Otonari no Tenshi-sama Chapter 150 Bahasa Indonesia

Chapter 150

 

Mereka selesai membeli pakaian, meninggalkan toko, dan berkeliaran tanpa tujuan di pusat perbelanjaan.

Mal yang mereka kunjungi adalah Mal terbesar di prefektur, dan Amane berasumsi rasanya akan membosankan jika cuma berjalan-jalan saja, tapi nyatanya jauh lebih menarik. Amane tidak merasa direpotkan, tapi tatapan para pengunjung lain memberinya perasaan yang tak terlukiskan.

Terlepas dari biasnya, orang tuanya memiliki wajah lumayan, dan tak perlu dikatakan lagi tentang Mahiru. Tidak heran mereka menarik banyak perhatian orang lain.

Mahiru sudah lama terbiasa dengan ini, dan menempel di lengan Amane tanpa peduli tatapan orang.

Meski dia sudah terbiasa dengan tatapan orang, sepertinya dia masih sedikit malu berjalan bergandengan dengan cowok, karena wajahnya sedikit merah.

Di sampingnya, Amane merasakan sesuatu yang lembut menyenggolnya, dan benar-benar tidak bisa tenang, tapi jika Ia blak-blakan menyampaikan perasaan ini, Shihoko akan menggodanya terus-terusan. Amane melakukan yang terbaik untuk tidak menunjukkan emosinya di wajahnya.

Amane membawa tas berisi pakaian Mahiru, mengalihkan perhatiannya, tapi Mahiru menempel kuat padanya, seolah-olah bertanya mengapa Ia tidak menatapnya, yang membuatnya dalam keadaan terjepit.

“Naa, Mahiru.”

“Iya?”

“… Ah, umm.”

“Apa?”

“... Kamu tidak membeli pakaian yang kamu beli di Golden Week, kan?”

Amane bertanya-tanya apakah Ia harus mengungkit tentang payudara Mahiru yang menempel padanya, tapi begitu Amane ingat bahwa Mahiru kadang-kadang  mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, kalau itu disengaja, Amane merasa ragu-ragu lagi, dan memutuskan untuk membicarakan hal lain.

Mahiru mengenakan gaun one-piece seperti putri dan tampak polos, bukan gaun pundak terbuka yang dia beli terakhir kali. Mahiru bilang dia akan memakainya untuk ditunjukkan pada Amane, tapi Amane tidak pernah melihatnya, dan penasaran tentang itu.

Begitu dia mendengar kata-kata Golden Week, Mahiru mengedipkan mata, dan menjadi malu-malu.

“... Aku ingin memakainya untukmu saat kita berkencan.”

“… Be-Begitu ya.”

“Kamu akan membawaku, bukan?”

Mahiru bertingkah menggemaskan, bersandar pada Amane dan memiringkan kepalanya, dan Amane perlahan memegang telapak tangan yang menempel padanya.

“… Kurasa kita bisa membicarakannya saat kita berduaan. Ini perjalanan keluarga sekarang, berbeda dari kencan.”

“... Y-ya.”

“Apa ada tempat yang mau kau kunjungi?”

“Aku baik-baik saja di tempat manapun selama aku bersamamu, Amane-kun.”

“Jika kau berkata begitu, aku tidak ingin pergi ke mana-mana. Aku senang melihatmu berdandan, tapi aku tidak ingin menunjukkannya ke orang lain.”

“… Kalau begitu kita akan kencan di rumah saja. Aku baik-baik saja dengan itu. Katanya cuaca selama beberapa hari mendatang akan sangat buruk.”

Sebegai pengingat, tampaknya laporan cuaca telah meramalkan cuaca buruk, karena badai topan mendekat.

Badai topan tidak datang, tetapi efek samping yang menyapu mungkin menyebabkan hujan.

Seharusnya sudah lama berlalu pada saat Amane dan Mahiru kembali ke rumah, tapi karena mereka berada di kampung halamannya, Amane menginginkan cuaca yang bagus.

Karena topan, ada kemungkinan mereka tidak bisa keluar. Begitulah yang Amane pikir, tapi sepertinya Mahiru ingin menghabiskan waktu berdua dengannya, dan tidak terlalu ngotot untuk pergi keluar.

Amane berencana untuk memeriksa ramalan cuaca begitu sampai di rumah, dan memegang tangan Mahiru dengan kuat sekali lagi.

“Aku juga sama. Aku baik-baik saja dengan dimanapun selama aku bersamamu. Bagaimanapun juga, kita akan membuat rencana sesuai dengan cuaca.”

“Iya.”

“… Kupikir kalian berdua sudah bermesraan, tapi sekarang kau merencanakan kencan?”

“Sayang sekali kita sudah punya rencana untuk itu.”

Shihoko, yang berjalan di depan mereka, menggoda mereka dengan bercanda, dan Amane membalas dengan acuh tak acuh. Orang tuanya terkekeh di depan mereka.

Namun, mereka tampak lebih lega ketimbang jahil, dan berbalik ke depan tanpa melanjutkan masalah tersebut. Amane mendengus sekali lagi, dan memegang tangan Mahiru.



Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

close

5 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama