Roshi-dere Vol.4 Prolog Bahasa Indonesia

Prolog —  Masa Lalu yang Ingin Kulupakan

 

“Menghabiskan masa kanak-kanak hanya untuk bermain-main ketika pertumbuhan otak dan tubuhmu sedang pesat merupakan tindakan yang sangat bodoh. Kamu bisa memperoleh keterampilan sosial sebanyak yang kamu inginkan nanti. Hal terpenting yang perlu kamu lakukan sekarang ialah mengembangkan bakatmu sebanyak mungkin. Banyak orang bodoh yang baru menyadari hal ini ketika mereka menjadi dewasa dan berhenti berkembang. Bila sudah begitu, semuanya sudah terlambat bagi mereka. Kamu paham, ‘kan? Masachika.”

Ojii-sama sering mengatakan hal itu seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya. Ia mengatakan kepadaku untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang berharga ini saat aku bisa  berkembang sebanyak mungkin. Ia juga memberitahu jika aku berusaha keras sekarang, aku bisa menghindari kesulitan yang tidak perlu di kemudian hari.

“Aku akan menyediakan lingkungan terbaik dan guru yang terbaik untukmu. Kamu memiliki bakat. Sebuah bakat yang langka dan lebih baik dari siapa pun. Aku bersedia melakukan apa saja untuk mengembangkan bakatmu.”

Tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Aku mengetahui bahwa semakin aku diajari, semakin tumbuh pula diriku, entah itu dalam bidang akademis, seni budaya, maupun seni bela diri. Aku juga merasa bangga dengan diriku sendiri saat guru dan keluargaku memujiku.

 

“Hei Suou, apa kamu juga mau ikut?”

“Mending jangan. Kalau pun kamu mengajaknya, Ia palingan takkan datang, jadi percuma saja.”

Mau bagaimana lagi, karena aku ada latihan piano hari ini. Video game? Apa gunanya menjadi mahir dalam hal itu?

Aku ini berbeda dengan kalian. Orang-orang yang berbakat harus berupaya keras. Mereka harus terus berusaha sampai melihat batas dari bakat mereka. Aku harus memenuhi harapan kakekku.

 

 

“Kamu sudah bisa berbicara bahasa Inggris selancar itu? Hebat sekali, Masachika-san.”

Terima kasih. Tapi ini masih belum cukup, Kaa-sama. Aku masih bisa meningkatkankan kemampuanku. Aku akan terus belajar untuk bisa berbicara lebih fasih lagi, jadi tolong pujilah aku pada saat itu, ya? Kaa-sama.

 

 

“Maafkan aku, Nii-sama. Karena aku selalu saja tertidur, Nii-sama pasti merasa kesulitan, bukan?”

Kamu ini bicara apa, Yuki. Tubuhmu ‘kan memang lemah, jadi apa boleh buat, ‘kan? Jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik demi dirimu juga. Aku akan menjadi penerus keluarga Suou yang mumpuni, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, oke?

 

 

“Apa kamu baik-baik saja, Masachika? Apa kamu tidak merasa kesulitan dengan semua pelajaran yang sudah kamu pelajari? Kamu boleh bermain-main seperti kebanyakan anak kecil lainnya, lo?”

Bermain-main? Aku baru saja bermain kartu dengan Yuki dan Ayano kok, Tou-sama. Karena aku sudah bermain selama satu jam, jadi aku harus segera kembali belajar.

 

 

Akhir-akhir ini, senyum Kaa-sama jadi terlihat canggung. Aku merasa seperti dia memaksakan dirinya untuk memberiku pujian. Aku harus berusaha lebih keras supaya dia tidak perlu memaksakan dirinya lagi.

“Wah, sabuk hitam karate? Kamu sudah bekerja keras. Luar biasa sekali.”

Sudah kuduga, dia terlalu memaksakan diri. Sebenarnya, dia pasti belum merasa puas. Karena Kaa-sama tidak mengatakannya dengan tulus, jadi Kaa-sama memalingkan muka supaya perasaan Kaa-sama yang sebenarnya tidak ketahuan, ‘kan?

Maafkan aku, Kaa-sama. Aku akan berusaha lebih keras lagi supaya Kaa-sama tidak perlu berbohong. Supaya Kaa-sama bisa memujiku dengan tulus lagi.

 

 

“Masachika-sama? Saya pikir sudah waktunya bagi anda beristirahat ...”

Jangan khawatir, Ayano. Aku masih belum melihat batasku. Oleh karena itu, aku harus bekerja lebih keras lagi.

Sebaliknya, tolong awasi Yuki. Aku akan baik-baik saja, jadi tolong urus Yuki baik-baik, ya?

 

 

“Kamu pasti meremehkan kami, iya ‘kan?”

“Jangan kira karena kamu anak orang kaya, kamu bisa bertingkah songong begitu, dasar tengil.”

Berisik, jangan ganggu aku, kalian itu menyebalkan, tau. Jangan meributkan hal yang sepele dan tinggalkan aku sendiri!

 

 

“Suou-kun, ayo bersikap sedikit lebih ramah lagi dengan teman-temanmu, oke?”

Bahkan Sensei juga, ini bukan urusan sensei. Lagipula, orang-orang itu bukan temanku. Mereka hanyalah sampah yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menghalangi jalan dan menjatuhkan orang lain.

Aku tidak punya waktu untuk meladeni mereka. Sebenarnya, aku bahkan tidak ingin datang ke sekolah. Aku tidak punya banyak waktu luang, jika aku tidak bekerja lebih keras, Kaa-sama takkan tersenyum dari lubuk hatinya!

 

 

“Jangan datang ke sekolah lagi.”

“Benar banget. Lagian, kenapa kamu ada di sini?”

Tutup mulut kalian, dasar brengsek. Adik perempuanku bahkan tidak bisa pergi ke sekolah sesukanya.

Hanya sedikit olahraga saja sudah membuatnya batuk keras. Dia bahkan tidak bisa pergi ke luar, apalagi ke sekolah.

Dia menderita asma anak-anak. Gejalanya juga cukup parah. Tidak hanya perubahan lingkungan dan suhu, tapi gejalanya juga bisa terjadi karena gejolak emosi, jadi harap berhati-hati.

Apa kamu bisa mempercayainya? Yuki tidak bisa marah, menangis, atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Tidak hanya kebebasan tubuhnya saja, tapi bahkan kebebasan perasaannya juga ikut direnggut oleh penyakitnya.

Meski begitu, dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang egois. Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum supaya tidak merepotkan orang lain.

Siapa juga yang mau bersama kalian? Jika pun ada, aku ingin berada di sisi Yuki. Tapi karena Yuki mencemaskanku ... Aku tidak bisa bolos sekolah demi dirinya!

 

 

“Pergi bekerja lagi? Kamu sama sekali tidak pernah pulang ke rumah!”

“Maaf, sebenarnya aku juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluargaku ...”

“Ahh, ya ampun, kamu selalu seperti itu! Memangnya kamu pikir dengan meminta maaf saja sudah cukup?”

Mengapa, kenapa Kaa-sama terlihat begitu marah? Tolong hentikan, kumohon tersenyumlah seperti dulu lagi.

Aku akan melakukan yang terbaik. Jadi tolong, jangan marah-marah lagi pada Tou-sama. Oh iya, ayo mainkan lagu yang katanya Kaa-sama sukai. Kalau tidak salah, Chopin ... Chopin apa, ya? Itu adalah lagu yang sangat sulit, tetapi aku akan berusaha yang terbaik untuk melatihnya.

Jika aku bisa melakukan yang terbaik memainkannya, aku yakin Kaa-sama pasti akan ...

 

 

“Sudah cukup, hentikan!!”

Aku yakin ... Aku yakin kalau dia akan merasa senang.

Kenapa, Kenapa, Kenapa! Selama ini aku sudah berusaha keras! Meski aku tidak punya waktu untuk bermain karena ada banyak pelajaran yang harus kupelajari, atau dibully di sekolah karena bertingkah songong, aku tidak merasa kesulitan sama sekali! Selama Kaa-sama terus memujiku. Selama Yuki mengagumiku.

Kenapa tidak ada yang mengakui usaha kerasku! Tolong puji aku! Usap kepalaku dengan lembut! Seperti dulu!

 

 

“Mengenai Yumi ...  Jangan khawatirkan mengenai ibumu. Kamu harus terus  belajar dengan giat seperti biasa.”

Seperti biasa? Apa Ojii-sama ingin …. Aku terus berusaha keras sama seperti sebelumnya? Mana mungkin aku bisa melakukan itu... kenapa, kenapa kamu tidak memahami penderitaanku!

Menyakitkan. Rasanya sungguh menyakitkan. Harapan Ojii-sama sangat menyakitkan. Tinggal bersama Kaa-sama rasanya sangat menyakitkan. Tatapan polos Yuki dan Ayano terasa... menyakitkan. Aku sudah muak dengan ini. Aku …. tidak ingin tinggal di rumah ini lagi.

 

 

“Tumben sekali Suou, apa kamu tidak pulang~?”

“Oi,oi, apa kamu lagi bolos les~? Bukannya kamu ada les yang harus kamu hadiri~?”

Berisik... Dasar bocah-bocah cerewet. Selalu saja, selalu saja, selalu saja ........ Sekalian saja, aku beri mereka pelajaran—— tidak, jangan. Mereka ini tidak layak untukku. Abaikan saja mereka, aku harus mengabaikannya...

“Cih, membosankan sekali. Selalu saja bertingkah songong.”

“Ketimbang anak ini, lebih seru jahilin adiknya, lo?”

“Adiknya?”

 “Iya~, meski belakangan ini dia tidak datang ke sekolah, sih.”

Abaikan, abaikan ……

“Adiknya juga bertingkah seperti Ojou-sama dan itu membuatku  muak~. Saat aku mengambil kotak pensilnya sebentar, dia merengek, [Kembalikan, kembalikan]. Lalu, dia malah mendadak pingsan~”

“Haha apa-apaan itu? Orang kaya kok lemah banget~”

“Habisnya~ dia terus berada di kamarnya untuk bermain piano, sih~”

“Ahahahahahaha!”

Abaikan … … … …!!!

... ... ... ... ..... ... ... ... ...... ... ... ... ...

 

 

“Selamat datang Masachika-chan, sudah lama kamu tidak berkunjung kemari~”

“Oh, kamu sudah datang ya, Masachika! Kakek sudah mendengarnya lo~? Katanya kamu menghajar babak belur empat teman sekelasmu? Bagus sekali! Itulah yang harus dilakukan seorang pria!”

“Tunggu dulu Ojii-san, kenapa kamu malah memujinya?”

“Aku pikir Ia sudah cukup banyak dimarahi? Dan menurutku, Masachika tidak menggunakan kekerasan tanpa alasan. Ketika seorang pria mengepalkan tinjunya, pasti ada sesuatu yang tidak bisa Ia abaikan. Benar ‘kan? Masachika.”

 “Ya ampun ... yah pokoknya, kamu boleh mampir ke sini kapan pun yang kamu mau, oke? Masachika-chan.”

“Jika kamu mau, kamu juga boleh tinggal di rumah Kakek lo? Benar juga, akan aku tunjukkan koleksi Rusia-ku!”

... Kenapa aku tiba-tiba dipuji? Aku tidak tahu ... Ini sangat berbeda dengan keluarga Suou, aku jadi kebingungan.

…….

 “Kamu sudah bisa memahami bahasa Rusia semahir itu? Haaa~~ Kamu memang putra Kyoutaro.”

Ini bukan masalah besar. Aku sama sekali tidak merasa senang walaupun dipuji untuk hal seperti ini. Orang yang aku ingin memberi pujian untukku .... tidak ada yang bisa menggantikannya. Pujian dari orang lain sama sekali tidak ada gunanya.

 

 

Eh, kamu bisa berbicara bahasa Rusia? Hebat, Hebat sekali!

Tidak ada, tidak ada gunanya ...

Wow, kamu benar-benar bisa melakukan apa saja! Keren banget!

Hal semacam itu ... aku...

Kamu bisa memainkan piano? Aku ingin mendengarnya! Aku ingin mendengarnya! Hei, lain kali aku boleh mendengarnya, ya? Janji, ya!

Tidak ada …. yang bisa menggantikannya ....

Masaaachika!

────────…… … … … … …… …… …… …… ……

 

 

Sebelumnya ||  Daftar isi  || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama