Chapter 2 — Ketua dan Wakil Ketua
Setelah
berganti pakaian di ruang ganti, aku memasuki gymnasium. Tempat itu bukan lagi ruang yang
familiar seperti saat pelajaran biasa.
Ada banyak
lampu gantung kristal tergantung di langit-langit yang tinggi, dan
kilauannya memantul di lantai yang mengkilap seperti langit berbintang. Di atas
panggung, orkestra yang mengenakan pakaian tuxedo memainkan melodi lembut, dan
di atas irama tersebut, para wanita berpakaian gaun indah melangkah dengan
anggun. Aroma
parfum yang harum dan suara gesekan kain berpadu, menciptakan suasana pesta dansa yang autentik.
Aku
melangkah ke dalam ruang yang tidak biasa ini.
“――Aku sudah
menunggu kedatanganmu, Tomonari-san.”
Suara
yang indah menyusup di tengah keramaian. Kerumunan secara alami terpisah
ke kiri dan kanan, dan dari dalam, sosok Tennouji-san
muncul.
Wanita
yang mengenakan gaun merah tua itu bersinar lebih terang daripada permata mana
pun di ruangan itu. Rambut pirangnya yang tergerai, kulitnya yang seputih
porselen, dan yang paling penting, kepercayaan diri yang terpancar dari
matanya……
Hanya
dengan keberadaannya, suasana di ruangan itu terasa lebih tegang dan
berkilau.
“Maaf,
aku sudah membuatmu menunggu.”
“Fufu……
jika kamu perlu waktu untuk bersiap, aku bisa menunggu sedikit lebih
lama.”
“Aku baik-baik saja.”
Aku
menggelengkan kepalaku kepada Tennouji-san
yang tersenyum santai.
“Aku
tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”
“…….!!”
Wajah Tennouji-san
yang sebelumnya tenang kini terlihat jelas memerah.
“Kamu,
benar-benar mengatakan itu. Tadi itu sedikit……
membuatku terkejut.”
“Kalau
begitu, aku senang bisa mengatakannya.…… Melihat postur percaya diri Tennouji-san,
aku juga ingin berani lebih hari ini.”
“H-Hmph. Itu adalah sikap yang sangat
berani.”
Wajah Tennouji-san kelihatan memerah, tampak canggung.
Pertunjukan
kelas 2C adalah tarian sosial yang sesuai dengan penampilannya. Di festival
budaya Akademi Kekaisaran, hal ini dianggap sebagai salah satu
daya tarik utama, bersanding dengan teater dan paduan suara.
Sembilan
dari sepuluh kemungkinan, pertunjukan ini dipilih karena ada Tennouji-san.
Faktanya, Tennouji-san tampaknya juga memberikan pelajaran tari kepada
teman-teman sekelasnya sambil menjalankan tugas OSIS.
Sebelumnya,
aku juga pernah diajari menari
oleh Tennouji-san. Teknik yang diasah saat itu masih mengalir dalam tubuhku
hingga kini. Saat aku
melirik sekeliling, ada banyak
orang yang menatapku dan Tennouji-san.
Putri
dari Grup Tennouji. Ketua OSIS Akademi Kekaisaran.
Tokoh sentral di kelas C. Ahli tari. Rambut pirang berombak seperti di manga. Ada banyak alasan mengapa kami
menarik perhatian. Seberapa
banyak aku bisa membuat permata yang luar biasa ini bersinar... semuanya
tergantung padaku.
“Kita
bisa mulai kapan saja,
kan?”
“Ya.”
Tanpa
disadari, kami saling mendekatkan
jarak.
“Silakan
pimpin, aku mengandalkanmu.”
“Aku
serahkan padamu.”
Ketika
aku dengan hormat mengulurkan tangan, dia meletakkan jari-jarinya di atas
tanganku dengan anggun. Tatapan
orang-orang di sekitar kami tertuju pada kami. Para
siswa, orang tua, dan orang-orang penting dari dunia politik
dan bisnis. Ada banyak
mata menatap tajam, tetapi anehnya, aku tidak merasa gentar.
Itu
karena aku bisa merasakan kehangatan dan tekad yang kuat terpancar dari telapak
tangan Tennouji-san.
Dirigen
orkestra mengangkat tongkatnya. Kami mulai berlayar ke lautan
suara dan cahaya.
“…… Menyajikan pertunjukan langsung adalah
keputusan yang tepat.”
“Ya. Kata ‘Festival’ dalam
festival budaya berarti
tentang sebuah perayaan.”
Akademi Kekaisaran adalah sekolah tempat
berkumpulnya putra dan putri dari keluarga kaya. Para siswa di sini pandai
menunjukkan keanggunan mereka, tetapi
jika berlebihan, suasana bisa terasa menekan.
Demi
mengurangi ketegangan itu, kami menyediakan kehangatan melalui pertunjukan
langsung.
Tarian
sosial ini bersifat partisipatif. Kami ingin tidak hanya siswa, tetapi juga semua
tamu merasa nyaman untuk ikut serta. Kami tidak meminjamkan gaun, jadi tidak
masalah jika mereka memakai pakaian bebas untuk menari.
Setiap
kali berputar, gaun merah tua Tennouji-san bermekaran seperti bunga. Jejak merah yang tertinggal
menghiasi pandangan orang-orang. Di
tengah-tengah tarian, aku melihat sekelompok orang di sudut lantai dansa.
Yuri,
Itabashi, Toshima, dan Sumida.
Menyadari
tatapan teman-teman lamaku, aku tersenyum.
――Tolong
lihat kami.
Aku bergumam sendiri di dalam hatiku, dan memperbaiki posisi tubuhku. Saat aku bersekolah di SMA Ryuguu, aku tidak bisa
menghabiskan waktu bersama mereka karena bekerja paruh waktu. Aku ingin mengucapkan terima
kasih atas kebaikan mereka yang tidak meninggalkanku.
Setidaknya……
aku ingin menjadi teman yang bisa mereka banggakan.
Suatu
hari nanti, aku akan menunjukkan diriku cukup mencolok agar mereka bisa
bercerita tentang pengalaman ini kepada teman sekelas.
“…… Ekspresimu terlihat sangat bagus.”
Di
dekatku, Tennouji-san tersenyum dengan percaya diri. Hanya dengan melihat senyumannya, aku merasa seolah energi tak
terbatas mengalir dalam diriku. Kami
merasakan napas satu sama lain, menyatu
dengan musik, dan terus menari sebagai bintang di lantai. Ketika lagu berakhir, suasana
hening menyelimuti.
Setelah
jeda sejenak, tepuk tangan yang menggelegar mengguncang aula.
“…… Kurasa ini juga memberikan efek promosi yang bagus, bukan?”
“Ya. Sempurna sekali!”
Tennouji-san
tertawa ceria.
Dalam
pemilihan OSIS, Tennouji-san
berjanji untuk mengadakan kursus etiket bagi para siswa.
Tarian
sosial kali ini juga berfungsi untuk mempromosikan pelajaran tari yang akan
datang.…… Mungkin kedengarannya agak
licik, tetapi jadwal para anggota OSIS
sudah sangat padat. Kami harus menggabungkan berbagai hal agar bisa berjalan
bersamaan.
“Sekarang,
dari sini……”
“Bergabung
dengan staf, kan?”
Kami berdua berpisah di sini. Setelah menunjukkan bahwa kami
bisa menari, kami akan menjadi anggota staf yang menjadikan diri kami pasangan
bagi tamu yang ingin menari.
Tennouji-san
segera didekati oleh banyak orang.
Aku
melirik ke arah teman-teman lamaku.
Mereka
tampak sedikit canggung, tetapi sepertinya mereka akan ikutan jika aku mendekati mereka. Saat aku berpikir untuk
mendekat――.
“T-Tomonari-san!”
Seseorang
yang tidak kukenal memanggilku.
“Umm, jika kamu tidak keberatan, maukah kamu
menari denganku?”
“…… Ya.
Jika kamu tidak keberatan denganku.”
Sepertinya
dia adalah siswi Akademi Kekaisaran. Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tetapi
merupakan suatu kehormatan bahwa dia memilihku. Kami saling membungkuk dengan
hormat dan mulai berdansa..
Setelah
satu lagu selesai, aku dipanggil oleh gadis
lainnya.
“S-Selanjutnya,
aku ingin menari denganmu……!”
“Umm, aku juga ingin menari denganmu, Tomonari-san……!”
O-Oh?
Apa ini? Ada apa ini?
Ternyata
aku lebih populer dari yang kubayangkan……
(……
Mungkin karena aku menari dengan Tennouji-san, jadi orang-orang menganggapku
juga mahir berdansa.)
Aku harus
berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan……
Saat aku
menari dengan cemas, gadis yang
menjadi pasanganku menatap mataku.
“Sejujurnya,
aku selalu ingin berdekatan seperti ini denganmu, Tomonari-sa.”
“Kenapa
begitu……?”
“Karena
aku sering mendengar tentang prestasi Tomonari-san.…… Aku yakin kamu adalah
pria yang luar biasa.”
“…… Apa
aku barhasil memenuhi harapanmu?”
“Ya. Aku sangat puas…….”
Tatapan
matanya yang berkilau dan suara bisikan yang penuh gairah membuatku merasa seolah ada batasan
yang tidak boleh dilanggar di depan kami. Ketika aku terdiam dan tidak bisa
mengeluarkan kata-kata, siswi itu tersenyum kecil.
“Satu
lagu telah berakhir. Jika kamu mau, kita bisa menari lagi――”
“――Ahem!!”
Kami
berdua sama-sama terkejut dan menoleh mendengar
suara batuk yang tiba-tiba. Tennouji-san
berdiri di dekat kami dan terus batuk dengan keras. Tentu saja kami bukan tipe orang yang tidak mengerti
maksudnya.
“Baiklah, kalau begitu, aku
akan pergi sekarang……”
“Ah,
terima kasih……”
Gadis
itu segera pergi dengan cepat. Aku
menghela napas lega dan mengusap dadaku, kemudian Tennouji-san mendekat.
“I-t-s-u-k-i-san……!!”
“Y-ya……!!”
Dipanggil
dengan namaku, aku menyadari bahwa percakapan yang akan berlangsung ini adalah
pembicaraan rahasia. Saat
aku memperbaiki posisiku, Tennouji-san menghela napas dan berkata,
“Kurasa aku harus memberitahumu untuk jaga-jaga……
kita sudah memasuki pertengahan masa kelas
dua. Jadi, sudah
ada banyak siswa yang mulai
memikirkan masa depan dan mencari pasangan.”
“Mencari
pasangan maksudnya……?”
Tatapan Tennouji-san
menjadi tajam.
“Maksudnya
adalah mencari pasangan untuk menikah……!!”
“Be-Begitu……”
Jadi
maksudnya seperti itu.
“Secara pribadi, aku berpendapat kalau itu masih
terlalu awal…… Namun, di akademi ini, ada banyak murid
dari latar belakang yang cocok, jadi aku bisa memahami perasaan orang-orang
yang ingin menjadikan tempat ini sebagai ajang pertemuan.”
“Tapi aku
tidak memiliki latar belakang keluarga yang istimewa……”
Tatapan Tennouji-san
semakin tajam.
“Kamu
memiliki prestasi yang cukup untuk menutupi latar belakangmu!!”
Mendengar
itu membuatku senang, tetapi…… aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang
tidak kukenal pun berpikir demikian.
Rasanya
campur aduk, antara senang dan merasa tertekan. Aku tidak
pernah membayangkan bahwa suatu hari, para Ojou-sama dari
akademi ini akan menganggapku pantas sebagai calon suami mereka.
“……
Kenapa kamu terlihat terharu?”
“…… Maaf.”
Saat aku
terdiam, Tennouji-san menatapku dengan tajam.
“Ya ampun.…… Oleh karena itu, jangan mudah
terpengaruh. Di akademi ini, ada banyak Ojou-sama
yang memiliki semangat bebas seperti
binatang buas…… maksudku, mereka memiliki semangat yang kuat.”
“Y-Ya, aku mengerti.”
Justru
dari pandanganku, semua siswa di akademi ini adalah orang-orang yang penuh
semangat. Mulai sekarang,
semangat itu mungkin akan diarahkan untuk pernikahan di masa depan.
(…… Apa sekarang sudah saatnya
untuk mulai memikirkan masa depan seperti itu?)
Seperti yang dirasakan Tennouji-san,
aku juga merasa ini terlalu cepat, tetapi…… di sampingku ada seseorang yang
lebih cepat menyadari pernikahan.
Itu adalah Hinako.…… Hinako sudah lama berperan sebagai Ojou-sama yang sempurna untuk mencari
calon suami di masa depan. Menjaga
reputasi keluarganya. Mungkin bukan hal yang aneh bagi siswa di Akademi Kekaisaran untuk mencari pasangan hidup
yang lebih baik sebagai cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Berbeda
dengan Hinako, ada banyak dari mereka yang
benar-benar antusias. Aku harus berhati-hati agar tidak
terjebak dalam arus itu.
“……
Tetapi.”
Tennouji-san
bergumam pelan, dan aku memiringkan kepalaku sambil bertanya,
“Hm?”
“Jika
Itsuki-san memang berminat, aku……”
“……? Tennouji-san?”
“Bu-Bukan apa-apa.…… Mari kita terus
melayani tamu.”
Tennouji-san
pergi untuk mencari pasangan menari. Dia
tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tetapi…… mungkin nanti aku akan coba bertanya padanya dengan santai.
“――Itsuki~~!!”
Teman-teman
lamaku datang bergantian. Yuri
yang memanggilku tersenyum lebar dan menyikutku dengan siku.
“Kamu
bisa menari seperti itu, ya? Aku terkejut!”
“Aku
sudah berlatih.…… Kesempatan untuk menari sosial ternyata cukup banyak.”
Sebenarnya,
jika ada kesempatan untuk menari, aku hanya mengangkat tangan untuk ikut
serta.…… Tarian sosial di kalangan orang kaya mirip dengan kebiasaan merokok di
kalangan pegawai. Meskipun tidak ada masalah jika tidak melakukannya, jika kamu
melakukannya, kamu bisa berpartisipasi dalam tempat berkumpul yang disebut area merokok.
Aku tidak
bermaksud mendorong kebiasaan merokok, tetapi hal semacam ini tidak ada
salahnya jika dipelajari. Jika aku menghindari kesempatan menari, hubungan
sosialku mungkin akan berbeda dari sekarang.
“Apa
kalian juga ingin menari?”
“Ya.
Tapi, bukannya sulit
bagi Itsuki untuk menjadi pasangan semua orang?”
“Aturannya, kita bisa berpasangan dengan
siapa saja. Pertama-tama, aku
akan mengajarkan kalian cara
berdansa dulu, jadi mari kita coba
bersama-sama.”
Mungkin
sebaiknya aku harus berdansa dengan seseorang terlebih dahulu
dan menunjukkan contoh. Saat
aku melirik teman-teman lamaku, aku menyadari bahwa Toshima terlihat paling
bersinar di antara mereka.
“Toshima,
maukah kamu berdansa
bersamaku――”
“――Tunggu!!
A-Aku yang akan melakukannya!! Aku akan menari dengan Itsuki!!”
“Eh?
O-oh, baiklah. Kalau begitu, aku akan menari dengan Yuri.”
Yuri
menarik tanganku dengan paksa. Didorong
oleh semangatnya, kami mulai melangkah.
“Mendadak ada apaan sih?”
“……
Tunggu sebentar.”
Yuri
menari sambil mengarahkan pandangannya ke suatu tempat. Apa dia melihat Itabashi?
Setelah
menyadari tatapan mata Yuri, Itabashi mengangguk tiga kali.
“Sepertinya
tidak ada masalah, jadi aku akan memberitahumu.……
Sebenarnya, Itabashi berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada
Toshima-san hari ini.”
“Eh!?”
Aku
terkejut hingga hampir salah langkah. Jadi,
itu alasannya……
Ternyata
Itabashi menyukai Toshima-san……
“Aku
sudah diberitahu bahwa Itabashi ingin berkonsultasi, tetapi…… jadi ini yang
dimaksudnya.”
“Ya.…… Ia jatuh cinta pada pandangan
pertama padanya saat mendukung di pertandingan
klub bisbol.”
Aku bisa
memahami perasaan Itabashi. Toshima-san
adalah orang yang ceria dan tulus. Dia pasti memberi dukungan dengan sepenuh
hati. Jadi rasanya sangat mudah untuk
membayangkan bahwa Itabashi yang serius akan tertarik pada sosoknya.
“Itulah sebabnya, aku berharap kamu bisa
membantunya, Itsuki?”
“Tentu
saja.”
Aku
langsung menjawab.
“Hari ini
aku sudah memutuskan untuk membuat semua orang bersenang-senang.”
“Wah,
kamu bisa diandalkan.”
Aku
menggenggam tangan Yuri dengan lebih erat dan memutar tubuhnya.
“Yuri
juga harus bersenang-senang, oke?”
“Tentu
saja. Aku sudah bersenang-senang sejak lama……”
Yuri
sedikit mengerucutkan bibirnya.
“…… Tapi,
bukannya kamu terlalu terbiasa?”
Apa
maksudnya?
Secara
logis, mungkin dia membicarakan tentang tarian sosial.
“Sebetulnya,
aku sudah terbiasa.”
“Wah~”
Saat kami
menari, Yuri mendekatkan wajahnya.
“Tadi
juga, kamu didekati oleh gadis-gadis cantik.”
“Itu,
eh…….”
Saat dia
mengatakan itu, aku menyadari perkataannya. Yang dimaksud Yuri dengan
terbiasa adalah jarakku dengan
lawan jenis.
“…… Aku
hanya ingin memberitahumu, bahwa tarian sosial itu seperti ini. Awalnya aku
juga bingung, tetapi setelah terbiasa, rasanya menjadi
menyenangkan.”
“Hmm,
sepertinya aku takkan mendapatkan cukup pengalaman untuk terbiasa.”
Yuri
berkata dengan nada sedikit menjengkelkan.
“…… Kalau
begitu, bagaimana kalau kita menari saat kamu datang ke kediaman Konohana?”
“Eh?”
“Jika
dengan Yuri, aku bisa menari kapan saja.”
Aku ingin
menunjukkan seberapa
menariknya tarian sosial. Jika begitu, Yuri pasti akan mengerti. Bukan berarti
aku sedang berperilaku manja di depan lawan jenis.
Saat aku
menatap Yuri dengan serius, dia mengalihkan pandangannya.
“Ba-baiklah.
Akulah yang salah……”
“Bagaimana
kalau kamu benar-benar mencobanya? Ini juga bisa jadi olahraga yang baik.”
Ini juga
bisa jadi penyegaran. Saat
aku berpikir demikian, Yuri sengaja menginjak kakiku.
“Au!?”
“Memang,
ini bisa jadi olahraga, tapi!!”
Yuri
menggenggam tanganku dengan kuat.
“Aku
ingin kamu merasakan bahwa aku lebih spesial!!”
Yuri yang
mengatakan itu dengan wajah memerah membuatku juga mengalihkan pandangan. Bahkan jika kamu mengatakan hal
seperti itu……!!
Jika aku mulai merasa
kamu spesial, aku bisa kehilangan akal sehatku……!!
◆◆◆◆
Setelah berdansa dengan Yuri, orang-orang di
sekitar mulai berkumpul lagi.
(Aku ingin segera pergi……)
Saat aku
menoleh ke arah Tennouji-san, dia juga
berada dalam situasi yang sama. Bukan
hanya siswa saja, tetapi
orang tua dan tamu yang ingin menyapa juga mulai mendekat.
Siswa dari kelas 2-C mengumumkan supaya mereka tidak berkumpul di satu
tempat, tetapi…… sepertinya mereka tidak mendengarnya. Aku terlalu fokus pada
tarian sehingga tidak menyadari bahwa jumlah orang di gymnasium lebih banyak
dari yang diperkirakan.
…… Apa
yang harus kulakukan?
Aku
bertukar pandang dengan Tennouji-san. Kami
berdua menunjukkan ekspresi bingung, dan saat itu――.
“――Serahkan
saja kepada kami!!”
Suara
bariton yang jelas terdengar di telinga kami.
Kemudian, sepasang pria dan wanita muncul di hadapan kami yang terkejut. Seorang pria tampan dan wanita
muda yang cantik――.
“A-Ayahanda!? Ibunda!?!”
“Sungguh tarian yang indah, Mirei!! Yah,
kamu memang selalu cantik!! Wahahaha!!”
Rupanya
mereka adalah orang tua Tennouji-san, Masatsugu-san dan
Hanami-san. Kedatangan
mereka membuat aula ramai. Meskipun
sudah diperkirakan, mereka pasti memiliki banyak kenalan.…… Tentu saja, mereka
adalah orang tua Tennouji-san.
“Sudah
lama tidak bertemu ya,
Itsuki-kun. Meski ada banyak
yang ingin kami bicarakan, tetapi…… sekarang kami akan membantu kalian!”
“Eh?”
Di hadapanku yang kebingungan, Masatsugu-san dan Hanami-san
saling berhadapan.
“Yuk,
Mama. Mari tunjukkan kepada para pemuda tentang keindahan sejati.”
“Ya,
Papa. Mari kita bawa kalian ke dunia mimpi.”
Keduanya
berdiri di tengah gymnasium. Dalam
sekejap, mereka berubah menjadi satu kesatuan api. Tarian
tango yang intens, penuh semangat, dan sempurna hingga ke ujung
jari. Penampilan yang mengesankan dan ekspresi cinta yang meluap membuat
penonton terpesona.
Berbeda
dengan tarian waltz yang lambat, tango memiliki
tempo yang cepat, sehingga tidak semua orang bisa menari. Namun, tarian mereka
yang selaras tidak menunjukkan sedikit pun kesulitan. Dengan penuh kebahagiaan
dan kebanggaan menari di depan satu sama lain, mereka memancarkan gairah.
Gerakan
dinamis mereka mengalir seperti arus sungai. Arus tersebut mengikuti ritme dan
mengubah jalurnya. Ketika jalur berubah, ekspresi mereka juga berubah.
Sungguh
indahnya tarian itu……
Aku
melupakan segala posisi dan situasi, dan terpesona oleh tarian mereka.
“……
Tomonari-san.” suara
kecil Tennouji-san memanggil dari belakang.
Sial……
aku juga sampai ikut terpesona.
Sementara
semua orang terfokus pada tarian Masatsugu-san dan Hanami-san, aku dan Tennouji-san
diam-diam keluar dari gymnasium. Suara
gaduh perlahan menjauh, dan ketika ketenangan kembali, kami menghela napas
lega.
“Fufu……
rasanya seperti kita sedang kawin lari.
Menyelinap keluar dari pesta dansa untuk bisa berduaan.”
“……
Memang.”
Ini
adalah plot yang sepertinya ada di film-film lama. Saat aku memikirkan hal itu, Tennouji-san
mengembungkan pipinya.
“Jika
kamu benar-benar berpikir begitu, kamu
seharusnya merasa lebih malu.”
Meskipun
dia mengatakan itu……
“…… Jika
aku merasa malu sekarang, mungkin itu
akan mengganggu patroli kita
nanti……”
Mendengar
penjelasanku, Tennouji-san tertawa kecil.
“Benar
juga. Kita masih harus patroli setelah
ini.”
“Ah, ya.
Kami harus mulai patroli sekarang……”
Kami
saling memandang dan tertawa. Sebenarnya,
para anggota OSIS
sebelumnya juga tampaknya menikmati festival budaya dengan alasan patroli. Baik
siswa maupun guru sepertinya mengetahui hal ini dan membiarkannya.
“Tennouji-san,
apa ada tempat tertentu yang ingin kamu kunjungi
saat berpatroli?”
“Ya!! Aku
sudah mencari tahu!!”
Tennouji-san
dengan mata bersinar mengumumkan.
“Aku ingin
pergi ke rumah hantu!!”
Aku
membelalakkan mata karena terkejut mendengar usulannya
yang tak terduga.
◆◆◆◆
Di pintu
masuk rumah hantu yang menggunakan ruangan siswa
kelas satu, terdapat
papan nama menyeramkan yang bertuliskan
'Rumah Sakit Terkutuk yang Terbengkalai'. Dari pintu masuk yang tertutup tirai hitam,
terkadang-kada
terdengar jeritan “Kyaaa!!”
Aku dan Tennouji-san
menelan ludah mendengar jeritan itu.
…… Kami berdua sudah sampai di rumah hantu.
Karena kami anggota OSIS, jadi tentu saja kami mengetahui
gambaran umum tentang rumah hantu ini. Meskipun begitu, sama seperti aku yang
pergi ke akuarium dengan Narika, kami tidak tahu tentang pengaturan spesifiknya.
Kurasa Yodogawa lah yang memeriksa pengaturan pertunjukan ini.
――Pertunjukkannya cukup
menakutkan!! Aku yakin ini pasti
akan populer!!
Begitulah
yang dikatakan Yodogawa dengan bersemangat, tetapi……
“Ka-Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam?”
“Y-Y-Y-Y-Y-Y-Y-Y-Ya, ayo……”
Kami sudah
merasakan ketakutan sebelum masuk, dan kami
pun melangkah maju. Setelah melewati tirai hitam,
kami masuk ke dunia gelap yang sunyi, seolah-olah
segala kebisingan dunia luar tidak pernah ada.
Aroma disinfektan yang samar dan suara air aneh yang terdengar dari mana saja
semakin menambah rasa takut kami.
Konsep
rumah hantu ini adalah rumah sakit yang terbengkalai,
sesuai dengan judulnya. Properti di dalamnya telah diproses dengan teknik
penuaan profesional, bahkan aroma karat dan jamur pun bisa tercium.
Dengar-dengar,
putra seorang produsen peralatan medis di kelas ini
telah menyediakan sejumlah besar peralatan medis bekas..…… Rumah hantu ini
sangat berbeda dari rumah hantu festival budaya yang kukenal, yang tampaknya
terbuat dari kardus dan kantong plastik hitam. Kualitasnya bahkan melebihi
rumah hantu di taman hiburan.
“Rumah
hantu adalah pertunjukan yang sudah akrab bagiku, tetapi…… ternyata siswa Akademi Kekaisaran juga
mengetahuinya, ya.”
“Sejak
dipamerkan di festival budaya beberapa tahun lalu, karena mendapat reputasi
baik, sepertinya sudah menjadi tradisi setiap tahun…… Aku tidak bisa pergi
tahun lalu, jadi aku sangat menantikannya tahun ini……”
Tennouji-san
berkata demikian sambil bergetar ketakutan.
“Jadi,
bagi Tennouji-san, ini pertama kalinya kamu
mengunjungi rumah hantu?”
“Hiii!? Y-y-y-y-y-y-ya, benar!!”
Dia
tampak sedikit menyesal telah datang. Suara
Tennouji-san melengking sepanjang
waktu. Dia masih bisa berbicara, tetapi sepertinya dia tidak bisa tenang jika tidak berbicara.
(……
Sepertinya aku yang harus memimpin.)
Sebenarnya,
aku juga merasa ketakutan, tetapi kami tidak bisa berdiri di tempat terus-terusan.
“Tennouji-san,
karena gela jadi harap hati-hati
dengan langkahmu.”
“Y-ya!!
Aku akan hati-hati karena gelap!!”
Sepertinya
dia sudah tidak mengerti apa yang dia katakana lagi. Saat kami berjalan di jalan
sempit, aroma disinfektan terhembus oleh angin sejuk.
“Ugaaaahhh――!!”
Tiba-tiba,
seorang perawat berlumuran darah
melompat keluar dari kegelapan. Pada saat
itu juga, Tennouji-san langsung menggenggam lenganku.
“Hiih!? Ja-Jangan
mendekatiku!! Ak-Aku
ini tidak enak dimakan desuwa!!”
Dia
bergetar ketakutan dan berusaha bersembunyi di belakangku.
T-Tennouji-san……
Ketakutannya terlalu berlebihan, sehingga
siswa yang berperan sebagai perawat pun sampai
menatapnya dengan tatapan khawatir.
Reaksi Tennouji-san
yang berlebihan justru membuatku lebih tenang. Aku memberi isyarat kepada siswa
perawat itu bahwa tidak ada masalah dan melanjutkan langkah.
“Tennouji-san,
sekarang sudah aman, jadi, um, bisa tolong lepaskan…….”
“Ap-Ap-Ap-Apanya
yang aman!? Bukannya sekarang masih
gelap sekali!!”
Dia sudah
merasa takut hanya karena ruangan yang gelap.
Sekarang kalau kuingat-ingat lagi, Tennouji-san juga sangat
terkejut saat aku membawanya ke pusat permainan. Mungkin dia memang lemah
terhadap hal-hal baru.
Putri
yang sebelumnya memikat banyak penonton dengan tarian sosialnya dan menguasai
tempat dengan karisma yang luar biasa kini tidak terlihat sama sekali.
“…… Pfft.”
“Ke-Ke-Kenapa kamu malah tertawa!?”
“Maaf,
aku hanya terkejut dengan perbedaan yang begitu
kontras.”
“Tolong jangan tertawa!! Tolong jangan tertawa begitu!!”
Ketika
aku tertawa tebahak-bahak, Tennouji-san
mencubit lenganku dengan kesal. Namun,
cengkeramannya lemah.
Saat kami
melanjutkan perjalanan, efek
rumah hantu semakin meningkat. Setiap kali tangan berdarah muncul dari dinding
atau kepala terputus jatuh dari langit-langit, jeritan Tennouji-san semakin menggema.
[Kesalahan
medis yang terus berulang. Eksperimen mengerikan yang dilakukan di balik layar. Semua ini akan menjadi
hutang yang ditanggung oleh rumah sakit ini—――]
Sebuah
suara, bercampur dengan suara statis, terdengar dari pengeras suara.
(…… Suasana dunia yang diciptakan
sangat baik.)
Pertunjukkan
mereka melampaui rasa takut
sampai-sampai membuatku terkesan.
Sepertinya
ada siswa di kelas ini yang sangat memahami genre horor. Mereka telah mengatur
hal-hal klasik dengan baik dan juga menyisipkan elemen yang disukai oleh
orang-orang yang terkait dengan Akademi
Kekaisaran.
Perjalanan rumah
hantu ini hampir berakhir.
Saat aku
melihat Tennouji-san yang masih menggenggam lenganku……
“Hyuuh……
hyuuh…… hyuuh……”
Wajah Tennouji-san
kelihatan pucat pasi, dan dia bernapas dengan susah
payah.
Sepertinya
kami harus segera menuju keluar.
Melihat Tennouji-san
yang hampir menangis, aku berusaha menariknya dengan lembut untuk
melanjutkan.
Tepat
ketika kami bisa melihat cahaya di ujung terowongan—
“Hooeaaa~~~!!”
Seorang
zombie berpakaian dokter muncul di depan kami. Kulitnya berwarna hijau dan
lengket, dengan rongga mata
yang cekung. Luka menganga di kedua pipinya.…… Dengan riasan yang terlalu
realistis, aku hampir berteriak.
Secara
refleks, aku melihat ke arah Tennouji-san.
Bahkan
aku yang biasanya tenang pun merasa ingin melompat karena ketakutan. Jika Tennouji-san
merasakannya sekarang――.
“Fue……”
Tennouji-san
mengeluarkan suara kecil. Dan
dari matanya, air mata besar mulai mengalir.
“Fueeee…….”
Dia
menangis!! Apa yang
harus kulakukan!! Ini benar-benar di luar dugaan!!
Tennouji-san
menggenggam lenganku dengan kedua tangan dan terus meneteskan air mata.
“Itsuki-san……
aku sudah tidak sanggup
lagi desuwa……”
“Te-Tennouji-san, kita tidak berduaan sekarang, jadi memanggilku
dengan nama itu agak……!!”
“……? Bukannya kita sedang berduaan……?”
“Apa kamu
menganggap hantu ini nyata!?”
Pantas saja
dia merasa takut!!
Zombie
dokter itu tampak bingung dan minta maaf. Aku tersenyum pahit sambil menarik
lengan Tennouji-san dan berusaha keluar.
Yodogawa……!!
Kamu!! Ini bukan ketakutan yang pas tauuuu……!!
◆◆◆◆
Setelah terpapar sinar matahari yang cerah
di luar, Tennouji-san akhirnya bisa kembali ke keadaan normal. Kami menyediakan banyak bangku untuk beristirahat
dan bersantai, khusus untuk saat-saat seperti ini. Ruang santai dengan pendingin udara
dan makanan ringan juga dibangun di mana-mana, tetapi aku khawatir apakah kondisi mental Tennouji-san akan
bertahan sampai kami sampai ke
sana, jadi kami duduk di bangku terdekat dan menikmati
angin sepoi-sepoi.
“……
Maafkan aku karena telah
menunjukkan sisi yang tidak pantas begini.”
Tennouji-san
mengucapkan itu dengan wajah memerah, hampir
terdengar sedang bergumam. Setelah merasa tenang, sepertinya dia mulai
merasa malu. Dia memang orang yang sibuk.
“Tidak,
itu menyenangkan. Rasanya aanyak
hal yang baru dan menarik.”
“……
Termasuk diriku juga,
kan?”
“Tentu
saja tidak.”
Hahaha,
apa yang dia bicarakan?
Dia
menatapku dengan tatapan tajam, tetapi aku hanya tertawa untuk mengalihkan
perhatian.
…… Tapi
ke depannya, aku harus mengingat
bahwa ketahanan Tennouji-san terhadap horor cukup rendah.
Siswa-siswa
di Akademi Kekaisaran tidak
begitu akrab dengan budaya rakyat biasa.
Jadi aku mengira rumah hantu ini adalah atraksi
khusus di akademi ini, tetapi sepertinya ini adalah
pertunjukan yang populer setiap tahun, jadi banyak siswa dapat menikmati elemen
horor ini secara langsung.
Siswa-siswa
yang sehat dan cerdas mungkin sebenarnya cukup kuat terhadap elemen horor
seperti ini. Tennouji-san sepertinya pengecualian……
Jika
dipikir-pikir, Hinako juga
tampaknya kuat terhadap elemen horor. Setidaknya, dia bisa berpura-pura tidak
takut.
Mengenai
Narika, mungkin dia akan bereaksi berlebihan dalam hal terkejut…… tapi apakah
dia akan merasa takut terhadap hantu? Dulu, dia menangis hanya karena melihat
satu serangga, tetapi sekarang, dalam situasi tertentu, mungkin hantu yang akan
merasa takut padanya.
Saat aku mencoba menenangkan Tennouji-san, seorang
siswi dari kelas yang mengelola kedai teh kebetulan lewat dan menawarkan dua
cangkir teh untuk dicicipi.
Aku
dengan lembut memiringkan cangkir yang memiliki pola modern bergaya Art
Deco.
“……
Rencana Itsuki-san tampaknya
berhasil, ya.”
“Lebih
tepatnya, rencana kita berdua.”
Tennouji-san
tampaknya kini benar-benar tenang setelah
meneguk tehnya. Di
hadapan kami, ada banyak tamu yang menikmati teh
dalam suasana berdiri yang anggun.
Ini
adalah salah satu pertunjukan kafe yang bisa dianggap sebagai klasik di
festival budaya. Dalam perencanaan ini, beberapa siswa mengajukan permintaan
untuk memberikan sampel minuman kepada tamu.
Sebenarnya,
sistem mencicipi ini sebelumnya tidak diizinkan dan baru pertama kali
diterapkan tahun ini.…… Alasannya karena gelas kertas yang digunakan untuk
mencicipi dinilai merusak pemandangan Akademi
Kekaisaran.
Namun,
ketua OSIS tahun ini adalah putri dari grup
Tennouji yang sangat terkenal karena tata krama mereka yang halus――
Tennouji Mirei.
Tennouji-san,
yang telah memutuskan untuk melaksanakan kursus etiket, berpikir bahwa dia
tidak ingin mengurangi kesempatan bagi siswa untuk mengasah etiket mereka dalam
suasana sosial.
Dan aku
berada dalam posisi untuk membantu Tennouji-san.
Setelah
diskusi panjang, kami mendirikan ruang makan di berbagai tempat di Akademi Kekaisaran.
Meskipun hanya ada meja tanpa kursi, siswa di sini dan tamu yang diundang ke
festival budaya ini terbiasa dengan suasana berdiri, jadi tidak ada masalah.
Mencicipi teh di kafe hanya diizinkan di area sekitar ruang tersebut.
Peralatan
teh yang digunakan untuk mencicipi ditentukan dari merek yang menarik. Tempat
pengembalian cangkir ada di dekatnya, tetapi pada dasarnya, siswa dari kelas
yang menyediakan sampel akan secara aktif mencari dan mengumpulkan cangkir yang
kosong.
Semua ini
adalah pemandangan yang bisa terjadi berkat pendidikan yang baik dari para siswa. Tidak ada yang membuang sampah
sembarangan. Tidak ada yang berisik secara berlebihan. Tidak ada yang membawa
makanan atau minuman secara sembarangan, dan menggoda pun sama sekali tidak
diperbolehkan.
Hanya dalam Akademi Kekaisaran lah hal
ini bisa terjadi.…… Kami, pihak OSIS, harus dengan cermat
menemukan dan mewujudkan hal-hal seperti ini.
“Aku penasaran, apa
Hirano-san dan yang lainnya juga menikmatinya?”
“Mereka
sangat menikmatinya.
Sepertinya kita tidak perlu khawatir.”
Meskipun
mungkin sulit untuk sepenuhnya menghilangkan ketegangan, Yuri yang sudah
terbiasa bisa menjaga semua orang dengan baik. Ketika topik berpindah ke
teman-teman lama, aku teringat tentang masalah yang ingin dibicarakan Itabashi.
Pengakuan
perasaannya kepada Toshima-san…… aku ingin pengakuannya
bisa berhasil. Aku juga harus mempertimbangkan perasaan Toshima-san, tetapi dari sudut pandang orang
luar, mereka berdua terlihat cocok bersama.
“Ngomong-ngomong,
Tennouji-san.”
“Ada apa?”
“Apa kamu mempunyai rekomendasi tempat untuk mengungkapkan
perasaan?”
“Koohhhhhh――!?”
Tennouji-san
mengeluarkan jeritan seperti ayam. Sepertinya
dia salah paham, jadi aku segera menjelaskan.
“Sebenarnya,
seorang teman lamaku yang datang bersama Yuri ingin menyatakan perasaannya di
festival budaya ini.”
“Be-Begitu ya, jadi itu
maksudnya……”
Tennouji-san
yang kembali tenang mulai berpikir
sejenak.
“……
Sayangnya, aku tidak bisa memikirkan tempat yang
bagus. Aku menjalani hidup yang jauh dari hal-hal
seperti itu.”
“Kupikir ada banyak orang yang mendekati Tennouji-san.”
“Kupikir aku akan dijodohkan dengan
orang yang dipilih oleh orang tuaku.”
Ah…… jadi
begitu ya.
Jika dia
merasa tidak memiliki kebebasan untuk mencintai, dia pasti
akan kurang paham tentang cinta.
“Yah, berkat ulah seseorang, sepertinya orang tuaku takkan pernah memperkenalkanku pada tunangan seumur hidupku.”
Tennouji-san
melihatku dengan senyuman.
“Mana mungkin sampai seumur
hidup, ‘kan. Jika Tennouji-san
menginginkannya……”
“Apa menurutmu aku menginginkannya?”
…… Tentu
saja dia tidak menginginkannya.
Sejak
saat itu, Tennouji-san sangat menghargai keinginannya sendiri. Jika dia menemukan tunangan, itu pasti adalah orang
yang dia pilih sendiri, bukan seseorang yang
disiapkan untuknya.
“Fufu,
jika aku terlambat menikah, kamu harus bertanggung jawab.”
Itu
tanggung jawab yang besar……
Meskipun
begitu, aku tidak merasa terlalu tertekan. Sangat
kecil kemungkinannya bahwa Tennouji-san akan tetap melajang.
“Bagaimana
denganmu, Itsuki-san? Saat menari tadi,
kamu didekati oleh banyak wanita…… Apa ada yang menarik perhatianmu?”
“Menarik
perhatian? Yah, jika mendadak ditanya begitu……”
Saat aku
terkejut dengan pertanyaan mendadak itu, Tennouji-san menghela napas.
“Dalam
tarian sosial, berinteraksi dengan lawan jenis
merupakan hal yang tak bisa dihindari. Sebagai seseorang yang
mengajarkan tarian kepada Itsuki-san, aku ingin memuji keseriusanmu, tapi…… bukannya kamu terlalu santai? Bahkan aku pun merasa tegang saat menari dengan
pria yang baru kutemui.”
“Eh, masa?”
“…… Aku sudah lama memikirkannya, apa kamu menganggapku sebagai orang yang bermuka tebal, Itsuki-san?”
“T-Tentu saja tidak.”
Aku
memang berpikir dia memiliki mental yang kuat. Namun, bahkan Yuri juga menunjukkan jarak
antara aku dan pasangan dansaku saat menari juga.…… Apa aku benar-benar terlihat setenang itu?
“Itsuki-san,
apa kamu tidak merasakan apapun
saat menari bersamaku?”
Tennouji-san
bertanya dengan muka cemberut.
Jika aku
merasakan sesuatu, mungkin itu akan menjadi masalah…… tetapi jika aku tidak
merasakan apa-apa, itu mungkin akan melukai perasaan seorang wanita.
“……
Sejujurnya, aku juga seorang pria, jadi terkadang ada saat-saat di mana aku
merasa terpesona.”
“Ap-Ap-Ap-Ap-Apa benar
begitu!?!”
Itu hal
yang wajar. Aku
memang mengatakan kepada Yuri bahwa aku sudah ‘terbiasa’, tetapi
ada kalanya aku terguncang di momen-momen tertentu. Terutama jika pasanganku
adalah wanita yang menawan dan cantik
seperti Tennouji-san.
“Namun,
begitu tarian dimulai, aku secara otomatis merasa tenang.…… kurasa mungkin ini juga berkat pelajaran
dari Tennouji-san. Saat itu aku benar-benar berusaha keras, jadi aku belajar
cara untuk tidak memikirkan hal-hal lain selama menari.”
Terima
kasih telah mengajarkanku dengan tegas.……
Aku menjawab dengan niatan seperti itu, tetapi
entah mengapa Tennouji-san terlihat menggigit bibirnya dengan ekspresi
kesal.
“Kugh!! Diriku di masa lalu
benar-benar bodoh...!! Jika saat itu aku
membimbing lebih lembut, hal-hal seperti ini
dan itu mungkin akan terjadi...……!!”
Tennouji-san
menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menengadah ke langit seolah merasa
putus asa. Aku tidak
mengerti apa yang dia katakan, tetapi…… mungkin karena sifat Tennouji-san,
kurasa dia tidak bisa mengajar dengan lembut.
“…… Aku
mendengar bahwa di sekolah sebelumnya, Itsuki-san juga pernah mendapatkan pengakuan cinta dari lawan jenis.”
“……
Ya.”
Yuri
menceritakannya kepada semua orang selama liburan musim panas...……
Saat itu,
aku memang pernah diungkapkan perasaan cinta oleh
seorang teman sekelas perempuan,
tetapi karena aku tidak ingin melibatkan latar belakang keluargaku, aku
terpaksa menolaknya.……
Tidak, ungkapan “terpaksa
menolak” itu hanyalah pengalihan tanggung jawab.
Saat itu, aku hanya tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjalani hubungan
cinta yang biasa.
“Selama menari tadi, ada banyak
wanita yang menunjukkan ketertarikan pada
Itsuki-san. Wanita yang
cantik, wanita yang imut, wanita yang ceria…… Apa kamu tidak merasa kalau mereka menarik, Itsuki-san?”
“Mengesampingkan
pertanyaan sejauh mana 'ketertarikan'
itu…… Yah, kupikir mereka semua menarik.
Sebenarnya, semua wanita di Akademi Kekaisaran
memiliki level yang tinggi bagiku――”
Saat aku
menjawab dengan jujur, Tennouji-san menatapku dengan tajam.
P-Padahal
kamu sendiri yang bertanya padaku……!!
Ini pasti
jebakan……!!
“Mu-Mungkin…………”
Tennouji-san
membuka mulutnya dengan ekspresi serius.
“Ap-Apa Itsuki-san sudah memiliki…… seseorang yang seperti itu?”
Seseorang yang seperti itu maksudnya…… seseorang yang kusukai?
“Tidak
ada.”
“Fuuuuuuuuuh~~~~~~~……”
“Lebih
tepatnya, saat ini aku tidak berniat untuk memilikinya.”
“Eh, ah, hah,
eh……!?”
Tennouji-san
hampir terjatuh dari kursinya.
Bahaya!!
Cangkirnya bisa jatuh!!
Aku
dengan cepat menyokong tubuh Tennouji-san dan membantunya duduk kembali. Setelah menempatkan tangannya di
dadanya dan berusaha tenang, aku menjelaskan situasinya padanya.
“Ada banyak
hal yang ingin kulakukan
dan hal-hal yang harus kulakukan…… Dalam keadaanku saat ini,
aku tidak bisa memprioritaskannya di atas segalanya.”
Aku
merasa malu dengan pernyataan yang terlalu kekanak-kanakan itu.
“……
Itsuki-san, kamu memang serakah.”
“Serakah?”
Aku
sering dianggap serius, tetapi jarang dianggap serakah. Saat aku bertanya kembali, Tennouji-san
menjelaskan.
“Karena
kamu tidak ingin mengorbankan kebahagiaan orang yang kamu cintai dan pencapaian
tujuanmu, kamu menghadapinya dengan cara seperti ini.”
Ketika
dia mengatakannya seperti itu,
mungkin memang benar.
“…… Apa
aku salah?”
“Tentu
tidak. Aku juga ingin seperti itu.” Tennouji-san lalu melanjutkan, “Ini adalah masalah
yang tidak bisa dihindari. Manusia memiliki batasan sumber daya. Kita tidak
bisa memilih semuanya…… Jika hasil analisis diri menunjukkan bahwa kedua hal
itu sulit untuk dicapai, maka aku akan mendukung pemikiran itu.”
Rasanya
cukup menyegarkan melihat Tennouji-san yang biasanya selalu
positif berbicara tentang batasan. Namun,
itu tidak terasa aneh.…… Tennouji-san pasti telah menghadapi banyak batasan
yang tidak kuketahui. Aku merasakan kebijaksanaan yang mendalam dalam kata-katanya.
Waktu itu
terbatas. Dan, itu
tidak sama bagi semua orang.
Mungkin
ada banyak orang yang bisa mencapai keduanya di dunia ini. Terutama di Akademi Kekaisaran. Tapi, aku tidak bisa. Manusia
memiliki batasan sumber daya, dan pilihan yang dimiliki setiap orang juga
berbeda. Aku hanya
bisa hidup dengan caraku sendiri.
“……
Itsuki-san, apa kamu
pernah mendapatkan pengakuan cinta dari
seseorang setelah pindah ke akademi ini?”
Wajah
Narika melintas di pikiranku. Aku takkan pernah
melupakan pengakuan cintanya.
“……
Pernah.”
“Pernah!?!”
“Ya.”
“Si-Si-Siapa, siapa yang mengungkapkan
perasaan―― ahem!! Jika tidak keberatan, bolehkah kamu memberitahu siapa orang tersebut!?”
Kata-katanya mulai terdengar mencurigakan.
“Hal itu
tentu saja tidak bisa kukatakan……”
“…… Itu
memang benar.”
Aku
teringat janji yang kubuat dengan Tennouji-san. Aku tidak akan berbohong. Jika
tidak bisa menjawab, aku akan mengatakan bahwa aku tidak bisa menjawab. Aku menggunakan hak untuk yang
terakhir.
“Aku
menolak pengakuannya…… tetapi
orang itu adalah seseorang yang sangat kuhormati, jadi keputusan itu membuatku
semakin mantap.”
“Mantap,
ya?”
“Ya.……
Karena aku telah menolak orang yang sebaik itu, aku tidak bisa mundur
lagi.”
Lagipula,
aku telah menolak pengakuan cinta
Narika. Tidak ada
jalan untuk kembali. Jika begitu, aku harus hidup di masa sekarang tanpa menyesali pilihan
di masa lalu. Saat aku
merasakan tekad itu di dalam hati,
“Hmm~~~~~, entahlah~~~~……”
Tennouji-san
membuat ekspresi curiga.
“Sepertinya
ini bukan kata-kata dari seseorang yang langsung menjual perusahaan yang
didirikan dalam permainan manajemen dan memulai bisnis lain.”
“Ugh!”
Pernyataan
yang tajam dan tepat sasaran……!!
Jika
dipikir-pikir kembali, ini
bukan hanya soal permainan manajemen. Ini juga berkaitan dengan jalur masa
depanku.
Sebenarnya,
pada awalnya aku ingin masuk ke industri IT…… tetapi setelah bertemu Takuma-san, aku mengubah tujuanku menjadi konsultan. Baru saja, saat berbicara
dengan Narika, aku juga mempertimbangkan kemungkinan lain.
“Karena
Itsuki-san adalah tipe yang fleksibel dalam mengubah tujuannya. Tentu saja, aku
menganggap ini sebagai kelebihan, tapi di sisi lain, itu juga berarti ada
banyak celah untuk dimanfaatkan.…… Mungkin wanita itu masih terus mendekati
Itsuki-san hingga sekarang, ‘kan?”
“Ba-Bagaimana kamu bisa tahu itu!?”
Cenayang
Mirei!?
“Aku juga
akan melakukan hal yang sama―― ahem!! Cu-Cuma dengan sedikit imajinasi sudah
cukup untuk mengetahuinya!!”
Jadi,
hanya dengan membayangkannya sudah cukup untuk mengetahuinya……
…… Seberapa gampang ditebaknya aku ini.
Aku
merasakan campuran
kebahagiaan, rasa malu, dan semacam ketidakberdayaan yang lebih dalam ketika Tennouji-san
yang mengenal diriku dengan baik ada di sampingku.
Apa aku
harus lebih mengembangkan kedalaman
kepribadianku?
“Ternyata,
kedua anggota OSIS sedang bolos ya?”
Tiba-tiba,
aku mendengar suara yang datang dari belakang bangku. Saat aku menoleh, ada seorang
siswa laki-laki dengan kacamata bingkai perak.
Asahi
Rintarou.…… Dia adalah adik laki-laki Asahi-san dan rivalku yang sering bertemu
dan berbicara sebagai kandidat wakil ketua OSIS.
“Rintarou.……
Ini bukan bolos. Kami sedang, um, melakukan pengawasan……”
“Aku hanya bercanda. Semua
siswa tahu bahwa para anggota OSIS
bekerja keras hingga larut malam setiap hari. Silakan nikmati waktu luang
kalian.”
Dengan
senyuman santai, aku dan Tennouji-san saling bertukar tatapan canggung.
“Rintarou,
kenapa kamu di sini?”
“Aku
datang untuk memeriksa keadaan. Karena Tennouji-senpai terlihat seperti mau
pingsan.”
Tennouji-san
terkejut dan wajahnya seketika memerah.
“Kenapa
kamu tahu itu……”
“Seharusnya Senpai bisa langsung menyadarinya jika melihat
penampilanku ini.”
Setelah
mengatakan itu, Rintarou menarik kerah jas putih yang dikenakannya.
Oh...?
Sepertinya
aku pernah melihat jas putih itu baru-baru ini……
“Zombie
dokter yang muncul terakhir, itu aku.”
Wajah Tennouji-san
yang tadinya memerah
sekarang berubah menjadi biru.
“Aku
melihat kalian berdua, jadi aku berusaha tampil dengan penuh semangat…… Tapi sepertinya efeknya jauh lebih besar dari yang kubayangkan, jadi aku
datang untuk memeriksa.…… Apa kamu baik-baik saja, Tennouji-senpai?”
“…… Ugh,
ku, kuuu~~~!!”
“Eh,
kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku juga terkejut. Aku tidak pernah menyangka kalau ketua OSIS yang terhormat seperti kamu
menangis karena
hantu.”
“Kuahhhhhh!!”
Tennouji-san
sepertinya sudah gila……
Baik Jotou maupun Rintarou…… kedua orang
ini seesekali melemparkan rasa frustrasi
mereka karena tidak bisa menjadi anggota OSIS. Namun, daripada merasa canggung,
lebih baik memiliki jarak yang mudah untuk diajak bicara. Ini juga bisa dianggap sebagai
bentuk perhatian.
“Jadi, pertunjukkan rumah hantu itu berasal dari kelas Rintarou, ya?”
“Ya.……
Kami telah merencanakan banyak hal di belakang, dan akhirnya aku diberi tugas
besar.”
“Luar biasa. Aku sama sekali tidak
menyadarinya kalau itu kamu, Rintarou.”
“Kami berhasil mengundang seorang penata rias khusus yang
berkarir di Hollywood melalui koneksi teman sekelas untuk mendapatkan pelatihan
teknis.”
Inilah
kualitas Akademi Kekaisaran……
“Aku
khawatir apakah aku bisa menikmati festival sekolah sepenuhnya karena itu tepat
setelah pemilihan, tetapi menciptakan acara bersama ternyata menjadi pengalaman
yang sangat menyenangkan.”
Rintarou
menyampaikan dengan suara yang seimbang antara kesenangan dan keseriusan.
“……
Rintarou, kamu berencana untuk mendirikan perusahaanmu sendiri di masa depan, ‘kan?”
“Aku
berniat begitu, tetapi belakangan ini aku memikirkan pendekatan yang sedikit berbeda.”
“Pendekatan yang berbeda?”
Pernyataan
itu menarik perhatianku, karena aku juga memikirkan hal serupa.
“Kakakku sangat bersemangat untuk
mewarisi perusahaan. Namun, mewujudkan bisnis penjualan barang elektronik
bergerak tampaknya tidak mudah. Menyeimbangkan dengan studi juga tampaknya
sulit, jadi mungkin lebih baik jika ada seseorang yang mendukungnya……”
“……
Rintarou, apa kamu akan mendukung Asahi-san?”
“Aku
berpikir itu bisa jadi salah satu opsi. Untuk saat ini, bekerja sebagai asisten
kakakku dan mendapatkan pengalaman
praktis sebelum mendirikan perusahaan bukanlah pilihan yang buruk.”
Memang,
itu adalah pilihan yang lebih aman.
Awalnya,
Rintarou mempertimbangkan kewirausahaan sebagai jalur karier masa depannya
karena masalah keluarganya.
Sekarang setelah masalah itu teratasi, ia mungkin mulai melihat kembali prospek
ke depan.
“Kalau
begitu, aku akan kembali. Terima kasih sudah datang
berkunjung.”
Rintarou
memberi hormat dengan sopan dan pergi. Sementara
itu, Tennouji-san menatap punggungnya dengan wajah kecewa sambil menggigit sapu
tangannya.…… Ternyata bentuk
penyesalan semacam itu beneran ada di dunia nyata.
“Tennouji-san,
apa kamu juga mulai mengambil langkah
menuju masa depan?”
Baik Narika
dan Rintarou sama-sama memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana dengan Tennouji-san?
Aku penasaran dan bertanya.
“Benar juga. Aku telah resmi menjadi ketua OSIS dulu, jadi aku berniat untuk fokus
pada tugas di depan mata terlebih dahulu…… tapi, sambil melihat kesempatan, aku
juga akan mempersiapkan diri untuk mewarisi bisnis keluarga.”
“Begitu rupanya.…… Semua orang benar-benar
memikirkan hal ini, ya.”
“Lalu,
Itsuki-san, bagaimana denganmu?”
Di bawah tatapan Tennouji-san yang
menusuk, aku mulai berpikir.
“…… Aku
tetap ingin menjadi konsultan. Karena kurasa
itu cocok untukku, dan motivasiku juga tinggi. Untuk itu, aku harus mendapatkan
nilai yang baik dan masuk universitas yang bagus……”
“Kita
sepertinya akan mengalami kesulitan setelah lulus.”
Tiba-tiba,
pikiranku menjadi kosong.
Lulus.
Kata yang diucapkan Tennouji-san begitu santai terus
bergema di kepalaku.
Memang
benar……
Kita
tidak akan selamanya berada di Akademi Kekaisaran.
Sungguh aneh.
Di suatu tempat di hatiku, aku berpikir masa depanku adalah perpanjangan dari
akademi ini. Tapi itu tidak mungkin. Setelah lulus, kita semua pasti akan
menempuh jalan masing-masing.
(…… Aku
tidak bisa membuang-buang waktu terus.)
Sejak
permainan manajemen, ambisi yang sedikit demi sedikit mulai terbangun. Suatu saat, aku ingin
menyampaikan identitasku kepada semua orang tanpa menyembunyikannya. Dengan
begitu, aku ingin menghabiskan waktu dengan siswa-siswa Akademi Kekaisaran
secara terbuka dan setara.
Jika aku
terus menunda-dunda, aku akan lulus dari akademi. Aku kembali menyadari bahwa
ambisiku memiliki batas waktu――――.
“――Yah,
untuk sekarang, mari menikmati festival budaya saja dulu.”
“Oh, kamu
sudah berkembang. Jika ekspresi cemberutmu bertahan tiga detik lagi, aku akan
mencubit dahimu.”
Rupanya tadi
itu hampir saja.
“Itsuki-san, setelah ini kamu akan bergabung dengan Hirano-san
dan yang lainnya, kan?”
“Ya. Aku
berpikir untuk berkumpul
bersama mereka di sekitar sini.”
“Selamat
bersenang-senang.”
Setelah
berpisah dengan Tennouji-san, aku menuju tempat pertemuan yang telah disepakati
dengan Yuri dan yang lainnya. Aku
sudah bertemu dengan mereka di sela-sela waktu, tetapi kami sepakat untuk
bergerak bersama di sekitar sini.
Sekarang……
kira-kira enaknya aku akan
membawa mereka semua ke mana, ya?
Sambil
berbicara dengan Tennouji-san, aku memikirkan satu ide. Ada pertunjukan yang
sangat cocok untuk menyatukan Itabashi dan Toshima-san.
Aku akan
mencoba mengusulkannya dengan santai.
◆◆◆◆
Setelah
bergabung dengan Yuri dan yang lainnya, aku mengantar semua orang ke
tujuan.
“Menakjubkan
banget!! Ini kapel~~~~~!!”
Toshima-san
bereaksi dengan mata yang
berbinar-binar.
Hanya
dengan melihat tanggapannya,
aku merasa senang sudah datang...
Di sudut
lapangan, ada kapel yang digunakan untuk upacara pernikahan. Di sekitarnya, ada banyak wanita muda berkumpul, dan
beberapa di antaranya sedang mengambil foto.
“Tomonari-kun, kita
beneran boleh masuk!?”
“Tentu
saja."
Mengikuti
Toshima-san yang dengan gembira masuk ke dalam, kami juga melangkah masuk. Dan kami terpesona oleh
pemandangan di hadapan kami.
Dinding
dan jendelanya dibuat
menyerupai ukiran batu yang indah. Atapnya berbentuk lengkung dari kayu. Dari
jendela besar di belakang, cahaya lembut yang sudah dihitung dengan cermat
mengalir masuk.
Di sisi
jalan pengantin yang dilapisi karpet merah tua, kursi panjang dari kayu ek yang
berat dan bergaya antik tersusun rapi di kedua
sisi. Dari suatu tempat, terdengar lagu pujian dari
alat musik organ pipa yang megah, memenuhi seluruh ruang dengan suasana yang
suci.
Di
sampingku, Yuri ternganga dengan mulut terbuka
karena takjub.
“...Eh,
apa-apaan ini? Memangnya
di Akademi Kekaisaran
bisa mengadakan pernikahan, ya?”
“Tidak...
ini juga salah satu pertunjukan.”
Hebatnya,
ini adalah bangunan yang hanya ada untuk festival budaya ini. Bangunan ini direncanakan akan dibongkar
dalam beberapa hari ke depan, tetapi... sampai di sini, jujur aku tidak ingin
membongkarnya.
“Selamat
datang di acara pengalaman pernikahan kelas 2-F.”
Seorang
siswa laki-laki berpakaian jas menyapa kami yang terdiam terpesona.
Aku
mengenal siswa itu.
Kami
saling bertatap mata dan setelah tersenyum ringan, siswa laki-laki itu
memperkenalkan diri kepada kami.
“Salam
kenal, namaku Ikuno. Aku selalu berhutang budi kepada Tomonari-kun.”
“Tidak,
tidak.”
Sebelum
Ikuno membungkuk, aku melihat dirinya
tersenyum nakal, jadi aku menolak dengan senyum kecut. Justru akulah yang
seharusnya berterima kasih kepada Ikuno.
“Ikuno
adalah teman yang kukenal di kelas Akademi Kekaisaran.
Keluarganya menjalankan perusahaan di industri pernikahan bernama Wedding Needs.”
“Aku
pernah mendengarnya di
iklan!!”
“Kakak
perempuanku bilang dia menikah di sana!!”
Toshima-san
dan Itabashi memberikan reaksi yang sangat baik.
“Ketimbang dibilang kapel...
bukannya ini sudah seperti gereja
yang asli?”
Sumida
bergumam demikian, dan Ikuno merespons
dengan antusias, “Oh, kamu
benar-benar memperhatikan. Seperti yang kamu katakan, kapel ini dirancang
menyerupai gereja yang asli. ...Kapel bergaya Jepang juga tidak buruk, tetapi
belakangan ini banyak orang yang ingin mengadakan upacara di gereja yang
sebenarnya. Bahkan ada yang pergi ke luar negeri untuk itu.”
Lima
orang berseru “Hee~”
dengan penuh pemahaman.
Ngomong-ngomong,
saat aku mencari informasi tentang perusahaan Ikuno dalam permainan manajemen,
aku kebetulan melihat kolom yang menuliskan hal itu. Dari sudut pandang luar
negeri, kapel di Jepang dianggap seperti gereja mainan, dan pendetanya juga
tidak terlihat seperti pendeta asli.
Sebagian besar orang mungkin tidak memperhatikan, tetapi pasti ada yang
peduli.
“Sumida-kun, kamu hebat juga.”
“Eh!?
Oh, ya!!”
Sumida
tersenyum bahagia saat Yuri menepuk bahunya. Setelah itu, Yuri mendekat ke
sini.
Kami
melihat ke arah Itabashi dan Toshima-san.
(Senang
kalian bisa datang ke sini, kan?)
(Ya.
Toshima-san menyukai
hal semacam ini... dan Itabashi juga menyadarinya.)
Ketika
datang berpasangan sebagai pria
dan wanita, tidak bisa dipungkiri bahwa pertunjukan ini mengingatkan pada
cinta. Terutama
wanita, mereka pasti sangat tertarik dengan penampilan pengantin. Toshima-san
terlihat sangat senang, bahkan Yuri juga tampak bersemangat.
“Apa
kalian semua ingin mencoba mengalaminya? Kami bisa menyiapkan pakaian pengantin perempuan di sini...”
Ikuno
bertanya setelah memastikan ekspresi wajah kami.
Jika
pasangan terdiri dari satu pria dan satu wanita, maka akan ada satu pria yang
tersisa. Jadi, kami bisa meminta seorang wanita untuk berperan sebagai pengantin, tapi.... aku mengamati ekspresi semua
orang dan menggelengkan kepala.
“Yuri
bisa melakukannya dua kali, kan?”
“Benar juga. Kalau begitu aku akan berperan
sebagai pengantin untuk Itsuki dan Sumida-kun.”
Sumida
menunjukkan reaksi bahagia, “Kamu yakin mau
denganku!?”
Sejak
tadi, reaksi ini... tapi, mungkin terlalu cepat untuk membuat
kesimpulan...?
Kurasa
Itabashi akan merasa sedikit canggung jika Toshima-san berperan sebagai
pengantin wanita dua kali, jadi Yuri dengan cepat menunjukkan pemikirannya yang
cepat. Yuri benar-benar pandai dalam hal pertimbangan seperti ini. Di sekolahku yang sebelumnya, saat aku sibuk
dengan pekerjaan paruh waktu, dia juga banyak
membantuku.
“Baiklah,
kami akan mengantar kalian satu per satu ke ruang ganti.”
Setelah
didorong oleh Ikuno, pertama-tama pasangan Sumida dan Yuri yang akan berganti
pakaian lebih dulu. Pasangan kedua adalah Toshima-san
dan Itabashi. Pasangan ketiga adalah aku dan Yuri.
Setelah aku duduk dan menunggu sebentar,
Sumida keluar terlebih dahulu.
“Ra-Rasanya
agak memalukan..."
Sumida
yang mengenakan tuxedo tersenyum malu-malu.
“Sumida,
kamu kelihatan cocok kok!”
“Tidak,
ah... seharusnya aku lebih menjaga badan. Haha, hahaha.”
Sumida
tertawa sambil tersenyum. Melihat
reaksinya, aku merasakan empati yang
mendalam.
(Aku
mengerti... aku paham banget,
Sumida...!!)
Aku juga
awalnya seperti itu...!!
Tanpa ada
yang perlu memberiathuku, aku
sudah merasakannya sendiri ketika melihat cermin, “Ada yang tidak beres,’ “Sepertinya
aku terpaksa mengenakan pakaian ini.”
Rasanya
seperti saat kamu membeli pakaian yang persis sama dengan yang ada di manekin,
tapi rasanya tidak pas di tubuhmu. Rasanya sangat
membuat frustrasi... rasanya seperti pakaian itu menolakmu.
Seolah-olah
ada yang berkata, “Percuma
saja kamu berusaha tampil modis!!”
Tapi
karena aku tidak ingin mengakuinya, aku segera memberikan alasan yang tidak
tepat.
“...Ada apa, Tomonari? Apa-apaan dengan tatapan
hangat itu."
“...Sumida.
Kita bisa menjadi teman yang lebih
dekat.”
Sumida
menatapku seolah-olah berkata,
“Orang ini ngomong apaan sih?”
Seperti
halnya mode pada umumnya, penampilan formal tidak bisa hanya ditentukan dengan
niat. Seperti yang dikatakan Sumida, kita harus konsisten
menjaga bentuk tubuh, rambut, dan kulit, semua itu adalah
akumulasi dari usaha sehari-hari agar terlihat pas.
Tidak ada
masalah dengan pakaian itu sendiri. Hanya ketika mengenakan pakaian yang
berkualitas tinggi, aku baru menyadari pentingnya merawat diri sendiri...
pentingnya totalitas dalam berpakaian.
Aku belum
memberitahukan Hinako dan Shizune-san,
tetapi aku juga berlatih angkat beban setiap malam agar bisa menjadi pria yang
cocok mengenakan jas. Meskipun tidak berlatih secara serius, aku ingin
mempertahankan bentuk tubuh yang kira-kira cocok saat membeli pakaian dari model manekin.
Saat aku merenungkan perjuanganku sehari-hari dan merasa tersentuh, pintu
ruang ganti terbuka. Sepertinya
Yuri juga sudah selesai berganti pakaian.
“Aku
tahu bakalan begini, tapi rasanya agak sempit ya...”
Kami
terpukau sejenak saat Yuri muncul dengan suara kesal.
Dia
mengenakan gaun pengantin putih bersih, dan rambutnya ditata dengan indah oleh
seorang profesional. Karena ini hanya sebuah pengalaman, jadi
riasan yang digunakan sangat ringan, tetapi wajahnya yang cantik membuatnya
terlihat sangat menawan. Suasana aktif dan ceria yang biasanya tidak terasa
sama sekali.
Melihat Yuri seperti itu, Toshima-san berdiri dan
memberi tepuk tangan.
“Hirano-san!!
Kamu kelihatan sangat cantik!!”
“Be-Benarkah? Aku tidak begitu yakin
melihat diriku sendiri...”
“Kamu
imut banget tau!! Lihat, Sumida-kun juga
mengangguk cepat!!"
“Kupikir dia
sedang melakukan headbanging.”
Headbang
di lagu pujian adalah hal baru yang terlalu ekstrem. Sumida mengangguk berkali-kali
hingga menciptakan ilusi gerakan, dan aku sangat mengerti perasaannya.
Yuri
memegang ujung gaunnya dan menunjukkan gerakan sedikit malu-malu.
Dia begitu
cantik hingga membuatku terpesona. ... Aku
tidak pernah menyangka akan merasakan keanggunan yang begitu halus dari Yuri.
Tiba-tiba,
aku melihat ke arah Itabashi yang tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“……Uwaah, cantiknya.”
Oi.
Kamu
tidak boleh terpesona.
Itabashi
menyadari tatapanku dan membersihkan tenggorokannya seolah ingin mengalihkan
perhatian. ...Syukurlah, Toshima-san tidak menyadarinya.
Ketika
aku melihat Yuri lagi, pandangan mata kami bertemu.
“Ada
apa? ...Kamu berpikir kalau aku cuma kelihatan
cantik karena bajunya?”
“Tidak...”
Bukan begitu
maksudku.
“Aku
hanya berpikir, Yuri memang cantik.”
“H-Hah!? Apaan sih, kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu!?”
Itulah
pendapatku yang tulus. Setelah
permainan manajemen berakhir, aku melihat Yuri mengenakan gaun di acara sosial
keluarga Konohana... Yuri
sangat cocok dengan penampilan yang anggun seperti ini. Biasanya dia lebih suka
pakaian yang lebih sederhana, jadi aku merasakan perbedaan yang segar.
“Ay-Ayo,
Hirano-san!! Mari kita berjalan bersama!!”
Sumida
tampak panik dan menarik tangan Yuri. Keduanya
mengikuti arahan petugas dan berjalan di jalan pengantin menuju altar.
Ada seorang pendeta yang berdiri di sana, tetapi
tampaknya kata-kata janji diucapkan secara sukarela. Mungkin ada tamu yang
merasa canggung melakukan itu. Ciuman terakhir tentu saja dihindari.
Jika
mereka datang sebagai pasangan, mungkin mereka bisa mengucapkan kata-kata
janji, tetapi jika tidak, ini adalah pertunjukan yang cukup sederhana. Acara
utamanya mungkin adalah berganti pakaian formal.
Ketika Yuri
dan yang lainnya kembali, Sumida segera kembali ke pakaian aslinya dari tuxedo, dan kemudian
Itabashi dan Toshima-san pindah ke ruang ganti. Yuri tetap mengenakan gaun
pengantin karena dia akan berpasangan denganku.
Setelah
menunggu sebentar, Itabashi dan Toshima-san keluar dari ruang ganti. Keduanya tampak terpesona dengan
penampilan satu sama lain setelah berganti pakaian.
“To-Toshima-san... itu sangat cocok
untukmu.”
“Ma-Makasih.
...Itabashi-kun juga terlihat tampan.”
Melihat
keduanya yang masih canggung, aku dan Yuri saling bertukar senyum.
“Rencana
berhasil.”
“Ya.
Tapi...”
Yuri
mendekat dan berbisik.
“Bukannya
lebih baik kalau menyimpan ini untuk terakhir?
Situasinya juga mendukung untuk mengungkapkan perasaan...”
“Tidak,
kurasa jika mengungkapkan perasaan di sini akan terasa terlalu sepele.
Lagipula, hal seperti ini harus dimulai dengan saling menyadari keberadaan satu sama lain terlebih
dahulu...”
“Kenapa
kamu bisa begitu peka dalam
urusan cinta orang lain?”
Yuri
menatapku dengan ekspresi serius. Meskipun dia mengatakan
itu...
“Sekarang giliran
kalian, Tomonari-kun.”
Ikuno
memanggilku, dan aku masuk ke ruang ganti. Di dalam ruangan kecil itu,
terdapat banyak jas yang tersusun rapi. Dari merek yang kukenal hingga yang
tidak aku kenal. Saat aku sedang melihat-lihat,
Ikuno juga masuk ke dalam ruangan.
“Aku akan
bertanggung jawab atas penataan gayamu. Apa ada permintaan?”
Itu
sangat membantu. Tapi, permintaan ya?
...Kalau bisa, aku ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa.
“Aku
ingin mencoba kerah runcing. ...Oh,
tapi untuk celana, aku ingin mencoba hem ganda. Jadi tidak akan membingungkan
antara formal dan kasual, apa mungkin sebaiknya aku
tetap menggunakan salah satunya saja?”
Aku
mengungkapkan apa yang ada di pikiranku. Kemudian, Ikuno melihatku dengan
rasa kagum.
“Tomonari-kun... kamu sangat tahu tentang
pakaian formal.”
“Aku
sering menggunakannya.”
“Seperti
yang diharapkan dari wakil
ketua OSIS. Kamu terbiasa dalam acara sosial.”
Jangan
begitu, jangan begitu. Meskipun
tidak pantas, hanya pengalaman dari berbagai tempat yang membantuku.
“Aku
akan menyesuaikannya dengan
permintaanmu. Hem celana perlu diseimbangkan
dengan volume sepatu. ...Menyeimbangkan kerah
itu sulit. Sementara itu, vest juga memiliki peak lapel, jadi mari kita periksa
itu.”
“…Ikuno
juga tahu banyak.”
“Aku
tumbuh besar menyaksikan bisnis keluargaku.
Selain itu, ada teman sekelas yang merupakan pewaris dari jaringan penjualan
pakaian formal, jadi aku belajar banyak dari mereka. Kamu tahu, yang terkenal
dengan papan biru itu.”
Rasanya
seperti semua jenis orang bakalan ada di Akademi Kekaisaran....
Sekilas,
aku berpikir untuk meminta pendapat Shizune-san,
tetapi... aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena pasti akan memakan waktu yang lama.
◆◆◆◆
Setelah aku selesai berganti pakaian dan keluar dari ruang ganti, Yuri dan
yang lainnya terkejut dengan mata terbuka lebar.
“…Kamu,
apa kamu benar-benar Itsuki?"
“Sembarangan
saja kalau ngomong.”
Aku
tersenyum pahit mendengar ucapan Yuri yang terlalu blak-blakan. Memang aku mengenakan pakaian
yang bagus, tetapi... bagaimana penampilanku biasanya?
“Tomonari-kun, kamu ganteng banget!! Kamu kelihatan sangat pas dengan penampilan itu!”
“Terima
kasih, Toshima-san.”
Meski aku
senang mendengarnya, tapi memujiku di depan Itabashi agak membuatku
cemas...
Saat aku
melihat ke arah Itabashi, dia tampaknya tidak peduli dengan pernyataan Toshima-san,
bahkan ia juga memperhatikan pakaianku dengan tatapan polosnya.
“Tidak...
ini benar-benar cocok untukmu.
Aku sampai tidak mengenalimu.”
“Sejak
mulai bersekolah di akademi ini, aku sering mengenakannya.”
Aku
merasakan rasa hormat yang mendalam dari Itabashi, dan itu membuatku sedikit
malu. Ia jelas-jelas memisahkan romansa dari
segalanya ketika menilaiku. ...Ini adalah daya tarik Itabashi. Dirinya begitu polos, sederhana dan lugas.
“Baiklah,
Yuri, ayo pergi.”
“Eh,
iya...”
Ketika
aku memanggilnya, Yuri
mendekat dengan sedikit ragu.
Yuri
menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rona kemerahan
di pipinya, dan dia tampak
gelisah sambil melirik ke sana kemari. ...Apa
jangan-jangan dia merasa gugup?
Tumben
sekali. Biasanya, Yuri yang menarik tanganku dengan
percaya diri...
Ketika
kami berjalan di jalan pengantin dan sampai di depan altar, aku melihat wajah Yuri. Dia masih tampak malu... jadi aku
merasa ingin sedikit menggodanya.
“Gimana
kalau kita melakukannya sampai berciuman?”
“Da-Dasar
bodoh!!”
Wajah Yuri
menjadi merah padam ketika dirinya berteriak. Di sudut pandangku, aku melihat Sumida menunjukkan ekspresi jengkel dengan
ekspresi “Kugh!!”.
Sesekali menggoda
Yuri juga terasa
menyenangkan, pikirku dalam hati,
tapi kemudian aku mendengar
tepuk tangan.
Ketika
aku dan Yuri menoleh, di sana ada—.
“Selamat
atas pernikahan kalian...”
“Aku
tidak sabar menunggu kehadiran cucuku...”
Orang tua
Yuri terus memberi tepuk tangan sambil berusaha menahan air mata.
“Ayah,
Ibu!?”
Yuri tammpak kebingungan, bertanya-tanya sudah berapa
lama mereka menonton. Sementara
Yuri panik, aku merapikan kerah dan memberi hormat kepada mereka.
“Sudah lama tidak beremu, Paman.”
“Wah,
kamu sudah berubah menjadi sangat
dewasa ya. Caramu mengenakan jas itu lebih
baik daripada aktor film di luar sana.”
Ayah Yuri,
Heizo-san, berkata dengan senyum ramah. Ia adalah pemilik dan koki di
restoran Hiramaru. Yuri terus mengikuti jejaknya dan berencana untuk meneruskan
bisnisnya suatu hari nanti.
Ketika
aku masih kecil dan merasakan kelaparan, ia selalu menyajikan makanan yang
melimpah untukku. Bagiku,
dia mungkin lebih seperti orang tua daripada orang tuaku sendiri.
“Terima
kasih telah mengundangku ke sini ya,
Itsuki-kun.”
“Tidak...
aku seharusnya berterima kasih karena kalian datang hari ini.”
“Kamu tidak
perlu kaku dan formal begitu. Kita sudah akrab, bukan?”
Ibu Yuri,
Minae-san, tersenyum lembut. Aku tidak bermaksud untuk terlalu
formal, aku hanya ingin menunjukkan rasa
hormatku. Aku juga tersenyum.
Tentu
saja, Yuri dan kedua orang tuanya adalah orang-orang yang sangat berarti bagiku.
Aku telah banyak dibantu oleh keluarga Hirano sampai aku bisa menjadi siswa SMA
yang bisa bekerja paruh waktu.
Itulah
sebabnya, aku merasa
sangat senang bisa mengundang mereka ke Akademi Kekaisaran
hari ini. Bagiku, ini mirip seperti sedikit tindakan membalas budi kepada orang
tua.
“Se-Se-Senang
bertemu dengan Anda!! Namaku Sumida, teman sekelasnya Hirano-san!!”
“Ara, kamu semangat sekali ya.”
Sumida
menyapa ibu Yuri dengan antusias. Dalam alur itu, Itabashi dan Toshima-san juga
memberikan sapaan ringan. Yuri tampak sedikit malu, tetapi di sisi lain, dia
juga terlihat senang.
Dengan
Minae-san sebagai pusat perhatian, suasana
hangat dan ceria mulai tercipta. Saat aku mengamati dari jarak yang sedikit
jauh, Heizo-san dengan
pelan memanggilku.
“Akademi
Kekaisaran memang luar biasa. Aku bahkan
lebih terkejut daripada putriku.”
“Yah, Yuri sering datang ke rumah Konohana-san, jadi dia sudah terbiasa.”
“Konohana-san ya... Aku masih belum bisa
membayangkannya. Aku tak pernah membayangkan
bahwa putriku bisa bergaul dengan anak dari grup Konohana yang itu.”
“Sepertinya
mereka sering mengobrol seru
tentang manga shoujo.”
“Hahaha!!
Sebelum menjadi Ojou-sama,
dia tetaplah gadis seusianya!”
Setelah
tertawa terbahak-bahak, ekspresi Heizo-san mendadak
berubah menjadi serius.
“Kamu tidak
perlu terlalu khawatir tentang kami.”
Apa
maksudnya?
Ketika aku
memiringkan kepalaku dengan kebingungan, Heizo-san melanjutkan.
“Kamu
sudah mendengar tentang impian Yuri, ‘kan?
Meneruskan restoran kami dan
mengembangkannya lebih besar. ...Tapi sebagai orang tua, hal yang terpenting adalah kebahagiaan Yuri sendiri, tidak peduli apakah dia
meneruskan bisnis atau
tidak. ...Jika Yuri menginginkannya, biarkan dia terjun lebih dalam ke
lingkungan orang-orang kaya ini. Jika dia bahagia, dia tidak perlu kembali ke rumah
kami.”
Meski
rasanya sedikit sedih juga,
imbuh Heizo-san di akhir.
Aku
memahami perasaan Heizo-san.
Aku juga
sedikit memikirkan hal ini. — Mengajarkan Yuri tentang norma-norma kelas atas
yang tidak perlu ketika dia sudah memutuskan untuk meneruskan restoran makanan sederhana, bisa jadi
berdampak buruk.
Masakan
kelas atas, bahan-bahan kelas atas, bumbu-bumbu kelas atas, peralatan kelas atas, dan pelanggan elit. Pengalaman dalam menangani
semua itu, bagaimana itu akan berpengaruh pada masa depan ketika dia meneruskan
restoran makanan sederhana, membuatku sedikit khawatir.
Heizo-san dan... mungkin Minae-san juga berpikir bahwa Yuri bisa
menjejakkan kedua kakinya di dunia kelas atas ini dan merasa nyaman di sana. Keduanya benar-benar menginginkan
kebahagiaan putri mereka.
(... Mereka benar-benar luar biasa.)
Orang tua
Yuri sungguh luar biasa. Aku merasa sangat bersyukur bisa
bertemu dengan mereka. Jika
aku tidak bertemu dengan keduanya, mungkin aku menjadi orang yang melihat sosok
orang tua dengan pandangan sinis.
“...Semuanya akan baik-maik saja,” kataku sambil mengamati Yuri dari jauh. “Kurasa Yuri akan bahagia tanpa perlu kita perlu mengkhawatirkan apapun.”
“...Itu
juga benar.”
Heizo-san mengangguk dengan ekspresi tenang.
Yuri
pernah menerima tawaran dari restoran kelas atas dalam lingkaran sosial keluarga Konohana. Namun, meskipun begitu, Yuri
tetap mengutamakan niatnya untuk meneruskan Hiramaru. ...Heizo-san sebagai orang tua pasti khawatir
tentang Yuri. Namun, dari sudut pandangku, tekad Yuri sangat kuat, dan jelas
bahwa itu keinginannya sendiri.
Meskipun
bagiku itu tidak perlu dikhawatirkan, tapi
mereka pasti merasa harus khawatir. Tapi,
begitulah orang tua. Itulah yang namanya keluarga.
“Aku akan
merasa jauh lebih tenang jika ada Itsuki yang berdiri di samping putriku.”
Begitulah kata Heizo-san sambil menyeringai.
“Jadi———kapan acara sebenarnya akan dilaksanakan? Setelah
lulus?"
“—Ayah!!
Jangan ngomong hal yang aneh-aneh!!”
Yuri berlari mendekat dengan wajah merah padam. Tepat kekita aku tersenyum kecut pada Yuri yang marah dalam balutan gaunnya———
“Tomonari-sama.”
Tiba-tiba, suara yang tenang namun tegas menyapaku
dari belakang. Ketika
aku menoleh, ada seorang wanita berpakaian pelayan yang melakukan penghormatan
dengan sempurna — Shizune-san, pelayan
keluarga Konohana.
“Shizune-san?”
“Beberapa
saat yang lalu, ada panggilan dari Kagen-sama. Sebentar lagi, Douzen-sama akan tiba di akademi.”
Akhirnya
dia datang —.
Aku menarik napas dalam-dalam untuk
meredakan ketegangan yang muncul dalam
diriku.
Walaupun Kagen-san adalah ketua Konohana Group, tapi
Douzen-san
adalah kepala keluarga Kohana yang mengatur urusan rumah. Beliau biasanya tinggal di kediaman
utama yang hanya diisi oleh orang-orang terpilih dari keluarga Konohana, dan posisinya lebih tinggi
dari Kagen-san...
Tapi
bagiku, dia adalah seseorang yang ingin kujaga hubungan jangka panjangnya. Karena aku bertanggung jawab
untuk menjaga Konohana Hinako.
Aku
berbalik kepada teman-teman lamaku.
“Baiklah
semuanya, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi aku akan pergi
sebentar.”
“Ya. Mari
kita bertemu lagi saat waktunya pertunjukan Konohana-san.”
Aku telah
berjanji untuk menonton pertunjukan Hinako bersama Yuri dan yang lainnya. Setelah berganti pakaian, aku
melangkah keluar bersama Shizune-san
diiringi oleh teman-teman lamaku.
◆◆◆◆
Saat melangkah keluar, aku bisa mendengar suara
riuh festival budaya akademi.
Aku melihat
sekeliling untuk memastikan persiapan menyambut Douzen-san
sudah siap. Para petugas keamanan yang dipekerjakan menjalankan tugas sesuai
jadwal. Siswa-siswa yang sedang menampilkan pertunjukan di lapangan juga
menjaga etika agar tidak mengganggu pejalan kaki.
“Festival
budaya kali ini sangat memperhatikan detail, ya.”
Sambil
berjalan, Shizune-san
tiba-tiba berbicara demikian.
“Kami
menggunakan lounge untuk pelayan, dan itu sangat nyaman.”
“Terima
kasih. ...Usulanku ternyata berhasil.”
“Rupanya
itu ide Itsuki-san, ya? Aku
terkejut karena tahun lalu tidak ada.”
Para tamu
festival budaya memang diperiksa dengan ketat, tetapi tetap saja, banyak
permintaan dari orang tua yang ingin agar pelayan dan petugas keamanan menunggu
di dekatnya demi keamanan. Oleh karena itu, aku mengusulkan dalam rapat untuk menyiapkan tempat
tunggu bagi mereka, dan usulanku
itu diterima.
Kurasa ide tersebut muncul karena aku
adalah pelayan keluarga Konohana.
Aku ingin para pelayan juga bisa bersantai, jadi aku menyiapkan sistem
pemesanan makanan dan minuman dari kelas-kelas yang disediakan di lounge.
Setelah memesan melalui tablet, pemberitahuan akan diterima oleh kelas, dan
mereka akan mengantarkannya ke dalam lounge.
Intinya, itu adalah layanan pengantaran,
tetapi cukup banyak kelas yang bersedia bekerja sama. Banyak siswa yang ingin
mencoba hal-hal yang tidak biasa dalam festival budaya ini. Lounge untuk
pelayan dekat dengan gedung sekolah, dan kadang-kadang aku bertemu siswa yang
mendorong troli teh yang elegan di koridor.
“Apa
kamu sudah memakan
sesuatu, Shizune-san?”
“Ya,
aku memesan teh Inggris dari kelas 1-E.”
“Itu
kelas yang terkenal dengan kue dan teh susunya,
ya. Selain rasanya yang enak, aku merasa ada kehangatan seperti di rumah...”
“Benar.
Rasanya sepertinya cocok disajikan kepada Ojou-sama di
kediaman, jadi aku berpikir untuk mencoba mereproduksinya
di lain waktu. Untungnya, sepertinya aku bisa mendapatkan bahan-bahannya.”
Dengan
kemampuan keluarga Konohana dan
Shizune-san, seharusnya mereka bisa
mendapatkan hampir semua yang dibutuhkan. ...Meskipun festival budaya di
Akademi Kekaisaran dipenuhi
dengan pertunjukan yang aneh, jika keluarga Konohana
serius, sebagian besar bisa direplikasi. Sekali lagi, aku merasa bahwa kekuatan
finansial dan kemampuan keluarga Konohana
sangat luar biasa.
...Syukurlah,
sepertinya Shizune-san juga
menikmati festival budaya ini. Meskipun
dia terlihat serius, tapi ini keadaan normalnya.
“Ngomong-ngomong...
tadi kamu mengenakan jas yang bagus.”
Shizune-san berkata dengan nada formal.
“Bukannya
itu tidak massalah jika kamu tetap mengenakannya?”
“Tidak,
seragam jauh lebih praktis untuk mengerjakan
tugas OSIS.”
Kali ini,
seragam jauh lebih nyaman dibandingkan jas.
Para tamu dari luar bisa langsung mengenali kami sebagai siswa Akademi Kekaisaran.
“...Begitu ya.”
Shizune-san tampak memahami alasanku,
tetapi... apa-apaan dengan ekspresi kecewanya itu?
“Apa
kamu lebih suka melihatku dalam setelan jas, Shizune-san?”
“!!!”
Pertanyaan
bercanda itu membuat Shizune-san
sedikit terkejut.
“Ja-Jaangan salah paham. Ini hanya
masalah konteks.”
“Konteks?”
“Aku
terbiasa melihat setelan jas, karena para pelayan di kediaman Konohana juga memakainya. Namun, jarang sekali
melihat seseorang seusiamu
mengenakan jas...”
Mungkin
konteksnya adalah status pelajar atau status di bawah umur.
“Meski
begitu, membahas hal yang seperti itu...”
“Itu
bukan sekadar pandangan. Itu semacam apresiasi.
Pakaian adalah seni yang bisa dikenakan.”
Wow, itu
adalah ungkapan yang sangat bagus.
Sama seperti seni bela diri bagi
Narika, atau etiket bagi Tennouji-san.
Kata-kata dari seseorang yang telah menguasai bidang tertentu memiliki
kedalaman yang tidak bisa dipahami dari sudut pandang biasa.
Saat aku
mencatat kata-kata Shizune-san
dalam ingatanku, aku
merasakan tatapan dari samping dan menoleh.
Seorang
gadis kecil menatap Shizune-san
dengan mata berbinar.
“Wah, ada pelayan~~~!!”
Gadis itu
berteriak sambil menunjuk Shizune-san.
Shizune-san tersenyum bangga pada gadis itu,
yang matanya berbinar seolah-olah telah melihat sihir.
“Lihatlah,
inilah kekuatan pakaian.”
“...Aku
mengakui bahwa ada kekuatan dalam pakaian pelayan.”
Meskipun
kurasa itu bukan kekuatan artistic sih...
...Meski begitu, jarang sekali.
Melihat
anak di depanku, aku berpikir demikian.
Bukan hal
yang aneh melihat anak-anak ada di sini. Hari ini, aku juga
melihat anak-anak SMP dan siswa SD yang datang bersama orang tua mereka. Mereka
mungkin adalah lulusan Akademi Kekaisaran
atau siswa yang sedang mempertimbangkan untuk mendaftar.
Tapi, hal
yang menarik perhatianku justru...
(...
Rambut perak, baru pertama kali aku melihatnya.)
Sama
menariknya dengan rambut pirang keriting Tennouji-san,
gadis itu memiliki dua ekor kuda dengan rambut perak yang sangat khas.
Dilihat
dari penampilannya, dia mungkin berusia sekitar sepuluh tahun, jadi sepertinya
itu bukan hasil pewarnaan. Akademi Kekaisaran
memang berada di level yang berbeda. Festival budaya sekolahnya saja benar-benar
mendunia.
“Aku
belum pernah melihat pelayan sebelumnya!! Mereka benar-benar ada!!”
“Ya,
mereka beneran ada loh.”
“Hee~~~!!”
Ternyata...
memang ada banyak, ya.
Hanya keluarga Konohana saja
mempekerjakan cukup banyak pelayan.
Aku berjongkok supaya
bisa sejajar dengan tinggi badan gadis itu. Meskipun
aku rasa tidak apa-apa, aku ingin memastikan karena dia mungkin tersesat.
“Aku
Tomonari dari OSIS. Apa
orang tuamu ada di dekat sini?”
“Papa
dan Mama tidak ada di sini. Kakekku yang mengajakku ke sini hari ini!”
Dia
tampak tidak khawatir dan sepertinya tidak berbohong, tetapi... aku sedikit
khawatir untuk membiarkannya
sendirian. Gadis itu
memberi jawaban yang ceria, tetapi tatapannya terus tertuju pada pakaian
pelayan Shizune-san. Dia
menatap dengan sangat fokus.
“Aku
juga ingin mengenakannya!”
Gadis itu
menatapku dengan mata yang tulus.
“Maksudmu
pakaian pelayan?”
“Ya!!”
Gadis
kecil itu mengangguk dengan senyuman
lebar. Bagi anak perempuan seusianya, pakaian pelayan mungkin terlihat sama
menariknya dengan gaun putri.
“Itsuki-san, kita tidak punya banyak waktu, jadi aku bisa menemani anak
ini...”
“Tidak,
aku akan mengurusnya. Ada beberapa kelas yang menggunakan pakaian pelayan untuk
pertunjukan, jadi aku akan coba meminta bantuan mereka.”
Namun,
waktu yang kumiliki memang terbatas, jadi aku
akan menyerahkannya kepada anggota OSIS
lainnya. Kelas 2-A seharusnya menggunakan pakaian pelayan untuk pertunjukan,
tetapi mereka tidak menyiapkan ukuran untuk anak-anak. Selain itu, pertunjukan
akan segera dimulai, jadi sebaiknya tidak meminta bantuan sekarang.
Dengan
demikian, aku menelepon anggota OSIS lainnya
dan memanggil Yodogawa yang kebetulan sedang tidak sibuk...
(…Ia agak terlambat.)
Setelah menjawab dengan suara ceria,
Yodogawa datang setelah beberapa waktu. Dirinya
berlari kecil menuju kami dan tampak meminta maaf.
“Maaf,
aku terlambat!”
“Apa ada malasah?”
“Tidak
ada yang mendesak sih, tapi kami menerima pertanyaan yang cukup sulit...”
Yodogawa
melirik sebentar ke arah gadis kecil yang ada di sampingnya. Mungkin dia merasa
ragu untuk menjelaskan tentang latar belakang acara kepada anak kecil. Namun,
Yodogawa mulai berbicara, menyadari bahwa gadis itu mungkin tidak akan
mengerti.
“Jadi,
ada banyak tamu yang bertanya tentang rasio keuntungan festival budaya.
Sepertinya semua orang yang merupakan pengusaha penasaran, jadi aku baru saja
menghitungnya...”
Tentu
saja, itu bukan hal yang mudah untuk dihitung.
Aku sudah
menyiapkan kumpulan jawaban untuk pertanyaan yang bisa diprediksi, tetapi rasio
keuntungan tidak termasuk dalam perkiraan. Memang benar bahwa festival budaya
ini bisa menjadi model untuk berbagai acara. Ini pasti menjadi topik yang
menarik bagi orang-orang dari perusahaan acara.
Saat aku
berpikir untuk membahas ini dengan Abeno-san
dari bagian keuangan nanti...
“Kurasa
sekitar 15%!!”
Gadis
kecil itu tiba-tiba berkata dengan ceria. Aku dan Yodogawa saling memandang
dan kemudian menatap gadis itu.
“Umm,
dari mana kamu mendapatkan angka itu...?”
“? Estimasi Fermi!”
Gadis itu
menjawab dengan penuh percaya diri. Estimasi
Fermi adalah teknik untuk memperkirakan angka dengan asumsi logis, tetapi...
mengejutkan bahwa gadis sekecil itu sudah tahu istilah tersebut.
“...Baiklah,
aku akan menghubungi Abeno-san
dan menyampaikan angka itu."
“Ya,
baik!”
Aku
berbisik kepada Yodogawa. Meskipun Yodogawa masih terkejut, aku tidak ingin menghentikan
gadis itu lebih lama karena beberapa keadaan yang mendasarinya.
“Baiklah,
Nona kecil! Dari sini, aku yang akan mengantarmu! Kamu ingin mengenakan pakaian
pelayan, ‘kan?”
“Ya!!
Aku mau!!”
Dengan
sifat Yodogawa yang ramah, gadis itu menunjukkan senyum ceria.
“Terima
kasih, Onii-chan! Pelayan-san!”
Gadis
kecil itu memberi hormat dengan sopan, dan aku serta Shizune melambaikan
tangan. Sembari dipandu oleh Yodogawa,
punggung kecil gadis itu menghilang di kerumunan.
“...Meski dia anak yang unik, tapi kamu menanganganinya dengan baik.”
“Karena
aku selalu dilatih oleh Shizune-san.”
Aku
berkata sambil menunjukkan kekuatan ototku. Shizune-san tersenyum tanpa mengeluarkan
suara.
“Itsuki-san, kamu sepertinya akan menjadi ayah
yang baik.”
“Siapapun
bisa melakukan itu.”
“Bukan hanya
kejadian ini saja, tapi
kadang-kadang aku melihatmu saat merawat Ojou-sama
dan berpikir demikian. Sepertinya kamu suka melihat orang lain dengan penuh
perhatian, bukan?”
Itu,
yah... aku rasa memang begitu.
Jika
tidak, aku takkan merasakan kepuasan sebesar ini dalam kehidupan
sehari-hari.
“...Dulu,
aku berharap bisa menjadi sosok ayah bagi Hinako.”
“Begitu,
ya?”
“Ya.
...Ketika Hinako pertama kali demam dan pingsan
di hadapanku, dia memanggilku 'Papa' dalam mimpinya. Kagenn-san terlihat kesulitan dengan
berbagai masalah, dan aku berpikir seseorang harus mengisi posisi itu.”
Aku ingin
mengisi kekosongan tersebut. Menjadi sosok yang bisa
mendampingi Hinako yang mencari ikatan keluarga.
“Tapi,
belakangan ini, Kagen-san
tampaknya sudah berperan sebagai ayah dengan baik.”
“...Mari
kita anggap kalau aku tidak pernah mendengar itu.”
Aku akan
sangat berterima kasih jika dia melakukannya, tetapi karena dia tidak
membantah, sepertinya Shizune-san
memiliki pendapat yang sama denganku. Belakangan ini, Kagen-san tampaknya semakin lembut
terhadap Hinako, bahkan menurut pandangan Shizune-san.
“Sebelum
kedatangan Itsuki-san, aku juga pernah menjadi pengurusnya, jadi rasanya sangat
emosional.”
“Begitu,
ya?”
“Ya.
Rasanya seolah-olah aku menjadi ibunya.”
Shizune
berkata sambil bercanda. Ibu
Hinako sudah meninggal. Oleh karena itu, sosok seperti Shizune-san pasti menjadi pengganti ibunya
bagi Hinako.
“Hahaha,
kalau begitu kita adalah pasangan suami istri.”
Aku
sebagai Papa, dan Shizune-san sebagai
Mama, dengan Hinako sebagai putri kami. Saat membayangkan hubungan pasangan
yang harmonis begitu, aku
melirik wajah Shizune.
“…Maaf,
aku mengatakan sesuatu yang aneh.”
“…Tidak,
akulah yang salah.”
Kami
berdua sama-sama tersipu.
Tanpa
sadar, aku mulai membayangkannya. Ruang
keluarga yang tenang dan hangat di bawah sinar matahari. Di
dapur ruang tamu, Shizune-san sedang
memasak, sementara aku duduk menonton TV dengan Hinako bersandar di pangkuanku.
Ketika Shizune-san berkata,
“Makanannya sudah siap loh,”
aku dan Hinako berdiri sambil menjawab “Ya~~” dan bersama-sama membawa piring.
Saat makan, Hinako seringkali mengotori bibirnya, jadi aku yang duduk di
sampingnya mengelapnya
dengan saputangan, dan melihat itu, Shizune-san
tersenyum lembut...
(…Rasanya sangat cocok dan pas banget)
Apa ini
benar-benar kenangan yang tidak ada? Sampai-sampai aku berpikir mungkin aku
hidup seperti itu di suatu tempat. Melihat ekspresi Shizune-san yang tampak rumit, sepertinya
dia merasakan hal yang sama denganku.
“…Ketika
kita dipecat dari keluarga Konohana,
mari kita beralih menjadi pengasuh.”
“…Sepertinya
tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan.”
Menidurkan anak-anak, menggandeng tangan, sesekali
memberikan perhatian...
Hmm...
aku merasa sangat percaya diri bisa melakukannya dengan baik. Aneh sekali.
“Tapi,
jika Kagenn-sama mengisi kekosongan di hati
putrinya... kira-kira di posisi
mana Itsuki-san sekarang?”
Shizune-san bertanya dengan nada serius. Aku berpikir sejenak sebelum
menjawab.
“Itu sih
tentu saja, aku menjadi pengasuhnya.”
Jawaban
sederhana itu muncul dalam pikiranku.
“Aku
ingin menjadi sosok yang paling dapat diandalkan oleh Hinako apapun yang terjadi. Aku
ingin menjadi pengasuh yang
sejati. Bukan sebagai orang tua, bukan sebagai pelayan... tetapi berada di
samping Hinako dengan pandangan yang sama dan tujuan yang sama. Kurasa itulah posisiku.”
Posisi
yang kumaksud di sini bukanlah dalam artian
bisnis. Ini adalah tentang perasaan mendalam di mana Hinako yang terbebani bisa
membuka hatinya. Aku ingin menjadi tempat seperti itu.
“Nilai
sempurna”
“Hah?”
“Bukan
apa-apa. Sekarang, ayo kita pergi menyambut Douzen-sama.”
Shizune
berjalan di depan. Sepertinya itu bukan
imajinasiku saja bahwa punggungnya terlihat ceria.


