Chapter 10 — Tambahan Bumbu Yang Tidak Penting Dalam Cerita Murahan
Dan
begitu saja, permainan “kreator” kecil-kecilan yang dilakukan oleh heroine yang dipaksa ikut
itu berakhir.
Aku
mengambil petunjuk yang kubuat untuk memberi karakter sampingan akhir yang
bahagia dan menggunakannya untuk menghancurkannya sepenuhnya. Dengan begini,
dia tidak akan bisa bangkit lagi.
Tokoh
protagonisnya patah hati, dan dalang sebenarnya menjadi korban jebakannya
sendiri... sungguh cerita komedi romantis yang buruk.
Cerita
yang diciptakan Mary Parker berakhir dengan kegagalan yang memalukan. Inilah
yang terjadi ketika kamu mencoba menulis kisah balas dendam yang
picik.
“…………”
Dia terduduk di sana, roboh di
lantai, terdiam dan hancur oleh keputusasaan, kepalanya tertunduk—
sejujurnya, dia
tampak menyedihkan.
Aku tak
bisa melihat ekspresinya. Tapi sosoknya yang meringkuk mengingatkanku pada
Azusa dan Kirari saat mereka patah hati—aku tak kuasa menahan diri untuk
mengalihkan pandangan.
Aku
berbalik untuk meninggalkan kelas yang kosong itu. Namun, tiba-tiba
dia berbicara, dan suaranya menghentikan langkahku.
“──Hei,
tunggu.”
“…Tidak
ada lagi yang perlu dibicarakan.”
"Ya,
benar. Kamu dan aku—kita sama-sama kehilangan peran. Kisahnya sudah
berakhir... dan berakhir dengan bencana ‘kacau balau’ yang tak
terbayangkan.”
“Jadi?
Bagaimana dengan itu?”
Aku tidak
mengerti apa yang Mary-san coba katakan kepadaku.
"Tidak
perlu terlihat bingung begitu... Aku juga mengerti. Ini tidak ada hubungannya
dengan cerita utama. Ini hanya sedikit 'tambahan'. Kalau aku harus memberi
judul... mungkin seperti 'Balas Dendam Seorang Sub-Heroin Delusi yang
Mengira Dirinya Pencipta'?”
Mary-san
mengangkat kepalanya. Senyuman di wajahnya merupakan
seringai dingin yang mengerikan. Itu bukan senyumannya yang biasa.
Bukan pula senyum licik atau tenangnya.
Itu
adalah senyum seseorang yang telah kehilangan segalanya—senyum yang gegabah dan
merusak diri sendiri.
“Ceritaku
yang kacau ini mungkin berakhir dengan semua karakternya
sengsara, tapi… masih ada satu orang yang bersikap seolah-olah dirinya sama sekali tidak
terlibat.”
Kirari yang patah hati.
Ryoma
ditolak.
Mary-san
gagal.
Tetapi
ada satu orang yang tersisa yang terus berpura-pura berada di luar semua itu. Dan
orang itu, tentu saja... aku. Nakayama Kotaro.
“Kamu
pasti bercanda…”
Suatu
firasat buruk mulai menghampiriku. Tiba-tiba aku diliputi
keinginan untuk berbalik dan lari dari tempat ini. Tetapi mungkin
karena Mary-san menatap lurus ke arahku—aku tidak bisa bergerak.
Ini… berbahaya.
“Yang benar saja... Kamu kalah. Jadi, terima saja dan pergilah seperti
pecundang sejati.”
“Tidak,
tidak. Lagipula, ini adegan besar terakhirku.”
Dengan
itu, Mary-san tiba-tiba berdiri—dan saat berikutnya, dia berada tepat di hadapanku.
Layaknya
seekor ular yang menerjang seekor katak, dia bergerak dengan kecepatan yang
mengerikan dan menerkam tanpa suara—membantingku ke lantai.
“Hah!?”
Tentu
saja aku mencoba melawan. Namun
Mary-san
mencengkeram tanganku, mencegahku bergerak. Aku berusaha melepaskannya, tapi...
kekuatannya jauh lebih besar dari yang kukira dari seorang gadis.
“Kamu tidak tahu, ya? Aku ini karakter
dengan kemampuan yang membuatku bisa melakukan apa saja... Bahkan
statistik atletikku saja sudah di luar grafik. Mustahil orang dengan statistik
rata-rata sepertimu bisa mengalahkanku.”
“Sialan.
Lepaskan! Jangan sentuh aku...!”
“Kamu takkan bisa
lolos. Aku tak bisa memaafkanmu, Kotaro.”
Tidak ada
jalan keluar lagi. Terjepit dalam posisi menempel, aku tak
dapat menggerakkan tanganku, kakiku, atau bahkan memutar leherku—tak ada jalan
keluar darinya.
“Kamu... kau
benar-benar berhasil menipuku, ya? Kamu merencanakan semuanya
agar aku jatuh cinta pada Ryoma, ya? Sungguh, kerja yang mengesankan. Kamu
berhasil
mempermainkanku... hebat sekali. Aku tak punya pilihan selain memujimu.”
…Jadi dia
menemukan jawabannya.
Tampaknya
dia baru menyadari semuanya setelah semuanya berakhir.
“Kupikir
aku sudah berhati-hati. Kupikir selama aku mengancam kedamaian Shiho, kamu akan melakukan
apa pun yang kuminta. Aku meremehkanmu. Tapi kamu sama sekali tidak
percaya padaku... Kamu mungkin berpikir, 'Sekalipun aku mengikuti rencana
Mary-san, kalau aku jadi protagonis harem, Shiho tetap akan terluka,' atau
semacamnya.”
Dia masih
peka
seperti sebelumnya. Ketajamannya itu selalu membuatku takut. Dia
terlalu berbahaya. Itulah sebabnya aku ingin dia gagal
total sehingga dia tidak akan pernah bisa terlibat dengan kami lagi.
Aku
merancang rencana untuk membuatnya putus asa—membuatnya meninggalkan panggung
untuk selamanya.
Apa yang tidak
berani kulakukan
sebagai karakter sampingan, aku memutuskan untuk bertahan sampai akhir
sebagai penjahat... Itulah yang kupikir akan kulakukan.
“Aku
kalah. Seperti yang kamu rencanakan, aku kalah. Artinya, aku tidak akan bisa
melakukan hal berarti lagi setelah ini, kan? Jadi, kalau begitu, mengamuk di
sini bukanlah ide yang buruk. Ini sorotan terakhirku... adegan terakhir Mary
Parker!”
Dia
tertawa—seperti ada sesuatu dalam dirinya yang hancur. Dia
mungkin sudah tak peduli lagi pada dirinya sendiri. Harga dirinya hancur,
statusnya lenyap, masa depannya gelap gulita. Dia seperti
seseorang yang tidak punya apa pun lagi yang bisa hilang.
Saat ini,
dirinya tidak takut. Itu
artinya dia mampu melakukan apa pun.
“Kotaro,
ayo kita sengsara bersama, ya? Kalau semua orang tidak bahagia, itu akan jadi
hal biasa. Aku, Ryoma, Kirari—kita semua akan setara. Jadi aku akan menyeretmu
juga... Aku akan menyeretmu ke dalam kesengsaraan!!”
Keringat
dingin mengucur di punggungku. Dendamnya yang dalam dan
penuh kebencian membuatku merinding. Aku jelas sudah
keterlaluan. Kupikir menghancurkannya sepenuhnya adalah langkah yang tepat.
Tapi
mungkin… versi diriku sebagai karakter sampingan lah yang benar
sejak awal.
“Ryuzaki
dan Mary-san akhirnya berakhir bersama, dan itu adalah akhir yang
bahagia.”
Kupikir
resolusi yang setengah hati seperti itu tidak ada gunanya.
Tapi
mungkin diriku yang sebagai karakter sampingan… takut dengan
hasil ini, dan sengaja memilih cara yang lebih mudah.
“Hm,
kalau dipikir-pikir... merenggut kedamaian Shiho bukan berarti Kotaro berakhir
tidak bahagia. Malahan, itu mungkin mengarah ke cerita baru—di mana Kotaro
menyelamatkan Shiho dari kesulitannya.”
Cocok
untuk peran penjahat, mungkin aku akan… menemui akhir yang buruk.
“Untuk
menyakiti Kotaro sebisa mungkin... apa yang harus kulakukan...? Oh, aku
tahu—bagaimana kalau aku menciummu sebelum Shiho? Nihihi, lumayan, ‘kan? Kamu setia padanya,
jadi tahu ciuman pertamamu bukan dengan Shiho, tapi denganku — fakta
tersebut
akan menghantuimu seumur hidup.”
Yang bisa
kulakukan hanyalah menatap Mary-san. Bukannya aku tidak ingin
melawan. Namun ada kekuatan yang luar biasa—baik fisik maupun
naratif—yang membuat semuanya terasa benar-benar tanpa harapan, dan jauh di
lubuk hati, aku sudah menyerah.
Shiho
bilang padaku untuk tidak melangkah terlalu jauh… tapi aku malah harus terus
maju dan membalik tombolnya—itulah sebabnya hal ini terjadi…!
Versi
karakter sampingan dalam diriku—yang selama ini diam saja—berteriak
dalam hati. Aku seharusnya tidak pernah bergantung padamu.
Ya.
Sekarang semuanya
sudah
terlambat, tapi… seharusnya aku menghadapi Mary-san sebagai diriku sendiri
sejak awal. Aku bertingkah sok angkuh, menceramahi Kirari… lalu melakukan
kesalahan yang sama persis. Sungguh kacau sekali.
Menyangkalnya
tidak akan mengubah apa pun sekarang, bukan?
Aku tahu. Tapi
itu tetap saja tidak penting lagi.
Jika kamu merasa frustrasi
hanya karena duduk diam tanpa melakukan apa pun—maka berubahlah.
Berhentilah
berperan sebagai penjahat dan tampillah sebagai dirimu sendiri. Jika
kamu
bahkan tidak mampu melakukannya, itu artinya kamu menyangkal dirimu sendiri lagi.
Apa sih
yang dibicarakan tentang “menjadi Nakayama Kotaro yang menurut
Shiho
keren”?
Kamu
menyedihkan.
Aku
sungguh menyedihkan.
“Oh
ya... mulai sekarang, setiap kali kamu mencium Shiho, setiap
kali kamu menyentuhnya, kau akan teringat padaku. Kamu akan merasa
bersalah karena mengkhianatinya. Kamu tak akan bisa mencintai
Shiho sepenuh hatimu! Kamu tak akan bisa memaafkan dirimu sendiri—dan kamu akan jatuh lagi
menjadi karakter mob menyedihkan yang menyangkal dirinya lagi!"
…Sudah
berakhir.
Perasaan
penyangkalan diri menguasai hatiku. Sama seperti setelah
upacara penerimaan.
Aku
menyangkal diriku sendiri, menolak segalanya, berkata pada diriku sendiri bahwa
aku tidak bisa berbuat apa-apa—dan menyerah pada sikap apatis.
…Sekarang
setelah kupikir-pikir, kapan aku pernah mengaktifkan tombol “karakter mob” itu?
Sudah
lama sekali, aku bahkan tak bisa mengingatnya. Aku hanya ingat bahwa aku pernah
memutuskan bahwa itulah diriku.
Shiho…
Maafkan aku.
Suara
siapakah itu—karakter mob dalam diriku?
Atau aku,
sekarang?
Tidak… itu keduanya.
Di akhir,
aku
meminta maaf kepada Shiho.
Pada saat
itu, Mary-san sudah sangat dekat, mukanya menyentuh pipiku.
“──Rasakan
akibatnya.”
Mary-san
tersenyum.
Tidak— dia mencibir .
Senyumnya
sama seperti yang kupakai sebelumnya.
“Kotaro,
kamu
sama sepertiku, ‘kan? Mari kita menjalani hidup kita dengan
penuh penyesalan, sebagai karakter yang menyedihkan dan sengasara... Dan jika Shiho
mencampakkanmu,
datanglah padaku, oke? Rasanya takkan terlalu buruk, kita berdua saling menjilati
luka untuk bertahan hidup. Mencakar dada kita, selamanya mengejar cinta yang
tak terpenuhi, saling membenci di sepanjang jalan... Itu akan menjadi
pembalasan dendamku.”
…Ini
adalah hukuman. Akibat menertawakan orang lain. Aku sungguh bukan
apa-apa tanpa gadis itu. Kurasa ini juga akhir dari
film komedi romantisku.
Bahkan
jika Shiho memaafkanku atas ciuman itu… Aku ragu kalau aku bisa
memaafkan diriku sendiri. Pada akhirnya, aku akan
hancur karena penyesalan, tidak mampu menerima cinta Shiho sepenuhnya.
Dan
dengan begitu, bekas luka yang ditinggalkan Mary-san akan terus menyiksaku
sepanjang sisa hidupku.
Shiho…
Maafkan aku.
Aku
mungkin tidak bisa membuatmu bahagia lagi—
“──Berhenti.”
…Biasanya,
di sinilah cerita akan berhenti—di mana tirai panggung akan ditutup.
Tapi
tentu saja dia tidak ingin berakhir seperti itu. Sebuah suara yang
jelas terdengar. Angin dingin bertiup melewati udara yang berat dan stagnan.
“Katakan
padaku… apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkan hal itu terjadi?”
Dalam
sekejap, seluruh ruangan membeku.
Baik aku maupun Mary-san
tidak bisa bergerak.
Karena
tidak dapat berbicara sepatah kata pun, kami hanya mendengarkan suaranya.
“Tidak.
Jangan berani-beraninya kamu menyentuh protagonisku yang berharga.”
Terkejut,
aku mengangkat kepalaku.
Memalingkan
muka untuk menghindari bibir Mary-san, aku melihat ke arah pintu masuk kelas
yang kosong.
Dan benar
saja—di sanalah dirinya.
“Kotaro-kun,
sekarang sudah
tidak apa-apa. Aku akan melindungimu, oke?”
Shimotsuki
Shiho berdiri dengan tenang. Suaranya yang jernih dan
bening hampir membuatku menangis.
Benar…
dia selalu seperti ini. Saat aku berjuang, saat aku kesakitan, saat
segalanya terasa tanpa harapan… dia selalu ada di sisiku.
Dan dia
selalu menyelamatkanku.
“──Minggir.
Menjauhlah dari Kotaro-kun.”
Suaranya
terdengar lebih dingin dari biasanya. Usai mendengar itu, Mary-san
langsung berdiri. Seolah-olah dia adalah robot yang diprogram, dia mematuhi
perintah Shiho tanpa ragu-ragu.
“…!?”
Sesaat
kemudian, Mary-san menatap tangannya dengan bingung. Pasti karena tidak
sadar. Dia tampak benar-benar terkejut melihat betapa alaminya dia mengikuti
perintah itu.
“Kotaro-kun,
kemarilah. Aku akan khawatir kalau kamu terus-terusan berbaring di sana, tau?”
Lalu
Shiho memanggilku. Dan saat aku mendengar suaranya, tubuhku
bergerak sebelum aku sempat berpikir.
Aku
bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. Melihat itu, Shiho
mendesah pelan.
“Jujur
saja, kamu memang payah. Meskipun kurasa bagian dirimu itu agak
imut... Sudah kubilang sebelumnya, ‘kan? Berhentilah mengubah
nada bicaramu.”
Rupanya
Shiho telah merasakan perubahan dalam diriku.
“Kotaro-kun,
kembalilah.”
── Klik.
Hanya
dengan kata-kata itu, tombol yang tidak dapat kubalik sendiri dimatikan
secara paksa. Pada saat itu, 'Nakayama Kotaro' yang memerankan
penjahat menghilang.
“…Shiho,
maafkan aku.”
“Aku
akan menyimpan omelanku untuk nanti. Untuk sekarang, tetaplah di
belakangku, oke?”
Bahkan
saat aku kembali normal, dia tidak mengubah ekspresinya. Melihatnya seperti
itu mengingatkanku pada 'Shimotsuki-san' saat kami pertama kali bertemu.
Dulu,
saat aku belum mengenalnya dengan baik... beginilah gambaran yang ada di
pikiranku tentangnya.
Dingin dan tanpa
ekspresi.
Sekarang
dia mengalihkan tatapan tajam yang sama ke arah Mary-san.
“Waktu
piknik sekolah dulu, Kotaro-kun melindungiku... Kali ini giliranku. Jangan
khawatir—aku akan melindungimu darinya.”
“Wah,
itu pernyataan yang cukup meyakinkan.”
Mary-san,
setelah sedikit tenang setelah beberapa waktu, berhasil berbicara kembali
dengan benar.
“Ini
pertama kalinya kita mengobrol lagi sejak kejadian di mal itu, kan? Waktu
itu kamu gemetaran kayak tupai kecil, tapi hari ini rupanya
kamu
baik-baik saja.”
Mengejek,
mencemooh,
mencoba memprovokasinya. Itulah nada bicara
Mary-san yang biasa, namun—Shiho tidak gentar.
“Kalau
bisa, aku lebih suka tidak bicara denganmu. Suaramu... sangat menyimpang.”
Gadis
pemalu, pendiam, dan penakut dari sebelumnya—
Sekarang,
dia berdiri teguh tanpa sedikit pun keraguan, menghadapi Mary-san secara
langsung.
“Oh!
Betul sekali, Shiho, pendengaranmu cukup tajam, ya? Kalau begitu,
mungkin kamu bisa memberitahuku—suara apa yang kubuat?”
“…Seperti
ranting patah. Krak, krak —seperti ranting-ranting segar yang terpilin…
Suaranya menyakitkan dan menyimpang.”
“Menyakitkan?
Kupikir suara ranting patah terdengar cukup menyenangkan?”
“──Kamu yakin tentang
itu?”
Ucapan
tajam Shiho menusuk wajah Mary-san yang tengah menyeringai. Dan
begitu saja, senyumnya lenyap.
“Ku-Kupikir begitu… ya?”
Suaranya
terputus-putus, dan dia terhuyung mundur karena bingung. Sejak kemunculan
Shiho,
Mary-san jadi tidak waras. Tingkah lakunya sama sekali tidak seperti dirinya. Jelas
ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.
“Aku
tidak bisa membiarkan ini terjadi.”
“Me-Membiarkan? Apa maksudmu?”
“Mary-san,
ya ‘kan?
Aku tidak bisa membiarkanmu menyentuh Kotaro-kun. Kalau kamu
berada
di dekatnya, suaranya yang indah akan ternoda. Karena itu... aku tidak akan
membiarkanmu.”
Dan Shiho
juga tidak berbicara seperti biasanya. Ada sesuatu dalam
nadanya—dingin dan tanpa emosi—yang membawa kewibawaan yang tak terucapkan.
Mungkin
itulah sebabnya Mary-san begitu terguncang sejak dia tiba.
“Aku
membuat pengecualian untuk Azunyan. Dia akan menjadi adik perempuanku suatu
hari nanti, jadi tentu saja aku mengizinkannya. Lagipula, kalau Azunyan tidak
bahagia, Kotaro-kun juga tidak akan bahagia. Itu sebabnya aku memberikan
kelonggaran khusus untuknya. Tapi cuma kamu—aku tidak akan
mengakuimu."
“Ka-Kamu tidak mau
mengakuiku? Dan apa yang memberimu wewenang untuk memutuskan itu?”
“Aku
tidak punya wewenang. Aku cuma bilang... aku tidak akan
mengizinkannya. Itu saja.”
Dia
menyatakannya dengan jelas. Namun— tekanan apa yang kurasakan ini?
“Mary-san?
Berhentilah mendekatinya dengan emosi yang tidak murni itu. Kalau kamu mau berbicara dengan
Kotaro-kun, kamu butuh perasaan yang lebih tulus dan murni, oke?”
“──!”
Mary-san
tidak dapat menyangkalnya.
Tidak—dia
terus mencoba menolaknya, tetapi sepertinya dia tidak diizinkan.
'Otoritas' Shiho—atau apapun itu—menekan
dirinya.
“Ja-Jangan pikir kamu bisa melawanku
seperti itu! Mungkin kamu tidak tahu, Shiho, tapi aku lebih mampu dari yang kamu kira, tahu?
Misalnya... dengan uang, aku bisa menghancurkan keluargamu kalau aku mau."
Meski
begitu, Mary-san masih mencoba melawan. Dia mencoba membungkam
Shiho dengan kalimat-kalimat tajamnya yang biasa.
“Jika
kamu merasa mampu, lanjutkan saja dan cobalah.”
Namun
Shiho menepis penolakannya dengan mudah.
“Tapi
jika kamu berani menyentuh seseorang yang penting bagiku… aku tidak
akan pernah memaafkanmu.”
“...Tidak
pernah memaafkanku? Dan apa tepatnya yang akan kamu lakukan untuk membalas
dendamku?”
“Aku takkan melakukan sesuatu yang khusus. Aku hanya tidak akan
memaafkanmu—itu saja.”
“An-Ancaman samar
seperti itu… mana mungkin aku mau mendengarkanmu!”
Bahkan
saat dia menggertakkan giginya, dia tidak bisa bergerak. Pemandangan itu mengingatkanku
saat aku tidak bisa melangkah ke atas panggung selama perjalanan sekolah kami.
Mungkinkah
ini… penyerahan naratif?
Tidak,
itu konyol… tapi aku tidak bisa memikirkan alasan lain.
Mary-san
yang berjiwa bebas, tak terkendali, hanya menuruti Shiho… itu tidak masuk akal
secara logis.
“…Jadi
begitulah adanya.”
Mengapa
kata-kata Shiho begitu berbobot?
Alasannya
sederhana.
“Jadi
inilah hawa
'kehadiran' seorang heroine utama… bukan?”
Dengan
satu kalimat dari Mary-san, semua yang kita lihat sejauh ini menjadi masuk
akal. Gadis yang berdiri di sini bukanlah Shiho yang biasa dan mudah
didekati yang begitu kukenal.
Dia
menyerupai “Shimotsuki-san” yang jauh yang pernah kulihat, namun sama
sekali tak terjangkau—sesosok gadis yang berada dalam kasta tertinggi. Dengan
kata lain, Shimotsuki Shiho yang berdiri di sini sekarang
sebagai heroine utama.
Mary-san
pasti juga merasakannya. Karena dia punya sudut
pandang yang sama sepertiku… atau lebih tepatnya, karena dia bisa melihat sifat
Shiho yang seperti heroine, dia merasa kata-katanya punya otoritas.
Jadi,
sebagai seorang sub-heroine, Mary-san mau tak mau hanya bisa merasa tunduk. Sama
seperti yang pernah kulakukan.
“...
K-Kupikir
dia cuma seorang heroine yang tidak berguna... tapi
ternyata aku salah? Shiho tidak menjadi heroine karena pengaruh Ryoma—dia
memang sudah menjadi heroine sejak awal? Dan aku pasti
secara tidak sadar menyadari itu, jadi itu sebabnya aku
menjauhinya dari cerita? Supaya kekuatan heroine-nya tidak menggangguku...
Aku berusaha sekuat tenaga untuk masuk sebagai sub-heroine? Apa itu memang
peranku selama ini?”
“Heroine utama? Karakter? Apa yang kamu bicarakan...? Dunia ini
bukan cerita. Aku bukan orang lain—aku hanyalah diriku sendiri. Kalau boleh
kukatakan, akulah heroine-nya Kotaro-kun.”
“…Haha.Hahahahahahaha!!”
Yang bisa
dia lakukan
sekarang hanyalah tertawa. Mary-san tertawa
terbahak-bahak. Namun, tawanya kering, tanpa sedikit pun kegembiraan.
“Jangan
sok mengguruiku jika kamu bahkan
tidak menyadari bahwa kamu hanyalah karakter lain.”
Senyumnya
berubah. Itu berubah menjadi ejekan yang kejam dan mengejek.
“Jangan
bikin aku tertawa. 'Heroine'-nya Kotaro? Itu
absurd. Dirinya bahkan bukan protagonis—ia cuma karakter mob. Kamu jauh di luar
jangkauannya. Status berbeda. Kelas berbeda. Dunia berbeda. Kamu benar-benar
berpikir cinta seperti itu akan berhasil? Sudah hancur. Kotaro tidak akan
pernah bisa menjadi tipe pria yang bisa mencintai heroine
utama.”
Memprovokasinya.
Mengejeknya. Mary-san menghinaku habis-habisan, mati-matian berusaha membuat
Shiho kesal.
Namun
Shiho tidak lagi memberinya waktu.
“Aku
tidak begitu mengerti apa yang kamu bicarakan. Itu hanya
pendapat pribadimu saja, ‘kan? Aku tidak
menganggap Kotaro-kun sebagai karakter mob atau semacamnya.”
Dia
menjawab dengan jelas, tanpa ragu, tanpa mengubah ekspresinya.
Dan demi
menghadapinya,
Mary-san tersenyum licik.
“Suatu
hari nanti, kamu akan mengerti apa maksudku.”
Sambil
menyeringai jahat, dia mulai berjalan pergi.
“Baiklah,
anggap saja ini kekalahanku. Kurasa aku harus mengakhirinya dengan kalimat yang
pantas seperti badut. Lagipula, itulah peran yang diberikan kepadaku.”
Setelah melewatiku
dan Shiho tanpa menoleh ke belakang sekali pun, dia meninggalkan kami dengan
satu kalimat terakhir:
“──Jangan
lupakan ini. Dan jangan berpikir ini sudah berakhir.”
Kedengarannya
seperti sekadar ungkapan kekecewaan belaka.
Seperti
penjahat yang kalah, mengucapkan kata-kata terakhirnya yang penuh dendam
sebelum menghilang.
Berbeda
denganku, dia tetap berkomitmen pada 'perannya'
dalam cerita hingga akhir. Sebuah penutup yang sangat pas untuk antagonis yang
tragis.
…Dia
bukan seseorang yang benar-benar kusukai.
Namun
keyakinan yang tak tergoyahkan untuk tetap setia pada dirinya sendiri—jujur
saja, aku mungkin menghormatinya karenanya.
Berbeda denganku, Mary-san adalah Mary-san sampai akhir.
Dan
meskipun aku selalu merasa sulit menghadapinya…
Sejujurnya… aku tidak akan pernah bisa membencinya.
