Chapter 8 — Dua Putri Berdiri Bersama
“……sipp.”
Di
koridor menjelang upacara penutupan semester,
Masachika mengepalkan tangannya di hadapan
papan pengumuman nilai. Di
depan matanya terdapat tulisan “Peringkat 17,
Kuze Masachika”.
Tujuan
yang ingin dicapainya di
semester pertama adalah masuk dalam peringkat tiga puluh besar. Sekarang, dirinya tidak sedang bertaruh dengan
pasangannya, Alisa. Meskipun begitu, tujuan untuk mencantumkan namanya di
laporan nilai tetap menjadi target yang harus dicapai oleh Masachika.
“Kurasa sudah waktunya.”
Perasaan
pencapaian di dalam hatinya diubah menjadi semangat untuk mencapai tujuan
berikutnya. Masachika melangkah ke medan pertempuran.
◇◇◇◇
“Selanjutnya,
kita akan mendengar sambutan dari para
anggota OSIS.”
Setelah
pengumuman dari pembawa acara, Ketua OSIS, Touya,
naik ke panggung. Masachika dan Alisa mengawasi dari sisi panggung yang lebih
rendah.
Urutan
sambutan untuk anggota OSIS kelas satu ditentukan pada hari sebelumnya melalui
undian koin oleh Maria, seperti yang dilakukan
pada semester pertama. Kali ini, Alisa berhasil mendapatkan hak memilih dan
dengan sengaja memilih untuk menjadi yang terakhir. Alasannya sederhana, karena
sambutan dari Yuki akan berlanjut langsung ke acara pesta Natal, sehingga
sambutan dari Alisa dan Masachika yang dilakukan
sebelumnya akan terlupakan oleh para siswa, dan mudah dibayangkan bahwa mereka
akan berpikir, “Ada sesuatu yang hebat yang dibicarakan, tetapi kesan
setelah itu begitu kuat sehingga rasanya jadi
samar-samar~”. Selain itu, jika mereka menjadi
yang terakhir, penonton mungkin akan berpikir, “Seperti semester pertama,
apa mereka akan menunjukkan sesuatu dari alur ini?” ada harapan tersebut.
(Nyatanya, jika itu janji kampanye Alya, meskipun dirinya mendapat gilitan yang
terakhir, hal itu pasti
akan menarik perhatian… kali ini aku benar-benar menjadi pemeran pendukung.)
Untuk
hari ini, tidak perlu pidato yang mencolok seperti yang pernah dilakukannya pada
upacara penutupan semester pertama. Cukup memperkuat kemungkinan realisasi
janji Alisa dari posisi pendukung.
(Hmm, jika dipikir-pikir, bukannya ini tidak jauh berbeda
saat aku menjadi pasangan Yuki semasa
pemilihan OSIS SMP?)
Masachika
tersenyum kecut saat
memikirkan hal itu.
(Dengan kata
lain, ini adalah bidang keahlianku)
Dan itu
juga berarti… pasangan Alisa sekarang telah menjadi sosok yang sama bisa diandalkannya dengan Yuki di masa lalu.
“......”
Masachika
lalu mengamati pasangan yang berdiri di sampingnya.
Wajah Alisa yang melihat sambutan Chisaki
tampak sedikit tegang, tetapi… dia berdiri jauh lebih kokoh di atas kakinya
dibandingkan dengan suasana yang hampir runtuh saat berdiri di panggung di
semester pertama.
“Kalau
begitu, Alya-chan,
aku pergi duluan ya~?”
“Iya, iya…
silakan pergi.”
Dia
bahkan memiliki cukup ruang untuk tersenyum meski dengan sedikit rasa canggung
saat Maria memanggilnya.
(Dia telah menjadi sosok yang bisa
diandalkan… seriusan)
Merasa
senang, terkesan, dan sedikit kesepian, Masachika tersenyum kecut pada dirinya
sendiri, “Kenapa aku
merasa seperti orang tua?” Tiba-tiba, Alisa menoleh ke
arahnya, seolah-olah salah
paham, dan mengangkat bahu sambil menunjuk ke
arah ke Maria.
“Ampun deh, dia bisa selalu saja kelihatan santai.”
“Haha,
iya juga.”
Masachika
mengangguk tanpa memperbaiki kesalahpahaman tersebut, lalu melanjutkan dengan
suara pelan.
“Tapi,
memiliki cukup ruang untuk bersantai itu luar biasa.”
Setelah endengar
kata-kata Masachika, Alisa sedikit terkejut dan menundukkan pandangannya,
seolah-olah sedang merenungkan dirinya
sendiri. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum kecil dan mengangguk.
“.....Mungkin benar.”
Setelah
bergumam demikian, Alisa melangkah satu
langkah ke samping dan berbisik pelan kepada Masachika.
【Karena kamu ada di sini】
(Hmm… memiliki terlalu banyak
ruang untuk bersantai juga bisa jadi masalah)
Serangan
mental yang tak terduga membuat Masachika sedikitterkejut,
tapi dirinya berhasil mempertahankan ketenangannya dengan tekad baja.
“Selanjutnya,
sambutan dari bagian Humas OSIS, Suou
Yuki-san.”
Saat itu,
sambutan Maria berakhir, dan sesuai pengumuman, Yuki muncul di atas panggung.
Kehadiran calon ketua berikutnya membuat suasana di dalam ruangan dipenuhi
sorakan yang berbeda dari sebelumnya.
Sambil
melambaikan tangan dengan senyuman anggun,
Yuki mengamati wajah kakaknya yang melihat dari sisi panggung yang berlawanan…
dan dalam hati, dia menyipitkan matanya.
(Hmm~, tampaknya ia cukup santai)
Sebagai
saudara yang memiliki darah yang sama, dia bisa membaca keadaan psikologisnya
hanya dengan melihat wajahnya. Dari pandangan Yuki, Masachika saat ini tidak
lebih tegang daripada saat berdiri di panggung. Bahkan, dia merasakan sedikit
suasana seolah-olah gilirannya sudah selesai. Artinya…
(Ia
meremehkanku, ya?)
Kakaknya
berpikir kalau dirinya cuma perlu fokus
pada dukungan. Dirinya sudah
cukup untuk bertanding hanya dengan kekuatan Alisa
saja. Itulah yang dia pikirkan.
(Yah, aku yakin kalau Onii-chan sudah
menyiapkan materi yang cukup untuk berpikir demikian....)
Yuki sama
sekali tidak meremehkan Alisa.
Persiapan
pesta Natal yang dilakukannya
secara diam-diam tanpa memberitahu
kakaknya. Strategi rahasia Yuki untuk memperkuat janjinya dan menarik perhatian
hari ini. Setelah bertekad untuk mengalahkan kakaknya dengan serius, Yuki telah
mempersiapkan rencana tersebut dengan cermat dan teliti.
Namun,
meskipun telah menyiapkan strategi rahasia sebanyak ini… jika Alisa berbicara,
tidak aneh jika dia mendapatkan tepuk tangan yang sama dengan mereka. Yuki
mengakui Alisa sampai pada titik itu. Namun di atas itu semua… optimisme
kakaknya yang menganggap bahwa ia masih bisa membalikkan keadaan meskipun
menyerahkan giliran pertama sangat mengganggunya.
(Artinya, itu berarti… Onii-chan berpikir
bahwa aku, kami… tidak dapat menguasai suasana di ruangan ini.)
Yuki
akhirnya berdiri di atas panggung dengan
semangat bertarung yang berkobar di dalam hatinya. Kata-kata yang pernah dia
nyatakan di kamarnya terbayang kembali di benaknya.
‘Aku
akan menunjukkan padamu. Bahwa aku tidak lagi lemah atau menyedihkan.’
Dengan
tekad dan keyakinan, Yuki sekali lagi menyatakannya
dalam hatinya.
(Aku akan memberikan petunjuk
padamu. Onii-chan.)
Dengan
demikian, Yuki menyembunyikan gejolak batin
dalam dirinya di balik senyuman eloknya,
dan mulai berbicara dengan sikap yang percaya diri.
◇◇◇◇
“Selamat
pagi semuanya, aku
Suou Yuki, Humas OSIS yang baru saja
diperkenalkan. Bagaimana kabar kalian di semester kedua ini? Aku yakin
masing-masing dari kalian memiliki berbagai pengalaman menakjubkan. Hal
imi mungkin mendadak karena ini upacara penutupan semester, mari kita luangkan sedikit
waktu untuk merenungkan kembali semester ini. Silakan tutup mata sejenak dan
ingat kembali kenangan dari semester kedua ini.”
Ketika
sambutan dimulai, Yuki mengatakan hal itu dan menutup mulutnya, suasana
kebingungan sedikit menyebar di antara siswa. Namun, ketika Yuki tetap diam
dengan senyuman, akhirnya masing-masing mulai menutup mata atau menundukkan
kepala untuk mengingat kembali kenangan mereka. Setelah mengamati sejenak, Yuki
membuka mulutnya lagi.
“Apa
kalian sudah bisa mulai merenungkannya
kembali? Bagaimana? Aku yakin masing-masing dari kalian memiliki berbagai
kenangan… Apa ada di antara kalian yang teringat akan peristiwa besar yang
mengubah kehidupan sehari-hari? Misalnya, acara besar seperti Festival Budaya atau Festival Olahraga. Atau
mungkin kalian mendapatkan pacar, atau mencapai hasil besar dalam kegiatan
ekstrakurikuler, peristiwa-peristiwa pribadi yang signifikan. Apa kalian
teringat pada peristiwa-peristiwa yang membawa perubahan besar dalam diri
kalian atau di sekitar kalian? Jangan-jangan ada yang hanya teringat pada
suasana kelas yang biasa-biasa saja?”
Setelah
sedikit bercanda, Yuki mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan menekankan
suaranya.
“Aku
percaya bahwa perubahanlah yang
selalu melekat di dalam hati orang-orang. Perubahan dalam
kehidupan sehari-hari, perubahan di sekitar kita, dan perubahan dalam diri kita
sendiri. Kehidupan sehari-hari yang datar tanpa kejadian tidak akan
meninggalkan kesan di hati. Itu adalah sesuatu yang kalian semua rasakan
sendiri saat ini.”
Kata-kata
Yuki mulai mendapatkan persetujuan dan empati dari audiens. Setelah memastikan
bahwa pendapatnya diterima oleh siswa, Yuki melanjutkan.
“Perubahan diperlukan untuk
menjadikan hari-hari yang kita habiskan di akademi ini lebih berarti dalam
hidup kita ke depan. Ketika aku menjadi ketua OSIS, aku akan mendengarkan suara
kalian dan membawa banyak perubahan ke akademi ini. Itu bukan reformasi besar
atau perubahan drastis, tapi perubahan kecil yang menambah sedikit warna dan
sedikit kesenangan dalam kehidupan sehari-hari kalian. Sebagai langkah pertama,
aku akan mengadakan acara baru yang belum pernah ada di akademi ini, yaitu
Pesta Natal, mulai pukul 16:30 hari ini.”
Dengan
senyuman, Yuki memanggil audiens yang kini sepenuhnya terfokus pada
pidatonya.
“Di
antara kalian, mungkin ada yang sangat ingin pulang dan menikmati liburan musim
dingin, atau ada yang merencanakan untuk bermain dengan teman-teman. Namun,
coba pikirkan. Hanya hari inilah kita bisa mengadakan Pesta Natal di akademi
ini, bukan? Waktu istirahat di rumah, waktu bermain dengan teman-teman, itu
semua pasti menyenangkan, tapi mana yang menurut kalian akan lebih diingat
setahun dari sekarang?”
Jawaban atas pertanyaan itu sudah mulai
terjawab di dalam hati pendengar. Melihat siswa-siswa yang sangat tergerak,
Yuki menyampaikan pidato
terakhirnya.
“Teman-teman,
aku mohon untuk ikut serta dalam Pesta Natal yang aku selenggarakan. Dengan
begitu, aku yakin keyakinan dan idealismeku akan tersampaikan kepada
kalian.”
Dengan
tulus menyampaikan hal itu dan menunjukkan senyuman yang menawan, Yuki menutup
sambutannya dengan suara ceria.
“Demikianlah,
dengan pengumuman ini, aku mengakhiri
sambutanku. Terima kasih atas perhatian kalian.”
Saat Yuki
menundukkan kepala, sejenak suasana di dalam aula
dipenuhi dengan tepuk tangan meriah yang
menggema. Selain itu, terdengar suara peluit dan teriakan dukungan untuk Yuki,
menciptakan suasana seperti standing ovation.
◇◇◇◇
(Ampun deh.
Pidatonya, hebat sekali~~)
Di dalam
hatinya, Masachika tidak bisa menahan diri untuk berpikir demikian. Sebenarnya, ia sudah tahu bahwa
pidato Yuki itu bagus. Dia sudah mengetahuinya, tetapi…
(Apa-apaan ini… rasanya dia semakin kuat, ya?)
Kekhawatiran
perlahan menyebar di dalam dirinya. Kemeriahan dan rasa kebersamaan di dalam
ruangan ini jauh melampaui perkiraannya. Masachika
merasa bahwa jika Alisa berbicara sekarang, suaranya tidak akan sampai ke dalam hati pendengar.
(Untungnya,
masih ada sambutan dari Ayano… jika suasana sedikit tenang setelah itu, suara Alya juga akan bisa didengar...)
Meskipun
menyadari bahwa pikirannya bukan lagi prediksi yang tenang tetapi angan-angan,
Masachika masih belum merasa terlalu cemas.
....Saat
itu, setidaknya.
◇◇◇◇
“Terima
kasih, Suou-san.
Selanjutnya, kita akan mendengarkan sambutan dari bagian Umum OSIS, Kimishima Ayano-san.”
Sebelum
naik ke panggung sesuai pengumuman pembawa acara, Ayano berbisik kepada
Yuki.
“Saya pergi sekarang.”
“Ya, sisanya aku percayakan padamu.”
Mendengar
kata-kata kecil namun penuh kepercayaan itu, Ayano terhenti sejenak sebelum
melanjutkan langkahnya.
Mengenai
sambutan di upacara penutupan semester kali ini,
Ayano tidak menerima instruksi apapun dari
Yuki tentang apa yang harus dibicarakannya.
Begitu juga pada sambutan di upacara penutupan semester pertama. Ketika dia
bertanya tentang apa yang seharusnya dia bicarakan, Yuki menyuruhnya untuk
memikirkannya sendiri.
Itu pasti karena Yuki mempercayai Ayano, dan juga… karena dia percaya bahwa
kata-kata yang diberikan oleh orang lain takkan mampu menggerakkan hati
pendengar.
(Sekarang,
aku mengerti itu)
Saat
semester pertama, dia tidak sepenuhnya memahami hal itu. Jadi, dia menyusun
berbagai kelebihan dan kebajikan Yuki untuk meyakinkan audiens. Dia tidak
berpikir itu adalah kesalahan, tapi… mungkin itu bukan cara yang tepat untuk
menggerakkan hati orang lain.
Pencerahan
yang kuat tentang hal itu datang saat majelis
siswa yang diadakan bulan lalu. Ketika mendengar pengaduan dari
Wakil Ketua Klub Piano, Tsukamoto
Aoi.
Ketika
mendengar permohonannya dari belakang panggung, Ayano
menyadari hal itu. Bahwa kata-kata yang diucapkan dengan hati, yang diungkapkan
apa adanya, terkadang lebih mampu menggerakkan hati orang-orang dibandingkan dengan kata-kata
yang dipikirkan secara cermat. Oleh karena itu…
(Aku
akan berbicara apa adanya. Mengapa aku ingin mendukung Yuki, aku akan menyampaikan semua itu.)
Dengan mengemban tekad itu di dalam hati, Ayano
berdiri di atas panggung. Sambil mengenang masa lalu, dia perlahan membuka
suara.
“Sepertinya
kalian semua tidak mengetahuinya, tapi…
Yuki-sama pernah menderita asma berat di
masa kecilnya.”
ara hadirin
tersentak kaget mendengar ucapannya yang tiba-tiba, bahkan tanpa memperkenalkan
diri. Namun, Ayano tidak mempedulikannya dan melanjutkan dengan tenang.
“Semasa kecilnya, Yuki-sama tidak bisa pergi ke sekolah
dengan baik karena asmanya…Dia menghabiskan sebagian besar
harinya di tempat tidur. Dirinya
tidak bisa melakukan
aktivitas fisik yang berat, dan bahkan tidak bisa tertawa atau menangis sesuai
keinginannya. Baik pikiran maupun tubuhnya terikat oleh penyakitnya.”
Kata-kata
Ayano perlahan-lahan namun pasti mulai
meresap ke dalam pikiran siswa yang kebingungan.
“Meski demikian, Yuki-sama selalu berusaha tampil tegar di
depan umum. Meskipun tidak bisa keluar dari tempat tidur… Dia selalu berusaha untuk tidak
membebani keluarganya, dan selalu berusaha tersenyum dan bersikap ceria.
Tetapi, justru karena itu…”
Di
sinilah ekspresi wajah Ayano mulai retak, dan dia mengerutkan keningnya.
Suaranya mulai bergetar, dan nada bicaranya yang tenang terganggu oleh suara
yang penuh rasa sakit.
“Ketika
serangan asma melanda, Yuki-sama
tampak sangat menderita, rasanya begitu menyakitkan
untuk dilihat…Saya hanya
bisa melihatnya dari samping, dan itu membuat saya
merasa sangat tidak berdaya…”
Dalam
suasana yang membuat pendengar merasa tegang, Ayano terhenti sejenak, seolah
tenggorokannya tercekik, lalu mengambil napas dalam-dalam. Setelah memperbaiki
ekspresinya, dia mulai berbicara perlahan lagi.
“Namun…
meskipun dalam situasi yang sesulit itu, Yuki-sama tidak pernah menyerah, tidak
pernah putus asa, dan tetap bersikap mulia. Sebagai pewaris keluarga Suou, dia
bertekad untuk melSakukan apa
yang seharusnya dia lakukan.
Dengan tekad yang kuat, dia tidak
membiarkan penyakitnya menghancurkan semangatnya, dan bekerja lebih keras
daripada siapa pun. Saya terus
melihat sosoknya yang mulia dari dekat, dan ingin mendukungnya. Saya bertekad untuk membantu dengan
segala yang saya miliki.”
Meskipun
suaranya masih terdengar sedikit menyakitkan, namun penuh semangat, suara Ayano
menggugah hati para penonton.
Entah dia menyadarinya atau
tidak, Ayano terus berbicara sambil menatap lurus ke depan.
“Setelah
itu, Yuki-sama berhasil
mengatasi penyakitnya… Meskipun membawa beban besar akibat hidup lama di tempat
tidur, dia telah menjadi seorang wanita
yang luar biasa, yang tidak menunjukkan kesulitan tersebut. Dia dipenuhi dengan pengetahuan dan
pendidikan, dan telah menjadi teladan bagi semua orang di akademi ini.”
Semua orang
di akademi ini mengetahui hal itu. Namun, Ayano menyatakan dengan
penuh keyakinan sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
“Namun…saya tahu. Saya tahu betapa sulitnya dan
berharganya sosok itu. Oleh karena itu, saya
akan terus mendukung Yuki-sama dengan
sepenuh hati. Saya akan
membantunya dengan segala yang saya miliki. Itulah tekad saya dan makna keberadaan saya sebagai Kimishima Ayano. …Terima
kasih atas perhatian kalian.”
Dengan
menambahkan kata-kata terima kasih seolah-olah
baru mengingatnya, Ayano menundukkan kepala
setelah jeda sejenak.
Saat
Ayano turun dari panggung, tepuk tangan yang ragu-ragu mulai terdengar… dan itu
perlahan-lahan meningkat menjadi tepuk tangan yang menggema.
“Woooooooo~~~~~!!”
“Kami akan mendukung kaliannnnnn!!”
“Semangat!!”
Di sisi
panggung yang berlawanan, Yuki dan Ayano yang menundukkan kepala menerima
sorakan hangat yang terus menerus disertai tepuk tangan.
Pada saat
ini, tanpa diragukan lagi, bintang utama di dalam aula
ini adalah Yuki dan Ayano.
◇◇◇◇
“Oi, oi, oi, oi,…”
Masachika yang menyaksikan
pemandangan itu dari belakang panggung… tidak bisa menahan ekspresi terkejutnya
melihat suasana yang jauh melebihi ekspektasinya.
Tanpa
sadar, kata-kata panik keluar dari mulutnya.
(Ini
berbahaya, ini… benar-benar berbahaya. Suasana di sini terlalu mendukung mereka.)
Ditambah
lagi, tujuan Yuki yang bukan untuk melakukan
perubahan besar atau reformasi, melainkan banyak perubahan kecil, adalah
sesuatu yang bertentangan langsung dengan argumen Alisa. Dengan perasaan
audiens yang sudah dikuasai seperti ini, ada berapa
banyak siswa yang akan mau mendengarkan argumen Alisa?
(Sial,
aku benar-benar meremehkannya... Aku tak pernah membayangkan situasinya akan
menjadi begitu luar biasa.)
Masachika
hanya bisa menggambarkan perasaan sebagai kesalahan fatalnya. Dirinya terlalu terfokus pada kejutan
pesta Natal dan merasa
puas hanya dengan menyiapkan amunisi yang cukup untuk melawannya. Jika
dipikirkan dengan tenang... dua orang yang telah melakukan persiapan begitu matang tidak
mungkin merasa puas dengan pidato yang biasa-biasa saja.
(Cih, benar juga! Kenapa aku berasumsi kalau mereka
hanya akan menjalani acara penutupan dengan baik pada hari itu!?)
Masachika
sendiri tidak merasa lengan. Namun... tanpa disadari, mungkin karena dirinya telah terjebak dalam
perasaan tak terkalahkan dan lengah di suatu tempat. Saat ini, tidak ada
sedikit pun sisa semangat tak terkalahkan itu.
(Argh,
penyesalan bisa menunggu buat nanti!
Sekarang, bagaimana cara kami
melewati situasi ini...!)
Masachika berusaha
keras memikirkan solusi, tetapi tiba-tiba ia
mendengar suara Maria.
“Alya-chan,
kamu baik-baik saja?”
Ketika
menoleh ke arah suara kecil itu, Masachika
melihat Alisa dengan ekspresi serius dan aura cemas di sekelilingnya. Dan di
sebelahnya, Maria yang mengawasi Alisa dengan khawatir... Masachika merasa ingin memukul dirinya sendiri karena menunjukkan
kecemasan yang begitu jelas.
(Apa sih yang kulakukan...! Padahal aku yang bilang akan
mendukungnya...!)
Namun,
saat Masachika menggertakkan giginya seperti itu... waktu terus berjalan.
“Selanjutnya,
sambutan dari bendahara OSIS, Kujou
Alisa-san.”
Pengumuman
pembawa acara terdengar, dan Alisa melangkah maju dengan wajah tegang tanpa
mengatakan apa-apa kepadanya.
Dalam sekejap, Masachika
menangkap tangannya dan menghentikannya.
“!Masachika-kun?”
Alisa
menoleh dengan bingung, dan Masachika
seketika memantapkan hati, lalu berkata dengan tegas.
“Perubahan rencana.
Aku yang akan melakukannya.”
“Tapi,
eh──”
Masachika
memaksakan senyum menantang dan menyatakan kepada rekannya, yang matanya
bergetar.
“Tunggu
saja, aku akan mengambil kembali suasana di sini.”
Tanpa
menunggu jawabannya, Masachika melangkah ke atas panggung.
Ketika sosok yang berbeda dari pengumuman muncul, terdengar suara kebingungan
dari penonton dan pembawa acara, tapi Masachika tidak punya waktu untuk
mengkhawatirkan hal itu sekarang.
(Sial, aku tidak punya rencana sama sekali)
Pidato
yang sudah disiapkannya kini
sama sekali tidak ada artinya. Dari sini ke depan, semuanya akan dilakukan secara spontan.
(Tidak
lucu sama sekali~)
Itu
benar. Sama sekali tidak lucu. Masachika
sangat membenci diri sendiri karena tidak mempersiapkan rencana cadangan untuk
situasi seperti ini, menunjukkan betapa ceroboh
dirinynya.
(Ah~ ah,
sebelumnya aku pernah gagal karena terlalu percaya diri dalam mode tak
terkalahkan... aku memang tidak belajar dari pengalaman.)
Mungkin
otaknya yang kewalahan sedang melarikan diri dari kenyataan sebagai bentuk
pertahanan diri. Dengan sedikit rasa mengejek diri sendiri yang tidak pada
tempatnya di benaknya, Masachika melangkah ke
atas panggung. Dan saat melihat sekelompok siswa yang berdiri di balik cahaya
terang... satu strategi rahasia yang tak
pernah terpikirkan mulau muncul di kepalanya, membuatnya tersenyum sinis di dalam
hati.
(Tak kusangka... aku akhirnya harus menggunakan ini.)
Kemudian,
Masachika menarik napas dalam-dalam dan
membuka mulut ke arah mikrofon──
◇◇◇◇
(Bukannya... situasi ini kurang baik?)
Sementara
bertepuk tangan bersama siswa lain untuk Yuki dan Ayano, Sayaka diam-diam mengernyitkan dahi.
Sebagai seseorang yang berjanji untuk mendukung OSIS baru setelah Alisa
terpilih, Sayaka sudah mendengar tentang janji-janji Alisa sebelumnya. Dia merasa bahwa isi janji itu pasti
akan memberikan dampak besar bagi seluruh siswa, tapi... itu hanya berlaku jika
lawan bicara sudah siap untuk mendengarkan.
(Aku
pikir sampai sambutan kedua gadis itu dimulai, ini akan menjadi pertarungan
yang baik...)
Sebenarnya,
sampai saat itu suasananya tidak buruk. Setelah keberhasilan di Festival Budaya dan majelis siswa, semakin banyak orang
yang menyukai Alisa, dan terdengar suara-suara yang penuh harapan tentang
pidato apa yang akan disampaikannya hari ini.
Namun...
sekarang, para siswa di sini terpengaruh oleh pembicaraan Yuki dan Ayano, dan
perhatian mereka sepenuhnya teralihkan.
Apa pun yang dikatakan Alisa di
sini tidak akan masuk ke dalam pikiran mereka yang berada dalam keadaan
semangat tertentu.
(Apa aku
tidak akan membantu kali ini...? Apa semuanya benar-benar baik-baik saja?)
Setelah
mempertanyakan hal itu di dalam
hatinya, Sayaka tiba-tiba menyadari.
Tanpa sadar, dia secara alami mulai berpikir untuk
mendukung Alisa dan Masachika.
(Ap-Apa yang kulakukan...? Apa aku terikat
dengan mereka setelah bermain band bersama...?)
Sembari
diliputi perasaan yang mirip dengan kecemasan, Sayaka
menggelengkan kepala kecil sebelum kembali menatap ke atas panggung.
(Yah,
bukannya berarti aku
mendukung mereka atau semacamnya...
hanya saja sebagai teman, aku tidak ingin melihat mereka dalam keadaan
memalukan...)
Saat Sayaka berusaha mencari-cari alasan di dalam hatinya, akhirnya pembawa acara
memanggil nama Alisa, dan siswa-siswa yang masih bersemangat sedikit menurunkan
suara mereka. Lalu,
“Hah?”
Entah mengapa,
Sayaka tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan tanda tanya ketika Masachika melangkah ke atas panggung. Sepertinya siswa-siswa di
sekitarnya merasakan hal yang sama, dengan suara-suara seperti “Eh?”,
“Apa?”,
“Kenapa Kuze yang muncul?” muncul dari berbagai arah. Di antara
mereka, Sayaka segera menangkap maksud Masachika.
(…Ah, aku
mengerti. Ia
berpikir bahwa berbicara di suasana ini tidak akan efektif untuk Alisa-san.)
Jadi,
pertama-tama dirinya harus
tampil dan mengubah suasana ini… mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Sulit untuk membuat orang
mendengarkan dalam suasana seperti ini, bahkan untuk Masachika. Kemunculannya
yang tak terduga telah membangkitkan minat, tetapi itu tidak cukup untuk
menenangkan suasana.
(Bagaimana ia berencana mengubah
alur suasana di dalam aula ini…?)
Saat Sayaka
menyaksikan dengan perasaan setengah tertarik dan setengah khawatir, Masachika yang berdiri di atas panggung
mulai berbicara──
【Дорогие друзья,позвольте представиться.Меня зовут Кудзэ Масатика.Я из общего отдела ученического совета. Разрешите
поприветствовать вас в качестве доверенного лица кандидата в председатели
совета Кудзё Алисы.】
“Para
hadirin yang terhormat, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Kuze Masachika.
Aku dari bagian umum OSIS. Izinkan aku memberi sambutan sebagai perwakilan dari
calon ketua OSIS, Kujou Alisa.” (TN: Kira-kira kurang
lebih begini artinya, di raw-nya enggak ada bahasa jepangnya, jadi mimin coba
langsung menerjemahkan dari bahasa Rusianya.)
Ia
berbahasa Rusia dengan begitu lancar.
Para siswa dibuat terkejut dan tercengang.
Sayaka
juga ikut terdiam dengan mulut sedikit
terbuka, sementara Masachika sejenak menutup mulutnya… lalu tertawa dan
berkata,
“Maaf, maaf, aku
terlalu gugup sampai-sampai
keceplosan bicara dalam bahasa Rusia.”
Saat itu,
tawa yang meledak secara serentak
terdengar dari berbagai arah. Dari suatu tempat, suara yang sangat dikenalnya
berteriak, “Bukan begitu juga caranya kali!” dan Sayaka pun tidak bisa
menahan tawa.
Suasana
di dalam aula segera menjadi
santai, dan Masachika dengan senyuman yang rileks mengangkat kedua
tangannya.
“Baiklah,
sekali lagi, aku adalah Kuze Masachika,
bagian umum dari OSIS. Oh, tentang bahasa Rusia tadi? Aku menggunakan bantuan
situs terjemahan. Mendengarkan dan menirukan itu sangat sulit, lho~ pelafalan bahasa Rusia itu
benar-benar sulit.”
Sambil sedikit menjulurkan lidahnya dan bersikap ceria, perilakunya mengundang tawa sekali lagi, lalu Masachika melanjutkan
dengan nada ringan.
“Ngomong-ngomong,
kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku yang muncul terlebih dahulu. Oh, aku
ingin menjelaskan bahwa ini keputusan kami sendiri, bukan karena pembawa acara
salah urutan, jadi jangan salah paham. Maaf telah melakukannya tanpa izin~.”
Setelah
menundukkan kepala kepada pembawa acara sembari
menyatikan kedua telapak tangannya, Masachika membersihkan
tenggorokannya dan mulai berbicara dengan nada serius.
“Jadi,
sekali lagi, alasan kenapa aku
muncul lebih awal karena…
hanya satu alasan. Aku ingin kalian bersiap-siap untuk mendengarkan janji yang
akan disampaikan oleh rekanku.”
Sayaka,
yang telah mendengar sedikit tentang situasi sebelumnya, menyadari bahwa
kemunculan Masachika yang lebih awal merupakan
hal yang benar-benar tidak terduga. Namun, Masachika tidak menunjukkan hal
tersebut sedikit pun, dan dengan tenang serta hati-hati, ia merangkai kata-kata
seolah-olah semuanya berjalan sesuai rencana.
“Janji
yang akan disampaikan oleh Kujou Alisa selanjutnya ialah
salah satu yang paling megah dan berbeda dari janji-janji calon ketua
sebelumnya. Kurasa
kalian semua akan kesulitan memahaminya pada awalnya. Tentu saja akan ada yang
meragukan, 'Apa itu mungkin?' Aku pun merasakannya. Ketika aku pertama
kali mendengar hal itu dari
mulutnya tentang apa yang dia tuju, jujur saja, aku kesulitan untuk memahaminya.”
Kebingungan
menyebar di antara para siswa karena isi yang diungkapkan Masachika,
sangat tidak biasa untuk sambutan anggota OSIS. Namun, Sayaka merasakan bahwa
kebingungan itu mengalir dan menghapus semangat yang sebelumnya ada.
“Namun,
setelah mendengarkan lebih lanjut dan memahami apa yang dia tuju, apa yang dia
inginkan dari OSIS… bagiku itu benar-benar terasa luar biasa. Aku sepenuhnya
yakin bahwa itu sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan, dan aku menguatkan
tekad untuk menuju ke sana.”
Masachika
melihat sekeliling audiens yang bingung dan berkata dengan suara serius,
“Aku
ingin memberitahu kalian terlebih dahulu. Kami pasti serius. Kami akan
menghadapi pemilihan ketua OSIS dengan janji itu dan benar-benar bertekad untuk
mewujudkannya. Jadi, mohon jangan tertawa atau menganggap ini sebagai omong
kosong, dengarkanlah kata-katanya dengan pikiran terbuka. Sekian dariku. Terima kasih atas
perhatian kalian.”
◇◇◇◇
(Cih,
menyedihkan sekali…)
Di tengah
tepuk tangan yang jarang dan tidak meriah, Masachika berjalan menuju sisi
panggung dengan perasaan getir di dalam hatinya.
Pada
akhirnya, apa dia berhasil mereset suasana dan membawa kembali ke titik awal
masih dipertanyakan. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukannya,
yaitu menyerahkan semuanya kepada pasangannya, yang merupakan hasil yang sangat
mengecewakan. Secara pribadi, dia hanya merasakan penyesalan.
“Terima
kasih atas kerja kerasmu.”
“Ya…
maaf, aku tidak banyak membantu.”
Setelah
kembali ke sisi panggung, Alisa tersenyum sambil menggelengkan kepala kepada Masachika
yang menundukkan kepalanya.
“Jangan
bilang begitu. Kamu sudah melakukan
yang terbaik dalam situasi mendadak itu… kurasa aku tidak akan bisa melakukannya, jadi itu sangat membantu.”
“……”
Kata-kata
Alisa sedikit menghibur Masachika, tapi jelas bahwa situasi yang membuatnya
harus berbicara mendadak disebabkan oleh kurangnya persiapan sebelumnya. Dari
rasa bersalah itu, Masachika tetap menunjukkan ekspresi pahit, dan Alisa
sedikit tersenyum melihatnya.
“Berhenti
menunjukkan wajah seperti itu. Aku juga
tidak menyangka bahwa pidato Yuki-san dan Ayano-san akan sehebat itu. Ini bukan
hanya tanggung jawabmu. Kita adalah pasangan… kita harus bekerja sama untuk
mencapai hasil terbaik. Benar, ‘kan?”
Mendengar
pertanyaan lembut itu, Masachika akhirnya mengangguk dan tersenyum
sedikit.
“Ah…
benar juga.”
“Ya,
sekarang, giliranmu untuk memperhatikan aku,
ya?”
Begitu Alisa
berkata demikian, pengumuman dari pembawa acara terdengar.
“Kalau
begitu, sekali, sambutan dari bendahara OSIS, Kujou Alisa.”
Mengikuti
pengumuman itu, Masachika memberikan dukungan terbaiknya kepada Alisa yang
melangkah ke panggung.
“Semangat.”
“Ya,
kalau begitu──”
Di situ, Alisa
memotong kata-katanya… lalu tersenyum sedikit dan berkata,
“Aku
akan berusaha untuk menang.”
◇◇◇◇
Ketika Alisa
muncul di atas panggung, tatapan penuh minat dan harapan tertuju padanya. Semua
orang menunggu bagaimana Alisa akan melewati batas yang telah ditetapkan Masachika.
Apa sebenarnya janji yang dibicarakan Masachika? Semua orang menantikan saat
itu dengan penuh harapan.
“Terima
kasih atas perkenalannya, namaku
Kujo Alisa, bendahara OSIS. Saat ini, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini
untuk membahas janji yang akan kuwujudkan jika terpilih sebagai ketua OSIS
tahun depan.”
Kata-kata
Alisa membuat harapan di dalam ruangan mencapai puncaknya. Merasakan suasana
itu, Alisa berbicara dengan tenang, namun tegas.
“Aku──akan
menghapuskan sistem yang membatasi siswa yang memenuhi syarat untuk bergabung
dengan Raikoukai hanya kepada ketua dan wakil
ketua OSIS.”
Selama beberapa
detik kemudian, keheningan meliputi para siswa.
Hampir semua siswa masih terdiam, tidak sepenuhnya memahami setelah mendengar
sambutan Masachika, sementara Alisa melanjutkan.
“Bukan
hanya ketua dan wakil ketua OSIS saja…
semua siswa yang memiliki prestasi yang layak untuk memenuhi syarat tersebut
akan dapat bergabung dengan Raikoukai.”
Usai
mendengar pernyataannya, akhirnya banyak siswa mulai
memahami apa yang ingin disampaikan Alisa… dan pada saat yang sama, kebingungan
dan keributan muncul.
“Eh,
hah?”
“Ap...? Apa yang dia bicarakan?”
“Eh?
Apa maksudnya?”
Tidak
mengherankan para siswa tampak kebingungan. Sebab, janji yang
diusulkan Alisa tampaknya tidak memberikan keuntungan apapun bagi dirinya. Jika
Alisa menjadi ketua OSIS, dia sudah memiliki kesempatan untuk bergabung dengan Raikoukai. Apa manfaatnya bagi Alisa
untuk memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain? Justru, ada risiko
kehilangan kesempatan bergabung bagi dirinya sendiri.
Bagi
siswa di akademi ini, tujuan untuk menjadi ketua OSIS adalah, pertama dan
terutama, untuk bergabung dengan Raikoukai. Itulah dasar dari
semuanya.
Karena
mereka ingin bergabung dengan Raikoukai dan menjalani kehidupan yang aman.
Karena mereka ingin mewujudkan impian dengan bergabung dengan Raikoukai. Karena bergabung dengan Raikoukai adalah misi yang dibebankan
oleh orang tua mereka.
Alasan pastinya mungkin berbeda-beda bagi setiap
orang, tetapi mereka semua memiliki keinginan yang sama untuk bergabung dengan
Raikoukai. Tentu saja, ketua OSIS tidak akan melakukan apa pun untuk memusuhi
Raikoukai. Terlebih lagi, sebagai seorang siswa, mana
mungkin mereka bisa mencampuri sistem Raikoukai itu sendiri.
“Apa
mungkin ada orang lain selain dirinya
dan Kuze yang ingin bergabung dengan Raikoukai...?”
“Ah,
bisa dianggap begitu juga?”
Meskipun
bingung, para siswa berusaha menemukan alasan yang dapat dipahami. Setelah kegaduhan
mereka sedikit mereda, Alisa mulai menjelaskan alasannya.
“Saat aku
memasuki akademi ini dan bekerja di OSIS sebagai salah satu calon
ketua OSIS... aku mengenal banyak orang yang bercita-cita untuk bergabung
dengan Raikoukai.”
Setelah jeda sejenak, Alisa merangkai
kata-katanya dengan
hati-hati.
“Orang-orang
yang tega menjatuhkan orang lain untuk
bergabung dengan Raikoukai. Orang-orang yang mengacaukan
seluruh akademi demi bergabung dengan Raikoukai. Orang-orang yang kehilangan
kualifikasi untuk bergabung dan tersesat dalam penderitaan.”
Ada Taniyama Sayaka, yang pernah berseteru
dalam debat dan kini menjadi temannya.
Ada Kiryuuin Yuushou, yang dahulu bersaing dan
kemudian sempat beraliansi.
Ada juga Kaji Taiki, yang pernah dia dengar ceritanya dengan sedikit sedih dari
Yuki.
“Orang-orang
yang berseteru tentang siapa yang akan
bergabung dengan Raikoukai… meski mereka saling menghargai, tapi mereka terpaksa berselisih.”
Dan… Masachika
dan Yuki, yang merupakan kakak beradik
yang saling menyayangi, tapi
terlibat konflik tentang siapa yang akan bergabung dengan Raikoukai dan mewarisi keluarga Suou.
Ayano, yang terjebak di antara mereka dan menghormati kakak beradik itu. Memikirkan perasaan
mereka, Masachika yang masih berada dalam penderitaan… Dengan membayangkan wajah mereka,
Alisa berbicara dengan tekad dan ekspresi tegas.
“Aku
ingin menciptakan sistem yang memungkinkan mereka semua untuk bergandengan
tangan. Aku ingin memberikan pilihan kepada
kandidat yang terus-menerus bersaing dan berdebat satu sama lain untuk bekerja
sama.”
Supaya
mereka yang akrab tidak perlu bertengkar. Bukan saling menjatuhkan, tetapi
saling membantu untuk mencapai Raikoukai bersama.
“Jika
itu terjadi, akademi ini pasti akan
menjadi lebih baik! Meskipun apa yang bisa dilakukan
ketua dan wakil ketua terbatas, tapi
jika ada dua atau tiga pasang kekuatan yang setara, mereka pasti dapat mencapai
lebih banyak lagi! Itulah jenis OSIS yang ingin kuciptakan!”
Usai mendengar
harapan Alisa yang terdengar seperti teriakan, audiens akhirnya memahami
seperti apa OSIS yang diimpikan Alisa.
Gambaran
saat dia berdiri bersama Sayaka dan Nonoa
pada upacara penutupan semester. Kata-kata Masachika yang menyatakan bahwa Yuki
dan Ayano juga akan menjadi bagian dari mereka.
Apa yang
sedang dibicarakan Alisa sekarang ialah
menjadikan OSIS baru yang ditunjukkan oleh mereka berdua saat itu sebagai hal
yang biasa di akademi ini. Itu memang sebuah cerita yang sangat megah dan…
seperti angan-angan.
“Pada
upacara penutupan semester pertama, aku pernah
berkata jika aku merasa tidak layak menjadi ketua OSIS, aku
akan mengundurkan diri dari pemilihan ketua dengan kehendakku sendiri.”
Keputusan
yang pernah diucapkan oleh dirinya sendiri. Sekarang, Alisa menutupi keputusan
itu dengan tekad yang lebih besar.
“Aku
mencabut pernyataan itu. Layak atau tidak, itu tidak ada hubungannya. Aku harus
menjadi ketua OSIS. Karena OSIS yang kuimpikan, Akademi
Seirei, pasti akan lebih baik, lebih ramah, dan lebih menyenangkan dari sekarang!
Dan hanya aku yang bisa mewujudkan cita-cita
itu! Aku mencalonkan diri bukan untuk bergabung dengan Raikoukai, tapi hanya untuk menjadi
ketua OSIS, dan hanya aku yang bisa melakukannya!”
Sambil
meletakkan tangannya di dada, Alisa
berbicara dengan begitu lantang sehingga seolah-olah dia berbicara kepada
dirinya sendiri, bukan kepada penonton. Sebagai seseorang yang tidak mencari
persetujuan atau simpati dari penonton, tapi hanya berjuang untuk cita-citanya,
Alisa menyatakan dengan penuh
kebanggaan.
“Aku
akan mempertahankan ideal yang kutemukan. Untuk mewujudkan ideal itu, aku akan
berusaha sekuat tenaga. Apakah aku layak menjadi ketua OSIS, silakan kalian
yang menilai. Terima kasih atas perhatian kalian.”
Alisa
menundukkan kepala dan turun dari panggung. Meskipun Alisa telah mulai
berjalan, para siswa masih terdiam. Semua orang tampak kehilangan kata-kata,
seolah-olah merasa kewalahan, hanya
melihat sosoknya pergi.
Namun,
saat Masachika dan Alisa muncul dari sisi panggung dan membungkuk, tepuk tangan
tiba-tiba bergemuruh dari suatu tempat, dengan tenang menghujani keduanya.
Nyatanya, tepuk
tangan yang diterima mereka tidak semeriah
tepuk tangan yang diterima Yuki dan Ayano. Namun, tidak ada yang peduli dengan
hal itu di tempat ini. Karena semua orang bertepuk tangan. Hanya saja, jenis
tepuk tangannya berbeda.
Tepuk
tangan yang ditujukan kepada Yuki dan Ayano adalah tepuk tangan penuh semangat.
Sementara tepuk tangan untuk Alisa dan Masachika adalah tepuk tangan penuh
hormat.
Itu
adalah tepuk tangan dari mereka yang menyaksikan dua orang yang berjalan dengan
ideal yang megah… tepuk tangan penuh hormat dari mereka yang hanya bisa
menyaksikan.
Akibatnya,
pada upacara penutupan semester kedua ini,
tidak ada perbandingan di antara
kedua pasangan calon… hanya semua orang yang hadir di sana berbagi satu
keyakinan.
Baik Kujou Alisa maupun Suou Yuki, salah
satu dari mereka akan menjadi ketua OSIS. Dan terlepas dari siapa yang menjadi
ketua, Akademi Seirei pasti akan
berubah.
Dengan
harapan para siswa yang perlahan-lahan
meningkat... upacara penutupan semester kedua pun berakhir.
