Hari
Sabtu. Meskipun hari ini merupakan hari libur yang berharga, aku──Saiounji Satsuki,
sedang mencurahkan seluruh tenagaku untuk misi yang sangat memalukan, yaitu
menguntit pacarku sendiri.
Hari
ini seharusnya menjadi hari kencan kami. Namun, Satoshi-kun tiba-tiba membatalkannya dengan alasan ada urusan
mendesak. Katanya, ia harus membantu teman sekelasnya dengan tugas.
“Jangan
bohong begitu.
Kami mengetahui
dari penyelidikan
Reine kalau kamu tidak memiliki teman di seminarmu…”
Aku
mengenakan kacamata hitam dan mengintip dari balik tiang di depan stasiun,
mengamati gerak-gerik mereka
berdua.
Tujuan
mereka ternyata bukan
ke arah universitas, melainkan ke arah sebaliknya. Mereka turun di stasiun yang
sedikit sepi setelah terombang-ambing di dalam kereta.
Atau lebih tepatnya, mereka turun di stasiun dekat dengan sekolah SMA tempat kami dulu
bersekolah.
“Akhirnya
kita sampai!”
Suara
ceria Hibise menggema di depan stasiun, tapi tidak ada seorang pun di gerbang
tiket. Di
bawah langit yang mendung, deretan pintu toko tua tertutup, dan kantong plastik
melayang tertiup angin, menggelinding di atas aspal.
Berbeda
dengan suasana di sekitar
apartemen kami, kota ini anehnya terasa
sunyi seolah-olah sudah
ditinggalkan.
“Ada
sesuatu
yang kamu
rasakan?”
Satoshi-kun bertanya demikian.
“Hmm~, aku belum merasakan
apapun.”
“Begitu
ya.”
Mereka
berdua tertawa bersama.
“Yuk,
ayo kita pergi!”
Hibise
berkata demikian sambil
dengan alami mengaitkan tangannya pada lengan Satoshi-kun. Dia begitu dekat hingga dadanya hampir bersentuhan, dan menyelipkan lengannya di antara siku Satoshi-kun.
“Kamu ini, Hibise. Kamu terlalu dekat, lho…”
“Jarak segibi buat antara teman
sih biasa saja! Teman cowok dan cewek di sekitarku juga melakukan ini! Bahkan ini
sedang tren!”
Hibise
tertawa sambil memberikan alasan, tetapi pipinya sedikit memerah. Suaranya
terdengar agak bergetar riang. Alasan seperti itu manamungkin akan berhasil──.
“Antar teman ya… kalau begitu, mungkin tidak masalah.”
Apa
dirinya
begitu senang bisa memiliki teman?
Aku
memutuskan
di dalam hatiku dan bertekad
untuk membantu Satoshi-kun
mendapatkan teman.
Namun,
kami tidak memiliki kenalan laki-laki.
Gadis?
Itu bahkan lebih mustahil.
Memiliki
teman perempuan untuk seorang pria yang sudah memiliki pacar hanya akan menimbulkan masalah. Seperti fenomena yang
terjadi di depan mataku
saat ini.
“Yah,
mengesampingkan
masalah itu dulu──”
Seyelah melihat
wajah Hibise, aku tidak bisa menahan diri untuk menghela
napas. Dia benar-benar terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
Diselamatkan
dari percobaan rayuan pria asing lalu jatuh cinta—heroine game simulasi kencan macam apa sih dirinya?
“Aku
sudah lama memikirkannya sejak lama.”
“Hmm?”
“Satoshi-senpai, kenapa kamu tidak punya teman?”
Hibise
bertanya dengan nada santai.
“...Ini
sebenarnya cerita tentang temanku.”
Satoshi-kun mengalihkan pandangannya dan sedikit menunda sebelum
menjawab.
…Aku
tidak menyangka ada orang yang benar-benar menceritakan tentang temannya. Dan, ada kontradiksi menyedihkan
bahwa dia tidak memiliki teman.
“Ia memiliki empat pacar yang
sangat cantik.”
“...Hoh.”
Aku seakan-akan bisa mendengar suara retakan hati Hibise.
“Pertama-tama, jika dirinya mencoba berteman dengan lawan jenis, kecemburuan pacarnya akan membuatnya terpuruk.”
Tentu
saja. Ia tidak membutuhkan wanita lain selain kami, ‘kan?
“...Lalu,
bagaimana dengan teman sejenis?”
“Jika
dirinya mencoba membuat teman sejenis, ia juga akan dicemburui dan tidak ada yang mau berurusan dengannya...! Mereka pasti merasa iri karena ia punya empat pacar yang luar
biasa cantik…”
“Itu
benar juga sih.”
Hibise
tersenyum samar. Meskipun matanya terlihat keruh.
“Jadi itulah sebabnya ia tidak mempunyai teman. Memangnya apa yang harus kulakukan?”
Ia
sudah mulai menggunakan kata ‘aku’…
Bagian
di mana dirinya
tidak bisa menjalankan pengaturan yang buruk itu sampai akhir justru membuatnya
semakin menggemaskan.
“Bukannya lebih baik jika kamu putus dengan
pacarmu?”
Hah?
Apa yang dikatakan si Kouhai ini dengan senyuman riang begitu?
“Kalau itu sih tidak mungkin.”
Namun,
Satoshi-kun
dengan tegas menolak dengan suara rendah. Pandangan matanya
menatap lurus tanpa sedikit pun bergetar.
Hibise
terdiam dan menggerakkan alisnya.
“Ta-Tapi, jika mereka begitu posesif, bukannya putus bisa menjadi salah satu pilihan?”
“Cuma itu satu-satunya
hal yang takkan kulakukan.”
Satoshi-kun
menjawab lagi dengan cepat tanpa jeda. Kecepatannya begitu hebat sehingga bahu Hibise berkedut.
“Pasti
ada ketidakpuasan, kan? Kalau
begitu…”
“Aku
menyukai semua itu, termasuk bagian-bagian itu.”
──Ihhh, pacarku keren banget!
“Aku tidak bisa
membujukmu sama sekali!”
Hibise
akhirnya menjatuhkan diri ke tanah dan
berlutut. Dia
menengadah ke langit dan berteriak. Pemandangan itu benar-benar tampak seperti gambaran seorang pecundang.
Ketika menyaksikan pemandangan itu, aku jadi berpikir.
“...Pada awalnya aku hanya berniat
melakukan penyelidikan,
tetapi sepertinya aku harus bergerak sekarang.”
Hibise
berusaha memisahkan Satoshi-kun
dari kami, jadi mana mungkin aku, pacarnya, tidak melakukan tindakan
apapun sama sekali.
Wajah
itu, cara bicara itu, penampilan yang sangat menyedihkan. Dia jelas-jelas bersalah. Aku harus menghentikan wanita
nakal yang menyesatkan
Satoshi-kun.
Saat aku berpikir begitu dan melangkah maju,
“Ngomong-ngomong,
apa── beneran ada di
sini?”
Aku
tidak bisa mendengar kata-kata Satoshi-kun
dengan jelas.
Kakiku
seketika
berhenti mendadak.
“Entahlah~? Bukannya ini kencan untuk
mencarinya?”
“Kurasa benar juga... Oh, dan ini bukan kencan.”
“Cih.”
“Apa
kamu baru saja mendecakkan
lidahmu?”
“Mana mungkin lah~! Aku tidak pernah mendecakkan lidah
seperti itu!”
Hibise
menepuk-nepuk bahu Satoshi berulang kali.
“Mereka sedang mencari sesuatu…?”
Tenggorokanku seketika terasa kering, dan detak jantungku
semakin berdetak lebih cepat. Aku perlu mengumpulkan lebih
banyak informasi.
Hibise
berhenti tepat di
depan jembatan, menatap layar ponselnya, lalu perlahan-lahan mengangkatnya. Cahaya dari permukaan sungai
memantul, dan layar LCD bersinar putih sejenak.
“Hmm~, sedikit lagi──”
“Ara~ara~! Bukannya itu Satoshi~!”
“Hah?”
Hah?
Suara
Hibise dan suaraku saling tumpang tindih bersamaan. Pada saat yang sama, kami bereaksi dengan keterkejutan yang sama.
Di
sisi lain jembatan, ada seorang
wanita cantik yang glamor berdiri di sana. Dengan satu tangan memegang tas
belanjaan,
tangan lainnya menghisap rokok elektrik.
Rambut
abu-abu yang diikat longgar dalam gaya kuncir
samping, dan tulang selangkanya yang ramping terlihat dari blusnya yang longgar.
Dia terlihat menenangkan sekaligus juga menggoda.
…Aku mempunyai firasat buruk.
“Ada
apa~? Apa kamu sengaja datang
jauh-jauh kemari cuma
untuk menemuiku~?”
Wanita
itu berbicara kepada Satoshi-kun dan benar-benar mengabaikan keberadaan Hibise.
Bukannya mereka terlalu
dekat!?
“Umm, sebenarnya aku cuma kebetulan saja datang kemari…”
Satoshi-kun mencoba menjelaskan dirinya dengan
terbata-bata,
tetapi suaranya terdengar lemah.
Tunggu
sebentar. Kenapa orang itu bisa tahu
nama Satoshi-kun?
Maksudku,
mengapa Satoshi-kun
bertingkah
seolah-olah ia mengenal orang ini!?
“...Satoshi-senpai.
Si-Siapa
wanita itu?”
Hibise
menatap Satoshi-kun
dengan senyuman yang dipaksakan dan raut wajahnya berkerut tak
pecara.
Dan
saat Satoshi-kun
membuka mulutnya──.
“Aku
adalah selingkuhannya
Satoshi~.”
Hee~ Selingkuhan… Hmm~, selingkuhan ya… selingkuhan, jadi wanita itu
selingkuhannya────selingkuhan!?
Aku
berusaha menutup mulutku dengan tangan untuk menahan diri agar tidak berteriak. Suara detak jantungku berdetak
keras.
“Jangan
mengatakan
sesuatu yang bisa
menimbulkan kesalahpahaman, Hishui-san!”
Eh!?
Satoshi-kun
memanggil dengan nama depannya!?
“Itu
sama
sekali tidak
benar, Hibise. Orang ini──!”
Satoshi-kun kelihatan panik. Suaranya terdengar
sedikit melengking.
“Apanya yang tidak benar~?”
Hishui
menimpali dengan suara merayu dan menyandarkan tubuhnya pada bahu Satoshi-kun. Rambutnya yang lembut terurai
hingga bahunya, dan jarak di antara mereka mendekati nol.
“Bukannya pas bulan lalu kamu menginap di rumahku~?”
Hah?
“Itu sih karena Hisui-san yang membuatku mabuk! Lagipula di sana ada──!”
Satoshi-kun berusaha menjelaskan dengan
putus asa.
Sekarang setelah kupikir-pikir lagi, bulan lalu ada hari di mana ia
tidak ada di rumah.
“Kejam
sekali~. Apa kamu sudah melupakan kata-katamu sendiri yang menyebutkan bahwa aku adalah orang yang penting bagimu~?”
“Yah, umm, itu memang benar sih…”
“Jadi itu beneran!?”
Jeritan
Hibise bergema.
Eh,
umm, mari kita urutkan perkara ini.
Pertama-tama, Hibise berinteraksi dengan Satoshi-kun, yang merupakan calon
selingkuhannya. Kemudian,
Satoshi-kun
mengeluarkan gerakan tampan, dan seperti yang diperkirakan, Hibise jatuh cinta padanya.
Setelah
itu, meskipun Satoshi-kun dengan terampil menangkis rayuan Hibise, tapi ada seorang wanita yang sudah menikah tiba-tiba muncul.
Aku sudah tidak mengerti lagi…
“Ngomong-ngomong,
Satoshi~. Siapa sih wanita itu~?”
Hisui
memandang tajam Hibise
dengan perlahan. Suaranya terdengar manis,
tetapi matanya tidak menunjukkan senyuman sama sekali.
Setelah
menilai orang di hadapannya, Hisui menghela napas seolah-olah dia merasakan sesuatu.
“Kamu sama sekali tidak pantas untuk Satoshi~. Aku
tidak ingin mengatakan hal kejam,
jadi ikutilah saranku dan carilah pria lain~”
“Hah!?
Apa maksudnyaaa!?”
Suara
Hibise melengking. Dia benar-benar terkejut.
“Demi bisa berdiri di samping Satoshi, kamu
tidak memiliki kecerdasan, naluri keibuan,
atau apa pun yang diperlukan~.”
Nada
bicara Hisui kedengarannya lembut. Namun, senyumannya sudah mirip seperti vonis mati.
Dan,
seolah-olah itu hal yang biasa, dia meraih lengan Satoshi.
“Baiklah, ayo kita pergi~.”
“Tidak, tunggu sebentar, Hisui-san!?”
Satoshi-kun diseret pergi.
Ini, jelas-jelas, perselingkuhan, iya ‘kan!? Terlebih lagi dengan istri orang lain!?
“Tolong tunggu sebentar!”
Hibise
bersuara keras tak mau kalan. Wajahnya memerah karena marah, dan dia melangkah
maju satu langkah.
“Hmm?
Kamu
masih ada
di sini~?”
Hisui perlahan menoleh. Ekspresinya menunjukkan senyuman manis yang lembut. Namun, pandangan matanya sedingin es.
“Pertama-tama, aku bukan pacar Satoshi-senpai, bukan begitu…”
Dan
pipinya memerah.
“Aku
sedang berkencan dengan Satoshi! Jangan seenaknya membawanya pergi sembarangan!”
““Hah?””
Suaraku
dan Satoshi-kun berseru serentak. Hibise mengatakannya dengan tegas, menarik kembali
lengan Satoshi-kun,
dan menggenggamnya dengan kuat.
“Umm, Hibise. Wanita ini──”
“Tenang
saja! Serahkan sisanya padaku!”
Hibise
tersenyum cerah dan mengedipkan matanya
ke arah Satoshi-kun.
“Begitu rupannya…!”
Aku
memahami niat
Hibise dan menggigit bibirku.
Menurut
penyelidikan Shuna tentang Satoshi-kun,
sepertinya ia
berpura-pura menjadi pacarnyas secara mendadak untuk membantu Hibise. Namun kali ini kebalikannya, sepertinya Hibise berusaha melindungi
Satoshi-kun.
Namun,
karena interaksi itu, sekarang ada pemandangan yang sangat tidak biasa di depan
mataku.
Wanita
selingkuhan ①: Wanita yang sudah
menikah,
Hisui──penjahat
besar yang sedang merayu
Satoshi-kun.
Wanita
selingkugan ②: Wanita yang
mengaku-ngaku
pacarnya,
Hibise──heroine tipe kouhai
yang malang
karena jatuh cinta pada Satoshi-kun.
Dan
aku yang mengintip dari bayangan──pacar utama yang sebenarnya.
Bagaimana
bisa jadi begini!?
“Kamu tidak boleh begitu~ Satoshi.”
Hisui
tersenyum lembut sambil mencolek
pipi Satoshi-kun dengan jarinya.
“Dikatakan
bahwa para pahlawan
menyukai wanita, tetapi jika sembarangan meraihnya~.”
“Sudah kubilang itu cuma salah paham!?”
“Kembalikan
pacarku!”
“Hibise juga sama saja, jangan mengatakan hal yang
tidak perlu!?”
Satoshi
ditarik dari kiri dan kanan, kedua lengannya tertarik ke arah yang berbeda.
“Aku juga tidak bisa tinggal diam terus! Aku harus pergi!”
Rasa
marah menggelegak di dalam hatiku. Aku tidak bisa hanya berdiri diam dan melihat kejadian di hadapan
mataku.
Saat
aku berpikir untuk melangkah maju di antara mereka bertiga,
“Aku
tidak mengerti mengapa kamu mau mendekati Satoshi jika kamu mengetahui ia sudah punya pacar!”
Jeritan
Hibise memecah keheningan. Kata-kata
yang keluar dari mulutnya
membuat kakiku terhenti sejenak. Dan
kemudian,
waktu
seolah-olah
berhenti, suasana menjadi tegang.
“Fyuh~”
Dalam
keheningan yang menegangkan, Hisui perlahan menghisap rokok
elektriknya,
dan asapnya bergetar lembut.
“Selama
si wanita terus mengejar pria, dia tidak akan
pernah bisa menjadi pihak
yang dikejar~.”
Suara
rendah dan menggoda. Seolah-olah dia
mengungkapkan kebenaran.
“Wanita
yang benar-benar baik hanya perlu menunggu. Pada akhirnya, pria akan kembali
merangkak ke arahnya~.”
Aroma
asap menghilang tertiup angin. Aku terpesona oleh ketenangannya.
“Apa kamu paham~? Inilah yang dinamakan ketenangan sejati orang dewasa~.
Nak.”
Senyuman yang penuh kemenangan. Senyumannya tidak menunjukkan permusuhan,
hanya kepercayaan diri.
Sementara
Hibise menggigit bibirnya dengan penuh penyesalan, hanya Satoshi yang menatap
dengan tatapan lesu.
“...Apa
kamu seriusan
mengatakan itu?”
“...Jika
kamu mengatakan hal yang tidak perlu, aku tidak akan membiarkanmu pulang loh~?”
“Maaf,
aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi!”
Satoshi-kun cepat-cepat meminta maaf.
Dalam
hal dinamika kekuasaan, Hisui yang memegang kendali. Ini bukan lagi adegan
perselingkuhan, tetapi adegan dinamika kekuasaan pasangan suami istri.
“Ta-Tapi, aku tetap akan meminta Satoshi kembali!”
Hibise
terengah-engah, berusaha keras mengangkat suaranya.
“Setelah
akhirnya kita bisa
bersama,
aku tidak ingin ditinggalkan lagi di sini!”
“Hei, Hibise. Sejak tadi apa yang kamu katakan…?”
“...Hmmm,
lumayan juga ya~. Kalau begitu, mari kita bertarung secara adil untuk
menentukan siapa yang menjadi milik Satoshi~.”
“Siapa takut!”
“Tidak,
seriusan, apa yang kamu katakan…?”
Perlawanan
Satoshi-kun
sia-sia, dia ditarik pergi dengan wajah yang meringis kesakitan. Aku yang biasanya pasti
akan segera menyelamatkannya. Tapi perkataan Hisui anehnya masih
terngiang-ngiang di benakku.
“Apa
aku terlalu posesif…?”
Sebelum aku menyadarinya, kalimat tersebut keluar dari mulutku. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, itu
adalah kesalahan kami
bahwa Satoshi-kun
tidak mempunyai teman.
Harapan kami yang tidak ingin dirinya berteman dengan lawan jenis justru membuatnya tidak memiliki
teman sejenis. Apa
ini masih
bisa disebut kalau aku benar-benar mempercayai Satoshi-kun?
Atau
bisa juga diartikan sebagai ketergantungan──.
“Hah?”
Sebelum
aku bisa merumuskan pemikiranku, aku menyadari ketiga sosok itu sudah
menghilang entah kemana.
Aku
menyadari kesalahan yang telah kubuat, dan keringat dingin mengalir di punggungku.
“Aku benar-benar....teledor
banget ya…?”
Setelah
itu, aku tidak bisa menemukan keberadaan Satoshi-kun lagi.
******
Meskipun begitu──.
“Hmm?
Ada apa~?”
“Tidak,
bukan apa-apa.”
Dia
sudah menjadi ibu rumah tangga yang tampak normal, sulit dipercaya kalau
dia dulunya
wanita yang selalu melakukan kekerasan sepanjang tahun.
◇◇◇◇
“Aku pulang~…”
Saat aku membuka pintu depan, kelelahan yang tak terlukiskan menyelimuti
badanku. Aku tidak pergi ke kamar
Satoshi.
Sekarang
waktunya
untuk melapor dalam──【Rapat Empat Arah】.
“Selamat
datang kembali.”
Suara
lembut menggema di pintu masuk. Shino tersenyum sambil menatap wajahku.
Saat
aku melangkah masuk ke ruang tamu, pemandangan yang biasa terlihat.
Reine
sedang
berbaring
di sofa sambil memakai earphone di kedua telinga dan bergoyang-goyang mengikuti
irama. Dia
melirikku sejenak, lalu menyapaku mengepakkan kakinya.
“Itu tidak sopan tau?”
Sebagai
balasan, dia
mengubah sudut kakinya dan mengepakkannya dua kali seolah berkata, ‘Ya, ya.'
Aku
benar-benar diremehkan.
Sementara
itu, Shuna sedang duduk
di sekitar meja,
membuka buku referensi tebal. Ketika
dia melihatku, ekspresinya langsung melembut,
dan dia melambaikan tangan sedikit.
“Selamat
datang kembali~,
Satsuki-chan.”
“Aku pulang, Shuna.”
Aku
melemparkan barang-barangku ke samping
dan duduk di lantai. Seluruh tubuh aku terasa berat.
“Bagaimana hasilnya?”
Shino
duduk di sebelahku
dan menyodorkan secangkir teh hangat.
“Sepertinya
Hibise dan Satoshi-kun
sedang mencari sesuatu.”
“...Mencari
sesuatu?”
“Ya.
Tapi aku tidak tahu apa yang mereka
cari. Maaf…”
“Tidak
apa-apa... Seperti yang diharapkan dari Satsuki-san.”
Shino
tersenyum lembut.
Namun──.
“Tapi,
itu bukan yang terpenting. Aku mempunyai
informasi yang lebih berbahaya.”
“──Silakan
ceritakan.”
Aku
mendengar suara tenggorokan Shino bergetar.
Lalu,
aku mengungkapkannya.
“Sepertinya Satoshi-kun── memiliki selingkuhan wanita yang sudah menikah.”
“Begitu
ya… ehh?”
Ketiga
orang itu terdiam.
“...Kita
terlalu mengikat Satoshi, ya?”
“...Benar.
Tapi, tentang selingkuhan yang sudah menikah itu…”
Suara
tenang Shino menggema.
“Aku
berpikir....”
Aku
meletakkan tanganku
di dada dan menatap wajah ketiga orang itu dengan serius.
“Kurasa sifat keposesifan
itu mungkin
berasal dari kelemahan hati.”
“Itu
juga benar. Tapi mari kita lanjutkan cerita
tentang selingkuhan itu…”
“Jadi,
aku──akan menjadi wanita yang sudah menikah!”
Begitu
aku mengatakannya, ruangan menjadi sunyi dan hanya
ada
bunyi detak
jam yang terdengar. Shino
menepak
dahinya dengan tangan, Reine membeku dengan keripik kentang di
mulutnya. Shuna tetap tersenyum sambil menyandarkan kepalanya.
“Aku
ingin lebih mempercayai pada Satoshi-kun!”
Kata-kata
ini penuh semangat.
“Kita
sangat takut kalau ada
seseorang yang
mengambil Satoshi-kun
dari kita, jadi
kita telah mencoba mengendalikannya dengan segala cara, ‘kan?”
“Ya,
umm, jadi rincian tentang wanita yang sudah menikah
itu…”
“Tapi,
jika kita benar-benar mencintainya, kita harus memberinya kebebasan!”
Aku
melanjutkan dengan meletakkan tanganku di dada, seolah-olah aku sedang meyakinkan diri sendiri.
“Meskipun kita tidak bisa bertemu dengannya kapan pun kita
mau, meski
dirinya
terlihat akrab dengan wanita lain, kita harus bisa mempercayainya. Kurasa ketenangan yang dewasa seperti
itulah yang dinamakan cinta sejati!”
Dan kemudian,
dengan semangat, aku menyatakan.
“Jadi, itulah sebabnya──aku akan menjadi wanita yang sudah menikah!”
Keheningan.
Sepenuhnya hening.
Mereka bertiga saling memandang dan mulai berbicara
pelan-pelan.
“Dasar Satsuki, kenapa kamu mengucapkan
hal bodoh seperti itu?”
“Iya ‘kan~. Biasanya dia agak ceroboh,
tapi kali ini sudah kelewatan~.”
“...Memangnya kalian berdua berhak mengatakan itu?”
“Apa
yang kalian bicarakan?”
“Tidak,
bukan apa-apa.”
Shino
menatapku dengan senyuman
sempurna.
“Terima
kasih atas kerja kerasnya. Silakan beristirahat
dengan baik hari ini.”
“Hmm,
terima kasih! Aku akan menyiapkan bak mandi dulu!”
“Silakan.”
──Dan
keheningan kembali menyelimuti ruang tamu.
“Keinginan
Reine-san
untuk menjadi idola, rehabilitasi Shuna-san
menjadi manusia biasa, dan keinginan
Satsuki-san
untuk menjadi wanita menikah.”
Ini
adalah perubahan yang membuat kepalanya
sakit, tetapi mungkin itu menunjukkan seberapa besar pengaru Hibise.
Shino
berdiri dan rambut hitamnya melambai lembut.
Sorot mata
tenangnya seketika mengubah suasana menjadi tegang.
“──Akulah yang akan mengakhirinya.”
.jpg)
.jpg)