Tenshi-sama Volume 12 Chapter 8 Bahasa Indonesia

 

Chapter 8 Usaha Masing-Masing Orang

 

Tidak jarang Chitose mengunjungi rumah Amane. Hal ini karena Mahiru juga ada di sana, dan sudah jelas bahwa Amane hanyalah tambahan. Namun, karena tidak ada urusan khusus, menerima Chitose untuk sekadar menyediakan tempat menjadi hal yang wajar.

Hari ini, Chitose datang dengan semangat yang bertentangan, penuh energi tetapi tanpa motivasi. Dia membawa tugas liburan musim semi, jadi bisa dimengerti mengapa suasananya seperti itu, tetapi ada keraguan apa suasana hatinya akan lebih baik jika dia lebih cepat termotivasi.

“Hmm, padahal sekarang sedang liburan musim semi yang merupakan salah satu periode bahagia bagi siswa, tapi aku tidak merasa seperti sedang liburan sama sekali.

“Yah, itu karena saat ini kamu sedang mengerjakan tugas PR.

Chitose yang duduk di ruang tamu menghadapi tugasnya, tampaknya tidak bisa meningkatkan kecepatan menyelesaikan soal-soalnya. Meskipun liburan panjang seharusnya menjadi waktu yang ditunggu-tunggu bagi siswa, sayangnya, mulai musim semi ini dia akan menjadi siswa yang bersiap untuk ujian, sehingga tidak mungkin dirinya hanya bisa bersenang-senang.

Meskipun dia tidak sampai terkulai lemas di atas meja, Chitose bersandar dengan siku di meja dan tampak tidak bersemangat memutar pensil mekaniknya. Meski demikian, dia sendiri yang mengusulkan kegiatan belajar bersama, jadi bisa dibilang dia masih memiliki motivasi.

Uwaah! Kenapa aku masih ada tugas PR saat liburan begini ketika tahun ajaran berganti?

Karena kamu akan menjadi siswa ujian, jadi kamu harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar.

Aku tidak berbicara tentang itu. Ini tidak masuk akal.

Apa pun yang kamu katakan tentang diriku tidak masalah, tetapi tugas itu akan membuatmu semakin lambat menyelesaikannya.

Amane, kamu sangat jahat. Dan kamu juga terlihat sangat santai.

Aku sudah menyelesaikannya lebih dulu, jadi aku melakukan persiapan dan ulangan setiap hari.

Ugh! Dasar siswa teladan!

Dengan duduk di seberang meja dari Chitose, Amane juga membuka buku catatan, tapi dirinya hanya menyelesaikan buku referensi, sementara tugasnya sudah selesai dan ada di dalam tas sekolahnya. Amane sudah mengantisipasi bahwa dirinya akan sibuk dengan pekerjaan paruh waktu, jadi ia menyelesaikannya di hari pertama dan menyusun jadwal untuk belajar di sela-sela waktu luangnya.

Jika hanya ini yang membuat seseorang menjadi siswa teladan, maka banyak siswa ujian pasti akan menjadi siswa teladan. Amane mengatur jadwal dengan baik dan melakukan pekerjaan berulang, bahkan bukan hanya orang tuanya, tetapi juga Mahiru yang menyuruhnya. Oleh karena itu, Amane sangat disiplin dalam membagi waktu antara istirahat, belajar, dan kerja paruh waktunya.

Walaupun kamu mengeluh, kamu sudah hampir menyelesaikannya, kan, Chitose-san?

Meskipun Chitose tampak bermalas-malasan, tapi seperti yang dikatakan Mahiru, melihat kemajuan tugasnya, dia tampaknya mengerjakan semuanya dengan baik di rumah.

…Tentu saja? Aku sudah bertekad untuk berusaha dengan baik, dan tidak bisa terus seperti sebelumnya.

Wah, Chitose sudah berkembang…

Kamu tidak sedang mengolok-olokku, kan?

“Ayo coba ingat-ingat kkembali semua pernyataan dan tindakanmu sebelumnya.

…Aku sedang berusaha sekarang!

Yah, itu hal yang baik. …Bagaimana dengan Itsuki?

Meskipun tidak selalu, tapi jika Chitose datang, biasanya Itsuki juga akan datang, tetapi hari ini ia tidak datang bersama pacarnya.

Ikkun bilang ia pergi mengikuti kegiatan bimbel hari ini. Ia memohon kepada ibunya untuk membantunya masuk.

Aku merasakan sedikit keheranan dari fakta bahwa dia tidak meminta bantuan Daiki-san.

Bukan hal yang aneh bagi siswa untuk mulai mengikuti kegiatan bimbel atau kursus saat memasuki kelas 3, terutama karena mereka sedang mempersiapkan ujian masuk. Itsuki tidak terkecuali dalam kategori itu. Meskipun da tidak ingin mengatakan hal itu kepada ayahnya, ia berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk sedikit berkompromi.

Yah, Ia bilang dirinya akan menjadi sangat pintar saat Daiki-san tidak menyadarinya dan akan membalasnya. Aku juga harus pergi, tetapi biaya kuliah kakakku dan biaya kuliahku sendiri tampaknya cukup ketat, jadi sepertinya sulit untuk mengikuti bimbel atau lembaga persiapan selama setahun penuh, jadi mungkin nanti saja. Bagaimana dengan mu, Amane?

Aku tidak bisa meluangkan waktu sampai pekerjaan paruh waktuku selesai, jadi aku memilih bimbingan belajar online, dan baru bisa mengikuti kursus mulai musim panas. Aku akan berdiskusi dengan orang tuaku berdasarkan hasil ujian coba di bulan Mei atau Juli, dan aku berencana untuk merinci lebih lanjut pada saat itu.

 

Dengan kemampuan akademis yang diakui Amane, dia tidak bisa memastikan bahwa hanya belajar di sekolah akan membuatnya diterima di sekolah yang diinginkannya. Meskipun tidak sampai seperti siswa kelas tiga yang sepenuhnya fokus untuk ujian, dirinya tetap berniat untuk belajar cukup agar bisa dengan percaya diri menyebut dirinya sebagai siswa peserta ujian masuk universitas.

Orang tuanya juga tampaknya setuju dengan usaha belajar Amane, dan mereka tidak segan-segan memberikan dukungan serta tidak perlu khawatir tentang masalah keuangan, yang sangat berharga bagi Amane. 

Kalau begitu, kamu bisa melakukannya karena kamu bisa mengatur dirimu sendiri.

Kalau bukan saat ujian, kapan lagi siswa ujian bisa mengatur diri?

“Pada saat ujian sebenarnya? 

Itu sama saja dengan menyerah atau acuh tak acuh...

Hanya bersikap serius pada saat ujian sebenarnya sudah sama saja dengan meremehkan ujian itu sendiri

Bagaimana denganmu, Mahirun? 

Aku juga kurang lebih sama seperti Amane-kun. Untungnya, aku sudah menyelesaikan pelajaran yang dibutuhkan untuk ujian, dan sekarang aku hanya perlu menyesuaikan materi belajar dengan universitas yang akan kutuju. Meskipun jurusan kita berbeda, kita akan berada di universitas yang sama, jadi lebih baik jika kami berkoordinasi dalam hal itu. 

…Ketika orang-orang di sekitarku serius, ketidakseriusanku jadi terlihat jelas dan itu menyakitkan.

“Kurasa Chitose-san juga sudah berusaha keras. Setidaknya, jika dibandingkan dengan sebelumnya, kamu sudah mengalami kemajuan yang signifikan kok. 

Seperti yang dikatakan Mahiru, Chitose hanya merasa tertekan karena membandingkan dirinya dengan ketiga orang lainnya, tapi dia jelas-jelas sudah berusaha. Meskipun tidak semua usaha itu membuahkan hasil, tampaknya ada cukup banyak yang berhasil. 

Alasan mengapa hasil yang didapatnya tampak sedikit mungkin disebabkan oleh kurangnya tanah yang terakumulasi seperti Mahiru dan Amane, yang menyebabkan kekurangan nutrisi. Jika dia terus belajar, tanah itu akan segera menyerap air dan nutrisi, dan pada saat panen, dia berharap bisa mendapatkan banyak buah yang besar. 

“Hentikan, Mahirun, jangan manjakan aku…!

Kalau begitu, kamu tidak mau kue camilanmu?”

“Itu sih beda urusan!

Seperti yang diduga Amane, setelah mengerjakan tugas untuk beberapa waktu, Chitose mulai merasa kekurangan gula dan langsung melahap kue, membuat Amane dan Mahiru tertawa saat mereka menuju dapur. 

Sementara Amane memindahkan kue ke atas piring, Mahiru menyiapkan teh, dan meskipun itu hanya pemandangan yang biasa, bunyi siulan “hyuu~ hyuu~” yang menggoda muncul. Amane berpikir, Apa yang dia lakukan? tapi jika ia menanggapinya, itu hanya akan sesuai dengan keinginan Chitose, jadi Amane memilih untuk mengabaikannya. 

Mahiru tampaknya sudah terbiasa dan tidak merespons ejekan Chitose, sehingga hanya ada satu orang yang membuat keributan di ruang tamu. 

Mahiru, kali ini aku ingin susu. 

Kalau begitu, kita harus menambah susu dalam teko. Oh iya, Amane-kun, piring ini ukurannya lebih cocok untuk kue, dan warnanya juga serasi dengan cangkirnya.

Yang ini, ya. Aku senang kita punya yang serasi. 

Apa kalian berdua menyadari keberadaanku?

“Kamu tidak terlihat di garis pandanganku. 

Tapi suara Chitose-san terdengar ceria.

...Lihat? Kalian jelas-jelas sedang bermesraan.

“Iya, iya.

Akhirnya, pembicaraan selalu kembali ke situasi itu, dan sambil tersenyum geli pada Chitose, Amane membawa kue yang disiapkan untuk Chitose bersama dengan teh yang disiapkan Mahiru di atas nampan ke ruang tamu. 

Chitose yang tampaknya bosan dengan tugas menunjukkan sikap yang sangat setuju untuk beristirahat, mengangkat kedua tangan, dan matanya bersinar melihat kue musiman dari toko kue favoritnya. 

Yang benar-benar tidak kusukai adalah bagaimana semua orang mulai menjadi sangat tegang saat menginjak kelas 3.”

Chitose yang dengan cepat mengubah suasana hatinya dan memakan kuenya dengan sangat lahap, tetapi yang dia bicarakan ialah realitas yang tidak manis. 

Mereka semua akan duduk di bangu kelas 3 SMA, dan suasananya pasti akan berbeda dibandingkan saat kelas dua. Lagipula, tahun depan akan menjadi tahun yang penting. Suasana santai seperti sebelumnya pasti akan berubah. 

Tingkat ketegangan yang sehat justru akan berdampak baik. Tapi sepertinya lebih aman untuk tidak membahas nilai orang lain. Sebenarnya, aku tidak berniat untuk membahasnya sih.

Amane bukan orang yang tidak begitu peka, dan ia lebih suka membandingkan seberapa banyak dirinya telah berkembang dibandingkan dengan dirinya yang dulu daripada mengkhawatirkan orang lain. 

Semua orang pasti membandingkan diri mereka sendiri, ya. 

“Kurasa mereka merasa tidak nyaman jika tidak memeriksa posisi mereka melalui penilaian relatif.

“Hmm, bikin galau.”

Kurasa ini sering terjadi pada siswa yang mengikuti ujian. Kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam siklus negatif perbandingan. 

Mahiru menikmati tehnya dengan anggun sembari tersenyum tenang, dan tampaknya dia tidak merasa cemas menghadapi kenaikan kelas. Sikapnya yang tenang sangat mengesankan. 

Umm, sepertinya kita harus berhenti membahas topik yang suram.

Padahal kamu sendiri yang memulainya, Chitose

Ya, ya. Mari kita bicarakan topik yang lebih ceria! Liburan musim semi akan segera berakhir, apa kalian berdua tidak punya rencana untuk dilakukan?" 

“Menganggap tentang berakhirnya liburan musim semi sebagai topik yang ceria...?

Diam. Ayolah, Amane, memangnya tidak ada sama sekali?

Sesuatu yang ingin kulakukan, ya....”

Ketika ditanya tentang sesuatu yang ingin dilakukannya, Amane merasa kesulitan untuk langsung memikirkan sesuatu. Ada banyak hal yang harus dilakukan, tetapi saat ditanya tentang apa yang ingin dilakukannya, Amane tidak bisa memikirkan apapun.  

Aku sudah menyelesaikan tugas PR-ku, membeli buku referensi baru. Aku sudah membersihkan rumah untuk musim semi, mengirimkan selimut untuk dicuci, mengirimkan seragam untuk dicuci, mencuci sepatu, dan memeriksa langganan…

Itu ssih bukan namanya hal yang ingin dilakukan, itu cuma hal yang harus dilakukan, dan dari tengah jalan sudah terlihat seperti kehidupan rumah tangga, loh, Onii-san.

Aku tinggal sendiri, tau 

Hal tersebut memang tidak bisa dihindari, tetapi hidup sendiri berarti semua pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawabnya sendiri. Amane juga tidak bisa membebankan beban ini kepada Mahiru, jadi wajar saja jika ia mengurus segala sesuatunya sendiri. 

Ketika berada di rumah orang tuanya, biasanya banyak hal yang bisa dibantu, jadi Amane masih ingat seberapa bersyukur dirinya kepada orang tua setelah mulai hidup sendiri. 

Sendirian ya, hmm. 

Apa-apaan dengan ekspresi wajahmu itu?

“Bukan apa-apa, kok.

Chitose tampaknya ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih untuk tidak mengatakannya, membuat Amane sedikit kesal, tetapi ia menganggap itu mungkin hanya lelucon yang tidak berarti, jadi Amane tidak mengejar lebih jauh dan langsung memasukkan puding ke mulutnya. 

“Mengesampingkan suasana hati Amane yang membosankan, bagaimana denganmu, Mahirun? 

…Hmm, sesuatu yang ingin dilakukan selama liburan musim semi, ya? 

Mahiru juga tidak banyak keluar selama liburan ini, dan lebih terkesan tenang untuk menenangkan diri setelah peristiwa yang terjadi di awal liburan. 

Jika Mahiru ingin melakukan sesuatu, Amane akan siap membantu, tetapi berdasarkan tanggapannya, tampaknya tidak ada hal khusus yang ingin dilakukannya, sama seperti Amane. 

Bermesra-mesraan dengan Amane juga tidak masalah, lho?

Itu bukan hal yang ingin kulakukan secara khusus. 

Eh?”

Mahirun, jangan bilang

“Bukan begitu maksudku! Maksudku, jika memungkinkan, lebih baik melakukan hal-hal seperti itu di waktu biasa…! Tentu saja aku ingin memanfaatkan liburan ini dengan baik! Aku selalu ingin melakukannya!

Ketika Amane berpura-pura terkejut, Mahiru segera menggelengkan kepalanya dengan gemas, membuat Amane tertawa karena itu hanya lelucon. 

Aku mengerti, aku mengerti, jadi bagi Mahiru, menghabiskan waktu bersamaku sudah menjadi hal biasa, ya?

Uuuh…

Umm, kalian malah beneran bermesra-mesraan. Misi selesai?

Kami tidak perlu menetapkan misi, kami akan bermesra-mesraan meskipun tidak adanya kamu sekalipun, Chitose. 

“Aku merasa diabaikan....”

Sebaliknya, apa kalian punya keberanian untuk melakukannya di depan orang lain… oh, ternyata kalian punya keberanian itu.

Chitose sering meledek mereka mengenai hal itu, tapi Chitose dan Itsuki juga tidak kalah. Justru mereka yang lebih sering bermesra-mesraan di tempat umum, sementara Amane dan Mahiru hanya melakukan interaksi seperti itu di tempat yang hanya ada orang-orang terdekat. 

Kurasa tidak juga, pikirnya

Kami juga bisa bermesraan meskipun Amane tidak ada, dan kami juga bisa bermesra-mesraan ketika Amane ada!

“Julukan pasangan bodoh yang asli tidak diberikan sembarangan. 

Itu hanya ucapan Amane saja. Yah, aku tidak akan membantahnya sih.

Jadi kamu tidak akan membantahnya?

Itu merupakan bukti seberapa besar kami saling mencintai. 

Chitose tersenyum bangga, tapi setelah periode yang penuh kesedihan, melihatnya ceria dan akrab dengan Itsuki seperti ini memberikan rasa lega dan penting untuk kesehatan mental mereka. 

Setelah bertengkar besar menjelang akhir tahun, hingga sekarang, mereka telah menjalani kehidupan sehari-hari tanpa masalah, jadi Amane rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 

Amane berharap Itsuki tidak mengalami kesulitan dengan bimbingan belajar dan pekerjaan paruh waktu, tapi perkataan tersebut mungkin juga akan menimpanya, jadi Amane memilih untuk tidak mengatakannya. 

Sayang sekali hari ini Itsuki tidak ada di sini. 

Beneran banget. Jika begitu, aku juga akan bermesraan dengan Mahirun.

“Lakukan saja sesukamu.”

Mahirun sudah dijual, ya?" 

Jangan bilang begitu. Aku tidak akan mengganggu persahabatan kalian, dan pada akhirnya, dia pasti akan kembali padaku.

Amane sepenuhnya menyadari bahwa Chitose hanya bercanda, dan hubungan antara Chitose dan Mahiru tidak melampaui batas persahabatan. Mahiru tampak senang, jadi Amane tidak akan menghentikannya, dan dia tahu bahwa meskipun Chitose meledeknya, Mahiru pasti akan kembali padanya. 

Tidak peduli seberapa banyak Mahiru dan Chitose saling bermesraan, Amane yakin Mahiru akan memilih dirinya. Lagipula, Chitose juga pasti akan kembali kepada Itsuki. 

Jadi, Amane membiarkan mereka berdua bergandeng tangan dengan penuh semangat sambil menikmati teh susu yang banyak, melihat dari jarak sedikit jauh secara mental. Mereka saling berpandangan, dan tampaknya mereka tetap akrab seperti biasa. 

“Uwahh~ uwahhh~”

Apa-apaan dengan wajahmu itu? 

Jadi ini Amane yang sekarang penuh percaya diri, ya?

Kamu sedang mengolok-olokku?

Tidak juga kok!

Meskipun dia mengatakan tidak, wajahnya jelas menunjukkan sebaliknya, tetapi Mahiru tampak seolah-olah setuju. 

Syukur banget ya, Mahirun, Amane yang sekarang tidak lagi seperti yang dulu. 

…Tapi kadang-kadang itu juga merepotkan.

Eh, apa maksudmu? Aku penasaran!

Hei, berhenti. Mahiru juga tidak boleh. 

Ehh~”

Pelit! 

Kalian benar-benar akrab, ya…

Ya, kami memang akrab.

“Ah gitu ya.

Keduanya mengeluh bersamaan kepada Amane, dan meskipun ini adalah rumah Amane, dia merasakan suasana yang agak asing. 

Kalau begitu, katakan saja kalau kamu merasa cemburu.

Kenapa aku harus cemburu…? Apa kamu cemburu jika aku akrab dengan Itsuki?

Ehh jadi kamu punya hubungan yang begitu dengan Ikkun!”

Kenapa bisa sampai ke situ?!

Meskipun jelas bahwa dia hanya bercanda dan membalikkan posisi dalam percakapan, Chitose memberikan senyuman aneh yang membuat Amane merasa perlu menolak dengan tegas. 

Kamu gampang sekali terpancing emosi.

Jangan sembarangan menuduh pacarmu dengan kecurigaan yang tidak berdasar. Dia sedang menangis di balik kuburan.

Jangan sembarangan membunuhnya. Mungkin dia sedang sibuk! 

Itsuki yang tidak ada di sini pasti sedang duduk di samping orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, menggenggam pensil dengan kuat.  Meskipun begitu, ia tetap memiliki sifat yang cukup serius, dan sikapnya ini karena dia telah memutuskan untuk menghadapi Daiki. 

Meskipun tidak bisa diucapkan secara langsung, Amane merasa bangga dan menghormati sikapnya. 

“Ia juga tampaknya cukup sibuk. 

Ya.

Meskipun suasana menjadi sedikit murung, bukan berarti Itsuki tidak bisa bertemu karena dirinya terus belajar. Mereka pasti akan bertemu di sekolah, dan jika ada kesempatan, mereka bisa saling bertemu kapan saja. 

Aku juga harus berusaha, dan kalian juga harus berusaha, Amane. Meskipun, kurasa lebih baik jika kalian bersantai sekarang.

Kamu saja yang terlalu santai. 

Amane membalas dengan kesal kepada Chitose yang meregangkan kaki dan tangannya seolah-olah sedang melakukan peregangan besar, yang kemudian dijawab Chitose sambil tertawa, Itu penting untuk keseimbangan.” 

Amane ingin sekali Chitose bisa menyeimbangkan kesenangan dan tanggung jawab, tapi dirinya tahu bahwa Chitose tidak akan terlalu bermain-main dan akan mengendalikan dirinya. Amane menatapnya sejenak untuk memperingatkannya, tetapi dia memilih untuk tidak mengatakan hal lain dan menutup mulutnya dengan teh yang dingin. 

“Sesuatu yang harus kulakukan selama liburan musim semi, sesuatu yang hanya bisa kulakukan sekarang, hal-hal yang ingin kulakukan sekarang...…ya? 

Mahiru?

Tidak, bukan apa-apa.

Amane bertanya kembali kepada Mahiru yang menggumamkan sesuatu dengan suara pelan, tapi Mahiru hanya menggelengkan kepalanya dan membalas dengan senyuman samar.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama