Roshidere Jilid 11 Chapter 8 Bahasa Indonesia

 Chapter 8Dua Putri Berdiri Bersama

 

“……sipp.

Di koridor menjelang upacara penutupan semester, Masachika mengepalkan tangannya di hadapan papan pengumuman nilai. Di depan matanya terdapat tulisan “Peringkat 17, Kuze Masachika”.

Tujuan yang ingin dicapainya di semester pertama adalah masuk dalam peringkat tiga puluh besar. Sekarang, dirinya tidak sedang bertaruh dengan pasangannya, Alisa. Meskipun begitu, tujuan untuk mencantumkan namanya di laporan nilai tetap menjadi target yang harus dicapai oleh Masachika.

Kurasa sudah waktunya.

Perasaan pencapaian di dalam hatinya diubah menjadi semangat untuk mencapai tujuan berikutnya. Masachika melangkah ke medan pertempuran.

 

◇◇◇◇

 

“Selanjutnya, kita akan mendengar sambutan dari para anggota OSIS.”

Setelah pengumuman dari pembawa acara, Ketua OSIS, Touya, naik ke panggung. Masachika dan Alisa mengawasi dari sisi panggung yang lebih rendah.

Urutan sambutan untuk anggota OSIS kelas satu ditentukan pada hari sebelumnya melalui undian koin oleh Maria, seperti yang dilakukan pada semester pertama. Kali ini, Alisa berhasil mendapatkan hak memilih dan dengan sengaja memilih untuk menjadi yang terakhir. Alasannya sederhana, karena sambutan dari Yuki akan berlanjut langsung ke acara pesta Natal, sehingga sambutan dari Alisa dan Masachika yang dilakukan sebelumnya akan terlupakan oleh para siswa, dan mudah dibayangkan bahwa mereka akan berpikir, “Ada sesuatu yang hebat yang dibicarakan, tetapi kesan setelah itu begitu kuat sehingga rasanya jadi samar-samar~”. Selain itu, jika mereka menjadi yang terakhir, penonton mungkin akan berpikir, “Seperti semester pertama, apa mereka akan menunjukkan sesuatu dari alur ini?” ada harapan tersebut.

(Nyatanya, jika itu janji kampanye Alya, meskipun dirinya mendapat gilitan yang terakhir, hal itu pasti akan menarik perhatian… kali ini aku benar-benar menjadi pemeran pendukung.)

Untuk hari ini, tidak perlu pidato yang mencolok seperti yang pernah dilakukannya pada upacara penutupan semester pertama. Cukup memperkuat kemungkinan realisasi janji Alisa dari posisi pendukung.

(Hmm, jika dipikir-pikir, bukannya ini tidak jauh berbeda saat aku menjadi pasangan Yuki semasa pemilihan OSIS SMP?

Masachika tersenyum kecut saat memikirkan hal itu.

(Dengan kata lain, ini adalah bidang keahlianku

Dan itu juga berarti… pasangan Alisa sekarang telah menjadi sosok yang sama bisa diandalkannya dengan Yuki di masa lalu.

“......”

Masachika lalu mengamati pasangan yang berdiri di sampingnya. Wajah Alisa yang melihat sambutan Chisaki tampak sedikit tegang, tetapi… dia berdiri jauh lebih kokoh di atas kakinya dibandingkan dengan suasana yang hampir runtuh saat berdiri di panggung di semester pertama.

“Kalau begitu, Alya-chan, aku pergi duluan ya~?”

Iya, iya… silakan pergi.”

Dia bahkan memiliki cukup ruang untuk tersenyum meski dengan sedikit rasa canggung saat Maria memanggilnya.

(Dia telah menjadi sosok yang bisa diandalkan… seriusan

Merasa senang, terkesan, dan sedikit kesepian, Masachika tersenyum kecut pada dirinya sendiri, “Kenapa aku merasa seperti orang tua?” Tiba-tiba, Alisa menoleh ke arahnya, seolah-olah salah paham, dan mengangkat bahu sambil menunjuk ke arah ke Maria.

“Ampun deh, dia bisa selalu saja kelihatan santai.”

“Haha, iya juga.”

Masachika mengangguk tanpa memperbaiki kesalahpahaman tersebut, lalu melanjutkan dengan suara pelan.

“Tapi, memiliki cukup ruang untuk bersantai itu luar biasa.”

Setelah endengar kata-kata Masachika, Alisa sedikit terkejut dan menundukkan pandangannya, seolah-olah sedang merenungkan dirinya sendiri. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum kecil dan mengangguk.

.....Mungkin benar.”

Setelah bergumam demikian, Alisa melangkah satu langkah ke samping dan berbisik pelan kepada Masachika.

Karena kamu ada di sini

(Hmm… memiliki terlalu banyak ruang untuk bersantai juga bisa jadi masalah)

Serangan mental yang tak terduga membuat Masachika sedikitterkejut, tapi dirinya berhasil mempertahankan ketenangannya dengan tekad baja.

“Selanjutnya, sambutan dari bagian Humas OSIS, Suou Yuki-san.”

Saat itu, sambutan Maria berakhir, dan sesuai pengumuman, Yuki muncul di atas panggung. Kehadiran calon ketua berikutnya membuat suasana di dalam ruangan dipenuhi sorakan yang berbeda dari sebelumnya.

Sambil melambaikan tangan dengan senyuman anggun, Yuki mengamati wajah kakaknya yang melihat dari sisi panggung yang berlawanan… dan dalam hati, dia menyipitkan matanya.

(Hmm~, tampaknya ia cukup santai)

Sebagai saudara yang memiliki darah yang sama, dia bisa membaca keadaan psikologisnya hanya dengan melihat wajahnya. Dari pandangan Yuki, Masachika saat ini tidak lebih tegang daripada saat berdiri di panggung. Bahkan, dia merasakan sedikit suasana seolah-olah gilirannya sudah selesai. Artinya…

(Ia meremehkanku, ya?)

Kakaknya berpikir kalau dirinya cuma perlu fokus pada dukungan. Dirinya sudah cukup untuk bertanding hanya dengan kekuatan Alisa saja. Itulah yang dia pikirkan. 

(Yah, aku yakin kalau Onii-chan sudah menyiapkan materi yang cukup untuk berpikir demikian....)

Yuki sama sekali tidak meremehkan Alisa. 

Persiapan pesta Natal yang dilakukannya secara diam-diam tanpa memberitahu kakaknya. Strategi rahasia Yuki untuk memperkuat janjinya dan menarik perhatian hari ini. Setelah bertekad untuk mengalahkan kakaknya dengan serius, Yuki telah mempersiapkan rencana tersebut dengan cermat dan teliti. 

Namun, meskipun telah menyiapkan strategi rahasia sebanyak ini… jika Alisa berbicara, tidak aneh jika dia mendapatkan tepuk tangan yang sama dengan mereka. Yuki mengakui Alisa sampai pada titik itu. Namun di atas itu semua… optimisme kakaknya yang menganggap bahwa ia masih bisa membalikkan keadaan meskipun menyerahkan giliran pertama sangat mengganggunya. 

(Artinya, itu berarti… Onii-chan berpikir bahwa aku, kami… tidak dapat menguasai suasana di ruangan ini.)

Yuki akhirnya berdiri di atas panggung dengan semangat bertarung yang berkobar di dalam hatinya. Kata-kata yang pernah dia nyatakan di kamarnya terbayang kembali di benaknya. 

Aku akan menunjukkan padamu. Bahwa aku tidak lagi lemah atau menyedihkan. 

Dengan tekad dan keyakinan, Yuki sekali lagi menyatakannya dalam hatinya. 

(Aku akan memberikan petunjuk padamu. Onii-chan.)

Dengan demikian, Yuki menyembunyikan gejolak batin dalam dirinya di balik senyuman eloknya, dan mulai berbicara dengan sikap yang percaya diri.

 

◇◇◇◇

 

“Selamat pagi semuanya, aku Suou Yuki, Humas OSIS yang baru saja diperkenalkan. Bagaimana kabar kalian di semester kedua ini? Aku yakin masing-masing dari kalian memiliki berbagai pengalaman  menakjubkan. Hal imi mungkin mendadak karena ini upacara penutupan semester, mari kita luangkan sedikit waktu untuk merenungkan kembali semester ini. Silakan tutup mata sejenak dan ingat kembali kenangan dari semester kedua ini.

Ketika sambutan dimulai, Yuki mengatakan hal itu dan menutup mulutnya, suasana kebingungan sedikit menyebar di antara siswa. Namun, ketika Yuki tetap diam dengan senyuman, akhirnya masing-masing mulai menutup mata atau menundukkan kepala untuk mengingat kembali kenangan mereka. Setelah mengamati sejenak, Yuki membuka mulutnya lagi. 

“Apa kalian sudah bisa mulai merenungkannya kembali? Bagaimana? Aku yakin masing-masing dari kalian memiliki berbagai kenangan… Apa ada di antara kalian yang teringat akan peristiwa besar yang mengubah kehidupan sehari-hari? Misalnya, acara besar seperti Festival Budaya atau Festival Olahraga. Atau mungkin kalian mendapatkan pacar, atau mencapai hasil besar dalam kegiatan ekstrakurikuler, peristiwa-peristiwa pribadi yang signifikan. Apa kalian teringat pada peristiwa-peristiwa yang membawa perubahan besar dalam diri kalian atau di sekitar kalian? Jangan-jangan ada yang hanya teringat pada suasana kelas yang biasa-biasa saja?” 

Setelah sedikit bercanda, Yuki mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan menekankan suaranya. 

“Aku percaya bahwa perubahanlah yang selalu melekat di dalam hati orang-orang. Perubahan dalam kehidupan sehari-hari, perubahan di sekitar kita, dan perubahan dalam diri kita sendiri. Kehidupan sehari-hari yang datar tanpa kejadian tidak akan meninggalkan kesan di hati. Itu adalah sesuatu yang kalian semua rasakan sendiri saat ini.”

Kata-kata Yuki mulai mendapatkan persetujuan dan empati dari audiens. Setelah memastikan bahwa pendapatnya diterima oleh siswa, Yuki melanjutkan. 

Perubahan diperlukan untuk menjadikan hari-hari yang kita habiskan di akademi ini lebih berarti dalam hidup kita ke depan. Ketika aku menjadi ketua OSIS, aku akan mendengarkan suara kalian dan membawa banyak perubahan ke akademi ini. Itu bukan reformasi besar atau perubahan drastis, tapi perubahan kecil yang menambah sedikit warna dan sedikit kesenangan dalam kehidupan sehari-hari kalian. Sebagai langkah pertama, aku akan mengadakan acara baru yang belum pernah ada di akademi ini, yaitu Pesta Natal, mulai pukul 16:30 hari ini.” 

Dengan senyuman, Yuki memanggil audiens yang kini sepenuhnya terfokus pada pidatonya. 

“Di antara kalian, mungkin ada yang sangat ingin pulang dan menikmati liburan musim dingin, atau ada yang merencanakan untuk bermain dengan teman-teman. Namun, coba pikirkan. Hanya hari inilah kita bisa mengadakan Pesta Natal di akademi ini, bukan? Waktu istirahat di rumah, waktu bermain dengan teman-teman, itu semua pasti menyenangkan, tapi mana yang menurut kalian akan lebih diingat setahun dari sekarang?” 

Jawaban atas pertanyaan itu sudah mulai terjawab di dalam hati pendengar. Melihat siswa-siswa yang sangat tergerak, Yuki menyampaikan pidato terakhirnya

“Teman-teman, aku mohon untuk ikut serta dalam Pesta Natal yang aku selenggarakan. Dengan begitu, aku yakin keyakinan dan idealismeku akan tersampaikan kepada kalian.” 

Dengan tulus menyampaikan hal itu dan menunjukkan senyuman yang menawan, Yuki menutup sambutannya dengan suara ceria. 

“Demikianlah, dengan pengumuman ini, aku mengakhiri sambutanku. Terima kasih atas perhatian kalian.”

Saat Yuki menundukkan kepala, sejenak suasana di dalam aula dipenuhi dengan tepuk tangan meriah yang menggema. Selain itu, terdengar suara peluit dan teriakan dukungan untuk Yuki, menciptakan suasana seperti standing ovation.

 

◇◇◇◇

 

(Ampun deh. Pidatonya, hebat sekali~~) 

Di dalam hatinya, Masachika tidak bisa menahan diri untuk berpikir demikian. Sebenarnya, ia sudah tahu bahwa pidato Yuki itu bagus. Dia sudah mengetahuinya, tetapi… 

(Apa-apaan ini… rasanya dia semakin kuat, ya? 

Kekhawatiran perlahan menyebar di dalam dirinya. Kemeriahan dan rasa kebersamaan di dalam ruangan ini jauh melampaui perkiraannya. Masachika merasa bahwa jika Alisa berbicara sekarang, suaranya tidak akan sampai ke dalam hati pendengar. 

(Untungnya, masih ada sambutan dari Ayano… jika suasana sedikit tenang setelah itu, suara Alya juga akan bisa didengar...)

Meskipun menyadari bahwa pikirannya bukan lagi prediksi yang tenang tetapi angan-angan, Masachika masih belum merasa terlalu cemas. 

....Saat itu, setidaknya.

 

◇◇◇◇

 

“Terima kasih, Suou-san. Selanjutnya, kita akan mendengarkan sambutan dari bagian Umum OSIS, Kimishima Ayano-san.”

Sebelum naik ke panggung sesuai pengumuman pembawa acara, Ayano berbisik kepada Yuki. 

Saya pergi sekarang.” 

“Ya, sisanya aku percayakan padamu.” 

Mendengar kata-kata kecil namun penuh kepercayaan itu, Ayano terhenti sejenak sebelum melanjutkan langkahnya. 

Mengenai sambutan di upacara penutupan semester kali ini, Ayano tidak menerima instruksi apapun dari Yuki tentang apa yang harus dibicarakannya. Begitu juga pada sambutan di upacara penutupan semester pertama. Ketika dia bertanya tentang apa yang seharusnya dia bicarakan, Yuki menyuruhnya untuk memikirkannya sendiri. Itu pasti karena Yuki mempercayai Ayano, dan juga… karena dia percaya bahwa kata-kata yang diberikan oleh orang lain takkan mampu menggerakkan hati pendengar. 

(Sekarang, aku mengerti itu)

Saat semester pertama, dia tidak sepenuhnya memahami hal itu. Jadi, dia menyusun berbagai kelebihan dan kebajikan Yuki untuk meyakinkan audiens. Dia tidak berpikir itu adalah kesalahan, tapi… mungkin itu bukan cara yang tepat untuk menggerakkan hati orang lain.

Pencerahan yang kuat tentang hal itu datang saat majelis siswa yang diadakan bulan lalu. Ketika mendengar pengaduan dari Wakil Ketua Klub Piano, Tsukamoto Aoi. 

Ketika mendengar permohonannya dari belakang panggung, Ayano menyadari hal itu. Bahwa kata-kata yang diucapkan dengan hati, yang diungkapkan apa adanya, terkadang lebih mampu menggerakkan hati orang-orang dibandingkan dengan kata-kata yang dipikirkan secara cermat. Oleh karena itu… 

(Aku akan berbicara apa adanya. Mengapa aku ingin mendukung Yuki, aku akan menyampaikan semua itu.)

Dengan mengemban tekad itu di dalam hati, Ayano berdiri di atas panggung. Sambil mengenang masa lalu, dia perlahan membuka suara. 

“Sepertinya kalian semua tidak mengetahuinya, tapi… Yuki-sama pernah menderita asma berat di masa kecilnya.” 

ara hadirin tersentak kaget mendengar ucapannya yang tiba-tiba, bahkan tanpa memperkenalkan diri. Namun, Ayano tidak mempedulikannya dan melanjutkan dengan tenang. 

Semasa kecilnya, Yuki-sama tidak bisa pergi ke sekolah dengan baik karena asmanyaDia menghabiskan sebagian besar harinya di tempat tidur. Dirinya tidak bisa melakukan aktivitas fisik yang berat, dan bahkan tidak bisa tertawa atau menangis sesuai keinginannya. Baik pikiran maupun tubuhnya terikat oleh penyakitnya.” 

Kata-kata Ayano perlahan-lahan namun pasti mulai meresap ke dalam pikiran siswa yang kebingungan. 

Meski demikian, Yuki-sama selalu berusaha tampil tegar di depan umum. Meskipun tidak bisa keluar dari tempat tidur… Dia selalu berusaha untuk tidak membebani keluarganya, dan selalu berusaha tersenyum dan bersikap ceria. Tetapi, justru karena itu…” 

Di sinilah ekspresi wajah Ayano mulai retak, dan dia mengerutkan keningnya. Suaranya mulai bergetar, dan nada bicaranya yang tenang terganggu oleh suara yang penuh rasa sakit. 

“Ketika serangan asma melanda, Yuki-sama tampak sangat menderita, rasanya begitu menyakitkan untuk dilihat…Saya hanya bisa melihatnya dari samping, dan itu membuat saya merasa sangat tidak berdaya…” 

Dalam suasana yang membuat pendengar merasa tegang, Ayano terhenti sejenak, seolah tenggorokannya tercekik, lalu mengambil napas dalam-dalam. Setelah memperbaiki ekspresinya, dia mulai berbicara perlahan lagi. 

“Namun… meskipun dalam situasi yang sesulit itu, Yuki-sama tidak pernah menyerah, tidak pernah putus asa, dan tetap bersikap mulia. Sebagai pewaris keluarga Suou, dia bertekad untuk melSakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dengan tekad yang kuat, dia tidak membiarkan penyakitnya menghancurkan semangatnya, dan bekerja lebih keras daripada siapa pun. Saya terus melihat sosoknya yang mulia dari dekat, dan ingin mendukungnya. Saya bertekad untuk membantu dengan segala yang saya miliki.”

Meskipun suaranya masih terdengar sedikit menyakitkan, namun penuh semangat, suara Ayano menggugah hati para penonton. Entah dia menyadarinya atau tidak, Ayano terus berbicara sambil menatap lurus ke depan. 

“Setelah itu, Yuki-sama berhasil mengatasi penyakitnya… Meskipun membawa beban besar akibat hidup lama di tempat tidur, dia telah menjadi seorang wanita yang luar biasa, yang tidak menunjukkan kesulitan tersebut. Dia dipenuhi dengan pengetahuan dan pendidikan, dan telah menjadi teladan bagi semua orang di akademi ini.” 

Semua orang di akademi ini mengetahui hal itu. Namun, Ayano menyatakan dengan penuh keyakinan sesuatu yang tidak diketahui orang lain. 

“Namun…saya tahu. Saya tahu betapa sulitnya dan berharganya sosok itu. Oleh karena itu, saya akan terus mendukung Yuki-sama dengan sepenuh hati. Saya akan membantunya dengan segala yang saya miliki. Itulah tekad saya dan makna keberadaan saya sebagai Kimishima Ayano. …Terima kasih atas perhatian kalian.” 

Dengan menambahkan kata-kata terima kasih seolah-olah baru mengingatnya, Ayano menundukkan kepala setelah jeda sejenak. 

Saat Ayano turun dari panggung, tepuk tangan yang ragu-ragu mulai terdengar… dan itu perlahan-lahan meningkat menjadi tepuk tangan yang menggema. 

“Woooooooo~~~~~!!” 

Kami akan mendukung kaliannnnnn!!” 

“Semangat!!” 

Di sisi panggung yang berlawanan, Yuki dan Ayano yang menundukkan kepala menerima sorakan hangat yang terus menerus disertai tepuk tangan. 

Pada saat ini, tanpa diragukan lagi, bintang utama di dalam aula ini adalah Yuki dan Ayano.

 

◇◇◇◇

 

Oi, oi, oi, oi,…” 

Masachika yang menyaksikan pemandangan itu dari belakang panggung… tidak bisa menahan ekspresi terkejutnya melihat suasana yang jauh melebihi ekspektasinya. 

Tanpa sadar, kata-kata panik keluar dari mulutnya. 

(Ini berbahaya, ini… benar-benar berbahaya. Suasana di sini terlalu mendukung mereka.)

Ditambah lagi, tujuan Yuki yang bukan untuk melakukan perubahan besar atau reformasi, melainkan banyak perubahan kecil, adalah sesuatu yang bertentangan langsung dengan argumen Alisa. Dengan perasaan audiens yang sudah dikuasai seperti ini, ada berapa banyak siswa yang akan mau mendengarkan argumen Alisa? 

(Sial, aku benar-benar meremehkannya... Aku tak pernah membayangkan situasinya akan menjadi begitu luar biasa.)

Masachika hanya bisa menggambarkan perasaan sebagai kesalahan fatalnya. Dirinya terlalu terfokus pada kejutan pesta Natal dan merasa puas hanya dengan menyiapkan amunisi yang cukup untuk melawannya. Jika dipikirkan dengan tenang... dua orang yang telah melakukan persiapan begitu matang tidak mungkin merasa puas dengan pidato yang biasa-biasa saja.

(Cih, benar juga! Kenapa aku berasumsi kalau mereka hanya akan menjalani acara penutupan dengan baik pada hari itu!?)

Masachika sendiri tidak merasa lengan. Namun... tanpa disadari, mungkin karena dirinya telah terjebak dalam perasaan tak terkalahkan dan lengah di suatu tempat. Saat ini, tidak ada sedikit pun sisa semangat tak terkalahkan itu.

(Argh, penyesalan bisa menunggu buat nanti! Sekarang, bagaimana cara kami melewati situasi ini...!)

Masachika berusaha keras memikirkan solusi, tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Maria.

Alya-chan, kamu baik-baik saja?

Ketika menoleh ke arah suara kecil itu, Masachika melihat Alisa dengan ekspresi serius dan aura cemas di sekelilingnya. Dan di sebelahnya, Maria yang mengawasi Alisa dengan khawatir... Masachika merasa ingin memukul dirinya sendiri karena menunjukkan kecemasan yang begitu jelas.

(Apa sih yang kulakukan...! Padahal aku yang bilang akan mendukungnya...!)

Namun, saat Masachika menggertakkan giginya seperti itu... waktu terus berjalan.

Selanjutnya, sambutan dari bendahara OSIS, Kujou Alisa-san.

Pengumuman pembawa acara terdengar, dan Alisa melangkah maju dengan wajah tegang tanpa mengatakan apa-apa kepadanya. Dalam sekejap, Masachika menangkap tangannya dan menghentikannya.

“!Masachika-kun?”

Alisa menoleh dengan bingung, dan Masachika seketika memantapkan hati, lalu berkata dengan tegas.

“Perubahan rencana. Aku yang akan melakukannya.

Tapi, eh──

Masachika memaksakan senyum menantang dan menyatakan kepada rekannya, yang matanya bergetar.

Tunggu saja, aku akan mengambil kembali suasana di sini.

Tanpa menunggu jawabannya, Masachika melangkah ke atas panggung. Ketika sosok yang berbeda dari pengumuman muncul, terdengar suara kebingungan dari penonton dan pembawa acara, tapi Masachika tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal itu sekarang.

(Sial, aku tidak punya rencana sama sekali)

Pidato yang sudah disiapkannya kini sama sekali tidak ada artinya. Dari sini ke depan, semuanya akan dilakukan secara spontan.

(Tidak lucu sama sekali~)

Itu benar. Sama sekali tidak lucu. Masachika sangat membenci diri sendiri karena tidak mempersiapkan rencana cadangan untuk situasi seperti ini, menunjukkan betapa ceroboh dirinynya.

(Ah~ ah, sebelumnya aku pernah gagal karena terlalu percaya diri dalam mode tak terkalahkan... aku memang tidak belajar dari pengalaman.)

Mungkin otaknya yang kewalahan sedang melarikan diri dari kenyataan sebagai bentuk pertahanan diri. Dengan sedikit rasa mengejek diri sendiri yang tidak pada tempatnya di benaknya, Masachika melangkah ke atas panggung. Dan saat melihat sekelompok siswa yang berdiri di balik cahaya terang... satu strategi rahasia yang tak pernah terpikirkan mulau muncul di kepalanya, membuatnya tersenyum sinis di dalam hati.

(Tak kusangka... aku akhirnya harus menggunakan ini.)

Kemudian, Masachika menarik napas dalam-dalam dan membuka mulut ke arah mikrofon──

 

◇◇◇◇

 

(Bukannya... situasi ini kurang baik?)

Sementara bertepuk tangan bersama siswa lain untuk Yuki dan Ayano, Sayaka diam-diam mengernyitkan dahi. Sebagai seseorang yang berjanji untuk mendukung OSIS baru setelah Alisa terpilih, Sayaka sudah mendengar tentang janji-janji Alisa sebelumnya. Dia merasa bahwa isi janji itu pasti akan memberikan dampak besar bagi seluruh siswa, tapi... itu hanya berlaku jika lawan bicara sudah siap untuk mendengarkan.

(Aku pikir sampai sambutan kedua gadis itu dimulai, ini akan menjadi pertarungan yang baik...)

Sebenarnya, sampai saat itu suasananya tidak buruk. Setelah keberhasilan di Festival Budaya dan majelis siswa, semakin banyak orang yang menyukai Alisa, dan terdengar suara-suara yang penuh harapan tentang pidato apa yang akan disampaikannya hari ini.

Namun... sekarang, para siswa di sini terpengaruh oleh pembicaraan Yuki dan Ayano, dan perhatian mereka sepenuhnya teralihkan. Apa pun yang dikatakan Alisa di sini tidak akan masuk ke dalam pikiran mereka yang berada dalam keadaan semangat tertentu.

(Apa aku tidak akan membantu kali ini...? Apa semuanya benar-benar baik-baik saja?)

Setelah mempertanyakan hal itu di dalam hatinya, Sayaka tiba-tiba menyadari. Tanpa sadar, dia secara alami mulai berpikir untuk mendukung Alisa dan Masachika.

(Ap-Apa yang kulakukan...? Apa aku terikat dengan mereka setelah bermain band bersama...?)

Sembari diliputi perasaan yang mirip dengan kecemasan, Sayaka menggelengkan kepala kecil sebelum kembali menatap ke atas panggung.

(Yah, bukannya berarti aku mendukung mereka atau semacamnya... hanya saja sebagai teman, aku tidak ingin melihat mereka dalam keadaan memalukan...)

Saat Sayaka berusaha mencari-cari alasan di dalam hatinya, akhirnya pembawa acara memanggil nama Alisa, dan siswa-siswa yang masih bersemangat sedikit menurunkan suara mereka. Lalu, 

“Hah?

Entah mengapa, Sayaka tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan tanda tanya ketika Masachika melangkah ke atas panggung. Sepertinya siswa-siswa di sekitarnya merasakan hal yang sama, dengan suara-suara seperti Eh?, “Apa?, Kenapa Kuze yang muncul? muncul dari berbagai arah. Di antara mereka, Sayaka segera menangkap maksud Masachika

(…Ah, aku mengerti. Ia berpikir bahwa berbicara di suasana ini tidak akan efektif untuk Alisa-san.) 

Jadi, pertama-tama dirinya harus tampil dan mengubah suasana ini… mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Sulit untuk membuat orang mendengarkan dalam suasana seperti ini, bahkan untuk Masachika. Kemunculannya yang tak terduga telah membangkitkan minat, tetapi itu tidak cukup untuk menenangkan  suasana. 

(Bagaimana ia berencana mengubah alur suasana di dalam aula ini…?) 

Saat Sayaka menyaksikan dengan perasaan setengah tertarik dan setengah khawatir, Masachika yang berdiri di atas panggung mulai berbicara── 

Дорогие друзьяпозвольте представитьсяМеня зовут Кудзэ МасатикаЯ из общего отдела ученического совета Разрешите поприветствовать вас в качестве доверенного лица кандидата в председатели совета Кудзё Алисы.】 

Para hadirin yang terhormat, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Kuze Masachika. Aku dari bagian umum OSIS. Izinkan aku memberi sambutan sebagai perwakilan dari calon ketua OSIS, Kujou Alisa.” (TN: Kira-kira kurang lebih begini artinya, di raw-nya enggak ada bahasa jepangnya, jadi mimin coba langsung menerjemahkan dari bahasa Rusianya.)

Ia berbahasa Rusia dengan begitu lancar. Para siswa dibuat terkejut dan tercengang

Sayaka juga ikut terdiam dengan mulut sedikit terbuka, sementara Masachika sejenak menutup mulutnya… lalu tertawa dan berkata, 

Maaf, maaf, aku terlalu gugup sampai-sampai keceplosan bicara dalam bahasa Rusia. 

Saat itu, tawa yang meledak secara serentak terdengar dari berbagai arah. Dari suatu tempat, suara yang sangat dikenalnya berteriak, “Bukan begitu juga caranya kali! dan Sayaka pun tidak bisa menahan tawa. 

Suasana di dalam aula segera menjadi santai, dan Masachika dengan senyuman yang rileks mengangkat kedua tangannya. 

Baiklah, sekali lagi, aku adalah Kuze Masachika, bagian umum dari OSIS. Oh, tentang bahasa Rusia tadi? Aku menggunakan bantuan situs terjemahan. Mendengarkan dan menirukan itu sangat sulit, lho~ pelafalan bahasa Rusia itu benar-benar sulit.

Sambil sedikit menjulurkan lidahnya dan bersikap ceria, perilakunya mengundang tawa sekali lagi, lalu Masachika melanjutkan dengan nada ringan. 

Ngomong-ngomong, kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku yang muncul terlebih dahulu. Oh, aku ingin menjelaskan bahwa ini keputusan kami sendiri, bukan karena pembawa acara salah urutan, jadi jangan salah paham. Maaf telah melakukannya tanpa izin~. 

Setelah menundukkan kepala kepada pembawa acara sembari menyatikan kedua telapak tangannya, Masachika membersihkan tenggorokannya dan mulai berbicara dengan nada serius. 

Jadi, sekali lagi, alasan kenapa aku muncul lebih awal karena… hanya satu alasan. Aku ingin kalian bersiap-siap untuk mendengarkan janji yang akan disampaikan oleh rekanku.

Sayaka, yang telah mendengar sedikit tentang situasi sebelumnya, menyadari bahwa kemunculan Masachika yang lebih awal merupakan hal yang benar-benar tidak terduga. Namun, Masachika tidak menunjukkan hal tersebut sedikit pun, dan dengan tenang serta hati-hati, ia merangkai kata-kata seolah-olah semuanya berjalan sesuai rencana. 

Janji yang akan disampaikan oleh Kujou Alisa selanjutnya ialah salah satu yang paling megah dan berbeda dari janji-janji calon ketua sebelumnya. Kurasa kalian semua akan kesulitan memahaminya pada awalnya. Tentu saja akan ada yang meragukan, 'Apa itu mungkin?' Aku pun merasakannya. Ketika aku pertama kali mendengar hal itu dari mulutnya tentang apa yang dia tuju, jujur saja, aku kesulitan untuk memahaminya.

Kebingungan menyebar di antara para siswa karena isi yang diungkapkan Masachika, sangat tidak biasa untuk sambutan anggota OSIS. Namun, Sayaka merasakan bahwa kebingungan itu mengalir dan menghapus semangat yang sebelumnya ada. 

Namun, setelah mendengarkan lebih lanjut dan memahami apa yang dia tuju, apa yang dia inginkan dari OSIS… bagiku itu benar-benar terasa luar biasa. Aku sepenuhnya yakin bahwa itu sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan, dan aku menguatkan tekad untuk menuju ke sana. 

Masachika melihat sekeliling audiens yang bingung dan berkata dengan suara serius, 

Aku ingin memberitahu kalian terlebih dahulu. Kami pasti serius. Kami akan menghadapi pemilihan ketua OSIS dengan janji itu dan benar-benar bertekad untuk mewujudkannya. Jadi, mohon jangan tertawa atau menganggap ini sebagai omong kosong, dengarkanlah kata-katanya dengan pikiran terbuka. Sekian dariku. Terima kasih atas perhatian kalian.

 

◇◇◇◇

 

(Cih, menyedihkan sekali…) 

Di tengah tepuk tangan yang jarang dan tidak meriah, Masachika berjalan menuju sisi panggung dengan perasaan getir di dalam hatinya. 

Pada akhirnya, apa dia berhasil mereset suasana dan membawa kembali ke titik awal masih dipertanyakan. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukannya, yaitu menyerahkan semuanya kepada pasangannya, yang merupakan hasil yang sangat mengecewakan. Secara pribadi, dia hanya merasakan penyesalan. 

Terima kasih atas kerja kerasmu.

Ya… maaf, aku tidak banyak membantu.

Setelah kembali ke sisi panggung, Alisa tersenyum sambil menggelengkan kepala kepada Masachika yang menundukkan kepalanya. 

Jangan bilang begitu. Kamu sudah melakukan yang terbaik dalam situasi mendadak itu… kurasa aku tidak akan bisa melakukannya, jadi itu sangat membantu.

……

Kata-kata Alisa sedikit menghibur Masachika, tapi jelas bahwa situasi yang membuatnya harus berbicara mendadak disebabkan oleh kurangnya persiapan sebelumnya. Dari rasa bersalah itu, Masachika tetap menunjukkan ekspresi pahit, dan Alisa sedikit tersenyum melihatnya. 

“Berhenti menunjukkan wajah seperti itu. Aku juga tidak menyangka bahwa pidato Yuki-san dan Ayano-san akan sehebat itu. Ini bukan hanya tanggung jawabmu. Kita adalah pasangan… kita harus bekerja sama untuk mencapai hasil terbaik. Benar, ‘kan?”

Mendengar pertanyaan lembut itu, Masachika akhirnya mengangguk dan tersenyum sedikit. 

Ah… benar juga.

Ya, sekarang, giliranmu untuk memperhatikan aku, ya?

Begitu Alisa berkata demikian, pengumuman dari pembawa acara terdengar. 

“Kalau begitu, sekali, sambutan dari bendahara OSIS, Kujou Alisa. 

Mengikuti pengumuman itu, Masachika memberikan dukungan terbaiknya kepada Alisa yang melangkah ke panggung. 

Semangat.”

Ya, kalau begitu──

Di situ, Alisa memotong kata-katanya… lalu tersenyum sedikit dan berkata, 

Aku akan berusaha untuk menang.

 

◇◇◇◇

 

Ketika Alisa muncul di atas panggung, tatapan penuh minat dan harapan tertuju padanya. Semua orang menunggu bagaimana Alisa akan melewati batas yang telah ditetapkan Masachika. Apa sebenarnya janji yang dibicarakan Masachika? Semua orang menantikan saat itu dengan penuh harapan. 

“Terima kasih atas perkenalannya, namaku Kujo Alisa, bendahara OSIS. Saat ini, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membahas janji yang akan kuwujudkan jika terpilih sebagai ketua OSIS tahun depan.

Kata-kata Alisa membuat harapan di dalam ruangan mencapai puncaknya. Merasakan suasana itu, Alisa berbicara dengan tenang, namun tegas. 

Aku──akan menghapuskan sistem yang membatasi siswa yang memenuhi syarat untuk bergabung dengan Raikoukai hanya kepada ketua dan wakil ketua OSIS.

Selama beberapa detik kemudian, keheningan meliputi para siswa. Hampir semua siswa masih terdiam, tidak sepenuhnya memahami setelah mendengar sambutan Masachika, sementara Alisa melanjutkan. 

“Bukan hanya ketua dan wakil ketua OSIS saja… semua siswa yang memiliki prestasi yang layak untuk memenuhi syarat tersebut akan dapat bergabung dengan Raikoukai.

Usai mendengar pernyataannya, akhirnya banyak siswa mulai memahami apa yang ingin disampaikan Alisa… dan pada saat yang sama, kebingungan dan keributan muncul. 

Eh, hah?

Ap...? Apa yang dia bicarakan?

Eh? Apa maksudnya?

Tidak mengherankan para siswa tampak kebingungan. Sebab, janji yang diusulkan Alisa tampaknya tidak memberikan keuntungan apapun bagi dirinya. Jika Alisa menjadi ketua OSIS, dia sudah memiliki kesempatan untuk bergabung dengan Raikoukai. Apa manfaatnya bagi Alisa untuk memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain? Justru, ada risiko kehilangan kesempatan bergabung bagi dirinya sendiri. 

Bagi siswa di akademi ini, tujuan untuk menjadi ketua OSIS adalah, pertama dan terutama, untuk bergabung dengan Raikoukai. Itulah dasar dari semuanya. 

Karena mereka ingin bergabung dengan Raikoukai dan menjalani kehidupan yang aman. Karena mereka ingin mewujudkan impian dengan bergabung dengan Raikoukai. Karena bergabung dengan Raikoukai adalah misi yang dibebankan oleh orang tua mereka.

Alasan pastinya mungkin berbeda-beda bagi setiap orang, tetapi mereka semua memiliki keinginan yang sama untuk bergabung dengan Raikoukai. Tentu saja, ketua OSIS tidak akan melakukan apa pun untuk memusuhi Raikoukai. Terlebih lagi, sebagai seorang siswa, mana mungkin mereka bisa mencampuri sistem Raikoukai itu sendiri. 

Apa mungkin ada orang lain selain dirinya dan Kuze yang ingin bergabung dengan Raikoukai...? 

Ah, bisa dianggap begitu juga?

Meskipun bingung, para siswa berusaha menemukan alasan yang dapat dipahami. Setelah kegaduhan mereka sedikit mereda, Alisa mulai menjelaskan alasannya. 

“Saat aku memasuki akademi ini dan bekerja di OSIS sebagai salah satu calon ketua OSIS... aku mengenal banyak orang yang bercita-cita untuk bergabung dengan Raikoukai. 

Setelah jeda sejenak, Alisa merangkai kata-katanya dengan hati-hati. 

Orang-orang yang tega menjatuhkan orang lain untuk bergabung dengan Raikoukai. Orang-orang yang mengacaukan seluruh akademi demi bergabung dengan Raikoukai. Orang-orang yang kehilangan kualifikasi untuk bergabung dan tersesat dalam penderitaan.

Ada Taniyama Sayaka, yang pernah berseteru dalam debat dan kini menjadi temannya. Ada Kiryuuin Yuushou, yang dahulu bersaing dan kemudian sempat beraliansi. Ada juga Kaji Taiki, yang pernah dia dengar ceritanya dengan sedikit sedih dari Yuki.     

Orang-orang yang berseteru tentang siapa yang akan bergabung dengan Raikoukai… meski mereka saling menghargai, tapi mereka terpaksa berselisih.

Dan… Masachika dan Yuki, yang merupakan kakak beradik yang saling menyayangi, tapi terlibat konflik tentang siapa yang akan bergabung dengan Raikoukai dan mewarisi keluarga Suou. Ayano, yang terjebak di antara mereka dan menghormati kakak beradik itu. Memikirkan perasaan mereka, Masachika yang masih berada dalam penderitaan… Dengan membayangkan wajah mereka, Alisa berbicara dengan tekad dan ekspresi tegas. 

Aku ingin menciptakan sistem yang memungkinkan mereka semua untuk bergandengan tangan. Aku ingin memberikan pilihan kepada kandidat yang terus-menerus bersaing dan berdebat satu sama lain untuk bekerja sama. 

Supaya mereka yang akrab tidak perlu bertengkar. Bukan saling menjatuhkan, tetapi saling membantu untuk mencapai Raikoukai bersama. 

Jika itu terjadi, akademi ini pasti akan menjadi lebih baik! Meskipun apa yang bisa dilakukan ketua dan wakil ketua terbatas, tapi jika ada dua atau tiga pasang kekuatan yang setara, mereka pasti dapat mencapai lebih banyak lagi! Itulah jenis OSIS yang ingin kuciptakan!

Usai mendengar harapan Alisa yang terdengar seperti teriakan, audiens akhirnya memahami seperti apa OSIS yang diimpikan Alisa. 

Gambaran saat dia berdiri bersama Sayaka dan Nonoa pada upacara penutupan semester. Kata-kata Masachika yang menyatakan bahwa Yuki dan Ayano juga akan menjadi bagian dari mereka.

Apa yang sedang dibicarakan Alisa sekarang ialah menjadikan OSIS baru yang ditunjukkan oleh mereka berdua saat itu sebagai hal yang biasa di akademi ini. Itu memang sebuah cerita yang sangat megah dan… seperti angan-angan

“Pada upacara penutupan semester pertama, aku pernah berkata jika aku merasa tidak layak menjadi ketua OSIS, aku akan mengundurkan diri dari pemilihan ketua dengan kehendakku sendiri. 

Keputusan yang pernah diucapkan oleh dirinya sendiri. Sekarang, Alisa menutupi keputusan itu dengan tekad yang lebih besar. 

Aku mencabut pernyataan itu. Layak atau tidak, itu tidak ada hubungannya. Aku harus menjadi ketua OSIS. Karena OSIS yang kuimpikan, Akademi Seirei, pasti akan lebih baik, lebih ramah, dan lebih menyenangkan dari sekarang! Dan hanya aku yang bisa mewujudkan cita-cita itu! Aku mencalonkan diri bukan untuk bergabung dengan Raikoukai, tapi hanya untuk menjadi ketua OSIS, dan hanya aku yang bisa melakukannya!

Sambil meletakkan tangannya di dada, Alisa berbicara dengan begitu lantang sehingga seolah-olah dia berbicara kepada dirinya sendiri, bukan kepada penonton. Sebagai seseorang yang tidak mencari persetujuan atau simpati dari penonton, tapi hanya berjuang untuk cita-citanya, Alisa menyatakan dengan penuh kebanggaan. 

Aku akan mempertahankan ideal yang kutemukan. Untuk mewujudkan ideal itu, aku akan berusaha sekuat tenaga. Apakah aku layak menjadi ketua OSIS, silakan kalian yang menilai. Terima kasih atas perhatian kalian. 

Alisa menundukkan kepala dan turun dari panggung. Meskipun Alisa telah mulai berjalan, para siswa masih terdiam. Semua orang tampak kehilangan kata-kata, seolah-olah merasa kewalahan, hanya melihat sosoknya pergi. 

Namun, saat Masachika dan Alisa muncul dari sisi panggung dan membungkuk, tepuk tangan tiba-tiba bergemuruh dari suatu tempat, dengan tenang menghujani keduanya. 

Nyatanya, tepuk tangan yang diterima mereka tidak semeriah tepuk tangan yang diterima Yuki dan Ayano. Namun, tidak ada yang peduli dengan hal itu di tempat ini. Karena semua orang bertepuk tangan. Hanya saja, jenis tepuk tangannya berbeda. 

Tepuk tangan yang ditujukan kepada Yuki dan Ayano adalah tepuk tangan penuh semangat. Sementara tepuk tangan untuk Alisa dan Masachika adalah tepuk tangan penuh hormat. 

Itu adalah tepuk tangan dari mereka yang menyaksikan dua orang yang berjalan dengan ideal yang megah… tepuk tangan penuh hormat dari mereka yang hanya bisa menyaksikan. 

Akibatnya, pada upacara penutupan semester kedua ini, tidak ada perbandingan di antara kedua pasangan calon… hanya semua orang yang hadir di sana berbagi satu keyakinan. 

Baik Kujou Alisa maupun Suou Yuki, salah satu dari mereka akan menjadi ketua OSIS. Dan terlepas dari siapa yang menjadi ketua, Akademi Seirei pasti akan berubah. 

Dengan harapan para siswa yang perlahan-lahan meningkat... upacara penutupan semester kedua pun berakhir.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama