Jinsei Gyakuten Jilid 4 Bab 2

 

Chapter 2 — Kencan Mendadak

 

Kemarin ada banyak hal yang terjadi, jadi aku bangun sedikit lebih lambat dari biasanya. Ibu dan yang lainnya pasti sudah selesai menyiapkan sarapan dan sedang makan. 

Setelah mencuci muka dan menuju ke dalam restoran, aroma mentega menyerbu hidungku. 

Aku sangat menyukai aroma pagi ini. Nii-san sering berganti antara masakan Jepang dan Barat, tapi hari ini sepertinya akan ada roti panggang dan telur mata sapi. Aku sangat senang karena aku suka mencelupkan kuning telur setengah matang ke dalam roti panggang. 

Aku juga harus segera sarapan... sambil berpikir demikian, aku membuka pintu restoran dan melihat seorang malaikat di tengah keluarga kami. 

Ah, selamat pagi. Senpai! Maaf mengganggu.”

Ai-san sedang sarapan bersama Ibu dan Nii-san, raut wajahnya kelihatan sangat senang

Sepertinya aku masih bermimpi, jadi aku menutup pintu dan mencubit pipiku untuk memastikan, dan itu terasa sakit. Ini bukan mimpi!? Ketiga orang itu, mungkin karena reaksiku yang lucu, tertawa di balik pintu. 

Karena tidak ada pilihan lain, aku membuka pintu lagi dan mengucapkan salam yang konyol, Selamat pagi. Ai-san, kenapa kamu ada di sini? 

Ibu menemukan Ai-chan yang sedang berjalan-jalan dan membawanya ke sini.

Ibuku berkata demikian dengan senyuman nakal. Aku menyesal tidak mengganti pakaian dari piyama, tetapi karena sudah terlihat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. 

Aku akan ganti baju dulu sebentar. 

Dengan sedikit perlawanan, aku buru-buru kembali ke dalam rumah, sementara keluargaku yang lain kembali tertawa dengan senang hati. Di antara mereka, aku merasa tenang melihat Ai-san, dan aku berpikir mungkin inilah yang namanya kebahagiaan.

 

※※※※

 

Setelah sarapan, ketika Ai-san bersiap untuk pulang... Ibu membisikkan sesuatu padaku dengan suara kecil. 

Eiji. Karena Ai-chan datang pagi-pagi, bagaimana kalau kamu pergi bermain bersamanya? Lihat, Ibu ada tiket bioskop yang Ibu beli beberapa hari sebelumnya. Kamu bisa menggunakannya di bioskop di depan stasiun. 

Tiket itu disodorkan kepadaku seolah-olah ingin mengatakan kalau aku harus berkencan dengan Ai-san

Apa ini baik-baik saja!? Senpai, kamu pasti sibuk, dan itu akan merepotkan...

Ai-san tampak bingung. Reaksinya yang manis membuatku merasa sangat menyayanginya. 

Tidak masalah. Kemarin aku sudah banyak menulis, jadi aku ingin sedikit bersantai. Menonton film juga bisa menjadi bahan inspirasi. 

Aku memilih ucapanku dengan hati-hati supaya tidak membuatnya merasa terbebani. Aku bisa melihat ekspresinya menjadi cerah. 

Bener banget. Lagipula, jika dibiarkan, Eiji akan terus-menerus mengurung di dalam rumah, jadi bagaimana kalau kamu membawanya ke suatu tempat, Ai-chan?” 

Ibu juga tersenyum. Nii-san bahkan mengangguk setuju. 

Terima kasih. Aku ingin pergi menonton film! 

Mungkin karena tiba-tiba ada rencana menyenangkan, Ai-san tampak sangat senang.

 

※※※※

──Sudut Pandang Ai──

 

Aku tidak pernah menyangka kita bisa bersama lagi hari ini. Hanya dengan bisa bersama orang yang kusukai saja sudah membuatku menyadari betapa bahagianya diriku. Film adalah hobi bersama, dan saling berbagi pendapat setelah menonton juga menyenangkan. Aku bisa menonton film bersama Senpai. 

Setelah itu, meskipun aku tidak bisa menerima biaya sarapan, aku berhasil membayar tiket dengan baik. Setelah menonton film, aku berencana pergi ke toko kue enak di dekat sini untuk membeli oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih atas sarapan. Dengan begitu, waktu bersamaku dan Senpai bisa sedikit lebih banyak, meskipun aku menyimpan sedikit niat licik dalam hati. 

Pemutaran film pun dimulai. Karena ini kencan menonton film dadakan, jadi kami tidak bisa mempersiapkan sebelumnya dan memilih film yang kami anggap menarik. Ini merupakan hal yang cukup tidak biasa bagiku karena biasanya aku suka memeriksa ulasan terlebih dahulu

Film tersebut menggambarkan hubungan antara seorang pemuda yang mengejar mimpinya dan seorang wanita yang lelah dan bingung dengan hubungan antarmanusia. Gambarannya indah dan membuatku terpaku. 

Lingkungan kedua pemeran utama sangat mirip dengan kami. 

Senpai sudah hampir mencapai mimpinya sebagai penulis. Sementara itu, aku tidak bisa memutuskan rantai negatif dari masa lalu dan merasa kelelahan. Aku merasa tertekan.

Namun, anehnya, hari ini aku tidak merasakan kegelisahan yang kurasakan beberapa hari yang lalu. 

Senpai mungkin akan pergi ke suatu tempat. Oleh karena itu, aku berusaha keras untuk membuat kami berdua menjadi lebih dekat dan mempercepat hubungan kami. Namun, dengan bisa resmi menjadi pasangan dan kata-kata yang mirip dengan lamaran itu, rasa tidak amanku teratasi. Dulu, aku mungkin tidak pernah berpikir bahwa aku bisa merasa setenang ini. Mungkin jika aku terus memaksakan diri pada hari itu, kecemasanku belum tentu teratasi hingga kini. 

Aku menyadari sekali lagi seberapa menakjubkan dirinya. Biasanya, seseorang akan mengutamakan keinginannya sendiri, tapi dia selalu memikirkanku terlebih dahulu. Dan, janjinya untuk tidak melepaskan tanganku tetap berlaku bahkan selama film diputar. 

Dengan sedikit keberanian, kami saling mengaitkan jari-jari kami. Bergandeng tangan. Dalam kegelapan ini, tidak ada yang bisa melihat kami. Meskipun seharusnya tidak ada yang memperhatikannya, aku merasa sedikit bersemangat dan senang, sambil membayangkan masa depan di mana tangan kami akan selalu terhubung, kami berbagi waktu yang sama. 

Aku merasakan kebahagiaan yang bisa melampaui waktu.

 

※※※※

 

Setelah pemutaran film selesai, tangan kami masih saling terhubung. Ketika ruang teater menjadi terang, aku memutuskan untuk sedikit jujur dengan perasaanku. 

Hampir semua penonton berdiri dari kursi mereka secara bersamaan. Di sana, aku berbisik. 

“Rasanya seperti kencan resmi pertama kita sebagai pasangan, kan? Karena kita sudah benar-benar berkencan.

Wajah Senpai kelihatan tersipu merah sambil berkata, Iya, benar. Mungkin wajahku juga merah. 

Senpai, terima kasih sudah selalu menyesuaikan kecepatan langkah saat berjalan.

Dia tersenyum malu. 

“Ah, ternyata ketahuan ya. 

Tentu saja, aku bisa merasakannya. Kita sudah bersama sepanjang waktu.

Begitu ya. 

Aku sangat menyukai sisi baikmu itu.

Dengan sedikit bercanda, dan dipenuhi rasa syukur yang mendalam, kami melanjutkan dengan kecepatan kami sendiri. Demi melindungi kebahagiaan ini, aku harus menghadapi kenyataan. Masalah perundungan yang menimpanya dan juga konflik antara diriku dan ayahku...

 

※※※※

 

Setelah pulang ke rumah, aku menyadari bahwa aku menerima laporan situasi terkini dari Kuroi melalui email. 

Laporan itu dimulai dari hasil investigasi tentang Tachibana yang merupakan Ketua Klub Sastra, semasa SMP-nya. Ternyata, dia memiliki prestasi yang cemerlang. Ada banyak prestasi yang ditorehnya, seperti memenangkan lomba esai dan slogan. 

Nilainya juga di atas rata-rata. Secara logis, tidak ada yang mencurigakan. Namun, Ketika aku melihat daftar teman sekelasnya yang melanjutkan ke sekolah kami, aku merasa merinding. 

“Ketua Klub Tachibana adalah teman sekelas Kondo dan Endou-san. Namun, Endou-san sekelas dengan Eiji-senpai... Apa dia mengulang tahun atau tertinggal? Jika aku menyelidiki lebih lanjut, pasti ada sesuatu yang bisa ditemukan. Memang ada yang tidak beres.

Aku meminta Kuroi untuk melakukan penyelidikan demi menemukan kebenarannya

Aku memintanya untuk menyelidiki hubungan sosial Tachibana dan Endou-san. Juga, tentang Doumoto Yumi-san. Mungkin dari situ semuanya akan terungkap. 

Sembari mencari harapan, aku membuka kotak Pandora.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama