Chapter 11 — Aku tidak menyukai ‘Kotaro yang keren’ — Aku menyukai Kotaro yang asli
Tanpa kusadari, matahari benar-benar telah terbenam sepenuhnya.
“Aku
menunggumu di kelas selama ini.”
Shiho
bergumam sambil menatap ke luar jendela.
“Ada
yang aneh denganmu sejak pertunjukkan drama itu, dan aku sangat khawatir… Tapi aku tidak
bisa menemukanmu di mana pun, dan saat aku berkeliaran dengan panik, aku
berpapasan dengan Ryuzaki-kun yang tampak sangat tertekan… Aku punya firasat
buruk, lalu aku mendengar suara dari dalam kelas ini.”
Saat
itulah dia mengintip ke ruang kelas yang kosong… dan mendapatiku sedang diduduki oleh Mary-san.
“Rasanya senang
sekali. Kali ini, akulah yang menyelamatkanmu, Kotaro-kun.”
“Ya…
terima kasih.”
Berkat
Shiho, aku benar-benar terselamatkan.
“Tapi…
aku akan memarahimu sedikit nanti.”
…Ya, aku
tahu. Aku siap untuk itu.
“Ayo
kita keluar sebentar, ya? Aku tidak ingin terus di sini.”
Dia
mengatakannya sambil tersenyum. Suaranya dan ekspresinya
bukan lagi “Shimotsuki-san” yang dingin seperti sebelumnya… melainkan “Shiho”
yang hangat dan familiar.
◆◆◆◆
Kami naik
ke atap sekolah. Biasanya, tempat itu akan penuh sesak dengan orang, tetapi
mungkin karena sedang berlangsung festival, tidak ada siapa-siapa
di sana.
Itulah
saat yang tepat untuk berdua saja.
“Hm, suhunya
agak
dingin, ya?”
Sambil
berkata begitu, Shiho mencondongkan tubuhnya ke arahku.
“Jika
kamu kedinginan, aku bisa memberimu jaketku…”
“Enggak.
Aku cuma pakai alasan kedinginan buat berdekatan denganmu. Sejujurnya,
Kotaro-kun, kamu payah banget ngerti sesuatu... Sebagai hukuman, diam saja di situ dan jadilah botol air hangatku, oke? Kalau
nggak, aku nggak bakal kepanasan.”
Aku
bersandar pada pagar atap, dan Shiho bersandar di bahuku. Berpegangan erat
di lenganku seolah tak ingin melepaskannya, dia meremas erat… lalu berbisik
pelan:
“──Aku
mencintaimu. Tapi, apa kamu mengerti bahwa 'kamu yang kucintai'... bukanlah 'kamu yang berusaha
menjadi seseorang yang akan kucintai'?”
Dan
dengan pengakuan cinta itu… omelannya pun dimulai.
'Kamu
yang aku cintai'.
Apa
sebenarnya arti hal itu?
“Kotaro-kun,
kurasa… kamu berusaha menjadi 'Kotaro-kun yang keren', bukan?”
“Ya, aku
hanya ingin menjadi seseorang yang layak untukmu…”
Aku
mengangguk, mulai menjelaskan alasanku.
Aku
berusaha untuk berkembang—demi bisa bersama Shiho.
“──Bukan
itu.”
Tapi
bukan itu yang diinginkannya sama sekali.
“Sudah
kubilang, ‘kan? Aku mencintaimu apa adanya... Aku jatuh cinta pada
Kotaro-kun yang sudah ada. Jadi kenapa kamu selalu berusaha mengubah
dirimu? Kamu tak perlu lebih keren. Kamu tak perlu lebih baik.
Kau sudah lebih dari cukup, jadi kenapa kamu terus bersikeras bahwa
dirimu yang sekarang tidak cukup baik?”
Shiho
telah melihat langsung akar pemikiranku. Aku percaya bahwa karena aku
tidak cukup baik, aku harus berubah… Keyakinan itu—hampir seperti misi
pribadi—adalah apa yang dia tolak.
“Aku
tak pernah ingin kamu memaksakan diri, atau berpura-pura menjadi seseorang yang
bukan dirimu. Dirimu yang kucintai adalah Kotaro-kun yang lembut dan tulus...
dan aku hanya ingin versi dirimu yang seperti itu juga mencintaiku.”
Kurasa…
Aku mencoba menjadi versi lain dari diriku lagi.
“Kalau
aku menjadi Kotaro-kun versi yang dia cintai, aku juga
bisa mencintainya,”
atau semacamnya. Tapi—
“Jangan
jatuh cinta padaku hanya karena alasan seperti itu. Perasaanku
padamu bukanlah sesuatu yang begitu kecil hingga bisa dipuaskan dengan logika
seperti itu.”
Dia
mengatakan hal itu sambil meremas lenganku lebih erat.
Saking eratnya hingga hampir terasa sakit… dia memegangnya dengan kuat dan
kokoh.
“Aku suka
betapa baiknya kamu mendengarkanku, Kotaro-kun.”
Jadi kamu tidak perlu
pandai berbicara.
“Aku menyukaimu
yang
tersenyum hanya untukku.”
Jadi kamu tidak perlu
menjadi tipe orang yang suka bersosialisasi.
“Aku menyukaimu
yang mau memarahiku saat aku melakukan kesalahan.”
Jadi kamu tidak perlu
menjadi seseorang dengan kesabaran tak terbatas yang menerima segalanya.
“Aku
suka caramu menjadi gugup setiap kali aku menggodamu.”
Jadi kamu tidak perlu
berusaha bersikap keren.
“──Aku
mencintai segalanya tentangmu.”
Jadi kamu tidak perlu
berubah.
Shiho
selalu merasa seperti itu terhadapku.
Namun… aku
belum mengerti satu pun.
“Tentu
saja, bukannya aku pernah meragukan perasaanmu, Kotaro-kun. Aku tahu kamu sudah berusaha
menghadapiku dengan benar. Itulah kenapa aku ingin percaya padamu... Bahkan
saat itu, aku tahu sesuatu telah terjadi padamu, tapi karena kamu sudah berusaha
sebaik mungkin, aku memutuskan untuk percaya padamu dan berpura-pura tidak
menyadarinya.”
Jadi
itulah sebabnya Shiho selalu memberitahuku kalau dia “percaya”
padaku.
Kata-kata
itu bukan untukku… itu sesuatu yang harus terus dia katakan pada dirinya
sendiri. Dan aku—salah mengartikan bahwa karena Shiho percaya padaku,
itu artinya apa yang kulakukan itu benar.
Lalu aku
pergi dan membalik tombol itu sendiri, dan sekarang aku berakhir menyakitinya
seperti ini... Itu semua karena aku masih belum bisa sepenuhnya percaya pada
diriku sendiri.
“Bukan,
bukan begitu. Aku tidak bermaksud mengatakan kamu yang salah,
Kotaro-kun…”
“Tapi
tetap saja, aku—”
“Kamu
sudah melakukan lebih dari cukup. Kotaro-kun, kamu benar-benar berusaha
mencintai dirimu sendiri. Dan terkadang, seperti tadi, kamu membuat kesalahan.
Tapi ketika itu terjadi, aku seharusnya turun tangan untuk meluruskan semuanya.”
Jadi
mengapa hal itu menjadi salah?
“Aku
menahan diri. Aku tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan
padamu. Aku diam dan terus mempercayaimu... karena aku takut kalau tidak, kamu akan
menganggapku 'terlalu berlebihan.'”
Sambil
berkata demikian, Shiho—seakan tak dapat menahan diri lagi—melilitkan tangannya
bukan di sekeliling lenganku, melainkan di sekeliling seluruh tubuhku.
“Aku
mencintaimu lebih dari yang kamu bayangkan, Kotaro-kun.”
Cinta
itu—dengan mudah melampaui apa yang kubayangkan.
“Jika
kamu
bertanya seberapa besar cintaku padamu… Cintaku padamu begitu besar
sampai-sampai aku ingin menghancurkanmu.”
Perasaan cintanya begitu kuat—cukup bergairah untuk mungkin menghancurkanku.
“Aku
ingin kamu hanya mencintaiku, hanya memikirkanku, sampai kamu tak bisa
membayangkan orang lain—ada bagian diriku yang menginginkan itu. Tapi aku tahu
itu takkan membuatmu bahagia. Jadi, aku menahannya.”
Kalau
dipikir-pikir… Azusa pernah memanggil Shiho dengan sebutan “yandere”. Mungkin
dia tidak salah.
“Itulah
sebabnya... kalau perasaanmu padaku hanya setengah hati, mungkin kamu takkan sanggup
menahan cintaku dan kamu bakalan hancur. Aku tak ingin itu terjadi... jadi aku
menahan diri, dan tak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya kurasakan.”
Mungkin
itu sebabnya Shiho akhir-akhir ini bersikap samar-samar. Karena dia lebih
banyak diam daripada bicara… akhirnya kami salah paham satu sama lain.
“Tapi
rupanya itu
juga salah. Karena memendam semuanya hanya akan meracunimu... Pada akhirnya,
aku juga tidak benar-benar mempercayaimu. Aku berasumsi kamu tidak akan
menerima cintaku dan menutup diri.”
“...Aku
juga mencintaimu, Shiho. Aku mungkin belum bisa menyamai perasaanmu, tapi apa
yang kurasakan—itu nyata.”
“Aku
tahu. Makanya... ya, aku juga salah. Kita berdua sama-sama salah kali ini.
Kita perlu merenunginya, ‘kan?”
Shiho
memelukku dengan erat. Aku meletakkan tanganku di
kepalanya dan membelai rambutnya dengan lembut.
“Ya…
Aku juga ingin kamu mencintaiku sedalam-dalamnya, Kotaro-kun.”
Selama
ini aku selalu menahan diri dan menghindari hal-hal seperti ini. Tapi mulai
sekarang… aku tahu aku perlu mulai mengubahnya.
“...Aku
masih belum bisa mencintai diriku sendiri sepenuhnya. Aku membuatmu khawatir
lagi. Maaf.”
“Serius.
Sebaiknya kamu mulai lebih mencintaiku, oke? Kalau kamu tak sanggup
menanggung beratnya perasaanku, aku takkan pernah puas.”
“Ya…
Mungkin masih butuh sedikit waktu lagi. Tapi aku akan menghadapinya. Aku akan
menghadapi diriku sendiri, dan perasaanmu juga.”
“Bagus.
Aku akan menunggu. Tapi tidak perlu terburu-buru, oke? Kita masih punya banyak
waktu... bahkan jika butuh sepuluh tahun, aku tidak keberatan tinggal di tengah-tengah
masa sulit ini bersamamu.”
“Aku
tidak akan membuatmu menunggu selama itu.”
Kata-kata
tersebut
bukan untuk Shiho—itu adalah janji untuk diriku sendiri. Sebagai Nakayama
Kotaro, aku akan belajar untuk benar-benar mencintai Shimotsuki Shiho.
Tanpa
berpura-pura, hanya menjadi diriku sendiri—aku akan menerima cintanya. Jika
aku bisa melakukan itu, aku yakin… hubungan kita akan terus maju.
“Oh,
tapi... mungkin aku harus segera mengurusnya sekarang.”
Tepat
ketika hal-hal akhirnya tenang di antara kita—
Ketika
kami berpelukan, menikmati momen itu… dia tiba-tiba menggumamkan hal itu dan
mengangkat wajahnya.
“Apa
yang ka──”
Aku
bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatku. Sebelum aku
sempat, Shiho menempelkan bibirnya ke bibirku.
“──Sebelum
gadis lain mencoba mencurinya, aku akan mengambil bibirmu untuk diriku sendiri.”
Tentu saja, itu hanya
berlangsung sesaat. Tapi sensasi lembut dan hangat itu masih terasa di
bibirku.
“Aku
tidak ingin orang lain menjadi milik Kotaro-kun terlebih dahulu.”
Sambil
berkata demikian, Shiho tersenyum nakal.
Tidak,
dia berusaha bersikap tegar... tapi telinganya merah padam. Sekarang setelah
kejadian itu, dia tampak sangat malu.
“…Y-Ya.”
Baiklah, aku
sendiri terlalu bingung untuk mengatakan apa pun. Bahkan saat kami
saling menatap mata, kami bergerak canggung… dan entah bagaimana, itu membuatku
tertawa.
──Dan
begitu saja, cerita baru berakhir.
…Ya,
komedi romantis antara aku dan Shiho memang berantakan. Sebuah cerita yang
berjalan lambat seperti ini tidak sering muncul.
Tapi
tidak apa-apa.
Tidak,
itu yang membuatnya bagus.
Bagiku
dan Shiho, ini bukan ‘kekacauan’.
Bahkan
jika tidak ada hal dramatis yang terjadi, bahkan jika tidak ada struktur yang
jelas atau titik balik yang penting, itu tidak masalah.
Selama
kita bahagia, maka cerita ini adalah sebuah mahakarya.
