
Selingan — Riwayat Panggilan
Yuuta : “......
Aku sudah sampai. Aku baru saja
menyalakan lampu di kamar.”
Saki :
“Selamat datang kembali. Apa kamu
sudah mengunci pintu dengan benar? Harus dicek dua kali.”
Yuuta : “Sudah,
kok. Kamu suka bermain peran sebagai ibu, ya?”
Saki :
“Aku benar-benar khawatir. Kamu
tahu, tinggal sendiri itu bisa berbahaya, karena kamu bisa
saja terlibat kejahatan dan lain-lain.”
Yuuta : “Kalau
begitu, aku juga khawatir tentang rumah kita yang hanya ada kamu dan Ibu tiri.”
Saki :
“Keamanan di apartemen sangat
berbeda.”
Yuuta : “Itu
juga benar.”
Saki :
“—Oktober sudah hampir berakhir,
ya.”
Yuuta : “Rasanya
cepat sekali. Halloween tahun ini sepi... aku sampai
terkejut.”
Saki : “Di
depan Stasiun Shibuya tahun ini juga sama seperti biasa. ... Ya, aku tahu itu jadi aku sengaja menjauh area itu.”
Yuuta : “Kamu
tidak pergi dengan teman-temanmu?”
Saki : “Ada
anak-anak yang tertarik. Tapi karena aku tidak terlalu antusias, mereka tidak
mengajakku pada hari itu.”
Yuuta : “Begitu,
jadi kita sudah sama-sama dewasa, ya?”
Saki : “......
Kalau Yuuta mau mengajakku kencan Halloween sih, aku pasti
akan merasa senang, kok.”
Yuuta : “Ma-Maaf. Jadwal kita tidak cocok.”
Saki : “Sebagai
hukuman, kamu harus memakai topeng
labu di depan kamera. Jika kamu bisa membuatku merasakan suasana Halloween, aku
akan memaafkanmu.”
Yuuta : “Eh?
Apa aku bisa menyiapkan kostum Jack-o'-lantern sekarang?”
Saki : “Fufufu.
Itu hanya bercanda, jangan dianggap serius.”
Yuuta : “Tahun
depan aku pasti akan menyiapkannya.”
Saki : “Kalau
begitu, tahun depan kita akan berkencan.”
Yuuta : “......
Itu benar.”
Saki :
“Yuuta, sekarang kamu sedang apa?”
Yuuta : “Aku habis melepas sepatu dan
menggantungkan mantel... dan tanpa sadar hampir bilang 'aku pulang'.”
Saki : “......
Padahal bilang begitu juga tidak masalah.”
Yuuta : “Aku
merasa itu tidak akan sampai dengan jelas lewat telepon."
Saki : “Itu
akan sampai. Lihat... selamat datang kembali di
rumah.”
Yuuta : “...Aku
pulang.”
Saki : “Ya.
Selamat datang kembali. Ah, cepat
nyalakan pemanasnya. Hari
ini lumayan dingin loh.”
Yuuta : “Cuacanya tiba-tiba
jadi dingin, ya. Bagaimana denganmu?”
Saki : “Aku
sudah mengeluarkan botol air panas. Dan selimut.”
Yuuta : “Masih
terlalu awal untuk kotatsu, ya?”
Saki : “Tentu
saja.”
Yuuta : “Mari
kita bicarakan sesuatu
yang hangat. ... Hari ini, aku akan membuat sup miso sekarang.”
Saki : “Bagus.
Isinya apa?”
Yuuta : “Tahu.”
Saki : “Cuma
satu doang?”
Yuuta : “Dan
rumput laut.”
Saki : “Itu isian yang klasik.”
Yuuta : “Aku
belum sampai pada tahap membuat kaldu yang rumit. Tapi perlahan-lahan memasak
mulai terasa menyenangkan, dan suatu saat aku ingin berkreasi seperti kamu.”
Saki : “Aku
akan mengawasi perkembangan muridku.”
Yuuta : “Tolonglah.”
Saki : “......
Hei, Yuuta.”
Yuuta : “Hmm?”
Saki : “Apa
kamu tidur dengan nyenyak?”
Yuuta : “......
Mungkin. Ada waktu-waktu ketika rasanya
terlalu sunyi sehingga membuatku sulit
tidur, tapi sekarang sudah jauh lebih baik.”
Saki : “Kamu
sudah terbiasa, ya. Sayang banget.”
Yuuta : “Kenapa?”
Saki : “Aku
tadinya berpikir ingin
datang dan tidur bersamamu.”
Yuuta : “......
Tempat tidur di sini terlalu kecil untuk kita berdua tidur berdamppingan.”
Saki : “Aku
tidak masalah meski sempit.”
Yuuta : “Ya,
baiklah...”
Saki : “Ah,
gawat! Besok aku harus bangun pagi.”
Yuuta : “Kerja?”
Saki : “Tidak, jam perkuliahan. Ada dokumen yang harus
diserahkan di loket. Dan ada tugas yang belum selesai.”
Yuuta : “Kalau
begitu, kita akhiri di sini saja untuk hari ini.”
Saki : “Ya.
Oh, tapi, satu hal terakhir."
Yuuta : “Apa
itu?”
Saki : “Aku
belum mau tidur, tapi aku ingin mendengar 'selamat malam'
darimu. Sebagai persiapan.”
Yuuta : “......
Selamat malam, Saki.”
Saki : “Fufu.
Selamat malam juga. ... Sampai jumpa besok.”
Yuuta : “Sampai
jumpa, besok.”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya