Shibo End Vol 2 Chapter 2.2 Bahasa Indonesia

Chapter 2.2 — Penyelidikan Nanjo Shuna

 

Hanya satu pemberhentian lagi dari stasiun terdekat universitas. Saat pintu terbuka, gelombang panas yang menyengat dan kerumunan orang menyerbu masuk. Karena ini adalah stasiun transit di mana banyak kereta saling bersinggungan, orang yang tidak terbiasa mungkin akan tersesat hanya dengan keramaian itu. AkuNanjo Shunadengan santai melangkah menuju gerbang tiket di tengah hiruk-pikuk tersebut. 

“Hmph, hehehe~♪” 

Sambil bersenandung pelan, aku menyentuh kartu komuterku. Dengan bunyi elektronik bip, aku melewati gerbang tiket dan melihat sebuah kejadian kecil terjadi di hadapanku. 

“Permisi pak, dompetmu jatuh loh~” 

Eh, oh, benar juga. Terima kasih.” 

Sama-sama~” 

Aku mengambil dompet yang terjatuh dan menyerahkannya, melambaikan tangan. Setelah melihat pria paruh baya tersebut membungkuk dan pergi, aku menaiki tangga di depan stasiun. 

“Hmm~?” 

Sekarang, aku melihat seorang nenek yang sedang membuka peta dan menengok kesana-kemari

“Apa ada yang bisa kubantu~?” 

“Eh, ah, umm, aku sebenarnya ingin pergi ke sini.” 

Aku melihat peta lipat yang ditunjukkan nenek tersebut. Ujung petanya sudah menguning, dan sebagian besar bangunan yang tercantum di sana sudah tidak ada lagi. 

“Hmm, mana ya~... ah, kebetulan sekali~ aku juga mau pergi ke sana~. Bagaimana kalau kita pergi bersama?” 

“Eh? Kamu yakin?” 

Iya, tidak masalah~” 

Saat kami berjalan dan sambil mengobrol ringan, tujuan kami pun segera terlihat. 

Tiba-tiba, keluarga nenek yang tampak berlari menghampiri. 

“Terima kasih... aku merasa sangat terbantu.” 

“Tidak masalah~ semoga Anda bersenang-senang dengan keluarga.” 

Tepat ketika aku hendak pergi, selembar uang seribu yen diletakkan di telapak tanganku. Walaupun bingung, aku menerima niat baik mereka yang tidak terlalu memaksa itu. Daripada menolak dan menyakiti perasaan mereka, lebih baik menerima dengan senyum agar semua pihak bahagia. 

“Baiklah~” 

Setibanya di tujuanku, aku belum melihat sosok Satoshi-kun

Di sudut kafe yang letaknya tak sedikit jauh dari stasiun, seorang wanita bersandar di dinding sambil memainkan ponselnya. Dia mengenakan headphone dan setiap kali dia mengatur ritme dengan senang, pita khasnya bergetar lembut. 

Aku teringat nama yang disebutkan Reine-chan

Hibise’. 

“Baiklah, baiklah~”

Aku menghela napas ringan dan melihat uang seribu yen di tanganku. Uang yang baru saja diberikan oleh nenek itu, entah bagaimana, sudutnya sudah melengkung. 

──Krusy. 

Wajah Kitasato Shibasaburo terdistorsi dengan menyedihkan di tanganku, simbol nilai itu hancur berantakan di tanganku. 

“Ah~. Aku jadi keceplosan~” 

Uang harus dihargai. Jangan diperlakukan sembarangan. 

Karena akan ada akibatnya. 

Ya, aku tahu. 

Tapi, saat ini, aku tidak peduli. Aku mengangkat uang yang sudah kusut itu sedikit. Dilemparkan, dan..... 

Uang itu mengenai tepi tempat sampah dan jatuh dengan suara tumpul

“Demi menjaga muka Satoshi-kun, aku hanya akan mengamatinya saja~” 

──Bagaimana jika aku bertindak. 

──Bagaimana jika aku menyebabkan bahaya

Sama seperti uang seribu yen itu. 

Mungkin aku akan beneran melakukannya~”

 

◇◇◇◇

 

Aku mengamati penampilan Hibise. Dia tidak memakai riasan yang mencolok seperti gadis-gadis gaul pada umumnya, atau berpakaian aneh. Namun, cara dia memadukan pakaian dan panjang roknya menunjukkan bahwa dia sadar dengan daya tariknya sendiri bagi pandangan pria. 

Seperti yang dikatakan Reine-chan, dia memang cantik dan imut, tetapi tidak lebih dari itu. 

Aku tidak merasakan kecerdasan darinya seperti kurasakan dari Shino-chan. Sebaliknya, aura bodoh yang sangat jelas mengalir dari seluruh tubuhnya. 

“Hehehe! Hari ini aku pasti akan memberi pelajaran pada Satoshi-senpai yang sok tahu itu!” 

Hibise menghidupkan kamera depan ponselnya untuk memeriksa wajahnya. Dia mengubah sudut pengambilan gambar, merapikan poninya, dan memeriksa bentuk bibirnya. 

“... Sepertinya sudah sekali kalau dia memang menyukai Satoshi-kun, ya~” 

Saat Hibise menggumam dengan puas, aku menghela napas kecil. Aku masih belum tahu apa yang dipikirkan Satoshi-kun tentang Hibise, tetapi sebaliknya sudah pasti. 

“Hmm~. Kira-kira siapa ya cowok itu~?” 

Dalam sekejap ketika aku sedikit mengalihkan pandanganku, seorang pria yang tidak kukenal sudah berdiri di hadapan Hibise.

Dasinya mencolok, jam tangannya berkilau, dan jari-jarinya dihiasi cincin emas. Dengan rambut disisir ke belakang, penampilannya sangat mirip dengan kesan 'pria sukses'

Aku mengamati situasi itu dengan tenang dari pinggir dinding. 

“Kamu cantik banget ya.” 

Hah...?” 

Apa Hibise sedang dirayu~? 

Namaku Ouzuki, tapi jika kamu sedang senggang, gimana kalau kita bermain bersama?” 

Itu sih mustahil~” 

Dia menolak dengan tegas. Dia menepis cowok yang berusaha mendekatinya seolah-olah sedang mengusir serangga, dan Hibise segera mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel. 

Jari-jarinya yang merapikan poni tampak sangat terampil. 

“Hmm, begitu ya. Pertahananmu kuat juga.” 

Pria itu menyeringai tidak menyenangkan dan menunjukkan gigi emasnya. Di saat berikutnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. 

“Bagaimana kalau lima puluh ribu?” 

Situasinya malah berubah seperti transaksi papa-katsu~ 

Pria itu mungkin berpikir dengan mengeluarkan uang bisa menunjukkan kekayaannya, tapi tindakannya itu hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan. 

“Aku sama sekali tidak tertarik~”

Hibise bahkan tidak bergeming sedikit pun, dia memutar-mutar poni rambutnya sambil memainkan ponselnya. Sikapnya terlihat semakin provokatif. 

“Wah, mahal ya~ kalau begitu 60 ribu.” 

Hadeuh, asal kamu tahu saja…” 

Hibise menghela napas dan mengangkat wajahnya. Kemudian, dengan ekspresi yang sangat melankolis, dia meletakkan tangan di dahinya dan membiarkan rambutnya tergerai. 

“──Uang saja tidak cukup untuk menukarku.” 

““…….”” 

Uwahh cupu banget~ 

Dia bertingkah seolah-olah dia benar-benar mengatakan sesuatu yang mengesankan, tetapi sayangnya, itu lebih dingin daripada Antartika. Pria itu juga menunjukkan ekspresi yang sama. Namun, Hibise tidak peduli dan melanjutkan. 

“Aku adalah Deneb yang melayang di langit, sebuah kilauan yang bisa menghilang kapan saja. Kamu adalah domba malang yang tidak menyadari telah terperangkap dalam ilusi. Aku adalah orang yang telah membutakan matamu… 

──Menjadi cantik itu sulit…” 

…Sangat disayangkan banget~ 

Ekspresi Hibise terlihat agak bangga, seolah-olah dia terhanyut dalam dunianya sendiri. Hanya satu hal yang pasti, dia menjadi terlalu percaya diri setelah dirayu

Wajah cantiknya yang seharusnya bersinar, sepenuhnya tertutupi oleh aura yang menyedihkan itu. Aku bahkan merasa tidah tahan melihatnya yang begitu

Jika ingin menarik perhatian Satoshi-kun, kurasa kamu takkan berhasil dengan cara begitu.” 

Aku menghela napas sambil mengamati keduanya dari jauh. Dalam pikiranku, Hibise hanyalah kucing garong yang mencoba menggoda Satoshi-kun, sedikit menyebalkan, tetapi tidak berbahaya. 

…Saat aku mulai berpikir begitu, tiba-tiba. 

“Cih.” 

Suara decakkan lidah yang menjengkelkan bergema. Pria kaya itu menatap Hibise dengan marah dan mendekatkan wajahnya. Suasana di sekitar menjadi tegang. 

“Berani-beraninya kamu mempermainkanku dengan seperti itu. Apa kamu sedang meremehkanku?” 

“Ah, ti-tidak, tidak sama sekali…” 

Suara Hibise semakin melemah. 

Tangannya yang memegang ponsel bergetar, dan kepercayaan diri yang dimilikinya beberapa saat sebelumnya telah hilang sepenuhnya. 

──Ini sedikit berbahaya~. 

Biasanya, aku akan langsung mencoba ikut campur

Tapi, area tempat ini cukup sepi. Jika aku memberikan reaksi yang salah, justru akulah yang akan dalam bahaya. 

Ketika aku hampir meraih tombol darurat, tiba-tiba──. 

Oi, Pak tua.” 

Suara rendah yang tenang langsung mengubah suasana. 

Aa?” 

“Sa-Satoshi-senpai.” 

Hibise langsung mengangkat wajahnya dan berlari menghampiri Satoshi-kun begitu melihat sosoknya. Pria itu melihat Satoshi-kun dengan ekspresi yang jelas-jelas kesal. 

“Cih, apa-apaan ini? Jadi dia sudah punya cowok toh.” 

Pria kaya itu mendecakkan lidahnya. Saat berusaha lewat, ia secara sengaja menyenggol Satoshi-kun, dan pada saat itu... 

“Minta maaflah──” 

Sebuah suara tenang. Namun, tekanan yang terkandung di dalamnya sangat luar biasa. 

“Ha──? Ugh!?” 

Sebelum aku menyadarinya, tangan kiri Satoshi-kun sudah mencengkeram kerah pria itu. Dengan bunyi tumpukl, punggung pria itu terlempar ke dinding. Aku tidak bisa menahan napas. 

“Setelah mencoba menyentuh wanita orang, kamu bahkan sama sekali tidak mau meminta maaf, hah?” 

Pria itu tidak merayuku maupun menyentuhku kok~

....Loh~

Wajah Satoshi-kun kelihatan sangat dingin. Kemarahan yang terpendam seolah-olah ia sedang menahan semua emosinya. Sorot matanya menunjukkan seolah-olah Hibise adalah wanitanya. 

“Ugh… maafkan, aku…” 

Pria itu mengeluarkan suara tertekan, dan Satoshi melihat Hibise tanpa bicara. 

──Apa yang ingin kamu lakukan?” 

Hibise tersentak kaget saat mendengar pertanyaan itu

“Eh, yah, kurasa sudah tidak masalah lagi…” 

Begitulah katanya.” 

“Ugh.” 

Satoshi-kun dengan tenang membalas dan mendorong pria itu menjauh. Pria itu mencibir dan mundur sambil berusaha melarikan diri. 

Kamu seharusnya berterima kasih atas kemurahan hati pacarku, dan jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, oke?"

'Pacarku'...?

Kata-kata itu bergema di dalam kepalaku. Begitu Satoshi-kun menatapnya dengan tatapan tajam, pria itu hampir terjatuh tetapi berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri.

Orang yang tersisa di sana hanyalah Satoshi-kun dan Hibise yang pipinya memerah dan terlihat terkejut. Aku mengamati mereka dari balik dinding dengan perasaan campur aduk. 

“Apa kamu baik-baik saja… lah, apa-apaan dengan wajahmu itu?” 

A-A-A-…” 

A?” 

Ap-Apa aku ini pacarmu, Senpai!? ” 

──Kenapa dia yang paling terkejut~? 

Wajah Hibise terlihat merah padam, sorot matanya tampak kebingungan karena panik. Dia kemudian menyembunyikan telinganya yang memerah dengan headphone dan rambut pirangnya. Dia terlihat persis seperti seorang heroine yang baru saja menerima pengakuan cinta. 

“Ah… itu hanya cara untuk melindungi diri.” 

“……Kamu bilang apaan tadi?” 

“Kalau aku bilang ‘pacar’, kupikir dia akan melarikan diri.” 

Oh begitu, jadi itu trik umum untuk berpura-pura menjadi pacarnya ya~

Itu adalah cara umum untuk mengusir rayuan yang tidak diinginkan. Dan Satoshi-kun melakukannya dengan tenang. 

“Ya, benar juga~. Lagian, mana mungkin Satoshi-kun bisa tertarik pada wanita lain, kan?” 

Aku menghela napas lega. 

──Loh~? Semua gelembung pelindung yang kupegang untuk menghilangkan stres sudah hancur. Lucu sekali~

Ta-Tak kusangka kalau Satoshi-senpai terlihat lebih liar dari yang kubayangkan…” 

“……Apa maksudmu?” 

Aku bukan bermaksud menjelekkanmu. Kupikir kamu tipe orang yang tidak suka konflik…” 

“Ya, biasanya sih begitu....” 

Dia kemudian mengalihkan pandangannya seolah-olah merasa malu. 

“Ketika aku membayangkan seseorang yang penting bagiku disakiti, tubuhku bergerak sendiri secara alami.” 

““Eh?”” 

Suara Hibise dan aku keceplosan secara bersamaan. 

Seseorang yang penting? Membayangkan seseorang yang berharga baginya disakiti? 

Dari nuansa saat ini, sepertinya Hibise dianggap penting──. 

“Dasar playboy!” 

Kenapa aku malah dicaci maki?” 

Hibise tiba-tiba berteriak dengan wajah yang memerah. Bibirnya bergetar, matanya menatap ke sana kemari, dan pipinya memerah karena panas. Dia terlihat lebih seperti tidak bisa mengendalikan luapan emosi daripada marah. 

Karena tidak puas dengan empat orang, kamu bahkan ingin menambahkanku juha ke dalam haremmu, kan? Tapi aku bukan wanita yang gampangan!” 

Kamu tidak perlu memperkenalkan diri, oke~

“Ta-Tapi, jika kamu mengatakan kalau aku lebih menarik daripada mereka berempat, aku bisa mempertimbangkannya!” 

“Tidak, itu sih tidak mungkin.” 

“Blak-blakkan banget!? Setelah mengatakan hal-hal seperti itu!? Kamu terlalu jahat!” 

Aku bahkan tidak mengerti apa yang kamu katakan…” 

Satoshi-kun tampaknya benar-benar menapaki jalan sebagai pria jahat. Hanya karena dia semakin pandai bergaul dengan gadis-gadis, sepertinya dirinya jadi terlalu percaya diri. 

…Ya, sepertinya ini adalah kasus di mana aku harus mendengarkan tubuhnya tentang hal itu kali ya~

“Kalau begitu, ayo pergi.” 

Satoshi-kun berbalik seolah tidak terjadi apa-apa. Anehnya, punggungnya terlihat dingin, dan itu membuatku kesal. 

T-Tunggu aku!”

Hibise berteriak panik dari belakang Satoshi-kun. Kemudian, dia menggenggam lengan Satoshi untuk menghentikannya. Jari-jarinya bergetar, dan terlihat canggung. 

“Ka-Kali ini aku tidak ikutan.” 

Hah? Kalau begitu, kita bubar.” 

Ahemm!?” 

Entah kenapa, dia mencoba mengalihkan perhatian dengan batuk aneh. Dia berusaha terlihat percaya diri dengan membusungkan dadanya secara berlebihan, tapi itu kelihatan jelas kalau dia memaksakan diri

Lalu, setelah mengatur napasnya──. 

“Akan menjadi aib seumur hidup jika aku tidak melakukan apa pun setelah diselamatkan dari seorang pria tua yang menakutkan. Jadi, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan?” 

Sambil berkata begitu, dia menggerakkan ujung kakinya dengan gelisah. Tatapannya terus mengembara tidak karuan, dan dia tidak berani mengangkat wajahnya. Sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari, dia sesekali melihat Satoshi-kun lalu segera memalingkan wajahnya. 

Penampilannya benar-benar persis seperti──. 

“Seperti gadis yang sedang jatuh cinta ya~” 

Sebenarnya sejak awal dia sudah menyukai Satoshi-kun, tapi mungkin dia belum menyadarinya. Namun, setelah melihat momen keren dari anak laki-laki yang dia sukai, dia tanpa sadar jatuh cinta dengan serius. Peristiwa yang sering terjadi di drama, manga shoujo, atau game. 

Satoshi-kun, kamu sudah menjadi pria nakal, ya~. 

“Maaf. Pacarku sedang membuatkan makanan enak untukku di rumah.” 

“Ugh…” 

Pada saat itu, bahu Hibise langsung terkulai lemas. Wajah gadis yang sedang jatuh cinta beberapa saat sebelumnya seketika hancur. Reaksinya yang tiba-tiba itu menyakitkan untuk dilihat, mengingat betapa gembiranya dia sebelumnya. Rasanya kasihan dan sedikit menyedihkan. 

“Yah, karena lagipula Satoshi-kun adalah milik kami, sih~” 

Aku mengucapkan kalimat itu, tapi meski di satu sisi aku merasa bahagia, aku juga merasa sedikit kasihan pada Hibise. 

Rasanya sangat menyakitkan saat mengetahui bahwa orang yang kamu sukai sudah memiliki pacar. 

“Yah, aku tetap akan menghabiskan waktu bersamamu besok juga.” 

Be-Begitu ya?” 

Ketimbang merasa ditolak, dia kelihatannya merasa senang bisa berada di samping Satoshi-kun

…Satoshi-kun, bukannya kamu mulai terlalu nakal~

Be-Begitu ya? Pasti begitu ya!” 

“Apa-apaan sih, dari tadi…” 

“Tidak, bukan apa-apa!” 

Hibise buru-buru mencoba menutupinya dengan tertawa dan mengalihkan pandangannya. Namun, telinganya merah padam. Emosinya benar-benar tidak bisa terkendali

Setidaknya untnuk saat ini, Satoshi-kun tidak secara aktif berselingkuh. 

Tapi, dirinya secara tidak sadar telah membangun tanda-tanda cinta, yang merupakan pelanggaran serius

Jika suasana seperti itu berkembang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. 

Mulai malam ini, aku harus lebih aktif untuk memerasnya habis-habisan~

Tepat saat itu..

“Ngomong-ngomong, Senpai. Tipe mana yang kamu sukai?” 

“Tipe rumput.” 

Kita tidak sedang membicarakan Pokemon! Maksudku tipe wanita kesukaanmu!” 

…Satoshi-kun, kamu bisa langsung menghabisinya kalau mau loh~. 

“Satsuki, Reine, Shuna, Shino.” 

“Ugh…” 

Kata-katanya terhenti, dan wajah Hibise seketika memucat

…Aku diam-diam merayakan kemenangan. 

Ka-Kalau gitu, sebaliknya, apa Senpai tidak mempunyai keluhan atau semacamnya?” 

Tentu saja tidak ada~. 

Ikatan kami berada pada level yang sama sekali berbeda dari kisah cinta-cintaan remaja yang biasa itu

“Yah, sebenarnya, kegiatan malamnya terlalu luar biasa, jadi aku berharap mereka bisa mengeremnya sedikit.” 

Senyum Hibise seketika membeku. Tatapan matanya tidak fokus. 

“Begitu ya, begitu ya. Mereka semua pacar yang baik, ya! Sialan!” 

Suaranya bergetar, upaya putus asa untuk bersikap sok tegar. Itu juga pelarian yang menyakitkan dari kenyataan. 

Ngomong-ngomong, kegiatan malamnya sangat intens ya~? Kami masih dalam mode menahan diri, lho~. 

Hibise berjalan lesu di belakang Satoshi. 

Punggungnya tampak persis seperti punggung seorang heroine yang kalah. Kasihan sih, tetapi agak menyenangkan juga~. 

“…Meski begitu, mencari pekerjaan itu bikin eneg banget ya.” 

Satoshi-kun menghela napas dramatis. 

“Ah… menjadi mahasiswa tahun ketiga itu memang sulit, ya?” 

“Yah, begitulah… Hibise juga sebaiknya memutuskan apa yang ingin kamu lakukan di masa depan selagi masih bisa.” 

“Aku bercita-cita menjadi pegawai negeri. Aku belajar setiap hari.” 

Hee, enggak nyangka banget.” 

“Eh? Masa~?” 

“Aku pikir kamu mungkin menjadi penjudi atau sejenisnya.” 

Bukannya itu terlalu kasar!”

Hibise mengembungkan pipinya seolah merajuk. Setelah itu, dia membiarkan pandangannya mengembara seolah melihat ke suatu tempat yang jauh, dan menghela napas. 

“Pendapatan yang stabil, tunjangan yang baik. Jika memikirkan keseimbangan kerja-kehidupan, bukannya menjadi pegawai negeri itu pilihan yang terbaik?” 

“O-Ohh benar juga.” 

Lagipula, uang adalah yang terpenting. Kita harus menabung dengan rajiin dan mempersiapkan masa tua. Aku rasa berjudi atau menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu itu sangat tidak boleh.” 

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat bahu mendengar kata-kata yang terlalu realistis itu. 

“Kamu sama sekali tidak memahami Satoshi-kun, ya~” 

Satoshi-kun hidup berada di luar nilai-nilai konvensional. Seorang mahasiswa yang sudah menghasilkan pendapatan seumur hidup. Justru karena ia tidak kekurangan uang, hal yang dicari Satoshi bukanlah stabilitas, melainkan tantangan. 

Keseimbangan kerja-kehidupan? Tunjangan yang baik? 

Mana mungkin Satoshi-kun kami menginginkan kebahagiaan yang begitu biasa. 

Sebaliknya, orang-orang seperti kami──. 

“Terlalu luar biasa…!” 

“Eh?” 

Eh? 

Suara Hibise dan suara hatiku saling tumpang tindih secara bersamaan

Entah kenapa, pandangan mata Satoshi tampak berbinar-binar, dengan suara bergetar yang sedikit emosional. 

“Memang, berjudi dan menghabiskan uang secara sembarangan itu tidak boleh, kan?” 

“Y-Ya, kurasa hal-hal yang berpotensi bisa merusak itu sebaiknya dihindari.” 

“...Gawat. Sepertinya aku mulai menyukai Hibise.” 

“Fueh!? ” 

Suasana seolah terhenti. Hibise seketika membeku, wajahnya memerah dan tampak terkejut. 

Di hadapannya, Satoshi memiliki ekspresi yang anehnya tenang. Ia seakan menyadari bahwa junior yang ia anggap menyebalkan ternyata sangat baik, dan itu membuatnya terharu. 

“Ak-Aku mau ke toilet dulu!” 

“Baiklah~. Aku akan menunggu.” 

Aku baru saja menyaksikan momen di mana seorang heroine benar-benar berhasil ditaklukkan

Dan sensasi dingin menjalari tulang punggungku

Kalau begini terus, bakalan tidak baik… 

“Kita harus merencanakan strategi…” 

 

*****

 

“──Ia benar-benar orang mengerikan.” 

Setelah mengucapkan itu, kemarahan membuncah di dalam diriku

Pada awalnya, kupikir dia cuma berpura-pura diserang. 

Meski begitu──. 

Tak kusangka kalau ternyata orang seperti itulah yang menjadi tunangannya…”

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Satsuki)

 

“Shuna, dia lama banget ya~.” 

Kantong-kantong kerupuk beras berserakan di atas meja. Hanya suara renyahnya yang terdengar di ruangan. Kami bertiga berbagi suasana santai sambil menunggu kembalinya Shuna. 

Fufu, meskipun Shuna-san kelihatan ceroboh, tapi sebenarnya dialah yang paling peka di antara kita. Mungkin saja dia sudah menangkap sesuatu.” 

“Karena itulah aku merasa cemas…” 

Aku menghela napas. 

“Shuna itu kadang-kadang bertindak berlebihan, iya ‘kan?” 

“...Benar juga.” 

Jika dia mengetahui bahwa Satoshi-kun mengalami kerugian karena seorang wanita bernama Hibise, dia pasti akan mulai mengamuk. Kalau tidak hati-hati, dia bahkan mungkin akan──. 

Nee~Nee~, kalian berdua! Lagu ini sangat bagus, bukan?” 

Tiba-tiba, Reine merangkul bahuku dan Shino, lalu menunjukkan layar ponselnya. Dia benar-benar dalam mode ingin diperhatikan, tidak bisa menahan diri untuk berbagi ceritanya. 

Suara lagu idol yang terlalu keras mengalun di telinga. Dia terus berada dalam semangat ini sejak menyatakan ingin menjadi idola. 

…Aku penasaran apa artinya dia menjadi terobsesi dengan idola yang pernah berjabat tangan dengan Satoshi-kun

Untuk saat ini, karena kami sedang dalam rapat penting, jadi aku memutuskan untuk mengabaikan Reine. 

“Reine, tetap di situ.” 

Aku melambaikan tanganku untuk mengusirnya. 

“Muu, kalau kamu bertindak jahat, aku akan menggigitmu.” 

“Kyah!” 

“Hmm, hmm.” 

Dia tiba-tiba menjilat telingaku, dan aku serta Shino mengeluarkan teriakan aneh sambil merasakan bulu kuduk kami merinding di sepanjang tulang belakang. 

Fufu.” 

Reine tertawa seolah-olah menikmati reaksi itu. 

Hei, Reine! Berhenti──” 

Saat aku berteriak, suara “gacha” pintu yang terbuka terdengar dari arah pintu masuk. 

“Aku pulang~.” 

Suara Shuna yang panjang menggema di dalam kamarku. Mengabaikan keusilan Reine, aku berjalan menuju pintu masuk. 

“Bagaimana hasilnya?” 

“Hmm~.” 

Shuna melepas sepatu sambil membelakangi kami. 

Yah setidaknya, Hibise sudah jatuh cinta pada Satoshi~.” 

Hee~?” 

Aku, Reine, dan Shino menyipitkan mata. 

Kami sangat ingin mendengar detailnya──. 

Yang lebih penting dari itu, aku punya sesuatu yang ingin kukatakan kepada kalian semua.” 

“Hmm? Apa?” 

Shuna berbalik dan tersenyum. Senyumannya sedikit lebih tenang dari biasanya, dan itu malah membuatku merasa takut. 

 

“──Aku akan berhenti berjudi.” 

 

“Eh?” 

Smartphoneku terlepas dari genggaman tanganku dan jatuh ke lantai dengan suara pelan. 

Shino juga terkejut, sementara Reine membeku dengan mulut setengah terbuka. 

“Shuna, bisa kamu mengulanginya sekali lagi?” 

Reine bertanya dengan hati-hati. Shuna masih tetap tersenyum dan melanjutkan dengan santai

“──Aku juga akan berhenti menghambur-hamburkan uang.” 

“Eh? Umm…” 

Ketika Shuna menunjukkan smartphone-nya, layarnya tidak menunjukkan apapun di sana. Semua aplikasi game sosial, saham, forex, dan pacuan kuda yang dia cintai telah menghilang. 

“Aku──akan menjadi PNS.” 

“Apa kepalamu baik-baik saja!?” 

Aku menempelkan dahiku ke dahi Shuna dengan semangat seolah-olah ingin menyundulnya. Suhu tubuhnya normal. Napasnya juga tidak terengah-engah. Detak jantungnya pun berjalan normal

Namun, Shuna masih tampak santai seperti biasanya dengan senyumannya yang khas

Kamu pasti sedang bercanda, kan…?” 

Mustahil…” 

Ketika aku melihat ke arah suara Reine dan Shino, mereka berdua tampak pucat. Mereka tampanya mengeluarkan buku referensi untuk ujian pegawai negeri dari dalam tas Shuna

Bau tinta baru yang aneh itu terasa sangat nyata dan tidak menyenangkan. 

“Apa yang terjadi, Shuna!? Kamu bilang, ‘Hidup tanpa mengejar kekayaan instan itu sama saja dengan mati~!’” 

Persis seperti yang dikatakan Reine-san! Kamu menahan diri untuk tidak mengeluarkan uang karena karakter baru akan muncul, kan!?” 

Kami berusaha mengembalikan Shuna yang biasa. Namun, 

“Hehe, kalian semua lucu banget deh~. Di era sekarang, ketenangan dan kestabilan adalah motto generasi kita, kan~?” 

Ehhh… 

Kami saling memandang dan kehilangan kata-kata. 

“Pokoknya, aku sudah mengirim hasil penelitian melalui LINE, jadi periksa saja ya~.” 

“Baiklah…” 

“Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku untuk belajar ya~.” 

…Suara pintu yang tertutup terdengar sangat sunyi. 

“……Pokoknya, aku akan memeriksa Hibise sekarang.” 

Reine yang bercita-cita menjadi idola dan Shuna yang ingin menjadi manusia baik. Aku sudah tahu betapa berbahayanya wanita bernama Hibise. 

“……Apa aku perlu ikutan juga?” 

Shino bertanya dengan cemas. 

“Tidak, tidak usah. Lagipula, besok kamu ada jadwal perkuliahan, kan?” 

“Tapi…” 

“Jangan khawatir. Aku tidak akan terlalu terlibat.” 

“……Tolong jangan melakukan hal yang berbahaya, ya?” 

“Ya!”


 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama