Roshidere Jilid 11 Epilog Bahasa Indonesia

 Epilog — Partisipasi Bersama

 

Ugh~~, entah kenapa rasanya tidak cocok...

Setelah upacara penutupan semester kedua selesai, Masachika berdiri sendirian di depan cermin toilet pria dengan ekspresi serius setelah membantu menyiapkan lokasi pesta Natal. 

Pakaian yang dikenakannya adalah jas yang dibelinya pada musim semi tahun ini untuk acara resmi. Dari sudut pandang umum, jas tersebut tidak bisa dibilang murah… tapi karena bukan buatan khusus melainkan yang model siap pakai, jadi jas itu mungkin dianggap murah menurut standar akademi ini. 

Masachika berusaha merapikan gaya rambutnya, jadi ia mencoba mengatur rambutnya dengan wax yang tidak biasa digunakannya… tetapi bentuknya sulit untuk ditentukan. 

Ketika aku melakukannya di rumah, padahal hasilnya kelihatan sedikit lebih baik... 

Setelah menggumamkan itu, ia tiba-tiba teringat bahwa saat di rumah, dia melakukannya setelah mandi. 

(Hmm, apa jangan-jangan..... kotoran di rambut juga berpengaruh cukup besar?)

Perasaan tidak menyenangkan mulai membuat keringat menetes di punggungnya. 

(Tapi, ketika aku merapikan rambut untuk pertunjukan piano kecil saat kecil… bagaimana aku melakukannya ya? Saat itu, kalau tidak salah—) 

Masachika mencoba mengingat kenangan lama sambil mengatur rambutnya, tapi tetap saja tidak berhasil. Mungkin lebih baik jika dirinya mencuci wax-nya dan mulai dari awal. Namun, untuk mencuci rambut di akademi… waktu yang tersisa sudah tidak banyak lagi… 

(Hmm, apakah ini cukup… tidak, mungkin buruk?)

Kecemasan mulai meningkat dengan cepat, dan detak jantungnya terasa semakin kencang. 

(Ah sialan, sama seperti pidato di upacara penutupan, aku benar-benar kurang siap! Aku ngapain saja sih!?)

ejak mendengar janji Arisa, Masachika telah menjalani hari ini dengan motivasi tanpa batas yang berasal dari mode tak terkalahkannya. Berkat itu, hingga kemarin, semuanya berjalan lancar belajar, kegiatan OSIS, dan latihan orkestra berjalan dengan baik. Namun, pada hari yang sangat penting ini, sempitnya pandangan dari mode tak terkalahkan itu secara besar-besaran menghambat langkah Masachika. 

(Ugh~~, sudah cukup!!) 

Karena rasa frustrasi yang datang dari ketidakberdayaan dan kebencian terhadap dirinya sendiri, Masachika meremas rambutnya dengan keras— 

“Astaga, apa sih yang sedang kamu lakukan, Kuze?

…Kenapa kamu ada di sini?

Masachika menatap Yushou melalui pantulan cermin, yang tampaknya masuk ke kamar mandi tanpa disadarinya, menyandarkan punggungnya ke dinding dan menyilangkan tangannya. Masachika menatapnya dengan serius. 

“Aku cuma baru saja selesai mengantar Sumire-neesan dan datang untuk buang air kecil.”

“Oh, gitu ya.” 

Ngomong-ngomong… kamu benar-benar mengajukan janji yang begitu muluk. Apa kamu benar-benar berpikir bisa mewujudkannya?

Yushou bertanya dengan nada meremehkan, tapi jawabannya sudah pasti. 

“Ini bukan perkara bisa atau tidak, tapi kami akan melakukannya.

…Hmm~.

Yushou mengeluarkan suara yang ragu-ragu seolah setuju dengan perkataan Masachika, lalu ia mengalihkan pandangannya ke kepala Masachika. 

Yah, mengesampingkan hal itu… tapi apa yang terjadi dengan rambutmu? Seharusnya sebagai seorang pria jantan, kamu bisa merapikan rambutmu dengan baik.

……

Masachika biasanya akan membalas, tapi kali ini dirinya tidak bisa berargumen dan hanya terdiam. Yushou kemudian menggelengkan kepala dengan ekspresi terkejut dan menjauh dari dinding. 

Astaga, aku tidak bisa membiarkan sainganku datang ke pesta dengan gaya rambut aneh seperti itu.

……

Masachika secara refleks berpikir, “Sejak kapan kamu jadi sainganku? atau “Kamu yang punya gaya rambut aneh! Namun, karena dia bisa menebak apa yang ingin dilakukan Yushou, semua kata-kata itu ditahannya. 

“Ayo, coba sedikit menunduk.

Setelah diminta, Masachika membungkukkan lututnya, dan Yushou mengambil sedikit wax dengan tangannya, lalu menyisir rambut Masachika sambil melihat ke cermin. Dengan gerakan terampil, dirinya memijat rambut Masachika dan memberikan volume, dan dalam sekejap, bentuknya pun rapi. 

Hmm… sebenarnya harusnya dimulai dengan pengering rambut, tapi… untuk saat ini, begini sudah cukup.

Meskipun Yushou tampak masih ragu, ia melepaskan tangannya dari kepala Masachika. Dari sudut pandang Yushou, hasilnya hanya cukup, tetapi jelas lebih rapi dibandingkan saat Masachika mengerjakannya di rumah. 

…… Makasih ya, Kiryuuin. Kali ini, aku benar-benar berterima kasih.

Begitu ya. Maka, lain kali belajarlah untuk melakukannya sendiri.

…… Ya. Terima kasih banyak.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Yushou dan mencuci tangannya, Masachika segera menuju kelas 1-B. 

Ah… syukurlah. Dia belum datang, ya.

Saat membuka pintu kelas, Masachika merasa lega karena pasangannya yang dijanjikan belum tiba. Melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 15:40. 

(Acara pesta dimulai pukul 16:30 dan pintu dibuka pukul 15:30, kan? Seharusnya aku mulai pergi… tapi, aku dan Alisa bukan panitia, jadi kami tidak perlu masuk lebih awal.)

Sambil berpikir demikian, Masachika merasa tidak nyaman dan menatap lapangan. Dari kejauhan, dirinya bisa melihat sekelompok siswa yang berpakaian rapi mendekat dari gerbang utama. 

(Woahh… sekolah kaya memang beda. Semua orang terlihat sangat bersemangat…)

Masachika sekali lagi merasa jas siap pakainya tidak cocok, tapi rasanya sudah terlambat untuk memikirkan hal itu. Ia berusaha untuk bersikap percaya diri dan mengingat tata cara yang diajarkan di keluarga Suou… ketika ponselnya bergetar di saku. 

“Hmm?

Getaran itu berhenti setelah tiga kali, dan ketika Masachika mengeluarkan ponselnya, ia melihat pesan dari Alisa. Saat membuka aplikasinya, ia menemukan satu kalimat yang tertulis: Jemput aku. 

“Menjemputnya… di ruang OSIS, maksudnya? 

Para anggota perempuan OSIS, termasuk Alisa, sedang mempersiapkan gaun pesta mereka di ruang OSIS. Tentu saja, termasuk mengganti pakaian, jadi Masachika sedikit ragu apa boleh pergi untuk menjemputnya

Tapi, jika dia sudah bilang begitu… pasti semua orang sudah berganti pakaian, kan? Sebenarnya, kenapa juga harus dijemput…? 

Berbicara pada dirinya sendiri untuk meyakinkan, Masachika menggelengkan kepalanya dan keluar dari kelas menuju ruang OSIS. Setelah sampai di pintu ruang OSIS, ia mengetuk dan mendengar suara Alisa yang menjawab, Ya, lalu Masachika membuka pintu. 

Alya? Ada apa…?

Keraguannya langsung lenyap seketika saat melihat Alisa yang berdiri di dalam ruangan. 

Ah, terima kasih, Masachika-kun.

……

Dalam balutan gaun malam yang anggun, Alisa dengan rambutnya yang diikat sanggul terlihat sangat dewasa, terutama dengan sedikit riasan yang membuatnya tampak lebih menawan dari biasanya. Dan yang terpenting… dia begitu cantik hingga membuat Masachika kehilangan kata-kata. 

(Loh, rasanya.... suasananya sedikit berubah, ya?) 

Alisa memberikan kesan yang sama sekali berbeda saat Masachika melihatnya mengenakan gaunnya di pesta setelah Festival Shureisai. Tentu saja, ini bukan hanya karena gaya rambut atau riasannya, tetapi lebih pada cahaya yang terpancar dari dalam diri Alisa. 

(Rasanya ada sesuatu yang… seolah-olah keanggunan dan kerapuhan itu… menghilang…) 

Sampai beberapa bulan yang lalu, Alisa memiliki aura yang terkesan seperti peri, yang membuatnya tampak jauh dari kenyataan. Sekarang, aura tersebut menghilang, digantikan oleh keanggunan yang tegas dan percaya diri. Seolah-olah peri itu telah turun ke bumi dan menjadi manusia… dan karena menjadi manusia, kecantikannya kini semakin tampak tidak nyata. 

Masachika-kun?

──Ah, tidak, maksudku…

Suara Alisa yang curiga membuatnya tersadar, dan Masachika mengucapkan kata-kata yang tidak berarti sambil terbata-bata. 

Ah, itu… kamu sangat cantik.

Be-Benarkah? Terima kasih… dan, Masachika-kun juga terlihat menawan?

Ah, terima kasih…

Mungkin karena menyadari kegugupan Masachika, Alisa mulai merasa malu dan memalingkan pandangan matanya. Melihat ekspresinya, Masachika merasa sedikit lebih tenang, lalu berdeham pelan sebelum mengulangi pertanyaan sebelumnya. 

“Umm, jadi ada apa? Kenapa kamu memintaku untuk menjemputmu…?

Eh? Ah, itu…

Alisa bergumam sambil sedikit canggung memain-mainkan ujung rambutnya. 

Aku hanya ingin kamu melihatku terlebih dahulu… 

(Nggh) 

Masachika hampir tersedak oleh bahasa Rusia yang menggemaskan dan terbuka yang keluar dari bibir gadis cantik yang luar biasa ini. Namun, ia berhasil menahan diri dan membalas dengan kata-kata yang sudah biasa. 

“Kamu bilang apa tadi? 

Menjemput seorang wanita juga merupakan tugas seorang pria jantan, iya ‘kan?

Ah, benar juga…

Saat Alisa mengucapkan ‘pria jantan’, Masachika kembali bersemangat dan mengingat semua tata cara yang diajarkan di keluarga Suou, lalu ia mengulurkan lengan kirinya kepada Alisa. 

Kalau begitu, ayo kita pergi?

“Umm, ya.

Mungkin sedikit terintimidasi oleh sikap Masachika yang elegan, Alisa dengan malu-malu meletakkan tangannya di lengan Masachika— 

? Alya?

Entah kenapa, Alisa tiba-tiba berhenti sejenak, dan Masachika mengarahkan tatapan bingung kepadanya. Namun, Alisa tidak menjawab suara Masachika dan tampak merenung dengan tatapan menunduk… lalu dengan suara yang terdengar ragu-ragu, dia berkata. 

Hari ini… malam Natal, kan…?

Eh? Ah iya 

Sambil memiringkan kepalanya karena keheranan, Masachika menyaksikan Alisa yang masih terdiam beberapa detik sebelum tiba-tiba mengangkat wajahnya dengan tatapan aneh. 

Keluar dulu sebentar! 

Eh, hah?

Pokoknya, cepat keluar!

Masachika didorong tiba-tiba dan diusir keluar dari ruangan, membuatnya tertegun. 

“Umm…?

Jangan buka pintu sampai aku memanggilmu lagi! Siapa pun yang datang, jangan dibuka!

Ah, baiklah.

Sejenak, Masachika berpikir mungkin ia melakukan sesuatu yang salah, tetapi tampaknya bukan itu masalahnya. Dirinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi karena Alisa yang memintanya, dirinya pun menurut dan menunggu di luar. 

Ba-Baiklah, kamu boleh masuk.

Ah—

“Ah, di luar tidak ada orang lain ‘kan!?

Tidak ada sih

Kalau begitu… masuklah.

Suara Alisa terdengar tegang dan kaku dari balik pintu, kemudian Masachika membuka pintu dengan sedikit ragu sembari penasaran apa yang sebenarnya terjadi

Ketika pintu ruang OSIS terbuka, Alisa sedang berdiri tepat di hadapannya, dan kecantikannya memberi Masachika perasaan yang sama sekali tidak berubah meskipun ini kedua kalinya ia melihatnya… hanya saja gaun yang dikenakannya sangat berbeda. 

!!?

Gaun hitam yang dihiasi dengan kuncup mawar biru di berbagai tempat. Kulitnya yang putih bersih terlihat jelas. Kulitnya berkilau lembut di bawah cahaya lampu, tampak seperti salju baru yang tidak ternoda… eh, lebih tepatnya, payudaranya!! Yang lebih penting lagi adalah payudara!! 

(Gede bangettt! Eh, ke mana celana dalamnya!?!) 

Masachika hampir saja mengatakannya dengan lantang, dan dengan panik menutup pintu di belakangnya. Namun, tatapan matanya tetap tidak bisa lepas dari—payudara yang menonjol dan lembut, serta lekukan yang menggoda yang terbentuk di antara keduanya. 

(Tidak, tidak, tenanglah. Sebenarnya, oppai Alya tidak sebesar Masha-san jika dibandingkan. Bahu dan pinggangnya sangat ramping, jadi perbandingan tersebut membuatnya terlihat lebih besar dari yang sebenarnya. Jika dilihat secara tenang, payudaranya tidak terlalu besar… tidak, jelas-jelas gede banget. Bentuknya mirip seperti di manga-maga.) 

Meskipun dirinya menganalisis dengan logis dan melihat dua kali, tetap saja daya tariknya luar biasa, dan Masachika terdiam menatap payudara Alisa yang besar dan indah. 

Kemudian, Alisa dengan anggun membungkung menggoda dan sedikit mengangkat roknya dengan tangan kanannya.  

!!!?

Dari ujung rok hitamnya, Masachika bisa melihat kaki kanannya yang putih bersinar… dan bahkan kaki kirinya pun terlihat, memberikan kejutan yang luar biasa. 

(Tapi di mana celana dalamnya!?) 

Masachika berteriak keras di dalam hatinya karena tidak bisa menemukan tali celana dalam di tempat seharusnya. 

Aneh sekali. Dengan luas kain yang jauh lebih banyak dibandingkan bikini, seharusnya bagian yang seharusnya tertutup oleh bikini ini justru terlihat sangat terbuka. Ketidakseimbangan ini membuat otaknya hampir error, lali ia mendengar Alisa tersenyum menggoda dalam bahasa Rusia

Hadiahnya adalah… di~ri~ku~ 

……

Gaun hitamnya terbungkus rapi di sekitar pinggulnya yang melengkung, memancarkan kilau yang memikat dan menggoda. Lekuk tubuh Alisa yang seperti mimpi terlihat jelas di balik gaun itu. Seolah-olah, kecantikan Alisa yang sempurna dikelilingi oleh gaun hitam itu semakin menonjol. Kulit putihnya yang terlihat dari celah-celah gaun itu sangat menggoda… sampai-sampai membuat napas Masachika terhenti. Ditambah dengan daya pikat bahasa Rusia yang lembut, ia merasa wajahnya memerah dan otaknya hampir membeku. 

……

……

……

Entrah sudah berapa lama mereka berdua saling menatap satu sama lain. Masachika kemudian menyadari bahwa kulit Alisa dari tulang selangkanya hingga payudara mulai memerah… 

(Ah, ada darah yang mengalir di dalamnya. Hee~ jadi dia beneran manusia hidup.)

Ketika Masachika masih merenungkan pemikiran absurd miilknya, Alisa yang kulitnya berwarna putih lembut tiba-tiba berbalik. 

Aku akan mati.”

!? Tu-Tunggu, jangan mati dengan pakaian seperti itu!!

Dengan nada serius, Masachika menggenggam tangan kanan Alisa yang menuju jendela dan dengan panik menghentikannya. Mendengar kata dengan pakaian seperti itu, Alisa sepertinya menyadari penampilannya, lalu menutupi dadanya dengan tangan kiri dan menatap Masachika dengan tatapan tajam. 

Jangan terus-terusan menatapku seperti itu!”

“Jangan minta hal yang ngaco

Masachika merasa terkejut dengan keluhan Alisa yang sangat berlebihan. 

(Sebenarnya, kamu malah tidak bisa menyembunyikannya… semakin kamu berusaha menyembunyikannya, rasanya jadi semakin terlihat… hmmm…) 

Lagipula, gaun itu sangat memperlihatkan bagian samping payudaranya, jadi menutupi satu bagian saja tidak ada gunanya. Masachika kemudian menyentuh pelipisnya dan mengajukan pertanyaan mendasar. 

“Umm, jadi ini… apa maksudnya?

Gaun ini, umm… diberikan oleh orang-orang dari klub kerajinan tangan

Jadi semuanya ulah mereka lagi…

Setelah mendengar lebih lanjut, Masachika mengetahui bahwa anggota klub kerajinan mendengar bahwa para anggota OSIS akan menghadiri pesta Natal, dan mereka berusaha dengan gigih untuk memberikan gaun kepada semua anggota perempuan. Ukuran gaun yang pas mungkin karena sebelumnya mereka pernah berdandan dengan pakaian pria bersama. 

“Hah, itu berarti Masha-san dan Sarashina-senpai juga memilikinya?

Gaun mereka ada di sana.

Ketika Masachika melihat ke arah yang ditunjuk Alisa, ia melihat empat tas gaun hitam tergeletak di atas sofa. Dari sekilas tampak seolah semuanya berisi gaun, jadi sepertinya semua orang pergi ke lokasi dengan gaun mereka sendiri. 

(Yah kurasa wajar saja. Jika Alya saja sudah seperti ini, gaun punya Masha-san pasti lebih mencolok…) 

Masachika-kun?

Ya, ada apa?

“Su-Sudah kubilang jangan lihat ke sini!

Ughe! 

Alisa dengan cepat memaksa Masachika untuk melihat ke samping, dan suara aneh keluar dari tenggorokannya. Dirinya didorong ke arah pintu, dan Masachika merasa lehernya akan sakit jika terus seperti ini, jadi ia buru-buru memutar tubuhnya. 

Se-Sebenarnya, aku hanya ingin mencoba gaun ini karena mumpung aku menerimanya… tapi, aku mau ganti baju! Aku akan ganti baju dulu, jadi keluarlah! 

…Baiklah~~.

Sambil memberikan alasan yang sopan saat memerintahkan Masachika untuk keluar, dia merasa sedikit kecewa tetapi tetap meninggalkan ruangan. Setelah itu, Masachika berdiri di depan pintu ruang OSIS dan menghela napas panjang. 

(…Yah, entah kenapa… aku merasa lega karena Alya tetap menjadi Alya.) 

Penampilan yang dia tunjukkan di atas panggung saat upacara penutupan semester kedua sudah memancarkan aura sebagai ketua OSIS. Ditambah lagi, penampilannya yang sangat anggun membuatnya menjadi sosok yang jauh. Namun, sepertinya tidak demikian. 

(Tidak, tapi… itu mungkin hanya masalah waktu saja.) 

Tiba-tiba, pemikiran itu melintas di benaknya. Yang terbayang adalah pidato Alisa yang dilihatnya beberapa jam lalu dari sisi panggung.

Berkat kata-kata pengantar Masachika, tekanan di antara penonton meningkat hingga batas maksimum. Di bawah sorotan lampu, dia tanpa ragu berbicara dengan percaya diri tentang idealnya. 

(Baik aku maupun Yuki.... tidak bisa melakukan itu.) 

Itulah pendapat jujurnya. Bahkan, Masachika merasa jika ia bukan tandingannya. Dirinya harus mengakuinya. Kecepatan pertumbuhan Alisa jauh melampaui imajinasinya. Dan, kecepatan langkahnya… pasti lebih cepat daripada miliknya

……

Entah sampai kapan dirinya bisa berada di sampingnya? Masachika mampu mendukung Arisa sekarang karena pengalaman, koneksi, dan keterampilan komunikasinya yang unggul.  Namun… Alisa secara bertahap mulai tidak membutuhkan itu lagi. Hal itu sangat terasa pada upacara penutupan hari ini. 

(Yah, yang bisa kulakukan hanyalah berjuang sekuat tenaga.) 

Masachika berusaha meyakinkan dirinya sendiri di dalam hati untuk menghentikan pemikiran negatifnya. Dirinya sudah berhenti merasa terpuruk karena ketidakmampuannya dan tidak lagi menundukkan kepala. Meskipun suatu hari nanti ada kemungkinan dirinya akan ditinggalkan… sampai saat itu, ia hanya bisa mengikuti langkah Alisa. 

Kemudian saat itu, pintu di belakangnya terbuka, dan Masachika sedikit terkejut sebelum menoleh. 

…Maaf sudah membuatmu menunggu.

…Oh.

Alisa yang keluar dengan sedikit canggung dan memalingkan tatapannya, kembali mengenakan gaun aslinya… Masachika merasakan campuran antara lega dan sedikit kecewa, lalu mengulurkan lengan kirinya. 

Kalau begitu, ayo pergi?”

…Ya.

Alisa mengangguk dan kali ini dia dengan benar-benar meletakkan tangannya di lengan Masachika. Mereka berdua mulai berjalan perlahan. Mereka berdua berjalan melewati lorong, turun tangga, dan keluar melalui pintu di ujung lorong lantai satu menuju aula tempat acara. 

Meskipun seharusnya masih ada waktu tersisa sebelum acara dimulai, tapi nyatanya sudah ada banyak orang yang berkumpul, dan suasana ceria bisa terasa dari arah aula olahraga. Merasakan suasana itu dari kejauhan… Masachika tanpa sadar berhenti. 

“Hmm? Ada apa?

…Tidak, bukan apa-apa.”

Meskipun Masachika menjawab dengan kata-kata penolakan tanpa alasan, alasan mengapa kakinya berhenti sudah jelas. Saat menyadari bahwa mereka akan pergi ke sana berdua, perasaan minder kembali muncul di pikirannya. 

Dirinya merasa tidak pantas berada di samping pasangan ini. Tidak peduli bagaimana ia memikirkannya, mereka tidak serasi sama sekali. Pemikiran itu muncul dan membuat Masachika terhenti. 

(Yah, memang benar bahwa kami kelihatan tidak serasi secara penampilan… Ah, di saat-saat seperti ini, aku ingin merasakan kekuatan tak terkalahkan.) 

Saat dirinya merenung dengan sinis, Alisa yang terlihat kebingungan dan khawatir tiba-tiba tersenyum nakal. 

“Jangan-jangankamu tidak ingin menunjukkan penampilanku yang mengenakan gaun ini kepada orang lain? 

Masachika tidak bisa menahan senyum kecutnya saat mendengar pertanyaan yang seharusnya dianggap sebagai pernyataan yang berlebihan jika diucapkan oleh orang biasa. 

…Ya, benar. Hari ini, kamu terlihat sangat cantik sampai-sampai aku ingin menjaganya untuk diriku sendiri.

“...!…Benarkah? Yah, jika begitu… baiklah? Meskipun begitu.

Sambil menyibakkan rambutnya untuk menyembunyikan rasa malunya, perkataan itu membuat Masachika mengernyitkan dahi, bertanya-tanya apa maksudnya. Melihat Masachika yang bingung, Alisa melanjutkan. 

Jika kamu menginginkan tarian berdua seperti saat festival budaya, aku tidak keberatan kok? Saat ini, akulah yang diantar. Aku akan mengikuti langkahmu. 

Pernyataan Alisa yang penuh kepercayaan untuk menyerahkan dirinya… dengan cepat mengusir perasaan minder yang bersarang di hati Masachika. 

(Ah, benar juga… Aku tidak punya waktu untuk tersiksa oleh perasaan minder setelah mendengar hal seperti itu. Jika aku tidak bisa mengangkat kepalaku tinggi-tinggi di sini, berarti aku bukan pria sejati.) 

Masachika sekali membangkitkan rasa percaya diri dari mode tak terkalahkannya dan tersenyum penuh tantangan. 

Terima kasih atas kepercayaan besarmu… tetapi saat ini, aku justru ingin menunjukkan dirimu kepada semua orang. 

Ara, begitu? Jika demikian, mari kita tunjukkan dengan percaya diri.

Dengan senyuman yang angkuh, perkataan itu membuat Masachika tersenyum seolah-olah tidak ada yang bisa menandinginya, lalu dia mengajak Alisa. 

Kalau begitu, ayo kita pergi? Putriku.

──Ya, mari kita pergi.




 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama