Chapter 5 — Pembalikan Peran Kakak Beradik Ternyata Hanya Kesalahpahaman
“Ah,
Masachika-kun. Bisa lihat ke sini sebentar?”
“Hmm~?”
“Mengenai bagian ini…”
Di tengah-tengah kegiatan OSIS. Melihat Masachika dan
Yuki terus berinteraksi seperti biasa bahkan setelah mengungkapkan bahwa mereka
kakak beradik, Touya lalu bergumam.
“Mereka beneran kakak beradik ya…”
“Hmm?
Ada
apa?”
Touya menggelengkan kepalanya saat enjawab pertanyaan Chisaki.
“Yah…
kupikir memang sulit untuk membedakannya. Sejujurnya, Suou lebih kelihatan seperti kakak perempuan bagiku.”
“Ketua,
aku
tidak melewatkan perkataanmu tadi.
Apa kamu ingin mengatakan kalau akulah adik laki-laki 'yang ini'?”
Masachika
menunjuk wajah Yuki dengan jari telunjuknya, tampak ingin mengatakan 'itu
lelucon yang enggak lucu'.
Chisaki pun mengangguk setuju.
“Memang,
Yuki-chan kelihatan
lebih dewasa.”
“Sarashina-senpai!?”
Namun,
Touya
lah yang
setuju dengannya,
bukan Masachika.
Selanjutnya, Alisa dengan senyum nakal di wajahnya mengangguk.
“Yah, jika cuma
dilihat
bagaimana
dia
berperilaku
di sekolah… rasanya tidak bakalan aneh jika Yuki-san yang jadi kakaknya.”
“Kamu pasti sedang bercanda, ‘kan?”
“Ara~ ara~, kalau begitu Masachika-kun. Mulai sekarang, kamu
boleh memanggilku 'Onee-chan'
loh?”
“Tentu
saja ogah.”
Masachika
menatap Yuki dengan tajam dan menolak dengan tegas. Setelah tersenyum kecil,
Alisa kemudian bertanya kepada Touya
dengan tampak berpikir.
“Tapi
jika mengikuti logika begitu, bukannya itu berarti
antara aku dan
Masha juga, aku yang jadi kakak perempuannya?”
“Ehh~? Alya-chan, itu sih kejam banget~.”
“Mm?
Itu pertanyaan yang sulit…”
Touya menatap kedua saudara
perempuan itu dan ragu-ragu, tetapi Chisaki tertawa terbahak-bahak dan berkata seolah-olah itu sudah jelas.
“Tidak,
tidak, jika di antara kalian berdua sih, justru Masha yang jelas banget jadi
Onee-chan~.”
“Benar.”
“Tidak
diragukan lagi.”
“Ke-Kenapa bisa begitu?!”
Yuki
dan Masachika mengangguk, mengikuti Chisaki, membuat
Alisa berdiri dengan ekspresi terkejut dan bersuara keras.
“Padahal aku
yang lebih tinggi dan terlihat seperti anak sulung yang bertanggung jawab,
bukan?!”
Sambil
menunjuk Maria yang mengembungkan pipinya seperti anak kecil dan berkata “Ehhh~?”, Alisa mencari persetujuan.
Namun…
“…
Begitu ya.”
“…
Iya.”
“…
Benar~.”
Masachika,
Yuki, dan Chisaki menjawab dengan tatapan hangat dan nada datar, membuat Alisa
terkejut.
“Ke-Kenapa reaksi kalian malah seperti itu…?”
(Kurasa inilah yang
disebut
'Adik perempuan yang tidak memahami isi hati kakaknya'…? Yah, Masha-san memang sengaja menyembunyikannya sih…)
Masachika
segera memalingkan muka, memikirkan bagaimana Maria sebenarnya cukup dewasa,
tetapi tetap santai di depan adik perempuannya. Saat itu, pintu ruang OSIS diketuk dari luar.
“Ya.”
Ia
secara refleks menjawab, dan pintu terbuka dengan bunyi dentang, memperlihatkan
sosok gadis bergaya kuncir menyamping.
“Hai,
hai~,
ini dia Elena-senpai yang dicintai semua orang!”
“Aku ingin meniru rasa percaya dirimu itu.”
Dengan
tangan kanan di pinggang dan tangan kiri terangkat tinggi, senyum percaya diri
Elena-senpai membuat Masachika bergumam
setengah serius. Di saat yang sama, Alisa berseru dengan nada seolah-olah baru
saja mendapatkan sesuatu yang baik.
“Elena-senpai!
Menurutmu, siapa yang terlihat lebih seperti kakak, aku atau Masha!?”
“Ehhh? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu…”
Elena
tampak terkejut dan berhenti, sementara Chisaki tertawa senang dan berkata.
“Kebetulan banget. Jadi, Elena-senpai, jika kita semua tujuh bersaudara, menurutmu urutan dari anak
pertama hingga anak terakhirnya bakalan
seperti apa?”
“Ah,
Sarashina-senpai, itu pertanyaan yang
menarik! Bagaimana kalau hari ini, siapa pun yang kamu pilih sebagai yang lebih
muda harus memanggil yang lebih tua dengan sebutan 'Onii-chan'
dan 'Onee-chan'?”
“Permainan
aneh macam apa yang ingin kalian mulai…”
Masachika
menjawab dengan heran atas saran aneh Yuki sebagai tanggapan atas pertanyaan Chisaki.... tetapi Elena hanya tersenyum
lebar saat mendengar hal itu.
“Hoho~~,
kedengarannya menarik… Hmm? Ngomong-ngomong, bagaimana
urutan kalian jika
benar-benar diurutkan berdasarkan tanggal lahir?”
“Eh,
um…”
Bukan
hanya Yuki, tapi hampir
semua anggota tampak ragu-ragu sambil mencari ingatan mereka saat ditanya demikian, tapi Maria dengan cepat
menjawab pertanyaan Elena.
“Jika
mengikuti urutan yang sebenarnya, maka urutannya adalah Ketua,
Chisaki-chan, aku, Kuze-kun,
Alya-chan, Ayano-chan, dan
Yuki-chan~.”
“Wehh~
jadi Yuki-chan yang paling muda ya. Rasanya agak mengejutkan.”
Elena
mengangguk beberapa kali dengan wajah tertarik dan tersenyum lebar.
“Baiklah~ ayo lakukan!
Aku akan menentukan urutan usia berdasarkan keputusanku sendiri dan bias!”
“Ah,
wakil ketua sangat antusias…”
“Bagaimana dengan pendapat kita…?”
Sementara
Touya dan Masachika sudah pasrah akan nasib mereka, para wanita mulai merencanakan
sesuatu.
(Apa
Alya-chan
akhirnya bisa memanggilku Onee-chan? Uwahh~, aku sangat menantikan ini~♡)
(Meski
aku sudah
sering dipanggil Onee-sama, mungkin ini pertama kalinya dipanggil 'Onee-chan'… hmmm, mu-mungkin aku sedikit tertarik?)
(Masachika-kun
akan memanggilku dengan sebutan Onee-chan…? Hmm… rasanya tidak buruk juga.)
(Ku,
ku, ku, aku akan menunjukkan kekuatan adik perempuanku yang luar biasa…)
(Ap-Apa ini… berarti saya diizinkan untuk memanggil
Yuki-sama dan Masachika-sama sebagai Onii-chan dan Onee-chan!?)
Dengan keinginan
masing-masing,
semua orang setuju dengan usulan Yuki dan menatap Elena dengan penuh harapan.
Elena
tersenyum senang melihat tatapan yang mereka berikan padanya, dan dia membusungkan dadanya dengan sikap sombong.
“Hehehe~ kalau begitu mari kita mulai
pengumuman…”
“Ah,
tunggu sebentar, Elena-senpai. Karena sudah terlanjut begini, aku ingin menebak urutannya.”
Tanpa
berpikir panjang, Masachika berusaha menulis tebakan urutan di bagian belakang
kertas yang ada di dekatnya, tapi pandangan Elena
tiba-tiba bersinar dengan mata yang tajam.
“Hoho~?
Karena
kamu bisa
membaca kartu
Elena-senpai dengan sempurna dalam permainan trick or treat sebelumnya, apa kamu berpikir kalau
kali ini
juga kamu bisa
menebak
urutannya dengan sempurna?”
“Hah?
Tidak, aku
tidak berniat begitu—”
“Kamu
berani berkata begitu ya,
Kuze-kun.
Baiklah, siapa takut? Aku akan menerima tantangan itu!”
“Bisa tidak kamu berhenti berbicara dengan
halusinasi pendengaran semacam itu?”
Sambil mengabaikan
komentar dingin Masachika, Elena menunjuk wajah Masachika dengan jari
telunjuknya.
“Ayo bertanding, Kuze-kun!
Jika tebakanmu lebih banyak salah daripada benar, aku menang! Jika tebakanmu
lebih banyak benar, kamu yang menang!”
“…Ngomong-ngomong,
apa yang akan terjadi
jika aku kalah?”
“Hmm,
mari kita lihat… mungkin kamu harus melakukan dogeza dan berkata, 'Aku benar-benar minta maaf, mataku buta. Aku minta maaf karena bersikap
sombong tanpa menyadari diri.'”
“Tidak,
aku tidak bertingkah sombong… apa kamu masih menyimpan
dendam tentang permainan trick or treat tempo hari, Senpai?”
Mengingat
permainan orisinal yang dirancang Elena di ruang OSIS sebelumnya, di mana Elena
harus mengumumkan kekalahannya dengan memperlihatkan celana dalamnya, Masachika menatapnya dengan
tatapan sinis. Saat itu, Elena menahan rok dan menatap Masachika dengan tajam.
“Tentu
saja! Karena kamu
membuatku melakukan hal yang memalukan seperti itu!”
“Elena-senpai
yang bilang mau melakukan itu sendiri dan malah menjebak diri sendiri, ‘kan…”
“Diam!
Hari ini aku akan membalas penghinaan itu di sini!”
“Betapa
kecilnya hatimu… apa hatimu sekecil cangkir sake?”
“Atau
tutup botol plastik?”
“Yuki-chan!?
Sejak dulu aku memikirkannya, bukannya kamu terlalu keras terhadap Elena-senpai!? "
Setelah
berbalik cepat dan mengarahkan komentar kepada Yuki, dia disambut dengan
senyuman lebar dan sedikit membungkuk, sehingga Masachika terdiam. Kemudian,
Elena membersihkan tenggorokannya dan mengalihkan pandangannya kembali ke
Masachika dengan senyum jahat seperti tokoh antagonis.
“Kembali ke topik yang tadi, jika aku kalah, aku juga akan dogeza
dan berkata, 'Aku
minta maaf. Aku
minta maaf karena berbicara sembarangan.' Bagaimana menurutmu?”
“Bagaimana?
Jika ditanya begitu, tentu saja aku tidak mau.”
“Kenapa
tidak!?”
“Yah, karena tidak ada manfaatnya menerima itu… atau lebih
tepatnya, bukannya
mengucapkan hal itu sambil dogeza, itu sama saja dengan berlutut dan menundukkan
kepala, kan?”
“…Yah,
bisa dibilang begitu, kan?”
Masachika
menatap tajam pada Elena
yang melihat ke atas secara diagonal dan menjulurkan lidahnya.
“Semakin
tidak ada manfaat bagiku untuk
menerimanya… Aku tidak
punya hobi berlutut di depan teman, dan aku
juga tidak suka membuat Senpai
berlutut."
“Mugugu…
benar
juga!”
“Dia
pasti berpikir sesuatu yang enggak-enggak…”
Mengabaikan
suara sinis Masachika, Elena dengan percaya diri berkata sambil menggoyangkan
tubuhnya dengan sedikit seksi.
“Kalau
begitu, jika Kuze-kun yang menang… untuk setiap tebakan
yang benar, Erona-senpai
yang
satu ini akan
melepas satu pakaian~♡”
“Tuh ‘kan bener~, pasti enggak ada benarnya sama sekali.”
“Sepatu,
kaus kaki, dasi pita, blazer, rok, kemeja, pakaian dalam… Jika kamu menjawab
semua pertanyaan dengan benar, mungkin bakalan ada
kejutannya
juga loh~♡ Kalau begini, kamu pasti akan lebih bersemangat!”
“Aneh banget,
seharusnya tidak ada yang membuatku bersemangat… atau lebih tepatnya, menyertakan sepatu dalam pakaian yang
dilepas, itu sangat cerdik…"
“Oke, jadi kamu benar-benar
termotivasi ya!”
“Apa
ada dokter di antara pelanggan kami? Ahli telinga atau otak.”
Ketika
Masachika membuat megafon dari tangannya dan memanggil orang-orang di sekitarnya,
Touya yang tampak kesakitan menaruh
tangan di dahinya menghentikannya.
“Tidak,
Wakil Ketua… Elena-senpai. Rasanya sangat
tidak pantas melakukan permainan melepas pakaian di ruang OSIS.”
“Aku juga
setuju. Sebagai Wakil Ketua dan Ketua Komite Kedisiplinan, aku tidak bisa mengizinkan sanksi hukuman seperti itu.”
“Ehh!?”
Eleba berbalik dengan cepat setelah mendengar penolakan dingin
dari Ketua dan Wakil Ketua OSIS,
tetapi melihat sikap tegas Chisaki, dia menggertakkan giginya.
“Baiklah…
kalau begitu, sepertinya aku tidak perlu melepas semua pakaianku. Maaf ya, Kuze-kun.”
“Tidak,
tolong jangan berbicara seolah-olah itulah
yang aku
inginkan.”
“Kamu tidak perlu mengatakannya segala… jauh di dalam lub k hatimu, kamu pasti ingin melihat tubuh
seksi Erona-senpai,
kan?”
“Aku
lebih ingin melihat apa yang ada di dalam cangkang kura-kura itu.”
Sambil mengabaikan
komentar
dingin dan perkataan sarkastik
Masachika, Elena mengangguk dengan tatapan lembut seolah berkata “Aku paham kok, aku paham.” Sudut mulut Masachika bergetar.
“Baiklah, kalau
begitu, Elena-senpai tidak perlu membuka pakaian segala. Kita hanya akan menebak urutan
anggota dari yang tertua hingga yang termuda.”
“Tapi,
aturan itu… Elena-senpai yang bisa menentukan urutan dengan bebas pasti sangat
diuntungkan. Jika Ketua menjadi yang termuda, mana mungkin itu bisa ditebak.”
“Aku
ingin kamu mempercayaiku soal itu.
Aku
takkan mengubah urutan pemilihan karena aku ingin mengutamakan pertandinganku
dengan Kuze-kun.”
“…”
Masachika
menatap Elena dengan serius seakan-akan
mencoba menilai kebenarannya, dan menghela napas.
“Baiklah,
aku setuju. Aku akan menerima
tantangan itu.”
“Seperti yang diharapkan dari Kuze-kun, kamu sangat antusias
sekali~♪”
“Ya,
ya.”
Karena semuanya terasa merepotkan baginya, jad Masachika berpikir dalam hati, “Akhirnya kita terpaksa
bertanding,”
sambil pindah ke tempat duduk sofa agar tidak terlihat oleh Elena. Setelah
menulis tebakan di kertas bekas, ia melipatnya menjadi empat dan kembali ke
tempat duduknya, saat itu Elena tampak siap dan bersuara.
“Baiklah,
mari kita langsung ke pengumuman! Pertama-tama,
anak pertama adalah…?”
Setelah
jeda sejenak, Elena memandang tujuh anggota dewan siswa dan membuka mulutnya.
“Drrrrrrrrrr,
d-d-drrrrrrr!”
“Memangnya
kamu tidak bisa memainkan drum dengan baik?”
“Diam,
aku bisa menjadikanmu yang termuda!”
“Itu
mungkin ancaman yang belum pernah didengar oleh umat manusia.”
“Dalarararararara──”
Dengan
suara yang berubah-ubah dan jeda yang panjang, Elena mengalihkan
pandangannya—lalu menunjuk dengan cepat. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan
jari telunjuk.
“Putri sulung! Aku!!”
“Tunggu!”
Usai mendengar hal itu, Masachika berdiri dan
berkomentar.
“Sama seperti kecurangan di permainan trick or treat…
kamu benar-benar melakukan sesukamu!"
“Eh?
Tapi aku bilang, 'Jika kita mengurutkan anggota ini dari yang tertua hingga
yang termuda', kan? Aku tidak mengatakan anggota OSIS saat ini!”
Sekali
lagi, Elena menjulurkan lidahnya sambil mengalihkan pandangannya, dan anggota OSIS lainnya memberikan tatapan
dingin kepada Elena. Mungkin merasa canggung, Elena mundur sedikit dan berusaha
melanjutkan.
“Selanjutnya,
orang kedua…”
“Tidak,
aku tidak akan tertipu──”
“Putri
kedua! Maria-chan!”
“Yay~~! Aku jadi Onee-chan~♪”
“Ehhh!? Kenapa bisa begitu!?”
“Lah,
bukannya aneh jika Si Adik Kujou langsung bereaksi
seperti itu…?”
Mengabaikan
pertanyaan Masachika, Maria berdiri dengan gembira saat namanya disebut,
sementara Alisa juga berdiri dengan penuh keraguan. Ketika Alisa berusaha
mempertanyakan keputusan Elena, Maria yang duduk di sampingnya segera meraih
kedua bahunya dan menariknya ke arahnya.
“Ayo,
Alya-chan! Panggil aku Onee-chan, oke?”
“Umm…”
Maria menatap langsung ke arahnya dengan
mata berbinar dan mendengus keras, Alisa tampak tidak suka dan mengernyitkan
wajahnya. Namun, karena dia sudah setuju dengan usulan Yuki, rasanya tidak
pantas untuk mengeluh di sini, jadi dengan menggigit bibirnya, dia merenung
selama beberapa detik…
“…O.”
“O?”
“…Onee-chan.”
Dengan
suara yang sangat rendah dan memalingkan wajahnya, Alisa mengucapkan kata itu,
dan Maria membuka matanya lebar—
“Iya,
iya! Betul, aku adalah Onee-channya Alya-chan~!”
Dia
memeluk Alisa erat-erat dengan wajah yang
berseri-seri.
“Tidak,
ini sih mirip dengan reaksi adik perempuan yang
kehilangan ingatan saat mengingat keluarganya.”
“Ahaha,
aku mengerti.”
Setelah
Masachika kembali ke tempat duduknya dengan senyum kecut, Chisaki mengangguk
sambil tersenyum. Di sisi lain, Maria terlihat bahagia saat menggosok pipinya,
sementara Alisa tampak lelah dan pasrah. Melihat ekspresi kontras antara kakak
yang bahagia dan adik yang tampak putus asa, Elena dan Touya juga tersenyum samar.
Akhirnya,
Maria tampak puas, lalu dengan senyum cerah, dia menjauh dari Alisa dan
berjalan cepat ke samping Masachika.
“Hei,
Kuze-kun.”
“Ah,
ya.”
“Ayo coba
panggil aku Onee-chan?”
“Umm…”
Senyum
Masachika berubah masam mendengar permintaan yang tiba-tiba dan memalukan itu.
Namun, dihadapkan dengan tatapan penuh harap Maria, ia tak bisa menolak...…
“…M-Masha-oneechan…”
“Nghehehehehe~♡”
Dengan
kegembiraan yang tak tertahankan, Maria menggoyangkan tubuhnya, mengelus kepala
Masachika, lalu berjalan mengelilingi meja panjang untuk memanggil Ayano.
“Ayano-chan!
Coba panggil aku Onee-chan?”
“…O-Onee-chan…?”
“Hmm~~~~~♪”
Dengan
menggigil seolah mengunyah kata-kata, Maria memeluk Ayano dari samping, lalu
menatap Yuki yang duduk di seberang.
“Yuki-chan!
Kamu juga!”
“Ya,
ada apa? Masha-oneechan?”
“Duhhhh~~~~~♡”
Sembari menangkupkan dagu dengan tangannya dan kepala sedikit miring, Yuki
memanggilnya ‘Onee-chan’ dengan santai, membuat wajah Maria bersinar
cerah, lalu dia melepaskan Ayano dan tiba-tiba melompat ke arah Elena. Melihat hal ini, Yuki tidak bisa menahan
senyumnya dan berbalik dengan ekspresi terkejut, seolah berkata, “Loh, malah ke sana?”. Reaksi itu jelas menunjukkan
bahwa Yuki mengharapkan pelukan dari Maria-oneesan,
dan di tengah tatapan dingin Masachika, Elena yang tidak terduga juga terkejut. “Eh, malah ke sini!?”, Elena tertegun dengan posisi tangan
di atas kepala, sementara Maria memeluknya dari depan. Di antara mereka, dada
besar mereka tampak terjepit.
“…”
('Hmm,
kurasa ini
tidak buruk juga,' jangan sembarangan mikir begitu, oi)
Melihat
pertarungan dada yang mengesankan, Masachika menatap adiknya dengan tatapan
dingin. Mungkin merasakan tatapan itu, Yuki berbalik dan bertemu mata
Masachika.
“Tapi,
itu seksi, iya ‘kan?”
“Iya juga sih.”
Mereka
saling memahami dengan tatapan serius, saat Alisa yang menyadari situasi itu
memberikan tatapan dingin kepada mereka. Akhirnya, Maria melepaskan pelukan
Elena, dan Elena yang masih terkejut berkata dengan suara sedikit bergetar.
"Jadi,
mari kita kembali fokus sekarang!
Saat
ini saatnya
pengumuman untuk orang ketiga! Orang ketiganya adalah…?”
Dengan
ekspresi dramatis, Elena memandang semua orang di sekitar meja panjang… lalu
menunjuk dengan tegas.
“Anak
perempuan ketiga! Yuki-chan!”
“Seriusan!?”
“Hahhh…!?”
“Eh…
apa aku dianggap lebih muda dari Yuki-chan!?”
Setelah
Masachika yang pertama kali bersuara, Touya
dan Chisaki juga terkejut dengan mata terbuka lebar. Alisa pun merasakan
ketegangan di ruangan akibat kejutan ini dan mengerutkan wajahnya.
Di
tengah situasi tersebut, Yuki terlihat sedikit bingung dengan alis yang turun,
sambil tersenyum meminta maaf.
“Ah,
jadi aku
anak perempuan ketiga? Maafkan aku,
Ketua, Sarashina-senpai.”
“Tidak,
itu tidak…”
“Yuki-chan
tidak perlu minta maaf…”
Meskipun
mereka
kelihatan tidak puas, tapi kedua senpai itu mengucapkan
kata-kata tersebut, dan Yuki tersenyum lebar sambil berkata.
“Kalau begitu, apa kamu bisa memanggilku
Onee-chan?”
“Eh──”
“Umm…”
“Silakan
panggil aku Onee-chan.”
Dengan
senyuman yang tak tergoyahkan, Yuki kembali meminta kepada kedua senpai
tersebut. Di bawah tekanan yang tenang itu, Chisaki mengerutkan bibirnya seolah
menahan rasa malu dan dengan suara pelan berkata.
“Y-Yuki-oneechan.”
“Ya,
ada apa? Chisaki-chan.”
“Ugh…”
“Reka ulang adegan legendaris…?”
Masachika bergumam pelan
saat melihat
Chisaki yang bereaksi
seperti kesatria wanita yang diancam oleh orc, sementara Tpuya menatap dengan bibir yang
terkatup rapat dan mengalihkan pandangannya.
“Yuki-onee…chan...”
“Ya,
Touya-kun.”
“Ugh…”
“Ini
lebih memalukan dari yang aku bayangkan…”
Melihat
wajah kedua senpai yang tampak sangat canggung, Masachika mengeluh seperti itu,
namun situasi ini tidak bisa diabaikan.
“Masachika-kun.”
“…”
“M-a-s-a-c-h-i-k-a-k-u-n?”
"…Ada
apa, Onee-chan?”
“Bukankah kamu harus menatapku saat mengatakannya?”
“Ugh…”
Dengan
gigi yang terkatup erat, Masachika berbalik dan melihat adik perempyannya yang menatapnya dengan penuh
kegembiraan dari sisi lain
meja. Adiknya,
yang memiliki darah yang sama. Kenangan bersama adik itu berputar seperti film
di benaknya…
“Yuki,
oneechan.”
“Ya,
bagus sekali.”
“Ugh,
aah…”
“Sa-Sampai segitunya…?”
Dengan
gigi terkatup yang
hampir patah, Masachika mengerang seraya mengerutkan dahi dengan ekspresi seperti sedang memperjuangkan sesuatu. Melihat itu, Elena yang tidak
tahu apa-apa sedikit terkejut. Dan mungkin merasa bahwa ini sudah cukup, dia
segera melanjutkan ke pengumuman berikutnya.
“Baiklah!
Selanjutnya… anak perempuan keempat! Chisaki-chan.”
“Eh,
aku? Yay!”
“Ugh…
jadi aku yang paling muda di antara kelas dua…”
Mungkin
harga dirinya sebagai ketua OSIS terpengaruh, Touya mengerang dengan ekspresi
gelisah. Saat itu, Chisaki menepuk lengan Touya dengan jarinya, menatapnya
dengan ekspresi campuran antara malu dan harapan. Menyadari apa yang
diharapkannya, Touya
menunjukkan ekspresi bingung selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata…
“Chisaki,
oneechan.”
“Ah…
uhm. Touya-kun?”
Touya mengucapkannya dengan senyum
malu-malu,
dan Chisaki membalas dengan senyum malu juga. Di antara mereka, suasana manis
mulai tercipta.
“Bahkan
dalam permainan khusus seperti ini, mereka sudah memulai dunia mereka berdua… seriusan?”
Masachika
mengerutkan dahi dan memberi komentar, tetapi kedua orang itu sepertinya tidak
mendengarnya. Sebab, mereka sudah berada di dunia yang berbeda.
“Eh, umm Touya-kun… apa kamu ingin tidur di
pangkuanku?”
“Hah?
Itu
sih, yah…”
“Nghehe,
jadi
kamu ingin sandaran di pangkuan Onee-chan, ya?”
Chisaki
mengintip wajah Touya dengan ekspresi nakal, dan Touta hanya bisa mengalihkan pandangannya sembari
mengangguk pelan.
“Uwahh, aku benar-benar tidak tahan menontonnya.”
“Sebagai
Senpai, jujur saja aku juga merasa
kesulitan melihatnya…”
Melihat
Chisaki yang dalam suasana hati yang aneh dan Touya yang benar-benar terkejut,
Masachika dan Elena merasakan sakit hati dan membuat wajah mereka terlihat
menderita. Alisa juga menatap dengan ekspresi serupa dan bahkan Ayano
membalikkan wajahnya sepenuhnya.
“Ah…
sebenarnya, aku berencana untuk mengumumkan putra pertama, Touya, tapi… sepertinya bukan
saatnya.”
Dengan
santai melanjutkan pengumuman, Elena berpura-pura tidak melihat kedua orang itu
dan membersihkan tenggorokannya. Dia kembali ke nada suaranya yang biasa.
“Baiklah!
Setelah semua siswa kelas dua diumumkan, sekarang adalah yang keenam! Yang
keenam adalah…”
Di
samping Masachika, Alisa mengencangkan tubuhnya dan menunggu jawabannya. Bagi
Alisa, ini merupakan
momen penting.
(Aku
masih tidak mengerti mengapa Masha keluar lebih dulu… tapi yah, mau bagaimana lagi
kalau aku tidak bisa memenangkan pertarungan melawan siswa
kelas dua. Yuki-san
juga… meskipun aku tahu sifat aslinya, itu rumit. Tapi, di sini aku punya
peluang yang cukup baik!)
Setidaknya,
dia merasa yang paling siap di antara tiga siswa kelas satu yang tersisa.
(Bahkan
Ayano juga cukup siap… cukup? Ya, dia bekerja dengan baik, tapi ada suasana
yang unik… Dia kecil dan kurang mengekspresikan diri, jadi dia tidak terasa
seperti kakak, ‘kan?
Masachika-kun
juga, tentu saja ada saat-saat di mana dia bisa diandalkan… tapi penilaiannya
ada di tangan Elena-senpai, kan? Melihat perilakunya sehari-hari, sepertinya aku
yang paling tua di sini!)
Alisa
dengan
percaya diri menunggu
jawaban dari Elena. Di depan pandangannya, bibir Elena perlahan terbuka──
“Putra
kedua! Kuze-kun!”
“Oh,
jadi aku. Aku sempat berpikir mungkin aku akan jadi yang termuda… tapi ternyata
kamu menilai dengan tepat.”
“Hehe,
kan aku sudah bilang? Aku tidak akan mengubah urutan demi kemenangan.”
“Seandainya
bukan karena kakak perempuan pertama, Elena-senpai, itu akan lebih meyakinkan…”
“Ah,
aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan adikku. Karena aku adalah kakak
perempuan pertama~”
“Mungkin
lebih baik jika 'kakak perempuan pertama' ditulis sebagai 'diktaktor'?”
Di
samping Masachika yang menunjukkan komedi yang serasi dengan Elena, Alisa memanyunkan bibirnya dengan tidak puas. Setelah menarik napas
dalam-dalam untuk berpura-pura tenang, dia mulai berbicara kepada Elena.
“Emm, Elena-senpai… kenapa Masachika-kun lebih dianggap sebagai kakak
daripada aku?”
“Eh?
Hmm…”
Dengan
tatapan yang penuh arti “Aku kelihatan lebih tenang dan lebih bertanggung jawab, kan?” Alisa menatap Elena, tetapi
Elena tampaknya tidak menyadari atau tidak peduli, lalu meletakkan tangan di
dagunya dan berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Entahlah,
sepertinya ada kesan bahwa kamu adalah adik yang bertanggung jawab dan Kuze-kun adalah kakak yang bisa
diandalkan… jadi menurutku
dirinya
lebih tua.”
“!!!”
Pernyataan
yang lebih tajam dari yang dia duga membuat Alisa terdiam sejenak dan tidak
bisa langsung membalas. Kemudian, suara yang penuh senyum terdengar dari samping.
“Halo,
Alya-chan?”
“…Apa?”
“Oi,
oi, memangnya kamu boleh menatap Onii-chanmu seperti itu?”
“Siapa
yang──!”
“Mm?”
“Ugh──”
Melihat
Masachika yang mengintip dengan wajah menjengkelkan, Alisa menunjukkan ekspresi
terhina dan menggigit bibirnya…
"Ma...Masachika…o...”
“Hmm?”
“Masachika,
onii…chan”
“Bisa
tolong lihat ke arahku
saat mengatakannya~?"
“Ugh!
Masachika-oniichan!”
“Ohhh…”
Alisa memanggilnya “Onii-chan” dengan tatapan tajam, pipinya
memerah karena malu, yang membuat Masachika terkejut dan tercengang. Melihat reaksinya yang begitu, raut Alisa berubah menjadi wajah yang geli, lalu mencondongkan badannya dan mengintip wajah Masachika
dari bawah.
“Oh,
ada apa? Masachika-oniichan?”
“Ugh,
tidak, hanya saja…”
“Ara, ara,
matamu kok jelalatan ke sana kemari, ya? O-nii-chan~♪”
“Ugh!”
Panggilan ‘Onii-chan’ yang diucapkan perlahan dari
bibir merah ceri itu mengirimkan sensasi geli yang menyebar jauh di dalam hati
Masachika──
“Oh!?”
Tiba-tiba, ada sesuatu yang berat mendarat di
punggung Masachika, membuatnya membungkuk saat ia berbalik. Ternyata, Yuki
setengah bersandar dan duduk di punggungnya.
“…Apaan sih?”
“Ara, ara, kamu harusnya bilang 'ada apa, Onee-sama?' kan? Masachika-kun.”
“…Ada apa, Onee-sama?”
“Tidak,
bukan
apa-apa sih.
Kupikir sudah menjadi tugas seorang
kakak untuk memerintah adik laki-lakinya, iya ‘kan?”
“Kamu punya pandangan yang agak
menyimpang tentang hubungan kakak-beradik ya,
Onee-sama.”
Saat
Masachika
menjawab demikian sembari
melihat ke belakang, tiba-tiba seseorang merespons kata-kata Yuki.
“Eh?
Jadi
Onee-chan tuh bisa duduk di atas adik laki-laki ya~? Kalau begitu, aku juga deh~♪”
“Hah?”
“Kalau begitu, permisi~”
“Eh──”
Begitu
mendengar suara itu dan berbalik, Masachika langsung
melihat rambut cokelat berbulu melayang, dan tak lama kemudian, pantat besar
mendarat di atas paha Masachika dengan keras!
…Sebenarnya,
dia tidak duduk dengan kekuatan sebesar itu, tetapi ukurannya luar biasa. Pantat Yuki yang duduk di
punggungnya jelas berbeda dalam berbagai hal.
(Uwoaahhh, besarnya──!?)
Masachika bisa merasakan
sensasi daging dan berat yang luar biasa di pahanya. Meskipun dagingnya padat, beratnya terasa lembut dan menempel
dengan erat, bahkan meluber ke samping. Dia secara instingtif memahami bahwa
itu berbeda dari pria, dan jelas dirancang untuk melahirkan anak.
(Ga-Gawat…!)
Merasa
terancam oleh sensasi itu, Masachika mulai merasa cemas──
“Hei,
apa yang kamu lakukan? Itu sangat tidak senonoh!”
“Ah,
ahh.”
Segera
setelah itu, Alisa
menarik lengan Maria, menyebabkan Maria mencondongkan tubuh ke depan dan turun
dari pangkuannya.
“Ap-Ap-Apa sih yang kamu pikirkan! Duduk di
pangkuan pria seperti itu!”
“Ehhh~… Tapi, itu tugas seorang Onee-chan, ‘kan~?”
“Ma-Mana
mungkin ada yang brgitu! Me-Me-Memangnya kamu bodoh!?”
“Ugh,
jangan marah-marah
begitu, Alya-chan.”
“Ah,
tolong… jangan peluk aku, Mar──”
“Onee-chan,
‘kan?”
“O-O-Onee-chan…”
“Yay~♡
Alya-chan♡"
“Hadeuhh, ini pengap banget…!”
Maria
yang berjongkok memeluk leher Alisa dan menggosok pipinya. Secara otomatis,
pantat besarnya yang terbungkus rok itu… pantat yang sebelumnya berada di paha
Masachika kini terlihat menonjol ke belakang dan masuk ke dalam pandangan Masachika.
“…”
“Masachika-kun?
Sepertinya sekarang lebih nyaman untuk duduk di sini, ya? Atau hanya
perasaanku?”
"Itu
hanya perasaanmu saja.”
Saat
dia menjawab tentang pantat kecil yang masih duduk di punggungnya, tiba-tiba
Maria menoleh ke belakang dan… dengan sudut yang tidak terlihat oleh orang
lain, dia menjulurkan lidahnya dan mengedipkan matanya.
(!! Ja-Jangan-jangan dia cuma berpura-pura bertingkah polos!? Ternyata dia adalah si
kecil yang nakal!?)
Masachika
diam-diam bergidik, menyadari bahwa Maria
berpura-pura naif tetapi sebenarnya sepenuhnya menyadari pesonanya sendiri. Kemudian,
ia mendengar Elena
berdeham.
“Umm,
sepertinya ini sudah sangat kacau… boleh aku
melanjutkan pengumuman terakhir?”
“Ah,
ya. Silakan.”
Ketika
Masachika menjawab dengan setengah hati, Ayano yang duduk diam dengan ekspresi
datar menatap Elena, sementara Alisa yang dipeluk Maria memandang Elena dengan
tatapan lelah.
Sembari menerima
tatapan dari dua orang yang tersisa, Elena menghela napas dan mulai berbicara.
“Yang
tersisa adalah Alisa-chan dan Ayano-chan. Si bungsu yang terhormat dari OSIS ini adalahhhh…”
Setelah
menunggu beberapa detik, Elena tiba-tiba menunjuk.
“Putri
keenam! Ayano-chan! Dan di atasnya adalah putri
kelima, Alisa-chan!”
“…Ya,
baiklah… ya?”
Meski Alisa
mengangguk setuju bahwa dirinya
lebih tua dari Ayano, tetapi akhirnya merasa bingung karena dia berada di
posisi kedua dari bawah. Sementara itu, Ayano menundukkan kepala tanpa
berkata-kata kepada Elena, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kakak beradik
yang saling berpelukan di depan.
“Umm,
Masachika-sama, Yuki-sama…”
“Iya?”
“Mm?”
Keduanya
menatap Ayano secara bersamaan, dan dia ragu-ragu menatap mereka… lalu dengan
sedikit menunduk, dia berkata.
“…Chika,
oniichan. Yuki, oneechan.”
Jantung
kakak beradik itu berdebar kencang seperti disambar petir. Tanpa berkata-kata,
mereka berdua langsung berdiri dan memeluk Ayano dari kiri dan kanan.
Dihimpit lembut oleh kedua kakaknya, Ayano terlihat malu, tetapi senyumnya
mulai merekah.
Alisa
yang dipeluk oleh kakaknya, dan Ayano yang dipeluk oleh Masachika dan Yuki,
semuanya terlihat seperti pasangan yang sedang bermain peran kakak adik di
sofa. Sementara itu, Elena merasa dikucilkan.
“Eh,
apa-apaan dengan situasi ini…”
Elena
merasa ketakutan sendirian usai melihat
situasi yang terlalu kacau di ruang OSIS.
“O-Oii~…
setidaknya,
aku ini kakak yang paling tua, loh~…?”
Sembari bertanya dengan ragu-ragu, “Apa mereka ingat padaku…?” namun semua orang tampak
terlarut dalam kasih sayang
mereka sendiri dan tidak menyadarinya.
Kemudian,
Elena tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik ke arah Masachika.
“Oh
ya, Kuze-kun!
Pertandingan,
pertandingan kita!”
“Eh?
…Ah."
Masachika
yang sedang memeluk Ayano dan mengelusnya, mengeluarkan suara santai mendengar
kata-kata Elena dan melihat kertas yang ditinggalkan di depannya.
“Baiklah,
sekaranglah
waktunya
pertandingan balasan untuk permainan trick-or-treat! Kuze-kun, seberapa banyak urutan
yang bisa kamu tebak~…?”
Elena
mendengus
sombong sembari menatap
Masachika karena merasa diri akan kemenangannya. Masachika melihatnya dengan
tatapan dingin, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil kertas di atas meja dan
membukanya yang terlipat empat.
“Yah,
sebenarnya──”
Dan
kemudian, ia mengulurkan isinya di depan Elena.
“Bisa dibilang, itu sangat mudah dimengerti.”
“…Eh?”
Di
atas kertas itu tertulis… dari atas, nama-nama Elena, Maria, Chisaki, Chisaki,
Touya, Masachika, Alisa, Masachika,
delapan nama semuanya.
“Ap-Ap-Apaa…!?”
“Ini berarti kemenanganku, ‘kan?”
“Hahhhh, apa-apaan ini!? Ada nama yang sama ditulis dua kali!”
“Itu
bukan pelanggaran, kan? Karena tidak ada aturan yang melarangnya.”
“Iy-Iya sih,
tapi tetap saja…!
Cara menebaknya tidak imut sama sekali!”
“Aku
tidak mencari cara menang yang imut.”
“Begitu…
ya,
kugh…”
Elena
tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia
tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Masachika kemudian meletakkan kertas
di atas meja untuk Kujou bersaudara dan Yuki yang melihat dengan penasaran.
“Ini…”
“Uwoaahhh
luar biasa sekali.
Kamu
bahkan bisa menebak dengan benar bahwa Elena-senpai muncul di urutan teratas~”
“Yah, kupikir Elena-senpai pasti akan
memasukkan dirinya sendiri ke dalam urutan.”
“Ngomong-ngomong,
apa dasar dari tebakan urutan ini?”
“Hmm,
ya~
kecuali Elena-senpai, kupikir
Masha-san akan berada di posisi teratas. Dan Ketua serta Sarashina-senpai terlihat seperti pasangan
kakak beradik, jadi aku menempatkan
Sarashina-senpai di atas. Namun, aku tidak bisa memastikan di mana
Yuki akan ditempatkan…
mungkin di antara urutan kedua dan keempat, jadi aku sengaja tidak memasukkan nama
Yuki. Dan untuk tiga orang di bawah, kupikir
urutannya adalah aku,
Alya, dan Ayano, tapi ada juga kemungkinan
kalau
Elena-senpai memilihku
di urutan terbawa… jadi aku
berpikir, asalkan satu saja yang benar, itu
sudah cukup.”
“…Menakjubkan, hampir semua tebakanmu benar.”
“Benar banget~Kuze-kun hebat banget~”
Alisa
mengangguk kagum, sementara Maria bertepuk tangan dengan senyuman. Hanya Yuki
yang satu-satunya menyadari bahwa ada lipatan kertas berada di antara
nama Elena dan Maria, sehingga dia bisa menunjukkan urutan tujuh orang yang
dimulai dari Maria, tetapi dia tidak mau repot-repot menunjukkan hal itu.
“Baiklah,
Elena-senpai… apa boleh kalau ini
dianggap sebagai kemenanganku?”
“Ugh… umm..gugugu…”
Saat
Masachika bertanya lagi kepada Elena, dia mengeluarkan suara mengeluh dari
tenggorokannya dan setelah beberapa detik menatap Masachika dengan marah,
akhirnya dia mengangguk pasrah.
“…Baiklah.
Kalau sudah terbaca sampai sini, kurasa tidak
ada yang bisa dilakukan… aku akan mengakuinya.”
“Baiklah,
kalau
gitu, ayo nyatakan dirimu sebagai pecundang.”
“Ugh…!”
Dengan
wajah yang sangat frustrasi,
Elena dogeza di atas karpet dan berkata…
“Aku merasa terkesan. Aku benar-benar
minta
maaf karena sudah
berbicara sembarangan.”
“Cepat
banget.”
“Bukannya
dia terlalu terbiasa melakukan dogeza…?”
Elena
membungkukkan kepala dan dengan cepat mengucapkan kalimat kekalahan, lalu dalam
waktu sekitar tiga detik, dia mengangkat kepalanya lagi. Masachika dan Alisa
sedikit terkejut. Namun, saat Elena berdiri sambil mengelap dahi dengan lengannya, Yuki memanggilnya dari samping.
“Tunggu
sebentar. Masa cuma begitu saja, Elena-senpai.”
“Eh?”
Sambil
berkedip-kedip, Elena berbalik dan membalas dengan senyuman anggun, Yuki lalu dengan jelas mengungkapkan.
"Elena-senpai
telah menggunakan cara yang tidak sportif dan tetap kalah, iya ‘kan? Sesuai janji yang sudah kamu nyatakan pada awal tadi, seharusnya kamu melepas
pakaianmu.”
“Ha…
eh, ehhhhhh!?”
Setelah
beberapa detik mencerna perkataan
Yuki, Elena segera melindungi tubuhnya dengan kedua tangan. Touya dan Alisa juga menatap Yuki
dengan wajah
terkejut, tetapi Yuki tetap mempertahankan senyumannya yang anggun dan tanpa ampun
mulai menghitung.
“Masachika-kun
menjawab enam dengan benar, jadi sepatu, kaus kaki, dasi, blazer, rok, kemeja…
syukurlah, untungnya celana
dalam Senpai masih
tersisa, ya?”
“Ap—,
tidak… tapi, itu sih jelas-jelas…”
Dengan
senyum kering,
Elena menatap Yuki seolah bertanya, “Kamu tidak serius bilang begitu, ‘kan?” Yuki menjawab dengan lembut dan
penuh pengertian.
“Dengarkan baik-baik, Elena-senpai. Cobalah untuk berpikir dengan
tenang dan objektif. Elena-senpai telah menggunakan cara yang sangat curang
sampai membuat semua orang di sini terkejut, dan berusaha memaksa seorang Kouhai untuk dogeza loh, loh?”
Setelah
itu, Yuki menyingkirkan
senyumannya
yang anggun dan melanjutkan dengan nada serius.
“Jika harus dibilang dengan tegas, hal itu benar-benar
berbahaya sekali.”
“100% tatapan penuh penghinaan!? Uuuggggghhhhhhh~~~~~… C-Chisaki-chan!”
Elena
memegang kepalanya seolah-olah
ingin melarikan diri dari tatapan Yuki, mencari bantuan dari seorang Kouhai yang menolak mentah-mentah sanksi permainan tersebut.
“To-Touya… apa kamu ingin bermain gulat
atau semacamnya?”
“Eh?
Ke-Kenapa?”
“Bu-Bukan apa-apa sih....tapi aku pernah mendengar bahwa kakak
perempuan
itu harus
melakukan teknik gulat pada adiknya…”
“It-Itu… sepertinya aku memang pernah mendengarnya?”
“Iya, ‘kan?
Jadi, bagaimana… mau mencobanya?”
“Eh,
tapi jika kita melakukan teknik gulat… Bu-Bukannya berarti tubuh kita akan bersentuhan…”
“…Tidak
mau?”
“U-uh,
ayo! Siapa takut!”
“Baiklah!
Jadi… ini adalah… Argentine Backbreaker♡”
“Uwoahh,
su-sungguh… hebat Chisaki…!”
“Mouu♡ Aku ini Onee-chan, ‘kan?”
“Ch-Chiisaki, oneechan… guhhh!”
Mereka
berdua terlibat dalam dunia khusus yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun.
Melihat perilaku mereka,
Elena menelan kata-katanya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dan
berpura-pura tidak melihat… kali ini, dia menatap Kujou bersaudari untuk meminta bantuan. Namun...
““…””
Karena
orang
yang
hampir dipaksa berlutut adalah Masachika, jadi Alisa menatap Elena dengan
tatapan dingin. Maria juga terlihat bingung dan sedikit menundukkan kepalanya,
tetapi setelah beberapa saat, dia menatap Yuki dan berkata.
“Begini,
Yuki-chan. Memang benar bahwa kecurangan Elena-senpai sangat buruk dan semuanya akibat dari perbuatannya
sendiri, tapi… sepertinya agak kasihan juga jika dia hanya mengenakan
pakaian dalam."
“Ugh…
ini… ini juga berpengaruh…!”
Fakta
bahwa bahkan Maria yang baik hati pun tidak bisa membela apa yang telah
dilakukannya.
Di tengah itu, Elena merasakan rasa sakit ketika juniornya secara langsung
mengatakan bahwa dia terlihat kasihan. Sementara Maria melanjutkan, Alisa dan Masachika juga mulai bersuara.
“Benar juga. Meski itu perkataannya sendiri, tetapi menunjukkan
pakaian dalam kepada lawan jenis memang
hal yang sangat kasihan.”
“Ugh…”
“Benar banget. Lagipula, aku sama
sekali tertarik
dengan pakaian dalam Elena-senpai.”
“Guha!”
Sementara
Elena terus menerima
serangan emosional yang bertubi-tubi, Yuki menyentuh dagunya dan berpikir, “Hmm…”
“Kalau
begitu, bagaimana kalau pandangan mata Masachika-kun ditutup dan Elena-senpai melepas
pakaiannya? Jika dari lawan jenis tidak ada yang melihatnya, mungkin rasa malunya akan
berkurang, ‘kan?”
“Eh,
tapi bagaimana dengan Touya…”
“Kalau Elena-senpai sedang mencari Ketua, dirinya tidak akan peduli dengan hal itu
saat ini…”
Saat
Yuki mengisyaratkan dengan tatapan matanya, mereka melihat ketua dan wakil
ketua yang terus berpelukan dengan akrab.
“Jadi begini, inilah teknik… Cobra Twist yang
terkenal."
“Aduh!?
Ha,
haha! Wah,
hebat sekali!
Chisaki-oneechan,
kamu sangat tahu banyak!”
“Ehh~? Enggak juga… kalau begitu mulai dari sini, Manji Gatame♡”
“Ugh,
ka-kamu
sangat
berani!”
ouya
bergelantungan erat dengan kekasihnya, tersenyum bahagia dan matanya tampak berputar-putar. Melihat wajahnya, Elena
memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat untuk ketiga kalinya, lalu
menyilangkan kedua tangannya dan berkata dengan tegas.
“Baiklah!
Aku juga seorang wanita! Sebagai
senior, aku
akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kukatakan!”
“Hehe,
memang
begitulah sikap yang harus
dimiliki mantan
wakil ketua OSIS.
Sekarang, Ayano, tolong tutupi
mata Masachika-kun.”
“Eh,
kamu serius mau melepas pakaianmu, Elena-senpai…? Siapa yang diuntungkan…? Atau,
apa aku
harus keluar?”
“Tidak boleh! Kuze-kun, kamu harus tetap di sini!”
“Harga diri
macam apa ini... Maksudku, permainan macam apa ini...”
Ketika dirinya hendak berdiri, Elena menghentikannya,
dan Masachika
hanya bisa menggerutu
dengan bingung. Pada saat
itu, Ayano yang tampak canggung dengan hati-hati mengajak bicara.
“Masachika…
eh, maksud saya, Chika-oniichan. Umm, matamu…”
“O-oh."
Masachika
mengangguk secara refleks menanggapi kata-kata Ayano yang tanpa ekspresi, yang
entah bagaimana mengandung sedikit rasa sayang. Kemudian, Ayano berputar di
belakang Masachika
dan dengan lembut menutup kedua matanya.
(Ini… rasanya mirip seperti adegan 'ayo tebak siapa?' yang sering kulihat di manga…)
Ia bisa merasakan sentuhan lembut tangan
Ayano di sekitar matanya. Dalam pandangannya yang gelas, Masachika merasakan campuran rasa berdebar
dan antisipasi. Tiba-tiba, suara Elena terdengar, seolah dia sudah kembali ke
jalurnya.
“Baiklah, kalau
begitu… aku
akan menunjukkan pakaian dalam seksi Erona-senpai
kepada Yuki-chan yang rakus ♡”
“Pakaian
dalam seksi? Aku
penasaran seperti apa itu.”
“O-Oh… begitu ya. Baiklah… kalau begitu, aku akan mulai sekarang♡”
Setelah
kata-kata itu, suasana hening sejenak mengisi ruangan. Karena penglihatan yang
terbatas, pendengaran Masachika
menjadi lebih peka, dan terdengar samar-samar suara gesekan kain, tetapi cuma itu saja.
(…Ap-Apaan ini, permainan macam apa ini?)
Dalam
kegelapan, dirinya hanya bisa mendengar suara gesekan kain, dan perasaan
gatal muncul di dalam tubuh Masachika. Merasa sedikit cemas dan enggan untuk
terlalu fokus pada pelepasan pakaian seniornya, Masachika mulai memikirkan
urutan usia anggota OSIS
yang diumumkan oleh Elena.
(Hmm~, jika dipikir-pikir… Mungkin dia
bisa melihat dengan jelas bahwa Masha-san dan Yuki memiliki kedewasaan yang
luar biasa, dan dia juga sepertinya memahami hubungan antara aku dan Alya… Dia memang memiliki kemampuan
untuk membaca orang dengan baik…)
Saat
dia merasa sedikit terhormat terhadap senior yang tampaknya hidup mengikuti
alur tetapi tetap memahami esensi, ia mendengar suara Elena dari sisi lain
kegelapan.
“Baiklah, kalau
begitu… aku
akan melepas rokku,
ya?”
“Uwahh~”
Sepertinya
mereka sudah sampai pada tahap di mana pakaian dalam akan terlihat. Elena
mengumumkan dengan nada genit yang menggoda, sementara Yuki bertepuk
tangan kecil. Masachika juga merasa sedikit tegang meskipun tidak bisa melihat,
dan setelah suara Elena yang berkata “Woahh~ohh~”diikuti oleh suara Yuki yang
berkata “Walah~”
sepertinya Elena akhirnya telah melepas rok. Kemudian, kembali ke suasana
hening.
(…Apa-apaan ini, waktu misterius ini? Dan
kenapa sejak tadi suasana hening dan suara gesekan kain terasa sangat lama?)
Segera
setelah Masachika mempertanyakan hal itu, jawabannya datang dari suara Yuki.
“Umm,
Elena-senpai?”
“Ya?”
“Sejak
tadi, kamu sangat hati-hati melipat pakaian yang sudah dilepas… sejujurnya, itu sedikit mengecewakan.”
“Eh,
tapi aku
tidak bisa membiarkannya berserakan…”
“Ini
menunjukkan sisi seriusmu…”
“Elena-senpai,
kamu dibesarkan dengan baik, ya~”
“Ha-Hahh!?
Bukannya
ini hal yang normal…!?”
Setelah
suara Kujou bersaudari,
Masachika juga terkejut dengan kebenaran waktu hening itu dan sedikit terjatuh
dari kursinya. Saat itu, Ayano yang sudah menutup
matanya
tampak sedikit terkejut, dan Masachika sedikit mengangkat
tangannya dengan niat meminta maaf. Namun, ia kemudian menyadari sesuatu yang membahayakan.
(Hmm?)
Kegugupan
kecil Masachika barusan mungkin menyebabkan pegangannya mengendur dan sedikit
bergeser. Atau mungkin itu kesalahan Ayano yang berhati-hati untuk tidak
menekan kelopak mata Masachika, sehingga penutup mata itu terpasang longgar.
(Oi Ayano! Aku bisa melihatnya! Aku bisa melihatnya!)
Rupanya,
di antara jari-jari Ayano terdapat celah kecil, sehingga Masachika bisa melihat
ke depan.
Karena
celah di antara jari-jari itu sempit, jadi Masachika tidak bisa melihat bagian bawah, tetapi ia bisa melihat Elena yang
mengenakan kemeja. Masachika mulai panik. Namun, dalam situasi seperti ini, dirinya tidak bisa berteriak untuk
memperingatkan Ayano…
“Kalau
begitu, tibalah saatnya....
aku akan melepas kemejaku~♡”
“Aku
sudah menunggu~”
Sambil
berkata demikian, Elena yang tampak ceria mulai membuka kancing kemejanya, dan Masachika
segera menutup kedua matanya. Detak jantungnya berdengung di telinga, dan
Masachika menahan napas untuk menghilangkan keberadaannya…
“Jreng-jreng!”
“Uwoahhh~…
luar biasa, itu
benar-benar seksi banget…”
“H-Hah, ehhhh? Elena-senpai, kamu biasa mengenakan pakaian
dalam seperti ini…?”
“Fuwah,
menakjubkan~~…”
“Hehe,
inilah waktunya Onee-san seksi menunjukkan kemampuannya.”
Masachika
bisa mendengar seruan kekaguman para wanita dan suara bangga Elena. Kemudian dia juga bisa mendengar Alisa dan Maria yang berdiri dan mendekati ke arah Elena.
“Memang benar kalau ini gambaran Onee-san yang seksi…”
“Apa ini, umm, sesuatu yang
disebut sebagai celana dalam
keberuntungan?”
“Heee~
imut
banget~ di mana
kamu membelinya~?”
“O-Ohh, kalian sangat dekat sekali melihatnya…”
Elena
tampak kaget
dengan reaksi para juniornya
yang sangat antusias.
“Aku puynya
pertanyaan sederhana, tapi…
bukannya
tali ini agak longgar?”
“Bagaimana
dengan bagian ini…?”
“Uwahh,
lihat deh~!
Bagian ini transparan~”
(…Tali longgar? Transparan? Sebenarnya, pakaian
dalam seperti apa yang dia pakai…)
Entah
disengaja atau tidak, kata-kata yang bertebaran itu membangkitkan minat
Masachika, membuatnya semakin
membara. Kendali dirinya goyah saat memikirkan pakaian dalam seksi, sesuatu
yang hanya akan menarik minat remaja yang sehat.
“Ehmm, jika kalian terus menatap
seperti itu… maksudku,
rasanya
cukup memalukan bahwa sementara
semua orang mengenakan seragam, tapi cuma aku satu-satunya yang hanya mengenakan pakaian dalam…”
“Tidak
boleh, Elena-senpai. Itu juga termasuk hukuman dalam permainan.”
“…………piyuu”
(Dia mengeluarkan suara menyedihkan yang sepertinya bisa
digunakan sebagai trek audio gratis)
Masachika merasakan sensasi geli di dalam hatinya saat suara seperti kicauan hewan
kecil itu sedikit terdengar, dan dalam pikirannya muncul Yuki si iblis nakal
dan Masha si malaikat.
'Kamu
penasaran, kan? Kenapa tidak lihat saja… toh, tidak ada yang akan menyadarinya.
Lagipula, Elena-senpai yang mengatakan “dia akan menunjukkannya jika dirinya,” kan?'
'Tidak
boleh! Sama sekali tidak boleh! Kamu tahu itu, ‘kan? Jika kamu melihatnya, kamu
akan menyesal dan pasti akan merasa sedih nanti!'
'Lebih
baik menyesal setelah melihatnya
daripada menyesal karena tidak melihatnya!!'
'Kya!
Aaaahhh──'
Namun,
serangan iblis chibi Yuki membuat malaikat itu seketika terbang ke udara…
“Ehmm, sebenarnya, aku mendapatkannya dari junior di klub musik, dan aku tidak bisa menolaknya… jadi tentang harga atau di mana
saya membelinya, hal-hal seperti itu, tolong… bisakah aku mengenakan pakaianku sekali lagi!?"
Teriakan menyedihkan Elena bergema di sepenjuru
ruangan,
(Aku tuh benar-benar… maafkan aku, Elena-senpai)
Benar
saja, Masachika menyesali keputusannya dalam hitungan detik, dan diam-diam
tenggelam dalam depresi yang pahit.

