Gimai Seikatsu Volume 16 Chapter 6 Bahasa Indonesia

 

Chapter 6 — Tahun Pertama Perkuliahan, November, Ayase Saki

 

 

Di luar jendela bulat kecil, langit biru dan laut biru membentang luas. Sepasang sayap putih yang meruncing memisahkan langit dan laut menjadi bagian atas dan bawah. Memandang ke arah langit biru yang kulihat, tidak ada awan satu pun, dan laut biru di bawahnya tenang seperti cermin.

Meskipun ada ombak yang berderu, tapi gelombang ombak tersebut tidak terlihat dari sini. Pesawat yang kami tumpangi terbang pada ketinggian sekitar 40.000 kaki (sekitar 12.000 meter). Dari ketinggian ini, bahkan ombak kecil tidak dapat dibedakan, tampak seperti pemandangan cermin yang hanya dicampur cat biru ke dalam air. Sesekali, awan putih kecil seperti permen kapas menghiasi hamparan lautan.

Aku merasakan ilusi seolah-olah terbang tanpa henti menembus birunya langit yang tak berujung. Namun, pesawat tidak dapat terbang selamanya. Pesawat ini akan mendarat di Pangkalan Terpadu Andrews dalam waktu empat jam. Dalam batas waktu itu──. Aku menoleh ke dalam pesawat. Karpet merah yang terbentang di dalam ruangan membuatnya tampak lebih seperti ruang resepsi formal atau ruang konferensi daripada bagian dalam pesawat. Kursi-kursi putih yang terpasang di lantai berjajar rapi di sekitar meja besar, panjang, dan sempit ada enam orang, termasuk aku. Wakil Presiden Amerika Serikat, Kepala Staf Kepresidenan, Penasihat Keamanan Nasional, Kepala Pengawal, Kapten pesawat, dan Dokter Pribadi Presiden──. Semua orang menatap satu kursi yang sama.

Kursi itu berlumuran merah karena ternoda darah. Ketika kami mendengar suara tembakan yang seharusnya tidak terdengar dan memasuki ruang konferensi ini, hal pertama yang kami lihat adalah kursi berlumuran darah dan seorang pria yang tewas terkulai di atasnya. Dirinya ditembak di jantung dari belakang.

Pesawat yang kami tumpangi adalah pesawat Air Force One. Dan orang yang terjatuh dan mati itu adalah Presiden Amerika Serikat ke-50. Sebuah kasus pembunuhan yang terjadi di dalam ruang tertutup yang terbang. Siapa pelakunya? Apa motifnya? Dan ke mana perginya catatan yang terkait dengan rahasia negara yang konon dimiliki oleh presiden? Waktu terus berlalu, dan waktu pendaratan pesawat semakin mendekat. Begitu pesawat mendarat, pelaku akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri, dan catatan rahasia yang dicuri mungkin tidak akan pernah bisa diambil kembali.

Hanya di atas langit, di tempat yang tidak bisa melarikan diri, merupakan waktu yang tepat untuk menemukan pelaku dan mengambil kembali catatan rahasia tersebut. Namun tragedi berlanjut, dan akhirnya terjadi pembunuhan kedua……

Empat jam kemudian──.

Kyouka, yang terkulai di atas meja, berteriak, “Rasanya menyenangkan! Tapi sulit!” Aku juga ingin terkulai lemas di sampingnya. Seperti yang dikatakan Kyouka, itu menarik, tetapi melelahkan.

Aku berpikir terlalu banyak hingga otakku terasa panas. Hanya Mayu yang dengan nada santai dan tenang, seperti biasanya, mengungkapkan pendapatnya.

“Hmm. Peran om-om itu sulit, ya.”

Setelah menyelesaikan perannya sebagai dokter pribadi presiden yang berkumis tipis, Mayu membaca kembali materi perannya, Dokter Colin, yang digunakan dalam permainan.

Aku sendiri memegang kotak tebal yang tampak seperti ensiklopedia yang terletak di depan meja. Judul logo [Ruang Tertutup 40.000 Kaki] tertulis besar di bagian depan kemasan. Dengan latar putih dan siluet pesawat hitam. Gambar senjata dan peluru yang saling bersilangan. Logo judul menggunakan font tipis yang agak menyeramkan, dengan tulisan ‘Misteri Pembunuhan’ di bagian atasnya.

[Misteri Pembunuhan] ini tampaknya adalah nama permainan meja yang kami mainkan. Kami, tujuh mahasiswa yang merupakan peserta, duduk di sekitar meja tempat kotak itu diletakkan. Tiga di antaranya adalah mahasiswi dari Universitas Wanita Tsukinomiya──yaitu aku, Kyouka, dan Mayu. Empat lainnya adalah sekelompok mahasiswa dari Universitas Waseho, dua laki-laki dan dua perempuan.

Mengapa mahasiswa dari universitas yang berbeda bisa berkumpul bersama? Itu karena Kyouka bergabung dengan UKM inter-kampus. Ketika mendengar tentang Unit Kegiatan Mahasiswa [UKM], ada kesan bahwa itu ada di setiap universitas. Aku juga berpikir demikian sebelum masuk universitas. Namun, ada juga UKM besar yang melintasi universitas yang berbeda. Ini disebut UKM inter-kampus. Inter-kampus adalah singkatan dari ‘UKM yang melintasi kampus’.

UKM inter-kampus yang diikuti Kyouka tampaknya adalah [UKM pemecahan teka-teki]. UKM macam apa itu? pikirku dengan curiga, dan Kyouka menjelaskan.

“Ini adalah UKM yang bermain permainan seperti Werewolf, game melarikan diri, dan Misteri Pembunuhan!”

Aku sama sekali tidak mengerti. Tapi cuma ada satu hal yang kukenali. Aku pernah mendengar istilah “game melarikan diri”. Ketika Kyouka menjelaskan, aku bisa sedikit memahami itu. Aku mencoba mengingat di mana aku mendengar istilah itu dan teringat bahwa itu adalah saat festival budaya terakhir di SMA.

Kurasa pertunjukan yang ditampilkan kelas teman-temanku, Maaya dan Maru-kun, di festival sekolah mereka adalah ‘game melarikan diri’. Peserta dibagi menjadi kelompok, menerima berbagai petunjuk, dan bekerja sama untuk melarikan diri dari tempat yang terkurung. Kalau diingat-ingat lagi, permainan itu juga cukup menguji otak.

“Bagaimana pendapat kalian tentang permainan kali ini?”

Arai-san (Mahasiswa tahun ketiga Universitas Waseho), penyelenggara permainan sekaligus perwakilan UKM ini, bertanya kepada kami yang baru pertama kali ikut.

“Jadi, ini juga dianggap sebagai permainan, ya?”

“Ya. Misteri Pembunuhan juga dianggap sebagai permainan. Bisa juga disebut sebagai permainan berbasis pengalaman,” jawabnya.

Aku mengangguk seolah mengerti, tetapi yang kupahami hanyalah bahwa Misteri Pembunuhan sering disingkat menjadi “Madamis”.

Arai-san adalah pria bertubuh ramping dan mengenakan kacamata. Pada awalnya aku merasa ia mirip dengan seseorang, dan aku menyadari ia terlihat seperti Yuuta, hanya lebih ramping dan mengenakan kacamata. Arai-san berperan dalam menjelaskan berbagai hal dan mengatur situasi selama permainan.

“Aku berpikir yang namanya permainan itu adalah aktivitas di mana satu pihak menang dan pihak lainnya kalah──”

Namun, pengalaman bermain kali ini terasa sangat berbeda dari permainan yang kukenal.

“──Hmm, maksudnya yang seperti kartu? Atau Reversi? Selain itu, aku hanya tahu permainan yang dimainkan di televisi.”

Permainan yang seperti itu sangat disukai Maaya, dan selama masa sekolah, dia beberapa kali membawa konsol permainan ke rumahku dan mengajakku bermain. Aku selalu menemaninua jika dia mengajakku, tapi aku tidak ingat pernah aktif bermain game. Aku bahkan tidak memiliki game di ponselku. Jadi, aku merasa tidak terlalu tahu banyak tentang permainan.

“Asamura-san, kamu bilang kalau ini pertama kalinya kamu bermain Madamis, kan?”

“Ya.”

“Madamis adalah permainan yang relatif baru.”

Sambil mengatakan itu, Araki-san memberi tahu sedikit tentang sejarah Madamis. Ternyata, asal mulanya sudah ada sejak abad ke-20. Namun, katanya, permainan ini baru mulai populer di Jepang belakangan ini.

“Begitu ya. Umm... UKM ini, eh, aku mendengarnya dari Kyouka. Apa sering bermain Madamis dan permainan sejenisnya?”

Aku secara tidak sengaja mengajukan pertanyaan. Orang-orang di sebelah Arai-san, baik pria maupun wanita, membuat wajah putus asa seolah berkata “Ah, tidak, jangan lagi...”

Dan Arai-san berkata, “Iya. Tapi, bukan hanya Madamis saja,” lalu kata-kata mengalir deras dari mulutnya seperti banjir bandang. 

“Tabletop RPG. Sekarang kita juga menyebutnya permainan peran meja, tapi kami juga bermain yang seperti itu. Yah, meskipun saat ini lebih banyak yang bermain mitologi Cthulhu daripada dunia fantasi bergaya abad pertengahan seperti para pendahulu kita. Namun terlepas dari itu, kami juga bermain permainan papan dan permainan simulasi. LARP juga, ya. Tapi, ya, mulai dari generasi senior kami, permainan teka-teki menjadi yang utama. Itu juga yang berbasis pengalaman. Werewolf, Madamis, permainan melarikan diri, itu yang paling banyak, mungkin.”

Ia berbicara dengan sangat antusias, jadi aku hanya diam mendengarkan, tapi aku sama sekali tidak mengerti sekitar 90% dari apa yang ia bicarakan. Aku berpikir bahwa Yuuta kadang-kadang berbicara dengan cara seperti ini tentang buku favoritnya, dan saat aku mendengarkan dengan kosong, yang mengejutkan adalah Kyouka ikut mengangguk sambil menyela pembicaraan Arai-san. 

Sebelumnya dia tertidur lelap, tiba-tiba dia bangkit dan berteriak, “Aku suka game Werewolf!”

Werewolf... oh, maksudnya game Werewolf. Ngomong-ngomong, meskipun Kyouka sudah menyebutkan kata itu sejak awal, aku sampai sekarang masih tidak tahu permainan apa itu. 

Saat aku mengerutkan dahi, Mayu membisikkan kepadaku.

“Kita mencari manusia serigala yang bersembunyi di antara para penduduk desa melalui percakapan.”

“Ini mirip dengan yang baru saja kita mainkan,” imbuh Mayu. 

Setelah dipikirkan, aku menyadari bahwa, memang, kurasa ide menemukan pelaku melalui percakapan itu mirip. 

Lebih jauh lagi, aku mulai menyadari bahwa Madamis mungkin memiliki kesamaan dengan permainan melarikan diri, terutama saat semua orang bekerja sama untuk memecahkan teka-teki menuju satu tujuan. 

Ah, jadi, ada kelompok yang bermain Werewolf, Madamis, dan permainan melarikan diri. 

“Misteri Pembunuhan itu merujuk pada sesuatu yang bertema kasus pembunuhan dalam genre misteri, tetapi di sini, aku ingin kamu memahami lebih luas dari itu.”

Arai-san melanjutkan penjelasannya. 

“Permainan misteri pembunuhan melibatkan peserta yang berkumpul bersama seperti ini—“ ia berbicara seolah-olah kepada kami semua yang duduk di sekitar meja, “Aku akan merasa senang jika kamu bisa menganggapnya sebagai permainan di mana kita semua berperan sebagai karakter dalam drama dan mengalami serta menikmati cerita bersama.” 

Permainan untuk mengalami dan menikmati cerita... 

Memang, pengalaman yang mendalam itu luar biasa. 

Aku berpikir bahwa hal semacam ini sepertinya sangat disukai Yuuta. Aku sendiri lebih banyak membaca buku tentang desain dan fashion, dan tidak terlalu banyak membaca cerita.

Tapi, Yuuta berbeda. Sepertinya ia juga membaca buku praktis, tetapi ia lebih suka membaca fiksi. Kadang-kadang dirinya bercerita tentang cerita SF yang sulit, tetapi aku sering tidak mengerti. Namun, ia lebih bisa menikmati dengan benar-benar memasuki karakter dalam cerita. Aku tidak begitu baik dalam hal itu. Nilaiku dalam bahasa Jepang modern buruk karena aku tidak bisa mengikuti cara berpikir dan perasaan karakter. 

Metode pemahaman teks modern Yuuta—yang tidak hanya memperhatikan dialog dan tindakan karakter, tetapi juga informasi latar belakang tentang proses pembentukan karya—membantuku perlahan-lahan mengurangi rasa tidak percaya diriku. Anehnya, seiring dengan itu, meskipun aku tidak memahami tentang penulis atau proses pembentukan karya, aku mulai bisa merasakan apa yang dipikirkan oleh karakter. 

Rasanya sungguh aneh. 

Ah, tapi mungkin ini kebalikannya. 

Dalam kehidupan nyata sekalipun, kita tidak bisa memahami apa yang dipikirkan orang lain. Ketika hal itu terjadi, hal pertama yang kita lakukan adalah mengamati orang tersebut. Jika aku ingat kembali apa yang kulakukan saat diizinkan untuk berpartisipasi dalam rapat sebagai sekretaris Ruka-san, aku ingat bahwa aku mengamati orang yang berbicara dengan seksama. Selain itu, aku tidak hanya melihat pihak yang berbicara. Aku juga memperhatikan siapa yang mengerutkan dahi saat orang itu berbicara. Siapa yang mendengarkan dengan seksama. Jadi, hal yang kulakukan ialah mengumpulkan informasi latar belakang. 

Dengan informasi itu, aku mencoba menilai niat orang lain. Itulah yang kulakukan. 

Kemudian, aku berpikir dari sudut pandang orang lain. Seiring berjalannya waktu, ada hal-hal yang mulai terlihat jelas... 

Arai-san berkata, 

“Yah, kita semua bukan aktor. Jadi, kita tidak perlu khawatir jika tidak berusaha memainkan peran yang ditugaskan dengan begitu ketat. Saat permainan berlangsung, karakter yang sesuai akan terbentuk dengan baik.” 

Dan memang seperti yang dikatakan Arai-san. 

Jika hal ini diteliti lebih lanjut, banyak instruksi tertulis tentang dialog yang harus diucapkan. 

Misalnya, aku berperan sebagai wakil presiden wanita, tapi aku memiliki rahasia yang harus disembunyikan sampai permainan berakhir. Karena rahasia itu bisa menyebabkan peristiwa yang membuatku dicurigai sebagai pelaku karena “terlibat argumen dengan presiden tepat sebelum kejadian”. 

Dan ada instruksi untuk mengusut hal itu. Saat itu, aku harus menginterogasi kepala pengawal yang mengalihkan pandangan dari presiden selama kejadian. Yah, kebetulan kepala pengawal itu diperankan oleh Kyouka, jadi aku tidak ragu untuk mengkritiknya, yang mungkin menguntungkan dalam berperan. 

Mayu bercanda kepada Kyouka, 

“Kalau Kyouka sih, sepertinya kamu tidak benar-benar menjadi karakter... ‘kan? Aneh saja jika bodyguard yang kuat berperilaku seperti itu.”

Setelah Mayu berkata begitu, Kyouka membuat wajah cemberut dan berkata, “Tapi...” Setelah itu, Mayu menunjuk wajahnya dan berkata, “Inilah yang aku maksud,” sehingga semua orang langsung tertawa.

Kepala pengawal yang ditugaskan kepada Kyouka adalah pria raksasa dengan tinggi 6 kaki 7 inci. Meskipun begitu, dia tetap berbicara dengan nada “tapi” sepanjang waktu yang khas Kyouka, sehingga selama permainan, semua orang tertawa terpingkal-pingkal karena perbedaan itu. 

“Kalau begitu, Mayu juga tidak terlihat seperti om-om.”

“Kurasa aku tidak terlalu aneh seperti Kyouka.”

“Nggh.”

“Mayu-san tetap tenang sampai akhir, ya.”

Begitu Arai-san berkata demikian, Mayu tersenyum lebar. Senyum yang penuh percaya diri. Memang, Mayu tetap dengan sikapnya yang lembut dan tidak menunjukkan tanda-tanda kegugupan selama permainan. 

Padahal dialah pelaku sebenarnya. Dia tidak memperlihatkan sosok aslinya sedikit pun. Mayu adalah seorang aktris alami. 

Setelah itu, semua orang mulai saling berbagi pendapat, mengatakan bahwa mungkin mereka perlu lebih banyak penyelidikan atau bahwa tanggapan di adegan tersebut sangat bagus. 

Setelah permainan selesai, diskusi seperti ini antara peserta juga sangat menarik. Tentu saja, aku mengerti mengapa Kyouka sangat menyukainya. 

“Aku senang jika kalian menikmatinya. Bagaimana? Asamura-san dan Kaneko-san, apa kalian tertarik untuk bergabung dengan UKM kami?”

Mendengar Arai-san berkata begitu, seorang Onee-san yang tampaknya dua tahun lebih tua dariku yang duduk di sebelah kananku, segera menambahkan, 

“Kami tidak hanya berkutat di dalam ruangan dan bermain Madamis. Kami juga ikut serta dalam permainan pelarian berbayar bersama-sama. Apa itu dua tahun dari sekarang? Kami juga berbicara tentang pergi ke taman hiburan berbasis pengalaman yang akan dibuka di Odaiba. Yang itu lebih mirip atraksi daripada permainan.”

Setelah mengatakan itu, dia menambahkan, “Oh, dan kami juga sering mengadakan acara minum-minum.”

Kyouka menunjukkan ketertarikan, tapi kami bahkan belum berusia 20 tahun, kan? 

Ketika dia diundang lagi untuk bergabung dengan kelompok, wajah Mayu menunjukkan keraguan. Sepertinya dia merasa sedikit bimbang. 

“Aku, awalnya lebih suka menonton siaran video. Seperti game werewolf.”

Mayu berkata demikian, dan aku terkejut mendengarnya. Tapi ya, sekarang menonton video di internet adalah hobi yang umum. 

“Jadi, kali ini aku sudah sedikit memahami cara bermainnya.”

Kucap Mayu. Secara implisit, dia merendah bahwa itulah mengapa dia bisa bermain dengan tenang. Namun, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku merasa bahwa Mayu seolah-olah selalu memainkan peran orang lain. Aku juga berpikir demikian ketika mendengar cerita tentang dirinya yang melakukan papa katsu. 

“Tidak, tidak, aku melihat Kaneko-san sangat mahir dalam Madamis!” 

Arai-san berkata demikian. Dan dia berharap Mayu mau bergabung dengan kelompok kami, dan Mayu tersenyum sambil berkata, “Aku akan memikirkannya,” lalu menghindar. 

Dengan tatapan penuh harapan, kini Arai-san mengalihkan pandangannya kepadaku. 

“Dan Asamura-san sendiri bagaimana?”

Aku bisa merasakan bahwa UKM ini sangat menyenangkan, tetapi aku minta maaf karena sulit untuk berpartisipasi secara serius. Aku menolak dengan tegas karena aku sudah menghabiskan waktu untuk pergi ke kantor Ruka-san. Lebih dari itu sangat sulit. 

“Yah, aku tidak akan memaksa, jadi jangan khawatir. Dan aku akan senang jika kamu bisa ikut ketika ada waktu luang, seperti hari ini. Kami biasanya bermain di tempat seperti ini—”

Sambil berkata demikian, ia menunjukkan ruangan dengan satu tangan. Kami bermain di ruang kelas kosong di Universitas Waseho. Sepertinya mereka meminjamnya dengan izin, tetapi lebih murah daripada menyewa ruang sewa. 

"—karena kami menyewa tempat untuk bermain. Oh ya, aku akan memberitahu server untuk berkomunikasi.”

Sambil berkata demikian, Arai-san memperkenalkan server Discord. Ia mengatakan bahwa tidak masalah jika bukan keanggotaan resmi, bahkan jika hanya sebagai anggota sementara, dan karena itu, aku dan Mayu juga mendaftar. Mayu tampaknya baru pertama kali menggunakan Discord dan bertanya kepada orang-orang di sekitarnya tentang cara menggunakannya. 

Aku, yang sudah terbiasa dengan pekerjaan, mendaftar dengan cepat tanpa perlu diajari oleh siapa pun. Aku ingin melihat orang-orang yang berada di kelompok itu, jadi aku mulai mengikuti tulisan di server.

Melihat jumlah pesertanya, jelas bahwa hari ini yang berkumpul di ruang kelas ini hanyalah sebagian kecil. Totalnya lebih dari 300 orang. Ini adalah UKM yang cukup besar. Dari isi tulisan yang ada, sepertinya semua orang berpartisipasi dalam aktivitas sesuai dengan waktu yang mereka suka, sehingga terlihat seperti UKM yang santai. 

Saat aku asyik membaca tulisan tentang kesenangan masing-masing orang saat bermain, Kyouka memanggilku. 

“Hey, hei, Saki. Lihat deh. Bukannya ini gawat banget?” 

Kyouka menghadapku dengan wajah bersemangat sambil memegang ponsel. Karena suaranya pelan, aku pun berbicara pelan. 

“Ada apa?” 

“Ini, ini!” 

Dia mendekat dan menunjukkan layar ponselnya yang tersembunyi di bawah meja. 

Di server Discord, ada peserta dengan nama ‘Ogasawara Sakuma’. Sambil menyentuh nama itu dengan jarinya, Kyouka berkata dengan semangat tinggi. 

“Orang ini, lho.” 

Kemudian, dia menggunakan fitur pencarian di ponselnya untuk menampilkan foto seorang pria. Dia menunjuk foto itu. “Ini orangnya.” 

“Selebriti?” 

Saat aku bertanya, dia mengangguk dengan cepat. 

Orang yang bernama Ogasawara itu adalah seorang YouTuber kuis tampan yang sekarang terus berkarya di YouTube dan juga muncul di televisi, jadi ia bisa dibilang seorang selebriti. 

Hmm... banyak kata yang tidak kukenal. Apa itu YouTuber kuis yang tampan? 

Selebriti, ya. Maaf, Kyouka, tapi aku tidak terlalu sering menonton televisi. Sebenarnya, setelah ibuku bercerai, rumah kami sangat miskin sehingga kami tidak memiliki televisi. Tidak ada yang bisa dinikmati jika tidak ada. 

Lagipula, ibu yang berangkat kerja sore dan pulang pagi tidak punya waktu untuk menonton televisi, dan bagi ibu, lebih penting untuk memberikanku ponsel meskipun harus mengurangi biaya di tempat lain. Dalam kehidupan kami yang hanya berdua, cara untuk menghubungi dalam keadaan darurat saat ibu tidak ada lebih penting. 

Kami bahkan tidak punya telepon rumah. 

Karena alasan itulah, aku tidak terlalu tahu tentang selebriti. Dan berbeda dengan Mayu, aku hanya menonton video yang diperlukan (seperti video masak), jadi aku juga tidak mengenal YouTuber. Meskipun kehidupanku mulai membaik di pertengahan SMP, kebiasaan yang sudah terbentuk sulit diubah. Aku memang mulai mengumpulkan informasi terkait fashion untuk “persenjataan”. 

Tetapi... 

Eh? Apa itu? “Ogasawara Sakuma”? 

Ketika aku mengucapkannya, rasanya terdengar familiar. 

“Aku mungkin tidak tahu orang itu, tetapi sepertinya aku mengenalnya.”

Aku tanpa sadar mengucapkannya. 

“Hah? Apa maksudnya?” 

Dengan tanda tanya di wajahnya, Kyouka bertanya.

Aku melakukan pencarian di ponselku. Gambar orang yang dimaksud muncul, tapi meskipun aku menatapnya, aku tetap tidak mengenali wajahnya. Jadi, melihat foto itu sia-sia. Itu berarti──. 

Saat aku melihat aktivitas terbaru dari hasil pencarian, sepertinya ia juga aktif di bidang musik. Oh, jadi ini lagu baru yang dimaksud. 

Video musik lagu baru itu sudah dirilis. Aku menontonnya sekilas—oh, dan aku terkejut. 

Karena suara yang keluar, semua orang yang ada di situ menatapku. 

Kemudian, Onee-san yang duduk di sebelahku melihat ponselku dan berkata, “Oh, itu Sakuma-kun.” Dia bilang Sakuma sekarang terlalu sibuk sehingga jarang muncul, tetapi kadang-kadang ia datang ke acara minum atau sesi, jadi mungkin kita bisa bertemu dengannya suatu saat nanti. 

Usai mendengar kata-kata itu, semangat Kyouka langsung melesat naik. 

“Wow! Seriusan? Jadi ini Sakuma yang beneran! UKM ini luar biasa, ya? Senang sekali bisa bergabung!” 

Sambil melihat Kyouka yang berteriak setengah kegirangan, aku terus menonton video musik tersebut. Dan aku menemukan kalimat yang kucari di deskripsi. 

Pencantuman kredit. 

Ada tulisan 'Lucca Design. Studio' dan nama “Higashide Yume”.

Yume-san. Dia adalah senior desainer yang mendesain sampul buku dengan pola kamuflase yang menyebar dengan karakter buku Shimi-chan. 

Aku selalu berusaha mengamati pekerjaan para senior, dan ketika bekerja sebagai sekretaris Ruka-san, aku juga harus memeriksa dan memahami kemajuan semua orang di kantor. 

Jadi, aku mengingatnya. 

“Ini pekerjaan Senpai-ku.” 

Semua orang terkejut dan aku mendengar suara “Eh?” dari mereka. 

“Saki, itu maksudnya apa?” 

Mayu bertanya. Aku menjelaskan sesuai pemahamanku. 

Desain set yang digunakan dalam video musik ditangani oleh senior di kantor, dan kantor kami juga terlibat dalam persiapan pengambilan gambar dan sebagainya. 

“Orang-orang yang terlibat, dekat sekali, ya! Wah, Master memang hebat!” 

“Tidak, aku tidak dekat sama sekali. Lagian, itu bukan pekerjaanku.” 

Oh, dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan Master lagi dengan santai. 

“Master hiburan!” 

“Bukan, bukan.” 

Aku berharap seseorang bisa menghentikan kereta fantasi Kyouka sebelum melenceng lebih jauh. Onee-san di UKM itu berkata sambil tertawa, “Saki-chan itu cukup ketus, ya.” 

“Mungkin ini pertama kalinya aku melihat gadis sebaya yang tidak berteriak kegirangan saat menyebut nama Sakuma-kun.” 

Begitu, ya. 

“Gadis ini setia pada pacarnya~” 

Mayu berkata demikian, dan semua mata di ruangan itu kembali tertuju pada u. Tunggu. 

Gawat, sepertinnya bukan cuma Kyouka yang menjadi satu-satunya kuda liar. 

“Apa yang kamu katakan, Mayu?” 

“Eh, memangnya aku salah ya? Apa ada keinginan untuk berselingkuh?” 

“Tentu saja tidak!”

“Jadi kamu setia pada satu orang, ‘kan?”

“Iya, sih, tapi...” 

Aku tidak keberatan jika aku digoda, tetapi sepertinya aku juga melibatkan Yuuta dalam situasi ini.

Namun, pada saat yang sama, aku menyadari sesuatu. Ketika aku dengan tegas membantah keinginan untuk berselingkuh, ekspresi pria lain yang duduk di sebelah Arai-san jelas menunjukkan kekecewaan. Dari situ, aku mengerti mengapa Mayu menggodaku seperti itu. 

Dia sepertinya sedang memberi peringatan. 

Aku menghargainya, tapi...tetap saja! Rasa maluku tidak kunjung menghilang. 

“Pacar, ya? Bagus sekali. Seumuran?” 

“Eh, ah, ya... iya.” 

Suasana menjadi gaduh. 

Mengapa aku selalu memberikan jawaban yang benar pada saat-saat seperti ini? Seharusnya aku bisa mengatakan sesuatu yang lebih santai. Namun, orang yang bisa menguasai kata-kata dari satu hingga sepuluh adalah orang-orang yang menjadikan itu sebagai profesi mereka. Aku—aku tidak bisa. 

Di bawah langit yang berbeda, Ruka-san sedang tertawa. Lihat, kan?  Ucapnya.

Onee-san yang sebelumnya ramah mendekat dan tersenyum sambil bertanya, 

“Eh, pacarmu kuliah di mana?” 

“I-Ichinose...” 

Wah, suasananya langsung menjadi heboh. Mereka sangat tertarik. 

“Dia pintar banget, ya!” 

“Tidak, tidak begitu.” 

“Eh, jadi enggak pintar ya?” 

“Tidak! Kurasa, ia memang pintar.” 

Mereka semua tersenyum lebar. Sialan, rupanya itu jebakan. 

“Kayaknya kamu klepek-klepek banget, ya?” 

“Tidak begitu.” 

Lagipula, bukankah kalian semua Waseho? Bukankah nilai kemampuan akademis kalian sama? 

Atau, mengapa Kyouka dan Mayu tidak menghentikanku? Ketika aku mencari kedua temanku dengan tatapan bingung, ternyata mereka berdua berdiri terpisah dari kelompok, dan malah sedang asyik ber-selfie dengan ponsel mereka. 

Jangan cuma mengambil foto kenangan, bantu aku napa! 

Setelah itu, pertanyaan dari empat orang Waseho tidak berhenti, mulai dari nama, tinggi badan, penampilan, hingga sifat, dan aku berusaha untuk mengelak, tetapi otakku yang sudah kelelahan dari permainan misteri pembunuhan tidak berfungsi dengan baik... 

“Eh, lain kali bawa pacarmu juga ya! Ayo kita main bareng, pasti seru!” 

Si Onee-san itu berkata demikian, dan orang-orang di sekitar pun mendukungnya. 

Arai-san dengan antusias memohon, 

“Aku tidak memintamu untuk bergabung, tetapi aku ingin lebih banyak orang bermain permainan melarikan diri atau Madamis. Aku ingin menyebarluaskan ini.”

Ia juga bilang akan memesan permainan melarikan diri nyata yang dikelola oleh tim produksi terkenal, dan mengundang Yuuta untuk ikut serta, agar kita semua bisa pergi bersama. Kyouka dan Mayu juga tampak sangat tertarik dan tidak menyembunyikan persetujuan mereka. 

Memperkenalkan “pacarku” kepada orang-orang yang tidak kukenal, kecuali Maaya atau Maru-kun yang sudah kukenal sebelumnya. 

Aku belum pernah melakukannya. 

Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat jantungku hampir meledak karena berdebar sangat kencang!

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama