Chapter 13 — Pengikut
“Yang
Mulia, saya telah membawa Nona Aisha Leben.”
“Baik.
Silakan masuk.”
Koridor
yang sangat mewah tapi kelihatan sepi itu memberikan kesan menyeramkan
karena kesunyiannya. Di
ujung koridor terdapat sebuah pintu.
Ketika
pelayan itu mengetuk pintu dan melaporkan kedatanganku, suara seorang wanita
yang anggun terdengar dari dalam ruangan.
“Silakan
masuk, Nona Aisha.”
Ugh,
akhirnya aku akan bertemu dengan putri kerajaan…
Jantungku
berdebar kencang karena gugup. Semoga suara detak
jantungku ini tidak terdengar oleh putri.
“Pe-Permisi.”
“Selamat
datang, Nona Aisha Leben. Aku sangat berterima kasih karena kamu bersedia memenuhi permintaanku.”
Pelayan
membuka pintu, dan ketika aku masuk, seorang wanita yang duduk di sofa berdiri,
menyatukan kedua tangan di dadanya, dan menyambutku dengan senyuman
lembut.
Gaun
berwarna biru muda dan rambutnya yang mengembang berwarna emas, dia adalah
gadis cantik yang tidak kalah dengan Fine-chan.
Jadi orang
ini…
“Ak-Aku
merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda. Namaku Aisha Leben…!”
“Aku
Leticia a Lacresia. Silakan duduk dengan nyaman.”
Putri
Leticia berkata demikian sambil
mengisyaratkanku untuk duduk di sofa. Aku tidak bisa menolak undangan
dari putri. Aku membungkuk sedikit dan mengikuti apa yang dia katakan.
“Cristlight,
bisakah kamu meninggalkan kami berdua?”
“Baik,
Yang Mulia.”
…Oh,
pelayan itu juga pergi.
“Umm,
maaf, apa yang sebenarnya ingin
Anda bicarakan denganku…?”
“Kamu tidak
perlu kelihatan gugup begitu. Aku
hanya ingin berbincang-bincang denganmu.”
Putri
Leticia duduk di sampingku dan menggenggam tanganku dengan lembut.
“Apa kamu
bisa menceritakannya
kepadaku bagaimana sebenarnya pengalaman
kematian yang kamu alami?”
…Eh?
“Kematian?
Apa maksud Anda? Anda sedang membicarakan apa…?”
Aku tidak
memahami maksud dari perkataannya dan bertanya kembali dengan
gemetar, Yang Mulia Putri
tetap tersenyum lembut sambil dengan kuat menggenggam tanganku agar aku tidak
bisa melarikan diri.
“Aku
tidak tahu trik sihir macam apa yang kamu gunakan, tapi aroma kematian
yang kuat itu tidak bisa kamu
sembunyikan. Kamu pernah
mati sekali, bukan?"
“Ma-Mana
mungkin! Jika memang begitu,
siapa aku yang ada di sini ini!?”
“Kamu mati dan kemudian mendapatkan
kehidupan baru. Bukannya begitu?”
Putri
Leticia dengan lembut menyentuh wajahku dengan tangan kecilnya yang putih.
…Tangan
putri sekarang jauh dari tanganku. Jika ada kesempatan, aku harus segera
melarikan diri. Setelah
itu, aku akan pergi menemui Onii-chan…
ke tempat Onii-chan…?
Lalu, apa
yang harus kulakukan? Ia tidak
memiliki ingatan tentang Onii-chan.
Dirinya juga sudah melupakanku.
Jika itu
benar, apa dirinya akan berpikir
untuk membantuku?
Karena
baginya, aku hanyalah orang asing.
“Jangan
terlalu gugup begitu. Aku juga seperti kamu,
telah bangkit dari kematian dan mendapatkan kehidupan baru.”
“…Apa
Yang Mulia menyatakan bahwa Anda pernah mati?”
“Ya.
Ketika aku masih kecil, aku terjebak dalam bencana
tanah longsor saat pulang dari kunjungan dengan kereta,
dan saat itu aku mati.”
Aku dibuat
terkejut dan tercengang saat putri Leticia mengungkapkan hal
yang mengejutkan dengan begitu santai.
“Apa
maksudnya…?”
“Maksudnya
persis seperti yang kukatakan. Aku mengalami kecelakaan, dan kehidupanku sebagai Leticia a Lacresia telah berakhir pada saat itu. Tubuh
ini diambil dari mayatku yang digali, lalu potongan daging dan kesadaran yang
tersisa dipindahkan ke monster chimera berbasis slime. Artinya, aku terlahir
kembali dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya.”
Dengan kata
lain, dirinya yang sekarang bukanlah manusia, melainkan monster.
Apa
Leticia ini benar-benar Leticia yang asli? Saat kata-kata itu hampir keluar
dari mulutku, aku teringat akan diriku yang sekarang sebagai Aisha dan menutup
mulutku.
…Dulu,
ketika aku adalah Saya, bukan Aisha Leben,
aku cukup percaya diri dengan penampilanku, tetapi aku hanyalah gadis Jepang
biasa.
Namun
sekarang, aku memiliki rambut perak alami yang tidak bisa dibayangkan di
Jepang, dan penampilanku seperti gadis cantik dalam anime yang dipikirkan oleh
orang Jepang.
Aku
menerima semuanya seolah-olah itu hal yang wajar,
dan orang-orang di dunia ini juga tidak meragukannya, tapi jika orang dari
dunia asal melihat penampilanku, mereka pasti akan merasakan
ketidakcocokan.
Lalu, apa
ada perbedaan antara diriku dan Leticia…?
“Kenangan
saat itu, dan aroma kematian yang melekat, merupakan
kenangan indah yang tidak akan pudar selamanya. Setiap manusia pada akhirnya
akan terbenam di tanah seperti serangga, tanpa memandang asal-usul atau tempat
mereka dibesarkan. Dari keadaan itu yang berlangsung selama berhari-hari,
bertahun-tahun, dan puluhan tahun, aku akhirnya mengerti.”
Sementara
itu, monster yang menyamar sebagai Putri Leticia tampak tidak peduli padaku dan
tenggelam dalam ceritanya sendiri.
“Kematian
adalah akhir yang dijanjikan untuk semua orang. Artinya, manusia menjadi setara
melalui kematian. Oleh karena itu, aku berpikir bahwa manusia adalah makhluk
yang hanya bisa diselamatkan melalui kematian.”
Ucapan
monster itu terdengar begitu menjijikkan dan menakutkan sehingga terasa polos dan murni.
“Itulah
sebabnya aku ingin semua
orang mengalami kematian dan menjadikan dunia ini tempat yang lembut dan
bahagia.”
Aku bergidik saat mendengar ucapannya. Tidak, bagaimanapun aku melihatnya, dia jelas-jelas bukan manusia yang
normal.
“Tetapi
kematian yang kukenal ialah sesuatu
yang gelap, sepi, dan menyakitkan. Jika begitu, aku akan membuat orang-orang
yang setuju dengan pemikiranku menderita. Jadi… tolong ceritakan padaku tentang
kematian yang kamu alami.”
Monster yang memakai kedok Putri Leticia
itu dengan lembut menyentuh daguku dengan jarinya dan memberikan senyuman yang
benar-benar menyeramkan.
Masalah ini
sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Onii-chan. Aku harus segera melarikan diri
sejauh mungkin. Jika aku tetap di sini, apa yang akan terjadi padaku…?
Saat aku
berpikir untuk melarikan diri, tiba-tiba…
“Ap-Apa
ini…!?”
Bagian
bawah tubuh Leticia mulai kehilangan
bentuk manusia, meleleh menjadi zat lengket berwarna kuning
seperti slime. Dan zat yang mirip seperti slime
itu kuat-kuat menggenggam tangan dan kakiku, membuatku tidak bisa melarikan
diri.
Lebih parahnya, dari lendir slime itu muncul semacam tentakel
yang menutup mulutku, membuatku tidak bisa bersuara.
“Tenang saja. Aku akan memberikan
penyelamatan dan belas kasihku padamu. Jadi, sekarang tidurlah dengan tenang di
dalam diriku sampai saat itu tiba.”
Aku mulai
terserap ke dalam tubuh slime. Pada
saat yang sama, kesadaranku terbang jauh oleh aroma manis yang menguar dari
slime itu.
“Tolong,
aku… Onii-chan──”
※
※ ※
“……”
Beberapa
puluh menit telah berlalu sejak aku
dipisahkan dari Aisha. Aku
yang menunggu di ruangan yang sama dengan Fine semakin merasa cemas karena Aisha belum juga
kembali.
“Ash-san, apa Aisha-chan baik-baik saja…?"
Fine juga
mulai merasa cemas melihat perilaku pelayan itu—Cristlight, situasi ini, dan
mungkin melihat keadaanku yang sekarang.
Jika
terjadi sesuatu, aku berniat untuk menyelamatkan Aisha. Namun, aku harus
menghindari agar Fine tidak mengalami dampaknya.
Tapi memikirkan masalah Alberich, aku tidak bisa bersikap santai.
“Permisi.
Tuan Ash Leben Weiss,
Nona Fiene Staudt.
Persiapan telah selesai. Kami akan membawa kalian berdua ke lokasi acara.”
Pada saat
itu, suara ketukan di pintu diiringi dengan suara Cristlight dari luar ruangan. Aku bertukar pandang dengan
Fiene, lalu membuka pintu dengan hati-hati.
Namun,
yang ada di sana hanya Cristlight, dan tidak ada tanda-tanda Aisha.
“…Di
mana Aisha?”
“Nona
Aisha Leben sedang menuju lokasi acara
bersama Yang Mulia."
Apa iya? Dia bukan orang yang bisa
dipercaya, tetapi ini cukup untuk membuatku mengambil tindakan.
“Baiklah.
…kalau begitu, tolong antarkan kami menuju lokasi acara."
“Ya.
Silakan ikut saya.”
Setelah
mendengar jawabanku, Cristlight membelakangi kami. Pada saat yang sama, Fiene
mendekat dan dengan suara pelan bertanya padaku.
“Ash-san, apa ini… baik-baik saja?”
“Untuk sementara waktu, kita akan pergi ke lokasi acara
dan memastikan apa yang dia katakan itu benar.”
“…Baiklah.”
Rasanya benar-benar
bagaikan buah simalakama. Pokoknya, aku harus bersiap untuk
menghadapi situasi kemungkinan terburuk.
“Silakan
ke sini.”
Cristlight
membawa kami ke sebuah tempat yang mirip dengan teater besar. Di sana, ada banyak bangsawan berkumpul dengan
mengenakan topeng untuk pesta
masquarade dan pakaian yang berkilauan.
“Kalian
berdua, silakan kenakan topeng ini.”
Cristlight,
yang mengantar kami, mengeluarkan topeng mirip topeng Venesia dari entah dari
mana dan menyerahkannya kepada kami. Aku
merasa cemas jika sesuatu yang buruk akan terjadi setelah mengenakannya, tapi
tanpa topeng, kami pasti akan terlihat mencolok di tempat ini.
Aku dengan
hati-hati mengenakan
topeng itu dan menganjurkan
Fine untuk melakukan hal yang sama.
“Yang
Mulia!”
“Kami
telah menunggu Anda, Yang Mulia!”
Pada saat
itu, bangsawan yang sebelumnya diam tiba-tiba mulai ramai bersorak, dan teater dipenuhi dengan
suasana antusias. Tatapan
mereka tertuju pada seorang wanita muda,
yang kemungkinan Yang Mulia Putri Leticia, yang mengenakan
pakaian hitam yang menyembunyikan postur tubuhnya.
“Para
hadirin sekalian, terima kasih telah berkumpul di sini hari ini.”
Mungkin
akibat mantra sihir, suara Leticia bergema di seluruh
teater. Suaranya terdengar begitu sangat
tenang, tetapi juga terasa menyeramkan.
“Baiklah,
bagi kalian yang sudah mengenalku sejak lama pasti
mengetahuinya bahwa aku mengalami kecelakaan saat masih kecil
dan terjebak di antara hidup dan mati. Saat itulah aku menyadari bahwa
penyelamat dunia bukanlah seorang Saintess,
pahlawan, apalagi Tuhan.”
Di atas
panggung, Leticia membuka tangannya lebar-lebar, berbicara dengan gerakan yang
dramatis seolah-olah dia adalah penyelamat yang menerima wahyu, dan semangat bangsawan
di teater semakin memuncak.
“Benar.
Satu-satunya cara untuk
menyelamatkan dunia ialah menyatukan semua orang
untuk menyambut kematian yang tenang. Dan di sini, aku menyatakan bahwa aku telah mengetahui kematian yang
diperlukan untuk penyelamatan itu.”
Leticia
kemudian melepas pakaiannya, memperlihatkan tubuhnya yang mengerikan. Bagian atas tubuhnya terlihat
seperti manusia biasa, tetapi bagian bawahnya meleleh seperti slime kuning yang
kental.
Penampilannya
sangat menjijikan dan mengerikan, tapi sesuatu yang lebih menarik perhatianku
adalah──.
“…Aisha!?”
Aisha
terlihat lemas, terjebak dalam tubuh Leticia yang berubah menjadi slime.
※
※ ※
“Apa-apaan ini?”
Apa yang
terjadi di depan mataku begitu mengerikan sehingga hanya bisa digambarkan
sebagai neraka.
Semua
bangsawan yang berkumpul menyerahkan diri mereka kepada bagian bawah tubuh
monster yang menyerupai lendir yang tampak seperti Leticia, dan tubuh mereka
meleleh tanpa menyisakan tulang.
Semua
orang tampak terpesona, tanpa satu pun yang merasa takut atau cemas saat tubuh
mereka meleleh tanpa tersisa.
Tak lama
kemudian, semua orang di teater ini, kecuali kami yang terkejut oleh tragedi
mendadak dan Aisha yang terikat, telah diserap ke dalam tubuh Leticia.
“Semuanya, silakan tunggu sampai saat itu
tiba. Aku pasti akan menyelamatkan dunia
dengan tubuh ini. Aku akan membawa kalian semua
ke dunia yang baik, dingin dan hangat, di mana semua orang diterima.”
Leticia
dengan lembut mengusap bagian bawah tubuh slime-nya
yang membesar setelah menyerap banyak manusia, seperti seorang ibu yang
mengusap perutnya yang hamil.
“Apa
yang sebenarnya kamu
lakukan…?”
“Aku
akan menjadi Ibunda yang
menyelamatkan umat manusia. Menjadi penyelamat yang melahirkan semua orang ke dalam
dunia baru yang lembut bernama kematian. Mereka akan tidur di dalam rahimku
sampai aku menyatu dengan
dunia ini.”
Leticia
menjawab dengan wajah terpesona ketika Fine bertanya dengan wajah pucat. Aku tidak merasakan kewarasan di dalam sorot matanya. Itu
adalah mata orang yang benar-benar hancur.
“…Kematian?
Apa kamu berencana membunuh orang-orang itu!?”
“Mungkin
bisa dibilang begitu jika dilihat dari sudut pandang
yang berbeda. Namun, jangan khawatir.
Mereka semua tahu dan setuju untuk bersatu denganku.”
Leticia
mengambil salah satu topeng yang berserakan di tanah dan memeluknya dengan
penuh kasih.
“Mereka
semua terluka secara fisik dan mental, mencari penyelamatan. Beberapa karena
penyakit, beberapa karena luka yang tak bisa sembuh, beberapa karena kehilangan
keluarga, beberapa karena kegagalan bisnis, dan beberapa karena kekalahan dalam
pertarungan politik. Semua orang menderita. Jadi, aku berpikir untuk
menyelamatkan mereka.”
“……”
Fine
terdiam mendengar kata-kata Leticia. Fine mungkin bersimpati dengan apa yang
dikatakan Leticia.
Ketika
pertama kali bertemu denganku, Fine adalah sosok yang menunggu kematian dengan
tenang di gang sempit yang
hujan itu, dan dalam arti tertentu, dia
berada di posisi yang sama dengan mereka yang telah menyerahkan diri kepada
Leticia.
Namun…
“Tapi,
tidak semua orang sama! Ada banyak orang yang terluka tetapi tetap berusaha
bangkit, dan ada banyak
pula yang mengulurkan tangan untuk membantu mereka!”
Fine
menatap wajah Leticia dengan tegas dan menolak dengan suara yang kuat.
“Kamu
menyadari bahwa tidak semuanya, ‘kan? Banyak orang yang menargetkan manusia yang lemah, menipu,
melukai, dan menyiksa mereka. Hal seperti itu sering terjadi di dunia ini.”
“Meski
begitu...”
“Percakapan
kita mengalami kebuntuan, ya. Baiklah. Aku akan menyelamatkan
dunia dengan caraku sendiri. Ketika saatnya tiba, kamu juga akan mengerti. Hanya
dengan caraku dunia bisa diselamatkan.”
Mungkin
Leticia merasa bahwa melanjutkan diskusi dengan Fine sudah tidak ada artinya,
dia kemudian mengalihkan pandangannya padaku.
“…Kamu merasa marah terhadap dunia
ini, bukan? Seperti yang dialami oleh orang tua dan kakakku yang bodoh, mereka telah
mengalami perlakuan yang tidak adil dan menderita. Oleh karena itu, apa kammu bisa memahami dan setuju
dengan perasaan kami?”
“…Pertama-tama, izinkan aku mengonfirmasi tiga
hal. Yang Mulia, apa kamu berniat
memaksa orang yang menolak kematian untuk ikut serta?”
“Aku
juga pernah merasakan ketakutan yang samar terhadap kematian meskipun aku belum
tahu apa-apa mengenai itu. Namun, sekarang
setelah aku mengalami kematian, aku merasa berbeda. Itu sesuatu yang sangat
indah. Meskipun mereka menolaknya sekarang, pada akhirnya mereka akan memiliki
pemikiran yang sama sepertiku. …Ayahku juga pasti…”
Sepertinya
aku tidak bisa berdiskusi lagi
dengannya. Dia tampaknya benar-benar percaya bahwa kematian
adalah sesuatu yang paling indah dan paling mulia.
…Yah, ini
bisa diprediksi dalam arti tertentu.
Masalahnya
adalah bagaimana aku menjawab pertanyaan berikutnya.
“Jadi,
apa lagi yang ingin kamu
tanyakan?”
“Mengapa
kamu melibatkan Aisha?”
“Dia
memiliki ingatan tentang kematian yang berbeda dariku. Itu adalah ingatan yang
tidak menyakitkan seperti kematian yang kualami. Meskipun agak kesepian,
ingatan ini sangat penting untuk penyelamatanku.”
“…Jadi,
apa Aisha Leben
mengatakan bahwa dia setuju dengan idealismemu?”
“Tidak.
Sayangnya, dia tidak pernah mengatakannya secara langsung. Namun, di dalam
hatinya, Aisha Leben…”
“Begitu
ya. Aku mengerti.”
Aku
segera menggunakan sihir air dan menembus tubuh Leticia yang membesar untuk
menyelamatkan Aisha.
“…Apa
maksudnya ini? Aku berusaha menyelamatkan umat
manusia, tau!?”
“Aku
sama sekali tidak peduli dengan 'penyelamatan' yang kamu bicarakan. Jika kamu ingin mati, silakan mati saja.
Tapi…”
Aku sekali
lagi menembakkan sihir air dengan kecepatan tinggi, menyerang bagian tubuh
Leticia tempat Aisha terperangkap berulang kali.
“Tunggu!
Aku ingin menyelamatkan dunia!”
“Bukannya
sudah kubilang tadi? Apa yang kamu
coba lakukan tidak ada artinya bagiku. Tapi jika kamu membahayakan keluargaku, Fiee,
dan Aisha, maka kamu adalah
musuhku.”
“Keparat…!”
Ekspresi
Leticia yang sebelumnya terlihat lembut seperti seorang ibunda penuh kasih, kini dipenuhi dengan
kemarahan. Rasanya konyol sekali jika orang seperti ini berpikir
bisa menyelamatkan umat manusia.
Namun,
itu sama sekali tidak penting. Dia
telah melukai keluargaku. Itu sudah cukup untuk menjadi alasan bagiku untuk
mengalahkannya.
“Aku
akan membantumu. Ash-san,
lakukanlah sekuat tenaga!”
Fine
berlari mendekat dan memberikan sihir dukungan padaku.
“Terima
kasih, Fine.”
Aku
kembali menatap Leticia, lalu dengan tekanan maksimum dari jari-jariku, aku
meluncurkan aliran air dengan kecepatan tinggi, bahkan mencapai kecepatan
suara, ke arah tubuhnya yang membesar.
Aliran
air itu, dengan kekuatan pemotongan seperti pemotong air, menyerang tubuh
Leticia dari segala arah.
Perlawanan
Leticia ternyata lebih lemah dari yang kuperkirakan, dan dia tidak bisa
mengatasi seranganku, sehingga tubuh slime-nya mulai tecabik-cabik.
“Tidak,
tubuhku yang seharusnya menjadi ibunda
penyelamat…!?”
Leticia
terlihat panik, berusaha mengumpulkan tubuhnya yang terpecah belah dengan sisa lengan dan
tentakelnya. Aku tidak
bisa melewatkan kesempatan ini. Saat aku berusaha menyelamatkan Aisha yang
terkurung, tepat pada saat itu.
“Aku,
mimpiku, tujuanku untuk menyelamatkan
semua orang tidak bisa berakhir di sini…!”
'Yang
Mulia, tolonglah kami…!'
'Selamatkan
kami… berikan belas kasih…!'
Wajah-wajah
manusia, kemungkinan besar diserap oleh Leticia, muncul di tubuh Leticia,
semuanya dengan ekspresi sedih memohon bantuan padanya.
“Ah,
jangan khawatir. Aku akan menjadi ibu
yang menyelamatkan kalian semua. Jadi…”
Saat itu,
aku menyadari bahwa tubuh Leticia telah berubah
menjadi cair, dan di bawah kakiku terbentuk genangan air besar. Selain itu, tubuh Aisha terbungkus dalam
bola slime seperti telur, dan itu juga akan tersedot ke dalam genangan air
tersebut.
Tidak
diragukan lagi. Leticia berusaha melarikan diri dari tempat ini sembari membawa Aisha.
“Tidak
akan kubiarkan!”
Aku
berlari sekuat tenaga, mengerahkan kekuatan
pada kepalaku dan menembus tubuh Leticia dengan kuat, lalu menggenggam bola
tempat Aisha terkurung.
“Ugh!?”
Namun,
saat aku menyentuh bola itu, aku merasakan nyeri yang sangat hebat di tanganku. Tampaknya permukaan bola ini
sudah dipanaskan hingga suhu yang sangat tinggi. Mungkin ini demi mencegahku mengambil Aisha
kembali.
Lantas
memangnya kenapa?
Masa lalu
tidak ada hubungannya. Aisha adalah satu-satunya anggota keluargaku yang sangat berharga, yang
memiliki darah yang sama denganku. Rasa sakit ini tidak ada artinya!
“…Apa kamu tahu siapa dirinya? Apa kamu mengerti apa yang dia rasakan di
dalam hatinya, dan bagaimana dia memandangmu?”
Leticia
bertanya dengan senyuman di wajahnya meskipun tubuhnya sudah tembus.
“Tentu
saja aku tidak tahu. Kami tidak pernah berbicara dengan baik…!”
“Kalau
begitu, izinkan aku memberitahumu. Dia sangat takut dibenci oleh orang lain.
Terutama oleh keluarganya, yaitu dirimu. Itulah sebabnya dia meminta
penolonganku. Apa kamu
berencana untuk menghancurkan satu-satunya cara untuk memenuhi harapannya?”
Tanganku
terasa panas sekali seolah-olah
terbakar. Aku berusaha keras membuka bola itu, tetapi sosok Aisha masih belum
terlihat.
“…Ah,
kamu benar-benar mengganggu sekali. Aku
takkan pernah membenci keluargaku, terutama
adikku yang berharga. Apa pun yang terjadi, aku takkan pernah membencinya!”
Tepat saat
itu, aku melihat rambut Aisha di dalam bola. Aku menyadari kulitku terbakar,
tetapi aku tidak peduli dan tetap memasukkan tanganku.
Entah apa dia bisa mendengar suaraku
atau hanya sekedar refleks.
Aku tidak
tahu apa alasannya, tetapi Aisha, adik perempuanku yang berharga yang menganggapku sebagai kakak,
menggenggam tanganku dengan tangan kecilnya yang bergetar.
“Kembalilah! Saya!”
Dengan
teriakan itu, aku mengangkat adikku keluar dari telur.
※
※ ※
(Sudut
Pandang Aisha)
Aku
adalah orang yang suka berdiri di depan umum sejak kecil. Dalam
pementasan
seni, aku berusaha lebih keras dari siapa pun untuk menjadi pemeran utama, dan
berlatih lebih giat daripada siapa pun.
Bermain
peran di depan orang lain, menjadi diriku yang berbeda. Rasanya benar-benar menyenangkan bagiku. Dan meskipun mungkin terdengar
sombong, aku merasa aku diberkahi dengan penampilan yang baik.
Jadi, aku
secara alami ingin menjadi aktris dan berdiri di panggung yang lebih besar, dan
aku mulai berpikir seperti itu dari lubuk hatiku.
Lalu pada
usia muda, aku
mengikuti audisi untuk peran anak dan bergabung dengan agensi, serta tampil di
beberapa drama, dan aku percaya bahwa aku telah mengambil langkah pertama
menuju mimpiku.
Aku
memiliki kompleks.
Salah satunya ialah tinggi badanku yang pendek dibandingkan dengan teman
sebayaku. Dan yang lainnya adalah suaraku yang memiliki karakteristik cukup
kuat.
Kupikir
hal ini akan teratasi seiring
bertambahnya usia, tetapi ketika aku menjadi remaja, situasinya tidak membaik,
dan aku tidak bisa memainkan peran yang ingin aku mainkan, serta pekerjaan
sebagai anak aktor pun hilang.
Akibatnya,
sebagai mantan aktor cilik yang kariernya sedang menurun, kehidupan
sehari-hariku mulai berubah drastis, dan itu dalam arti yang buruk.
Aku
mengalami perundungan dari
teman-teman sekelas yang mengetahuiku
sebagai anak aktor yang banyak dipanggil untuk berbagai pekerjaan, suara ejekan
dan belas kasihan itu menyiksa dan menyakitkan hatiku, hingga pergi ke sekolah
menjadi sebuah penderitaan.
Aku
bahkan tidak bisa berpura-pura menjadi diriku yang biasa.
Aku tidak
bisa menjadi diriku yang ideal.
Aku dibenci
oleh semua orang. Dan aku dilupakan oleh siapa pun.
Pikiran-pikiran
semacam itu menguasai kepalaku, dan aku
semakin lemah setiap harinya. Meski
begitu, aku memutuskan untuk bersikap tegar agar tidak membuat keluargaku khawatir.
Melakukan
hal seperti ini tidak ada artinya.
Jika aku
tidak mengungkapkan bantuan saat masih bisa meminta pertolongan, ketika
semuanya terlambat dan aku meminta bantuan, itu hanya akan berakhir dengan
hasil terburuk. Aku tahu itu dari drama yang pernah kubintangi, serta film dan
buku yang aku tonton untuk latihan akting.
Oleh
karena itu, suara tangisanku hanya boleh terdengar saat aku sendirian. Air mata yang mengalir juga hanya
boleh terjadi saat aku sendirian.
Begitu
audisi tidak lagi datang, bahkan undangan
untuk audisi tidak pernah kudapatkan, aku semakin dikucilkan di
sekolah dan pada suatu hari, aku benar-benar
mencapai batasku.
“…Saya?”
Saat aku
menangis sambil memeluk bantal biji di tempat tidur kamarku, tiba-tiba pintu kamarku dibuka. Ayah dan ibuku tidak ada di rumah
karena bekerja. Aku berpikir mereka akan pulang pada waktu ini, tetapi aku lupa
akan keberadaan orang itu──kakakku.
Betapa
bodohnya diriku.
“Ja-Jangan tiba-tiba masuk begitu! Memangnya
kamu tidak tahu apa itu sopan
santun?”
Aku
menutupi wajahku dengan bantal biji, menyeka
air mataku dengan agak kasar, dan dengan
nada yang sedikit tinggi, aku berteriak kepada kakakku.
Aku
merasa tidak nyaman dengan kakakku.
Ayah dan
ibu selalu memperhatikanku, dan karena itulah,
kakakku sering kali merasa terabaikan. Itu sebabnya, kakakku yang dulunya ceria
kini menjadi pendiam, meskipun tidak sampai menjadi seorang remaja yang
menyendiri, ia jarang keluar rumah dan mulai menghindari bertemu denganku.
Oleh karena
itu, aku berpikir bahwa mungkin kakakku membenciku.
“…Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Bu-Bukan
apa-apa. Aku menjalani hari-hari yang berharga, berbeda denganmu! Jadi
cepatlah──”
Aku
berkata dengan nada terburu-buru, berusaha mengusir kakakku keluar dari kamar. Namun entah kenapa, kakakku masuk
ke dalam ruangan seolah-olah tidak mendengar kata-kataku, dan duduk di
sampingku tanpa izin.
“Ap-Apa kamu
tidak mendengarkan pembicaraanku!?”
“Aku
tidak bisa memahami semua kesulitanmu, tapi jika kamu sangat membencinya, kamu bisa bolos dari sekolah dan
pekerjaan, tau?”
Kakakku
memilih kata-kata dengan hati-hati, berusaha berbicara dengan adiknya setelah
sekian lama. Aku yakin kalau kakakku
khawatir padaku. Itulah sebabnya dia mencoba berbicara denganku.
Meskipun
sekarang aku bisa dengan mudah menyadarinya, saat itu aku sudah tertekan hingga
tidak bisa melihatnya.
“Mana
mungkin aku bisa melakukan itu! Kamu tidak mengerti, tapi jika aku
dibenci, semuanya akan berakhir! Jika semua orang membenciku, tidak ada yang
tersisa untukku!”
Aku
menggenggam kerah kemeja kakakku, sambil menangis dan berteriak. Namun, kakakku tidak marah
padaku, ia dengan lembut mengusap kepalaku dengan tangan kirinya.
Kakakku
mengalami kecelakaan kecil saat kecil dan tidak bisa menggerakkan semua jari-jemari kecuali ibu jari, jadi cara dia
mengusap sangat khas. Setelah
sekian lama, aku benar-benar mengingatnya dan emosiku mulai meluap.
“Apa
pun yang terjadi, aku tidak akan pernah membenci
adikku sendiri. Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, lakukanlah
apa yang kamu
inginkan.”
Pandanganku
kabur dan wajah kakakku tidak terlihat lagi. Meski begitu, suaranya sangat
lembut, dan aku mencapai batas kesabaranku, air mata besar mulai mengalir.
Kemudian,
aku mengungkapkan semua masalah yang kuhadapi. Kakakku dengan canggung mengusap
kepalaku dan punggungku, mendengarkan ceritaku selama berjam-jam…
Hari itu,
aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk setelah sekian lama.
Aku
memang suka berdiri di depan umum.
Aku juga
sangat menyukai akting. Itulah
sebabnya, aku tidak bisa berhenti dari pekerjaan sebagai aktris, dan akhirnya,
aku memutuskan untuk menjadi pengisi suara.
Beruntungnya,
agensi tempatku bergabung memiliki banyak mantan anak aktor yang kini menjadi
pengisi suara, dan ketika aku menyampaikan niatku untuk menjadi pengisi suara
kepada manajer, dia segera mengatur agar aku bisa mengikuti pelatihan.
Mengenai
sekolah, berkat bujukan kakakku, aku pindah ke sekolah SMA dengan sistem pendidikan jarak
jauh, sehingga masalah itu bisa teratasi. Pada akhirnya,
aku merasa seolah-olah hanya melarikan diri, tetapi itu tidak masalah. Aku
masih memiliki kakakku.
Ketika
aku pertama kali mendapatkan peran
sebagai karakter utama dalam
game [Kizuyoru], kakakku
yang meskipun canggung, merasa senang seolah-olah itu adalah hal yang penting
baginya.
Ketika
aku mengalami kesulitan dalam berakting, kakakku membawakan berbagai buku
sebagai referensi.
Ketika
aku gagal dalam audisi atau di lokasi syuting, kakakku selalu menghiburku
dengan lembut.
Ketika
aku bertanya mengapa dia melakukan semua ini untukku, dia menjawab dengan tegas
bahwa “tidak mungkin ia meninggalkan
adiknya yang berharga.”
Benar.
Selama ada kakakku, aku tidak peduli apa yang terjadi. Begitu aku
berpikir…
“…Mengapa?”
Orang
yang paling berharga di dunia bagiku, kakakku, tiba-tiba meninggal tanpa
tanda-tanda sebelumnya.
Hari itu,
ia mengatakan bahwa dirinya merasa
tidak enak badan sejak pagi, tetapi ia tetap pergi untuk memenuhi janjinya
membelikan barang dari [Kizuyoru] yang sudah aku minta sebelumnya,
dan saat di bus, terjadi kecelakaan…
Aku tidak
ingat apa pun setelah kakakku meninggal. Hal terakhir yang kuingat adalah
tubuhku tiba-tiba terasa lebih ringan dan aku tertidur lelap.
Kurasa
aku mungkin meninggal tak lama setelah itu. Aku senang aku tidak harus
menderita, tapi aku yakin hidupku penuh dengan penyesalan.
Aku ingin
bertemu kakakku lagi. Aku
ingin meminta maaf padanya. Aku ingin bergantung padanya. Aku ingin mendengar
suaranya.
Karena
itu──.
“Aku
tidak akan membenci keluargaku, terutama adikku yang
berharha. Apa pun yang terjadi, aku takkan membencinya!”
Kata-kata
yang penuh kenangan itulah sesuatu yang telah kunantikan sepanjang waktu, Onii-chan.
※
※ ※
“…Di
mana ini?”
Saat aku
membuka mataku, aku
berada di tempat yang tampak seperti klinik lapangan yang didirikan dengan
tenda. Di
sekelilingku, dokter-dokter sibuk merawat orang-orang yang terluka.
Apa yang
sebenarnya terjadi? Aku ingat kalau bertemu
dengan orang itu, Yang Mulia Putri, dan kemudian…
“Aisha!”
“Aisha-chan!”
Pertama-tama,
aku harus memastikan apa yang terjadi. Ketika aku
bangun dengan pemikiran itu, Ash-oniichan dan Fine-oneechan langsung memelukku.
“Syukurlah.
Kamu selamat… aku benar-benar bersyukur…!”
Baik Ash-oniichan maupun Fine-oneechan, tanpa mempedulikan orang lain,
menangis bahagia melihatku selamat. Tangan
Oni-chan terasa lembut
sama seperti saat itu, dan meskipun
canggung, aku merasa sangat bahagia, dan secara alami, air mataku mengalir dan
aku mulai menangis.
Setelah
itu, kami diwawancarai secara singkat oleh orang-orang dari pasukan ksatria dan segera dibebaskan.
Setelah
mendengar cerita selanjutnya, ternyata keributan itu disebabkan oleh monster
yang mencoba merebut tubuh Putri Leticia dan memangsa para bangsawan, berusaha
menimbulkan kekacauan di negara ini.
Faktanya,
saat Putri Leticia dikalahkan, penyakit raja sembuh total, sehingga penjelasan
itu semakin meyakinkan. Kemudian,
Ash-oniichan mendapatkan penghargaan
lebih tinggi karena telah melindungi negara dari monster tersebut.
Anehnya,
aku juga dianggap berkontribusi dalam penyelesaian masalah di istana, sehingga
aku ditanyai berbagai macam oleh
teman-teman di sekolah.