Chapter 5 — Tahun Pertama Perkuliahan, Oktober, Asamura Yuuta
Aku berangkat
kuliah menggunakan mobil. Karena rasanya lebih praktis untuk berbelanja juga.
Setelah berbelanja di supermarket, aku memarkir mobil di tempat parkir di
belakang apartemen dan berjalan ke pintu depan.
Aku menaiki
tangga logam yang rapuh di sisi bangunan dan membuka pintu kedua dari depan
dengan kunci yang kuambil dari saku. Kebiasaan membuatku mengucapkan “aku
pulang,” tapi tidak ada suara yang menjawab.
Hanya dua
minggu yang lalu, Saki, Ayah, dan Ibu tiri masih ada di sini untuk menyambutku.
Sekarang, aku tidak pulang ke apartemen yang ada di Shibuya, melainkan ke
sebuah apartemen kecil berusia 20 tahunan yang terletak 10 menit berjalan kaki
dari Stasiun Chuo Hino.
Aku menatap
kosong ke dalam ruangan yang sepi dan teringat saat mencari apartemen ini.
Stasiun Hino berjarak dua stasiun dari Stasiun Kunitachi, yang merupakan
stasiun terdekat dari Universitas Ichinose. Pada awalnya, aku mencari apartemen
di sekitar Stasiun Kunitachi, tapi tidak menemukan yang sesuai dengan kebutuhanku,
sehingga aku harus mencari lebih jauh dari pusat kota. Meskipun biaya parkir
terpisah, ketika sewa maksimumnya adalah 40 ribu yen, ternyata tidak mudah
untuk menemukan apartemen.
Aku kembali
berpikir bahwa memiliki mobil di Tokyo adalah sebuah kemewahan. Namun, sangat disayangkan
jika mobil yang ayah berikan padaku hanya dibiarkan di rumah dan tidak
digunakan. Meskipun tidak digunakan, biaya parkir, asuransi, dan biaya
pemeliharaan tetap harus dibayar. Jadi, lebih baik memilih apartemen dengan
tempat parkir dan membatalkan tempat parkir di rumah.
Akhirnya,
aku menemukan apartemen ini yang dekat dengan Stasiun Hino. Menyewa tempat
parkir di daerah Hino jauh lebih murah dibandingkan dengan menyewa tempat
parkir di apartemen dekat Stasiun Shibuya. Selisih biaya rata-ratanya bahkan
mencapai 30 ribu yen. Sebenarnya, biaya parkir di apartemen yang kusewa ini
hanya 15 ribu yen per bulan, kurang dari setengah biaya parkir yang dibayar ayah
di Shibuya. Begitu kontrak ditandatangani, aku meminta agar tempat parkir di
rumah dibatalkan. Ayahku yang khawatir, “Nanti saat pulang pakai mobil, tidak
ada tempat parkir,” tapi aku meyakinkannya bahwa lebih murah menggunakan kereta
saat pulang ke rumah. Pengeluaran yang tidak perlu harus dihindari.
Namun,
meskipun lebih murah daripada di Shibuya, biaya parkir ditambah sewa apartemen 40 ribu yen, totalnya menjadi 55 ribu yen setiap
bulan, dan jelas saja aku harus mencari pekerjaan paruh waktu untuk bisa
memenuhi pengeluaran itu. Biaya hidup juga perlu dikeluarkan, ditambah biaya
bensin. Aku ingin sebisa mungkin membiayai biaya kuliahku sendiri, jadi aku ingin
menghindari pengeluaran yang lebih besar.
Sebenarnya,
salah satu alasanku memilih daerah sekitar Stasiun Hino adalah agar lebih dekat
dengan tempat kerja paruh waktuku yang baru. Tapi, aku akan menceritakannya nanti.
Sudah
hampir dua minggu sejak aku pindah ke sini.
Saat ini,
aku masih menggunakan mobil untuk pergi ke universitas. Aku ingin cepat
terbiasa dengan mobil, dan meskipun ini terdengar memalukan, aku tidak ingin
menjadi pengemudi yang tidak berpengalaman di masa depan—jika suatu saat aku
lulus, bekerja, dan menikah. Tentu saja, pasangan yang duduk di sampingku dan
anak-anak di belakang tidak ingin melihat ayah yang takut-takut saat mengemudi.
Aku juga merasa takut.
Tapi...
mari kita mengesampingkan
imajinasi itu.
Dengan
demikian, selama dua minggu terakhir, aku menjalani rutinitas pulang ke
apartemen kosong ini.
Begitu
masuk, di sebelah kanan ada dapur kecil dengan satu kompor gas, dan di
belakangnya ada mesin cuci. Di seberang mesin cuci adalah toilet. Jika aku
menoleh ke kiri, ada wastafel dan kamar mandi. Dan jika aku menghadap ke depan,
ada ruangan yang satu-satunya menjadi kamarku. Ruangannya berlantai
kayu seluas 7,5 tatami. Di dalamnya hanya ada meja dan kursi. Di sudut ruangan,
ada rak warna untuk menyimpan buku.
Aku hanya
membawa buku-buku yang ingin kusimpan. Buku-buku baru akan aku kumpulkan untuk
dikirim ke rumah atau dibawa pulang dengan mobil. Meskipun sudah tidak ada
tempat parkir untuk mobil kedua di rumah, untuk waktu pemindahan barang, tempat
parkir koin saja sudah
cukup.
Saat aku
menyalakan lampu di ruangan yang kosong tersebut,
aku juga menyalakan AC. Aku meletakkan kunci di atas meja dan menurunkan tas
serta bahan makanan yang aku beli di supermarket.
Nah, sekarang... hal pertama yang harus kulakukan adalah—.
Kebiasaan
yang kubentuk sejak mulai hidup sendiri adalah merebus
air dengan ketel setiap kali pulang. Aku tidak boleh duduk. Jika aku duduk di
kursi dalam keadaan lelah, aku akan masuk ke dalam mode istirahat yang tidak
sadar. Dalam keadaan seperti itu, aku hanya ingin mandi dan tidur.
Namun,
begitu air mendidih, aku harus memindahkannya ke termos. Ini memberiku alasan
untuk bergerak dan tidak hanya diam. Dengan
semangat begitu, aku
bisa memasak makan malam, memanaskan air untuk mandi, dan merapikan ruangan.
“Aku
tidak membencinya, tapi aku bukan orang yang rajin,” gumamku
sambil mengawasi ketel yang mulai mendidih. Jika aku tidak berhati-hati, aku
akan kembali ke kebiasaan hidupku saat tinggal bersama ayah.
Jika dipikir-pikir kembali, jika
aku orang yang rajin, setelah ibuku pergi, aku pasti akan berusaha untuk hidup
seperti saat ibuku masih ada. Namun, aku dan ayah hanya bergantung pada makanan
siap saji, dan pembersihan pun hanya dilakukan sekadarnya. Itulah sebabnya ada begitu banyak kekacauan ketika kami menyambut kedatngan Saki dan ibu tiri.
Ah, itu
dia. Kehidupan saat hanya tinggal berdua dengan ayah.
Saat
membuka pintu depan, aku merasakan semacam déjà vu. Ruang kosong setelah membuka
pintu, udara dingin meskipun AC sudah dinyalakan, suara “aku pulang” yang seolah-olah menghilang ke dinding
putih—perasaan ini sama persis
dengan saat aku pulang ke rumah ketika hanya tinggal berdua dengan ayahku.
Sejak aku
masuk SMP hingga ayah menikah lagi, jadi
kejadian itu sudah sekitar empat tahun. Meskipun sudah dua
tahun sejak pernikahan itu, waktu yang kuhabiskan dalam kehidupan berdua itu
sebenarnya lebih lama, tapi aku sudah melupakan semuanya.
Sambil
menunggu air mendidih, aku menyimpan bahan makanan yang perlu dimasukkan ke
dalam kulkas dan menyisakan yang akan digunakan untuk makan malam. Di atas
talenan, ada terong yang dibungkus plastik. Ada lima buah terong ungu besar.
Selama seminggu terakhir, aku sebenarnya sangat menyukai terong panggang.
Setelah
mencuci terong, aku memotong bagian batangnya, membelahnya menjadi dua, dan
kemudian memotongnya menjadi ukuran yang mudah dimakan. Meskipun cara yang
sering kulihat di internet adalah memotongnya dengan cara acak, tapi bisa juga dipotong menjadi
bulatan atau hanya dibelah dan dibakar. Setelah mengolesi minyak, aku memanggangnya, lalu menambahkan campuran
mirin, gula, kecap, dan miso untuk dioles
lebih lanjut. Bisa juga ditaburi biji wijen atau ditambahkan minyak wijen.
Meskipun ada banyak teknik kecil, pada dasarnya hanya dengan ini sudah bisa
dimakan.
Karena
terlalu mudah, selama seminggu terakhir, aku terus memakannya sebagai lauk. Jika Saki mengetahuinya, dia pasti akan marah karena
kekurangan nutrisi.
Sambil
memanggang terong di wajan, aku membuat
salad, menghangatkan nasi yang sudah dibagi dalam tupperware di microwave,
menambahkan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya, dan yang ini, meskipun
butuh sedikit usaha, aku tetap menyiapkan sup miso,
maka sudah saatnya untuk makan.
Aku
meletakkan meja lipat di lantai kayu dan makan di atasnya.
Sambil
menyantap terong, aku teringat bahwa besok adalah hari pengumpulan sampah.
Setelah selesai makan, aku berpikir tentang persiapan dan meninjau mata kuliah untuk
besok, dan kemudian...
Aku
memikirkan tentang hari esok. Besok
adalah hari terakhirku bekerja paruh waktu di toko buku yang sudah lama
kujalani. Meskipun begitu, hampir semua proses serah terima sudah selesai, jadi
besok hanya perlu mengucapkan selamat tinggal.
Dan
minggu depan, pekerjaan paruh waktu baru akan dimulai.
Pekerjaan
paruh waktu baruku—aku akan
menjadi asisten editor manga.
Tempat
kerjaku adalah perusahaan
penerbitan yang dikelola oleh Torigoe-san,
yang diperkenalkan oleh Maru. Kantor penerbitan itu terletak di Hachiouji. Stasiun Hachiouji berada dua stasiun dari Hino.
Jika naik kereta ekspres Chuo, hanya butuh sekitar delapan menit untuk sampai.
Jika naik mobil, sekitar 20 menit. Baik dengan mobil maupun kereta, jarak yang ditempuh tidak
memakan waktu lama.
Mulai minggu depan, daerah tinggalku
akan berpusat di sekitar Hino, sehingga sepertinya aku tidak akan kembali ke
Shibuya, tempat aku dibesarkan, kecuali di akhir pekan.
Aku
merasa sedih karena waktu untuk bertemu Saki semakin berkurang—.
Tiba-tiba,
suara notifikasi berbunyi.
Saat
melihat ponsel, ada pesan dari Saki. Hanya stiker “OK”
yang singkat.
Aku
melihat jam di atas meja.
Sudah
hampir pukul tujuh.
—Apa aku
bisa belajar selama dua jam...?
Aku dan
Saki sepakat bahwa karena kami tidak bisa bertemu dengan mudah, komunikasi yang rutin sangat
diperlukan. Kami pun memutuskan, “Ketika
tidak ada kegiatan, mari kita melakukan video
call mulai pukul 10 malam, meskipun hanya 5 menit.” Sebelum pulang, aku sudah
memberi tahu bahwa aku baik-baik saja malam ini. Dan Saki membalas dengan pesan
OK.
Setelah
makan, aku membuang sampah dan mencuci piring. Setelah menyelesaikan berbagai
pekerjaan kecil, aku mulai mengerjakan tugas kuliah sambil menantikan panggilan
dengan Saki.
Ketika
aku tinggal di Shibuya, biasanya aku mulai duduk di meja setelah pukul 9, jadi
jelas sekarang aku memiliki lebih banyak waktu. Meskipun waktu untuk bertemu
Saki berkurang terasa menyakitkan, aku masih merasakan bahwa aku sedang mencoba
hal baru. Aku ingin terus melakukannya untuk sementara waktu.
Mungkin ini
kedengarannya terlalu mendadak, tapi aku
ingin membahas tentang hari Minggu. Bukan tentang kejadian yang terjadi pada
hari Minggu, melainkan cerita yang berkaitan dengan hari Minggu.
Pada
waktu seperti ini, jika pergi ke kantin pada
hari Jumat, kita bisa melihat zombie. Tentu saja, bukan zombie yang sebenarnya.
Kadang-kadang
di sudut kantin, ada sekelompok senior dengan wajah pucat yang
tampak murung, mereka semua makan
dengan lesu. Setiap suapan disertai dengan desahan, “Tidak selesai-selesai” atau “Aku bahkan harus datang pada hari
Minggu untuk melanjutkannya,”
dan sebagainya.
Ketika
aku merasa kebingungan dengan mereka itu siapa,
Kikuchi, yang tahu banyak tentang kehidupan kampus, memberitahuku, “mereka adalah zombie skripsi.” Pada waktu ini (yaitu dari musim
gugur hingga musim dingin), mahasiswa semester
akhir yang terjebak dalam skripsi mereka akan
berkeliaran di kampus dengan wajah pucat akibat begadang. Mereka terdengar
berkata “harus datang pada hari Minggu,” yang berarti mereka harus datang
ke kampus pada hari libur—bukan kerja pada hari libur, tapi kuliah pada hari
libur.
Meskipun
tidak sampai pada situasi yang mendesak seperti itu, faktanya adalah bahwa di
seminar atau klub, tergantung pada sikap masing-masing, ada kalanya mahasiswa
harus mengorbankan hari libur mereka
untuk beraktivitas di kampus. Aku jujur terkejut dengan kenyataan ini. Dunia
ini beroperasi dengan aturan baru yang jelas berbeda dari saat di SMA.
Namun,
bagiku yang belum ikut serta dalam hal-hal itu, hari Minggu masih bisa kugunakan
sebagai waktu untuk diriku sendiri.
Di masa SMA, waktu-waktu itu biasanya kuhabiskan untuk bekerja paruh waktu di
toko buku.
Hari ini
adalah hari terakhirku bekerja di toko buku yang sudah lama kujalani.
◇◇◇◇
Setelah
menyampaikan niatku untuk berhenti kepada manajer, satu bulan telah berlalu,
dan setelah hari ini, aku takkan kembali ke kota Shibuya untuk sementara waktu.
Tentu saja
aku menggunakan kereta untuk pergi ke toko buku di Shibuya.
Sangat sulit untuk memarkir mobil di sekitar Stasiun Shibuya, dan biayanya pun
sangat mahal, sehingga uang yang kudapatkan dari pekerjaan paruh waktu akan
tergerus oleh biaya parkir. Rasanya tidak enak jika selama satu bulan terakhir
yang sudah pasti akan berhenti, aku meminta penggantian biaya transportasi yang
berlebihan.
Aku
mampir ke toko buku menjelang sore,
menyelesaikan pekerjaan seperti biasa, dan mendekati akhir shift, aku
mengucapkan selamat tinggal kepada setiap rekan kerja, baik yang sudah menjadi
karyawan tetap maupun sesama pekerja paruh waktu. “Kami akan merindukanmu,” atau “Semangat kuliah, ya,” berbagai ucapan disampaikan kepadaku. Aku merasa senang karena
mungkin aku lebih diandalkan daripada yang kubayangkan.
“Rasanya
kehilangan banget jika
Asamura-kun pergi,” kata salah satu rekan. Meskipun
itu adalah pujian yang berlebihan, aku merasa terharu dan malu mendengarnya.
Setiap
kali itu terjadi, aku menyebut nama juniorku
yang bertanggung
jawab, yaitu Kozono-san.
Kozono
Erina adalah junior yang memulai pekerjaan paruh
waktunya saat aku kelas 3 SMA, dua tahun lebih muda
dariku, dan inilah pengalaman pertamanya bekerja paruh waktu di toko buku.
Namun, dalam waktu satu setengah tahun, dia sudah bisa melakukan berbagai tugas
mulai dari pelayanan pelanggan hingga mengoperasikan kasir dan merapikan rak,
hampir setara dengan karyawan tetap.
Kelebihan
khususnya adalah membuat pop rekomendasi “dari
seorang pegawai toko buku”.
Dengan ilustrasi yang imut, kata-kata rekomendasi yang mengemas emosi dalam
satu kalimat memiliki daya tarik yang membuat orang ingin membaca buku
tersebut. Meskipun Kozono-san tampaknya tidak memiliki kebiasaan membaca yang
kuat, mungkin karena itulah dia memiliki sudut pandang segar yang tidak
dimiliki orang-orang seperti aku yang terlalu tenggelam dalam membaca.
Hanya Kozono-san
yang bisa menulis, “Setelah
membaca 'Bunga untuk Algernon', saya merasa takut karena jika hewan peliharaan
kita adalah jenius, tetapi kita tidak bisa berkomunikasi, kita tidak akan
menyadarinya”. Aku
tidak memiliki sudut pandang itu.
Meskipun
tidak ada unsur horor, ungkapan “membaca
dan merasa takut” bisa
dianggap negatif sebagai rekomendasi, tetapi ketika Kozono-san bertanya
kepadaku, “Bagaimana
cara menulis rekomendasi untuk pop?”
aku menjawab, “Tulis
saja perasaan jujur Kozono-san setelah membaca.” Dan dia menulis seperti itu.
Jadi, aku langsung mengadopsi tulisannya. Aku merasa ini akan berhasil.
Reaksi
pelanggan terhadap pop tersebut sesuai dengan harapanku.
Saat aku
mengamati, pelanggan yang melihat pop Kozono-san akan mengernyitkan kepala, mereka kelihatannya berpikir,
“Apa maksudnya?” Mereka mengambil buku, melihat
sampul, dan membaca sinopsis. Di situ tertulis bahwa tikus Algernon
meningkatkan kecerdasannya melalui operasi...
Tujuan
utama adalah agar orang mengambil buku tersebut, jadi pada titik ini, pop yang
dibuat Kozono-san sudah menunjukkan efek yang cukup.
Ulasan Kozono-san
disampaikan dari sudut pandang seseorang yang tidak terbiasa membaca, dan
ternyata pegawai toko buku sering kali kesulitan dengan hal itu. Berkat itu,
dia mendapat pujian dari pelanggan dan rekan-rekan pegawai lainnya. Ilustrasi
tangan yang dilampirkannya juga
sangat lucu.
Yang
terpenting, dia selalu memastikan untuk membaca satu buku dengan baik sebelum
membuat rekomendasi, sehingga sangat menyenangkan. Jauh lebih baik daripada
menulis kalimat bombastis yang hanya mengutip teks promosi. Pada akhirnya, yang
paling mengesankan adalah apa ada substansi di
dalamnya.
Berkat Kozono-san
yang cakap, aku bisa merasa tenang saat
beralih pekerjaan paruh waktu.
Setelah
jam shiftku
berakhir, waktunya sudah
lewat pukul 11 malam.
Aku
berganti pakaian di ruang ganti, meletakkan sekotak kue yang dibawa sebagai
sumbangan di kantor, dan saat hendak pulang, aku membuka pintu kantor.
“Oh,
terima kasih atas kewajibanmu!”
“Kenapa
kamu mengucapkan kalimat seolah-olah aku baru keluar dari penjara? Dan, kenapa
Yomiuri-senpai ada di sini?”
Dengan
rambut hitam panjang yang menyerupai boneka Jepang, aku dibuat terkejut saat melihat Yomiuri-senpai
yang telah lulus dari universitas terlihat sedang menyeruput teh di kantor dengan santai. Seriusan, bagaimana bisa?
“Tempat ini
dilarang dimasuki siapa pun kecuali orang-orang yang
berkepentingan, tau?”
“Untuk
seorang senior yang datang merayakan perpisahan karena mendengar bahwa Kouhai-kun akan menyelesaikan tugas
terakhirnya, kata-kata itu sangat menyayat hatiku
loh. Iya ‘kan,
Erina-chan?”
“...Eh?”
Kozono
Erina yang tampak murung mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan
kosong. Dia masih mengenakan celemek
kerja.
“Oh,
Yuuta-senpai... selamat pagi.”
“Ya.
Sebenarnya, aku sudah mau pulang. Tapi, sekarang sudah
hampir pukul 9, Kozono-san, apa pulangnya baik-baik
saja?”
“Oh,
ya.”
Sambil
menjawab dengan linglung, Kozono-san perlahan-lahan berdiri dan keluar dari kantor dengan
tampang yang masih kebingungan. Mungkin dia akan berganti pakaian di ruang
ganti. Mereka yang berusia di bawah 18 tahun hanya boleh bekerja sampai pukul
10 malam. Aku sudah bisa bekerja shift malam, tetapi Kozono-san harus segera
pulang agar tidak melanggar undang-undang ketenagakerjaan.
Apa dia
bersama Yomiuri-senpai sampai sekarang? Meskipun aku penasaran dengan Kozono-san
yang tampak tidak fokus, aku berbalik menghadap Yomiuri-senpai.
“...Mungkin
sebaiknya Senpai pulang duluan sebelum dimarahi.”
“Kamu tidak
perlu khawatir. Yang membiarkanku masuk di sini justru Pak manajer sendiri. Dan karena satu-satunya yang
tersisa dari Yomiuri Juniors di toko adalah Erina-chan, aku datang juga untuk
memberi semangat. Manajer bilang, 'Mumpung
sudah mampir, ayo minum teh dulu, ya.'
Jadi, tidak masalah.”
Pak manajer...
sepertinya beliau masih berusaha merekrut Yomiuri-senpai...
Meskipun statusnya sebagai pekerja paruh waktu, dia sepertinya terlibat dalam
pengadaan buku, penataan rak, bahkan berkonsultasi tentang perekrutan pekerja
paruh waktu.
Sepertinya
dia sudah beberapa kali ditawari untuk menjadi karyawan tetap, tapi
Yomiuri-senpai selalu menghindar dan akhirnya pergi dengan santai setelah
lulus. Dia mengatakan bahwa dia sudah cukup dengan dunia toko buku, jadi aku
penasaran pekerjaan apa yang dia pilih, dan ternyata dia bekerja di bidang
penerbitan digital, yang rasanya tidak jauh berbeda.
“Apa
Pak manajer menyarankanmu untuk
pindah kerja?”
“Beliau
bilang, 'Jika kamu tidak suka dengan pekerjaan sekarang, datanglah kapan
saja.'”
Sudah kuduga
bakalan begitu.
“Yah, meskipun sibuk, tapi sepertinya aku tidak akan kembali
ke sini dalam waktu dekat.”
“Apa
pekerjaanmu sekarang menarik?”
Pekerjaan
setelah lulus akan menjadi urusanku dalam empat tahun ke depan, jadi aku memang
memperhatikannya.
“Yah lumayan menarik . Tapi
mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui itu memang menyenangkan. Karena aku
berpindah dari sisi pembaca ke sisi penjual, jadi kupikir selanjutnya adalah
berpindah ke sisi pembuat, sesuai namaku.”
Karena
Yomiuri-senpai adalah orang yang membaca dan menjual.
“Bagaimana
dengan pekerjaan paruh waktumu, Kouhai-kun?
Kalau tidak salah itu
pekerjaan sebagai editor manga? Kamu menemukan tempat kerja yang menarik, ya?”
“...Memangnya aku pernah bilang
pada Senpai, ya?”
“Hehe.
Pepatah bilang ada telinga
di dinding, dan ada mata
di shoji! Dan di
universitas Saki-chan, ada mata-mata kita noja.”
Noja,.
Dia menggunakan kata yang aneh lagi.
Omong-omong,
‘mata-mata’ berarti spy. Kadang disebut sebagai ‘agen rahasia’ atau ‘agen intel’. Dalam
konteks modern, kata ini tidak terlalu umum. Yomiuri-senpai adalah seorang kutu
buku sejati dengan jumlah bacaan yang jauh lebih banyak dariku. Kosakata yang dia miliki sangat kaya.
“Umm,
jadi itu berarti kamu mendengarnya dari
Saki?”
“Sayang
sekali. Aku punya teman yang tersisa di pascasarjana. Dan dia berteman dengan temannya Saki-chan.”
“Oh...
begitu ya.”
Itu
adalah sumber informasi yang sangat tidak langsung. Bagaimana dia bisa tahu
tanggal pengunduran diri hari ini?
“Tapi,
Senpai, kenapa kamu tidak muncul
ketika hari terakhir Saki bekerja?”
“Seorang
karyawan baru yang dalam masa percobaan tidak punya keleluasaan untuk itu!
Sebenarnya, aku ingin datang dengan membawa makanan seperti hari ini untuk
merayakannya.”
“Haha,
jadi begitu. Ehm... apa kamu mau makan ini juga?”
Aku
dengan santai mengambil kue yang mungkin adalah sumbangan dari senpai dan
memakannya bersama teh. Sambil
melakukan itu, aku dengan lembut mengeluarkan sekotak kue tradisional Jepang
dari dalam tas.
“Oh, yokan! Seperti biasa, kamu sangat perhatian banget ya, Kouhai-kun.”
Sebenarnya,
aku hanya meniru apa yang dilakukan
ayahku. Ketika aku bingung tentang apa yang harus dibawa sebagai sumbangan pada
hari terakhir, aku langsung teringat yokan yang dibeli
ayahku sebagai oleh-oleh untuk Ibu tiri ketika kami pulang dari Roppongi. Karena katanya enak, aku pikir
ini pilihan yang tepat.
Tiba-tiba,
pintu kantor terbuka dengan suara berderit.
“Ah,
syukurlah. Kamu masih ada
di sini. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal untuk
terakhir kalinya.”
Pak manajer
masuk sambil berkata demikian.
“Aku
juga ingin mengucapkan selamat tinggal sebelum pulang, jadi pas sekali.”
Sejak
saat itu, kami bertiga, manajer, Yomiuri-senpai, dan aku, mengenang kenangan saat
aku bekerja. Dalam percakapan, Senpai
secara tidak langsung membicarakan pekerjaannya yang sekarang. Dia mungkin
melihat bahwa aku tertarik pada pekerjaan. Dia adalah Senpai yang bisa memperhatikan
hal-hal seperti itu. Meskipun yang paling teringat adalah sisi humorisnya yang
konyol.
Ketika
manajer kembali bekerja, dan aku pun hendak mengakhiri percakapan dan pulang
karena apartemenku jauh.
Ketika
aku ingin keluar dari kantor setelah mengucapkan selamat tinggal terakhir,
Yomiuri-senpai berbicara seolah-olah tanpa bertanya, atau seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Tahu
enggak, Kouhai-kun? Kamu
secara tanpa sadar menghentikan
orang lain untuk menginjak gas, dan itu keahlianmu, jadi tidak perlu khawatir.
Tapi, kamu tidak pandai menginjak gas sendiri, ‘kan?”
Kakiku
yang hampir melangkah terhenti tanpa sengaja. Aku lalu menoleh ke arah Yomiuri-senpai.
“Eh...?”
“Kamu
tidak pandai menginjak gas, kan?”
Apa ini
berkaitan dengan pembicaraan tentang bergabung ke jalan tol? Aku tidak ingat
pernah membicarakan hal itu dengan Yomiuri-senpai...
Memang, itulah tantangan yang sedang
kuhadapi. Mengungkapkan niatku secara aktif dan memberitahukan orang-orang di
sekitarku. Hal yang sulit bagiku. Jadi,
senpai juga menyadari hal itu...
Yomiuri-senpai
benar-benar peka sekali. Namun, pembicaraannya tidak berhenti di situ saja.
“Tapi,
kamu pandai menghentikan orang lain untuk menginjak gas, ya? Terlebih lagi itu dilakukan tanpa
disadari.”
...Aku tidak mengerti bagian itu.
“Apa
maksudmu aku pandai
menghentikan orang lain yang melaju kencang? Aku tidak menyadarinya, sih.”
“Benar,
hanya saja, di dunia ini ada mobil yang menerobos lampu merah dan melaju
kencang, jadi sebaiknya kamu perlu berhati-hati.
Ini adalah pesan dari seorang Senpai
sebagai pesan perpisahan.”
“Kedengarannya
menakutkan.”
“Tapi,
nyatanya memang ada. Bukan berarti jika kamu saja yang
berhati-hati, semuanya akan aman. Mungkin orang yang melaju kencang juga punya
alasannya sendiri.”
Dia
berbicara dengan cara yang menarik perhatian.
“Aku
berharap yang terbaik untukmu. Semoga di tempat kerja baru nanti ada Senpai yang hebat sepertiku.”
“Ya,
baiklah. Hmm, iya.”
Senpai
tersenyum kecut.
“Itulah
yang kumaksud! Kurasa Saki-chan
juga sepertinya akan mengalami kesulitan.”
Sambil
berkata demikian, dia melambaikan tangan. Dia membelakangiku
dan mulai memainkan
yokannya. Mungkin itu sebagai tanda bahwa aku boleh pulang. Aku
membalas dengan anggukan ringan sebelum keluar dari kantor.
Sambil
berjalan, aku merenungkan percakapanku
dengan Yomiuri-senpai tadi.
“Dia
tidak pernah mengatakan itu adalah karya terakhir Dazai Osamu.”
Mungkin itu adalah firasat bahwa aku akan
bertemu dengannya lagi.
Ngomong-ngomong, novel terakhir dari
sastrawan Dazai adalah [Goodbye]. Dulu,
aku merasa terkejut karena mendadak ditanya,
“Apa karya terakhir Dazai?”. Setelah itu, dia bilang, “Itu hanya teka-teki biasa,” sambil mengabaikannya. Aku
akhirnya memahami bahwa itu adalah cara perpisahan khas Yomiuri-senpai.
Kata [goodbye] dalam bahasa Inggris berasal
dari ‘God be with you,’ yang memiliki nuansa [semoga Tuhan bersamamu]. Dalam pengertian itu, bisa
dianggap sebagai kata yang memberkati saat mengantar seseorang pergi, jadi rasanya tidak terlalu buruk.
Jika
disebut sebagai karya keenam dari seri Philip Marlowe, hal itu akan memberikan kesan
perpisahan yang lebih serius. Karya Raymond Chandler yang bergenre hardboiled.
Judul dari novel panjang keenam dalam seri Marlowe adalah ‘The Long Goodbye’. Yang
mana artinya perpisahan
yang panjang.
Aku
membuka pintu keluar khusus untuk
karyawan. Begitu
keluar, udara dingin langsung menyengat kulitku.
Malam itu
terasa cukup dingin untuk bulan Oktober. Aku
menggigil dan segera mengaitkan bagian depan jaketku, lalu dengan cepat menarik
ritsletingnya. Tiba-tiba aku menyadari ada seseorang yang duduk di tepi beton.
Tempat ini seharusnya hanya digunakan oleh karyawan, tetapi setelah melihat
lebih dekat, sosok kecil yang duduk itu adalah Kozono Erina.
Saat aku menuruni tangga, Kozono-san berdiri untuk
menyambutku.
“Yuuta-senpai…”
Ekspresinya
yang tampak cemas membuatku sedikit khawatir.
“Sekarang sudah hampir pukul 10. Jika kamu tidak segera pulang…”
“Karena
ini yang terakhir. Aku ingin bicara lebih lama
denganmu.”
Kira-kira
apa yang ingin dia bicarakan?
Meskipun ini di belakang gedung, tempat ini sudah menghadap ke jalan, dan angin
luar cukup kencang. Meskipun dia mengenakan pakaian yang cukup hangat, kurasa
dia pasti merasa dingin. Dia mengenakan jaket down di atas, celana hangat di
bawah, dan topi rajut yang sewarna dengan warna rambutnya. Namun, dia tidak
mengenakan sarung tangan, jadi terlihat dingin hanya dengan melihatnya.
“Jangan
bilang kamu sudah
menunggu lama?”
“Ya,
tidak... sekitar 10 menit.”
Seandainya
aku tahu, aku pasti akan memangkas obrolan
dengan manajer lebih cepat.
Namun,
apa yang harus dilakukan? Sebagai Senpai,
aku tidak keberatan mendengarkan cerita junior, tapi aku tidak bisa menahan Kozono-san
terlalu larut malam.
“Kalau tidak salah Kozono-san
juga naik kereta, ‘kan?”
“Ya.”
Aku tidak
tahu dari mana dia berangkat dari mana,
tetapi seingatku, dia bilang sekolahnya di SMA Aoki
Internasional. Jadi, jika dia bisa sampai
ke Shibuya, pasti tidak masalah.
“Baiklah,
aku akan mengantarmu ke stasiun. Mari kita bicara sambil berjalan. Jika itu
masih kurang, kita bisa bicara lagi di lain waktu. Bagaimana?”
“Senpai,
kamu sekarang tinggal di daerah Hino,
‘kan? Aku juga akan menuju
Shinjuku. Jadi, kita bisa jalan bersama sampai sana.”
“Baiklah.”
Aku
mengangguk. Jika begitu, aku bisa menemani perjalanan dari Shibuya ke Shinjuku.
Berjalan lebih baik daripada berdiri di sini berbicara dan merasa dingin.
Kami
mulai berjalan berdampingan.
Setelah
keluar dari belakang gedung yang memiliki pintu masuk, aku meminta Kozono-san
untuk menunggu sejenak. Aku teringat ada mesin penjual otomatis di sudut jalan.
“Maaf sudah membuatmu menunggu. Ini, terimalah.”
Sambil
berkata demikian, aku segera membeli dan menyerahkan kaleng cokelat panas.
“Ini...”
“Kamu pasti merasa dingin, ‘kan? Ini untukmu.”
“...Terima
kasih.”
Kozono-san
mengucapkan itu pelan. “Baik hati sekali,” katanya.
Menurutku,
ini adalah hal yang biasa saja.
Dia
perlahan membuka tutup kaleng dan menyeruput cokelat panas. “Hangatnya,” katanya sambil meneguknya.
Dengan tubuhnya yang kecil, Kozono-san tampak semakin kecil saat menghabiskan
cokelatnya. Dia menghela napas lega.
“Sudah merasa sedikit tenang?”
“Ah, ya.
Ehm... itu...”
Setelah
membuang kaleng di samping mesin penjual otomatis, Kozono-san kembali berjalan
di sampingku.
Namun,
meskipun dia bilang ingin berbicara, percakapan itu belum juga dimulai. Aku tidak punya pilihan lain selain
berjalan sepelan mungkin. Toko tempatku bekerja tidak terlalu jauh dari
stasiun, jadi jika aku berjalan cepat, kami akan segera sampai.
“Ehm…”
Kozono-san
mulai berbicara tetapi kemudian terdiam.
Aku terus menunggunya tanpa terburu-buru. Setelah
mencari-cari kata yang tepat,
Kozono-san akhirnya berhenti.
Saat aku terus menunggu, dia melangkah ke arah
pintu masuk stasiun di persimpangan jalan menuju stasiun. Dia turun ke tangga.
Tanpa punya banyak pilihan, aku mengikuti di
belakangnya. Meskipun berjalan di bawah tanah lebih hangat daripada di
permukaan yang diterpa angin, tapi tetap
saja...
Mungkin
karena sudah larut malam. Sebagian besar toko di bawah tanah sudah tutup, dan
jumlah orang yang lewat pun sedikit. Namun, karena ini Shibuya, mana mungkin tidak ada orang sama
sekali.
“Yuuta-senpai. Ke sini.”
Dia
menarik lengan bajuku dan masuk sedikit ke jalan kecil, bukan langsung menuju
stasiun. Menuju arah yang sepi. Dengan lengan yang ditarik, aku mengikuti Kozono-san.
Mungkin ini perkara yang
sulit untuk dibicarakan, karena begitu dia berhenti, dia menarik lengan bajuku
lebih kuat dan memeluk lenganku dengan kedua tangannya.
Posisinya
mirip seperti koala yang menggantung di
lenganku.
“Yuuta-senpai.”
“Ap-Apa? Maksudku, bisa tolong lepaskan sedikit? Aku jadi kehilangan keseimbangan…”
Dia
menarikku lebih dekat. Tiba-tiba, seperti dalam permainan rugby, Kozono-san
menabrak perutku dengan badannya. Dia melingkarkan lengannya di
belakang punggungku dengan kedua tangannya.
“Yuuta-senpai. Aku tidak mau menyerah.”
“Ehm...
ini, agak...”
Pikiranku dan instingku dibuat bimbang apa aku harus
melepaskannya atau tidak, dan kedua tanganku melambai di udara dengan canggung. Aku mengerti bahwa jarak ini bisa
menimbulkan salah paham, tapi jika aku dengan cepat menarik diri, itu bisa
dianggap sebagai penolakan yang kuat.
“Kamu tidak boleh begitu, Kozono-san. Kamu masih pelajar SMA, jadi kamu harus segera pulang.”
Aku
mencoba menasihatinya, tetapi Kozono-san tetap menempelkan kepalanya di perutku
dan menggelengkan kepalanya menolak.
“Aku,
meskipun terlihat seperti ini, belum pernah bolos sekolah.”
“I-Iya?”
“Jadi,
kurasa aku berhak untuk bersenang-senang sekali-sekali di malam hari.”
Karena
aku selalu menabung dengan serius, terkadang aku merasa tidak masalah untuk
mengeluarkan sedikit uang dan bersenang-senang—meskipun dia mengatakannya seperti itu, aku
berpikir bahwa kepercayaan tidak seharusnya seperti itu.
Pikiran
yang tidak berguna itu melintas di kepalaku—dan aku
menjadi lengah.
Tiba-tiba,
Kozono-san menarikku dan membuatku membungkuk. Wajahnya mendekat ke arahku. Dia
menatapku dengan mata yang terpejam
rapat,
melingkarkan lengannya di punggungku dan mengencangkan cengkeramannya, seolah
menunggu sesuatu. Dengan perlakuan seperti itu, meskipun aku tidak
berpengalaman dalam hal ini, aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Aroma
manis melayang di depan hidungku. Aroma
cokelat yang samar.
Bibir Kozono-san
semakin mendekat ke wajahku. Kelembutan tubuhnya yang menempel di tubuhku
membuat sebagian otakku seolah-olah mati rasa.
Bibir
kami semakin dekat, dan jika kami
terus berlanjut seperti ini,
bibir kami akan saling menempel. Hanya
tinggal sedikit lagi.
Secara
refleks, aku meletakkan kedua tanganku
di bahunya—dan aku
mendorongnya menjauh dengan lembut.
Sama seperti dalam novel romantis,
wajah kekasihku muncul di benakku, dan aku menahan diri untuk tidak berbuat
yang tidak setia.
—Tapi
bukan itu alasannya.
Sejujurnya,
pada saat itu wajah Saki tidak muncul di pikiranku. Ketika tubuhnya yang lembut
menempel padaku dan naluri yang penuh hasrat membisikkan sesuatu, apa yang menahanku dalam hal ini,
adalah sesuatu yang lebih sederhana. Meskipun aku dianggap kering, pada saat
itu aku tidak bisa bersikap bijak.
Jika aku
benar-benar kering, mungkin akan ada rasa rindu yang tenang kepada pasangan
seperti suami istri yang sudah lama bersama, dan itu bisa menjadi pengendali.
Namun, tampaknya sifatku adalah seorang pemuda yang cukup normal.
Jadi,
meskipun aku mendorong tubuh Kozono-san, alasan di balik tindakanku bukanlah
akal sehat, melainkan potongan kenangan pahit dari masa kecilku yang bersemayam dalam diriku.
Itu adalah
kenangan wajah ayahku yang lelah. Ibu kandungku yang mungkin telah menyerah pada
semacam godaan dan berselingkuh dengan pria lain,
menghancurkan hubungan keluarganya sendiri.
Pada malam ketika ibuku pergi dari
rumah, wajah ayahku yang tampak linglung seperti hantu kini terbayang
di belakang Kozono-san.
Aku
secara refleks menguatkan
lenganku untuk menghentikan diriku melangkah lebih jauh.
Kozono-san
tampak terkejut.
“Apa...
aku tidak cukup baik untukmu?”
Bukan begitu masalahnya.
“Maafkan aku, Kozono-san.”
Hal
yang menahanku bukanlah perasaanku
terhadap Saki.
Melainkan
serpihan kenangan masa kecil.
Dan
sesaat kemudian, wajah Saki muncul di benakku. Wajahnya tidak marah atau
menangis, tetapi tampak seolah bertanya, “Kenapa?” dan aku merasa seperti
ditelan lubang hitam di perutku.
—Aku
ini... benar-benar tidak berguna.
Ketika
aku bekerja paruh waktu di toko buku, aku menyadari bahwa Kozono-san
menyukaiku. Namun—aku
tidak pernah berpikir bahwa perasaan itu akan mengarah pada tindakan fisik
seperti ini, jadi...
“Maafkan aku, Kozono-san.”
Aku mengulanginya.
Setelah
itu, aku menampar pipiku sendiri dengan keras. Suara kerasnya menggema di
terowongan. Pada saat itu, seorang pegawai yang berjalan melewati jalan sempit
di antara toko-toko tempat kami berada tampak
terkejut, tapi ia segera
menyesuaikan jasnya dan berjalan cepat menjauh.
Kurasa itu
karena... dirinya
tidak ingin terlibat.
“Se... Senpai?”
Kozono-san
terbelalak.
“Wah,
pipimu merah padam! Apa
yang baru saja kamu lakukan?”
“Pelanggaran
karena mengemudi sambil melihat ke samping akan menambah dua poin sebagai
pelanggaran kewajiban mengemudi dengan aman.”
“Hah?”
“Jika seseorang menyebabkan kecelakaan yang
mengakibatkan cedera atau kematian, tambahan poin
sanksi akan bervariasi dari dua hingga dua puluh poin
tergantung pada tingkat kerusakan. Jika total pelanggaran mencapai lima belas
poin atau lebih, lisensi akan dicabut.”
“Eh? Apa?
Hah?”
Baiklah.
Sepertinya pengetahuan yang kupelajari selama musim
panas lalu belum berkarat. Aku
menghela napas. Aku hampir saja mendapatkan larangan satu kali dari izin percintaan.
“Tidak
ada apa-apa. Ehm, jadi... aku punya—”
“Karena
ada Ayase-senpai, ‘kan?”
“...Iya.”
“Aku
tidak keberatan, meskipun hanya sebagai pasangan selingkuhan.
Asal ada sedikit rasa bersalah yang muncul, dan akhirnya kamu memilihku,”
katanya.
“Tunggu,
tunggu, tunggu.”
Keputusan
itu terlalu menakutkan.
Tindakan
nekat yang dilakukan oleh junior yang dua tahun lebih muda dariku ini membuatku teringat pada kalimat,
“Di dunia ini ada mobil yang menerobos lampu merah dan melaju kencang.”
Senpai,
jangan bilang kalau kamu mendengar rencana Kozono-san, ‘kan?
“Aku
tidak bisa menunggu! Jika aku hanya menunggu...
aku tidak akan pernah mendapatkan Yuuta-senpai lagi...”
Perkataan Kozono-san kali ini membuatku terkejut. Dan aku teringat bahwa ada
kelanjutan dari kata-kata Yomiuri-senpai.
—Mungkin
ada alasan dari pihak yang melaju kencang juga.
“Apa terjadi...sesuatu?”
Aku
berusaha berbicara dengan suara yang sehalus mungkin. Tubuh Kozono-san bergetar
ketika mendengar kata-kataku.
“Bukan apa-apa... tidak ada sesuatu yang terjadi.”
Kemudian Kozono-san
kembali menunjukkan ekspresi itu. Saat kami berjalan di jalan menuju stasiun,
ketika dia ragu untuk berbicara dan tampak tertekan. Dia tampak seperti ingin
menangis. Aku tidak pernah melihat wanita lain selain Saki yang menangis di depanku.
Aku
bingung harus berbuat apa. Di dalam diriku, tidak ada pengetahuan yang berguna
untuk menghadapi situasi seperti ini. Aku hanya sedikit menundukkan badanku agar setinggi matanya dan
menunggu dengan tenang agar dia membuka mulutnya.
Sekilas,
mata Kozono-san tampak berkaca-kaca. Dia berusaha menahan ekspresi agar tidak
menunjukkan sesuatu dan menunduk.
“Jangan... perlakukan aku seperti anak kecil...”
“Pasti ada sesuatu... yang terjadi, ‘kan?”
Dia
mengeluarkan suara kecil yang tertekan... Kozono-san lalu berkata dengan suara yang hampir terdengar seperti sedang
berbisik,
“Seriusan, tidak ada yang terjadi. Hanya
saja... Yomiuri-senpai sudah tidak ada.”
“Ya.”
“Ada kalanya aku benar-benar sangat
tidak menyukainya, tetapi kadang-kadang dia sangat
baik padaku, Ayase-senpai juga sudah tidak ada.”
“Ya.”
“Dan
sekarang, Yuuta-senpai
juga akan menghilang...”
...Begitu ya.
“Apa kamu
merasa kesepian?”
Setelah
terkejut lagi, dia perlahan-lahan dan dengan
sangat pelan, mengangguk.
Kami
bersama-sama menaik kereta jalur luar Yamanote dari stasiun Shibuya menuju
Shinjuku. Kozono-san dan aku akan berganti kereta di sana. Aku menawarkan untuk
mengantarnya sampai ke pintu masuk pergantian, tetapi dia bilang tidak perlu.
Aku
melihat sosoknya yang pergi menjauh. Punggung kecil Kozono-san yang
menjauh segera hilang di keramaian stasiun Shinjuku. Dalam perjalanan dari Shibuya ke
Shinjuku, Kozono-san sedikit bercerita tentang keadaan terbarunya.
Dia
mengatakan bahwa tidak ada peristiwa serius yang terjadi. Hanya saja, dia naik
ke kelas dua dan masuk ke dalam kelas
baru, berusaha untuk tidak menjadi sasaran serangan, dengan berperilaku sedemikian rupa agar disukai oleh salah
satu siswa laki-laki yang menjadi pusat perhatian kelas—selama enam bulan
terakhir, dia berhasil melakukannya dengan baik...
Ketika
semester kedua dimulai, beberapa waktu setelah itu,
“Aku
mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan. Seperti Ayase-senpai, yang
sedikit lebih ekstrem.”
Aku
berpikir bahwa dalam pandangannya, Saki cukup agresif. Namun, jika
dipikir-pikir, Saki adalah orang yang menggambarkan fesyennya sebagai “persenjataan.”
Mungkin tidak jauh dari kenyataan.
Jadi,
sekarang dia sedikit dikucilkan
di dalam kelas. Meskipun situasinya cukup serius, setelah
mengeluarkan semua unek-uneknya,
wajah Kozono-san tampak lebih cerah, dan dia berkata, “Sudah cukup.”
“Aku
merasa ini mungkin lebih santai. Ya, tidak
apa-apa. Aku berpikir untuk melakukan apa yang ingin
kulakukan.”
Dia tidak
terlihat memaksakan diri. Seolah-olah beban berat telah terlepas darinya. Dia mengucapkan terima kasih saat
kami berpisah, tapi aku merasa tidak melakukan apa pun untuk membantunya.
Sepertinya Kozono-san telah menyelamatkan dirinya sendiri.
Saat aku menaiki kereta ekspres Chuo yang melintasi pusat kota di malam
hari dalam perjalanan pulang, aku berpikir.
Apa
tindakanku sudah benar?
Namun,
aku berusaha untuk menyampaikan perasaanku kepada Kozono-san, bahwa aku menghargainya
sebagai junior, meskipun aku tidak bisa sepenuhnya menerima perasaannya. Dengan cara yang
bisa kulakukan saat ini.
Dan aku
bersyukur karena tidak melakukan tindakan yang akan membuat Saki bersedih.
Sejujurnya,
tadi itu sangat berbahaya.
Jika saja
tinggi badan Kozono-san beberapa sentimeter lebih tinggi, jarak antara bibir kami berdua juga lebih dekat beberapa
sentimeter. Jika aku memiliki sedikit kekuatan untuk menahan doronganku yang
lemah.
Aku pasti
tidak akan bisa menolak dan akan saling berciuman
dengannya.
Aku
beruntung karena kelengahanku
tidak menyebabkan kejadian fatal.
Aku nyaris terjebak.
Walau
demikian, Kozono-san juga mengalami perubahan lingkungan
yang mengguncang hatinya, dan dia terpaksa menjadi versi dirinya yang berbeda
dari sebelumnya.
Ketika
memulai kehidupan baru, ketika melangkah ke dunia yang tidak dikenal, peristiwa
yang mengguncang diri sendiri bisa terjadi pada siapa pun. Sekali lagi, aku
harus lebih tegas. Aku harus memastikan kalau aku
tidak kehilangan diriku sendiri.
Aku berpikir demikian dan menguatkan tekadku.
Ketika
tenggelam dalam lamunanku, aku dengan cepat mendekati
stasiun tempatku harus turun.
Saat
mengeluarkan ponsel untuk memeriksa waktu, aku menerima notifikasi konfirmasi
panggilan malam ini dari Saki. “OK,” tulisnya. Usai melihatnya, aku menghela napas yang sudah
kutahan. Perasaan lega muncul. Hari ini akan lebih larut dari biasanya, jadi
tidak aneh jika dia menolak. Namun, rasanya aku tidak bisa tidur tanpa
berbicara dengannya malam ini.
Nafasku
membekas di jendela kereta, membuatnya berkabut putih. Saat aku mengusap
jendela dengan jari, terlihat lampu-lampu rumah di kejauhan. Kecepatan kereta
meningkat, lampu-lampu kota yang berjejer semakin cepat menghilang ke belakang.
Menuju arah belakang, ke masa lalu.
Nama
stasiun berikutnya diumumkan. Hino. Stasiun tempatku turun. Kecepatan kereta
melambat.
Dalam 30
menit, aku akan bertemu Saki.
Aku ingin
mendengar suaranya. Kereta meluncur ke peron, kehilangan kecepatan hingga
akhirnya berhenti sepenuhnya, dan pintu terbuka.
Saat
turun ke peron yang sepi di tengah malam, aku melangkah menuju apartemenku sambil memikirkan panggilan
dengan Saki.
◇◇◇◇
Pada suatu
hari di pertengahan Oktober. Beberapa
hari telah berlalu sejak aku mulai bekerja paruh waktu di tempat baru.
Nama
perusahaan tempatku bekerja adalah PT. Veil Factory. Itu adalah sebuah perusahaan kecil,
bukan penerbit besar, yang dikenal sebagai produksi editorial.
Lalu, apa
bedanya antara produksi editorial dan
penerbitan?
Secara
garis besar, penerbit adalah perusahaan yang menangani segala hal yang
berkaitan dengan buku. Mereka memutuskan jenis buku yang akan diterbitkan,
membuatnya, menjualnya, dan mengelola persediaan.
Sementara
itu, produksi editorial hanya melakukan sebagian dari pekerjaan yang dilakukan
penerbit.
Misalnya saja, mari kita lihat karya manga
berjudul ‘Raimei’ yang menjadi alasan aku datang
ke tempat kerja ini. Manga ‘Raimei’ sebenarnya digambar oleh seorang
mangaka dengan nama pena ‘Beradonna.’
[Raimei] adalah cerita yang telah lama
disiapkan oleh Beradonna-sensei,
yang telah menunggu kesempatan untuk diterbitkan. Manga editor yang telah lama
akrab dengan Beradonna-sensei
adalah Torigoe-san, yang
kukenal dari pertandingan baseball
amatir.
Torigoe
mengajak Beradonna untuk mengubah [Raimei] menjadi buku dan
mempromosikannya ke penerbit besar. Mereka membuat proposal dan berhasil
mendapatkan slot untuk serialisasi
di salah satu majalah manga besar.
Dengan
latar belakang seperti itu, [Raimei] adalah karya yang dibuat oleh
Beradonna, sementara Torigoe-san
(yaitu Veil Factory) melakukan pekerjaan editorial, dan sekarang diterbitkan
oleh penerbit.
Produksi
editorial adalah perusahaan yang membantu membuat buku.
Kantor
Veil Factory yang terletak di Hachiouji berada di dalam gedung campuran yang
dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar lima menit dari stasiun. Meskipun
bukan ruang besar yang teratur dengan banyak meja seperti yang sering terlihat
di gambar drama atau kantor, tetap saja, ada belasan orang yang bekerja di sana
setiap saat.
Veil
Factory bukanlah produksi editorial yang khusus untuk manga. Mereka telah
membuat berbagai jenis buku, mulai dari buku praktis hingga novel. Meskipun
manga adalah bagian dari bisnis mereka, mereka tidak terlalu fokus pada itu.
Namun,
setelah kesuksesan [Raimei], Veil Factory memutuskan untuk
lebih serius dalam mengembangkan divisi manga, dan seiring dengan rencana tersebut, mereka mulai merekrut
tenaga kerja, sehingga aku bisa bergabung sebagai pekerja paruh waktu.
Namun,
menjadi pekerja paruh waktu tetaplah menjadi pekerja paruh waktu.
Karena
aku berkuliah di Universitas Ichinose
yang memiliki jadwal kuliah yang ketat dan tidak membiarkan mahasiswa membolos, mana mungkin aku menjalani kehidupan
yang penuh dengan pekerjaan paruh waktu. Aku masuk kantor biasanya dari jam 6
sore hingga sekitar jam 11 malam pada hari kerja. Selain itu, aku juga bekerja
penuh waktu pada hari Sabtu. Ini berlangsung sekitar 4 hingga 5 hari dalam
seminggu. Aku tidak berharap bisa mendapatkan pengalaman lengkap tentang
pekerjaan pembuatan buku hanya dengan keterlibatan sebesar ini.
Aku tidak
memandang hal ini sebagai batu loncatan untuk menjadi karyawan
tetap di penerbit besar, melainkan sebagai seseorang yang tertarik pada buku
yang datang atas rekomendasi teman. Pekerja paruh waktu adalah pekerja paruh
waktu. Aku tidak berencana menjadi
editor, dan aku tidak mencari jalan pintas ke industri ini. Aku ingin menjaga
batasan itu dalam diriku.
Lagipula, jika
seseorang ingin menjadi editor di penerbit
besar, cara tercepat adalah dengan lulus dari universitas dengan nilai tinggi.
Seharusnya aku menghabiskan waktu dengan serius di Universitas Ichinose,
terlibat dalam penelitian yang berharga, dan membangun prestasi sebagai
mahasiswa.
Apa aku
ingin bekerja di penerbit? Itu masih belum pasti.
Oleh
karena itu, ini bukanlah langkah yang melihat ke masa depan, tetapi sebuah
tantangan untuk mengambil langkah baru, apapun itu.
“Selamat
pagi.”
Aku
membuka pintu kantor produksi editorial dan menyapa.
Pagi hari
di hari Sabtu, pukul 9.
“Selamat
pagi, Asamura-kun, kamu datang lebih awal ya.” Ada
suara yang membalas sapaanku.
Di lantai
yang dipenuhi sekitar sepuluh meja yang dipenuhi tumpukan dokumen, tidak ada
bayangan orang. Pintu
di bagian belakang terbuka dan pemilik suara tersebut
muncul.
“Torigoe-san,
apa Anda menginap
lagi di sini?”
“Hahaha...
Sebenarnya, ya, karena batas waktu semakin dekat, jadi harus begini.”
Di balik
pintu itu ada ruang tidur sementara. Ketika pekerjaan editorial semakin mendesak, tidak jarang mereka
tidak bisa pulang dan harus menghabiskan malam di ruang tidur seperti ini.
Meskipun belakangan ini, semakin banyak pekerjaan yang bisa dilakukan secara jarak jauh, jadi jumlahnya berkurang
dibandingkan dulu.
Sambil
menguap besar, Torigoe datang ke mejanya dan duduk.
Meja
besarnya berada di
dekat jendela. Meja tersebut ditempatkan sedikit terpisah dari dari meja-meja
yang saling berdekatan. Torigoe-san awalnya adalah seorang editor yang bekerja
di penerbit besar, namun ia melompat keluar untuk mencari kebebasan, dan saat
ini menjabat sebagai eksekutif di Veil Factory. Oleh karena itu, posisi mejanya
sedikit terpisah dari yang lain. Namun, Veil Factory adalah perusahaan kecil,
jadi meskipun dirinya menjabat sebagai
eksekutif, ia tidak bisa lepas dari pekerjaan di lapangan. Faktanya, [Raimei] adalah karya yang langsung
diedit oleh Torigoe-san.
Aku duduk
di salah satu meja di depan Torigoe-san.
“Asamura-kun,
apa kamu sudah terbiasa dengan pekerjaan?”
“Ah,
ya. Ehm... entah bagaimana, sedikit demi sedikit.”
“Ya.
Baiklah, kamu tidak
perlu memaksakan diri. Karena kamu
masih mahasiswa.”
“Terima
kasih. Tapi, karena sudah dipilih, saya akan berusaha.”
“Hmm.”
Torigoe-san
mengangguk kecil sambil menurunkan dagunya, lalu menyalakan PC yang ada di
mejanya dan mulai bekerja. Aku juga meletakkan tas dan segera mulai mengerjakan
tugasku. Memeriksa kemajuan pengiriman dan koreksi
dari penulis yang ditangani Torigoe-san. Memasukkannya ke dalam jadwal. Setelah
itu, membuka paket yang datang dari percetakan, membagikan draft warna dan kertas koreksi kepada karyawan lainnya, menyiapkan pengiriman
proof untuk penulis, dan untuk penulis yang berbasis digital, menyiapkan data
dan email.
Setelah
mulai bekerja selama satu atau dua jam, beberapa karyawan mulai muncul satu per
satu.
Namun,
jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan hari biasa. Semua orang saling
menyapa dengan kata-kata yang minim, lalu segera kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Pada hari kerja ini,
termasuk aku, ada sekitar lima orang yang hadir.
Hingga
menjelang siang, tidak ada yang berbicara satu sama lain, semua terfokus pada
pekerjaan mereka sendiri. Saat sudah lewat pukul 12, Torigoe-san
mendekat ke mejaku dan mengajakku untuk pergi makan siang bersamanya.
Kami
masuk ke restoran Vietnam yang dekat stasiun.
Restoran
kecil itu terletak di lantai dua sebuah gedung. Tepat pada waktu makan
siang, dari set menu makan siang yang ada dari A hingga F, aku memesan menu paket C, sedangkan Torigoe-san memesan
menu paket A.
“Apa
ini pertama kalinya kamu ke restoran masakan Vietnam?”
“Ah,
ya.”
Mungkin
karena aku sedang melihat-lihat interior restoran yang unik, Torigoe-san
bertanya, dan aku mengangguk dengan jujur.
Di dalam
restoran yang panjang dan sempit, ada berbagai tenunan dan hiasan dinding yang
kaya akan warna lokal, dan saat duduk di meja dan kursi yang terbuat dari kayu
yang indah, tidak lama kemudian menu
makan siang kami dihidangkan. Jumlah pelanggan mungkin sekitar delapan puluh
persen dari tempat duduk yang tersedia. Mungkin
karena aku masuk sedikit lebih awal, kami bisa makan dengan tenang tanpa
terlalu ramai.
“Apa
Anda sering datang ke sini, Torigoe-san?”
“Tidak.
Tidak juga. Di Hachiouji ada banyak restoran yang berbeda, jadi aku berusaha
untuk menjelajahi sebanyak mungkin.”
“Sebisa
mungkin... apa Anda sengaja
melakukannya?”
Ketika
aku bertanya, tatapan Torigoe-san tertuju padaku. Ada kilau ceria di
matanya.
“Aku
sudah mendengarnya dari
Maru-kun... begitu rupanya.
Kamu punya pengamatan yang baik.”
Aku
merasa seolah-olah dia mengucapkan sesuatu yang penuh makna.
“Eh?”
“Oh,
tidak, ya. Hmm, editor—kurasa
para Sensei juga begitu. Kita perlu memiliki
dua sudut pandang secara bersamaan.”
Ketika
editor menyebut seseorang sebagai Sensei, itu pada dasarnya merujuk pada
penulis. Terlepas dari apa mereka benar-benar dihormati atau tidak, biasanya
kebiasaan itu telah terbentuk untuk menyebutnya seperti itu.
“Dua
sudut pandang, ya?”
“Pandangan
penggemar yang bisa mengagumi kelebihan penulis yang ditangani dan objektivitas
untuk memeriksa apa itu dapat menjangkau banyak orang. Tanpa yang pertama,
pekerjaan bisa menjadi dangkal, dan jika yang kedua hilang, sebuah karya takkan laku. Tergantung
pada penulisnya, ada kalanya salah satu dari
keduanya sudah cukup untuk mendapatkan kepercayaan, tetapi jika kita ingin
membangun hubungan yang lebih baik dan mencapai hasil yang lebih baik, kita
ingin memiliki keduanya.”
“Begitu ya.”
“Jadi,
objektivitas itu pada dasarnya adalah seberapa luas pandangan yang bisa kita
miliki. Untuk memperluas pandangan, kita perlu memiliki berbagai pengalaman.”
Begitu rupanya. Jadi, itu sebabnya ia tidak
menyia-nyiakan satu pun kesempatan makan siang dan berusaha pergi ke berbagai
restoran. Ketika aku mengungkapkan pikiranku, ia mengangguk setuju.
“Ya,
ada juga keuntungan mengetahui berbagai restoran saat bertemu dengan penulis.
Jika kita bisa menyiapkan tempat dengan cerdas, itu akan terlihat keren, ‘kan?”
Saat ia
sedikit bercanda, aku merasa mulai memahami karakter Torigoe-san.
“Jadi,
tentang pekerjaan yang sekarang kuminta dari Asamura-kun.”
“Ya.”
“Setelah
itu selesai di sore hari, aku ingin sedikit meminjam pandanganmu.”
“...Pandangan saya?”
Apa aku
punya pandangan yang bisa dipinjam, padahal aku baru saja mulai membantu
pekerjaan editorial beberapa hari yang lalu?
Ketika
aku mengatakan itu, ia memberitahuku bahwa aku tidak perlu berpikir terlalu
berat tentang hal itu.
“Sampul
baru untuk edisi terbaru 'Raimei' sudah siap.”
Hah? Aku tanpa sadar mencondongkan
badanku ke depan karena tertarik.
Seri ini
sudah lama hiatus, jadi sudah lama tidak ada volume baru. Mungkin sudah
setahun. Sebagai pembacanya, informasi itu membuatku
bersemangat.
“Desainer
telah memberikan layout-nya, tetapi kita akan membicarakannya lebih rinci
setelah pulang. Sudah ada dua opsi, tetapi aku juga ingin mendengar pendapat
dari anak muda.”
Jadi, ia
ingin mendengar pendapat dari penggemar seumuranku. Jika itu yang diinginkan,
aku hanya perlu mengungkapkan pendapat jujurku, jadi mungkin aku bisa
membantu.
“Apa
pekerjaanmu cukup berat? Apa kamu baik-baik saja?”
“Sejauh
ini, saya baik-baik saja. Sebelum memulainya, saya
tidak menyangka ada begitu banyak jenis pekerjaan editor.”
Pekerjaan
yang harus dilakukan di Veil Factory sangat beragam. Jika dirangkum secara
kasar, ada tiga kategori utama: “pekerjaan
administrasi dan tugas umum,” “dukungan penyuntingan,” dan "pekerjaan yang lebih
kreatif.”
Menjelaskan
masing-masing dengan detail akan memakan waktu dan mungkin membosankan, jadi
aku tidak akan menjelaskan semuanya, tetapi intinya adalah pekerjaan ini sangat
luas.
Aku
teringat kembali pada Saki yang sedang magang di kantor desain. Dia mengatakan bahwa dia bekerja seperti sekretaris
untuk Ruka-san. Meskipun
dia merendahkan diri dengan
mengatakan bahwa itu tidak terlalu sulit karena tidak melakukan desain secara
langsung... Aku merasa seharusnya aku lebih menghargainya ketika kami berdua
menghadiri acara yang melibatkan Saki.
Pekerjaan
serupa juga ada di pekerjaanku, dan aku telah mengalami kesulitan itu dengan
satu putaran keterlambatan.
Pekerjaan
yang jelas berbeda dari pekerjaan sekretaris dan khas pekerjaan editorial
adalah “dukungan penyuntingan”.
Itu adalah pekerjaan yang paling
mendekati pengertian umum tentang pekerjaan editor. Membantu dalam pemeriksaan
dan pengoreksian naskah. Baik itu novel atau manga, selama itu adalah “buku,” tulisan yang digunakan dalam
karya tersebut memerlukan pekerjaan “pengoreksian”. Mulai
dari memeriksa kesalahan ketik, kesalahan penulisan,
penentuan firugana, hingga
tata letak (penjelasan rinci masing-masing akan diabaikan). Tugas ini biasanya
dilakukan oleh proofreader, tetapi editor juga terlibat dalam pekerjaan
ini.
Itulah
sebabnya, dukungan untuk pemeriksaan itu juga diperlukan.
Namun, melihat simbol koreksi untuk pertama kalinya membuatku terkejut ketika
tiba-tiba diberikan naskah dan diminta untuk melakukan pemeriksaan ganda.
Setelah itu, aku menerima daftar simbol koreksi, tetapi pada awalnya, aku kesulitan
hanya untuk mengingat istilah-istilah khusus tersebut.
Dan yang
terakhir, “pekerjaan
yang lebih kreatif” dapat
diartikan sebagai pekerjaan yang mendukung penulis. Ini bukan berarti melakukan
pekerjaan yang melanggar wilayah penulis. Ini termasuk mencari referensi
sebagai persiapan ketika penulis sedang menulis naskah atau menjadi teman
bicara ketika mereka terjebak dalam plot atau pengaturan.
Permintaan
Torigoe-san untuk “memberi
tahu pendapatku
tentang desain sampul” juga
termasuk dalam kategori ini. Namun, ini adalah peran penting bagi editor
sendiri, dan pekerjaan di bidang ini hampir tidak pernah diberikan kepada
pekerja paruh waktu.
Namun,
ketika aku merenungkan dan mencantumkan semuanya
dalam pikiranku, aku merasa itu merupakan
jumlah pekerjaan yang sangat besar. Tidak, mungkin bukan itu. Ketika aku baru
mulai bekerja di toko buku, aku juga berpikir hal yang sama. Jumlah pekerjaan
ini sangat banyak. Mungkin ini berlaku untuk semua profesi. Penyuntingan bukanlah satu-satunya yang
istimewa.
Hanya
saja... seperti yang sudah kukatakan kepada Torigoe-san,
memang benar bahwa ada ‘berbagai
jenis’
pekerjaan yang harus dilakukan.
Setelah
selesai makan siang, aku kembali ke tempat kerja. Di atas meja setiap karyawan,
ada tumpukan dokumen. Dokumen tersebut
bisa berupa naskah gambar yang disebut ‘draft’,
percetakan sampul percobaan, percetakan naskah percobaan, atau berbagai jenis
materi lainnya. Hanya dengan melihat pemandangan kantor yang berantakan ini,
aku teringat kata-kata Torigoe-san bahwa pekerjaan ini membutuhkan pandangan
yang luas.
Menjelang
sore, ketika aku menyelesaikan pekerjaan, Torigoe-san memanggilku. Saat aku
mendekat, di layar besar yang diletakkan di atas meja, terlihat sampul baru
untuk edisi terbaru [Raimei]. Melihat
sampul edisi terbaru yang sangat dinanti membuat hatiku berdebar.
Torigoe-san
bertanya padaku, “Bagaimana
pendapatmu?”
Aku
menatap layar dengan seksama.
Karakter
utama, kakak laki-laki Rai dan adik perempuan Mei, digambarkan saling
membelakangi di sampul, dan logo [Raimei] yang biasa terletak di bagian
atas sampul.
“Desainer
telah mengajukan empat konsep ini. Pertama-tama,
coba lihat semuanya dulu dan beri tahu pendapatmu tentang
mana yang menurutmu terbaik.”
“Ehm...
ya.”
Aku
beralih untuk mengamati keempat desain tersebut.
Bentuk
logonya sama seperti biasanya, jadi tidak akan berubah. Kurasa itu sudah pasti, karena ini adalah
seri. Jika logo judul diubah begitu saja, pembaca akan kesulitan menemukannya.
Namun, posisi logo yang berada di tengah atau posisi kakak dan adik yang
sedikit berbeda membuatnya seperti permainan mencari perbedaan, meskipun
perbedaannya sangat kecil.
“Begitu,
ya...”
Aku tidak
tahu apakah hal seperti ini umum dilakukan. Pokoknya,
aku tidak memiliki pengetahuan tentang desain dan tidak memiliki selera seperti
Saki. Sejujurnya, aku hanyalah seorang pemula.
Seberapa berarti pendapatku ini?
Meskipun
begitu, orang yang memilih adalah pelanggan
biasa yang mengunjungi toko buku. Dari sudut pandang mereka, bagaimana tampaknya
itu sangat penting. Selain itu, aku bukanlah orang yang sepenuhnya awam. Aku
memiliki pengalaman bekerja paruh waktu di toko buku selama tiga tahun. Melihat
empat desain tersebut, aku memiliki pendapat tentang bagaimana pelanggan yang
mengunjungi toko buku akan melihat sampul itu.
“Saya
ingin bertanya terlebih dahulu, apa ada alasan mengapa posisi kakak-beradik
yang digambarkan terlihat agak tinggi?”
Sebagai
gambar, biasanya akan lebih baik jika kedua karakter tersebut diletakkan dengan
rapi di tengah.
“Ah,
begitu ya. Ehm begini...”
Sambil
berkata demikian, Torigoe-san menunjukkan satu gambar lagi. Ketika aku curiga
mengapa ada gambar kelima padahal ia mengatakan ada empat, ternyata gambar itu
adalah gambar dengan pita.
Bagi
penggemar buku, mereka pasti ingat bahwa edisi baru biasanya memiliki pita
kertas di bagian bawah. Pita itu berisi sinopsis, komentar rekomendasi, atau
kata-kata seperti “terjual
lebih dari satu juta!”
yang ditampilkan dengan mencolok.
“Kamu
tahu cara mengikat pita seperti ini, kan? Jadi, ketika seorang mangaka menggambar sampul, mereka tidak
memasukkan informasi penting di bagian pita ini.”
“Informatif
penting... Kalau dilihat-lihat,
ditangan kanan Rai, ia
memegang petir seperti pedang, tapi itu memang tidak tertutup oleh pita, ya.”
Aku baru
menyadarinya setelah mengatakannya. Ketika pita dipasang, kesan
visualnya seketika berubah.
Dan
ketika pita dipasang, ketidaknyamanan yang kurasakan sebelumnya, bahwa
kakak-beradik itu digambarkan terlalu tinggi, menghilang.
Informasi penting dalam gambar terkumpul di bagian atas layar, jadi itulah
sebabnya aku mendapatkan kesan seperti itu sebelumnya.
“Dengan
ini, tidak ada ketidaknyamanan."
“Yah, meskipun lebih baik jika
terlihat bagus bahkan tanpa pita, tetapi Beiradon-sensei masih seorang pemula.”
“Ehm,
jadi jika kita menganggap ada pita, saya
merasa posisi penempatan judul di gambar kedua kurang tepat. Semua edisi
sebelumnya menempatkan judul di atas, tetapi yang ini di tengah.”
Torigoe-san
mengangguk.
“Ya,
sepertinya kita sedikit melenceng.”
“Bagaimana
dengan gambar ketiga? Apa itu juga kurang baik? Saya
merasa agak sombong mengatakannya, tetapi jika simbol petir yang menjadi simbol
'Raimei' diletakkan di sekitar gambar seperti ini, itu justru membuat kesan
menjadi tidak fokus.”
“Bagus.
Itu adalah pendapat yang kucari. Jadi, itu berarti tinggal gambar pertama dan
keempat, ‘kan?
Menurutmu, mana yang lebih baik?”
Aku
berpikir sejenak. Sepertinya aku telah memberikan jawaban yang baik sejauh
ini.
Pada awalnya,
Torigoe-san mengatakan bahwa ia sudah mempersempitnya menjadi dua opsi. Jadi,
dua gambar yang aku tolak memang sudah terduga untuk tidak terpilih. Mungkin
ini semacam ujian untuk melihat apakah aku
bisa menebak dua gambar yang terpilih. Jika ada sudut pandang baru yang muncul
dan bisa menghidupkan kembali kandidat yang ditolak, itu juga bisa
diterima.
Nah... mulai dari sinilah momen penting. Apa
Torigoe-san akan terus mempercayai penilaianku tergantung pada kemampuanku
untuk mengungkapkan pendapatku dengan baik di sini. Aku seharusnya tidak perlu memberikan
jawaban yang benar. Itu mungkin tidak diharapkan. Namun, apapun pendapatnya,
harus ada dasar yang kuat. Artinya, apa aku bisa mengungkapkan apa yang
kurasakan dengan tepat.
“Jika boleh memilih, saya akan memilih gambar keempat.”
“Hmm.
Apa alasannya?”
Tentu
saja, aku ditanya tentang dasar pendapatku. Seperti yang sudah kuduga.
Perbedaan
antara gambar pertama dan keempat terlihat kecil. Gambar kakak dan adik di
gambar keempat sedikit lebih besar, dan posisi penempatan logo judulnya sedikit
berbeda.
“Ada
dua alasan. Yang pertama adalah skala gambarnya.
Di gambar keempat, gambar kakak-beradik itu diletakkan lebih besar, ‘kan? Beberapa bagian tubuhnya
bahkan sedikit keluar dari sampul buku, dan ini membuat wajah Rai terlihat
lebih besar.”
“Jadi lebih
berdampak?”
“Itu
juga benar, tetapi di volume keempat ada bagian saat mereka terbangun,
kan? Saat Rai mendapatkan kekuatan baru. Cara menggambar matanya berubah di
sana. Sorotan di dalam matanya berbentuk petir. Itu dimulai dari volume
keempat. Jadi, karena ini volume kelima, menurut saya bagian matanya seharusnya lebih
menonjol.”
Aku ingat
bahwa bagian bangkitnya kekuatan itu juga menjadi topik hangat dalam diskusi penggemar setelah membaca. Memang,
perkembangan saat protagonis mendapatkan kekuatan baru itu sangat menarik.
Torigoe-san
mengangguk menyetujui pendapatku.
“Jadi,
apa alasan yang lainnya?”
“Ehm...
Ini sesuatu yang kurasakan karena saya
pernah bekerja paruh waktu di toko buku. Logo judul 'Raimei' berwarna
kuning, ‘kan? Mungkin karena kesan petir
itu identik dengan warna kuning, perak,
atau emas.”
“Ya,
benar."
“Tetapi,
warna logo 'Raimei' itu cenderung memantulkan cahaya, sehingga di bawah
cahaya toko buku, logo itu seringkali terlihat tidak jelas. Terutama jika
diletakkan di rak bagian atas, itu menjadi sulit dilihat.”
Torigoe-san
tampak terkejut. Memang, ini hanyalah
pendapat yang mungkin hanya bisa muncul dari seseorang yang benar-benar bekerja
di toko buku dan sering merapikan buku.
“Jadi,
jika posisi judul di gambar pertama, logo itu mungkin tidak akan terlihat.
Karena latar belakang di sekelilingnya berwarna cerah. Sementara itu, di gambar
keempat, latar belakangnya lebih gelap, jadi meskipun logo judulnya bersinar,
berkat warna gelap di sekitarnya, masih terlihat lebih jelas.”
“Oh,
begitu. Menarik.”
Melihat
tampilan yang lebih besar di layar dan melihatnya dari jarak jauh di toko buku
memang berbeda. Ketika mengatur buku di rak, aku selalu memperhatikan seberapa
jauh pandangan pelanggan dari buku tersebut. Setidaknya, aku
memperhatikannya.
“Aku
biasanya memeriksa hal-hal seperti ini setelah dicetak, tapi menyadari hal ini
di tahap ini mungkin berkat pengalamanmu
bekerja di toko buku.”
“Mungkin
saja.”
“Ya.
Terima kasih, ini sangat membantu.”
Torigoe-san
tersenyum lebar dan berkata demikian.
“Jika
pendapat saya berguna, jangan ragu untuk
bertanya kepada saya kapan saja.”
“Ya,
jika ada yang kuperlukan, aku
akan menghubungimu lagi.”
Torigoe-san
dan aku kembali ke pekerjaan kami masing-masing.
Aku
kembali ke meja yang ditugaskan dan melanjutkan tugas yang telah diberikan.
Saat itu, aku diam-diam merayakan dalam hati.
──Aku
akan menghubungimu lagi.
Aku
berhasil mendapatkan sedikit kepercayaan dari Torigoe-san.
◇◇◇◇
Seminggu lebih telah berlalu sejak hal itu,
lalu suatu hari, aku menerima pesan
dari Saki tepat sebelum tidur.
【Besok, boleh aku datang ke tempatmu? Hanya untuk
sehari.】
Tanpa
ragu, aku membalas demikian.
Setelah
pulang, aku merasa gelisah sambil membersihkan rumah ketika bel pintu
berbunyi.
Ketika
aku membuka pintu, Saki berdiri di sana dengan kantong plastik, berkata, “Halo.”
“Permisi, maaf
mengganggu.”
Dengan
suara yang hati-hati, seolah-olah benar-benar memasuki rumah orang lain, Saki
mencoba melepas sepatu di pintu masuk dan mengeluarkan suara terkejut.
Aku
segera menyadari tangannya penuh,
jadi aku menerima kantong plastik darinya.
“Terima kasih,” katanya, sambil sedikit membungkuk dan menyentuh tumitnya, dengan gerakan yang sopan saat melepas sepatunya.
──Rasanya
aneh.
Meskipun
kami tinggal di bawah atap yang sama, sepertinya aku belum pernah menyambut
Saki dengan cara seperti ini di depan pintu. Jari-jarinya yang ramping dan
lekukan dari pergelangan kaki hingga tulang pergelangan kakinya menarik perhatianku, dan rasa
bersalah yang samar membuatku merasa haus.
Adik tiriku datang berkunjung ke rumahku
seperti orang asing. Aku menjadi
semakin menyadari bahwa kami merupakan sepasang
kekasih.
Namun,
setelah mengundangnya masuk ke rumah, waktu yang dihabiskan bersama Saki tidak
jauh berbeda dari saat kami di rumah orang tuaku. Kami memasak makan malam bersama
dan duduk berhadapan di meja kecil, menikmati makanan bersama setelah sekian
lama.
Biasanya,
waktu ini dihabiskan dengan telepon. Sekarang,
aku bisa berbagi waktu tersebut
dengan Saki. Aku merasakan kebahagiaan bisa bersama.
Perasaan
tegang dari kehidupan baru perlahan-lahan mengendur.
Meskipun
aku merasa sudah berbagi kabar setiap hari, saat bertemu secara langsung, ada banyak hal yang ingin kubicarakan
muncul satu per satu, dan percakapan kami tak pernah berhenti.
Setelah
makan malam, percakapan kami masih berlanjut. Kami duduk berdampingan di tempat
tidur, sesekali meminum teh barley, melanjutkan obrolan. Kami saling menggenggam tangan dan Saki menyentuh
kakiku, sementara aku membalas dengan menyentuh punggung Saki. Tindakan yang
tidak berarti dan percakapan yang berarti saling bercampur secara acak.
Ngomong-ngomong,
aku lalu bercerita padanya mengenai kejadian
yang baru saja terjadi di tempat kerjaku beberapa
hari yang lali. Aku menceritakan saat aku diminta pendapat
tentang desain sampul 'Raimei.' Meskipun aku sudah membahasnya dalam percakapan
malam itu dengan Saki, itu adalah sesuatu yang membuatku sangat senang.
Jika
diingat-ingat, hal serupa juga terjadi saat aku bekerja di toko buku. Namun,
aku tidak merasakan kebahagiaan sebanyak ini. Ketika aku berpikir mengapa, aku
menyadari bahwa saat itu ada Yomiuri-senpai
yang jauh lebih kompeten di sampingku.
Aku
menceritakannya kepada
Saki.
“Kurasa kamu
selalu luar biasa, Yuuta. Kamu selalu bisa menemukan buku yang
tidak bisa aku cari.”
Saki
berkata begitu.
Namun, kurasa menargetkan Yomiuri-senpai yang hanya sedikit lebih tua
dariku adalah tujuan yang terlalu
besar bagiku. Torigoe-san jauh lebih tua dari
Yomiuri-senpai, dan aku tidak merasa
bisa bersaing. Jadi, meskipun aku kalah, aku tidak merasa kecewa, dan jika aku
bisa mendapatkan kepercayaan, aku akan merasa senang.
Ketika
aku mengatakan hal ini kepada Saki, dia mengangguk dan mulai bercerita bahwa
dia juga memiliki pengalaman serupa.
Kemudian,
Saki memberikan pendapatnya tentang perbedaan antara menyelesaikan pekerjaan
dan mencapai hasil.
“Itulah
sebabnya, menurutku Yuuta
berhasil mencapai hasil.”
Kata-kata
Saki membuatku terkejut. Jika
kita menyelesaikan pekerjaan, kita akan mendapatkan imbalan. Namun, jika kita melakukan lebih
dari itu dan mencapai hasil, pekerjaan kita akan mengarah ke pekerjaan
berikutnya.
──Aku
akan menghubungimu lagi.
“Tapi,
aku juga pernah dibilang
bahwa hanya dengan menyelesaikan pekerjaan dengan baik pun sudah pantas untuk
dipuji. Jadi, aku memuji Yuuta.
Hebat!”
“Jika
kamu sampai bilang begitu, aku
juga berpikir pekerjaan Saki di acara Roppongi
itu luar biasa.”
“Kalau itu
sih, pekerjaan yang dilakukan
Ruka-san. Aku hanya membantunya.”
“Namun,
pekerjaan dukungan itu juga tidak semudah itu. Aku menyadarinya saat bekerja paruh
waktu sekarang. Saki juga hebat.”
Setelah
aku mengatakannya, Saki kembali merendah, dan entah bagaimana kami terlibat
dalam perdebatan tentang siapa yang lebih hebat. Kami tersadar tentang apa yang
kami lakukan dan tertawa bersama.
“Ketika
aku datang ke sini lagi, aku yang akan memasak semuanya, ya.”
Saki
tiba-tiba mengatakannya. Kupikir itu bertentangan dengan
prinsip timbal balik, tapi Saki melanjutkan,
“Jadi,
aku ingin Yuuta
melakukan hal yang sama nanti.”
Oh, jadi
begitu rupanya.
“Baiklah.”
Saki
telah memberiku alasan untuk kembali ke Shibuya. Bagi diriku, aku merasa Saki
lebih pandai menyampaikan pikirannya. Kadang-kadang dia bisa berlebihan, tapi
itu berarti dia memiliki sifat untuk lebih berani mengambil inisiatif
dibandingkan diriku.
Aku
teringat kata-kata instruktur saat bergabung dengan jalur cepat.
Saat
titik penggabungan semakin dekat.
──Lebih
cepat. Tekan gasnya.
──Kamu bisa masuk di belakang mobil
merah itu.
Mobil
merah yang disebut instruktur itu melaju melewati mobilku. Seolah-olah instruktur menyuruhku
untuk menabrak bagian belakang mobil itu.
Secara
fisik, aku merasa seperti hampir mengalami kecelakaan tabrakan. Tanpa momentum seperti itu, orang-orang di
sekeliling tidak akan merasa bahwa aku memberi sinyal untuk bergabung. Cara
menekan gas yang tepat.
Sama seperti Saki, aku juga perlu
belajar bagaimana menyampaikan apa yang kuinginkan.
Untuk
saat ini, ya──.
“Kalau
begitu, aku akan kembali ke Shibuya akhir pekan depan agar bisa mentraktirmu
makan.”
Ketika
aku mengatakannya, Saki tersenyum lebar dan terlihat senang.

