Epilog — Partisipasi Bersama
“Ugh~~, entah kenapa rasanya tidak
cocok...”
Setelah
upacara penutupan semester kedua selesai, Masachika berdiri sendirian di
depan cermin toilet pria dengan ekspresi serius setelah membantu menyiapkan
lokasi pesta Natal.
Pakaian
yang dikenakannya adalah jas yang dibelinya
pada musim semi tahun ini untuk acara resmi. Dari sudut pandang umum, jas
tersebut tidak bisa dibilang murah… tapi karena bukan buatan khusus melainkan yang model siap pakai, jadi jas itu mungkin dianggap murah
menurut standar akademi ini.
Masachika berusaha merapikan gaya rambutnya, jadi ia mencoba
mengatur rambutnya dengan wax yang tidak biasa digunakannya… tetapi bentuknya
sulit untuk ditentukan.
“Ketika
aku melakukannya di rumah, padahal hasilnya kelihatan sedikit lebih baik...”
Setelah
menggumamkan itu, ia tiba-tiba teringat bahwa saat di rumah, dia melakukannya
setelah mandi.
(Hmm,
apa jangan-jangan..... kotoran di rambut juga berpengaruh cukup besar?)
Perasaan
tidak menyenangkan mulai membuat keringat menetes di punggungnya.
(Tapi,
ketika aku
merapikan rambut untuk pertunjukan piano kecil saat kecil… bagaimana aku melakukannya ya? Saat itu, kalau tidak salah—)
Masachika
mencoba mengingat kenangan lama sambil mengatur rambutnya, tapi tetap saja
tidak berhasil. Mungkin lebih baik jika dirinya
mencuci wax-nya dan mulai dari awal. Namun, untuk mencuci rambut di akademi…
waktu yang tersisa sudah tidak banyak lagi…
(Hmm,
apakah ini cukup… tidak, mungkin
buruk?)
Kecemasan
mulai meningkat dengan cepat, dan detak jantungnya terasa semakin kencang.
(Ah
sialan,
sama seperti pidato di upacara penutupan, aku benar-benar kurang siap! Aku ngapain saja sih!?)
ejak
mendengar janji Arisa, Masachika telah menjalani hari ini dengan motivasi tanpa
batas yang berasal dari mode tak terkalahkannya. Berkat itu, hingga kemarin,
semuanya berjalan lancar— belajar, kegiatan OSIS, dan latihan orkestra berjalan
dengan baik. Namun, pada hari yang sangat penting ini, sempitnya pandangan dari
mode tak terkalahkan itu secara besar-besaran menghambat langkah Masachika.
(Ugh~~, sudah cukup!!)
Karena
rasa frustrasi yang datang dari ketidakberdayaan dan kebencian terhadap dirinya sendiri, Masachika meremas
rambutnya dengan keras—
“Astaga,
apa sih yang
sedang
kamu
lakukan, Kuze?”
“…Kenapa
kamu ada di sini?”
Masachika
menatap Yushou
melalui pantulan cermin,
yang tampaknya masuk ke kamar mandi tanpa disadarinya, menyandarkan punggungnya
ke dinding dan menyilangkan tangannya. Masachika menatapnya dengan serius.
“Aku cuma baru saja selesai mengantar Sumire-neesan dan
datang untuk buang air kecil.”
“Oh, gitu ya.”
“Ngomong-ngomong…
kamu benar-benar mengajukan janji yang begitu muluk.
Apa kamu benar-benar berpikir bisa mewujudkannya?”
Yushou bertanya dengan nada
meremehkan, tapi jawabannya sudah pasti.
“Ini bukan
perkara bisa atau tidak, tapi kami akan melakukannya.”
“…Hmm~.”
Yushou mengeluarkan suara yang
ragu-ragu seolah setuju dengan perkataan Masachika, lalu ia mengalihkan pandangannya ke
kepala Masachika.
“Yah,
mengesampingkan
hal itu… tapi
apa yang terjadi dengan rambutmu? Seharusnya sebagai seorang pria jantan, kamu bisa merapikan rambutmu
dengan baik.”
“……”
Masachika
biasanya
akan
membalas, tapi kali ini dirinya
tidak bisa berargumen dan hanya terdiam. Yushou kemudian menggelengkan kepala
dengan ekspresi terkejut dan menjauh dari dinding.
“Astaga,
aku tidak bisa membiarkan sainganku datang ke pesta dengan gaya rambut aneh seperti itu.”
“……”
Masachika
secara
refleks berpikir, “Sejak
kapan kamu jadi sainganku?”
atau “Kamu yang punya gaya rambut aneh!” Namun, karena dia bisa menebak
apa yang ingin dilakukan Yushou,
semua kata-kata itu ditahannya.
“Ayo, coba sedikit menunduk.”
Setelah
diminta, Masachika membungkukkan lututnya, dan Yushou mengambil sedikit wax dengan
tangannya, lalu menyisir rambut Masachika sambil melihat ke cermin. Dengan
gerakan terampil, dirinya
memijat rambut Masachika dan memberikan volume, dan dalam sekejap, bentuknya
pun rapi.
“Hmm…
sebenarnya harusnya dimulai dengan pengering rambut, tapi… untuk saat ini,
begini sudah cukup.”
Meskipun
Yushou
tampak masih ragu, ia melepaskan tangannya dari kepala Masachika. Dari sudut
pandang Yushou,
hasilnya hanya cukup, tetapi jelas lebih rapi dibandingkan saat Masachika
mengerjakannya di rumah.
“……
Makasih ya, Kiryuuin. Kali ini, aku benar-benar berterima kasih.”
“Begitu
ya. Maka, lain kali belajarlah untuk melakukannya sendiri.”
“……
Ya. Terima kasih banyak.”
Setelah
mengucapkan terima kasih kepada Yushou
dan mencuci tangannya, Masachika segera menuju kelas 1-B.
“Ah…
syukurlah. Dia belum
datang, ya.”
Saat
membuka pintu kelas, Masachika
merasa lega karena pasangannya yang dijanjikan belum tiba. Melihat jam dinding,
waktu menunjukkan pukul 15:40.
(Acara pesta dimulai pukul 16:30 dan
pintu dibuka pukul 15:30, ‘kan?
Seharusnya aku mulai pergi… tapi, aku dan Alisa bukan panitia, jadi kami tidak perlu masuk lebih awal.)
Sambil
berpikir demikian, Masachika merasa tidak nyaman dan menatap lapangan. Dari kejauhan, dirinya bisa melihat sekelompok siswa yang
berpakaian rapi mendekat dari gerbang utama.
(Woahh… sekolah kaya memang beda. Semua orang terlihat sangat
bersemangat…)
Masachika sekali
lagi merasa jas siap pakainya tidak cocok, tapi rasanya sudah terlambat untuk memikirkan
hal itu. Ia
berusaha untuk bersikap percaya diri dan mengingat tata cara yang diajarkan di
keluarga Suou… ketika ponselnya bergetar di saku.
“Hmm?”
Getaran
itu berhenti setelah tiga kali, dan ketika Masachika mengeluarkan ponselnya, ia
melihat pesan dari Alisa. Saat membuka aplikasinya, ia menemukan satu kalimat
yang tertulis: “Jemput aku.”
“Menjemputnya… di ruang OSIS,
maksudnya?”
Para
anggota
perempuan OSIS,
termasuk Alisa, sedang mempersiapkan gaun pesta
mereka
di ruang OSIS. Tentu saja, termasuk mengganti
pakaian, jadi Masachika
sedikit ragu apa boleh pergi untuk menjemputnya.
“Tapi,
jika dia sudah
bilang begitu… pasti semua orang sudah berganti pakaian, kan? Sebenarnya,
kenapa juga
harus dijemput…?”
Berbicara
pada dirinya sendiri untuk meyakinkan, Masachika menggelengkan kepalanya dan
keluar dari kelas menuju ruang OSIS. Setelah sampai di pintu ruang OSIS, ia mengetuk dan mendengar suara
Alisa yang menjawab, “Ya,” lalu Masachika membuka
pintu.
“Alya? Ada apa…?”
Keraguannya langsung lenyap
seketika saat melihat Alisa yang berdiri di dalam ruangan.
“Ah,
terima kasih, Masachika-kun.”
“……”
Dalam
balutan
gaun
malam yang anggun, Alisa dengan rambutnya yang diikat sanggul terlihat sangat dewasa, terutama
dengan sedikit riasan yang membuatnya tampak lebih menawan dari biasanya. Dan
yang terpenting… dia begitu cantik hingga membuat Masachika kehilangan kata-kata.
(Loh, rasanya.... suasananya sedikit berubah, ya?)
Alisa memberikan kesan yang sama sekali berbeda saat Masachika melihatnya mengenakan gaunnya di
pesta setelah Festival Shureisai. Tentu saja, ini bukan hanya
karena gaya rambut atau riasannya,
tetapi lebih pada cahaya yang terpancar dari dalam diri Alisa.
(Rasanya ada sesuatu yang… seolah-olah
keanggunan dan kerapuhan itu… menghilang…)
Sampai beberapa
bulan yang lalu, Alisa memiliki aura yang terkesan seperti peri, yang
membuatnya tampak jauh dari kenyataan. Sekarang, aura tersebut menghilang,
digantikan oleh keanggunan yang tegas dan percaya diri. Seolah-olah peri itu
telah turun ke bumi dan menjadi manusia… dan karena menjadi manusia,
kecantikannya kini semakin tampak tidak nyata.
“Masachika-kun?”
“──Ah,
tidak, maksudku…”
Suara
Alisa yang curiga membuatnya
tersadar, dan Masachika
mengucapkan kata-kata yang tidak berarti sambil terbata-bata.
“Ah,
itu… kamu sangat cantik.”
“Be-Benarkah? Terima kasih… dan, Masachika-kun
juga terlihat menawan?”
“Ah,
terima kasih…”
Mungkin
karena menyadari kegugupan Masachika, Alisa mulai merasa malu dan memalingkan
pandangan
matanya. Melihat ekspresinya, Masachika
merasa sedikit lebih tenang, lalu berdeham
pelan sebelum mengulangi pertanyaan sebelumnya.
“Umm, jadi ada apa? Kenapa kamu memintaku untuk menjemputmu…?”
“Eh?
Ah, itu…”
Alisa bergumam sambil sedikit canggung memain-mainkan ujung rambutnya.
【Aku hanya ingin kamu melihatku terlebih dahulu…】
(Nggh)
Masachika
hampir tersedak oleh bahasa Rusia yang menggemaskan dan terbuka yang keluar
dari bibir gadis cantik yang luar biasa ini. Namun, ia berhasil menahan diri dan membalas dengan kata-kata
yang sudah biasa.
“Kamu bilang apa tadi?”
“Menjemput
seorang wanita juga merupakan tugas seorang pria jantan, iya ‘kan?”
“Ah,
benar juga…”
Saat Alisa mengucapkan ‘pria
jantan’,
Masachika kembali bersemangat dan
mengingat semua tata cara yang diajarkan di keluarga Suou, lalu ia mengulurkan lengan kirinya kepada Alisa.
“Kalau
begitu, ayo kita pergi?”
“Umm,
ya.”
Mungkin
sedikit terintimidasi oleh sikap Masachika yang elegan, Alisa dengan malu-malu meletakkan
tangannya di lengan Masachika—
“?
Alya?”
Entah
kenapa, Alisa tiba-tiba berhenti sejenak, dan Masachika mengarahkan tatapan
bingung kepadanya. Namun, Alisa tidak menjawab suara Masachika dan tampak
merenung dengan tatapan menunduk… lalu dengan suara yang terdengar ragu-ragu,
dia berkata.
“Hari
ini… malam Natal, ‘kan…?”
“Eh?
Ah iya…”
Sambil
memiringkan kepalanya karena keheranan, Masachika menyaksikan Alisa
yang masih terdiam beberapa detik sebelum tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan
tatapan aneh.
“Keluar dulu sebentar!”
“Eh,
hah?”
“Pokoknya,
cepat keluar!”
Masachika
didorong tiba-tiba dan diusir keluar dari ruangan, membuatnya tertegun.
“Umm…?”
“Jangan
buka pintu sampai aku memanggilmu lagi! Siapa pun yang datang, jangan
dibuka!”
“Ah,
baiklah.”
Sejenak, Masachika berpikir mungkin ia
melakukan sesuatu yang salah, tetapi tampaknya bukan itu masalahnya. Dirinya tidak mengerti apa yang sedang
terjadi, tetapi karena Alisa yang
memintanya,
dirinya
pun menurut dan menunggu di luar.
“Ba-Baiklah, kamu boleh masuk.”
“Ah—”
“Ah,
di luar tidak
ada orang lain ‘kan!?”
“Tidak
ada sih…”
“Kalau
begitu… masuklah.”
Suara
Alisa terdengar tegang dan kaku dari balik pintu, kemudian Masachika membuka pintu
dengan sedikit ragu sembari penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika
pintu ruang OSIS
terbuka, Alisa sedang
berdiri tepat di hadapannya, dan kecantikannya memberi Masachika
perasaan yang sama sekali tidak berubah meskipun ini kedua kalinya ia melihatnya… hanya
saja gaun yang dikenakannya sangat berbeda.
“!!?”
Gaun
hitam yang dihiasi dengan kuncup mawar biru di berbagai tempat. Kulitnya yang
putih bersih terlihat jelas. Kulitnya berkilau lembut di bawah cahaya lampu,
tampak seperti salju baru yang tidak ternoda… eh, lebih tepatnya, payudaranya!! Yang lebih penting lagi adalah payudara!!
(Gede bangettt! Eh, ke mana celana dalamnya!?!)
Masachika
hampir saja mengatakannya dengan lantang, dan dengan panik menutup pintu
di belakangnya. Namun, tatapan matanya
tetap tidak bisa lepas dari—payudara yang menonjol dan lembut, serta lekukan
yang menggoda yang terbentuk di antara keduanya.
(Tidak,
tidak, tenanglah. Sebenarnya, oppai Alya tidak sebesar Masha-san jika dibandingkan. Bahu dan
pinggangnya sangat ramping, jadi perbandingan tersebut membuatnya terlihat
lebih besar dari yang sebenarnya. Jika dilihat secara tenang, payudaranya tidak
terlalu besar… tidak, jelas-jelas gede banget. Bentuknya mirip seperti di manga-maga.)
Meskipun
dirinya
menganalisis dengan logis dan melihat dua kali, tetap saja daya tariknya luar
biasa, dan Masachika terdiam menatap payudara Alisa yang besar dan indah.
Kemudian,
Alisa dengan anggun membungkung menggoda dan sedikit mengangkat roknya dengan tangan
kanannya.
“!!!?”
Dari
ujung rok hitamnya, Masachika bisa melihat kaki kanannya yang putih
bersinar… dan bahkan kaki kirinya pun terlihat, memberikan kejutan yang luar
biasa.
(Tapi
di mana celana dalamnya!?)
Masachika berteriak keras di dalam hatinya karena tidak bisa menemukan tali celana dalam di
tempat seharusnya.
Aneh sekali. Dengan luas kain yang jauh
lebih banyak dibandingkan bikini, seharusnya bagian yang seharusnya tertutup
oleh bikini ini justru terlihat sangat terbuka. Ketidakseimbangan ini membuat
otaknya hampir error, lali ia mendengar
Alisa tersenyum menggoda dalam bahasa Rusia.
【Hadiahnya
adalah… di~ri~ku~♡】
“……”
Gaun
hitamnya terbungkus rapi di sekitar pinggulnya yang melengkung, memancarkan
kilau yang memikat dan menggoda. Lekuk tubuh Alisa yang seperti mimpi terlihat jelas di
balik gaun itu.
Seolah-olah, kecantikan Alisa yang sempurna dikelilingi oleh gaun hitam itu
semakin menonjol. Kulit putihnya yang terlihat dari celah-celah gaun itu sangat
menggoda… sampai-sampai membuat napas Masachika terhenti. Ditambah dengan daya
pikat bahasa Rusia yang lembut, ia merasa wajahnya memerah dan otaknya hampir
membeku.
“……”
“……”
“……”
Entrah sudah
berapa lama mereka berdua saling
menatap satu sama lain. Masachika kemudian
menyadari bahwa kulit Alisa dari tulang selangkanya hingga payudara mulai
memerah…
(Ah,
ada darah
yang mengalir di dalamnya. Hee~ jadi dia beneran manusia hidup.)
Ketika
Masachika masih merenungkan pemikiran absurd
miilknya,
Alisa yang kulitnya berwarna putih lembut tiba-tiba berbalik.
“Aku
akan mati.”
“!?
Tu-Tunggu,
jangan mati dengan pakaian seperti itu!!”
Dengan
nada serius, Masachika menggenggam tangan kanan Alisa yang menuju jendela dan
dengan panik menghentikannya. Mendengar kata “dengan pakaian seperti itu,” Alisa sepertinya menyadari penampilannya, lalu
menutupi dadanya dengan tangan kiri dan menatap Masachika dengan tatapan tajam.
“Jangan
terus-terusan
menatapku seperti itu!”
“Jangan minta hal yang ngaco…”
Masachika
merasa terkejut dengan keluhan Alisa yang sangat berlebihan.
(Sebenarnya,
kamu malah tidak
bisa menyembunyikannya… semakin kamu berusaha menyembunyikannya, rasanya jadi semakin terlihat… hmmm…)
Lagipula,
gaun itu
sangat memperlihatkan bagian samping payudaranya, jadi menutupi satu bagian
saja tidak ada gunanya. Masachika kemudian menyentuh pelipisnya dan mengajukan
pertanyaan mendasar.
“Umm,
jadi ini… apa maksudnya?”
“Gaun
ini, umm…
diberikan oleh orang-orang dari
klub kerajinan tangan…”
“Jadi semuanya ulah mereka lagi…”
Setelah
mendengar lebih lanjut, Masachika mengetahui bahwa anggota klub kerajinan
mendengar bahwa para anggota OSIS
akan menghadiri pesta Natal, dan mereka berusaha dengan gigih untuk memberikan
gaun kepada semua anggota perempuan. Ukuran gaun yang pas mungkin karena
sebelumnya mereka pernah berdandan dengan pakaian pria bersama.
“Hah, itu berarti Masha-san dan Sarashina-senpai juga
memilikinya?”
“…Gaun mereka ada di sana.”
Ketika
Masachika melihat ke arah yang ditunjuk Alisa, ia melihat empat tas gaun hitam
tergeletak di atas sofa. Dari sekilas tampak seolah semuanya berisi gaun, jadi
sepertinya semua orang pergi ke lokasi dengan gaun mereka sendiri.
(Yah kurasa wajar saja. Jika Alya saja sudah seperti ini, gaun punya Masha-san pasti lebih
mencolok…)
“Masachika-kun?”
“Ya,
ada apa?”
“Su-Sudah kubilang jangan lihat ke sini!”
“Ughe!”
Alisa
dengan
cepat memaksa Masachika
untuk melihat ke samping, dan suara aneh keluar dari tenggorokannya. Dirinya didorong ke arah pintu, dan Masachika
merasa lehernya akan sakit jika terus seperti ini, jadi ia buru-buru memutar
tubuhnya.
“Se-Sebenarnya, aku hanya ingin
mencoba gaun ini karena mumpung aku
menerimanya… tapi, aku mau
ganti baju! Aku akan ganti baju dulu,
jadi keluarlah!”
“…Baiklah~~.”
Sambil
memberikan alasan yang sopan saat memerintahkan Masachika untuk keluar, dia
merasa sedikit kecewa tetapi tetap meninggalkan ruangan. Setelah itu, Masachika
berdiri di depan pintu ruang OSIS
dan menghela napas panjang.
(…Yah,
entah kenapa… aku merasa lega karena Alya
tetap menjadi Alya.)
Penampilan
yang dia tunjukkan di atas panggung saat upacara penutupan semester kedua sudah memancarkan aura sebagai ketua
OSIS. Ditambah lagi, penampilannya
yang sangat anggun membuatnya menjadi sosok yang jauh. Namun, sepertinya tidak
demikian.
(Tidak,
tapi… itu mungkin hanya masalah waktu saja.)
Tiba-tiba,
pemikiran itu melintas di benaknya.
Yang terbayang adalah pidato Alisa yang dilihatnya beberapa jam lalu dari sisi
panggung.
Berkat kata-kata pengantar Masachika, tekanan di antara penonton
meningkat hingga batas maksimum. Di bawah sorotan lampu, dia tanpa ragu berbicara dengan percaya diri
tentang idealnya.
(Baik aku maupun Yuki.... tidak bisa melakukan itu.)
Itulah pendapat jujurnya. Bahkan, Masachika merasa jika ia bukan
tandingannya. Dirinya harus mengakuinya. Kecepatan pertumbuhan Alisa
jauh melampaui imajinasinya.
Dan, kecepatan langkahnya… pasti lebih cepat daripada miliknya.
“……”
Entah sampai
kapan dirinya
bisa berada di sampingnya? Masachika mampu mendukung Arisa sekarang karena
pengalaman, koneksi, dan keterampilan komunikasinya yang unggul. Namun… Alisa secara bertahap mulai tidak membutuhkan itu lagi. Hal itu sangat terasa pada
upacara penutupan hari ini.
(Yah,
yang bisa kulakukan hanyalah berjuang sekuat tenaga.)
Masachika
berusaha meyakinkan dirinya
sendiri di dalam hati untuk menghentikan pemikiran negatifnya. Dirinya sudah berhenti merasa terpuruk
karena ketidakmampuannya
dan tidak lagi menundukkan kepala. Meskipun suatu hari nanti ada kemungkinan dirinya akan ditinggalkan… sampai saat
itu, ia
hanya bisa mengikuti langkah Alisa.
Kemudian saat
itu, pintu di belakangnya terbuka, dan Masachika sedikit terkejut sebelum menoleh.
“…Maaf
sudah
membuatmu menunggu.”
“…Oh.”
Alisa
yang keluar dengan sedikit canggung dan memalingkan
tatapannya,
kembali mengenakan gaun aslinya… Masachika merasakan campuran antara lega dan
sedikit kecewa, lalu mengulurkan lengan kirinya.
“Kalau
begitu, ayo pergi?”
“…Ya.”
Alisa
mengangguk dan kali ini dia dengan
benar-benar meletakkan tangannya di lengan Masachika. Mereka berdua mulai
berjalan perlahan. Mereka berdua berjalan melewati lorong, turun tangga, dan
keluar melalui pintu di ujung lorong lantai satu menuju aula tempat acara.
Meskipun
seharusnya masih ada waktu tersisa sebelum
acara dimulai, tapi nyatanya sudah ada
banyak orang yang berkumpul, dan suasana ceria bisa terasa dari arah aula olahraga. Merasakan suasana itu dari
kejauhan… Masachika tanpa sadar berhenti.
“Hmm?
Ada apa?”
“…Tidak, bukan apa-apa.”
Meskipun
Masachika menjawab dengan kata-kata penolakan tanpa alasan, alasan mengapa
kakinya berhenti sudah jelas.
Saat menyadari bahwa mereka akan pergi ke sana berdua, perasaan minder kembali muncul di
pikirannya.
Dirinya merasa tidak pantas berada di
samping pasangan ini. Tidak peduli bagaimana ia memikirkannya, mereka tidak serasi sama sekali. Pemikiran itu muncul dan membuat Masachika
terhenti.
(Yah,
memang benar bahwa kami kelihatan tidak serasi secara penampilan… Ah, di saat-saat seperti ini,
aku ingin merasakan kekuatan tak terkalahkan.)
Saat
dirinya
merenung dengan sinis, Alisa yang terlihat kebingungan dan khawatir tiba-tiba tersenyum
nakal.
“Jangan-jangan… kamu tidak
ingin menunjukkan penampilanku yang mengenakan gaun ini kepada orang lain?”
Masachika
tidak bisa menahan senyum kecutnya saat mendengar pertanyaan yang seharusnya dianggap
sebagai pernyataan yang berlebihan jika diucapkan oleh orang biasa.
“…Ya,
benar. Hari ini, kamu
terlihat sangat cantik sampai-sampai
aku ingin menjaganya untuk diriku sendiri.”
“...!…Benarkah?
Yah, jika begitu… baiklah? Meskipun begitu.”
Sambil
menyibakkan rambutnya untuk menyembunyikan rasa malunya, perkataan itu membuat Masachika
mengernyitkan dahi, bertanya-tanya apa maksudnya. Melihat Masachika yang
bingung, Alisa melanjutkan.
“Jika
kamu menginginkan tarian berdua seperti saat festival budaya, aku tidak keberatan kok? Saat ini, akulah yang diantar.
Aku akan mengikuti langkahmu.”
Pernyataan
Alisa yang penuh kepercayaan untuk menyerahkan dirinya… dengan cepat mengusir perasaan minder yang bersarang di hati Masachika.
(Ah,
benar juga… Aku
tidak punya waktu untuk tersiksa oleh perasaan minder setelah mendengar hal seperti
itu. Jika aku tidak bisa mengangkat kepalaku tinggi-tinggi di sini, berarti aku
bukan pria sejati.)
Masachika
sekali
membangkitkan
rasa percaya diri dari mode tak terkalahkannya dan tersenyum penuh
tantangan.
“Terima
kasih atas kepercayaan besarmu…
tetapi saat ini, aku justru ingin menunjukkan dirimu kepada semua orang.”
“Ara, begitu? Jika demikian, mari kita
tunjukkan dengan percaya diri.”
Dengan
senyuman yang angkuh, perkataan itu membuat Masachika tersenyum seolah-olah
tidak ada yang bisa menandinginya, lalu dia mengajak Alisa.
“Kalau
begitu, ayo kita pergi? Putriku.”
“──Ya,
mari kita pergi.”

