

“Ah, sial, aku telah memicu semangat koki dalam diri Hirano-san.” 

Melihat Yuri yang tampak seperti binatang buas dengan mata yang tajam, Itabashi dan Toshima merasa menyesal. Meskipun pernyataan Yuri setengahnya mungkin hanya untuk meramaikan suasana, Sumida merasa setengah lainnya mungkin serius. 

Yuri sudah terbiasa untuk bertingkah kuat. Dia mungkin ingin seperti itu juga. Tapi dia mungkin perlu melampiaskan emosinya di suatu tempat. 

Saat ini, mungkin Itsuki yang memikul beban itu. 

Seandainya aku bisa melakukannya. Sumida berpikir demikian.

 

◆◆◆◆

(Sudut Pandang Itsuki)

 

Penampilan kami berakhir dengan sambutan meriah, dan kami beristirahat sejenak. 

“Bagus. Sepertinya mereka menikmatinya.” 

“Ya. Ini sangat memuaskan.” 

Aku melakukan tos ringan dengan Narika. 

Aku melihat ke arah Yuri dan yang lainnya dari sisi panggung. Saat itu, para staf sedang membagikan teh dan kue, dan Yuri sedang minum teh dengan tatapan tajam seperti seorang kritikus. 

Pertunjukan kabuki selanjutnya pasti juga akan menarik, tetapi…… dengan kepribadian mereka, mungkin saatnya mereka ingin menikmati sesuatu yang berbeda. 

“Narika, apa kita harus berbicara dengan Yuri dan yang lainnya?” 

“…… Tidak, kali ini sebaiknya tidak. Aku tidak ingin terlalu mengganggu mereka.” 

“Oh, tak disangka Narika bisa membaca suasana.” 

“Apa maksudmu?” 

Sambil tertawa, kami berkeliling ke belakang panggung dan keluar ke aula. Pada saat itu, pandangan mataku bertemu dengan tatapan Yuri. 

Yuri memberi acungan jempol tanpa kata, jadi aku juga membalas dengan jempol. Yuri tersenyum lebar. 

Walaupun aku sudah terbiasa dengan hal ini, tetapi Narika adalah seorang Ojou-sama sejati. Meskipun Yuri baik-baik saja, aku tidak tahu apa ketiga orang lainnya akan merasa gentar ketika melihat Narika. 

Sepertinya tidak ada masalah, tetapi…… melihat betapa senangnya teman-teman lamaku saat ini, aku merasa mungkin aku juga bisa bersenang-senang seperti ini. 

Apalagi orang-orang di sekitar kami adalah orang-orang dari kalangan atas. Aku tidak ingin mereka merasa terlalu berbeda…… jadi mungkin hari ini kami bisa menikmati acara dalam hubungan yang akrab. 

Oke, jadi sekarang giliran kita, ya?”

Melihat Narika memiringkan kepalanya, aku melanjutkan.

Setelah ini, kita berdua seharusnya berkeliling di akademi untuk berpatroli, kan? ...Dengan alasan itu, kita juga bisa menikmati festival budaya sedikit. 

...Rasanya agak aneh. Biasanya, aku tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Itsuki yang serius.

Ada hal-hal yang tidak bisa dilindungi hanya dengan bersikap serius. 

Keseriusanku mungkin setengahnya berasal dari keinginan untuk berkembang, tetapi setengahnya lagi berasal dari rasa minder. Namun, setelah merenungkan bahwa aku tidak bisa terus-menerus bersikap negatif dalam pemilihan OSIS, aku merasa sedikit demi sedikit mulai memiliki kepercayaan diri yang benar. Mengubah cara berbicara juga merupakan bagian dari proses itu. 

Sebagai panitia pelaksana, penting untuk membuat semua orang menikmati festival budaya, tetapi... saat ini, yang ingin kujaga adalah kesempatan untuk menikmati festival budaya bersama Narika.

“Jadi, kita akan pergi kemana?” 

Hmm, Narika tampak berpikir keras. 

Dua orang yang mengenakan lencana OSIS mungkin akan mendapat reputasi buruk jika terlalu banyak bermain, jadi aku ingin menjaga nama baik patroli kami. 

Kalau begitu, sepertinya lebih baik menikmati pertunjukan yang sulit terlihat dari luar. Saat aku memikirkan beberapa pilihan, Narika dengan mata berbinar berkata, 

“Itsuki!! Aku ingin pergi ke akuarium!!”

Itu bukan kata-kata yang biasanya muncul di festival budaya, pikirku, sambil mengangguk dan berkata, Baiklah.

 

◆◆◆◆

 

Akuarium Digital Laut Dalam. Sebuah fasilitas besar yang dibangun di sudut lapangan. Setelah melihat papan namanya, kami masuk ke dalam. 

“…… Luar biasa. Rasanya benar-benar seperti berada di dalam laut.” 

“Ya!! Rasanya seru sekali, Itsuki!!” 

Aku terpesona oleh pemandangan di sekeliling. Tempat itu adalah laut dalam yang dipenuhi cahaya dan suara. Dari dinding, langit-langit, hingga lantai, seluruh ruangan dilapisi layar hitam mengkilap. Dalam kegelapan, kumpulan ubur-ubur bercahaya, ikan raja yang besar, dan ikan laut dalam yang belum pernah kulihat sebelumnya, berenang dengan anggun seolah menyambut kami. 

Dengan teknologi pemetaan proyeksi dan suara 3D yang canggih, kami merasa seolah-olah dapat merasakan arus air saat ikan-ikan berenang melewati kami. 

Meskipun ini poyek pertunjukan dari kelas,…… generasi yang mengerikan benar-benar muncul. 

Sembari diterangi oleh cahaya kebiruan, kami menikmati perjalanan fantasi di bawah laut. 

“Teknologi visual saat ini sudah maju sejauh ini, ya……” 

“Berbeda dengan tulisan, gambar dapat mendukung banyak bahasa. Karena ada dampak dari kepariwisataan juga, banyak perusahaan yang berpartisipasi dalam bidang ini.” 

Penjelasan yang lebih rinci dari yang kuduga membuatku terkejut dan aku melihat Narika. Menyadari tatapanku, Narika membusungkan dadanya. 

“Kamu tahu banyak juga. Kamu mempelajari tentang ini?” 

“Ya. Sedikit karena pekerjaan. …… Tapi, aku takkan bisa memahami keindahan tanpa mengalaminya secara langsung. Aku sangat senang datang ke sini……!” 

Pandangan mata Narika tampak berkilau ketika mengikuti ikan-ikan yang berenang. Keluarga Narika memiliki toko peralatan olahraga, tetapi…… mungkin mereka juga mulai terlibat dengan teknologi visual baru-baru ini. 

“Ngomong-ngomong, Narika, apa orang tuamu tidak datang?” 

“Ayahanda dan ibunda? Mereka datang, tetapi……” 

Narika mengucapkan kata-kata dengan ragu. 

“…… Umm, ketika mereka mendengar tentang hubungan kita, mereka memutuskan untuk tidak bertemu kita supaya tidak mengganggu……” 

“…… Tunggu, tunggu, tunggu.” 

Wajah Narika yang diterangi cahaya biru tiba-tiba memerah. Aku merasakan keringat dingin mengalir. 

“Hubungan kita…… jangan-jangan, orang tuamu tahu? Bahwa…… Narika mengungkapkan perasaannya padaku……” 

“…………” 

Dengan wajah merah, Narika mengangguk kecil. 

“Y-Yang benar……!!” 

K-Karena Ibundaku bertanya, ‘Kamu terlihat senang belakangan ini?’ Ah, tidak, tidak. Jika dia menatapku dengan mata itu, aku tidak bisa menyimpan rahasia apapun darinya……!!” 

Narika memeganig kepalanya dan seketika berjongkok. Staf yang berada di dekat situ bertanya, “Ada apa?” jadi aku menggelengkan kepala untuk memberi tahu bahwa semuanya baik-baik saja. 

Sembari berusaha menyembunyikan rasa canggung dan malu, kami melanjutkan perjalanan. Saat kami berbelok di sudut―― seekor ikan pari besar melintas di depan kami. 

“Uwah!?!” 

“Wah!?!” 

Narika terkejut oleh ikan pari, dan aku terkejut oleh Narika.Aku merasakan suhu tubuhnya saat dia berpegangan padaku. 

Aroma jeruk yang samar-samar tercium. Mungkin body cream atau parfum…… Aku tiba-tiba merasakan sisi feminin Narika yang biasanya kucoba untuk tidak perhatikan, dan jantungku berdebar lebih cepat. 

“N-Narika, kamu terlalu dekat……!!” 

Ma-Maaf!! Aku tidak sengaja……!!” 

Narika buru-buru menjauh. Kami berdua tidak dalam keadaan tenang, jadi kami terkejut berlebihan. Wajah Narika kelihatan sangat merah sampai ke telinga, tetapi…… aku pun hanya bisa berusaha mempertahankan ketenangan. 

Pe-Pertunjukkan yang sangat realistis, ya……” 

“Ah, ya. Aku hampir saja mau meninju.” 

Tolong jangan. 

Jangan membangkitkan darah petarungmu di tempat seperti ini. 

“Eh, Itsuki, itu apaan ya?” 

Saat kami berjalan dengan berdebar-debar, Narika melihat ke depan dan berkata demikian. Ada layar display yang dipasang pada dinding yang lebih dalam, dan makhluk bulat berenang dengan santai di layar

“Sepertinya itu ubur-ubur?” 

“Bukan itu, lihat di bawah, lantainya bersinar.” 

Saat aku melihat ke arah yang ditunjuk, memang ada lantai yang bersinar putih samar di bawah display ubur-ubur yang berenang. Lampu yang menggantung di langit-langit menerangi titik itu seolah-olah berkata, “Silakan berdiri di sini.” 

“Bagaimana kalau kita menginjaknya?” 

Aku pikir itu pasti semacam mekanisme, jadi aku berjalan ke lantai bersama Narika. Begitu kami menginjak lantai, bukan hanya display di depan saja, tetapi dinding di kiri dan kanan juga mulai berkilau dengan proyeksi mapping. 

Semuanya berjalan sesuai rencana, tetapi――. 

“Eh?” 

“Ah!”

Proyeksi peta membentuk bingkai hati yang membungkusku dan Narika sepenuhnya. Dalam suasana yang redup dan misterius, akuarium di sekitar kami bersinar dengan warna merah muda. Berkat itu, kami menarik perhatian semua pengunjung lain. 

Ini…… adalah semacam atraksi yang cocok untuk sepasang kekasih…… 

Saat diperhatikan lebih dekat, aku menyadari bahwa bingkai layar yang menampilkan ubur-ubur juga berbentuk hati. Aku tidak menyadari hal ini karena terkejut dengan ikan pari yang besar. 

“Y-Ya ampun…… ini benar-benar membuatku dilema.” 

Narika berkata sambil tersenyum lebar, seolah tidak merasa bingung sama sekali. 

“Ah…… ta-tapi, Itsuki, sepertinya kita bisa mengambil foto di sini! Sayang sekali jika tidak diabadikan!”

“…… Kamu berpura-pura bermasalah, tetapi sebenarnya sangat antusias, kan?” 

“…………………… Apa maksudmu?” 

Narika memalingkan wajahnya. 

Dasar gadis ini……!! 

Narika sebenarnya sangat senang dengan situasi ini. Dan kenyataan itu semakin membuatku gelisah. Meskipun ini ditujukan untuk pasangan, pengaturannya tetaplah indah, dan aku merasa sangat tidak sopan jika menolak untuk berfoto di sini, jadi aku mengeluarkan smartphone. Aku menempatkan smartphone secara horizontal di stand yang ditunjuk Narika, mengatur timer, dan kami berdua berfoto. 

“W-Woahhhh……! Itsuki, segera kirimkan padaku!” 

“…… Ah.” 

Kami berhasil mendapatkan foto yang sangat bagus…… 

Ini akan menjadi kenangan yang bagus, dan aku tidak merasa menyesal…… 

“Fu-Fufufu…… terima kasih, Itsuki. Aku akan menjadikan ini sebagai harta karun.” 

Setelah mengirim foto, Narika memeluk smartphone-nya dengan penuh hati-hati di dadanya. Tanpa sadar, aku mengusap dahiku. 

(…… Dia imut sekali.) 

Aku tidak ingin dia menjadi terlalu agresif setelah merasakan respons yang aneh, jadi aku tidak berniat mengatakannya. Namun, sejak tadi aku sudah merasakannya. 

Aku sudah mengetahuinya dengan betul bahwa Narika adalah wanita yang menarik. Ada banyak hal yang ingin kucoba, jadi aku menunda hal-hal tersebut…… tetapi ada suara lain di dalam hatiku yang berbisik. 

――Ayo, jadian saja

Rasanya lebih menyenangkan dan seru jika kalian jadian tau~

Kamu juga ingin melakukan hal-hal seperti itu dengan Narika, kan~

…… aku menghadapi suara-suara seperti itu setiap hari. 

Narika tidak pernah tahu. Dia tidak tahu seberapa keras aku berusaha untuk tetap rasional……!! 

“Ngomong-ngomong!! Mari kita beralih topik!!” 

“Y-ya!!” 

Demi mengalihkan perhatianku, aku ingin berbicara serius. Keseriusanku berasal dari sepertiga dorongan untuk berkembang, sepertiga dari rendahnya penilaian diri, dan sepertiga sisanya adalah konsentrasi mental. 

“Apa di perusahaan Narika juga ada pekerjaan di bidang visual? Kamu tadi bilang ada yang kamu pelajari karena pekerjaan, kan?” 

“Ah, ya. Itulah yang ingin kubahas.” 

Narika berdeham dengan sengaja sebelum membuat ekspresi serius. 

“Sejujurnya, itu bukan pekerjaan yang dilakukan oleh keluargaku. Ini adalah rencana bisnis yang kupikirkan secara mandiri.” 

“Secara mandiri……?” 

“Ini mirip dengan apa yang pernah kita lakukan di permainan manajemen. Bisnis penjualan barang elektronik yang sedang dijalankan oleh Taishou-kun dan Asahi-san. …… Aku juga ingin melakukan hal seperti itu.” 

Meskipun masih menjadi siswa, tapi dia berusaha untuk menciptakan bisnisnya sendiri. Aku mengerti apa yang dilakukan Narika, tetapi…… yang membuatku bertanya adalah, mengapa dia melakukannya. 

“…… Karena aku tidak bisa menjadi ketua OSIS.” 

Narika mengucapkan itu dengan pelan. 

“Bukan tidak bisa, tetapi tidak mau, iya ‘kan?” 

“…… Benar. Jika aku melihatnya secara negatif, itu akan tidak sopan kepada Itsuki yang menyemangatiku, dan kepada Nishi-san yang menyerahkan posisinya kepadaku.”

Narika menatap ubur-ubur yang berenang dengan tatapan serius. 

“Aku tidak sepenuhnya yakin bahwa penyebabnya karena aku tidak bisa menjadi ketua atau karena alasan lain. Namun, ketika melihat Tennouji-san yang bekerja dengan baik sebagai ketua OSIS dan Itsuki yang membantunya, entah bagaimana, aku merasa…… aku juga tidak boleh kalah. Aku ingin mempersiapkan diri sekarang agar di masa depan kita bisa berjalan berdampingan seperti ini.” 

Cahaya biru menyinari wajah Narika. 

Dia ingin berjuang lebih keras agar bisa berdiri sejajar dengan orang lain. Aku sangat memahami perasaan itu lebih dair siapapun. Memiliki seseorang dengan semangat yang sama di dekatku adalah sebuah keberuntungan. 

“Aku juga merasakan semangat untuk tidak kalah.” 

“Kalau begitu, aku tidak akan kalah lebih dari itu!!” 

“Kalau begitu aku juga…… eh, ini bisa menjadi lingkaran tanpa akhir.” 

Jika kami terus berputar dalam lingkaran ini, pada akhirnya kami hanya akan merusak tubuh kami sendiri. Aku merasa sudah berusaha cukup keras. Namun, akhir-akhir ini, aku merasakan ada tembok yang tidak bisa dilalui hanya dengan usaha saja. Kemampuan untuk melihat masa depan. Itu juga penting. 

“…… Persiapan untuk masa depan, ya. Aku juga selalu memikirkannya, tetapi aku belum memiliki visi yang jelas.” 

Kamu ingin menjadi apa, Itsuki?” 

“Aku ingin menjadi konsultan, tetapi……” 

Saat mengatakannya, aku berpikir mungkin dengan menyebutkan jabatan spesifik, aku malah mempersempit pandanganku. Aku hanya ingin menjadi orang yang bisa mendukung Hinako, Tennouji-san, Narika, dan Yuri. 

Jika aku bisa mencapai tujuan itu, mungkin gelar bukanlah yang terpenting. 

Misalnya saja…… seperti menjadi sekretaris Narika. 

“…… Sebagai referensi, apa Narika memiliki gambaran tentang apa yang ingin kamu lihat dariku?” 

Ketika aku bertanya demikian, Narika dengan malu-malu mengalihkan pandangannya. 

“Y-Ya, tentu saja…… aku ingin kamu menjadi suamiku.” 

“…… Bukan dalam artian begitu, aku ingin berbicara serius sekarang.” 

Ak-Aku juga sedang melakukan pembicaraan serius tau!” 

“Memang benar! Tapi, maksudku……” 

Tolong jangan!! 

Jangan membuat otakku semakin pusing!! 

“Pekerjaan! Batasi pada pembicaraan kerja saja!” 

“Ugh…… padahal aku menemukan jalan keluar yang baik……” 

Jangan tampak begitu enggan. 

“Kalau tentang pekerjaan, aku akan senang jika kamu berada di posisi yang bisa kuandalkan. Menjadi konsultan terdengar jelas dan baik, tetapi…… apa kamu sedang bingung?” 

Ketimbang bingung, lebih tepatnya aku belum sepenuhnya memutuskan.” 

“Begitu ya. Namun, aku percaya kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan loh, Itsuki!!” 

Kepercayaanmu kepadaku terlalu kuat sehingga terasa dangkal.” 

“Benarkah!?” 

Narika membulatkan matanya seolah merasa tidak percaya, dan aku tidak bisa menahan tawa. 

Kita sudah memasuki paruh kedua masa kelas dua…… mungkin aku harus memikirkan masa depan dengan lebih konkret.” 

“Bagaimana dengan teman-teman lamamu, Itsuki? Pendapat mereka juga bisa menjadi referensi.” 

Memang benar. Mendengar pendapat dari tempat lama juga tidak buruk. Jika ada sesuatu yang berharga dari masa lalu yang tanpa sadar kubuang, mereka pasti bisa memberitahuku. 

…… Ngomong-ngomong. 

Aku ingat bahwa Itabashi bilang, “Aku punya sesuatu untuk dibicarakan.” 

Meski pada akhirnya, aku tidak sempat mendengar isi pembicaraannya…… tapi aku akan bertanya lagi nanti. 

Kami emalngkah keluar setelah pameran terakhir di akuarium selesai. Merasakan sinar matahari yang menyilaukan, aku dan Narika menyipitkan mata. Meskipun hanya melihat satu pameran, kami merasakan resonansi seperti setelah menjelajahi taman hiburan. 

Tadi itu rasanya menyenangkan.” 

“Ya. Festival budaya yang bagus.” ucap Narika dengan tulus. 

Pameran akuarium digital laut dalam ini memiliki perjalanan yang panjang sebelum mencapai penyelesaian. Awalnya, sepertinya mereka ingin menggunakan ikan asli, tetapi karena masalah bau, mereka memutuskan itu sulit, lalu muncul ide untuk menggunakan robot, tetapi karena keterbatasan waktu, itu juga dianggap sulit. 

Sebagai hasilnya, mereka memutuskan untuk fokus pada proyeksi layar dan suara, serta menyempitkan tema besar akuarium menjadi laut dalam untuk menciptakan kesatuan. 

Di sepanjang jalan, aku melihat siswa lain dan pengunjung, dan semuanya tampak bersenang-senang. Persiapan festival budaya memang sangat sulit, tetapi sekarang kami sedang menerima imbalan dari usaha tersebut. 

“Setelah ini, aku akan membantu Tennouji-san……” 

“Aku ada pekerjaan di ruang OSIS……” 

Kami saling tersenyum. Kami berdua sama-sama sangat sibuk. Sebelum aku membuka mulut, Narika sudah berkata. 

“Kita harus saling semangat.” 

Dia sudah mengatakannya lebih dulu. Aku menatap punggung Narika yang berbalik dan menuju ruang OSIS. Dulu, sepertinya aku yang selalu berkata padanya, “Ayo, semangat!” 

Bersama Narika, aku bisa merasakan bahwa orang bisa berubah. 

Narika seperti…… matahari yang terlihat setelah keluar dari kegelapan. 

(…… Ini terlalu puitis.) 

Mungkin aku terpengaruh oleh suasana romantis di akuarium. Aku lalu menuju ke gymnasium tempat Tennouji-san menunggu.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama