Shibo End Vol 2 Chapter 2.3 Bahasa Indonesia

Chapter 2.3 Penyelidikan Saionji Satsuki

 

Hari Sabtu. Meskipun hari ini merupakan hari libur yang berharga, aku──Saiounji Satsuki, sedang mencurahkan seluruh tenagaku untuk misi yang sangat memalukan, yaitu menguntit pacarku sendiri

Hari ini seharusnya menjadi hari kencan kami. Namun, Satoshi-kun tiba-tiba membatalkannya dengan alasan ada urusan mendesak. Katanya, ia harus membantu teman sekelasnya dengan tugas. 

“Jangan bohong begitu. Kami mengetahui dari penyelidikan Reine kalau kamu tidak memiliki teman di seminarmu…” 

Aku mengenakan kacamata hitam dan mengintip dari balik tiang di depan stasiun, mengamati gerak-gerik mereka berdua. 

Tujuan mereka ternyata bukan ke arah universitas, melainkan ke arah sebaliknya. Mereka turun di stasiun yang sedikit sepi setelah terombang-ambing di dalam kereta. 

Atau lebih tepatnya, mereka turun di stasiun dekat dengan sekolah SMA tempat kami dulu bersekolah

“Akhirnya kita sampai!” 

Suara ceria Hibise menggema di depan stasiun, tapi tidak ada seorang pun di gerbang tiket. Di bawah langit yang mendung, deretan pintu toko tua tertutup, dan kantong plastik melayang tertiup angin, menggelinding di atas aspal. 

Berbeda dengan suasana di sekitar apartemen kami, kota ini anehnya terasa sunyi seolah-olah sudah ditinggalkan

“Ada sesuatu yang kamu rasakan?” 

Satoshi-kun bertanya demikian

“Hmm~, aku belum merasakan apapun.” 

“Begitu ya.” 

Mereka berdua tertawa bersama. 

“Yuk, ayo kita pergi!” 

Hibise berkata demikian sambil dengan alami mengaitkan tangannya pada lengan Satoshi-kun. Dia begitu dekat hingga dadanya hampir bersentuhan, dan menyelipkan lengannya di antara siku Satoshi-kun

Kamu ini, Hibise. Kamu terlalu dekat, lho…” 

Jarak segibi buat antara teman sih biasa saja! Teman cowok dan cewek di sekitarku juga melakukan ini! Bahkan ini sedang tren!” 

Hibise tertawa sambil memberikan alasan, tetapi pipinya sedikit memerah. Suaranya terdengar agak bergetar riang. Alasan seperti itu manamungkin akan berhasil──. 

Antar teman yakalau begitu, mungkin tidak masalah.” 

Apa dirinya begitu senang bisa memiliki teman? 

Aku memutuskan di dalam hatiku dan bertekad untuk membantu Satoshi-kun mendapatkan teman. 

Namun, kami tidak memiliki kenalan laki-laki. 

Gadis? Itu bahkan lebih mustahil

Memiliki teman perempuan untuk seorang pria yang sudah memiliki pacar hanya akan menimbulkan masalah. Seperti fenomena yang terjadi di depan mataku saat ini. 

“Yah, mengesampingkan masalah itu dulu──” 

Seyelah melihat wajah Hibise, aku tidak bisa menahan diri untuk menghela napas. Dia benar-benar terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta. 

Diselamatkan dari percobaan rayuan pria asing lalu jatuh cinta—heroine game simulasi kencan macam apa sih dirinya? 

“Aku sudah lama memikirkannya sejak lama.” 

“Hmm?” 

“Satoshi-senpai, kenapa kamu tidak punya teman?” 

Hibise bertanya dengan nada santai. 

“...Ini sebenarnya cerita tentang temanku.” 

Satoshi-kun mengalihkan pandangannya dan sedikit menunda sebelum menjawab. 

…Aku tidak menyangka ada orang yang benar-benar menceritakan tentang temannya. Dan, ada kontradiksi menyedihkan bahwa dia tidak memiliki teman. 

Ia memiliki empat pacar yang sangat cantik.” 

“...Hoh.”

Aku seakan-akan bisa mendengar suara retakan hati Hibise. 

“Pertama-tama, jika dirinya mencoba berteman dengan lawan jenis, kecemburuan pacarnya akan membuatnya terpuruk.” 

Tentu saja. Ia tidak membutuhkan wanita lain selain kami, kan? 

“...Lalu, bagaimana dengan teman sejenis?” 

“Jika dirinya mencoba membuat teman sejenis, ia juga akan dicemburui dan tidak ada yang mau berurusan dengannya...! Mereka pasti merasa iri karena ia punya empat pacar yang luar biasa cantik…” 

“Itu benar juga sih.” 

Hibise tersenyum samar. Meskipun matanya terlihat keruh. 

“Jadi itulah sebabnya ia tidak mempunyai teman. Memangnya apa yang harus kulakukan?” 

Ia sudah mulai menggunakan kata aku 

Bagian di mana dirinya tidak bisa menjalankan pengaturan yang buruk itu sampai akhir justru membuatnya semakin menggemaskan

Bukannya lebih baik jika kamu putus dengan pacarmu?” 

Hah? Apa yang dikatakan si Kouhai ini dengan senyuman riang begitu

Kalau itu sih tidak mungkin.” 

Namun, Satoshi-kun dengan tegas menolak dengan suara rendah. Pandangan matanya menatap lurus tanpa sedikit pun bergetar. 

Hibise terdiam dan menggerakkan alisnya. 

“Ta-Tapi, jika mereka begitu posesif, bukannya putus bisa menjadi salah satu pilihan?” 

Cuma itu satu-satunya hal yang takkan kulakukan.” 

Satoshi-kun menjawab lagi dengan cepat tanpa jeda. Kecepatannya begitu hebat sehingga bahu Hibise berkedut. 

“Pasti ada ketidakpuasan, kan? Kalau begitu…” 

“Aku menyukai semua itu, termasuk bagian-bagian itu.” 

──Ihhh, pacarku keren banget

Aku tidak bisa membujukmu sama sekali!” 

Hibise akhirnya menjatuhkan diri ke tanah dan berlutut. Dia menengadah ke langit dan berteriak. Pemandangan itu benar-benar tampak seperti gambaran seorang pecundang. 

Ketika menyaksikan pemandangan itu, aku jadi berpikir. 

“...Pada awalnya aku hanya berniat melakukan penyelidikan, tetapi sepertinya aku harus bergerak sekarang.” 

Hibise berusaha memisahkan Satoshi-kun dari kami, jadi mana mungkin aku, pacarnya, tidak melakukan tindakan apapun sama sekali

Wajah itu, cara bicara itu, penampilan yang sangat menyedihkan. Dia jelas-jelas bersalah. Aku harus menghentikan wanita nakal yang menyesatkan Satoshi-kun

Saat aku berpikir begitu dan melangkah maju, 

“Ngomong-ngomong, apa── beneran ada di sini?” 

Aku tidak bisa mendengar kata-kata Satoshi-kun dengan jelas. 

Kakiku seketika berhenti mendadak

Entahlah~? Bukannya ini kencan untuk mencarinya?” 

Kurasa benar juga... Oh, dan ini bukan kencan.”  

“Cih.” 

“Apa kamu baru saja mendecakkan lidahmu?” 

Mana mungkin lah~! Aku tidak pernah mendecakkan lidah seperti itu!” 

Hibise menepuk-nepuk bahu Satoshi berulang kali

Mereka sedang mencari sesuatu…?” 

Tenggorokanku seketika terasa kering, dan detak jantungku semakin berdetak lebih  cepat. Aku perlu mengumpulkan lebih banyak informasi. 

Hibise berhenti tepat di depan jembatan, menatap layar ponselnya, lalu perlahan-lahan mengangkatnya. Cahaya dari permukaan sungai memantul, dan layar LCD bersinar putih sejenak. 

“Hmm~, sedikit lagi──” 

Ara~ara~! Bukannya itu Satoshi~!” 

“Hah?” 

Hah? 

Suara Hibise dan suaraku saling tumpang tindih bersamaan. Pada saat yang sama, kami bereaksi dengan keterkejutan yang sama. 

Di sisi lain jembatan, ada seorang wanita cantik yang glamor berdiri di sana. Dengan satu tangan memegang tas belanjaan, tangan lainnya menghisap rokok elektrik. 

Rambut abu-abu yang diikat longgar dalam gaya kuncir samping, dan tulang selangkanya yang ramping terlihat dari blusnya yang longgar. Dia terlihat menenangkan sekaligus juga menggoda. 

…Aku mempunyai firasat buruk. 

“Ada apa~? Apa kamu sengaja datang jauh-jauh kemari cuma untuk menemuiku~?” 

Wanita itu berbicara kepada Satoshi-kun dan benar-benar mengabaikan keberadaan Hibise. 

Bukannya mereka terlalu dekat!? 

Umm, sebenarnya aku cuma kebetulan saja datang kemari…” 

Satoshi-kun mencoba menjelaskan dirinya dengan terbata-bata, tetapi suaranya terdengar lemah. 

Tunggu sebentar. Kenapa orang itu bisa tahu nama Satoshi-kun

Maksudku, mengapa Satoshi-kun bertingkah seolah-olah ia mengenal orang ini!? 

“...Satoshi-senpai. Si-Siapa wanita itu?” 

Hibise menatap Satoshi-kun dengan senyuman yang dipaksakan dan raut wajahnya berkerut tak pecara

Dan saat Satoshi-kun membuka mulutnya──. 

“Aku adalah selingkuhannya Satoshi~.” 

Hee~ Selingkuhan… Hmm~, selingkuhan ya… selingkuhan, jadi wanita itu selingkuhannya────selingkuhan!? 

Aku berusaha menutup mulutku dengan tangan untuk menahan diri agar tidak berteriak. Suara detak jantungku berdetak keras. 

“Jangan mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman, Hishui-san!” 

Eh!? Satoshi-kun memanggil dengan nama depannya!? 

“Itu sama sekali tidak benar, Hibise. Orang ini──!” 

Satoshi-kun kelihatan panik. Suaranya terdengar sedikit melengking. 

“Apanya yang tidak benar~?” 

Hishui menimpali dengan suara merayu dan menyandarkan tubuhnya pada bahu Satoshi-kun. Rambutnya yang lembut terurai hingga bahunya, dan jarak di antara mereka mendekati nol. 

“Bukannya pas bulan lalu kamu menginap di rumahku~?” 

Hah? 

“Itu sih karena Hisui-san yang membuatku mabuk! Lagipula di sana ada──!” 

Satoshi-kun berusaha menjelaskan dengan putus asa. 

Sekarang setelah kupikir-pikir lagi, bulan lalu ada hari di mana ia tidak ada di rumah

“Kejam sekali~. Apa kamu sudah melupakan kata-katamu sendiri yang menyebutkan bahwa aku adalah orang yang penting bagimu~?” 

Yah, umm, itu memang benar sih…” 

Jadi itu beneran!?” 

Jeritan Hibise bergema. 

Eh, umm, mari kita urutkan perkara ini

Pertama-tama, Hibise berinteraksi dengan Satoshi-kun, yang merupakan calon selingkuhannya. Kemudian, Satoshi-kun mengeluarkan gerakan tampan, dan seperti yang diperkirakan, Hibise jatuh cinta padanya

Setelah itu, meskipun Satoshi-kun dengan terampil menangkis rayuan Hibise, tapi ada seorang wanita yang sudah menikah tiba-tiba muncul

Aku sudah tidak mengerti lagi… 

“Ngomong-ngomong, Satoshi~. Siapa sih wanita itu~?” 

Hisui memandang tajam Hibise dengan perlahan. Suaranya terdengar manis, tetapi matanya tidak menunjukkan senyuman sama sekali. 

Setelah menilai orang di hadapannya, Hisui menghela napas seolah-olah dia merasakan sesuatu. 

“Kamu sama sekali tidak pantas untuk Satoshi~. Aku tidak ingin mengatakan hal kejam, jadi ikutilah saranku dan carilah pria lain~” 

“Hah!? Apa maksudnyaaa!?” 

Suara Hibise melengking. Dia benar-benar terkejut. 

Demi bisa berdiri di samping Satoshi, kamu tidak memiliki kecerdasan, naluri keibuan, atau apa pun yang diperlukan~.” 

Nada bicara Hisui kedengarannya lembut. Namun, senyumannya sudah mirip seperti vonis mati. 

Dan, seolah-olah itu hal yang biasa, dia meraih lengan Satoshi. 

Baiklah, ayo kita pergi~.” 

“Tidak, tunggu sebentar, Hisui-san!?”

Satoshi-kun diseret pergi. 

Ini, jelas-jelas, perselingkuhan, iya ‘kan!? Terlebih lagi dengan istri orang lain!? 

Tolong tunggu sebentar!” 

Hibise bersuara keras tak mau kalan. Wajahnya memerah karena marah, dan dia melangkah maju satu langkah. 

“Hmm? Kamu masih ada di sini~?” 

Hisui perlahan menoleh. Ekspresinya menunjukkan senyuman manis yang lembut. Namun, pandangan matanya sedingin es. 

Pertama-tama, aku bukan pacar Satoshi-senpai, bukan begitu…” 

Dan pipinya memerah. 

“Aku sedang berkencan dengan Satoshi! Jangan seenaknya membawanya pergi sembarangan!” 

““Hah?”” 

Suaraku dan Satoshi-kun berseru serentak. Hibise mengatakannya dengan tegas, menarik kembali lengan Satoshi-kun, dan menggenggamnya dengan kuat. 

Umm, Hibise. Wanita ini──” 

“Tenang saja! Serahkan sisanya padaku!” 

Hibise tersenyum cerah dan mengedipkan matanya ke arah Satoshi-kun

“Begitu rupannya…!” 

Aku memahami niat Hibise dan menggigit bibirku. 

Menurut penyelidikan Shuna tentang Satoshi-kun, sepertinya ia berpura-pura menjadi pacarnyas secara mendadak untuk membantu Hibise. Namun kali ini kebalikannya, sepertinya Hibise berusaha melindungi Satoshi-kun

Namun, karena interaksi itu, sekarang ada pemandangan yang sangat tidak biasa di depan mataku. 

Wanita selingkuhan : Wanita yang sudah menikah, Hisui──penjahat besar yang sedang merayu Satoshi-kun

Wanita selingkugan : Wanita yang mengaku-ngaku pacarnya, Hibise──heroine tipe kouhai yang malang karena jatuh cinta pada Satoshi-kun

Dan aku yang mengintip dari bayangan──pacar utama yang sebenarnya

Bagaimana bisa jadi begini!? 

Kamu tidak boleh begitu~ Satoshi.” 

Hisui tersenyum lembut sambil mencolek pipi Satoshi-kun dengan jarinya

“Dikatakan bahwa para pahlawan menyukai wanita, tetapi jika sembarangan meraihnya~.” 

Sudah kubilang itu cuma salah paham!?” 

“Kembalikan pacarku!” 

“Hibise juga sama saja, jangan mengatakan hal yang tidak perlu!?” 

Satoshi ditarik dari kiri dan kanan, kedua lengannya tertarik ke arah yang berbeda. 

Aku juga tidak bisa tinggal diam terus! Aku harus pergi!” 

Rasa marah menggelegak di dalam hatiku. Aku tidak bisa hanya berdiri diam dan melihat kejadian di hadapan mataku

Saat aku berpikir untuk melangkah maju di antara mereka bertiga

“Aku tidak mengerti mengapa kamu mau mendekati Satoshi jika kamu mengetahui ia sudah punya pacar!” 

Jeritan Hibise memecah keheningan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat kakiku terhenti sejenak. Dan kemudian, waktu seolah-olah berhenti, suasana menjadi tegang. 

“Fyuh~” 

Dalam keheningan yang menegangkan, Hisui perlahan menghisap rokok elektriknya, dan asapnya bergetar lembut. 

“Selama si wanita terus mengejar pria, dia tidak akan pernah bisa menjadi pihak yang dikejar~.” 

Suara rendah dan menggoda. Seolah-olah dia mengungkapkan kebenaran. 

“Wanita yang benar-benar baik hanya perlu menunggu. Pada akhirnya, pria akan kembali merangkak ke arahnya~.” 

Aroma asap menghilang tertiup angin. Aku terpesona oleh ketenangannya. 

“Apa kamu paham~? Inilah yang dinamakan ketenangan sejati orang dewasa~. Nak.” 

Senyuman yang penuh kemenangan. Senyumannya tidak menunjukkan permusuhan, hanya kepercayaan diri. 

Sementara Hibise menggigit bibirnya dengan penuh penyesalan, hanya Satoshi yang menatap dengan tatapan lesu. 

“...Apa kamu seriusan mengatakan itu?” 

“...Jika kamu mengatakan hal yang tidak perlu, aku tidak akan membiarkanmu pulang loh~?” 

“Maaf, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi!” 

Satoshi-kun cepat-cepat meminta maaf. 

Dalam hal dinamika kekuasaan, Hisui yang memegang kendali. Ini bukan lagi adegan perselingkuhan, tetapi adegan dinamika kekuasaan pasangan suami istri. 

“Ta-Tapi, aku tetap akan meminta Satoshi kembali!”

Hibise terengah-engah, berusaha keras mengangkat suaranya. 

“Setelah akhirnya kita bisa bersama, aku tidak ingin ditinggalkan lagi di sini!” 

Hei, Hibise. Sejak tadi apa yang kamu katakan…?” 

“...Hmmm, lumayan juga ya~. Kalau begitu, mari kita bertarung secara adil untuk menentukan siapa yang menjadi milik Satoshi~.” 

Siapa takut!” 

“Tidak, seriusan, apa yang kamu katakan…?” 

Perlawanan Satoshi-kun sia-sia, dia ditarik pergi dengan wajah yang meringis kesakitan. Aku yang biasanya pasti akan segera menyelamatkannya. Tapi perkataan Hisui anehnya masih terngiang-ngiang di benakku.

“Apa aku terlalu posesif…?” 

Sebelum aku menyadarinya, kalimat tersebut keluar dari mulutku.  Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, itu adalah kesalahan kami bahwa Satoshi-kun tidak mempunyai teman. 

Harapan kami yang tidak ingin dirinya berteman dengan lawan jenis justru membuatnya tidak memiliki teman sejenis. Apa ini masih bisa disebut kalau aku benar-benar mempercayai Satoshi-kun

Atau bisa juga diartikan sebagai ketergantungan──. 

Hah?” 

Sebelum aku bisa merumuskan pemikiranku, aku menyadari ketiga sosok itu sudah menghilang entah kemana

Aku menyadari kesalahan yang telah kubuat, dan keringat dingin mengalir di punggungku. 

“Aku benar-benar....teledor banget ya…?” 

Setelah itu, aku tidak bisa menemukan keberadaan Satoshi-kun lagi

 

******

 

Meskipun begitu──. 

“Hmm? Ada apa~?” 

“Tidak, bukan apa-apa.” 

Dia sudah menjadi ibu rumah tangga yang tampak normal, sulit dipercaya kalau dia dulunya wanita yang selalu melakukan kekerasan sepanjang tahun. 

 

◇◇◇◇

 

Aku pulang~…” 

Saat aku membuka pintu depan, kelelahan yang tak terlukiskan menyelimuti badanku. Aku tidak pergi ke kamar Satoshi. 

Sekarang waktunya untuk melapor dalam──Rapat Empat Arah

“Selamat datang kembali.” 

Suara lembut menggema di pintu masuk. Shino tersenyum sambil menatap wajahku. 

Saat aku melangkah masuk ke ruang tamu, pemandangan yang biasa terlihat. 

Reine sedang berbaring di sofa sambil memakai earphone di kedua telinga dan bergoyang-goyang mengikuti irama. Dia melirikku sejenak, lalu menyapaku mengepakkan kakinya

Itu tidak sopan tau?” 

Sebagai balasan, dia mengubah sudut kakinya dan mengepakkannya dua kali seolah berkata, Ya, ya.' 

Aku benar-benar diremehkan. 

Sementara itu, Shuna sedang duduk di sekitar meja, membuka buku referensi tebal. Ketika dia melihatku, ekspresinya langsung melembut, dan dia melambaikan tangan sedikit. 

“Selamat datang kembali~, Satsuki-chan.” 

Aku pulang, Shuna.” 

Aku melemparkan barang-barangku ke samping dan duduk di lantai. Seluruh tubuh aku terasa berat. 

“Bagaimana hasilnya?” 

Shino duduk di sebelahku dan menyodorkan secangkir teh hangat

“Sepertinya Hibise dan Satoshi-kun sedang mencari sesuatu.” 

“...Mencari sesuatu?” 

“Ya. Tapi aku tidak tahu apa yang mereka cari. Maaf…” 

“Tidak apa-apa... Seperti yang diharapkan dari Satsuki-san.” 

Shino tersenyum lembut. 

Namun──. 

“Tapi, itu bukan yang terpenting. Aku mempunyai informasi yang lebih berbahaya.” 

“──Silakan ceritakan.” 

Aku mendengar suara tenggorokan Shino bergetar. 

Lalu, aku mengungkapkannya

“Sepertinya Satoshi-kun── memiliki selingkuhan wanita yang sudah menikah.” 

“Begitu ya… ehh?”

Ketiga orang itu terdiam. 

“...Kita terlalu mengikat Satoshi, ya?” 

“...Benar. Tapi, tentang selingkuhan yang sudah menikah itu…” 

Suara tenang Shino menggema. 

“Aku berpikir....” 

Aku meletakkan tanganku di dada dan menatap wajah ketiga orang itu dengan serius. 

Kurasa sifat keposesifan itu mungkin berasal dari kelemahan hati.” 

“Itu juga benar. Tapi mari kita lanjutkan cerita tentang selingkuhan itu…” 

“Jadi, aku──akan menjadi wanita yang sudah menikah!” 

Begitu aku mengatakannya, ruangan menjadi sunyi dan hanya ada bunyi detak jam yang terdengar. Shino menepak dahinya dengan tangan, Reine membeku dengan keripik kentang di mulutnya. Shuna tetap tersenyum sambil menyandarkan kepalanya. 

“Aku ingin lebih mempercayai pada Satoshi-kun!” 

Kata-kata ini penuh semangat. 

“Kita sangat takut kalau ada seseorang yang mengambil Satoshi-kun dari kita, jadi kita telah mencoba mengendalikannya dengan segala cara, kan?” 

“Ya, umm, jadi rincian tentang wanita yang sudah menikah itu…” 

“Tapi, jika kita benar-benar mencintainya, kita harus memberinya kebebasan!” 

Aku melanjutkan dengan meletakkan tanganku di dada, seolah-olah aku sedang meyakinkan diri sendiri. 

“Meskipun kita tidak bisa bertemu dengannya kapan pun kita mau, meski dirinya terlihat akrab dengan wanita lain, kita harus bisa mempercayainya. Kurasa ketenangan yang dewasa seperti itulah yang dinamakan cinta sejati!” 

Dan kemudian, dengan semangat, aku menyatakan. 

“Jadi, itulah sebabnya──aku akan menjadi wanita yang sudah menikah!” 

Keheningan. Sepenuhnya hening. 

Mereka bertiga saling memandang dan mulai berbicara pelan-pelan. 

Dasar Satsuki, kenapa kamu mengucapkan hal bodoh seperti itu?” 

Iya ‘kan~. Biasanya dia agak ceroboh, tapi kali ini sudah kelewatan~.” 

“...Memangnya kalian berdua berhak mengatakan itu?” 

“Apa yang kalian bicarakan?” 

“Tidak, bukan apa-apa.” 

Shino menatapku dengan senyuman sempurna. 

“Terima kasih atas kerja kerasnya. Silakan beristirahat dengan baik hari ini.” 

“Hmm, terima kasih! Aku akan menyiapkan bak mandi dulu!” 

“Silakan.” 

 

──Dan keheningan kembali menyelimuti ruang tamu

“Keinginan Reine-san untuk menjadi idola, rehabilitasi Shuna-san menjadi manusia biasa, dan keinginan Satsuki-san untuk menjadi wanita menikah.” 

Ini adalah perubahan yang membuat kepalanya sakit, tetapi mungkin itu menunjukkan seberapa besar pengaru Hibise. 

Shino berdiri dan rambut hitamnya melambai lembut. 

Sorot mata tenangnya seketika mengubah suasana menjadi tegang. 

“──Akulah yang akan mengakhirinya.”




 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama