Roshidere Jilid 11 Chapter 5 Bahasa Indonesia

Chapter 5 Pembalikan Peran Kakak Beradik Ternyata Hanya Kesalahpahaman

 

Ah, Masachika-kun. Bisa lihat ke sini sebentar?

“Hmm~?

“Mengenai bagian ini

Di tengah-tengah kegiatan OSIS. Melihat Masachika dan Yuki terus berinteraksi seperti biasa bahkan setelah mengungkapkan bahwa mereka kakak beradik, Touya lalu bergumam.

“Mereka beneran kakak beradik ya…

“Hmm? Ada apa?

Touya menggelengkan kepalanya saat enjawab pertanyaan Chisaki.

Yah… kupikir memang sulit untuk membedakannya. Sejujurnya, Suou lebih kelihatan seperti kakak perempuan bagiku.

Ketua, aku tidak melewatkan perkataanmu tadi. Apa kamu ingin mengatakan kalau akulah adik laki-laki 'yang ini'?

Masachika menunjuk wajah Yuki dengan jari telunjuknya, tampak ingin mengatakan 'itu lelucon yang enggak lucu'. Chisaki pun mengangguk setuju.

Memang, Yuki-chan kelihatan lebih dewasa.

“Sarashina-senpai!?

Namun, Touya lah yang setuju dengannya, bukan Masachika. Selanjutnya, Alisa dengan senyum nakal di wajahnya mengangguk.

“Yah, jika cuma dilihat bagaimana dia berperilaku di sekolah… rasanya tidak bakalan aneh jika Yuki-san yang jadi kakaknya.

“Kamu pasti sedang bercanda, kan?

Ara~ ara~, kalau begitu Masachika-kun. Mulai sekarang, kamu boleh memanggilku 'Onee-chan' loh?

Tentu saja ogah.

Masachika menatap Yuki dengan tajam dan menolak dengan tegas. Setelah tersenyum kecil, Alisa kemudian bertanya kepada Touya dengan tampak berpikir.

Tapi jika mengikuti logika begitu, bukannya itu berarti antara aku dan Masha juga, aku yang jadi kakak perempuannya?

Ehh~? Alya-chan, itu sih kejam banget~.

Mm? Itu pertanyaan yang sulit…

Touya menatap kedua saudara perempuan itu dan ragu-ragu, tetapi Chisaki tertawa terbahak-bahak dan berkata seolah-olah itu sudah jelas.

Tidak, tidak, jika di antara kalian berdua sih, justru Masha yang jelas banget jadi Onee-chan~.

Benar.

Tidak diragukan lagi.

Ke-Kenapa bisa begitu?!

Yuki dan Masachika mengangguk, mengikuti Chisaki, membuat Alisa berdiri dengan ekspresi terkejut dan bersuara keras.

“Padahal aku yang lebih tinggi dan terlihat seperti anak sulung yang bertanggung jawab, bukan?!

Sambil menunjuk Maria yang mengembungkan pipinya seperti anak kecil dan berkata Ehhh~?, Alisa mencari persetujuan. Namun…

… Begitu ya.

… Iya.

… Benar~.

Masachika, Yuki, dan Chisaki menjawab dengan tatapan hangat dan nada datar, membuat Alisa terkejut.

Ke-Kenapa reaksi kalian malah seperti itu…?

(Kurasa inilah yang disebut 'Adik perempuan yang tidak memahami isi hati kakaknya'…? Yah, Masha-san memang sengaja menyembunyikannya sih…)

Masachika segera memalingkan muka, memikirkan bagaimana Maria sebenarnya cukup dewasa, tetapi tetap santai di depan adik perempuannya. Saat itu, pintu ruang OSIS diketuk dari luar.

Ya.

Ia secara refleks menjawab, dan pintu terbuka dengan bunyi dentang, memperlihatkan sosok gadis bergaya kuncir menyamping.

Hai, hai~, ini dia Elena-senpai yang dicintai semua orang!

“Aku ingin meniru rasa percaya dirimu itu.

Dengan tangan kanan di pinggang dan tangan kiri terangkat tinggi, senyum percaya diri Elena-senpai membuat Masachika bergumam setengah serius. Di saat yang sama, Alisa berseru dengan nada seolah-olah baru saja mendapatkan sesuatu yang baik.

Elena-senpai! Menurutmu, siapa yang terlihat lebih seperti kakak, aku atau Masha!?

Ehhh? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu…

Elena tampak terkejut dan berhenti, sementara Chisaki tertawa senang dan berkata.

“Kebetulan banget. Jadi, Elena-senpai, jika kita semua tujuh bersaudara, menurutmu urutan dari anak pertama hingga anak terakhirnya bakalan seperti apa?

Ah, Sarashina-senpai, itu pertanyaan yang menarik! Bagaimana kalau hari ini, siapa pun yang kamu pilih sebagai yang lebih muda harus memanggil yang lebih tua dengan sebutan 'Onii-chan' dan 'Onee-chan'?

“Permainan aneh macam apa yang ingin kalian mulai

Masachika menjawab dengan heran atas saran aneh Yuki sebagai tanggapan atas pertanyaan Chisaki.... tetapi Elena hanya tersenyum lebar saat mendengar hal itu.

“Hoho~~, kedengarannya menarik… Hmm? Ngomong-ngomong, bagaimana urutan kalian jika benar-benar diurutkan berdasarkan tanggal lahir?

Eh, um…

Bukan hanya Yuki, tapi hampir semua anggota tampak ragu-ragu sambil mencari ingatan mereka saat ditanya demikian, tapi Maria dengan cepat menjawab pertanyaan Elena.

Jika mengikuti urutan yang sebenarnya, maka urutannya adalah Ketua, Chisaki-chan, aku, Kuze-kun, Alya-chan, Ayano-chan, dan Yuki-chan~.

“Wehh~ jadi Yuki-chan yang paling muda ya. Rasanya agak mengejutkan.

Elena mengangguk beberapa kali dengan wajah tertarik dan tersenyum lebar.

Baiklah~ ayo lakukan! Aku akan menentukan urutan usia berdasarkan keputusanku sendiri dan bias!

Ah, wakil ketua sangat antusias…

“Bagaimana dengan pendapat kita…?

Sementara Touya dan Masachika sudah pasrah akan nasib mereka, para wanita mulai merencanakan sesuatu.

(Apa Alya-chan akhirnya bisa memanggilku Onee-chan? Uwahh~, aku sangat menantikan ini~)

(Meski aku sudah sering dipanggil Onee-sama, mungkin ini pertama kalinya dipanggil 'Onee-chan'… hmmm, mu-mungkin aku sedikit tertarik?)

(Masachika-kun akan memanggilku dengan sebutan Onee-chan…? Hmm… rasanya tidak buruk juga.)

(Ku, ku, ku, aku akan menunjukkan kekuatan adik perempuanku yang luar biasa…)

(Ap-Apa ini… berarti saya diizinkan untuk memanggil Yuki-sama dan Masachika-sama sebagai Onii-chan dan Onee-chan!?)

Dengan keinginan masing-masing, semua orang setuju dengan usulan Yuki dan menatap Elena dengan penuh harapan.

Elena tersenyum senang melihat tatapan yang mereka berikan padanya, dan dia membusungkan dadanya dengan sikap sombong.

Hehehe~ kalau begitu mari kita mulai pengumuman…

Ah, tunggu sebentar, Elena-senpai. Karena sudah terlanjut begini, aku ingin menebak urutannya.

Tanpa berpikir panjang, Masachika berusaha menulis tebakan urutan di bagian belakang kertas yang ada di dekatnya, tapi pandangan Elena tiba-tiba bersinar dengan mata yang tajam.

“Hoho~? Karena kamu bisa membaca kartu Elena-senpai dengan sempurna dalam permainan trick or treat sebelumnya, apa kamu berpikir kalau kali ini juga kamu bisa menebak urutannya dengan sempurna?

“Hah? Tidak, aku tidak berniat begitu—

Kamu berani berkata begitu ya, Kuze-kun. Baiklah, siapa takut? Aku akan menerima tantangan itu!

Bisa tidak kamu berhenti berbicara dengan halusinasi pendengaran semacam itu?

Sambil mengabaikan komentar dingin Masachika, Elena menunjuk wajah Masachika dengan jari telunjuknya.

“Ayo bertanding, Kuze-kun! Jika tebakanmu lebih banyak salah daripada benar, aku menang! Jika tebakanmu lebih banyak benar, kamu yang menang!

…Ngomong-ngomong, apa yang akan terjadi jika aku kalah?

Hmm, mari kita lihat… mungkin kamu harus melakukan dogeza dan berkata, 'Aku benar-benar minta maaf, mataku buta. Aku minta maaf karena bersikap sombong tanpa menyadari diri.'

Tidak, aku tidak bertingkah sombong… apa kamu masih menyimpan dendam tentang permainan trick or treat tempo hari, Senpai?

Mengingat permainan orisinal yang dirancang Elena di ruang OSIS sebelumnya, di mana Elena harus mengumumkan kekalahannya dengan memperlihatkan celana dalamnya, Masachika menatapnya dengan tatapan sinis. Saat itu, Elena menahan rok dan menatap Masachika dengan tajam.

Tentu saja! Karena kamu membuatku melakukan hal yang memalukan seperti itu!

Elena-senpai yang bilang mau melakukan itu sendiri dan malah menjebak diri sendiri, kan…

Diam! Hari ini aku akan membalas penghinaan itu di sini!

Betapa kecilnya hatimu… apa hatimu sekecil cangkir sake?

Atau tutup botol plastik?

Yuki-chan!? Sejak dulu aku memikirkannya, bukannya kamu terlalu keras terhadap Elena-senpai!? "

Setelah berbalik cepat dan mengarahkan komentar kepada Yuki, dia disambut dengan senyuman lebar dan sedikit membungkuk, sehingga Masachika terdiam. Kemudian, Elena membersihkan tenggorokannya dan mengalihkan pandangannya kembali ke Masachika dengan senyum jahat seperti tokoh antagonis.

“Kembali ke topik yang tadi, jika aku kalah, aku juga akan dogeza dan berkata, 'Aku minta maaf. Aku minta maaf karena berbicara sembarangan.' Bagaimana menurutmu?

Bagaimana? Jika ditanya begitu, tentu saja aku tidak mau.

Kenapa tidak!?

“Yah, karena tidak ada manfaatnya menerima itu… atau lebih tepatnya, bukannya mengucapkan hal itu sambil dogeza, itu sama saja dengan berlutut dan menundukkan kepala, kan?

…Yah, bisa dibilang begitu, kan?

Masachika menatap tajam pada Elena yang melihat ke atas secara diagonal dan menjulurkan lidahnya.

Semakin tidak ada manfaat bagiku untuk menerimanya… Aku tidak punya hobi berlutut di depan teman, dan aku juga tidak suka membuat Senpai berlutut."

Mugugu… benar juga!

Dia pasti berpikir sesuatu yang enggak-enggak

Mengabaikan suara sinis Masachika, Elena dengan percaya diri berkata sambil menggoyangkan tubuhnya dengan sedikit seksi.

Kalau begitu, jika Kuze-kun yang menang… untuk setiap tebakan yang benar, Erona-senpai yang satu ini akan melepas satu pakaian~

“Tuh ‘kan bener~, pasti enggak ada benarnya sama sekali.

Sepatu, kaus kaki, dasi pita, blazer, rok, kemeja, pakaian dalam… Jika kamu menjawab semua pertanyaan dengan benar, mungkin bakalan ada kejutannya juga loh~ Kalau begini, kamu pasti akan lebih bersemangat!

“Aneh banget, seharusnya tidak ada yang membuatku bersemangat… atau lebih tepatnya, menyertakan sepatu dalam pakaian yang dilepas, itu sangat cerdik…"

“Oke, jadi kamu benar-benar termotivasi ya!

Apa ada dokter di antara pelanggan kami? Ahli telinga atau otak.

Ketika Masachika membuat megafon dari tangannya dan memanggil orang-orang di sekitarnya, Touya yang tampak kesakitan menaruh tangan di dahinya menghentikannya.

Tidak, Wakil Ketua… Elena-senpai. Rasanya sangat tidak pantas melakukan permainan melepas pakaian di ruang OSIS.

“Aku juga setuju. Sebagai Wakil Ketua dan Ketua Komite Kedisiplinan, aku tidak bisa mengizinkan sanksi hukuman seperti itu.

Ehh!?

Eleba berbalik dengan cepat setelah mendengar penolakan dingin dari Ketua dan Wakil Ketua OSIS, tetapi melihat sikap tegas Chisaki, dia menggertakkan giginya.

Baiklah… kalau begitu, sepertinya aku tidak perlu melepas semua pakaianku. Maaf ya, Kuze-kun.

Tidak, tolong jangan berbicara seolah-olah itulah yang aku inginkan.

“Kamu tidak perlu mengatakannya segalajauh di dalam lub k hatimu, kamu pasti ingin melihat tubuh seksi Erona-senpai, kan?

“Aku lebih ingin melihat apa yang ada di dalam cangkang kura-kura itu.

Sambil mengabaikan komentar dingin dan perkataan sarkastik Masachika, Elena mengangguk dengan tatapan lembut seolah berkata “Aku paham kok, aku paham. Sudut mulut Masachika bergetar.

“Baiklah, kalau begitu, Elena-senpai tidak perlu membuka pakaian segala. Kita hanya akan menebak urutan anggota dari yang tertua hingga yang termuda.

Tapi, aturan itu… Elena-senpai yang bisa menentukan urutan dengan bebas pasti sangat diuntungkan. Jika Ketua menjadi yang termuda, mana mungkin itu bisa ditebak.

“Aku ingin kamu mempercayaiku soal itu. Aku takkan mengubah urutan pemilihan karena aku ingin mengutamakan pertandinganku dengan Kuze-kun.

Masachika menatap Elena dengan serius seakan-akan mencoba menilai kebenarannya, dan menghela napas.

Baiklah, aku setuju. Aku akan menerima tantangan itu.

“Seperti yang diharapkan dari Kuze-kun, kamu sangat antusias sekali~

Ya, ya.

Karena semuanya terasa merepotkan baginya, jad Masachika berpikir dalam hati, Akhirnya kita terpaksa bertanding, sambil pindah ke tempat duduk sofa agar tidak terlihat oleh Elena. Setelah menulis tebakan di kertas bekas, ia melipatnya menjadi empat dan kembali ke tempat duduknya, saat itu Elena tampak siap dan bersuara.

Baiklah, mari kita langsung ke pengumuman! Pertama-tama, anak pertama adalah…?

Setelah jeda sejenak, Elena memandang tujuh anggota dewan siswa dan membuka mulutnya.

Drrrrrrrrrr, d-d-drrrrrrr!

“Memangnya kamu tidak bisa memainkan drum dengan baik?

Diam, aku bisa menjadikanmu yang termuda!

Itu mungkin ancaman yang belum pernah didengar oleh umat manusia.

Dalarararararara──

Dengan suara yang berubah-ubah dan jeda yang panjang, Elena mengalihkan pandangannya—lalu menunjuk dengan cepat. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.

“Putri sulung! Aku!!

Tunggu!

Usai mendengar hal itu, Masachika berdiri dan berkomentar.

Sama seperti kecurangan di permainan trick or treat… kamu benar-benar melakukan sesukamu!"

Eh? Tapi aku bilang, 'Jika kita mengurutkan anggota ini dari yang tertua hingga yang termuda', kan? Aku tidak mengatakan anggota OSIS saat ini!

Sekali lagi, Elena menjulurkan lidahnya sambil mengalihkan pandangannya, dan anggota OSIS lainnya memberikan tatapan dingin kepada Elena. Mungkin merasa canggung, Elena mundur sedikit dan berusaha melanjutkan.

Selanjutnya, orang kedua…

Tidak, aku tidak akan tertipu──

“Putri kedua! Maria-chan!

Yay~~! Aku jadi Onee-chan~♪

Ehhh!? Kenapa bisa begitu!?

“Lah, bukannya aneh jika Si Adik Kujou langsung bereaksi seperti itu…?

Mengabaikan pertanyaan Masachika, Maria berdiri dengan gembira saat namanya disebut, sementara Alisa juga berdiri dengan penuh keraguan. Ketika Alisa berusaha mempertanyakan keputusan Elena, Maria yang duduk di sampingnya segera meraih kedua bahunya dan menariknya ke arahnya.

Ayo, Alya-chan! Panggil aku Onee-chan, oke?

Umm…

Maria menatap langsung ke arahnya dengan mata berbinar dan mendengus keras, Alisa tampak tidak suka dan mengernyitkan wajahnya. Namun, karena dia sudah setuju dengan usulan Yuki, rasanya tidak pantas untuk mengeluh di sini, jadi dengan menggigit bibirnya, dia merenung selama beberapa detik…

…O.

O?

…Onee-chan.

Dengan suara yang sangat rendah dan memalingkan wajahnya, Alisa mengucapkan kata itu, dan Maria membuka matanya lebar—

“Iya, iya! Betul, aku adalah Onee-channya Alya-chan~!

Dia memeluk Alisa erat-erat dengan wajah yang berseri-seri.

Tidak, ini sih mirip dengan reaksi adik perempuan yang kehilangan ingatan saat mengingat keluarganya.

Ahaha, aku mengerti.

Setelah Masachika kembali ke tempat duduknya dengan senyum kecut, Chisaki mengangguk sambil tersenyum. Di sisi lain, Maria terlihat bahagia saat menggosok pipinya, sementara Alisa tampak lelah dan pasrah. Melihat ekspresi kontras antara kakak yang bahagia dan adik yang tampak putus asa, Elena dan Touya juga tersenyum samar.

Akhirnya, Maria tampak puas, lalu dengan senyum cerah, dia menjauh dari Alisa dan berjalan cepat ke samping Masachika.

Hei, Kuze-kun.

Ah, ya.

“Ayo coba panggil aku Onee-chan?

Umm…

Senyum Masachika berubah masam mendengar permintaan yang tiba-tiba dan memalukan itu. Namun, dihadapkan dengan tatapan penuh harap Maria, ia tak bisa menolak...…

…M-Masha-oneechan

Nghehehehehe~

Dengan kegembiraan yang tak tertahankan, Maria menggoyangkan tubuhnya, mengelus kepala Masachika, lalu berjalan mengelilingi meja panjang untuk memanggil Ayano.

Ayano-chan! Coba panggil aku Onee-chan?

…O-Onee-chan…?

“Hmm~~~~~

Dengan menggigil seolah mengunyah kata-kata, Maria memeluk Ayano dari samping, lalu menatap Yuki yang duduk di seberang.

Yuki-chan! Kamu juga!

Ya, ada apa? Masha-oneechan?

“Duhhhh~~~~~

Sembari menangkupkan dagu dengan tangannya dan kepala sedikit miring, Yuki memanggilnyaOnee-chan’ dengan santai, membuat wajah Maria bersinar cerah, lalu dia melepaskan Ayano dan tiba-tiba melompat ke arah Elena. Melihat hal ini, Yuki tidak bisa menahan senyumnya dan berbalik dengan ekspresi terkejut, seolah berkata, “Loh, malah ke sana?”. Reaksi itu jelas menunjukkan bahwa Yuki mengharapkan pelukan dari Maria-oneesan, dan di tengah tatapan dingin Masachika, Elena yang tidak terduga juga terkejut. “Eh, malah ke sini!?”, Elena tertegun dengan posisi tangan di atas kepala, sementara Maria memeluknya dari depan. Di antara mereka, dada besar mereka tampak terjepit.

('Hmm, kurasa ini tidak buruk juga,' jangan sembarangan mikir begitu, oi)

Melihat pertarungan dada yang mengesankan, Masachika menatap adiknya dengan tatapan dingin. Mungkin merasakan tatapan itu, Yuki berbalik dan bertemu mata Masachika.

Tapi, itu seksi, iya ‘kan?

Iya juga sih.

Mereka saling memahami dengan tatapan serius, saat Alisa yang menyadari situasi itu memberikan tatapan dingin kepada mereka. Akhirnya, Maria melepaskan pelukan Elena, dan Elena yang masih terkejut berkata dengan suara sedikit bergetar.

"Jadi, mari kita kembali fokus sekarang! Saat ini saatnya pengumuman untuk orang ketiga! Orang ketiganya adalah…?

Dengan ekspresi dramatis, Elena memandang semua orang di sekitar meja panjang… lalu menunjuk dengan tegas.

Anak perempuan ketiga! Yuki-chan!

Seriusan!?

“Hahhh…!?

Eh… apa aku dianggap lebih muda dari Yuki-chan!?

Setelah Masachika yang pertama kali bersuara, Touya dan Chisaki juga terkejut dengan mata terbuka lebar. Alisa pun merasakan ketegangan di ruangan akibat kejutan ini dan mengerutkan wajahnya.

Di tengah situasi tersebut, Yuki terlihat sedikit bingung dengan alis yang turun, sambil tersenyum meminta maaf.

Ah, jadi aku anak perempuan ketiga? Maafkan aku, Ketua, Sarashina-senpai.

Tidak, itu tidak…

Yuki-chan tidak perlu minta maaf…

Meskipun mereka kelihatan tidak puas, tapi kedua senpai itu mengucapkan kata-kata tersebut, dan Yuki tersenyum lebar sambil berkata.

“Kalau begitu, apa kamu bisa memanggilku Onee-chan?

Eh──

Umm…

Silakan panggil aku Onee-chan.

Dengan senyuman yang tak tergoyahkan, Yuki kembali meminta kepada kedua senpai tersebut. Di bawah tekanan yang tenang itu, Chisaki mengerutkan bibirnya seolah menahan rasa malu dan dengan suara pelan berkata.

Y-Yuki-oneechan.

Ya, ada apa? Chisaki-chan.

Ugh…

“Reka ulang adegan legendaris…?

Masachika bergumam pelan saat melihat Chisaki yang bereaksi seperti kesatria wanita yang diancam oleh orc, sementara Tpuya menatap dengan bibir yang terkatup rapat dan mengalihkan pandangannya.

Yuki-oneechan...”

Ya, Touya-kun.

Ugh…

Ini lebih memalukan dari yang aku bayangkan…

Melihat wajah kedua senpai yang tampak sangat canggung, Masachika mengeluh seperti itu, namun situasi ini tidak bisa diabaikan.

Masachika-kun.

M-a-s-a-c-h-i-k-a-k-u-n?

"…Ada apa, Onee-chan?

“Bukankah kamu harus menatapku saat mengatakannya?

Ugh…

Dengan gigi yang terkatup erat, Masachika berbalik dan melihat adik perempyannya yang menatapnya dengan penuh kegembiraan dari sisi lain meja. Adiknya, yang memiliki darah yang sama. Kenangan bersama adik itu berputar seperti film di benaknya…

Yuki, oneechan.

Ya, bagus sekali.

Ugh, aah…

“Sa-Sampai segitunya…?

Dengan gigi terkatup yang hampir patah, Masachika mengerang seraya mengerutkan dahi dengan ekspresi seperti sedang memperjuangkan sesuatu. Melihat itu, Elena yang tidak tahu apa-apa sedikit terkejut. Dan mungkin merasa bahwa ini sudah cukup, dia segera melanjutkan ke pengumuman berikutnya.

Baiklah! Selanjutnya… anak perempuan keempat! Chisaki-chan.

Eh, aku? Yay!

Ugh… jadi aku yang paling muda di antara kelas dua…

Mungkin harga dirinya sebagai ketua OSIS terpengaruh, Touya mengerang dengan ekspresi gelisah. Saat itu, Chisaki menepuk lengan Touya dengan jarinya, menatapnya dengan ekspresi campuran antara malu dan harapan. Menyadari apa yang diharapkannya, Touya menunjukkan ekspresi bingung selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata…

Chisaki, oneechan.

Ah… uhm. Touya-kun?

Touya mengucapkannya dengan senyum malu-malu, dan Chisaki membalas dengan senyum malu juga. Di antara mereka, suasana manis mulai tercipta.

“Bahkan dalam permainan khusus seperti ini, mereka sudah memulai dunia mereka berdua… seriusan?

Masachika mengerutkan dahi dan memberi komentar, tetapi kedua orang itu sepertinya tidak mendengarnya. Sebab, mereka sudah berada di dunia yang berbeda.

Eh, umm Touya-kun… apa kamu ingin tidur di pangkuanku?

“Hah? Itu sih, yah

Nghehe, jadi kamu ingin sandaran di pangkuan Onee-chan, ya?

Chisaki mengintip wajah Touya dengan ekspresi nakal, dan Touta hanya bisa mengalihkan pandangannya sembari mengangguk pelan.

“Uwahh, aku benar-benar tidak tahan menontonnya.

“Sebagai Senpai, jujur saja aku juga merasa kesulitan melihatnya

Melihat Chisaki yang dalam suasana hati yang aneh dan Touya yang benar-benar terkejut, Masachika dan Elena merasakan sakit hati dan membuat wajah mereka terlihat menderita. Alisa juga menatap dengan ekspresi serupa dan bahkan Ayano membalikkan wajahnya sepenuhnya.

Ah… sebenarnya, aku berencana untuk mengumumkan putra pertama, Touya, tapi… sepertinya bukan saatnya.

Dengan santai melanjutkan pengumuman, Elena berpura-pura tidak melihat kedua orang itu dan membersihkan tenggorokannya. Dia kembali ke nada suaranya yang biasa.

Baiklah! Setelah semua siswa kelas dua diumumkan, sekarang adalah yang keenam! Yang keenam adalah…

Di samping Masachika, Alisa mengencangkan tubuhnya dan menunggu jawabannya. Bagi Alisa, ini merupakan momen penting.

(Aku masih tidak mengerti mengapa Masha keluar lebih dulu… tapi yah, mau bagaimana lagi kalau aku tidak  bisa memenangkan pertarungan melawan siswa kelas dua. Yuki-san juga… meskipun aku tahu sifat aslinya, itu rumit. Tapi, di sini aku punya peluang yang cukup baik!)

Setidaknya, dia merasa yang paling siap di antara tiga siswa kelas satu yang tersisa.

(Bahkan Ayano juga cukup siap… cukup? Ya, dia bekerja dengan baik, tapi ada suasana yang unik… Dia kecil dan kurang mengekspresikan diri, jadi dia tidak terasa seperti kakak, kan? Masachika-kun juga, tentu saja ada saat-saat di mana dia bisa diandalkan… tapi penilaiannya ada di tangan Elena-senpai, kan? Melihat perilakunya sehari-hari, sepertinya aku yang paling tua di sini!)

Alisa dengan percaya diri menunggu jawaban dari Elena. Di depan pandangannya, bibir Elena perlahan terbuka──

“Putra kedua! Kuze-kun!

Oh, jadi aku. Aku sempat berpikir mungkin aku akan jadi yang termuda… tapi ternyata kamu menilai dengan tepat.

Hehe, kan aku sudah bilang? Aku tidak akan mengubah urutan demi kemenangan.

Seandainya bukan karena kakak perempuan pertama, Elena-senpai, itu akan lebih meyakinkan…

Ah, aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan adikku. Karena aku adalah kakak perempuan pertama~

“Mungkin lebih baik jika 'kakak perempuan pertama' ditulis sebagai 'diktaktor'?

Di samping Masachika yang menunjukkan komedi yang serasi dengan Elena, Alisa memanyunkan bibirnya dengan tidak puas. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk berpura-pura tenang, dia mulai berbicara kepada Elena.

Emm, Elena-senpai… kenapa Masachika-kun lebih dianggap sebagai kakak daripada aku?

Eh? Hmm…

Dengan tatapan yang penuh arti “Aku kelihatan lebih tenang dan lebih bertanggung jawab, kan? Alisa menatap Elena, tetapi Elena tampaknya tidak menyadari atau tidak peduli, lalu meletakkan tangan di dagunya dan berpikir sejenak sebelum menjawab.

Entahlah, sepertinya ada kesan bahwa kamu adalah adik yang bertanggung jawab dan Kuze-kun adalah kakak yang bisa diandalkan… jadi menurutku dirinya lebih tua.

!!!”

Pernyataan yang lebih tajam dari yang dia duga membuat Alisa terdiam sejenak dan tidak bisa langsung membalas. Kemudian, suara yang penuh senyum terdengar dari samping.

Halo, Alya-chan?

…Apa?

“Oi, oi, memangnya kamu boleh menatap Onii-chanmu seperti itu?

Siapa yang──!

Mm?

Ugh──

Melihat Masachika yang mengintip dengan wajah menjengkelkan, Alisa menunjukkan ekspresi terhina dan menggigit bibirnya…

"Ma...Masachika…o...”

“Hmm?

Masachika, oniichan”

Bisa tolong lihat ke arahku saat mengatakannya~?"

Ugh! Masachika-oniichan!

“Ohhh…

Alisa memanggilnya Onii-chan dengan tatapan tajam, pipinya memerah karena malu, yang membuat Masachika terkejut dan tercengang. Melihat reaksinya yang begitu, raut Alisa berubah menjadi wajah yang geli, lalu mencondongkan badannya dan mengintip wajah Masachika dari bawah.

“Oh, ada apa? Masachika-oniichan?

Ugh, tidak, hanya saja

“Ara, ara, matamu kok jelalatan ke sana kemari, ya? O-nii-chan~

Ugh!

Panggilan ‘Onii-chan’ yang diucapkan perlahan dari bibir merah ceri itu mengirimkan sensasi geli yang menyebar jauh di dalam hati Masachika──

Oh!?

Tiba-tiba, ada sesuatu yang berat mendarat di punggung Masachika, membuatnya membungkuk saat ia berbalik. Ternyata, Yuki setengah bersandar dan duduk di punggungnya.

…Apaan sih?

Ara, ara, kamu harusnya bilang 'ada apa, Onee-sama?' kan? Masachika-kun.

…Ada apa, Onee-sama?

Tidak, bukan apa-apa sih. Kupikir sudah menjadi tugas seorang kakak untuk memerintah adik laki-lakinya, iya ‘kan?

Kamu punya pandangan yang agak menyimpang tentang hubungan kakak-beradik ya, Onee-sama.

Saat Masachika menjawab demikian sembari melihat ke belakang, tiba-tiba seseorang merespons kata-kata Yuki.

Eh? Jadi Onee-chan tuh bisa duduk di atas adik laki-laki ya~? Kalau begitu, aku juga deh~♪

“Hah?

“Kalau begitu, permisi~

Eh──

Begitu mendengar suara itu dan berbalik, Masachika langsung melihat rambut cokelat berbulu melayang, dan tak lama kemudian, pantat besar mendarat di atas paha Masachika dengan keras!

…Sebenarnya, dia tidak duduk dengan kekuatan sebesar itu, tetapi ukurannya luar biasa. Pantat Yuki yang duduk di punggungnya jelas berbeda dalam berbagai hal.

(Uwoaahhh, besarnya──!?)

Masachika bisa merasakan sensasi daging dan berat yang luar biasa di pahanya. Meskipun dagingnya padat, beratnya terasa lembut dan menempel dengan erat, bahkan meluber ke samping. Dia secara instingtif memahami bahwa itu berbeda dari pria, dan jelas dirancang untuk melahirkan anak.

(Ga-Gawat…!)

Merasa terancam oleh sensasi itu, Masachika mulai merasa cemas──

Hei, apa yang kamu lakukan? Itu sangat tidak senonoh!

Ah, ahh.

Segera setelah itu, Alisa menarik lengan Maria, menyebabkan Maria mencondongkan tubuh ke depan dan turun dari pangkuannya.

Ap-Ap-Apa sih yang kamu pikirkan! Duduk di pangkuan pria seperti itu!

Ehhh~… Tapi, itu tugas seorang Onee-chan, kan~?

“Ma-Mana mungkin ada yang brgitu! Me-Me-Memangnya kamu bodoh!?

Ugh, jangan marah-marah begitu, Alya-chan.

Ah, tolong… jangan peluk aku, Mar──

“Onee-chan, kan?

“O-O-Onee-chan

Yay~ Alya-chan"

“Hadeuhh, ini pengap banget…!

Maria yang berjongkok memeluk leher Alisa dan menggosok pipinya. Secara otomatis, pantat besarnya yang terbungkus rok itu… pantat yang sebelumnya berada di paha Masachika kini terlihat menonjol ke belakang dan masuk ke dalam pandangan Masachika.

Masachika-kun? Sepertinya sekarang lebih nyaman untuk duduk di sini, ya? Atau hanya perasaanku?

"Itu hanya perasaanmu saja.

Saat dia menjawab tentang pantat kecil yang masih duduk di punggungnya, tiba-tiba Maria menoleh ke belakang dan… dengan sudut yang tidak terlihat oleh orang lain, dia menjulurkan lidahnya dan mengedipkan matanya.

(!! Ja-Jangan-jangan dia cuma berpura-pura bertingkah polos!? Ternyata dia adalah si kecil yang nakal!?)

Masachika diam-diam bergidik, menyadari bahwa Maria berpura-pura naif tetapi sebenarnya sepenuhnya menyadari pesonanya sendiri. Kemudian, ia mendengar Elena berdeham.

“Umm, sepertinya ini sudah sangat kacau… boleh aku melanjutkan pengumuman terakhir?

Ah, ya. Silakan.

Ketika Masachika menjawab dengan setengah hati, Ayano yang duduk diam dengan ekspresi datar menatap Elena, sementara Alisa yang dipeluk Maria memandang Elena dengan tatapan lelah.

Sembari menerima tatapan dari dua orang yang tersisa, Elena menghela napas dan mulai berbicara.

Yang tersisa adalah Alisa-chan dan Ayano-chan. Si bungsu yang terhormat dari OSIS ini adalahhhh

Setelah menunggu beberapa detik, Elena tiba-tiba menunjuk.

“Putri keenam! Ayano-chan! Dan di atasnya adalah putri kelima, Alisa-chan!

…Ya, baiklah… ya?

Meski Alisa mengangguk setuju bahwa dirinya lebih tua dari Ayano, tetapi akhirnya merasa bingung karena dia berada di posisi kedua dari bawah. Sementara itu, Ayano menundukkan kepala tanpa berkata-kata kepada Elena, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kakak beradik yang saling berpelukan di depan.

“Umm, Masachika-sama, Yuki-sama…

“Iya?

Mm?

Keduanya menatap Ayano secara bersamaan, dan dia ragu-ragu menatap mereka… lalu dengan sedikit menunduk, dia berkata.

…Chika, oniichan. Yuki, oneechan.

Jantung kakak beradik itu berdebar kencang seperti disambar petir. Tanpa berkata-kata, mereka berdua langsung berdiri dan memeluk Ayano dari kiri dan kanan. Dihimpit lembut oleh kedua kakaknya, Ayano terlihat malu, tetapi senyumnya mulai merekah.

Alisa yang dipeluk oleh kakaknya, dan Ayano yang dipeluk oleh Masachika dan Yuki, semuanya terlihat seperti pasangan yang sedang bermain peran kakak adik di sofa. Sementara itu, Elena merasa dikucilkan.

Eh, apa-apaan dengan situasi ini

Elena merasa ketakutan sendirian usai melihat situasi yang terlalu kacau di ruang OSIS.

“O-Oii~setidaknya, aku ini kakak yang paling tua, loh~…?

Sembari bertanya dengan ragu-ragu, Apa mereka ingat padaku…? namun semua orang tampak terlarut dalam kasih sayang mereka sendiri dan tidak menyadarinya.

Kemudian, Elena tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik ke arah Masachika.

Oh ya, Kuze-kun! Pertandingan, pertandingan kita!

Eh? …Ah."

Masachika yang sedang memeluk Ayano dan mengelusnya, mengeluarkan suara santai mendengar kata-kata Elena dan melihat kertas yang ditinggalkan di depannya.

Baiklah, sekaranglah waktunya pertandingan balasan untuk permainan trick-or-treat! Kuze-kun, seberapa banyak urutan yang bisa kamu tebak~…?

Elena mendengus sombong sembari menatap Masachika karena merasa diri akan kemenangannya. Masachika melihatnya dengan tatapan dingin, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil kertas di atas meja dan membukanya yang terlipat empat.

Yah, sebenarnya──

Dan kemudian, ia mengulurkan isinya di depan Elena.

“Bisa dibilang, itu sangat mudah dimengerti.

…Eh?

Di atas kertas itu tertulis… dari atas, nama-nama Elena, Maria, Chisaki, Chisaki, Touya, Masachika, Alisa, Masachika, delapan nama semuanya.

“Ap-Ap-Apaa…!?

Ini berarti kemenanganku, kan?

“Hahhhh, apa-apaan ini!? Ada nama yang sama ditulis dua kali!

Itu bukan pelanggaran, kan? Karena tidak ada aturan yang melarangnya.

“Iy-Iya sih, tapi tetap saja…! Cara menebaknya tidak imut sama sekali!

“Aku tidak mencari cara menang yang imut.

“Begituya, kugh

Elena tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Masachika kemudian meletakkan kertas di atas meja untuk Kujou bersaudara dan Yuki yang melihat dengan penasaran.

Ini…

“Uwoaahhh luar biasa sekali. Kamu bahkan bisa menebak dengan benar bahwa Elena-senpai muncul di urutan teratas~”

Yah, kupikir Elena-senpai pasti akan memasukkan dirinya sendiri ke dalam urutan.

Ngomong-ngomong, apa dasar dari tebakan urutan ini?

Hmm, ya~ kecuali Elena-senpai, kupikir Masha-san akan berada di posisi teratas. Dan Ketua serta Sarashina-senpai terlihat seperti pasangan kakak beradik, jadi aku menempatkan Sarashina-senpai di atas. Namun, aku tidak bisa memastikan di mana Yuki akan ditempatkan… mungkin di antara urutan kedua dan keempat, jadi aku sengaja tidak memasukkan nama Yuki. Dan untuk tiga orang di bawah, kupikir urutannya adalah aku, Alya, dan Ayano, tapi ada juga kemungkinan kalau Elena-senpai memilihku di urutan terbawa… jadi aku berpikir, asalkan satu saja yang benar, itu sudah cukup.

Menakjubkan, hampir semua tebakanmu benar.

Benar banget~Kuze-kun hebat banget~

Alisa mengangguk kagum, sementara Maria bertepuk tangan dengan senyuman. Hanya Yuki yang satu-satunya menyadari bahwa ada lipatan kertas berada di antara nama Elena dan Maria, sehingga dia bisa menunjukkan urutan tujuh orang yang dimulai dari Maria, tetapi dia tidak mau repot-repot menunjukkan hal itu.

Baiklah, Elena-senpai… apa boleh kalau ini dianggap sebagai kemenanganku?

Ugh… umm..gugugu

Saat Masachika bertanya lagi kepada Elena, dia mengeluarkan suara mengeluh dari tenggorokannya dan setelah beberapa detik menatap Masachika dengan marah, akhirnya dia mengangguk pasrah.

…Baiklah. Kalau sudah terbaca sampai sini, kurasa tidak ada yang bisa dilakukan… aku akan mengakuinya.

Baiklah, kalau gitu, ayo nyatakan dirimu sebagai pecundang.

Ugh…!

Dengan wajah yang sangat frustrasi, Elena dogeza di atas karpet dan berkata…

“Aku merasa terkesan. Aku benar-benar minta maaf karena sudah berbicara sembarangan.

Cepat banget.

“Bukannya dia terlalu terbiasa melakukan dogeza…?

Elena membungkukkan kepala dan dengan cepat mengucapkan kalimat kekalahan, lalu dalam waktu sekitar tiga detik, dia mengangkat kepalanya lagi. Masachika dan Alisa sedikit terkejut. Namun, saat Elena berdiri sambil mengelap dahi dengan lengannya, Yuki memanggilnya dari samping.

Tunggu sebentar. Masa cuma begitu saja, Elena-senpai.”

Eh?

Sambil berkedip-kedip, Elena berbalik dan membalas dengan senyuman anggun, Yuki lalu dengan jelas mengungkapkan.

"Elena-senpai telah menggunakan cara yang tidak sportif dan tetap kalah, iya ‘kan? Sesuai janji yang sudah kamu nyatakan pada awal tadi, seharusnya kamu melepas pakaianmu.

Ha… eh, ehhhhhh!?

Setelah beberapa detik mencerna perkataan Yuki, Elena segera melindungi tubuhnya dengan kedua tangan. Touya dan Alisa juga menatap Yuki dengan wajah terkejut, tetapi Yuki tetap mempertahankan senyumannya yang anggun dan tanpa ampun mulai menghitung.

“Masachika-kun menjawab enam dengan benar, jadi sepatu, kaus kaki, dasi, blazer, rok, kemeja… syukurlah, untungnya celana dalam Senpai masih tersisa, ya?

“Ap—, tidak… tapi, itu sih jelas-jelas

Dengan senyum kering, Elena menatap Yuki seolah bertanya, “Kamu tidak serius bilang begitu, ‘kan? Yuki menjawab dengan lembut dan penuh pengertian.

“Dengarkan baik-baik, Elena-senpai. Cobalah untuk berpikir dengan tenang dan objektif. Elena-senpai telah menggunakan cara yang sangat curang sampai membuat semua orang di sini terkejut, dan berusaha memaksa seorang Kouhai untuk dogeza loh, loh?

Setelah itu, Yuki menyingkirkan senyumannya yang anggun dan melanjutkan dengan nada serius.

“Jika harus dibilang dengan tegas, hal itu benar-benar berbahaya sekali.”

“100% tatapan penuh penghinaan!? Uuuggggghhhhhhh~~~~~… C-Chisaki-chan!

Elena memegang kepalanya seolah-olah ingin melarikan diri dari tatapan Yuki, mencari bantuan dari seorang Kouhai yang menolak mentah-mentah sanksi permainan tersebut.

“To-Touya… apa kamu ingin bermain gulat atau semacamnya?

Eh? Ke-Kenapa?

“Bu-Bukan apa-apa sih....tapi aku pernah mendengar bahwa kakak perempuan itu harus melakukan teknik gulat pada adiknya…

It-Itu… sepertinya aku memang pernah mendengarnya?”

“Iya, ‘kan? Jadi, bagaimana… mau mencobanya?

Eh, tapi jika kita melakukan teknik gulat… Bu-Bukannya berarti tubuh kita akan bersentuhan…

…Tidak mau?

U-uh, ayo! Siapa takut!

Baiklah! Jadi… ini adalah… Argentine Backbreaker

“Uwoahh, su-sungguh… hebat Chisaki…!

“Mouu Aku ini Onee-chan, kan?

Ch-Chiisaki, oneechanguhhh!

Mereka berdua terlibat dalam dunia khusus yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Melihat perilaku mereka, Elena menelan kata-katanya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak melihat… kali ini, dia menatap Kujou bersaudari untuk meminta bantuan. Namun...

““””

Karena orang yang hampir dipaksa berlutut adalah Masachika, jadi Alisa menatap Elena dengan tatapan dingin. Maria juga terlihat bingung dan sedikit menundukkan kepalanya, tetapi setelah beberapa saat, dia menatap Yuki dan berkata.

“Begini, Yuki-chan. Memang benar bahwa kecurangan Elena-senpai sangat buruk dan semuanya akibat dari perbuatannya sendiri, tapi… sepertinya agak kasihan juga jika dia hanya mengenakan pakaian dalam."

Ugh… ini… ini juga berpengaruh…!

Fakta bahwa bahkan Maria yang baik hati pun tidak bisa membela apa yang telah dilakukannya. Di tengah itu, Elena merasakan rasa sakit ketika juniornya secara langsung mengatakan bahwa dia terlihat kasihan. Sementara Maria melanjutkan, Alisa dan Masachika juga mulai bersuara.

Benar juga. Meski itu perkataannya sendiri, tetapi menunjukkan pakaian dalam kepada lawan jenis memang hal yang sangat kasihan.

Ugh…

Benar banget. Lagipula, aku sama sekali tertarik dengan pakaian dalam Elena-senpai.

Guha!

Sementara Elena terus menerima serangan emosional yang bertubi-tubi, Yuki menyentuh dagunya dan berpikir, Hmm…

Kalau begitu, bagaimana kalau pandangan mata Masachika-kun ditutup dan Elena-senpai melepas pakaiannya? Jika dari lawan jenis tidak ada yang melihatnya, mungkin rasa malunya akan berkurang, kan?

Eh, tapi bagaimana dengan Touya…

“Kalau Elena-senpai sedang mencari Ketua, dirinya tidak akan peduli dengan hal itu saat ini…

Saat Yuki mengisyaratkan dengan tatapan matanya, mereka melihat ketua dan wakil ketua yang terus berpelukan dengan akrab.

Jadi begini, inilah teknik… Cobra Twist yang terkenal."

“Aduh!? Ha, haha! Wah, hebat sekali! Chisaki-oneechan, kamu sangat tahu banyak!

Ehh~? Enggak jugakalau begitu mulai dari sini, Manji Gatame

“Ugh, ka-kamu sangat berani!

ouya bergelantungan erat dengan kekasihnya, tersenyum bahagia dan matanya tampak berputar-putar. Melihat wajahnya, Elena memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat untuk ketiga kalinya, lalu menyilangkan kedua tangannya dan berkata dengan tegas.

Baiklah! Aku juga seorang wanita! Sebagai senior, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kukatakan!

Hehe, memang begitulah sikap yang harus dimiliki mantan wakil ketua OSIS. Sekarang, Ayano, tolong tutupi mata Masachika-kun.

Eh, kamu serius mau melepas pakaianmu, Elena-senpai…? Siapa yang diuntungkan…? Atau, apa aku harus keluar?

Tidak boleh! Kuze-kun, kamu harus tetap di sini!

“Harga diri macam apa ini... Maksudku, permainan macam apa ini...

Ketika dirinya hendak berdiri, Elena menghentikannya, dan Masachika hanya bisa menggerutu dengan bingung. Pada saat itu, Ayano yang tampak canggung dengan hati-hati mengajak bicara.

Masachika… eh, maksud saya, Chika-oniichan. Umm, matamu

O-oh."

Masachika mengangguk secara refleks menanggapi kata-kata Ayano yang tanpa ekspresi, yang entah bagaimana mengandung sedikit rasa sayang. Kemudian, Ayano berputar di belakang Masachika dan dengan lembut menutup kedua matanya.

(Ini… rasanya mirip seperti adegan 'ayo tebak siapa?' yang sering kulihat di manga…)

Ia bisa merasakan sentuhan lembut tangan Ayano di sekitar matanya. Dalam pandangannya yang gelas, Masachika merasakan campuran rasa berdebar dan antisipasi. Tiba-tiba, suara Elena terdengar, seolah dia sudah kembali ke jalurnya.

“Baiklah, kalau begitu… aku akan menunjukkan pakaian dalam seksi Erona-senpai kepada Yuki-chan yang rakus

Pakaian dalam seksi? Aku penasaran seperti apa itu.

O-Oh… begitu ya. Baiklah… kalau begitu, aku akan mulai sekarang

Setelah kata-kata itu, suasana hening sejenak mengisi ruangan. Karena penglihatan yang terbatas, pendengaran Masachika menjadi lebih peka, dan terdengar samar-samar suara gesekan kain, tetapi cuma itu saja.

(…Ap-Apaan ini, permainan macam apa ini?)

Dalam kegelapan, dirinya hanya bisa mendengar suara gesekan kain, dan perasaan gatal muncul di dalam tubuh Masachika. Merasa sedikit cemas dan enggan untuk terlalu fokus pada pelepasan pakaian seniornya, Masachika mulai memikirkan urutan usia anggota OSIS yang diumumkan oleh Elena.

(Hmm~, jika dipikir-pikir… Mungkin dia bisa melihat dengan jelas bahwa Masha-san dan Yuki memiliki kedewasaan yang luar biasa, dan dia juga sepertinya memahami hubungan antara aku dan Alya… Dia memang memiliki kemampuan untuk membaca orang dengan baik…)

Saat dia merasa sedikit terhormat terhadap senior yang tampaknya hidup mengikuti alur tetapi tetap memahami esensi, ia mendengar suara Elena dari sisi lain kegelapan.

“Baiklah, kalau begitu… aku akan melepas rokku, ya?

“Uwahh~

Sepertinya mereka sudah sampai pada tahap di mana pakaian dalam akan terlihat. Elena mengumumkan dengan nada genit yang menggoda, sementara Yuki bertepuk tangan kecil. Masachika juga merasa sedikit tegang meskipun tidak bisa melihat, dan setelah suara Elena yang berkata Woahh~ohh~”diikuti oleh suara Yuki yang berkata “Walah~” sepertinya Elena akhirnya telah melepas rok. Kemudian, kembali ke suasana hening.

(…Apa-apaan ini, waktu misterius ini? Dan kenapa sejak tadi suasana hening dan suara gesekan kain terasa sangat lama?)

Segera setelah Masachika mempertanyakan hal itu, jawabannya datang dari suara Yuki.

“Umm, Elena-senpai?

Ya?

Sejak tadi, kamu sangat hati-hati melipat pakaian yang sudah dilepas… sejujurnya, itu sedikit mengecewakan.

Eh, tapi aku tidak bisa membiarkannya berserakan…

Ini menunjukkan sisi seriusmu…

Elena-senpai, kamu dibesarkan dengan baik, ya~

“Ha-Hahh!? Bukannya ini hal yang normal…!?

Setelah suara Kujou bersaudari, Masachika juga terkejut dengan kebenaran waktu hening itu dan sedikit terjatuh dari kursinya. Saat itu, Ayano yang sudah menutup matanya tampak sedikit terkejut, dan Masachika sedikit mengangkat tangannya dengan niat meminta maaf. Namun, ia kemudian menyadari sesuatu yang membahayakan.

(Hmm?)

Kegugupan kecil Masachika barusan mungkin menyebabkan pegangannya mengendur dan sedikit bergeser. Atau mungkin itu kesalahan Ayano yang berhati-hati untuk tidak menekan kelopak mata Masachika, sehingga penutup mata itu terpasang longgar.

(Oi Ayano! Aku bisa melihatnya! Aku bisa melihatnya!)

Rupanya, di antara jari-jari Ayano terdapat celah kecil, sehingga Masachika bisa melihat ke depan.

Karena celah di antara jari-jari itu sempit, jadi Masachika tidak bisa melihat bagian bawah, tetapi ia bisa melihat Elena yang mengenakan kemeja. Masachika mulai panik. Namun, dalam situasi seperti ini, dirinya tidak bisa berteriak untuk memperingatkan Ayano…

Kalau begitu, tibalah saatnya.... aku akan melepas kemejaku~

“Aku sudah menunggu~

Sambil berkata demikian, Elena yang tampak ceria mulai membuka kancing kemejanya, dan Masachika segera menutup kedua matanya. Detak jantungnya berdengung di telinga, dan Masachika menahan napas untuk menghilangkan keberadaannya…

Jreng-jreng!

“Uwoahhh~… luar biasa, itu benar-benar seksi banget

“H-Hah, ehhhh? Elena-senpai, kamu biasa mengenakan pakaian dalam seperti ini…?

“Fuwah, menakjubkan~~

Hehe, inilah waktunya Onee-san seksi menunjukkan kemampuannya.

Masachika bisa mendengar seruan kekaguman para wanita dan suara bangga Elena. Kemudian dia juga bisa mendengar Alisa dan Maria yang berdiri dan mendekati ke arah Elena.

“Memang benar kalau ini gambaran Onee-san yang seksi…

“Apa ini, umm, sesuatu yang disebut sebagai celana dalam keberuntungan?

“Heee~ imut banget~ di mana kamu membelinya~?

“O-Ohh, kalian sangat dekat sekali melihatnya…

Elena tampak kaget dengan reaksi para juniornya yang sangat antusias.

“Aku puynya pertanyaan sederhana, tapi… bukannya tali ini agak longgar?

Bagaimana dengan bagian ini…?

“Uwahh, lihat deh~! Bagian ini transparan~

(…Tali longgar? Transparan? Sebenarnya, pakaian dalam seperti apa yang dia pakai…)

Entah disengaja atau tidak, kata-kata yang bertebaran itu membangkitkan minat Masachika, membuatnya semakin membara. Kendali dirinya goyah saat memikirkan pakaian dalam seksi, sesuatu yang hanya akan menarik minat remaja yang sehat.

Ehmm, jika kalian terus menatap seperti itu… maksudku, rasanya cukup memalukan bahwa sementara semua orang mengenakan seragam, tapi cuma aku satu-satunya yang hanya mengenakan pakaian dalam…

Tidak boleh, Elena-senpai. Itu juga termasuk hukuman dalam permainan.

…………piyuu

(Dia mengeluarkan suara menyedihkan yang sepertinya bisa digunakan sebagai trek audio gratis)

Masachika merasakan sensasi geli di dalam hatinya saat suara seperti kicauan hewan kecil itu sedikit terdengar, dan dalam pikirannya muncul Yuki si iblis nakal dan Masha si malaikat.

'Kamu penasaran, kan? Kenapa tidak lihat saja… toh, tidak ada yang akan menyadarinya. Lagipula, Elena-senpai yang mengatakan “dia akan menunjukkannya jika dirinya, kan?'

'Tidak boleh! Sama sekali tidak boleh! Kamu tahu itu, kan? Jika kamu melihatnya, kamu akan menyesal dan pasti akan merasa sedih nanti!'

'Lebih baik menyesal setelah melihatnya daripada menyesal karena tidak melihatnya!!'

'Kya! Aaaahhh──'

Namun, serangan iblis chibi Yuki membuat malaikat itu seketika terbang ke udara…

Ehmm, sebenarnya, aku mendapatkannya dari junior di klub musik, dan aku tidak bisa menolaknya… jadi tentang harga atau di mana saya membelinya, hal-hal seperti itu, tolong… bisakah aku mengenakan pakaianku sekali lagi!?"

Teriakan menyedihkan Elena bergema di sepenjuru ruangan,

(Aku tuh benar-benar… maafkan aku, Elena-senpai)

Benar saja, Masachika menyesali keputusannya dalam hitungan detik, dan diam-diam tenggelam dalam depresi yang pahit.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama