
Epilog — Bahkan aku.... Suatu Hari Nanti....
Festival
budaya yang kacau telah berakhir, dan kehidupan kembali normal. Dan seperti biasa,
Shiho
menghabiskan hari bersantai di rumahnya. Seperti seekor kucing
malas, dia berbaring santai di sofa.
“Azunyan,
berikan aku remote-nya. Nonton berita bikin kepalaku pusing. Saat-saat seperti
ini butuh acara anak-anak untuk mengistirahatkan otak.”
“...Ambil
sendiri. Azusa sedang sibuk makan camilan.”
Azusa
duduk dengan tenang di meja, menikmati sepotong kue. Saat Shiho
memperhatikannya sambil berbaring—
Kruyukk
Rasa
laparnya menunjukkan kehadirannya dengan lantang.
“...Azunyan,
aku tahu kamu rakus, tapi membuat suara perut saat makan bukanlah hal yang
sopan.”
“Itu
bukan aku!? Jangan sembarangan memfitnahku kalau perutmu yang keroncongan, Shimotsuki-san!”
“Kalau
begitu, boleh aku minta kuenya?”
“Tidak
mungkin! Ini punyaku... lagipula, bukannya kamu baru saja makan
tadi?”
“T-Tapi
kelihatannya enak sekali!”
Kue yang
dibeli Kotaro sebagai hadiah—bertuliskan, “Semua orang
bekerja keras di festival”—lebih mahal dari biasanya dan sangat
lezat.
Mengingat
rasa itu, Shiho melompat berdiri.
“Benar
juga… Bagaimana kalau kue Kotaro-kun ada racunnya? Harus ada yang mencicipinya
dulu, untuk jaga-jaga.”
“Kamu
hanya ingin memakannya! …Tapi kalau Onii-chan tidak menginginkannya, maka aku ingin memakannya.”
“Begitu.
Jadi ini artinya... sudah waktunya memutuskan siapa yang lebih dia cintai?”
“Apa
yang kamu katakan? Tentu saja dia lebih mencintaiku daripada kamu, Shimotsuki-san.
Onii-chan sangat menyayangiku.”
“Ka-Kamu sangat percaya
diri, ya? Baiklah... itulah yang membuatmu layak menjadi adik perempuanku.”
Selagi
mereka bercanda, Kotaro kembali dari menjemur cucian. Saat dia memasuki
ruangan, Shiho berlari menghampirinya.
“Hei, Kotaro-kun?
Boleh aku minta kuemu?”
“Enggak,
enggak! Onii-chan, kamu mau memberikannya padaku, ‘kan? Lagipula, aku
kan adik perempuanmu yang manis! Kamu pasti lebih memilihku daripada
Shimotsuki-san, iya ‘kan?”
“Tahan
dulu. Aku ini teman imutnya Kotaro-kun, oke? Yah, aku
sedikit tidak puas karena masih hanya menjadi 'teman,' tapi terserah!!
Aku paham kalau adik perempuan itu imut, tapi kali ini, kamu harus
memprioritaskanku!”
““Grrr!””
Azusa dan
Shiho saling melotot, menggeram serempak, sementara Kotaro menggaruk pipinya
dengan canggung.
“Ini
mendadak sekali… Jadi pada dasarnya, kalian berdua menginginkan kue itu?”
““Kammu
mau memberikannya kepada siapa!?””
“Jadi
memakannya sendiri bukanlah pilihan, ya.”
Meski
tersenyum tenang di wajahnya, Kotaro meletakkan tangannya di dagunya,
memikirkan masalah itu dengan serius. Setelah berpikir sejenak…
dia perlahan berbalik ke arah Shiho sambil tersenyum hangat.
“Kira-kira siapa
ya
yang memakan puding Azusa tempo hari?”
“……S-Siapa
yang tahu~”
Shiho
mencoba berpura-pura bodoh dengan bersiul tak selaras, tetapi tak berhasil
mengelabui Kotaro.
“Kurasa
aku akan memberikannya pada Azusa kali ini.”
“Yay!”
“Gwahhh!”
Usai mendengar
perkataannya, Azusa mengangkat tangannya tanda kemenangan, sementara Shiho
berlutut kecewa. Kekalahan telak. Shiho
telah kehilangan ikatan persaudaraan antara Kotaro dan Azusa.
“Aku
sangat mencintaimu, Onii-chan~♪ Semoga beruntung lain kali, Shimotsuki-san!”
“Unyaa!”
Sambil diliputi
rasa gembira, Azusa mulai mengatakan hal-hal yang memalukan tanpa menyadarinya. Dia
menatap Shiho dengan pandangan puas saat dia mengambil kue Kotaro dari dalam
kulkas.
Melihat
punggungnya, Shiho tidak dapat menahannya lebih lama lagi.
“J-Jadi
kamu pilih kasih karena sudah mengenalnya lebih lama? Kotaro-kun,
bisa-bisanya kamu lebih memprioritaskan adikmu daripada aku …
itu kejam sekali!”
Bagaimanapun
juga, Shiho adalah tipe pencemburu. Dia berdiri dan
mengguncang bahu Kotaro.
“Hei,
Kotaro-kun? Kalau aku teman masa kecilmu—orang yang
paling lama kamu kenal—apa kamu akan memilihku di saat
seperti ini?"
Sebuah
kebenaran yang belum dia ceritakan padanya. Sebuah fakta yang
tidak pernah ingin diungkapkannya.
…Ah, aku
keceplosan!?
Shiho
hampir panik sesaat setelah kata-katanya sendiri terucap. Dia bertanya-tanya
apakah dia harus jujur dan mengakui bahwa mereka sebenarnya adalah teman masa
kecil—tapi kemudian…
“Nah.
Sekalipun kita teman masa kecil, aku tetap akan
memilih Azusa kali ini.”
Ternyata…
Shiho kalah begitu saja.
“Mustahil...”
Kejutan
itu menghantamnya dengan keras dan dia hampir terjatuh ke lantai. Namun
Kotaro menangkapnya tepat waktu.
“Eh,
bukannya aku lebih memilih Azusa daripada kamu atau semacamnya... Aku sebenarnya
mau ke Akihabara akhir pekan ini. Kupikir aku mau mentraktir mu sesuatu
yang manis selagi kita di sana.”
Ini bukan
tentang memprioritaskan Azusa, atau tidak memilih Shiho.
Kotaro
hanya memastikan untuk merencanakan sesuatu untuknya juga.
“Entah
itu teman masa kecil atau adik perempuan… hal-hal itu tidak terlalu penting.”
Dengan
ekspresi santai, ia mengatakan satu hal yang membuat
Shiho
paling bahagia. Hal-hal seperti gelar, waktu yang dihabiskan bersama, atau
siapa yang datang lebih dulu—semua itu benar-benar tidak penting.
“Mana mungkin aku
tidak menghargaimu,
Shiho.”
Hanya
dengan satu kalimat itu, semangat Shiho langsung terangkat.
Kotaro-kun
benar-benar
mencintaiku.
Menyadari
hal itu lagi, hatinya terasa luar biasa hangat.
“Ka-Kalau begitu aku
akan memaafkanmu... Ya ampun, Kotaro-kun, kamu sungguh luar biasa. Kamu membuat
jantungku berdebar kencang, tau?”
“Terima
kasih. Aku mencintaimu... apa mengatakan itu membuat jantungmu semakin
berdebar?”
“Ka-Kamu benar-benar tukang
gombal!”
Jantungnya
terasa seperti akan melompat keluar dari dadanya. Begitu dalam perasaan cintanya kepada
Kotaro.
“…Ugh.
Ini terlalu manis, rasanya aku mau muntah gula. Bagaimana bisa kalian mengatakan hal
memalukan seperti itu di depanku?”
Sementara
itu, Azusa mengerutkan wajahnya saat dia melihat pasangan yang tersipu itu
saling berpandangan.
“Ja-Jangan,
Azunyan! Kamu tidak boleh melihat ini! Kamu masih terlalu muda!”
“Ya,
sebaiknya kamu mengalihkan pandangan. Kamu belum siap untuk ini.”
“Kita ini seumuran! Dan
kalian cuma saling bermesra-mesraan! Padahal nggak ada yang serius-serius amat!
Menurut kalian, aku ini umur berapa!?”
“…Sepuluh,
mungkin?”
“Bukan
dua belas?”
“Aku
sudah lima belas tahun, oke!? Ugh, bahkan kamu meledekku sekarang,
Onii-chan!”
Kini pipinya
tersipu
karena alasan yang berbeda, Azusa mulai memukul bahu saudara laki-lakinya
dengan satu tangan, sementara Kotaro terkekeh dan mencoba menenangkannya.
Melihat
mereka, Shiho tersenyum lembut.
Suatu
hari nanti… Aku harap aku bisa menjadi lebih dari sekedar teman, seperti
mereka.
Untuk
saat ini, dia masih ‘hanya seorang teman’. Namun
suatu hari, Shiho ingin menjadi pacarnya—atau tidak, seseorang yang bahkan
lebih penting dari itu.
Aku ingin
menjadi bagian dari keluargamu juga.
Sama
seperti Azusa dan Kotaro—terikat oleh ikatan yang terlihat dan tak
terbantahkan.
Sambil
memikirkan hal itu, dia dengan lembut menekan tangannya ke dadanya yang
berdebar-debar.