Prolog — Awal Petualangan
Saat membuka matanya, dirinya sudah berada di dunia lain.
“Hah?”
Ketika
Masachika membuka matanya di tengah keramaian yang gaduh, pemandangan yang
terbentang di hadapnya
terlihat seperti yang pernah ia lihat di dalam manga
atau anime. Ruangan dengan lantai batu yang dihiasi karpet merah, suasana yang
sangat mirip dengan ruang tahta kerajaan.
(Hah? Ehm, aku yakin kalau aku sedang berada di ruang
OSIS…)
Setelah
upacara penutupan semester pertama, ada pembicaraan untuk mengadakan sedikit
acara terima kasih di ruang OSIS, dan setelah jam
pelajaran selesai, Masachika
menuju ke ruang OSIS bersama Alisa…
atau seharusnya begitu.
(Jadi,
saat menunggu Yuki dan Ayano, Ketua
dan Sarashina-senpai
dipanggil oleh guru…?)
Saat ia mencoba mengingat hal itu, suara
yang sangat familiar terdengar dari
sekelilingnya.
“Eh, ini
apaan?”
“Ehm,
itu?”
Ketika Masachika menoleh ke arah dua orang yang
tampak kebingungan, dirinya melihat ada Alisa dan Maria, yang seharusnya
baru saja bersamanya di ruang
OSIS. Di belakang mereka, terdapat orang-orang berpakaian ala bangsawan abad
pertengahan yang tampak ketinggalan zaman, berdiri di sepanjang dinding. Dan
ketika melihat ke bawah, Masachika melihat ada
lingkaran sihir yang memancarkan cahaya kebiruan.
“...Hmm?”
Usai melihat
lingkaran sihir yang perlahan redup, Masachika mengernyitkan dahi. Namun, saat
itu,
“Selamat
datang, para pahlawan dari dunia lain!”
Sebuah
suara keras menggema, memecah keramaian di
sekitarnya, dan ketiga orang itu langsung menoleh.
Yang
paling menarik perhatian mereka adalah
seorang gadis berpakaian gaun yang duduk di atas tahta raksasa. Namun, suara
yang sebenarnya berasal dari seorang pria paruh baya yang berdiri di
sampingnya, dengan rambut dan jenggot yang melingkar. Melihat pakaian yang
lebih megah dibandingkan bangsawan di dekat dinding, bisa jadi dia adalah orang
yang memiliki posisi mirip perdana menteri.
“Tidak
mengherankan jika kalian kebingungan. Namun, pertama-tama, mohon tenanglah dulu dan
dengarkan baik-baik!”
Setelah mendengar
kata-kata itu, Masachika saling bertukar pandang dengan kedua temannya.
Untungnya, meski Alisa dan Maria tampak bingung,
tapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda
panik. Merasa lega dengan hal itu, Masachika berbicara.
“Baiklah,
mari kita dengarkan penjelasan mereka dulu.”
“Ya,
benar…”
Sembari menanggapi
kata-kata Masachika, Alisa
melihat sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Sementara itu, Maria sesekali
melirik ke arah tahta.
“Hmm…
tapi, bukannya ratu itu? Putri? Itu…”
“Ah, ya.
Aku mengerti apa yang ingin kamu
katakan.”
“Sudah
kuduga begitu, ‘kan?”
Mengikuti
tatapan Maria, Masachika dan Alisa
juga menatap gadis di tahta. Mungkin karena mengartikan tatapan ketiga orang
itu sebagai persetujuan, pria di samping gadis itu mulai berbicara lagi.
Dikatakan
bahwa di dunia ini terdapat makhluk bernama ras iblis yang bermusuhan dengan umat manusia. Ras iblis
dan umat manusia telah mempertahankan keseimbangan di sepanjang perbatasan
selama bertahun-tahun, tetapi baru-baru ini, seorang ras iblis yang menyebut
dirinya raja iblis muncul di ibu kota dan menyatakan perang terhadap umat
manusia. Dan untuk membuktikan niatnya untuk memulai perang, dia menculik putra
bangsawan berpangkat tinggi
yang merupakan tunangan ratu.
Setelah
menjelaskan hal itu, pria yang tampaknya seorang perdana menteri itu
menunjukkan gadis di tahta dengan ekspresi penuh penyesalan.
“Benar! Mereka sudah menculik Tooya-dono yang merupakan
tunangan Yang Mulia Chisaki di sini!”
“Jadi,
itu benar-benar dia.”
Ya,
alasan Masachika dan yang lainnya memperhatikan gadis di tahta adalah… karena
gadis itu, mau dilihat dari sudut pandang manapun, sangat
mirip dengan wakil ketua OSIS,
Sarashina Chisaki. Dengan jubah merah yang dikenakan di atas gaunnya, dan duduk
dengan kaki bersilang dengan tenang, dia lebih memiliki aura seorang permaisuri
daripada seorang ratu...… tetapi, wow, dia benar-benar
cocok untuk duduk di atas singgasana.
“Tunggu sebentar, ketua yang diculik? Bukankah seharusnya
sebaliknya?”
Ketika nama
tunangannya disebut, dengan nama yang juga terdengar
familiar, Masachika berkomentar, “Biasanya yang diculik itu si putri, ‘kan?” Pada
saat yang sama, perasaan lega muncul
dalam dirinya, “Oh, jadi ini memang mimpi.” Alisa dan Maria tampaknya merasakan
hal yang sama; Alisa
menunjukkan wajah yang agak datar, sementara Maria tersenyum samar seolah
bingung dengan situasi tersebut.
Sebenarnya,
meskipun mengesampingkan tentang Chisaki, Masachika merasa ada yang aneh.
Sebab, orang-orang lain selain Chisaki… tampak sangat tidak mencolok. Pria yang
berbicara sejak tadi dan para bangsawan yang menjadi latar belakang di dinding
terlihat sangat seperti karakter tambahan. Jika diungkapkan secara meta, bisa
dibilang “mungkin mereka tidak digambarkan dengan baik?” hingga tampak
tidak memiliki kepribadian. Dalam pandangan sekilas, karakter utama dan
karakter pendukung terpisah dengan sangat jelas, memberikan nuansa RPG yang
ketinggalan zaman.
(Hal yang paling menarik perhatianku, hanya Alya dan Masha-san yang tampaknya memiliki kehendak
sendiri… lalu bagaimana dengan Ratu Chisaki yang sekarang ini?)
Masachika
bertanya-tanya apa dia juga memiliki kesadaran dari dirinya yang dulu… Saat
tatapannya mengarah ke Ratu yang sebelumnya diam,
Masachika melihat Ratu menggenggam sandaran tangan tahta
hingga hancur. …Hancur??
“Y-Yang Mulia?”
Bunyi
retakan yang menyeramkan menggema
di ruang tahta, pria yang sebelumnya menunjukkan ekspresi penuh penyesalan itu
mengernyitkan pipinya. Pada saat yang sama, para bangsawan yang berada di
dinding bergetar. Dalam suasana ketakutan dan rasa hormat yang terkumpul, Ratu
Chisaki berdiri perlahan sambil menundukkan wajahnya, kemudian membuka matanya
lebar-lebar dan berteriak.
“Dasar Raja iblis yang menyebalkan! Kalau sudah begini! Aku pasti
harus pergi sendiri untuk merebut kembali Tooya!!”
Dengan
teriakan itu, jubahnya berkibar dengan hebat, dan gelombang seperti gelombang
kejut melintasi ruang besar. Lampu gantung di langit-langit bergetar, dan para
bangsawan di dinding jatuh berantakan.
“T-Tidak
boleh, Yang Mulia! Tolong
tenangkan diri
Anda, tolong tenangkan aura Anda!”
“Jangan coba-coba menghentikanku,
Perdana Menteri!”
Sang Ratu
berusaha memberontak
pria yang mencoba menghentikannya dengan lembut dengan mengayunkan tangannya.
Akibatnya, sebagian dinding ruang besar hancur. Boom!
“Wow”
“Eh…”
“Walah…”
Melihat
Ratu yang menunjukkan kegilaan seperti dewa badai, ketiga orang itu sedikit
melarikan diri dari kenyataan. Dan,
(Tunggu,
ini… bukannya keberadaan kita
sama sekali tidak
diperlukan?)
Saat
ketiga orang tersebut secara bersamaan memiliki pemikiran yang sama, pria yang
disebut Perdana Menteri itu berteriak dengan penuh harapan.
“Para
pahlawan dari dunia lain! Tolong, kami mohon! Sebelum Ratu kami menghancurkan
dunia, kalahkan raja iblis dan selamatkan Tooya-dono!”
“Siapa
yang jadi raja iblisnya di sini!?”
Suara
Masachika yang berkomentar seolah menghapus suara di sekitarnya, saat sebagian
dinding kastil yang hancur menghantam tanah dengan suara gemuruh.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
