EPILOG
Pokoknya,
seminggu telah berlalu sejak insiden itu selesai ditangani, lalu pada suatu hari libur, aku dan
Ash-oniichan
sedang menghabiskan waktu santai sambil menunggu Fine-chan menyiapkan makanan.
“Hei, Onii-chan, kenapa Onii-chan mengusap kepalaku dengan cara yang aneh begitu?”
Saat
aku bertanya sambil mengerjakan PR sekolah, Ash-oniichan menggaruk kepalanya dengan
bingung.
“Ah,
aku juga tidak begitu mengerti. Aku mulai mengusap kepala orang lain baru
setahun belakangan, jadi mungkin ada kebiasaan aneh yang terbentuk di suatu
tempat…”
Aku
sudah tahu jawabannya. Namun, ali tidak
perlu memberitahunya sampai Onii-chan
mengetahuinya sendiri.
“Aku
ingin jadi pelayan profesional.”
“Wah,
ini tiba-tiba sekali. Tapi bukannya
itu bagus? Pelayan yang handal katanya bisa mendapatkan gaji yang cukup tinggi.”
“Ya.
Jadi, sampai aku dewasa dan mandiri, bisakah Onii-chan memperlakukanku sebagai pelayan
magang?”
Onii-chan
terlihat terkejut mendengar usulanku. Tapi setelah melihat ekspresiku,
mungkin dia menyadari bahwa ini bukan lelucon, dan dia berbisik pelan, “Baiklah.”
Syukurlah.
Dengan ini, aku bisa menetapkan batas dalam diriku.
…Apapun yang terjadi, kakakku akan selalu menjadi Ash-oniichan, dan bukan kakak yang dulu.
Dan
sekarang, aku bukan Saya, melainkan
Aisha Leben.
Kenangan
indah itu akan tetap menjadi kenangan, dan aku akan melangkah ke masa
depan.
“Makan malamnya sudah siap!”
“Ah,
aku akan membantu!”
Dengan
begitu, aku mengambil langkah pertama untuk mewujudkan impian masa depanku yang
baru.
※ ※ ※
“Masalah
Putri Leticia sudah terselesaikan. Mantan putri itu dipengaruhi oleh penyembah
iblis dan menyebabkan insiden di istana. Sementara itu, pemimpin penyembah
iblis yang mengutuk Raja adalah Duke
Barrel yang telah meninggal.”
“Duke Barrel
itu adalah orang yang kesepian, dan rumor tentang kebutaannya akibat kecelakaan
beberapa tahun lalu sudah beredar di kalangan bangsawan. Sebagian besar orang
pasti akan menerimanya.”
Di
daerah vila yang terletak jauh dari ibu kota, terdapat kediaman resmi kerajaan.
Di ruang tamunya, seorang pria berpakaian pelayan, Christlight, dan sekelompok bangsawan muda
yang telah meningkatkan posisi mereka di istana setelah insiden pedang harta
karun berkumpul. Di tengah mereka, seorang pria berambut biru, Elzes,
mendengarkan laporan Christlight dengan puas sambil menikmati
aroma dari gelas anggurnya.
“Bagus.
Lalu, bagaimana dengan surat tuduhan yang wanita itu coba sampaikan kepada
ayahku?”
“Tuduhan itu
ditulis dengan teknik yang hanya menampilkan isi jika seseorang menyentuh buku
tersebut, dan telah ditutupi dengan sihir penghalang pengenalan, sehingga tidak
dapat terdeteksi oleh orang lain. Selain itu, kami berhasil menyusup ke kediaman Ash
Weiss Leben
saat dirinya dalam
perjalanan menuju istana dan berhasil mengambilnya.”
“Begitu ya, yang berarti sekarang kita hanya perlu
menghabisi para bangsawan tua yang mengganggu. Alasannya bisa dikaitkan dengan
dukungan mereka terhadap para penyembah iblis.”
“Baiklah.”
Setelah
mendengar instruksi Elzes, Christligt memberi hormat dan keluar dari
ruang tamu.
“Namun,
Yang Mulia, apa tidak masalah jika kita menyingkirkan Putri Leticia dan gadis pelajar itu serta mantan pengikut raja
iblis, necromancer, begitu saja? Menurutku
sihir menghidupkan mayat itu cukup berguna.”
Seorang
bangsawan muda bertanya kepada Elzes dengan nada cemas.
“Gadis pelajar yang dihidupkan untuk tujuan percobaan itu tidak
dapat menyamar sebagai manusia dan menjadi monster yang menjijikkan. Sementara
Leticia yang dihidupkan dengan teknik yang diperbaiki dan monster tipe slime
akhirnya menjadi liar. Dengan kata lain, mereka sudah tidak memiliki nilai guna
lagi. Malahan, jika kita terus memelihara mereka, mereka bisa menghancurkan kita.”
“Ah,
aku mengerti! Seperti yang diharapkan dari Yang Mulia! Pandanganmu berbeda dari
kami, orang-orang biasa!”
Menanggapi perkataan Elzes, para bangsawan muda
berusaha menjilatnya dengan pujian yang berlebihan.
Menanggapi
hal itu, Elzes hanya tersenyum ringan
dan berkata, “Aku
pergi merokok,”
sebelum meninggalkan ruangan.
“Apa
penghalangnya
sudah siap?”
Elzes
bertanya kepada Christlight yang menunggu dekat pintu.
“Sudah
selesai. Jika Yang Mulia memberikan instruksi, kami akan segera memasukkan
racun ke dalam ruangan.”
“Kalau
begitu, segera mulai. …Meskipun baik untuk waspada, mereka agak terlalu
mencolok. Jika kita terus membiarkannya,
mereka akhirnya akan
menunjukkan jati diri
mereka yang sebenarnya.”
“Baik,
Yang Mulia.”
Setelah
memberi instruksi kepada Christlight, Elzes keluar ke balkon untuk
merokok.
(Ayahku
akan kehilangan kekuasaannya
karena fakta dirinya
ingin menjadikan monster itu sebagai pewaris. Aku telah menempatkan mata-mata
di kongsi besar negara tetangga, jadi informasi akan terus mengalir ke sini.
Yang tersisa adalah…)
Hal
yang terlintas di benak Elzes adalah pedang suci legendaris, Pedang Harta Karun
Claire, yang diambil oleh saudaranya
dalam duel yang diadakan di arena akademi.
(Aku
akan membangkitkan raja iblis, mengayunkan Pedang Harta Karun Claire, dan menjadi raja dunia ini
sebagai sang penyelamat. Aku tidak bisa berhenti sampai keinginan ini
terwujud.)
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
